Disclaimer: Masashi Kishimoto
Reply Review:
#RyunkaSanachikyu: #bales review sambil ngumpet, takut ditebas karena gak update kilat# iyyyaaaaa maap gak ada mereka uhuhuhu tapi chapter ini ada kok…gomen gomen hehe ya ampun, kayaknya pada gak sudi banget ya abang Pain sama akang Itachi XP makasih banget semangatnya, makasih juga read reviewnya :D
#Guest : ah, gomen kalo character Kyuubi nya mengecewakan. Tapi author pernah baca quotes entah nemu dimana (?) katanya kalo seseorang mempertahankan cintanya walo gimana juga, itu bukan karena dia ngemis cinta tp bwt nunjukin betapa berharganya tuh seseorang buat dia. Gitu XD makasih banyak read reviewnya ya…sekali lg maaf kalo Kyuu nya gak sesuai perkiraan…
#ai ebisawa: waah makasih banyak ya, jadi semnagt nih ^O^/ makasih banget juga read reviewnya…
#Fujoshi Girl: iya ini lanjut XD makasih banyak dukungannya…makasih juga read reviewnya :D
Makasih jg bwt yg udah log in: Aoi-hime to Seiyuu-Hime, alta0sapphire, Vianycka Hime, mifta cinya, himekaruLI, URuRuBaek, .12576, Dark Kitsune 9, justin cruellin, and BeautifulLie1174 makasih banyak read reviewnya…dibales lewat PM ya…;)
.
.
.
Chapter 14 : The Existance
.
.
.
"Ngh…" Kyuubi merasakan hawa dingin menyentuh kulitnya, dengan mata setengah terpejam iapun menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya, namun ia batal memejamkan mata kembali saat melihat kekasihnya itu masih terjaga.
"Kau tidak tidur, Itachi?" tanya Kyuubi seraya mengangkat sedikit tubuhnya untuk sekedar bisa menatap Itachi. Itachi menatap Kyuubi dan tersenyum tipis, lalu tanpa seucap katapun ia meraih dagu Kyuubi dan mengecup lembut bibirnya, lalu menindih tubuh polos Kyuubi dengan tubuh telanjangnya.
"Ada apa?" tanya Kyuubi setelah Itachi melepas ciumannya.
Itachi menggeleng pelan, lalu merebahkan tubuhnya di atas Kyuubi sambil memeluknya erat. "Hanya merasa bersalah," jawab Itachi kemudian.
"Merasa bersalah? Pada siapa?"
Tak langsung menjawab, Itachi mengangkat wajahnya demi menatap mata Kyuubi. "Padamu."
"Padaku? Kenapa harus?" Kyuubi membelai helaian sepekat malam Itachi.
Itachi menghela nafas panjang sembari merubah posisinya bersandar ke kepala ranjang, Kyuubi mengikuti dengan bersandar pada dada Itachi. "Soal Pain…"
"Tch…! Sudahlah," potong Kyuubi, ia mengeratkan pelukannya pada Itachi.
Itachi tertawa pelan lalu mengusap kepala Kyuubi. "Aku benar-benar minta maaf…tadinya aku tidak ingin mendekatimu meskipun aku mulai ada rasa terhadapmu karena aku masih terikat pada Pain, tapi—…"
"…—tapi aku yang memintamu jadi pacarku. Titik," Kyuubi menatap Itachi tajam. "Kau dengar? Aku yang memaksamu jadi pacarku, dan aku tidak peduli kau masih memilki rasa terhadap seseorang atau bahkan sedang pacaran dengan seseorang. Yang jelas…" Kyuubi mendekatkan wajahnya ke wajah Itachi. "…kau harus jadi milikku…" Kyuubi mencium bibir Itachi dengan lembut.
"Well…" ucap Itachi lalu membalikkan posisi, kini ia yang merangkak di atas tubuh Kyuubi. "Sepertinya tuan muda yang satu ini selalu mendapatkan apa yang diinginkannya eh?"
