My Precious Woman

.

.

.

A Remake from KyuSoo's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place

Cast :

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Warning : a Genderswitch FF, Mature Content

.

.

.

Kyungsoo menurut, tak lagi menolak saat Jongin mulai merengkuh pinggangnya. Membawanya dalam dekapan hangat, dekapan layaknya pria yang ingin melindungi kekasihnya. Satu tangan Jongin masih bermain di pipinya, dan bibirnya… masih menjadi tawanan Jongin.

Bibir Jongin bergerak pelan, teratur, menyapu setiap mili permukaan bibir Kyungsoo dengan hati-hati. Ia sabar menuntun Kyungsoo agar menikmati ciumannya, berusaha menghilangkan setiap lapis perasaan gugup dan takut calon istrinya itu. Hidungnya mencium harum kulit wajah Kyungsoo, tentu saja, gadis itu baru selesai mandi bukan? Jongin seperti mencium bau surga, well abaikan saja. Orang yang sedang jatuh cinta memang di mabuk kepayang dan selalu hiperbolis jika menyangkut pujaan hatinya.

Jongin benar-benar merasa geli dalam hati, karena merasakan pergerakan samar dari Kyungsoo. Bibir yang sedang dalam kuasanya ini bergerak samar, mungkin berusaha membalas gerakan Jongin. Tetapi sangat terasa betapa bibir itu bergerak begitu lugu dan amatir, berbeda sekali dengan bibir gadis-gadis yang diciumnya selama ini.

Jongin menghargai usaha Kyungsoo dengan pelukannya yang semakin erat, entah gadis itu sadar atau tidak dengan tindakannya saat ini. Dan yang Jongin sama sekali tidak menyangka adalah… tangan Kyungsoo balas mengelus pipinya!

'Ya Tuhan…'

Jongin ingin langsung bergerak cepat melumat Kyungsoo dan menindihnya sekarang juga. Tetapi ia tidak bodoh, Jongin masih bisa mempertahankan akal sehatnya. Momen seperti ini tidak boleh ia rusak dengan tindakan gegabahnya, ia harus bersabar menahan nafsunya. Kyungsoo baru saja menerimanya, menerima apa yang dilakukannya. Selama ini gadis itu selalu menolak 'kan?

Tangan mungil itu bergerak menangkup pipi Jongin, mengelusnya lembut. Tanpa tahu gerakan sederhana itu membuat jantung Jongin berdegup kencang. Ia merasa melayang.

Jongin menekan bibirnya lebih dalam sekali lagi, lalu melepas ciumannya. Matanya terbuka dan menatap Kyungsoo langsung. Hal yang sama dilakukan Kyungsoo, dan gadis itu kelihatan salah tingkah dan bingung mendapati tangannya masih menempel di wajah Jongin.

"A-aku…"

Kyungsoo seperti kehilangan kata-kata, bibirnya terasa aneh untuk berbicara. Matanya membulat bingung seperti anak kecil yang tertangkap basah berbuat kenakalan. Ia ingin menarik tangannya dari wajah tampan itu, tetapi tangan Jongin sudah menahannya.

"Tidak apa-apa, Kyungsoo, tidak apa-apa… Sentuh saja, jangan takut…"

Kyungsoo menelan ludahnya, tangan Jongin menggenggam erat tangannya dan itu terasa hangat. Menenangkan. Jongin menariknya semakin merapat pada pria itu, membuat nafas Kyungsoo tercekat. Astaga, hal ini bahkan tidak pernah ada dalam mimpinya sekalipun!

"Kau satu-satunya gadis yang sangat susah untuk kubawa dalam posisi ini, Kyungsoo, tidak tahukah kau?"

Suara Jongin nyaris seperti bisikan. Dan Kyungsoo seperti terhipnotis untuk tidak mengalihkan pandangannya dari sana. Hening sejenak, tak ada yang berbicara lagi.

"Kau bilang…kau tidak sembarang membawa masuk gadis dalam mansionmu." Suara Kyungsoo yang mencicit pelan terdengar tak lama kemudian.

"Memang."

