chapter 14...!
oh gosh, is it that much??
O.o

thanks for coming...
thanks for reviewing...
thanks for supporting...
many many thanks to you guys...
:')

CIA & SoS have been hiatus-ing.
setelah tamat Lagu Sedih, both will be updated.
supaya readers ga distracted...
(author over-pede tulisannya dibaca)
:P

standard disclaimer applied

WARNING
OC,
OOC,
fluff,
pairing (duh),
dan kejelekan-kejelekan lainnyaaaaa

hehehehehehehehehehe.


"Baik. Tahan, Sakura. Kita hampir sampai...", sang Hokage terlihat panik dalam lari kecilnya.

Beberapa orang perawat memasuki satu ruangan dan mempersiapkan alat-alat medis. Beberapa lainnya mendorong ranjang dengan Sakura di atasnya.

Terlihat terengah dengan keringat bercucuran. Wajahnya pucat.

"Sakura, Sakura! Cobalah untuk tetap sadar!", Tsunade memasang sarung tangan karet sambil terus bicara pada Sakura.

"Siapkan alat vacum! Siaga pada kemungkinan pendaraahan!", sang Hokage memerintah. "Dan siapapun! SERET BOCAH UCHIHA KE SINI!!!"

-

-

"Aku tidak percaya kita hanya diam di sini!!", Naruto menyilangkan tangannya di depan dada. "Harusnya kita kan berlatih!"

"Hn. Diamlah, dobe.", Sasuke menghirup teh yang ia pesan.

"APA KAU BILANG??!!"

"Sudahlah... Jarang kan, kita berkumpul begini...?", seorang pria dengan rambut perak menengahi.

"Tapiii-"

"Uchiha-san?"

Ketiga pria yang berasal dari tim 7 itu menoleh ke arah pria dengan seragam medic-nin.

Yang dipanggil menjawab, "Ya?"

"Anda dibutuhkan di rumah sakit.", si medic-nin terlihat masih mengatur nafas. "Haruno-san..."

Without further a do, Uchiha Sasuke sprint to the hospital...


"Tapi pak, anda tidak diperbolehkan-"

"MINGGIR!", Sasuke mendorong dua perawat yang menghalangi pintu tempat Sakura berada. "Sakura!!!"

Tsunade mendongak dari peralatannya, "Uchiha! Syukurlah kau sudah datang! Bantu Sakura agar tetap sadar!!"

Mungkin dalam kehidupan biasa, Sasuke sudah membangkang pada kata-kata Tsunade tadi. But we all know..., how pinky turns Uchiha's ordinary life, become an extraordinary one... Maka ia pun mendekati Sakura yang mencoba tersenyum meski sedang menahan sakit.

Tangan Sasuke memegang tangan Sakura yang bergetar hebat. "Bertahanlah, Sakura..."

Sakura menghela nafas dalam anggukannya.

"Baik, ayo Sakura..., kita mulai...", Tsunade melihat Sakura sesaat, mendapat anggukan setuju. "Mulai tekan..."

Tsunade memberi contoh pengambilan nafas yang segera diikuti Sakura.

Erangan pertama...

Air mata Sakura jatuh. Dan Sasuke segera menyadarinya. Diraihnya wajah Sakura, dielusnya lembut. "Lakukan demi bayi-bayi kita, Sakura..."

Erangan kedua...

"Ayo, Sakura! Aku sudah bisa melihat kepalanya...!", Tsunade berseru hal yang membuat jantung Sasuke terasa seperti ditekan.

"Ayo, Sakura...", Sasuke berbisik.

Erangan ketiga...

"Lakukan demi aku..."

Erangan keempat...

"Hampir, Sakura... Ayo...!"

"...demi cinta kita..."

Dan tangisan pertama pecah.

-

-

Naruto berjalan bolak-balik di lorong rumah sakit. Sesekali mencoba melihat melalui celah-celah di pintu.

"Tenanglah, Naruto...", Kakashi menutup buku jingganya. "Semua akan baik-baik saja..."

"BAGAIMANA AKU BISA TENANG?!! DIA AKAN MELAHIRKAN!!! DAN KITA TIDAK TAHU APA-"

Terdengar tengisan yang membuat Naruto menempelkan telinga ke pintu di hadapannya.

