Author Note
Yo! Maaf lama :D
Langsung saja ya tak perlu banyak bicara! Tapi sebelum itu balas review dulu...
.
.
Balasan Review
Naomi Koala
Nungguin ya? Maaf ya lama... Dan terimakasih review nya! :D
aprianor007
Sad Ending? Mungkin sih... Tapi ceritaku ini tak mudah ditebak! Jadi jangan terkejut yaa~
MyStoryLine
Ini sudah publish kok! Maaf ya lama... :D
Dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk memberikan review!
Elysifujo
Gelas aman kok! Dan maaf update nya lama... Sebentar aku tak pernah semangat saat ngetik tapi terimakasih dorongannya! :D
synstropezia
Gila banget buat liat nilai? Ahahahaha... Hmm... Kalau ingin menguasai dunia pertama harus bisa bunuh diri dulu... Dan kalau hasilnya tidak mati berarti ada kemungkinan bisa menguasai dunia *Gak nyambung woi!
Oh ya. Soal Ending baca saja ini! :D
Lucy
Mau membunuhku? Aku bisa membunuhmu duluan nona! #smirk
.
.
.
Information
Disclaimer: Fairy Tail © Hiro Mashima
Title: Hate This and I Love You
Chapter 14: Akhir
Rated: T
Genre: Hurt/Comfort. Drama Romance. Family. etc
Pairing: Natsu D x Lucy H
Summary: Menceritakan tentang penderitaan batin seorang Lucy Hearfilia
Description: AU. Typo (Tell me) OOC. Dll
Italic/Miring = Berkata dalam hati
HURUF BESAR = Berteriak
.
.
XXXXXXXXXX
.
.
Di sebuah perusahaan besar di kota Crocus... Seperti biasa Sting sibuk dengan pekerjaan nya pagi ini tiba-tiba...
"Sting!" Panggil Natsu sang atasan (Lebih tepatnya sang Direktur)
"Ya?" Sahut Sting
"Bisakah kau mengurus perusahaan ini? Atau kuserahkan kembali pada Jura-san?" Tanya Natsu
"Hah!? Kau mau pensiun? Kurasa aku bisa menggantikanmu... Yah walau tak cukup pengalaman seperti Jura-san... Lagipula kalau hasilnya kurang memuaskan kau hanya tinggal kembali mengambil jabatanmu! Hahaha..."
"Baiklah! Kalau begitu kau saja yang jadi Direktur mulai besok" Ucap Natsu
"Memangnya kenapa kau tiba-tiba pensiun?" Tanya Sting
"Aku tidak akan pensiun aku hanya akan pergi... Penghasilan perusahaan sudah disini normal lagi tugasku disini sudah selesai!"
"Bagaimana dengan masalahmu dengan Lucy?" Tanya Sting tiba-tiba. Dan reaksi Natsu diluar dugaannya... Ekspresi nya tetap datar
"Aku akan mengakhiri nya malam ini!" Jawab Natsu dengan tenang
"Kau menyerah?" Tanya Sting
"Tidak!" Jawabnya cepat
"Jadi kau yakin dengan rencanamu kali ini akan berhasil?" Sting menarik kursi mendekat... Sekarang ia duduk berhadapan dengan Natsu
"Ya! Kupastikan tak akan gagal! Seratus persen akan berhasil! 'Dia' akan bahagia!" Mendengar itu Sting menatap tajam Natsu
"Apa yang akan kau lakukan padanya?"
"Aku tak akan menyakitinya Sting! Lebih tepatnya aku tak bisa melakukannya..." Jawabnya dengan suara memelan
"Jangan bercanda! Tak bisa menyakitinya? Kau tak ingat apa yang kau lakukan padanya!?" Sting mulai geram
"Dulu aku hanya berniat melupakannya itu saja! Dan... Aku tahu aku salah... Tapi setidaknya ia harus berikan aku kesempatan!"
"Dia terlihat sangat membencimu... Memangnya bagaimana itu bisa terjadi? Maksudku kenapa kau minum sampai mabuk?"
"Ceritanya panjang..."
