Kita kembali Update lagi dengan judul fic dan fandom yang berbeda dan seperti biasa aku selalu membuat 5 chapter dan masing-masing satu di setiap fic jadi, semua ficku sudah update yah, minus satu sih karena masalah jalan buntu otaku atau Writter block hah! Yah, Hiatus saja lah yang itu mah lagipula itu cuman referensi untuk patokan agar ficku jadi semakin lebih baik lagi dari yang dulu (menurut pendapatku saja sih) dan aku baca beberapa review di fic saya yaitu ada yang suruh untuk cepat Update sebenarnya agak sulit mengingat bukan satu fic saja yang aku update melainkan lima yah, ditambah Duta kerjaku menambah kesibukan jadi gak bisa terlalu cepat yah, yang penting gak Hiatus okay?. Yosshh gtu ajah.
P.s : hmmmmm yah sebentar lagi puasa berakhir dan akhirnya aku bisa Download Anime yang aku suka karena ada konten mesum makanya aku stop terlebih aku ini penikmat Batch meski terkadang kesal ama spoiler yang bertebaran kayal biji wijen tapi, I Don't Care ajah dah toh, nonton dan dinikmati sendiri lebih bagus daripada harus kasih Spoiler oleh orang -_-.
.
...
.
- Penginapan
Hari yang biasa dan tak ada yang istimewa di sebuah penginapan yang berisi anak-anak muda dengan mental dan kekuatan yang diciptakan untuk membunuh meski begitu banyak orang-orang yang tak begitu percaya karena wajah mereka begitu polos dan lugu sama sekali meski itu hanya sebuah topeng penyamaran untuk menutupi sifat aslinya.
Dan sekarang kelompok elite 9 bersama dengan kelompok tentara pembunuh kerajaan menikmati sarapan mereka masing-masing yah, sekarang mereka saat ini bebas dari cuti selama beberapa hari karena sang pemimpin mereka Gozuki tengah pergi ke Ibukota kerajaan dan tak ada yang bisa dilakukan selain aktifitas bosan ini meski begitu mereka tak ada pilihan lain.
Dan setelah sarapan mereka tak ada misi apapun lagi selain menunggu Gozuki pulang dab memberikan misi mereka semua hanya duduk di ruangan milik para Gadis dengan wajah bosan bahkan ada yang kembali tidur lagi setelah sarapan yaitu Green dan Natala yang mungkin masih lelah atau memang ogah sama sekali bergerak dan Guy yang sudah ke rumah Bordir lagi.
"Ughhh! Aku benar-benar kesal kita tak melakukan apapun, adakah sesuatu yang bisa kita lakukan sekarang?" Poney berkeluh kesah dengan keadaan menyebalkan seperti ini dan dia juga tak bisa mengabaikan perintah meski sebenarnya tubuhnya ingin bergerak melakukan sesuatu.
"Lebih baik kau berlari saja berkeliling kota ini selama sepuluh kali mungkin saja itu bisa melatih Otot kakimu agar mudah berlari cepat" Jawab Najasho yang cukup pedas sekali dan tengah membaca sebuah buku "dan yang saat ini aku lihat kau yang paling lambat berlari jika tertangkap musuh bisa merepotkan yang lain saja"
"Kenapa kau tak sendiri saja yang melakukan itu?!" Poney menjulurkan lidahnya dengan kesal atas ucapan tadi yang terkesan menyinggung sekali.
"Aku sudah melakukan itu kemarin jadi, kau juga harus ikut" Balas Najasho mengabaikan sebuah ejekan yang ditunjukan ke arahnya "dasar tukang merepotkan orang lain saja"
"Hah, ogah lebih baik aku tidur daripada harus menuruti semua ucapanmu!" Teriak Poney kesal karena terbawa suasana ejekan tadi tapi, dia memilih mengalah karena tak ada untungnya berdebat dengan orang keras kepala semacam Najasho.
"Ya, ampun kalian ini berhenti seperti itu" Cornelia hanya tertawa dengan tingkah laku dua orang yang seperti Anjing dan Kucing ini dengan sifat mereka berdua yang tak pernah akur sama sekali "kalian bertengkar seperti sepasang suami dan Istri"
"Yang benar saja Cora, jangan berbicara hal absurd seperti itu" Ucap Najasho mendengus dan menghentikan membaca "mana mungkin aku mau dengan orang yang cerewet, terlalu berisik, dan terlalu gampang marah"
"Dan lagipula siapa juga yang mau denganmu!" Teriak Poney sambil menunjuk "meskipun lelaki di dunia ini hanya dia lebih baik aku sendiri seumur hidup daripada harus dengan kau" dia memasang wajah tak ada minat sama sekali.