"Kalau begitu kenapa kau membawaku? Aku bukan siapa-siapa, aku tidak kaya, tidak menarik, tidak sebanding dengan—"

"Sssh, siapa yang mengajarimu berbicara seperti itu? Aku yang paling tahu, Kyungsoo, gadis mana yang tepat untukku."

"T-tapi—"

"Kau itu kaya, dengan caramu sendiri. Kau menarik dengan jalanmu sendiri. Dirimu yang kaya, Kyungsoo, tanpa kau sadari itu. Kau mahal, berbeda dengan gadis murahan di luar sana. Kau berharga, uang dan kekayaan tidak bisa membeli dirimu. Siapa yang bilang kau bukan siapa-siapa? Kau calon istriku, demi Tuhan. Apa statusmu masih kurang jelas? Aku akan menikahimu dua hari lagi, dan anakku hidup didalam sana, apa semua itu masih belum jelas untukmu?"

Jongin benar-benar gemas dengan sikap Kyungsoo. Ia tertawa pelan melihat ekspresi Kyungsoo saat ini. Jongin lantas menjatuhkan keningnya tepat di kening Kyungsoo, sesekali menggesekkan hidung mereka berdua. Deru nafas mereka seperti menyatu.

"Hanya kau yang pantas ada disini, hanya kau, selamanya hanya dirimu dan aku akan pastikan itu sampai akhir."

Kyungsoo mau tak mau tersentuh, kata-kata Jongin terdengar sangat… dalam. Pancaran mata pria itu aneh, mungkin Kyungsoo harus mulai belajar membaca apa yang Jongin ungkapkan melalui matanya itu.

"Aku mencintaimu, jangan ragukan itu, Kyungsoo-ya."

Bisikan Jongin yang Kyungsoo dengar sebelum pria itu membungkus tubuhnya dalam pelukan hangat dan erat. Kyungsoo hanya bisa tersenyum samar diam-diam di bawah dagu Jongin, memejamkan matanya merasakan pelukan posesif yang melindungi ini.

Ya, mungkin pintu hatinya sudah sedikit terbuka untuk Jongin, pria iblis yang sudah menyakitinya luar dalam. Mungkinkah ini juga pintu menuju kebahagiaannya?

.

.

.

"Hei."

Kyungsoo menepuk bahu pria itu pelan. Setelahnya ia memasang senyum terbaiknya untuk menyambut reaksi pria itu.

"Kyungsoo!"

Kyungsoo tersenyum makin lebar, matanya hingga menyipit nyaris tak terlihat. Detik berikutnya ia sudah direngkuh erat oleh pria itu, Sehun.

"Duduklah, kau mau sarapan?"

"Kau pikir untuk apa aku kesini?"

Kyungsoo mendumal kecil. Tetapi ia tetap duduk, mengambil tempat di samping sahabatnya itu.

"Kau… sendirian? Mana Jongin-hyung?"

Kyungsoo hanya mengedikkan bahunya. "Mungkin masih mandi, entahlah."

"Lalu kenapa kau bisa keluar dari kamarnya?"

"Ya aku keluar begitu saja, pintunya tidak dikunci kok. Kau pikir dia mengurungku?"

Sehun mau tak mau mengangguk, well, hyung-nya mengurung Kyungsoo, mungkin saja 'kan?

Kyungsoo tertawa. "Dia tak seburuk itu, asal kau tahu."

Sehun semakin heran. Kenapa Kyungsoo bisa membicarakan Jongin tanpa menggerutu atau bersungut-sungut? Lihat, senyum manis itu bahkan terukir di bibir cantiknya. Sehun benar-benar tidak percaya. Apa yang sudah hyung-nya lakukan kali ini?

"Emmm, Jongin-hyung tidak melakukan sesuatu padamu 'kan?"

Kyungsoo hanya menggeleng tanpa menoleh pada pria disampingnya itu. Ia sibuk mengunyah sarapannya, tidak menghiraukan Sehun yang sibuk berpikir. Tanpa disadari keduanya, sosok Jongin melangkah memasuki ruang makan dengan langkah pelan.

