NORMAL P.O.V

Setelah mendapatkan panggilan dari kakaknya, Hiyorin langsung pulang tanpa ada seorangpun yang tau, bahkan Saotome.

Tengah malam, Hiyorin meninggalkan seluruh map yang penuh lagu yang telah selesai di atas tempat tidurnya. Hiyorin membuka pintu jendela dan langsung duduk di tepinya.

"Suman... minna-san..."

Pada malam itu, Hiyorin berhasil kabur diam-diam tanpa ada seorang pun yang tau.

Apa yang terjadi di asrama Raging Otori ? Semua anggota HEAVENS mengkhawatirkan Hiyorin yang mendadak pulang setelah panggilan mendadak kemarin yang ia terima.

Mereka semua memiliki pertanyaan yang sama, 'Kemana Hiyorin ?'

Eiichi yang tidak lama kembali ke asrama mereka langsung mendengar kabar tentang Hiyorin yang mencarinya.

"Lalu ? Kemana dia sekarang ?" Tanya Eiichi santai tanpa rasa bersalah.

Seluruh anggotanya menggeleng yang menandakan kalau tidak seorangpun yang tahu keberadaan Hiyorin setelahnya.

Sisa hari itu, mereka cuma merenungkan kemana hilangnya Hiyorin, semenjak Hiyorin tidak membalas email ataupun sms dan tidak mengangkat panggilan satupun.

Tidak lama, kabar Otoya menghilang pun datang. Membuat Eiichi risih dan yang lainnya kawathir.

Di lain sisi, STARISH dan TRIANGLE baru saja mengetahui keberadaan Hiyorin yang tiba-tiba menghilang.

"Kenapa... kenapa mesti di saat seperti ini keduanya menghilang !?"

Tokiya memukul meja dengan sekuat tenaganya. Yang lainnya berusaha menenangkan Tokiya yang tidak seperti biasanya, mengamuk duluan.

"Untung saja Hiyorin sudah menyelesaikan lagu solo keduanya." Ucap Momoka sambil memegangi kertas yang penuh dengan balok nada.

"Apa ada yang tahu apa yang terjadi dengannya belakangan ini ?" Tanya Aika.

Hening.

Satu kata yang cukup untuk menjelaskan suasana ruangan.

Momoka menghela nafas, memecah keheningan. "Aika... sepertinya malam itu Hiyorin mendengar percakapan kita..."

1 kalimat tersebut berhasil mendapatkan seluruh pandangan. "Apa... apa maksudmu ?"

Momoka langsung menatap dingin Ichigo. "Terimakasih kepada dirimu, hal seperti ini terjadi."

Ichigo membalas tatapan dingin tersebut dengan senyum miring. "Memangnya Aku salah apa ?"

Aika mengepalkan tangannya sebelah sementara tangan yang sebelahnya menunjuk Ichigo. "Seandainya saja... jika kau tidak datang... seandainya jika kau tidak pernah muncul dihadapan Yorin, ini semua takkan pernah terjadi !"

Seluruh pandangan mengarah kepada Ichigo. Senyum miring Ichigo menghilang dari wajahnya berubah dengan raut wajah serius.

"Baiklah, kalau memang alasan Hiyorin menghilang gara-gara Aku, apa kalian berdua punya bukti kuat untuk menyalahkanku ? Bukannya dari awal ini semua salah kalian ?"

Aika dan Momoka langsung terdiam, bungkam, tidak bisa membalas seluruh ucapan Ichigo. Ruangan menjadi hening kembali.

Tidak lama, Natsuki mengeluarkan suara, memecah keheningan. "Urm... Beberapa minggu yang lalu... Aku melihat dia membuang banyak surat."

Masato mengangguk. "Bukan sekedar surat biasa... lebih terlihat seperti surat ancaman dan dia juga sedang punya masalah keluarga. Mungkin itu bisa menjadi salah satu faktor dia menghilang, bukan ?"

Ichigo menatap Masato curiga. "Darimana kau tau itu semua ?" Tanya Ichigo dengan nada dingin.

"Dia menceritakannya kepadaku, setelah selesai dengan proyek duetku." Jawab Masato tenang.

Setelah jawaban yang dilontarkan oleh Masato, Ichigo dan Masato malah saling melempar tatapan tajam satu sama lain.

"Jadi sekarang... Yorin ada dirumahnya ? di Akihabara ?" Tanya Aika.