"Aku harap doa kau terkabul" Ucap Najasho kembali membaca buku dan mengabaikan gadis itu.
"Hahahaha bagus sekali" Cornelia kembali tertawa dengan tingkah lucu mereka.
"Ohh, ngomong-ngomong setelah ini kita akan dapat misi apa lagi?" Tanya Remus yang begitu antusias sekali terkadang orang-orang merasa kasihan terhadap sifat gadis kecil ini yang akan mudah sekali terjebak atau tertipu oleh seseorang dan lebih parah terbunuh.
"Kelompok kita dengan mereka berbeda tau dan sudah jelas misi yang diterima sudah pasti tak sama" Doria hanya menarik hidung temannya yang berbicara gak jelas tadi "yang pasti setelah ini kita akan pulang kembali ke kota dan mereka dengan misi yang lain"
"Sayang sekali yah..." Ucap Tsukushi memasang wajah sedih karena tak bisa berbicara dan bermain banyak dengan mereka hanya untuk sekedar lebih dekat lagi karena kedua kelompok ini berbeda.
"Tapi, meski kita berpisah jauh kita tetaplah sebuah teman yang baik" Ucap Gin dengan senyum cerah.
Tatsumi hanya memperhatikan obrolan mereka dari pojokan kursi sambil mengelus rambut Kurome yang tertidur di pangkuannya dan tampak senyum kecil di wajahnya ketika melihat keakraban mereka tapi, dia biarkan saja karena Gozuki tak ada disini jika Pak tua itu mengetahui hal seperti ini meski kecil bakal dipastikan mereka semua akan secara paksa dipisahkan.
Sama seperti Akame dan Kurome jika, saja Tatsumi tak memberi tau kedua kakak beradik ini soal ketidaksukaan Gozuki terhadap hal ramah seperti kekeluargaan dan persahabatan maka sudah pasti kedua Gadis itu akan dipisahkan tak peduli apapun caranya. Dan mungkin sekarang Akame menuruti apa yang dia katakan untuk tidak memperlihatkan kedekatan yang lebih tapi, waktu orang tua itu tak ada maka semua kembali normal.
Sama seperti hubungannya dengan Cornelia tapi, ini lebih rahasia lagi yaitu teman-teman di kelompoknya tak boleh tau karena pasti saja ada orang yang memiliki mulut rewel macam Poney kalau saja dia asal bicara tentang hubungannya dan terdengar Gozuki bisa jadi gawat makanya dia tetap merahasiakan hal ini berdua saja.
"Kau terlihat seperti seorang Ayah waktu seperti itu" Komentar Cornelia tertawa kecil yang melihat cara Pacarnya ini menenangkan gadis kecil itu "tapi, terlihat dia nyaman sekali di pangkuanmu" dia melihat Kurome yang tertidur sangat damai sekali seolah tak terjadi masalah.
"Aku rasa dia saat ini hanya ingin tidur disini" Ucap Tatsumi yang masih mengelus rambutnya meski tadi sempat menolak tapi, dia tak tega ketika adik Akame ini memasang mata anak anjing "yah, aku sih tak masalah toh kita belum menjalankan misi ini" dia sedikit mendengar Gadis kecil itu mengigau tentang permen.
"Tentu saja Tatsumi adalah seorang Ayah, Kurome anaknya, dan Akame adalah ibunya" Teriak Tsukushi dengan sangat ceria sekali.
"Ahh, y-yang be-benar sa-saja ki-kita ha-hanya berteman baik ko gak lebih" Jawab Akame dengan wajah panik dan gagap meski berbohong tapi, merah di wajahnya itu menandakan jawaban yang lain tapi, itu lucu sekali dan membuat semua orang yang ada disini tertawa.
Cornelia tau Akame memang memiliki perasaan terhadap Tatsumi dan dia tak mempermasalahkan itu terlebih oke saja jika harus berbagi toh, dia tak ingin ada temannya yang kecewa. Meski dibiarkan saja Akame masih belum mau bergerak atau sekedar pendekatan lebih lanjut lagi karena masih terlalu malu mengungkapkan itu.
