Bukti?
Kim Taehyung punya seribu bukti bahwa perasaannya sekarang sedang terbang dimana awal awal dirinya dan Jina menikah.
Wanita cantiknya itu, yang dulu menjadi wanita satu satunya yang paling Ia harapkan untuk Ia lihat saat dia membuka mata pagi hari dan wanita terakhir yang ingin Ia lihat di saat malam untuk terlelap.
Beruntungnya Taehyung memiliki Jina, bagi Taehyung Jina adalah bentuk terindah dari baiknya Tuhan kepada Taehyung. Wanita terhebat bagi Taehyung. Wanita yang masih Ia cintai sampai sekarang.
"Memang mau jalan kemana? "Jungkook menarik Taehyung mendekat untuk membantu lelaki itu memakai dasinya.
"Minggu nanti Jina ulang tahun jadi aku akan membuat kejutan kecil sehabis jalan-jalan dengannya, dengan makan malam direstoran yang akan aku sewa.. Tolong reservasikan dan tolong bawa enchim ke restoran aku ingin kita jalan-jalan malam bersama setelah makan.. Kamu bisa melakukannya kan?" Jungkook terdiam fokusnya teralihkan bisa dilihat betapa bahagia senyum yang Taehyung berikan saat bercerita apa saja yang ingin Ia lakukan dengan istri pertamanya itu.
"Hanya itu? "Tanyanya, jujur hatinya tersayat. Bahkan pergerakan tangannya sempat terhenti.
Tapi apa mungkin Jungkook harus selalu egois? Tidak. Sejujurnya Ia bukan orang yang seperti itu.
"Ya, bisa kan? "Ulang Taehyung meyakinkan.
Jungkook mengangguk perlahan, setelah dasi terpasang rapi Jungkook memundurkan langkahnya masih menatap Taehyung yang malah makin tersenyum bahagia.
"Aku mencintaimu, Kook"Dia mengelus kepala Jungkook halus lalu berjalan menuju ruang makan untuk bertemu keluarganya yang lain.
Jungkook terdiam dadanya luar biasa sesak. Menatap Pintu kamar yang sesaat lalu dilalui suaminya.
Tersenyum kecil, kembali menghela nafas lalu berjalan mengikuti kepala rumah tangganya.
-KJ-
Jungkook tidak tahu akan sesakit ini, oke mungkin memang dia pikir akan sakit namun hanya sewajarnya tidak sampai sesak dan berakhir berjalan keluar restoran lewat pintu samping setelah melihat mereka bertiga tertawa setelah pulang dari toilet sebentar.
Melihat tawa ketiga membuat Jungkook memundurkan perlahan langkahnya lalu berbalik menuju pintu samping restoran. Dia sangat merasa terpuruk bagaimana mereka tersenyum satu sama lain menyadarkan Jungkook bahwa dirinya...
Hanyalah sebuah kesalahan yang hadir didalam keluarga yang seharusnya menjadi bahagia dan harmonis.
Jungkook berjalan menyusuri sungai yang saat itu ramai pengunjung,
Ini hari minggu, pantas saja.
Jungkook menghapus Ari mata yang jatuh tanpa mau dicegah hati sakit. Demi apapun.
Berjalan tanpa arah, lalu matanya menatap anak anak yang sedang berjalan beriringan mengandeng ayahnya. Membuat Jungkook menolehkan matanya kearah perut buncitnya.
"Dengarkan Mommy, eumm--
Jungkook menghela nafas lagi, entah penulis tidak tahu dia sudah mengehela nafas sebanyak apa.
--Kamu bungsu, bungsunya mommy anak satu-satunya setelah jimin hyung, mommy mohon ada atau tidaknya daddy nanti dikehidupan kita, kamu akan jadi anak yang mampu bertahan dengan segala macam kehidupan diduniaa, mampu membuat mommy bangga dan selalu menyayangi daddy.. Mommy ingin bungsu tidak membenci daddy, ketahui sayang, kalaupun kamu ingin membenci.. bencilah mommy setidaknya semua terjadi karena pikirkan sempit mommy... "
Dirinya terus mengusap pelan perutnya yang membesar.
Melihat sekeliling lalu memantapkan hati.
