Tittle : The Half-Devil Lucifer

Disclaimer : Saya tidak pernah mengakui kepemilikan atas Naruto dan High School DxD ataupun unsur dari Anime/Manga lainnya yang muncul di Fic ini.

Genre : Supernatural, Family, Adventure, Romance, Etc.

Rate : M

Pairing : Akan muncul dengan sendirinya!

Warning : AU, Typo's, Miss-Typo's, Bahasa Gado-Gado, OOC, Adult-Theme, Violence, Fem!Hidan, DLL.


Author Note : Saya hanya meminjam karakter ataupun unsur dari Naruto, High School DxD dan beberapa dari Manga/Anime lain untuk membuat Fic ini . . . . Jadi, maklum saja jika tidak ada kesamaan dari karakter atau unsur lain yang ane ambil. Baik sedikit maupun banyak.


.

.

.

.

.


Arc II - Awal dari semua masalah!

Chapter 14 - Edo Tensei!


.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Khukukukukukukuku," Orohimaru tiba-tiba tertawa keras layaknya seorang psikopat, membuat Hashirama dan yang lain bersiap-siap untuk melakukan sesuatu apabila si penggila penelitian di atas mereka mengeluarkan hal yang mengejutkan.

"Kalau begitu, apa yang akan kalian lakukan bila melawan shinobi dari desa?" sambung Orochimaru melayangkan sebuah pertanyaan yang membuat Hashirama tersentak. Tak berselang lama, Orochimaru segera merangkai segel tangan lalu menyatukan telapak tangan di depan dada.

Hashirama dan Jiraiya seketika merasakan firasat buruk akan terjadinya sesuatu yang sangat mengejutkan.

[Kuchiyose : Edo Tensei]

Permukaan lantai berjarak kira-kira 15 meter dari tempat 4 shinobi terakhir Konohagakure tiba-tiba retak di beberapa bagian, membuat suasana pada ruangan besar itu seketika menjadi begitu suram dan menakutkan.

"Ed-Edo Tensei, katamu?"

Madara dan Hashirama membulatkan mata mereka secara sempurna, terkejut mendengar nama tehnik itu. Sebuah tehnik ciptaan Senju Tobirama, adik dari Hashirama. Sebuah tehnik yang penggunaannya dilaras keras oleh Hashirama sendiri, walau si pengguna adalah adiknya sendiri yang berasalan untuk menambah kekuatan tempur Konohagakure. Bahkan Hashirama secara terang-terangan menyumpahi sang adik yang telah menciptakan tehnik terlarang itu.

Tapi, sekarang tehnik itu kembali di keluarkan dan yang menggunakan tehnik itu adalah Orochimaru. Penghianat desa mereka yang artinya sekarang adalah musuh mereka.

"Khukukukukuku, benar, Hashi-chan. Ini adalah Edo Tensei, tehnik yang diciptakan adikmu. Dia memang seorang jenius sejati, menciptakan sebuah tehnik yang sangat sempurna untuk dijadikan senjata." kata Orochimaru lalu diakhiri tertawa laknat yang menggema di seluruh ruangan.

"Dan jika Tobirama yang menciptakan tehnik ini. Maka, akulah yang menyempurnakannya!"

Retakan pada lantai di depan Madara semakin meluas, tak berselang tiga buah peti mati pun mencuat dari sana. Perasaan Madara dan yang lain mulai campur aduk. Marah, sedih dan penasaran. Sedih dan marah karena tiga rekan mereka akan digunakan sebagai bidak dalam pertarungan oleh Orochimaru, dan tidak lupa penasaran siapa yang akan dibangkitkan.

Secara bersamaan tiga penutup peti mati itu terbuka dan terjatuh, menciptakan suara dentuman yang cukup keras. Perasaan tidak enak pun langsung menghampiri Hashirama dan Jiraiya merasakan tekanan chakra dari dua mayat yang dibangkitkan. Berbeda dengan Madara yang malah menggertakan gigi kuat-kuat, menciptakan suara geletuk keras. Peti di bagian tengah memiliki tekanan chakra seorang Uchiha, sama seperti dirinya.

Tiga pasang mata bercahaya di balik gelapnya peti mati itu. Satu dari tiga pasang mata sedikit berbeda, beriris merah darah dengan tiga [Tomoe].

Orochimaru membentuk segel tangan tunggal, membuat tiga mayat [Edo Tensei] miliknya perlahan melangkahkan kaki keluar.

Hashirama pun melebarkan mata, syok. Sesosok pria paruh baya setinggi kira-kira 181 cm, berambut perak spiky, diikat ekor kuda di bagian belakang dan beberapa poni menutupi pelindung kepala desa Konohagakure. Pria itu mengenakan baju berlengan pendek yang dilapisi armor standar Jounin dan sepasang sarung tangan. Pada bagian bahu kanan, terlihat sebuah gagang [Tanto] yang terpasang diagonal. Tidak salah lagi, pria itu adalah salah satu shinobi kuat Konoha yang generasinya dibawah Jiraiya dan Orochimaru.

"Sh-Shiroi Kiba, Hatake Sakumo!"

Dan kini giliran Jiraiya yang melebarkan mata melihat sosok Edo Tensei di samping kiri. Pria paruh baya berpenampilan eksentrik, alis serta kumisnya yang tebal ditambah model rambut sedikit aneh, namun jangan nilai orang dari sampulanya saja. Walau berpenampilan aneh, ia adalah Shinobi Konoha yang seangkatan dengan Sakumo, beberapa tahun di atas Madara dan Hashirama. Dikenal dengan kemampuan [Taijutsu] terkuat di Konoha.

"Ma-Maito Dai!"

Diantara dua Edo Tensei yang sudah diketahui identitasnya itu, berdiri pemuda tampan berambut hitam acak-acakan. Kouhai Madara di Klan Uchiha dan rekan seangkatan Hilda.

"Ka-Kagami?!

"Kagami-kun?!"

"Percuma saja . . . . kesadaran mereka bertiga sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi, hanya perintahku saja yang mereka dengarkan."

Diantara yang lain, Hilda adalah yang paling syok melihat sosok bernama Kagami. Tenta saja dia syok, bukan karena Kagami adalah orang terdekatnya. Melainkan fakta bahwa pemuda itu sudah tewas beberapa bulan yang lalu, dan kini berdiri tepat di depan matanya. Hanya penampilan dari Kagami yang sedikit berbeda. Sorot mata dan kulit pecah-pecah layaknya sebuah kertas yang menjadi pembeda.

"Ap-Apa sebenarnya yang terjadi?" tanya Hilda terbata-bata karena masih dalam keadaan syok.

"Edo Tensei . . . . sebuah Kinjutsu yang diciptakan oleh Tobirama. Walau masuk dalam tipe tehnik pemanggil, Edo Tensei lebih dikategorikan sebagai tehnik terlarang, karena yang dipanggil adalah seseorang yang seharusnya sudah lama mati untuk dijadikan bidak dalam sebuah pertarungan." ucap Hashirama, memberi penjelasan kepada Hilda yang belum mengetahui tentang tehnik ini.

"Jadi Kagami-kun dan dua orang itu . ." Hilda memberi jeda singkat sambil menunjuk ketiga Edo Tensei depannya, menenguk ludah sejenak lali Hilda melanjutkan dengan nada sedikit tergagap, ". . adalah mayat hidup?!"

"Ya, itu benar." kata Hashirama, menjawab pertanyaan dari wanita penyembah dewa jashin tersebut.

"Dan satu lagi. Mereka adalah musuh! Jadi, ketika bertarung nanti, hilangkan pikiranmu jika mereka adalah rekan!" tanpa menoleh kebelakang, Madara tiba-tiba ikut nimbrung dalam percakapan keduanya, berucap datar menimpali ucapan Hashirama sekaligus memberi saran kepada Hilda.

Hal itu pun membuat mantan pemimpin Konohagakure sedikit cemas.

"Madara . . . ." Hashirama menghampiri sahabatnya yang berdiri pada barisan depan, berniat menanyakan keadaan pria itu kenapa berkata demikian, tidak lupa melirik sejenak tangan kanan Madara yang terkepal kuat-kuat. Memang mereka saat ini adalah musuh. Tapi, tiga mayat itu tetap rekan sewaktu masih hidup. Itulah yang dipikirkan oleh Hashirama.

"Daijobu, Hashirama!"

Madara merespon datar panggilan tadi, seolah tau kenapa si pemanggil menghampirinya. "Kau, Jiraiya dan Hilda yang mengurus tiga mayat hidup itu," Ia mengalihkan wajah beberapa derajat ke kiri tempat Hashirama berdiri, memperlihatkan Mangekyo Sharingan yang sudah berkibar dengan gagah.

"Orochimaru, biar aku yang urus!" sambungnya lalu menjelaskan secara singkat kenapa dia yang harus melawan Orochimaru seorang diri.

"Kau yakin semua itu akan berhasil, Madara?"

"Tentu saja. Lagipula jika kau atau Jiraiya yang melawan ular brengsek itu. Aku ragu jika kalian akan bertarung dengan niat membunuh, aku bisa melihat sorot mata kalian yang masih menganggap Orochimaru adalah rekan," kata Madara menjawab pertanyaan Hashirama, sekaligus menambahkan alasan kuat kenapa hanya dia satu-satunya yang cocok melawan si ular keparat.

"Ta-Tapi-"

"Jangan banyak bicara, cep_ . . . . _Mereka datang!"

Belum sempat Madara menyelesaikan kalimatnya, salah satu Edo Tensei Orochimaru tiba-tiba menerjang dan melancarkan sebuah pukulan yang dengan mudahnya ditahan oleh sang Uchiha. Sedangkan Hashirama langsung melompat kebelakang dan memberitahukan perintah dari Madara tadi.

"Cih, seenaknya saja menilai seseorang." Jiraiya mengumpat kesal setelah mendengar penjelasan singkat dari Hashirama perihal rencana Madara. Tapi, gerak tubuhnya berkata lain. Kuda-kuda bertarung ala Pertapa katak [Ogama Sennin] kini dilakukan olehnya. Dalam keadaan bersiaga, Jiraiya melirik Madara sejenak.

'Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Madara?' batin Jiraiya penuh rasa penasaran dengan keputusan si Uchiha yang berniata melawan Orochimaru satu lawan satu. Walau tau Madara itu kuat, Orochimaru tidak boleh dianggap remeh. Jiraiya saja hanya memiliki presentase kemenangan di bawah 60 persen bila melawan Orochimaru dalam pertarungan satu lawan satu.

"Kalau itu mau, Madara-kun," jeda sejenak, Hilda menyungging seringai sadis. Jiwa psikopat milik wanita ini akhirnya muncul juga walau beberapa menit yang lalu sempat syok. Tapi, setelah mendengar penjelasan dan saran dari rival abadi tadi. Rasa syok itu seolah hilang entah kemana.

"Yang bisa kulakukan hanya menurut saja!" sambung Hilda yang mulai merangkai segel tangan tunggal dengan tangan kiri. Dan tak berselang lama, asap putih langsung menyelubungi seluruh tubuhnya.

Hanya berselang beberapa detik dari ledakan asap putih tadi, Hilda tiba-tiba melesat keluar dengan sebuah sabit bermata tiga yang dilengkapi kawat berbahan logam. Dan dalam satu kedipan mata saja, Hilda sudah berada tepat di atas Madara, siap mengayunkan sabit tiga bilah yang baru dikeluarkan ke Edo Tensei yang tadi menyerang pria itu.

"Kau milikku, alis tebal!"

Bunyi dentingan logam tajam pun terdengar nyaring tepat di atas Madara. Penyebabnya adalah kemunculan sang Taring Putih yang menahan ayunan vertikal sabit Hilda dengan [White Light Chakra Sabre], menyelematkan Maito Dai dari serangan si penyembah Dewa Jashin.

"Cepat sekali!" gumam Hilda mengomentari kemunculan Hatake Sakumo. "Tapi," Ia lalu memegang gagang sabitnya dengan dua tangan, diputar beberapa derajat sehingga belati milik Sakumo tersangkut diantara bilah pertama dan kedua.

Tapi, belum sempat Hilda melakukan apa yang direncakanan, suara datar khas Uchiha tiba-tiba menginterupsi pendengaran Hilda dan yang lainnya.

