Disclaimer: Masashi Kishimoto

Makasih banyak buat yang udah review:

# may : iya sama-sama u/ . \u makasih juga udah read and review, ini kelanjutannya ^^/

# Maehime : iya gapapa, makasih banyak read reviewnya XD iya nih, biar tambah tokoh ganteng hahahaw B-) makasih semangatnya, iya ini lanjut…jgn lupa RnR ya XD

# elfairy : waah kau ripyu double XD uke dah sankyuu…iya salam kenal balik, selamat datang di dunia fanfiction dimana smua hayalanmu bs jd kenyataan. Aye! Wah, maaf bgt kalo sasuke nya ky cewek, brarti authornya yg gak bisa masukin jiwa sasuke ke dalam cerita. Q . Q selanjutnya bakal lebih berusaha deh…makasih kritik saran nya…makasih jg RnR nya…

Makasih juga bwt yg udah log ini, bls lewat PM ya ^^/: Uchiha Iggyland, Fukuzatsuna Ai, Kazuki Yuki, Yuu-chan Namikaze, and RyanryanforeverYaoi. Sankyuu read reviewnya ;-)

.

.

.

Chapter 14: Hunted

.

.

.

Namaku Sasuke Uchiha.

Dan entah kenapa tiba-tiba saja aku mengingat penjelasan guruku saat SD di pelajaran Biologi.

"Untuk memusnahkan hama, ada cara lain untuk membasminya tanpa harus menggunakan bahan kimia yang mungkin dapat merusak tanaman, yaitu dengan musuh alami. Misalnya, di sawah yang terdapat begitu banyak tikus, kita dapat melepaskan ular ke sawah sebagai pemangsa alami mereka."

Dulu semua anak-anak tertawa mendengar penjelasan itu karena sensei menjelaskan sambil memperagakannya dengan boneka tangan dimana ular melahap tikus. Tapi sekarang, saat aku sendiri lah yang tengah menjadi tikus itu, penjelasan tadi sama sekali tidak lucu.

"Tapi harus kuakui, kalian lumayan juga," ucap Namikaze bersurai orange gelap yang baru kukenal beberapa jam yang lalu, Kyuubi. "Terutama cowok cantik itu, dia hebat sekali dalam menekan instingnya," ia memainkan pisau lipatnya dan menunjuk aniki dengan benda itu. "Dia juga tidak melarikan diri Cuma demi adiknya yang sangat dense itu. Eh? Tapi dia half mortal ya? Pantas saja dia tidak merasakan apa-apa kalau aku tidak mengeluarkan aura ku sama sekali," kali ini dia menunjukku.

Astaga. Jadi Itachi-nii—

Aku mengutuk diriku sendiri. Tapi keadaan saat ini bukan saatnya mengutuk diri. Aku berada di tepi kolam bersama aniki ku yang—mungkin—setengah sekarat—ditambah Dobe masih di sampingnya yang kurasa justru mempersulit keadaan—dan Kyuubi yang memainkan pisau kecil nya di hadapan kami. Ya, pisau kecil! Tapi entah kenapa perasaanku sangat tidak enak tentang pisau itu, terlebih instingku yang meneriakkan untuk lari sejak awal. Tunggu—…aku baru sadar setelah melihat ke sekeliling, banyak orang di sekitar kami, mengerumuni kami mungkin karena kejadian mereka berdua tercebur ke kolam tadi, dan apa tidak apa-apa Kyuubi mengatakan hal-hal seperti tadi di hadapan mereka? Dan Pain yang barusan jelas-jelas menggunakan kekuatannya. Atau… kerahasiaan hanyalah kode etik yang ditetapkan Akatsuki supaya para vampire baru bisa mencari mangsa dengan mudah, sedangkan Kyuubi mungkin saja tidak peduli sama sekali jika para manusia menyadari keberadaan kami.

Shit!

Kalau sudah begitu manusia juga bisa memiliki senjata untuk melawan kami, dan bagaimana kalau kasus kematian vampire akhir-akhir ini juga disebabkan oleh hal itu? Argh…! Kenapa aku malah berpikir sejauh itu! Harusnya aku memikirkan keadaan kami saat ini.