Meski dia ingin membantu tapi, itu tak bagus yang ada malahan seperti memaksanya maka dari itu dia biarkan saja seperti air yang mengalir tapi, terkadang harus menunggu waktu yang sangat lama karena sifat Akame yang agak pemalu meski tak segan jika harus membunuh seseorang tapi, ketika urusan Cinta sifatnya berubah kembali menjadi Gadis normal pada umumnya.
"Tapi, hati-hati loh jika tak segera bergerak yang ada dia diambil orang lain dan jika itu terjadi sudah terlambat" Ucap Gin dengan senyum usil "dan memohon atau menyesal tak ada gunanya maka lebih baik bergerak atau tidak sama sekali"
Poney dan Tsukushi menatap ke arah Cornelia yang sedang tertawa Gadis berambut pirang itu menyadari tatapan itu ditunjukan ke arahnya dan tau apa maksud mereka. Yah, mereka berdua tau bahwa dirinya memiliki perasaan kepada Tatsumi tapi, itu saja yang diketahui karena sesungguhnya dia sudah berhubungan bahkan melakukan yang lebih dalam lagi meski begitu dia ingin tetap rahasiakan ini atas dasar permintaan Tatsumi.
"Mereka benar-benar membicarakan sesuatu yang tak berguna sama sekali" Komentar Najasho yang sedikit merasa terganggu membaca karena suara berisik dari para Gadis itu "lebih baik diam atau tidur saja mungkin lebih baik untukku" dia kembali membaca dan membiarkan itu terjadi.
"Yah, mau bagaimana lagi biarkan saja toh" Tatsumi hanya menanggapi itu dengan tertawa.
"Ngomong-ngomong kemana Guy?" Tanya Najasho tak melihat si badan besar tukang membuat masalah itu.
"Paling juga ke rumah Bordil lagi" Jawab Tatsumi yang sudah menduga lelaki itu tak ada sejak tadi pagi.
"Hah, dasar orang yang tak berguna dan merepotkan orang lain saja" Najasho hanya mendengus mendengar jawaban tadi dan memilih diam lagi saja sambil membaca buka dan tanpa bertanya apapun lagi.
"Permen...buah manis...rasanya enak..." Kurome yang masih mengigau dalam tidurnya.
.
.
.
.
.
- Sungai Kecil
Terdapat sebuah sungai kecil di pinggiran kota ini yang berlokasi agak jauh dari tempat mereka menginap kini kedua pasangan ini tengah melakukan sebuah latihan sparing dengan tangan kosong yah, sebenarnya daripada harus diam mengurung diri di penginapan lebih baik berlatih untuk meningkatkan keahlian tubuh.
Sebenarnya mereka tak hanya berdua berlatih karena sebelumnya sudah mengajak yang lain tapi, yang ada hanya penolakan dengan dalih masih agak sakit bahkan untuk Najasho yang selalu giat terlihat malas bergerak untuk melakukan sesuatu dan memilih membaca sebuah buku mungkin dia sudah hebat jadi, tak usah berlatih.
Setidaknya sudah 15 menit berlalu mereka melakukan sebuah latihan sparing dan tujuan mereka untuk melakukan itu agak jauh yah, wajah mereka sudah pasti terlihat semua berkat misi di Kuil itu dan maka dari itu mereka harus lebih berhati-hati jika ada yang mencurigakan segera menghilang dengan cepat dari tempat itu.
Dan selama itu terjadi tak ada apapun yang aneh di sekitar sana dan terus melanjutkan latihan yah, ditambah membuat latihan itu jadi lebih bersemangat adalah menggunakan sebuah Taruhan yaitu siapa yang jatuh dulu maka harus menurut dengan apa yang diperintahkan oleh yang menang tapi, ada sedikit masalah disini.
"Kau ini, yang benar saja jangan menggunakan cara seperti itu" Tatsumi sweatdrop dengan wajah yang sedikit memerah malu tapi, dia seperti itu bukan tanpa alasan karena Gadis pirang di depannya hanya mengenakan Bra dan CD putih polos yah, mungkin karena efek pubertas jadi dia agak sedikit kurang fokus dan bereaksi bagian bawah.