[Katon : Gōkakyū no Jutsu]

Sebuah bola api berukuran 5x5 meter tiba-tiba disemburkan oleh satu-satunya Edo Tensei yang belum melakukan tindakan, Kagami atau lebih tepatnya Uchiha Kagami. Melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat Hilda dan Madara beserta dua Edo Tensei lainnya.

"Sial!" Madara dan Hilda secara bersamaan bergumam rendah melihat kedatangan bola api dari Kagami.

Tidak mau terpanggang bola api besar yang tinggal beberapa meter menghantam mereka . .

Madara langsung memegang lengan Maito Dai yang digunakan untuk memukulnya, dengan gerakan begitu cepat Madara melakukan manuver salto belakang sambil mengarahkan lutut kanan ke wajah Dai. Lututnya berhasil dihindari, namun serangan berikutnya berupa tendangan kaki kiri berhasil menghantam dagu Dai dan dengan satu kali dorongan kuat, Madara melompat menjauh.

Bersamaan dengan melompatnya Madara, Hilda pun ikut melakukan tindakan cepat dengan melempar sabit tiga bilah tiga atau [Sanjin no Ōgama] ke belakang setelah melepas kaitan pedang putih Sakumo, tidak lupa ia mengulurkan kawat baja yang mengikat gagang senjata besarnya untuk digunakan sebagai alat menghindari bola api Kagami.

Beberapa saat setelah kedua shinobi itu menjauh . .

Bola api Kagami pun melahap Dai dan Sakumo tanpa ampun dalam posisi berbeda. Dai berlutut akibat tendangan Madara dan Sakumo yang masih berada di atas udara. Hawa panas dari ledakan bola itu pun memenuhi ruangan sampai-sampai Hashirama dan Jiraiya menyilangkan lengan di depan wajah sebagai perlindungan.

"Tingkat elemen api Kagami benar-benar berbeda dibanding Uchiha yang lainnya." Gumam Jiraiya menganalisa [Katon] dari Edo Tensei Uchiha itu.

Sekitar satu menit kemudian, efek dari ledakan bola api mulai menghilang. Menampakkan Dai dan Sakumo yang sebagian besar tubuh Edo Tensei mereka hancur seperti sebuah kertas robek, namun perlahan tapi pasti mulai beregerasi.

"Hashirama, Jiraiya! Serang mereka sebelum beregenasi sempurna!" Teriak Madara memberi perintah kepada dua orang yang berjarak kira-kira 5 meter di samping kirinya. Kemudian, perhatiannya dialihkan ke Hilda yang berdiri vertikal pada dinding di belakang Hashirama dan Jiraiya.

"Hilda, kau urus Kagami!"

Tepat setelah itu, Madara segera menuju lokasi Orochimaru yang berada di atas besi baja langit-langit ruangan itu, berlari dalam keadaan terbalik di langit-langit sambil merangkai segel tangan tunggal untuk mengeluarkan katana yang tadi digunakan untuk membantai dua iblis di pintu masuk bangunan.

Orochimaru menyeringai sejenak melihat kedatangan Madara lalu segera melompat menuju sebuah lubang kecil beberapa meter pada bagian tempatnya berdiri. "Ayo kesini, Madara-chan!" ucap Orochimaru, berniat memisahkan Madara dengan yang lain agar mempermudah pertarungan mereka berdua nantinya atau mungkin ada maksud tersendiri kenapa memilih bertarung melawan Madara.

"Cih, jangan kabur keparat!" Madara mengumpat datar dan mempercepat lajunya mengejar si penggila penelitian yang kini berada di satu lantai di atas ruangan tempat pertarungan rekan se-timnya melawan mayat Edo Tensei.

'Madara, kami mengandalkanmu!' batin Hashirama dan Jiraiya yang kini sudah sibuk menghadapi perlawanan Dai bersama Sakumo.

.

.

.

.

.

.

.

Suara dua benda logam yang saling beradu satu sama lain dalam kecepatan tinggi terdengar begitu jelas di ruangan itu, tampaknya pertarungan antara Hilda melawan Kagami sudah berlangsung, dan hasilnya begitu sengit sampai-sampai serangan keduanya tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

"Kuso!" Hilda bergumam pelan, Kagami menghindari ayunan horizontal sabit berbilah tiga miliknya dengan cara berjongkok.

Dengan gerakan begitu cepat, Kagami memainkan Tantō yang dipegang dengan tangan kiri sambil berjongkok, membuat keringat dingin menetes di pipi mulus sebelah kanan gadis mesum itu.

Hilda tau betul apabila Kagami yang notebene sering menemani dia berlatih tanding sudah melakukan gerakan barusan, maka itu artinya Kagami akan mengeluarkan salah satu tehnik andalannya.

'Yabee!' batin gadis berambut abu-abu itu, iris ungu indah miliknya bergerak ke kiri secara bersamaan, melirik sebuah balok kayu yang disandarkan pada dinding.

[Uchiha Ryū]

Kobaran api mulai menyelubungi Tantō Kagami, Hilda kini dalam masalah. Uchiha Ryū atau Uchiha Style, adalah sebutan untuk tehnik original ciptaan para Uchiha dan sangat sulit untuk ditiru oleh orang lain walau orang itu adalah seorang Uchiha sendiri.

'Oh, sial . . . . Demi celana dalam Hokage-sama, dia bukan lagi Kagami-kun yang kukenal.' kata Hilda sedikit ngelantur dalam hati melompat beberapa meter kebelakang, mencoba mengurangi jarak dengan Kagami agar mengurangi presentase tehnik pemuda itu mengenai dirinya.

[Higasa no Mai]

Kagami mengayunkan Tantō yang diselumuti api secara diagonal, menciptakan sebuah serangan elemen api berbentuk bulan sabit menuju Hilda.

Tapi, itu hanyalah serangan pembuka dari [Higasa no Mai] atau Halo Dance yang berarti tarian api, hanya berselang 1 detik setelah melancarkan serangan pertama, Kagami melakukan manuver salto depan sembari mengayunkan Tantō secara vertikal, menciptakan serangan kedua. Kagami, terus melakan hal itu sebanyak tujuh kali sehingga menciptakan tujuh gelombang api berbentuk bulan sabit menuju Hilda

Hilda menggertakan gigi melihat kedatangan tujuh serangan beruntung dari Kagami. Saking cepatnya serangan itu datang, Hilda tidak sempat untuk melakukan apa yang direncakan ketika melirik balok kayu tadi.

Serangan pertama berhasil dihindari dengan bergeser ke kanan, namun serangan kedua dan serangan sisanya sudah melesat bagai peluru, membuat area pertarungan mereka dihiasi warna merah dari api itu.

Empat dari enam gelompang api Kagami berhasil mengenai tubuh Hilda, membuat ledakan kecil terjadi disana, dan ketika gelombang api yang terakhir mengenai gadis itu, ledakan besar pun tercipta karena ukuran dari api yang terakhir sedikit lebih besar dari empat lainnya.

Hilda terpental beberapa meter kebelakang, menghantam lantai beberapa kali hingga akhirnya berhasil memperbaiki posisi tubuh dan terseret sekitar 5 meter kebelakang dengan posisi berjongkok, suara dentingan logam padat terdengar setelah Hilda berhenti, suara itu berasal dari Sanjin no Ōgama yang terlepas dari pegangan Hilda ketika terpental.

'Cih, kuso!' Hilda kembali mengumpat kesal dalam hati, melirik sejenak beberapa luka bakar di sekujur tubuhnya bekas serangan dari Kagami.

'Madara-kun benar, Kagami di depanku benar-benar bukan Kagami yang kukenal. Level serangan barusan benar-benar berbeda ketika berlatih tanding.' pikir Hilda setelahnya, dia akhirnya menyadari kalau kesadaran ET Kagami sudah benar-benar berada pada kendali Orochimaru.

Tak berselang lama, mata Hilda sedikit melebar, mengingat perkataan Hashirama tentang tehnik Edo Tensei ini.

Ia pun segera bangkit berdiri, menatap ET Kagami yang masih mengaktif mata sakti khas Uchiha, menyeringai sejenek, Hilda menarik kawat baja yang tersambung dengan Sanjin no Ōgama miliknya.

"Nee, Kagami-kun. Kalau memang kesadaranmu benar-benar dikontrol oleh Orochi-kun, maka akan kubuat kesadaran itu kembali dengan mengingatkanmu. ." Hilda memberi jeda sejenak sambil menangkap senjata andalannya, seringai yang disungging kini terlihat begitu mengerikan bak dewa kematian, sifat yang dari dulu membuat dirinya dikenal sebagai Kunoichi terkuat di Konohagakure kini benar-benar terlihat begitu jelas.

". . . . Betapa mengerikannya aku ini!"

.

.

.

.

.

Bunyi dentingan logam yang saling berbenturan terdengar ketika dua senjata tajam berbeda ukuran dan bentuk, berbunyi tidak jauh dari tempat pertarungan Hilda dan ET Kagami. Pemilik dari senjata itu tidak lain adalah sang Hokage, Senju Hashirama dan Shiroi Kiba, ET Hatake Sakumo. Walau pertarungan mereka baru berjakan beberapa menit, namun kedua shinobi itu terlihat begitu serius.

"Sudah kudugu gelar Shiroi Kiba-mu itu tidak main-main Sakumo-san." kata Hashirama di sela-sela pertarungan mereka, walau dia tau kalau ET Sakumo pasti tidak akan meresponnya.

Iris putih Sakumo bergerak pelan, seolah-olah tau apa yang dikatakan oleh Hashirama.

Sang Taring Putih kemudian menjauhkan White Light Chakra Sabre dari bilah pedang berukuran besar Hashirama dan melompat menjauh, menambah jarak keduanya menjadi 5 meter.

'Bagus, untungnya Sakumo-san tidak terlalu bernafsu untuk membunuhku.' pikir Hashirama sambil menghela nafas sejenak dan memperbaiki posisi pedangnya, sebenarnya dia sangat ingin segera mengakhiri pertarungan ini untuk pergi membantu Madara yang saat ini sudah pasti tengah bertarung melawan Orochimaru. Tapi karena ia tidak tau bagaimana caranya untuk mengalahkan bidak Edo Tensei maka tidak ada pilihan selain menjalankan strategi yang disusun oleh Madara.

'Haaa, aku bersumpah demi muka tebing Madara, jika nanti aku bertemu denganmu di alam baka. Akan kupukul kau Tobirama, karena sudah menciptakan tehnik merepotkan ini.' pikir Hashirama agak kesal dengan Tobirama yang sudah menciptakan Edo Tensei, tidak lupa ia juga menyesal tidak menanyakan bagaimana cara mengalahkan bidak Edo Tensei ke adik-nya yang telah berpulang ke sisi Kami-sama.

Setelah itu, Hashirama melirik ke samping kiri sejenak.

Memperhatikan dengan seksama adu Taijutsu antara Jiraiya melawan Maito Dai yang terlihat berat sebelah. Jiraiya tampak kesulitan melawan. Jelas Jiraiya kesulitan, lawan Ero-sennin itu adalah pengguna Taijutsu terkuat yang Hashirama ketahui sampai saat ini.

'Haaaa,' lagi, Hashirama mendesah dalam hati, dia berpikir sebaiknya membantu si Ogama-Sennin melawan pria eksentrik Maito Dai, dan dia juga sedikit bingung melihat cara bertarung Jiraiya yang terlihat begitu lambang.

Seperti ada yang mengganggu pikiran pria tua itu.

Setelah itu, Hashirama mengembalikan perhatiannya ke Sakumo yang terlihat diam dengan memegang White Sabre dengan dua tangan, memandang dirinya dengan tatapan begitu kosong.

'Sebaiknya kubuat Sakumo-san sibuk agar bisa membantu Jiraiya.' kata Hashirama dalam hati, lalu menancapkan pedang besarnya pada lantai dan merangkai segel tangan.

[Moku Bunshin no Jutsu]

Dari punggung Hashirama keluar dua balok kayu yang perlahan membentuk tubuh manusia menyerupai dirinya sendiri, setelah patung kayu manusia itu berpisah dari tubuhnya, dua salinan identik Hashirama pun terbentuk di kiri kanan pria berambut hitam panjang itu.

Belum cukup sampai disitu saja, Hashirama merangkai segel tangan baru. "Dan sebagai pelengkap,"

[Mokuton: Mokusatsu Shibari no Jutsu]

Hashirama mengarahkan telapak tangan kanan ke Sakumo, sedangkan tangan kiri memegang lengan kanannya, tangan kanan Hashirama pun berubah menjadi balok kayu, memanjang dan beregenarasi membentuk cabang-cabang baru yang tak terhitung jumlahnya menuju lawannya.