Kyuubi menyeringai. "Tentu saja," ucapnya lalu membiarkan Itachi kembali menjamah tubuhnya hingga sebuah ketukan di pintu memaksa Itachi menghentikan aktifitasnya. Itachi menatap ke arah pintu dengan alis berkerut, namun Kyuubi menarik kembali wajahnya lalu mengecup basah bibir Itachi tanpa memedulikan suara ketukan pintu berikutnya. Itachi sedikit memaksa untuk melepas ciuman dan hanya diam menatap Kyuubi untuk memohon pengertiannya.
"Kalau kau tidak kembali dalam lima menit aku akan membunuhmu," ucap Kyuubi yang hanya direspon dengus tawa Itachi yang kemudian memakai handuk sepinggang sebelum menghampiri pintu dan membukanya.
"Ada apa Sasuke?" tanya Itachi begitu mendapati Sasuke berdiri di depan pintu kamarnya.
"Maaf mengganggu tengah malam begini dan…" Sasuke menatap penampilan Itachi. "Maaf juga mengganggu 'aktifitas' kalian," lanjutnya sembari memutar bola mata jengah yang membuat Itachi tertawa pelan. Sasuke lalu menyerahkan selembar surat yang masih terlipat rapi di dalam amplop dengan segel resmi sekolah Sasuke. Itachi mengerutkan alis sambil meraih benda itu. Untuk beberapa saat Itachi diam membaca surat itu, lalu menatap Sasuke dengan tatapan yang…sulit dideskripsikan. Ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi batal.
"Aku tahu," ucap Sasuke. "Maafkan aku," ia lalu membalikkan badan dan pergi.
~OoooOoooO~
Bocah blonde itu tertunduk lesu sambil sesekali mengayun pelan ayunan yang didudukinya, hingga sebuah tepukan di pundaknya membuat ia mendongak.
"Sa-Sasuke, sedang apa kau di sini?" kagetnya melihat cowok bersurai hitam yang barusan menepuk pundaknya itu kini duduk di ayunan sebelahnya.
"Menemanimu," jawab Sasuke singkat.
"Tapi bagaimana kau tahu aku disini?"
Sasuke melirik bocah pirang itu. "Mungkin aku memiliki radar kalau ada orang bodoh di sekitarku, Naruto-Dobe-Namikaze."
"Ugh! Teme! Aku kan tanya baik-baik!" Naruto menggembungkan pipinya. Sasuke tak merespon, hanya menatap sebuah amplop yang dipegang Naruto, sebuah amplop yang sama seperti yang barusan Sasuke serahkan pada Itachi.
"Kau belum memberikannya pada orang tuamu?" tanya Sasuke.
Mata Naruto sedikit membola, lalu kepalanya kembali tertunduk. "Aku…takut…" untuk kemudian keduanya terdiam, hanya desau angin malam yang tertangkap pendengaran mereka.
"Kalau begitu pulanglah, ini sudah terlampau larut. Apa orang tuamu tidak mencarimu?" Sasuke bangkit dari ayunan yang didudukinya.
"Ne~ Sasuke…" panggil Naruto lirih masih dengan suara tertunduk. "Apa kau tidak takut saat memberikan surat itu pada Itachi-nii?"
Sasuke tak merespon, hanya menatap bocah blonde itu.
"Aku…aku takut sekali…aku tidak berani memberikannya pada Tou-san dan Kaa-san…aku—…"
"Dobe!" potong Sasuke, ia berlutut di hadapan Naruto dan memaksa Naruto menatapnya. "Bagaimana perasaanmu terhadapku?" tanyanya lirih namun tegas.
Naruto terbelalak. "Apa maksudmu? Kenapa kau menanyakan itu?"
"Karena aku mencintaimu!"
Deg!
Semburat tipis muncul di wajah Naruto, terlebih saat jemari Sasuke menyntuh pipi tan-nya.
