HOSH…. HOSH…. HOSH….

Gomen telat, Saiya benar-benar mengalami dilema tingkat akut! Saiya terus merenung dan merenung… nyari2 jalan keluar yang mufakat bareng all chara *?*

N' setelah perdebatan sengit antar para chara ama author juga, akhirnya jadilah dua chaps ini… sebenernya mau dibikin satu chaps, tapi terlalu panjang, dipotong2 takut gag dapet feelnya, gag dipotong ajah belom tentu dapet!

Karna Lhyn janjinya bakal OWARI, jadi Lhyn apdet langsung dua-duanya sebagai bentuk pertanggung jawaban Lhyn Plus SOGOKAN untuk para readers n' Rifyuwers supaya jangan marah ama Lhyn.

MAAP YA? GOMEN!

Bales Rifyu :

Riichan LuvHiru : hehehe… bikin Kakasaku lagi cih mau… tapi gag jamin gag bikin mereka menderita lagi… *dirajam Kaka-Saku* hehehe…. Arigatou ya Riichan…

I hate Kakashi and hate Sakura : Haduh2… maap bikin Hinata menderita… gomen… gomen… Arigatou dh rifyu…

Michiru No AkaSuna : hahaha maap… maap… *garuk2 kepala ketombean* hu'uh sasu mulai suka ama saku… hah.. gag nyangka udah mau owari… Arigatou dah rifyu…

Awan Hitam : K jangan takut donk bacanya… tar kalo takut gag teu endingnya lho… maap yah… Lhyn udah bikin K awan sakit hati… dibaca yah endingnya… plish… Arigatou K Awan udah dukung Lhyn dari awal ampe akhir fic ini… Arigatou K….

Hikari Uchiha Hatake : Lho? Kok banyak yang seneng ya Hinata gag hamil? Iyah ini yang terakhir saiya apdet… arigatou Hikari udah setia mendukung Lhyn dari awal ampe akhir ya… arigatou…

Hatake Lerina : LUPH YU TOO Lerina… Aduh… pasrah deh dipanggil senpai… Arigatou dah rifyu fic ini… maap yah apdetnya telat…

Azuka Kanahara : Wah… saiya punya bakat? Hore! Saiya punya bakat! *treak2 gaje* Gomen telat apdet! Arigatou Azuka udah mendukung fic ini sampe akhir.. Arigatou….

Ayano Hatake : Arigatou Ayano… sabar ya…. Ini coklat buat ayano biar gag sedih lagi… *nyodorin sekotak coklat* Arigatou Ayano udah rifyu dari awal ampe akhir… Arigatou…

Silver Queen : maap gag bisa apdet kilat… maap juga udah menguras air mata Silver Queen… Arigatou dah rifyu…

Venisia : Arigatou Venisia…. Maap gag bisa apdet kilat…. Kakashi emang udah sadar kok.. Arigatou dah rifyu…

Mhaya Hatake : Hahaha… maap bikin Mhaya bimbang gitu… Arigatou dah rifyu…

dei hatake : Haduh… kalo baca jgn lupa ambil nafas dei-chan… akh… akhirnya kesian juga ama Hinata… emang kesian. Jahat banget anak orang saiya gituin *dicincang hiashi* Aigatou dei-chan setia rifyu dari awal ampe akhir…

FB widyan d'Fours nii : hehehe… *garuk2 kepala kutuan* Kakasaku ya?... Arigatou dulu ajah ah… thx dah Rifyu…

ZephyrAmfoter : iyah udah mau berakhir… hiks sedih juga…. Tebakannya Zephyr-kun bagus! Arigatou Zephyr dah setia ama fic saiya…

Lita-chan : Salam kenal juga… syukurlah kalou bagus… endingnya? Baca ajah ya? Arigatou Lita-chan dah rifyu…

Heiress Hinata : haduh… rifyunya Nee-chan kebanyakan kata maap… jadi gag enak ndiri… saiya maapkan semuanya kok Nee-chan *dibekep nee-chan* arigatou atas segala puja dan puji— *Buzh- terlempar ke mars* Sebenernya niat awal fic ini mau dibikin dalam All Saku, tapi kayaknya seru juga mengexplore yang lainnya… jadinya meskipun yang lain juga terexplore tapi tetep sakulah yang paling banyak dapet honor karna paling banyak scene… *ngitung2 buku utang ke Sakura* Arigatou Nee-chan…

NaraHatake : Enggak kok, endingnya gag kaya gitu meskipun nyrempet2… Arigatou NaraHatake dah Rifyu…

cyfz harunoo : ternyata dua chaps kok… déjà vu itu semacam potongan kejadian yang pernah terjadi n' kemudian terjadi lagi… saiya yakin setiap otang pasti pernah mengalaminya *Buahg…* Arigatou dah rifyu…

ie'chan : hahaha… maap maap… *ketawa salting* saiya emang jahat banget ama Hinata-chan… Arigatou dah rifyu…

hyuneko : hahaha… bahagia sekali saiya kalo endingnya gitu…. Selamat atas tebakan hyuneko yang Binggggggooo! Arigatou dah setia ama Fic ini…

Sadness and sorrow : Iyah… udah mau berakhir… abis Kakashi minta honornya dinaikin n' saiya gag kuat bayarnya… Arigatou dah rifyu….