"Terus…" ucap Kyuubi, ia menghampiri aniki, dan aku sama sekali tidak berkutik unuk mencegahnya. Kuso! "Aku masih ingin main nih…mau main denganku nggak?" dia menjambak rambut aniki dan menaruh pisau tadi di lehernya. Kerumunan langsung ribut, bingung antara ini sungguhan atau Cuma main-main, tapi mereka tidak melakukan apapun.

"Kalian sedang kebingungan mencari tau penyebab kematian masal itu kan?" lanjut Kyuubi. "Gimana kalau langsung kuberi contoh? Walapun sayang sih kau yang harus mati, padahal aku lumayan menyukaimu loh…" Kyuubi mengangkat pisau nya dengan posisi siap menusukkannya ke leher aniki. Kuso! Kuso! Kuso! Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak sih! Dan kenapa Pain juga diam saja! Apa dia juga sama sepertiku? Tapi dia leader Akatsuki kan! Harusnya dia lebih kuat dariku!

"Nah…matilah dengan tenang…"

Kuso—…!

"Kyuu-nii, apaan sih. Ini kan Cuma latihan buat acara cosplay nanti, masa seserius itu. Nanti betulan ada yang terluka bagaimana?"

Naruto—…

Kulihat dia memegang pergelangan tangan Kyuubi yang memegang pisau. Ekspresinya tampak tenang, tapi kulihat tangannya sedikit bergetar, tanda ia tengah berusaha keras mencegah tangan Kyuubi untuk menghujamkan pisaunya ke leher aniki.

"Oh…ternyata Cuma latihan buat cosplay…"

"Haha kukira betulan…"

"Tidak mungkin lah, tadi dia terpental kan, kalau bukan pura-pura mana bisa begitu…"

Aku mendengar suara-suara itu dari kerumunan sementara kami Cuma terdiam mematung. Sebagian kerumunan juga mulai membubarkan diri.

"Tapi Naru-chan, kita kan harus sukses di penampilan nanti. Tidak apa-apa dong serius sedikit. Lagian ini Cuma pisau mainan. Ya…? Jadi…" dan aku melihat aura hitam Kyuubi detik berikutnya. "…bisa tolong lepaskan tanganmu?" ia tersenyum, tapi aku yakin itu sebuah ancaman.

"Tidak mau. Pokoknya aku tidak suka."

"Kalau begitu terpaksa deh aku tetap menusukkannya meski kau memegangi pisau ini Naru-chan. Kau ikutan jadi penjahatnya tidak apa-apa kan? Nah…ma—…"

Craaasshhh!

Sedetik. Atau mungkin kurang. Aku melihat sekelebat bayangan, dan pemandangan yang kulihat selanjutnya adalah tubuh Kyuubi yang terangkat tinggi dengan lehernya yang berada di cengkeraman Pain. Darah mengalir dari sana.

Kyuubi menebaskan pisau nya ke tangan Pain, tapi Pain langsung menghindar sehingga cengkramannya pada Kyuubi pun terlepas. Kyuubi terbatuk sesaat.

"Hahaha kau melukai tanganmu sendiri supaya kesadaranmu kembali ya? Lucu sekali," tawa Kyuubi. "Tapi, darah itu adalah milik clan kami. Cepat atau lambat aku akan merebutnya kembali," ia menyeringai puas. "Ayo pulang Naru-chan, latihannya sudah selesai kan?" dan dia pun meninggalkan tempat ini bersama Naruto.

Tubuhku langsung terasa ringan begitu Kyuubi pergi. Aku bergegas menghampiri aniki.

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku. Ia mengangguk, matanya sudah kembali menjadi hitam. "Sebaiknya kita pulang," ucapku dan membawanya pergi.

~OoooOoooO~

Ancaman! Ancaman! Ancaman!

Mataku melihat kesana kemari. Lari! Lari! Lari!

"Huh!" dan aku tersentak dari tidur siangku karena sebuah penggaris kayu menghantam tengkukku.

"Berani sekali kau tidur di kelasku, Sasuke Uchiha!"

