PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa, berisi adegan seks, hubungan esame jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.

NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?

There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.


..

.

Park Shita

Present

..

.

Tidak jauh berbeda dari hari biasanya, hari ini Chanyeol masih cukup sibuk menyelesaikan pekerjaannya sebagai seorang Raja di ruang kerjanya, namun yang berbeda adalah tatapan sungkan Tuan Lee yang masih setia menatap kearah Sang Raja yang hanya menatap lembaran-lembaran kertas di depannya.

"Pa-Paduka?" panggilan Tuan Lee menyadarkan Chanyeol dari lamunannya.

"Bagaimana keputusan Paduka?" Chanyeol mengalihkan arah pandangnya, menatap sosok lelaki tua itu lekat. Sejenak ia menghela nafas berharap keputusan yang ia ambil tak akan membawanya pada masalah.

"Aku akan tetap melaksanakannya, Tuan Lee. Aku tak tega melihat senyuman merekahnya lenyap begitu saja." Tuan Lee mengangguk paham, ia tentu tahu betapa Sang Raja mencintai Ratunya.

"Baiklah jika begitu Paduka, aku akan bicara pada para dewan mengenai ini." Chanyeol mengangguk lemah.

"Terima kasih banyak Tuan Lee." Tuan Lee memberikan hormat sebelum akhirnya meninggalkan ruangan, menyisakan Chanyeol yang terdiam pada tempatnya. Ia hanya berharap bahwa keputusannya adalah tepat.

..

.

Baekhyun melambai-lambaikan tangannya dari atas kuda ketika melihat Jongin dan Sehun yang melintas di koridor istana. Kedua sosok itu tidak membalas, hanya melirik sekilas lalu menghela nafas dan melanjutkan kembali perjalanan mereka.

"Isssh.." Baekhyun menggeram kesal karena diabaikan dan segera melompat dari kuda membuat sang pelayan yang berada disampingnya terkejut. Baekhyun yang nyaris terjatuh segera bangkit dan berlari kearah dua Jendral setia Paduka Rajanya.

"Hei Jendral Kim dan Jendral Oh. Aku sedang senang saat ini, tebak karena apa!" Ucap Baekhyun yang mengekor dibelakang dua sosok tinggi tegap itu. Jongin menoleh kebelakang hendak menjawab, namun mendengar dengusan Sehun membuat ia urung dan segera mengikuti langkah yang lebih muda.

"Kalian ini benar-benar ya…" gerutu Baekhyun sambil berlari kencang dan berjalan tepat di depan kedua Jendral.

"Karena aku dalam suasana hati yang baik, baiklah akan aku beritahu secara cuma-cuma." Ucapnya dengan wajah merona bahagia. Sehun menatap Baekhyun datar kemudian membuang arah pandangnya kembali pada jalanan, sementara Jongin hanya menatap dengan wajah menahan tawa.

"Hari ini aku akan menghadiri rapat besar bersama Paduka Raja. Yeeeiii!" Ia berseru senang, namun reaksi dua orang di depannya membuat seruannya terhenti.

"Kalian tidak terkejut?" tanya Baekhyun bingung. Jongin menatap Baekhyun iba, lalu menghela nafas dan melirik Sehun yang menatap Baekhyun tanpa minat. Hingga akhirnya Sehun memutuskan melewati Baekhyun, sementara Jongin yang mengikuti menyempatkan diri untuk menepuk pundak yang lebih muda.

"Semoga beruntung." Ucap Jongin. Baekhyun mengernyit dalam sambil menatap bingung dua orang Jendral di depannya. Tapi kemudian ia bersorak gembira lagi sambil melompat-lompat lucu.

Jongin menoleh kebelakang mendapati sosok mungil Baekhyun yang melompat sambil berlari-lari kearah para pelayannya yang setia menunggu, tapi kemudian raut wajahnya berubah sedih, ada sebuah rasa perihatin yang ia tujukan pada Baekhyun.

"Bocah yang malang." Ucap Jongin sebelum akhirnya mengikuti langkah Sehun untuk menuju lapangan utama.

..

.

Chanyeol berdiri di depan pintu kamarnya dan Baekhyun dengan sorot wajah lelah. Ada sebuah rasa tak enak hati yang mengganjal, tapi tak mudah juga untuk ia ungkapkan pada si kecil yang kini menjadi suaminya.

Kemarin ada sebuah laporan masuk mengenai peran Sang Ratu yang sama sekali tidak pernah muncul atau berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang melibatkan Chanyeol, dan beberapa pihak mulai mempertanyakan itu.

"Bukankah seorang Ratu seharusnya menemani Sang Raja, memberikan pertimbangan, bahkan turut serta dalam setiap masalah yang ada? Bukan hanya melahirkan lalu menghabiskan waktunya untuk bermain?"

"Awalnya kami merasa berterima kasih atas putra mahkota yang Ratu berikan, namun semakin kesini kami semakin bingung sebenarnya apa peran seorang Ratu?"

"Seharusnya Kerajaan mengajarkan Paduka Ratu bukan hanya membiarkannya bermain sepanjang hari."

Chanyeol masih ingat berbagai bentuk tulisan yang ditulis para rakyat di setiap papan pengumuman yang memang disediakan Kerajaan untuk menampung seluruh aspirasi rakyat, namun ia tak menyangka jika keberadaan Baekhyun kembali diusik, dan jika sudah mulai muncul pemberontakan kecil maka pemberontakan besar pasti tak terelakan.

Chanyeol merasa beruntung Tuan Lee memihak padanya, sehingga akan lebih mudah berbicara pada dewan kerajaan karena posisi Tuan Lee yang cukup tinggi, meski tidak 100 persen disetujui setidaknya ucapan Penasehat kerajaan itu akan lebih dipertimbangkan.

"Ini!ini! Aku mau yang ini saja." Suara nyaring Baekhyun dari dalam kamar membuat Chanyeol tersadar. Ia membuka pintu sedikit dan mengintip ke dalam, disana Baekhyun berdiri dengan beberapa pelayan yang membawa beberapa pakaian.

Baekhyun nampak bahagia memilih pakaian di depan cermin, Chanyeol tahu Baekhyun-nya merasa amat sangat bahagia karena Chanyeol memutuskan untuk mulai membawa Baekhyun terjun dalam dunia Kerajaan dan rapat besar tahunan antara 7 Kerajaan terbesar menjadi kegiatan pertama yang Chanyeol pikir bisa melibatkan Baekhyun untuk pertama kalinya, meskipun ia sendiri tidak yakin dengan keputusannya.

"Apa aku terlihat lebih dewasa dengan warna ini?" ucap Baekhyun sambil membalik tubuhnya dan memamerkanya pada para pelayan. Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun dalam balutan pakaian berwarna hitam dan emas, berbeda sekali dengan selera warna Baekhyun sebenarnya.

"Sudah Paduka Ratu, anda terlihat 10 tahun lebih tua." Chanyeol nyaris saja mengeluarkan tawanya ketika melihat wajah terkejut Baekhyun yang mendengar ucapan pelayannya.

Mata sipit itu membulat sepenuhnya, bahkan bibir tipisnya membulat sempurna, membuat siapapun pasti akan gemas dengan sosok mungil itu.

"Benarkah?"

"Benar Paduka." Baekhyun kembali membalik tubuhnya dan menatap kearah cermin dengan wajah yang senang.

"Aku ingin rambutku dibawa naik keatas seperti Paduka, sehingga aku akan terlihat lebih dewasa juga." Seorang pelayan yang bertugas menata rambut Baekhyun mengangguk patuh.

"Hah, aku akan terlihat lebih dewasa nanti. Aku tak sabar, hihihi…"

Senyum Chanyeol yang semula menghiasi wajahnya perlahan memudar ketika mengingat apa yang akan Baekhyun hadapi kelak. Bahkan hal tersebut sudah di depan mata dan Chanyeol tak tahu apakah senyuman menawan itu akan tetap bertahan dibibir mungil Baekhyun setelah mengetahui seberat apa beban menjadi seorang Ratu yang sebenarnya.

..

.

King's Little Husband

Chapter 14

..

.

Baekhyun tersenyum sepanjang perjalanan dan berulang kali memperbaiki letak mahkota dan pakaiannya membuat Chanyeol melirik sosok itu diam-diam.

"Sudah bagus, kau sudah terlihat sempurna." Chanyeol tersenyum dan Baekhyun yang ketahuan hanya memperlihatkan deretan giginya dengan wajah memerah menahan malu.

"Aku-aku hanya merasa gugup Paduka." Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun yang lelaki itu simpan diatas pahanya, jemari panjang Chanyeol mengelus pipi tembam Baekhyun dan memberikan senyuman terbaiknya.

"Tak ada yang perlu kau takutkan, ada aku disisimu kan? Lagipula Chanhyun tidak ikut, jadi kau bisa lebih fokus nanti." Baekhyun mengangguk sambil menghela nafas pendek.

"Lalu apa yang akan kita bahas nanti Paduka? Dan apa yang harus aku lakukan?" tanya Baekhyun membuat senyum Chanyeol lenyap seketika.

"Bukan masalah penting, kita hanya berbasa-basi, kau sudah pernah bertemu dengan mereka semua jadi tak perlu gugup, yang perlu kau lakukan hanya diam disampingku, itulah tugas Ratu, kau mengerti?" Baekhyun mengangguk mantap membuat senyum Chanyeol kembali muncul.

"Mengerti Paduka." Chanyeol tersenyum lebih lebar dan mencuri sebuah kecupan di bibir merekah Baekhyun.

..

.

Baekhyun meremas jemarinya dengan gelisah diatas pahanya, matanya setia menatap para Raja dan Ratu yang duduk melingkar dalam sebuah ruangan yang cukup luas.

Bulir-bulir keringat perlahan bermunculan di pelipisnya, sementara tubuhnya hanya diam kaku seperti sebuah patung. Sesekali ia melirik takut pada Chanyeol yang nampak sedang berpikir serius bersama yang lainnya, hanya dirinya yang nampak tidak mengerti apapun yang sedang dibahas.

"Aku mohon perhatian. Seharusnya hal seperti ini tidak akan menjadi ancaman untuk Kerajaan kita, apalagi kita memiliki Northwest sebagai Kerajaan terbesar yang memiliki cakupan wilayah terbesar, bukan begitu?" Baekhyun menoleh pada seorang wanita yang nampak begitu anggun dengan gaun merahnya dan wajahnya memperlihatkan bahwa wanita itu begitu berpendidikan. Dia Kang Sora, Ratu dari Kerajaan Suwandess.

"Aku mohon perhatian. Apa yang Ratu Sora katakan benar, jenis pengkhianatan apapun seharusnya tak membuat kita cemas, kita bukankah terdiri dari Kerajaan-Kerajaan besar yang begitu kuat, bukan begitu?" Mata Baekhyun kini teralih pada sosok Ratu Park Shinhye, wanita berambut hitam panjang dengan mata bulat dan sorot mata yang terlihat begitu pintar.

Satu persatu Ratu mulai angkat bicara, membuat nyali Baekhyun semakin menciut ia bahkan tidak tahu topik apa yang sedang dibahas.

Awal pertemuan semua terlihat baik-baik saja, para Raja dan Ratu saling bercakap dan bercanda seperti biasa, namun ketika dipertengahan seorang pengawal datang dan memberikan beberapa kertas pada masing-masing pasangan Raja-Ratu dan mereka nampak serius membaca masalah yang sedang terjadi di masyarakat.