sava kaladze : Oh Sava *peyuk2 sava* nasihatmu membuatku terharu… Kakashi emang kejam *ngedepak Kakashi-dibantai K Awan* saiya juga setujuh ama kata2 sava… tapi…. Hiks… maap kalo mengecewakan… Arigatou dah setia ama fic Lhyn dari awal ampe akhir…

Fun-Ny Chan : salam kenal juga… endingnya… umm… baca ajah ya? *dipalu Fun-Ny chan*

Gieyoungkyu : maap gag bisa apdet kilat… Aigatou udah rifyu…

Hataruno Hatake : Iyah… saiya juga pengen berakhir bahagia… arigatou dah rifyu…

Mikaku Haruno Saku: Arigatou dah rifyu… saiya juga sulit merelakan Kakashi buat Hinata, apa lagi buat Sakura… mending buat saiya ajah sendiri… *dicemplungin keempang*

Akina Takahashi : Arigatou Akina-san *boleh panggil gini?* maap apdet telat… tapi saiya tetep semangat kok.

The1st : Hahaha… Kakashi jadi fahri emang lucu… maap apdet telat… tapi spesialnya ada kok… Arigatou dah setia ama 2nd Sakura…

Rein : Keputusan Sakura? Just read…*ditimpuk* Arigatou dah rifyu…

CheeryBeery: Huhuhu…. Entahlah, disini lebih banyak Sakuranya sendirian… Arigatou dah rifyu…

Vipris : Salam kenal juga… Arigatou dah rifyu, tebakannya… um…. Baca ajah lah… *dibakar*

``2nd Sakura``

Disclaimer : Bukan Punyaku sumpah, itu punya Om Masashi Kishimoto SUER DAH!

Warning : AU, Gaje, Aneh, pre Junior Author… jadi sorry banged kalo gaje.. OOC (Pasti), OC (beberapa peran gag penting), typo (Buanyak banget) N' segala macem temen satu paketnya… dan saiya mengharapkan…Dukungan, Kritik dan Saran... lewat Rifyu, Tapi Flame udah gag diterima! Coz dah dichaps akhir… hehehe….

``2nd Sakura``

Sakura kembali merasakan rasanya hancur. Merasakan bagaimana rasanya hati itu seakan terbakar, terpotong, dan hancur. Sakura berlari sekuat dia bisa, terus menyusuri lorong-lorong yang begitu panjang. Dia tak menghiraukan orang-orang yang berteriak memakinya karna berlari-larian dirumah sakit. Dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu.

Hinata hamil

'Kami sama…. Kenapa? Kenapa rasanya begitu sakit? Kenapa rasanya begitu menyesakkan? Kenapa rasanya aku tak rela dengan hal ini… Memalukan… kenapa aku seperti ini? Kenapa aku begitu jahat? Kami-sama…'

Terus mengisak,

'Ada apa dengan diriku kami-sama? Kenapa semuanya jadi terasa gelap?kenapa rasanya aku… Ingin mati? Kenapa semuanya jadi terasa begitu kelam?'

Greb.

Seseorang baru saja menarik pergelangan tangan Sakura dan membawa tubuh Sakura kedalam pelukannya. Mendekapnya hangat, mengusap rambutnya lembut, menenangkan.

"Sa…su…ke…" Isaknya lemah.

"Menangislah." Kata pria itu, begitu dalam, kemudian merengkuhnya lebih dalam.

``2nd Sakura``

"Kakashi…" kata Hinata lambat-lambat, dia memandang pilu Kakashi yang menunduk didepannya. Kedua tangannya meremas kuat-kuat rambut peraknya. "Kaka Arghhh…" tiba-tiba seperti ada sebuah tali yang membelit perutnya, membuat perutnya terasa begitu sakit.

"Hinata." Kakashi bangun dari kursinya dan berdiri disamping Hinata.

"Tid Arggghhh…" Hinata meremas perutnya sendiri menahan rasa sakit yang begitu mengoyak perutnya. Hinata memandang mata berbeda warna yang memandangnya cemas, kemudian pandangannya beralih ke bibir pucat yang berdarah. "Kakashi…" lirih Hinata, ingin sekali dia berkata agar pria itu tidak menyakiti dirinya sendiri seperti itu. Tapi kata-katanya hanya mampu mencapai tenggorokan sebelum kemudian pandangannya kembali menggelap.

``2nd Sakura``

"Tidak ada waktu lagi Kakashi. Kau harus secepatnya memberitahukan hal ini padanya, dia harus segera mempersiapkan dirinya Kakashi." Bentak TSunade pada Kakashi. Wanita itu menatap garang pada Kakashi yang hanya duduk tak berdaya dihadapannya.

"Dia tidak akan pernah siap dengan ini, aku melihat dia begitu bahagia mendengar kabar kehamilanya. Rasanya terlalu kejam bila—"

"Jauh lebih kejam bila kita terpaksa membiusnya dan mengangkat rahimnya diam-diam. Kanker itu sudah mencapai stadium tiga Kakashi, kita harus segera mengangkat rahimnya sebelum kanker itu mulai menjangkau organ fital lainnya."

"Aku mengerti." Kata Kakashi, tanpa emosi dalam nadanya.

