"Hei Sakura-chan," panggil Hinata.

Gadis berambut merah jambu itu berhenti mengeringkan rambutnya. Ia mengangkat kedua alisnya seolah-olah bertanya ada apa.

"Kita kamar bersebelahan dengan Uchiha loh," Hinata menyeringai tipis. "Hati-hati saat malam jika ada yang meloncat ke atas ranjangmu, berarti itu…"

PLUK.

Handuk berwarna pink itu di lempar telak ke arah wajah Hinata.

"Berisik."

.

.

.

arissachin production

Proudly present

Dark Moon © arissachin

The character belong to Masashi Kishimoto-san

While, The story is pure mine

.

"Aku lahir kembali dalam wujud yang baru,

Bukan sebagai bulan yang lemah. Tapi, menjadi bulan yang kuat."

.

.

.

.

ACT 14 : Fireflies.

.

Angin pantai yang tercium asin menerbangkan rambutnya.

Pantai Kiri memang terkenal akan keindahannya, pasirnya berubah menjadi merah jambu di kala senja membuat pantai ini menjadi salah satu ikon terunik di Jepang. Semenjak dua hari yang lalu, tur mereka berpindah-pindah dari pabrik coklat –jujur coklatnya enak sekali paling enak yang pernah Sakura cicipi selama ini, lalu mereka pergi ke penangkaran kupu-kupu di bagian lain pulau, lalu ke penangkaran hiu, pindah lagi ke taman suaka marga satwanya, dan terakhir tadi mereka mengunjungi air terjun pengharapan.

Sakura bersumpah itu adalah air terjun paling indah yang ia lihat.

3 hari mungkin akan terasa tidak cukup. Ah, betapa inginnya ia terus berada di sini. Rasanya kepenatan kota Tokyo sudah membuat kepalanya berdenyut-denyut, ia ingin kabur dari kota menyesakan itu. Mungkin, pulau Kiri adalah tempat runaway yang tepat.

'Mungkin aku akan pindah begitu lulus kemari,' batin Sakura.

Sakura tertawa kecil, ia membayangkan dirinya pindah kemari. Ah, bukan ide buruk juga sih.

"Sakura-chan."

Suara ramah itu membuatnya menoleh, mata cerulean blue milik Uzumaki menatapnya. Pemuda berkulit tan itu tersenyum ke arahnya, ia lalu berjalan hingga akhirnya berdiri sejajar dengan Sakura. Uzumaki Naruto menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

"Kau baik-baik saja tidak?" tanya pemuda itu.

"Kenapa kau bertanya seperti itu," Sakura tersenyum kecil, tangannya memegangi agar dress pantainya tidak terbang. "Memangnya aku terlihat seperti apa?"

"Maksudku kau tahukaaan," ia mengangkat bahunya. "Teme. Pesta Tunangan. Kacau. Gaara. Yah, seputar merekalah. Bulan ini bulan yang lumayan kacau untukmu ya sepertinya."

"Emh," gadis yang memakai terusan kuning itu mengangguk. "Soal acara yang di kacaukan oleh Uchiha sih bukan masalah besar. Untung cabang Haruno di Osaka butuh bantuan, jadi dia tidak mengomel lama-lama, dan Ibu juga langsung ikut. Lagipula, itu bukan acara pertunangan," Sakura tertawa renyah. "Para wartawan terlalu melebih-lebihkan."

"Tapikan itu memang acara pertunangan?" Naruto terlihat keheranan. "Ayah juga bilang begitu padaku."

"Salah berita, sebenarnya itu lebih ke tahap dua perjodohan. Seperti yaaah kau tahulah, membawa-bawa gadis sebagai pasangan kepada acara resmi yang super membosankan itu," terang Sakura. Ia lalu menaruh jemarinya di atas bibir merah jambunya. "Tapi kalau misalnya berubah jadi acara pertunangan juga sih, aku tidak masalah."

