Summary : Eomma bilang appa itu tampan pemilik doe eyes yang mengagumkan, tinggi dan menawan. Menyenangkan sekali setiap eomma berbicara tentang appa, sorot matanya menunjukkan kekaguman "appa kalian juga pandai bernyanyi,seperti kita" dengan senyum lebar menghiasi wajah tembamnya. Tapi saat sibungsu berbicara kenapa kami tidak pernah melihatnya,eomma bilang "kita memang tidak bisa melihatnya"saatku tanya kenapa? "kita tak akan bisa memilikinya."

TVXQ & SUJU © SM Entertainment

TABU by Fione Maple

Genre : Hurt,family,romance

Rate : T

Cast : CHANGKYU

Little :

-Cho ryeowook

-Cho Baekhyun

Warning : GS Miss Typos, alur cepat, abal dll

Enjoy !

NO BASH NO COPY

.

.

.

.

P.S : Chapter ini mengalami percepatan. This story is mine, don't like don't read !

NP: Xiah Junsu – How can i love you

Happy reading !

Deja vu

Itulah yang di rasakan Ryeowook saat ini. tapi, bedanya sekarang dia tau orang yang berada di depannya ini adalah ayahnya. Jantung Ryeowook bergemuruh mengingat kejadian yang kini seperti di ulang kembali. Ryeowook melihat sendiri ayahnya kaget setelah mendengar suara tepat di belakangnya tapi ia sendiri berupaya untuk tidak terlalu terkejut. Ia masih mau menghindari ayahnya jika dia sendirian tapi kini adiknya ada di belakang. Ia tidak bisa melakukan apa-apa.

..

Di belakang Baekhyun masih belum sepenuhnya bangun. Ia terus menguap kecil sambil mengusap bekas air matanya yang keluar sepanjang jalan. Melihat punggung kakaknya disana sudah menjadi obat penenang untuknya. Memang selama ini dia yang paling sering bermimpi buruk tentang kejadian masa kecilnya. Tapi mimpinya kali ini berbeda, dia bermimpi bertemu ayahnya dalam wujudnya sekarang dan bukan lagi bocah berumur lima tahun. Saat dia ingin menghampiri ayahnya, ayahnya itu menghilang dalam kabut putih yang menyilaukan. Mimpinya kemudian berlanjut dengan munculnya ayahnya lagi namun tak sendiri ada orang lain disana. Perempuan dewasa yang pasti bukan ibunya serta gadis kecil yang dulu pernah di temuinya. Yang terakhir ia mendengar suara ibunya menangis tersedu-sedu.

Naasnya mimpi itu tidak segera hilang membuatnya menangis terus-menerus. Baekhyun bahkan baru menyadari saat bangun tadi ia wajahnya telah basah oleh air mata. Ia yang begitu ketakutan segera mencari Ryeowook namun sayangnya ia tidak menemukan kakaknya itu. Baekhyun akhirnya mencari kakaknya sebelum ia dengan cepat mengambil ikat rambut dan mengikat rambutnya tinggi ke atas.

Kini Baekhyun terus melangkahkan kakinya yang berbalut sandal rumah ke arah kakaknya. Dia mengerang dalam hati mengingat matanya masih agak remang melihat cahaya di depan terlihat menyilaukan. Untungnya, dia berhasil berada tepat di samping kakaknya dan seperti kebiasaannya dia segera menidurkan kepalanya di bahu sang kakak sambil memeluk tangan kirinya. Baekhyun merasakan matanya semakin enggan terbuka.

"Eonnie, sedang apa disini?" Baekhyun mengulang pertanyaannya. "Ayo kita kembali ke kamar. Besok kita harus pulang cepat, aku tidak mau eomma terlalu khawatir."

Ryeowook tidak menjawab. Dia nyaris saja menjawab tapi suaranya tertelan lagi, seperti mendapatkan beban besar dalam batinnya. Bukankah biasanya seorang anak akan menyambut kedatangan ayah dengan memeluknya? Tapi dia tidak bisa, dia tidak bisa melakukannya. Ryeowook takut ayahnya kesini bukan untuk mencarinya melainkan yang lain dan berbagai fikiran itu masuk terus menerus mengelilingi kepalanya dan tanpa sadar perlahan air matanya turun membasahi pipinya.

Shim Changmin begitu kaget awalnya. Ia tidak menyangka firasatnya benar. Ketika melihat Ryeowook pertama kali dia seperti mendengar ucapan Yunho temannya. 'Ikatan batin tidak pernah salah' , benar-benar dirinya seolah menemukan jiwa lain ketika melihat dia. Foto yang di berikan oleh orangtua Kyuhyun pula yang membuat dia yakin, sekarang dia bisa melihat kedua putrinya secara langsung. Tapi melihat salah satu dari mereka menangis melihat dirinya, jiwanya bagai di remuk. Changmin tau bagaimana dia telah menorehkan luka besar dalam kedua anaknya itu. Sebenarnya Changmin diam karena bingung mau bicara apa, mengingat kedua putri kandungnya bukan Tiffany yang ketika melihatnya segera memeluk dirinya. Ia yang tidak mau keadaan semakin menyulitkannya, dia segera memanggil nama mereka.

"Ryeowook, Baekhyun.." panggil Changmin.

Baekhyun berjengit mendengar suara itu. Dengan cepat, dia melepaskan rangkulannya dan memfokuskan matanya ke depan. Sosok ayahnya ada di depannya. Baekhyun sendiri begitu terkejut. Ia kira ini masih dalam mimpi tapi sudah berapa kali dia mengerjapkan matanya untuk menghilangkan bayangan tersebut di hadapannya tapi bayangan itu tidak kunjung menghilang. Dia yang takut kemudian menatap kakaknya dan seketika itu pula dia mengerti.