Haruskah?
Seberapa kuat kamu menolak dan mengingkarinya, hati akan selalu pulang kepada pemiliknya.
"Ayo kita pulang kerumah mommy, sepi tapi mungkin kita bisa bangun kebahagian disana... "Kakinya perlahan berjalan mencari halte bis.
Sesampainya dirumah Jungkook duduk diam disofa ruang tamu.
"Adek, beri mommy kekuatan yah? Mommy tidak salah ambil tindakkan lagi kan? Kamu dukung mommy kan? "Lalu dua tendangan sebagai balasannya. Membuat Jungkook tersenyum kecil sembari memegang amplop coklat yang berisi surat-surat perceraian.
Namun senyumnya memiliki luka.
-JK-
Taehyung kalang kabut, pagi-pagi sekali Jimin menangis meraung membuat dia juga bibi jung kepayahan. Karena mencari mommy yang biasa memandikan serta membuat dirinya tampan.
Jarinya terus menekan nomor lalu mendekatkan ketelinga begitu berulang-ulang tetapi nomor yang Ia tuju bahkan tidak aktif.
Sedangkan Bibi Jung sibuk mengendong Jimin yang makin histeris mencari Mommy nya.
"Nona bahkan tidak pulang semalam, tuan.. "Ucap bibi Jung saat melihat wajah frustasi tuannya. Taehyung membelalak
"Tidak pulang bagaimana? "
Memang semalam sehabis jalan-jalan bersama dan meletakkan Jimin di kasurnya dia bersama membantu Jina untuk menaiki kasur namun karena lelah dia juga ikut tidur dikasur dan tidak mengecek Jungkook sama sekali.
"Sebelum dan sesudah tuan dan Jimin pulang tidak ada yang pulang, saya bahkan menunggu hingga larut, tapi nona memang tidak pulang.. "
"Mmy, chim mau mmy.. "isak Jimin keras.
"Tenang sayang, daddy akan cari mommy tapi chim diam dulu oke?"Katanya meraih anaknya lalu memeluknya erat
Tidak bisa bohong, tapi ada sebuah ketakutan yang Taehyung rasakan didalam hati.
Bagaimana jika Jungkook kenapa-napa?
Tidak, ini lebih parah.
Bagaimana jika Jungkook memang benar meninggalkannya. Sikapnya akhir-akhir ini memang terbilang aneh dan manja. Taehyung mungkin agak risih, tapi tidak untuk ditinggal dengan keadaaan hamil tua. Tidak.
Hatinya kemudian gusar.
Memberikan Jimin ke bibi Jung mengecupnya halus.
"Enchim disini jangan menangis, daddy akan bawa pulang mommy.. "katanya. Lalu memberikan isyarat menenangkan kearah bibi Jung yang dibalas anggukan kecil.
"Hati-hati tuan.. "sebagaimana pun terlihat kuat, bibi jung tahu tatapan resah lelaki itu. Hei dia pernah muda, jangan lupa.
Dan kita bisa melihat wajah tanpa ekspersi Jina tak jauh dari pintu kamarnya.
-KJ-
"Ibu.. Beritahu aku dimana rumah Jungkook... "Taehyung memang payah, dia baru saja mengakuinya. Duduk dihadapan sang Ibu sambil memijat keningnya pusing.
Hell memang, tapi dia benar-benar tidak tahu harus bertanya pada siapa selain ibunya yang bahkan sekarang menatap sangsi dirinya yang benar-benar brengsek itu sambil mengenggam amplop coklat yang lumayan besar yang Taehyung juga tidak tahu isinya apa.
"Aku sudah memberimu kesempatan, dan kurasa aku sudah tidak dapat membantu... "Katanyaa, lalu melempar map coklat kearah Taehyung dan menghela nafas.
"Ini kau tanda tangani dan semuanya selesai.. "katanya lagi Taehyung yang bingung dengan gegabah membuka amplop tersebut.
Matanya membulat, membelalak kaget makin gusar.
Terdapat sebuah surat cerai yang bertuliskan Jeon Jungkook sebagai penuntut.