Sementara Baekhyun sama sekali tidak mengerti dengan seluruh isi tulisan disana, meskipun berulang kalipun ia membaca dan mengejanya secara perlahan. Hingga suasana pun mulai berubah, satu per satu Raja berbicara dan kini Ratu mereka ikut bersuara.

"Aku mohon perhatian. Menurut pengalamanku yang pernah belajar mengenai peperangan, hal yang perlu kita kuatkan adalah pasukan-pasukan terlatih kita, menggandakan persenjataan dan tidak menganggap remeh hal semacam ini, karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi nantinya." Itu Ratu Yoon Eun Hye, seorang wanita dengan wajah tegas dan terlihat begitu pendidikan, sebuah perpaduan yang begitu sempurna menurut Baekhyun.

"Aku benar-benar senang dengan para wanita tangguh disini, bagaimana menurut anda Paduka Chanyeol?" Raja Younghwa menatap Chanyeol, dan Chanyeol mengangguk dengan sebuah senyuman menawan.

"Sebelumnya izinkan aku mengucapkan terima kasih banyak atas antusias para Ratu sekalian, tapi kita tidak bisa memberikan keputusan secara gegabah bukan? Ini hanya sebuah isu yang sedang menyebar, kita harus menyikapinya dengan bijaksana jadi kita lihat sejauh apa isu ini berkembang." Semua mengangguk setuju. Chanyeol tersenyum lalu melirik Baekhyun dan ia terkejut ketika melihat mata Baekhyun berkaca-kaca dan tubuh lelaki itu menegang.

Chanyeol melirik para undangan lain sebelum mencoba mencuri kesempatan untuk merendahkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya pada Baekhyun yang masih menengang.

"Baekhyun-ah? Ada apa?" Baekhyun masih diam, jemarinya ia remas semakin kuat, kini pandangannya benar-benar buram, air matanya tak bisa ia tahan lagi, hingga akhirnya air mata itu lolos menuruni pipinya yang putih.

"Hiks." Chanyeol membulatkan matanya mendengar isakan Baekhyun, ia mencoba menyentuh pundak Baekhyun namun sosok Baekhyun masih menegang.

"Hiks..Hiks.. maafkan aku paduka…hiks…hiks…huweee…" Seluruh mata menatap kearah Baekhyun heran dan terkejut. Chanyeol segera bangkit dan mendekap tubuh bergetar Baekhyun sambil menatap sungkan pada seluruh undangan.

"Ma..maafkan aku Paduka…hiks.. a-aku tidak bisa… menjadi ratu…ratu… yang baik…hiks…maafkan…aku…hiks.." Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun, namun tangisan Baekhyun semakin menjadi-jadi membuat ia benar-benar merasa tidak enak hati pada para undangan lain. Chanyeol bangkit dan membantu Baekhyun berdiri.

"Maafkan aku, sepertinya ada hal yang harus aku urus sebentar." Ucap Chanyeol dan membawa tubuh Baekhyun meninggalkan ruangan. Chanyeol tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan tangisan Baekhyun, dan tidak tahu tempat mana yang harus ia tuju.

Ketika tiba disebuah lorong istana, ia mendorong Baekhyun pelan untuk merapat kedinding.

"Baekhyun, berhentilah menangis! Aku mohon!" tapi tangisan Baekhyun tak kunjung berhenti, ia masih terisak bahkan sesekali tersedak oleh air liurnya sendiri. Wajah Baekhyun memerah, hidungnya sudah seperti badut, dan mata berairnya mengacaukan seluruh tatanan riasan yang ada diwajahnya.

"Maafkan aku…hiks..paduka…aku…mengacaukan…hiks…semuanya…aku tidak bisa seperti…hiks.. mereka…."

"Ssstt…ssstt… tidak apa-apa, sekarang berhentilah menangis!" Baekhyun mengangguk namun masih tersendat-sendat oleh isakannya sendiri. Chanyeol mengusap wajah basah Baekhyun dan memberikan sebuah kecupan lembut dibibir yang lebih muda.

"Maaf.." Baekhyun tertunduk dan Chanyeol menghela nafas lagi. Ia melirik sekitar dan menemukan sebuah meja di dekat guci, untuk itu ia mengangkat tubuh Baekhyun dan mendudukannya disana.

"Baekhyun-ah? Lihat aku!" Baekhyun memberanikan diri untuk menatap Chanyeol.

"Kau sudah melakukan tugas pertamamu dengan baik, bukankah aku memintamu untuk diam dan berada disisiku, kau telah melakukannya, hanya jika kau tidak menangis tadi." Bibir Baekhyun mengerucut dengan sebuah penyesalan yang tersirat di dalamnya.

"Aku tidak ingin menangis, tapi air mataku…air mataku keluar dengan sendirinya.. air mata bodoh..bodoh…" Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang menampar-nampar matanya.

"Hei..hei.. siapapun tak akan bisa mengontrol air mata yang ingin keluar, itu bukan salahmu. Sekarang, kau kembalilah ke Istana, aku akan meminta pengawal dan juga Sehun untuk membawamu pulang." Kening Baekhyun berkerut dalam.

"Lalu Paduka?"

"Aku akan pulang setelah urusan disini selesai." Baekhyun menggeleng pelan.

"Tapi nanti Paduka tidak ada yang menemani."

"Tidak masalah aku sudah terbiasa akan itu."

"Tidak! Semua Raja datang bersama Ratu mereka, nanti hanya Paduka yang duduk sendirian, aku tidak mau Paduka kesepian." Chanyeol tersenyum dan dengan gemas kembali mencuri sebuah ciuman dari bibir mengerucut Baekhyun.

"Aku tidak sendirian apalagi kesepian, disini…" Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan meletakkannya di dadanya.

"….selalu ada dirimu, jadi aku tak akan kesepian." Baekhyun terdiam. Ia tahu Chanyeol hanya sedang menghiburnya, namun melihat kebaikan Chanyeol yang bahkan begitu sabar menghadapi bocah menyebalkan dan cengeng sepertinya membuat Baekhyun enggan berdebat lagi.

"Baiklah, tapi jangan pulang larut malam ya, Paduka!" Chanyeol mengangguk sambil menunjukan sebuah senyuman.

"Hmmm.. ada syarat lain." Chanyeol menaikkan satu alisnya menatap Baekhyun bingung.

"Apa itu?"

"Uh.." Chanyeol tersenyum lebih lebar melihat Baekhyun yang memajukan bibirnya dengan begitu lucu, ia kemudian mengecup bibir Baekhyun, tapi setelahnya Baekhyun kembali menunjuk pipi kirinya membuat Chanyeol terkekeh melihat tingkah menggemaskan Baekhyun. Satu ciuman mendarat disana, tapi Baekhyun kembali menunjukan pipi kanannya, dan tingkah itu kembali membuat Chanyeol terkekeh namun ia menuruti kemauan yang lebih kecil.

"Disini belum." Tunjuk Baekhyun pada keningnya. Chanyeol yang tidak bisa menahan kegemasannya, segera menarik wajah Baekhyun dan menyambar bibir tipis itu, melumatnya pelan dan dalam membuat Baekhyun tersenyum dalam ciuman mereka.

"Selamat tinggal, Paduka." Ucap Baekhyun sambil melambaikan tangannya pada Chanyeol. Chanyeol yang berdiri di dekat kereta kuda Baekhyun hanya bisa tersenyum sambil ikut melambaikan tangannya. Baekhyun masih mengeluarkan kepalanya dari dalam jendela kereta kuda, membuat Sehun mengetuk-ngetuk bagian badan kereta kuda dengan memasang wajah malas.

"Masuklah!" Ucap Chanyeol mengerti ketidaknyamanan Sehun akan sifat kekanakan Baekhyun.

"Paduka~" entah mengapa Baekhyun merengek lagi, kali ini dengan bibir dimajukan dan menatap Chanyeol dengan wajah bersedih. Chanyeol menghela nafas sambil tersenyum, memaklumi segala sifat manja yang dimiliki oleh suami kecilnya.

"Baiklah! Sepertinya kita harus segera kembali, Paduka aku mohon pamit." Sehun membungkuk untuk memberikan hormat sebelum akhirnya melompat keatas kudanya dan membawa keduanya pada bagian depan kereta.

"Jangan lama-lama ya!" suara merajuk itu sungguh membuat kesabaran Chanyeol diuji, Baekhyun terlihat begitu polos dan menggemaskan diwaktu yang bersamaan.

"Ya sayang." Lalu Chanyeol mendekat dan memberikan sebuah kecupan dibibir Baekhyun, ketika Baekhyun ingin mencicipi bibir sang raja lebih lama, kereta telah dibuat berjalan atas perintah Sehun membuat bibir Baekhyun yang masih mengerucut ingin dicium menjauh dari milik sang raja.

Chanyeol kembali menggeleng pelan melihat wajah cemberut Baekhyun yang masih berada diluar jendela dan terus menatapnya seperti seekor anak anjing yang dipisahkan dari pemiliknya.

"Aku mencintai, Paduka." Baekhyun berteriak membuat beberapa penjaga menoleh tidak percaya. Chanyeol kembali terkekeh dan menjawab dalam bisikan sebagai balasan atas pernyataan cinta yang lebih kecil.

Chanyeol melangkah dengan sedikit perasan lega karena satu masalah telah terselesaikan. Tugasnya sebagai seorang suami telah usai, dan kini ia harus kembali menyelesaikan tugasnya sebagai seorang petinggi Negara.

Ketika memasuki ruang rapat ia mendapati para raja dan ratu sedang membuat diskusi kecil, Chanyeol mengedikan kepalanya sebagai bentuk hormat ketika yang lain menyadari kehadirannya.

"Maafkan atas ganggung kecil tadi, sekarang mari kita lanjutkan pada topik berikutnya!" Para raja lain mengangguk dan kembali pada tempat duduk mereka semula sebelum Raja Younghwa membuka sebuah kertas yang diberikan oleh seorang pelayan istana.

"Isu kali ini…." Ia menghentikan acara membaca, lalu melirik Chanyeol sekilas dan hadirin lainnya yang masih menantikan para pelayan membagikan kertas yang serupa.

"…..tentang Kerajaan Northwest." Belum sempat Chanyeol membuka dan membaca kertas yang baru ia dapatkan, ia sudah dikejutkan dengan ucapan Raja tampan itu. Mata bulat Chanyeol membulat lebih lebar sambil tetap menatap kearah Younghwa yang hanya menatapnya balik.

Dengan gerakan cepat Chanyeol membuka kertas di tangannya dan matanya melebar membaca deretan tulisan disana, mengenai isu yang sedang meresahkan masyarakat karena disana tercantum nama kerajaannya, beserta nama Ratu-nya, Baekhyun.

..

.

Baekhyun menatap kearah langit malam melalui jendela kamarnya, sepasang mata menawan itu menatap pada bulan yang nyaris berbentuk bulat sempurna. Sesekali ia mendengus dan melirik kearah pintu. Ia mengetuk-ngetukkan jemarinya pada bingkai jendela dengan bibir dikupas keluar.

"Ah~ membosankan." Ucapnya, kemudian ia melirik kearah keranjang bayinya dan disana Chanhyun tengah tertidur nyenyak membuat Baekhyun semakin diserang rasa bosan.

Dengan menghela nafas lelah dan kaki yang ia seret paksa, ia mendekat kearah Chanhyun yang setia terlelap sambil menghisap jemarinya. Ia menatap wajah tampan putranya dan kemudian jemari telunjuknya terjulur untuk membuat sebuah goresan-goresan lembut pada permukaan wajah Chanhyun.