"Aku tidak peduli apa yang akan mereka lakukan terhadap kita. Kalau mereka menolak hubungan kita, aku akan membawamu pergi dari mereka. Aku akan membawamu pergi ke tempat di mana kau dan aku bisa diterima," ucap Sasuke dengan mata penuh kesungguhan, hingga perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto. Namun tepat sebelum bibir mereka menyatu, Sasuke berhenti sejenak.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, dan aku akan datang kapanpun kau membutuhkanku, jadi…" Sasuke mengusap lembut bibir Naruto. "…lebih bergantunglah padaku…" ujarnya lalu menyatukan kedua belah bibir mereka dalam kecupan lembut.
~OoooOoooO~
"Apa? Surat panggilan orang tua dari sekolah Naruto?" tanya Kushina sambil menyiapkan pakaian untuk suaminya itu.
"Iya, tadi pagi begitu aku bangun surat itu ada di meja," jawab Minato sambil mengeringkan rambutnya.
"Dia itu! Kenapa tidak menyerahkannya secara langsung! Dan kenapa juga kita sampai harus dipanggil ke sekolah, dia bikin ulah apa?"
"Entahlah, tapi di surat itu kepala sekolah benar-benar mendesak kita untuk datang. Mungkin penting sekali."
"Heh…apa boleh buat."
Naruto hanya diam menguping pembicaraan kedua orang tuanya dari balik pintu, ia menarik nafas panjang untuk kemudian membuangnya perlahan. Ia lalu melangkahkan kakinya keluar rumah menuju sekolahnya tanpa berpamitan pada siapapun. Ia terus berjalan sambil menunduk sampai seseorang menepuk pundaknya.
"Sa-Sasuke…" ucap Naruto setelah melihat siapa yang barusan menepuk. Sasuke tak menjawab, hanya terus berjalan bersama Naruto dan perlahan…ia menggandeng tangan Naruto. Sediki terbelalak dan nyaris melepas tangan, Naruto batal melakukannya saat melihat sekeliling. Hari masih terlalu pagi, tidak ada siapapun di jalanan, jadi ia putuskan untuk membalas gandengan tangan Sasuke yang sedikit dapat menenangkan hatinya. Saat mereka tiba di depan gerbang sekolah, tampak Itachi sudah berdiri di sana.
"Mau minum dulu?" tawarnya setengah memaksa.
Mereka kini duduk di salah satu café dengan minuman hangat masing-masing di hadapan mereka, keduanya masih bungkam. Naruto tertunduk, dan mata Sasuke menatap entah kemana sementara Itachi menatap mereka berdua dengan tatapan sedikit marah. Itachi lalu menghela nafas lelah, sekalian menenangkan dirinya.
"Jadi…ada yang mau menjelaskannya padaku?" ucap Itachi menuntut.
Untuk sepersekian detik Naruto tampak gelagapan dan Sasuke hanya melirik tanpa menolehkan wajahnya pada Itachi.
"Umm…ka-kami…" gagap Naruto. "Kami ber—…"
"Aku menciumnya di depan kepala sekolah," potong Sasuke.
Itachi diam, kedua tangannya masih terlipat di depan dada. "Terakhir kuingat kau bilang akan merahasiakan hubungan kalian setidaknya sampai lulus," ucapnya kemudian.
"Sorry, it's an accident."
"How?"
"It was YOUR fault!" bentak Sasuke yang ditatap dengan tatapan bertanya oleh Itachi. Mereka terdiam untuk beberapa saat. "Sorry…" ucap Sasuke kemudian. Waktu itu memang Sasuke terbawa suasana setelah kasus Itachi dengan Pain dan Kyuubi, tapi dirinya yang mencium Naruto karena itu seharusnya sama sekali bukan salah Itachi.
"Oke, lalu kau ingin pembelaan seperti apa dariku?" balas Itachi, kini gantian Sasuke yang menatapnya dalam diam. "Kau ingin aku mengatakan pada kepala sekolah bahwa itu hanya mainan atau kau ingin aku mengatakan yang sebenarnya, mengeluarkan kalian dari sekolah, dan memindahkan kalian ke sekolah lain dimana semua orang bisa menerima kalian?"
Deg!