"Aku akan kembali ke kamar," ucap Ryeowook tanpa mengindahkan suara Baekhyun yang memintanya untuk berhenti atau suara serak dan penuh keputusasaan milik ayahnya. Ia tidak bisa seperti Baekhyun yang ketika melihat ayahnya seolah menjelaskan keadaan baik-baik saja. Ia tidak bisa.

...

"Jadi benar laki-laki ini adalah Otousanmu ?" tanya Irene. Suasana yang hening membuat suara perempuan itu terdengar jelas. "Tapi bukankah kau itu anak dari Nyonya Jaejoong?" timpalnya lagi.

Baekhyun mengangguk kemudian menggeleng bersamaan. Melihat orang-orang di depan yang bingung atas jawabannya ia kemudian berbicara. "Aku hanya keponakan bibi Jaejoong," ujarnya.

Shim Changmin yang sejak tadi tak di perbolehkan dekat dengan Baekhyun menatap datar penuh emosi pada perempuan itu. "Aku bukan penipu,sudah berapa kali ku katakan Baekhyun dan Ryeowook adalah anak-anakku," ujarnya kesal. Kris yang duduk di samping laki-laki yang sedang tersulut emosinya itu segera memegang punggungnya agar tidak berbicara lagi.

Irene berdecih tak ikut tersulut emosinya untuk kedua kali dengan laki-laki jangkung di seberang ia malah menatap Baekhyun kembali. Gadis belasan tahun itu sekilas memang mirip dengan Changmin tapi hatinya masih belum percaya. Bukankah kedua laki-laki itu sebelumnya hanya meminta tumpangan untuk menginap? atau jikapun dia ayah dari kedua gadis itu kenapa Ryeowook tiba-tiba menangis lalu pergi meninggalkan tamunya ini? jelas Irene takut ini penipuan.

"Bukankah sebelumnya kalian ingin mencari tempat penginapan?"tanya Irene tiba-tiba membuat Changmin tersentak. Di pandanginya wajah Irene yang sepenuhnya menyeringai kepadanya. "Kalau benar kau adalah ayah dari Baekhyun kenapa Ryeowook tidak ingin menemuimu?"

"Itu-"

"Otousan begitu jarang pulang menemui kami, bisa di hitung berapa kali dia pulang dalam satu tahun maka dari itu Kaasan selalu meminta paman Yunho untuk menggantikan tousan menjaga kami. Aku dan Ryeowook-nee bahkan sudah di anggap sebagai anak mereka sendiri yang mana membuat kami senang dan saat ini tousan datang tanpa memberitahu kami membuat Ryeowook-nee begitu terkejut dan marah di saat bersamaan." ucap Baekhyun sambil tersenyum pahit.

Shim Changmin yang mendengar suara Baekhyun hanya mampu memandang penuh kesedihan. Astaga, sudah banyak sekali dia menorehkan luka pada kedua anaknya ini tapi mereka begitu baik mau menutupi kesalahannya seolah keluarganya sempurna dan hanya setitik kesalan saja yang terlihat.

"Maka dari itu Ryeowook-nee tidak suka di panggil dengan Nona Jung karena bagaimanapun marga asli kami Shim." kekehnya kemudian setelah jeda lama. Baekhyun yang melihat Ayahnya kaget cepat-cepat menambahkan dengan suara lirih. "Halmonie yang memberikannya."

Irene mengambil nafas panjang mendengar penjelasan yang cukup masuk akal itu. Kini bahkan ia menyesali telah menuduh laki-laki ini adalah penipu. Beruntung dia hanya sendiri karena Seulgi memilih untuk tidur karena ini tengah malam tapi dia masih harus menjelaskan kepada perempuan itu nantinya. Irene kemudian menatap jam yang berada di dinding ruangan itu. Pukul satu dini hari pantas saja kepalanya panas ingin segera di istirahatkan.

"Ada satu kamar di samping tangga kalian bisa menempatinya dan untukmu Baekhyun cepat tidur," ujarnya tegas kemudian berlalu meninggalkan ketiga orang di sana.

"Baekhyun.." panggil Changmin saat melihat Baekhyun akan mengikuti Irene. Melihat Baekhyun menoleh ke arahnya laki-laki itu kemudian menghampiri anak bungsunya itu sebelum memeluknya erat. "Maafkan Appa," ucap Changmin terdengar bergetar.

"Maafkan Appa Baekhyun-ah, Ayo kita perbaiki ini semua. Kau mau kan?" tanyanya lagi begitu menyakitkan. Dia menyesal dan akan terus menyesal jika masalah ini terus berlanjut. Dia kemudian mengambil nafas panjang untuk meredakan hatinya yang gemuruh ketakutan ketika Baekhyun tidak berkata apa-apa dalam pelukannya. Dia secara jelas telah di tolak oleh Ryeowook dan jika kali ini dia di tolak juga oleh Baekhyun entah apa yang bisa dia harapkan lagi. Ia sendiri akan hancur bagai jiwa yang menjadi serpihan.

Setelah keheningan begitu lama Baekhyun perlahan melepaskan pelukannya pada tubuh yang begitu hangat milik ayahnya itu, dia mundur kemudian menatap ayahnya yang begitu tinggi. Baekhyun tersenyum bukan senyuman pahit yang sebelumnya dia tampilkan namun senyum tulus untuk orang tersayangnya. Dia tidak bisa menghakimi ayahnya terus menerus, ia kira sudah jelas sosok jangkung itu ke jepang untuk apa. Dia berniat ingin memperbaiki semuanya.

"Appa.. ayo kita perbaiki ini semua." seru Baekhyun kemudian, eyesmilenya terlihat begitu manis di mata Changmin yang menatapnya tanpa bisa menghentikan air matanya. Terimakasih anakku. Batinnya berbicara.

