A/N 1 : Akhirnya chap ini update juga... entah kenapa feling saya udah ilang untuk Fic ini semoga masih terlihat bagus dibaca... selamat membaca.
Dan seperti biasa Naruto dan HS DxD bukan punya saya... bisa gawat jika saya yang punya. Narutonya mungkin udah dapat Rineggan dari dulu, dan Issei mungkin ngak akan semesum itu.
(A/N 2 harap dibaca nantinya!)
Gelap.
Kata itu terlintas dalam pikirannya untuk kesekian kalinya ketika melihat latar Empty dimension miliknya, jikalau ada cahaya itupun hanya cahaya remang dari latar ungu tempat ini... berarti tempat ini tidak terlalu gelap bukan? Bergerak. Tangan pucat itu bergerak dan berusaha mengenggam angkasa... secara perlahan jari-jari pucat itu bergerak bergetar dan merapat seakan berusaha mengenggam sesuatu.
Tapi semua hanya kosong, hanya kekosongan yang digenggamnya. Dan itu wajar, karna apa yang ada disekitarnya hanya latar hitam keungguan yang tak terbatas. Tempat yang bagus bagi bangkainya untuk membusuk... namun sayang dia masih belum bisa mati.
Hening.
Sesuatu melintasi dirinya, sebuah objek kecil tepat melintasi kepalanya. Itu sebuah cahaya kecil, satu dari ratusan cahaya kecil yang kemudian melewatinya. Sebuah senyum dipaksa untuk terukir ketika melihat cahaya kecil tersebut, bukan cahayanya tetapi apa yang ada di dalam cahaya tersebut. setiap kenangan... baik itu sedih, bahagia atau, sebagainya.
Masih dalam posisi yang sama, kepalan tangannya terbuka dan membiarkan cahaya itu membelai tangannya seperti membiarkan arus air membelainya. Dengan cepat tangan pucat itu kembali berusaha mengengam... bukan mengenggam kehampaan. Tetapi, mengenggam cahaya tersebut.
'Ark...'
Begitulah batinnya berucap ketika cahaya itu berada dalam genggamannya. Bisa dia rasakan bahwa cahaya itu bergerak liar seakan berusaha keluar dari kepalan tangannya. Bosan. Secara perlahan dia kembali membuka kepalan tangannya, bisa dia lihat Ark itu bergerak menjauh darinya dan bergabung dengan kawanannya. Sebagaimana mestinya Ark [Ingatan dunia] yang akan terus datang dan berlalu meninggalkannya sendirian... Sebagaimana, suatu saat dia akan kembali sendiri dan hidupnya untuk mengenang orang lain. Mengenang. Untuk semua yang berjalan meninggalkannya.
Karna akan ada masanya dia akan melupakan hari-hari bersama mereka semua, dan hidup di tempat yang lain. Mengingat semua orang yang datang dan pergi meninggalkannya dalam kenangan.
Hingga akhirnya dia hanya tertawa menyukai semua itu... menyukai rasa sepi ini.
Semua itu wajar.
Karna dia Ambassador sang kehampaan dan ketiadaan.
0o0o0
Dengan cepat Issei yang telah memasuki mode Balance breaker melesat menuju angkasa, atau lebih tepatnya menuju seorang Pria yang sedang mengambang di udara kosong. Issei mengepaikan tangannya erat, ketika sampai di depan pria itu. dengan cekatan Issei melayangakan tinjuan menuju kearah kepala sang Dewa.
Grep.
Namun hal diluarkan terjadi, sebuah tangkapan menangkap pukulan itu dengan mudah. Senyum meremehkan tercetak di sana.
"Inikah kekuatan Kaisar Naga merah yang begitu agung itu?"
Sebuah suara terdengar begitu meremehkan. Geraman seekor serigalapun terdengar memecah kesunyian sesaat, semua orang bisa mendengar geraman itu... seakan geraman itu memasuki frekuensi kusus dalam kejadian ini. Sosok berarmor merah itu seperti menjatuhkan tubuhnya sesaat, nemun dengan kegarakan diatas rata-rata. Sosok merah itu kembali merentangkan tangannya kedepan, sebuah bola plasma kehijauan terbentuk di sana.
[Boost!]
Dengan suara mekanik itu, bola tersebut dilepaskan. Bula plasma itu melesat dengan kecepatan gila kearah pria yang mengambang itu. tercipta ledakan di sana, dan semua menunggu dengan penasaran. Namun keterkejutan kembali menghampiri semua orang ketika melihat bahwa kenyataan pria itu masih baik-baik saja, sebuah tawa terdengar jelas dari pria itu... tawa keangkuhan.
Issei kembali mendecih tidak suka pada pria itu. namun tiba-tiba pemuda itu lansung dalan posisi bertahan ketika sebuah serangan diluncurkan padanya. Namun posisi itu tidak berlansung lama, karena untuk pertama kalinya sejak kejadian itu dia terhempas jatuh kebawah dengan kecepatan tinggin.
"ISSEEIII!"
Hampir semua teriakan mengemma, Issei memilih untuk kembali bangkit dan menatap tajam pria mengambang itu dari balik topengnya. Nafas berat terdengar dan keluar dari nya, suara mesin mekanik terdengar setiap sepuluh detik secara spontan. Issei, pemuda itu kembali mencoba terbang dengan sayap naganya. Dibantu dengan jet yang ada di kedua punggungnya yang mengakibatkan retakan kecil tanah di sekitarnya.
[Boost]
Dia kembali melesat keatas dengan kecepatan yang gila, terlihat bagaimana dia menghindari berbagai serangan sihir yang di luncurkan kearahnya. Tepat hampir di depan pria itu Issei kembali menyiapkan sebuah bogem mentah untuk sang Dewa. Sebuah senyum kemenangan tercetak di wajahnya ketika bagaimana dia bisa melihat sang Dewa yang belum siap untuk sebuah sihir pertahanan.
Bhuk—
Trangg..
Crasss..
Issei merasakan robek di bagian perutnya, perasaan terbuka disana. Rasa amis masuk kedalam kerongkongannya, begitu juga dengan pandangannya sekilas dia melihat cairan merah melayang di sana. Dan dibalik itu dia melihat siulet putih dengan cakarnya yang telah merobek armor merahnya.
Dia tau dia gegabah... harusnya dia sadar bawah bahwa srigala disamping pria itu dikatakan sanggup untuk membunuh Tuhan. Dan sekali lagi dia melesat jatuh kebawah, menimbulkan debu dan kawah kecil ketika dia terjatuh dengan armor yang telah hancur.
