Chapter 13 : Forbidden Fruit
Guan Suo sedang mengobrol dengan saudaranya tentang masa depan negara ini. Guan Xing berpendapat bahwa kaisar Liu Shan sangat tidak bertanggung jawab dan cukup malas. Ia tidak setuju karena baru kali ini Guan Xing mendengar tugas negara malah dikerjakan permaisurinya dan dia sendiri setiap hari hanya bermain-main di taman dengan anjingnya atau mengobrol dengan salah seorang kasimnya. Seringkali pula ia melihat Xing Cai dengan tekun mendiskusikan masalah negara bersama para mentri yang mendampingi kekaisaran. Bahkan di kalangan kaisar pun pendapat seperti ini sudah menjadi gosip yang cukup populer, hanya saja mereka tidak tahu apakah kaisar sudah mendengarnya atau belum.
Selagi Guan Xing asik membicarakan pendapatnya tentang Liu Shan karena terlalu mengandalkan Xing Cai, pintu rumah mereka diketuk para prajurit kerajaan.
"Kakak, para prajurit seperti mengepung tempat ini. Apakah kaisar mendengar obrolan kita?" Guan Suo tercengang tidak percaya.
"Ah … tidak mungkin!" namun Guan Xing dengan resah melirik ke sudut-sudut rumahnya, dicurigainya jangan-jangan ada semacam jin yang bisa membuat kaisar mendengar semua obrolan mereka.
"Baiklah kita hadapi saja. Kalau memang pendapat kita terdengar dan menyinggung kaisar, biar kita sekalian ungkapkan semuanya. Siapa tahu dia bisa mengoreksi diri." Guan Xing yang sudah sembuh dari sakitnya itu kemudian berjalan menuju pintu gerbang rumahnya dan membukakan pintu.
"Kami mencari seseorang bernama Guan Suo alias Weizhi." Kata kapten prajurit itu.
Ketika Guan Suo menampakkan diri di belakang kakaknya, sang Kapten menambahkan, "Kaisar ingin bertemu dengannya."
Guan Suo dibawa ke istana. Guan Xing hanya bisa menanti kabar dengan resah, berharap tidak terjadi sesuatu yang gawat terhadap adiknya.
Setibanya di ruang tahta, Liu Shan dan permaisurinya ternyata menyambut hangat kedatangan Guan Suo.
"Inilah orang yang bernama Guan Weizhi." Katanya sambil mendorong Guan Suo seperti seorang tahanan.
"Hei, jangan kasar, aku memanggilnya kemari bukan karena aku ingin menangkapnya" kata Liu Shan dengan gugup menegur kapten itu..
Mendengar ucapan sang kaisar, si kapten yang salah paham, cepat-cepat minta maaf. Liu Shan kembali duduk di kursi kebesarannya. Disebelahnya, duduk permaisuri Zhang yang anggun dan tenang.
"Saya tertarik memanggil anda kemari karena ada sebuah petisi dari seorang rakyat yang mengusulkan agar anda diberi penghargaan karena keberanian anda mengusir siluman gunung. Ditambah lagi, saya mendapati kabar bahwa sesungguhnya anda putra ke tiga dari Jendral Guan. Apakah benar demikian?" tanya Liu Shan.
Guan Suo mengangguk. "Hamba memang putra Guan Yunchang. Tapi mengenai mengusir siluman itu, hamba tidak tahu apa-apa."
"Ah…hahaha." Liu Shan tertawa. "Sekalipun begitu, aku masih tetap ingin bertemu denganmu. Kau putra jendral Guan, maka berarti kau adalah saudara sepupuku. Ditambah lagi, tampaknya kita sebaya. Aku senang keluarga besar Shu-han bisa berkumpul lagi."
"Hamba juga senang. Kaisar sungguh beruntung. Memiliki kerajaan yang subur, mentri-mentri yang bijak, panglima perang yang handal dan permaisuri yang cantik. Beliau pasti menjadi wanita yang paling beruntung di seluruh dunia." Kata Guan Suo.
Liu Shan menggenggam tangan istrinya sejenak. Kemudian ia berkata, "Aku-lah yang beruntung, bisa mendapatkan istri sebaik dia."
"Istri sekaligus pendamping setia dalam administrasi dan ranjang." Lanjut Guan Suo.
Tentu saja ucapannya ini membuat beberapa mentri dan prajurit jadi berdesas-desus sendiri. Sejenak, ruang kaisar menjadi ramai seperti sarang lebah. Beberapa mentri terlihat resah, was-was, namun ada juga yang sibuk berusaha keras menahan tawanya agar tidak keluar sehingga bila kaisar marah, ia tidak ikut-ikutan dihukum.
