Summary : Aku mempunyai teman chatting, sebelumnya tidak ada pembicaraan yang menarik diantara kami tapi…suatu ketika…dia mengirimkanku virus dan sejak saat itu hubungan kami semakin akrab.

.

.

.

Author: Juzie chan

Disclaimer : Juzie…ahahahaha *ditendang ama Om Kubo* Ampun…ini...Author cuma minjam tokoh om Kubo ya….^^

Pairing : IchiRuki, slight IchiHime (oh my gosh!) emmmm…ntar diliat mw pairing apa lagi ya

Warning! : banyak Typo, AU, OOC, EYD tidak sesuai, Gaje, Jayus, Abal, penuh kenistaan, membosankan, ceritanya kuno banget, hina, menjijikkan, menjemukan, membuat mual, bete, bibir pecah-pecah dan susah buang air besar dan segala kekurangan-kekurangan yang lainnya.

.

.

.

CH 14

.

.

.

"…kau Ichigo?" tanya Rukia ragu.

"Iya, siapa lagi?" timpal Ichigo, "kau ada di mana sekarang?"

Beberapa saat Rukia masih melongo, rasanya ia belum percaya bahwa pria yang kini tengah berbicara dengannya via telefon adalah teman chatt-nya sendiri mesti sudah beberapa bulan ini mereka sudah tidak berkomunikasi lagi. Bagaimana bisa Ichigo menelefonnya? Bukannya Rukia tidak pernah memberitahu Ichigo nomor ponselnya.

"Darimana kau tahu nomorku?" bukannya menjawab pertanyaan Ichigo, Rukia malah melemparkan pertanyaan.

"Itu tidak penting Rukia…" sahut Ichigo, "kita ketemu dulu, nanti aku beritahu…sekarang dimana posisimu?"

"Aku…" gumam Rukia sembari melihat-lihat sekitarannya, "aku sekarang duduk di halte depan kampus Gotei…kamu tahu tidak?"

Kampus Gotei, hm…itu adalah universitas tempat Ishida menempuh pendidikan dan merupakan universitas terelit di Karakura, tentu semua penduduk Karakura tahu kecuali anak-anak yang belum mengerti jalanan.

"Oh…di sana, oke aku tahu itu. Kamu duduk saja terus di sana, jangan kemana-mana! Aku akan segera ke sana…" lalu Ichigo memutuskan panggilannya.

Daripada tidak jelas mau menghubungi siapa untuk pergi menghabiskan waktu hingga siang hari, Rukia pun menunggu Ichigo. Dengan sabarnya gadis itu menunggu sambil tetap duduk manis di halte.

Kurang lebih lima belas menit kemudian mobil hummer yang terlihat sangar nan maco nampak dan berhenti di samping halte tempat Rukia menunggu. Rukia menoleh dan melihat-lihat mobil itu, alisnya sampai mengerut memperhatikan mobil itu. Dengan gagahnya turunlah sosok pria berambut orange mencolok, berkemeja hitam yang tidak lain adalah Ichigo.

"Ichigo?" sambil berdiri Rukia memperhatikan Ichigo yang kini melangkah menghampirinya.

"Hai, Rukia…" sapa ichigo ketika berada di hadapan Rukia. Pandangan Ichigo lalu beralih ke arah kampus Gotei. "Kau…kuliah, Rukia?" tanyanya.

"Iya…" sahut Rukia sambil kembali duduk dan Ichigo mengambil duduk di samping Rukia. Beberapa saat mereka berdua hanya diam sebelum Rukia teringat akan pertanyaannya di telefon tadi. "Darimana kau tahu nomorku, Ichigo?"

"Itu…aku tahu dari Rangiku."

"Terus, kenapa kau ke sini? Kau tidak kerja apa?"

"Kerja…" sahut Ichigo, "tapi kebetulan saat ini pekerjaan sedang tidak banyak."

Rukia lalu melirik sinis Ichigo. "Lalu…kenapa kau malah mendatangiku? Bukannya kau sudah punya pacar, kenapa kau tidak datangi pacarmu saja?"

Ichigo menoleh untuk menatap Rukia. Dari nada suara Rukia, gadis itu seperti tidak senang akan kehadiran Ichigo. Aneh, hampir lima bulan tidak bertemu dan sikap Rukia semakin judes saja.

"Karena aku ingin bertemu denganmu…" jawab Ichigo dengan jujurnya, "apa tidak boleh?" tanyanya balik.

Ini orang maksudnya apa sih? Batin Rukia jutek.

"Bukan boleh atau tidak boleh Ichigo…kau kan sudah punya pacar, bagaimana nanti kalau pacarmu yang cantik itu cemburu dan salah paham nanti?" suara Rukia bernada menyindir.

"Dia tahu koq kalau kita berteman," kata ichigo, "Inoue gadis yang sangat baik, dia tidak akan salah paham hanya karena aku bertemu denganmu…"

Kesal sekali Rukia mendengar Ichigo malah memuji-muji sepupu Rangiku itu. Bukan hanya itu tapi sikap Ichigo yang seperti seenaknya saja mau bertemu dengan Rukia tanpa mengerti perasaan Rukia.

"Rukia…ayo kita jalan!" ajak Ichigo sembari menarik tangan Rukia.

"Jalan kemana?" tanya Rukia bingung.

"Hari ini panas…ayo kita makan ice cream!"

.

.

.

Ichigo dan Rukia kini berada di garden café. Seperti namanya, café berkonsep taman dan sangat ramai saat musim panas karena café itu menyediakan menu ice cream dengan banyak varian. Banyak anak remaja sekolahan terutama para gadis yang mengunjungi café itu apalagi saat liburan musim panas.

Ichigo sampai tercengang memperhatikan Rukia yang dengan semangatnya melahap ice cream-nya. Sudah dua gelas gadis itu menghabiskannya sementara segelas pun belum Ichigo habiskan. Apa gadis itu sedang kelaparan atau bagaimana?