Loki... pria itu kembali menciptakan lingkaran sihir untuk membunuh pemuda itu. namun dengan cepat niat itu urung dilakukannya ketika dia melihat ratusan tombak cahaya melesat maju kearahnya. Tidak ketinggalan diam disana, sebuah sihir tua yang sangat dikenannya juga melesat kearahnya.
"Azazel dan Odin" Pria itu.. Loki menyeringai senang. "Combinasi yang bagus"
"Kau seharusnya sudah pingsan jika saja Fenrir tidak melindungimu"
Perkataan itu benar, Azazel benar. Jika tidak ada Fenrir yang melindunginya, Issei bisa saja memukul jatuh Loki saat itu juga. Kembali berdiri tangannya memengang luka robek menganga yang terasa nyeri. Nafasnya memburu berat, disertai erangan sakit... lukanya seperti racun yang menginfeksi.
Ashia datang padanya, gadis bersurai pirang itu mengadakan tangannya pada luka yang menganga. Cahaya hijau keluar dari tangan gadis itu dan lukanya perlahan menutup. Namun tidak untuk rasa sakit dan lelah akibat luka ini.
"Terima kasih Ashia" Issei tersenyum lembut menatap gadis itu, bisa dia melihat bagaimana wajah serius Ashia yang sedang mengobatinya tiba-tiba berganti cepat dengan wajah gugup dan malu.
Kembali, kembali dia melihat bukan hanya dirinya. Bochou dan Akeno mulai melancarkan berbagai serangan. Power of destruction dan halilintar suci menyerang bersamaan. Ditambah dengan ratusan tombak cahaya juga ikut menyonsong... semua kembali berusaha menyerang kecuali dewa ketua Odin yang memilih bersantai sambil meminum teh di sudut jalan dengan khitmat.
Menghindari ratusan serangan yang menghampirinya Loki mulai kewalahan, meski begitu walau dengan Fenrir sekalipun dia masih bisa terbunuh dengan ratusan serangan itu. kembali menganggkat tangannya dari bawah bayang sang dewa kejahilan muncul dan merambat ratusan bayangan yang tiba-tiba berbentuk seperti Naga dan tidak tanggung-tanggun puluhan Naga sekaligus.
"Tak kusangka kau memproduksi Midgardsormr secara masal" Azazel bercara dengan skartis ketika melihat puluhan Naga dihadapannya.
"Semua telah ku persiapkan termasuk dalam kemungkinan terburuk"
Dengan jentikan jari puluhan Naga itu mulai kembali menyerang, Azazel dan yang lainnya dipaksa untuk membuat sebuah sihir pertahan ketika puluhan Naga itu menyemburkan api dari mulut mereka.
Bukan hanya itu saja formasi mereka juga dikacaukan oleh Fenrir yang melesat kearah mereka. Nafas mereka memburu menandakan kelelahan yang amat. Seperti Kiba yang membuat ratusan pedang suci Iblis dan melesat kearah salah satu Naga tersebut. meski dengan kecepatan dewanya dan dicover oleh power of destruction Rias. Sang kesatria Gremory hanya mampu untuk memberika beberapa luka tak berarti.
Tidak sampai disitu gabungan petir dan halilintar suci dari duo anak bapak juga menunjukan taringnya. Meski terdapat keengganan dari Akeno akan kehadiran Baraqiel disampingnya, tapi dia tak bisa memungkiri kebutuhan akan kesadiran sang ayah membantu saat ini.
Sama juga dengan yang lain Xenovia mengayunkan Durandal keudara kosong yang mana seketika itu juga menghasilkan tebasan cahaya yang menuju salah satu Naga tersebut. walau meski begitu keadaan tak berubah, sihir pertahanan yang dibuat oleh Rossweisse tetap saja hampir jebol.
Dan ditengah kekacauan itu sesuatu muncul..
"Katsu!"
0o0o0
"Tuan, kau baik-baik saja?"
Naruto sedikit terdiam ketika mendengar suara tersebut, menoleh dengan jelas iris biru miliknya menangkap sosok gadis bersurai putih dengan iris riak air merah dengan sembilan tome di sana yang menatapnya khawatir.
"Aku baik-baik saja Shinju" Naruto berucap dengan nada setenang mungkin, pandangannya beralih dari gadis di depannya ketika dia menangkap raut tidak percayaan dari sosok ketidak terbatasan yang lain dihadapannya.
"Aku tidak percaya!"
Sunyi.
Naruto berusaha untuk tersenyum, dia sudah menduga bahwa ketidak terbatasan itu akan mengetahuinya. Naruto memang tidak bisa berbohong darinya, sekian lama hidup bersama. Gadis bersurai putih itu sudah bisa mendeteksi bahwa dia jujur atau bohong.
"Ceritakanlah" Naruto kembali terdiam untuk sesaat, bisa dia rasakan bahwa gadis itu mendekat kearahnya dan memeluknya dari depan. Mendekapnya dan meletakan kepalanya dalam dekapan tersebut. "Ceritakanlah semua Tuan"
Masih terdiam dalam momen tersebut, pemuda itu inggin membuka suara dan menyampaikan keluh kesahnya. Atas apa yang dia rasakan, rasa bersalah yang selalu menghantuinya, mengejarnya, dan rasa bersala yang selalu bisa menemukannya. Membuatnya lelah dan inggin sendiri... inggin membuka mulutnya berusaha menyampaikan. Namun, semua hanya niat karena semua peristiwa hanya di rongga dadanya.
"Kenapa kau selalu memanggilku Tuan?" Naruto mengigit kecil lidahnya ketika ucapan tersebut keluar. Membiarkan, dia bisa merasakan pelukan itu mengerat.
"Kenapa?" Shinju mengeratkan pelukannya, gadis yang melambangkan ketidak terbatasan itu memejamkan matanya semakin mengeratan pelukannya. Bisa dia rasakan bahwa Tuannya tidak melawan. "Kenapa Tuan kembali mengubah topik pembicaraan?"
Diam.
Hanya itu jawaban yang diterima gadis itu. Dia tidak mengerti kenapa sang Kehampaan selalu menyembunyikan setiap masalah yang dirasakannya. Dan juga suka mengalihkan topik pembicaraan, ketika dia berusaha mengungkit masalah itu, ketika dia juga inggin Tuannya berbagi dengannya. Dia hanya inggin mengurangi derita itu... mengurangi derita yang dialami pemuda tersebut.
