Uchiha Sasuke27 tahun, tampan, pengacara terkenal, temperamen, perfeksionis. Haruno Sakura17 tahun,kabur dari panti asuhan, polos, spontan, tidak peka. Ada yang bisa membayangkan apa jadinya jika mereka berdua berinteraksi?

.

.

.

.

NAIVE

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma minjam tokoh-tokohnya aja

Story by Morena L

Warning: AU, OOC, typo, terinspirasi dari Ingenuo, dldr

.

.

.

.

.

"Paman."

"Hn?"

"Terima kasih."

Sasuke tak menjawab. Mereka berdua sama-sama menatap langit musim panas. Bintang yang berhamburan di atas sana seperti layar raksasa yang menampilkan tontonan menarik, seolah hanya mereka berdua yang menikmati pemandangan tersebut di dalam semesta. Tak terasa sudah tiga bulan berlalu sejak pertemuan pertama mereka dulu. Tiga bulan yang mengubah segalanya. Langit Juli pun tahu kalau akan terjadi sesuatu di antara mereka. Sebuah ikatan telah diam-diam terajut.

Sasuke menoleh saat tak lagi mendengar suara gadis itu. Isak tangisnya sudah berganti menjadi gerakan napas yang teratur. Matanya yang mengalirkan bulir air mata sudah tertutup rapat. Wajahnya yang menampilkan ekspresi sedih sudah menjadi lebih tenang. Sasuke menggenggam tangan Sakura yang diletakan di atas dadanya. Perlahan, dia mengecup kening Sakura.

"Hhhhh ... gawat."

Ambil atau tinggalkan.

Kalimat pilihan dari Naruto kembali terngiang. Mungkin sekaranglah saatnya menentukan pilihan. Menjadikan gadis itu miliknya atau meninggalkannya. Sepertinya Sasuke sudah tahu jawabannya. Hatinya sudah mantap sekarang.

oOo

Setelah lewat tengah malam barulah Sasuke membawa gadis itu ke dalam rumah. Dengan hati-hati, dia mengangkat tubuh Sakura. Gadis itu tak sekurus dulu. Saat Sasuke menemukannya, dia hampir sama kurusnya dengan ranting pohon. Akan tetapi, waktu membuat banyak perubahaan. Tubuh Sakura mulai terbentuk. Hampir setiap hari dia melihat gadis itu dan mengamati perubahan yang terjadi. Beberapa lekukan tak lazim yang tertangkap matanya mulai membuatnya curiga. Semakin lama perkembangan gadis itu menjadi objek baru pengamatannya, sampai akhirnya dia sampai pada kesimpulan kalau Haruno Sakura bukanlah anak laki-laki. Perubahan yang dirasakan saraf-saraf tangannya ketika menggendong gadis itu seperti menjadi bukti. Tak perlu menyinggung soal kejadian di ruang ganti. Sasuke sama sekali tak percaya kalau dia sudah sedikit lebih jauh menyentuh Sakura pada saat itu.

Dan anehnya, dia sama sekali tak menyesal. Dia malah menikmatinya diam-diam. Satu-satunya hal yang membuatnya sedikit merasa bersalah adalah ekspresi shock Sakura. Sudahlah, yang penting karena kejadian itu, Sakura menjadi tahu kalau sebenarnya sudah sejak lama Sasuke mengetahui penyamarannya.

Pelan tapi pasti, dia mendorong pintu kamar yang dulu digunakan Sakura menggunakan bahunya. Sasuke menatap sebentar gadis itu seusai membaringkannya di atas ranjang. Pulas sekali wajah tidur Sakura, sepertinya dia tak akan bangun sekali pun ada tsunami yang menerjang.

Kali ini Sasuke tak keluar. Dia mengambil tempat di sisi lain ranjang. Masih tetap menatap wajah Sakura dari samping, dia berbisik pelan, "Selamat tidur."

.

.

.

oOo

.

.

.