Yang lainnya hanya terdiam dan tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.

"Bagaimana dengan Otoya ? kalian juga tidak ingin mencari tahu keberadaannya ?" Tanya Ichigo kembali.

Hening.

Ruangan kembali hening setelah pertanyaan itu dilontarkan.

Hari itu, hari dimana TRIANGLE, STARISH, dan HEAVENS dilanda kebingungan mengenai hilangnya Otoya dan Hiyorin.


Seperti biasa, anggota STARISH beserta komposernya, baru saja pergi untuk makan siang.

Mereka berbincang-bincang seperti biasa walaupun di setiap hati mereka terasa ada yang kurang.

"Aku mulai khawatir tentang Hiyorin-san." Ucap Haruka seraya membuka topik pembicaraan.

Para anggota STARISH kembali murung, mengingat mereka baru saja kehilangan anggota dan salah satu komposer.

Haruka pun ikut melamun tetapi lamunannya berhenti setelah ia menabrak seseorang. "Maafkan Aku ! Aku tidak se-... eh... Hiyorin-san ?"

Sontak STARISH langsung menoleh ke arah yang sama, seorang gadis yang sangat mirip dengan Hiyorin. Rambut coklat panjang yang dibiarkan tergerai, mata biru laut, wajahnya dipoles dengan make up tipis. Menggunakan baru terusan selutut dengan coat yang melapisi atasan bajunya tidak lupa dengan sepatu flat berwarna putih.

"Hiyori/Hiyorin/Yorin/Yori/Neko-chan !?"

Gadis di depan mereka menunjukkan ekspresi bingung. Menerima ekspresi kebingungan itu, STARISH beserta Haruka ikut memasang ekspresi bingung.

Gadis yang mirip Hiyorin di depan mereka terasa berbeda dengan Hiyorin yang mereka kenal. Gadis di depan mereka memiliki aura hangat yang riang, berbeda dengan aura yang dimiliki oleh Hiyorin.

Gadis di depannya langsung menepuk tangannya dan memberikan senyuman riangnya. "Ara~ pasti temanya Yorin ya ? Senang bertemu dengan kalian~ bagaimana kalau kita bicara di cafe ? suamiku sedang menunggu di cafe sekarang."


"Yorin..." Panggil Ichiro di depan pintu kamar adiknya.

Ichiro membuka perlahan pintunya dan mendapatkan adiknya sedang meratapi foto keluarga mereka beberapa tahun yang lalu.

Hiyorin menaruh kembali foto tersebut dalam keadaan terbalik dengan alasan tidak ingin melihat foto itu lagi.

Ichiro mendekati perlahan adiknya, bermaksud untuk tidak mengejutkan adiknya dari belakang. "Jangan kawathir, ibu dan ayah pasti masih hidup sekarang."

Terlihat Hiyorin tersentak dan langsung saja Hiyorin menggeleng pelan. "Jika memang mereka masih hidup, kenapa kepolisian belum saja memberi kabar ?"

Ichiro terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan sang adik. Ichiro pun hanya bisa menghela nafas sambil menepuk pelan punggung sang adik.

"Percaya saja kepada keajaiban, Yorin..."

Hitorin menepis tangan kakaknya dengan pelan dan langsung berjalan menuju tempat tidurnya dan langsung menyudut.

Ichiro langsung menghela nafas sambil geleng-geleng kepalanya. Ichiro sebagai orang yang cukup peka terhadap adiknya mengerti jika adiknya menyudut artinya dia harus keluar dari ruangan, memberi Hiyorin waktu untuk merenung.

Ichiro keluar dari ruangan. Mendengar pintu yang tertutup, Hiyorin memeluk lututnya, menenggelamkan wajahnya. "Kenapa... kenapa ini harus terjadi..."


"EH !?"

STARISH melongo melihat gadis yang sedang duduk di depan mereka.

"Kuulangi sekali lagi, Namaku Sakakibara Hikari," Ucapnya lembut. "Ini suamiku, Sakikabara Ryou." Ucap Hikari sambil menunjuk pria yang sebaya dengannya.

STARISH dan Haruka menatap mereka sebentar.

"Jadi kalian berdua adalah orangtua Hiyorin yang dikabarkan menghilang itu ?" Tanya Tokiya, masih tidak percaya.

Hikari mengangguk. "Kami bukannya menghilang, tapi lari ke Amerika."

"Hah ? apa maksudnya ?" Tanya Syo, mewakili teman-temannya.