CHANGKYU

FLASHBACK ON

Sore hari hampir mendekati petang keluarga kecil Jung yunho baru keluar dari rumah Kyuhyun. Pasangan itu keluar setelah memarahi Kyuhyun habis-habisan –sebenarnya hanya Jaejoong namun Yunho sesekali membenarkan ucapan istrinya itu. Cho Kyuhyun bukannya terlalu baik seperti yang Jaejoong kira karena membiarkan kedua anaknya tidak pulang ke rumah itu tidak benar. Mereka aman, Kyuhyun memang hanya bercerita tentang Baekhyun mengirim pesan padanya tapi tidak dengan dia melacak keberadaan mereka dimana. Dia sengaja tidak menceritakan hal ini karena saat itu Jaejoong berbicara terlebih dahulu mengenai Changmin yang berada di Jepang.

Kyuhyun yang mendengarnya langsung terdiam dan ucapannya tertelan lagi.

Jaejoong langsung menebak jika kedua putrinya menghindari ayahnya kesimpulan yang bahkan sama melintas dalam kepalanya. Bibi dari kedua putrinya itu memang bukan asal menebak, dari cerita yang tadi di ucapkannya kedua anaknya pergi setelah Changmin datang. Yunho lalu menambahkan jika Changmin adalah donatur dari sekolah si kembar. Ah, Kyuhyun rasa itu benar, laki-laki itu memang datang ke jepang bukan untuk menemui anak-anaknya. Seharusnya dia biasa saja bukan? Bukankah ia sendiri sudah tidak mau memikirkan namja itu lagi namun hatinya berkata lain. Ia berharap laki-laki itu mencari kedua putrinya. Tapi tidak, Changmin bahkan menawarkan bantuan untuk menemukan putri dari pasangan yunjae yang mana adalah putri-putrinya sendiri. Kyuhyun lantas tertawa miris.

Tapi doa Kyuhyun kali ini terkabul.

Kibum, sang ibu menelfon ketika Kyuhyun sendiri sedang melamun. Dengan sumringah di angkatnya telfon tersebut. Ibunya ceria seperti biasa di telfon akhir-akhir ini, lalu beliau memberikan kabar mengejutkan jika ia akan menjadi seorang kakak. Di usia yang ke-26nya ia melepas sebutan anak tunggal dari keluarga Cho. Ia sangat bahagia mendengar hal itu namun setelahnya..

"Kyu, Apa kau sudah bertemu Changmin?" Kyuhyun mengerutkan keningnya ketika sang ibu tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. Ia tidak menjawab karena ketika nama Changmin di sebut fikirannya segera menuju kepada kedua putrinya yang berada di tempat lain. Kerutannya semakin kentara ketika ia menemukan sesuatu.

"Eomma.. jangan katakan kalau-"

"Itu benar" potongnya cepat. "Eomma tidak menyangka secepat itu dia menemukan keberadaan kalian padahal eomma hanya memberikan selembar foto kalian." tambahnya lalu terkekeh senang. Kibum tidak menyadari jika Kyuhyun yang mendengar itu menggigit bibirnya kuat-kuat agar tidak membentak ibunya ini.

"Bagaimana bisa eomma lakukan itu?" tanya Kyuhyun lirih. "B-bukankah eomma sendiri yang mengatakan jika-" Kyuhyun tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi. Dia menatap ke arah langit-langit rumah lalu memukul dadanya kuat.

"Ini sudah lima tahun Kyu, apapun bisa berubah. Bagaimana mungkin eomma membiarkanmu sendiri tanpa pendamping," suara Kibum kembali terdengar dalam gendang telinga Kyuhyun.

"Eomma, selama ini aku baik-baik saja bahkan tanpa Changmin!" bentak Kyuhyun emosi. Namun ketika telinganya mendengar suaranya sendiri dia berjengit. "Aku baik-baik saja eomma." suaranya melembut. Ia tiba-tiba ingin cepat menghentikan percakapan ini.

"Bagaimana dengan Ryeowook dan Baekhyun? mereka butuh Changmin. Jangan egois Kyuhyun anakku. Mereka butuh seorang ayah" Kyuhyun yang mendengarnya tertunduk sedih, membuat isi kepalanya hanya ada kedua putrinya. "Eomma kira kau harus mendengar ini," ujarnya setelah jeda lama.

Di situ Kibum menjelaskan tentang perjuangan Changmin dari awal hingga hampir enam tahun ini tanpa terkecuali pada anak perempuannya ini. Kyuhyun bahkan terbungkam mendengarnya dan air mata yang sejak tadi ia pertahankan segera mengalir. Ia tidak bisa membayangkan kemarahan ayahnya saat memukuli Changmin dan bahkan kesabaran Changmin yang setiap saat mengunjungi orangtuanya atau ketekadan laki-laki itu mencari keberadaannya walaupun itu sia-sia karena Keluarga Jung benar-benar melindunginya.

"..Kau dengar itu Kyu, jika pun kau belum bisa menerimanya jangan tolak Changmin. Berikan dia kepercayaan sekali lagi. Eomma rasa dia sudah mendapatkan hukumannya selama lima tahun ini. Bersikaplah baik padanya jika kalian bertemu." Kibum terus berbicara namun tersirat permohonan pada anaknya yang saat ini sedang terisak. Dia bagai menangani putrinya kembali seperti saat sekolah menengah atas. Jika Kyuhyun di beri pengertian putrinya itu akan menangis. Ia tahu Kyuhyun pasti akan menurut karena Kibum tahu anaknya ini begitu mencintai Changmin.

"Hilangkan rasa bencimu pada Changmin lalu biarkan rasa cintamu muncul kembali kepadanya. Kau masih mencintainya. Ah, tidak. Kau bahkan selalu mencintainya."

FLASHBACK OFF

.. Kau masih mencintainya. Ah, tidak. Kau bahkan selalu mencintainya."