Karin meremas kemudi mobilnya, sedikit terlalu kuat sehingga buku-buku jarinya memutih. Di sinilah dia berada, di depan sebuah rumah yang sudah sangat dikenalinya. Pertemuan dengan Terumi Mei membuatnya gelisah. Karin sampai harus memaksa Kakashi untuk memberi tahu di mana Senju Tobirama tinggal. Rumah ini tempat di mana dia terjerat untuk pertama kalinya. Karin yang masih remaja, lugu, polos, dan naif. Dia sama sekali tak menyangka kalau Tobirama masih tinggal di tempat ini.

Sejenak dia kembali meragu. Kalau Terumi Mei berada di dalam, maka Karin akan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan—mengingat bagaimana dulu Tobirama sama sekali tak membelanya—dan bisa jadi kedatangannya ini kembali menjadi boomerang untuknya. Tapi, jika mengingat wajah Sakura, putri tercintanya, dia kembali merasa kuat. Karin sudah telanjur datang, maka dia tak boleh mundur sekarang.

Sambil terus menguatkan diri, dia turun dari mobilnya, kemudian menekan bel yang terdapat di samping gerbang rumah tersebut. Beberapa lama menunggu masih belum ada jawaban. Dia menekan bel lagi, kali ada suara yang terdengar melalui interkom.

"Siapa?"

Dada Karin bergemuruh. Hanya mendengar suara pria itu saja, tubuhnya bereaksi seperti ini. "Ini aku, Karin. Ada yang mau ku—"

"Masuklah," potong pria itu.

Benar saja, tak lama kemudian pintu gerbang sudah terbuka secara otomatis. Mata Karin menyusuri jalan yang menghubungkan pintu gerbang sampai ke rumah yang ada di tengah halaman yang cukup besar itu. Ini pertama kali dia kembali setelah meninggalkannya dulu. Sudah begitu lama waktu berlalu. Tujuh belas tahun lebih bukanlah waktu yang singkat.

Tak mau terlalu lama larut dalam nostalgia, dia segera mengendarai mobilnya masuk ke dalam. Senju Tobirama sendirilah yang membuka pintu. Karin sama sekali tak heran, karena sejak dulu dia memang tak mempekerjakan seorang pun di rumah ini. Masih samakah keadaan dulu dan sekarang? Siapa yang mengurus rumah dan pria itu kalau dia belum juga berubah? Ah, inilah yang Karin takutkan. Dia masih terlalu peduli pada Tobirama.

oOo

"Kau mau minum apa?" tanya Tobirama yang bergerak menuju bar kecil yang berada di ruangan khusus tempatnya bersantai.

"Tidak, terima kasih," jawab Karin pelan. Sepanjang pengamatannya, dia sama sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaan Terumi Mei, istri pria itu. Apa mereka bertengkar lagi seperti dulu? Atau ... ah, Karin tak mau berspekulasi macam-macam sekarang.

Namun, Tobirama mengambil dua gelas berkaki tinggi, dan mengisinya dengan sampanye. Dia menghampiri sofa tempat Karin duduk, kemudian menyerahkan satu gelas pada wanita itu. "Ini sudah terlalu malam untuk sebuah kunjungan," ujarnya seraya mengambil tempat di sisi lain sofa panjang yang diduduki Karin. Tobirama menyilangkan kakinya sebelum menikmati minumannya.

"Aku tahu. Tapi, ada hal penting yang harus kita bicarakan."

"Mengenai putriku?"

"Bukan," jawab Karin menggeleng, "mengenai istri Anda."

Tobirama tak bertanya lebih lanjut. Dia menunggu penjelasan dari Uzumaki Karin.

"Aku bertemu dengan istri Anda tadi. Dia sepertinya tak menyerah untuk menggangguku. Tapi, yang membuatku khawatir bukan itu. Aku takut kalau dia mengusik Sakura. Tolong mengerti ... aku tak menginginkan apa pun dari kalian. Kumohon, jangan biarkan Sakura menjadi korban di sini."