"Kami lari ke Amerika untuk bersembunyi dari grup Yamashita, rival grup Sakakibara. Katanya, mereka akan menggabungkan kekuatan kedua grup agar bisa menambah harta kekayaan." Jelas Ryou. "Karena mereka selalu memaksa kami, kami terpaksa harus bersembunyi dari mereka."

"Lalu, kenapa kalian kembali kesini ?"

"Kami kembali kesini karena kami mendengar anak kami menjadi target mereka yang berikutnya setelah mereka menyerah menemukan kami." Tambah Ryou.

"Tapi, kenapa kalian meninggalkan anak kalian disini ? kenapa kalian tidak membawa mereka juga bersama kalian ?" Tanya Tokiya kembali.

Hikari dan Ryou saling tatap sebentar. "Karena kami kira mereka tidak akan menemukan anak-anak kami." Jawabnya bersamaan.

"Lagipula, kami menghilang tepat disaat konser terakhir kami dan konser Utaprins. Kami tidak ingin konsernya batal gara-gara kami membawanya ke Amerika." Tambah Ryou.

"Apa sekarang kalian tau, dimana anak kalian sekarang ?" Tanya Haruka.

Ryou mengangguk. "Tentu saja, semenjak para pelayan dirumah selalu mengabari kami tentang keadaan di Jepang."

"Ah... ngomong-ngomong, kalau boleh tau... kalian siapanya Yorin ya ?" Tanya Hikari lembut.

"Kami rekan kerjanya." Jawab mereka, bersamaan membuat Hikari dan Ryou terkejut.

Ryou langsung melempar tatapan dingin. "Kalian yakin ? Aku curiga dengan cara menjawab kalian yang bersamaan seperti itu."

"Jangan kawathir Ryou-san." Ucap seorang pria yang berhasil menarik perhatian semuanya.

"Ichigo-san !?"

Ichigo mendekati mereka sambil tersenyum miring. "Ryou-san, Hikari-san, lama tak berjumpa. Bisa minta tolong ? Sebagai balasannya kami akan membantu kalian."


"Ichiro-sama !" Seru seorang pelayan yang langsung menggeser pintu kayu dengan kuat.

Ichiro yang sedang sedang stres akibat tumpukan kertas menatap tajam sang pelayan. "Apa yang kau inginkan ? Kau tidak lihat Aku sedang sibuk !?"

"Ryoba-sama ! Anda harus melihat keadaannya sekarang." Jawab Sang pelayan.

Mata Ichiro membulat sempurna mendengar jawaban yang diberikan pelayannya. "Ugh... sial ! Jangan beritahu Yorin tentang ini, sekarang buat Yorin sibuk ! Aku akan mengecek keadaan nenek."

Sang pelayan mengangguk dan langsung keluar dari ruangan Ichiro.

Di lain sisi, Hiyorin sedang berada di taman, menatap layar ponselnya sambil menggigit kuku jempolnya.

'Kenapa diasaat seperti ini... Otoya malah menghilang !? Masa STARISH atau Haruka atau Ichigo belum menemukannya juga !?'

"Hiyorin-sama."

Hiyorin berbalik kepada sang pelayan, memasang ekspresi datar walau pikirannya sedang kacau balau.

"Tuan muda Ichiro-sama memerintahkan saya untuk menemani anda seharian ini."

Hiyorin menatap pelannya bingung. "Hm ? tumben ?"

"Tuan muda Ichiro-sama yang memerintahkan saya. Jadi Nona muda mau melakukan apa hari ini ? membuat lagu ? memanah ? latihan atau semacamnya ?

"Aku tidak terlalu bersemangat kalau soal musik..." Guman Hiyorin. "Kalau gitu temani Aku latihan memanah." Ucap Hiyorin sembari berdiri dan berjalan mendahului pelayannya.

Sang pelayan mengangguk langsung menyusul nona mudanya.


Tidak lama, setelah bertemu dengan orang tua Hiyorin, STARISH beserta Haruka menyuruh mereka beristirahat di asrama Shining Agency.

Saotome, Ryuya, Ringo dan TRIANGLE yang mengetahui kedatangan keduanya dengan senang hati menemui dan membiarkan keduanya menginap setelah sekian lama tidak bertemu.

Hikari dan Ryou pun membantu STARISH menemukan Otoya yang pada akhirnya kembali juga.