Baekhyun terkikik atas apa yang ia lakukan, lalu sebuah ide terlintas dikepalanya, ia melihat sekitar dan akhirnya berlari kearah lemari peralatan di sudut ruangan. Matanya sibuk mencari sesuatu, hingga akhirnya ia menemukan benda yang ia cari.

Sambil memasang wajah tersenyumnya, ia segera berjalan menghampiri keranjang tidur Chanhyun dengan tangan memegang peralatan melukisnya.

"Ayo kita lukis wajah putih dan tembam ini. Hihihi.." Baekhyun terkikik sambil mulai mengeluarkan isi cat air dari kemasannya lalu menorehkan permukaan kuasnya pada wajah sang buah hati.

Pertama ia membuat dua buah lingkaran di sekitar mata Chanhyun hingga membuat ia tertawa seorang diri melihat betapa lucunya wajah putranya saat ini.

"Mirip panda…hihihi…" tawanya sambil kembali menorehkan kuasnya, kini pada bagian bawah hidung Chanhyun dan membuat empat garis halus yang berlawanan.

"Meoww… Chanhyunie sekarang seperti anak kucing…hihihi…" lagi bocah lelaki itu tertawa geli atas apa yang ia lakukan, hingga akhirnya ia membuat sebuah lingkaran merah pada ujung hidung Chanhyun.

"Woaah…kau…hahahaha…lucu…hahahah…" tawanya ia usahakan tidak membangunkan bayinya yang masih tertidur lelap.

..

.

Suara roda kereta yang melewati beberapa medan jalanan yang rusak hingga membuat kereta itu terlonjak beberapa kali tak membuat Chanyeol tersadar dari lamunannya. Pikiran itu terus menggerogoti dirinya, hingga ia merasa buntu atas tindakan yang harus ia ambil setelahnya.

Rapat tadi berakhir dengan cukup baik, beberapa isu yang sedang menyebar di masyarakat berhasil mereka sikapi dengan bijaksana, hanya saja satu isu membuat Chanyeol benar-benar kehilangan akal sehatnya. Isu mengenai kerajaannya, mengenai sesuatu yang paling penting dalam hidup Chanyeol selain tahta dan putra mahkota, yaitu lelakinya.

"Rakyat menginginkan penurunan jabatan untuk Ratu Baekhyun, karena mereka menganggap seorang anak kecil tak pantas menjadi Ratu, anak kecil hanya tahu tentang bermain, sedang urusan kerajaan bukanlah sebuah permainan."

Chanyeol masih ingat apa yang Raja Younghwa bacakan melalui lipatan kertas yang dibagikan pada mereka tadi. Ia tidak mengerti mengapa setelah masa-masa tenang mengenai posisi Baekhyun, kini mereka lagi-lagi mempertanyakan tentang kepantasan Baekhyun.

Chanyeol sangat tahu bahwa Baekhyun hanya seorang bocah lelaki yang tidak mengerti mengenai tahta dan sebagainya, ia pun tahu bahwa diusianya kini, Baekhyun lebih pantas untuk menjadi seorang pelajar ketimbang seorang Ratu.

Tapi apa bedanya dengan dirinya dulu, dengan para Raja-Raja terdahulu yang sudah mengemban tugas mereka dalam usia yang masih belia, meski memang tidak semuda Baekhyun.

Chanyeol pertama kali menerima tahtanya ketika ia berumur 21 tahun dan itu masih tergolong muda, meski tidak bisa disandingkan dengan Baekhyun yang hanya berusia 15 tahun, tapi tetap saja mereka masih sama-sama muda ketika mendudukan posisi penting itu.

Lalu Chanyeol mulai memikirkan bagaimana dulu ia berusaha keras untuk mempertanggung jawabkan semuanya dan nyatanya hasil tak pernah mengkhianati proses. Chanyeol pikir siapapun bisa melakukan tugas yang berat sekalipun meski mereka masih muda, yang terpenting adalah sebanyak apa ia mau berubah.

Dan atas dasar pertimbangan itu membuat Chanyeol tetap mempertahankan keputusannya, namun mereka tidak pernah mau mengerti akan itu, kebanyakan hanya ingin menerima hasil tanpa mau menghargai proses dan kini hal itu menciptakan isu baru yang mengancam keberadaan Baekhyun.

Chanyeol tak masalah jika kepimpinannya yang dibicarakan atau bahkan dikritik, namun ketika itu menyangkut Baekhyun maka Chanyeol tidak bisa tinggal diam, namun ia tidak tahu bagaimana cara meredakan isu itu. Ia bisa saja menjatuhi hukuman bagi siapapun yang menyebarkan isu itu, namun Chanyeol akan terlihat kurang membela rakyatnya dan terlalu memberatkan satu sisi. Atau ia bisa saja meminta Tuan Lee untuk memperketat pembelajaran Baekhyun, namun ia tidak tega untuk melenyapkan senyum ceria Baekhyun.

Pemikiran-pemikiran itu semakin menggerogoti dirinya, hingga ia tak menyadari bahwa keretanya telah memasuki halaman istana dan berhenti tepat di depan pintu utama, jika saja ketukan dari pelayannya tak cukup keras untuk indra pendengarannya ia tangkap.

Chanyeol melangkahkan kakinya memasuki sisi terdalam istana dan membawanya segera menuju kamarnya untuk beristirahat sekaligus menemui suami kecilnya yang sudah berpesan padanya untuk tidak pulang larut malam.

Bahkan karena pesan itu membuat Chanyeol terpaksa meminta Raja lainnya untuk dengan segera menyelesaikan apa yang mereka bicarakan, dan memilih pulang lebih awal ketika rapat usai dan mereka masih memilih untuk melakukan obrolan-obrolan kecil.

Pintu terbuka dan yang ia dapati adalah tubuh terkejut Baekhyun yang berdiri disamping keranjang bayinya.

"Ah, Paduka pulang!" Baekhyun tersenyum senang dan berlari kearah Chanyeol. Chanyeol tersenyum dan membiarkan tubuhnya dipeluk oleh yang lebih kecil.

"Aku menepati janjiku kan?" Baekhyun mengangguk pelan lalu berjinjit untuk mengecup bibir Chanyeol.

"Sini biar aku bukakan!" ucap Baekhyun yang segera melepaskan jubah Kerajaan Chanyeol dan berjalan kesudut untuk menggantungkannya.

"Bagaimana rapatnya?" tanya Baekhyun sambil membawakan segelas air putih untuk Chanyeol yang duduk di sisi ranjang.

"Ini Paduka."

"Berjalan seperti seharusnya." Baekhyun mengangguk dan duduk disamping Chanyeol sambil memperhatikan Chanyeol menegak minuman yang Baekhyun berikan. Baekhyun tersenyum ketika Chanyeol usai menghabiskan air di dalam gelasnya, lalu menatap wajah Baekhyun yang terlihat begitu ceria.

"Ada apa?" tanya Chanyeol. Baekhyun tersenyum kembali dan menggeleng. Chanyeol tersenyum lembut dan mengelus rambut hitam Baekhyun, membuat yang lebih kecil menggosokkan pipinya pada tangan besar Chanyeol.

"Jangan mengkhawatirkan apapun mulai sekarang, kau mengerti?" ucap Chanyeol pada Baekhyun, yang lebih kecil mengangguk paham membuat senyuman Chanyeol tercetak di wajah lelahnya.

Chanyeol kembali menatap Baekhyun, ia merasa yakin jika dirinya mampu membuat Baekhyun menjadi lebh dewasa. Kedewasaan hanya masalah waktu dan pengalaman, jadi ia berpikir jika dirinya dengan perlahan melatih Baekhyun maka semakin lama Baekhyun akan layak menjadi seorang Ratu seperti yang diinginkan para rakyatnya.

Tapi kini senyuman Baekhyun membuat sebuah kecurigaan menghampiri sang raja, ia kembali menatap Baekhyun membuat Baekhyun menahan senyumannya lebih lama.

"Ada apa?" tanya Chanyeol penasaran, Baekhyun akhirnya tertawa terbahak-bahak dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang membuat Chanyeol semakin kebingungan. Ketika akan menyentuh pundak yang lebih muda, suara rengekan Chanhyun membuatnya terhenti. Raja tampan itu bangkit mendekati keranjang bayi putranya dan ketika memajukan kepalanya ia dikejutkan dengan rupa putranya yang terlihat seperti badut.

"Baekhyun?" seruan Chanyeol membuat tawa Baekhyun terhenti, lelaki mungil itu bangkit sambil mengusap air matanya dan berdiri disamping Chanyeol lalu dalam hitungan detik kembali tertawa terbahak melihat wajah Chanhyun.

"Dia lucu kan Paduka, hahahaha… aku sungguh tidak bisa berhenti tertawa." Chanyeol melirik Baekhyun sejenak lalu kembali menatap putranya yang benar-benar terlihat konyol, dan pemikiran itu kembali membentuk cabang dikepalanya.

"Baekhyun, ini sungguh tidak lucu. Jangan lakukan ini lagi pada putra mahkota, kau mengerti?" Baekhyun terdiam dengan kening berkerut sambil menatap bingung pada Chanyeol yang berjalan kearah pintu sambil mendekap putranya.

Tak lama dua orang pelayan masuk dan segera mengambil alih Chanhyun meskipun mereka cukup terkejut akan rupa sang putra mahkota. Chanyeol menghela nafas sambil berjalan ke meja kerjanya sementara Baekhyun hanya mengekor dibelakangnya dengan bibir dikerucutkan.

"Apa itu tidak lucu bagi Paduka?" Chanyeol melirik Baekhyun yang berdiri disamping kursi yang sedang ia duduki dan segera menggeleng. Baekhyun menundukan wajahnya sambil memainkan jemarinya membuat Chanyeol merasa begitu iba.

"Maafkan aku." Bisikan Baekhyun nyatanya mampu didengar oleh Chanyeol dan itu membuat hati kecilnya tersentuh, ia benar-benar tak tega untuk memarahi makhluk kecil seperti Baekhyun.

"Tidak, aku tidak mempermasalahkannya, tidak perlu meminta maaf. Kau tidurlah! Ini sudah larut!" Baekhyun tersenyum lalu mengecup pipi Chanyeol pelan.

"Ayo~ Paduka tidur juga!" rengek Baekhyun tanpa memperdulikan dua pelayan yang nampak sungkan di tengah acara membersihkan wajah Chanhyun.

"Ya, aku akan mandi dulu." Baekhyun mengangguk lalu berjalan kearah ranjang sambil memperhatikan dua pelayan yang membersihkan wajah putranya sementara Chanyeol berdiri di depan pintu sambil menatap Baekhyun yang nampak lucu dengan posisi tengkurapnya dan memainkan pipi putranya. Ia menghela nafas sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi.

..

.

Chanyeol membanting lipatan kertas yang baru saja ia terima dari salah satu pelayanannya keatas meja yang mana hal tersebut membuat Tuan Lee menundukan kepalanya dalam. Otot disekitar rahang Chanyeol mengeras dan sorot matanya tersirat amarah dan lelah.

"Paduka?"

"Tuan Lee, apa isu ini semakin berkembang?" Dengan berat hati Penasehat setia itu mengangguk pelan membuat Chanyeol menutup matanya dalam.

"Paduka~" suara melengking itu membuat keduanya menoleh kearah pintu, dimana sosok Baekhyun masuk sambil dengan kesusahan membawa sebuah benda besar di tangannya. Kening Chanyeol mengernyit dalam, ia mengenal benda itu, benda yang selalu Baekhyun mainkan namun kali ini ukurannya sungguh sangat besar.

