A/N : Bagian ini Yuki yang nulis tapi gue yang publish sama update. Disini dia mencoba untuk menampilkan beberapa adegan humor biar gak tegang terus. Akatsuki disini ditampilkan tentunya sebagai bala bantuan buat Sasori! Jujur bagian akatsuki ini murni ide dari dia. Tapi para akatsuki ini kagak bisa muncul serombongan dalam waktu yang bersamaan atas dasar keselamatan portal dan mereka gak selalu bisa mendampingi si Sasori. Well, adegan kemah mereka mungkin chapter depan buat refreshing para karakternya dan pembaca hehe. Enjoy it, please.


Warning : T rate, chara death (mungkin?), banyak pake tokoh minor Naruto, OC.

Genres : Action/Adventure/Romance/Humor/Angst/Tragedy.

Pair : SasoriXSakura/KaoruXMarie (dan hint lainnya).

Disclaimer : Meski tokoh minor mereka juga milik Masashi Kishimoto sama kayak tokoh Naruto lainnya.

This story belong to Riyuki18.

Dedicate to all reader! Please enjoy it.

.

Neverland Side Story

Chapter 12

(Power Of Friendship!)

.

.

"Rupanya semuanya berkumpul disini ya?" sambar pria besar yang membawa banyak pedang di belakang punggungnya. Dia muncul tiba-tiba di depan Sasori dan Kaoru.

"Ck… Kau lagi! Apa kau kemari juga mau membunuhku?" tanya Sasori sambil berdecak kesal.

"Yo kalian semua, harap dengarkan aku bicara karena aku si hebat sudah datang jadi bersiaplah! Hahahahahah-" pria itu malah nge-rap sambil tertawa terbahak-bahak, tapi sedetik kemudian dia langsung dilempari oleh yang lain dengan berbagai macam barang.

Duagh!

Buagh!

Plakh!

Klontang!

Tuing! Lemparan yang terakhir itu kaleng kosong yang tepat mengenai jidatnya (yang lempar Haku nih).

"Argh! Siapa yang berani-beraninya lempar kaleng ke kepalaku!" omel pria itu yang tak lain adalah Killer Bee sambil ngelus-ngelus jidatnya yang sukses benjol dan memerah.

"Mau lagi?" tanya yang lain serempak langsung megang kaleng-kaleng kosong entah diambil darimana. Killer Bee langsung mingkem, pundung dipojokan.

"Lupakan dia! Lebih baik kita selesaikan urusan kita sekarang! Serahkan kaset itu pada kami!" kata pemuda berambut coklat cepak itu meminta kaset Neverland dari Sasori, karena kaset yang sebelumnya dia ambil dari Gaara bukanlah kaset Neverland melainkan bagaimana caranya membuat alis. Dia benar-benar sudah dipermalukan karena sudah mengambil kaset yang salah itu, setelah dilihat isinya adalah seorang gadis yang sedang menunjukkan caranya menyulam alis. Gara-gara hal itu dia jadi dianggap pria mesum.

"Maaf sekali tapi kami harus membunuhnya dulu." Orang yang bertopeng putih itu langsung menyambar omongan pemuda berambut coklat cepak tersebut.

"Siapa kalian hah?" tanya Dosu, pemuda berambut coklat cepak itu menunjuk kedua saingannya dengan sinis.

"Benar juga, kita belum kenalan. Nama saya Haku dan dia adalah Zabuza." Pemuda itu terdiam sejenak lalu melangkah maju bersama partner-nya sambil menyalami trio belang aka Dosu, Kin dan Zaku.

"Tidak bisa! Dia harus menyerahkan kasetnya dulu!" balas pemuda itu langsung pasang pose menantang pada dua saingannya yang juga mengincar Sasori.

"Nyawa dulu!"

"Kaset!"

"Nyawa!"

"Kaset!"

Akhirnya kedua kubu yang saling bersebrangan dan mengincar Sasori itu malah bertengkar sendiri.

"Mereka itu apa benar sedang mengincarku?" tanya Sasori yang malah merasa dikacangin oleh para pengejarnya.

"Entahlah… " balas Kaoru sambil bengong menatap tingkah laku para penjahat itu yang malah bertengkar seperti anak kecil yang sedang rebutan mainan.

