Daun-daun mulai berguguran seperti hujan ketika diterpa angin. Warna khas musim gugur mulai tampak, hujan mulai turun, dan udara mulai dingin. Musim panas sudah lewat dan digantikan dengan musim gugur kesukaan Jongin.
Salah satu daun dari pepohonan yang tumbuh di setiap sisi sekolah jatuh tepat di atas kepalanya. Membuat namja tan tersebut mengambilnya, memutar bagian tangkainya hingga daun berwarna coklat itu berputar cepat. Membuang nafas panjang, Jongin melempar daun itu sembarangan. Rasanya ia malas sekali untuk pulang ke rumah dan perjalanan pulang ini terasa lama dan lambat. Apa karena ia sendirian sekarang?
Kyungsoo hilang entah kemana, mungkin ia sudah pulang duluan. Terlebih sekolah sudah sangat sepi kecuali di bagian lapangan sekolah karena masih ada yang bermain sepak bola di sana. Dengan kedua tangan di saku coatnya, Jongin keluar dari daerah sekolah. Berjalan dengan langkah kecil menikmati perjalanannya.
"Jongin!" teriakan itu membuat Jongin menoleh ke belakang. Menampakkan wajah tertekuk, Jongin kembali berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Menghindari orang itu walau percuma saja. Kaki lawan motor?
"Jongin," suara itu kembali terdengar. Jongin menoleh, menampakkan senyum paksanya ketika ia dapat dengan jelas melihat wajah Sehun. "Ayo kita pulang bersama!" tawar Sehun gembira dengan Jongin yang meruntuk dalam hati. Tidak merespon, Sehun menarik tangan Jongin dan langsung ditepis oleh pemiliknya.
"Terimakasih. Kau tidak perlu repot-repot mengantarku pulang, aku masih punya kaki untuk berjalan." Jawabnya ketus.
"Ayolah Jongin, tidak perlu marah seperti itu."
Dengan pelan Sehun melajukan motornya di samping Jongin yang membuang muka ke arah lain.
"Bisakah kau tidak mengikutiku?"
"Siapa yang mengikutimu? Arah rumah kita juga sama bukan, ya meski hanya sampai di belokan dekat minimarket itu."
Mempercepat langkahnya, Jongin semakin menyesal untuk berjalan.
"Kau mau naik atau tidak?"
"Tidak terimakasih."
"Ck, bukannya dulu kita selalu pulang bersama?"
"Itu dulu bukan sekarang Sehun, itu sudah lama sekali."Jongin menghentikan langkahnya, "Lebih baik kau pulang cepat ke rumah. Udara sudah mulai dingin."
"Kalau begitu kita pulang bersama supaya aku bisa pulang cepat ke rumah."
"Apa maumu Sehun!" bentak Jongin merasa sebal dengan tingkah Sehun.
"Aku hanya menawarimu pulang bersama!" tak kalah keras Sehun membalasnya. "Aku heran kenapa kau marah-marah karena aku tawari pulang bersama?" Sehun turun dari motornya dan melepas helmnya. Mencengkaram tangan Jongin ketika Jongin hendak melepas pengangannya.
"Bisakah kau tidak memaksaku?"
Sehun merenggangkan cengkramannya ketika cairan bening mulai membasahi pipi Jongin. "Jangan memaksaku Sehun," dan genggaman tangan itu terlepas. Jongin menghapus air matanya kasar, mencoba mengatur nafasnya. "Waktunya bukan sekarang."
"Lalu?"
Jongin menggeleng tidak mau membahasnya.
"Kau saja tidak tau itu kapan Jongin. Aku ingin memperbaiki persahabatan kita, tapi kenapa kau tidak mau? Katakan saja apa salahku, aku akan berusaha untuk memperbaikinya."
Jongin kembali menggeleng, "Aku tidak mau membahasnya."
"Butuh berapa lama lagi kita bisa seperti dulu?" Sehun memegang kedua pundak Jongin kemudian membuang nafas. "Maafkan aku kalau aku terlalu memaksa," dan menepuk bahu Jongin pelan.
"Hei bocah tengik! Kau apakan kekasihku ini?" teriakkan seseorang membuat mereka mengalihkan pandangan. Sehun memincingkan kedua matanya melihat sosok yang dikenalnya berjalan mendekat dan menyingkirkan tangannya dari pundak Jongin. "Kau tidak apa-apakan teddy bear?"