"A, apa maksud anda?" Liu Shan merasa seperti diberikan kritik pedas secara langsung yang menyerang telak akan sifat malasnya. Baru kali ini ia mendapatkan kritik, dan ia merasa sakit hati.
Mengetahui perasaan suaminya, Permaisuri Zhang segera membelanya. "Bukankah sudah menjadi tugas seorang istri untuk selalu setia mendampingi suaminya dalam susah maupun senang?"
"Ah, tentu saja. Dan anda, permaisuri pasti sangat senang melakukan tugas anda demi tinggal di istana emas." Kata Guan Suo lagi dengan cuek.
Kali ini Permaisuri Zhang menjadi sebal. "Apa maksud anda berkata demikian? Apakah anda bermaksud menyakiti hati kaisar?"
"Tidak." Guan Suo masih cuek.
Permaisuri Zhang masih bertanya dengan tenang, "atau anda ingin menyakiti hati saya? Kenapa anda mengatakan seakan saya menjual diri demi tahta?"
Kali ini kesantaiannya meruntuh, wajahnya terlihat semakin memerah. Guan Suo pun menundukkan kepalanya, sibuk memilah kata yang netral untuk diungkapkan. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia sangat ingin menyerang permaisuri. Apakah karena permaisuri membuatnya kecewa? Apakah karena ia menginginkan permaisuri?
"Saya dengar anda sudah menikah, tuan Guan?" tanya Permaisuri Zhang, balik menyerang.
"Ya." Jawabnya.
"Berapa kali?" tanyanya lagi dengan santai.
Guan Suo kini menjadi malu. "D, dua…"
"Wah…anda benar-benar populer rupanya. Perkenalkanlah mereka pada kami kapan-kapan. Keluarga besar kita bisa bereuni. Semakin ramai, semakin baik." Permaisuri Zhang tersenyum.
Beberapa mentri tertawa kecil, entah mengapa. Guan Suo sendiri memejamkan mata dan menunduk. Karena tidak juga berhasil menemukan kata untuk membalas sang permaisuri, Guan Suo tetap berdiam diri saja.
Ia diajak makan malam di istana, diminta menceritakan pengembaraannya setelah perang di Maicheng.
"Saya dengar Lu Meng tewas karena arwah Guan Yu. Anda pernah tinggal di Jing, apakah anda mengetahui sesuatu tentang ini?" tanya Liu Shan.
"Terkadang masyarakat kita terlalu percaya pada takhayul. Membuat seorang anak disangka menjadi hantu. Tapi sisi baiknya, saya tidak diburon." Kata Guan Suo.
Liu Shan tertawa lagi. Ia sering tertawa.
"Kita tidak bisa tahu apakah memang tuan Guan yang membunuh Lu Meng, bisa saja dia hanya membual." Kata Permaisuri Zhang.
Guan Suo menatapnya lekat. "Jari boleh menunjuk ke timur atau selatan. Tapi hati tidak akan pernah pergi dari tanah air. Mulut boleh membesar-besarkan segala hal dan berbohong besar, tapi kejujuran selalu ada pada sorot mata."
Beberapa detik lamanya permaisuri dan Guan Suo saling bertatapan. Hati permaisuri serasa tergelitik, mengingat betapa suka dirinya dengan cara pemuda ini menatapnya. Sejak kecil tatapan itu tidak berubah. Sejenak dirinya kembali bernostalgia ketika mereka masih bermain-main di provinsi Jing. Sang Permaisuri pun menutupi senyum yang tidak dapat ditahannya itu dengan cara menghirup minumannya dengan kalem.
"Lalu … selama anda tinggal di Jing, apa yang anda lakukan? Kenapa anda tidak langsung kembali ke Shu?" tanya permaisuri dengan sebuah perasaan tidak terima yang tipis terpancar dari matanya.
"Sebagai adik, sudah seharusnya saya mencari dan menemukan kakak ipar dan keponakan saya yang terpisah karena perang." Kata Guan Suo.
"Jadi menurut anda, keluarga lebih penting daripada negara?" tanya permaisuri.
"Menurut saya, masalah kedua hal itu tidak bisa dibanding-bandingkan."
"Sudahkah ketemu dengan kakak iparmu?"
Guan Suo menggeleng. "Setelah Guan Xing sembuh, saya akan berangkat ke timur lagi untuk mencari mereka."
"Aku juga sedang mencari mereka. Tunggulah kabar dari informanku, kita bisa mencari bersama." Kata permaisuri.
Perkataan tersebut membuat beragam perasaan bercampur aduk dalam batin Guan Suo. Dengan canggung ia menatap kaisar.