Crap! Sepertinya lagi-lagi aku ketiduran di kelas. Mau bagaimana lagi? Aku menjadi vampire di malam hari, dan vampire tidak tidur. Alhasil aku mengantuk di sepanjang kelas, dan saat aku berhasil tidur, aku bahkan harus merasakan ketakutanku lewat mimpi. Ditambah sebagai hukuman, aku harus menyalin satu novel berbahasa latin dan menerjemahkannya.

Aku menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan mengerjakan hukumanku, soalnya guru sialan tadi menyuruhku mengumpulkan di meja nya sebelum bel pulang berbunyi. Yang benar saja?!

Aku memutar-mutar pensil di tanganku karena bosan, menatap langit yang kelewat cerah di luar sana. Aku merasa lapar. Bukan tubuh manusia ku, tapi tubuh vampire ku. Aku harus menghubungi Pain nanti. Sesaat hal itu membuatku termenung, aku termasuk beruntung karena aku bisa makan kapanpun aku mau, tapi bagaimana dengan vampire di luar sana? Aku tidak mendengar kabar apapun dari Pain maupun aniki mengenai para hunter itu, tapi aku merasa keadaan semakin buruk. Karena aku sendiri tiap malam merasa ketakutan, padahal tidak ada apa-apa, seolah instingku terus berjaga dan waspada akan ada bahaya yang menghampiri. Apa vampire yang lain juga begitu? Lalu bagaimana cara mereka mencari makan? Cih! Semua ini gara-gara Kyuubi! Padahal Cuma gara-gara kehadiran satu hunter, ta—…

Tunggu! Tidak mungkin hanya karena satu hunter keadaan jadi seperti ini. Apa mungkin Kyuubi bukanlah satu-satunya hunter yang kembali ke Negara ini?

Deg!

Instingku kembali berjengit, dan detik berikutnya aku tahu alasannya. Aku melihat Naruto memasuki perpustakaan. Aku tidak pernah merasa begini sebelumnya, tapi semenjak kejadian itu, melihat Naruto di kejauhan saja langsung membuat instingku waspada. Meski dilihat dari manapun Naruto bukan hunter, tapi dia dari clan Namikaze. Aku melihat Naruto tampak menghampiriku, dan detik berikutnya tubuhku bergerak sendiri untuk memberesi seluruh buku yang ada di meja dan bersiap pergi. Sayangnya Naruto lebih cepat menghampiriku.

"Ung…kau mau kemana?" tanyanya.

"Aku mau mengerjakan tugasku di tempat lain yang lebih sepi," ucapku tanpa berani menatapnya.

"Sasuke—…" panggilnya, tapi aku tak menggubris. Aku berjalan ke meja petugas perpus untuk meminjam buku yang kupegang. "Sasuke—…" deg! Dan jantungku serasa berhenti berdetak hanya karena Naruto memegang lenganku. "Apa…kita bisa bicara sebentar?"

"Mungkin lain kali. Tugasku harus kuserahkan hari ini juga," lagi, aku menjawab tanpa menatapnya. Aku mengambil buku yang sudah didata oleh petugas perpus, lalu sedikit kasar menyentakkan tangan Naruto dan berjalan ke arah pintu.

Lari! Lari! Lari!

"Naru-chan, aku sudah dapat izin untuk main di sekolah ini dari kepala se—…lho…?"

Kali ini mungkin jantungku betul-betul berhenti berdetak.

"Waah…Sasuke-kun ya? Kita belum bertemu lagi sejak hari itu, apa kabar?"

Braakk!

Buku-buku yang kupegang terjatuh ke lantai, aku melompat mundur beberapa langkah. Kyuubi!

"Jangan waspada begitu, aku tidak sedang berburu kok. Cuma ingin main sama Naru-chan saja."

"Kyuu-nii, kau—…argh! Kau tunggu di kelas saja, aku sebentar lagi kembali."

Lari! Lari! Lari!

Mataku bergerak liar mencari celah untuk pergi, tapi Kyuubi memblokade pintu masuknya dan tidak bergerak. Seolah memang sengaja tak membiarkanku lewat. Otakku semakin panic karena Naruto ada di belakangku.