"Paduka, lihat, apa yang telah aku buat! Layangan raksasa." Ucapnya sambil mengeluarkan kepalanya dari balik layangan yang nyaris menutupi tubuhnya. Sosok itu memperlihatkan gigi putihnya dan dengan bangga menggoyangkan hasil karyanya.

"Uhm, jika paduka tidak sibuk maukah paduka bermain ini bersamaku?" tanya Baekhyun sambil menatap Chanyeol penuh harap. Chanyeol terdiam sejenak sebelum akhirnya melirik Tuan Lee yang hanya semakin menundukan kepalanya, melihat itu Baekhyun mengurungkan niatnya.

"Baiklah, aku mengerti paduka sibuk. Aku akan memaksa kedua jendral itu untuk menemaniku. Kalau begitu aku permisi paduka." Baekhyun berucap riang sambil mencoba membalik tubuhnya.

"Baekhyun!" panggilan itu membuat langkah Baekhyun terhenti, dengan senyum sumringah ia menoleh berharap bahwa Chanyeol berubah pikiran. Chanyeol nampak begitu tegang, ia sesekali melirik Tuan Lee dan nyatanya itu ditangkap lagi oleh Baekhyun membuat tanda tanya besar bersarang dikepalanya.

"Mulai sekarang tidak ada lagi layangan." Baekhyun seketika terdiam, ia menatap bingung dua orang di depannya.

"Tapi kenapa?" Chanyeol terdiam tak mampu menjawab pertanyaan si kecil yang terlihat begitu sedih. Melihat sorot mata Chanyeol, Baekhyun pun mencoba mengerti dengan keadaan Rajanya.

"Baiklah, tidak ada layangan. Aku mengerti bahwa hal ini akan membahayakanku kan? Aku mengerti paduka, tidak ada layangan. Lagipula aku masih memiliki banyak mainan, ada ketapel, ada pemancing, ada_"

"Tidak ada mainan lagi Baekhyun-ah." Bibir Baekhyun seketika terkatup, ia menatap bingung kearah Chanyeol. Jemari lentiknya yang melingkar disepanjang bambu layangan yang ia buat gemetar, bahkan luka-luka irisan bambu itu tak lagi terasa perih baginya.

"Ke-kenapa?" tanya Baekhyun dengan wajah terpukul. Chanyeol menutup mata dan menyandarkan kepalanya pada kursi sementara air mata Baekhyun sudah membendung di kelopak matanya.

"Pergilah! Kembalilah ke kamarmu!"

"Tapi kenapa?" Baekhyun membentak keras dan di detik berikutnya ia pun terkejut dengan suaranya yang meninggi. Chanyeol yang telah membuka matanya hanya menatap sosok itu dalam diam.

"Kembalilah!" Baekhyun berlari cepat meninggalkan ruangan Chanyeol dengan layangan raksasa yang baru saja ia buat membuat Chanyeol mengusak wajahnya frustasi.

Baekhyun berlari sambil mengusap air matanya membuat para pelayan dan penjaga yang melihatnya merasa heran. Jongin dan Sehun yang berjalan dari arah berlawanan pun terkejut melihat Baekhyun menangis sambil berlari.

"Ada apa dengannya? Apa Paduka tidak memberikannya permen?" ucap Jongin mengejek. Sehun menatap punggung sempit Baekhyun yang telah menjauh lalu menghela nafas.

"Aku rasa waktunya telah tiba."

..

.

Baekhyun masih terisak di dalam kamarnya, wajahnya ia tenggelamkan diatas bantal untuk meredam suara tangisannya. Ia memang telah berjanji untuk tidak menjadi anak yang cengeng lagi, namun tak bisa ia pungkiri jika perasaannya terluka saat Chanyeol membentaknya dan bersikap dingin yang tidak seperti biasanya.

Akhirnya satu tarikan nafas panjang ia lakukan dengan wajah ia baringkan kesamping, masih berlinang air mata dengan sorot pandang menatap tepat kea rah ranjang bayinya. Chanhyun sedang tertidur dan Baekhyun tak ingin putra kecilnya terganggu karena tangisannya.

Pikirannya menerawang jauh ketika Chanyeol begitu menyayanginya dulu, menuruti segala keinginannya hingga segala pemikiran itu membawanya pada sebuah pemikiran lain bahwa Chanyeol tak menyayanginya lagi karena ia telah berhasil memberikan keturunan untuk Raja itu.

"Apa setelah ini aku akan dikembalikan ke desa?" bisiknya pelan hampir tersamarkan oleh suara isakannya. Entah mengapa ia merasakan sebersit ketakutan meskipun rasa kecewanya lebih mendominasi.

Kembali ia menangis, merasa bahwa dirinya tak lagi diinginkan, merasa bahwa ia seperti telah dibuang karena Chanyeol telah mendapatkan apa yang ia inginkan, karena putranya akan genap berusia 1 tahun. Isakannya semakin terdengar sayu, hingga perlahan terganti oleh suara dengkuran halus si lelaki mungil.

..

.

Chanyeol menatap kosong pada meja kerjanya sementara Tuan Lee hanya berdiri dibelakangnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun sejak beberapa waktu yang lalu. "Tuan Lee, apa langkah yang aku ambil kali ini salah?" Tuan Lee tersadar dari lamunannya dan berdeham pelan, ia pun tidak tahu harus memberikan respon apa pada Sang Raja. Di satu sisi ia tidak menyalahkan Chanyeol karena tekanan dari para rakyat mengharuskan sosok baik itu mengambil langkah ini, namun disatu sisi ia begitu mengasihani Sang Ratu yang bahkan masih cukup belia.

"Tidak Paduka tapi_"

"Aku harus melakukan ini bukan untuk rakyatku tapi juga untuk mendidiknya menjadi lebih dewasa." Penasehat kerajaan itu terdiam, menundukan wajah sambil menghela nafas pelan, sementara Chanyeol segera bangkit dari posisinya secara tiba-tiba menciptakan deritan pada lantai ruangan.

"Aku akan membicarakan ini padanya." Ucap Chanyeol sambil segera berlalu.

Ketika ia tiba di depan pintu kamarnya, ia meminta para pelayan dan pengawal untuk tak mengikutinya ke dalam. Ketika pintu terbuka yang ia lihat pertama adalah sosok Baekhyun yang meringkuk diatas ranjang mereka dengan pundak bergerak secara teratur. Sosok itu begitu mungil dan rentan, membuat Chanyeol ingin sekali memeluknya, mendekapnya dengan sepenuh jiwanya.

"Baekhyun?" bisik Chanyeol memanggil nama lelakinya yang setia memajamkan mata. Chanyeol berjongkok di depan Baekhyun dan berulang kali mengelus surai kehitaman lelaki itu. Chanyeol merasa begitu bersalah ketika melihat bekas-bekas air mata yang masih tertinggal di pipi putih sosok di depannya.

"Maafkan aku, aku harus melakukan ini Baekhyun." Bisik Chanyeol lagi, seolah dirinya bicara pada Baekhyun yang memang sedang tersadar.

"Sebagai seorang Raja aku harus bisa memenuhi keinginan para rakyatku, dan sebagai seorang suami aku harus tetap melindungimu. Aku harus bersikap adil untuk kalian, mungkin bagimu ini sebuah ketidakadilan, mungkin setelah ini kau akan marah padaku. Tapi sayang, aku melakukan ini demi dirimu juga." Chanyeol menyatukan kening keduanya, sambil merasakan terpaan nafas hangat di depan wajahnya.

"Maafkan aku Baekhyun, maaf karena aku harus memilih jalan ini, maaf jika ini akan menyakitimu. Chanhyun sebentar lagi berusia 1 tahun dan setelah ini rakyat akan meminta banyak darinya. Maafkan aku, selamat tidur." Usai mengecup bibir terkatup Baekhyun, Chanyeol segera bangkit menuju ke lemari pakaian mereka dan tak lama kedua mata terpejam Baekhyun terbuka, air matanya mengalir namun ia mencoba menahan isakannya.

"Aku mengerti Paduka, aku mengerti bahwa Paduka harus mengembalikanku. Tapi sebelum kepergianku aku akan menjadi anak yang baik untuk Paduka." Ucapnya dalam hati sambil menatap hamparan langit malam dibalik jendela kamar mereka.

..

.

Ketika membuka mata di pagi hari hal yang Chanyeol tangkap pertama kali adalah sosok Baekhyun yang berdiri di depan kerangjang bayinya sambil menimang putra mereka. Ia tersenyum kecil melihat betapa sisi keibuan Baekhyun terpancar meskipun lelaki muda itu terlihat kesulitan untuk menggendong bayi mereka yang semakin besar.

"Uggh..ughh.." Baekhyun menoleh ketika putranya meronta dan mencoba meraih sesuatu dibelakangnya dan itu adalah ayahnya.

"Oh, Paduka sudah bangun? Kau ingin bersama Paduka?" tanya Baekhyun meskipun tak mendapat jawaban dari putranya yang masih meronta menginginkan Chanyeol.

"Selamat pagi Paduka, bagaimana tidur Paduka?" tanya Baekhyun sambil menggerakan tangan Chanhyun seolah putranya yang bicara. Chanyeol meraih putranya yang begitu menginginkannya, namun matanya setia menatap mata sembab Baekhyun yang coba ia sembunyikan dari balik senyum cerahnya.

"Kau bangun pagi sekali." Baekhyun duduk disamping Chanyeol sambil tersenyum lebar, jemarinya mengelus rambut lebat putranya yang berada dalam dekapan Chanyeol.

"Chanhyunie merengek dan sudah haus pagi-pagi sekali, jadi aku harus memenuhi kemauan si putra mahkota nakal ini." Ucap Baekhyun sambil mencolek hidung putranya yang kini memainkan jemari Chanyeol.

"Apa asimu keluar dengan baik?"

"Meski tidak sebanyak dulu, tapi setidaknya cukup untuk membuat tangisannya berhenti. Oh apa paduka ingin sarapan dulu atau mandi? Biar aku panggilkan pelayan."

"Baekhyun." Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang hendak berjalan kearah pintu. Tubuh Baekhyun menegang, ia tahu mereka akan terlibat percakapan serius, jujur ia belum siap namun ia tak bisa juga menghindari Sang Raja.

"Duduklah!" Baekhyun menuruti Chanyeol, namun maniknya sama sekali tidak berani menatap yang lebih tua.

"Nanti siang Tuan Lee ingin mengajakmu berkeliling istana, sekaligus membicarakan sesuatu hal penting." Baekhyun terdiam, berbagai macam pemikiran memenuhi kepalanya.

"Ke-kenapa tumben sekali?" tanyanya berusaha menahan getaran pada nada suaranya. Chanyeol mengangkat tubuh Chanhyun tinggi membuat bayi itu seolah terbang hingga Chanhyun tertawa terbahak.

"Mungkin Tuan Lee merindukanmu." Canda Chanyeol, namun hal itu tidaklah menghibur Baekhyun melainkan semakin membuat ketakutannya bertambah. Ia lalu mengingat janji yang telah ia buat semalam, bahwa ia akan menjadi anak yang baik sebelum kepergiannya.

"Baiklah Paduka, aku akan menemui Tuan Lee nanti." Ucapnya sambil tersenyum. Chanyeol mengangguk dan mengalihkan matanya pada sang putra yang berada diatas tubuhnya, sementara Baekhyun semakin perlahan menghilangkan senyumannya meskipun ia tetap berusaha agar kekecewaannya tak terpancar pada wajahnya.

..

.

Baekhyun menundukan wajahnya, menatap lekat pada setiap lantai yang ia pijak. Sesekali ia menghela nafas dan sesekali pula menganggukan kepala seolah memberikan kekuatan pada dirinya.