Ada banyak keraguan dalam hatinya, kebimbangan yang membuatnya selalu tak yakin untuk mengambil keputusan. Memalukan sekali mengingat dia sebenarnya ketua divisi pertahanan Anbu. Membuatnya yakin bahwa dialah pria paling lemah saat ini.

``2nd Sakura``

Hinata membuka matanya pelan-pelan, kepalanya terasa berat. Dia mencoba mengingat apa yang membuatnya lagi-lagi harus pingsan kali ini.

Deg!

Dia ingat. Dia kembali mengalami sakit perut yang luar biasa. Kemudian perasaannya menjadi tak menentu begitu saja.

Tidak.

Kami-sama… Jangan sampai aku kehilangan anakku.

Tidak… tidak… tidak… itu pasti hal yang wajar ketika hamil. Pasti bukan apa-apa, tidak apa-apa. Hinata mengusap perutnya sendiri dengan lembut. Tidak apa-apa.

Clek.

Seseorang membuka pintu kamarnya, Hinata mengalihkan pandangannya pada sosok itu. Kakashi, wajahnya tampak tanpa emosi. Rambut peraknya sedikit berantakan dan ada garis hitam dibawah matanya. Kakashi tersenyum lembut padanya, membuat hatinya terasa hangat. Kami-sama, benarkah pria itu tidak akan pernah meninggalkannya? Benarkah dia akan terus bertahan disini, disisiku? Benarkah kami-sama?

"Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu?" Tanya Kakashi mengusap rambut Hinata pelan.

"Sangat baik." Jawab Hinata dengan senyum lembutnya, kemudian bangkit dari tidurnya dan bersandar dikepala tempat tidur dengan nyaman.

Kakashi duduk disamping tempat tidurnya, mengenggam tangannya hangat. Hinata memandang mata berbeda warna yang tampak kosong menerawang. Sekarang Hinata merasa egois. Dia merasa telah melakukan sesuatu yang sangat salah. Memisahkan dua orang yang saling mencintai. Tapi, bukankah Kakashi sendiri yang memilihnya? Dia telah memberi kesempatan pada pria itu untuk meninggalkannya, memberi dia kesempatan untuk bersama gadis yang dicintainya. Dan Kakashi memilih tetap disini, bersamanya.

"Hinata, ada yang ingin kukatakan padamu." Kata Kakashi, dia menundukkan wajahnya seolah begitu enggan untuk menatap lavender Hinata.

"Ada apa Kakashi?" Hinata merasakan hatiya berdenyut tak nyaman. Dia takut pria itu akan mengatakan bahwa Kakashi berubah fikiran dan ingin meninggalkannya.

"Ini tentang kondisimu." Suara Kakashi bergetar sekarang.

"Kondisiku?" Hati Hinata mencelos. Tangannya tiba-tiba saja menjadi gemetar digenggaman Kakashi. "Katakan bahwa bayiku baik-baik saja." Suara Hinata begitu lemah, lebih menyerupai bisikan dari pada ucapan.

"Hinata…" Suara Kakashi terdengar parau. "Kau tidak… hamil." Kata Kakashi pelan.

Hinata terdiam sekian lama. Apa maksudnya? Tidak Hamil?

Hinata tersenyum…

"Kau bercanda Kakashi?" tanyanya dalam tawa tanpa kegembiraan.

Greb…

Kakashi memeluknya. "Hinata… maaf."

Kemudian Hinata merasakan seluruh darahnya menyusut, kepalanya berputar-putar. "Bo… bohongkan? Itu pasti hanya alasanmu agar kau bisa me… meninggalkanku, iyakan?" Hinata terisak. Rasanya takdir benar-benar tidak adil, baru saja dia merasa bahagia dengan kabar kehamilan itu, bagaimana bisa… "Kau bohongkan Kakashi?"

Kakashi tidak menjawab. Dia hanya mengeratkan pelukannya pada Hinata, mendekap kepala Hinata didadanya.

"Tapi… tapi Neji-nii bilang… aku… aku hamil…" Hinata terisak.

"Hinata… Diagnosa Shizune saat itu salah." Kakashi mengusap rambut indigonya, berusaha menguatkannya. "Yang dikira sebagai janin oleh Shizune saat itu adalah…. adalah kanker." Bisik Kakashi, begitu lirih.

Namun seakan diteriakkan tepat ditelinganya Hinata bisa mendengarnya dengan jelas. Sangat jelas, terdengar bagai petir yang menyambarnya tepat diubun-ubunnya, menggelegar membakukan seluruh tubuhnya.

Kanker…

Dirahimnya…

Ini pasti hanya mimpi…

``2nd Sakura``

Sakura merasa lebih tenang sekarang. Meski rasa sakitnya masih sama, rasa sakit itu selalu saja sama, membuatnya merasa lemah. Dan sekarang jauh lebih lemah. Dia tahu tak ada gunanya memikirkan ini, Hinata hamil dan itu sama sekali bukan urusannya. Dia bukan siapa-siapa dalam kehidupan mereka. Hinata istri Kakashi, dan Kakashi suami Hinata, mereka telah menikah dan wajar kalau Hinata hamil sekarang.

Sama sekali tidak pantas dia merasa sakit saat ini. Seharusnya dia senang mendengar kabar ini, senang bila Kakashi dan Hinata bahagia. Tapi kenapa hatinya sama sekali tidak bahagia? Justru sebaliknya. Dia merasa sangat sakit sekarang.