Bukannya berusaha menjauh, Sakumo malah berlari menerjang puluhan cabang kayu berujung runcing Hashirama, menebas satu per satu menggunakan Hakkō Chakura Tō atau White Light Chaka Sabre, membuat apa yang ditebas oleh pedang pendek itu hancur berantakan.

"Sekarang!" Hashirama berteriak keras sebagai perintah ke dua klon yang baru saja dia ciptakan.

Kedua klon itu mengangguk paham lalu melesat dengan kecepatan tinggi menuju Sakumo yang masih sibuk menebas satu per satu cabang kayu Hashirama.

Pertarungan sengit pun terjadi tatkala dua klon Hashirama bekerja sama melancarkan gabungan serangan ke Sakumo.

"Yosh!" Hashirama bergumam pelan, mematahkan balok kayu yang tersambung dengan lengan kanannya, setelah itu langsung berlari ke kanan menuju Jiraiya dan Dai yang tengah bertarung.

.

.

.

[Konoha Daisenko]

Dai merendahkan tubuhnya di depan Jiraiya, lalu melayangkan tendangan kaki kanan ke atas, dagu Jiraiya yang menjadi sasaran tendangan itu pun terkena telak, membuat sang Ogama Sennin terpental ke atas menuju langit-langit dan menghantam besi baja di sana hingga bengkok akibat kuatnya tendangan dari Dai.

"Kuso!" Jiraiya mengumpat kesal dengan wajah meringis kesakitan, punggungnya serasa remuk menghantam besi baja tadi.

Dengan sekali hentakan kuat, Jiraiya terlepas dari lekukan besi yang menjepit tubuhnya, melayang kebawah dengan kecepatan normal gaya gravitasi bumi dan menampakkan kaki pada lantai.

"Daijobuka, Jiraiya?" Kata Hashirama yang tengah berlari ke Jiraiya, menanyakan keadaan si Ogama Sennin yang baru saja terkena serangan.

"Kolestrolku lumayan tinggi."

"Haaa?!" Hashirama mengerem tubuhnya tepat di samping Jiraiya, sedikit sweatdrop akan jawaban tidak nyambung dari Jiraiya tadi.

Namun peduli setan dengan kolestrol Jiraiya, dia lebih memilih fokus menatap Dai yang berdiri dengan pose bertarung khas seorang pengguna Taijutsu.

Iris hitam gelap Hashirama melirik iris putih Dai, pria itu sama dengan Sakumo, kesadaran yang dikendalikan secara sempurna yang berarti Dai mungkin saja tidak terlalu bernafsu untuk membunuh mereka berdua. Tapi, tendangan yang mengenai Jiraiya barusan mematahkan pemikiran Hashirama jika Dai tidak berniat membunuh mereka semua.

Menghela nafas sejenak, Hashirama pun mengalihkan perhatiannya dari Dai menuju ke Jiraiya, melirik ke samping kanan dimana Jiraiya tengah bertumpuh lutut disana.

"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Jiraiya? Tidak biasanya kau bertarung selambang ini." kata Hashirama, melayangkan sebuah pertanyaan sekaligus mengomentari cara bertarung si Ogama Sennin.

Jiraiya merespon ucapan mantan pemimpin Konohagakure dengan memandanginya dengan mata menyipit, memperlihatkan kalau dia tengah menahan rasa sakit yang berasal dari dalam tubuh. "Ada yang aneh dengan tubuhku. Seolah ada yang mengganggu aliran chakraku." kata Jiraiya, kemudian memperlihatkan telapak tangan yang di ujung kelima jarinya mengeluarkan aura kebiruan yang tidak stabil.

Kadang terlalu kecil, kadang pula membesar . . . . Itulah aliran chakra yang terlihat di kelima ujung jari Jiraiya.

"Dan itu baru terjadi setelah aku mengeluarkan Katon sebelum Orochimaru kabur." tambah Jiraiya dengan nada bingung.

"Sokka," ucap Hashirama, membalas penjelasan pria tua itu barusan dengan nada seadanya.

"Jadi itu alasannya. Sepertinya kau terkena semacam racun yang mengganggu aliran chakramu, sebaiknya kau ingat-ingat dulu kejadian sebelum kau mengeluarkan Katon." sambung Hashirama, memberikan saran yang mungkin bisa membantu Jiraiya untuk lebih memahami tentang ketidakstabilan aliran chakranya.

"Hn." Respon Jiraiya datar dan tidak lupa menganggukan kepalanya.

"Kalau begitu, fokuslah untuk men-stabilkan aliran chakra-mu dulu. Dai-san biar aku yang urus."

Hashirama hendak melangkahkan kaki menuju ke depan. Tapi, tiba-tiba Jiraiya menangkap lengan kanan pria itu. Kembali menoleh ke samping, Hashirama menautkan alis ketika melihat Jiraiya menggeleng pelan.

"Tidak perlu!" kata Jiraiya datar, menolak permintaan Hashirama untuk melawan Maito Dai. "Dia adalah lawanku, sebaiknya kau urus saja Sakumo. Asal kau tau saja, Hashirama! Keadaan seperti ini tidak akan membuatku terlihat lemah di depan kalian."

Hashirama tercengang, baru kali ini ia melihat Jiraiya bertingkah layaknya seorang Senpai kepada Kouhai-nya. Apalagi ucapan barusan, benar-benar jauh melesat dari image mesum Jiraiya yang dia kenal. Jadi apa yang sekarang harus dilakukan oleh Hashiama? Apa dia harus mengabaikan ucapan Jiraiya atau menurutinya.

"Kalau begitu, mari kita lawan dia bersama-sama!" Hashirama akhirnya menentukan pilihannya, memilih jalan keluar dari permintaan Jiraiya. "Aku sudah menciptakan dua Moku Bunshin untuk menyibukkan Sakumo-san." ucapnya menambahkan agar Jiraiya mau dibantu olehnya.

"Baiklah!" Hashirama tersenyum mendengar Jiraiya setuju untuk bekerja melawan pengguna Taijutsu terkuat itu.

Jiraiya perlahan berdiri dan tidak lupa membersihkan armor shinobi yang dikenakan dari kepulan debu yang melekat. Ekspresi wajah sekarang bukan lagi meringis menahan rasa sakit dari punggung atau pun kolestrol yang tinggi, melainkan serius menatap Maito Dai yang masih belum mengubah pose bertarung.

"Ikuzo!" ucap Jiraiya.

Hashirama mengangguk paham. Setelah itu mereka langsung berlari secara bersamaan menuju Dai.

Hashirama yang berada di depan melakukan manuver takel di depan Dai dan langsung melancarkan sebuah tandangan kaki kanan ke atas, namun mampu ditahan dengan mudah oleh sang pengguna Taijutsu itu.

Akan tetapi, itulah yang diincar oleh sang Hokage. Saat Dai memegang kaki kanannya dengan dua tangan, mantan Hokage ini menggunakan kedua lengannya sebagai pegas untuk mengankat tubuh beberapa senti di udara lalu melancarkan tendangan kaki kiri yang mengarah ke bagian samping kepala Dai.

"Sialan!"

Hashirama mengumpat kesal, lagi-lagi serangan yang ia lancarkan gagal mengenai Dai, kaki kirinya berhasil dihindari oleh si pengguna Taijutsu dengan menundukan kepala, "Pengguna Taijutsu memang merepotkan." Hashirama lalu menggunakan kedua lengan Dai sebagai tumpuan, melompat menjauh kebelakang sembari berteriak lantang.

"Jiraiya!"

'Nice timing, Hashirama.' orang yang dipanggil tiba-tiba muncul tepat di atas si pemanggil sambil berucap dalam hati, bersiap melakukan sebuah tendangan menyamping.

Jiraiya, orang yang dipanggil mendorong tubuhnya ke depan, mengeliminasi jarak dia dan Dai, "Makan ini!" tendangan menyamping pun dilancarkan Jiraiya, membuat Dai terpental beberapa meter kebelakang karena tidak menyangka serangan dadakan dari sang Ogama Sennin.

Terpental, menghantam lantai beberapa kali, terseret 5 meter hingga berhenti pada salah satu pilar di ruangan tersebut, menciptakan suara dentuman keras, itulah yang menimpa Dai setelah menerima tendangan dari Jiraiya.

Dalam keadaan bersandar pada pilar berukuran lumayan besar itu, tubuh Maito Dai yang terluka akibat hantaman keras tadi perlahan beregenarasi.

15 meter dari Dai, Jiraiya dan Hashirama sudah menapakkan kaki pada permukaan lantai, menatap serius Maito Dai yang perlahan bangkit berdiri dengan sorot mata kosong.

"Sekarang'lah saatnya Jiraiya!" ucap mantan pemimpin desa Konoha agak keras, lalu segera berlari menuju Dai yang masih dalam keadaan beregenerasi.

Jiraiya mengangguk setuju atas ucapan dari Hashirama, secepatnya Jiraiya langsung berlari menyusul Hashirama, mengeliminasi jarak mereka dari Dai.

Hashirama yang terlebih dahulu tiba di depan Dai, langsung melancarkan beberapa pukulan beruntung yang membuat pria eksentrik itu menghentak-hentakkan tubuh. Kepala ke kiri lalu ke kanan, perut maju dan mundur secara bergantian terkena pukulan. Hashirama benar-benar tidak mau membiarkan Dai pulih sepenuhnya.

Setelah melencarkan puluhan pukulan, Hashirama melompat dengan manuver salto melewati bagian atas Dai, mendarat di belakang pria eksentrik itu. Sang pengguna elemen kayu merangkai segel tangan kemudian menyatukan kedua tangan di depan dada.

[Mokuton]

Tangan Hashirama berubah menjadi balok kayu berukuran 2x2 meter, menghantam dan mendorong tubuh Dai ke depan dimana Jiraiya sudah menunggu.

Tiga meter sebelum Dai tepat berada di depan Jiraiya, pria tua itu membuka telapak tangan sebelah kanan. Walau aliran chakra Jiraiya dalam keadaan tidak stabil, pria ini tetap memaksakan diri untuk mengeluarkan salah satu tehnik yang dia ciptakan. Hanya dalam hitungan detik, di telapak tangannya sudah terkumpul chakra padat berbentuk bola.

"Uhook!" karena terlalu memaksakan diri mengeluarkan chakra, Jiraiya memuntahkan darah segar dari mulut. Namun peduli setan dengan itu, pria ini tetap mempertahankan perputaran chakra padat di telapak tangan kanannya.

[Rasengan]

Chakra padat berbentuk bola di telapak tangan Jiraiya pun dihantamkan pada perut Dai yang sudah berada tepat di depannya, menciptakan suara ledakan kecil dan suara retakan dari balok kayu Hashirama yang mendorong Dai. Perlahan tapi pasti efek dari tehnik Jiraiya mulai membesar, retakan di balok kayu Hashirama mulai merembes hingga akhirnya hancur berkeping-keping membentuk lorong kecil berpola bulat yang merupakan bentuk dari tehnik Rasengan itu sendiri.

Bukan hanya balok kayu Hashimara, tubuh bagian tengah Dai pun ikut hancur. Hanya menyisah beberapa sentik di bagian kiri.

Hashirama lumayan syok melihat tehnik dari Jiraiya untuk kedua kalinya. Itu karena kali ini daya hancur tehnik itu lumayan kuat sampai-sampai Mokuton punya dia hancur berkeping-keping. Padalah dia menyalurkan banyak chakra agar kayu itu tidak mudah hancur.

'Sebenarnya kapan Jiraiya menciptakan tehnik itu?' batin Hashirama bertanya-tanya mengenai Rasengan.

Kini terlihat tubuh tidak utuh dari Maito Dai perlahan terjatuh kesamping diikuti robekan kertas-kertas kecil yang mengikuti tubuh pria itu agar segera beregenerasi.

"Sekarang bagaimana Jiraiya?" Hashirama berteriak keras menanyakan langkah apa yang selanjutnya mereka ambil.

"Kenapa kau tanya padaku, Baka!" balas Jiraiya, juga dengan berteriak kencang. "Bukannya kau lebih tau tentang Edo Tensei?" tambah pria tua itu balik bertanya ke Hashirama.