"Dia tak akan bisa menyentuh putriku. Aku janji."

Karin meneguk sampanye di gelasnya. Hanya satu teguk sebelum meletakan gelas itu di meja. "Wanita yang cemburu bisa melakukan apa saja."

"Tidak. Dia tak akan berani berhadapan denganku."

Pikiran Karin semakin tak menentu. Pria ini sepertinya sama sekali tak tahu perihal kelakuan istrinya dulu. Karin berpisah dari putrinya juga karena ulah wanita itu. Ah, andai saja dulu dia tak tergoda dan jatuh pada permainan orang dewasa. Andai saja saat itu dia sudah lebih besar sehingga bisa mengerti akan kelicikan orang-orang itu.

"Anda tidak—"

"Kalau ini adalah taktikmu untuk menjauhkanku dari putriku, kau salah, Karin. Jangan pernah mencobanya. Berpikir untuk mencobanya pun jangan."

Karin menatap sendu. "Aku tak pernah menang melawan Anda, dan Anda tahu betul akan hal itu. Namun, aku akan mati-matian melindungi anak itu. Jangan meremehkanku dan perhatikan istri Anda." Karin bangkit berdiri setelah kata terakhirnya terlontar. Percuma saja dia datang untuk bicara. Pria ini memang sama sekali tak mengerti dirinya. Tidak, sejak awal juga Senju Tobirama memang tak pernah memikirkannya. Pria itu hanya berpatokan pada pendapatnya sendiri.

"Kau mau ke mana?"

"Aku sudah tak punya urusan lagi di sini. Aku permisi."

Di luar dugaan, pria itu menarik tangannya. "Siapa yang bilang kau boleh datang dan pergi seenaknya?"

Karin dapat meraskaan tangan pria itu mulai melingkari pinggangnya. "Tidak," ucap wanita itu pelan, setengah berbisik. Mau apa lagi dia? Oh, astaga, apa pria itu lupa dengan statusnya? Akal sehat Karin menyuruhnya untuk tak lagi terjebak pada masa lalu.

Namun, pria itu bergumam mantap, "Ya."

.

.

.

oOo

.

.

.

Hal pertama yang Sakura lihat tatkala membuka kedua kelopak matanya adalah sesuatu yang dapat membuatnya terkena serangan jantung mendadak. Uchiha Sasuke, paman yang hanya bisa dijangkaunya dalam mimpi sekarang tidur di sampingnya! Sekali lagi, di sampingnya!

Uchiha. Sasuke. Tidur. Seranjang. Dengannya. Semalam.

Aktivitas apa pun yang Sakura lakukan sekarang merupakan gerak refleks. Saraf di otaknya seketika lumpuh untuk memberikan reaksi. Gadis itu hanya bisa terduduk shock di atas ranjang.

Bahkan mereka memakai selimut yang sama. Sekali lagi Sakura mencubit pipinya, begitu keras sampai dia mengaduh. Belum puas, dia pun kembali mencubit lengannya sendiri. Sakura meringis. Benar, kali ini dia tidak bermimpi. Kejadian ini adalah kenyataan. Gadis itu menunduk, tangannya diarahkan ke wajah Sasuke. Dia hendak menyentuh alis Sasuke, bibirnya, garis rahangnya, matanya, hidung mancungnya. Namun, seketika itu juga tangannya ditarik. Sasuke pasti akan marah besar kalau dia mengetahui niat Sakura, paling tidak itulah yang gadis itu yakini.

Sedetik kemudian, Sakura melompat turun dari atas kasur. Gadis itu ingin mengekspresikan semua gejolak di dalam dadanya sekarang. Dia melesat secepat mungkin menuju dapur. Sesampainya di sana, gadis itu melompat-lompat kegirangan. Dewa mana pun yang membuat Sasuke berbaring di sebelahnya semalam layak untuk mendapat apresiasi. Wajahnya sudah bersemu merah. Astaga, dia harus bersikap seperti apa di hadapan Sasuke nanti. Akhirnya, untuk menetralisir sisi emosionalnya, Sakura menarik napas dalam-dalam. Matanya dipejamkan erat-erat. Cukup, dia bisa mati karena terlalu bahagia.