"Rukia…apa kau memang kelaparan?" tanya Ichigo, masih memperhatikan Rukia yang melahap habis ice cream-nya.

Sembari menjilati sisa es krin di sendoknya, Rukia menengadah menatap Ichigo. "Tidak, aku tidak lapar koq," sahutnya polos, "aku sudah sarapan sebelum ke kampus." Gadis itu lalu tersenyum manis, "hehehehe…aku pesan lagi ya, Ichigo."

Ichigo hanya mengangguk dengan mulut menganga sebagai jawaban. Rukia lalu memanggil pelayan yang seorang gadis berseragam mermaid berenda, ia memesan lagi ice cream tapi kali ini dengan rasa yang lain, entah sepertinya gadis itu ingin mencoba semua rasa ice cream di café itu.

Sebenarnya memang benar bukan karena lapar hingga Rukia sanggup melahap dengan buasnya ice cream itu tapi lebih tepatnya karena stres. Stres karena harus kuliah, stres karena baru hari pertama kuliah ia sudah diusir oleh dosen dan juga…stres karena sakit hati dan sepertinya dengan makan ice cream manis bisa membantu mengurangi stres yang sudah menumpuk di kepalanya.

Tidak lama kemudian pelayan membawakan pesanan ice cream Rukia lagi, kali ini dengan rasa vanilla green tea dengan taburan coklat caramel. Rukia kembali melahapnya.

Tiba-tiba Ichigo menyunjingkan senyumnya. Rukia sangat suka ternyata dengan ice cream di café itu, hm…ini bisa menjadi alasan Ichigo agar ia bisa lebih sering bertemu dengan Rukia.

"Rukia…" panggilnya, "kalau kau suka…aku bisa mengajakmu ke sini tiap hari…" ujar Ichigo.

"Kau serius Ichigo?" masih sambil melahap ice cream-nya, "asal kau yang traktir ya."

Ichigo terkekeh. "Itu gampang Rukia…"

Rukia lalu mengerling ke arah Ichigo. "Benar, serius?" tanyanya sambil menatap serius Ichigo, "bagaimana nanti kalau Inoue marah?"

Lagi-lagi Rukia menyinggung soal Inoue dan sepertinya Ichigo tidak begitu suka.

"Sudah kubilang Inoue tidak akan marah!" sahut Ichigo yakin. "lagipula…kau ini teman sepupunya jadi dia tidak akan berpikir buruk."

"Malah karena aku teman sepupunya bisa-bisa Rangiku yang marah denganku…" timpal Rukia bergumam, "atau pacarmu itu bisa marah pada Rangiku…"

"Inoue bukan tipe perempuan yang suka marah-marah, Rukia…"

Huh… Apa dia sudah kenal sedekat itu sampai tahu kalau Inoue tidak akan marah? Ketus Rukia dalam hati.

"Aku mau pulang, Ichigo…" ujar Rukia. Sekarang memang sudah siang dan waktunya untuk makan siang.

"Kenapa kita tidak sekalian makan siang di sini, Rukia?"

Rukia diam sebentar. "…aku mau makan di rumah saja…"

Mereka berdua pun beranjak dari café dan Ichigo mengantar Rukia pulang ke Mansion Kuchiki. Walaupun Rukia tidak begitu tahu persis arah pulang tapi ternyata Ichigo cukup tahu kawasan daerah tempat Mansion Kuchiki berada walaupun sebenarnya Ichigo belum pernah melihat Mansion keluarga Kuchiki.

Saat berada di depan gerbang Mansion Kuchiki, Ichigo tercengang melihat kediaman milik keluarga bangsawan itu begitu luas, mungkin seluas lapangan golf karena sepanjang mobil Ichigo berjalan yang hanya terlewati hanya pagar yang membatasi taman Mansion itu. Ichigo benar-benar tidak menyangka bahwa Rukia berasal dari keluarga kaya raya.

"Rukia…ini rumahmu?" tanya Ichigo setelah parkir di depan gerbang Mansion Kuchiki.

"Itu rumah iparku…"

Ichigo lalu memicingkan mata ke arah Rukia. "Kau ini benar-benar pembohong…" kata Ichigo, "kau selalu bilang kalau kau tidak mempunyai keluarga…"

"Dulu memang aku tidak punya keluarga tapi sekarang sudah punya…" Rukia berkata asal.

"Apa maksudmu...?"

"Oh ya, Ichigo…" ujar Rukia, "yang kau bilang tadi mau mengajakku setiap hari makan ice cream…" Rukia melah mengganti topik seenaknya, "jangan lagi mengajakku!"

Ichigo menatap heran Rukia. "Kenapa? Bukannya kau suka…"

"Karena aku tidak mau!"

Ichigo menatap serius Rukia. Dari sejak bertemu di depan kampus hingga sekarang sikap gadis mungil itu tetap saja ketus, seakan-akan gadis itu sedang marah. Tapi, Ichigo merasa tidak ada yang salah pada , apa selama hampir lima bulan ini Rukia yang dulunya ceria dan jenaka berubah menjadi judes atau apa?

"Rukia…apa kau sedang datang bulan?"

Rukia malah risih dengan pertanyaan ichigo. "Kenapa kau malah bertanya tidak sopan begitu?"

"Kau…dari tadi marah-marah terus, Rukia," kata Ichigo, "aku jadi rindu Rukia yang dulu…"

Ini orang tidak tahu diri… Umpat Rukia dalam hati.

"Aku masih sama saja Ichigo, cuma…"

"Apa?"

"Tidak ada apa-apa," tepis Rukia cepat, "aku turun dulu ya!"

Ichigo cepat memegang lengan mungil Rukia, menahannya ketika gadis itu hendak membuka pintu mobil.

"Apa lagi?" Rukia menoleh dengan kesal ke arah Ichigo.