Jongin menggeleng, "Tidak apa-apa." Jawabnya singkat.
"Lalu kenapa menangis? Sudahlah ayo kuantar pulang kerumah." Suara berat yang terdengar hangat itu membuat Jongin mengangguk dan meraih tangan Kris.
"Tunggu," Sehun menarik tangan Jongin yang satunya. "Dia pulang bersamaku."
Kris tersenyum miring, menarik tubuh Jongin ke belakang tubuhnya. "Mengantarnya pulang? Maaf saja karena aku yang akan mengantarnya pulang bocah tengik. Bukankah begitu teddy bear?" ia menengok ke belakang. Melihat teddy bearnya hanya menundukkan kepala dan mencoba bersembunyi dibalik punggungnya. Tersenyum Kris memeluk Jongin. "Bagaimana kalau hari ini kita kencan? Sebagai pengganti acara kencan kita kemarin yang dirusak oleh seseorang."
Sehun memandangnya tidak suka. Kedua tangannya mengepal erat. Kalau saja ia punya lightsaber, mungkin tubuh sunbaenya dulu bisa ia cincang habis-habisan.
"Tapi Jongin tidak menjawabmu!"
"Panggil aku gege, aku ini lebih tua darimu dan aku juga sunbaemu dulu."
"Aku tau itu!"
"Kau tidak butuh jawaban dari Jongin, lebih baik kau urus saja pacar bertopengmu itu. Sudahlah aku tidak mau terkena penyakit tekanan darah tinggi gara-gara membalas ucapanmu. C'mon teddy bear."
Sehun hanya menghembuskan nafas panjang. Menatap heran dengan sikap Jongin.
"Aish, ada apa denganmu Jongin? Kenapa susah sekali mendekatimu?" Sehun komat-kamit tidak jelas. Rasanya aneh sekali mendekati Jongin, rasanya ia terlalu memaksa Jongin atau memang Jongin yang sengaja menghidarnya? Kenapa ia harus melihat Jongin menangis saat bersamanya? Apa Jongin sudah terlalu nyaman dengan kondisinya sekarang?
Mengelus tengkuknya, Sehun kembali menaiki motornya. Melajukan motornya pelan sebelum merem mendadak.
Tunggu!
Sehun baru menyadari satu hal.
Sejak kapan orang blasteran itu kembali ke sini? Sejak kapan alien itu dekat dengan Jongin? Dan sejak kapan Jongin memiliki hubungan khusus dengan tiang seperti itu?
Tunggu!
Dengan mulut yang sedikit terbuka, Sehun merasa bingung dengan situasi yang dialaminya ini. Otaknya baru bisa mencerna beberapa kalimat yang terlontar untuknya. Siapa yang dimaksud dengan pacar bertopeng? Luhankah? Kalau itu Luhan, kenapa Kris bisa tau?
Menepuk jidatnya beberapa kali, Sehun merasa otaknya sedang tidak bisa bekerja dengan jelas untuk kali ini. "Hah~ eomma eotteoke?"
.
.
.
"Sehun~" Luhan memanggil Sehun dengan manja kemudian memeluk lengan kekasihnya. "Hari ini kita jadi menonton apa?" tanyanya antusias.
Sehun tidak menjawab, memilih memasang wajah datar yang jarang sekali ia tunjukkan di depan Luhan. Ia juga tidak mendengarkan apa yang di katakan oleh Luhan, anggap saja ia tidak fokus pada kencan ini.
"Sehun? Sehun~!" Luhan menggoyangkan tubuh Sehun ketika ia tidak mendapat respon yang ia harapkan. "Ya! Oh Sehun! Kau mendengarkan tidak?" Luhan menghentikan langkahnya, menatap sebal Sehun yang masih saja berjalan lurus.
"Eh?" Sehun sadar dari lamunannya ketika rasa hangat di bagian lengannya menghilang. Ia menengok kebelakang, mendapati Luhan yang menatapnya sebal. Ia tersenyum, membalikkan tubuhnya dan menghampiri Luhan.