Kata-kata itu terus terngiang di kepala Kyuhyun saat ini namun seketika teralihkan karena dinginnya pagi ini. Bau sisa-sisa hujan tercium melalui indra penciumannya membuat matanya yang bengkak ini terbuka sepenuhnya. Semalam dia terus menangis dalam tidurnya namun tidak lantas membuatnya terlelap dia hanya tidur satu jam pukul 4 dini hari setelahnya bangun. Seperti kebiasaan yang di lakukannya dia bangkit untuk membersihkan diri, merapikan ruangan kemudian memasak seolah kejadian semalam hanya mimpi buruknya walaupun mata bengkaknya sudah menjadi bukti jika suara-suara ibunya itu begitu nyata.

TING TONG

Kyuhyun yang masih terpekur dalam bayangannya segera terperanjat mendengar suara bel rumahnya. Dengan langkah di seret ia keluar dari dapur kemudian matanya melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi. Kyuhyun pikir kedua anaknya pasti yang datang. Ia berjalan dengan penuh hati-hati mengabaikan perutnya yang kosong minta di isi maupun rasa kantuknya yang semakin menjadi.

Wajah Kyuhyun sumringah ketika tangannya telah menyentuh gagang pintu yang semula begitu jauh. Dia benar-benar tidak sabar bertemu kedua putrinya. Sambil tersenyum, ia memutar kunci yang melekat di bawah kenop pintu sebelum membuka daun pintu dengan perlahan. Kemudian Ryeowook melangkah masuk terlebih dahulu dan membuka pintu yang setengah tertutup itu lebar. Kyuhyun yang tepat di depan pintu masuk mundur selangkah mengambil waktu sejenak untuk melihat anaknya. Disana, berdiri gadis belasan tahun yang lahir dari rahimnya pertama kali menatapnya dalam. Matanya menyiratkan kesenduan ketika melihat ke arahnya. Senyum Kyuhyun akhirnya hilang di gantikan kerutan bingung dan cemas. "Ryeowook?" panggilnya namun seketika itu pula Ryeowook memeluk erat ibunya.

Cho Kyuhyun tidak mengatakan apapun walaupun hatinya tidak merasa tenang dengan anaknya yang satu ini. dia mengusap perlahan kepala hingga punggungnya menenangkan buah hatinya.

"Eomma."

Kyuhyun menengok ke samping pintu yang terbuka lebar dan melihat Baekhyun berdiri di teras rumah. Tak berbeda jauh dengan Ryeowook, anak keduanya itu menatapnya dalam. Baekhyun hanya berdiri di situ seperti menunggu seseorang. Kyuhyun tidak melewatkan untuk menyadari mereka datang bersama orang lain ketika sebuah mobil terparkir di halaman rumahnya. Cho Kyuhyun tidak memperhatikan kedua anaknya lagi ketika sosok tubuh jangkung keluar membawa ransel milik Ryeowook. Matanya melebar dan hatinya berdetak kencang membuat perhatian benar-benar teralihkan ketika kedua bola matanya dan miliknya bertemu.

Sesaat, setelah dia menemukan kesadarannya. Ia begitu merasa di cubit oleh masa lalunya tapi kepalanya melintas begitu saja ucapan ibunya semalam. Benarkah dia kesini untuknya dan anak-anaknya?

"Kyu.." panggil Changmin mengalihkan perhatian dari lamunannya. Mata mereka beradu lagi dan saat itu Kyuhyun menyadari rasa sakit dan nyeri dalam dadanya tersiram tak tersisa begitu laki-laki itu tersenyum kepadanya.

Beginilah cinta. Jika seseorang wanita mencintai seseorang laki-laki secara tulus dan lama sebenarnya cinta itu tak pernah hilang ataupun berurai.

CHANGKYU

Mata bambi Changmin tak meninggalkan Kyuhyun yang terlihat sibuk membawa beberapa piring dan alat makan lainnya dari dapur menuju ruang makan. Sejenak, dia menikmati keadaan yang seperti ini. dia berpikir kursi yang di duduki olehnya saat ini memang benar-benar di buat untuknya. Ukurannya sedikit lebih lebar dan letaknya paling ujung sedang ketiga kursi yang lain tampak sama. Entah bagaimana jadinya mereka bisa berada dalam satu ruangan seperti ini setelah beberapa menit yang lalu mereka berdua –Changmin dan Kyuhyun- menenangkan putri pertamanya itu.

Jelas sekali, Ryeowook masih tidak mau menerima kehadirannya berbeda dengan Baekhyun. Ia tahu, jelas sangat tahu bagaimana dia saat itu. Seandainya dulu ia tahu jika wanita yang di tidurinya adalah Kyuhyun mungkin saat ini mereka bahagia. Ryeowook tidak akan mendiaminya seperti ini. ia merasa gagal menjadi sosok panutan karena menorehkan luka banyak pada buah hatinya. Lain halnya Ryeowook lain pula Kyuhyun.

Cho Kyuhyun.

Wanita itu tak terdeteksi. Wajahnya biasa saja seolah tidak pernah ada masalah yang menimpanya. Tersembunyi. Namun ia sendiri tidak bisa menyangkal luka itu cukup dalam, wanita itu hebat dia bahkan tidak bersikap menghindar seperti dulu. Dan itu membuat Changmin takut, ya takut. Changmin kini sadar mencintai wanita itu tapi apakah Kyuhyun masih mencintainya? Apakah setelah ia mengatakan niatnya dia mau bersama dengan dirinya? dan hampir begitu banyak pertanyaan yang mirip itu hilir menyerang indra pemikirannya. Membuat ia menundukkan kepalanya menatap meja mengkilat yang menampilkan bayangan wajahnya yang muram.

"Apa kau tidak terbiasa sarapan pagi?" tanya Kyuhyun memecah keheningan di antara mereka.

Ketika suara lembut sangat dekat menyapa indra pendengarannya, ia segera mendongakkan kepala lalu berhadapan dengan Ryeowook yang sudah menoleh ke arahnya begitupun Baekhyun yang tak ketinggalan, anak bungsunya itu menaikkan kaca mata tanpa framenya ke atas sambil menunggu jawaban sang ayah. Menyadari jika suasananya semakin hening Changmin menjawab dengan gelengan.