"Aku ha—" Naruto bergarak dan mentap wajah gadis tersebut, namun apapun yang inggin diucapkannya harus ditelan kembali bulat-bulat ketika dia melihat kedua mata kehampaan itu mulai berkaca-kaca, air mata telah mengalir di sana.
"Kenapa Tuan selalu inggin berada didalam kesedihan yang tak ada akhirnya?"
Naruto hanya diam, tubuhnya menengang ketika mendengar kalimat tersebut. Dia hanya bisa diam membiarkan gadis di depannya melanjutkan perkataannya. Membiarkan gadis itu memakinya.
"Akankah semua baik-baik saja?" suara Shinju bergetar dan mengecil diujungnya. Air mata terus mengalir dari kedua matanya, namun seketika dia menoleh menghadap Naruto ketika dia merasakan tangan dingin itu tergerak menghapus kedua air matanya yang mengalir.
"Jangan kahwatir aku baik-baik sa—"
Plakkk.
Apapun yang inggin Naruto ucapkan sepertinya harus terpotong untuk kedua kalinya. Ketika gadis yang merupakan wajud dari ketidak terbatasan itu menamparnya keras. Naruto tidak marah dia tidak bisa marah pada gadis dihadapannya ini, karna itu dia hanya diam... dia tidak bisa marah. Karna kepedulian gadis itu padanya.
"Apanya yang baik-baik saja!" Shinju mengeraskan suaranya, kedua tangannya menguncang tubuh pemuda dihadapannya dengan keras. Namun itu hanya sesaat karena pada akhirnya dia hanya bisa kembali menangis melihat keadaan mahluk di depannya ini. "Aku adalah yang paling mengerti dirimu..."
"... Bahkan aku tau kebiasaanmu yang selalu menjawab dengan kepalsuan untuk mengalihkan mata orang..."
"... Bahkan jika aku tidak mengerti... aku akan menerobos untuk mengerti!"
Hening.
"Kenapa?" sekali lagi dia bertanya menumpahkan semua rasa sedihnya dalam pertanyaan ini. "Kenapa kau tidak pernah berubah? Selalu menyimpan penderitaan sendiri?"
Gadis itu kembali memeluk Naruto paksa dan membenamkan wajahnya di dada pemuda itu. dia menangis di sana, menangisi keadaan pemuda yang hanya berekspresi kosong setelah percakapan mereka.
Mereka kembali terdiam.
Naruto membiarkan Shinju memeluk erat tubuhnya, bakan juga membiarkan kesepuluh ekor milik gadis itu memeluknya erat. Dia hanya bisa diam, memilih diam untuk menjawab pertanyaan gadis itu.
Dia tak inggin berbagi, biarlah dia membawa rasa bersalah ini dalam tubuhnya. Tapi kenapa? Kenapa gadis di depannya ini yang merupakan perwujutan ketidak terbatasan yang lain begitu peduli?
"Kenapa kau begitu peduli?" setelah sekian lama akhirnya Naruto membuka suaranya. Dan dia bisa melihat Shinju menolehkan wajah padanya.
"T-Tuan.."
"Kenapa kau begitu peduli padaku?" Naruto membuka mulutnya, dan mengucapkan kata tersebut. bukan kata melainkan sebuah bisikan kecil... terlalu pelan.
"Karena..." gadis itu tersenyum, sebuah senyuman manis yang pernah pemuda itu lihat sejak pertemuan mereka. "Karena Tuan telah menyelamatkanku... ketika Duniaku hancur"
Perkataan itu kembali menusuk jiwa Naruto yang kosong, sesuatu kembali seperti mengisinya. Wajah gadis itu, wajah yang penuh kebahagiaan itu... mengingatkannya akan semuanya, mengingatkannya akan semua kenangannya... kenangannya di Kota Kuoh.. Kenangan dengan mereka semua.
"Aku hanya inggin pulang" Naruto berucap dengan sebuah senyuman getir diwajahnya. dia sadar bahwa dia hanya inggin pulang ketempat teman-temannya saat ini. Ketampat yang pernah mengisi wadah kosong ini. Namun...
Apakah dia bisa pulang? Apakah dia bisa pulang setelah melakukan semua ini. Apakah Yui akan memaafkannya? Dan bisakah. Bisakah dia diterima kembali setelah kepergian sepihak darinya? Dan setelah kedatangannya apakah yang akan terjadi? Apakah semua orang akan mempertanyakannya? Apakah semua orang akan membencinya? Akankah mereka mengangap itu tidak pernah terjadi? Berpura-pura semua hanya ilusi yang tidak pernah terjadi setelah kedatangannya...
Dan yang terpenting..
Apakah Rias membencinya?
"Aku inggin pulang" ucapan itu kembali keluar dari mulut Naruto, senyuman getir itu berganti menjadi raut penyesalan. Setelah dia sadar bahwa.
Dia tidak bisa lagi membuka pintu dengan kunci yang telah dia patahkan.
"Pulanglah.." Shinju berucap pelan, meski begitu nada bahagia tidak bisa disembunyikan dari ucapannya.. "... kau selalu bisa pulang Tuanku"
"Benarkah?" Naruto membalas dengan cepat pernyataan itu. Dia merasa bahagia... "Benarkah Shinju?" dia bertanya sekali lagi, inggin mendengar sekali lagi ucapan itu.
Menatap wajah Naruto gadis memiringkan sedikit kepalanya dan tersenyum di sana. "Benar..."
"... Kau selalu bisa pulang Tuanku"
Ark berkumpul disekitar mereka, tubuh Naruto mulai melayang dan perlahan meninggalkannya. Shinju menatap semua itu dalam pandangannya bagaimana pemuda itu mulai kembali meninggalkannya dalam kesendirian... sedikit penyesalan dirasakannya ketika itu. namun...
Grep.
Namun dia terkejut ketika pemuda itu mengenggam tangannya. "Terima kasih" kata-kata itu tulus, nada yang teramat tulus disana. "Ikutlah denganku, nikmatila dunia barumu" dengan perlahan tubuh Shinju ditarik oleh tangan pucat itu.
Dan dengan cahaya ark yang berkumpul. Naruto dan Shinju perlahan mulai menghilang meninggalka dimensi kosong itu.