"Kau tidak mendengarkanku dari tadi! Sebenarnya apa yang tengah kau pikirkan?" Luhan menghentakkan kaki kanannya sekali. "Kau tidak suka dengan acara kencan kita hari ini?"
Sehun menggeleng, menarik lembut tangan Luhan dan menggandengnya. "Maafkan aku, beberapa hari ini aku terlalu banyak pikiran." Langkah mereka memelan ketika deretan poster film-film yang akan diputar berada di pinggir mereka. "Bagaimana kalau film horror?" rekomendasinya.
Yang di tanya masih sibuk melihat poster-poster itu, kemudian menggeleng. "Tidak, aku tidak mau berteriak seperti orang pengecut." Perkataan itu seolah menyindirnya. Tersenyum kecut ia berjalan mendahului Luhan yang masih bingung menentukan apa yang akan mereka tonton.
Dan pilihan Luhan adalah film bergenre romance. Sedikit menyesal, Sehun mengantri membeli popcron dan softdrink berukuran sedang. Memainkan ponselnya sambil mengantri membeli barang yang paling dibutuhkan saat menonton. Ia menengok ke samping kanannya, melihat Luhan yang tersenyum lebar tengah mengantri tiket.
Selama di dalam bioskop, Sehun terdiam tidak merespon apa yang terjadi di sekitarnya. Ia hanya menyangga kepalanya dan menatap film itu kosong. Luhan tidak tau Sehun sedang melamunkan apa, ia hanya terfokus pada film yang tengah di putar.
Sesekali ia merasa sedih atau tertawa seiring berjalannya cerita. Senyum yang tidak lepas dari wajahnya itu mulai luntur begitu melihat salah satu adegan yang membuatnya menampilkan wajah datarnya.
"Ini semua perbuatan wanita kotor itu! Kalau wanita kotor itu tidak ada, keadaan kita tidak seperti ini dan ayah kembali kerumah ini. Semua tidak akan seperti ini bila ia masih hidup!"
Beberapa menit kemudian, lampu mulai dihidupkan. Pertanda bahwa film yang diputar sudah selesai. Luhan merenggangkan tubuhnya yang kaku di samping Sehun yang masih diam di tempatnya. Merasa bahwa tingkah Sehun mulai aneh, tangan kecilnya menggoncang tubuh Sehun pelan. Mencoba menyadarkan kekasihnya ini untuk kembali ke dunia nyata.
"Sehun,"
Kedua mata itu mengerjap cepat dalam persekian detik. Merasa sedikit linglung dengan keadaan sekitarnya. "A-apa?"
Luhan memasang wajah masam, "Dari awal kita berkencan kau tidak fokus sama sekali Sehun!" Luhan melipat kedua tangannya tidak suka. "Apa belakangan ini kau punya masalah?" tanyanya perhatian.
Sehun menggeleng cepat, mengubah ekspresinya sebaik mungkin supaya Luhan tidak merasa curiga. "Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."
"Baiklah," Luhan bangkit dari posisi duduknya. "Ayo kita jalan-jalan lagi!"
"Maaf Luhan, tapi aku ingin pulang sekarang." Perkataan itu membuat Luhan menatap Sehun khawatir.
"Kau tidak baik-baik saja Sehun," Luhan menatap Sehun tidak percaya. "Kau berbohong kepadaku."
Sehun tersenyum kecil, meraih tangan kecil itu dan menggenggamnya. "Maafkan aku. Hari ini aku sedikit tidak enak badan."
Tangan kiri Luhan terangkat, menempelkannya ke dahi Sehun kemudian pindah ke leher. "Kalau kau merasa sakit, jangan memaksakan diri untuk kencan."
"Tapi aku harus membayar hutangku karena, waktu itu kita tidak bisa kencan."
"Tapi aku terlihat seperti kekasih yang jahat!" protes Luhan.
"Aku ingin putus," ucap Sehun final.
.
.
.
PRANG!
Suara benda pecah terdengar oleh Jongin. Buru-buru ia turun ke bawah dan berjalan cepat menuju sumber suara. Disana Jongin melihat ayahnya dengan Luhan yang tengah menahan rasa sakit karena tangannya mengeluarkan darah. Mendengar suara isakan, Jongin langsung menatap ibunya yang tengah duduk di lantai, ia menggenggam erat tangannya. Keduanya mengeluarkan darah segar yang mulai mengotori lantai putih dapur.