"Aku rasa itu tidak sulit, iya tidak sulit Baekhyun, kau pasti bisa. Aku harus membuat Paduka senang disaat-saat terakhirku." Ucapnya seorang diri sebelum akhirnya berhenti tepat di depan ruang kerja Chanyeol.

Matanya jatuh pada pintu Sang Raja yang tertutup rapat dengan dua orang penjaga di depan yang segera memberikan hormat padanya. Bibirnya membentuk sebuah senyuman kecil mengingat ketika pertama kali ia memasuki ruangan itu sebagai bocah lelaki desa yang tidak mengetahui apapun sama sekali. Pikiran itu membawanya pada sebuah sengatan kecil di sudut hatinya yang membuat air matanya membendung begitu saja di kelopak mata sipitnya.

Ia menarik mundur langkah kakinya yang semula menuju ruangan Sang Raja, berjalan kembali menuju kamarnya dengan sebuah harapan yang coba ia pendam.

….

..

.

Kyungsoo tidak mengerti dengan dirinya. Apa yang ia lakukan tidak sejalan dengan yang ia pikirkan dan rasakan. Seperti saat ini, ia hanya mematung di tengah keramaian pasar siang dengan mata yang tertuju pada dua sosok yang sedang berbelanja bersama.

Pikirannya memintanya pergi meninggalkan tempat itu, namun hatinya meraung menginginkan dirinya menghampiri dua sosok itu. Kyungsoo tidak mengerti kenapa hatinya terus berdenyut tiap kali melihat senyuman Jongin di depan sana yang terlihat begitu cerah mengalahkan sinar matahari. Denyutannya sungguh tak menyenangkan, rasanya sakit dan matanya memanas.

Otak cerdasnya tak lagi bisa berpikir jernih, apalagi ketika dua sosok itu berjalan semakin dekat kearahnya. Ia ingin pergi tapi kakinya seolah terpaku ditempatnya berdiri.

"Oh, Kyungsoo-ah?" Suara Soyou tak juga mampu membuat pikirannya kembali, mata bulatnya hanya menatap takut pada Jongin yang juga mendekat kearahnya.

"Kyungsoo! Kyungsoo? Do Kyungsoo?" bentakan Soyou akhirnya mampu menarik kembali jiwanya yang seolah menghilang.

"Kau kenapa?" tanya Jongin sedikit cemas, ketika tangan itu menggetarkan pundaknya ketika itu Kyungsoo memundurkan langkahnya tanpa ia sadari.

"Maaf, aku harus pergi." Ucap Kyungsoo lalu berlari menjauhi keramaian. Soyou merengut di tempat tidak mengerti lalu matanya tertuju pada sebuah kantung belanjaan yang tergeletak di atas tanah.

"Ouh, apa ini?" ucap gadis itu dan membongkar isinya.

"Ck, anak itu tidak biasanya seceroboh ini."

"Berikan padaku, aku akan mengembalikannya. Apa kau bisa pulang terlebih dahulu? Aku akan menyusul nanti." Soyou mengangguk ragu dan setelahnya Jongin berlari dengan sebuah kantung ditangannya.

Kyungsoo masih berlari seolah sesuatu mengejarnya, ia tidak mengerti dengan dirinya yang ia tahu ia hanya ingin melarikan diri dari dua orang yang baru saja ia temui. Kaki pendeknya berlari semakin jauh, tidak memperdulikan beberapa orang yang menghujatnya karena tabrakan kecil yang terjadi. Ia telah memasuki desanya, berlari di sebuah jalanan sepi yang menuju kerumahnya.

BRUK

Ia nyaris terjungkal ketika tubuhnya menabrak sesuatu yang keras yang juga meremas erat lengannya.

"Yak, Kyungsoo-ah." Kyungsoo mendongak dan mendapati Sehun berdiri di depannya. Ia menoleh sekitar dan baru menyadari jika ia sudah sampai di depan pagar rumahnya. Sehun menatap sosok terengah di depannya yang terlihat kebingungan.

"Apa yang terjadi? Ada penjahat yang menganggumu?" Kyungsoo menggeleng pelan masi dengan nafas terengah.

"Sehun aku takut" ucapnya dengan suara gemetar.

"Apa yang kau takutkan?" tanya Sehun dengan sorot pandang penuh kecemasan melihat pandangan Kyungsoo yang bergerak acak.

"Jatuh cinta. Aku takut Sehun, aku tak ingin jatuh cinta." Sebelum tubuh Kyungsoo bergetar lebih hebat, Sehun telah memeluknya semakin erat.

Tak jauh dari mereka sebuah sosok terdiam di tempatnya dengan tangan meremas keras pada kantung yang ia pegang. Dua sosok yang tengah berpelukan mesra di depannya membuat sebuah tekad semakin bulat di dalam dirinya. Ia tersenyum untuk sang sahabat dan sosok yang ia cintai, untuk kebahagiaan mereka. Jongin mengusak rambutnya pelan sambil tersenyum lalu memilih meninggalkan dua orang yang masih berpelukan itu.

..

.

Sehun menutup pintu kamar Kyungsoo dengan sangat pelan bersamaan dengan matanya yang bersitatap dengan milik Nyonya Do.

"Dia sudah tidur?" tanya wanita itu cemas. Sehun mengangguk pelan sambil berjalan kearah yang lebih tua dan mengelus pundaknya.

"Ini semua salahku, seharusnya aku_"

"Tidak, ini bukan salah siapapun. Kyungsoo akan baik-baik saja, aku berjanji padamu." Ucap Sehun sambil memegang tangan bergetar wanita Do itu.

..

.

BRUK !

Baekhyun menatap tidak percaya pada tumpukan buku yang Tuan Lee letakkan diatas mejanya, bahkan ia terbatuk oleh debu berterbangan yang semula menyelimuti buku-buku tebal itu.

"Apa ini Tuan Lee?" Tanya Baekhyun dengan wajah kebingungan. Tuan Lee melirik Baekhyun sejenak, kemudian berdeham sambil berjalan menjauh, merasa iba pada sosok anak kecil seperti Ratunya kini.

"Buku." Baekhyun memutar bola matanya malas.

"Aku tahu, lalu untuk apa semua buku ini."

"Dibaca." Baekhyun meremas tangannya erat sambil menatap kesal sosok tua di depannya.

"Tuan Lee, aku sudah menganggapmu seperti kakekku sendiri, tapi kali ini aku sungguh-sungguh kesal denganmu." Tuan Lee menoleh dengan wajah terkejut, pertama karena ucapan Baekhyun yang kedua karena makna ucapan tersebut.

"Paduka Ratu, mulai sekarang anda harus membaca semua buku ini, dan…" pria tua itu menjeda ucapannya.

"….anda harus bisa mempraktekannya. Juga, aku telah menyiapkan seluruh jadwal latihan anda aku harap_"

"Aku mengerti." Potong Baekhyun cepat sambil segera mengambil salah satu buku tebal itu dan lagi terbatuk karena debu tebalnya.

..

.

Jongin tersenyum menatap tiga orang di depannya yang nampak begitu terkejut. Sebuah senyuman yang seolah mencibir pada kenaifan yang lain.

"Kau serius? Apa kau telah memikirkan hal ini secara matang?" tanya Chanyeol lagi menatap dalam pada sahabat kecil sekaligus Jendral setianya.

"Ya Paduka. Aku telah memikirkan ini matang-matang." Chanyeol menghela nafas, mengusak wajah lelahnya dan diluar dugaan ia terkekeh pelan.

"Kenapa ini terlihat seperti perlombaan? Dimulai oleh Luhan, lalu Sehun dan kini kau? Apa kalian sedang berkompetisi? Aku hanya ingin mengingatkan bahwa pernikahan bukanlah sebuah bahan candaan." Sehun menghela nafas sambil melempar pandangannya pada lantai, sementara Jongin melipat kedua lipatan bibirnya ke dalam.

"Paduka benar, tidakkah ada baiknya jika kalian memikirkan lagi tentang ini? Bagaimana pun kalian anggota Kerajaan setidaknya kalian harus mendapatkan pasangan hidup yang sederajat." Jongin dan Sehun menoleh tidak terima.

"Cinta bukan tentang kasta Tuan Lee." Ucap Sehun dingin, Tuan Lee menghela nafas sambil menggeleng pelan sementara Chanyeol hanya memilih bungkam.

"Jadi diantara kalian siapa yang akan lebih dulu menikah?" Sehun dan Jongin saling melirik untuk beberapa saat sementara Chanyeol hanya bisa kembali menggeleng pelan dalam helaan nafas yang berat.

..

.

"AKU!" Bentakan nyaring itu memenuhi ruangan. Sang kakak hanya bisa menutup matanya mencoba menahan amarah melihat sikap adiknya yang tidak pernah menjadi dewasa.

"Pikirkan lagi!" Ucap Kris sambil mengacungkan jari telunjuknya pada sang adik yang menatapnya nyalang, tanpa sopan santun sama sekali.

"Aku sudah memikirkannya, aku sudah membulatkan tekadku. Minggu depan aku sudah harus menikah."

"Luhan!" Kini Junmyeon yang mencoba menengahi, waspada jika sang suami akan bertindak diluar kendalinya.

"Kalian kenapa melarangku menikah? Kalian ingin aku menjadi perjaka tua selamanya?" Kris memutar bola matanya malas.

"Jika kalian tidak menikahkanku aku akan kabur."

"Lakukan jika itu membuatmu senang." Kris berjalan meninggalkan kamar berantakan yang menjadi sasaran kemarahan sang adik. Junmyeon menepuk pundak Luhan sebelum akhirnya meninggalkan kamar adik iparnya.

"Dan satu lagi." Kris menghentikan langkahnya yang berada di depan pintu.

"…Jangan lupa untuk datang ke pesta pernikahan Sehun." Seketika tubuh Luhan membeku. Saat pintu tertutup rapat ketika itu ia terhuyung kebelakang hingga membuatnya harus berpegangan pada meja disampingnya.

Luhan meremas erat tangannya, emosinya seolah ingin meledak tiap kali mengingat nama itu.

"Bajingan! Aku tak akan membiarkanmu menikah terlebih dulu." Ucap Luhan sambil melempar tubuhnya keatas ranjang dan menutupinya dengan selimut.

"

..

.

Sehun menundukan wajahnya menatap pemandangan istana dari balkon kamarnya, sementara Jongin memilih terdiam sambil memasang senyuman yang sulit diartikan.

"Ini konyol." Ucap Jongin membuka pembicaraan lebih dulu. Sehun terkekeh sambil melirik kearah sahabatnya.

"Sama. Paduka bilang pernikahan bukan sebuah candaan, tapi dia menyuruh kita melakukan suit sebagai penentunya." Keduanya mengangguk bersamaan, setuju akan ucapan masing-masing.

Jongin menghela nafas, lalu menarik dirinya menjauh dari besi pembatas balkon. Ia kemudian menepuk pundak Sehun sambil tersenyum layaknya pihak yang kalah namun tetap tersenyum sportif.

"Selamat untukmu kalau begitu." Ucapnya. Sehun menundukan arah pandangnya sambil tersenyum lagi.

"Jaga dia untukku!" ucap Jongin sebelum akhirnya melangkah menjauh.

"Jika begitu kenapa bukan kau yang melakukannya?" Jongin menghentikan langkahnya, raut wajahnya menunjukan sebuah keterkejutan, namun kemudian ia lagi-lagi tersenyum, senyuman yang begitu tulus dan lembut.