Inilah yang terjadi apabila ada dua orang 'agak' bodoh bekerja sama dalam pertarungan melawan tehnik yang belum mereka ketahui cara membatalkannya. Disaat ada kesempatan emas, mereka sama-sama tidak tau tindakan apa yang selanjutnya diambil. Ya, mereka memang belum mengetahui cara untuk mengalahkan bidak Edo Tensei. Jadi saat ini, mereka bertiga [Jiraiya, Hashirama dan Hilda] hanya menjalankan apa yang direncanakan oleh sang Uchiha Madara karena adalah pilihan satu-satunya bagi mereka untuk setidaknya bisa menghentikan Edo Tensei.

Bisa dibilang, Hashirama baru dua kali melihat tehnik Edo Tensei digunakan, kali pertama ketika Tobirama hendak melakukan percobaan dan berhasil. Namun setelah melihat secara jelas bahwa Edo Tensei menantang prinsip hidup dan mati, Hashirama langsung menyuruh Tobirama untuk membatalkannya dan menyimpan baik-baik gulungan Edo Tensei, dan disaat itu pula Hashirama memberikan klarifikasi bahwa Edo Tensei termasuk dari tehnik terlarang [Kinjutsu] dan melarang keras Tobirama untuk menggunakannya.

"Jadi sekarang bagaimana Hokage-sama?!"

"Begini saja . . . ." segel tangan kembali dirangkai Hashirama setelah mematahkan balok kayu yang tersambung dengan tangannya.

Hashirama menatap sejenak Dai yang sudah hampir menghantam lantai, 'Jika menggunakan Sage Mode dan Myōjinmon untuk menahan pergerakannya, hanya akan membuang-buang chakra dan energi Senjutsu. Aku yakin, pasti sesuatu yang buruk masih belum menampakkan diri.'

Setelah berpikir sedemikian rupa untuk menentukan apa yang akan dia lakukan, Hashirama melebarkan mata, menyadari sesuatu. 'Benar juga, Edo Tensei termasuk tehnik pemanggil walau yang dipanggil bukanlah hewan Kuchiyose. Kalau begitu . . . ."

[Mokuton: Daijurin no Jutsu]

Lengan kanan Hashirama seketika berubah menjadi sulur-sulur kayu dalam jumlah banyak, melesat dengan kecepatan tinggi menuju Dai dan langsung mengikat tubuh pria itu sebelum menghantam permukaan lantai.

Sebelum Dai pulih sepenuhnya dalam keadaan terikat, Hashirama mematahkan sulur kayu yang terikat dengan lengan kanannya lalu merangkai segel tangan baru. Inilah salah satu keuntungan Hashirama yang memiliki cadangan chakra yang melimpah, membuat dia bisa mengeluarkan beberapa tehnik Mokuton yang tidak terlalu memakan banyak chakra.

[Mokuton: Jubaku Eisō]

Dan rangkaian segel tangan tadi ditutup oleh Hashirama dengan segel tangan ular sambil bergumam pelan menyebutkan nama tehnik yang dikeluarkan. Sulur-sulur kayu yang mengikat tubuh Dai pun membesar dan perlahan membentuk sebuah pohon berukuran kecil setinggi 4 meter, menjerat tubuh Edo Tensei pria itu pada bagian batang.

"Apa yang kau lakukan, Hashirama?" tanya Jiraiya, bingung kenapa malah menjerat Dai pada sebuah pohon. Memang sih, dengan cara itu pergerakan pengguna Taijutsu itu akan terhenti selama beberapa menit, membuat mereka bisa memulihkan tenaga sekaligus memberikan waktu kepada Jiraiya untuk segera menemukan solusi mengenai ke-tidakstabilan aliran chakra-nya.

"Mencoba sesuatu!" jawab Hashirama singkat, kemudian berjalan mendekati Dai mengabaikan Jiraiya yang kini menatap dia dengan wajah penasaran.

Namun, baru mengambil beberapa langkah saja. Sebuah ledakan besar yang asalnya berasal dari lantai teratas mengejutkan Hashirama dan Jiraiya. Saking besarnya ledakan itu, bangunan tempat pertarungan sampai bergetar.

"Apa itu?"

.

.

.

.

.

Beralih ke lantai tempat pertarungan antara Madara dan Orochimaru yang letaknya berada lantai teratas gedung konstruksi yang pada bagian tengah terdapat batang pohon berukuran sangat besar hasil dari Mokuton Hashirama.

Kepulan asap hitam mengepul pada bagian barat, asap hitam penyebab dari ledakan yang tadi dirasakan oleh Hashirama dan Jiraiya.

"Cih," Madara mendecih arogan beberapa meter dari kepulan asap itu, kemudian menatap serius dengan Sharingan yang aktif.

"Jangan bilang kau sudah kalah, Ular." Sharingan Madara kemudian ia nonaktifkan, lalu bersikedep dada menatap kepulan asap hitam yang mulai menghilang ditiup hembusan pelan angin malam puluhan meter dari permukaan tanah.

"Perkembanganmu lumayan juga, Madara-chan." kepulan asap akhirnya menghilang sepenuhnya, menampakkan seekor ular putih berukuran besar yang berpose melingkar layaknya obat nyamuk bakar, hangus di beberapa bagian dan mengeluarkan asap tipis.

Madara menyeringai sejenak mendengar suara serak barusan, ucapannya tadi ternyata sedikit melenceng, Orohimaru belum kalah. "Kukira kau sudah kalah ular, atau paling tidak kabur kalang kabut, karena takut melihat kemampuan sesungguhnya dari Sharingan." seringai Madara semakin terlihat tatkala ular putih besar di depannya mulai bergerak perlahan, memperlihat pria berkulit pucat bernama Orochimaru.

"Justru aku sangat ingin melihat kemampuan dari mata andalan klan-mu itu Madara-chan." ucap Orochimaru sambil mengelus bagian bawah kepala ular putih di sampingnya.

"Hn." respon Madara datar atas ucapan Orochimaru.

Orochimaru pun bingung dengan respon barusan yang maksudnya tidak dia diketahui, apa memang Uchiha selalu mengeluarkan dua huruf konsonan itu untuk merespon ucapan seseorang? Itulah isi pikiran dari Orochimaru.

Setelah memikirkan hal yang tidak terlalu penting itu, Orochimaru merilekskan tubuh karena kaku karena berada di dalam lekukan ularnya tadi. "Tapi sekarang, yang membuatku penasaran itu. Apa tim-mu dibawah mampu bertahan melawan tiga zombie milikku? Jika Hidan dan Hashi-chan, kuyakin mereka pasti bisa,"

"Apa maksudmu?" Madara menautkan alis, namun ekspresi wajahnya masih terlihat datar.

"Jiraiya . . . . Dia sudah terkena pukulan iblis hasil penelitianku yang berhasil. Iblis berkulit racun yang bisa mempengaruhi aliran energi tubuh mahluk hidup, baik itu chakra maupun energi lain seperti sihir dan Demonic Power para iblis." jelas si penggila penelitian itu kepada Madara. "Jadi, bisa kupastikan dia kini dalam keadaan bahaya, apalagi jika lawannya Maito Dai dan mengeluarkan itu."

Tautan alis Madara semakin terlihat jelas dan sekarang ditambah dengan kening yang mengkerut, Madara tau apa yang dimaksuda Orochimaru tentang Maito Dai mengeluarkan sesuatu. Itu adalah tehnik andalan dari Maito Dai sendiri, tapi yang membuat bingung Madara adalah Dai sekarang hanyalah mayat hidup dan tidak mungkin menggunakan itu.

"Khukukukukuku," Orochimaru tiba-tiba tertawa keras, membuat lamuan Madara buyar. "Aku yang kau pikirkan sekarang. Namun itu sepenuhnya salah! Dai juga merupakan hasil penelitianku yang sudah memasuki tahap sempurna." sambung Orochimaru, seolah tau apa yang dipikirkan oleh Madara perihal Maito Dai.

"Tunggu saja, hal yang mengejutkan akan segera terjadi!"

Mendengar pernyataan Orochimaru, Madara diam sejenak lalu menyungging seringai licik, "Kau terlalu meremehkan Jiraiya, Ular." katanya dengan nada datar seperti biasa. Ya, Madara sudah sepenuhnya sadar tentang meremehkan seseorang, itu pernah terjadi ketika Yuki diculik oleh kelompok Rias, ia terlalu meremehkan kelompok iblis muda itu sehingga membuat adik angkatnya bisa diculik dengan mudah tepat di depan mata.

Setelah itu, Madara kembali memasang kuda-kuda bertarung, siap melanjutkan ke ronde selanjutnya.

.

.

.

.

.

Kembali ke tempat Hashirama dan Jiraiya.

Saat ini sang mantan pemimpin Konohagakure sudah berdiri tepat di depan Maito Dai yang terikat pada tehnik Mokuton. Berkonstrasi sejenak, Hashirama menghembuskan nafas ringan lalu mulai merangkai segel tangan yang diakhiri dengan menyatukan telapak tangan dengan kening Dai.

[Keiyaku Fuuin]

Hashirama bergumam pelan, menyebutkan nama tehnik yang berfungsi untuk melepas kontrak Kuchiyose. Namun beberapa saat menunggu tidak ada yang terjadi, Dai malah membuka kedua kelopak mata, memperlihatkan iris putih kosong yang memandang datar Hashirama yang berada tepat di depannya.

'Sialan, ternyata tidak berhasil!' batin mantan pemimpin Konohagakure itu, dilanda kekecewaan sekaligus keterkejutan atas sadarnya Maito Dai.

Hashirama segera melompat mundur, setelah memijakkan kaki pada permukaan lantai langsung memasang pose bersiaga. Walau Dai masih terikat, tidak menutup kemungkinan Edo Tensei hampir sempurna milik Orochimaru itu bisa saja melakukan sesuatu yang membuatnya terlepas dari ikatan pohon Hashirama.

Dan benar apa yang dipikirkan oleh Hashirama, dengan sekuat tenaga, Maito Dai menggerakkan kedua lengan hingga cabang kayu hancur. Di posisikan tepat di depan wajah secara menyilang, tekanan chakra dari Edo Tensei itu tiba-tiba meningkat drastis.

[Hachimon Tonkou]

[Daichi Kaimon: Kai]

Urat-urat di kening Dai tiba-tiba berkendut hingga terlihat begitu jelas sampai-sampai terlihat ingin meledak

[Daini Kyūmon]

Kendutan urat-urat tadi semakin membesar dan sekarang hampir memenuhi kening. Kulit dari Maito Dai juga perlahan mulai berubah gelap. Dan kini mata pria eksentrik itu kini berubah putih sepenuhnya.

[Daisan Seimon]

[Daiyon Shōmon]

[Daigo Tomon: Kai]

Ledakan chakra besar tiba-tiba terjadi, asalnya dari Dai hingga membuat pohon yang mengikat pria itu hancur berkeping-keping. Tak berselang lama, ledakan ke dua terjadi dan kali ini ledakannya lebih besar dari yang pertama dan bukan cuma itu saja, tubuh Dai tiba-tiba diselimuti aura kehijauan.

[Hachimon Tonkou]

Dai tiba-tiba merubah pose, kini kedua lengannya terkepal di samping pinggang dan kepalanya mendongak ke atas. Kulit Edo Tensei-nya pun terkelupas dan berubah menjadi layaknya kulit manusia normal namun warnanya lebih cenderung kemerahan.

[Dairoku Keimon: Kai]

Lantai tempat berpijak Dai pun hancur dan membuat bebatuan hasil dari ledakan tersebut melayang-layang di sekitarnya. Aliran udara di sana pun berubah drastis, seolah-olah menjauhi tubuh pria itu sehingga menciptakan gelombang kejut super hebat.

"Apa ini?!" Hashirama terkejut bukan main dan berusaha agar tidak terpental karena gelombang kejut dari tubuh Dai.

Tidak jauh dari Hashirama, di sisi lain Dai yang kini mengaktifkan tehnik andalannya, Jiraiya terlihat menyilangkan lengan di depan wajah sembari memperkuat kuda-kuda agar tidak terpental oleh gelombang kejut yang tercipta dari pengaktifan 6 gerbang dari Hachimon.

'Mustahil!' Jiraiya berteriak dalam hati, tidak percaya apa yang dilihat olehnya. Pria tua ini tidak percaya Dai bisa mengeluarkan tehnik ini walau hanya seorang mayat hidup yang dibangkitkan dengan Edo Tensei.