Changmin tidak sepenuhnya berdusta dia memang jarang sarapan pagi. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya lupa untuk sekedar makan di pagi hari dan kalaupun dia di bawakan bekal oleh ibunya ia akan makan setelah pekerjaannya berkurang dan itu bisa di katakan makan siang menurutnya.

"Kalau begitu mulai sekarang di biasakan," ujar Kyuhyun di sela dia bergerak mengambil telur orak-arik yang untuk di letakan piringnya, Ryeowook, Baekhyun dan dirinya sendiri. Entah kenapa perlakuan Kyuhyun membuatnya lagi-lagi menghangat. "Kau bisa memimpin doa sekarang." Kyuhyun menarik sudut bibirnya ketika wajah kekanakan Changmin mengangguk patuh dan mulai berdoa.

Cho Kyuhyun yang masih belum sama sekali memasukkan makanannya ke dalam mulut, Dia tersenyum begitu melihat mereka bertiga segera makan dengan lahapnya. Pandangannya tiba-tiba melembut melihat sesuatu yang selalu menjadi hayalannya tiba-tiba menjadi kenyataan. Ia ingin menangis tapi ketika mata polos putri sulung melihatnya hanya senyum hambar yang di keluarkannya dan ia segera memakan dalam diam.

Beberapa menit kemudian, Mereka selesai dengan makannya. Baekhyun yang berada di hadapannya masih meminum susunya sedang Ryeowook tinggal menunggu untuk mendiami tubuhnya sebentar. Ryeowook mulai menatap ayah dan ibunya yang masih belum selesai dengan makanannya sebelum matanya menatap jam yang ada di dinding ruang makan.

Pukul 6.45, tapi belum ada tanda-tanda Jung Jiyeol memanggilnya. Belum lama memikirkan itu suara handphone ibunya terdengar nyaring. Ryeowook secepat kilat turun setelah mendengar decitan kursi ibunya. "Biar wookie yang angkat."

"Aku saja,eonnie!" teriak Baekhyun sambil berlari mengejar kakaknya, meninggalkan Changmin maupun Kyuhyun yang sekarang terlihat canggung.

"Kyu.." panggil Changmin duluan.

"Apa mereka selalu seperti itu?" tanya Changmin membuat Kyuhyun yang di sampingnya menaikkan alis sebelum akhirnya paham dan mengangguk mengiyakan. "Begitu banyak hal-hal yang mereka ributkan asal kau tahu," kekehnya.

Changmin terdiam mendengar Kyuhyun yang terus menceritkan tentang si kembar padanya dan kini ia sadari suasananya tidak secanggung sebelumnya ketika mendengar wanita itu menceritakan tentang kedua anak perempuannya begitu antusias. Changmin bahkan tahu sekarang tentang kebiasaan anak-anaknya dalam sekejap dalam setiap ucapan Kyuhyun yang mengalir begitu saja. Namun tak bisa di pungkiri dia tidak bisa mengekspresikan wajahnya seiring wanita yang melahirkan anak-anaknya itu berbicara.

Cho Kyuhyun yang sejak tadi bercerita memandang Changmin terdiam dengan wajah berkerut samar menerawang ke bawah lantas memegang lengan namja itu. Changmin kemudian menatap Kyuhyun,sedang yang di tatapnya kini segera mengalihkan wajahnya ke arah lain. Kyuhyun menggigit bibirnya menerka ucapan apa saja yang dia ucapkan tentang kedua anaknya mengabaikan rona tipis di pipi chubbynya. "T-api aku selalu memberikan sesuatu yang mereka inginkan tanpa membedakan keduanya."

Changmin membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Seolah tersengat ketika mendengar kalimat yang di ucapkan Kyuhyun. Ia yang mulai memahami kesalahpahaman yang terjadi segera berkata, "Astaga Kyu, aku bahkan tidak pernah meragukanmu dalam mengurus mereka, mereka tumbuh dengan baik adalah buktinya. A-ku hanya sedang berfikir betapa bodohnya aku melewati semua itu sekarang."

"Changmin," gumam Kyuhyun lirih. Ia memandang Changmin yang terlihat frustasi di depannya. Sebelumnya dia belum pernah melihat laki-laki itu seperti ini. Ucapan Kyuhyun sebelumnya hanya sebatas praduga ketika melihat ekspresi Changmin saat mendengar ucapannya. "Maafkan aku."

"Apa?" seru Changmin menatap Kyuhyun dengan agak bingung sebelum otaknya bereaksi cepat. "Tidak, seharusnya aku yang minta maaf disini Kyu. Kau hamil, melahirkan serta mengurus mereka berdua tanpa satupun andil dariku." Mendadak dia sulit untuk melanjutkan kata-katanya, namun dia berusaha ketika melihat Kyuhyun seperti menunggu ucapannya kembali membuatnya sadar ia harus cepat menyelesaikan masalah ini.

Sambil meraih tangan Kyuhyun yang segera di genggamnya, Changmin berubah serius menatap Kyuhyun.

"Cho Kyuhyun, ani -Shim Kyuhyun. Maafkan aku, aku yang begitu bodoh yang di cintaimu selama ini, yang bahkan mau merawat kedua anak yang kau kandung tanpa aku di sampingmu. Aku yang begitu banyak memberikan luka untukmu dan anak-anak 'kita'. Selama hidupku aku tidak pernah melakukan hal yang benar, aku yang selalu membuat orang-orang yang ku sayangi menderita karenaku."

Changmin menarik nafas dalam sebelum menghembuskannya perlahan melanjutkan ucapannya. "Maka dari itu. Maafkan aku," katanya sekali lagi. "Maukah kau kembali bersamaku setelah ini, hidup bersama dengan Ryeowook dan Baekhyun di Seoul. Memulai kembali bersamaku?" tanya Changmin akhirnya. Jujur baginya ini melegakan.