"Dia meminta aku mengantarnya kepadamu.. "Katanya lalu sedikit tersenyum miring. "Tapi bahkan kau menghampiriku lebih dulu.. "lanjutnya.
Taehyung menggeleng tidak terima tatapannya mengeras.
"Aku mau tahu dimana dia sekarang.. "Taehyung melayangkan tatapan nyalangnya.
Dirinya sudah tidak kuat.
"Mengapa mesti mencarinya sekarang? Kemarin malam saat dia tidak pulang apa bahkan kau mengingatnya? "
Telak.
Taehyung mengusap wajahnya mengambil nafas dalam, kepalanya mesti dingin untuk menghadapi sang Ibu yang keras kepala seperti dirinya itu.
"Buu.. Jungkook hamil tua, harus ada yang menjaganya... "
Taehyung mencoba untuk membuat Ibunya membuka mulut tapi yang didapat hanya senyuman remeh. Lagi.
"Apa aku harus peduii? Dia pergi karena dirimu... Keteledoran suami serakahnya, jadi biarkan dia memikirkan dan membahagiakan hidupnya tanpa suami tidak becus seperti mu!! "
"Ibu... "
"Aku terlalu sibuk Tae untuk mengurusi hidupmu.. "Sang Ibu berdiri lalu menghela nafasnya menatap kasihan kepada sang anak.
"Aku tidak tahu bahwa membawa dirinya kedalam hidup mu, mampu membuat Jungkook begitu tersiksa. Jadi biarkan aku menghentikan dan membalas semua kesakitan yang Ia alami darimu, Aku membiarkannya pergi bukan karena ingin tetapi karena merasa kasihan pada wanita yang bahkan mencintai dan mempunyai anak dari suami orang lain... "
Setelahnya sang ibu berjalan memasuki kamarnya membuat Taehyung mengeram dan menyenderkan tubuh ke sandaran sofa.
Kenapa jadi rumit, eoh?
Kepalanya pening, Taehyung menghentikan mobilnya dipinggir jalan. Mendesah berkali -kali teringat raut wajah Jungkook akhir-akhir ini membuat dirinya dirundung rasa bersalah yang amat besar.
Jika menangis tidak memalukan mungkin dia akan meraung asal Jungkook kembali kepelukkannya.
Tapi, Apa itu yang benar-benar dia inginkan?
Rasa Cinta? Hatinya mencintai Jungkook? Benar-benar dalam arti benar benar mencintai Jungkook bagaimanapun keadaannya? Suka maupun Duka, Ceria maupun sedih?
Atau,
Dia membutuhkan wanita itu karena memang tidak ada yang bisa memuaskan birahinya? Atau karena tidak ada yang mengatur urusan rumah tangga, menjaga Jimin ataupun mengurus Jimin...??
Hatinya dilema berat, membuka ponsel berniat menelpon rekan kerjanya untuk mengabari sepertinya dia tidak akan masuk kerja.
Tapi yang menyapa saat membuka tombol kunci ialah foto Jina dan Jimin yang tersenyum bahagia semalam.
Hatinya semakin gundah gulana.
Lalu matanya menatap jok disebelahnya, menatap amplop coklat surat perceraian.
"Aku tak apa, Taehyung.. Aku dan Bungsu terlalu kuat untuk ini.. Jadi biarkan kamu bahagia ya? "
Tanpa disadari Taehyung berimajinasi tentang Jungkook yang makin membuatnya geram akan hidup nya sendiri.
Membanting ponsel yang Ia pegang lalu memukul stir bringas.
-TBC-
Jadi ada yang bisa bantu Taehyung menemukan Cinta sejatinya?
Mungkin karena kelamaan ga up, pada lupa cerita ini lalu pada ilang feeling gtu yaaah. Jadi peminat dan penunggu jadi dikit.
Ya tidak apa apa juga sih, kan aku cman penulis abal abal. wgwggw.
Aku sudah sembuh masa abis liat mereka menang daesang.
Buat yang lagi sakit cepat sembuh yang sehat jangan sampe sakit.
Makan diatur, istrihata juga. Jangan lupa sering* liat yang seger* membantu sekali soalnya itu.
Akhir kata jangan lupa review.
Bhay,
Love
CandnimYoonginya akoh.