"Ceritakan saja aku akan mendengarkan" Natsu menghela nafas lalu mulai bercerita
"Semuanya bermula saat kedua orang tuanya meninggal karna kecelakaan..." Sting menyimak dengan serius
"...Saat itu dia yang biasanya ceria selalu tersenyum berubah... Dia suka menyendiri dirumahnya bahkan aku sudah berusaha mengajaknya bicara di kelas... Menghiburnya tapi aku malah diusir! Dia bilang 'Aku ingin sendirian' "
"Jadi kalian sudah saling kenal saat masih sekolah?" Tanya Sting
"Ya... Sejak SMA kami sudah bersahabat" Jawab Natsu pelan
"Lalu?" Tanya Sting lagi agar Natsu melanjutkan ceritanya
"Saat itu... Lisanna terus bersamaku saat disekolah... Dan tiba-tiba dia menyatakan perasaannya padaku-"
"Lalu kau langsung menerimanya begitu saja?" Potong Sting
"Tidak! Aku masih mempertahankan hubunganku... Tapi... Dia terus saja mengabaikanku dia tak peduli lagi padaku... Dia selalu saja menyendiri... Sedangkan Lisanna terus- Gaahhh" Natsu mengacak-acak rambutnya frustrasi
"Jadi akhirnya kau memutuskan Lucy dan-"
"Tidak!" Potong Natsu
"Aku tak bisa memutuskan nya bahkan saat bersama Lisanna dia terus saja berada di kepalaku aku benar-benar merasa seperti orang gila karna terus dalam kondisi seperti itu!" Jelas Natsu
"Yah... Kurasa ini memang salahmu... Seharusnya kau tidak meninggalkannya dia kehilangan orang tuanya seharusnya ka-" Kata Sting
"Aku tahu Sting! Aku tahu! Aku sudah berusaha tapi dia seperti tak mau menerimaku lagi!" Potong Natsu dengan cepat
"Maksudmu?" Heran Sting
"Aku tahu seharusnya aku menemaninya... Tapi dia marah! Dia bilang 'Apa kau tak mengerti!? Tinggalkan aku sendiri! Aku ingin sendirian!' jadi dengan berat hati aku harus pergi..."
"Ya ampun... Jadi kalian berdua sama saja!" Ujar Sting
"Hah!? Apa maksudmu?"
"Lucy itu egois! Ia tak memikirkan bagaimana perasaanmu saat itu dan kau... Kau bodoh! Tidak peka! Kau pasti tahu 'kan? 'Tidak berarti iya' wanita memang begitu! Kalau dengan keras kepala dia menolakmu maka kau juga harus keras kepala. Dia membutuhkanmu!" Natsu terdiam sesaat hingga...
"Kau benar..." Ucap Natsu
"Eh? Tunggu dulu! Lalu bagaimana kau bisa mabuk?" Tanya Sting yang meminta Natsu menjelaskan lagi
"Waktu itu pikiranku sedang kacau... Karna Lisanna menyuruhku memutuskan hubunganku dengannya... Aku benar-benar tak bisa melakukannya membayangkan saja sudah membuatku gila! Dan... Akhirnya Lisanna membawaku ke sebuah bar untuk memenangkan pikiran..."
"Dan akhirnya kau mabuk dan itu terjadi begitu saja" Sahut Sting
"Ya... Aku benar-benar tak bisa mengendalikan diri saat itu"
"Benar-benar parah ya... Kau yang tidak peka nan polos bisa sehina itu saat mabuk!"
"HEI APA-APAAN ITU!? Baik baik! Aku memang kurang peka tapi aku sudah dewasa! Dan... Kalau soal itu 'Dia' yang memintanya dan aku yang mabuk langsung saja mengiyakan tanpa pikir panjang..." Protes plus penjelasan Natsu
"Hah!? Alibimu benar-benar tidak masuk akal! Mana mungkin Lucy yang memintanya?"