"Lebih baik kita tinggalkan saja mereka." Sasori yang malas langsung mengajak Kaoru untuk kembali saja ke apartment mereka.

"Kau! Kau mahkluk bertopeng jangan halangi kami!" pemuda berambut coklat cepak itu sekarang sedang marah-marah sambil menunjuk pemuda yang memakai topeng itu.

"Apa kau bilang! Kalian bertiga yang jangan menghalangi kami! Dasar trio macan tutul gagal!" balas pemuda itu yang tak terima ditunjuk-tunjuk dan membalas omongan pemuda berambut cepak itu.

"Kalian sudah berhenti! Sasaran kita sudah pergi!" kata satu-satunya perempuan yang ada disana sambil menunjuk ke area yang sudah kosong.

"Tch… Semua ini gara-gara kalian! Ayo kita pergi Zabuza!" pemuda itu menggeram marah melihat sasarannya hilang. Dia terpaksa pergi dari tempat itu.

"Seharusnya aku yang bilang seperti itu! Huh… Dasar duo racun!" balas Dosu sang pemuda berambut coklat cepak itu juga turut kesal karena rencananya lagi-lagi gagal. Dia juga bergegas pergi untuk meninggalkan tempat itu.

"Eh, udahan? Kok udahan? Lagi dong, kan seru!" sambar Killer Bee yang sepertinya tidak rela kalau kedua kubu itu selesai bertengkarnya.

"MATI SAJA KAU!" teriak kedua kubu itu secara kompak dan langsung kembali melempari Killer Bee dengan kaleng kembali.


"Benar-benar deh! Hari ini kenapa banyak sekali orang-orang aneh?" gerutu Sasori yang bingung dengan kejadian yang dia alami seharian ini.

"Yo, Sasori!" mendadak saja muncul seorang pemuda berambut pirang panjang dengan bagian poninya yang menutupi sebagaian wajahnya. Dia tepat berdiri di depan Sasori membuat pemuda berambut merah itu lompat ke belakang.

"Dei-Deidara?" tanya Sasori kaget yang mengenali sosok itu sebagai Deidara, temannya yang sudah tewas dalam kebakaran itu.

"Ada aku juga!" muncul sosok lainnya yang berambut putih dengan model rambut disisir ke belakang sedang jongkok alias nangkring di atas tembok sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Hi-Hidan?" Sasori langsung lompat ke samping, kaget dengan penampakan Hidan yang tiba-tiba itu.

"Jangan kaget seperti itu Sasori." Muncul sosok lainnya di belakang Sasori. Pemuda itu langsung berbalik dan melompat mundur begitu melihat siapa yang ada di belakangnya.

"Itachi!" serunya lebih kaget lagi melihat Itachi ada disana.

"Jangan lupakan aku!" sambung sosok lainnya yang muncul dari bawah tanah.

"Zetsu! Jangan muncul dengan cara seperti itu!" Sasori langsung menginjak Zetsu membuat pemuda itu kembali terpendam ke dalam tanah, tapi tak lama sosok Zetsu kembali muncul di tempat lainnya.

"Ka-kalian kenapa bisa ada disini?" tanyanya terbengong-bengong heran melihat semua temannya yang sudah meninggal itu kini muncul dihadapannya.

"Mudah saja, kami disini untuk melindungimu!" jawab Deidara sambil senyum-senyum mencurigakan. Dan seketika mereka melakukan pose seperti pasukan pelindung dunia (bayangkan mereka melakukan gerakan pose kayak gerakan Son Gohan dari Dragon Ball).

"Sasori sepertinya kau sedang sibuk dengan teman-temanmu itu, aku kembali ke ruanganku dulu." Kaoru langsung menyela dan memutuskan untuk membiarkan Sasori bernostalgia bersama teman-temannya, setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Kaoru saat ini. Dengan cepat pemuda itu masuk ke tempatnya.

"Kita jangan bicara disini, masuklah!" Sasori langsung saja membuka pintu apartment-nya dan menyuruh mereka semua untuk masuk.


Di dalam apartment Sasori…

.

.

