Chapi 14... Update agak-agak kilat...he...he...heTBC
Nah Ino-chan.. Dah tau kan alasan kenapa Gaara-san begitu perhatian dan selalu cari perhatian?
Jadi kasi kesempatan buat Gaara-san yah...
Haaahh...minna-chan pas nerjemahinnya star koq ngerasa Ino berubah banget...
Okelah...langsung aja dibaca lanjutannya...
naruto tetep punya Mashashi Kishimoto sensei
Luck karya Yuugiri-san
Star nerjemahin doang...dengan kemampuan bahasa inggris yg sebenarnya pas-pas an...
Enjoy it...
Ada beberapa kali - mungkin lima atau enam kali -ketika Ino harus berhadapan sendiri dengan Kage dari Suna, dan saat-saat itu terjadi hanya ketika dia harus menyimpulkan tentang misinya pada Kazekage, atau ketika dia melaporkan kedatangannya untuk meminta rincian misi. Dan semuanya adalah pertemuan singkat, lancar, dan sangat profesional, meninggalkan kesan yang sangat sedikit tentang Gaara dan kepribadiannya menurut Ino. Tapi bagaimanapun, itu tak berarti kalau Ino tak memiliki asumsi appun. Menjadi seorang Yamanaka, membuatnya secara alami mampu menilai seseorang hanya dengan sekali memandangnya
Gaara adalah orang yang terbiasa sendirian, tapi tak pernah mendapat motivasi untuk mengatasi kesepiannya. Seorang pria dengan dengan sedikit kata-kata, bukan berarti dia kesulitan bicara atau menganggap percakapan menyusahkan, tetapi karena ia tidak bisa mengekspresikan dirinya dengan jelas melalui kata-kata. Dia adalah orang terkuat di Suna yang membuat orang-orang disekelilingnya terkadang lupa kalau dia juga punya kelemahannya sendiri.
Dan lagi, tak perlu bagi seorang Yamanaka mengatakan kalau Sabaku no Gaara mudah sekali : Disalah pahami.
Tapi tidak ada yang bisa salah paham lebih dari Yamanaka Ino sendiri. Karena sekarang, kata pria - di dalam tubuh wanita - yang duduk di tengah-tengah tempat tidur, setengah menggantung keluar dari jubah tidurnya, sambil menatap Ino sendu saat Ino ternganga menatapnya, ternganga.
"Apa katamu?" Ino bertanya pelan, tubuhnya membeku di tempat sambil terus mengawasinya dengan lebar, mata yang melebar.
"Aku menyukaimu," Gaara mengulangnya tanpa mengedipkan bulu mata. Tanda keseriusan kata-katanya.
Ino merasa wajahnya begitu memerah, perutnya serasa diaduk-aduk saat dia melihat Gaara ditempatnya - diatas tempat tidur. Salah satu tali gaun tidurnya melorot hingga kepertengahan lengannya hingga gaun tidur itu hampir terlepas.
Ino bahkan tak tau harus bereaksi bagaimana terhadap Gaara dan pengakuannya, jika itu bisa dianggap pengakuan cinta. Apakah itu sebuah pengakuan? Ino rasa, bukan?
Ino berkedip, bergidik. Ooh...Tidak, itu tidak mungkin sebuah pengakuan! Jangan dari orang ini. Jangan dari Kage dari Suna!
Ino menggelengkan kepala, tanpa sadar mengambil langkah mundur, menjauh dari tempat tidur. "Kau tidak bisa seperti ini."
Gaara menatapnya santai, mata biru besar itu dan wajah skeptisnya. "Tidak bisa apa?"
Ino berjuang untuk menemukan kata-kata yang tepat sebelum mengulang omong kosong itu dua kali, "Kau tidak bisa naksir aku! "
"Kenapa tidak bisa?" tanyanya penasaran, akhirnya menyadari pakaiannya hampir terlepas. Gaara memasang lengan bajunya kembali keatas bahunya, yang hanya menyebabkan lengan baju lain kembali turun.
Mengapa Dia tidak bisa? Gaara serius mempertanyakan hal ini pada Ino! Ada begitu banyak alasan yang Ino pikirkan. Begitu banyaknya fakta yang bisa diungkapkan hingga Ino tak tau harus mulai dari mana. Ino bertingkah seolah mencari kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gaara. Banyak yang muncul dibenaknya.
Karena kau Kazekage.
Karena fangirlsmu akan membunuhku dalam tidurku.