Hati Kyuhyun terasa di remas ketika mendengar itu, kepalanya tertunduk. Tangan kirinya masih di genggam Changmin. Perlahan butiran itu muncul dan sekuat tenaga dia mendongakkan kepalanya. Menatap ke dalam manik hazel Changmin di depan. Kyuhyun begitu bahagia mendengarnya tapi hubungan ini bukan seperti dulu lagi. Kyuhyun sadar dia telah dewasa, dia mempunyai anak yang harus di dengarkan pendapatnya juga. Tidak masalah dengan Baekhyun tapi apakah Ryeowook mau? Bahkan sebelumnya dia tidak mau makan semeja dengan ayahnya sendiri.

Sekarang dengan tenaga yang dia bisa, Kyuhyun mencoba melepaskan gengamannya pada Changmin dan mengalihkan pandangannya. "Aku tidak tahu," katanya sambil mengusap lelehan air matanya. Menyebalkan, erang Kyuhyun dalam hati. Matanya semakin sakit jika ia terus menangis dan naasnya air matanya terus keluar.

"Kyuhyun-ah, aku mencintaimu."

Tanpa sadar Kyuhyun berdiri dari duduknya, matanya melebar saat mendengar suara Changmin yang terdengar tulus di telinganya. Ia begitu shock hingga kedua matanya tak mau beralih dari Changmin yang entah kenapa seperti tak bertenaga di kursi.

"Nado," jawab Kyuhyun hingga keduanya tak berkutik dari posisinya.

Dan tanpa di sadari,Baekhyun dan Ryeowook melihat semuanya. Hingga mereka terduduk lemah di lantai dingin dekat pintu.

"Eomma/Appa" gumam mereka.

CHANGKYU

Cho Kyuhyun memandang kedua anaknya yang terlihat kesal di depan. Setelah dia selesai berbicara dengan Changmin dia buru-buru menuju dapur dan membersihkan semuanya. Tidak terasa waktu menunjukkan pukul tujuh lebih, membuatnya seketika sadar anaknya harus sekolah. Tapi melihat pesan yang ada di ponselnya yang dia temukan di dapur mau tak mau membuatnya marah.

"Biar eomma yang antar," putus Kyuhyun.

Ryeowook dan Baekhyun memang segera masuk ke kamarnya ketika ibu mereka keluar dari ruang makan, niat awalnya memberitahu jika samchonnya tidak bisa mengantar-jemput mereka hari ini. tapi saat akan masuk mereka mendengar suara percakapan ayah dan ibunya membuat mereka mengurungkan niatnya. Mereka yang sedang terlibat dalam obrolan di kamar seketika turun ketika mendengar suara ibunya yang memanggil.

"Ini sudah telat eomma," rengek Baekhyun.

Kyuhyun yang tahu anaknya berbohong segera menyilang kedua tangannya didepan dada. "Sekolah kalian selalu di mulai pukul 9, kalau kau tidak lupa sayang," ucap Kyuhyun lantas menyeringai kecil.

Baekhyun yang ketahuan berbohong hanya mampu menurunkan bahunya lemas. "Arraseo, eomma." Ryeowook yang melihatnya tak mampu menahan kekehan gelinya sebelum suara tenor sang ayah terdengar.

"Bagaimana jika Appa dan Eomma yang mengantarkan kalian ke sekolah," usul Changmin. Baekhyun yang mendengarnya bertepuk tangan gembira lalu menghampiri ayahnya yang datang dari dapur.

Berbeda dengan Ryeowook dan Kyuhyun yang menolak usul itu dengan ekspresi wajah. Alasannya jelas sekali jika Ryeowook belum bisa berdekatan dengan ayahnya sedang Kyuhyun masih canggung atas kejadian sebelumnya.

"Ayolah eomma, please!" rengek Baekhyun sekali lagi.

Kyuhyun akhirnya mengalah lalu mengangguk dan melihat Baekhyun bertepuk tangan lagi sebelum mengajak kakaknya ke kamar untuk mengganti seragam dan mengambil ranselnya. Ryeowook yang di tarik hanya pasrah namun siapa yang mengira jika dia senyum kecil terpatri di bibirnya.

CHANGKYU

Butuh beberapa menit hingga mereka tiba di gerbang sekolah kedu putri kecilnya ini menuntut ilmu. Ah, Changmin bahkan masih belum percaya ketika dalam perjalanan Kyuhyun memberitahu jika kedua anaknya ini sudah masuk ke sekolah menengah pertama. Jika dia boleh berbangga diri sepertinya kedua anaknya ini terlahir menuruni kejeniusannya dan Kyuhyun.

Kini mereka berempat sudah turun dari mobil. Changmin masih memandang kedua anaknya yang memeluk ibunya cepat. Kyuhyun juga tak ketinggalan memberi nasehat kepada anak-anaknya. paling tidak Changmin sering mendengar kata-kata 'jangan membolos' terucap dengan lancarnya oleh Kyuhyun.

"Wakatta wakatta," (aku mengerti) ucap Baekhyun akhirnya. Ketika pelukan itu terlepas dia memandang Changmin lantas memeluknya juga. Namun tidak untuk Ryeowook yang memilih membungkukkan badannya dan berlari ke arah gerbang di susul oleh Baekhyun yang berjalan mundur dengan mulut kecilnya berucap, "Eomma Appa kami menyayangi kalian," seru Baekhyun seraya tersenyum.

Sontak saja Changmin dan Kyuhyun menjawab bersama, "Kami lebih mencintai kalian"

...