Namun sebelum benar-benar menghilang, sekilas dia sempat melihat. Ark juga berkumpul didekat mayat Sâra, muncul kekhawatiran dalam dirinya ketika dia melihat mayat tersebut mulai memudar. Namun sesuatu yang membuatnya terkejut akan dunia ini adalah... roh Sâra yang hadir dalam kumpulan Ark dan melambaikan tangannya.
Shinju kembali tersenyum dan memilih menutup matanya menikmati semua ini 'Terimakasih kepadamu Ingenious karena telah membiarkanku tetap hidup di Dunia Ambassador. Dan terma kasih Sâra telah mengisi hati Tuanku ini, dan terima kasih kepadamu gadis berambut merah yang telah mengantikan peran Sâra dalam mengisi hati sang Kehampaan'
Dan dalam ribuan tahun dalam hidupnya Shinju tidak pernah bisa sesenang ini.
'Terimakasih'
0o0o0
"Katsu!"
Suara ledakan menggema di area pertempuran, ratusan ledakan meledak disekitar puluhan Naga yang membuat kedua belah pihak kaget. Dan dari gelapnya lagit Selatan, tiga siulet seperti burung muncul. Tiga burung dengan tiga orang pria diatasnya.
Para Naga berusaha menembakan bola api pada tiga pendatang baru tersebut. api menuju mereka namun salah seorang diantara mereka melompat tinggi dan menyemburkan air dengan intensitas yang juga sama tingginya.
"Hedeh~ tak kusangka kalian juga akan datang.." Azazel berucap dengan nada biasa ketika melihat kedatangan tiga pria berjubah awan merah itu. Dan lain Azazel lain pula cara Rias menatap tiga orang itu... khususnya pakaian yang mereka kenakan. "Mereka dari kelompok orang yang menyelamatkan Issei.." Azazel menjawab keheranan Rias dan kelompoknya.
"Tentu saja Un~" seorang Pria dengan surai blonde menjawab dengan nada skartis disana. "Kami sudah diberi tugas untuk membantu Dunia ini dari Ingenious"
Azazel hanya mengangkat bahunya mendengar itu. "Padahal kalian bukan dari Dunia ini bukan?"
"Nah kau tau itu" seorang pria dengan kulit biru menyeringai mendapati jawaban sang Gubernur. "Sepertinya kau terlalu banyak tau"
Semua hanya diam tidak ada yang menjawab ketika terjadi percakapan singkat itu. mereka sama sekali tidak tau apa-apa tentang tiga pria yang baru datang ini, ditambah dengan serangan mendadak dari lima belas Naga membuat mereka lansung dalam posisi bertahan. Bisa dilihat bagaimana pria berkulit biru itu maju melawan Fenrir dengan sebuah pedang ditangannya.
Kisame vs Fenrir
Dengan sekali hentakan Kisame melesat menuju Fenrir yang mengarah pada kelompok pengawal Odin. Tetap berlari menuju Srigala tersebut, dengan cekatan tangannya meraih ganggang pedang yang terletak tepat dibalik punggungnya. Suara lilitan kain terdengar seiring dia menarik pedang tersebut.
Syuuut...
Hampir saja sebuah cakaran membunuhnya. Dalam pandangnya dia bisa melihat tatapan intimidasi Srigala terhadapnya. Namun tidak seperti mahluk Dunia ini yang akan gentar melihat tatapan tersebut, Manusia yang dijuluki Bijuu tanpa ekor ini malah tersenyum seram.
"Luar biasa!" Kisame melesatan sayatan Samehada menuju Fenrir yang gagal mengenai Srigala yang telah cepat menghilang. Namun tidak membutuhkan waktu lama dia kembali dipaksa dalam posisi defensif ketika merasakan sebuah cakaran menuju kearahnya. "Tatapanmu dan kecepatanmu memang mengangumkan, tapi..."
"... di Dunia asalku ada yang bahkan lebih cepat dan mengerikan darimu Anjing kampung!"
Ujung Pedang Samehada terbuka menampilkan sebuah mulut yang siap menerkam Fenrir. Dan sebuah senyum kemenangan tercipta di wajah Kisame ketika melihat bagaimana kaki sang Srigala terjerat disana. Namun senyuman itu dipaksa untuk menghilang ketika yang terjerat hanyalah bulunya saja.
"Sial!"
Deidara + Baraqiel + Akeno vs Naga produksi masal
Beralih pada Deidara dan duo anak bapak... sepertinya tiga orang tersebut sedang dalam posisi yang tidak menguntungkan, delapan Naga yang mereka hadapi sudah terlalu sulit. Apalagi dengan Akeno dan Baraqiel yang tak bisa kompak membuat Deidara semakin sters dalam menunjukan seninya.
"Bisakah kalian berdamai Un~? kalian anak bapak bukan!?" Derdara melirik tajam pada dua anak bapak itu yang masih bertengkar dan tak mendengarnya.
"Menjauh dariku!" Akeno menatap tajam Baraqiel, dengan melipat tangannya dia kembali membuka suara. "Aku tak butuh penjelasan dari orang sepertimu!"
Ctarrr...
Suara kilat menggema selaras dengan tangan Akeno yang mengarah pada sebuah Naga yang mendekat padanya.
"Bagaimanapun kau tak boleh dekat-dekat dengan Naga merah itu" Baraqiel tak mau kalah. "Jika masih bersikeras maka akan aku hanguskan dia"
Jdarrr...
Sebuah petir menyambar kembali berbunyi menyambar seekor naga yang berusaha mendekat kearah mereka.
"OI kalian sudahlah" Deidara sedikit sweatdrop melihat hal tersebut. namun yang terpenting saat ini jumlah Naga yang mendekati mereka semakin banyak. Dan ini tidak bagus.
"Apa hak mu ini hidupku!" Akeno melipat kedua tangannya di depan dadanya, matanya masih menatap tak suka. "Jangan pernah campuri urusanku!"
Ctarrr...
Sekali lagi dua Naga yang menyerang mereka terkena kilat emas yang berasal dari sihir Akeno.
"Aku peduli karna aku Ayahmu! Dia Naga pemakan payudara!" Suara Baraqiel makin mengeras diakhir. Melihat dua Naga di belakang putrinya dengan sigap kedua tangannya menciptakan sebuah halilintar suci.
"Peduli? Ayah katamu!?" Akeno semakin mengeraskan suaranya di sana, suara bergetar di akhir. Tatapannya hanya tertuju pada satu orang... hanya pada satu orang. "Diama kau saat kami membutuhkan bantuanmu! Dimana kau saat orang-orang itu membunuh Kaa-sama!? Katakan padaku dimana kau!?"