"Terlambat, Sehun-ah. Semua telah berlalu, mungkin kami memang tidak ditakdirkan bersama, mungkin dia adalah takdirmu." Sehun tersenyum menatap acak pada deretan pengawal yang berbaris di lapangan menunggu kehadiran mereka.

"Kau tahu? Kita tidak bisa menebak seperti apa takdir kita. Tapi…" Sehun berbalik, melangkah mendekat kearah sahabatnya.

"…aku akan memegang janjiku sebagai seorang pria untuk menjaganya." Jongin mengangguk.

"Dan satu lagi." Jongin kembali menoleh dengan wajah malas.

"Gadis itu gadis yang baik, jangan mempermainkan perasaannya, terlebih dia adalah saudari Ratu kita." Jongin lagi mengangguk sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan balkon istana.

..

.

Baekhyun merebahkan tubuhnya yang terasa lelah, tulangnya seolah remuk dan kakinya seolah meleleh dan tak bisa memijak tanah lagi. Ia pikir belajar dengan Tuan Lee akan lebih ringan daripada belajar dengan para guru yang dulu pernah mengajarinya, namun ia salah karena belajar dari seorang pria tua seperti Tuan Lee hanya sungguh menakutkan, karena siapa sangka sosok sabar seperti itu memiliki kedisiplinan tinggi.

"Hiks..Hiks.." Baekhyun yang semula ingin menutup matanya seketika menoleh pada keranjang bayi yang bergoyang. Ia menghela nafas dalam sebelum akhirnya bangkit dengan tubuh lelahnya.

"Huweee…Huwee…" tangisan Chanhyun semakin keras dan Baekhyun berjalan semakin cepat menuju kearah bayinya.

"Iya..iya…aku disini." Ucap Baekhyun sambil dengan cepat melepaskan kain penutup ditubuhnya. Dengan sedikit kesusahan Baekhyun mencoba mengangkatnya karena bobot tubuh Chanhyun yang semakin bertambah.

"Aww..!" Baekhyun menjerit ketika gigi Chanhyun menancap pada putingnya dan bayi itu menghisap dengan kuat.

"Kau ini tidak sabaran sekali ya." Ucap Baekhyun sambil berjalan menuju ranjang dan duduk disana. Ia memainkan jemarinya disepanjang kening Chanhyun, menyingkirkan rambut-rambut terurai diatas sana. Baekhyun tersenyum, menyadari bahwa Chanhyun telah semakin besar.

"Kau tumbuh dengan cepat ya?" ucap Baekhyun seolah putranya mengerti apa yang ia rasakan.

"Hyunie, apa menurutmu aku salah? Aku berpikir sepertinya aku tidak perlu menjadi orang lain. Aku rasa aku akan tetap bertingkah seperti ini…menyebalkan… seperti kata orang-orang. Lagipula untuk apa aku menjadi orang lain di sisa terakhirku di istana ini? Iya kan?" tak ada jawaban selain hanya suara tegukan dan hisapan cepat dari Chanhyun.

"Menurutmu bagaimana? Apa aku benar?"

PLOP

Baekhyun meringis ketika gigi susu Chanhyun menggores kulitnya. Bayi itu mendongak menatap kearahnya membuat Baekhyun terkejut. Tak ada suara yang terdengar hanya sebuah tatapan dalam dari si bayi kepada ibunya seolah ia mengerti betul akan apa yang Baekhyun rasakan.

"Aku anggap kau menyetujui ucapanku, nah sekarang minum lagi. Aku lelah, ingin tidur cepat." Ucap Baekhyun sambil mendekatkan putingnya dan Chanhyun pun kembali menyusu padanya.

Ketika Chanyeol memasuki kamar hal pertama yang ia lihat adalah Baekhyun yang tertidur pulas diatas ranjang dengan Chanhyun yang memeluk tubuhnya. Chanyeol tersenyum sejenak namun memilih untuk segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selama ia merendam tubuhnya di dalam kolam, ia kembali memikirkan hari ini dan apa yang telah ia lewati seharian penuh.

Ia terbiasa melakukannya, Chanyeol bilang itu adalah sebuah renungan dipenghujung hari. Chanyeol merasa tubuhnya lelah, bahkan pikirannya juga sama lelahnya. Mulai dari Jongin yang tiba-tiba ingin menikah, bahkan calon pengantinnya adalah saudara iparnya lalu Sehun yang akan menikah dalam waktu dekat, hingga Baekhyun. Chanyeol tidak mengerti ketika ia mengingat nama lelaki mungilnya itu ia akan kembali diserang rasa bersalah, namun sekali lagi ia harus melakukannya demi masa depan Baekhyun.

Chanyeol kembali ke dalam kamar dan mendapati Baekhyun yang kini memeluk tubuh Chanhyun, sekali lagi sebuah senyuman tercetak dibibirnya. Chanyeol bersyukur karena Tuhan menghadirkan dua sosok malaikat untuknya.

..

.

Baekhyun menutup matanya erat, mencoba menahan air mata yang akan keluar. Ia tidak boleh terlihat lemah meskipun dihadapannya kini adalah Tuan Lee yang telah menjelma menjadi iblis.

"Hapalkan lagi sampai tak ada kata terbata yang keluar!" ucap Tuan Lee lalu bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan. Baekhyun membuka matanya dan menatap kertas di depannya.

Ia merasa dirinya tak sanggup harus menghapalkan silsilah kerajaan, beserta peraturan-peraturan di dalam Kerajaan. Ia melihat sekitar, sebuah ruangan baca yang tidak cukup luas. Ruangan itu adalah ruangan mendiang Raja terdahulu dimana Chanyeol juga sering belajar disana ketika ia masih muda dulu.

Baekhyun menatap lukisan-lukisan para Raja dan Ratu mereka disetiap dinding dan matanya terhenti pada lukisan Chanyeol yang terlihat begitu gagah berdiri seorang diri sambil memegang pedangnya. Sebuah perasaan sedih menghampiri Baekhyun ketika ia sadar bahwa disana hanya ada lukisan Chanyeol, satu-satunya Raja yang tidak didampingi Ratunya.

"Aku Ratu kan disini?" gumannya pelan. Wajahnya tertunduk dan menatap pada deretan peraturan di depannya, hingga tangan kecilnya mengusap matanya dengan cepat tak ingin air matanya jatuh dan mengotori kertas tak bersalah di depannya.

"Ya, setidaknya aku pernah menjadi Ratu disini." Gumamnya sambil mencoba tersenyum.

Melelahkan.

Baekhyun tahu ia merasa begitu lelah dengan semua kegiatan yang dirancang untuk dirinya. Tapi yang Baekhyun tak mengerti apa tujuan dari semua itu, apa Chanyeol benar-benar ingin membuatnya menjadi sosok yang lebih baik seperti kata Tuan Lee atau karena Chanyeol ingin mengusirnya secara halus.

Hari-hari terus berlalu, Baekhyun merasa ingin mundur dan angkat kaki dari istana bila itu yang Chanyeol inginkan, namun yang ia inginkan adalah Chanyeol mengatakan langsung kepadanya, bukan menyiksanya secara perlahan.

"Ikut aku!" Baekhyun mencibir sambil mengikuti langkah Sehun. Ia sedang belajar di dalam ruang baca ketika Sehun datang dan memintanya ikut. Baekhyun terdiam ketika dirinya di bawa masuk ke dalam sebuah ruangan. Lelaki muda itu hanya melihat sekeliling dan segera tahu jika itu adalah ruang latihan.

"Apa yang akan_"

"Ganti pakaianmu dan letakkan mahkotamu disana!" ucap Sehun dengan wajah dinginnya seperti biasa. Baekhyun tanpa perlawanan hanya menurut dan segera berjalan menuju sudut ruangan dimana ada setumpuk pakaian bersih disana serta sebuah bantal untuk meletakkan mahkotanya.

Setelah usai berganti pakaian menjadi pakaian yang lebih ringan, Baekhyun kembali berjalan mendekati Sehun yang hanya berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya.

"Kau tahu apa yang akan kau lakukan disini?" Baekhyun menggeleng dan Sehun menghela nafas.

"Ini perintah Paduka langsung, untuk itu aku tak bisa menolak. Tapi… baiklah.. kita mulai saja." Ucap Sehun membuat Baekhyun semakin bingung.

"Aku akan melatihmu dalam taktik perang, menggunakan senjata dan mengetahui cara bertarung. Tapi, untuk pelajaran pertama…." Sehun menatap wajah terkejut Baekhyun lalu menyeringai.

"Berlarilah mengelilingi ruangan ini 20 kali, jika kau membantah akan ditambah 5 putaran untuk setiap bantahan." Baekhyun mengerutkan keningnya dalam.

"Apa-apaan ini?"

"25 kali putaran." Baekhyun berdecih lalu memulai berlari ketepi ruangan. Sehun menarik kursi disampingnya dan segera mengambil duduk di tengah ruangan.

..

.

Baekhyun berjalan dengan tubuh kelelahan dan penuh keringat menuju kamarnya. Beberapa pelayan yang menawarkan jasa mereka, ia tolak karena suasana hatinya sedang buruk. Ketika Baekhyun memasuki kamarnya ia melihat Chanyeol telah rapi di depan cermin.

"Oh kau sudah kembali?"

"Paduka mau kemana?" tanya Baekhyun dengan wajah lelahnya.

"Aku memiliki pertemuan di Kerajaan Rubihya." Baekhyun mengerutkan keningnya.

"Pertemuan apa?"

"Seperti saat terakhir kita datang." Ucapan Sang Raja membuat Baekhyun mengingat situasi saat itu, dimana dirinya sama sekali tak mampu membaur dengan para Ratu dan Raja lainnya. Baekhyun menundukan kepalanya sejenak sebelum akhirnya menghela nafas panjang dan kembali mengangkat wajahnya membuat Chanyeol sedikit keheranan.

"Baiklah jika begitu aku akan bersiap."

"Oh, tidak perlu." Langkah Baekhyun terhenti, entah mengapa ia merasa sedikit janggal.

"Ke-kenapa?" tanya Baekhyun lagi sambil menatap Chanyeol bingung. Chanyeol tersenyum lalu berjalan kearah Baekhyun untuk mengecup pipi suaminya dengan lembut.

"Aku berangkat. Jangan menungguku karena aku pulang larut!" Baekhyun masih mematung bahkan ketika pintu kamar mereka tertutup.

"Ke-kenapa? Kenapa aku tidak boleh ikut? " ucapnya lirih.

..

.

Chanyeol duduk melingkar bersama para Raja dan Ratu lainnya, ia menghela nafas sambil menggoyangkan gelas anggur ditangannya. Ia merasa seperti ada yang hilang dan sebuah perasaan cemburu melihat para Raja lainnya yang berdiskusi bersama Ratu mereka.

Matanya menatap pada tempat kosong disampingnya dimana seharusnya Baekhyun duduk disana, Chanyeol perlahan tersenyum membayangkan suatu hari nanti Baekhyun akan benar-benar siap menjadi seorang Ratu.

Sebenarnya Chanyeol tidak masalah jika harus mengajak Baekhyun ikut bersamanya karena keceriaan Baekhyun mampu menghilangkan segala kejenuhan Chanyeol, namun melihat betapa Baekhyun bersedih karena dirinya yang tidak bisa membaur membuat Chanyeol pun bersedih apalagi ditambah isu-isu baru yang menyangkut pautkan Baekhyun membuat Chanyeol semakin merasa bersalah pada sosok remaja itu.

"Paduka?" Chanyeol menoleh terkejut melihat sosok Baekhyun duduk disampingnya dengan senyum lebar secerah matahari.

"Baekhyun?"