"Ada apa Tatsumi? Kau begitu keberatan huh? Fufufufu!" Cornelia hanya tertawa kecil dengan memberi sedikit kedipan dan menambah pose sexy apabila Guy yang melihat mungkin sudah tumbang dengan darah yang keluar banyak dari Hidung "lagipula lebih baik seperti ini dapat bergerak lebih bebas lagi" dia sengaja melakukan ini.
"Halah! Alasan kau gak masuk akal mengenakan celana juga kau masih bisa bergerak bebas dengan biasanya" Balas Tatsumi hanya menepuk dahinya mendengar alasan tadi "bilang saja kau ingin mengalahkanku dengan cara curang" dia kembali dengan posisi kuda-kuda.
"Yah, ini juga sebagai latihan untukmu agar tak jatuh saat apabila lawan kau seorang Wanita yang suka menggoda karena itu berbahaya juga untukmu" Ucap Cornelia kembali bersiap melanjutkan latihan "dia hanya pura-pura sama seperti orang baik yang baru saja kau kenal" dia menyinggung dirinya sendiri atas kelalaian waktu itu.
Cornelia dan Tatsumi berlari maju ke depan secara bersamaa gadis berambut pirang ini melayangkan kaki kanannya ke arah pipi dan tentu saja Tatsumi bisa menahal hal sepele seperti itu tapi, Cornelia melayangkan kakinya yang satu lagi tapi sama seperti sebelumnya ditahan lagi. Cornelia bersiap menjepit kepala Tatsumi dengan kedua kaki dan berniat melemparkannya tapi lelaki itu sudah sadar dan melepaskan kedua kakinya lalu sedikit mundur.
Cornelia kembali maju lebih dulu lagi dia melayangkan pukulan tangan kanan tapi, masih tertangkap oleh Tatsumi dia mengarahkan kaki kanannya ke bagian perut tapi lelaki itu kembali menangkapnya. Tapi Cornelia belum selesai dia kembali ingin mengenai Dagu Tatsumi dengan kaki yang satu lagi hanya saja Pacarnya ini sudah tau serangan itu dan mendorongnya menjauh.
"Lumayan untuk yang tadi tapi, tenaga kau kurang ada tambahan dorongan" Komentar Tatsumi yang agak sadar ada perubahan sedikit dari gaya bertarung gadis ini meski hanya seperti itu tapi, sudah ada perbedaan dari yang dulu dan sekarang "yah, serangan tenaga dalammu masih kurang dan harus banyak berlatih seperti meninju pohon lalu, soal tehknik kau perlu membuat yang lebih kreatif lagi karena serangan itu masih bisa ketebak arahnya yah, buat kejutan saja"
"Ohhh, begitu yah pantas saja ada serasa yang berbeda" Ucap Cornelia menyadari itu dan juga ada terasa perbedaan sekali kekuatannya dengan Tatsumi yang sedari tadi hanya terus menahan saja mungkin dia tak ingin serius mengeluarkan kekuatan aslinya dan juga yang dia tau Pacarnya ini yang terkuat di antara anggota tim elite 9 lainnya tapi, dia ingin berlatih jadi lebih kuat lagi dan tak mau membuat repot orang lain "tapi, juga terasa kau seperti bisa membaca gerakanku"
"Tentu saja kau bergerak seperti itu banyak sekali bagian yang terbuka dan mudah diserang jika, ini bertarung dengan musuh kau mungkin akan terbunuh dalam hitungan beberapa detik" Jawab Tatsumi mengangguk "aku saran kau sebaiknya tehkknikmu lebih ditingkatkan lagi dan harus cukup pandai membaca situasi kalau soal tenaga dalam masih kurang karena suatu hari kau pasti akan berhadapan dengan musuh yang memiliki tubuh sekeras batu"
Yah, Cornelia hanya diam saja dan menyetujui ucapan Tatsumi alasan mungkin kenapa dirinya kalah dan Hampir terbunuh oleh Taeko adalah gaya bertarungnya yang terkesan mengandalkan tenaga dalam saja tanpa memikirkan tehknik yang lain untuk dikembangkan dan parahnya dia bukan orang yang mudah baca situasi saat bertarung mungkin terlalu terbawa suasana jadi tak sadar. Dan terbukti bagaimana cepatnya Tatsumi mengalahkan Taeko dalam beberapa detik karena dia membaca situasi pergerakan dan menunggu moment yang pas untuk serangan balik yang fatal sekali.