Karena ada ... ada perempuan lain yang lebih baik di luar sana ketimbang aku ...
Ino menggeleng. Bukan kearah sana tujuannya. "Karena ... karena itu ... tak terbayangkan ..." akhirnya Ino menjawab dengan datar dan mengambang.
Gaara tidak tergerak. Dia menyipitkan mata birunya memandang Ino. "Apa yang tak terbayangkan? Aku menyukai seorang wanita? Atau aku menyukaimu? "
Ino langsung mundur sedikit. Dia tidak berniat untuk membuatnya terdengar seperti dia sedang menghina Gaara. Ino, dari semua yang dia tau, belum pernah sekalipun mendengar tentang Sabaku no Gaara ... Mengencani wanita . Tapi Ino sama sekali tak menyangkalnya. Pada kenyataannya, bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya sekalipun tentang kehidupan cinta Gaara.
... sampai sekarang.
Dia mengutuk dirinya sendiri untuk itu pikiran terakhirnya, tiba-tiba merasa aneh. Untuk apa dia memperdulikan kehidupan cinta Gaara , sih?
Nah, mengingat dari caranya bicara, praktis Inolah kehidupan cintanya saat ini.
Ino menggeleng kasar sekali lagi, "Dengan segala hormat, Ini tak terbayangkan bahwa Anda akan ... naksir saya, Kazekage-sama."
Mata itu tetap menyempit, dan ada tekanan disekitar mulut Gaara hingga ia tak santai sama sekali saat berkata, "Kenapa? Apa yang salah dengan Anda yang membuat Anda terdengar seolah-olah saya telah melakukan kesalahan dalam menyukai Anda?"
Ino meringis. Bagaimana ucapan Gaara membuat kata-katanya terdengar seperti komentar tidak sopan yang ditujukan kepadanya? "Ada banyak wanita lain yang sesuai untuk Anda di perserikatan lima bangsa ini ... Kazekage-sama."
"Ada? Aku tidak pernah melihatnya. Aku hanya melihatmu."
Ino merasa wajahnya terbakar,dan tiba-tiba ia merasa senang karena Raikage-A telah menghancurkan pintu mereka hingga debu masuk kekamar mereka. "Aku tersanjung, Kazekage-sama. Sangat tersanjung. Tapi aku hanya aku. Aku hanya orang biasa"
Gaara mengangkat alis padanya. "Bertentangan dengan apa yang kau percaya, Kau sangat sulit untuk dilewatkan. Terlebih, kau tampaknya telah mengabaikan semua kemajuanku, dan itu membuatku lebih menyadari daya tarikmu. Entah kau memang sibuk atau pura-pura sibuk. Tak peduli diamanpun kau berada, di Konoha atau di Suna kau tak pernah teralihkan dari pekerjaanmu. Dan setiap kali aku mencoba untuk bergerak mendekatimu, kau selalu maju selangkah didepanku. Apakah kau... melakukannya dengan sengaja? "
Saat ini, Ino ingin bumi terbelah dan menelannya bulat-bulat, karena saat ini, Gaara membuat semua menjadi benar-benar tidak masuk akal dengan membuatnya terdengar seperti Ino berusaha terlalu keras untuk mendapatkan tujuannya .
Ino tak tahu harus berbuat apa lagi. Dia menjatuhkan diri di sisi tempat tidur, memunggungi Gaara. Saat ini, Ino merasa berada di salah satu mimpi buruk yang tak akan berakhir. Dia berada di tubuh seorang pria yang baru saja menyatakan perasaan untuknya (yang rupanya sudah cukup lama), Kage lain yang sedang menyebarkan rumor aneh tentang mereka, dan ayahnya yang akan membunuhnya karena tidak bertanggung jawab terhadap jutsunya. Karirnya berakhir. Dia seharusnya menulis itu dari saat ia membiarkan Gaara menyelamatkannya dari longsoran salju itu.
Gaara beringsut ke arahnya tanpa Ino sadari, dan ketika Ino melihatnya, Gaara sudah menempelkan dagunya di bahu Ino. Gaara memandangnya cemas. Itu mungkin karena Ino tidak menjawab pertanyaan Gaara.
Ino mendesah. "Bukan begitu, Kazekage-sama. Itu tak kusengaja. Aku benar-benar tidak tahu kau ... merasa seperti itu. Seandainya aku tahu, aku ..."