"Bagaimana dengan teme?" tanya Naruto cepat.

"Memangnya ada apa dengan si brengsek itu," Sakura mendengus. "Jadi atau tidak, dia tidak ada hubungannya Naruto."

"Ya Tuhaaan kalian berdua memang sedang dalam tahap denial ya," Naruto menggerutu pelan. "Setiap orang yang sudah kenal lama dengan kalian, pasti tahu betapa kalian saaaaling mencintai satu sama lain selamanya! Walaupun si brengsek itu tidak mengakuinya, kita tahu Sakura, diam-diam dari dulu juga dia senang di ledek denganmu."

"Naruto…, kenapa sebenarnya semua orang membicarakan hal yang sama," ia melirik Naruto dari sudut matanya. Ia mendesah. "Aku tidak mencintainya lagi ok?"

"Soal perasaanmu," Naruto mengangkat kedua tangannya. "Aku angkat tangan soal itu. Tapi soal perasaan teme, aku yakin ia tidak berubah. Mungkin sekarang ia lebih menunjukan secara terang-terangan di bandingkan dulu."

"Tapikan dulu…"

"Dulu ia mungkin jenuh padamu, ayolah tiap orang pasti memiliki titik jenuh jugakan?" Naruto nyengir lalu ia menatap matahari di depannya kembali. "Dan, berhentilah membicarakan masa lalu. Masa lalu ya masa lalu, masa sekarang yang masa sekarang. Lebih baik sekarang kau jalani saja apa yang ada. Berat kalau kau terus teringat masa lalu, menyusahkan kau tahu."

Sakura tertawa kecil. "Kau pikir semudah itu?"

"Kenapa harus di persulit," Naruto menaruh kedua tangannya di dalam saku celana coklat selututnya.

"Karena kenyataannya memang sulit," gumam Sakrua. Ia menutup matanya erat-erat.

"Itu karena kau sendiri yang mempersulitnya Sakura," Naruto menatap sesuatu jauh di belakang Sakura lekat-lekat. "Mulailah awal yang baru, jangan terikat dengan masa lalu. Kita berdua sama-sama tahu bukan, Sasuke yang sekarang sudah bukan Sasuke yang dulu. Dia bertingkah sangat brengsek juga dulukan ada alasannya."

Mengatakan kata alasan itu membuat Sakura teringat masa remajanya. Ya, itu bukan sepenuhnya salah Sasuke juga… dia memang berubah karena dia memiliki alasannya sendiri. Paman Fugakulah yang menyebabkannya menjadi begini sebenarnya. Ia mungkin berubah menjadi sosok brengsek yang menyebalkan, tapi walaupun begitu sifat lamanya yang manis dan khawatiran itu masih terkadang ia tunjukan –yah walaupun hanya pada Sakura sih.

"Tuh lihat, teme jadi sok sok mellow begitu," canda Naruto sambil menunjuk seseorang.

Sakura mengikuti arah pandang Naruto, ia memutar tubuhnya dan menemukan Sasuke tengah memotreti pemandangan di pantai, lelaki itu terlihat biasa saja, hingga akhirnya kamera tidak menghalangi wajahnya. Mata onyxnya yang biasanya terlihat lebih hidup kini terlihat kehilangan sinarnya. Walaupun kadang-kadang jika di sekeliling teman-temannya Sasuke terlihat sering menyeringai atau ikut tertawa.

Hanya orang terdekatnya tahu itu hanya topeng.

"Kalian itu berdua sama-sama menolak asumsi bahwa kalian masih jatuh cinta satu sama lain, tapi tidakkah kalian itu sadar?" Naruto menggantung perkataannya. Ia menghela nafasnya. "Selama ini kalian hanya berputar-putar dan menyakiti satu sama lain. Kalian –"

"Jangan sok tahu tentang masalahku Naruto," Sakura menggeleng cepat. Ia menatap Naruto sebal. "Kau tidak tahu apa-apa, sebaiknya kau urusi saja masalahmu sendiri brengsek."