Sakura memandang pria yang duduk menopang dagu di depannya. Rasa bersalah benar-benar mengelilinginya saat ini. Bersalah pada Kakashi, Sakura pasti telah membuat hidup pria itu susah. Lalu pada Hinata, dia telah mengusik rumah tangganya, Sakura yakin saat dia datang Hinata dan Kakashi tengah bertengkar karnanya. Dan Sasuke. Pria ini, dia merasa sangat bersalah padanya. Sasuke pasti sangat kecewa padanya.

"Sasuke…" panggil Sakura hati-hati.

Pria itu mendongak, menampilkan mata onyxnya. "Hn."

"Maafkan aku." Sakura masih berusaha hati-hati, dia tak ingin melukai pria ini.

"Apa yang membuatmu memutuskan bahwa kau bersalah." Katanya memandang mata Sakura.

"Aku tidak memutuskan aku bersalah. Hanya saja aku merasa bersalah, maafkan aku. Seharusnya aku tidak menangis tadi. Aku tidak tahu kenapa, hanya saja rasanya sangat mencekik… aku…" Sakura mulai kembai terisak.

"Kau mencintainya." Kata Sasuke dingin.

"Maafkan aku." Sakura menyeka air matanya.

"Tidak perlu." Jawab suara dingin itu.

Jawaban itu membuat Sakura tahu bahwa Sasuke benar-benar terluka sekarang. Kenapa hidupnya jadi rumit begini? Kenapa semua orang tersakiti olehnya. Kenapa dia tidak bisa hidup normal seperti dulu… dulu saat dia masih diSuna, hidup normal tanpa kerumitan perasaan ini. Normal karna hanya Gaara yang ada difikirannya saat menjelang tidur. Normal karna tidak ada istri yang tersakiti karna cintanya. Normal karna tidak membuat orang lain sakit karna cintanya.

"Kalau saja aku tidak datang keKonoha." Bisik Sakura pada diri sendiri.

Apakah kalau dia kembali keSuna maka fikirannya akan kembali dipenuhi Gaara? Apakah kalau dia diSuna dia bisa berhenti memikirkan Kakashi seperti dia berhenti memikirkan Gaara setibanya di Konoha?

"Sasuke, aku ingin pulang…" kata Sakura lirih. 'keSuna' lanjut batinnya.

Sakura bangkit dari duduknya dikursi taman kompleknya yang sepi, Sasuke ikut bangkit dari batu tempatnya duduk didepan Sakura. Sakura berjalan kearah motor Sasuke terparkir tak jauh dari tempat mereka duduk. Jok motor itu tampak sedikit berembun karna udara malam yang dingin.

Sakura berfikir, mungkinkah semuanya akan lebih baik kalau dia tidak diKonoha sekarang? Pasti. Pasti akan lebih baik. Tidak akan ada yang mengingatkan mereka pada Sakura Haruno, tidak akan ada yang mengusik kehidupan Kakashi dan Hinata, tidak akan ada Sasuke yang tampak terluka sekarang. Tidak akan ada semua itu.

BMW hitam milik anbu telah terparkir didepan rumahnya saat dia tiba. Sakura turun begitu motor berhenti, dia melepas helmnya. Sasuke tampak jauh lebih dingin sekarang, dia tahu itu salahnya dan parahnya dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya untuk itu.

"Sasuke." Sakura meraih tangan dingin diatas stang kemudi motor itu. Sakura berdiri disamping pria dingin yang sama sekali tak mau memandangnya sekarang. "Maafkan aku. Tak seharusnya aku melakukan ini padamu. Mungkin seharusnya aku… aku…" Sakura tak tahu dia ingin bicara apa. Pria itu masih belum mengalihkan pandangan untuk memandangnya. Sakura menghela nafas berat. "aku tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan." Dia menarik nafasnya lagi. "Aku tidak mau kau terluka sepertiku. Sasuke… mungkin sebaiknya kita berhenti melakukan ini. Berhentilah mecoba membuatku jatuh cinta padamu, dan berhentilah untuk jatuh cinta padaku. Aku… aku tidak mau kau semakin terluka karnaku." Sakura memejamkan matanya."Mungkin semuanya akan lebih baik bila aku pergi."

"Bodoh." Terdengar desis dingin dari Sasuke. Sakura membuka matanya dan pandangannya langsung bertemu dengan mata Onyx Sasuke.

"Aku tahu." Kata Sakura.

Sasuke menarik tangannya dari genggaman Sakura dan mulai menyalakan motornya. "Hnya agar kau tahu Sakura, Aku tidak akan berhenti." Katanya masih dengan nada dingin yang sama dan kemudian menarik gas motornya dan melaju pergi meninggalkan Sakura.

Sakura memandang Hampa kepergian Sasuke hingga lampu belakang motor itu lenyap di belokan jalan. 'aku tidak akan berhenti' apakah maksudnya dia akan terus mencoba? Tapi… kenapa? Bukankah dia telah membuat pria itu terluka? Bukankah mencintai Sakura membuatnya terluka? Kenapa dia malah bilang tidak akan berhenti?