"Eehh? Tapi aku kan ingin sama Naru-chan terus. Soalnya kalau malam sudah nggak bisa tidur sama-sama lagi seperti dulu…"

Lari! Lari! Lari!

Otakku terlalu panic sampai tak memedulikan ucapan Kyuubi tadi.

"Ugh…! Sudahlah!" Naruto berjalan melewatiku, sejenak darahku berhenti mengalir, ia menghampiri Kyuubi dan menyeretnya pergi. Sesaat ia melirikku dengan alis bertaut, tapi aku tidak peduli. Yang kupedulikan adalah bahwa aku bisa bernafas lega kembali.

~OoooOoooO~

Gara-gara telat mengumpulkan tugas hukuman tadi, hukumanku ditambah dari satu buku menjadi tiga buku dan harus dikumpulkan sebelum jam lima. Kuso! Akupun kembali berdiam di perpustakaan setelah bel pulang berbunyi. Aku Cuma bisa berharap kalau Naruto dan Kyuubi sudah pulang atau aku benar-benar—…

Aku mengerjakan tugasku secepat yang aku bisa, aku tidak mau pulang terlalu sore, apalagi sampai matahari terbenam. Heh, aku tertawa dalam hati saat memikirkannya. Dulu aku bocah nekat yang bahkan berani pulang malam walaupun Cuma mortal lemah, dan sekarang saat aku sudah menjadi immortal aku malah tidak berani keluar malam. Ironis!

Aku berhasil menyelesaikan tugasku sepuluh menit sebelum jarum panjang tepat berada di angka 12. Aku selamat. Setidaknya tugasku tidak akan ditambah—mungkin. Aku berjalan cepat keluar sekolah, matahari sudah sangat condong ke barat, aku mempercepat langkahku dan merasa ada getaran aneh saat mengingat kalau aku akan melewati taman dimana aku dan Naruto beberapa kali bersama, dan ketakutanku terjadi saat aku melihat blonde itu berdiri di bawah pohon, di tepi jalan dimana taman itu berada. Dia sudah melihatku, aku tidak mungkin kabur begitu saja. Jadi aku—mencoba—berjalan seperti biasa.

"Sasuke—…" ia menghadang di depanku, mau tidak mau aku harus berhenti. Tapi aku tidak mau menatapnya—atau mungkin tidak berani. Kami terdiam beberapa saat.

"Kalau tidak ada perlu enyahlah," ucapku setelah kebisuan di antara kami berlangsung cukup lama. Entah bagaimana aku masih bisa menyumpahinya saat instingku bertekuk lutut di hadapannya.

"…aku…" ia mulai angkat bicara. "Apa kau takut padaku…?" aku tak menjawab. "Sasuke—…aku tahu aku tidak akan bisa mengerti perasaanmu…" yeah, kau tidak akan pernah mengerti. "Tapi kau tidak perlu takut padaku, maksudku—…selama ini kita…berteman…" kenapa sepertinya dia berat sekali mengucapkan kata teman. "…kau mengenalku…!" tidak, aku sama sekali tidak mengenalmu. Aku tidak tahu apapun tentang dirimu. "…jadi…jadi…" jadi enyahlah. "…kumohon…kau tidak perlu setakut itu padaku…!"

Aku tak menjawab sehingga keheningan menyelimuti untuk beberapa saat. "Sudah selesai?" tanyaku kemudian dan melangkah melewatinya. Tepat selangkah aku melewati tubuhnya, Naruto menarik kerah bajuku dan—…menciumku. Di bibir. Well, hanya ciuman singkat, dan kini ia menatapku dengan wajah memerah dan mata berkaca-kaca.

Kuso! Kau benar-benar melakukannya eh? Aku sudah kesal seharian ini, kesal karena tugas-tugasku, kesal karena—…ketakutanku sendiri yang membuatku paranoid dan—…apapun itu, sekarang kekesalanku memuncak. Chee, kau menginginkannya? Baiklah! Kali ini kuberikan!

Aku balas mencengkeram kerah baju Dobe-Namikaze-brengsek ini dan mendorongnya hingga punggungnya menabrak pohon yang ia sandari tadi, lalu tanpa kata…aku mencium bibirnya dengan ganas.

