Life
Chapter 14: Dosa Termanis
Author : aya-na Rifa'i
Disclaimer : punya Ay lah,
(jangan percaya! Bleach masih punya Tite Kubo)
Pairing : IchiRuki, slight IchiHime dan GrimRuki
(IchiAy..whaaa..Ampun-ampun. Ay g jadi rebut Ichi dari Ruki d)
Lagi pengen POV normal.^^
Langsung Read aja ya!
Okkkkkk! R&R ok!
Ruangan bercat putih itu tampak tenang dengan seorang pria di dalamnya. Seorang pria berambut coklat yang tengah duduk menghadap meja kerjanya. Pria berambut coklat itu sedang menatap foto seorang gadis bermata violet indah dari balik kacamatanya. Wajahnya tersenyum saat menatap foto gadis itu. Dikecupnya foto itu, "Akhirnya aku menemukanmu, Rukia."
Chapter 14: Dosa Termanis
Pria itu masih memandang foto gadis bermata violet yang tersenyum manis dalam foto. Tak bosan ia tatapi wajah putih berbingkai rambut hitam gadis itu. Segenggam perasaan membuncah liar dalam hatinya. Penantiannya selama 18 tahun akhirnya terjawab sudah.
"Dia begitu mirip denganmu, Hisana," pria itu bergumam kecil di tengah tatapannya pada gadis dalam foto itu.
Tokk..tok..tok..
"Permisi, Aizen sama.." terdengar suara seseorang di balik pintu ruang kerja pria yang bernama Aizen.
"Masuk," hanya itu suara yang terdengar sebagai jawaban dari mulut pria bernama Aizen.
Kriett..
Suara pintu dibuka menandai masuknya seorang pria tinggi kurus dengan senyum yang tampaknya tak pernah lepas dari wajahnya.
"Kerja bagus, Gin!" seru Aizen saat Gin kini berada tepat di hadapan tampak puas dengan hasil kerja Gin.
"Terimakasih Tuan Aizen. Menemukan Nona Aizen adalah kewajiban bagi saya," ucap Gin sembari memamerkan senyum khasnya.
"Kau tahu, kau adalah salah satu pria yang ku khawatirkan akan jatuh cinta pada putriku," Aizen mengucapkan hal itu sambil tersenyum penuh makna.
"Mmm.." Gin hanya membalas ucapan itu dengan senyumnya yang biasa. Meskipun Aizen tersenyum, ia tahu itu merupakan peringatan kecil agar ia tidak jatuh cinta pada Nona mudanya.
.
.
.
Whuzzz….
"Grimmjow! Kau ingin mengajakku mati muda!" Rukia berteriak saat Grimmjow memacu motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Bukannya memperlambat lajunya, Grimmjow malah semakin mempercepat laju motor kesayangannya.
Whuzzzzzz….
"Kyaa..! Grimmjow!" Rukia benar-benar takut akan kegilaan Grimmjow dalam mengendarai motor yang sedang dia kendarai.
"Hahaha…" tawa lepas Grimmjow membahana di sepanjang jalan yang mereka lalui.
"Jangan tertawa! Pelankan kecepatanmu! Aku tidak ingin mati muda, baka!" Rukia setengah terpejam, tak berani membuka kedua violetnya di tengah laju motor Grimmjow yang kelewat batas.
"Hahaha.. Aku tidak akan mengajakmu mati muda kok. Aku malah ingin mengajakmu kawin muda. Hahaha.." Grimmjow masih tertawa, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Rukia sangat takut akan kecepatan seperti ini.
"Awas ya kau! Lihat saja nanti kalau kita sampai!" ancam Rukia.
"Hei, memangnya kau mau apa Nona Sombong?" ejek Grimmjow.
"Ceh, liat saja nanti Tuan Gila Hormat!"
Bremm..bremm.. Whuzzzzzz…..
Grimmjow menaikkan tempo kecepatan laju motornya..
"Grimmjowww!"
.
.
Ichigo terdiam dalam kamarnya. Bayangan Grimmjow yang mencium Rukia masih terpatri jelas di benaknya. Tak perlu title jenius melekat di dirinya untuk menyadari bahwa Grimmjow masih mempunyai rasa pada Rukia. Rasa pada kekasihnya. Kekasih yang ia abaikan begitu saja. Demi janjinya pada Orihime, ia abaikan rasa sakit di hati Rukia. Dan kini, saat ia mendera rasa yang sama, terasalah sesak berkepanjangan di dadanya. Tak disangka, pemandangan siang tadi sanggup menyesakkan dadanya ratusan kali lipat dari apa yang selama ini ia takutkan.
Ichigo sadar, sejak pertama kali Grimmjow mengumumkan ikrar akan merebut hati Rukia darinya, ia tak bercanda. Ichigo dapat melihat dalam mata Grimmjow bahwa ia memang serius pada Rukia. Dan Ichigo tahu, Grimmjow adalah ancaman terbesar dalam kisah cintanya. Kini, ancaman itu terasa semakin nyata. Perlahan tapi pasti, Grimmjow menyusup dalam kekosongan hati Rukia. Kekosongan yang tercipta karena ulahnya sendiri. Mengikrar janji pada Orihime tanpa memedulikan perasaan Rukia. Gadis mana yang tak kecewa jika pasangaannya lebih mementingkan janjinya pada gadis lain dibandingkan dengan kekasihnya sendiri.