"Sting kau kan tidak tahu waktu itu dia juga mabuk! Lagipula tak mungkin 'Dia' sehina itu. Dia itu wanita baik-baik! Dan aku baru menyadarinya karna melihat botol meminumnya dilantai beberapa hari kemudian. Aku juga ingat betul aku tak membawa botol saat kerumahnya malam itu"
"..." Sting termangu mendengarnya. Lalu tiba-tiba ia berteriak
"JADI SAAT ITU DIA MABUK!? Tapi Lucy tidak bilang kalau ia mabuk! Waktu itu dia bilang 'Natsu berteriak-teriak lalu semuanya terjadi begitu saja' " Mendengar itu Natsu hanya menghela nafas pelan seraya berkata
"Haaahh... Wajar kalau dia tidak ingat... Itu juga terjadi padaku 'kan? Sampai kau 'Menyadarkan'ku waktu itu"
"Kalau begitu semua ini hanya kecelakaan!" Ujar Sting
"Tidak juga... Kalau aku tidak selingkuh mungkin ini tak akan terjadi" Sahut Natsu
"Jadi setelah kejadian itu kalian berpisah dan tak sengaja bertemu lagi di kota ini setelah lima tahun?" Tanya Sting
"Tidak! Dia yang tiba-tiba pergi... Dan aku terus mencarinya hingga lima tahun"
"Jadi kau mencarinya hanya untuk meminta maaf? Padahal ini hanya kecelakaan!" Sting mulai geram lagi. Sambil memukul-mukul meja. Sementara Natsu tetap saja tenang
"Aku tak tahu apa harus kulakukan saat itu yang ada dipikiranku hanya... Mencarinya. Menemukannya lalu minta maaf... Dan aku terus melakukan itu hingga lima tahun. Mencari dari satu kota ke kota lain... Dengan jalan kaki agar bisa melihat sekitar..." Jelas Natsu
"Seperti orang yang tidak waras saja... Bagimu Lucy itu segalanya ya?" Heran Sting
"Seperti orang gila ya? Aku juga sadar akan hal itu... Kau tahu? Bahkan saat melihat wanita aku langsung mengingatnya... Dan bahkan saat aku melihat Ibuku juga... Tapi aku tak bisa berhenti ataupun menghilangkan perasaan itu"
"Ya ampun... Itu terlalu berlebihan. Tapi kurasa mungkin itu adalah cinta sejati!" Ujar Sting
"Percuma memiliki cinta sejati kalau 'Dia' membenciku... Dan aku akan mengakhirinya malam ini!"
"Jangan bercanda! Kau tak boleh menyerah begitu saja! Tenang saja... Aku akan menyadarkan 'Nona Pisang' keras kepala itu!"
"Itu tak ada gunanya... Dan lagi aku juga benci perasaan bodoh ini! Aku ingin lepas darinya tapi... Selama lima tahun ini aku malah tetap mengejarnya. Aku tidak kuat lagi Sting..." Ucap Natsu dengan pelan
"Jangan menyerah! Tenang saja aku akan membujuknya siang nanti... Kau pasti akan mendapatkan maaf darinya malam ini... Pasti!" Ucap Sting penuh keyakinan dan semangat membara. Sementara hanya tersenyum mendengarnya. Ia tak menyangka Sting bener-bener peduli padanya padahal mereka tak cukup lama berteman
.
.
XXXXXXXXXX
.
.
Lucy tengah berbaring di sofa ruang tamu rumahnya sembari membaca sebuah novel
.
Tok! Tok! Tok! Pintu diketuk tiga kali
"Hmm? Siapa ya..." Gumamnya. Akhirnya ia bangkit menaruh novel nya di atas meja. Lalu berjalan menuju pintu...
.
Cklek! Pintu dibuka..
"Kukira siapa... Ternyata kau" Katanya pelan
"Apa kau sibuk?" Tanya sang tamu dengan suara baritone
"Tidak... Memangnya ada apa Sting?" Dan ternyata tamu itu adalah Sting
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Jawabnya
"Masuklah..." Tutur Lucy. Mereka pun masuk ke dalam. Lucy kembali duduk di sofa. Sedangkan Sting duduk di kursi yang ada didepannya dengan meja yang membatasi mereka berdua
"Tidak biasanya sepi begini... Dimana anak itu?" Tanya Sting
"Dia sedang tidur... Dan ini waktu yang pas untukku membaca" Jelas Lucy
"Baguslah... Pas sekali!" Kata Sting yang tiba-tiba tersenyum simpul
"Jadi? Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Lucy langsung ke topik utama
"Kenapa kau tak mau memaafkan Natsu-san?" Dan atmosfer disitu langsung berubah tegang
"Kenapa juga aku harus memberi maaf pada pria seperti 'Dia'!?" Jawab Lucy ketus
"Itu tak menjawab pertanyaanku!" Balas Sting penuh penekanan
"Hmm... Jadi sekarang kau berpihak padanya?" Kata Lucy dingin
'"Aku tak memihak siapapun" Jawab Sting dengan tenang
"Dia memberimu berapa?" Tanya Lucy lagi
"Tidak ada! Dengar 'Nona Pisang' Dia tak menyuruhku melakukan ini. Aku kesini karna kehendakku sendiri!" Kata Sting ia mulai kesal dengan wanita didepannya ini
"Lalu apa yang kau inginkan 'Durian'?" Tanya Lucy
"Kejelasan! Kenapa kau tak mau memaafkannya? Apa alasannya? Setidaknya berikan dia kesempatan kedua!"