Baraqiel terdiam. Memberikan kediamannya sebagai jawaban barusan, kepakan sayapnya lemah kehilangan tenanga... entah kenapa ucapan yang dilontarkan putri satu-satunya itu terasa menohok sukmanya.. dia berusaha memberika opininya namun entah apa yang inggin diucapkan sepertinya harus kembali ditelan bulat-bulat ketika melihat raut wajah Akeno...
Akeno... anaknya.. menangis.
"Katakan padaku..." Akeno berucap, bahkan itu seperti bisikan yang hanya dapat didengar sang ayah. "Katakan padaku... dimana kau saat mereka membunuh Kaa-sama?..."
"Dimana kau saat aku sendiri?"
Mendengar itu, apapun yang inggin diucapkan Baraqiel... dia tidak bisa mengeluarkannya. Istrinya meninggal, putrinya sendiri dan mengalami masa-masa yang sulit... keluarganya hancur. Dan itu karena satu hal.
Karena dirinya yang begitu lemah, tak mampu melindungi semua.
Issei vs Loki
Issei meliuk-liuk dengan indah diantara para Naga. Tujuannya hanya satu pergi menuju Loki yang sedang memproduksi Naga sebanyak yang dia mau. Suara mesin mekanik terus menggema secara spontan setiap sepuluh detik, sesatu yang membuat kekuatan, kecepatan, dan pertahanannya meningkat dua kali lipat setiap sepuluh detik.
Sebuah dragon shot ditembakkan kearah Loki yang sukses menghentikan pembuatan Naga masal tersebut. Perhatian sang Dewa tertuju padanya, dan seperti selanjutnya ratusan sihir Norse menuju kearahnya.
Issei melesat dengan kecepatan miliknya kearah Loki sekali lagi, beberapa serangan berhasil dihindarinya namun ada pula yang mengenainya. Dan tepat didepan sang Dewa sebuah tinjuan dilayangkan.
Terjadi gelombang kejut terjadi seketika ketika pukulan itu berhasil mengenai wajah Loki dan memaksa pria itu terjatuh seperti meteor menghantam bumi. Kawah kecil tercipta disana, namun itu bukan sesuatu yang dapat membunuh sang Dewa.
Tidak sampai disitu saja, Issei kembali melesat dengan cepat menuju bawah... semakin lama semua semakin dilipatkan ketika suara mekanik itu menggema, di tengah pertarungan mereka. Kabut menipis dan sebentar lagi dia mencapai bawah. Sebuah pukulan dengan kelipatan kekuatan siap dilayangkan.
[Explosion]
Suara itu menggema ketika masih dalam kabut yang melambung, Issei melayangkan sebuah pukulan. "Hyaaaa!" bisa dia menatap bagaimana Loki yang terkejut dan dengan cepat membuat ratusan sihir pertahanan Norse.
"Rasakan ini bangsat!"
Krakk!
Suara bagaikan kaca pecah terdengar ketika pukulan Issei menembus semua sihir pertahanan Loki dan memukul Pria itu tepat di wajahnya. Terjadi gelombang kejut yang kuat tercipta ketika armor merah itu berhasil mementalkan sang Dewa jauh hingga menabrak dinding bagunan yang ada.
Nafasnya memburu tenanganya merasa hilang setelah dia menyalurkan semua pengandaannya melalui pukulan telak tadi. Sekarang dia merasa yakin bahwa setidaknya Loki saat ini sudah mati... atau paling tidak dia sudah kalah. Melirik sekitarnya dia bisa melihat ratusan Naga yang masih bertarung dengan teman-temannya.
Dia kehilangan tenaga... namun secara perlahan kekuatannya kembali terkumpul setiap sepuluh detik. Suara mekanik kembali menggema pertanda kekuatannya yang mulai terkumpul secara otomatis... dia memang tidak akan pernah kehabisa tenaga... tapi tidak untuk tubuhnya yang semakin lelah.
Bersiap untuk pergi. Tapi sebuah serangan peringatan memaksanya untuk tinggal. Berbalik arah pupil matanya melebar untuk sesaat ketika dia masih bisa melihat sang Dewa berdiri... meski penampilannya tidak seperti tapi... namun tatapan mata itu menunjukan bahwa Dewa dari mitologi Norse itu sedang serius saat ini.
"INI YANG AKU TUNGGU!" Loki berkata dengan darah yang mengalir dari mulutnya. "HIBUR AKU SEKIRYUUTEI!"
"BERI AKU KEPUASAN!"
Setetes keringat jatuh di pelipis Issei, dengan langkah yang sedikit mundur... remaja itu menolak dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Maaf aku tidak homo"
Eh?
Itachi + Azazel + Rosswiessie vs Naga produksi masal
Itachi berlari menuju ratusan Naga yang mengamuk dengan gaya lari khas Shinobi pada umumnya. Di atasnya sudah terbang Gubernur Malaikat jatuh Azazel yang sedang bersiul-siul santai... dia santai seperti biasa.
Dan tepat di sampingnya pengawal Dewa ketua Odin, Rosswiesse berlari megimbanginya. Amukan para Naga itu berhenti, sepertinya mereka menyadari kehadiran Itachi dan yang lain.
"Aku inggin cepat pulang!" Azazel berucap keras dengan puluhan tombak cahaya yang melesat kearah Naga yang merayap menuju mereka. Tombak cahaya itu sukses menembus semua tubuh Naga itu... tapi bukti bahwa banyaknya Naga yang mereka lawan membuat serangan tadi tidak terlalu berarti.
"Hyaaa!" ratusan lingkaran sihir Norse tercipta di udara kosong. Rosswiesse gadis itu melesatkan berbagai sihir yang dikuasainya secara bersamaan... itachi sempat terdiam, itu sihir yang mengangumkan.
Melihat mereka yang sudah menyerang Itachi masih memilih berlari dan memilih lebih mendekati ratusan Naga yang sedang aut-autan menangani serangan dari Azazel dan Rosswiesse. Melompat dengan cepat tangannya membentuk beberapa hand seal, matanya berputar cepat menjadi Mangekyou Sharingan dan kemudian berdarah... "Ameterasu"
Semburan api hitam menjalar bagai lautan dan memangsa apapun yang dilewatinya. Api hitam menjulang dimalan itu membakar paksa para Naga dalam auman kesakitan. Mata Itachi masih seperti biasa sejak Jutsu ini dikeluarkan... mata mengnangis darah.