"Dasar istri kurang ajar! Kau mau membunuh anakku!"
Jongin segera memeluk ibunya sebelum tangan ayahnya mengenai tubuh ibunya.
NYUT
Rasa sakit langsung menjalar di pipinya, bahkan pipi tan itu berubah menjadi merah.
"Jongin!" Ibunya berteriak dan langsung memegang pipi Jongin. Wanita itu menangis meraba pipi anak semata wayangnya yang merah akibat tamparan dari ayahnya sendiri.
"Cih, ini juga sama. Kalian semua orang tidak berguna!" teriak Tuan Kim yang langsung menyeret Luhan keluar rumah. Menaiki mobil dan pergi begitu saja.
Ibunya masih menangis, melupakan rasa sakit di tangannya. "Jongin, kau tidak apa-apa?"
Jongin tersenyum, memegang tangan ibunya dan mengajaknya berdiri. "Tidak apa-apa eomma, tidak terlalu sakit kok."
"Kenapa kau melindungi eomma? Lihat! Pipimu sampai memerah begini."
Masih dengan senyum yang terpasang di wajahnya Jongin menggeleng pelan. "Sebaiknya eomma khawatir dengan tangan—
"Maafkan eomma." Tangis wanita itu pecah lagi, memeluk tubuh kurus Jongin dengan erat.
"Lebih baik kita cepat pergi ke rumah sakit. Aku tidak mau melihat tangan eomma seperti ini," miris, Jongin menatap tangan yang masih terasa lembut itu. "Akan ku telpon taksi."
Setelah menelpon dan menunggu, mereka sampai ke rumah sakit. Jongin berteriak meminta bantuan dan dengan segera beberapa perawat datang mengambil alih. Ia merasa cemas karena tangan ibunya harus dijahit karena luka yang cukup dalam. Ia hanya dapat duduk dan menunggu di luar ruang operasi.
Lampu oprasi mati dengan keluarnya dokter yang menanganinya. Jongin langsung berdiri, menghampiri dokter bermasker putih itu.
"Bagaimana keadaannya euisa?"
.
.
.
Jongin menatap sendu wajah ibunya yang damai sedang tertidur. Ia menarik selimut biru muda itu hingga sebatas leher. Hendak keluar, suaraa ketukan menyapa pendengaran Jongin.
"Se-Sehun!"
Orang itu menoleh ketika namanya disebut kemudian tersenyum kepada Jongin yang merasa kaget melihat kehadirannya. "Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Felling?"
Setelah itu Jongin mempersilahkan masuk Sehun ke dalam ruang inap ibunya. Masih dengan senyuman, Sehun menghampiri ibu Jongin yang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Kalau dilihat dari dekat, kalian lumayan mirip ya."
"Ck, tentu saja mirip! Aku ini anaknya." Tanpa Jongin sadari ia menggembungkan pipinya. Sehun yang melihat itu hanya bisa diam, mengalihkan kembali pandangannya kepada ibu Jongin.
"Bisakah kita bicara di luar?" Sehun mengelus tengkuknya, merasa canggung.
Jongin mengangguk, mengikuti langkah Sehun hingga mereka sampai di taman rumah sakit dan duduk di bangku panjang yang terbuat dari kayu. Jongin menggosok-gosok lengannya merasa dingin, ia lupa untuk memakai jaketnya. Merasa Jongin kedinginan, Sehun menarik tubuh Jongin setelah membuka resleting jaketnya. Memeluk tubuh Jongin lebih erat dan kembali memasang resletingnya.
"Merasa hangat?" Sehun dapat melihat wajah Jongin memerah. Ia tertawa pelan dan mengelus rambut Jongin.
"Aku seperti anak kucing."
"Tapi hangat bukan?"
"'Membuatku sesak iya!"
"Ck, jaket yang kukenakan ini besar Jongin. Lihat masih longgar." Sedikit—
Jongin belum berani melihat Sehun, ia terus menundukkan wajahnya. Sedikit merubah posisi duduk, Sehun merasa nyaman dengan kondisinya sekarang. Kedua tangannya memeluk tubuh Jongin dan mengayunkan tubuhnya. Menikmati keheningan malam musim gugur di taman rumah sakit dengan dedaunan yang berguguran.