"Apa kau bodoh? Dia suda-"
"Itu kan hanya kecelakaan!" Potong Sting
"Apa kau bilang!?" Lucy mulai naik darah
"Coba kau ingat-ingat lagi... Waktu itu kau juga mabuk 'kan?"
"Hah!? Tentu saja tidak! Aku tidak pernah minum!"
"Coba kau ingat baik-baik! Natsu-san sudah menjelaskan semuanya! Kau mabuk pada saat itu kar-"
"Tidak! Aku memang tersiksa saat itu. Tapi untuk apa malam itu aku... Membeli... Sebo-tol... Bir?" Potong Lucy dengan suaranya yang makin pelan. Dan setelah mengatakan itu ia terdiam sibuk dengan sebuah peristiwa yang tiba-tiba mun di pikirannya
.
"Aku menginginkanmu Natsu..."
"...Kumohon aku mencintaimu Natsuuu"
"A-aku..."
"Tidak bisa? Ayolah bukankah kau bilang akan melakukan apapun untukku? Natsu komohon..."
"BAIK BAIK! AKAN KULAKUKAN!"
"Dengan ini kau akan percaya padaku 'kan?"
"Aku mencintaimu Natsu"
"Aku juga mencintaimu... sangat"
.
"E-eh?" Herannya. Pada diri sendiri
"Itu hanya kecelakaan... Jadi lebih baik maafkanlah dia" Kata Sting
"Tidak... Tidak akan!" Kukuh Lucy tetap pada pendirian nya
"Kau ini..." Sting bangun dari kursi
.
BRAK! Menggebrak meja menandakan ia mulai emosi
"...Dengar apa kau tak kasihan padanya!?" Lanjutnya setengah membentak. Kedua iris nya miliknya menatap tajam Lucy
"Pada pria seperti 'Dia'? Haha... Lucu!" Jawab Lucy dingin dan wajah datar
"Memang apa salahnya!? Itu hanya kecelakaan! Kalian berdua mabuk!"
"Kau pikir siapa yang membuatku mabuk? Hmm? Aku berniat minum sampai mati saat itu karna sudah tak tahan lagi tapi..." Lucy menunduk sembari menggigit bibirnya. Kedua tangan mencekram sofa sesaat setelah itu... Ia mengangkat kepalanya dan...
"...DIA MALAH MEMBERIKU TANGGUNG JAWAB YANG BESAR!" Tekannya
"Itu salahmu karna tak meminta pertanggungjawaban! Tapi sekarang kau bisa memintanya bertanggung jawab 'kan? Dengan begitu kalian berdua akan bahagia!" Saran Sting
"Maaf aku sudah bahagia! Aku tak membutuhkannya... Aku membencinya!" Tegas Lucy
"Lucyyyy! Jangan egois! Coba kau pikirkan bagaimana perasaannya? Dia itu sangat mencintaimu! Tapi sekarang dia sedang menderita! Dan itu karna... Kau tak memberinya kesempatan SEDIKITPUN!" Sekarang Sting benar-benar sudah emosi
"Memangnya kalau 'Dia' menderita aku peduli!? Dia sendiri membuatku menderita selama ini... Kalau dia tak selingkuh mungkin aku tak akan mabuk... Mencintaiku? Huh! Pria macam apa yang meninggalkan orang yang dicintainya saat sedang terpuruk?" Lucy masih saja tak mau kalah
"BAIKLAH TERSERAH KAU SAJA! Dasar keras kepala! Egois!" Sting yang sudah tak kuat lagi akhirnya berjalan kearah pintu
"..." Lucy hanya diam bangkit dengan mulut diam. Ia berniat menutup pintu setelah Sting pergi
"Dengar Lucy..." Sting yang sudah berada teras luar berbalik
"...Natsu-san akan pergi... Dia bilang akan kesini nanti malam... Jadi terserah padamu! Aku lelah menghadapi wanita keras kepala dan egois sepertimu! Tapi aku hanya ingin mengatakan..." Sting membalikkan badannya lagi memunggungi Lucy
"...Dia itu sangat mencintaimu melebihi apapun... Terserah padamu mau memaafkan nya atau tidak... Hidup bahagia dengannya atau tetap seperti ini? Pilihan ada padamu... Jadi jangan sampai menyesal dengan pilihanmu nantinya... Sampai jumpa" Dengan itu Sting pun pergi
.