Dengan satu tangan di saku celananya, tampak sangat santai penampilan Jongin. Ia hanya tersenyum melihat dua sahabat itu duduk bersebelahan. Semalam… benar-benar malam yang indah untuknya. Mungkin untuk Kyungsoo juga, entahlah, Jongin tidak tahu. Tetapi dengan gadis itu tidak berusaha melepaskan diri dari pelukannya, tidak membentaknya dan bahkan tidak menolak saat Jongin menciumnya lagi sebelum tidur, itu sudah cukup untuk Jongin.

Tidur dengan Kyungsoo dalam dekapannya dalam keadaan tenang dan tidak terpaksa, itu sungguh luar biasa. Jongin malah tidak bisa langsung tertidur setelahnya, ia baru bisa memejamkan matanya saat jam menunjukkan waktu dini hari.

"Hae, lanjutkan sarapanmu. Kenapa kau malah bengong seperti itu?"

Jongin makin tersenyum mendengar suara lembut itu keluar menegur adiknya. Ia lantas menghampiri meja makan, mengambil tempat di sisi Kyungsoo.

"Aku juga mau sarapan. Bisa kau ambilkan untukku?"

Kyungsoo menoleh, sedikit terkejut melihat Jongin sudah duduk di samping kirinya. Pria itu sudah memasang senyumnya, dan Kyungsoo tampak terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk.

"Hyung…"

Adiknya memanggil dari sisi kanan Kyungsoo. Tatapan mata adiknya seperti mengatakan 'Kau-hutang-penjelasan-padaku-Hyung!'

Jongin hanya tertawa kecil dan menggeleng, lalu kembali memfokuskan diri pada Kyungsoo yang sudah menyodorkan piring sarapannya.

"Sarapanmu…" ucap gadis itu canggung tanpa menatap Jongin. Ia malu sekali, sungguh! Apalagi Sehun ada disini.

"Terimakasih, sayang. Setelah ini kita akan sibuk. Jadi, makanlah yang banyak. Ibu hamil butuh banyak gizi, agar anakku tidak kelaparan didalam sana."

Kyungsoo hanya menunduk mendengar setiap perkataan Jongin. Ia mengunyah makanannya dalam diam, terlalu canggung dan malu untuk menyahut ucapan Jongin. Sedikit kesal juga sebenarnya karena Jongin seperti tidak lihat situasi saat berbicara. Sementara disisi kanannya, Sehun membulatkan matanya dan melongo sejenak.

"Hyung! Aku butuh penjelasan! Sekarang!"

.

.

.

"Jadi… Kyungsooie sedang mengandung?" Sehun berbisik tak percaya. "Hyung!"

Jongin mengerutkan alisnya terganggu. Ia sedang asyik menatap gadget-nya, sibuk mencari nomor seseorang. Seorang desainer kenalannya.

"Iya, kau bawel sekali, Hunna! Memangnya kenapa kalau Kyungsoo hamil? Aku akan bertanggung jawab!"

"Apa?"

"Sudahlah, kau ini sudah menyita waktuku untuk semua penjelasan yang kau mau. Kyungsoo sedang mengandung anakku, besok aku akan menikahinya, kau tidak keberatan 'kan kalau besok kita double wedding? Aish, para wartawan kurang kerjaan itu pasti akan ribut."

"Hyung, aku tidak salah dengar?!"

Jongin hanya tersenyum sekilas dan menepuk pundak adiknya, kemudian berlalu dari taman samping itu. Hari ini ia akan pergi dengan Kyungsoo, menghabiskan waktu untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Pasti media akan gempar karena dua Kim bersaudara itu menikah bersamaan.

Jongin tak mau pusing memikirkan hotline news besok. Dan sudah pasti ia tidak akan membiarkan wartawan-wartawan pengganggu itu merusuh di acara sakralnya nanti. Pemberkatan pernikahannya akan ia buat tertutup dan setelah acara selesai barulah wartawan bisa mencari berita yang mereka butuhkan.

Semuanya hanya karena satu hal. Kyungsoo tidak suka keramaian.