Ichigo lalu mengambil sesuatu yang berukuran besar di kursi belakang. Yup! Boneka Chappy raksasa berwarna putih. Sebenarnya Rukia memang sudah melihatnya dari tadi sesuatu yang berwarna putih dan berbulu di kursi belakang tapi ia tidak tahu kalau barang besar putih berbulu itu adalah boneka Chappy.

"Chappy!" seru Rukia girang ketika Ichigo menyerahkan boneka itu, "ini untukku?"

"Untuk siapa lagi?"

Karena senangnya Rukia tanpa sadar memeluk Ichigo dan kini betapa merahnya muka Ichigo sekarang. "Terima kasih ya, Ichigo!" Rukia berseru dengan riang gembira sebelum membuka pintu mobil dan turun, berlari memasuki Mansion.

"Ya sudahlah…" gumam Ichigo yang masih tersipu-sipu, "yang penting dia senang…"

.

.

.

"Hihihihi…."

Langkah sang kepala keluarga Kuchiki terhenti karena suara kikikan samar-samar seorang gadis di lorong Mansion Kuchiki yang kini ia lalui. Siapa lagi jika bukan suara satu-satunya gadis yang kini termasuk penghuni Mansion itu, adik ipar sekaligus adik angkat sang kepala keluarga, Rukia. Sekian detik kemudian suara itu tidak terdengar lagi, Byakuya kembali melangkah tapi baru saja selangkah kakinya bergerak kembali terdengar suara kikikan yang lebih nyaring.

"Hihihihihi…"

Kembali Byakuya menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat. Awalnya pria itu mencoba untuk tidak memperdulikan suara kikikan dari adik iparnya itu namun semakin lama suara kikikan itu semakin nyaring. Byakuya berbalik dan melangkah mendekati pintu kamar sang gadis, ternyata pria itu penasaran akan barang apa yang membuat Rukia sampai cekikikan sedemikian.

Diam-diam Byakuya mengintip ke celah pintu yang tidak tertutup rapat, sebenarnya pengintip kamar gadis bukanlah kebiasaan pria dewasa itu namun karena entah sejak kapan ia menjadi penasaran dengan adik iparnya. Mungkin juga karena pria itu tidak begitu dekat dengan iparnya sehingga ia menjadi penasaran akan gadis itu apalagi gadis itu begitu mirip dengan almarhum istri yang sangat ia rindukan.

Di ruangan yang gelap nampak sosok sang gadis dalam balutan dress hitam berbahan kaos, sedang duduk bersila di kursi dan menghadap ke arah laptop mungilnya. Memang ruangan di sana gelap namun dengan cahaya yang memancar dari layar laptop, wajah gadis itu masih jelas terlihat.

"Hihihihihi…" gadis itu terkikik geli memandang ke arah layar tidak lama kemudian jari-jari gadis itu bergerak di atas keyboard.

Byakuya terus mengamati Rukia dari jauh. Sebenarnya ia ingin sekali menghampiri adik iparnya itu dan melihat apa yang membuat gadis itu terlihat sangat ceria.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Rukia terkikik seperti itu. ternyata…ia sedang ber-online ria, membaca status salah satu temannya bernama Yumichika, demikian isi status dan beberapa komentarnya.

Pretty Yumi mimpi kbanjirn undangan nikah…qt kapan Bunny? Colek Madareme Ikka cayank c3lalu

Komentar :

Hisagi cakepz_khan telpon bunny donk!

Momo cay4nk m4ma pap4 asik asik, 4da yan9 mo n1kah

Prince Shiro wokwowkowkwokwowkowkwwok, ditunggu undangannya!

Matsumoto_Rang wkwkwkwk kasian amat ikkakku punya bunny org gila

Chappy imouet bunny, cepat lamar Yumi donk! Dia sudah tdk sabar lagi!

Madareme Ikka cayank c3lalu aduh yank…jangan diumbar-umbar donk, aku malu nih…

Pretty Yumichika Hisagi cakepz_khan udah donkzzz, Momo cay4nk m4ma pap4 tunggu tanggal mainnya!, Prince Shiro sabar ya honey, Matsumoto_Rang justru aku gila krn tdk nikah2 sama dia!, Chappy imouet huhuhuhu…aku trharu baca komentar kamyu… Madarame Ikka cayank c3lalu makanya cepetan donk!

.

Beberapa menit kemudian Byakuya beranjak dari sana, ia berjalan menuju ke ruang pribadinya. Di sana ia merenung, wajah adik iparnya sangat persis wajah almarhum istrinya walaupun Rukia telah memotong pendek rambutnya yang dulu persis model rambut Hisana namun tetap saja wajah itu tidak berubah. Hanya saja, Rukia gadis yang sangat sehat dan masih kekanakkan karena usinya memang masih terlalu muda. Pikiran Byakuya benar-benar kacau, entahlah mungkin ini karena ia sangat merindukan Hisana tapi ia sempat memikirkan bagaimana jika Rukia menggantikan Hisana. Apa kira-kira gadis itu menyetujui?

Cepat-cepat pikiran tersebut ditepisnya, rasanya itu tidak mungkin. hubungan Byakuya dan Rukia tidak begitu baik, apalagi Rukia selalu bersikap seolah-seolah ia tidak menyukai iparnya.

.

.

.

Bermalas-malasan, bermain game, dan beronline ria sambil tiduran di ranjang, inilah yang dilakukan Rukia jika tidak sedang kuliah. Mau bagaimana lagi karena di kediaman Kuchiki ada banyak pelayan sehingga tidak ada pekerjaan pun yang bisa dilakukan oleh gadis mungil itu. Sebenarnya ia bisa saja keluar berjalan-jalan ke taman bermain ataupun ke tempat wisata, namun jika tidak ada teman yang menemani sama saja. Akibatnya, tinggal di kamar sambil bermalas-malas pun sudah menjadi rutinitas rutin.

Tok tok tok…

"Masuk!" seru Rukia masih sambil memainkan tablet di genggamannya.

Pintupun terbuka dan nampak seorang pelayan perempuan yang masih berusia belia.