Untuk sedetik, baik Sasuke maupun Naruto sama-sama terbelalak. Sasuke tampak akan mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya ditelan kembali dan justru menatap Naruto yang hanya diam saja. Mereka terus diam hingga Itachi menatap jam tangannya, sudah waktunya sekolah masuk, yang artinya ia juga harus segera ke sekolah Sasuke untuk menemui kepala sekolah. Tanpa sepatah katapun ia meninggalkan meja menuju tempat parkir, menyuruh kedua bocah itu mengikuti dengan perintah tanpa suara.
~OoooOoooO~
Kepala sekolah tampak mengerutkan alis dan murka menatap Naruto dan Sasuke saat ia mendapat pertanyaan dari Kushina mengapa mereka dipanggil untuk menghadap.
"Apa putramu itu tidak mengatakan alasannya?" ucap Kepala Sekolah dengan nada sedikit tinggi. Kushina dan Minato balik menatap Naruto dengan tatapan meminta penjelasan. "Naruto dan Sasuke membentuk organisasi anti-gay di sekolah," terang Kepala Sekolah tanpa menunggu Naruto ataupun Sasuke menjelaskan. "Tapi kemarin kulihat justru merekalah yang berciuman di taman sekolah!"
Baik Kushina dan Minato sama-sama terbelalak.
"Apa?! Itu tidak mungkin! Putra kami normal!" bantah Kushina.
"Kalau begitu tanyakan sendiri pada putera Anda, saya juga ingin kepastian jawaban mereka!"
Kini semua mata tertuju pada Sasuke dan Naruto, termasuk Itachi. Ia ingin melihat apa reaksi Sasuke untuk memutuskan bagaimana ia bisa menyikapi dan membela mereka berdua.
'You better make a wise decision or everything will get ugly,' batin Itachi.
"Ka-kami…" gagap Naruto. "Kami hanya…latihan—untuk drama sekolah…"
"…" Sasuke tak menjawab, matanya tetap menatap tajam ke depan.
"Sasuke…?!" kepala sekolah beralih menatap Sasuke, menunggu jawabannya.
"…" tetap tak ada jawaban.
"Apa benar itu Cuma latihan drama?!" tegasnya.
"Sasuke—…" bisik Naruto dengan nada sedikit menekan.
"…" Sasuke manatap kepala sekolahnya dingin. "Memangnya apa untungnya menjawab? Kalau aku bilang itu Cuma drama sekolah, apa kau akan langsung melepaskan kami? Kalau aku menjawab kami memang pacaran, apa kau bakal langsung mengeluarkan kami dan menyerukan agar seluruh dunia memusuhi kami?"
"…" Itachi Cuma bisa melirik datar pada Sasuke. 'Jadi ini keputusanmu…?' batinnya.
"Jawab saja pertannyaannya!" bentak kepala sekolah.
"Jawab dulu pertanyaanku!" Sasuke membantah.
"…" Kepala sekolah terdiam sesaat. Tatapannya tajam pada Sasuke. "…kalau itu memang Cuma drama sekolah, mungkin aku akan menerimanya. Asal kalian punya alasan rasional kenapa tidak latihan di ruang theatre. Kalau kalian memang berpacaran…kemungkinan besar kalian akan dikeluarkan dari sekolah sebelum kalian mencemari nama seko—…"
"Jadi yang mana saja intinya kami akan diusir kan?" potong Sasuke. "Kenapa tidak langsung bilang saja?"
"Sasuke…apa yang kau katakan?" ucap Naruto dengan suara sedikit gemetar. "Kepala sekolah bilang…"
"Dia bilang 'mungkin', dan itupun kalo kita punya alasan rasional. Memangnya alasan apa? Ini pertengahan semester, tidak ada event sekolah. Dan kita tidak mengikuti club theatre manapun! Jadi apapun yang kita jawab, kepala sekolah juga pasti tahu kalau kita memang pacar—…"
Plaak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sasuke. Naruto menatapnya dengan alis bertaut dan tangan terkepal dan sedikit gemetar, setelah itu ia langsung keluar dari ruangan kepala sekolah sambil membanting pintu.
"…" Sasuke Cuma mematung di tempat, sampai ia menatap mata aniki nya yang mengatakan 'kejar-dia-atau-kau—…' Sasuke pun mengejar langkah Naruto.