Sakura melangkah gontai memasuki rumahnya. Baru saja dia akan menaiki tangga menuju kamarnya saat dia memikirkan sesuatu. Dia berbalik dan melangkah menuju kamar Sasori. Sakura membuka pintunya pelan dan melihat Nii-channya baru saja selesai memakai kaos putihnya. Rambut merahnya masih basah. Sasori mengernyitkan alis ketika Sakura masuk.

"Ada apa Sakura? Kau baik-baik saja?" Tanya Sasori dengan nada ragu dan khawatir.

Greb.

Sakura memeluk Nii-channya, menyandarkan kepalanya didada bidang Nii-channya, menghirup aroma mint maskulin yang menenangkan. Tubuh Nii-channya terasa menghangatkan untuknya, lalu dia merasakan tangan besar Nii-channya merengkuhnya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Sakura. Sakura tersenyum. "Nii-chan, boleh aku meminta sebuah permintaan?" Tanyanya hati-hati.

"Kau habis menangis Sakura? Ada apa? Apa Sasuke menyakitimu?" Sasori bertanya dalam geram dan menyesal.

"Tidak Nii-chan, Sasuke baik padaku, sangat baik malah." Sakura tersenyum miris kali ini.

"Kalau begitu siapa Sakura?" kali ini hanya geram yang begitu terasa.

Sakura terkikik kecil. "Nii-chan menanyaiku seperti itu seperti ada pria yang menghamiliku saja."

"Aku tidak bercanda Sakura." Sasori hendak melepaskan pelukannya, namun Sakura menolaknya.

"Nii-chan, aku ingin kembali keSuna." Kata Sakura hampir dalam bisikan.

"Oh, jadi itu masalahmu? Kalau kau ingin berlibur keSuna, tak perlu menampirkan wajah semenderita itu Sakura." Jawab Nii-channya, mengusap lembut punggung Sakura.

Sakura melepas pelukannya dan memandang lekat-lekat kemata hijau pucat yang hampir sama dengan miliknya, lalu duduk disisi ranjang Nii-channya. "Bukan untuk berlibur Nii-chan, aku ingin tinggal disana selamanya."

"Jangan bercanda Sakura? Aku baru saja dipindahkan dari Suna dua bulan yang lalu, sangat aneh kalau tiba-tiba aku meminta dipindahkan keSuna kembali." Sasori memprotes.

"Ku bilang aku, bukan kita. Aku yang ingin kembali keSuna—"

"Sakura…" Sasori menghela nafas frustasi, kemudian dia duduk disamping Sakura, merangkulnya dan mulai berbicara dengan lembut. "Apa kau fikir aku bisa pulang kerumah yang tidak ada kau menungguku didalamnya Saku-chan? Sakura… kau satu-satunya yang kumiliki, bukan kerumah tempatku pulang, tapi kau Sakura, kaulah tempatku pulang." Sasori mengusap rambut pink Sakura lembut.

"Tapi Nii-chan… aku…" Sakura mulai merasakan wajahnya memanas, dia ingin menangis.

"Ada apa sebenarnya Sakura? Apakah ada banyak hal yang terlewat olehku hingga sekarang rasanya aku seperti tidak mengenalmu?"

Sakura benar-benar menangis sekarang. Dia sendiri tidak tahu, ada berapa banyak kejadian yang membuatnya menjadi selemah ini sekarang. Yang dia ingat hanya sebagian kecil dan semuanya tentang Kakashi. Kakashi… yah benar… hanya tentang pria itu. Rasanya benar-benar gila saat Sakura berusaha ada apa saja yang terlawat oleh Nii-channya dan yang ada diotaknya hanya rambut perak, mata berbeda warna, bekas luka yang memanjang di mata kirinya, sentuhan menghangatkan, senyum dan tawa yang menyenangkan, dan semuanya tentang Kakashi.

Sakura tak mampu menjawab pertanyaan Nii-channya lagi, dia hanya mampu terisak dan meringkuk dalam pelukan hangat Nii-channya hingga dia tertidur dalam pelukan itu.

``2nd Sakura``

Sakura tak tahu seberapa lama waktu yang dihabiskannya untuk ini. Dia tahu ini salah, dia tahu yang dilakukannya hanya membuat kesalahannya semakin besar. tapi dia sama sekali tak ingin bergerak dari keadaannya yang seperti ini.

Terkadang Sasuke datang disiang hari, kadang bersama Naruto,Ino, juga Tenten, dan kadang sendirian membawa ice cream kesukaannya. Mengajaknya mengunjungi beberapa tempat yang bernilai sejarah, atau kebeberapa tempat wisata yang sebenarnya sangat tidak cocok dengan pria itu. Tempat wisata selalu ramai dimusim liburan seperti saat ini, dan Sakura tahu tempat seperti itu sama sekali tidak menyenangkan bagi Sasuke, tapi dia tidak tahu kenapa pria itu tetap saja membawanya ketempat seperti itu.

Lalu dimalam hari Nii-channya akan datang dan memeluknya hingga dia tertidur.

Dia tahu, dan dia bisa melihat pandangan prihatin mereka saat memandangnya. Tapi dia tidak tahu apa yang diprihatinkan mereka. Dia merasa dirinya baik-baik saja, dia merasa tidak ada yang salah dengan dirinya kecuali sikapnya yang Sakura sadari sedikit menjadi anti sosial. Tapi, apa anehnya buat mereka? Keduanya juga jauh lebih anti sosial dari pada dirinya.