Blam! Pintu ditutup pelan
"Kalau dia mencintaiku lalu..." Lucy mengambil novel nya yang tergeletak di atas meja lalu menghempaskan diri tidur di sofa
"...Kenapa dia berpaling pada gadis lain waktu itu bukannya bersama denganku?" Gumamnya pada diri sendiri...
.
.
XXXXXXXXXX
.
.
Malam jam tujuh lewat empat puluh lima menit rumah Lucy tampak sudah sepi meski lampu masih menyala di dalam sana. Dan ada seseorang yang berdiri depan pintu. Ia berdiri disana cukup lama... enyiapkan mental mungkin?
.
TOK! TOK! TOK! Akhirnya tangan kanannya mengetuk pintu agak keras
.
.
Cklek! Dan akhirnya pintu terbuka
"Yo!" Sapa nya pada wanita rambut pirang di depannya ini
"Mau apa kau kesini... Natsu?" Balas nya malas
"Boleh aku masuk?" Jawab Natsu
"Baiklah... Silakan masuk" Meraka berdua pun masuk kedalam rumah... Natsu mendorong pintu pelan hingga pintu itu tertutup
.
Blam!
.
"Silakan duduk..." Suruh Lucy
"Tidak perlu..." Tolak Natsu. Ia memegang kedua pundak Lucy membuat wanita itu tersentak kaget. Membalikkan tubuhnya dengan cepat
"...Aku akan pergi" Ujarnya
"Lalu?" Jawab Lucy acuh tak acuh
"Kau ini benar-benar sudah tak peduli padaku lagi ya?" Kata Natsu dengan tenang menghadapi wanita pirang didepannya ini
"Memangnya kenapa aku harus peduli padamu?" Kini kedua mata itu menatap tajam Natsu
"Untuk terakhir kalinya... Aku minta maaf..." Ucap Natsu dengan suara pelan
"Hanya itu yang ingin kau katakan?" Balas Lucy dingin
"Aku mencintaimu... Sangat! Jadi kumohon... Aku lelah terus seperti ini. Ini semua harus diakhiri!" Tambahnya lagi
"Lantas kau ingin aku menikah denganmu begitu?" Tanya Lucy. Natsu langsung menyambar kedua tangan Lucy dan menggenggam nya erat
"Ya... Kumohon... Berikan aku kesempatan sekali ini saja! Sekali saja!" Mohon Natsu
"Tidak!" Jawabnya cepat dan singkat. Mendengar itu Natsu langsung berlutut
"Kumohon Luce... Aku mencintaimu sungguh!" Lirihnya dengan kepala tertunduk
"Apa kau lupa kalau aku membencimu? Aku juga lelah Natsu... Kau tahu? Aku benci perasaan ini! Dan juga kau! Lebih baik kau pergi jangan masuk dalam hidupku lagi!" Mendengar itu Natsu kembali berdiri
"Jadi maksudmu kau masih mencin-"
"Ya..." Potong Lucy
"...Tapi aku tak mau menerimanya aku lebih memilih seperti ini daripada harus menikah denganmu!" Tegas nya
"Kau tidak yakin dengan perasaanku?"
"Baguslah kalau kau mengerti" Jawab Lucy
"Dengar... Perasaanku tak berubah sejak dulu! Aku mencintaimu selalu... Selamanya!"
"Hmm... Lalu apa yang kau lakukan lima tahun lalu?"
"Baiklah! Aku tahu aku salah! Tapi kau tahu 'kan? Aku tak sengaja waktu itu... Lagipula kita berdua sedang mabuk!"
"Apa kau tahu kenapa aku mabuk saat itu?" Tanya Lucy
"Karna... Aku selingkuh?"