"Permisi, Rukia-sama…saya hanya ingin memberitahu bahwa ada teman Rukia-sama yang datang mencari Rukia-sama…" kata pelayan itu sambil membungkuk.

Jari telunjuk kiri Rukia yang tadinya sibuk menyentuh layar tablet langsung berhenti, iapun menoleh memandang pelayan yang berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Teman?" tanya Rukia, "siapa?" rasanya aneh juga jika ada teman yang datang langsung di Mansion mencarinya, Rangiku pun yang adalah salah satu teman dekat Rukia pun pasti menghubungi Rukia terlebih dahulu jika ingin mengunjungi Rukia.

"Dia tidak ingin memberi tahu namanya, katanya…dia teman lama Rukia-sama…" sahut si pelayan.

"Baiklah, aku segera ke bawah," kata Rukia di sambut oleh bungkukan si pelayan sebelum pelayan itu keluar.

Setelah membereskan tabletnya, Rukia pun beranjak dari kamarnya, berjalan menyelusuri lorong lalu menuruni tangga. Sambil setengah loncat gadis itu berjalan menuju teras depan dan…nampaklah sosok pria bertubuh tinggi dan kekar memunggunginya dari kejauhan, berambut merah panjang dikuncir. Rukia kenal betul siapa pria itu walaupun postur tubuh pria itu banyak berubah dari sebelum mereka berpisah, tapi model rambut itu tidak pernah berubah, Abarai Renji, salah satu sahabat Rukia yang membawa Rukia pergi meninggalkan keluarga Kuchiki.

"Renji!" Rukia berseru girang.

Renji tersentak oleh seruan Rukia lalu ia berbalik. "Rukia!" pekiknya.

Lalu mereka berlari saling mendatangi ala-ala pertemuan 'Galih dan Ratna' yang sangat syahdu lalu berpegangan tangan sambil bertralala-trilili, riang gembira. Sudah lama sekali kedua sahabat itu tidak bertemu sebelum Renji harus merantau meninggalkan Seireite karena ia telah diterima kerja di salah satu perusahaan IT di Hueco Mundo.

Mereka berdua lalu duduk di taman, bernostalgia, bercerita mengenai pengalaman mereka setelah bertemu. Memang mereka sudah cukup sering bercerita melalui dunia maya namun tetap saja mereka harus mengulangi cerita mereka setelah mereka bertemu kembali.

Rukia bercerita mengenai usaha DVD bajakan yang awalnya ia rintis bersama Renji tapi sayang usaha itu tidak bisa berlanjut lagi karena semua teman-teman mereka memiliki kesibukan masing-masing lagipula Rukia juga sudah kembali bersama keluarganya. Sedangkan Renji bercerita mengenai pekerjaannya yang menghasilkan gaji yang lumayan banyak tapi berada di bawah tekanan sehingga akhirnya ia pun memilih untuk berhenti dan kini menjadi programmer lepas.

"…lalu…apa kau sudah bertemu dengan teman chatt-mu itu?" tanya Renji, "siapa lagi namanya…oh iya, Ichigo!"

"Ya…aku bertemu dengannya di acara ulang tahun sepupunya Rangiku."

"Um…Rukia…" panggil Renji sambil tersenyum aneh, dibilang senyum malu-malu tidak dibilang senyum mesum juga tidak, pokoknya senyuman pria itu membuat perasaan Rukia tidak enak. "Hehehehe…" Renji malah cengengesan, "perkenalkan aku ya dengan Ichigo," pintanya masih sambil cengengesan.

Rukia mengernyit aneh menatap sahabatnya itu. "…Kenapa kau ingin dikenalkan dengannya…?"

"Ya…tidak apa-apa kan kalau aku juga berkenalan dengan temanmu," kata Renji sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan salah tingkah, "selama ini kan aku selalu mengenalkanmu ke teman-temanku…"

Rukia lalu berpikir. Hm…sepertinya tidak mengapa juga jika ia memperkenalkan Renji ke Ichigo, mungkin saja kedua pria itu bisa berteman juga seperti Rukia berteman dengan teman-teman Renji. Tapi, rasanya aneh juga karena selama ini Renji tidak pernah meminta untuk dikenalkan dengan teman Rukia. Well, biar saja, tidak ada salahnya koq!

"Oke," kata Rukia, "aku akan memberi tahu Ichigo, besok aku ada kuliah, jadi kau harus menjemputku jam dua belas, kita akan makan siang bersama Ichigo, ya…itu kalau Ichigo bisa."

"Janji ya, Rukia!" seru Renji senang sambil menggenggam erat kedua tangan Rukia dan menatap sahabatnya itu dengan mata berbinar-binar.

"I-iya…" sahut Rukia sambil menatap aneh sahabatnya itu. Rukia hanya akan memperkenalkan Renji dengan Ichigo tapi kenapa Renji terlihat sangat senang bahkan sekarang ini pria itu sedang loncat-loncat kegirangan.

.

.

.

Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar, memasuki ruang kuliah yang menyerupai ruangan teater dengan dagu terangkat sedikit ke atas. Angkuh, itulah kata yang pantas untuk pria itu karena memang pria itu senantiasa bersikap angkuh karena ia adalah putra salah satu konglomerat terkaya di kota Karakura. Rambut Mohawk berwarna merah muda serta anting dan tindik dan menghiasa telinganya, menjadikan pria itu selalu menjadi pusat perhatian di kalangan kampus.

"IH-WAW!" seru seorang pria berambut kunng dan bertubuh mungil bernama Gremi begitu melihat Bazz B yang sudah duduk di bangku paling belakang di dalam ruangan dengan menopang dagu. "Apa kau akan mengikuti kuliah hari ini? Tumben sekali!"