"Arghhh!" Ichigo berteriak melepas segala kegalauan dan sesak di dadanya. Diremasnya rambut oranyenya dengan kedua tangannya, berharap dapat membuat otaknya lebih jernih berpikir.
Krieett..
Toushirou masuk ke dalam kamar Ichigo dan duduk di samping Ichigo. Digelengkan kepalanya melihat tingkah Ichigo. Senyum tipis menghiasi bibirnya, ditepuknya bahu sepupunya itu.
"Jangan memaksakan dirimu pada janji yang memberatkanmu," ucap Toushirou bijak.
"Kau?" Ichigo terkejut mendapati Toushirou mengungkit tentang janji.
"Aku tahu," ucap Toushirou tenang.
"Cih, penguntit!"
"Inoue yang menceritakannya padaku."
"Eh?"
"Tentang kau, kakaknya, hidupnya dan.. Aizen."
Ichigo tersentak mendengar nama terakhir yang diucapkan oleh Toushirou. 'Apa mungkin Inoue menceritakan hal itu pada Toushirou?'
"Aku tahu tentang hubungan Inoue dengan Aizen. Kau tak perlu khawatir, aku tidak akan membocorkan berita ini pada siapa pun. Lagipula, ku rasa kini orang suruhan Aizen sudah tidak akan mengganggu Inoue lagi. Bukankah kau telah membayar semua hutang-hutang kakaknya?"
"Kuharap. Aku benar-benar tak menyangka hidup Inoue harus semenderita itu. Aku tidak ingin melihatnya menderita lagi."
"Tapi bukan berarti mengabaikan yang satunya kan?" sindir Toushirou penuh makna.
Ichigo terdiam. Ia tahu ucapan Toushirou benar. Melindungi Inoue bukan berarti harus mengabaikan Rukia. Ia memang bernjanji tidak akan menceritakan pada siapa pun perihal hutang dan segala kehidupan pahit Inoue. Tapi itu bukan berarti ia harus mengabaikan bahkan melepaskan Rukia pada pria lain. Tidak akan! Ichigo tersenyum.
"Ku pikir, tak heran Hinamori mencintaimu," ucap Ichigo lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang didudukinya.
Blushhh…
Toushirou blushing mendengar sindiran Ichigo. Ia hanya membalasnya dengan tersenyum lalu berucap sambil meninggalkan Ichigo yang kini tengah merebahkan diri.
"Maka, jangan salahkan aku jika nanti Rukia-mu yang jatuh hati padaku."
Dan ucapan itu sanggup membuatnya dihadiahi deathglare dari Ichigo.
"Hahhaha.." tawa itu berakhir saat pintu kamar Ichigo ditutup dengan paksa oleh Ichigo.
.
.
Awal mula pertemuan mereka adalah sebagai seorang gadis yang mengejar sahabat yang dicintainya dan seorang pria yang terluka akan kematian adikknya. Mencoba membalas rasa sakit hatinya dengan menghancurkan sang gadis. Pembalasan yang berbuah jatuhnya hati sang pria pada sosok gadis itu. Gadis mungil yang mengajarinya arti dari kehidupan, menolong, memaafkan, dan keikhlasan. Keikhlasan yang terpaksa dijalaninya saat gadis itu memilih pria lain. Ah, bukankah keikhlasan tak perlu dipaksakan? Apa benar pria itu telah ikhlas melepas gadis itu ke pelukan pria lain?
"Grimmjow, kau mengajakku ke sini?" Rukia bingung saat melihat mereka berhenti di sebuah danau. Diliriknya danau yang membentang di hadapan mereka, lalu diliriknya Grimmjow yang malah mendudukan dirinya di rumput.
"Ya, lalu?" Grimmjow hanya menanggapi sekenanya.
"Untuk apa kau mengajakku ke sini? Aku tidak suka danau," ucap Rukia ketus. Ia ikut duduk di sebelah Grimmjow dan meliriknya. Ekspresi Grimmjow masih datar.
"Aku tidak menanyakan pendapatmu," ucap Grimmjow enteng, membuat Rukia semakin geram.
"Menyebalkan!"
"Hehehe.., kalau aku tak menyebalkan, apa kau mau menerimaku?" ucap Grimmjow sambil tersenyum miris.
"Eh?" Rukia mengalihkan pandangannya pada Grimmjow. Grimmjow sama sekali tak meliriknya, seolah ucapannya barusan bukan ditujukan pada Rukia, tapi pada air danau yang membentang di hadapan mereka.
"Jangan melihatku seperti itu jika tak ingin jatuh hati padaku," ucap Grimmjow sambil menyunggingkan seringai nakalnya.