"Sakura…" terdengar suara Nii-channya memanggil.

"Hmm.." dia menjawab meskipun tidak mengalihkan pandangannya dari lampu-lampu dijalanan komplek rumahnya.

Sreet…

Sakura mendengar Nii-channya membuka pintu kaca balkon kamarnya lebih lebar, lalu Sakura mengalihkan pandangannya saat Nii-channya ikut duduk dilantai balkon dan bersandar didinding yang sama dengannya.

"Ayame sudah menceritakan apa yang dia tahu tentangmu dan…" terdengar helaan nafas berat "Kakashi."

Deg!

Jantung Sakura berpacu jauh lebih cepat sekarang. Wajahnya terasa memanas ditengah udara dinginnya malam Konoha. Beberapa hari ini dia selalu mencoba menghindari topik pembicaraan tentang Kakashi, dan sekarang Nii-channya menyebut nama itu dengan gamblangnya. Dia lebih memilih pendengarannya rusak dari pada mendengarkan ini sekarang.

Sangat menyakitkan bila kau berusaha mati-matian melupakan sebuah perasaan, melupakan seseorang yang kau yakin takkan pernah bisa kau lupakan dan sekarang ada orang lain yang mengingatkanmu padanya. Itulah yang dirasakan Sakura sekarang.

"Kau akan berangkat keSuna besok pagi bersama Sasuke. Nii-chan sudah membicarakan ini dengannya dan Nii-chan juga sudah bicara dengan Temari agar kau bisa tinggal bersama mereka setidaknya untuk setahun kedepan sampai Nii-chan bisa mengajukan permohonan kepindahan pada Anbu." Kata Sasori, Sakura bisa merasakan pandangan Nii-channya yang begitu menghujamnya.

"Maafkan aku, Nii-chan… aku pasti mengecewakanmu." Kata Sakura lambat-lambat.

"Aku kecewa pada diriku sendiri Sakura, aku tidak bisa menjagamu deng—"

"Jangan bicara seperti tu, Nii-chan adalah Aniiki terbaik. Sakura sangat beruntung punya Aniiki seperti Nii-chan." Sakura memeluk lengan Sasori.

"Kau sangat mencintainya Sakura?" Suara Sasori berat.

Sakura memandang Nii-channya yang sekarang memandang kosong lampu-lampu yang berpendar keemasan dijalanan, lalu menunduk. Dadanya kembali berdenyut sakit. Dia tahu berapa kalipun dia mencoba dia takkan pernah bisa lepas dari Kakashi. Tapi bukan berarti dia ingin bertahan. Sakura ingin melepasnya, melepas segala perasaannya pada pria itu.

"Lupakan dia Sakura."

"Aku tahu." Jawab Sakura cepat. Dia tahu dia harus melupakannya. Tapi mengucapkan kata 'melupakan Kakashi' seribu kali bahkan tak terhitung berapa kali lebih mudahnya dibanding melakukannya. Kakashi seakan telah memenuhi setiap sel dalam dirinya. Melupakan Kakashi seakan harus melupakan keberadaan dirinya sendiri. Hal yang sangat tak mungkin dilakukan oleh siapapun.

Sakura menyandarkan kepalanya dibahu Sasori. Menutup matanya, menghembuskan nafas berat dan mencoba merileks.

``2nd Sakura``

Sinar matahari pagi menembus kelopak mata Sakura dengan lembut. Sakura mengeliat pelan merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Hari ini cukup cerah, dan Sakura siap meninggalkan Konoha hari ini. Dia ingin kembali kekehidupannya yang normal di Suna, dia ingin melupakan sedikit tentang Konoha, sedikit karna dia tidak yakin bisa melupakan Konoha meski hanya sedikit.

"Kau sudah bangun?" sebuah suara hangat menarik perhatiannya. Sakura bangkit dan duduk ditempat tidurnya. "Sasuke bilang kau ingin mengunjungi beberapa temanmu sebelum berangkat."

"Hem… aku ingin berpamitan dengan mereka." Kata suara parau Sakura.

"Kau tampak sangat kacau Sakura, aku harap semuanya akan baik-baik saja setelah kau kembali keSuna." Sasori mengusap pipi Sakura lembut.

"Semuanya memang baik-baik saja Nii-chan. Aku hanya merasa… " Sakura terdiam mendadak, tidak melanjutkan kata-katanya. 'merasa sakit berada disini, dan itu berarti memang tidak baik-baik saja.'

"Sebaiknya kau mandi. Sasuke sudah menunggumu dibawah." Kata Sasori, kemudin keluar meninggalkan Sakura.

Sakura bangkit, meraih handuknya dan beranjak kekamar mandi. Dengan celana jeans biru pendek selutut dan kaos putihnya Sakura turun menemui Sasori dan Sasuke yang tengah duduk dalam diam didepan televisi, siaran berita yang menampilkan tentang kasus penyebaran video porno di internet tampak tidak menarik bagi keduanya.

"Kalian sudah sarapan?" Sakura duduk diantara keduanya.

"Belum, kami menunggumu." Jawab Nii-channya, sementara Sasuke hanya memandangnya sekilas.