'Bagaimana bisa?'

Ya, Jiraiya sudah mengetahui tehnik delapan gerbang [Hachimon] milik Dai.

Singkat cerita . . . . Setahun sebelum Jiraiya keluar desa untuk berkeliling dan menulis novel, dia dan beberapa shinobi Konohagakure termasuk Maito Dai pernah menjalankan satu misi yang tidak terlalu berbahaya, namun pada misi waktu itu lawan mereka adalah seekor monster berukuran besar yang berasal dari hasil penelitian gagal untuk menciptakan mahluk panggilan [Kuchiyose] super cerdas tidak jauh dari lokasi desa.

Pada waktu itu, Dai mengaktifkan gerbang ke enam [Keimon] seperti sekarang untuk membuat sang Kuchiyose babak belur sebelum disegel. Jiraiya dan tim-nya pun terkagum-kagum melihat kecepatan dan kekuatan fisik dari Dai yang meningkat pesat setelah mengaktifkan tehnik itu.

Tapi, sekarang bisa dibilang pengaktifan gerbang ke-enam diluar pemikiran Jiraiya. Apa lagi kalau bukan pengaktifan Hachimon Dai yang sebenarnya hanya sesosok mayat hidup.

"Hashirama!" dia pun berteriak memanggil mantan pemimpin Konohagakure. "Berhati-hatilah, sekarang Dai bisa dibilang setingkat dengan kemampuanmu atau lebih buruknya lebih kuat darimu sendiri apabila membuka dua gerbang selanjutnya!"

Hashirama membulatkan mata mendengar pernyataan Jiraiya. Dia benar-benar tidak percaya kalau kemampuan Dai meningkat pesat hanya dengan mengaktifkan gerbang ke-enam. Walau dilanda keterkejutan, dia tetap mengangguk untuk merespon peringatan dari Jiraiya yang menyuruh dia untuk berhati-hati.

.

.

.

"Khukukukuku . . . . sepertinya sudah dimulai!" ucap Orochimaru setelah mengeluarkan tawa khasnya merasakan tekanan chakra Maito Dai dari arah bawah.

Madara sedikit terkejut merasakan tekanan chakra yang hampir menyamai Hashirama yang muncul secara tiba-tiba dari arah bawah, namun keterkejutan itu masih bisa disembunyikan dengan wajah datar sedatar aspal beton. Jujur ini pertama kalinya bagi Madara merasakan tekanan chakra seperti ini selain dari sahabatnya sendiri, Hashirama. Awalnya pria ini mengira kalau ini berasal dari sahabatnya. Tapi, setelah menunduk dengan mata sakti yang aktif, Madara pun melihat tekanan ini berasal dari Maito Dai.

Bagi Madara, tekanan ini lebih kuat dari yang pernah dia rasakan dari Maou-Lucifer Sirzechs Gremory ataupun tekanan aura iblis dari Katerea Leviathan sewaktu penyerangan Konohagakure.

"Jadi ini maksud dari hal mengejutkan tadi?" tanya Madara dengan wajah datar, masih berusaha menyembunyikan keterkejutannya dengan tekana chakra Maito Dai.

Melihat Orochimaru menganggukan kepala menjawab pertanyaan itu, Madara pun melanjutkan. "Tidak mengejutkan!" ucapnya datar dan sedikit berbohong.

"Aku sudah tau tentang Hachimon. Jadi itu tidak terlalu mengejutkan walau tekanan chakra-nya setara dengan Hashirama-dobe." lagi, Madara berucap datar lalu menyeringai sejenak.

'Tapi yang membuatku terkejut, bagaimana dia bisa membuat Edo Tensei Dai mengeluarkan Hachimon.' itulah isi pikiran sang Uchiha terakhir ini perihal penggunaan Hachimon pada tubuh Edo Tensei Maito Dai.

Setelah memikirkan hal itu, isi kepala sang Uchiha kembali berputar mencari cara untuk memulai strategi yang dia susun sedemikian rupa sebelum ke atap untuk pertarungan satu lawan satu dengan Orochimaru.

"Ada apa Madara-chan? Kenapa kau malah diam?" ucap Orochimaru, membuyarkan lamuan orang di depannya. "Atau kau malah berpikir untuk kabur?" tambahnya dengan nada meremehkan sang Uchiha.

Madara tertawa sinis dengan wajah datar, lalu balik menatap meremehkan Orochimaru. "Kita lihat saja nanti, ular. Siapa yang tertawa terakhir disaat kau sudah tidak berada di alam ini lagi." tepat setelah itu, Madara langsung melesat bagai peluru ke Orochimaru, tidak ingin memberikan kesempatan bagi sang ular untuk melakukan tindakan sekaligus mencari celah untuk menanamkan sesuatu pada Orochimaru.

"Ayo maju, Madara-chan!"

.

.

.

Kembali ke pertarungan Hashirama dan Jiraiya melawan Maito Dai yang kini memasuki mode Hachimon gerbang ke-enam.

Area di sekitar Dai kini hancur berantakan, tiang-tiang besi bengkok di sana sini, permukaan lantai yang retak dan terkelupas menyisahkan besi baja. Dan yang paling parah ialah, tekanan udara yang menurun drastis akibat dari pengaktifan gerbang ke-enam Hachimon oleh Maito Dai.

"Aku tidak menyangka efek Hachimon sekuat ini walau hanya enam gerbang yang dibuka!" gumam Jiraiya, masih menyilangkan lengan di depan wajah. Kemudian, dia melirik Hashirama yang memasang pose sama dengan dirinya.

Namun, belum sempat dia memperingati Hashirama untuk kedua kalinya agar berhati-hati. Dai tiba-tiba menghilang dan muncul secara tiba-tiba di depan Jiraiya dengan pose siap melancarkan sebuah tendangan tinggi mengarah ke kepala.

'Cepat sekali!' ucap Jiraiya dalam hati, syok atas kemuculan Dai secara tiba-tiba di depannya.

Dan hanya dalam hitungan detik saja, Dai langsung mengirim tendangan tepat ke Jiraiya yang tengah menyilangkan lengan di depan wajah, membuat sang Ogama Sennin terlempar kebelakang dengan kecepatan tinggi. Menghantam lantai beberapa kali lalu terseret beberapa meter hingga menabrak dinding, ledakan kecil disertai debu pekat pun terjadi.

"Jiraiya!" Hashirama berteriak lantang melihat orang yang dipanggil terkena tendangan kuat dari Dai.

'Buruk, ini benar-benar buruk! Cepatlah Madara-teme!' batin Hashirama setelah itu, sekarang dia tengah dilanda kepanikan. Mulai dari memburuknya kondisi Jiraiya dan sekarang bertambah dengan Dai yang kini menggunakan Hachimon.

Hashirama kemudian mengalihkan pandangannya dari tempat ledakan ke Dai, seketika dia langsung melebarkan mata terkejut, pengguna Taijutsu itu tiba-tiba melesat bagai peluru setelah memijakkan kaki kanan pada permukaan lantai, meninggalkan retakan besar di sana.

Dengan cepat Hashirama segera mengobservasi area di sekitarnya, mencoba memprediksi dari mana Dai akan menyerang, mengedarkan pandangan ke segela arah namun hanya berselang 2 detik langsung mendongak.

'Ata_ . . . . _Sialan! dia benar-benar super cepat!'

Tidak mau kepalanya menjadi bulan-bulanan serangan Dai, Hashirama segera menyilangkan lengan tepat di depan wajah yang mendongak ke atas.

Dan tepat setelah Hashirama memasang tameng, Dai langsung melancarkan tendangan keras dengan kaki kanan, menciptakan kawah kecil berbentuk lingkaran sempurna di tempat Hashirama berdiri.

'Ku-Kuat sekali!' Hashirama meringis dalam hati merasakan betapa kuatnya tendangan dari Maito Dai.

Dai kemudian mendorong kuat-kuat kaki kanannya, ledakan kawah kedua berukuran lebih besar pun terjadi. Sepersekian detik setelah ledakan kawah kedua, keduanya pun terdorong menghancurkan lantai hingga melesat turun dengan kecepatan tinggi.

Kini posisi mereka berdua berganti setelah melesat ke bawah, kepala Hashirama kini didorong oleh kaki Dai. Terdorong ke bawah dengan kecepatan tinggi dan menghantam permukaan lantai enam hingga tembus.

Saat menghantam lantai enam, Hashirama memuntahkan banyak darah segar.

Serangan Dai belum sepenuhnya berakhir, setelah itu serentekan ledakan disertai kepulan debu pun terjadi sebanyak lima di sisa lantai bangunan konstruksi yang ditembus oleh keduanya. Ledakan yang tercipta akibat hantaman tubuh Hashirama yang didorong oleh Dai hingga mencapai lantai dasar.

.

.

Genma yang berada di luar bangunan meneguk kasar ludahnya melihat serentatan ledakan barusan. Baru kali ini dia melihat pertarungan sebrutal ini. Pertama diawali dengan tehnik Mokuton dan Katon, lalu sekarang enam ledakan beruntung.

"Benar-benar gila!" dan hanya tiga kata itu yang mampu diucapkan oleh Genma

.

.

Kembali ke dasar bangunan, kepulan debu hampir menyelimuti area tersebut, dinding hancur, kaca pecah terlihat di sana sini dan sebuah kawah dengan lumayan besar tepat berada di pertengah ruang masuk gedung tersebut.

Dari kepulan debu pekat pada pertengahan kawah, Dai melompat mundur dengan manuver salto kebelakang beberapa kali hingga menampakkan kaki pada permukaan lantai diluar dari kawah bekas serangannya.

"Hanya segitu kemampuan dari Hachimon gerbang ke-enam?" suara serak Hashirama terdengar dari balik kepulan debu yang perlahan menghilang ditiup hembusan angin.

Setelah kepulan debu menghilang secara keseluruhan yang memakan waktu sekitar satu menit, terlihatlah Hashirama yang kini berdiri membungkuk, lengan kiri dan pelipisnya terdapat darah segar yang mengalir deras, sedangakan lengan kanannya digunakan sebagai penopang tubuh bagian atas yang tengah membungkuk

Namun ada yang sedikit berbeda dari penampilan wajah Hashirama, di sekitar mata dan bagian tengah kening terdepat bercak kemerahan.

'Ah, bodohnya aku.' mantan Hokage ini bergumam dalam hati merutuki apa yang baru saja diucapkan barusan, tidak lain karena Edo Tensei Maito Dai di depannya pasti tidak akan merespon ucapan meremehkannya itu.

'Tapi,' pandangannya kemudian mengeras tatkala menatap mata putih secara keseluruhan Dai. 'Jika saja aku tidak memasuki Sage Mode beberapa detik sebelum benturan, pasti tubuhku sudah hancur.' batin pria mantan pemimpin Konohagakure itu.

.

.

Jiraiya yang sudah beranjak dari tempatnya menghantam tembok segera berlari menuju lubang besar bekas serangan Dai kepada Hashirama.

Menundukan kepala dan menatap jauh kebawah, "Hashirama, Daijobuka?" pria tua ini kemudian berteriak keras menanyakan keadaan Hashirama yang berdiri tepat di tengah-tengah kawah dengan pose membungkuk.

Orang yang diteriaki olehnya mendongak ke atas, "Sage Mode?!" gumamnya sedikit terkejut melihat wajah Hashirama yang sedikit berbeda dengan bercak merah pada bagian sekitar mata dan pertengahan kening, melihat salah satu Kouhai-nya sudah memasuki mode terkuatnya, ia pun menyungging senyum tipis.

.

.

"Jiraiya!" Hashirama balas berteriak, masih dalam keadaan mendongak.

"Dua Moku Bunshin milikku sudah dikalahkan, sebaiknya kau urus Sakumo-san." dia memberi jeda sejenak, kemudian menatap Dai yang masih diselubungi aura kehijauan, setidaknya dia harus berhati-hati sebelum mendongak ke atas kembali karena kemungkinan besar Dai akan memanfaatkan kesempatan kecil itu untuk menyerang.

Melihat sikap tubuh Dai serta merasakan aliran chakra gila dari pria itu tidak menunjukan tanda-tanda akan melakukan serangan dadakan, dia pun kembali mendongak ke atas, "Dai-san biar aku yang urus!" lalu berteriak sekeras-kerasnya.