"Ma, maaf sudah merepotkan !" Seru Otoya yang langsung membungkuk didepan keduanya. "Aku tidak menyangka kalau Aku sudah membuat kalian kesusahan selama ini."

"Tidak apa, asal kau beserta teman-temanmu mau membantu kami berdua." Ucap Hikari sementara Ryou hanya mengangguk.

"Kami akan membantu kalian." Ucap Otoya, mewakili STARISH.

Aika dan Momoka juga ikut mengangguk. "Kami akan membantu sebisa kami."

"Kami berdua juga akan berusaha~" Tambah Ringo.

Ryuya yang disebelahnya mengangguk. "Kami semua akan membantu kalian."

"Terima kasih tapi yang kami butuhkan cuma beberapa helikopter dan mungkin sedikit hiburan untuk Yorin nanti. Kami akan menyiapkan semuanya di vila nanti." Ucap Hikari.

Yang lainnya mengangguk mengerti.

"Jangan kawathir Hikari-san, Ryou-san, kami sudah menyiapkan lagu yang sangat spesial untuk Hiyorin-san." Ucap Haruka.

"Wah~ wah~ sepertinya kalian mencuri start duluan ya."

Sontak seluruh pandangan berasal langsung mengarah ke asal suara yang sontak membuat mereka terkejut.

"HEAVENS !? QUARTET NIGHT !?"

"Kami boleh ikut ke vila 'kan tante ? " Tanya Reiji santai.

Hikari mengangguk. "Aduh~ boleh dong, kalian semua pasti kawathir terhadap Hiyorin 'kan ?"

Setelah pertanyaan yang dilontarkan oleh Hikari, langsung saja wajah STARISH, QN, dan HEAVENS memerah samar.

"Eh ? kalau begitu kami juga ikut deh !" Seru Aika.

Ryou hanya menghela nafas sementara Hikari mengangguk.

"Besok, pagi-pagi sekali, kita langsung ke vila grup Sakakibara."


"Kami menolak." Ucap Hiyorin datar.

Wanita di depannya menghela nafas. "Kenapa ? Apa penawaran yang kami berikan kurang memuaskan ? Apa kau menginginkan lebih ? Jangan kawathir, kami akan menyiapkan apapun untukmu, begitu pula dengan kakak dan adik tercintamu." Jelasnya, siapa lagi kalau bukan Yamashita Harumi.

Untuk kesekian kalinya Hiyorin menggeleng. "Aku tidak akan menyerahkan diri dan diangkat menjadi anakmu. Itu menjijikan, kau tau ?"

Harumi tersenyum miring. "Heh ? masih berani menolak ? padahal kalian bertiga cuma anak yatim piatu. Aku bisa memberikan lebih banyak daripada ibu kandungmu, kau bisa meminta apa saja dariku, kecuali kegiatan idolingmu itu."

Hiyorin ikut tersenyum miring. "Dengar dasar wanita jalang, orangtuaku masih hidup, keberadaan mereka saja yang tidak diketahui dan sekarang mereka masih dalam pencarian."

"Lagipula, ibuku yang terbaik dari semuanya, dia berbeda denganmu yang cuma mengincar harta kekayaan ayah. Ibuku juga memberikan seluruh yang aku mau, bahkan untuk menjadi idolpun, ibuku tidak pernah melarangnya."

Harumi langsung melempar tatapan tajam, masih memasang senyum miring. "Heh, dasar bocah sialan, masih kecil sudah mulai macam-macam ya ? kau tau bocah brengsek, jika saja Aku tidak berbaik hati, mungkin kau dan saudara sialanmu itu sudah jadi pengemis !"

Hiyorin kembali memasang wajah datar. "Haha, lantas saja kakakku sudah muak denganmu, dasar wanita jalang tidak tahu diri dan tidak laku."

Harumi langsung memukul meja dan langsung berdiri, siap menampar anak didepannya. Sayangnya, gerakannya terhenti setelah melihat seorang pelayan menahan gerakan tangannya.

"Harumi-sama, anda tahu tindakan anda sudah sangat kelewatan."

Harumi berdecih dan langsung melepaskan tangannya dari genggaman pelayan. Harumi langsung angkat kaki dari ruangan, meninggalkan Hiyorin dan sang pelayan.

Setelah pergi, Hiyorin langsung berdiri dan pergi ke kamarnya dimana dia sudah ditunggu oleh Ichiro.