Setelah emosinya sudah lebih stabil, Sakura mengalihkan pikirannya dengan memasak. Sudah lama dia tak membuat sarapan untuk Sasuke mengingat saat ini dia sudah tinggal bersama ibunya.

oOo

Sasuke harus mengakui kalau dia kembali bernostalgia dengan keadaan seperti sekarang. Sudah berapa lama mereka tak seperti ini? Andai saja dia menikmati kebersamaan mereka sejak dulu. Pria itu bersandar di pinggiran pintu sambil menyilangkan kedua tangannya. Sasuke hanya menatap tanpa berniat mengganggu aktivitas gadis itu di dapur, untung saja hari ini adalah hari Minggu sehingga berdua mereka masih bisa diperpanjang.

Pria itu tersenyum tipis, dia berpura-pura masih tidur ketika Sakura berlari keluar kamar. Dia menyaksikan semua yang dilakukan Sakura melalui celah kecil kedua kelopak matanya. Reaksi gadis itu selalu sukses membuatnya merasa terhibur. Kalau saja Karin tahu semalam Sasuke berada seranjang dengan putrinya, sudah pasti akan tercipta perang dunia ketiga. Biar saja, dia tak mau pikiran negatif apa pun merusak pagi harinya.

Pria itu lalu melirik jam tangannya sebentar, pagi ini Naruto akan datang untuk meminjam kunci vilanya. Sahabatnya itu mau membuat kejutan untuk Hinata mengingat sebentar lagi mereka akan merayakan ulang tahun pernikahan kedua.

"OI! TEME!"

Benar saja, suara teriakan Naruto sudah membahana dari luar. Sasuke mendecih, dia berbalik pergi sebelum Sakura mendapati pria itu sedang mengamatinya sejak tadi.

"Lama sekali," gerutu Naruto ketika Sasuke sudah membukakan pintu untuknya.

Kening Sasuke sedikit berkerut, dia menatap saksama. Naruto tak datang sendirian, dia bersama Menma. Sebenarnya, bukan hal yang aneh Menma bersama Naruto. Hanya saja, pemuda itu muncul di saat yang tidak tepat.

"Paman, sarapannya sudah siap."

Mata Naruto mengerjap beberapa kali karena teriakan gadis itu sementara Menma memasang ekspresi curiga.

oOo

Akhirnya, Naruto dan Menma bergabung bersama mereka di meja makan. Tak seperti biasanya, kali ini Naruto tak menanyakan apa pun, padahal biasanya mulutnya itu tak bisa diam. Pria itu bisa merasakan atmosfer yang tak mengenakan. Rasanya mengajak Menma ke rumah Sasuke sudah mejadi gagasan paling buruk hari ini.

Menma berkali-kali mengalihkan arah pandang matanya bergantian dari Sakura ke si pemilik rumah. Mereka berdua mencurigakan. Apa yang Sakura lakukan di sini? Bukankah Sakura sudah tak punya hubungan apa-apa dengan Sasuke? Untung saja tak ada yang salah dengan penampilan gadis itu. Kalau dia memakai pakaian Sasuke, entah sudah seliar apa bayangan yang hadir dalam kepala Menma. Dan bisa saja dia tak dapat menahan diri untuk tak menghajar Sasuke detik itu juga.

Sedangkan Sasuke sendiri sama sekali tak menyukai kondisi di mana sosok Menma hadir di sana. Naruto sialan, kenapa dia harus mengajak adiknya segala? Kalau dia datang sendiri, Sasuke bisa memberinya kunci vila, dan menyuruhnya segera pulang.

Barangkali hanya Sakura yang tak merasakan ketegangan tak kasatmata di sana.

"Err ... Teme, bagaimana kalau kauberikan kunci vilanya padaku sekarang?"

"Hn."