"Sekarang ceritakan padaku bagaimana kalian bisa ada disini? Apakah kalian ini bangkit dari kubur dan berubah jadi zombie?" tanya Sasori sambil menekankan kata pada 'kalian' dan menunjuk-nunjuk Deidara dan yang lainnya.

"Kami terlalu keren untuk jadi Zombie." Itachi ngomong dengan pede dan langsung didepak Sasori.

"Aku tanya dengan serius!" sambar Sasori yang sedikit kesal karena ditanggapi dengan candaan oleh Itachi, padahal dia memang sedang serius dan butuh penjelasan saat ini. Otaknya benar-benar terasa mau meledak.

"Biar aku yang menjelaskan." Hidan langsung mengambil alih pembicaraan. Pemuda itu langsung duduk sambil menatap Sasori dengan tatapan serius. "Kami kemari untuk memberimu peringatan, karena nyawamu dalam bahaya. Kau telah melakukan suatu kesalahan tanpa kau sadari." Hidan mulai mencoba menjelaskan permasalahan yang sebenarnya pada Sasori.

"Kesalahan? Memangnya kesalahan apa yang kuperbuat?" tanya Sasori dengan bingung, kenapa ucapan Hidan sama persis dengan orang yang menyerangnya waktu itu.

"Saat jiwamu terperangkap di dalam tubuh Joker, itulah awal mula dari semua masalah ini," sambung Deidara yang mengatakan kalau semua permasalahan dimulai saat jiwanya masuk ke tubuh Joker. Sasori terdiam tampak sedang berpikir dan mencoba mengingat kejadian apa saja yang dia alami selama dia koma akibat kejadian itu.

-ooo-

Sedangkan di kamar sebelahnya Kaoru terlihat sedang mengeluarkan boneka kelinci hitam yang waktu itu diberikan Alice padanya.

"Aku harus bisa, tak boleh lagi ada keraguan," ucapnya mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau tindakan yang dia lakukan kali ini sudah benar. Dia mencoba melakukan sesuatu pada boneka itu, karena kata Alice, boneka itu dapat mengirimnya ke tempat Alice.

"Boneka ini sama sekali tidak bereaksi apa-apa. Bagaimana cara menggunakannya?" tanya Kaoru dengan bingung bagaimana cara memakai boneka itu. Kemudian pemuda itu mengguncang-guncangkan tubuh boneka itu berkali-kali, dan tiba-tiba saja boneka itu berubah.

POOF!

Boneka itu seketika berubah menjadi besar kira-kira seukuran anak berusia 10 tahunan.

"U-uwaaa!" Kaoru yang kaget langsung melepas pegangannya dari boneka itu dan terjatuh ke belakang. "Mo-monster!" kata Kaoru setengah berteriak sambil menunjuk-nunjuk boneka kelinci itu yang kini sudah berbuah bentuk dan tiba-tiba hidup di depannya.

"Dasar anak bodoh! Tubuhku sakit semua tau kalau kau mengguncangnya terlalu keras!" kata kelinci itu marah-marah pada Kaoru sambil memukul kepala pemuda itu dengan sebuah pentungan kayu yang entah sejak kapan dia pegang.

"Tapi sudahlah, aku diperintahkan oleh Alice-sama untuk membantumu. Karena kau sudah memanggilku jadi aku akan membawamu kesana, pegang tanganku." Monster itu mendengus angkuh, lalu dia mengulurkan tangannya pada Kaoru. Pemuda itu terlihat sedikit ragu tapi dia akhirnya dapat memberanikan diri memegang tangan monster itu. Seketika keduanya menghilang dari sana.

-ooo-

Back to Sasori apartment…

.

.

"Maksudmu gara-gara itu Joker jadi terbawa ke dunia nyata? Dan sekarang dimensi portal antara dua dunia itu terbuka?" tanya Sasori dengan tampang gado-gado, antara mau tertawa, bingung atau kaget, tapi akhirnya pemuda itu memutuskan untuk tertawa lebih dulu.

"BAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" pemuda itu tertawa dengan keras sambil guling-guling di lantai dan memukul-mukul lantai, bahkan ada air mata yang menetes dari matanya. "Hah… Hahaha… APA KATAMU? PORTAL DIMENSI TERBUKA ANTARA DUNIA GAME DAN DUNIA NYATA? ITU GAWAT!" lanjut Sasori yang sekarang berteriak panik setelah mendengar keadaan yang sebenarnya.