"Kau jadi keingat hal seperti itu lagi yah?" Tanya Tatsumi menyadari Gadis itu sedang termenung dengan masa lalunya itu yah, jika bukan karena dia Cornelia sudah pasti terkubur dengan tanah.
"Ahh, iya sedikit tapi aku benar-benar sangat terima kasih kepadamu" Balas Cornelia tersenyum kecil mungkin dia harus sedikit berfikir untuk jauh lebih kuat lagi dari sebelumnya karena makin ke depan kekuatan musuh sudah pasti lebih kuat sekali "ngomong-ngomong bagaimana dengan kabarnya?" yang dia maksud adalah Taeko sama seperti dirinya kondisi gadis itu hampir mati karena bertarung dengan Tatsumi tapi, Pacarnya sangat baik dan mengobati mereka berdua meski musuh.
"Yah, aku yakin dia sekarang berlatih lebih kuat lagi dan berada di suatu tempat dalam keadaan selamat" Balas Tatsumi masih mengingat janji Gadis itu kepadanya "yah, aku yakin karena suatu hari kita akan bertemu dengannya lagi bukan sebagai musuh melainkan aliansi" dia agak kurang faham dengan kata yang terakhir tadi.
"Aku mengerti yang kau maksud" Ucap Cornelia tersenyum kecil dan juga sangat senang hubungan pertemanan mereka masih tetap berlanjut meski berbeda jalur tapi, dia tak dendam sama sekali pada gadis itu yang mau membunuhnya karena sebagai pembelajaran dirinya untuk tak mudah percaya dengan siapapun dan juga jika dia berada di posisi Taeko mungkin akan melakukan hal yang sama.
"Ohhh, ternyata kalian berdua ada disini rupanya"
Selagi mereka berdua mengobrol terdengar suara orang lain yang datang mendekat dan tentu saja kedua orang yang berbeda gender ini memasang posisi siap siaga untuk menyerang jika itu ada sebuah musuh yang mendekat tapi, niat itu diurungkan karena yang mendekat kemari adalah teman mereka bersama sang adik yah, siapa lagi kalau bukan Akame dan Kurome.
"Tunggu apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Tatsumi dengan wajah bingung "kalau kita mungkin saat ini sedang berlatih daripada bosan terus berdiam diri saja tanpa melakukan apapun"
"Yah, aku dan Kurome juga sedang mencari tempat yang bagus untuk latihan sparing dengan meningkatkan kecepatan tubuh kita" Jawab Akame memegang Shingu miliknya "tapi, ketika kesini aku sedikit mendengar keributan aku fikir itu musuh atau ada seseorang yang tengah bertarung tapi, rupanya itu kalian toh"
"Cora-nee ecchi hanya memakai Pakaian seperti itu" Ucap Kurome memasang wajah polos dan memakan buah-buahan manis.
"Yah, jika aku mengenakan Pakaian biasa maka sulit bergerak lebih cepat dan menandingi gerakan Tatsumi" Jawab Cornelia yang merasa bangga dan tak memiliki rasa malu sama sekali "ngomong-ngomong bagaimana kalau kalian berdua bergabung dan berlatih bersama dengan kita? Lebih banyak orang lebih seru lagi" dia mungkin ingin belajar banyak tentang gaya bertarung orang lain.
"Baiklah aku rasa lebih baik berlatih bersama kalian" Ucap Akame langsung membuka pakaiannya juga dan disusul dengan adiknya.
"Tunggu kenapa kalian melepaskan pakaian kalian?" Tanya Tatsumi dengan wajah bingung entah kenapa sedikit ketularan gadis berambut pirang di sampingnya.
"Jika ingin bergerak dan berlatih lebih cepat lagi maka harus lepaskan Pakaian karena itu hanya membuat repot seseorang yang bergerak" Jawab Kurome memasang wajah polos lucu "karena Cora-nee bilang seperti itu"
"Kalian ini yang benar saja" Tatsumi hanya sweatdrop sambil menepuk dahinya atas alasan yang terkesan gak jelas seperti itu sementara Cornelia hanya bisa tertawa kecil.
Dan tak lama akhirnya mereka kembali melakukan latihan itu secara bersamaan dengan sebuah senyum bahagia di wajah mereka yang terlihat menikmati sekali.
