He's a Girl

Author : Si HwangJae Tyaz

Genre : Romantic, Brother/Sistership

Cast :

Katara

Lee Junho

Kintaro

Hwang Chansung

Lee Eun Ji

2PM's Member

Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D


-He's a Girl-


Sesampainya di bandara, kami sudah benar-benar bersiap-siap. Kami bertukar baju sesaat sebelum keberangkatan. Agar rencana kami berjalan sempurna, Taro rela menutup kepalanya dengan kerpus dan menutup mulutnya dengan masker.

"Tara-ah. Gwaenchanha?" tanya Chansung-i Oppa sesaat setelah kami bertukar posisi. Taro hanya mengangguk. Aku yang menyadari bahwa keingintahuan Chansung Oppa bertambah besar, segera merangsek maju untuk melindungi Taro.

"Tara tidak apa-apa, Hyung. Tadi pagi, dia hanya sedikit flu." jelasku dengan suara yang kubuat semirip mungkin dengan Taro. Takut-takut, kulihat wajah Junho Oppa sekilas. 'Eotteohge? Jangan sampai dia curiga.'

"Uhukk uhukk.. Sepherthinya akhu harus mashuk dhulu. Annyeong Oppha..." aku sedikit terperanjat mendengar suara Taro yang benar-benar seperti seseorang yang sedang terserang flu. Lebih tepatnya saat aku terserang flu. Serak-serak tidak karuan. Hahahaha...

"Tara-ah.. I'm gonna miss youuuuu...!" ujar Wooyoung Oppa saat Taro sudah agak menjauh. PLETAKKK..! Tangan halus Khun Oppa berarang di puncak kepalanya. "Aduuuhhh...! Appoo..."

"Makanya jangan teriak-teriak. Kau tidak ingat kalo kita sedang menyamar?" Wooyoung Oppa menutup mulutnya, ketakutan.

"Eotteohge? Eotteohge?" dia bingung saat melihat yeoja-yeoja mulai mendekati tempat merka berdiri. Aku juga sadar bahwa jarak kami dengan mereka (Hottest) sudah terlampau dekat.

"Sepertinya, saatnya kita lari, Hyung." Tanpa sadar, aku mencengkeram tangan Junho Oppa. "Gaja kita lari ke mobil. Hana... Dul... Set...!" ku bawa Junho Oppa berlari. Aku belum benar-benar sadar kalau itu Junho Oppa. Setelah sampai di mobil, aku baru menyadarinya. "Mianhaeyo Op.. HYUNG..!" Hampiiiiir saja aku keceplosan.

"Kau terlihat aneh Taro-ah. Apa kau sakit?"

"Ani Hyung. Nan gwaenchanha." Aku terseyum pada semuanya termasuk juga pada Junho Oppa yang sedari tadi melihatku dengan tatapan aneh.

"Arra arra. Yahh MinJae-ah. Ayo kita pulang. Sebelum Hottest mengejar kita." Ajak Jinyoung Oppa. MinJae Oppa langsung tancap gas menuju Dorm. Aku menatap keluar jendela mobil dan melihat pesawat Garuda yang membawa Taro bersamanya. 'Good bye Oppa. Jangan lupa sampaikan salamku pada Eomma, Appa dan Tari. Bilang kalau aku juga merindukan mereka. Sangat merindukan mereka.'


-He's a Girl-


Ada tangan yang menyentuh pundakku. Aku menoleh kepada si pemilik tagan yang sekarang sudah terulur ke depan mukaku itu. Tangan berkulit putih itu milik Junsu Oppa. Kulihat dia tersenyum. Aku membalas senyumannya sekilas.

"Waeyo? Kau sudah merindukan yeosaengmu?" aku mengangguk lemah dan menatap jalanan lagi. Kali ini, rasanya bernafas saja sudah sangat berat. Seperti ada yang menghimpit dadaku. 'Oppa... Cepatlah kembali. Aku takut ini semua tak akan bertahan lama.'

"Taro-ah Taro-ah." Wooyoung Oppa memanggil nama Taro. Aku yang merasa sudah menjadi Taro, menoleh. "Apa pelajaran memasak yang sudah kau dapat dari Tara?" aku terkesiap. Aku bingung harus menjawab apa.

"Emm... Hanya Gaeran Mari, Japchae dan Kimchi. Waeyo Hyung?" aku mulai terbiasa dengan kata Hyung jadi aku sudah mulai tidak takut salah lagi.

"Masakkan kami makanan ya setelah ini. Bersama Taecyeon Hyung tentunya. Arra?"

"Hehem. Tenang saja."


-He's a Girl-


Sudah tiga hari semenjak kepergian Taro. Semua masih baik-baik saja. Tak ada yang mencurigaiku hingga hari ini. Tapi, ternyata aku salah. Tepat hari ini, seseorang berkata padaku tentang sesuatu yang membuatku terperanjat.