Setelah sarapan, Sakura dibantu Sasori, Sasuke dan Ayame mulai memasukan barang-barangnya kedalam bagasi ferrary biru Sasuke. Sasori memeluknya dan mengecup keningnya begitu lama seolah tak ingin melepaskannya, sebelum dia berangkat. Dan Ayame, wanita itu sampai menangis saat memeluk Sakura.

"Nii-chan akan sering-sering menemuimu." Kata Nii-channya dalam suara parau.

Sasuke membawa Sakura ke Universitas Konoha untuk mengucapkan perpisahan dengan taka no Konoha yang hampir seluruhnya berada ditempat itu. Mengucapkannya pada Tenten jauh lebih mudah dari pada mengucapkannya pada Ino yang tampak sangat tidak rela saat dia berpamitan pergi.

Sakura berniat ingin menemui Hinata untuk berpamitan, tapi kemudian Neji bilang Hinata tengah berlibur bersama Hanabi kesebuah pulau tropis diutara Konoha. Dan dia sama sekali tidak berniat mengucapkan perpisahan pada Kakashi. Sakura yakin dia tidak akan sanggup menatap matanya tanpa menangis. Lagi pula, dia yakin itu pasti sama sekali tidak akan berpengaruh pada Kakashi. Pria itu telah memilih Hinata. Dan sepantasnya dia tetap memilih Hinata dan dia memang sama sekali tak pernah berharap Kakashi meninggalkan Hinata untuk dirinya.

Matahari telah sedikit condong kebarat saat Sakura melintasi gerbang Konoha School. Ino mati-matian memintanya untuk tinggal makan siang bersamanya di kantin kampus dan dia tak bisa menolaknya. Ada perasaan berat, tapi juga ada perasaan ringan didadanya saat dia memandang untuk terakhir kalinya tempat dimana bisaanya mobil Kakashi akan menunggunya sepulang sekolah.

Sakura merasakan tangan dingin mengenggam tangannya, dia memandang tangan besar yang menggenggamnya dan balas mengenggamnya erat. Tak tahu kenapa tangan itu selalu terasa dingin saat pertama kali menyentuh kulitnya, tapi selalu memberi kehangatan yang diperlukannya, memberinya kekuatan yang dibutuhkannya.

Jarak dari Konoha ke Suna biasanya dapat ditempuh dalam waktu delapan sampai sepuluh jam. Tapi kali ini Sakura yakin mereka bisa sampai diSuna dalam waktu enam jam mengingat kecepatan tak wajar Sasuke saat mengemudi ferrarinya. Sakura memejamkan matanya menahan sesuatu yang ingin keluar dari matanya. Sesuatu yang akan membuatnya terlihat lemah.

``2nd Sakura``

Sakura membuka menggeliat pelan, tubuhnya terasa nyaman dalam balutan selimut tebal. Kasur dibawahnya terasa empuk, dan udara dari air conditionernya terasa begitu basah. Dia membuka mata dan mengerjap pelan saat cahaya keemasan menembus kornea matanya.

"Kau sudah bangun Sakura?" terdengar suara seorang wanita cukup lembut.

Sakura mengalihkan pandangannya dari langit-langit kamar itu dan melihat seorang wanita tengah berdiri diambang pintu kamar, wajahnya tersenyum. Rambut pirangnya tergerai pendek. "Temari-nee…" Sakura bangkit buru-buru, tapi sosok itu lebih cepat bergerak dan memeluknya.

"Aku merindukanmu Sakura, bagaimana kabarmu?" Temari melepas pelukkannya dari Sakura.

"Aku juga merindukanmu Temari-nee, aku baik-baik saja. Bagaimana kabar Temari-nee, Kankuro-nii, dan… Gaara." Tanya Sakura, sedikit memberi penekanan berbeda di nama terakhir.

"Kankuro baik, sedangkan Gaara, sebelumnya sih baik, tapi sekarang sepertinya tidak baik-bak saja."

"Gaara kenapa? Dia sakit?" Tanya Sakura cemas.

"Yah… sakit hati kurasa." Jawab Temari dengan nada sedikit menggoda.

"Liver?" Tanya Sakura terkejut.

"Lebih parah dari liver, namanya cemburu."

"Hah?" Sakura cengo.

"Hahaha…" Temari tertawa kecil. "Seharusnya kau lihat bagaimana wajahnya saat kau datang dalam gendongan pria itu." Katanya.

"Sasuke." Seru Sakura terkejut, Kami-sama… kenapa dia baru ingat tentang Sasuke sekarang? "Dimana Sasuke."

"Pria Uchiha itu? Dia langsung pergi begitu membaringkanmu ditempat tidur." Jawab Temari. "Jadi dia pengganti otoutoku? Kasihan sekali Otoutoku itu."

"Temari-nii…" Desah Sakura, dia jadi merasa tidak enak. "Jadi Sasuke sudah kembali ke Konoha?" Sakura sedikit kecewa, dia belum mengucapkan terimakasih dan selamat tinggal pada Sasuke, dia juga belum menanyakan apakah hubungannya akan tetap berlanjut mengingat jarak antara Konoha-Suna cukup jauh, meskipun itu sebenarnya bukan alasan.

"Tidak, dia masih di Suna mungkin menginap di Hotel, dan kalau tidak salah ingat dia bilang akan datang pagi ini."