"Dobe, berhenti!" cegah Sasuke tapi Naruto bahkan tidak memelankan langkahnya. "Dobe!" akhirnya ia berhasil mencekal lengan Naruto saat mereka mencapai gerbang sekolah. Untung saja ini jam masuk sekolah sehingga keadaannya sepi.
"Lepas, Teme!" ucap Naruto datar tapi penuh penekanan.
Sasuke tak melepaskan, tapi ia mengatur nafasnya dan berusaha mengendalikan emosi nya. "Kenapa kau ingin lari? Kenapa tidak bilang terus terang saja?" Tanya Sasuke berusaha tak menuntut.
"Kubilang lepas," Bukannya menjawab, Naruto masih berusaha melepaskan diri.
"Sudah kubilang aku akan menjagamu tak peduli apapun yang orang lain katakan! Aku mencintaimu, bukankah kau juga begitu?!" nada Sasuke mulai meninggi lagi.
"Sudah cukup! Aku tidak mau mendengar apapun lagi!" Naruto berusaha menutup telingannya walau kemudian Sasuke mencekal kedua tangan Naruto.
"Naruto! Dengar, kalau kau takut mereka tidak mau menerima kita, aku akan membawamu pergi kemanapun dimana kita bisa—…"
"Aku bilang aku tidak mau dengar!"
"Kita bisa pergi kemanapun! Aku bersumpah tidak akan pernah meninggalkanmu, apapun yang terjadi aku akan—…"
"KAU BISA BERKATA SEPERTI ITU KARENA KAU PUNYA ITACHI-SAN!" bentak Naruto yang membuat Sasuke bungkam seketika. "Apapun keputusanmu, apapun yang kau lakukan, kau tahu Itachi-san selalu ada di belakangmu! Dia akan selalu mendukungmu! Tapi bagaimana denganku?! Kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku!"
"…" lagi, Sasuke hanya bisa diam dan menatap lurus mata Naruto.
"Kau tidak…mengerti perasaanku," nada bicara Naruto mulai merendah. "Aku punya orang tua, aku tidak tahu mereka akan menyetujui tindakanku atau tidak, aku tidak tahu apa mereka akan selalu mendukungku apapun keputusanku atau tidak, aku bisa saja dibenci oleh mereka dan aku tidak mau itu terjadi. Mereka orang tuaku dan aku menyayangi mereka! Aku tidak tahu apa aku sudah siap pergi kemanapun bersamamu yang artinya meninggalkan mereka! Aku tidak tahu apa aku punya cukup keberanian untuk hidup hanya bersamamu tanpa dukungan dari mereka," Naruto sedikit terisak. "Aku masih butuh mereka…Sasuke. Aku masih harus mendengar pendapat mereka akan tindakanku, aku belum ingin melepaskan diri dari mereka untuk menjalani hidupku hanya bersamamu…aku hanya belum…cukup berani untuk itu…"
"…" Sasuke kini menatap kosong, ia melepaskan cengkeramannya pada tangan Naruto. "…kalau kau memang tidak yakin dengan hubungan kita…bukankah sebaiknya kita tidak menjalani hubungan ini sejak awal?" tanyanya datar.
"Lalu apa kau sendiri sudah yakin?"
Pertanyaan itu membuat mata Sasuke terbelalak. Ia kini menatap mata Naruto lurus.
"Apa kau sendiri sudah yakin ingin menghabiskan seumur hidup sampai kau mati bersamaku?" Tanya Naruto, Sasuke tak dapat menjawab. "Kita baru kelas satu SMU Sasuke, kita tidak tahu bagaimana kedepannya. Mungkin saja suatu saat kau akan tertarik pada perempuan dan menikahinya, lalu punya anak untuk meneruskan nama keluargamu. Itachi-san juga, walaupun sekarang dia pacaran dengan Kyuu-nii, apa kau sendiri yakin suatu saat dia tidak akan menemukan seorang gadis dan menikahinya?"
Keduanya sama-sama terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hingga keduanya menoleh saat mendengar langkah kaki mendekat dan melihat Itachi menghampiri mereka.