"Hmph…mmhh—…Sasu—…nnnhhh…" ia meronta, mendorong dadaku menjauh, tapi aku tahu dia tidak sungguh-sungguh melakukannya karena dia sama sekali tidak pakai tenaga dalam menyingkirkanku. Baguslah! Aku sedang kesal, jadi aku meneruskan aksiku. Dari ekor mataku aku melihat matahari mulai terbenam. Perfect timing!

Aku mengalihkan lidahku ke telinga Dobe, lalu menuruninya hingga ke leher. Menjilatnya. Aku mendengar ia mendesah tertahan. Siapa peduli? Yang jelas aku hanya ingin melampiaskan amarahku, dan seiring terbenamnya matahari, suhu tubuhku semakin menurun, jantungku mulai berhenti berdetak, mataku berubah crimson dan empat taring ku memanjang di rongga mulutku. Aku membuka mulutku lebar, bisa kudengar suara desisanku sendiri.

Tepat sebelum aku menghujamkan taringku ke leher Naruto, aku membaui aroma darah yang sama dengan Naruto, hanya aromanya sedikit berbeda. Aroma sama yang kucium pada malam itu. Refleks, aku langsung melompat mundur, dan aku mengerti seandainya saja aku tidak melakukannya, kepalaku sudah terpisah dari badanku saat ini juga karena bisa kulihat dengan mata vampire ku sebuah katana melayang menebas ke tempat tubuhku berada sedetik yang lalu.

"Be-ra-ni-nya kau men-cu-ri ci-u-man per-ta-ma Na-ru-chan!" aku melihat Kyuubi kini berada di dekat Naruto, mendekap tubuh Dobe ke dadanya. Selain nada bicaranya yang mengintimidasi barusan, ia juga mengacungkan katana nya ke arahku, membuat instingku langsung dalam tahap waspada tingkat tertinggi.

"Kyuu-nii! Apa yang kau—…"

"Sudah tidak apa-apa Naru-chan, kerja bagus memancingnya sampai kesini. Tapi maaf gara-gara itu kau harus mengalami bahaya, selain ciumanmu direbut dia juga nyaris meminum darahmu. Cih!"

Apa? Jadi Naruto memang sengaja melakukan tadi untuk memancingku supaya Kyuubi bisa membunuhku? Oh yeah, hebat sekali. Kenapa aku tidak terkejut ya?

"Tidak! Sasuke—…aku tidak melakukannya. Aku—…"

"Naru-chan, mundurlah. Ini waktu berburuku," Kyuubi menarik tubuh Naruto ke belakang tubuhnya, katananya masih teracung padaku. "Tenang Naru-chan, aku akan segera menghabisinya."

Lalu dalam sepersekian detik yang bahkan termasuk cepat dalam pandangan mata vampire ku, ia melesat ke arahku dan menebaskan katananya tepat ke arah leherku. Beruntung saja insting vampire ku menguasai, sehingga aku dapat menghindar walau nyaris saja, karena beberapa helai rambutku sempat terpotong.

"Kuso!" aku mengutuk dalam hati dan mulai melesat kabur, ya, kabur. Berharap Kyuubi tidak bisa mengimbangi kecepatanku, tapi aku terlalu naïf. Kyuubi mengejar, dan dia tidak terpisah jauh di belakangku, dan gilanya dia sambil menggendong Naruto. Bagaimana kalau dia tidak membawa beban? Apa mungkin dia lebih cepat dariku?

Sial! Sial! Sial! Bagaimana bisa dia secepat itu? Mau hunter atau apa, dia tetap manusia kan? Kenapa dia bisa lebih cepat dariku?!

"Uhukk!" aku terkejut saat rasa haus ku tiba-tiba memuncak. Ah, memang seharusnya aku meminum darah Pain, dan sebelum sempat, aku malah dihadapkan dengan dua darah Namikaze asli, dan juga—…

Slap…

Aku melihatnya. Manusia. Dua orang. Tak jauh dariku. Aku bisa menyambar salah satu dan meminum darahnya sambil melesat pergi. Ya, aku bisa, dengan begitu rasa hausku bisa sedikit terobati, aku bisa memiliki energy tambahan untuk menghadapi Kyuubi.