"Seperti yang aku bilang...", Kakashi tersenyum di balik pentup wajahnya. "Oh, dan kau sudah menjadi paman Naruto..."

Sakura masih lelah dari perjuangan antara hidup-matinya beberapa saat yang lalu.

Tapi senyumnya terlihat jelas. Dan beberapa tetes air mata bahagia menuruni pipinya.

Di pelukannya kini ada satu manusia mungil yang bergerak perlahan dalam kehangatan sang ibu. Dan di sebelahnya, Sasuke menggendong sosok yang serupa. Mata onyx Sasuke tidak lepas dari bayi di tangannya. Tersenyum.

"Mereka mirip denganmu, Sasuke-kun...", Sakura mengusap pipi bayinya perlahan.

"Hn..."

"Selamat, Uchiha..", Tsunade memberi tatapan terakhir sebelum menginstruksikan laporan pada perawat.

"HEIHOO! PAMAN NARUTO DATAAAANG~!!!"

Sasuke menoleh pelan dengan tatapan mengancam. "Kau mau apa, dobe?"

"Ah! Maaf! Apa aku membangunkan mereka??", Naruto—tidak biasanya—meminta maaf dan mendekati Sakura dan Sasuke.

"Ohh... Lihat kalian! Begitu cocok...!", Naruto memiringkan kepalanya, mengagumi pemandangan keluarga baru di hadapannya. "Dan lihat aku, aku sudah menjadi paman...!", pirang membuka tangannya, tertawa atas kelakarnya sendiri.

"Hn. Berisik."

"Ckckck... Kau tidak boleh berkata kasar di depan bayi yang baru lahir, Sasuke...", Naruto menggelengkan kepalanya, seperti sedang memarahi anak kecil.

Sakura tertawa. Ia melihat ke arah bayi yang berada dalam lindungan Sasuke. "Oh Tuhan! Lihat, Sasuke-kun dia tersenyum...!"

Sasuke menunduk untuk melihat sang junior.

Dan ikut tersenyum.

Naruto tertawa pelan, "Aku suka akhir yang bahagia..."


two weeks later—

"Ya Tuhan... Mereka begitu...- menggemaskan...!", Tenten berseru senang ketika melihat dua bayi di crib yang diletakkan di tengah ruangan. Takeuchi mengulurkan tangannya, seakan ingin berkenalan dengan dua teman barunya itu. "Ta!"

Ruangan di kediaman Uchiha itu hanya didatangi beberapa kerabat dan teman-teman dekat saja. Sakura duduk di dekat crib, sedang Sasuke berkeliling ruangan—menyapa tamu yang sebagian besar ia kenal.

"Jadi... Kau sudah menentukan namanya??", Ino bertanya pada Sakura.

Sakura mengangguk, "Akan diumumkan nanti..."

Tenten sedikit kewalahan menahan Takeuchi, "Sepertinya anakku semangat sekali ingin berkenalan dengan anak-anakmu, Sakura."

Said mom just laugh.

"Aku akan menitipkan ia pada Neji. Tunggu ya!", Tenten terlihat memberikan Takeuchi pada Neji yang sedang mengobrol dengan Sasuke.

"Kenapa harus di sini??", Neji menahan tangan Takeuchi yang hampir menjenggut rambut panjangnya.

"Aku takut ia mengganggu bayi-bayinya. Sebentar saja! Ya?", Tenten mengecup pipi Neji cepat dan berlalu ke tempat duduk para wanita.

Neji memangku sang anak dan mengambil rattle dari tas yang Tenten bawa. Takeuchi memainkannya.

"Bagaimana rasanya?", Sasuke bertanya rendah.

Neji mendongak, "Apa?"

"Punya anak.", Sasuke memperhatikan Takeuchi yang memukulkan rattle empuk itu ke kaki mungilnya.

"Seperti menjalankan misi...", Neji membenarkan posisi duduk Takeuchi, "Hanya saja dengan tanggung jawab lebih besar, dan masa jabat seumur hidup."

Sasuke melihat ke arah crib yang berisi bayi-bayinya—yang sedang ditunggui Sakura.

"Hn. Aku suka misi."

And there's a small visible smile on those avenger lips...

