When the Love Falls
Chapter 13
Jongin memberitahu Sehun mengenai cheesecake, Luhan, serta keterkaitannya. Ia juga meminta Sehun untuk berhati-hati dalam menerima barang ataupun menemukan hal yang janggal di rumah itu. Hal ini membuat Sehun, Jongin, Minseok dan Zitao—yang selalu berada di lingkungan rumah tersebut—cemas serta ketakutan. Luhan sedang memberikan peringatan, ini bukan candaan.
Jongin bahkan membawa Sehun untuk memeriksakan kondisinya hanya untuk berjaga-jaga apabila ternyata cheesecake yang Luhan berikan itu mengandung sesuatu yang berbahaya yang dapat mencelakai Sehun. Dan untungnya Luhan masih berbaik hati, ia tidak mencampurkan cheesecake itu dengan apa pun, racun misalnya.
"Dia sudah tahu keberadaan kita, ya?" Bisik Sehun di suatu malam, ia sedang bersiap-siap untuk segera mengistirahatkan tubuhnya.
"Sepertinya begitu." Tanggap Jongin agak gugup, ia juga sebenarnya tidak mengetahui apakah Luhan mengawasi mereka atau tidak. "Sehun,"
"Hm?"
Jongin menghadapkan tubuhnya pada Sehun, ia mengela napas berat, kemudian menangkup pipi kekasihnya itu. "Kautahu Luhan itu bisa melakukan apa pun demi mendapatkan yang diinginkannya, bukan?" Sehun menganggukkan kepalanya ragu sebagai jawaban namun tidak berkata apa-apa, lalu Jongin melanjutkan, "Aku tidak akan membiarkan Luhan menyakitimu, tidak Luhan atau siapa pun." Ia diam sejenak, kemudian menambahkan, "Tapi kau tetap harus berhati-hati."
Mungkin sebenarnya Jongin berniat untuk memperingati Sehun mengenai Luhan, hanya saja entah mengapa kalimat itu sungguh terdengar menyentuh. Sehun tanpa sadar telah sangat merindukan sosok Jongin yang perhatian dan peduli padanya. Jantung Sehun berdebar kencang, wajahnya terasa memanas. Sepertinya—untuk yang kesekian kali—ia jatuh hati pada pria yang sama yang pernah hampir membunuhnya, menyiksanya, memperlakukannya dengan tidak baik karena,
love makes you stupid
and blind.
Sehun seperti tidak dapat berucap untuk merespon kalimat Jongin, maka dari itu ia pun hanya tersenyum simpul pada sang kekasih sebagai rasa terima kasih. Ia raih tangan Jongin untuk digenggam erat, ibu jari Sehun mengelus punggung tangan itu. Thank you, ucap Sehun tanpa menyuarakannya. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Meskipun bersatunya kembali hubungan mereka terkesan terlalu cepat, tetapi Sehun tahu bahwa Jongin bukanlah seseorang yang terlahir dengan pribadi seperti Luhan. Lagipula Jongin sudah melakukan banyak hal untuknya. Contohnya yaitu Jongin yang pergi dari Luhan untuk kembali pada Sehun. Aksi ini terbilang sangat nekat mengingat Jongin tidak pernah tahu apa yang akan Luhan lakukan di kemudian hari untuk meluapkan amarahnya.
"Kita lebih baik pergi dari sini." Usul Sehun, "Bagaimana kalau kita kembali ke Korea diam-diam?" ia berkata seolah usulnya tersebut terdengar mudah untuk dilakukan, karena satu-satunya solusi yang ada di pikirannya saat ini hanyalah melarikan diri.
"Korea tidak dekat." Kata Jongin sambil mencubit pangkal hidung Sehun tak keras, mereka menyempatkan diri untuk tertawa geli pada saat seperti ini. "Dan aku masih memiliki banyak hal untuk diurusi di sini. Lagipula kau juga tidak mungkin meninggalkan teman-temanmu begitu saja."
"Kita masih bisa berkomunikasi dengan mereka melalui ponsel."
"Luhan sulit untuk ditebak." Sela Jongin sebelum Sehun dapat berujar lebih jauh. "Kau tidak tahu apa yang akan dia lakukan padamu esok hari, atau dua minggu kemudian, atau bahkan satu tahun yang akan datang."