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Dataran Rendah
Sementara itu kelompok yang lain atau tersisa juga melakukan aktifitas yang menghilangkan rasa bosan karena sama-sama merasakan bagaimana rasanya diam saja tanpa melakukan apapun mungkin bisa dibilang mereka hanya bermain dengan hobi masing-masing tak seperti kelompok Tatsumi yang saat ini tengah berlatih membuat tubuh menjadi lebih baik.
Kelompok Tentara kerajaan yang khususnya gadis sedang bermain di sebuah sungai kecil hingga basah dan tampak lekukan tubuh mereka, Najasho hanya duduk normal di atas batu sambil membaca buku ditemani Natala yang hanya tiduran saja di tanah. Poney dan Tsukushi pergi ke hutan mencari tanaman herbal untuk sebagai obat lalu Green tengah menggali sesuatu di dekat Gua sana kemungkinan mencari batu permata untuk dijual.
"Kau yakin seperti ini tak apa-apa? Maksudku takkan menimbulkan masalah?" Tanya Najasho sambil melihat para gadis yang bermain disana, sebenarnya dia berniat menegur dengan cara kasar tapi karena mereka bukan bagian elite 9 makanya tak jadi, apalagi ada seorang lelaki yang agak mirip dengannya sebagai Ketua mereka jadi, dia hanya tetap membaca buku.
"Iyah, hahahaha! Tak ada masalah sih mungkin mereka juga ingin memiliki kesenangan sendiri karena jarang sekali kita dapat cuti seperti ini" Balas Natala hanya tertawa "yah, mungkin kau khawatir ada musuh mendekat tapi, tenang saja resiko itu cukup kecil jika kita berada disini berbeda sekali dengan yang ada di kota"
"Tapi, tak menutup kemungkinan juga ada musuh di sekitar sini mungkin saja sekarang tengah mengawasi kita di suatu tempat" Ucap Najasho tetap melirik ke kiri dan ke kanan "mungkin tak ada bagusnya membawa mereka keluar tapi, ini memang lebih baik jika harus keluar secara sendiri" karena resiko bertemu dengan musuh agak tinggi.
"Aku tau yang kau maksudmu yang terpenting hanya cukup waspada saja dan jangan pergi sendiri" Balas Natala terdiam disana sebuah angin menghembuskan ke arah rambutnya "tapi, meski begitu kita juga butuh sesuatu yang menyenangkan dari sekedar penat dan lelah dari menghadapi mayat dan darah terus"
"Ahhh, aku rasa kau memang ada benarnya juga" Ucap Najasho terdengar setuju dan kembali melanjutkan membaca yang sempat tertunda.
"Ngomong-ngomong aku ingin tau orang yang bernama Tatsumi itu seperti apa?" Tanya Natala dengan nada tertarik dan juga ada sesuatu yang berbeda tentang orang itu daripada yang lain.
"Jujur saja ini pendapatku dia itu orangnya sangat kuat diantara tim kita, hebat dan sangat cerdik dalam segala hal, skil berpedang dan menembak juga tak perlu diragukan lagi bakatnya" Jawab Najasho berterus terang "bahkan sangat pandai dan lihai dalam memanfaatkan situasi mungkin orang-orang akan pasrah saja jika hal buruk terjadi tapi, Tatsumi lain dia malah mengeluarkan masalah itu dengan cara yang tak biasa dan yang terpenting dia tak mudah menyerah, itu sangat cocok sekali kriteria sebagai seorang pemimpin sebuah kelompok tapi, entah kenapa ayah malah memilihku"
"Hahahaha mungkin saja ada sesuatu yang ada pada dirimu yang tak dimiliki Tatsumi" Ucap Natala yang mengabaikan teriakan histeris para gadis dibawah "tapi, jika seperti yang kau bilang mungkin Tatsumi itu benar-benar orang yang sangat kuat sekali yah"
"Memang begitu" Najasho mengangguk.
Natala dan Najasho pada akhirnya saling akrab dan mulai mengenal satu sama lain dari pembicaraan kecil yang memiliki makan berarti ini, sementara tak jauh dari tempat Mereka tampak Green lagi duduk di sana sambil memegang beberapa tumpukan batu dari hasil menggali. Dan Poney lalu Tsukushi juga sudah kembali dari Hutan beberapa menit yang lalu.
"Bagaimana dengan hasilmu?" Tanya Poney dengan keranjang yang penuh dengan tanaman herbal.