Di lantai tujuh, Jiraiya hanya mendesah pelan menanggapi teriakan dari Hashirama, tersenyum sejenak setelah itu langsung beranjak dari pinggiran lubang untuk melakukan pertarungan melawan Sang Taring Putih - Hatake Sakumo.

Setelah Jiraiya menghilang dari pandangannya, "Mari kita lanjutkan Dai-san!" Hashirama berkata datar sembari memandangi sang pengguna Taijutsu di depannya.

Menghela nafas sejenak, pandangannya kini benar-benar fokus pada Maito Dai, 'Konsentrasi, konsentrasi, ingat semuanya . . . . Ledakan chakra, gerak tubuh, aliran udara, ancang-ancang.' lagi, Hashirama menghela nafas ringan.

'Dia datang!' Hashirama langsung mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan ketika Dai tiba-tiba menghilang dari hadapannya, samar-samar ia melihat sesuatu yang ganjal pada pergerakan Maito sebelum menghilang. Ganjal namun bisa menjadi hal yang menguntungkan bagi dirinya.

'Disini!' Hashirama memutar tubuhnya 180 derajat searah jarum jam sambil mengepal tangan kiri.

Kepalan tangan kiri Hashirama langsung bertabrakan dengan pukulan tangan kanan Dai yang tiba-tiba muncul di belakang sang pengguna Mokuton, menciptakan suara tubrukan yang cukup kuat.

Karena kedua belah pihak sama-sama meningkatkan serangan fisik, hembusan angin kencang pun tercipta dari tabrakan kepalan mereka berdua.

"Sekarang aku sudah memahami gerakanmu, Dai-san," Hashirama langsung menunduk tatkala kaki kiri Dai tiba-tiba diarahkan ke kepalanya dengan gerakan sangat cepat searah jarum jam.

Setelah kaki kiri Dai melewati bagian atas kepalanya, Hashirama mengepal tangan kanan, "Heeyaaah!" ia berteriak keras sambil mengirim kepalan itu menuju perut Dai, pukulan super kuat Sage Mode yang membuat area di sekitar seketika hancur akibat dari pukulan itu.

Ledakan besar kembali terjadi, menciptakan kawah baru di tempat Hashirama dan Dai berdiri. Setelah ledakan tersebut Dai pun terpental kebelakang, memantul beberapa kali pada lantai dan berakhir dengan membentur dinding beton hingga membuat kepulan debu mengepul di sana.

Namun, Hashirama masih belum puas.

Pria pengguna Mokuton itu langsung melesat dengan kecepatan tinggi menuju tempat Dai, mengeleminasi jarak dari kepulan debu dan melompat sambil melakukan pukulan tangan kanan dengan kekuatan bak monster yang menciptakan ledakan besar hingga membuat dinding beton disana hancur berkeping-keping.

Dan pertarungan dua shinobi yang hampir selevel pun terjadi dengan sengit di halaman bangunan konstruksi beberapa menit setelah ledakan Hashirama dan Maito Dai beregenerasi. Sebenarnya ini bukanlah pertarungan selevel karena Hashirama unggul dengan Sage Mode.

Namun, apabila Dai membuka dua gerbang yang tersisa, mungkin saja pertarungan ini akan menjadi selevel. Dan tujuan Hashirama dalam pertarungan ini hanya satu . . . .

Menahan sang pangguna Taijutsu selama mungkin sampai Madara menyelesaikan tugasnya.

.

.

.

.

.

Lantai 7, bagian barat.

Suara dentingan dua benda berbahan logam berbunyi nyaring pada area tersebut, dua shinobi -satunya hanya mayat hidup shinobi- saling beradu Kenjutsu dengan senjata berbeda ukuran dan bentuk.

"Doishita, Kagami-kun?" sebuah pertanyaan dilayangkan oleh salah satu dari dua shinobi yang tengah bertarung itu, seorang gadis muda berambut abu-abu yang melayangkan pertanyaan barusan bernama Hilda. Dan tanpa disadari oleh Hilda, dia menatap mata sakti yang menjadi senjata pamungkas seorang Uchiha.

Lawan dari Hilda yang bernama Kagami, sedikit kewalahan menahan ayunan demi ayunan tak menentu arah sabit berbilah tiga milik Hilda dengan Tantō berukuran kecil miliknya. Tapi, tidak ada satu pun serangan Hilda yang mengenai dirinya, itu semua berkat mata sakti klan yang disandang oleh Kagami, mata Sharingan. Dan sepertinya dia baru saja menggunakan salah satu kemampuan dari mata saktinya itu.

Dentingan keras disertai percikan api kembali terjadi tatkalan Tantō Kagami berbenturan dengan Sanjin no Ōgama Hilda, karena kuatnya ayunan Hilda, Tantō milik Kagami terlepas dari pegangan dan melayang tepat di hadapan pemiliknya.

Seringai dewa kematian pun disungging oleh Hilda, 'Sekarang!' teriaknya dalam hati kemudian memainkan sabit berbilah tiga dengan cara diputar beberapa kali lalu dihentikan saat mengarah ke atas.

Kagami bukannya tinggal diam, Sharingan milik pria itu seketika bergerak liar membaca pergerakan kedua lengan Hilda.

Setelah selesai dan sudah bisa memprediksi dari mana dan bagaimana Hilda akan menyerang, dia segera menangkap Tantō yang melayang di depannya dengan tangan kanan lalu membungkukkan tubuh mengambil ancang-ancang untuk melompat.

"Hyaaattt!"

Dan secara bersamaan, mereka berdua pun melancarkan serangan masing-masing.

Hilda mengayunkan Sanjin no Ōgama secara vertikal dan Kagami yang melompat ke depan sambil menebaskan Tantō dengan bilah mengarah ke luar.

Hanya dalam hitungan satu detik saja, kedua shinobi berbeda gender ini sudah berpindah posisi saling membelakangi satu sama lain, hembusan angin tipis terlihat mengelilingi keduanya, efek dari serangan berkecepatan tinggi tadi.

Bunyi logam yang menghantam tanah dan suara gemerisik seperti sebuah kertas yang dirobek terdengar. Berasal dari bagian lengan kanan Kagami yang memegang Tantō, putus terkena sabetan bilah sabit milik Hilda.

"Kau memang cepat Kagami-kun." bagian perut sebelah Hilda yang tidak tertutupi apapun tiba-tiba sobek dan memuncratkan banyak darah segar yang langsung memenuhi lantai di dekat kedua kakinya berpijak, walau terkena tebasan dari senjata Kagami, ia sama sekali tidak meringis kesakitan, "Tapi luka yang kau berikan tidak akan mengubah keadaan." gadis ini malah menyeringai sadis, seperti berterima kasih kepada Kagami karena telah memberikan luka sobekan pada bagian perutnya.

"Sekarang," dia memutar tubuhnya 180 derajat menghadap ke Kagami yang belum sepenuhnya beregenarasi, "Akan kubuat kau mengingat betapa mengerikannya aku, Kagami-kun!" setelah berkata-kata dengan nada begitu gelap, dia langsung menempelkan telapak tangan kiri pada permukaan luka di perutnya.

[Ryūketsu-Ninpō]

Setelah bergumam menyebutkan nama tehnik pembuka miliknya, Hilda langsung mengayunkan tangan kirinya yang dipenuhi darah segar dari luka di perutnya, membuat tubuh Kagami langsung dipenuhi darah yang perlahan mengeras layaknya sebuah logam berwarna merah pekat.

[Kūzanshi]

Setelah itu, darah di tubuh Kagami mengeras sepenuhnya, membentuk sebuah benang tipis yang tercipta dari darah milik Hilda yang mengeras, tersambung dengan lima jari tangan kiri gadis berambut abu-abu itu. Dan dengan satu kali tarikan kuat, tubuh Kagami pun terjerat sebuah jaring merah pekat yang langsung menghentikan pergerakannya.

"Owari da Kagami-kun!"

Tepat setelah mengatakan pernyataan kemenangannya, tubuh Kagami pun hancur berkeping-keping karena jeratan benang darah Hilda semakin erat karena ditarik lagi untuk kedua kalinya.

'Cih, aku tidak menyangka akan menggunakan Ryūketsu kepada rekan-ku sendiri.' batin Hilda agak kesal dan sedikit menyesal karena telah menggunakan tehnik andalannya ke Kagami yang notabene mantan rekan se-timnya dalam beberapa misi untuk memusnahkan ancaman bagi Konoha.

[Ryūketsu-Ninpō] atau [Blood Method Ninja Arts] adalah satu dari dua tehnik milik Hilda. Memanfaatkan kemampuan dari hasil penelitian berlebihan terhadap aliran Jashin-sama yang membuatnya bisa 'dianggap abadi' atau 'sangat sulit untuk mati' walau organ vital sudah tertusuk hingga tembus.

Singkat cerita . . . . Tehnik mengendalikan darah ini diciptakan Hilda untuk mendukung kemampuan 'sangat sulit mati' miliknya. Setelah terkena serangan lawan, darah yang keluar dari tubuhnya mampu dipadatkan sekeras logam sebagai senjata untuk menyerang. Awalnya, Hilda merasa bingung setelah menciptakan tehnik ini, bagaimana bisa dia membuat darahnya sendiri mengeras.

Setelah mencari-cari data tentang tehnik metode pengendalian darah di perpustakaan Konogakure, akhirnya dia menemukan bahwa kemampuan ini dulunya milik seorang Kunoichi yang ternyata adalah ibunya sendiri. Dan dari situlah Hilda menyimpulkan bahwa tehnik bukanlah ciptaannya, melainkan warisan dari sang ibu.

Namun perbedaan antara dia dan ibunya ketika memakai tehnik ini adalah jumlah darah yang bisa dipakai untuk menyerang. Ibu Hilda hanya bisa mengeluarkan tehnik ini sesekali saja apabila sudah terdesak karena takut kehabisan darah sehingga membuatnya tewas. Berbeda dengan Hilda yang didukung oleh kemampuan 'sangat sulit mati' dari aliran Jashin-sama yang diikuti olehnya walau sudah hampir kehabisan darah.

Maka sempurnalah tehnik [Ryūketsu-Ninpō] ini dan dengan itu membuatnya dikenal sebagai Kunoichi terkuat di Era kepemimpinan Hashirama.

.

.

.

.

.

Beberapa menit sebelumnya. Di tempat Jiraiya

'Kau itu Hashirama, selalu memilih jalan yang sulit demi rekan-rekanmu. Karena itulah kenapa Sarutobi-sensei dan para tetua sudah menetapkan jika nanti kau'lah yang menggantikan Sarutobi-sensei sebagai Hokage.' ucap pria itu dalam hati setelah meninggalkan lubang bekas serangan Maito Dai.

Saat dia sudah berjarak beberapa meter dari lawan yang dipercayakan untuknya, Hatake Sakumo. Jiraiya menatap dua patung kayu milik Hashirama, 'Tebasannya benar-benar halus sampai-sampah Moku Bunshin Hashi-dobe tidak hancur.' lagi, Jiraiya berucap dalam hati mengomentari hasil dari pertarungan Sakumo dan dua klon Hashirama.

Aura keputihan yang terasa tidak mengenakkan mulai menguar dari tubuh Sakumo ketika mengarah ujung Hakkō Chakura Tō ke Jiraiya.

Jiraiya meneguk kasar ludahnya. Sekarang Sakumo benar-benar sudah serius dan itu berarti peringatan keras baginya, apalagi aliran chakra-nya yang belum stabil.

Dia bersumpah demi Oppai Yuki yang masih bisa tumbuh, kenapa disaat genting seperti ini aliran chakranya malah tidak stabil akibat dari pukulan berkulit racun iblis hasil penelitian Orochimaru. Dan tentu saja dia belum mengetahui hal ini.

"Cih!" decihan pelan pun dikeluarkan olehnya.

Hening . . .

Setelah decihan Jiraiya, suasana di antara kedua shinobi hebat ini menjadi begitu mengcekam, mereka berdua saling menatap lawan dengan ekspresi berbeda. Jiraiya dengan tatapan seriusnya sedangkan Sakumo dengan tatapan kosongnya.

Hampir selama satu menit tidak ada yang melakukan tindakan, hingga suara seperti kicauan burung mulai terdengar dari tubuh Sakumo, aliran-aliran petir putih mulai bermunculan di sekitar tubuh sang Shiroi Kiba setelah aura keputihan miliknya menghilang.