"Ya... Dan sudah jelas siapa yang salah disini 'kan?" Kembali Natsu memegang kedua pergelangan tangan Lucy
"Luce... Untuk terakhir kalinya kukatakan... Aku mencintaimu melebihi apapun di dunia ini! Kalian berdua pasti akan bahagia! Aku akan lakukan apapun untukmu! Jadi... Ayo menikah" Kata Natsu berusaha meyakinkan Lucy lagi. Lucy terdiam jantung nya berpacu dengan cepat... Wajahnya mulai melunak... Dia dapat melihat dengan jelas kalau Natsu jujur... Lagipula pria pink didepan nya ini tak pandai berbohong! Tapi... Lucy masih saja ragu. Ia takut untuk percaya pada pria ini... Apa pria ini benar-benar mencintainya? Dan Lucy masih tidak yakin kalau Natsu benar-benar mencintainya kenapa dia harus selingkuh? Kenapa? Kenapa? Dan jika Natsu melakukannya lagi bagaimana dengan Nashi? Lucy tak bisa bayangkan apa yang akan terjadi nantinya jadi...
"Maaf aku tak bisa..." ...Lebih baik tetap dalam zona aman seperti ini. Mendengar itu Natsu menundukkan kepalanya ke bawah. Tangan miliknya tak lagi memegang tangan Lucy
"Ha... Ha... Hahahaha... Sudah kuduga akan berakhir seperti ini! Hahahahaha" Natsu mengangkat kepalanya dan Lucy dapat melihat wajahnya yang ceria itu. Lucy benar-benar tak mengerti dengan pria didepannya
"Hah... Kau ini benar-benar membenciku ya? Jujur saja aku juga benci dengan drama bodoh ini!" Ucapnya
"..." Lucy hanya diam. Dia shock dengan kejadian ini
"Kau tahu? Sebenarnya dulu aku selingkuh karna ingin melupakanmu... Waktu itu kau sama sekali tak peduli lagi padaku... Kau selalu saja mengusirku... Dan disisi lain Lisanna amat perhatian padaku... Dia juga bilang kalau dia mencintaiku... Jadi akhirnya aku mencoba memulai hubungan dengannya..." Jelasnya
"Lantas kalau seperti itu kenapa kau tak memutuskan hubungan kita!?" Geram Lucy
"Aku tak bisa melakukannya! Aku tak sanggup kalau harus mengakhiri hubungan kita... Memikirkannya saja sudah membuatku sakit! Aku mencintaimu Luce tapi... Arrrggghh!" Terang Natsu sembari menjambak rambut pink nya frustrasi
"..." Lucy terdiam mendengarnya. Hingga Natsu mulai berucap lagi
"Aaahh! Sudahlah! Intinya aku lelah dengan semua ini! Dari dulu aku selalu menuruti perkataanmu... 'Pergi Natsu aku ingin sendirian' baik aku pergi meski aku benar-benar ingin menemanimu saat itu tapi kurasa lebih baik menuruti permintaanmu meski berat bagiku... Tapi aku harus bisa mengerti keadaanmu saat itu..." Lucy tiba-tiba menundukkan kepala. Ia tak mendengar ucapan Natsu selanjutnya. Ia menyadari sesuatu dan sibuk dengan pikirannya sendiri
"Jadi sebenarnya ini semua salahku? Aku seharusnya tak mengusirnya waktu itu... Natsu itu... Dia... Dia... bahkan rela melakukan apapun untukku dan yang aku lakukan malah... Aku tak memikirkan perasaannya... Aku ego-" Lamunan Lucy itu buyar seketika saat Natsu tiba-tiba berteriak
"YA! TAPI ITU SEMUA DULU! Intinya tetap saja ini semua salahku..."
"Nat-"
"Jika saja aku bertahan saat itu dan tidak berpaling pada Lisanna..."
"Natsu-"
"Ya sudahlah! Semua sudah terjadi! Dan sekarang kau membenciku-"
"NATSU!" Bentak Lucy.
"AKU LELAH! AKU LELAH LUCE! Aku sudah tidak kuat lagi! Dan... Karna itulah aku membawa ini!" Lucy terbelalak kaget melihat Natsu mengeluarkan pisau yang masih tersarung dari kantong celananya... Ia menarik tangan kanan Lucu dan...