" Apa? Aku punya apa? "
"Kau tidak akan melakukan apa-apa, Ino. Aku tahu itu. Aku sudah memperhatikanmu selama lima tahun. Dan aku sudah mencoba untuk menarik perhatianmu. Tapi kau tak pernah memberikannya. Dan sekarang aku terang-terangan memberi tahumu tentang hal ini, dan kau bahkan tak tertarik untuk percaya padaku." lirih Gaara
Oh.
Oke.
Sekarang Gaara sedang menuduhnya. Tapi Ino bahkan tak punya stamina untuk ini. Biasanya, dia akan segera menyangkal tuduhan seperti itu dengan berbagai alasan. Tapi untuk beberapa alasan, Ino hanya terlalu lelah untuk itu. Ino menepuk dahinya sendiri lelah. "Aku tidak percaya ini."
Gaara tidka memindahkan kepalanya dari bahu Ino ketika dia berbicara hingga bisa merasakan gerakan dagunya saat ia berbicara. "Aku katakan padamu, saat di gua aku berulang kali mencoba untuk mencari perhatianmu. Aku tidak mengerti mengapa kau menjadi seperti ini sekarang."
Ino tetap diam. Dia, setelah semua yang terjadi, tidak tahu harus berkata apa. Ketika Gaara sudah tidak sabar menyunggu, dia menusuk Ino dengan jari telunjuknya.
Ino melompat dan bergerak menjauh darinya. "Apa?" tanyanya.
"Katakan sesuatu," ujar Gaara, kembali beringsut ke arahnya.
Dan saat itulah Ino merasa sedikit marah. "Kau ingin aku mengatakan apa? Aku datang ke negara besi untuk mengawal Naruto, dan yang terjadi aku terperangkap dalam tubuhmu dan sekarang kau bilang kalau kau menyukaiku! Apa seorang gadis harus mengatakan hal seperti itu ?"
Gaara tak menghilangkan kesenduan dimatanya. "Katakanlah kalau kau akan mempertimbangkannya, Ino."
Ino mencoba mundur lagi, hingga ia hampir terjatuh dari tepi tempat tidur. "M-m-mempertimbangkan apa?"
"Aku," kata Gaara sederhana.
"Ap -? !? Kau "
"Aku."
"Kau!"
"Ya."
"Apa ada yang perlu dipertimbangkan tentangmu!?" Ino berseru histeris.
Gaara merengut. "Bagaimana kau bisa sekasar itu? Aku ingin kau tau kalau aku memiliki banyak aspek yang bisa dipertimbangkan sebagai seorang pria" ucap Gaara percaya diri.
Ino merasa semua darah di kepalanya terkuras habis saat itu juga. Dia menepuk dahinya. "Bukan, bukan, bukan, aku bukannya bermaksud kasar. Kazekage-sama, sungguh kau memiliki banyak ... aspek ...yang dicari oleh wanita dalam diri seorang pria dan- - "
"Lalu apa masalahnya?" tanya Gaara serius.
Ino tidak berpikir dirinya akan mampu bersaing dengan percakapan ini. Dia menggantungkan kepalanya dalam kekalahan, lalu bertanya, "Kenapa harus saya, Kazekage-sama?"
"Kenapa tidak?" sahut Gaara. "Kau cantik, sangat berdedikasi dalam perkerjaanmu. Dan kau baik."
"Kau bahkan tak mengenalku."
"Setelah menghabiskan situasi hidup dan mati denganmu, dan mengingat kita berada di tubuh satu sama lain, aku bisa bilang kalau aku menemukan banyak hal tentangmu."
"Dan kau pikir itu cukup?" Ino bertanya, mengangkat kepalanya untuk melihat Gaara tepat dimatanya. Ino tidak terkejut ketika menemukan Gaara balas menatapnya dengan penuh keyakinan.
"Tidak. Tapi itu sudah cukup ..." ujar Gaara, "...untuk membuatku ingin lebih mengenalmu."
Ino tidak tahu harus mengatakan apa lagi setelah Naruto memberinya kesempatan baginya dengan menerobos masuk kedalam kamar mereka, menggaruk lehernya sambil melirik mereka lewat bahunya.
Gaara beranjak turun dari tempat tidurnya dan memberikan Naruto anggukan formal. "Selamat pagi, Naruto."
Naruto menatap Ino lalu Gaara, kemudian menunjuk hati-hati menuju ruang depan. "Kau tahu seseorang mendobrak pintumu, kan?"