"Yah, sedang aku cek sih tapi ada beberapa hasil yang bagus dan pula yang buruk" Jawab Green yang tengah mengecek sebuah batu yang dikira permata menggunakan alatnya "jika semuanya bagus atau asli kan dapat uang juga untuk biaya tambahan untukku"
"Tumben kau sendiri kemana dengan Guy?" Tanya Tsukushi tak melihat lelaki berbadan besar itu sedari tadi pagi.
"Dia sudah dari tadi pergi ke rumah Bordil" Jawab Green tak habis fikir dengan kebiasaan buruk orang itu "lalu kalian sendiri bagaimana?" dia bertanya balik.
"Yah tak lumayan banyak sih walaupun aku ingin berburu" Jawab Poney agak kesal karena tak boleh melakukan itu sendirian tapi, juga aku tak bisa menolak sama sekali larangan itu "hey! Green bagaimana kalau kau ikut dengan kita? Berburu hewan buas untuk dimakan? Aku dengar Akame dan yang lainnya tengah melakukan itu"
"Tunggu aku menyelesaikan ini terlebih dahulu" Jawab Green yang masih mengamati sebuah batu permata "Tsukushi kau juga akan ikut?"
"Yah, lebih banyak orang maka semakin besar kesempatan untuk menang" Tsukushi mengangguk mantap.
"Bagaimana dengan Najasho? Kita ajak dia juga?" Tanya Green lagi.
"Tak usah kita ajah cukup toh, dia lagi sibuk dengan bukunya dan tak ingin diganggu" Jawab Poney yang tak ingin orang menyebalkan seperti itu ikut karena yang ada hanya adu mulut terus "meski kita memaksa untuk ikut, nantinya diia akan sok keren menolaknya"
"Hahahaha iya" Tsukushi tertawa dengan tingkah lucu temannya yang satu ini.
.
.
.
.
.
- Penginapan
"Tatsumi? Kau saat ini sedang sibuk?"
"Oh, tidak! Adakah sesuatu yang ingin kau bicarakan padaku?"
"Hmm!"
Akame masuk ke dalam setelah mendengar panggilan dari yang punya dan melihat Tatsumi tengah duduk di dekat jendela dengan tangan menopang dagu seolah lagi termenung dalam fikirannya seperti tengah memikirkan sesuatu yang lebih dalam lagi lalu dia duduk di depan lelaki itu.
Setelah mereka latihan tentu saja kembali lagi ke tempat ini meski begitu tak berlatih hingga larut malam buktinya kelompok lain yang pergi belum juga kembali dari tempat yang entah berada dimana yah, itu tak perlu dicemaskan karena dia yakin mereka semua baik-baik saja dan tak sendirian.
"Jadi, kau ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku?" Tanya Tatsumi menatap Gadis itu.
"Ada sih! Tapi, aku ingin kau jujur dari dalam lubuk hatimu untuk menjawab pertanyaan ini" Jawab Akame.
Tatsumi agak memiringkan kepalanya dengan wajah bingung karena tak tau apa yang akan ditanyakan oleh gadis itu dan juga selama ini dia tak pernah melakukan satu kesalahan atau tingkah yang mencurigakan meski ada satu tapi, dia berharap gadis itu tak menanyakan masalah pribadinya atau lebih parahnya rasa balas dendam itu yang belum hilang.
"Baiklah" Tatsumi mengangguk dan membiarkan gadis itu berbicara.
"Aku ingin tau apa yang terjadi padamu sewaktu kita pulang dari pasar itu" Jawab Akame yang dari dulu ingin membicarakan hal ini berdua saja "aku melihat kau berbeda sekali seperti aku merasakan hawa membunuh yang kuat keluar dari dalam tubuhmu adakah sesuatu yang membuat kau tak senang?"
'Ohhh, aku sudah tau bakal begini ceritanya' Batin Tatsumi yang sudah menduga hal ini apalagi waktu itu dia hampir tak bisa mengkontrol emosinya waktu melihat orang-orang yang membuatnya menderita seperti ini "ahhh, yang waktu itu yah hmm! Kalau tak salah aku cukup kesal melihat anak kecil tak bersalah disiksa seperti itu dan aku tak bisa melakukan apapun" dia terpaksa harus berbohong.