Ekspresi serius Jiraiya berubah menjadi penasaran melihat elemen alam yang tergolong langka di Konoha, "Petir putih?!" pria ini bergumam pelan dan kini sudah mulai paham kenapa Hatake Sakumo dijuluki Shiroi Kiba. Mungkin saja julukan itu diberikan karena ketajaman pria itu dalam Kenjutsu yang dikombinasikan dengan petir putih.

Petir di sekitar tubuh Sakumo tiba-tiba menghilang, namun hanya berselang 2 detik kembali muncul, namun besarnya berkembang pesat sampai-sampai menghancurkan lantai tempatnya berpijak. Dan tepat setelah kemunculan petir dalam jumlah besar itu, Sakumo langsung melompat ke Jiraiya sembari mempersiapkan Hakkō Chakura Tō untuk dihunuskan secara vertikal.

"Cepat!" Jiraiya melompat kebelakang menghindari hunusan Sakumo.

Kepulan debu disertai petir putih pun tercipta ketika Hakkō Chakura Tō menghantam permukaan lantai, setetes keringat dingin mengucur di pelipis Jiraiya melihat serangan cepat barusan, 'Daya hancur Raiton orang ini, sudah setara dengan Sarutobi-sensei!' ringis Jiraiya dalam hati.

Setelah memijakkan kaki pada permukaan lantai, Jiraiya langsung bergeser beberapa sentimeter ke kiri tatkala Sakumo tiba-tiba melesat dengan kecepatan tinggi bagai kilat dari kepulan debu menuju ke arahnya.

Saat Sakumo sudah melewatinya, Jiraiya melompat ke atas dan melempar lima kunai yang entah kapan dikeluarkan menuju ke lawannya.

Sakumo segera berbarik dan mengayunkan Hakkō Chakura Tō miliknya secara vertikal memblok lima kunai yang dilempar Jiraiya, setelah itu dia kembali mengejar Jiraiya, menyerang dengan kombinasi ayunan Hakkō Chakura Tō disertai aliran petir putih yang terus menggila di sekitar tubuhnya.

Jiraiya langsung berjongkok menghindari ayunan Hakkō Chakura Tō mengarah ke leher, lalu dalam keadaan berjongkok, dia memanfaatkan keadaan Sakumo yang habis melakukan serangan, Jiraiya langsung melakukan tendangan rendah dengan kaki kanan yang mengenai kedua kaki Sakumo.

Tubuh Sakumo langsung terbanting dengan kepala mencium lantai dingin terlebih dulu.

Hanya berselang 1 detik saja, Sakumo berguling ke belakang ketika melihat Jiraiya melompat dan siap melancarkan serangan dengan cara bersalto ke depan disertai kaki kiri yang diluruskan. Alhasil, tumit kiri Jiraiya pun menghantam lantai hingga retak.

"Cih, kuso!"umpatan kesal pun dikeluarkan Jiraiya, 'Kecepatan dan analisis dia ketika tengah dalam pertarungan setara dengan Madara-teme, tidak salah jika dia disebut jenius dalam pertempuran.' sambungnya dalah hati melihat Sakumo yang habis berguling langsung melompat ke atas dengan senjata yang siap dihunuskan ke arahnya dengan kecepatan tinggi.

Dalam keadaan berjongkok habis menghantamkan kaki pada lantai, Jiraiya sama sekali tidak bisa melompat untuk menghindar karena kedua kakinya sudah mati langkah dan itulah yang membuat Sakumo menyerang dirinya, jadi pilihan satu-satunya adalah menunggu waktu yang tepat untuk melakukan blok terhadap hunusan Hakkō Chakura Tō Sakumo.

Ketika ujung pedang pendek itu sudah berjarak kira-kira lima puluh sentimeter dari wajahnya, Jiraiya langsung mengarahkan kedua tangan ke atas tanpa mengenai bilah senjata itu.

Bunyi lengan yang tertahan diikuti suara ujung pedang yang hampir mengenai sesuatu terdengar begitu pelan, mata sebelah kanan Jiraiya tertutup sedangakan kiri menatap intens ujung Hakkō Chakura Tō yang hanya berjarak 1 sentimeter dari mata kirinya.

Ya, di detik-detik terakhir kedua tangannya berhasil menahan lengan kanan Sakumo yang memegang Hakkō Chakura Tō, membuat senjata tajam yang hampir merenggut penglihatan atau mungkin lebih buruk nyawanya berhenti tepat di depan iris hitam miliknya.

'Heeh, hampir saja!' ucapnya dalam hati sembari membuka mata kanan dan melirik ujung mengkilat dari senjata Sakumo.

Tapi, serangan Sakumo belum sepenuhnya berakhir, aliran petir putih kembali menguar di sekitar tubuh pria berambut perak itu lalu secara mengalir menuju tangan kanan yang memegang Hakkō Chakura Tō.

[Raiton: Kangekiha]

"Siala_ . . . . _Arrgggghhhhhh!" umpatan Jiraiya pun tergantikan oleh teriakan rasa sakit, aliran petir di lengan kanan Sakumo merambat melalui Hakkō Chakura Tō dan kedua lengannya.

Hanya dalam hitungan detik, seluruh tubuh Jiraiya pun merasakan yang namanya tersengat petir berpuluh-puluh ribu kilowatt, bagian dalam tubuhnya seperti pembuluh darah, otot dan lain-lain menjadi nyeri teramat sangat sampai-sampai ia tidak bisa lagi melanjutkan teriakan kesakitannya.

Saat kedua tangan Jiraiya terlepas dari lengan kanan Sakumo karena efek sengatan petir, Sakumo memutar tubuhnya 360 derajat dengan cepat lalu diakhiri dengan tendangan lurus yang mengenai dada Jiraiya, membuat sang Ogama Sennin terlempar jauh dan terseret kemudian berguling-guling sejauh 5 meter setelah menghantam lantai.

Setelah berhenti berguling-guling, Jiraiya perlahan bangkit dengan kondisi babak belur. Luka lebam dan kulit terbakar terlihat di sekujur tubuhnya, setelah berdiri agak membungkuk, "Aliran chakra-ku," pria tua ini sedikit terkejut, sesuatu yang sedari tadi membuat dirinya bertarung begitu lambang kini menghilang, aliran chakra di dalam tubuhnya kini kembali seperti sedia kala.

'Apa mungkin sengatan dari petir tadi membuat aliran chakra-ku kembali seperti semula?' pikirnya namun sama sekali tidak mengalihkan pandangan dari Sakumo, 'Atau jangan-jangan,' dan akhirnya Jiraiya menyadari sesuatu, karena pemikiran pertama dia memberikan petunjuk kenapa chakra-nya menjadi tidak stabil, ada racun atau semacamnya dimasukkan ke dalam tubuh dan itu telah memudar karena sengatan dari petir putih Sakumo.

Tapi,

Jiraiya sama sekali tidak diberikan kesempat untuk merayakan kembali stabil-nya aliran chakra di dalam tubuhnya, Sakumo tiba-tiba berlari dengan kecepatan tinggi lalu memberi dorongan dengan kaki kiri untuk melompat maju agar sampai di tempat Jiraiya dalam waktu singkat.

Si Ogama Sennin menyungging seringai tipis, "Terima kasih," sambil bergumam masih dalam keadaan membungkuk, Jiraiya memundurkan kaki kanan beberapa sentimeter.

Dan tepat setelah Sakumo tiba di depannya dalam posisi melayang siap menghunuskan Hakkō Chakura Tō, sebuah High Kick dengan kaki kanan dilancarkan Jiraiya yang mengenai telak bagian kiri kepala Sakumo hingga terpental jauh.

"Telah mengembalikan aliran chakra sang Ogama Sennin seperti semula!" katanya menyambung kalimat yang tadi terpotong, tidak lupa melakukan pose yang menjadi cirri khasnya sebagai seorang Ogama Sennin.

"Dan sekarang, giliranku untuk menyerang, kalau perlu kubuat kau tidak bisa bertarung lagi!" Jiraiya langsung berlari dengan kecepatan tinggi karena sekarang aliran chakra di dalam tubuhnya sudah kembali normal.

Saat jarak dia dan tempat Sakumo sekitar 10 meter, 'Aneh?!' Jiraiya merasa heran ketika menoleh ke barat dan melihat pertarungan Hilda dan Kagami dari sebuah lubang besar di dinding.

Jiraiya mengembalikan pandangannya ke depan, saat sudah mengeleminasi jarak sekitar 5 meter, segel tangan mulai dirangkai Jiraiya. Setelah selesai, ia menghentikan langkahnya dan perlahan rambut putihnya mulai menyelimuti sebagian besar tubuhnya, itu adalah salah satu Ninjutsu original miliknya, [Hari Jizo]

[Hari Jigoku]

Ribuan jarum baja langsung ditembakkan dari rambut putih yang melindungi tubuhnya [Hari Jizo], ribuan jarum baja itu melesat dengan kecepatan tinggi menuju kepulan debu bekas hantaman Sakumo.

Edo Tensei pria bermarga Hatake tiba-tiba melompat keluar dari kepulan debu dengan petir-petir putih yang menyelubungi tubuh, menghindari serangan Jiraiya.

"Moratta!" Jiraiya tiba-tiba muncul tepat di samping kiri Sakumo yang melompat, ditariknya tangan kanan yang terkepal kebelakang dan langsung dilayangkan ke wajah retak-retak Sakumo.

Suara kepalan yang menghantam wajah seketika terdengar begitu keras, berasal dari pukulan kuat Jiraiya yang menghantam wajah Sakumo hingga meluncur ke bawah dan menciptakan suara dentuman keras ketika menghantam lantai.

Jiraiya tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung melompat turun ke kepulan debu, di dalam sana dia langsung memberikan kejutan kepada Edo Tensei Sakumo begitu pula dengan orang yang membangkitkan pria bermarga Hatake itu.

.

.

.

Orochimaru melompat mundur beberapa meter, mengeleminasi jarak antara dirinya dan Madara yang tengah sibuk meladeni ular putih besarnya.

'Kemana perginya Sakumo? Aku tidak merasakan chakra_ . . . . _ Tidak! Tidak! keberadaannya saja tidak dapat kurasakan!' mata pria penggila penelitian ini menyipit penasaran ketika mendarat, salah satu bidak Edo Tensei miliknya tiba-tiba menghilang dari area pertarungan tanpa meninggalkan jejak apapun.

Kalau memang Sakumo sudah dikalahkan atau disegel karena Orochimaru sudah tau bagaimana mengalahkan tehnik ini, pasti mantra Edo Tensei yang terpasang di pria akan langsung direspon olehnya. Namun, itu sama sekali tidak terjadi.

Jadi sebenarnya apa yang terjadi dengan Edo Tensei Shiroi Kiba?

'Ma-Masaka . . . .'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sementara di luar bangunan konstruksi, atau lebih tepatnya pada gerbang masuk area itu. Pelindung pada bagian itu tiba-tiba retak, membuat Genma terkejut dan langsung memasang kuda-kuda bertarung. Namun setelah pecah dan memperlihat tiga sosok yang ditunggu-tunggu oleh Genma.

"Akhirnya, kalian datang juga. Kotetsu, Naruto-san dan errr, . ."

"Nanti saja basa-basinya!" pemuda berambut perak gelap bernama Naruto, pelaku dari pecahnya pelindung tadi memotong ucapan Genma, "Katakan saja, dimana yang lain!" perintahnya datar kepada Genma dengan sorot wajah begitu serius.

"Di lantai 7 bagian utara!" jawab Genma, Naruto pun menganggukkan kepala tanda mengerti.

Tapi, belum sempat Naruto pergi ke tempat yang di sebutkan oleh Genma, "Tunggu, Naruto-san!"

Naruto berbalik dan menurunkan Yuki dari punggunya, "Ada apa?"

Genma memasang sorot wajah serius, "Sebaiknya Ojou-chan itu," jari telunjuknya mengarah ke Yuki kemudian melanjutkan ucapannya, "Disini saja!"

"Lihatlah." ucap Genma lalu mengalihkan arah yang ditunjuk menuju ke bangunan besar di depan mereka berempat. "Sangat berbahaya jika Ojou-chan ikut serta dalam pertarungan. Jiraiya-sama dan yang lainnya bertarung sangat brutal sampai-sampai tidak memperdulikan area di sekitar mereka." jelasnya memberikan saran kepada Naruto agar tidak mengikut sertakan Yuki masuk ke dalam bangunan.