"Maafkan aku," perkataan itu membuat Sehun menghentikan ayunan tubuhnya. "Untuk kejadian kemarin, aku tidak bermaksud—
"Tidak apa-apa. Tapi aku heran dengan sikapmu, entah kenapa setiap aku mendekatimu kau selalu menangis. Hah~ kau membuatku merasa bersalah Jongin." Ucap Sehun dibuat-buat.
"Ra-rasanya sedikit aneh ketika kita berdekatan."
"Apa perasaanmu belaku di situasi ini? Kau kelihatan nyaman sekali aku peluk."
Wajah Jongin kembali memerah, "Karena kau memaksaku!"
"Hahaha, berbohonglah Jongin. Kalau aku memaksamu seharusnya kau sudah meronta-ronta dari tadi." Sehun menumpukan dagunya di atas kepala Jongin. "Sudahlah, tapi aku ingin mendengar alasanmu."
"Tentang?"
"Sikapmu itu. Kau bahkan tidak menyebutkan alasanmu kenapa kau seperti ini. Kupikir, apa kau sudah nyaman dengan kondisimu sekarang? Tanpaku?"
Jongin menggigit bibirnya, "A-aku—
"Sepertinya kau tidak siap untuk menceritakannya kepadaku." Sehun kembali mengayunkan tubuhnya, "Tapi tak apa, aku bisa menunggumu."
"Maaf,"
"Berhenti mengucapkan kata maaf Jongin, lagi pula itu tidak masalah bagiku. Sebenarnya aku masih memiliki pertanyaan untukmu, tentang Kris. Sejak kapan orang itu kembali ke sini?"
"Aku tidak tau," Jongin mulai terbiasa dengan posisinya. "Tiba-tiba saja ia langsung muncul dihadapanku. Mungkin kalau dihitung dari pertemuan itu, sudah tiga minggu ia ada di sini."
"Sejak kapan kalian jadian?"
"Mwo?!" Jongin menengok Sehun, kemudian tertawa. "Hahaha, kau termakan oleh leluconnya Sehun. Kami tidak menjalin hubungan seperti itu. Lagi pula aku tidak mempermasalahkan hal itu."
"Apa kau suka dengannya?"
Jongin menatap Sehun curiga, "Kau cemburu?"
"Ti-tidak! Aku hanya bertanya! Hei siapa yang tidak curiga kalau kalian semesra itu di depan orang? Mana mungkin kalian tidak memiliki hubungan spesifik! Untuk apa aku cemburu!"
"Hahaha, benar juga. Untuk apa kau cemburu? Lagi pula kau sudah memiliki Luhan."
Wajah Sehun langsung mengeras tanpa disadari oleh Jongin, bahkan ia sedikit melonggarkan pelukannya. Merasa ada yang aneh Jongin menyadari bahwa Sehun tidak menyukai ucapannya. "Aku sudah putus dengannya."
"Maaf kalau membuatmu mengingat hal itu." Merasa bersalah, Jongin mencoba resleting jaket itu dan akhirnya ia dapat bebas. "Hem, sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Lebih baik kau pulang ke rumah dan ini sudah malam. Sampai ketemu besok."
"Itu tidak penting," Sehun menggenggam tangan Jongin sebelum orang itu melangkah jauh. "Apa setelah ini kita bisa bertemu? Aku yakin, setelah ini kau tidak akan berani berpapasan denganku. Jadi apa gunanya bertemu besok di sekolah?"
Jongin hanya menundukkan kepalanya, rasa takut mulai menjalar.
"Hah~" Sehun menghela nafas panjang, mengangkat dagu Jongin dan mengelus pipi tan itu. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menakutimu," Jongin tersenyum kecut. "Baiklah, kalau begitu aku pulang. Sampai jumpa."
Sosok Sehun perlahan mulai menjauh dan menghilang dari pandangan Jongin. Ia menengadah, melihat langit malam yang suram tanpa cahaya bintang maupun bulan. Bukan langit cerah yang ia lihat seperti beberapa hari kemarin.