Changmin maupun Kyuhyun masih terdiam di samping mobil memandang kedua putri kembarnya memasuki sekolah. Tepat pada saat itu sebuah mobil tepat berhenti di samping mobilnya. Seorang laki-laki yang Changmin ketahui sebagai wali kelas Baekhyun menghampiri ke arah mereka. Dia membungkuk pada kami sebelum berkata, "A-apakah mereka berhasil di temukan?" ucap sang wali kelas to the point. Kantung mata tebal di sekitar matanya menunjukkan dia terlihat tidak tidur semalaman.

"Ya, mereka berangkat hari ini." Changmin menjawab itu sambil menoleh kepada Kyuhyun yang dari sudut matanya nampak ingin bertanya.

Seketika itu pula wajah wali kelas anak-anaknya tampak tersenyum melegakan. Dia menoleh ke arah samping Changmin dan mendapati donatur sekolahnya tidak di temani asistennya melainkan wanita cantik yang mengenakan blouse aquamarine dan celana putih yang terlihat bersinar dengan kulitnya.

Cho Kyuhyun yang di lihat seperti itu tersenyum kikuk sebelum membungkuk kecil di hadapan sang namja yang tidak di kenalnya. Membuat Changmin yang di sampingnya segera berdeham menyadarkan laki-laki tersebut. "Perkenalkan dia Shim Kyuhyun, istriku."

Laki-laki itu tersentak kemudian membungkuk hormat kepada Kyuhyun. jelas sekali ia mendengar nada kepemilikan dari suara Changmin. Tak ingin di anggap kurang ajar dia meminta maaf kepada pasangan suami istri itu lagi dan pamit undur diri. Tapi suara khas anak emasnya di kelas mengurungkan niatnya kembali melangkah. Dia menoleh dan mendapati Baekhyun memeluk pasangan suami istri itu.

"Celana olahragaku ketinggalan di mobil, Appa.. eomma"

Wali kelas itu tidak bodoh ketika mendengar dengan jelas Baekhyun menyebut mereka berdua Ibu dan Ayah walaupun dalam bahasa korea. Tanpa menoleh lagi dia kembali ke dalam mobilnya dan memasuki sekolah dengan berbagai pertanyaan di otaknya.

...

RYEOWOOK POV

"Shim Baekhyun, Shim Ryeowook.. kalian di tunggu Ryuu-sensei di kantor sekarang."

Belum saja aku duduk di kelasku barang semenit, ketua kelasku memberitahu hal itu. akhirnya aku dan Baekhyun saling berpandangan sebelum berjalan meninggalkan kelas. Aku tau pasti ini berhubungan dengan kejadian membolos kemarin. Mungkin aku akan di hukum seperti di beri peringatan atau di hukum dengan duduk berjam-jam mendengarkan nasehat Ryuu-sensei di kantornya. Jujur saja, aku bahkan tidak peduli.

Sejak tadi fikiranku hanya ada percakapan antara Ayah dan Ibuku. Ya, aku mendengar semuanya, Ayah begitu tulus untuk meminta maaf dan sudah aku tebak dia ingin memperbaiki semuanya. Tapi apa aku bisa? Sedangkan tiap aku menatapnya rasa seperti di remas itu terjadi. Aku hanya belum bisa memaafkannya.

Namun tatkala aku mendengar suara eomma, semuanya semakin menyiksa. Aku seperti penghalang mereka. kini apa yang harus aku lakukan? Memaafkannya dan menerima Appa seolah-olah tidak pernah terjadi kejadian menyiksa selama hidupku atau membiarkannya pergi begitu saja. Tidak! Pilihan nomor dua membuat eomma begitu tersiksa tapi pilihan pertama tak semudah yang aku bayangkan.

Mataku melirik Baekhyun sepenuhnya. Sungguh aku iri dengannya, dia bisa melakukan apapun dengan Appa. Seperti memeluknya dan bermanja dengannya. Baekhyun yang merasa aku tatapi terus akhirnya memandangi kemudian tersenyum. Aku bersyukur dia lebih ceria sekarang mungkin efek Appa begitu besar.

Kebanyakan melamun membuatku tersadar oleh tarikan Baekhyun untuk masuk ke ruangan Ryuu-sensei wali kelas kami. Setelah di perbolehkan masuk,kami berdiri membelakangi pintu menatap ke depan. Ryuu-sensei tidak sendiri, ada sensei lain dan Kepala sekolah. Aku dan Baekhyun segera membungkuk sebelum di minta untuk duduk pada kursi yang menghadap ke arah mereka,Aku merasakan Baekhyun memegang tanganku gugup dan aku memberi dia senyuman isyarat kita akan baik-baik saja.

"Anda memanggil kami pak," ucapku menoleh ke arah Ryuu-sensei yang berwajah kuyu, seperti kurang tidur. Jelas kantung matanya terlihat menghitam.

Ryuu-sensei mengangguk dan tersenyum hingga membentuk matanya segaris. Dia seperti menenangkanku dan Baekhyun.

"Aku punya sesuatu untuk kalian," katanya tenang. Dia mengambil sesuatu di mejanya. "Bacalah" perintahnya.

Aku dan Baekyun saling mendekat, mengerubungi selembar kertas itu dengan penasaran tinggi. ketika selesai membaca aku segera mendongak memasang wajah tidak mengerti.

"Ryuu-sensei memberitahu kami kalian berangkat dengan Tuan Shim donatur tetap sekolah kita, Apa hubungan kalian dengan mereka," kata Kepala sekolah dengan nada ramah.

"Otousan, sudah aku bilang mungkin saja mereka hanya berangkat bersama. Tuan Shim sudah lama bercerai dengan istrinya dan aku belum pernah melihat satu pun foto mereka berdua. Bukankah anaknya hanya satu?"

"Ayumi-sensei benar, selama ini juga yang kita tahu mereka anak dari Tuan Jung." Sahut sensei wanita lainnya sependapat.

"Lalu Bagaimana dengan pernyataannya di salah satu artikel itu?" tanya Ryuu-sensei tajam.