Lalu? Apa yang Jongin inginkan? Menunggu sampai Luhan benar-benar datang pada mereka?
"Maksudmu, kau akan menunggu Luhan? begitu?" tanya Sehun agak jengkel. Ia sebenarnya lelah terus dihantui oleh rasa takut dan bayang-bayang buruk mengenai Luhan. Karena selain cheesecake, di hari berikutnya Luhan terus mengirimi Sehun dan Jongin barang-barang yang entah apa maksudnya. Jongin berkata hampir seluruh kiriman tersebut sepertinya memiliki keterkaitan dengan Luhan, namun beberapa di antaranya juga ada yang merupakan kerajinan berupa cendera mata dari Korea. Sehun berpikir semua hal itu pasti memiliki arti tersendiri yang sulit untuk dimengerti olehnya.
Luhan is indeed unpredictable.
Sehun pernah mengusulkan Jongin untuk melaporkan hal ini pada pihak yang berwajib, hanya saja lagi-lagi usulnya itu ditolak dengan alasan bahwa sesuatu yang lebih buruk dapat terjadi apabila mereka melakukan perlawanan. Yang diinginkan Luhan adalah Jongin, jadi satu-satunya pihak yang akan disakiti hanyalah pihak yang menghalangi jalan keinginannya, yaitu Sehun. Dan Jongin tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Ia bertekad untuk selalu melindungi sang terkasih.
"Hey, Sehun." Akhirnya Jongin berucap setelah beberapa saat berlalu, ia mengabaikan pertanyaan Sehun yang sebelumnya diajukan padanya. Atmosfer di antara mereka mulai kembali terasa nyaman.
"Hm?"
Jongin memejam matanya sesaat dan menarik napas dalam-dalam, sebenarnya ia tidak ingin melakukan ini, namun apa daya, ia terlalu banyak menyakiti Sehun di masa lalu. Keselamatan Sehun kini prioritasnya.. "Apa kautahu …" katanya pelan, lidahnya terasa membeku.
"Aku tahu …?" Sehun menaikkan alisnya, sebuah ekspresi lugu di wajahnya membuat jantung Jongin berdegup kencang. Seluruh hal mengenai Sehun begitu manis dan mengagumkan.
Jongin mencoba mengatur nada bicaranya, ia berusaha berucap sesantai mungkin. "Apa kautahu bahwa Chanyeol menyukaimu?"
.
.
.
Sehun,
akan kucarikan teman hidup yang pantas untukmu.
.
.
.
Jongin melihat bagaimana Sehun hendak menjawabnya, namun ia tampak kebingungan. Jongin kemudian tersenyum untuk meyakinkan Sehun kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Hm? Chanyeol? Well, dia temanku. Tentu saja dia seharusnya menyukaiku, kau ini aneh." Lalu terkekeh pada perilaku kekasihnya yang terasa konyol. Inilah salah satu kelemahan yang Sehun miliki, selain hati yang terlalu lembut, ia juga tidak begitu sensitif pada banyak hal di sekitarnya.
"Kau benar," ujar Jongin lalu memaksakan tawa renyah, "tentu saja dia menyukaimu."
Percakapan mereka mulai kembali terasa canggung, maka Sehun pun hanya tersenyum pada Jongin untuk mengakhirinya. Ia kemudian perlahan memejam matanya, bersiap untuk pergi ke alam bawah sadar. Tak butuh waktu lama untuknya tertidur lelap mendahului sang kekasih.
Sementara itu, Jongin berusaha terjaga sepanjang malam demi dapat menikmati wajah damai Sehun yang menenangkannya. Ia belai helaian rambut lembut Sehun penuh kasih sayang, hatinya terus mengucapkan, I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry.
Jongin gagal. Ia tidak dapat menebus kesalahannya dari masa lalu. Ia tidak dapat membahagiakan Sehun. Waktu berduaan yang mereka miliki kini seperti terbuang percuma.
Kapan mereka akan benar-benar terbebas dari masalah? Lebih tepatnya, sampai kapan Sehun akan terus menderita seperti ini? Jongin tahu, ia sendirilah yang menyebabkan masalahnya.
I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry.
Tuhan, untuk malam ini saja, biarkan Jongin menikmati ciptaan-Mu tanpa merasa terbebani oleh masalah apa pun. Jongin saksikan figur sang kekasih yang tertidur lelap di sampingnya dan berpikir, bahwa pemandangan ini lebih baik daripada menyaksikan Sehun bersedih, menangis histeris, dan tertekan apabila diberitahukan mengenai kedua orang tuanya yang sebenarnya telah tiada.