Jongin sudah pernah melihatnya saat gadis itu datang ke acara amal bersama adiknya dulu. Dulu, saat dirinya masih dikelabui oleh mereka berdua, adiknya dan calon istrinya.

Sekali lagi, semua ini tentang Kyungsoo. Jongin tidak mau Kyungsoo merasa terganggu karena bersanding dengannya, ia ingin Kyungsoo merasa nyaman bersamanya. Ah.

Lelaki jangkung itu melangkah cepat menuju pintu depan, tadi ia sudah meminta Kyungsoo menunggu disana. Dan bibirnya mengukir senyum melihat gadis itu menurutinya, tampak berdiri membelakangi arah keluar pintu dan serius memperhatikan halaman Kim mansion yang luas.

"Ayo pergi…"

.

.

.

"Chagi, Jongin hyung akan menikahi Kyungsooie."

Luhan berhenti mengunyah roti bun-nya. Matanya sedikit membulat kaget, tetapi tidak terkejut sepenuhnya karena ia sudah memprediksi sesuatu yang mendekati kenyataan.

"Oh."

"Kenapa? Kau sudah mengetahui hal ini?"

Luhan menggeleng dan meletakkan rotinya. Ia mengambil sehelai tissue dan mengusap pinggir bibirnya sejenak.

"Tidak, hanya saja aku sudah memperkirakan hal ini."

Sehun termenung. Memang, ia melihat sorot tak biasa dari kedua mata kakaknya saat sedang menatap Kyungsoo. Pancarannya berbeda, dan Sehun yakin itu bukan sesuatu yang buruk. Walaupun dulu kakaknya pernah mengecam soal kebohongan mereka, tetapi bukan pancaran benci yang dikeluarkannya saat menatap Kyungsoo.

Sehun tidak pernah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran dan hati kakak satu-satunya itu. Namun sebagai sesama lelaki ia mengerti dengan sikap dan sorot mata Jongin. Itu gesture yang menunjukkan betapa kakaknya itu menginginkan Kyungsoo. Posesif.

Sehun tertawa kecil. "Kurasa Jongin hyung benar-benar jatuh."

Luhan mengangguk. Ia lantas memeluk lengan Sehun merapat. "Kuharap dia serius. Aku tidak akan memaafkannya kalau ternyata Kyungsoo hanya menjadi mainannya."

Sehun balas menarik pundak kekasihnya dan memeluk erat tubuh kurus itu. "Ya, aku orang pertama yang akan menghajarnya kalau sampai itu terjadi."

.

.

.

Kyungsoo tidak tahu apa yang tengah dirasakannya kini. Lelah, ya. Senang, speechless, dan berbagai emosi lainnya bercampur dalam hatinya. Jongin memang laki-laki yang tidak mudah ditebak. Dulu, sosok Jongin itu seperti iblis. Bajingan dengan kekayaan melimpah ruah, yang memandang rendah setiap gadis.

Tetapi sekarang bayangan tentang sosok Jongin yang itu seakan sudah memudar dari pikiran Kyungsoo. Tidak memudar sepenuhnya juga, karena masih ada beberapa sikap lain yang menyebalkan dari Jongin. Laki-laki itu pemaksa. Contohnya tadi saat mereka mencari gaun yang tepat untuk Kyungsoo. Mereka membuang waktu selama hampir satu jam lamanya untuk berdebat. Walau akhirnya Jongin mengalah karena Kyungsoo sudah memasang sikap diamnya dan membuang muka.

Jongin dan Kyungsoo tidak sadar. Mereka berdua sama-sama keras kepala, dan harus ada yang mengalah salah satunya. Dan disini Jongin sepertinya yang mengambil bagian itu. Ia sedang berusaha mencairkan hati Kyungsoo, bukan?

"Kau masih marah?"

Kyungsoo tidak menjawab. Tetapi ia juga tak menolak saat Jongin menariknya mendekat, hingga punggungnya bersandar di dada Jongin. Sekarang, setiap Jongin mengajak Kyungsoo pergi, ia tidak pernah lagi mengemudi sendiri. Ia selalu memakai jasa supir pribadinya. Alasannya sedikit konyol sebenarnya. Jongin hanya ingin terus memeluk Kyungsoo di sepanjang perjalanan.

