Jika kalian berkata Kyungsoo tak punya hati maka kalian salah. Memang hati ibu mana yang tidak hancur jika harus berpisah dengan buah hatinya.
Termasuk Kyungsoo. Rasanya terlalu berat untuk meninggalkan Haechan terlepas dari apa yang telah dilakukan oleh ayah bayi itu di masalalu.
Tapi bukan itu point-nya.
Kyungsoo hanya ingin Jongin merasakan apa yang ia rasakan. Bagaimana rasanya dikhianati dan bagaimana rasanya tidak di inginkan lalu di campakan.
Hanya itu. Kyungsoo hanya menginginkan itu. Tapi kenapa rasanya terlalu berat? Ini bahkan masih hari ketiga dari saat ia pergi. Tapi hatinya telah merindu.
Malam-malamnya terasa begitu sesak. Tidak ada waktu yang ia lewatkan untuk merindu. Hanya ketika ada orang lain saja Kyungsoo akan bersikap sok tegar. Terlihat baik-baik saja. Seolah tidak ada yang terjadi kepadanya.
Dadanya terlalu penuh kerinduan tentang putra kecilnya.
Kyungsoo ingin menggapai Haechan kembali. Memberinya kasih sebagaimana seharusnya seorang ibu mengasihi anaknya.
Tapi semua sudah terjadi. Sudah terlanjur dan akan sulit untuk diperbaiki.
Nyonya Park bungkam. Hanya mampu memeluk putrinya sebagai obat penenang. Ia masih tidak dapat mencerna baik dengan apa yang diceritakan oleh putrinya.
Ia bahkan masih tidak menyangka jika dendam masalalu itu masih ada. Masih mengendap jauh dilubuk hati putrinya.
Ia kira dengan kembalinya Kyungsoo bersama Jongin menandakan bahwa putrinya telah dapat berdamai dengan masalalunya. Namun lihat apa sekarang. Putrinya bahkan membalasnya dengan tega.
"Seharusnya kau tidak mengambil jalan ini Kyungsoo." awalan Nyonya Park.
"Kalian telah dewasa. Selesaikan masalah kalian secara dewasa pula. Lihat, kalian bahkan telah memiliki sebuah pengikat yang kuat. Tapi kau malah seolah ingin melepaskan ikatan itu dan berlagak semuanya tidak pernah terjadi apa-apa."
Kyungsoo diam. Mendengarkan dengan baik setiap ucapan yang keluar dari bibir ibunya.
Ia tidak akan mencela, karena ia sadar apa yang ibunya katakan benar adanya. Tapi ternyata egonya terlalu besar untuk mengikuti hatinya.
"Kembalilah. Selesaikan apa yang perlu selesaikan. Demi Haechan. Putra kalian."
Namun Kyungsoo menggeleng. Membuat nyonya Park yang melihatnya menghela nafas.
"Kenapa?"
Wanita itu beranjak dari pelukan ibunya. Menghapus air mata yang entah sejak kapan turun membasahi wajahnya.
"Aku tidak bisa ibu. Aku tidak sanggup. Terlalu berat untukku memaafkannya. Apa yang ia lakukan dimasa lalu terlalu membuatku anti kepadanya."
"Kyungsoo..."
"Ibu kumohon." potong Kyungsoo. "Jangan memaksaku. Aku benar-benar tidak sanggup untuk kembali. Terlalu sakit bu, dan aku tidak sanggup."
Wanita itu kembali menangis. Nyatanya apa yang ia ucapkan membuat dadanya kembali sesak. Seolah kenangan masalalunya kembali menyeruak datang. Menyerang hati dan pikirannya.
"Lalu bagaimana dengan Haechan. Putra mu? Dia masih terlalu kecil untuk mengerti ke egoisan orang tuanya. Tidak kah kau memikirkan masa depannya juga? Bagaimana nanti dimasa depan ia akan menghadapi teman-temannya yang menanyakan ibunya? Apa kau mau putramu dihina oleh temannya karena tidak memiliki ibu? Apa kau tega?"
Sekali lagi Kyungsoo bungkam. Ucapan ibunya terlalu menohok. namun tidak juga dapat meruntuhkan hatinya. Taunya egonya lebih kokoh ketimbang nuraninya.
Melihat itu Nyonya Park kembali menghela nafas untuk sekian kalinya.