TES
Satu tetesan air hujan mengenai pipinya kemudian diikuti oleh ribuan air yang mulai membasahi tubuh Jongin. "Kenapa semuanya terasa payah?"
.
.
.
Untuk beberapa hari ke depan ibunya masih dirawat di rumah sakit dan sudah hari ketiga Jongin masih setia menemani ibunya yang sedang asik menonton televisi dengan memakan potongan buah apel yang baru saja Jongin kupas. Jongin tersenyum, melihat ibunya sudah merasa baikan bahkan ia juga ikut tersenyum ketika ibunya tertawa atau tersenyum melihat adegan drama yang tengah diputar.
"Eomma ingin makan sesuatu?" tawar Jongin setelah membuang plastik putih ke dalam tong sampah.
Ibunya menggeleng pelan, meletakkan kembali garpu dan meraih tangan Jongin. "Apa kau sudah makan?" Jongin mengangguk, melihat kembali tayangan drama. "Mulai sekarang kau harus makan banyak Jongin, lihat kau kurus seperti ini! Mana ada yeoja yang akan menyukaimu kalau begini?" kemudian disusul tawa khan ibunya.
Jongin tersenyum kecut menanggapi candaan ibunya. "Kenapa? Apa kau sedang ada masalah? Apa kau sedang bertengkar dengan pacarmu?"
Jongin menggeleng, mengelus punggung tangan ibunya. "Tidak, aku belum memiliki orang istimewa."
"Lalu?"
"Terlalu bingung dengan situasi dan perasaan," kilasan memorinya kembali teringat. Siapa yang salah disini? Siapa yang menarik diri? Apa yang harus ia lakukan? Semua pertanyaan mulai berputar, seperti komedi putar yang akan terhenti bila sudah waktunya. "Kalau difikir berulang kali, tindakanku sedikit menyebalkan."
Ibunya mengelus surai hitam Jongin, mendengarkan keluh kesah anak semata wayangnya. "Menyebalkan?" Jongin mengangguk membenarkan, melihat ibunya sedikit aneh. "Ada apa? Apa kau merasa tidak nyaman berbicara dengan eomma?" cepat-cepat Jongin menggeleng.
"Ani, hanya saja menyenangkan bisa berbicara dengan eomma. Sudah lama sekali kita tidak berbicara seperti ini." Ucap Jongin jujur.
"Kalau begitu," ibunya menarik kepala Jongin pelan ke bahunya dan masih mengelus lembut rambut Jongin. "Kau bisa bercerita apa saja kepada eomma."
Jongin merasa nyaman dalam kondisinya sekarang. Sesuatu yang ingin sekali ia dapatkan kembali, sesuatu yang pernah direbut oleh seseorang. "Aku tidak tau harus berbuat apa. Sepertinya ia akan menjauh karena sifatku, tapi aku tidak menginginkannya."
"Setiap kali aku bertemu dengannya emosiku kacau, aku tidak bisa mengkontrolnya. Aku berusaha untuk tidak menunjukkan emosi asliku, tapi selalu gagal."
"Apa dia orang yang kau suka?"
"A-ani. Kita hanya bersahabat!" bantah Jongin yang langsung dihadiahi cibutan pada hidungnya.
"Kau berbohong Jongin, jujur saja kau menyukainya bukan?"
"Aniyo eomma~" rengek Jongin kelepasan.
"Sepertinya anak dan ibu sedang menghabiskan waktu bersama ya?" Suara berat itu membuat Jongin menoleh ke pintu. Tubuhnya terasa kaku ketika Kris dengan sebuket bunga tulip putih berdiri di ambang pintu. "Ah sepertinya aku mengganggu waktu kalian"
"Tidak apa-apa nak. Terimakasih sudah mau menjengukku untuk kedua kalinya."
Kris tertawa, melangkah pelan dan mengganti bunga carnation yang ia bawa kemarin. "Sebagai calon suami dan menantu yang baik, sudah hukumnya menjenguk mertua yang sakit."
Kedua orang itu tertawa lepas, terbanding terbalik dengan Jongin yang menatap horror kejadian yang ada di depannya.
"Ah teddy bear! Kau merindukanku bukan?" tanya Kris yang kelewat pede itu memeluk Jongin. Menepuk-nepuk pelan punggung tegak itu dan tersenyum. "Semakin hari kau tambah imut saja!" Kris yang gemas melihat wajah Jongin langsung mencubit kedua pipinya.