"Ihhh.. kau benar-benar menyebalkan Tuan Gila Hormat!" seru Rukia sambil memukul-mukul lengan Grimmjow.
"Hahaha.." Grimmjow tertawa sambil terus mengelak dari pukulan Rukia. "Hei, berhenti! Berhenti memukulku!"
"Tidak..! Kau menyebalkan!" Rukia masih terus memukul semua bagian tubuh Grimmjow yang terjangkau oleh kedua tangan mungilnya.
"Berhenti atau ku cium?"
"Eh?" Rukia langsung menghentikan pukulannya dan mengelihkan wajahnya dari tatapan Grimmjow.
Grimmjow hanya tersenyum miris..
"Padahal aku mengharapkan kau akan terus memukulku, membuatku memiliki alasan untuk menciummu, memberiku sedikit harapan bahwa kau mengizinkanku membuktikan bahwa aku mencintaimu," senyum pasrah terselip di sudut bibir Grimmjow.
"Aku.." Rukia tak tahu apa yang harus ia katakan. Lidahnya terasa kelu. Tak tahu kata-kata apa yang harus diucapnya. Pikirannya melayang pada satu sosok pria berambut oranye. Pria yang belakangan ini mengabaikannya demi janjinya pada gadis lain.
"Tak perlu mengucapkan penghiburan semu," kali ini Grimmjow menatap Rukia.
Biru bertemu Violet. Kedua iris itu saling tatap, menyimpan segudang rasa yang entah sama atau berlainan. Mencoba menggali sesuatu yang abstrak dari dalamnya. Sang Biru mencoba mencari apakah masih ada sedikit celah yang mungkin bisa ia masuki. Sepetak lahan kosong dalam hati gadis di hadapannya yang ia harap disisakan untuknya, hanya untuknya, tanpa ada bayang-bayang dari pria lain.
Perlahan, kedua pasang mata itu terpejam. Menikmati semilir angin yang menyapu lembut kedua wajah mereka. Membiarkan alam menggiring wajah mereka mendekat secara alami. Pelan dan pelan, semakin dekat. Hangat hembusan nafas masing-masing terdeteksi indera peraba mereka.
Cupp..
Kedua bibir itu saling berpagutan. Sambung menyambung memberi kehangatan, saling menyatu, semakin lama semakin dalam, semakin hangat..
'Kami sama, seandainya ini adalah dosa. Maka Grimmjow adalah dosa termanisku.. Maafkan aku, Ichigo..'
Tes..
Sebutir air mata jatuh membasahi pipi Rukia..
To be continue
Hahaha..*tawa setan* -digotong ke RSJ-
Akhirnya setelah kemarin seharian berkutat dengan pulpen, penggaris, dan tip-ex. Entah berapa nilai yg ay dapat? Hueee..T.T
Minna, doain ya.. Doakan agar saya lulus.. Hikss..
Fuih.. setelah dipaksa Meong, Kika, Cha, Mii, apdet juga ni fic. Hehehe..
Awas ya kalo ampe ga doain ay lulus..!*ngedeathglare nama-nama di atas*-dirajam rame-rame-
No comment wat scene akhir chap ini..*kabur sebelum ditimpuk IchiRuki FC*XDD
Makasih buat semua reader n ripiuer yang udah sudi mampir di fic yang makin lama kaya K-Drama ini..*jiah PEDE ..XDD*
Tanpa kalian, chap 14 ini ga akan nongol.. Dan maafkan juga kemalasan ay dalam mengapdet fic..*ngumpet*
So-Chand 'Luph pLend', Mika de Zaoldyeck, Aine Higurashi, Yuki-ssme, Meong, avia chibi-chan, Aizawa Ayumu, Zheone Quin, Hwarang Ichikurasaki, Riztichimaru, sava kaladze, rukiahinata-ika, icchan, Violeta-Haru, aRaRaNcHa, Lila, Kurosaki Kuchiki, Ruki Yagami HiATuS, ichirukiluna gituloh, Nyit-Nyit, Magical-snow Nazuna, Thanatos Avatar, Yurisa-Shirany Kurosaki, Mii Saginomiya.
Peluk dan cium buat kalian semua..:D
Buat
Lila: aduh.. saia mbak jeng. Hehe..:D Makasih ya buat ripiunya.. Dapet ilham waktu semedi di goa jatijajar.*plakk.. hehe.. mampir lagi ya..^^
Nee-chan: ay kangenn..~~! Nee masih sibuk ya? Hikss.. kangen chat ama nee chan..
rukiahinata-ika: hihihi..bang aizen bukan psikopat kok say.. Makasih y udah ripiu..^^
Zheone Quin: hehe.. chap ini gimana say? Iya, tapi cerita islami gitu ay pub di fb:D
Meong: Bagaimana adinda-ku? Ini sudah akang apdet.. pokoknya ntar nebeng makan! Titik!*plakk..
Yg login, ay bls PM ya^^
Ayo.. ayo.. kita budayakan ripiu!hehe..*plakkXDD
Makasih..
Jaa..
Aya^^03072010