Ino bersyukur atas alasan untuk mengubah topik pembicaraan, menghela napas lega dan bergegas mendekati Naruto. "Naruto, bagaimana dengan konferensinya? Apa kau yakin kalau itu adalah ide yang baik menyuruhku berpura-pura menjadi Gaara? Aku merasa tak nyaman harus menipu orang-orang yang hadir dalam konferensi perdamaian."
Naruto mengerjap padanya beberapa kali, ekspresinya tidak terbaca. "Yah, kita bisa saja memberitahu mereka kebenarannya." Dia mengangkat bahu. "Tentu, kita bisa memberi tau pada mereka kalau kau, baiklah, kau! ceroboh dengan kekkei genkai dan, yeah, bertukar tubuh dengan orang yang paling berkuasa di Suna. Jika kau tak keberatan mempertaruhkan citra dirimu di dunia ninja di depan pejabat penting yang mungkin kau harus berurusan dengan mereka ketika kau ingin meningkatkan karirmu - oh, mungkin saja kau... Kau akan kehilangan karirmu setelah mereka tahu bahwa kau sengaja menggunakan shintenshin no jutsu ketika di kaki gunung wolves ketika kau tau kalau ada larangan menggunakan jutsu ketika pertemuan berlangsung. " Naruto menyeringai kekanak-kanakan. "Jadi bagaimana menurutmu?"
Ino meninju perut Naruto sekeras mungkin sampai mengenai ususnya dan melenggang keluar ruangan. Dia bisa mendengar Naruto batuk keras di belakangnya, dan Gaara berkata, "Kau layak mendapatkannya."
Tapi itu semua di belakangnya sekarang. Semakin menjauh dari Gaara dan Naruto dan ruangan sialan yang merusak kerja saraf otaknya, dan untuk sepersekian detik dia benar-benar berpikir kalau tak akan ada yang lebih buruk dari ini.
Itu sampai Mizukage, Terumi Mei, memojokkannya di - ironisnya - tangga.
"Selamat pagi, Mizukage," Ino menyapanya dengan sopan. Dia mulai meragukan hubungan Gaara dengan Kage lain, Ino merasa sepertinya dia harus ekstra hati-hati dengan wanita ini.
Ketika membalas salam Ino, gadis -yang ada ditubuh seorang pria- itu benar-benar terkejut ketika tiba-tiba Mizukage menangis sambil menarik kepala Ino dan mendekapkannya ke dadanya yang benar-benar montok.
"Gaara-kun! Kau melakukannya dengan baik!" Teriak Mei semangat.
Ino berusaha melepaskan dirinya dari wanita itu. "Mizukage-sama, aku tidak bisa bernafas ...!"
Mei tampaknya tidak akan mendengarkannya, sebab jika ia, wanita itu malah mengeratkan pelukannya. "Kau membuatku bangga. Dan aku pikir kau sudah mencoba yang terbaik. Oh, kau melakukan usaha terbaik yang bisa kau lakukan. Ya kau melakukannya. Ya kau sudah melakukannya! "
Ino akhirnya berhasil melepaskan dirinya dari Mei dan Ino buru-buru menjauh darinya, hampir menabrak dinding ketika ia memundurkan diri. Dia menyaksikan Mei mulai menyeka matanya dengan sapu tangan berenda. Ino mengerang dalam hati. Dia punya firasat kalau ini tentang Gaara. Sialan. Untuk seseorang yang tampak memilih menutup dirinya, sepertinya Gaara sudah terlalu banyak mengoceh tentang perasaannya pada semua orang.
Gaara memiliki perasaan untuknya.
Gaara memiliki perasaan untuknya ...!
Semua pikiran itu membuat lututnya lemas.
"Kau tahu aku selalu mendukungmu, bahkan saat itu ketika kau hanya seorang remaja dan Oonoki si keras kepala itu mencoba membodohimu karena kau masih terlalu muda," kata Mei dramatis, menyeka sudut matanya dengan lembut. "Tapi sekali lagi, aku selalu memberi dukungan untuk laki-laki tampan. Dan kau sangat tampan. Jika saja aku sepuluh tahun lebih muda, kau tau, aku benar-benar yakin kita akan menjadi pasangan yang serasi."\
Ino menyandarkan dirinya ke dinding mengantisipasi kalau-kalau Mizukage akan melakukan sesuatu yang konyol padanya. Untungnya, sepertinya Mei terlalu bahagia untuk Gaara.