Serangan masih berlanju dan yang diperlukannya hanyalah menjaga konsentrasi mata ini, agar api miliknya tak padam atau merayap ketempat yang tak diinginkan... dan mengenai kelompoknya.
Ini melelahkan... namun ini cara tercepat agak semua Naga itu musnah.
0o0o0
Ratusan Ark masih berkumpul didekat makam Sâra. Sedangkan gadis itu terus melambaikan tangannya seraya tersenyum.. iris matanya terus menatap sisa serpihan Ark yang mengantar Narutonya kedunia luar. Senyuman yang terukir di wajahnya nyata dan tulus, dia peduli pada pemuda itu dan dia tak inggin Narutonya terlalu bersedih akan kehilangannya.
Walau sangat disayangkan dia tak akan bisa selalu bersama karna jarak yang telah membentang diantara mereka.
Tiba-tiba dimensi kosong tak terbatas tersebut, terjadi distiosasi. Sebuah gumpalan awan aneh muncul entah dari mana. Awan mendung yang awalnya tenang secara perlahan namun pasti berubah menyerupai sebuah corong, dan didalam sana dengan jelas Sâra dapat melihat ratusan roh yang melayang bebas tanpa beban.
Para Ark kembali berkumpul disekitarnya berusaha untuk mengakat rohnya menuju corong awan tersebut. dia pernah mendengar Naruto mengucapkan ini padanya, pada saat kau mati maka para Ark akan membimbing rohmu menuju suatu tempat yang disebut jembatan Arwah.
Dan atas satu Alasan Sâra tau corong awan tersebut adalah jembata Arwah termpat bersemayamnya para Roh untuk sementara. Namun ketika dia hampir menuju tempat tersebut, Sâra memilih untuk berhenti. Tersenyum dia kemudian menjahui jembatan Arwah dan memilih meninggalkannya berserta semua Ark yang mengikutinya.
"Aku akan tetap di Dunia ini hingga..." gadis itu berguman sendiri, namun sepertinya para Ark meresponnya. "...aku bisa bersama kembali denganmu"
"Naruto"
0o0o0
Xenovia + Rias + Ashia vs Naga produksi masal
Saling serang antar kelompok perngawal Odin melawan Loki dan ratusan Naganya masih berlansung. Dengan sekali tebasan, sebuah bilah cahaya suci tercipta dan segera menuju dua ekor Naga malang yang segera membunuh mereka. Mengambil nafas berat dengan paksa, Xenovia tau itu bukan serangan terbaiknya. Tapi bagaimanapun dia harus tetap menjaga daya serangan dan jika terlalu berlebihan itu bisa melukai temannya sendiri.
Disisi lain, Rias terlihat kesusahan melenyapkan ratusan Naga dengan power of destruction miliknya... meski memang bisa melenyapkan apa saja yang dilalui bola hitam kemerahan tersebut. namun tetap saja sedikit menyusahkan memusnakan ratusan Naga yang ada.
Kisame + Kiba vs Fenrir
Kisame hampir menemui ajalnya beberapa kali, andaikata seorang remaja bersurai pirang tidak menolongnya sejak tadi. Sedikit tidak terima seperinya Kisame harus mengakui kemampuan remaja pirang itu berada diatas dirinya. Apa lagi dengan kemampuan membuat berbagai pedang... sumpah buat iri saja.
Meski begitu, meski mereka berduet pedang untuk mengalahkan srigala di depannya... nyatanya level mereka berada jauh dari srigala yang dikatakan sanggup untuk membunuh Tuhan itu. kecepatan srigala itu berada dilevel yang amat jauh dari mereka berdua.
"Bocah keluarkan pedang yang mengandung element petir" Kisama berucap seraya membuat bebera hand seal.
Kiba hanya mengangguk kemudian membuat pedang suci iblisnya. Dan kembali dari ketiadaan tercipta sebuah pedang long sword dengan kilatan petir disana.
"Bersiaplah!" Kisame berucap tak jelas dengan mulut mengembung. "Suiton : Mizurappa" sebuah gelombang air melesat cepat kearah Fenrir. Dan mengerti maksud tersebut Kiba menyentuhkan pedang petirnya pada tembakkan jet air tersebut.
Sebuah serangan air beralirkan petir mengarah pada srigala tersebut. sebuah meriam air yang amat cepat menuju kearah Fenrir, namun semua tidak seperti perkiraan. Meriam air itu terlalu lambat bagi sang Srigala, kekecewaan tampak menghampiri Kiba.
Namun sebuah kejadian membuatnya kembali terkejut lebih tepatnya terkagum dan segera melakukan hal yang sama. Kisame secara kilat muncul dihadapan Fenrir yang lengah diikuti Kiba.
Mereka berdua melesat menuju kearah Fenrir yang sepertinya sedang mengambang sesudah menghindar.
Crasss..
Sebuah seringai tercetak di wajah Kisame ketika Samehadanya sukses mengiris perut Fenrir, begitu juga dengan Kiba yang sukses memotong telinga sang Srigala.
"Akhirnya.." ucap Kisame mengelap peluhnya dan menatap sebuah luka goresan dari pertarungan mereka. "Akkkrrr!"
"Kisame-san!" Kiba berteriak lantang ketika dia mendengar jeritan itu... tatapannya tidak percaya ketika dia melihat bagaimana Fenrir dengan gerakan tak terlihat telah menancapkan taringnya di perut pria mirip hiu tersebut.
"Hyeaa!" dengan cepat Kiba menancapkan pedangnya ketanah... dan tidak berselang lama ratusan pedang mencuat dari dalam tanah... dan memaksa Fenrir untuk mundur sesaat. "Kisame-san!" Kiba berlari mendekati pria itu... dan dalam lindungan pedangnya dia berlutut dihadapan pria itu.
Ini situasi yang buruk.
Issei vs Loki [bagian 2]
Issei masih berdiri bersiap menunggu serangan yang akan dilancarkan Loki. Secara otomatis suara mekanik tetap menggema diantara kesunyian mereka setiap sepuluh detik berbalu. Masih memperhatikan pria tersebut. tiba-tiba di kedua sisi Loki terdistrosi. Di sana tercipta robekan dimensi... susuatu muncul.
Bulu abu-abu. Cakar tajam. Mata tanpa emosi. Dan mulut yang terbuka sangat lebar.