Akupun melesat menuju mangsaku, dia tidak sadar dengan hawa beredaanku, tentu saja. Ya, dia sudah ada dalam jangkauanku, aku akan—…

"Ghhaaahh…!" sebuah hantaman keras mendarat di ulu hatiku dan membuatku terhempas keras ke tanah. Rasanya sakit. Apa? Sakit? Tubuh vampire ku merasakan sakit?

Aku mencoba bangkit, tanganku masih memegangi perutku, aku melihat Kyuubi dan Naruto mendarat tak begitu jauh dariku, di sisi lain aku melihat kedua mangsaku tadi menatap ke arah kami dengan tatapan tidak percaya. Oh, shit! Seragam mereka…mereka murid sekolah yang sama denganku.

"Sa-Sasuke-kun…" aku mendengar mereka memanggilku.

"Haaha lihat kan Naru-chan, dia itu Cuma monster. Barusan dia ingin memakan temannya sendiri, dia tidak ada bedanya dengan vampire yang lain," ucap Kyuubi lantang.

"Hah? Vampire?" aku kembali mendengar dua gadis itu berucap. Mereka sama sekali tidak pergi, justru menatap padaku tanpa berkedip.

"Kyuu-nii, sudah cukup! Hentikan!" Naruto melepaskan diri dari dekapan Kyuubi lalu berlari menghampiriku. Tidak tidak, jangan kemari Dobe! Saat ini instingku sedang—…

"Sasuke, kau tidak apa-ap—…" dan sebelum ia selesai berucap, aku sudah menghujamkan taringku di ceruk lehernya. "Aaargh—…" aku mendengar Naruto menjerit tertahan.

"Kyyyaaaa…" dan aku mendengar suara jeritan kedua gadis tadi. Apa mereka masih menatapku? Hebat! Sekarang mereka tahu siapa aku.

"Naru-chan!" kudengar teriakan Kyuubi yang penuh kemarahan, aku merasakan hawa membunuhnya menghampiriku dan aku langsung saja melompat mundur tanpa sempat menyembuhkan luka di leher Naruto, karena benar saja, telat setengah detik saja kepalaku sudah melayang oleh katana Kyuubi.

"Kkkhhhh…" aku mendengar desisanku sendiri, sisa darah Naruto masih mengalir di bibirku dan aku menjilatinya, membuat kedua gadis itu menjerit histeris tapi tetap tak beranjak dari tempatnya.

"Ugh…!"

"Naru-chan!"

Aku melihat Naruto memegangi lehernya, darahnya masih mengalir deras.

"Kau—…makhluk brengsek!" bentak Kyuubi padaku. "Aku bersumpah akan membunuhmu," ia kembali melesat ke arahku, aku tidak sempat menghindar. Tidak! Dia akan—…

Tepat sebelum katana nya menyabet leherku, ia menghentikan gerakannya. Aku tidak yakin, tapi aku juga merasakan kehadiran orang lain. Aku melirik ke belakang saat mendengar bunyi 'thud' pelan, aku melihat Itachi-nii. Satu gadis telah tergeletak tak sadarkan diri, satu gadis lagi tengah ditutup matanya oleh aniki untuk kemudian menyusul rekannya terjerembah ke tanah.

"Aku tidak ingin cari ribut," ucap aniki. "Tapi terserah kau saja," dan dalam sekejap mata dia sudah ada di belakang Naruto, menyentuhkan ujung jari nya ke luka di leher Naruto. "Kau ingin aku menutup lukanya atau justru memperlebarnya?"

"Grrr…" Kyuubi menggeram pelan, ekspresi wajahnya benar-benar menunjukkan kalau dia marah, tapi perlahan ia menurunkan katana nya. Ia tak mengatakan apapun, tapi aniki tetap menyembuhkan luka Naruto. "Ingat saja kalian," geramnya.

Aniki tak menjawab, detik berikutnya ia telah menyeretku pergi dari tempat itu, tapi ia juga tak mengatakan apapun padaku. Setidaknya sampai kami tiba di rumah.

"Bagaimana kalau kita pindah?" tanyanya.

"Huh?"