Naruto bernapas lega karena Sasuke tak mencekiknya. Lagi pula, dia sudah menyelamatkan semua orang di sana. Namun, aura menyeramkan Sasuke sama sekali tak hilang saat mereka berdua pergi ke lantai atas.

"Kenapa dia berada di sini?" tanya Naruto saat sahabatnya itu sedang membongkar laci lemarinya, mencari di mana dia meletakan kunci vila.

"Bukan urusanmu."

"Teme, apa kau sudah memutuskan un—"

"Sudah."

"Tem—"

"Apa pun yang akan kulakukan nanti, semua sudah kuputuskan semalam. Aku tak akan mundur."

Naruto sudah mengenal pria itu selama bertahun-tahun. Dia kenal betul setiap perubahan dalam nada suara pria itu. Kali ini Sasuke serius. Sama sekali tak ada keraguan dalam intonasi suaranya.

"Well, Teme, kuucapkan selamat. Ini pertama kalinya kau mengejar seorang perempuan, kan?"

Sasuke tertegun. Dia sama sekali tak menyadarinya kalau Naruto tak mengatakan hal tadi. Ya, benar, selama ini dia memang tak pernah menyibukkan diri untuk merayu perempuan. Karin pun tidak karena wanita itu yang lebih dulu mendekatinya. Ya ampun, dia ingin tertawa sekencang-kencangnya sekarang. Perempuan pertama yang akan dia kejar adalah seorang gadis naif yang sepuluh tahun lebih muda darinya! Jadi, saat ini dia harus menyelamati atau mengasihani dirinya sendiri?

Sementara itu tak ada satu pun yang menyadari bahwa api cemburu mengobar dengan begitu dahsyat dalam diri Menma. Jika dia tak melakukan sesuatu, maka selamanya dia tak akan mendapatkan gadis yang sudah mencuri hatinya.

.

.

.

oOo

.

.

.

Karin tersipu sepanjang malam. Tak ada apa-apa di antara mereka. Tobirama hanya mengatakan kalau dia tak bisa membiarkan perempuan pulang dari rumahnya tengah malam begini. Dia lalu menyuruh Karin untuk memakai kamar tamunya. Hanya itu, tak ada yang terjadi. Padahal saat Tobirama merengkuh pinggang Karin, getaran asing yang sudah lama tak dirasakan kembali hadir. Mata mereka yang sewarna kembali bertemu secara intens. Degup jantung Karin semakin menggila. Akan tetapi, pria itu melepaskannya.

Karin merutuki kebodohannya sendiri sepanjang sisa hari itu. Dia memang tak bisa menyangkali kenyataan bahwa rumah ini menjadi salah satu faktor semua kenangannya kembali ke permukaan. Di tempat ini mereka pertama kali bertemu. Dan—Karin malu sekali untuk mengakui—di rumah inilah putri mereka tercipta. Dia meneguk madu beracun di sini. Hanya dengan mengingatnya saja wajah Karin sudah memerah menyaingi rambut indahnya.

"Karin, apa kau mau sarapan?" suara Tobirama mengiringi ketukan pada pintu kamar yang sedang ditempati Karin.

"Tidak," jawab wanita itu refleks, "aku tak lapar."

"Kalau begitu bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang, sekalian menjemput Sakura."

Benar juga, hari ini Sakura dan Ino akan bermain ke Disneyland. Satu pertanyaan yang menggajal sejak semalam, di mana Terumi Mei? Karin tak menemukan tanda-tanda keberadaan wanita itu. Baru beberapa waktu yang lalu mereka bertemu, tak mungkin dia tak bersama Tobirama. Karin sama sekali tak melupakan keposesifan yang dipancarkan wanita itu kala mereka bertemu.