"Appo Kris ge!"
Dengan cengiran yang menyebalkan Kris melepas cubitannya. "Aku heran kenapa nyonya bisa mendapatkan anak seperti ini?" tanya Kris beracting heran melihat Jongin yang menatapnya kesal.
"Aku juga tidak tau, tiba-tiba saja aku melahirkan anak seperti dia. Padahal aku berharap anakku nanti akan setampan Brad Pitt atau Johnny Depp."
"Eomma!"
"Ah sayang sekali kalau dia tampan. Mungkin nyonya tidak akan mendapatkan menantu sebaik diriku nanti."
"Gege!"
Dan tawa pun kembali meledak melihat tingkah Jongin yang menggemaskan. Bahkan wajahnya sedikit memerah, mungkin menahan rasa malu bercampur kesal? "Berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak!" protes Jongin yang semakin membuat wajahnya memerah
"Hahaha, sudahlah. Apa Kris yang kau maksud tadi?" bisik ibunya sedikit keras.
"Aku penasaran siapa yang kau maksud tadi," tiba-tiba Kris menyambung. "Aku atau orang lain?"
Pertanyaan itu membuat Jongin melotot, "Aish eomma, jangan bicarakan hal itu!"
"Jawab pertanyaanku Jongin, aku dan eommamu penasaran siapa yang kau maksud."
"Aku tidak mau membahasnya," Jongin memasang wajah sebalnya. "Kenapa gege bisa ada di sini?"
"Kenapa?" Kris duduk mengambil salah satu kursi yang tersedia, duduk di sebelah tempat tidur dan di sebelah Jongin. "Kau yang membawaku kesini?"
"Aku?"
Kris mengangguk, "Waktu aku menjemputmu kemarin, aku melihatmu terburu-buru keluar sekolah. Karena kau tidak melihatku melambaikan tangan, aku mengikutimu hingga kesini. Selesai."
"Sudah, lebih baik kalian keluar saja. Membosankan kalau kalian berdua menungguiku di sini. Sebagai sepasang kekasih aku ijinkan kalian untuk kencan."
"Sepasang kekasih? Kencan? Ya, gege bercerita macam-macam ya? Jangan percaya eomma, aku belum memiliki kekasih."
"Aduh, teddy bearku yang tersayang~ tidak perlu malu-malu seperti itu." Goda Kris. "Lihat eommamu sudah memberi lampu hijau. Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu." Ucap Kri membungkukkan badannya, menggenggam tangan Jongin dan menyeretnya keluar dari ruangan yang didominasi warna biru dan putih.
"Hati-hati di jalan!"
Dan pintu itu tertutup. Dengan raut wajah yang senang Kris merangkul Jongin erat, seakan takut Jongin akan lepas. Berbelok ke kiri namun seseorang menghadang mereka.
"Se-Sehun?"
Wajah datar Sehun menyapa mereka, "Bisakah kita berbicara sebentar?"
"N-ne?"
"Bukan kau Jongin, tapi orang menyebalkan di sampingmu itu. Kuharap kau bisa meluangkan waktumu sedikit."
"Untuk apa? Kalau sekedar basa-basi aku tidak bisa, terlalu sayang untuk meluangkan waktu untukmu."
Sehun mendengus, "Ini bukan basa-basi, tapi ini menyangkut tentang rahasiamu? Ah, apa perlu Jongin mendengarnya secara langsung?"
Kris menatap sengit Sehun. Melepas rangkulannya, Kris memegang dagu Jongin. "Turunlah dulu, tunggu aku di mobil."
Jongin yang binggung dengan hawa dan situasi sekitanya hanya dapat mengangguk kaku. Berjalan cepat melewati Sehun yang sekilas meliriknya. Merasa Jongin benar-benar melaksanakan perintahnya, Kris melipat tangannya di depan dada. Wajahnya yang gembira tadi berganti dengan ekspresi yang tak kalah datar dan dingin dari Sehun, tapi ekspresi yang mereka pasang seakan tidak membuat mereka gentar.
"Apa maumu?"
"Apa tujuanmu kembali ke Seoul?"