"Ohhh, jadi begitu aku fikir apa! Tapi itu semua bukan salahmu karena manusia tak ada yang sempurna dan kau tak bisa melakukan apapun itu sendirian jadi, itu tak ada hubungannya denganmu" Ucap Akame tersenyum menghiburnya "lagipula hidup ini keras dan jika kita tak kuat maka tak bisa bertahan hidup kau akan terbunuh"
"Yah aku mengerti jadi terima kasih atas perhatianmu" Balas Tatsumi tersenyum sambil mengusap rambutnya yang berwarna hitam.
Sebenarnya jawaban Tatsumi tadi jelas sangat berbohong sekali dari kenyataan yang ada dan jelas dari dalam lubuk hatinya dia masih memiliki dendam kesumat pada ketiga orang itu yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dan terlebih dia tak menceritakan tentang masa lalunya itu kepada yang lain karena tak mau mereka terlibat dalam masalah balas dendam ini dan membuat mereka terluka.
Apalagi jika mereka benar-benar ingin membantu mengakhiri masalahnya tapi, bukan dia tak percaya dengan kekuatan hebat mereka hanya saja ini terlalu riskan dan bukan termaksud kategori misi makanya dia akan melakukan itu sendiri. Dan terlebih jika dia mengajak mereka Gozuki yang jelas takkan tinggal diam untuk membuat mereka semua terpisah dan dia tak menginginkan itu.
'Maafkan aku Akame tapi, aku tak ingin kau terlibat dan terluka hanya karena Balas dendamku saja biarkan aku yang menangani ini sendiri'
.
.
Xxxxxxxxxxxxxxxx xxxxxxxxxxxxxxxx
.
.
- Gudang Besar Terbengkalai
Terdapat sebuah kelompok kecil di tempat yang sudah tak terpakai atau ditinggal oleh pemiliknya yang satu dua orang lelaki dengan berbeda bentuk fisik dan yang satunya lagi seorang Wanita. Lelaki Gendut dengan mengenakan baju khas pegulat berwarna biru, lelaki botak tinggi dengan wajah jelek, dan terakhir Wanita mengenakan Pakaian boundage berwarna merah lalu sebuah topeng.
Mereka tak lain adalah kelompok kecil yang menyerang kampung halaman Tatsumi dan membuat bocah bermata emerald itu menderita entah apa yang mereka lakukan di tempat ini tapi, itu bukan sesuatu yang bagus.
"Heyy! Greg! Aku tak pernah tau ada hal seperti itu di tempat ini apa kau tak terlalu berfikir itu hanya sekedar rumor belaka untuk suatu keuntungan"
"Tidak, Nick bukan beberapa orang saja yang bilang hampir semua orang waktu kita berkumpul di Bar itu membicarakannya apa aku benar Sophie?"
"Hah, entahlah terserah kau saja yang penting jangan melakukan hal yang tak berguna sama sekali"
!
*Jduarrrrrr!
"Heiii! Bajingan! Apa ini!"
"Jangan tanya aku! Bahkan aku terkejut dengan ini!"
"Uhhh! Mungkin jebakan!"
Sebelum mereka bertiga bergerak maju untuk mencari sekitar tiba-tiba muncul ledakan api dari atas alhasil sedikit mementalkan mereka dan ketika melihat seluruh tempat ini sudah terkepung dinding api yang lumayan panas dan tak ada jalan untuk kabur atau lebih tepat terkurung. Dan mereka melihat sebuah bayangan manusia mendekat.
"Ada apa?" Tanya Greg ke lelaki botak itu.
"Kurasa kita kedatangan tamu dadakan yang muncul disaat seperti ini" Nick menggerutu kesal.
"Hah, kita harus selesaikan ini bersama" Ucap Sophie menghela nafas kesal juga dengan tadi "ngomong-ngomong siapa kau ini dan apa urusanmu dengan kita?" dia memberi deathglare
Dan memunculkan wajah aslinya dengan sangat marah "aku adalah Malaikat gelap yang datang mencabut nyawa kalian semua orang-orang bajingan" dan tak lain adalah Tatsumi.
"Tck!"
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
Dan selesai juga pada akhirnya lalu chapter Istirahat sudah selesai dan masuk kembali ke chapter pertarungan pada akhirnya sebuah reuni kembali lagi dengan indahnya walau tak bagus diawal fhakkss! See ya!
Pm
RnR