Tak ada obrolan sama sekali ketika Tobirama mengantar Karin kembali ke kediamannya. Pria itu bersikeras untuk menggunakan mobilnya sementara mobil Karin akan dikembalikan orang suruhannya. Lebih efisien, itulah alasan yang dia berikan, terlalu merepotkan kalau mereka memakai kendaraan yang berbeda sementara tujuan mereka sama.

oOo

Pemandangan yang mereka dapati ketika memasuki apartemen Karin sungguh mencenangkan. Hampir saja Karin mengeluarkan semua umpatan yang dia ketahui saat mendapati Uchiha Sasuke berada di ruang tamunya, apalagi pria itu mengobrol akrab dengan putrinya. Sasuke benar-benar menggali kuburannya sendiri! Pria itu benar-benar tidak mendengarkan peringatannya.

"Ibu? Paman Tobirama?"

"Ibu ada urusan sejak semalam, kau mencari Ibu, ya?"

"Iya, aku bingung karena Ibu pagi-pagi tak ada di rumah," dustanya. Sakura sendiri baru saja tiba beberapa menit sebelum kepulangan Karin. Terlambat sedikit saja masalah pasti akan bertambah besar. "Paman Tobirama, silakan duduk," lanjutnya menyilakan tamu Karin. Paling tidak sekarang dia tidak perlu memberikan sebuah kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya. Ino juga tidak perlu mengarang cerita karena kali ini Karin tak tahu kalau tadi malam Sakura tidak ada di apartemen mereka.

Sasuke dan Tobirama saling bertukar pandangan. Aura yang menguar sama-sama menantang. Tobirama tahu kalau pria itu sama sekali tak mengindahkan ancamannya tempo hari. Sedangkan Sasuke datang ke sana dengan niatnya sendiri. Mereka saling menilai.

Ketiga orang dewasa itu duduk bersama, sedangkan Karin meminta Sakura untuk membuatkan kopi. Dua pria keras kepala itu bisa saja saling mencincang sebentar lagi. Oleh karena itu, Karin sangat membutuhkan kopi pahit sekarang.

"Karin, Senju-san, ada yang harus kukatakan."

Mereka mendengar pria itu dengan saksama. Firasat keduanya pun kompak mengatakan bahwa Sasuke akan membeberkan hal yang tidak mengenakan.

"Sekali lagi kutegaskan, aku tak akan menjauh dari Sakura. Aku akan menjauhinya kalau dia sendiri yang menginginkannya."

"Uchiha," balas Tobirama, "semua itu bukan kau yang menentukan."

Sasuke bergeming. Dia sama sekali tak gentar. Jika mafia berbahaya saja bisa dia hadapi, maka ayah dari gadis yang akan dia dekati pun tak akan membuat nyalinya menciut. "Ah, apa kalian tahu kalau Hatake Kakashilah yang memisahkan Sakura dari Karin dulu?"

Kali ini Karin dan Tobirama yang saling melemparkan pandangan penuh tanya. Tatapan mata mereka saja sudah bisa membuat Sasuke menebak kalau mereka sama sekali tidak tahu menahu soal kejadian tersebut. "Sebaiknya Anda menyelidiki orang kepercayaan Anda itu, Senju-san. Dan kurasa Anda sebaiknya juga tidak lupa kalau tanpa saya, Anda dan Karin belum tentu bisa menemukan Sakura." Tentu saja, dia yang pertama bertemu dengan gadis itu, mengurusnya, menjaganya, jadi sudah jelas kalau dia juga punya hak untuk menemuinya. "Itu saja, saya permisi."

Tanpa mendengarkan jawaban dari dua lawan bicaranya, Sasuke segera pergi. Dia tak mau berlama-lama sebab adu argumen pasti tak akan terelakkan. Itu keputusannya, suka atau tidak, dia sudah mengutarakannya. Mereka salah kalau berpikir seorang Uchiha Sasuke bisa didikte. Dia tak pernah bertemu dengan gadis yang membuatnya bimbang setengah mati seperti Sakura. Sasuke telah bergumul sengit dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya dia memutuskan untuk mengambil semua risiko.