"Kau sangat membenciku 'kan?"...Memberikan pisau itu pada Lucy.
"Jadi dengan ini hidupmu akan tenang... Kau tak akan pernah mengingat masa lalu lagi..."
Menuntun tangan Lucy menggenggam pisau itu
"Lenyapkan saja pria brengsek ini... " Natsu melepas sarung atau penutup mata pisau itu lalu membuangnya sembarang arah
"...Dan hapus semua penderitaanmu selama ini!" Lanjut nya mengarahkan pisau itu tepat didepan jantungnya
"!" Lucy terdiam membatu... Seketika tubuhnya bergetar hebat... Pisau itu hanya berjarak sekitar lima senti meter di depan jantung Natsu... Sementara pria ini malah merentangkan kedua tangannya kesamping
"Na-natsu aku-"
"Tak apa..." Potong Natsu lembut
"...Aku sudah tidak kuat lagi" Lanjutnya
"Ta-tapi-"
"Aku menyerah Luce! Aku tak sanggup lagi! Aku tak bisa mendapatkanmu jadi... Jika dengan ini kau senang kau bahagia..." Natsu memberikan Cengiran Khas nya untuk terakhir kali
"Aku tak keberatan! Jika dengan memberikan nyawa ini bisa menghapus semua kenangan burukmu... Dan kau bisa hidup tenang... Aku bahagia!" Lanjutnya
"..." Lucy hanya diam matanya terpejam... Ia membalik pisau di tangannya sekarang mata pisau itu menghadap kebawa. Tangan Lucy mulai mengambil acang-ancang kebelakang membuka matanya perlahan...
"!" Betapa terkejutnya ia melihat Natsu yang tersenyum bahagia. Posisinya tak berubah sejak tadi. Berdiri dan merentangkan kedua tangannya kesamping
"Tak usah ragu... Aku juga akan 'bebas' dari perasaan 'cinta'ku yang bodoh ini! Lagipula... Pria brengsek ini tak pantas untukmu..." Natsu memejamkan matanya... Ia sudah pasrah. Tangan kanan Lucy mulai bergetar... Ia masih menyiapkan diri untuk melakukan ini hingga akhirnya...
"Khhh... AAAAAAAAAAAAHHHHH!"
.
SHUUUT! DAAAK! Pisau itu menancap di tembok belakang Natsu
.
GREP! Dan tiba-tiba Lucy memeluknya erat
"Hiks... Maaf... Maafkan aku..." Ucap Lucy pelan. Yang sekarang menenggelamkan wajahnya di dada Natsu
"Maaf... Hiks... Maaf aku egois! Aku tak pernah memikirkan perasaanmu... T-tolong jangan tinggalkan aku... Hiks... A-aku memaafkanmu... Hiks..."
"..." Tak ada jawaban dari Natsu.
"Hiks... Hiks... A-aku mencintaimu Natsu... Ja-jadi..." Lucy melepaskan pelukannya perlahan. Mengangkat wajahnya hendak menatap lurus Natsu namun...
.
BRUUK! Tubuh pria itu tiba-tiba ambruk
"!" Lucy menatap horor tubuh Natsu yang tergeletak tepat di didepannya. Ia langsung duduk disamping tubuh pria itu
"Na-natsu?" Panggilnya. Seraya meletakkan Natsu di pangguannya
"Aaakk! Ak! Hah... Hah..." Dan saat itulah Lucy menyadari kalau tubuh Natsu ini benar-benar kurus. Dan ia juga terlihat sesak nafas. Apa yang terjadi? Setahu Lucy Natsu tak memiliki riwayat asma...
"Na-natsu? Kau baik-baik saja 'kan? Ka-kau pasti kurang makan! I-ini salahku... Hiks... Kau pasti tak makan gara-gara memikirka-"
"Ha... Haha... Ahaha..." Pria itu tiba-tiba tertawa pelan. Matanya terlihat akan menutup tapi Natsu menahannya
"Natsu..." Gumam Lucy pelan. Natsu membuka mulutnya perlahan...
"Ja-jangan khawatir... A-a-a-aku akan se-segera-"
"TIDAK! KAU PASTI AKAN BAIK-BAIK SAJA! Hiks... J-jangan tinggalkan aku kumohon jangan... Hiks..." Airmata nya sudah tak dapat ia bendung lagi
"Ha... A-a... Hah... Hah..." Natsu mulai kesulitan bernafas lagi
"Ja-jangan khawatir! A-aku akan membawamu ke rumah sakit!"