"Lalu sekarang kita harus bagaimana?" kali ini Sasori bertanya dengan bingung sambil menarik kerah baju Hidan dan mengguncang-guncangkan tubuh pemuda di depannya itu.

"Hoek… Per-pertama, tolong le-lepaskan aku dulu!" jawab Hidan sambil mengangkat satu jarinya meminta Sasori untuk melepaskan cengkraman tangannya.

"Baiklah," balas Sasori dengan singkat dan langsung melepaskan Hidan. Pemuda berambut klimis itu langsung merosot ke bawah.

"Sigh… Sekarang aku harus bagaimana? Aku hanya manusia biasa, mana mungkin aku bisa menghadapi para NPC yang mengincar nyawaku, cepat atau lambat aku pasti akan terbunuh kalau begini!" kata Sasori yang kelihatannya sudah frustasi ke tingkat paling akut.

"Itulah kenapa kami disini! Kami sudah bilang kalau kami akan melindungimu, lagipula… " balas Hidan sambil geleng-geleng kalau Sasori tidak mendengarkan perkataan mereka sebelumnya. Kemudian pemuda itu mengeluarkan sabitnya dan mengayunkannya pada Sasori.

ZRAAAAAT… !

Hidan menebaskan sabit besarnya itu ke arah Sasori. Pemuda itu reflek mengelak sehingga tebasan itu mengenai meja yang ada disana dan membelahnya.

"A-apa yang kau lakukan?" tanya Sasori dengan kaget karena Hidan tiba-tiba saja menyerangnya.

"HEYAAAAA!" Hidan kembali berlari dan langsung menyeruduk Sasori sehingga pemuda itu terpental dan terhempas ke belakang.

"Rasakan ini!" dia kembali menebaskan sabitnya dari atas ke arah Sasori.

"Tch… Apa-apaan ini!" desis Sasori yang tidak mengerti dengan sikap Hidan.

Zreeeeet…

Tanpa sadar Sasori mengeluarkan benang tipis dari tangannya dan mengikat senjata yang sedang dipegang Hidan dan menahan gerakan serangan Hidan terhadapnya.

"Hehehehe… Kau bilang kau hanya manusia yang tak bisa melawan NPC, eh Sasori? Coba sekarang lihat apa yang kau lakukan? Apa kau masih tidak menyadarinya?" Hidan terkekeh sesaat lalu menghentikan serangannya. Ternyata pemuda itu hanya mau mengetes Sasori saja.

"Apa… Aku… ?" Sasori reflek terdiam dan melihat apa yang sedang dia lakukan. Dia berhenti dan membiarkan benang-benang itu jatuh ke lantai. Sekarang dia baru mengerti maksud yang diucapkan oleh orang itu. Sasori ingat kalau orang itu mengatakan kalau dia memiliki setengah dari 'kekuatannya', apakah ini yang dimaksud kekuatan yang dimiliki Sasori.

"Sekarang kau sudah mengerti? Kau memiliki setengah kekuatan dari Joker," sambar Itachi yang sekarang sedang berubah jadi serius. Sasori hanya terdiam, dia masih bingung dengan apa yang barusan saja terjadi. Pemuda itu melihat ke semua teman-temannya lalu melihat ke sekeliling. Dia menghela napas panjang , lalu…

"HIDAN! MEJA ITU KUBELI DENGAN HARGA LIMA RATUS RIBU! KAU HARUS GANTI!" teriaknya dengan muncul beberapa aksen marah di kepalanya sambil menunjuk-nunjuk meja yang sudah hancur terbelah dua akibat perbuatan Hidan.

"Ganti pakai uang game bisa, gak?" tanya Hidan sambil mamerin uang yang ada di dalam permainan.

Set!

Sasori dengan cepat menyambar uang-uang kertas yang sedang dipegang oleh Hidan.

PLAK!

"Ini bukan dunia game tau!" Begitu uang-uang kertas itu berpindah tangan dia menamparkan dengan keras uang kertas itu ke pipi Hidan.