.
.
.
Di pagi itu untuk pertama kalinya lagi, Sehun terbangun sendirian. Jongin meninggalkan sebuah catatan kecil yang menempel di lemari es. Catatan itu memberitahukan bahwa Jongin tidak akan ada di rumah sampai sore hari karena ia harus melakukan pemeriksaan kondisinya, ia juga berkata bahwa Yixing sudah tidak akan lagi datang kemari. Meskipun hari ini pasti akan membosankan, tapi setidaknya ada Zitao yang menemaninya.
"Kau benar-benar berbeda, Sehun." Komentar Zitao, ia perhatikan Sehun yang sedang membuat semangkuk sereal di dapur. Wajah Sehun memang terlihat bertambah dewasa. "Apa selama ini Jongin memberimu makan? Kau terlihat lebih kurus."
Sehun tersenyum ramah menanggapi pertanyaan itu, mungkin Zitao tidak tahu persis apa saja yang menimpa hubungan Jongin dan Sehun dahulu. "Kita sempat berpisah." Jawabnya singkat, tidak ingin memberi banyak detail.
"Oh, maaf. Aku tidak tahu, kukira kalian hanya pernah bertengkar hebat."
"Tidak, kami tidak pernah bertengkar, tapi lebih buruk dari itu." Sehun membawa dirinya beserta semangkuk sereal yang telah dibuat untuk duduk di samping Zitao. Ia tidak menatap Zitao di manik mata ketika berbicara, mangkuk sereal dan kakinya merupakan pemandangan yang lebih membuatnya nyaman saat ini, lagipula mereka juga tidak terlalu di dekat di masa lalu.
"Apa ini karena pria obsesif itu?"
"Pria obsesif …? Oh." Sehun pun tertawa pada panggilan aneh yang Zitao berikan untuk Luhan, ternyata bukan Sehun saja yang memiliki pikiran seperti itu. Tapi jangan salah, Sehun terkadang berpikir bahwa jika tidak dilihat dari sifat obsesifnya, Luhan itu sebenarnya menarik. Ia pastinya dapat memiliki pasangan yang jauh lebih baik dari Jongin. "Semua memang berawal dari Luhan."
Zitao diam sejenak, merasa asing dengan topik pembicaraan ini. "Jadi …" mulainya ragu, "Luhan itu penyebabnya?"
"Ya, begitulah." Jawab Zitao, sebuah helaan napas panjang Sehun dengar dari pria di sampingnya. Zitao bersandar pada sofa yang mereka duduki dengan lunglai, Sehun pun bertanya, "Memangnya kenapa? Kaukenal Luhan?"
Ketika ditanya seperti itu, ia hanya terkekeh gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Tidak apa-apa, hanya saja … kudengar Jongin dan Luhan akan …"
Kalimat yang menggantung, Sehun benci itu. Apalagi jika masalahnya memiliki hubungan dengan orang-orang yang dikasihinya. "Jongin dan Luhan? mereka akan apa?"
"Lupakan, aku hanya bercanda." Lanjutnya dengan nada jahil, Zitao lalu tertawa terbahak-bahak melihat wajah Sehun yang sempat serius, ia menerima beberapa pukulan yang cukup keras bertubi-tubi di lengannya dari kekasih Jongin itu. "A-ah, hentikan! Aku hanya bercanda."
Satu hal yang baru Sehun ketahui mengenai Zitao, meskipun raut wajahnya terlihat mengintimidasi, tetapi ternyata sifatnya tidak begitu. Zitao orang yang cukup menyenangkan. Lagipula jika seseorang ingin mencoba berteman dengannya, Sehun tidak mungkin menolak—hey, mungkin Zitao tidak seburuk yang Sehun dahulu selalu kira.
"Kau sama seperti temanku yang lain, sama-sama menyebalkan!" seru Sehun jengkel separuh bergurau seraya mengelusi perutnya yang terlihat semakin membesar. Ia menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Zitao dan terkekeh jahil. "Aku tidak akan membiarkan putraku bermain denganmu jika kelak dia sudah lahir dan tumbuh besar."