Dan, dengan itu Sakura berjalan menjauh dari Naruto.

Pemuda berambut pirang itu hanya bisa memandangi punggung Sakura, ia memandangi wanita itu kasihan. Jelas sekali, ada sesuatu yang menahan Sakura. Sesuatu yang ada di masa lalunya.

.

.

Hinata memotong makanannya sembari memata-matai Sakura, sahabatnya itu terlihat begitu kesal semenjak sore ini. Entah mengapa, dan siapa yang membuat mood Sakura menjadi seburuk ini. Haaah, tiap kali Sakura sedang badmood pasti ia yang kena imbasnya.

"Kalau kau memotong seperti itu, piringnya akan ikut belah, Haruno-chan," Hinata nyengir. "Jangan memandang piring seolah piring itu adalah musuh abadimu."

"Aku kesal," gerutu Sakura. "Sangat kesal."

"Gara-gara?" alis Hinata naik ke atas.

"Mantan kekasihmu," mata perak Hinata terlihat menggelap. Dan Sakura menyadari apa yang ia lakukan pada sahabatnya itu. "Ah…maksudku…"

"Tidak apa-apa Sakura," Hinata tersenyum tipis. "Memang mantankan?"

"Maaf," Sakura menggembungkan pipinya. "Sudahlah, nanti mood kita sama-sama jelek. Acara nanti bisa-bisa hancur."

"Baiklah, baiklah," perempuan berambut panjang itu mengangguk pelan. "Eh, tunggu sebentar! Aku lupa, ponselku tertinggal di kamar!"

"He? Kenapa bisa?" ia mengerutkan keningnya. "Ambil cepat, kitakan ada acara api unggun! Nanti kesini lagi cepat."

"Ha'i, tunggu ya Sakura-chan," Hinata menaruh peralatan makannya dan melesat keluar dari tempat makan di hotel, meninggalkan Sakura sendirian.

Ia membuka pintu besar berwarna coklat itu dan berjalan menyusuri lobi. Beruntung, begitu ia sampai di depan lift pintu lift itu belum tertutup, dengan segera ia menekan tombol yang menyala yang mengakibatkan pintu lift itu terbuka lagi.

Hinata langsung melesat masuk dan menekan tombol angka 5. Nafasnya tertahan begitu ia melihat pantulan bayangan di pintu lift. Kelihatannya orang di sisinya sama kagetnya dengan Hinata. Mata cerulean bluenya terlihat kaget dan ia langsung membuang mukanya begitu menyadari Hinata memerhatikannya dari pintu lift.

"…" Hinata berdeham tanpa menolehkan kepalanya ke sisi –ke arah Naruto. "Apa kabar?"

"Baik," jawabnya singkat. Ia tersenyum tipis. "Kau?"

"Sama."

Dan, keadaanpun menjadi canggung. Entah mengapa perjalanan menuju lantai lima ini terasa lebih lama di bandingkan sebelumnya. Hinata takut bahwa dadanya akan meledak, jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya ia bisa mendengar dengan jelas suaranya.

'Tenang Hinata, tenang,' batinnya.

Sudah lama ia tidak berdua'an dengan Naruto, terakhir kali adalah ketika ia dan Naruto memutuskan hubungan mereka.

Sesudah itu, ia tidak berjumpa dengan Naruto lagi. Yah, sebenarnya ia menghindari pertemuannya sih. Masih terasa menyakitkan jika bertemu dengan Naruto. Bohong jika ia bilang ia baik-baik saja pasca putus. Hatinya sering terasa nyeri memikirkan segalanya. Bagaimanapun Naruto adalah orang yang mampu membuatnya berpaling dari cinta pertamanya.