"Sköll! Hati!" kedua mahluk itu meraung keras keangkasa, merespon panggilan Loki pada dua Srigala itu. Melihat respon yang pasif dari Issei, Loki membuka suara.
"Aku mengubah seorang wanita Jötunn (Raksasa) yang tinggal di Járnviõr (Hutan yang terletak di timur Midgard) menjadi seekor Serigala dan membuat dia beranak dengan Fenrir. Sebagai hasilnya mereka berdua terlahir. Secara logika kemampuan tempur mereka mungkin lebih rendah dari Fenrir, tetapi taring mereka bukan main main... Mereka bisa dengan muda mumbunuhmu Sekiryuutei!"
Issei bersiap menghadapi kemungkinan terburuk...
"Maju! Sköll, Hati!" sebuah perintah keluar dari mulut sang Dewa. "Bunuh dia!"
Kedua Srigala itu mengaum kelangit ketika menerima perintah tersebut. Dengan gerakan yang tak dapat diikuti mata biasa kedua Sirgala itu sudah sampai di samping Issei dan siap mencakar sang Sekiryuutei.
Tapi dengan sebuah reflek yang teramat main Issei berhasil menghindar dengan melakukan sebuah lompatan kesamping. Tidak menyiakan sedikitpun momen yang dimilikinya, dengan sigap tangannya merentang dan menembakan lima dragon shot secara serentak.
Duar..
Percuma! Semua serangannya berhasil dihindari oleh kedua Srigala itu... ini buruk. Melawan Loki saja sudah membuatnya terpojok, apa lagi dengan menghadapi kedua Srigala ini... situasi semakin buruk dari waktu kewaktu.
[Boost]
Suara itu menggema lagi, membuat pertahanan, kecepatan dan daya serang Issei meningkat dua kali liptat. Sekali lagi pemuda itu berusaha memisahkan kedua Srigala tersebut, namun sepertinya itu sia-sia.
Sempat melirik kearah Loki... apakah Dewa singting itu juga ikut menyerangnya... ternyata tida pria itu memilih duduk sambil melihatnya bertarung... setidaknya itu bagus.
Issei masih berusaha menghindar dari cakaran kedua Srigala tersebut... selagi menghindar dia berusaha mengandakan kekuatannya setinggi mungkin.. bagaimanapun cakar kedua anak Fenrir itu tidak main-main, dan yang bisa diandalkannya saat ini hanyalah sebuah serangan dengan satu kali pakai... yaitu ketika Explosion.
[Boost]
Kembali suara mekanik itu menggema... dia masih menghindar, Issei masih berusaha untuk lebih mengandakan kekuatannya... hanya merasa belum cukup dengan yang ada saat ini. Namun detik berikutnya dengan bantuan Boots di belakang punggungnya Issei melesat capat menuju satu dari dua Srigala itu.
Explosion!
Suara itu menggema ketika Issei menyalurkan semua penggandaannya kepada seekor dari dua Srigala di depannya. Dengan gerakan kilat sebuah tinjuan tepat menghantam rahang sang Srigala melemparkan Srigala tersebut menuju Loki...
Namun sepertinya Issei harus membayar dengan harga mahal ketika Hati berhasil merobek kembali perutnya... darah kembali memuncrat keluar dan rasa amis kembali memasuki mulutnya.
"Sköll!" teriak Loki ketika mendapati satu dari dua Srigala miliknya tumbang di depannya dengan mulut menganga... rahang Srigala tersebut patah. "Brengsek kau Naga sialan!"
[Boots]
Melompat mudur kebelakang, Issei menatap Hati dengan penuh kewaspadaan. Armonya sudah beregenerasi kembali, namun tidak dengan lukanya yang robek tidak akan sembuh secepat pemulihan armornya.
Nafasnya kian memburu ditengah kesadaran yang mencapai batasnya... dia kehilangan banyak darah. Dan sialnya keadaan semakin memburuk dengan datanganya Loki dengan penuh amarah. Sang Dewa terlihat menembakan sebuah sihir padanya... ini serangan telak yang tak akan sempat terhindari.
'Sial!'
Namun sebelum mengumpat lebih banyak sebuah sensasi aneh kembali dirasakannya. Dia pernah merasakan sensasi ini... sensasi dimana ketika udara disekitarnya dipaksa untuk berada di bawah titik terendah.
'Mustahil ini dunia Manusia!' batin Issei berteriak ketika dia melihat aspal yang dipijaknya membeku terlapisi es tipis... kaca-kaca disekitar beku bahkan ada yang retak dan pecah.
Dan tepat didepannya muncul sesuatu yang tak terduga... sesosok gadis bersurai putih dengan sepuluh ekor dengan mudahnya menepis serangan Loki.
0o0o0
Odin menautkan alisnya ketika dia merasakan sensasi dingin yang datang tiba-tiba. Teh dalam gelasnya seketika membeku dengan cepat, tidak sampai disitu saja bahkan gelas yang penampungnyapun retak sebelum akhirnya pecah berkeping-keping.
Melirik sekitar bisa dia lihat bahwa semua telah membeku... dan satu kata tercetak di benaknya saat itu...
Malaikat Hitam.
Apa pertemuan malam ini akan batal?
0o0o0
"Kiba!" Rias berteriak panik ketika melihat salah satu budaknya melompat mundur dengan sesosok Pria dari kelompok The Nine Unknown Man yang telah tewas. Dan tepat di depan mereka mimpi buruk telah menunggu.
Fanrir... walaupun Srigala tersebut terluka, itu tidak akan berpengaruh apa-apa bagi pergerakannya... dia berada dilevel yang berbeda dan itu bisa dirasakan. Terburuk dari yang terburuk, dengan taring yang dikatakan dapat membunuh Tuhan Srigala itu mengeram rendah.
"Para Naga sudah tewas hanya tinggal dibagian Utara yang masih bersisa, namun tenang disitu ada Akeno, Baraqiel dan anggota The Nine Unknown Man..." Azazel datang tepat disamping Kiba dan melihat pria yang bernama Kisame itu dengan tatapan suram. "... dia sudah mati.."
"Yang terpenting Fenrir" sambungnya seraya menatap tajam Srigala tersebut. "Ini sulit bahkan bagi kita semua.."
Semua masih terdiam, masing-masing menunggu untuk gerakan pertama. Azazel dan Rosswiesse sudah siap dengan tombak cahaya dan sihir masing-masing. Disamping itu Kiba dan Xenoviapun sudah siap, sedangakn Rias berdiri disamping Ashia dengan power of destruction miliknya.