"Jadi, bagaimana ?" Tanya Ichiro.

Hiyorin menatap kakaknya sambil terkekeh. "Pantas ayah membencinya, sikapnya sangat menyebalkan."

"Jadi sekarang bagaimana ? Mereka tidak akan menyerah sampai berhasil mengadopsi kita."

Keduanya langsung termenung memikirkan nasib keluarga mereka. Kehilangan ayah dan ibu, nenek mereka sakit keras, dan harus menolak permintaan memaksa daru grup Yamashita.

Tiba-tiba pintu diketuk. "Masuk."

Sang pelayan membuka pintu. Wajahnya berseri-seri seperti baru saja memenangkan hadiah berjuta-juta yen. "Ichiro-sama, Hiyorin-sama, ada tamu yang menunggu kalian di aula."

Hiyorin kebingungan. "Aula ?"

"Tamu kalian berdua cukup banyak jadi kami membawa mereka ke aula yang lebih luas." Jelas sang pelayan.

Ichiro dan Hiyorin saling tatap dan langsung pergi menuju Aula. Sesampainya di Aula, betapa terkejutnya keduanya, terutama Hiyorin.

STARISH, QN, HEAVENS, TRIANGLE, beserta Haruka dan Ichigo datang. Tidak lupa dengan Hikari dan Ryou.

"Ibu ! Ayah !"

Langsung saja Hiyorin berlari ke arah keduanya dan memeluk keduanya dengan erat. Ichiro terdiam di tempat. Arisa langsung muncul sambil memeluk kakaknya. "Kak... Ayah dan ibu sudah kembali."

Ichiro mengangguk sambil menghapus air matanya sebelum terjatuh.

Hiyorin yang sedari tadi memeluk orangtua kesayangannya langsung menangis. Hiyorin tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya terisak-isak, penuh ingus, dan mata sembab. Yang dia pedulikan hanya orangtuanya yang sangat dirindukannya.


"Jadi... begitulah alasan mengapa kami berdua hilang tiba-tiba." Ucap Ryou mengakhiri penjelasannya.

Hiyorin mengangguk mengerti. "Harusnya kalian memberitahu kami sebelumnya, jadi kami tidak perlu panik."

Hikari tertawa kecil. "Halah~ Yorin 'kan tidak perlu kawathir karena banyak kok orang yang peduli denganmu."

Hiyorin menatap ibunya kebingungan. "Maksudnya ?"

Hikari menoleh ke arah STARISH, QN, HEAVENS, TRIANGLE dan para komposer. Hiyorin mengikuti pandangan ibunya, melihat para idol dan komposer berbincang dengan Ichiro dan Arisa.

"Mereka ?" Tanya Hiyorin, menunjuk ke arah mereka.

Hikari mengangguk. "Kau harus menghargai perjuangan mereka yang datang kesini karena mengkhawatirkanmu."

Hiyorin mengangguk kecil. "Baik... ibu."

Tidak lama, Ichiro datang dengan tampang serius. "Aku sudah menyuruh mereka beristirahat, Arisa bersama mereka."

"Kalau begitu, apa saja yang diinginkan oleh nenek sihir itu ?" Tanya Ryou.

Hiyorin langsung menjelaskan seluruh percakapannya saat berdebat dengan Harumi dan tentang surat teror yang ia dapatkan di asramanya.

Ryou mengangguk mengerti. "Jangan kawathir, begitu ia melihat kami berdua, nenek sihir itu tidak akan datang menganggu kalian lagi."

"Bagaimana dengan keadaan nenek ?" Tanya Hikari.

Hiyorin langsung menatap Ichiro. Hikari dan Ryou mengikuti pandangan anak kedua mereka.

Ichiro langsung menghela nafas panjang dan menunduk. "Keadaannya semakin parah. Para dokter yang biasa datang kemari untuk mengobatinya tiba-tiba berhenti dengan alasan sibuk di rumah sakit."

Hiyorin menggigit jempolnya. "Pasti ulah nenek sihir itu !"

Ryou dan Hikari saling tatap dan mengangguk. "Yorin, Ichiro, jemput adik kalian dan pergilah tidur." Ucap Hikari lembut.

"Biarkan kami yang urus nenek sihir itu." Tambah Ryou.

Hikari langsung mengecup kening kedua anaknya. Ichiro dan Yorin langsung pamit.


Angin malam bertiup dengan pelan tapi berhasil menerbangkan beberapa helai rambut Hiyorin yang tergerai dengan bebasnya.