"Paduka kesepian? Sini biar aku temani." Ucap Baekhyun sambil memeluk lengan Chanyeol erat dan menyandarkan kepalanya.

"Makanya jangan pergi tanpaku Paduka, Paduka kan tidak bisa hidup tanpaku." Chanyeol tersenyum kecil sambil mengelus rambut yang lebih muda.

"Paduka?"

"Ya?"

"Paduka?"

"Iya sayang?"

"Ekhem, Paduka Chanyeol?" Chanyeol tersadar dan segera memperbaiki posisinya. Wajahnya memerah menatap pada Raja Younghwa di sampingnya.

"Bagaimana menurut Paduka?" tanya Raja tampan tersebut, Chanyeol mengernyit sejenak sambil melihat sekeliling yang menatapnya penuh harap,

"Ekhem…maaf sepertinya aku melewatkan sesuatu, bisa kita ulang?" Semua mengangguk setuju dan salah satu kembali mengutarakan apa yang telah Chanyeol lewati.

..

.

Baekhyun menggelinjang dalam tidurnya, tubuhnya berpeluh dan jemarinya meremas perutnya dengan kuat. Ia merintih dalam tidurnya, kesakitan yang ia alami membuatnya bahkan tak mampu untuk sekedar membuka mata.

"Pa-Paduka…hiks.." rintihnya memanggil nama Chanyeol.

"Paduka…sakitt…" tangisnya lagi sambil meremas perutnya.

Hari sudah larut membuat tak satupun yang mendengar rintihan pelannya, bahkan para pelayan dan penjaga yang tertidur di depan ruang kamarnya.

Baekhyun terus menggelinjang dalam tidurnya, bergerak ke kiri dan ke kanan berharap rasa sakitnya hilang. Diluar sana bulan purnama bersinar dengan terang, menerangi wajah berpeluh Sang Ratu muda di temani suara lolongan serigala hutan yang membuat suasana semakin mencekam.

..

.

Baekhyun terbangun esok harinya dengan tubuh sedikit lelah. Ia menoleh kesamping dan tak mendapati Chanyeol disana. Ia menghela nafas sejenak lalu kemudian bangkit untuk membersihkan diri karena para pelayan telah berbaris rapi disamping ranjangnya.

Setelah selesai berpakaian Baekhyun menghela nafas lelah sambil menatap pantulan dirinya di depan cermin yang sedang di dandani oleh dua orang pelayan. Hari melelahkan akan ia rasakan lagi apalagi kelas berlatih pedangnya bersama Jendral Oh yang membuatnya ingin mati.

Saat tiba di ruang latihan Baekhyun sudah mendapati Sehun disana berdiri sambil menatap pedangnya, namun suara langkah kaki Baekhyun menyadarkan pria itu cepat. Baekhyun mendekat dengan wajah masamnya, seolah menunjukan bahwa ia sama sekali tidak tertarik dengan latihan yang Sehun berikan.

"Oh, selamat pagi Paduka Ratu." Ucap Sehun dengan senyum pura-puranya. Baekhyun tidak membalas hanya berjalan semakin cepat menuju ke tengah ruangan dimana Sehun tengah berdiri.

"Kali ini apalagi?" tanya Baekhyun dengan wajah dinginnya. Sehun berdecih pelan lalu menoleh ke samping dan mengedikkan dagunya. Baekhyun menoleh malas dan seketika bola matanya membulat mendapati sebuah patung jerami besar yang akan mereka pakai untuk latihan nanti.

"Kita akan memegang pedang kali ini?" tanya Baekhyun dengan wajah sumringah, ia bahkan berlari mendekat kearah patung jerami itu sambil berpura-pura menebaskan pedang ke tubuh benda itu.

"Mana pedangku? Cepat berikan!" titahnya pada Sehun, namun sayangnya Sehun tidak memberikan pedang atau senjata apapun kepada sang Ratu muda, ia malah membalik tubuh Baekhyun menatap pada patung jerami itu.

"Lihat ke dalam matanya!"

"Dia bahkan tak memiliki mata." Sehun kembali berdecih dan menekan paksa pundak Baekhyun.

"Dia meraung ingin dipindahkan." Baekhyun memutar bola matanya malas.

"Jadi Paduka Ratuku, silahkan pindahkan patung itu ke tengah ruangan!" Baekhyun awalnya ingin menolak namun urung, ia mencoba mengangkat patung itu dengan sekuat tenaga dan memindahkannya ke tengah ruangan.

"Sudah."

"Bagus, tapi oh lihat dia sepertinya tidak menyukai tempat itu. Bagaimana jika di sudut sana!" Baekhyun berdecih dan segera melakukan hal yang Sehun perintahkan, dan Sehun pun tidak menghentikan kegiatannya disana, ia memerintahkan Baekhyun untuk memindahkan patung itu ke segala tempat.

"HENTIKAN!" Baekhyun berteriak kesal sambil melempar patung jerami di depannya. Pundaknya bergerak tak beraturan, nafasnya tersengal akibat menahan amarah.

"Aku berhenti!" ucap Baekhyun sambil hendak meninggalkan ruangan dengan langkah kaki kesalnya.

"Heuh, kau ingin menyerah bahkan hanya karena pekerjaan kecil begitu?" langkah Baekhyun terhenti namun enggan mengeluarkan suara.

"Kau menyebalkan. Kau mempermainkanku kan? Aku akan mengadukan ini pada Paduka."

"Dan? Kau pikir apa Paduka akan memarahiku? Paduka pasti akan memintamu untuk menurutiku." Baekhyun lagi berdecih, amarahnya sudah dipuncak dan rasanya ia ingin menghajar sosok Jendral di depannya.

"Aku tidak peduli."

"Ya, itulah dirimu, tidak pernah peduli akan sekitar. Aku tak mengerti mengapa pula harus dari orang sepertimu Pangeran Mahkota terlahir." Baekhyun meremas tangannya kuat, ia menatap nyalang pada Sehun yang bahkan membuang wajahnya.

"Diamlah jika kau tidak tahu apapun!" ancam Baekhyun dengan kemarahannya. Sehun menghela nafas sejenak lalu menoleh pada Baekhyun.

"Setidaknya aku orang yang mengerti akan kekuatan yang aku milikki." Ucap Sehun lalu berjalan meninggalkan ruangan meninggalkan Baekhyun yang menggeram kesal.

..

.

Chanyeol menatap kosong pada udara di depannya sambil menopangkan dagunya pada jemari yang terjalin.

"Apa yang aku lakukan sudah benar Tuan Lee?" tanya Chanyeol dengan wajah lelahnya. Tuan Lee terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.

"Apa yang anda lakukan adalah yang terbaik untuk Paduka Ratu"

"Tapi aku selalu iba tiap kali melihat wajah kelelahannya."

"Beliau harus mengalami semua hal itu untuk tumbuh menjadi seorang pria dewasa, Paduka." Chanyeol mengangguk pelan, menyetujui apa yang dikatan oleh penasehat setianya.

"Tapi apa aku tidak terlihat terlalu kejam padanya?" tanya Chanyeol lagi.

"Tidak, Paduka. Karena dunia akan jauh lebih kejam padanya." Chanyeol lagi-lagi mengangguk setuju.

"Paduka!" keduanya menoleh kearah pintu dengan wajah terkejut, menatap pada sosok Baekhyun yang berjalan dengan langkah dihentakan dan wajah kesalnya.

"Baek_"

"Paduka, aku kesal dengan Jendral Oh, aku tak ingin menghadiri kelas itu lagi, dia memperlakukanku_"

"Kau harus tetap mengikuti kelas itu." Baekhyun tersentak bahkan ucapannya tertahan. Ia menatap wajah dingin Chanyeol di depannya yang terlihat sibuk dengan berkas di tangannya.

"Paduka? Tapi_"

"Kau harus bisa menghadapinya, kau tak bisa melarikan diri terus menerus, lakukan apa yang telah Tuan Lee perintahkan, jadilah orang yang bisa diandalkan Baekhyun." Baekhyun lagi-lagi mematung di tempat tidak mengerti dengan perubahan sikap Chanyeol. Baekhyun menatap Chanyeol yang bahkan enggan menatap wajahnya, ada sebersit rasa sakit di dadanya, Chanyeol telah berubah menjadi sosok dingin yang tidak Baekhyun kenal.

"Pa…du..ka.." suaranya begitu lirih namun ia tidak ingin menangis.

"Lakukan saja!" Baekhyun menahan air matanya yang ingin terjatuh.

"Kau harus lebih mandiri mulai sekarang, bayangkan jika kau sendiri dan tak ada aku yang membantumu, jadi kau harus bertahan. Jadilah pria dewasa!" Ketika Chanyeol menatap wajah Baekhyun, ia dikejutkan dengan mata berkaca-kaca sosok mungil itu, namun ia tak boleh goyah karena apa yang ia lakukan adalah untuk Baekhyun.

"Ba..baiklah. Aku mengerti. Aku permisi." Ucap Baekhyun lalu berjalan meninggalkan ruangan Chanyeol. Ketika sosok Baekhyun menghilang ketika itu Chanyeol mengusap wajahnya frustasi membuat Tuan Lee hanya menatap sosok itu iba.

Baekhyun menangis sepanjang perjalanan membuat beberapa pelayan menatapnya sungkan karena tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Ketika sampai di dalam kamar ia segera mengunci diri dan menenggelamkan wajahnya pada bantal tak ingin suara tangisannya akan membangunkan Chanhyun.

….

..

.

Sepeninggalan Baekhyun, Chanyeol segera mengusak wajah lelahnya untuk kesekian kalinya, ia sungguh merasa bersalah pada lelaki mungilnya, tak seharusnya ia melakukan itu pada sosok yang bahkan masih sulit untuk mencerna setiap perkataannya.

"Aku rasa aku sungguh keterlaluan." Ucap Chanyeol lagi namun Tuan Lee segera mendekat dan menepuk pundak Chanyeol pelan, bukan sebagai raja dan penasehat namun sebagai seorang paman kepada keponakannnya.

"Dia pasti akan mengerti nanti Paduka, jangan khawatir."

"Paduka!" Kedua sosok itu menoleh bersamaan dengan munculnya seorang pengawal di depan pintu. Setelah membiarkan pengawal itu masuk, Chanyeol dikejutkan dengan sebuah gulungan kertas yang dijulurkan padanya.

Chanyeol tak banyak bicara, ia segera membuka benda tersebut dan membaca pesan yang tertulis disana. Ketika kening Chanyeol berkerut dalam ketika itu Tuan Lee mengetahui bahwa ada sesuatu buruk yang terjadi.

"Kau bisa pergi! Dan tolong panggilkan Jendral Kim dan Jendral Oh!" Pengawal itu mengangguk dan segera meninggalkan ruangan setelah memberikan hormat. Chanyeol menoleh pada Tuan Lee dan menatap sosok tua itu dalam sebelum akhirnya menyerahkan kertas tersebut. Reaksi sama muncul pada raut wajah Tuan Lee dan sebelum mereka memulai pembicaraan kedua Jendral istana telah tiba dengan tergesa.

"Apa yang terjadi, Paduka?" tanya Jongin yang segera mendekat diikuti Sehun.

"Ini kabar buruk. Istana Adante diserang oleh beberapa pasukan hitam. Kita harus bersiaga, siapapun mereka, mereka telah berani menyerang salah satu dari 7 kerajaan terkuat." Jongin dan Sehun saling melirik sejenak sebelum akhirnya mengangguk.

"Jadi apa yang akan kita lakukan?" Chanyeol terdiam sebentar sebelum akhirnya meminta Tuan Lee mendekat.