Mereka serius sekaligus tengang... di depan mereka Fenrir masih berdiam dengan geraman rendahnya yang memecah sunyi. Masing-masing pandangan fokus, bahkan terhadap gerakan sekecil apapun.
Sunyi.
Terjadi momen sesaat dimana Fenrir menggerakan kakinya senak sebelum kembali ke posisi awal. Masih diam, namun tiba-tiba Azazel merasakan sensasi aneh.. dia lupa dimana dia merasakan sensasi ini namun instingnya berteriak ini tidak bagus.
Secara cepat jalanan yang mereka pijak membeku merambat melewati mereka, kaca-kaca disekitar mereka juga membeku bahkan ada yang retak dan pecah... 'Dingin...' batinnya berkata ketika melihat daun-daun yang berterbanganpun membeku dengan cepat.
'Tanaman layu dan mati...' dia terkejut, namun ketika kembali melihat kedepan dia melihat ekspresi Fenrir... Srigala itu menampakan ekspresi penuh amarah dan dendam.
Syuuuttt...
Dengan kecepatan diluar akal sehat Srigala itu melesat, dia dan Rosswiesse bersiap namun hal diluar perkiraan terjadi. Srigala itu melewati mereka, gerakan itu cepat bahkan terlalu cepat hingga tak dapat diikuti mata mereka. Mereka diam membeku... sebeku cuaca saat ini.
"Kyaaa!"
Dengan cepat Kiba, Azazel, dan Rosswiesse menoleh menuju sumber suara.
"Astaga!" perkataan Kiba telah mewakili keterkejutan ketikanya.
Di sana... Fenrir terlihat mencakar sesuatu, dengan mata kepalanya sendiri Azazel melihat bahwa tepat di depan Fenrir berdiri Rias yang mematung dengan ekspresi takut yang amat sangat disana... namun yang membuatnya lebih shok adalah apa yang berada dibelakang Rias.
Bulu hitam yang berjatuhan, kedua enam pasang sayap hitam sejati. Halo hitam yang tidak bersinar melainkan berasap bagaikan balok es di udara bebas. Surai putih jabrik dengan dua iris mata yang bebeda.
Dia memeluk Rias dari belakang dengan tangan kirinya yang menahan cakaran Fenrir... dia!
Sesi tanya jawab:
Uzumakiseptian : yah narutonya kemana? , trus lanjut. . .
Answer : Narutonya ngak kemana-mana kok.
Guest : Mau nanya, kapan naruto kembali...? Ok lanjuut...!
Answer : Coba baca chap ini pasti kamu tau.. ^^.
: Semoga ch:14 lebih seru, apakah akatsuki baik? Dan dimana Naruto?
Answer : Lebih seru? Ahhh... saya ngak bisa menjamin, itu tergantung kamu juga. Soal Akatsuki mereka baik kok di sini. Dan Naruto dia sedang galau di Dimensi kosong miliknya.
Guest : Loki datang apa naruto juga datang?
Answer : Naruto datang kok ^^.
Kaito yama-kaze : yagami-san kirain Cuma saya aja yang suka maen Game On Dragonest :V satu pertanyaan apakah sara nanti bakalan hidup lagi?
Answer : Saya juga suka main Game On... dan Soal Sara maaf saya belum bisa memberitaukan jawabannya... soalnya Sara akan berperan penting diakhir cerita ini.
Tanpa nama : Hmm ada yang mau saya tanyaain ini soal kekuatan baru Naruto yang udah terungkap yaitu miracle relic. Begini jika relic itu mampu menghintikan great war.. berarti naruto udah sekelas godlike kan... nanti siapa yang akan jadi musuh utama naruto? Secara yang saya rasa godlike di hs dxd Cuma great red ophis dan samael... dan di tunggu lanjutan ficnya
Answer : Musuh utama Naruto maaf bukan Great Red, Ophis, maupun Samael... musuh utama Naruto udah saya pikirkan jauh sebelum chap penyelamatan Asia... dan saya jamin musuh utama ini sangat KUAT! Hmm... saya tidak bisa kasih tau dia siapa... namun akan saya beri tau julukannya... dia dijuluki Cahaya Utara.
: Versi Malakat itu kok mirip skill di Game Dragon Nest ya?
Answer : Memang dari situ saya ambil ^^.
Tuxedo Hitam : Bro bsa gak naruto brubah jdi cahaya, jdy saat ia dserang ia bakal tembus,.? Atau narutonya d munculin agak banyak tiap chap,..
Answer : Maaf sebelumnya soal kemampuan yang kamu sebutkan tidak bisa saya masukan... soalnya itu kekuatan udah ada yang punya :D... dan saya rasa bagian Naruto dichap ini udah lumayan banyak.
Vin'DieseL D'.Newgates : DEWA dan MALAIKAT kedudukannya tinggian mana ya?. . .bingung
Answer : Sama saya juga bingung... tapi secara real lebih tinggi Dewa deh kayaknya.
Loger : jadi sebenarnya Naruto itu apa?
Answer : Naruto itu... bukankah udah dijelaskan dichap sebelumnya bahwa dia itu wakil Tuhan atas Dunia ini... dia akan mengawasi Dunia sampai hari penghakiman tiba.
A/N 2 : Ahhhhh~ sepertinya Readers udah pada tau bukan siapa Nama asli Naruto? Dan sepertinya sedikit misteri udah terbuka dengan sendirinya... namun masih belum semua. Satu misteri terbuka maka ratusan misteri lainnya akan segera datang.
Dan ini sudah 5k (tidak tambah AN dan sesi tanya jawab) sebuah batasan bagi saya saat ini.. maaf namun untuk kedepan akan saya tingkatkan secara perlahan.
Huh! Saya harap kalian puas dengan chpa kali ini... dan jika ini serasa kecepatan maka chap depan akan ada sedikit flash back apa yang dilakukan Naruto setelah keluar dimensi kosong.
Dan satu fakta yang bisa saya ungkapkan untuk membantu kalian. Bahwa di Dunia ini kita tidak hidup sendiri, masih ada Dunia lain (Bukan dimensi) yang tersembunyi diluas dan gelapnya Alam semesta.
Saya tidak tau akan reaksi Readers terhadap chap kali ini... namun semua reaksi kalian akan saya tunggu dikotak reviewnya...
Selamat menjalankan Ibadah puasa bagi yang beragama Muslim ^^.
Sampai jumpa
Drak Yagami out~