"Suamiku sangat baik hati dan lembut. Siapapun yang mengatakan bahwa dia memiliki pikiran lemah atau bodoh, tidak memahaminya sepertiku." Sambil berkata demikian, Xing Cai memandang kaisar dengan kagum.
Guan Suo pamit pulang setelah acara makan malam bersama kaisar dan istrinya. Akibat kritik dari Guan Suo, Liu Shan malam itu menyuruh Xing Cai tidur saja dan tidak menemaninya melembur mendengarkan petisi rakyat. Namun sesuai dugaan, kaisar itu ketiduran di atas pekerjaannya. Melihat hal itu, Xing Cai tersenyum kagum pada suaminya yang menerima kritik sebagai alat untuk memperbaiki diri. Ia menyelimuti Liu Shan yang tertidur sangat pulas di atas kursi kerjanya.
Malam telah tiba, koridor istana telah sepi. Ketika ia tiba di kamarnya dan hendak menutup gorden, seseorang melompat dan hinggap di bingkai jendela, membuat Xing Cai terkejut dan melompat mundur.
Lelaki itu dengan tatapan tajam mengenggam erat pergelangan tangan Xing Cai. "Apa maksudmu tadi?"
"Maksudku apa?"
"Membawa istri-istriku dan menyuruhku untuk mengenalkan mereka padamu. Apa maksudmu?"
"Berkenalan. Tidak ada maksud apapun. Bukankah kita ini sepupu?"
Guan Suo melepaskan cengkramannya. Xing Cai melangkah menjauh dan memunggunginya sambil mengusap pergelangan tangannya. "Kau seperti maling saja. Kenapa tidak masuk lewat pintu?"
"Jendelamu lebih nyaman untuk dimasuki." Guan Suo kemudian melangkah masuk ke dalam kamar. Ia melihat-lihat kamar mewah itu, meraba lute milik Xing Cai.
"Kau memiliki segalanya di sini….aku senang. Kau tidak butuh apapun lagi." Ucap Guan Suo dengan sedih.
"Kau bilang senang, namun suaramu terdengar sedih. Adakah yang mengganggu pikiranmu? Apakah kau rindu istri-istrimu?" tanya Xing Cai dengan prihatin.
"Aku tidak suka kau menyinggung mereka."
"Aku mengerti … aku tidak bisa disamakan dengan mereka di dalam duniamu. Dalam dunia Weizhi tak ada tempat bagi Xing Cai."
Guan Suo membalas ucapan itu dengan nada halus, "diri inipun … merasa dalam dunia permaisuri, tidak ada tempat bagi Guan Weizhi."
"Itu tidak benar!" kata Xing Cai dengan cepat. "Saat aku mendengar berita buruk mengenai paman Guan, hatiku berubah cemas, berharap kau selamat dan cepat kembali. Mereka bilang kau sudah mati, tapi aku ingin percaya bahwa kau masih hidup."
"Kenapa kau tidak menungguku?"
"Kakak menyuruhku untuk melupakanmu, semua orang menyuruhku untuk melupakanmu, … mereka meyakinkanku bahwa kau sudah tiada."
Guan Suo akhirnya melangkah mendekati seseorang yang perlahan merentangkan kedua tangannya, menyambut kedatangannya.
Sambil berpelukan, keduanya merasakan gejolak yang mendorong mereka untuk mendemonstrasikan sesuatu yang tidak terungkapkan dengan kata-kata, hal yang terpendam dan direngut dunia dari mereka. Sejenak mereka lupa siapa diri mereka dan dunia yang mengikat sekaligus menghalangi mereka.
Serasa ada jarum yang menusuk ke dalam jantung, menghujam dalam membocorkan sesuatu yang menghangat, menyebar seperti ribuan kupu-kupu yang serempak beterbangan.
Indah … namun serasa hanya sebatas mimpi.
Sang permaisuri pun mengadu. "Kenapa kau tidak pulang? Kau terlambat, sangat terlambat. Andai kau pulang lebih awal…"
Guan Suo kembali mengecup wajah Xing Cai. Ditempelkan bibirnya pada dahi gadis itu perlahan dan agak lama.
Sejak itu, Guan Suo sering menyelinap ke bilik permaisuri yang selalu menanti kedatangannya. Mereka melewatkan waktu bersama, mengobrol, saling meledek, dan tak jarang saling mengagumi. Kadang Xing Cai yang datang ke rumah Guan bersaudara. Mereka hanya bersua untuk melihat pujaan hati masing-masing. Mereka masih menghormati kaisar, tidak berani melakukan lebih yang melanggar batas.