"Yo, Naruto-chan," senyum Itachi seperti biasa.
"Itachi-san…umm…etto…"
"Tenang saja, semuanya sudah beres," balas Itachi, tersenyum ramah seperti yang selalu ia lakukan. "Kau akan tetap bersekolah disini dan semua skandal tentangmu juga dihapuskan."
"Eh?" Naruto terbelalak, sedikit tidak percaya.
"Hehe…mulai sekarang sekolah dengan baik ya, jangan ikutan 'drama sekolah' lagi, cari club lain deh…" Itachi mengacak rambut Naruto riang. Perlahan mata Naruto seolah mendapatkan cahayanya kembali dan sebuah senyum terlukis di bibirnya.
"Terimakasih banyak," Naruto mengangguk gembira. Ia sama sekali tidak memerhatikan dan bahkan sama sekali tidak melihat ekspresi Sasuke. Ya, Sasuke yang kini menatap kosong dengan mata terbelalak. Dia sudah bersama Itachi seumur hidup, dia bisa menebak jalan pikirannya, dan dia juga tahu pasti arti senyuman aniki-nya itu.
~OoooOoooO~
"Oi Naruto, kemarin kau tidak masuk sekolah kenapa? Dan kudengar Sasuke juga tidak masuk loh…jangan-jangan kalian pergi kencan ya?" goda Kiba dan langsung disambut sorakan dari anak-anak yang lainnya.
"Apaan sih Kiba, aku nggak masuk ya nggak ada hubungannya dengan Sasuke," balas Naruto dengan cengirannya yang biasa.
"Iya benar, habisnya sekarang Naruto masuk tapi Sasuke-kun belum masuk," balas Sakura.
"Eh? Sasuke nggak masuk?" Tanya Naruto.
"Ehm, tuh kan penasaran," goda Lee. "Bilang saja kau memperhatikannya."
"Huuu tidak kok…"
"…bla…bla…"
Dan kehidupan sekolah berjalan seperti biasa. Naruto mengira Sasuke paling masih ada masalah dengan Itachi, jadi dia tidak begitu peduli Sasuke belum masuk sekolah. Hingga seminggu kemudian dan Sasuke sama sekali belum menghadri kelasnya, ia mulai penasaran.
"Hoi Naruto, kau yakin tidak bertengkar dengannya dan menyinggung perasaannya? Soal perebutan kekuasaan club misalnya?" Tanya Ino.
"Tidak kok," balas Naruto.
"Terus kenapa dia belum ke sekolah juga? Kau sudah menghubunginya? Yang punya nomor nya kan Cuma kau saja, dia sama sekali tidak mau memberikannya padaku."
"Tentu saja Ino gendut, mana mungkin Sasuke-kun mau memberikannya padamu," ledek Sakura.
"Huh! Jidat lebar, memangnya dia memberikannya padamu?"
"Berisik! Ah, Naruto. Cepat hubungi sekarang!"
"Chee, iya iya," Naruto menekan nomor Sasuke dan menelfonnya dengan speaker diaktifkan. Tapi yang menjawab justru operator yang mengatakan kalau nomor yang di[anggilnya tidak terdaftar.
"Mungkin dia ganti nomor?"
Naruto angkat bahu. "Aku Cuma punya yang ini."
Naruto sendiri juga heran, malam itu ia menimbang-nimbang untuk menelfon nomor rumah Sasuke. Tapi ia tidak berani menggunakan telefon rumahnya dengan kedua orang tuanya berada di rumah, jadi Naruto masih berdiam diri saja. Setelah dua minggu Sasuke tak muncul di sekolah, akhirnya Naruto mencoba menghubungi nomor rumah Sasuke dari telefon umum, dan hasilnya nomor tersebut sudah mati. Naruto lalu mencoba mengubungi Itachi, nomornya juga sudah tidak bisa dihubungi.
"Kyuu-nii, kau masih suka kencan dengan Itachi-san?" Naruto menelfon Kyuubi suatu sore.
"Eh? Itachi? Siapa?"