Bazz B menanggapi seruan Gremi dengan lirikan tajam. memang benar pria bergaya layaknya anak punk itu sangat jarang mengikuti kuliah karena malas tapi kehadiran gadis manis yang ia temui dua hari yang lalu membuat Bazz B harus menjelajahi kampus, apalagi wanita mungil itu kemungkinan besar kuliah di jurusan yang sama dengannya. Mau tidak mau Bazz B mulai mengikuti kuliah sambil mencari-cari keberadaan si manis bertubuh mungil. Mungkinkah ia akan mengikuti kuliah di ruang yang sama.

"Bazz B!" seru se-genk gadis-gadis yang beranggotaan empat orang, mereka adalah teman seangkatan Bazz B jadi wajarlah mereka heboh jika bertemu dengan temannya. "Apa aku tidak salah lihat?! kau mau mengikuti kuliah!" seru gadis seksi berambut panjang hijau kekuningan dan mengenakan hot-pants, bernama Candice, dia adalah ketua dari genk gadis-gadis ribut itu, "gerangan apakah yang membuatmu sadar?"

"Berisik, ah!" sahut Bazz B rada jengkel. Memang dari kemarin suasana hati pria itu sudah tidak baik karena belum kunjung menemukan si manis.

"Yeiy, galak amat sih!" sewot Candice lalu empat sekawan gadis-gadis mengambil kursi di tengah-tengah dan saling berdekatan.

Tidak lama kemudian semua mahasiswa yang akan mengikuti materi kuliah mengenai dasar-dasar bisnis pun berkumpul dan telah duduk tenang di dalam rungan itu. Seorang pria bertubuh tinggi kurus, berambut putih panjang dan berwajah ramah nan bijaksana masuk dalam ruangan itu masuk, bernama Ukitake Jushiro, dia adalah dosen yang akan membawakan materi kuliah.

Semua mahasiswa tenang menyimak penjelasan Ukitake, yang terdengar hanya suara Ukitake yang sedang menerangkan slide-slide power point di layar dan semua mahasiswa menatap kagum akan penjelasan Ukitake. Bisa dibilang Ukitake adalah dosen favorit di sana karena selain ia membawakan mata kuliah basic yang sangat penting ia juga sosok dosen yang bijaksana dan berkharisma, jika ia berbicara sedikit saja maka yang ada dipikiran yang mendengarkannya adalah 'sangat cerdas'.

Tok tok tok…

Suara ketukan pintu yang sukses memotong penjelasan Ukitake. semua mahasiswa menoleh ke arah gadis mungil berambut hitam pendek yang kini berdiri di pintu sambil memasang tampang polosnya, dia tidak lain adalah Rukia!

Si manis yang waktu itu! Akhirnya! seru Bazz B kegirangan tapi dalam hati, rasanya ia ingin loncat-loncat di sana saat ini juga.

Ukitake mengernyit ke arah Rukia yang masih berdiri menunggu apakah ia akan diusir atau dipersilahkan masuk?

"Apa kau mahasiswa yang juga mengikuti kuliah ini?" tanya Ukitake ke arah si mungil, "saya tidak pernah melihatmu sebelumnya…"

Rukia membungkuk sopan. "Benar saya mahasiswa yang juga mengikuti kuliah Ukitake-sensei, nama saya Kuchiki Rukia…saya mahasiswa baru, maafkan karena saya terlambat…"

Ternyata namanya Kuchiki Rukia! Batin Bazz B yang senangnya bukan main karena telah mengetahui nama gadis idamannya.

Bukannya marah Ukitake malah terkesiap. "Kuchiki? Jadi, kau dari keluarga Kuchiki?" tanyanya.

"Benar…" Rukia merasa aneh saja melihat reaksi dosennya yang terkagum ketika mendengar nama 'Kuchiki'. Apa nama itu begitu terkenalnya atau apa?

Ukitake melihat jam tangannya. Memang di ruangan sana ada jam dinding yang berukuran besar tapi waktu di jam tangannya tetap menjadi patokan waktu keterlambatan mahasiswa. Jadi jika dari waktu jam dinding menyatakan bahwa Mahasiswa tidaklah terlambat namun jam tangan Ukitake menyatakan lain maka mahasiswa itupun tetap dinyatakan terlambat.

"Kau beruntung Kuchiki-san…ini belum lima belas menit jadi kau bisa masuk…" Yup, Ukitake memang memberi kebijaksanaan waktu lima belas menit untuk mahasiswa yang telat, lewat dari itu diusir!

Dengan kalemnya Rukia berjalan masuk dan duduk di bangku paling depan. Bazz B yang duduk dibelakang dan juga berada paling atas terus saja menatap ke bawah, ke arah Rukia tanpa berkedip sekalipun. Si manis yang telah susah payah ia cari kemarin padahal kemarin sebenarnya Rukia tidak ada jadwal kuliah, akhirnya ia menemukannya dan kini gadis itu mengikuti kuliah yang sama dengannya. Betapa bahagianya hati Bazz B hingga ia tidak lagi memperhatikan materi yang dibawakan oleh Ukitake padahal materi yang dibawakan Ukitake adalah materi yang sangat penting dan juga menarik.

"Bazz B!" Ukitake menyebut nama Bazz B hingga pria itu tersentak. "Kira-kira…jika kau memulai suatu bisnis…apa yang harus kau lakukan?"

Matilah Bazz B karena ia tidak menyimak dengan baik penjelasan Ukitake mengenai strategi bisnis. Ini semua karena ia terus saja memperhatikan Rukia yang berada di depan dan kini ia ditunjuk oleh Ukitake untuk menjawab pertanyaan.

Bazz B bungkam, tidak tahu mau menjawab apa. Keringat di dahinya mulai mengalir di pelipisnya.

"Bazz B?"

yang ditanya terus saja diam sambil memperlihatkan tampang bodohnya.

Ukitake menghela nafas. "Ya sudah kalau begitu…" katanya memaklumi mahasiswanya itu, "sayang sekali padahal saya sangat mengenal ayahmu, sebaiknya kau banyak belajar mengenai bisnis dengan beliau…sebenarnya beliau lebih ahli dari saya…"

Dan Bazz B pun akhirnya bisa berlega hati. Ukitake kini mencari target lain untuk menjawab pertanyaannya.