Zitao tidak segera membalas, ia kemudian malah berkata, "Oh, tunggu sebentar." Sambil merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah ponsel. "Halo." Ia berjalan menjauh dari Sehun menuju taman di halaman belakang.
Sehun melihat dari kejauhan, Zitao seperti gelisah, ia sedang berdebat dengan seseorang melalui ponselnya. Berkali-kali pandangan mereka saling bertemu, namun Zitao selalu langsung mengalihkan tatapannya. Ada yang aneh dan salah. Sehun hanya berharap bukan sesuatu yang terlalu serius dan semuanya baik-baik saja.
.
.
.
Luhan memainkan cangkir yang ada dalam genggamannya, ia perhatikan cairan bening yang bergerak ke sana-kemari, namun matanya tak berhenti mengawasi pria di hadapannya. Sudah lama mereka tidak memiliki waktu berduaan di rumah Luhan ini. "Sekarang kau membutuhkanku." Katanya santai, ia kemudian tersenyum simpul.
"Luhan," ia merebut gelas yang ada dalam genggaman Luhan lalu menyimpannya di atas meja di dekatnya. Ia memaksa Luhan untuk menatap wajahnya. "Aku tidak mau berbasa-basi."
Luhan hanya terkekeh geli melihat perlakuan Jongin padanya tadi. "Oh, maaf. Aku tidak sopan." Ia menghadapkan wajahnya pada Jongin. "Apa yang kaubutuhkan dariku?"
Jongin sungguh menyesal pernah mempercayai Luhan dan terhasut olehnya. Kebodohannya itu merupakan kesalahan terbesar yang telah ia perbuat. Maka kali ini, biarkan Jongin mencoba menebus segalanya dengan melindungi Sehun.
"Kau tidak perlu melakukan ini, Luhan." Jongin mencengkram tangannya erat-erat, ia berusaha untuk tidak meluapkan emosinya pada Luhan. "Sehun tidak harus terlibat."
"Tapi kau selalu datang padanya."
"Kalau kautahu aku selalu akan kembali pada Sehun, kenapa kau tidak menyerah saja?!" Jongin berseru kencang dengan emosi, ia menatap Luhan penuh kebencian. Namun yang ditatapi itu hanya tertawa keras, tak lama, dalam sekejap sisi gelapnya kembali ia munculkan. Luhan tersenyum mencemooh pada Jongin, menantangnya.
"Oh, kau sekarang berani membentakku."
"Luhan, kumohon."
"Jadi, sebenarnya kau ini ingin membentakku atau memohon padaku?" tanya Luhan memotong pembicaraan Jongin, ia sengaja untuk berbicara bertele-tele. Memainkan perasaan orang memang menyenangkan baginya.
"Aku hanya ingin kau membebaskan Sehun. Itu saja." Tidak, Luhan tidak menyukai bagaimana Jongin peduli pada Sehun. Jongin tidak seharusnya melindungi Sehun atau melakukan apa pun demi Sehun. Jongin hanya boleh menyukai Luhan, tidak boleh siapa pun selain Luhan, selain dirinya.
"Aku tidak pernah melakukan apa pun pada Sehun, dia yang membuatku melakukannya." Respon Luhan. "Jadi ini bukan salahku."
"Luhan,"
"Aku juga sudah memperingatinya."
"Luhan!"
"Dan, guess what, Sehun tidak sepintar yang kukira. Apa dia sudah tahu kalau orang tuanya itu sudah mati? Cih, menyedihkan." Katanya dengan nada menghina. Tak lebih dari sedetik Luhan selesai berbicara, sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Ia dapat merasakan bagaimana rasa sakitnya mulai bereaksi. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Luhan tak sadar bahwa ia jadi berhenti berbicara karena merasa terkejut pada perilaku kasar Jongin.
"Kautahu, Luhan? sekarang aku tidak peduli pada apa pun yang akan kaulakukan, kau benar-benar sudah keterlaluan." Luhan membuka mulutnya untuk membalas Jongin, namun tidak sepatah kata pun terucap. Bibirnya terasa bergetar. Pandangannya mengabur oleh air mata yang akan menetes ke wajah. Ia kemudian menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya dari Jongin, tidak ingin terlihat lemah. "Luhan, kalau kaupikir hidupku dan Sehun sebagai yatim piatu ini menyedihkan. Kau harus segera bercermin dan lihat dirimu sendiri."