"Ish, kau itu! Jangan meledekku. Pacarmu lah, siapa lagi."
"Huh? Pacarku? Yang benar saja! Itu kan nama cowok, masa aku pacaran dengan cowok?"
Deg!
Jantung Naruto langsung berdegup dua kali lebih cepat.
"Ja-jangan bercanda…Kyuu-nii. Nggak lucu tahu…"
"Yee…siapa juga yang bercanda. Ah, pacarku nelfon sms minta jemput. Sudah dulu ya Naru-chan…"
"Pacar? Siapa?"
"Akame-chan lah…siapa lagi. Sudah dulu ya…bye…"
Naruto Cuma bisa mematung dengan telefon masih di telinganya meski nada putus sudah terdengar dari tadi. Keesokan harinya ia langsung menemui pihak sekolah dan menanyakan apakah ada siswa pindah akhir-akhir ini, dan sayangnya tidak ada.
"Lalu apa ada siswa yang cuti semester?" Tanya Naruto lagi.
"Umm…ada beberapa. Siapa yang kau maksud?" petugas itu membolak-balik map nya.
"Sasuke. Uchiha Sasuke."
Petugas itu kembali membolak-balik map nya. "…tidak ada," jawabnya kemudian.
"Yang benar saja! Coba cari sekali lagi!"
"Sudah kubilang tidak ada. Apa harus kubacakan? Sakamoto Yuu, cuti semester karena cedera saat ikut tournament bela diri, Ganta Michizu, cuti semester karena patah tulang, Rin Ookimura, cuti semester karena sedang terapi. Tidak ada nama Uchiha Sasuke."
Naruto Cuma mematung.
"Baiklah, sebentar," petugas itu mengetik sesuatu di computer lalu mengerutkan alis menatap hasilnya.
"Ada apa?!" Tanya Naruto.
"Err…siapa nama temanmu tadi?"
"Uchiha Sasuke."
"U-c-h-i-h-a S-a-s-u-k-e?" petugas itu mengeja hurufnya. "Hurufnya sudah benar?"
Naruto mengangguk. Petugas itu tampak bingung lalu menatap Naruto. "Tidak ada nama itu di database sekolah ini. Dia tidak pernah terdaftar di sekolah ini, mungkin dia di sekolah lain?"
Dunia terasa berhenti berputar di mata Naruto. Apa maksudnya itu? Tanpa sadar, ia sudah berlari. Ia menyetop taxi setengah tidak sadar dan menuju rumah Sasuke.
"Tuan, kembalian Anda," Naruto bahkan tidak menghiraukan teriakan si sopir taxi saat ia turun dari taxi dan langsung berlari ke arah mansion Uchiha. Ia berlari tanpa memedulikan sekitarnya hanya untuk membuat jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat tempat yang seharusnya menjadi lahan berdirinya mansion Uchiha itu kini hanyalah lahan kosong yang sudah diberi pagar dengan plakat bertuliskan pembangunan lapangan golf. Naruto langsung menghampiri saat seseorang berseragam pekerja lewat.
"Permisi, apa Anda tahu pindah kemana mansion dan pemiliknya yang dulu di lahan ini?" tanya Naruto. Petugas itu menatap heran.
"Lahan ini sudah kosong sejak awal. Dan seorang pengusaha telah membelinya dan akan membangun lapangan golf disini."
~OoooOoooO~
"Oi oi…yang benar saja…"
Semua murid tidak percaya saat Naruto menceritakan hal tersebut. Mereka beramai-ramai menemui pihak sekolah dan menanyakan keberadaan Sasuke, tapi jawabannya tetap sama. Tidak ada murid bernama Sasuke yang pernah menginjakkan kakinya di sekolah itu. Mereka mencari dengan cara lain, dengan berbagai cara, tapi hasilnya nihil. Selain ingatan yang ada, jejak bukti bahwa seseorang bernama Sasuke Uchiha pernah ada benar-benar sudah dihapuskan.