"Kuchiki-san!" kali ini Rukia mendapat jatah pertanyaan. "Kuchiki-san!"

Namun yang ditanya tidak menyahut. Ada apa gerangan? ternyata Rukia yang duduk di bangku paling depan dengan wajah tertutupi buku tebal yang lumayan panjang rupanya sedang tertidur pulas. Yah…apa boleh buat memang gadis itu tidak menyukai belajar dari sananya sehingga sebagus apapun dosen yang menerangkan di atas tetap saja gadis itu tidak akan memperhatikan.

"Kuchiki-san!"

Seorang gadis bertubuh besar dan bermata sipit, sangat mirip dengan Yuka Indonesian Idol menyenggol kepala Rukia yang seenaknya tidur menyandar di bahu gadis sipit itu. Hm…mungkin juga gadis itu sebenarnya adalah Yuka, who knows?

Akhirnya, Rukia terbangun dari tidurnya akibat senggolan si sipit yang tidak main-main, buku tebal di depannya juga rubuh.

"Apa? Kenapa?" Rukia celingak-celinguk kebingungan setelah bangun.

"Kau ditanya sama Ukitake-sensei tawu!" bisik si sipit.

"Oh…" Rukia malah ber'oh' ria sehingga si sipit yag mirip Yuka Indonesian Idol menepok jidatnya.

"Kuchiki-san!" Ukitake menegur Rukia lagi.

Cepat-cepat Rukia berdiri dan membungkuk. "Maaf, Sensei…tolong ulangi lagi pertanyaannya!" seru Rukia. Walaupun gadis itu tidak suka belajar dan mengikuti materi kuliah namun gadis itu akan berusaha menjawab pertanyaan sebisanya walaupun ia tidak tahu sama sekali jawabannya.

"Kuchiki-san…aku bertanya, jika kau memulai bisnis, kira-kira apa yang harus kamu lakukan?"

Walaupun secara teori Rukia tidak tahu betul tapi sebenarnya ia bukanlah seorang yang baru saja belajar mengenai bisnis karena sebelumnya gadis itu sudah pernah memiliki usaha walaupun usaha itu ilegal. Bola mata Rukia mengarah ke kiri, menandakan gadis itu sedang mengingat-ingat apa saja yang ia lakukan sewaktu memulai usaha DVD bajakannya.

"Ada tiga hal yang harus dilakukan," sahut Rukia, "pertama…saya harus mengenali diriku sendiri, kedua…saya harus mengenal bagaimana sainganku, ketiga…mengenal pasar…."

"Bisa kau jelaskan maksud ketiga itu, Kuchiki-san?"

Rukia mengangguk. "Pertama saya harus kenal diriku sendiri, apa kelemahanku sehingga saya bisa cepat memperbaikinya, mempelajari apa yang tidak bisa kulakukan. Bagaimana bisa saya mengembangkan skill-ku jika saya sendiri tidak tahu apa kelemahanku?"

"Lalu yang kedua?"

"Saya harus kenal bagaimana sainganku, harus tahu kelemahan dan kelebihannya lalu saya akan menyusun rencana untuk mengalahkan sainganku. Bagaimana saya bisa selangkah lebih maju jika kelemahan saingan saja tidak tahu?"

Ukitake mulai tertarik dengan jawaban gadis mungil itu, walaupun cara emnjawab gadsi itu seperti anak kecil. "Lanjutkan Kuchiki-san!"

"Yang ketiga…sebenarnya yang ketiga itu bisa didapat dari pengalaman, dengan terus mencoba dan mempelajari apa yang terjadi tapi jika yang pertama dan kedua bisa saya terapkan maka saya yakin tidak akan ada resiko yang besar."

"Hm…" Ukitake mengangguk setuju, "mendengar jawaban Kuchiki-san, saya jadi teringat akan strategi panglima perang yang paling tersohor di cina, dia adalah ahli strategi perang dan strateginya banyak diterapkan dalam bisnis, banyak pengusaha besar sukses yang menerapkan strateginya…" Ukitake lalu memandang kagum ke arah Rukia. "Aku selalu mendengar keluarga Kuchiki adalah keluarga yang sangat luar biasa…rupanya kabar itu memang tidak bohong…" pujinya, "tepuk tangan untuk Kuchiki-san!" serunya pada para mahasiswa lainnya dan disambut oleh tepuk tangan yang riuh.

Rukia jadi tersipu-sipu karena pujian dari dosennya. Bagaimana dengan Bazz B? Pemuda itu semakin terpesona saja pada si mungil.

Akhirnya jam kuliah usai sudah. Setelah Ukitake keluar dari ruangan satu persatu mahasiswa mulai berhamburan keluar dari ruangan. Rukia sendiri masih sibuk memasukkan barang-barangnya di dalam tas dan ketika Rukia mulai beranjak dari bangkunya seseorang mencegatnya, menghalangi jalan gadis itu. Siapa lagi kalau bukan, Bazz B!

Rukia terheran-heran melihat laki-laki yang menghalangi jalannya. Ia pun bergeser ke kanan namun laki-laki itu juga bergeser ke kanan, Rukia bergeser ke kiri laki-laki berambut Mohawk itu juga bergeser, benar-benar niat laki-laki itu menghalangi langkah Rukia.

Rukia mengernyit memandang laki-laki Mohawk berwarna merah muda yang kini sedang tersenyum menatap Rukia.

"Kau ingat aku kan?" tanya Bazz B.

Alis Rukia semakin mengernyit saja. Kenapa? karena ia merasa tidak mengenal laki-laki yang menurut Rukia sangat aneh. Bagaimana tidak? Potongan rambut yang terlalu tanggung mengingatkan Rukia akan kepala suku pedalaman yang senang menyerang suku lain dengan panah besar beracunnya, ditambah warnanya merah muda. menurut Rukia, warna merah muda sangat tidak cocok untuk laki-laki, bagi Rukia laki-laki bagusnya memiliki warna rambut yang terang benderang jika bukan hitam, seperti warna rambut Ichigo. Maaf yang ini sedikit OOT!