Dengan itu, Jongin pun berbegas meninggalkan Luhan, mengabaikan suara tangis menyedihkan yang menggema ke seluruh ruangan. Luhan harus menyadari kesalahannya, menangisi hal-hal yang telah diperbuat. Tanpa pikir panjang, Jongin segera melaporkan hal ini pada polisi meski ia tahu bahwa Luhan tidak akan begitu saja tinggal diam. Tapi inilah hal terbaik yang dapat Jongin lakukan untuk sementara, entah apa yang akan terjadi pada mereka nanti, ia tidak peduli. Untuk saat ini ia akan menanggung risiko apa pun demi membela dan melindungi Sehun. Demi membahagiakan sang terkasih.
.
.
.
Zitao melihat Sehun sebagai seseorang yang sangat lembut dan ramah. Seseorang yang tidak pantas untuk disakiti. Sehun juga sepertinya senang bercanda, ia kini sedang bergurau dengannya. Mungkin karena ingin menghidupkan suasana. Ketidakhadiran Jongin membuat Sehun pasti merasa kesepian.
"Aku tidak akan membiarkan putraku bermain denganmu jika kelak dia sudah lahir dan tumbuh besar." Kata Sehun agak kenakak-kanakan. Ini mungkin merupakan salah satu alasan mengapa Jongin begitu tertarik pada Sehun, ia memiliki pribadi yang menyenangkan. Dan berbicara mengenai putra Sehun dan Jongin, Zitao pun melirik sekilas pada perut besar Sehun. Keluarga kecil mereka akan dikaruniai oleh anggota keluarga baru. Sungguh membahagiakan, bukan? Sayangnya Zitao harus mencegah hal itu terjadi.
"Oh, tunggu sebentar." Ucap Zitao beralasan sambil merogoh saku seolah ponselnya sedang bergetar karena menerima panggilan. "Halo." Ia berjalan menuju halaman belakang rumah, menjauh dari Sehun sebisa mungkin. Rencana yang sudah Luhan susun untuk dilaksanakan olehnya sungguh sulit. Zitao tidak mungkin semudah itu menyakiti orang yang tidak bersalah, tapi Luhan sudah berjanji akan memberikan bayaran yang setimpal padanya.
Demi biaya pendidikan Jongdae, ucap Zitao dalam hati sebagai motivasi. Tidak perlu merasa bersalah.
Jadi, rencana Luhan adalah untuk mengambil kembali apa yang sudah menjadi miliknya, Kim Jongin. Namun tentu saja harus ada pihak yang dikorbankan, siapa lagi kalau bukan Sehun. Selagi Jongin sedang berbicara empat mata dengan Luhan sebagai pengalihan, Zitao harus melakukan perintah Luhan dengan cepat. Padahal dengan menusuk Jongin dari belakang saja sudah membuat Zitao merasa menjadi orang yang paling keji di dunia ini, apalagi jika ia melakukan apa yang Luhan perintahkan, Zitao sepertinya tidak akan memaafkan dirinya sendiri sampai kapanpun.
Sebenarnya saat ini Jongin sedang berusaha untuk membujuk Luhan agar melepaskan Sehun, membebaskannya, tidak melibatkannya. Jongin akan melakukan apa pun agar Sehun tidak disakiti lagi. Maka ia pun membuat sebuah kesepakatan dengan Luhan bahwa ia akan melakukan apa pun untuk Luhan asalkan Sehun tidak dikaitkan lagi dalam masalah ini. Dan Luhan menyetujuinya. Ia pun mengundang Jongin untuk membicarakan kesepakatan mereka lebih rinci lagi. Namun, hal yang Jongin lupa mengenai Luhan adalah mengenai sifat liciknya. Tentu saja Luhan tidak akan melepaskan Sehun dengan mudah.
Ya, setidaknya itulah apa yang Zitao asumsikan. Ia juga sebenarnya tidak tahu apa yang kini sedang terjadi pada Luhan dan Jongin. Tapi semoga saja Jongin dapat membujuk Luhan sehingga Zitao tidak harus melakukan misinya ini.
"Terserah bagaimana caranya," Zitao mendengar orang itu berujar kesal padanya melalui ponsel, kali ini Zitao tak lagi berakting, ia sedang melakukan percakapan nyata dengan seseorang melalui ponselnya. "Aku tidak peduli. Lakukan tanpa meninggalkan jejak!"