"Benarkah?" Tanya Sakura lagi, anehnya dia masih merasa sedikit kecewa, dia tak tahu bagaimana caranya mengucapkan perpisahan pada Sasuke."Jam berapa sekarang?" Tanya Sakura, mengingat kebiasaan Sasuke datang tepat jam setengah tujuh.

"Setengah tujuh, kena—"

"Aku harus mandi." Kata Sakura beranjak dari tempat tidurnya."dimana handukku?" dia memandang Temari setelah memandang tasnya tergeletak tanpa isi dilantai, Temari menunujuk kesebuah lemari besar disalah satu sisi dinding.

Sakura membuka lemari itu, kemudian mencari-cari handuknya dan menemukannya di salah satu tumpukan yang semuanya berisi handuk-handuknya. Sakura meraih salah satu dan beranjak kekamar mandi.

Temari, Kankuro, dan Gaara adalah tiga bersaudara yang sangat Sakura kenal, sejak kecil mereka telah bertetangga. Sakura tak pernah menganggap mereka sebagai orang lain. Sakura harus tinggal bersama mereka karna rumahnya sendiri telah disewa selama setahun penuh oleh seorang oengusaha dari Kirigakure.

Sakura keluar dari kemarnya setelah selesai menyisir rambut pinknya. Rumah itu masih sama seperti beberapa bulan yang lalu, saat terakhir dia melihatnya. Rapi dan hangat dengan cahaya keemasan yang berpendar dari pasir diluar sana.

"Sakura! Kau sudah bangun? Kami-sama, kau sama sekali tidak berubah… tidak.. tunggu… sepertinya sedikit lebih tinggi." Kankuro muncul tiba-tiba didepan Sakura dan mengukur tinggi Sakura dengan tangannya.

"Aku pikir dua bulan belum lama." Kata Sakura.

"Benarkah?" dia tampak menimbang-nimbang. "Ah, sebaiknya kau segera keruang tamu. Ada aroma tidak enak disana, dan aku tidak mau ruang tamuku hangus terbakar." Katanya kemudian, dari nadanya Sakura tahu apa yang dimaksud aniiki Gaara ini.

Sakura segera beranjak ke ruang tamu rumah itu. Benar saja kata Kankuro tadi, ada aroma tidak enak yang mengelilingi dua pria yang duduk saling berjauhan itu. Keduanya duduk diam, dan saling mengamati.

"Huft…" Sakura mendesah bosan.

"Sakura." Keduanya memanggil berbarengan.

"Bisakah kalian tidak bersikap kekanakan seperti ini?" Tanya Sakura bosan.

Kedua pria itu mengernyit.

"Jangan kalian pikir aku tidak tahu. Kalian saling mengintimidasi satu sama lain karna aku. Mungkin aku terlalu percaya diri, tapi kukatakan pada kalian, kalian seperti anak kecil." Kata Sakura, nadanya datar. Dia benar-benar bosan dengan hal yang seperti itu.

Gaara bangkit. "Kau benar Sakura, maafkan aku." Katanya memeluk Sakura. "Selamat datang kembali diSuna."

"Aku terharu Kazekage mau repot-repot menyambutku seperti ini." Gurau Sakura.

Gaara hanya tersenyum, lalu berlalu masuk meninggalkan Sakura dan Sasuke berdua untuk bicara.

"Kau masih tampak pucat." Kata suara Sasuke, dingin seperti biasa.

"Benarkah? Entahlah, aku merasa baik-baik saja." Kata Sakura enteng, lalu duduk disofa disamping Sasuke.

"Aku akan langsung kembali ke Konoha Sakura. Aku mengunjungimu lebih sering dari yang bisa kau bayangkan." Kata Sasuke memandang tajam mata Sakura.

"Aku akan senang kau datang Sasuke, tapi tak perlu memaksakan dirimu, jarak Suna dan Konoha itu cukup jauh." Kata Sakura, mencoba tak membalas tatapan mata itu dengan menunduk.

"Tidak cukup jauh untuk bisa mencegahku menemuimu." Sasuke mengecup bibir Sakura mesra. "Aku akan merindukanmu Sakura."

"Kau akan pergi sekarang?" Tanya Sakura kali ini benar-benar kecewa. Dia takut sesuatu yang selama ini muncul dan membuat perasaannya membaik saat bersama Sasuke akan lenyap. Sakura mengenggam tangan Sasuke erat. Dia jadi merasa ragu apakah dia bisa merasa lebih baik disini, ditempat yang jauh dari Kakashi dan juga Sasuke…

"Sakura, ada apa?" Tanya suara Sasuke cemas.

Greb.

Sakura memeluknya. "Aku juga akan merindukanmu Sasuke." Sakura merasakan Sasuke membalas memeluknya.

Kepergian Sasuke dalam ferrarinya seolah menjadi tanda bahwa kehidupan Sakura diSuna telah dimulai lagi, dia bisa merasakan angin kering Suna seolah menyambutnya kembali. Dia merindukan ini, merindukan tempat kelahirannya, merindukan tempat ia tumbuh, Sakura memandang rumah didepannya, sebuah rumah yang cukup besar berwarna putih gading, rumah tempatnya dibesarka…

``2nd Sakura``

BOLEH MAMPIR RIFYU DULU SEBELUM LANJUT?