"Aku ingat malam itu seolah-olah baru kemarin. Itu saat kita mengadakan konferansi di Konoha. Kau tak pernah kuat minum, dan ketika itu Inuzuka punya ide jahil yang brilian. Dan," Mei mendesah sedih. "Dan kau benar-benar mencurahkan semua isi hatimu ketika mabuk pada kami para Kage. Sesuatu yang tak pernah kau lakukan sebelumnya." Dalam sepersekian detik, Mei sudah ada disampingnya lagi dan memeluknya erat. "Hanya seorang pria sejati yang bisa menyimpan perasaannya dalam kepalanya. Aku sangat bangga. Sungguh sangat bangga! Dan sekarang lihatlah dirimu!Kau tahu apa yang kau inginkan, dan tidak pernah berhenti sampai kau memilikinya."
Ino ingin mati saja saat itu juga. Satu-satunya hal yang menghentikannya untuk bunuh diri adalah fakta bahwa dia kini berada dalam tubuh Gaara. Dia mencoba untuk meminggirkan Mei darinya. "Mizukage-sama, tolong. Biarkan aku pergi."
"Oh, tentu saja, tentu saja. Kita tidak ingin membuat wanita kecilmu punya alasan untuk cemburu, kan? Maksudku, aku mungkin satu dekade lebih tua darimu, tapi aku masih seorang wanita." Mei terkikik dengan apa yang baru saja dia katakan, seolah-olah pemikiran kalau dia adalah seorang wanita adalah sesuatu yang patut ditertawakan. Dia menutup mulutnya malu-malu dengan tangan saat ia membungkuk lebih dekat ke Ino. "Aku ingin kau memberitahuku semua hal tentang bagaimana kau merayunya hingga saat kau bercinta dengannya! Aku benar-benar ingin tau! "
Otot di bawah mata kiri Ino berkedut. Ini tidak membuat harinya menjadi lebih baik. Tapi sekali lagi, Ino sudah menyangka hal ini akan terjadi? Dia mendorong Mizukage untuk melewatinya. "Itu rahasia antara Ino dan aku."
"O-ho-ho! Tapi sudah bukan rahasia lagi kalau kalian berdua sudah sangat intim semalam. Oonoki-san melihat sendiri kalian keluar dari kolam air panas bersama-sama, dan A-san baru saja cerita kalau dia menemukan kalian berada dalam satu kamar yang sa - "
"Saya sudah mengerti apa yang coba anda katakan, Mei-san," sela Ino, merasa seolah-olah kepalanya akan meledak karena terlalu banyak darah mengalir deras sampai ke otaknya. "Tolong jangan katakan lagi ..."
Mei menurunkan tangannya ke dadanya, dan senyum nakal di bibirnya lenyap, digantikan oleh senyum yang tulus. "Kau tak perlu malu. Hal-hal baik akan datang pada mereka yang sabar menunggu, dan apa yang bisa lebih baik dari seorang wanita yang sudah sekian lama menarik perhatianmu?"
Mei sudah membuat Ino sangat malu. Dia bahkan tidak tahu harus berkata apa lagi. Jadi bukannya marah, Ino memaksa dirinya untuk tersenyum dan berkata, "Terima kasih."
Seringai nakal kembali di bibir Mei dan dia tertawa gembira saat ia mengulurkan tangan dan mengacak-acak rambut merah Ino. "Ah, anak muda! Apa yang harus aku lakukan untuk kembali ke usia dua puluhan. Tapi sekali lagi, aku masih tidak menyerah pada kehidupan cintaku sendiri." Dia mengedipkan mata pada Ino. "Tapi lain kali, itu akan menjadi cerita lain." Dengan itu, Mizukage memberi Ino satu tepukan terakhir sebelum menyalakan suara tumit sepatunya menggema dan membawanya menuruni tangga.
Ino mengerjap di belakang wanita itu saat Mei menghilang dari pandangannya, dan dia menghela napas dalam-dalam setelah akhirnya dia bisa Ino akhirnya tau bagaimana Gaara bisa mengoceh tentang perasaannya kepada semua orang, Ino mulai bertanya-tanya satu hal yang sangat penting: Ketika Mizukage, Tsuchikage dan Raikage telah menemuinya untuk memastikan semuanya, Apa yang sedang dilakukan Hokage didunia ini?
Dan kenyataan itu membuat Ino seolah dipukul dengan satu ton batu bata.
Ino mengertakkan giginya marah dan hal pertama yang muncul dalam benaknya adalah: ".. Naruto Aku akan membunuhmu ... perlahan-lahan"
.
/
.
/
.
/
.
/
TBC