Tanpa perlu bertanya pun ia tau jawabannya. Putrinya belum juga tergerak untuk memaafkan.
Maka dari itu, Nyonya Park memilih untuk bangkit. Tidak menghiraukan Kyungsoo yang menatap heran kepadanya.
Namun sebelum keluar dari dalam kamar Kyungsoo. Nyonya Park menitipkan sebuah pesan yang ia harap akan mampu dicerna baik oleh putrinya itu.
"Pikirkan sekali lagi Kyungsoo. Demi Haechan, tolong turunkan egomu. Karena bagaimanapun sekarang kau adalah seorang ibu. Bagi ibu anak adalah satu hal yang paling berharga didunia. Dan ibu harapkan hal yang sama kau rasakan pula."
Jongin melihat sendu kearah putranya.
Bayi yang baru berumur beberapa bulan itu kini tengah sakit. Mungkin merindu ibunya yang entah menghilang kemana.
Jongin merasakan sesak tersendiri ketika menyadari kesalahannya dimasalalu taunya berbuntut panjang. Bahkan putranya kini ikut terseret menjadi korban.
Seharunya, Kyungsoo hanya menyakitinya. Jangan bayi mereka juga. Jongin sejujurnya ingin marah namun ia tidak dapat marah lantaran apa yang dibuat oleh kekasihnya itu karena dirinya juga.
Betapa bajingannya ia dulu sampai gadis manisnya yang pemalu itu menjadi wanita kejam seperti ini.
Jongin masih tidak menyangka. Mungkin karena ia yang terlalu terlena dengan nikmatnya dunia yang Kyungsoo berikan. Sampai ia tidak sadar semua itu hanya tipuan belaka.
"Apa yang dokter katakan?"
Jongin tersentak. Lelaki itu berbalik dan melihat ibunya yang telah berdiri didepan pintu dengan wajah datarnya.
Lelaki itu menghela nafas sebelum kemudian merebahkan dirinya disamping putranya.
Ikut tidur bersama Haechan.
"Dokter berkata Haechan alergi dengan protein didalam susu sapi sehingga tubuhnya langsung bereaksi ketika dipaksa untuk meminum susu formula."
"Lalu apa yang disarankan selanjutnya?"
"Hanya menyarankan kita untuk datang ke bank asi. Berdoa semoga tubuh Haechan tidak menolak asi dari orang lain."
Setelah percakapan itu keduanya hening.
Jongin terlalu fokus memberikan perhatiannya kepada Haechan. Ia bahkan mengira jika ibunya telah pergi dari sana.
Entahlah, tiba-tiba Jongin malas untuk berbicara dengan ibunya. Mungkin karena ibunya yang terlalu memaksa.
Beberapa hari ini wanita itu terus menekannya untuk menemukan Kyungsoo segera. Padahal tanpa disuruh pun Jongin selalu melakukannya. Ia bahkan telah menyebar seluruh anak buahnya. Tapi lihat ia masih belum menemukan titik terang. Dan tekanan ibunya semakin membuatnya frustasi.
"Bagaimana perkembangannya?"
Jongin menghela nafas. Lelaki itu bangkit dari posisinya. Berdiri menghadap ibunya.
"Belum ada perkembangan. Dan kumohon, berhenti menanyakan hal itu terus bu. Aku sudah terlalu pusing memikirkan ibu jadi jangan tambah bebanku dengan paksaan ibu. Hanya pegang ucapanku jika aku akan membawa Kyungsoo kembali. Aku tidak akan membiarkannya lari dariku."
Jongin tengah menenangkan Haechan yang terbangun dari tidurnya ketika sebuah panggilan masuk dari tangan kanannya.
Dengan segera Jongin menjawab panggilan tersebut. Berharap mendapat kabar baik tentang kekasih tercintanya.
"Tuan saya menemukan dimana keberadaan Nyonya Kyungsoo."
Sebuah kalimat itu taunya mampu membuat dadanya berdegup kencang. Hatinya membuncah bahagia serta pundaknya terasa ringan seolah beban beratnya terangkat begitu saja.
To Be Continue
Maaf untuk menunggu lama. Dan terimakasih untuk kalian semua yang sudah dengan sabar menunggu kelanjutan cerita ini. Semoga part singkat ini bisa mengembalikan moodku buat ngelanjutin cerita ini lagi.
See you chapter selanjutnya :)