"Di sini sudah tidak aman. Mungkin sebaiknya—…" aku melihat raut keputus-asaan di wajahnya, dan aku benci itu. Maksudku—…biasanya ia selalu terkendali, dan aku selalu merasa semua akan baik-baik saja jika ada aniki. Tapi kali ini—…apa situasinya lebih buruk dari perkiraanku.

"…—bukan apa-apa. Lupakan apa yang barusan kukatakan," tambah aniki.

~OoooOoooO~

Gluk…gluk…gluk…

Aku mendengar tegukanku sendiri saat aku menghujamkan taringku ke nadi Pain. Aku minum sebanyak yang aku bisa sebelum Pain akan menarik kepalaku menjauh nantinya, dan benar saja, tak berapa lama kemudian dia menarik kepalaku.

"Stop it bitch!" ucapnya dengan nada santai tapi menusuk. Tch! Kalau bisa aku juga tidak ingin meminum darah darinya. Aniki menghampiri kami dan duduk di sampingku.

"Baikan?" tanyanya padaku. Aku tak mengiyakan, rasanya aku masih butuh minum lebih banyak lagi.

"Bagaimana denganmu? Kau sudah makan?" tanya Pain. Tangannya yang berada di belakang kepalaku mencoba membelai rambut Itachi-nii meski nii-san langsung menyingkirkannya. Aku menatap wajahnya yang pucat—meski seharusnya ia memang selalu pucat karena tak ada darah di nadinya, tapi maksudku…ada sesuatu yang lain.

"Mungkin kau memang harus makan," ucapku meski tahu ada hal lain yang mengganggunya, dan yang jelas bukan soal makanan.

"Aku sudah makan," jawabnya meski aku tidak begitu yakin. Semenjak aku menjadi Half Mortal aku sudah tidak bisa memberinya makan lagi, dan aku tidak tahu apa dia betulan berburu atau tidak. "Ne~ Sasuke, bisa kau kembali ke kamar? Aku ada perlu sebentar dengan Pain."

Aku tak menjawab, hanya segera bangkit dan meninggalkan tempat. Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi, jadi aku berhenti di depan pintu dan mengintip ke dalam. Seperti yang kuduga, aniki memasang kekkai supaya aku tak mendengar percakapan mereka, tapi saat ini aku sedang menjadi vampire, kurasa aku bisa mengerti percakapan mereka hanya dari gerakan mulut.

"Bisa tolong kau—…" ucapan aniki dipotong oleh jari Pain yang kini berada di bibirnya.

"Asal kau juga ikut," ucap Pain.

Aniki menggeleng. "Kumohon, Sasuke saja," ucapnya. Apanya yang aku saja?

"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini."

"Pain, aku akan baik-baik saja. jadi—…"

"Aku juga akan baik-baik saja. jadi bagaimana menurutmu kalau aku juga tetap tinggal?"

"Tidak, kau harus pergi."

Apa yang mereka bicarakan? Apa mereka berencana untuk pergi? Kemana? Apa alasannya?

"Apa yang kau takutkan?" tanya Pain, menyentuh wajah aniki. Lagi, aniki menggeleng, ia meraih tangan Pain yang ada di wajahnya untuk menyingkirkannya, tapi kali ini tetap memegang tangan Pain. "Kuganti pertanyaanku. Apa yang ingin kau tebus?"

Mata aniki sedikit terbelalak, lalu ia tertunduk.

"Dengar Itachi, kau tidak perlu menebus apapun kepada siapapun. Dan kau juga akan baik-baik saja jika ikut ke kastil. Aku yang akan menjagamu," Pain mengecup dahi aniki.

Kastil? Jadi semua obrolan ini mengarah pada kastil? Dan aniki bilang aku saja yang dibawa kesana? Memangnya kenapa dengan di sini?

"No, Pain," ucap aniki, kali ini menatap Pain. "Aku akan tetap di sini. Dan bukannya selama ini aku baik-baik saja?"

"Tapi lawan kita kali ini berbeda. Kita belum pernah menghadapi mereka sebelumnya, sebaiknya kita mundur dulu ke kastil dan memikirkan rencana yang matang."