"Aku tidak pernah melihatmu," sahut Rukia. "Minggir!" pintanya yang lebih tepatnya memerintah.

"Hei, ini aku! Apa kau sudah lupa? Dua hari yang lalu kita bertemu di taman, waktu itu kau menginjak perutku!" Bazz B mencoba menahan Rukia sambil mengingatkan kenangan indah dua hari yang lalu, pertemuan mereka yang begitu syahdu menurut Bazz B. Kali ini Bazz B yakin Rukia pasti mengingatnya.

Rukia mengangkat sebelah alisnya. Rukia merasa tidak pernah melihat Bazz B sebelumnya dan waktu kejadian di taman itu Rukia tidak merasa ia tidak menginjak perut atau apa karena Rukia tidak sadar apa-apa yang sudah ia injak. Well, gadis itu memang malas mengingat hal yang menurutnya sangat-sangat tidak penting.

"Aku tidak pernah melihatmu… sudah ya, bye!" Rukia berjalan melewati Bazz B yang kini terpaku karena tidak diingat sama sekali oleh si manis pujaan hati.

Rukia dengan entengnya berjalan menelusuri lorong di kampus namun tiba-tiba lengannya dipegang oleh pria bertangan kekar. lagi-lagi Bazz B!

"Hei, kita baru bertemu dua hari yang lalu masa kau tidak ingat aku!" Bazz B ngotot mengingatkan Rukia akan pertemuan mereka, "yang tadi kau bohong, kan? kau pasti ingat aku, kan?"

"Ei, kau ini kenapa?!" pekik Rukia.

"Dua hari yang lalu…di taman…waktu itu kau menginjak perutku lalu aku menanyai namamu tapi kau malah berteriak!" Bazz B menjelaskannya sambil mengguncang-guncang tubuh Rukia.

Rukia malah berpikir laki-laki yang kini mencengkramnya adalah orang tak waras. Diliriknya tabung pemadam kebakaran berisi foamyang menempel di dinding, dengan sekali hentakan Rukia melepaskan cengkraman Bazz B lalu cepat-cepat mengambil tabung itu dan menyemprotnya ke wajah Bazz B, melempat tabung itu ke sembarang arah kemudian gadis mungil itu lari sejauh-jauhnya.

"Manisku…!" teriak Bazz B yang penuh lumuran foam dengan syahdunya sambil menatap Rukia yang telah berlari jauh, tanpa sadar pria itu menjadi bulan-bulanan dan tontonan di sana.

.

.

.

"Dimana kau? Cepat jemput aku, di sini ada laki-laki tidak waras mengejarku!" suara Rukia berbisik-bisik di telefon. Gadis itu kini duduk di bangku taman bersama mahasiswa lain sambil menutupi wajahnya dengang tas, takut-takut jika si rambut Mohawk mendapatinya.

"Hahahahaha," yang diajak bicara di telefon oleh Rukia malah tertawa terbahak-bahak, "laki-laki tidak waras?Apa cuma laki-laki seperti itu yang mengejarmu?"

Rukia melirik sinis ke arah ponsel yang menempel di telinganya.

"Awas kau, aku tidak mau memperkenalkanmu dengan Ichigo!" ancam Rukia. Yup, lawan main Rukia sekarang adalah Abarai Renji.

"Ja-jangan begitu donk, Rukia!" bujuk Renji, "aduh…aku belum selesai, ini aku sedang ada kerjaan, sedikit lagi…"

"Bilang ke' dari tadi!" omel Rukia, "oke, kalau begitu aku tunggu di café Espada, sebentar aku hubungi lagi Ichigo, setelah kerjaanmu selesai kau harus langsung ke sana!"

"Oke oke."

.

Rukia sudah duduk manis di café espada, men ikmati jus sirsak kesukaan author sambil menunggu dua orang pria yanga akan ia perkenalkan. Satunya adalah sahabat terdekatnya dan yang satunya lagi adalah teman chatt-nya.

Seorang pria berambut orange yang tak lain adalah teman chatt Rukia, Ichigo, memasuki café. Begitu melihatnya, Rukia langsung melambaikan tangannya agar pria itu melihat posisi Rukia. Segera Ichigo berjalan menghampiri Rukia begitu melihat gadis mungil itu.

"Kau sudah lama menunggu, Rukia?" tanya Ichigo, "maaf ya, tadi ada yang masih kukerjakan jadi agak telat," terangnya.

Rukia tersenyum, seperti biasa dengan senyum jenakanya. "Tidak apa-apa koq, Ichigo," katanya.

"Kalau begitu…ayo kita pesan makanan, kebetulan aku sudah la-"

"jangan dulu!" tukas Rukia, "masih ada yang harus ditunggu!"

Ichigo mengernyit, dikiranya ini adalah makan siang berdua dengan Rukia. "memangnya siapa lagi yang ditunggu?"

"Sabar ya, Ichigo…sebentar lagi pasti dia sudah sampai, tadi dia bilang dia sudah dekat," kata Rukia.

Ichigo mengiyakan saja, jarang-jarang dia bisa bersama dengan Rukia mengingat mereka sudah tidak berkomunikasi lagi melalui dunia maya.

"Ah, itu dia!" seru Rukia sembari menunjuk ke arah seorang pria berambut panjang dikuncir berwarna merah, sedang memasuki café yang bisa dibilang dengan…cool?

Rukia cengo memperhatikan penampilan sahabatnya itu. memakai kacamata hitam dan kemeja putih rapi, serapi orang yang ingin melamar pekerjaan. Tidak biasanya dia memakai kemeja, biasanya juga Cuma memaiaki baju kaos santai, selain itu ditangan kananya memegang…buket mawar merah?