Zitao menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya berat. "Luhan, ini tidak semudah yang kaubayangkan,"
"Apa yang kau masih tidak mengerti? Perintah ini sederhana!" serunya dalam amarah, dan Zitao tidak membalasnya, Tidak berani membalasnya. Luhan juga tidak segera berkata apa-apa, namun kemudian terdengar ia berucap, "Lenyapkan Oh Sehun."
.
.
.
Pukul tiga sore. Sunyi. Suara jarum jam dinding setiap detiknya itu terdengar keras.
Tick tock. Tick tock. Tick tock.
Sehun terbangun dari tidur siangnya secara spontan, ia merasakan sakit yang luar biasa. Kedua matanya terbuka lebar, terkejut, ia menemukan darah membasahi pakaiannya di bagian perutnya yang terasa sakit. Sebilah pisau tertancap tak terlalu dalam. Seseorang melenguh terkejut, Sehun pun langsung mengalihkan perhatiannya pada orang itu. Zitao.
Sayangnya Sehun tidak mampu berkata apa-apa, ia tidak memilki tenaga untuk itu. Rasanya seluruh anggota tubuhnya dilumpuhkan. Ia kemudian mengerang kesakitkan sangat keras ketika pisau tersebut kembali Zitao tarik untuk dilepaskan dari tubuh Sehun.
"M-maafkan aku, Sehun. Aku—aku tidak—tidak bermaksud." Percuma saja, permintaan maaf itu tak didengar oleh Sehun. Ia sibuk menangis dan berdoa demi keselamatan dirinya serta putranya. Air mata mengalir deras ke pipi, wajahnya juga terlihat pucat. Kesadaran mulai menggodanya untuk kembali memejamkan mata, tenaganya benar-benar seperti terkuras habis.
"A-aku bodoh, maaf, maaf." Kata Zitao terbata, ia ikut menangis. Sehun memeluk perutnya untuk menahan rasa sakit tanpa melakukan pergerakan lainnya, ia hanya bisa meringis kesakitan. Rasanya tidak dapat digambarkan dengan kata-kata, Sehun seperti sedang mendekati maut. Ia tidak pernah merasakan rasa sakit seperti ini sebelumnya, rasa sakit yang luar biasa yang tidak bisa dihentikan. Keringat dingin mulai bercucuran mengkhiasi wajahnya, kedua tangan yang ia gunakan untuk memeluk perutnya pun bergetar. Tubuhnya terasa lemas. Mau tak mau, ia terpaksa memejam matanya kembali dan mulai kehilangan kesadaran.
Samar-sama Sehun dapat mendengar suara panik Zitao yang sedang menghubungi ambulans. Memori-memori berarti nan indah di hidupnya terlintas begitu saja di pikirannya. Sebagian besar mengenai orang tuanya, para kerabat di sekolah menengah, lalu teman-temannya di London, dan Jongin.
Jongin, Jongin, dan Jongin.
Sehun tidak ingin berpisah dengan Jongin.
.
.
.
Tidak pernah dalam hidupnya, ia merasakan rasa sesal seperti ini. Jongin mengepalkan tangannya erat-erat, ia hantamkan kepalan tangan itu pada dinding di sampingnya. Air matanya mengalir deras, beriringan dengan tetesan air hujan yang jatuh ke bumi. Batu nisan yang berdiri tegak di hadapannya pun basah.
Minseok berusaha menenangkan Jongin, ia berikan kalimat-kalimat penghibur untuk meredakan kesedihan yang sedang terjadi. Namun kesedihan ini tidak sesederhana yang orang-orang pikirkan. Jongin terlalu terpukul, ia marah, dunianya sedang berduka.
Tangisan itu Jongin persembahkan untuk dia yang telah pergi.
I'm sorry, I'm sorry, I'm sorry.
.
.
.
.
.
.
tbc
chingchong: hai! gak berhenti-berhenti minta maaf buat update-an yg lelet, saya juga gak tau kenapa saya selelet ini orz. tapi udah berusaha nulis dan cuma ini hasilnya. semoga gak mengecewakan, dan pada suka! sebentar lagi fiksi ini tamat. akhirnyaaaa aduh ;_;
terima kasih yang sudah baca dan memberi reviews! semoga diberi balasan yang setimpal :D