Kris tertawa remeh, "Untuk apa kau bertanya seperti itu? Bukankah kau berkata kalau kau akan membicarakan rahasiaku?"
"Oh, apa aku harus to the point? Alasanmu kembali ke Korea bukan untuk melarikan diri bukan? Kudengar kau akan dijodohkan dengan teman papamu?"
"Cih, kau percaya dengan berita itu? Dari mana kau bisa berbicara omong kosong?"
"Kau lupa kalau papamu masih berhutang dengan appaku? Kau tidak ingat tentang ikatan yang disebut sahabat?"
"Ah, ikatan yang memuakkan itu? Maaf sekali kalau aku melupakan hal itu, karena itu tidak penting bagiku. Itu urusan mereka berdua Oh Sehun, untuk apa kau kaitkan dengan masalah ini?"
"Hanya sekedar mengingatkan," Sehun memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana jeans denimnya. "Selain masalah itu, kau tidak bermaksud melukai Jongin bukan? Kau tidak menjadikan Jongin sebagai tempat pelarian."
"Apakah aku harus tertawa?" perkataan remeh itu terlontar. Seperti percikan api yang semakin membesar, Sehun semakin berhasrat memukul Kris secara membabi buta. "Aku tidak seperti dirimu Sehun. Kau lari karena kau lelah menunggu kemudian menjadikan Luhan sebagai pelarianmu selama ini. Seharusnya kau sadar untuk siapa pertanyaan itu ditujukan."
Dengan santai Kris berjalan mendekati Sehun, menatap remeh Sehun yang berusaha menahan amarahnya. "Kalau kau mau memukulku silahkan, selagi kita di rumah sakit."
"Apa hubunganmu dengan Luhan?"
"Ah orang itu?" Kris menerawang langit-langit rumah sakit. "Hubunganku, sepertinya kau tidak perlu tau akan hal itu." Jarak mereka mulai mengecil dan kini Kris dapat melihat kilatan amarah di mata Sehun dengan jelas. "It's not your business little Oh."
"Dasar sialan!"
BUGH
Satu pukulan telak mengenai pipi Kris. Sedikit terhuyung Kris terkekeh pelan, menyentuh ujung bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Mengangguk-anggukkan kepalanya, ia menatap Sehun sinis. "Bagai mana kalau Jongin tahu akan hal ini? Siapa yang akan dia bela?Aku atau dirimu?"
Tidak ada siapa pun di sana. Koridor ini terlalu sepi untuk rumah sakit yang bisa dibilang cukup terkenal, semoga saja pertengkaran mereka tidak mengganggu para pasien di sana. Tidak ada yang mengeluarkan suara lagi setelah Kris berbicara. Tiba-tiba ia menjentikan jari, "Bagaimana kalau kita bersaing untuk mendapatkan perhatian dari Jongin," dan sebuah sebuah seringaian tercetak jelas diwajah pemuda yang lebih tua darinya "Setuju?"
TBC
...
Sudah satu bulan lebih... Bukannya terlupakan, cuma bingung melanjutkannya. Apa chapter kemarin terlalu memaksa? Ah di bagian terakhir itu seharusnya " .In" atapi aku nggak tau kenapa dua tulisan depan hilang waktu di tulis dan copas. Akhirnya UAS selesai ! Tapi keyboard laptop lagi rusak di bagian 'A'-nya. Aku harap, setelah aku menghilang gara-gara tugas sekolah, ff ini nggak jadi awkward. Maaf sekali kalau kalian sampai lumutan nunggu ff ini.
Ngomong-ngomong, karena umur udah legal berharap bisa publish ff rate M. Tapi aku belum nemu kalimat pembuka. Aaaaa... rasanya awkward banget! Apa karena udah lama nggak publish ff ya?
Udahlah basa-basinya, semoga suka sama ff chap 14 ini :)
Thanks a Lot for :
Evieana689 | jonginisa | Hun94Kai88 | laxyovrds | ucinaze | eatertane | jumee | saya sayya | Xinger XXI | Wendyblu | Puji Haruharu | ariska | novisaputri09 | VampireDPS | cute | Nam Jung | yuvikimm97 | jjong86 | | mira-ah | nabilapermatahati | sayakanoicinoe | kimkai88 | winter park chanchan