"Kyungsoo… katakan sesuatu. Jangan diam saja, kau membuatku cemas, tahu."

'Apa yang harus kukatakan? Aku memang masih kesal padanya, selalu saja bersikap semaunya sendiri.'

Kyungsoo mendumal sendiri dalam hati. Ia terlalu sibuk dengan perasaan kesalnya, hingga tidak merasakan Jongin sudah menyelipkan jemari diantara helaian rambut panjangnya. Memilin-milin helaian halus itu, memainkannya lembut.

"Kyungsoo."

Jongin mengeratkan pelukannya di perut Kyungsoo. Kini gadis itu benar-benar sudah berpindah posisi, menempati pangkuannya, hanya dengan satu tarikan pelan kedua tangan Jongin.

"Apa? Kau itu menyebalkan, kau sadar tidak?"

Jongin tertawa melihat Kyungsoo mendengus sebal padanya. "Aku 'kan sudah minta maaf tadi."

"Kau pikir aku sudah memaafkanmu?" Kyungsoo mencibir pelan, tetapi masih cukup untuk didengar Jongin.

"Oh, Kyungsoo, ayolah. Apa yang harus kulakukan?"

Kyungsoo sedikit melirik Jongin. "Aku… ingin sesuatu."

"Apa itu?" Jongin menatap Kyungsoo serius.

Kyungsoo kembali melirik Jongin, ia bertanya-tanya apa pria itu mau mengabulkan keinginannya.

"Aku mau makan ramen, di kedai pinggir sungai Han."

.

.

.

Jongin menatap Kyungsoo yang sibuk dengan mangkuk ramen di hadapannya. Gadis ini seakan melupakan eksistensinya disini, dan fokus dengan semangkuk ramen panas nan pedas dengan kuah yang mengepul.

Jongin yang melihat Kyungsoo makan tiba-tiba merasa kenyang. Ia cukup menatap Kyungsoo saja sampai calon istrinya itu selesai makan.

"Bolehkah aku pesan lagi?"

Kyungsoo sedikit menoleh pada Jongin karena lelaki itu sedang berada di belakangnya, dengan perhatian mengikat rambut Kyungsoo dengan sapu tangannya agar helaian halus itu tidak mengganggu Kyungsoo.

Jongin menghela nafas, namun dengan tegas menggeleng. "Tidak."

Kyungsoo menatap Jongin tidak setuju, matanya menyorot penuh perlawanan dan tolakan.

'Dasar, kapan dia menurutiku? Selalu saja berseberangan dengan jalan pikiranku, aish.'

"Kau bisa sakit perut nanti, kau tidak ingat kau sudah habis berapa mangkuk? Ayo pulang."

Kyungsoo masih enggan menaruh sumpitnya.

"Besok acara pernikahan. Aku tidak mau terjadi sesuatu dengan pengantinku. Mengerti?"

Jongin merebut sumpit dari tangan Kyungsoo. Meraih tissue dan mengusap pinggir bibir Kyungsoo yang sedikit ternoda kuah ramen. Tunggu, rona samar itu karena perkataannya barusankah? Atau efek panas dan pedas dari kuah ramen?

"Ya sudah."

Kyungsoo kembali menghadap mangkuk ramen keempatnya yang hampir habis dan merebut kembali sumpitnya dari tangan Jongin. Ia punya alasan lain kenapa ia lebih memilih fokus dengan ramennya. Kyungsoo jengah terus ditatap oleh Jongin dengan pandangan yang seolah mengatakan Aku-juga-ingin-memakan-ramenmu!Ah, kira-kira seperti itulah, Kyungsoo hanya bisa menangkap hal itu jika menatap Jongin.

Padahal ia tidak tahu, yang ingin dimakan Jongin bukanlah ramennya. Kyungsoo sampai berpikir, apa Jongin sebegitu pelitnya hingga tidak mau memesan ramen sendiri? Atau Jongin begitu perhitungan karena dirinya sudah memesan lebih dari satu mangkuk ramen? Ah entahlah.

