There were no words that could express what I felt was missing at that time
I was just there because I liked it
My feelings couldn't reach you because I lacked the power
It's also so that I won't repeat this ever again
Kuroko Tetsuya – Boku no Omoi
Aku mendapat surat untuk pertama kalinya di kelas 6 SD. Pengirimnya dari Ogiwara-kun dan itu terjadi dua bulan setelah kepindahannya. Awalnya aku tidak percaya saat Okaasan memberiku sebuah amplop setelah aku selesai sarapan.
"Tetsu-kun, kemarin ada surat datang untukmu, loh."
"Surat? Dari siapa?"
Okaasan tersenyum lalu memberikan amplop putih padaku. Aku membaca perlahan tulisan yang ada di luar amplop. Benar, itu untukku. Segera kubuka amplopnya dan membaca isi surat.
"Dari Ogiwara-kun, Okaasan!"
"Kalau begitu, Tetsu-kun harus membalasnya nanti," sahut Okaasan.
"Iya, tentu!"
.
Dengan gerakan tidak sabar, aku membuka amplop. Tertera alamat rumah Ogiwara-kun di bagian luar amplop. Aku mengejanya meski gagal dan meminta bantuan Okaasan untuk membacakan alamat tersebut. Prefektur Ibaraki katanya. Tentu setelah tahu alamatnya, aku sempat berniat untuk berkunjung. Tapi Okaasan langsung melarang.
"Ibaraki itu jauh dari sini. Kalau mau ke sana, biar diantar Okaasan atau Otousan, ya?"
"Aku maunya setelah pulang sekolah, Okaasan."
"Tapi tempatnya jauh, Sayangku Tetsu-kun."
Dan aku pun memasang wajah cemberut. Aku membaca isi surat itu dalam hati setelah mencuci mangkuk bekas serealku. Tulisan Ogiwara-kun masih banyak menggunakan hiragana dan katakana ketimbang kanji. Meski begitu, tulisannya cukup rapi.
[Untuk Kuroko Tetsuya,
Halo! Lama tidak bertemu dan bermain basket denganmu, Kuroko! Jujur saja, aku rindu main denganmu. Oh, apa kau kaget mendapat surat dariku? Ini ide dari teman baruku di Meikou. Dan ya, aku sudah bisa beradaptasi di tempat baruku ini. Mereka ramah sekali padaku! Aku sering diajak main juga oleh mereka dan permainan basket mereka itu menakjubkan! Terutama senior-senior dari SMP Meikou!
Omong-omong, aku sudah memutuskan untuk melanjutkan sekolah di SMP Meikou, Kuroko. Bagaimana denganmu? Aku belum pernah dengar ceritamu tentang SMP pilihanmu, loh! Aku sudah bercerita, kau harus balas suratku ini dan menceritakan apa yang terjadi padamu setelah aku pindah!
Kau tidak kesepian 'kan, Kuroko? Ehehe.
Kurasa cukup sampai sini dulu surat dariku. Ditunggu surat balasannya! Dan ayo berjuang bersama-sama untuk memenuhi janji kita, Kuroko!
Temanmu di Ibaraki, Ogiwara Shigehiro.]
"Mei...kou?" gumamku pelan seraya melipat kertas lalu memasukkannya lagi ke dalam amplop. Itu pertama kalinya aku mendengar nama sekolah tersebut. "Otousan, Meikou itu di Ibaraki juga, ya?" tanyaku, minta pencerahan.
"Hm? Iya, ada di Ibaraki. Kenapa? Ogiwara-kun sekolah di sana?"
Hebat. Otousan bisa menebaknya dengan benar. "Iya. Kalau aku... akan sekolah dimana?" Pertanyaanku lebih ditujukan untuk diriku sendiri karena aku belum memikirkan sekolah lanjutan.
.
Omong-omong, aku masih menyimpan pesan surel yang pertama kali kukirim ke Ogiwara-kun. Isinya lumayan panjang dan aku tidak mau mengungkit soal itu lagi. Bahkan aku sempat mengulang ketikan beberapa kali karena aku merasa isinya kurang pas untuk surel pertama. Aku sempat panik ketika Ogiwara-kun menelponku setelah menerima surelnya. Kalau diingat-ingat lagi, itu juga pertama kalinya aku mendapat telepon dari seseorang.
"Moshi moshi!" Tanpa sadar suaraku bergetar gugup begitu mengangkat telepon dari ponsel baruku. Saking gugupnya, aku takut suara jantungku ikut terdengar.
'Kuroko!'
"Aa...!? Ogiwara-kun!? H-hajimemashite!" Salah dialog! Aku menutup sebelah wajahku karena malu. Terdengar Ogiwara-kun menyahut bingung. "A-aha, s-sumimasen. Maksudku, tentang mengobrol lewat ponsel atau semacamnya," ucapku sambil tertawa kikuk.
'Ahaha... begitu, ya. Yaaa, kau bicara soal itu, memang agak memalukan juga.'
"Tiba-tiba ada panggilan masuk, aku jadi panik."
Ogiwara-kun tertawa. 'Maaf, ya. Tadinya aku ingin mengirim pesan, lalu surel darimu datang. Jadi... karena terlalu senang, tanpa pikir panjang, aku langsung menelponmu.' Nada senang benar-benar terdengar jelas.
Perlahan aku mulai tenang setelahnya. "Apa kau menerima surelku?"
'Yap! Aku sudah menerimanya!'
Aku menghembuskan napas lega. "Syukurlah, aku takut salah kirim. Selama ini kita hanya kirim-kiriman surat, aku masih belum terbiasa dengan ini," akuku. Berharap Ogiwara-kun memaklumi.
'Aku akan jadi teman latihanmu supaya kau terbiasa. Jadi, tetap kirim surel dan telpon aku, ya?'
"Hai!"
Aku tersenyum miris. Dari awal bertemu, Ogiwara-kun selalu membantuku. Dia... bagaikan seorang kakak. Masalahku dengan Kisedai (terutama tentang Aomine-kun), aku hanya cerita padanya. Ia memberiku saran dan semangat. Tapi tetap, aku tak bisa melakukan apa-apa. Lalu sekarang, aku... sudah menyakiti Ogiwara-kun.
Meski terpisah jarak, komunikasi kami tetap berlanjut lewat surat. Kini surat-surat darinya masih kusimpan di kotak pandora. Saat aku dibelikan ponsel, kami bisa mengirim pesan dan menelpon.
~ Tetsuya's 14th Paper End ~
Note : Obrolan Ogiwara dan Tecchan itu asli ada di bonus DVD/Blue-Ray volume 5 season 3. Big thanks for mosaku-k tumblr yang sudah menterjemahkannya ke bahasa Inggris. #bow ^^
Terima kasih sudah meluangkan membaca fanfic ZPS! #bow \(^~^)/
CHAU!