"Sigh… Kembali ke pembicaraan," lanjut Sasori yang terlihat sudah bisa tenang. Dia sedikit menghela napas lagi. "Kalau benar Joker ikut terseret kemari, berarti dia ada di dunia nyata, bukan? Lalu kalian tau dimana dia?" tanya Sasori yang menanyakan keberadaan Joker saat ini.

"Tidak." Mereka menjawab dengan kompak sambil menggelengkan kepala. Sasori langsung sweatdrop.

"Joker itu sosok yang paling misterius di game, apalagi dia selalu mengenakan topeng. Mungkin yang mengetahui wajahnya adalah Queen Marie dan anak-anak yang ikut melakukan petualangan pada saat itu," sambung Itachi menceritakan sedikit mengenai sosok Joker di dalam game.

"Tapi Sasori… Seharusnya kau tau wajah Joker, kan? Kau yang memegang NPC itu waktu dalam proses pengembangan. Masa kau bisa tidak tau?" tanya Zetsu yang sedikit bingung dengan sikap Sasori yang seolah melupakan Neverland begitu saja.

"Jujur saja, setelah bangun dari koma aku tidak bisa begitu ingat jelas apa saja yang kualami. Sosok Joker sendiri tak bisa kuingat, dia seperti tenggelam dalam kegelapan… " jawab Sasori menjelaskan kalau ingatan dia mengenai perjalanannya di Neverland sudah terlupa dan sulit dia ingat, dia sendiri juga tak bisa mengingat sosok Joker seperti apa.

"Hah… Kalau begitu kami akan pergi mencari informasi untukmu, setelah itu kami akan kembali lagi." Itachi segera berdiri dan memutuskan untuk kembali ke Neverland untuk mencari tambahan informasi yang lebih detail.

"Kalian… Apa kalian akan kembali lagi kemari?" tanya Sasori penuh harap, jujur saja meski kadang mereka menyebalkan tapi justru Sasori merindukan saat-saat seperti itu, dia sangat merindukan teman-temannya.

"Kami akan kembali setelah mendapat informasi." Itachi menjawab dengan datar, sepertinya pemuda itu sudah kembali ke sifat aslinya, Sasori sedikit tertawa kecil melihat sikap Itachi yang seperti itu.

"Lagipula kami tidak bisa setiap kali bolak-balik melewati portal itu, karena itu hanya akan menambah kerusakannya saja," sambar Hidan sambil garuk-garuk kepala dan tangan yang satunya sedang berkacak pinggang.

"Kau juga harus menyelidiki Sasori. Coba kau ingat-ingat kejadian yang akhir-akhir ini kau alami, mungkin ada sangkut-pautnya dengan Joker." Kali ini giliran Zetsu yang angkat bicara meminta Sasori juga melakukan penyelidikan sendiri.

"Kami pergi dulu, un! Sasori jaga diri ya, un!" sambar Deidara sambil melambai-lambaikan tangannya di depan pintu.

"Tenang saja, kalau dia mati bagus malah! Kita bisa berkumpul lagi!" celetuk Hidan yang malah menyumpahi Sasori biar ikut mati seperti mereka.

Ctak!

Sebuah aksen persimpangan muncul satu di kepala Sasori.

"Wah, kalau begitu kau mati saja Sasori!" sambung Zetsu sambil nyengir.

Ctak! Ctak!

Muncul dua aksen marah.

"Tenang saja Sasori! Kami sudah mempersiapkan tempat untukmu di Neverland kalau kau benar-benar mati!" kekeh Itachi yang ternyata sudah mempersiapkan tempat untuk Sasori, dan ternyata mereka semua memang mengharapkan Sasori untuk mati, benar-benar teman yang durhaka.

Ctak! Ctak! Ctak!

"KA… LIAAANNN… KEMBALI SANA KE DUNIA KALIAN!" Sasori tanpa ampun langsung menendang teman-temannya itu keluar dari apartment miliknya.

"UWAAAAAAA!" teriak Itachi dan kawan-kawan yang mental keluar dan langsung jatuh gedebum ke bawah. Untungnya mereka semua sudah mati, jadi jatuh dari ketinggian seperti itu tak masalah buat mereka. Sedangkan Itachi dan lain hanya bisa menggerutu dan buru-buru kabur dari sana sebelum Sasori kembali mengamuk.