Perkataan Naruto di tengah obrolan pagi tadi kembali terngiang, "Teme, aku khawatir dia menginginkanmu sebesar kau menginginkannya. Dan kalian bisa melakukan hal nekat karenanya."

oOo

"Paman Sasuke sudah pulang?" Sakura sedikit kecewa. Jujur saja, dia ingin melewatkan waktu lebih banyak lagi dengan pria itu.

"Sakura," panggil Karin, "sini duduk di dekat Ibu, ada yang mau Ibu bicarakan." Nada bicara Karin tak seperti biasanya.

Gadis itu menurut, dia mengambil tempat di samping ibunya setelah meletakan cangkir kopi yang disiapkannya di dapur. Detakan jantungnya mulai menggila. Mungkin memang sudah saatnya semua rahasia dibuka sekarang.

"Sakura, Paman Tobirama ini …," Karin menggantungkan ucapannya. Di sisi lain, Tobirama menatap datar perempuan itu.

"Paman Tobirama adalah ayah kandungku."

Sontak mereka terkejut dengan ucapan Sakura. Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda shock atau terbelalak. Sakura sangat tenang.

"Aku tahu. Boleh aku bertanya sesuatu?"

Tobirama mengangguk.

"Anda adalah ayah kandungku, apa Anda menyayangiku."

"Tentu saja," jawab lelaki itu.

Karin sama sekali tak mengerti, semua berjalan tak seperti bayangannya. Apa telah terjadi sesuatu yang tidak dia ketahui? Sakura juga tak seperti biasanya. Air muka anak itu berubah. Sakura yang selalu ceria dalam setiap situasi kini menjadi sangat serius. Justru saat inilah Karin yang merasa terintimidasi dengan situasi yang tercipta. Dia frustrasi tanpa alasan, firasat kuatnya sebagai seorang ibu semakin menegaskan kalau ada hal yang tidak beres yang sudah dialami putrinya.

"Kalau aku meminta Anda menjadi milikku dan Ibu, apa Anda bersedia?"

Rahang Karin rasanya hampir terlepas sekarang. Pertanyaan macam apa itu? Apa putrinya itu tidak tahu kalau ayahnya sudah mempunyai istri? Baru saja dia dikejutkan soal Kakashi, sekarang Sakura sudah mau membuat nyawanya melayang saat itu juga. Yang pasti, pertemuan ini benar-benar jauh dari bayangan Karin soal pertemuan penuh haru antara ayah dan anak perempuannya. Pembicaraan ini sangat berbeda dengan detik-detik di mana Sakura mengetahui kalau wanita Uzumaki itu adalah ibu kandungnya. Ya ampun, putrinya masih sadar seratus persen, kan?

"Apa kau akan senang kalau aku menyanggupinya?"

ASTAGA! Pertanyaan apa lagi yang dilontarkan Tobirama? Dia sama sekali tak menjawab pertanyaan Sakura, tapi pria itu malah balik memberikan pertanyaan yang hampir membuat Karin pingsan di tempat. Ayah dan anak itu sama saja.

.

.

.

.

.

Tbc

A/N:

Q: Ayah Sakura sudah pasti Tobirama?

A: Yup

Q: Sasuke pilih ambil atau tinggalin?

A: Kayanya udah ketahuan tuh di atas

Q: Yang misahin Sakura itu sebenarnya Terumi Mei atau Kakashi?

A: ayo coba tebak, yang pertama kali tebakannya benar (pakai alasan yang tepat kenapa mereka dipisahin) bakal saya kasih ficlet (fict pendek yang jumlah katanya ga sampai 1000 words)

Q: Masa lalu Tobikarin gimana sih?

A: sabar ya, pelan-pelan

Terima kasih juga untuk yang baca, fave, follow, review. Saya lagi nyoba nulis lagi setelah sekian lama kehilangan motivasi buat bikin fict.

(Saya hanya meriksa sekali, kalau nemu typo/misstypo, kasih tau aja di mana)

Terima kasih sudah menunggu begitu lama, hanya itu yang bisa saya sampaikan sekarang :)