Naruto diam sejenak mencerna kata-kata dari Genma, setelah itu melirik kebelakang melihat keadaan bangunan yang sudah tidak layak dikatakan sebagai bangunan.

"Ni-Nii-chan, a-aku takut!"

Naruto langsung menoleh ke samping kiri ketika mendengar pengakuan dari Yuki, lalu merasakan tangan mungil yang bergetar menggenggam erat tangan kirinya, membuat dia harus menghela nafas berat, "Aku tau itu. kalau begitu," Naruto kemudian mengalihkan pandangannya ke dua mata-mata guru mesum-nya, "Aku titip Yuki kepada kalian berdua, dan jika ada sesuatu yang terjadi, berteriaklah sekeras-kerasnya agar aku bisa mendengarnya!"

Genma dan Kotetsu mengangguk secara bersamaan, "Tenang saja Naruto-san, walau kami tidak sehebat Jiraiya-sama dan yang lain, kami tetap akan berusaha melindungi Yuki-chan, . . . . Benar 'kan Genma?" pria yang mempunyai hobi menggigit sehelai rumput bernama Genma menganggukan kepala setuju dengan penuturan dari Kotetsu.

"Ya, itu benar Naruto-san!" kata Genma.

Naruto mengangguk dan tidak lupa tersenyum tipis melihat kesetiaan Genma dan Kotetsu kepada Jiraiya, entah apa yang diberikan Jiraiya kepada mereka berdua sampai-sampai setia kepada sang Ogama Sennin sebagai mata-mata.

"Pergilah ke mereka!" Naruto berjongkok dan menyamakan tinggi badannya dengan sang adik, lalu memberi kode berupa menggerakkan kepalanya ke Genma dan Kotetsu sebagai perintah.

Yuki tidak menanggapi perintah dari Naruto dan malah memasang wajah khawatir. Dia sudah sepenuhnya mengetahui tentang dunia supranatural dimana bukan cuma manusia yang hidup di dunia ini, melainkan ada mahluk-mahluk lain dan itulah yang membuatnya khawatir akan keselamatan sanga kakak tersayang.

Melihat wajah sang adik, Naruto kembali menyungging senyum tipis, "Tenang saja. Aku pasti baik-baik saja kok!" ucapnya agar Yuki tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya, setelah itu dia kemudian mengacak-ngacak rambut putih halus nan tebal milik sang adik, "Pergilah!" perintahnya sekali lagi, dan kali ini Yuki akhirnya merespon dengan anggukan lalu segera berjalan menuju Genma dan Kotetsu.

'Haaa, sepertinya aku terlalu cepat melibatkan Yuki dalam masalah ini,' Naruto melirik sang adik sejenak dan merutuki keputusan yang telah diambil olehnya, 'Ah, tidak apa. Lagian, kalau bisa cepat kenapa lambat?' namun, rutukan tadi langsung ia tepis dengan prinsip aneh namun masuk akal karena cepat atau lambat Yuki pasti akan terlibat masalah mereka.

"Berhati-hatilah, Nii-chan!" ucap Yuki agak terbata-bata ketika sang kakak mulai berdiri dan menatap bangunan konstruksi besar di depan mereka.

Lagi, Naruto menganggukan kepalanya tanpa menoleh kebelakang, tidak lain untuk merespon peringatan dari sang adik.

Sorot wajah Naruto kini berubah serius, kedua matanya menyipit tajam dan bibirnya dimiringkan beberapa derajat. Di sekitar tangan kanan Naruto tiba-tiba menguar api orange kemudian dihantamkan pada telapak tangan kirinya.

"Waktunya ikut berdansa!"

Dan tepat setelah Naruto mengatakan hal itu, sebuah ledakan besar terjadi di sisi lain tempat mereka pada area konstruksi luas tersebut.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.


TBC!

[TrouBlesome Cut]


Yooo~~ '-')/

Ketemu lagi ama ane, Si Author Lolicon yang masih Newbie dan gak jelas asal-usulnya di Chapter terbaru Fic Half-Devil.

Dan Ane minta maaf krn di Chapter ini Scen Battle-nya kurang maksimal dan loncat-loncat kek kodok, jadi bikin pusing bacanya . . . . Jujur saja, membuat beberapa Scen battle yang waktunya hampir bersamaan cukup sulit buat ane. Maklum Author Lolicon yang cara tulisnya masih sangat Newbie (-_-)"

.

.

Oke, berikut beberapa penjelasan tentang Chapter ini.

Pertama . . . . Edo Tensei ikut saya munculkan dalam Fic ini. Dan sama seperti di Canon. Penciptanya adalah Tobirama. Namun yang menyempurnakan adalah Orochimaru. Sempurna dalam artian, Mayat Hidup yang menjadi bidak di-Summon dengan kekuatan hampir menyamai ketika hidup, kira-kira 75% kecuali Maito Dai yang sudah mencapai 90% krn hampir disempurnakan oleh Orochimaru, itu bisa terlihat jelas karena Maito Dai dapat menggunakan Hachimon sampai ke gerbang ke-6 [Keimon].

Dan bukti bahwa kekuatan bidak yang dibangkitkan sebanyak 75% adalah bagaimana tiga Edo Tensei itu mampu mengimbangi kekuatan dari Hashirama, Jiraiya dan Hilda. Terutama Maito Dai yang membuat Hashirama sampai menggunakan Sage Mode untuk melawannya.

Dan bisa dibilang kemampuan mengendalikan Edo Tensei Orochimaru sama dengan Kabuto di PDS-4. Tapi, berbeda dalam jumlah bidak yang dikendalikan. Saat ini maksimal yang bisa dikendikan oleh Orochimaru adalah 3-5 Edo Tensei krn jumlah Chakra yang tidak sebanyak Hashirama.

Hampir ane lupa yang satu ini . . . . Edo Tensei diciptakan Tobirama kira-kira 4 tahun setelah pengankatan Hashirama menjadi pemimpin Konoha [Hokage].

Selanjutnya tentang [Ryūketsu-Ninpō] milik Hilda. Gambaran singkat tentang tehnik ini sudah ane jelasin di atas atau mungkin sudah sangat jelas malahan, hehehehe. Dan sama seperti Edo Tensei. Pencipta tehnik ini adalah ibu Hilda namun yang menyempurnakan adalah Hilda sendiri.

Oke itu aja untuk penjelasan Chapter ini. Semoga ente-ente pada paham :v :v

.

.

Balasan Review :

Tenshisha Hikari = Ya, punya. Tapi masih lama ane munculin.

Crucufix = Polos Ndasmu coeg '-')/ . . . . Hmnn, kemungkinan besar gak ada. Terutama si Kisame, Ntar klo dimunculin jadi kek Hiu Betina :v :v . . . .Wokey '-')/

Owlia = Beberapa Typo-nya udah kuperbaiki . . . . Chapter ini malah lebih puanjang . . . . Lah, itu emang fakta. Emang di Fic ini ada yng bisa ngalahin ketampanan Mbah Madara sebagai shinobi? :v :v . . . . Hatake Sakumo, Maito Dai dan Uchiha Kagami. Tapi masih bakalan nambah kok . . . . Udah di-UP bersamaan ama Fic ini dan Trio Uzumaki.

raitogecko = Ya, ane buat melenceng. Hmmn, mungkin saja bisa terjadi, Hehehehe.

Ushio Pendragon = Klo nge-bosaninnya di bagian Konflik, ane bisa maklumi karena di Fic ini bukan cuma konflik dari DxD saja, dari masalah Konohagakure juga banyak ngambil bagian.

REVANOFSITHLORD = Sadis amat lu tong :v

Yami no Be = Bosan? Mungkin klo yang lain bakalan bilang "Gak usah baca" tpi kalo ane kagak . . . . Di Chapter ini dan depannya lagi Chara DxD belum ambil bagian. Tapi, di Chapter 17 [Arc III] Chara DxD bakalan ngambil banyak bagian. Satu lagi, di Fic ini bukan cuma konflik DxD saja yng ambil bagian, Konflik Konohagakure juga ambil lumayan banyak ngambil bagian.

herovillagermc = Coeg, Larangan macam itu? Hapus-hapus! . . . . Wokey '-')/

The KidSNo OppAi =Nggak! Mungkin belum, tapi gak menutup kemungkinan bakalan dibangkitin klo Orochi udah punya DNA mereka.

takaryuu san 197 = Di Arc III . . . . Hahahahaha, Tunggu aja!

TanakaKanako3 [My Imouto] = Terkejut dan takut. Tapi berkat NaruMadaHashi, takutnya bakalan hilang . . . . Ya, iyalah nyesek'lah Dedek Rin. Tapi secara perlahan-lahan.

blaclist22 = Noh udah ane Updater bersamaan ama nih Fic.

Ashuraindra64 = Mungkin pas udah KTT, saat MS Madara udah kadaluarsa.

Riki Ryugasaki = Yaps, Mini-Harem == Nih uda ada sedikit Clue tentang Pair Naruto.

Ae Hatake = Tidak bisa! Senjutsu Naruto hanya digunakan untuk bertarung, melacak dan berteleportasi.

StiffMarco = Kagak bisa! buat ane, #NoLoliNoLife . . . . Sedikit telat datangnya Naruto . . . . Yoii~Yoiii, #LoliIsDaBest (")

Ascheriit Koinzell = Laper? Pergi makan vroh :v / . . . . Lebih tepatnya bakalan jadi teman Naruto ama Hashirama, Tpi tidak buat Madara . . . . Cuma sedikit doang, itupun klo lagi emang niat buat jadi mesum.

Adib Syahdan905 = Nih udah Full Fight! . . . . Liat aja di Chapter depan. Apa Orochi bakalan dihabisin apa malah kabur kalang kabut . . . . Nggak, rencana untuk Power Naruto sudah ada dn gak ada Doujutsu.

Cah Uzumaki = Liat aja di Chapter depan.

Guest = Disini ane bikin Madara gak suka make Genjutsu. Dia ane bikin lebih suka nyiksa fisik ketimbang mental lawan.

Guest = Klo ane bikin kek gitu alurnya bakalan hancur. Bisa dibilang Orochi punya peran penting di Fic ini walau cuma jadi Side-Antagonis dn entar mati di tangan MadaHashi. Jadi kalau Orochi mati di tangan Madara seperti yang anda bilang. Bakalan gak ada yng ngungkap sedikit misteri tentang Konohagakure yng tidak diketahui oleh MadarHashiJiraiya.

Guest007 = Liat aja nanti siapa Pair Naruto.

Pendy uye uye = Hinata? 50:50 lah jawabannya . . . . Hmmmn, tunggu saja pas Orochi udah mau mati [Sekarat], dia bakalan ngungkap beberapa sejarah Konohagakure . . . . Noh diatas ada Hatake Sakumo, Maito Dai dan Uchiha Kagami.

Guest = Sory, ane gak bisa Update kilat.

Senju-nara shira = Gak nentu jawab Update-nya. Tpi paling cepat seminggu . . . . Liat aja nanti, yang jelas Mini-Harem . . . . Sebelum ato sesudah KTT . . . . Hmmmn, Amin!

Name UchihaLepu = Krn di Canon Naruto gak ada yng bisa ngambil peran Orochimaru di Fic ini. Jadi, daripada bikin OC, ane bikin aja Orochi ama Jiraiya jadi senpai MadaHashi . . . . Tsunade gak ada. Jadi yang namanya Densetsu no Sannin juga kagak ada. Lagian klo ada entar malah aneh, sejarah Tsunade kan cucu Hashirama . . . . Kemungkinan besar Sasuke gak ane munculin.

Aka na Yuki [My Imouto] = Itu kesalahan ane Dedek Yuki -_-)" . . . . Nih, udah pake tanda koma dan [. . . .] udah kupakai buat kalimat terpisah . . . . Semacam Zombie lah . . . . Ya, Edo Tensei beraksi . . . . Yng jelas puanjang Dedek Yuki, '-')/ Stik aja sampe teler liat Alur yng ane bikin sama dia :v :v

Yang Review 'Lanjut' 'Next' dan sebangsa-nya, Nih udah ane Lanjut walau kelamaan.

.

.

Issue for Next Chapter : Final Chapter Arc II - Comeback: Edo Tensei di patahkan!

Root Loliwood and Stark Milfbaster 012 Out! . . . . Ane mau Tidur Cantik sama Dedek Wendy ama Dedek Scheherazade dulu! '-')/