"Hiyorin."

Hiyorin langsung menoleh ke asal suara dan mendapatkan Otoya sambil tersenyum lembut. "Kenapa kau berkeliaran malam-malam begini ?"

Otoya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe... Aku cuma ingin melihat-lihat sekitar. Bagaimana dengan dirimu ?"

Hiyorin memalingkan wajahnya. "Ini rumahku sendiri jadi terserah Aku mau kemana saja."

Otoya tertawa kecil. "Ngomong-ngomong... Aku dengar-dengar kalau kau mengkhawatirkanku ?"

Hiyorin langsung menarik tudung hoodienya untuk menutupi wajahnya yang memerah samar. "Tidak tuh. Buat apa Aku mengkhawatirkanmu ? buang-buang energi doang."

"Eh.. eh ? oh... begitu..."

Hiyorin mengintip dari bawah tudung hoodienya, melihat wajah murung Otoya. "Tapi... syukurlah kalau kau sudah kembali, Otoya."

"O-oh... mm..."

Hiyorin langsung berdiri. "Kalau begitu Aku duluan ke kamarku, kau juga."

Otoya mengangguk. Keduanya langsung kembali ke kamar masing-masing.

Diperjalanan menuju kamarnya, Hiyorin bertemu dengan Eiichi.

"Tch."

Eiichi menoleh ke arah Hiyorin dan langsung mememasang senyum yang sangat menyebalkan untuk Hiyorin.

"Apa yang dilakukan oleh putri pertama Sakakibara saat malam-malam begini ? Apa dia sudah mulai jatuh cinta kepadaku ?" Tanya Eiichi, belum melepas senyumannya.

Mengingat Eiichi membuatnya khawatir setengah mati tentang Otoya, Hiyorin tidak menjawab yang membuat Eiichi malah mendekati Hiyorin. Mendekatkan wajahnya kepada sang gadis yang lebih pendek darinya. "Kenapa ? Apa kau terpesona dengan diriku yang tampan ini ?"

Hiyorin terkekeh. "Heh, gombalan Ren bahkan lebih bagus."

Tiba-tiba tampang Eiichi berubah. "Hn... masih saja membandingkan dengan STARISH."

Melihat perubahan yang cepat itu, Hiyorin terkejut tapi tidak terlalu menunjukkan ekspresinya. "Memangnya kenapa ?"

Eiichi menggeleng. Dia langsung mengecup kening Hiyorin. "Aku hanya mengkhawatirkanmu, sekarang pergi tidur sana."

Eiichi langsung meninggalkan gadis itu sendiri, kebingungan melihat sikap Eiichi yang tidak seperti biasa. "Dia marah gara-gara Aku membandingkannya dengan salah satu anggora STARISH ?"


Keesokan hari telah tiba, Hari terkahir grup Sakakibara dan Yamashita mmelakukan pertemuan.

Harumi sudah berada di ruangan menunggu kedatangan Ichiro dan Hiyorin.

"Kalian berdua masuk duluan, lalukan pembicaraan seperti biasa, kami akan mengatur sisanya." Jelas Ryou.

Ichiro dan Hiyorin mengangguk lalu memasuki ruangan. Di tengah ruangan sudah ada Harumi yang menunggu sambil duduk manis. "Akhirnya kalian datang juga."

Ichiro dan Hiyorin langsung duduk di depan Harumi.

"Jadi, bagaimana ? Kalian pasti mau 'kan."

Ichiro langsung menggeleng. "Kami akan menolaknya."

Hiyorin ikut mengangguk. "Karena kau sudah tidak punya kekuasaan untuk mengadopsi kami."

Harumi terkekeh. "Heh ? kenapa bisa ? Kalian mengadopsi orangtua baru ? Hahaha, jangan membuatku tertawa bocah."

Tiba-tiba pintu terbuka, menunjukkan sepasang suami istri yang menggunakan kimono khas grup Sakakibara. Mata Harumi membulat sempurna. "B... bagaimana bisa ? kukira kalian sudah mati !"

Hikari memasang senyum lembut. "Lama tidak berjumpa, Harumi-san."

Harumi bergidik ngeri. "Sialan ! Kalian berdua pasti palsu ! Pasti dua bocah sialan ini yang menyewa kalian 'kan !?"

Ryou terkekeh membuat Harumi tambah ngeri. "Apa kami terlihat seperti itu ? Apa ini kurang nyata untuk kau lihat ?"