Naruto berjalan dengan wajah tertunduk sore itu. Dia baru keluar dari sekolah, dan berjalan menusuri tepian jalan tanpa menyapa siapapun. Ia menghentikan langkahnya di tepi taman yang sepi, bayangannya tampak begitu tinggi karena matahari yang sudah sangat condong.
"Apa ini yang kau maksud dengan semua sudah terselesaikan, Itachi-san?" ucap Naruto pada dirinya sendiri. Ia lalu menatap matahari sore yang sinarnya tak begitu menyakitkan sapphire birunya itu. "Aku harus mencari kemana kalau kalian tidak ingin ditemukan?" ia sudah berusaha, dan ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia tersenyum, "Tapi suatu saat aku yakin bisa bertemu kalian lagi. Dengan keadaan yang berbeda, dengan suasana yang berbeda. Sampai saat itu tiba…" tanpa sadar sebulir air mata mengalir dari sudut matanya. "…aku akan selalu mengingat kalian…"
.
.
.
~OoooOoooO~
.
.
.
Suasana tidak begitu ramai sore itu, matahari sore yang hangat menyinari distrik yang bersebelahan dengan taman kota. Seorang laki-laki bersurai pirang keluar dari toko sambil menenteng tas belanja dan menggandeng seorang anak bersurai sama, lalu dibelakangnya mengikuti seorang wanita bersurai hitam yang tengah menggendong seorang anak bersurah hitam pendek.
"Kalian mau kemana lagi? Mumpung hari ini Tou-san libur kerja nih…" ucap si pirang.
"Himawari mau es krim…" ucap si gadis cilik.
"Aku juga aku juga," sambung bocah cilik yang satunya.
"Baiklah, ayo kita makan es krim," jawab si pirang lalu melangkah pergi. Tapi ia lalu berhenti saat menyadari istrinya tak mengikuti. "Ada apa, Hinata-chan?" tanyanya.
"Umm…kurasa tadi aku melihat seseorang sedang memerhatikan kita, Naruto-kun. Mungkin kenalanmu?" jawab wanita itu.
"Hng…?" Naruto menatap ke arah tatapan Hinata tapi tak menemukan siapapun.
"Ah, mungkin Cuma perasaanku saja," ucap Hinata kemudian.
"Ya sudah, ayo pergi."
Seseorang memerhatikan keluarga bahagia itu melangkah menjauh. Ia menghembuskan nafas panjang sebelum berjingkat kaget saat seseorang merangkul pundaknya.
"Geez! Berhentilah mengagetkanku nii-san! Bagaimana kalau aku jadi kena serangan jantung?" omelnya.
"Hahaha orang keras kepala mana mungkin kena penyakit," balas si sulung.
Keduanya terdiam, memerhatikan keluarga bahagia tadi yang sudah lenyap dari pandangan.
"Kau yang memutuskan. Aku hanya bertindak sesuai apa yang kau akibatkan," ucap si sulung datar.
"…" terdiam untuk beberapa saat. "…kau benar," balasnya. "Dan kurasa itu yang terbaik."
Mematung sejenak sebelum akhirnya tertawa dan mengacak rambut otouto-nya itu, mereka mulai berjalan meninggalkan tempat itu.
"Tapi apa 'menghapus keberadaan' itu tidak keterlaluan ya, Nii-san? Seberapa besar pengaruh orang santai sepertimu sih, Uchiha Itachi-sama yo…"
"Hee? Harusnya kau bangga punya nii-san sehebat ini, Sasuke-kun," balasnya. "Ah, ngomong-ngomong, kapan kau menikah? Nii-san mu ini sudah akan punya anak yang kedua dan kau bahkan belum mengenalkan calon istrimu?"
"Berisik…"
"…hahaha…"
"…lagipula…"
Dan mereka pun menghilang di balik jalan yang menurun dan terlindung oleh bayangan matahari.
.
.
.
~The End~
.
.
.
Err…unexpected ending (maksudnya author sendiri jg gak nyangka ngetik ini ternyata langsung ending) XD
Ooke, ada pertanyaan? Angkat tangan…eh, maksudnya Log in dan tanyakan :3
Makasih atas partisipasinya, sampai jumpa d fanfic yang lain ^^/