-ooo-

Setelah melihat teman-temannya sudah pergi, Sasori langsung mengunci pintu apartment-nya. Dia langsung menuju kamarnya. Sesampainya disana, pemuda itu langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur sambil memejamkan matanya. Dia kembali teringat apa yang dikatakan teman-temannya barusan.

'Mengingat kejadian apa saja yang sudah kualami… ' dalam hati Sasori terus-menerus mengucapkan kata-kata itu. Dia mengikuti saran tersebut dan mencoba mengingat beberapa kejadian-kejadian aneh disekitarnya. Semua kejadian yang dia alami setelah kembali sadar semuanya seperti berputar ulang kembali di otaknya, seperti menonton sebuah rekaman. Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu… Kaoru… Pemuda itu juga menarik perhatiannya karena dia merasa ada aura tersendiri pada pemuda itu, selain itu dia juga turut mengalami hal yang sama sepertinya, menjadi incaran orang-orang yang tidak dikenalnya.

'Jangan-jangan… Kaoru!' Sasori langsung membuka matanya dengan cepat dan bangkit dari posisi tidurnya. Dia tidak tau apa kecurigaannya benar tapi dia harus mencari tau soal itu. pemuda itu bergegas keluar dari kamarnya dan membuka kembali pintunya yang sudah terkunci. Dia langsung menuju ke kamar sebelah dimana Kaoru tinggal.

Tok tok tok tok!

Sasori dengan sedikit tergesa mengetuk pintu kamar Kaoru berharap pemuda itu belum tertidur.

"Kaoru, apa kau sudah tidur?" tanya Sasori setengah berteriak sambil kembali mengetuk pintu itu lagi beberapa kali. Hening, tak ada jawaban dari sang pemilik kamar.

'Hah… Mungkin dia sudah tidur… Sudahlah, besok saja.' Sasori menghela napas sambil berpikir mungkin temannya itu sudah tidur, sambil melihat jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dia memutuskan untuk kembali ke tempatnya dan tidak mengganggu pemuda itu.


Somewhere else…

.

.

Di tempat lain terlihat Kaoru sedang melihat gambaran-gambaran mengenai masa lalunya dari sebuah cermin yang diperlihatkan Alice kepadanya. Dalam cermin itu dia benar-benar melihat sosok dirinya sendiri sebagai seorang NPC yang hanya eksis di dunia permainan.

"Meskipun aku sudah melihatnya… Tapi tetap saja aku tidak bisa mengingatnya… " pemuda itu berkata dengan lirih, kenapa kenangan-kenangan itu sama sekali tidak terbesit dalam pikirannya.

"Bagaimana dengan gadis ini? Kau ingat dia?" Alice menunjukkan salah satu gambar dimana terdapat seorang gadis berambut pendek dengan surai pink sedang berbicara padanya. Yah, perjalanan yang dia lalui bersama dengan Sakura kembali diperlihatkan.

"Sakura… " Kaoru dapat mengenali gadis itu dan langsung menyebut nama pemilik rambut bersurai merah muda itu.

"Apa kau juga mengenali pemuda ini?" kali ini Alice memperlihatkan sosok pemuda yang sangat dikenal Kaoru. Pemuda itu adalah Sasori.

"Kenapa bisa ada Sasori?" tanya Kaoru yang tak menyangka kalau ternyata dia juga melihat Sasori ada di dalam permainan itu, tapi kenapa selama ini Sasori diam saja padanya.

"Kau pasti bertanya-tanya kenapa bisa ada Sasori disana," ucap Alice yang sepertinya bisa menangkap reaksi Kaoru yang terkejut setelah melihat Sasori. "Akan kuberitahu sesuatu… " Alice menyeringai licik, dia pasti ada rencana untuk meracuni pikiran Kaoru.

"Dia pemuda yang telah merebut semuanya darimu. Dia mengambil posisimu, kekasihmu, kekuatanmu bahkan hidupmu." Alice memulai aksinya untuk meracuni pikiran Kaoru.

"Tidak mungkin... Sasori bukanlah orang seperti itu!" balas Kaoru dengan cepat, tapi Alice dapat menangkap sebuah keraguan yang terpancar dari wajah pucat pemuda itu.