Harumi menggeleng. "Argh ! Aku pergi darisini ! Lihat saja nanti kalian 1 keluarga akan menerima kutukan !"

Beberapa pelayan langsung menghalangi jalan Harumi. Ichigo langsung menepuk pelan pundak Harumi. "Sebelum anda pergi, kami punya permintaan."

Hiyorin langsung muncul di sampingnya sambil menunjukkan kertas yang berisi tagihan rumah sakit. "Kami akan sangat berterima kasih sekali jika kau mau membayar ini semua."

Harumi berdecih dan ngoceh sendiri. Setelah mengoceha tidak jelas, Harumi langsung pergi meninggalkan ruangan secepatnya.

Langsung saja Ichiro tertawa. "Haha ! Coba kalian lihat wajah terkejutnya ! Seperti orang yang baru saja tertangkap basah sedang melakukan sesuatu yang tidak berfaedah !"

Hikari dan Ryou ikut tertawa. "Tentu saja kami lihat, betapa pucat wajahnya tadi."

Tidak lupa Hiyorin ikut tertawa. "Padahal wajahnya dipoles make up yang sangat tebal, saking tebalnya sampai-sampai make up nya luntur saat dia berkeringat dingin."

"Dengan begini, tidak akan ada penganggu lagi."

Keempatnya tertawa dengan riang saat itu.


Setelah selesai berbicara dengan keluarganya, Hiyorin memutuskan untuk kembali ke kamarnya duluan. Di perjalanan munuju kamarnya, Hiyorin menemukan seorang pelayan yang seperti sedang menunggu seseorang.

"Apa yang anda lakukan disini ?" Tanya Hiyorin sopan kepada sang pelayan.

Pelayan tersebut menatap Hiyorin dengan tatapan lembut. "Saya menunggu anda daritadi. Anda sedang ditunggu oleh tamu penting sekarang."

Hiyorin menatapnya heran. "Tamu ? malam begini Aku kedatangan tamu ?"

Sang pelayan mengangguk. "Biar saya antar sekalian mengawal anda."

Sang pelayan berjalan duluan, disusul oleh Hiyorin dari belakang. Keheningan menemani perjalanan mereka. Akhirnya, Hiyorin tiba di landasan helikopter keluarganya.

"Apa mereka sudah pulang ?" Tanya Hiyorin, celingak celinguk mencari sang tamu yang sedang menunggunya.

Tiba-tiba lampu sorot dinyalakan dan muncullah HEAVENS.

HEAVENS mulai bernyanyi sambil mengajak Hiyorin menari dalam lagu mereka. Tidak lama, QUARTET NIGHT juga muncul dan ikut bernyanyi.

"Eh..."

TRIANGLE menyusul dan diakhiri oleh kemunculan STARISH. Semuanya bernyanyi, dan lagu itu khusus ditujukan untuk Hiyorin.

Semuanya menyelesaikan nyanyian mereka, membuat Hiyorin terdiam.

"Minna..." Ucapnya lirih.

Aika dan Momoka langsung berlari menuju temannya yang hampir tumbang, memeluknya dengan erat.

"Yorin, kami minta maaf !" Seru Aika memeluk temannya dengan erat.

Momoka juga memeluknya, tidak kalah erat dengan Aika. "Seandainya kami lebih peduli denganmu, ini semua takkan terjadi."

Hiyorin memeluk kembali kedua teman-temannya sambil menaha tangisnya.

"Ah... kalian ini terlalu baik..." Ucap Hiyorin sambil menundukkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan tudung hoodienya.

Aika dan Momoka tertawa kecil melihat sifat temannya yang bisa dikatakan sedikit pemalu.

"Sebagai rasa terimakasihku, besok kutraktir deh." Ucap Hiyorin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya memerah samar.

Yang lainnya langsung bersorak-sorai karena senang di traktir dan sisanya tertawa kecil.

Tanpa ada yang menyadari, Hiyorin tidak bisa menahan senyumannya saking senangnya. "Arigato... minna..."


Telat banget ya ? nggak jelas ya ? sudahlah, kujuga lelah dengan ini ʕノ•ᴥ•ʔノ ︵ ┻━┻. Biarkan Aku liburan dengan tenang (╯°□°)╯︵ ┻━┻

Mumpung kemaren si Masa ultah, saia ucapin deh. B-Day Masa