"Halo, Rukia," sapanya ketika di samping Rukia dengan nada suara yang…bisa dibilang cukup cool. Yang disapa malah mengernyit aneh menatap Renji, ini tidak biasanya pria itu bersikap sok keren di depannya karena biasanya jika mereka bertemu maka kehebohanlah yang terjadi seperti bertralala trilili atau berbicara ribut-ribut.

Renji mengalihkan pandangannya ke arah laki-laki berambut orange mencolok yang duduk di depan Rukia, pandangan Renji lalu berganti ke sebelah kanan Ichigo lalu ke sebelah kiri Ichigo. Tidak melihat orang lain selain Ichigo di sana membuatnya harus membuka kacamata untuk memastikan apakah memang benar tidak ada orang lain lagi di sebelah Ichigo.

"Rukia, mana yang namanya Ichigo?" tanyanya sambil celingak-celinguk dengan bodohnya.

Rukia malah kebingungan memandang Renji. "Kau ini tanya apa, Renji? inilah Ichigo," kata Rukia sambil menunjuk ichigo, "memangnya kau pikir siapa lagi yang aku ajak ke sini?"

Renji lalu mengamati pria berambut orange yang sedang menatap aneh ke arah Renji, diamatinya dari atas sampai bawah, sedetail-detailnya. Dilihat dari arah mana saja pemilik rambut orange itu jelas seorang pria.

Renji lalu menarik Rukia dan membawanya ke sudut café.

"Kau ini kenapa, Renji?" tanya Rukia yang tidak mengerti akan tingkah Renji.

"Kenapa kau tidak bilang Ichigo ternyata laki-laki?" bisik Renji bernada protes.

"Apa?" Rukia terperangah, "Memangnya kapan juga aku bilang Ichigo adalah perempuan?" timpal Rukia, dengan berbisik tentunya, "Hellow, aku pernah bilang kan kalau aku tidak punya teman chatt perempuan!"

"Aish, kupikir dia perempuan karena namanya Ichigo!"

Rukia cengo, ternyata selama ia bercerita mengenai Ichigo rupanya Renji mengira Ichigo adalah perempuan. Dan Rukia pun tidak bisa menahan tawanya.

"Sialan! Aku sampai membeli bunga untuknya…ternyata dia lak-laki…cih!"

Tawa Rukia semakin menjadi-jadi. "Jadi, kau membelikan bunga untuk Ichigo?" masih sambil tertawa, "benar-benar romantis~" godanya.

"Diam kau! Sial…" umpat Renji.

Bagaimana keadaan Ichigo di sana? Daritadi Ichigo terus mengamati konfrontasi antara Renji dan Rukia di sudut café. Dilihat-lihat mereka berdua sangat akrab, bahkan kini Rukia malah terbahak-bahak di sana sehingga Ichigo mengernyit tak suka menatap kedekatan mereka.

Akhirnya Renji dan Rukia selesai dengan urusan di sudut café, mereka kembali menghampiri Ichigo.

"Hihihihi…" Rukia terkikik dan Renji tidak suka mendengar kikikannya karena ia merasa dihina. "Renji~ perkenalkan ini adalah temanku, Kurosaki Ichigo," kata Rukia jahil, bermaksud mengganggu Renji yang telah mengira Ichigo adalah perempuan.

"Ichigo…perkenalkan, ini Abarai Renji…Renji adalah…"

"Kami adalah sepasang kekasih!" sela Renji memotong ucapan Rukia.

Rukia menoleh menatap Renji dengan mata terbelalak dan disambut oleh seringai jahil Renji. Sedangkan Ichigo? Pria itu hanya duduk diam terpaku di kursinya.

"Hm…mungkin kau sudah pernah mendengar namaku…" kata Renji, "memang aku dan Rukia sudah lama sekali dipisahkan oleh jarak tapi yah…itulah yang membuat hubungan kami semakin romantis, " Renji lalu menyerahkan mawar merah itu ke Rukia yang masih shock akan ucapan Renji. "ini untukmu sayang~ kau suka kan?"

.

.

.

To be continue…

.

.

.

muehehehe…ini semakin gaje dan abal saja -_-

aduh maaf tadi yang terapload file yang belum selesai -_-'. sorry ya ga teredit dengan baik dan benar!

sebenarnya juzie masih ingin nambahin cerita di chap ini tapi sayang…kondisi lappy yang awalnya udah kronis sepertinya bakal jadi akut (?) huuuuuff… ya sudahlah^^ tapi ini sebenarnya udah puanjang…tenan #emang mau buat sampe brp halaman?#

Rini desu iya ya...juzie juga baru sadar, tapi Bazz b keren juga koq menurutku ;) yeah karena juzie malas buat karakter cengeng, ga tau kenapa ga suka aja. ini udah apdet, tengkyu :)

Takamiya Haruki salam kenal Takamiya-san, sorry juzie ga liat ripiu km yg sebelumnya, ga tw ga keliatan waktu itu, ku baru liat waktu buka email ;). hihihihi...itu ga apdet kilat, sebenarnya yg ch 12 itu udah diapdet seminggu sebelumnya tapi kebetulan detik2 terakhir takamiya-san baca chap itu juzie udah apdet yg ch 13, normalnya juzie emang apdet tiap minggu #ga ada yg tanya# hm...karena menurut juzie bazz b itu keren. hehehe...di chap ini malah ga ada himenya ;). ok slight pair nya ditambah satu ByakuRukia ;). ini uda apdet ya, tengkyu :)

darries wkwkwkwkwk...juzie ga tw juga knp bikin Bazz b kayak gitu, mungkin krn bawaan pengen injak orang jadinya Bazz b yang jadi korban. oke ini uda apdet, tengkyu :)

Suu jangan sedih donkz, peran bazz b di sini adalah...sebagai laki-laki yang naksir sama Rukia ;). ini uda apdet, tengkyu :)