"Dengarkan aku. Sasori pernah mengambil alih posisimu di Neverland dengan masuk ke dalam tubuhmu. Dia memanfaatkanmu untuk mencapai tujuannya, lalu sekarang dia dengan seenaknya menyeretmu masuk ke dunia nyata." Alice kembali menghasut Kaoru dengan kata-katanya. "Bagaimana rasanya terperangkap di dunia nyata Joker? Bagaimana rasanya berada di dunia yang asing tanpa ingatan sama sekali? Menderita dan tersiksa bukan?" sosok itu kembali menyeringai pada Kaoru.

"Lalu... Bagaimana dengan gadis itu? Bayangan itu selalu muncul tiap saat aku memejamkan mata! Itu nyata!" Kaoru mencoba untuk menepis keraguan yang dia rasakan saat ini.

"Kemungkinan itu adalah ingatan yang Sasori miliki. Keberadaanmu saat ini hanyalah seperti bayang-bayang dari Sasori. Kau tidak nyata! Semua yang kau rasakan dan semua ingatanmu pada gadis itu tak nyata." Kata-kata itu berhasil menampar mental Kaoru dengan keras. Pemuda itu terdiam begitu mendengar kata-kata kalau dia tidak nyata. "Ada yang lebih buruk dari itu, keberadaanmu dianggap suatu kesalahan dan harus dimusnahkan! Kau yang menanggung semua kesalahan itu bukan Sasori," sambung Alice lagi yang sepertinya mencoba memancing kebencian di dalam diri Kaoru.

"Kalau aku memang berasal dari Neverland... Lebih baik aku kembali saja, bukankah itu lebih mudah?" tanya Kaoru yang masih bingung kenapa semuanya jadi begitu sulit untuknya.

"Kalau bisa, cara itu mungkin sudah digunakan sejak awal. Kau tau kenapa kau tidak bisa kembali Neverland?" Alice melontarkan sebuah pertanyaan pada Kaoru dan pemuda itu hanya menggeleng cepat tak bisa menjawab. "Neverland tidak bisa menerima kau yang masih terikat dengan dunia nyata karena dengan demikian kau akan dianggap sebagai kesalahan juga. Kau terikat disini karena ingatan Sasori yang terlalu kuat dan telah menghapus ingatan milikmu sendiri, jadi kalau kau mau kembali tak ada cara lain selain kau harus ingat kembali jati dirimu yang sebenarnya atau... Melenyapkan Sasori." Alice menjelaskan kenyataan pahit, hal yang dia katakan sama saja dengan memberitahu kalau keberadaan Joker saat ini tidak bisa diterima di dunia nyata ataupun Neverland.

"Kurasa kau tidak akan bisa mengingat semuanya lagi karena ingatan milik Sasori yang terlalu kuat untukmu. Jadi tak ada pilihan selain melenyapkan Sasori. Bagaimana? Kau harus mengambil milikmu kembali dari Sasori," kata sosok Alice yang memakai jubah hitam serta topeng itu kembali menyarankan agar Kaoru melenyapkan Sasori.

" ... Baiklah... Akan kulakukan itu, tapi bukan karenamu melainkan untuk diriku sendiri." Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk bekerjasama dengan Alice dan bersedia melenyapkan Sasori.

'Maafkan aku Sasori... Aku tak ada pilihan lain... ' ucapnya dalam hati yang merasa ada sebuah penyesalan setelah memberikan keputusan itu.

'Bagus sekali... Setelah Sasori lenyap kekuatanmu akan kembali utuh, saat itulah rencana yang sesungguhnya dijalankan' kata Alice dalam hati sambil menyeringai licik di balik topengnya.

Apakah akan terjadi pertempuran antara Kaoru dan Sasori? Ataukah ada cara lain yang bisa menyelamatkan keduanya?

.

.

Ending song : Broken wings

Originally Trinity Blood OST

.

.

Opening Intro : Terlihat Marie yang sedang berdiri di tengah hujan, menatap sendu sosok yang berdiri di depannya.