"Tolong atur seluruh pertemuan, besok pagi aku akan segera menuju Kerajaan Adante."

"Aku akan menemani Paduka!" ucap Sehun. Chanyeol menggeleng pelan.

"Jongin yang akan ikut denganku dan kau tetap mengawasi Baekhyun!" Sehun mengerutkan keningnya tidak terima dan Jongin nyaris saja menertawai sahabatnya itu jika saja ia tidak lupa bahwa mereka dalam keadaan darurat dan perselisihan mereka yang membuat keduanya tidak sedekat dulu.

..

.

Ketika memasuki kamar, Chanyeol terkejut karena tidak menemukan Baekhyun di ranjang mereka melainkan tertidur beralaskan tangan diatas meja kerjanya. Chanyeol mendekat dan mengambil kertas yang ditulis Baekhyun.

Sesekali ia tersenyum melihat tulisan Baekhyun yang masih sangat berantakan dan sedikit sulit untuk dibaca, namun kemudian Chanyeol mengerutkan keningnya saat menemukan sebuah tulisan kecil diujung kertas.

'aku benci Paduka yang sekarang'

'kembalikan Paduka ku yang tampan'

'Paduka jelek'

Chanyeol seharusnya marah karena seseorang baru saja menghinanya namun ketika itu adalah Baekhyun, yang bisa ia lakukan hanya tersenyum dan mengecup pucuk kepala yang lebih muda.

"Kau pasti lelah kan?" gumam Chanyeol sambil mencoba mengangkat tubuh Baekhyun, namun sosok itu menggeliat dalam tidurnya.

"Ayo kita tidur diranjang! Punggungmu akan sakit nanti!"

Dalam satu hentakan Chanyeol berhasil mengangkat tubuh ringan Baekhyun. Dalam perjalanan menuju ranjang, mata sipit itu terbuka dan ia tersenyum dalam keadaan setengah sadar.

"Paduka? Padukaku yang tampan telah kembali?" gumamnya. Chanyeol mengangguk dan membiarkan tangan Baekhyun melingkar di tubuhnya.

"Paduka…jangan berubah ya? Jangan membuatku membenci Paduka." Belum sempat Chanyeol membalas ucapan Baekhyun, sosok itu telah kembali terlelap. Chanyeol meletakkan tubuh Baekhyun dengan sangat hati-hati diatas ranjang tak ingin membuat tidur nya terganggu.

Chanyeol memilih bungkam namun tangannya dengan lembut memperbaiki letak tubuh Baekhyun dan tak lupa menyelimuti tubuh ringkih itu agar tidak kedinginan terakhir Chanyeol berbaring disamping Baekhyun sambil memandang wajah cantik itu dalam diam.

"Aku tidak tahu jika pesona anak kecil sepertimu mampu membuatku kehilangan seluruh pikiranku. Maafkan aku Baekhyunie, maaf membuatmu harus menanggung beban sebesar ini." Chanyeol mengecup bibir terbuka Baekhyun dengan sangat lembut dan mencuri sebuah hisapan disaat salah satunya tengah tertidur pulas.

"Besok, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita. Bertahanlah meski nanti kau hanya mampu mengandalkan dirimu sendiri, tapi sebelum hal buruk terjadi aku berjanji akan menjagamu sayang." Bisik Chanyeol sebelum akhirnya menarik Baekhyun ke dalam pelukan hangatnya.

..

.

Ketika Baekhyun terbangun ia sudah tidak terkejut lagi dengan jejeran para pelayan yang telah menunggu dirinya, serta kekosongan disampingnya yang dulu selalu diisi Sang Raja sambil memeluk tubuhnya.

"Chanhyun belum bangun?"

"Belum Paduka."

"Baiklah, sepertinya aku masih memiliki sedikit waktu bersantai sebelum melakukan tugas beratku." Gumamnya sambil kembali merebahkan tubuh lelahnya.

Di tempat lain Jongin masih setia mengekori Chanyeol dengan kuda hitamnya. Mereka berangkat dini hari ditemani tiga orang pengawal dengan pakaian penyamaran mereka.

Ketika sampai di depan sebuah gerbang istana, Chanyeol menunjukan kalung kerajaanya yang merupakan satu-satunya jati diri seorang anggota kerajaan jika mereka berada diluar istana.

Chanyeol berjalan dengan langkah pasti disepanjang koridor untuk menuju ruang pertemuan yang terletak bagian terbawah istana. Enam Raja lainnya telah berkumpul bersama para Jendral perang mereka.

Chanyeol mengangguk ketika yang lainnya memberi hormat dan segera mengambil tempat disalah satu kursi yang telah disediakan, sambil melirik pada Raja Younghwa yang terlihat menundukkan wajahnya lesu.

"Paduka Younghwa, apa anda baik-baik saja?" tanya Chanyeol. Younghwa menoleh dan menatap Chanyeol dengan sorot mata bersedih.

"Aku baik-baik saja, namun aku kehilangan 10 pelayan setiaku yang meninggal akibat terpanah." Kening Chanyeol berkerut dalam dengan sorot wajah menyesal.

"Buatkan upacara pemakaman yang besar untuk mereka! Mereka layak mendapatkan penghormatan atas kesetian mereka. " Younghwa mengangguk dan yang lainnya pun sama.

"Kalian memiliki kandidat?" tanya Chanyeol membuat semua orang menoleh kearahnya lalu mengangguk.

"Ada hal yang harus anda ketahui." Mata Chanyeol tertuju pada sebuah gulungan kertas yang diletakkan diatas meja diantara mereka.

..

.

Setelah peristiwa penyerangan itu yang mereka duga sebagai pemberontakan, semua anggota kerajaan menjadi begitu waspada. Untuk beberapa waktu keadaan masih aman, belum ada bentuk pemberontakan lagi, namun tetap saja mereka semua harus berjaga-jaga akan kemungkinan terburuk yang terjadi.

Tidak hanya anggota istana, Chanyeol pun disibukkan dengan semua persiapan yang harus ia lakukan jika sewaktu-waktu penyerangan terjadi di istananya meskipun itu akan terdengar mustahil karena Nortwest adalah kerajaan terbesar dengan jumlah pasukan terbanyak dan terkuat.

Kesibukkan Chanyeol ternyata tak hanya berefek pada pekerjaannya namun juga pada hubungannya dengan Baekhyun. Setiap malamnya Chanyeol akan tertidur di dalam ruang kerjanya atau kembali pada saat larut beberapa kali dan akan menghilang dipagi harinya.

Dimana hal itu membuat Baekhyun semakin merasa bahwa Chanyeol menjauhinya. Baekhyun semakin harinya menjadi semakin kuat dan tak lagi termakan oleh ucapan kasar Sehun ataupun oleh sikap dingin Tuan Lee.

Ia tak lagi menangis dan tak ingin menangisi hal yang menurutnya sia-sia. Ia yakin bahwa meskipun ia menangis dan merengek ia akan tetap harus pergi dari istana. Namun Baekhyun hanya seorang remaja yang menginginkan kebebesan.

Jadi ketika Tuan Lee lengah ia segera melarikan diri menuju danau di belakang istana untuk menghilangkan seluruh penatnya. Ia membiarkan tubuhnya mengambang diatas air sambil wajahnya menatap lurus pada matahari.

Ia menjulurkan tangannya seolah ia bisa meraih cahaya matahari itu dalam genggangam mungilnya.

"Tangan ini rasanya dingin, Paduka. Dulu Paduka selalu menggenggam tanganku hingga rasanya seluruh tubuhku menghangat, tapi kini aku hanya bisa menggenggam matahari agar tanganku tetap hangat." Gumamnya sambil tersenyum.

"Paduka berubah, berubah menjadi orang yang tidak aku kenal. Apa semua orang dewasa seperti itu? Jika iya maka aku tak ingin menjadi dewasa." Lagi ia bergumam seorang diri yang hanya disahuti oleh suara burung camar.

"Paduka. Apa aku berbuat salah? Jika iya maka maafkan aku, tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Apa...yang harus aku lakukan?" Gumamnya lagi sebelum akhirnya menutup matanya dan membiarkan cahaya matahari menghangatkan wajahnya.

..

.

Chanyeol terkejut ketika membaca sebuah gulungan kertas yang baru datang. Kali ini sebuah penyerangan kembali terjadi dan kini menyerang Kerajaan Banderas yang menghanguskan bagian timur istana.

Chanyeol semakin yakin jika itu adalah serangan peringatan, dan sosok penyerang dengan pakain serba hitam kembali dilihat oleh para saksi.

Chanyeol memanggil Jongin dan Sehun kembali untuk membicarakan jalan keluar yang harus mereka ambil untuk memperkuat penjagaan mereka, namun Sehun datang lebih dulu dengan wajah terengah dan pucat.

"Paduka…"

"Apa yang terjadi?"

"Baek_ Paduka Ratu dan Putra mahkota menghilang." Seketika Chanyeol merasakan kakinya melemas. Tuan Lee memegang tubuh Chanyeol sebelum sosok itu tumbang.

Chanyeol selalu dididik untuk menjadi sosok yang sempurna, sosok yang bisa mengatasi segala situasi darurat dalam keadaan tenang, bahkan ketika ratunya diculik ia masih mampu menghela nafas namun kini, ketika dua orang yang paling berharga dalam hidupnya dalam keadaan bahaya, Chanyeol baru menyadari apa yang orang-orang katakan sebagai keruntuhan dunia, karena dunianya baru saja runtuh dalam hitungan detik.

"PADUKA!"

..

.

TBC

..

.

Halo...Holla...Kenken kabare? wkwkwkw

Mungkin ini bukan kejutan lagi karena udah pada tahu kalo KLH bakal update, wkwkwkw..Sengaja update di ulang tahun si cantik biar momenya lebih pas, dan pas juga emang selesainya deket-deket ultah Ibu Negara kwkwkwk...

Tapi berharap aja deh cerita di chapter ini masih bisa buat kalian terkejut, karena kalo gak berarti aku gagal mengaduk-ngaduk perasaan kalian wkwkwk..

Oh iya aku mau tanya, apa kalian mulai bosen sama jalan cerita KLH? Gakpapa jujur ajah, aku juga butuh masukan soalnya. Sekali lagi makasi buat yang udah nunggu cerita ini sampe berbulan-bulan lamanya. wkwkwwk...

Dari beberapa waktu lalu aku selalu dapet review komplain tentang ff ini, mungkin kalian para readers baru belum tahu rules kalau baca cerita aku. Rulesnya cuma satu yaitu kalian harus ekstra sabar kalo berhadapan sama author tipikal aku wkwkwk... Aku gak pernah nargetin jumlah review untuk update, aku juga gak pernah nentuin berapa lama periode update per chapternya. Yang aku tahu setiap aku ada ide bakal aku ketik dan aku bakal berhenti sampe aku ngerasa kalo 'TBC' harus di tulis disana. Itu kenapa semua ff ku bakal TBC dibagian paling gantung wkwkwk.. Oke sekian dari aku..semoga chapter ini memuaskan kalian ya heheheh.. Yah anggap sebagai peneman kalian nungguin Bapak Negara update wkwkwk... mending kan baca ff daripada nyepam di ig Chanyeol kan, supaya kesannya kita gak ngemis, karena meskipun gak ngepost aku yakin CY pasti udah ngucapin ke BH ... wkwkwk...

Oh iya, hari ini aku update bareng author-author keren lho, silahkan cek di lapak mereka ya !

- Azova10

- Cactus93

- Baekkicoet ( on wattpad )

Oke sekian ya, inget selalu jaga kesehatan dan Salam Chanbaek is Real...