Musuh? Serangan? Lawan? Apa ini tentang hunter? Apa mereka akan menyerang malam i—…

Deg!

Aku baru sadar sekarang. Ini malam bulan setengah, kekuatan kami akan hilang tengah malam nanti. Dan tentu saja, kemungkinan besar mereka pasti menyerang. Karena itulah kami harus pindah ke kastil malam ini.

Kastil Akatsuki berada di dimensi berbeda dan dilindungi oleh kekkai kuat, itu pertahanan terbaik kami untuk saat ini. Lalu yang dimaksud Pain dengan penebusan…apa aniki ingin tinggal dan menebus kesalahannya soal pembantaian dulu dan juga tentang Karin? Yang artinya dia akan…bunuh diri…? Yang benar saja…! aku tidak akan membiarkannya. Tidak akan pernah! Dia harus ikut ke kastil Akat—…

Tunggu…terakhir kuingat saat Pain membawaku ke masa lalu, aniki menghilang sebagai buronan Akatsuki karena dianggap hampir membunuh Pain. Apa itu yang dimaksud Pain dengan 'apa yang kau takutkan' dan 'aku yang akan menjagamu'? kini otakku sendiri yang menyiksaku.

"Baiklah, kau bisa tetap tinggal," ucap Pain kemudian. Apa? Yang benar saja! "Lagipula ini hanya perkiraan saja mereka bakal menyerang. Kita lihat dulu keadannya, lalu kalau ada laporan mengenai pergerakan mereka, kita mundur ke kastil. Bagaimana?"

Untuk beberapa saat aniki tak menjawab, hanya menatap Pain dengan alis bertaut namun kemudian memejamkan mata dan mengangguk tak yakin. Perlahan Pain mendekatkan wajahnya ke wajah aniki, menyatukan bibir mereka. Aniki tampak terkesiap kaget dan segera menjauhkan diri, tapi Pain kembali meraih wajahnya dengan tangan.

"Ssshh…" ujarnya lalu kembali menautkan bibir mereka dan membawanya dalam pagutan lembut, kemudian ia mengalihkan tangannya ke belakang kepala aniki supaya aniki tak kabur. Aku hanya tersenyum tipis lalu menjauhkan diri dari pintu. Kurasa aku harus menghargai privasi mereka.

Aku menaiki tangga menuju kamar saat tiba-tiba indra penciumanku mencium bau tajam. Bau darah, lebih dari itu…darah Namikaze. Shit! Apa mereka menyerang sekarang? For God sake ini baru jam 8, Half Moon masih 3 jam lagi kalau mereka memang ingin mengincar kami di saat kondisi kami lemah!

Aku berbalik dengan tergesa, berniat menghampiri Pain dan aniki, tapi sebelum aku melakukannya, sesuatu menghantam rumah kami dan menghancurkannya. Kalau aku tak segera melompat keluar rumah, kemungkinan besar aku juga sudah hancur seperti rumah itu.

Aku mendarat di bagian samping rumah, menatap bangunan itu yang kini penuh kepulan debu. Dengan mata vampire ku aku bisa memastikan sosok aniki dan Pain berada di bagian depan rumah, yang artinya mereka selamat. Kini tatapanku terpaku pada kepulan debu tebal yang masih menghalangi pandanganku, samar aku melihat seseorang berdiri di atas reruntuhan dengan katana terhunus. Kyuubi! Dan yang membuatku terkejut adalah apa yang pertama kali kulihat dari sosoknya.

Mata. Warna crimson berkilau dari matanya! Apa maksudnya ini?

Dan keterkejutanku tidak berhenti sampai disitu, yakni saat sosok lain menghampiri Kyuubi. Dia memiliki siluet mata yang sama, crimson. Saat kepulan debu mulai menipis, aku bisa melihat sosok itu dengan jelas. Sesosok pria bersurai merah. Sedetik kemudian aku yakin melihat ekspresi keterkejutan Pain saat melihat pria itu. Sebelum aku sempat memerhatikan lagi, Kyuubi sudah membuka mulutnya.

"Konichiwa," seringainya. "Kami berubah pikiran. Kami akan menghabisi kalian sebelum Half Moon tiba."

.

.

.

~To be Continue~