"MWO? Apa maksudmu Hyung?"

"Tak ada yang perlu di sembunyikan lagi dariku, Tara-ah. Aku mengenalmu dan Oppamu lebih dari Hyung-hyung yang lain."

"Hyung. Jangan bercanda."

"Apa wajahku terlihat seperti orang yang sedang bercanda?"

"Aniya." Aku menunduk. Aku merasa bersalah. Aku sudah membohongi mereka. "Jamkkan man." Keberanianku mulai tumbuh. "Kalau aku memang Tara, apa buktinya?"

"Kau mau bukti? Aku punya banyak. Pertama, saat di bandara."


-Flashback-

"Sepertinya, saatnya kita lari, Hyung." Tanpa sadar, Tara mencengkeram tangan Junho. "Gaja kita lari ke mobil. Hana... Dul... Set...!" Dia bawa Junho berlari. Dia belum benar-benar sadar kalau itu Junho. Setelah sampai di mobil, dia baru menyadarinya. "Mianhaeyo Op.. HYUNG..!" Hampir saja dia keceplosan.

"Kau terlihat aneh Taro-ah. Apa kau sakit?"

"Ani Hyung. Nan gwaenchanha." Tara terseyum pada semuanya termasuk juga pada Junho yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan aneh.

-Flashback End-


"Lalu apa lagi ya?" dia terlihat berpikir. "Ah iyha. Saat memasak waktu itu."


-Flashback-

"Kau pintar sekali Taro-ah. Masakanmu sungguh lezat. Apa Tara yang mengajarkan ini semua padamu?" tanya Taecyeon pada Tara.

"Emmm.. N..Ne' Op...HYUNG.. Tara memang sangat suka masak. Makanya, aku di jadikan kelinci percobaannya. Mau tak mau, aku harus ada di sampingnya saat dia memasak. Saat itu aku belajar." ucap Tara sambil berbohong. Sementara itu, Junho mendengar percakapan Taecyeon dan Tara di dapur.

-Flashback End-


"Aku bertaya pada diriku sendiri. Kapan dia belajar masak? Ehmmm... dan satu lagi yang mungkin akan membuatku agak sedikit shock. Tapi, aku memang benar-benar mendengar ini semua."


-Flashback-

"Apa kau sudah siap, Tara-ah?"

"Hem. Aku siap Oppa. Sampaikan salamku pada Eomma, Appa dan Tari." Terdengar suara Taro dan Tara yang sedang bercakap-cakap di dalam kamar.

Junho yang penasaran, akhirnya sedikit menguping pembicaraan mereka. Junho yang terkejut, berusaha menutupi ini semua tanpa sepengetahuan Taro dan Tara. Lalu MinJae memanggil mereka.

"Twins, sudah siap?"

"Jamkkan man Hyung." jawab Taro. "Tara-ah. Bertahanlah. Aku hanya akan pergi selama satu minggu. Atau paling lama 2 minggu. Jamkkan di sini, arraseo?" terdengar suara Taro yang menenangkan yeosaengnya.

-Flashback End-


"K..kau mendengar semuanya?"

"Mian. Tapi memang iya." Aku menunduk. Pelupuk mataku mulai terisi dengan air mata. Aku tidak bisa menjaga kepercayaan Taro. Tiba-tiba aku merasa tubuhku di peluk.

"Gwaenchanha. Geogjeong ma-don't worry." Aku mendongak. Tangan kekar Junho Oppa mengusap lelehan air mata yang jatuh di pipiku. "Aku akan membantumu bertahan hingga Taro pulang." Aku membeku mendengar perkataannya. Bibirnya membentuk senyuman. "Gwaenchanha Tara-ah. Tenang saja. Gwaenchanha." Dia membisikkan kata itu di telingaku lirih.

"Tenang saja Tara. Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh istirahat. Aku sangat lelah. Biarkan aku menutup mata satu menit saja."

Aku terkesiap. Suara Kak Aji sesaat sebelum ia meninggal, terbayang dengan jelas. Aku menarik diriku dari pelukan Junho Oppa. Dia terlihat bingung.

"Mwoya?"

"Ani. Aku hanya tidak mau yang lain melihat kita berpelukan seperti tadi, Op...Hyung." aku masih saja sering salah saat menyebut kata Hyung.

"Arra arra. Jangan sungkan untuk memanggilku saat butuh bantuan, Tara-ah." Dia mengelus lembut rambutku.

"Hehem." Aku mengangguk paham.


-He's a Girl-


Segini dulu ya yg chap 14..

Chap 15 tinggal nuggu waktu senggang doank..

Gomawo gomawo gomawo buat semua reader.. *peluk satu-satu

Don't forget to RnR.. :D