Aku dan Baekhyun hanya diam tanpa menyela para senseinya berbicara, itu jelas sangat tidak sopan. Tapi jujur saja ucapan Ayumi sensei –anak kepala sekolah – membuatku geram. Ucapannya seperti dia tahu segalanya. Sempat ku lihat Ayumi menggertakkan giginya jelas tidak menyukai ucapan Ryuu-sensei. Dan suasananya menjadi lebih mencekam.

"Sebaiknya kita mendengarkan dari mereka langsung," ucap Kepala sekolah tegas.

Semua terdiam.

"Namaku Shim Ryeowook dan Adikku Shim Baekhyun, Ayah kami Shim Changmin dan Ibuku bernama Cho Kyuhyun, tidakkah itu jelas?"

RYEOWOOK POV END

CHANGKYU

Setengah jam perjalanan menuju ke pusat perbelanjaan membuat keduanya semakin dekat, seperti saat mereka kecil. Walau kadang di isi dengan candaan dan cerita masa lalu cukup untuk keduanya saling terbuka. Kyuhyun merasa seperti berkencan membuatnya tersenyum dalam hati. Sedangkan Changmin juga merasakan hal yang sama, laki-laki itu sadar kenapa dia baru menyadari jika kebersamaannya dengan Kyuhyun selama ini perasaannya sangat hangat. Berbeda dengan BoA, dia tidak pernah merasakan apapun. Hanya sepercik ambisi yang dia dapat ketika BoA menikah dengannya.

"Bisakah kau ambil yang itu, Baekhyun sangat suka dengan Strawberry," ucap Kyuhyun.

Changmin tersenyum kemudian meninggalkan Kyuhyun untuk menuju ke arah buah yang di tunjuknya. Mereka berdua memang sedang berada di pusat perbelanjaan sekarang. Kyuhyun memang sedang mengisi persediaan makan yang telah habis.

Sementara itu, Kyuhyun yang saat ini sedang mengambil beberapa sayur segar di kejutkan oleh seseorang. Wanita yang merupakan tetangganya dulu sebelum pindah rumah. Anaknya satu sekolah dengan Baekhyun dan Ryeowook.

"Kyuhyun-san, Lama tidak bertemu," gumamnya.

"Ya," jawab Kyuhyun pendek. Entah kenapa sejak dulu hingga sekarang tidak menyukai sikapnya. Jelas Cho Kyuhyun tidak ingin percakapan berlanjut, ia membungkuk kecil sebelum menjauhi tapi suara wanita itu menghentikannya.

"Kau belum juga meninggalkan keluarga Jung ternyata," katanya dengan nada mengejek sebelum selangkah lebih maju.

Kyuhyun tersentak, oh ayolah.. dia tidak ingin menguras energinya untuk berbicara dengan wanita itu. Wanita itu selalu seperti itu tiap bertemu. Wanita itu menganggapnya sebagai istri simpanan Jung Yunho, padahal Jaejoong sendiri sudah menjelaskan bahwanya jika Yunho dan Kyuhyun adalah saudara. Dia memang tidak percaya, mengingat Kyuhyun selalu di rumah sedang yang mengantar kedua putrinya adalah Jaejoong dan Yunho. Menggelikan memang tapi menjelaskan lagi sepertinya percuma.

"Hah, kau itu benar-benar.."

"Kyuhyun!"

Kyuhyun tersentak. Changmin sudah ada di hadapannya, menatapnya dengan wajah kekanakannya yang membuat Kyuhyun sendiri tiba-tiba tersenyum. Entah kenapa tidak mendengar kelanjutan ucapan wanita yang kini di belakang Changmin membuat Kyuhyun lega.

"Hei, kau melamun?"tanya Changmin.

Kyuhyun hanya tersenyum lebar. "Tidak, Changmin."

"Bisa kita makan setelah ini," katanya terdengar merajuk. Changmin memegang perutnya seolah kelaparan dengan mata bambi yang berbinar ketika Kyuhyun mengangguk.

Seseorang berdeham di belakang Changmin, membuat laki-laki jangkung itu segera berbalik. Wanita itu memandang Kyuhyun dan Changmin bergantian tapi wajahnya berubah angkuh.

"Ck.. kau tidak sendirian lagi ternyata, siapa dia? kakakmu atau bodyguardmu? Perempuan simpanan!"

"Pardon?" seru Changmin cepat, tersinggung dengan ucapan wanita di depannya.

Changmin berpaling menatap Kyuhyun, menemukan kekhawatiran di sana. Changmin kini meraih tangan kanan Kyuhyun,menggengam tangannya erat. Dia tahu sekarang.

"Siapa dia sayang, kenapa kau tidak kenalkan padaku?" tanya Changmin dengan sorot mata lembut.

Kyuhyun terbelalak, rasa panas menjalar panas di pipinya. Bisa di pastikan merah sempurna. Setelah sebelumnya Changmin mengatakan mencintainya, mengaku dia istrinya dan sekarang dia memanggilnya sayang.

"Itu karena-"

Belum sempat Kyuhyun melanjutkan ucapannya, Changmin meraihnya agar menempel lebih dekat dengannya. Cho Kyuhyun menggeliat resah ketika mendengar jantungnya berdebar begitu kencang sama halnya ia yang mendengar jantung Changmin yang seirama dengannya.

"Sebaiknya aku yang memperkenalkan diri dulu,bukan begitu?"

Kyuhyun mendongak lalu mengangguk malu.

"Aku Shim Changmin, suami dari Kyuhyun."

TBC

Maaf atas keterlambatan updatenya. Terimakasih yang mau baca dan sempetin Riview di ff milik fio yang gajenya minta ampun ini. Seperti yang kalian tahu, ff ini di chapter depan kemungkinan selesai. Huwaa.. hikshisk fioo sedih.

Sekali lagi terimakasih semuanya.

Buat yang baru riview salam kenal!

CHANGKYU LOVE

18/04/2016