"T-tak ada gunanya! A-a-a-aku sudah-"
"TIDAAAAK! Ja-jangan! Jangan pergi! Jangan... Hiks... Hiks..." Kinj Lucy memeluk Natsu. Airmata semakin deras membasahi kedua pipinya. Natsu mengangkat wajahnya menatap lurus kearah wajah Lucy
"A-aku senang bisa melihat airmata... Hah.. A-a-hah... Hah... Ke...ba-ba-ha...gia-" Pelukannya semakin
"Tidak! Bukan! Ini bukan airmata kebahagiaan..." Kata Lucy sambil menggeleng cepat
"...Tolong... Jangan! Hiks... Jangan tinggalkan aku! Jangan pergi... Natsu... Kumohon..." Tangan kanan Natsu bergerak pelan menyentuh pipi Lucy
"A-aku senang bisa melihatmu disaat-saat terakhir..." Lirihnya disertai senyum kecil. Entah kenapa kini ia bisa dengan lancar mengucapkannya. Lucy menarik tangan Natsu yang ada di pipi kirinya...
"Ja-jangan berkata begitu! K-k-kau akan baik-baik saja! K-Kita masih bisa bersama... Hiks... Pasti!" ...Dan menggenggamnya
"Se-se...la...mat... Aaaah! Hah... Tingg...gal" Genggaman tangannya bertambah kuat
"TIDAAAAAAAAK! Aku tidak mau ini! Tidak! Jangan! Tu-tunggu aku... A-aku memaafkanmu! Kumohon jangan... Hiks... Jangan pergi..."
"A-aku... A-ah... Ha... Ah... Hah... Mencin...ta...A-a-hah...-" Dan Natsu tak bisa melanjutkan kalimatnya matanya sudah tertutup...
"Tidak... Tidak..." Kembali Lucy memeluk tubuh Natsu erat
"...Jangan bercanda! I-ini pasti hanya mimpi... Hiks... A-aku memaafkanmu... Ja-jadi... Buka matamu ayolah..." Pelukannya semakin erat. Lucy tak ingin sampai melepaskannya meski sedikit saja... Ia tak ingin Natsu pergi
"Natsu... Nat...su... Hiks... Natsu.. Natsu..." Lirihnya terus memanggil-manggil Natsu. Namun tubuh Natsu tak bergerak sedikitpun. Kenapa? Kenapa semuanya jadi begini? Tuhan begitu kejam... Ini terlalu cepat! Tidak adil! Tidak bukan... Ini salahnya... Ia bahkan tak memberikan Natsu kesempatan sedikitpun hingga pria itu benar-benar sudah tak ada keinginan hidup lagi! Mungkin Natsu tak cukup makan hingga ia jadi seperti ini... Bahkan tadi Natsu ingin Lucy yang mengakhiri hidupnya ... Kenapa? Kenapa... Penyesalan selalu saja datang diakhir?
"Kh... Khhhh... Hiks..." Memikirkan nya hanya membuat hatinya semakin sakit! Sungguh... Kenapa akhirnya harus seperti ini?
"Hiks... A-a-a-a-a-a... Hiks... A-a-a AAAAAHH! HUWAAAAAAAAAAA! HA... HAAAA... AAAAAAAAAAAAAAHHHHHHH!" Dan begitulah akhirnya yang bisa Lucy lakukan hanya berteriak... Berteriak pada langit tanda penyesalannya... Semuanya benar-benar sudah berakhir! Ia sudah membunuh Natsu secara tidak langsung...
.
.
.
.
.
Author Note
Masih ingat dengan kata 'Double Ending' dulu?
Ini adalah Sad Ending! Jadi? Cukup memuaskan kah?
Oh ya. Untuk yang suka Happy Ending tunggu saja Chapter 15! Jadi yang tak suka Happy Ending cukup stop disini yaa! :D
.
HARGAILAH KARYA DAN KERJA KERAS ORANG LAIN DENGAN MEMBERIKAN REVIEW! ENTAH ITU KRITIKAN/PUJIAN PANJANG/PENDEK KARNA DENGAN REVIEW PENULIS AKAN MENGETAHUI ADA YANG MEMBACA CERITANYA!