I know this will not remain forever
However it's beautiful
Your eyes, hands and you warm smile
They're my treasure
It's hard to forget

Marie menatap sosok itu. Sosok pemuda yang berdiri membelakanginya. Sosok itu terdiam di tempatnya, hanya terpaku dengan segurat kepedihan yang terpancar dari matanya. Marie tak banyak bicara, dia hanya bisa diam setia mendampinginya. Seketika teringat sosok Joker yang selalu tersenyum padanya, melindunginya dan selalu mencintainya di masa lalu tapi semua itu sudah berubah saat ini.

I wish there was a solution
Don't spend your time in confusion
I will turn back now and spread

Akhirnya gadis itu berbalik meninggalkan Kaoru yang masih terdiam disana. Dia berjalan dengan perlahan sambil menggenggam erat kalung yang menghiasi lehernya, hingga akhirnya dia berlari pergi.

My broken wings still strong enough to cross the ocean with
My broken wings How far should i go drifting in the wind
Higher and higher in the light

Kali ini giliran Marie yang berdiri di bawah pohon Sakura. Gadis ini berdiri sambil menatap lurus ke depan ditemani oleh aroma pohon Sakura dan semilir angin yang menerbangkan daun-daun Sakura. Dia menatap bulan yang berada di atasnya bersinar dengan pucat.

My broken wings still strong enough to cross the ocean with
My broken wings How far should i go drifting in the wind
Across the sky, just keep on flying

Berganti ke sosok Sakura yang sedang menatap bulan di langit yang sama dan ditaburi oleh bintang-bintang sebagai perhiasan malam.

Keisoku no dekinai itami to keisoku no dekinai jikan no narega
subete wo umete shimaou toshitemo
soredemo watashi ni wa kanjirareru
sora kara ochitekuru no wa
sora kara ochitekuru no wa ame de wa nakute

Lalu diperlihatkan sosok marie di bagian kiri dan Sakura di bagian kanan, keduanya tengah merunduk dengan wajah yang tertutup oleh rambut panjang mereka. Keduanya saling mengucapkan kata-kata.

Did i ever chain you down to my heart
'Cause i was afraid of you ?
No, I couldn't hold you any longer
Love is not a toy
Let go of me now

Disini ada sosok Marie dan Kaoru yang sedang duduk dan saling memunggungi. Tak lama sosok Kaoru menghilang dari sebelahnya. Marie berdiri menyadari sosok itu menghilang, lalu Kaoru muncul di sebelahnya. Sosok pemuda itu menjulurkan tangannya pada Marie dan gadis itu berusaha meraihnya namun lagi-lagi sosoknya menghilang.

The time we spend is perpetual
Our future is not real
I'll leap into the air

Dia berdiri sendiri dengan hamburan kartu-kartu yang menghujaninya. Dia berlari dari tempat itu dengan cepat.

My broken wings still strong enough to cross the ocean with
My broken wings How far should i go drifting in the wind
Higher and higher in the light

Berganti ke sosok Marie yang sedang tertidur dengan sebuah dress putih panjang dengan adanya sayap putih di belakang punggungnya dan bulu-bulu sayap itu berguguran terbawa air.

My broken wings still strong enough to cross the ocean with
My broken wings How far should i go drifting in the wind
Across the sky, just keep on flying

Sebuah kalung salib dengan batu sapphire terjatuh dari atas. Berganti diperlihatkan seseorang yang sepertinya sedang didekap oleh seseorang. Tubuhnya itu dipenuhi oleh darah dan air hujan yang ikut membahasi. Lalu terdengar sebuah suara (milik Sasori) yang berkata "Aku tidak bermaksud untuk melakukan ini padamu... Maafkan aku, Joker... ".

Sora kara ochitekuru no wa are wa ame de wa nakute

Di belakang Sasori ada Marie yang menatap lirih dan menangis. Dia kemudian berbalik dan pergi.

TBC...


Riku : Well, lagu ending yang dipake itu dari anime Trinity blood, gue gak tau siapa yang nyanyi (ada yang tau?). Ending itu mewakili perasaan Marie untuk saat ini pada Joker. Semoga bisa mengerti maksudnya. Maaf kalau banyak typo, gue editnya rada malem. Nanti gue perbaiki lagi kalau ada kesalahan dan tolong di ingatkan. Makasih yang udah mau meluangkan waktu untuk membaca fic ini, meski jauh dari kata sempurna, kami tetap berharap bisa membuat yang baca terhibur.

.

.

"Thanks for reading".