Narutolah orang yang ada di kala ia bersedih saat Gaara menunjukan ketertarikan bagi Sakura. Dia adalah sandaran bagi Hinata, orang yang satu-satunya tahu bagaimana perasaannya bagi pemuda berambut merah itu, sekaligus orang yang menyapu bersih perasaan lamanya pada Sabaku Gaara.

TING!

Pintu lift terbuka, Hinata menghela nafas lega. Ia buru-buru keluar dari ruangan sempit itu, pintu lift terdengar menutup. Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba saja Naruto memanggil namanya.

"Hinata."

Dan iapun berhenti.

"Soal masalah kita," Hinata tidak berani menatapnya, ia masih memunggungi Naruto. Terdengar suara pemuda itu begitu lembut. "Aku tidak bohong ketika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu. Aku tahu apa yang aku lakukan salah, kuharap kau bisa memaafkanku."

"…"

Keheninganpun menyelimuti mereka, Hinata tahu bahwa Naruto menunggu jawabannya, tapi… Ia tidak tahu harus menjawab apa.

"Aku…" Ia memejamkan matanya erat-erat seolah berusaha menahan air mata yang siap merembes keluar. "Aku tidak tahu."

Dan, iapun berderap pergi meninggalkan sang pemuda berambut pirang itu. Dengan cepat ia menggesekan kartu kamarnya dan masuk membanting pintu, takut bahwa ia akan jatuh menangis di hadapan pemuda itu –yah setidaknya memang air matanya sudah keluar sih tapikan ia sudah ada di kamar.

Tubuhnya melemah, ia jatuh merosot dengan punggung yang menempel ke pintu kayu coklat itu. Tangannya bergerak ke arah wajahnya, menutupi mulutnya yang mulai mengeluarkan isak tangisnya. Ia memejamkan matanya erat-erat berusaha menghalau air mata yang siap jatuh kapan saja.

Menangis di depan Naruto adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.

Mata cerulean blue pemuda itu menatap nanar kepergian gadis itu, kakinya berjalan menuju pintu kamar hotel Hinata. Ia berdiri menghadap pintu itu, tangannya bergerak menyusuri tekstur pintu kayu itu. Tanpa ia sadari setetes air mata merembes keluar dari mata indahnya.

"Aku tahu aku menyakitimu, tapi…aku benar-benar tulus padamu," ia menarik nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku sungguh-sungguh mencintaimu Hinata."

"…"

" Maafkan aku…"

Dan isakanpun keluar dari bibir keduanya secara bersamaan. Retakan hati mereka berdua seolah-olah kini kian membesar dan menyebankan rasa sesak yang entah mengapa membuat mereka berdua sama-sama merasakan rasa sakit yang luar biasa.

Keduanya sama-sama memikirkan apakah suatu saat nanti mereka benar-benar bisa menyatukan retakan itu lagi?

"Naruto-kun…"

.

.

.

"BAIKLAAAH BERKUMPUL!" teriak Kurenai.

Semua murid kelas 2 itu berkumpul di lingkaran. Sedari tadi sepanjang acara api unggun Sakura mencari-cari Hinata, bahkan sekarang sudah pukul 12 malam. Sudah 3 jam Hinata meninggalkannya, awalanya hal itu membuatnya bertanya-tanya dimana keberadaan sahabatnya itu. Tapi pesan singkat dari gadis itu membuatnya sedikit lega. Sepertinya Hinata memang butuh waktu sendiri dulu.

Ia mengeratkan jaket putihnya, udara malam di Kiri memang cukup dingin berbeda dengan Tokyo.

"Apakah kalian sudah bersama dengan teman sekamar kalian?" teriak Kurenai.

"Iya sensei!"

Sakura mengerutkan alisnya, ia mencolek bahu Tenten. "Acara apa lagi sekarang?"

"Itu, uji keberanian. Mencari harta karun bersama teman sekamar gitu, hadiahnya nilai A pada pelajaran olah raga," terang Tenten.

"He?" Sakura menggaruk tengkuknya. "Kalau tidak ada teman sekamar gimana?"