Apabila mereka tidak bisa datang untuk mengunjungi, mereka mengirimkan merpati yang membawakan surat cinta kecil bagi kekasih mereka.
Guan Suo seringkali diajak Xing Cai kembali ke rumahnya dimana tinggal adik-adik Xing Cai. Zhang Shao mungkin agak cuek dan lebih suka bermain ke luar untuk mengobrol bersama teman-temannya di pasar. Namun adik Xing Cai, Xing Li kelihatannya cukup usil dan sangat suka menjodoh-jodohkan Guan Suo dengan teman-temannya, sekalipun masih dalam konteks bergurau.
Tak lama setelah itu, Guan Xing pun akhirnya menikah dengan seorang wanita baik-baik. Pesta pernikahan berlangsung tidak terlalu mewah namun cukup meriah. Para tamu berdatangan dari kalangan istana dan militer untuk menyalami Guan Xing. Di antara mereka, hadir pula keluarga anak-anak Zhuge Liang yang hadir mewakili ayah mereka. Sayangnya Kaisar Liu Shan enggan datang mengetahui pesta pernikahan dilakukan secara sederhana. Ia suka dengan pesta besar, namun Guan Xing menolak usulan kaisar yang berniat membiayai pesta pernikahan meriah untuknya.
Para tamu makan minum dengan meriah, mengobrol dan mabuk. Mereka memberi selamat pada Guan Xing dan berharap diberkahi keluarga bahagia.
Sementara orang-orang bersenang-senang di ruang depan, Xing Cai dan Guan Suo duduk-duduk di pekarangan belakang di tepi sumur. Orang yang melihat mereka tidak bercuriga apapun karena mereka tahu bahwa Guan Suo dan Xing Cai memang cukup dekat sebagai sahabat.
Xing Cai menyadari bahwa Guan Suo terus menatapnya sambil tesenyum, maka ia menegurnya. "Apa yang menarik dari sesuatu yang kau lihat? Sepertinya kau tidak memalingkan tatapanmu."
"Berkedip pun tidak." Guan Suo membenarkan, dibalas dengan senyum manis dari bibir permaisuri. Senyum di antara mereka laksana sebuah ungkapan tersirat langsung dari hati, menyatakan mereka sudah membuat yang lain bahagia hanya dengan memandang saja.
Tak bisa dipungkiri, sejak bertemu lagi dengan Guan Suo, hari-hari Permaisuri Zhang berubah menjadi lebih hidup. Ia menjadi lebih ceria dan lebih sering tersenyum. Beberapa kali ia menulis puisi cinta untuk mengungkapkan isi hatinya yang berbunga-bunga.
"Mendadak dunia terasa menjadi begitu sempurna,
mendadak dunia berputar dengan begitu indah.
Mendadak hidupku menjadi berarti.
Dan semuanya berputar mengelilingimu."
Bahkan saat kaisar sedang merasa sedih atau penat, Permaisuri Zhang mengambil lute nya dan memainkannya dengan apik.
"Wow…" kaisar terkagum-kagum. "Indah sekali…aku baru kali ini mendengarmu bermain lute."
Permaisuri Zhang menundukkan kepalanya dengan rasa terima kasih.
"Aku menyadari kau terlihat lebih bahagia belakangan ini. Ada apakah gerangan?"
Permaisuri Zhang lagi-lagi mengembangkan senyumnya. "Aku mendengar kabar baik mengenai keluarga kakak Ping yang hilang."
"Oh ya?"
"Mereka telah ditemukan. Namun kami belum tahu pasti … aku sungguh sangat ingin mencari mereka sendiri. Sewaktu kecil saya dirawat dan dididik keluarga mereka, kini saya ingin membalas kebaikan keluarga Guan…" kata permaisuri.
Liu Shan mengangguk-angguk. "Istriku, aku sangat kagum padamu. Kau sangat berbakti. Baiklah, kau boleh pergi mencari mereka, tapi hati-hatilah."
Semakin senang rasanya Xing Cai mendengar ucapan Liu Shan. "Sungguh?"
"Aku tidak bergurau."
Xing Cai segera berlutut di hadapan kaisar. "Hatiku bergembira atas kemurahan hati kaisar."
"Berdirilah … aku suamimu, sudah sepantasnya aku membuatmu bahagia."
Kala Guan Suo duduk-duduk santai di pekarangan rumahnya, menyeka peluh setelah mempersiapkan kayu bakar, seekor burung merpati terbang menghampirinya. Segulung surat kecil tersumbat di kakinya. Setelah dibukanya, ia membaca isinya; "Mari kita mencari keluarga kakak Ping."