Yeah, Kyungsoo memang tidak tahu jika melihatnya makan saja Jongin sudah merasa panas. Menatap bibirnya menyeruput kuah panas itu, Kyungsoo tidak tahu betapa Jongin mati-matian menahan degup jantungnya yang mulai tidak waras. Haha, memangnya sejak kapan Jongin waras? Jika sudah menyangkut Kyungsoo ia bisa menjadi gila-coret-tergila-gila.

"Sudah 'kan? Ayo pulang!"

Kyungsoo mengernyit mendengar suara arogan yang dalam keluar dari bibir Jongin. Gadis itu mendecih pelan, dan masih menengguk air minumnya saat Jongin berdiri. Mengeluarkan uang dan menaruhnya di meja tanpa mempedulikan jika lembaran won itu terlalu mahal untuk harga empat mangkuk ramen.

"Ayo cepat, kau butuh tidur. Besok adalah hari yang melelahkan, jadi kau harus menyiapkan tenaga."

'Dasar, dia pikir aku manja? Huh, setiap hari aku juga bekerja keras, jam tidurku tidak pernah lebih dari empat jam.' Kyungsoo mendumal dalam hati.

Ia hanya menurut saat Jongin menarik tangannya keluar dari kedai sederhana itu, berjalan menuju mobil sedan hitam mengilat yang terparkir tepat didepannya. Jongin membuka pintu dan menuntun Kyungsoo masuk.

Begitu bokongnya menyentuh jok mobil yang empuk, Kyungsoo menguap. Kelopak matanya terasa lebih berat dari sebelumnya. Tepat setelah mobil menyentak pelan dan mulai melaju meninggalkan kedai ramen, Kyungsoo tertidur. Kedua lengan Jongin sudah siaga menjaganya dalam pelukan.

"Tidur nyenyak, istriku. Aku menicintaimu."

Dan ciuman manis mendarat di kening Kyungsoo yang terlelap.

.

.

.

Kyungsoo terus saja meremas tangannya gugup. Hanya sebelah tangan saja sebenarnya, karena tangan yang satunya ia biarkan digenggam Jongin. Saat ini keduanya sedang berdiri di hadapan Pendeta, siap mengucap janji sehidup semati.

Tetapi kegugupan Kyungsoo bukan apa-apa. Masih ada berbagai emosi yang berkecamuk di dalam hati dan pikirannya. Semua hal yang terjadi belakangan dalam kehidupannya benar-benar tidak ia sangka sama sekali. Memimpikannya saja tidak pernah, dan tiba-tiba ia harus mengalami semuanya.

Ah andai saja ibunya ada disini, menyaksikan semua apa yang dialaminya. Ada yang terlalu sakit untuknya, ada juga yang sangat manis. Kyungsoo hanya bisa merasakan semuanya sendirian, karena tak ada tempatnya untuk berbagi perasaan terdalamnya. Teringat ibunya membuat perasaan sesak membuncah di dadanya.

Kyungsoo semakin merenung dengan pikirannya sendiri, dan ia sedikit terkejut saat Jongin meremas tangannya.

"Anda, Nona Do Kyungsoo, apakah Anda bersedia?"

Kyungsoo menatap Jongin di sampingnya. Pria itu tersenyum padanya, meremas lembut tangannya dan mengangguk padanya seolah meyakinkan perasaannya. Kyungsoo benar-benar menatap Jongin tanpa kedip, dan kepalanya mengangguk begitu saja.

Ia hampir tidak percaya ini, bahwa kini dirinya sudah berganti status hanya dengan sebuah anggukan kecil kepalanya. Ia sudah menjadi istri seseorang, ia bukan lagi gadis lajang, bukan lagi Kyungsoo si bintang café.

Dia Do Kyungsoo, istri dari seorang pria jetset, pemilik saham terbanyak diantara pengusaha Korea lainnya. Kim Jongin.

Ya Tuhan, jika ini mimpi, sadarkanlah ia segera.

.

.

ToBeContinue