-

-

"Baik... Semuanya tenang—Lee, berhentilah memainkan mainan kembar, Chouji! Itu susu bayi!—oh, ayolah... Berkumpul di sini...", Naruto mengeraskan suaranya agar para tamu berkumpul di tengah ruangan.

Sakura duduk di sofa single, menggendong satu dari si kembar. Sedang yang satunya berada dalam pelukan sang ayah.

"Sekarang saatnya pengumuman nama si kembar...", Naruto berkata ketika semua sudah menaruh perhatian padanya. "Seperti yang kita tahu, mereka laki-laki dan perempuan...", Naruto melihat ke arah Sakura dan Sasuke.

Setelah menghela nafas lega, Naruto bicara, "Dan namanya adalah Uchiha Ryuu dan Uchiha Ichigo...!"

Penyebutan nama itu disambut tepuk tangan riuh rendah dari tamu-tamu.

"Sudah, lanjutkanlah apapun yang kalian lakukan tadi!", Naruto membubarkan kerumunan tamu.

"Terima kasih, Naruto...", Sakura tersenyum senang pada sahabatnya.

"Ah! Aku yang harusnya berterima kasih sudah diperbolehkan menyebut nama mereka...!", Naruto mengelus kepala Ryuu yang ditumbuhi sedikit rambut.

Naruto tersenyum lebar, "Mereka benar-benar mirip denganmu, teme..."


Sakura terdiam di telungkupnya. Suara dentingan musik klasik membuat suasana malam itu tenang. Ia tersenyum.

Di hadapannya ada dua sosok malaikat kecil—atau begitulah ia memanggil mereka—sedang tertidur damai.

"Sakura?", Sasuke muncul dari balik pintu. Sakura berbalik, meletakkan telunjuknya di depan bibir—mengisyaratkan diam.

Sasuke mendekati ketiga sosok itu.

"Mereka akan tidur di sini...?", Sasuke bertanya pelan, duduk di sisi lain si kembar.

Sakura mengangguk, berganti posisi jadi tertidur menghadap langit-langit.

Sasuke melihat dua bayinya. "Baiklah..., selamat tidur...", ia beranjak menjauh.

"Kau mau ke mana??", Sakura bangkit.

Pertanyaan itu membuat Sasuke berbalik, "Ke sofa."

Sakura tertawa kecil atas jawaban datar Sasuke.

"Memang harusnya di mana??", Sasuke merasa sedikit terejek dengan tawa Sakura.

Dengan itu, tawa Sakura berganti menjadi senyuman kecil. Ditatapnya Sasuke yang menaikkan alis, menunggu jawaban.

"Di sini. Bersama kami..."

-

-

"Tapi, Naruto-kun...", Hyuuga heiress look slight nervous.

"Sudahlah, Hinata-chan...! Apa kau tidak kasihan dengan bayinya??", Naruto menjawab dengan bisikan keras.

Hinata menghela nafas, "Baiklah..."

Hyuuga heiress activate her kekkei-genkai.

Setelah dipaksa ikut oleh Naruto—yang curiga Sasuke akan 'doing the business' dengan Sakura dan membiarkan bayinya menangis semalaman—ke kediaman Uchiha, kini Hinata harus melihat ke dalam dengan byakugan-nya. Untuk membuktikan apakah Naruto benar atau salah.

"Apa yang kau lihat, Hinata-chan??"

Hinata tersenyum kecil. Me-nonaktifkan byakugannya.

Naruto mengangkat alis, "Apa??"

Hinata menatap Naruto dengan senyum masih di wajah cantikanya, "Dua chakra kecil yang dilindungi dua chakra lainnya..."

tbc—


ooooooooowh....
X3
(terharu sendiri pas nulis)

hm.
entah kenapa...
aku ngerasa chapter ini jelek dibanding chapter lainnya...
:s

so sorry if it is..
Dx

yep, jadinya kembar cewe-cowo.
Ryuu – Ichigo.

hehehehehehehehehe.
(tiba-tiba inget festival sICHIGOsan)

pasti anak SasuSaku lucu banget kalo ikut fest itu...
XDD

FINAL CHAPTER ; 15
hho...
akhirnya...
se-chappie lagi nih...!
XD

review, please...?
xo xo,
Yvne FSD.