"Entahlah," Tenten mengangkat bahunya. "Tanya saja pada Kurenai-sensei."

"Ya sudah, arigatou," iapun beranjak menuju tempat Kurenai.

Rupanya guru bermata rubiitu tengah bergerak berkeliling membagi-bagikan lentera pada tiap orang. Kalau Hinata tidak ada, bagaimana dengan Sakura? Masa ia sendirian? Ya Tuhan! Lebih baik ia diam di kamarnya saja! Tapikan… Nilai A pada pelajaran olahraga itu lumayan. Dengan guru Gai-sensei nilai tertinggi yang bisa di dapatkan adalah B- dan A itu mustahil. B- juga itu sudah dengan sangat susah payah.

Tapi… Kalau ia ikut…

Iakan takut gelap…

"Sensei," panggil Sakura. Guru itu berhenti membagi-bagikan lentera, ia menoleh ke arah Sakura. "Teman sekamarku sakit, apa saya tidak usah ikut juga?"

"Ah," Kurenai lalu menoleh ke kiri dan kanannya, seolah mencari-cari seseorang. "Oh, UCHIHA!" panggilnya.

Mata Sakura membulat, mendengar nama Sasuke di panggil rasanya wajah Sakura pasti memucat. Ia menelan ludahnya dengan susah payah. Jangan bilang…

"–kau dengan Uchiha berpasangan ya, kebetulan Uzumaki juga tidak bisa ikut acara ini. Kalian sudah kebagian petakan?" tanya Kurenai-sensei. Tanpa menunggu jawaban dari kedua orang itu, Kurenai langsung melanjutkan perkataannya lagi. "Kalian tidak boleh keluar dengan tangan kosong hingga pukul 2 subuh."

Dan dengan itu, guru itu meninggalkan keduanya yang berdiri bersisian.

.

.

.

Keheningan menyelimuti keduanya, baik Sasuke maupun Sakura sama-sama tidak mengeluarkan suara. Keduanya sama-sama tidak berminat mencari barang-barang harta karun itu, keduanya sama-sama tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Yah, bagi Sakura sendiri ia terlalu malas berbicara dengan Sasuke. Sementara pemuda berambut raven itu sepertinya tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Sasuke yang berjalan di belakang memerhatikan punggung kecil Sakura, tanpa sengaja ia melihat tubuh gadis itu sedikit bergetar, ia menaruh lentera mereka di tanah, dengan cepat tangannya bergerak menuju ujung hoodienya. Ia lalu melepaskan hoodienya dan menghela nafasnya.

Perempuan Haruno itu terkaget-kaget begitu melihat hoodie berwarna hitam berada dalam jarak pandang yang begitu dekat –tepatnya sih di depan mukanya. Ia langsung menoleh dan mendapati Uchiha Sasuke tengah berdiri di sampingnya dengan wajah yang menolak menatapnya.

"Pakai."

"Tidak butuh," Sakura mendorong tangan Sasuke menjauh. Ia segera berjalan cepat menjauhi Sasuke.

"Baka," ujar Sasuke pelan. Ia lalu berjalan cepat menyusul Sakura, ia menarik sikut Sakura hingga mereka berdua berhadapan.

"Apa yang kau –"

"Kau mau mati beku? Kalau kubilang pakai, ya pakai!" Sasuke menatapnya tajam. Pemuda itu mendengus, ia lalu tersenyum pahit. "Aku tahu kau membenciku, tapi aku hanya ingin menolongmu ok?"

"Menolong?" Sakura menyeringai, ia lalu menatap Sasuke dingin. "Tidak butuh."

"Kau membenciku? Saking bencinya sampai lebih rela mati kedinginan ya?" tatapan tajam Sasuke perlahan-lahan mulai melembut. "Kalau ingin membenciku, beri alasan setidaknya. Jangan membenciku, dan menjauhiku tanpa alasan! Aku memikirkannya, aku mencari tahu, tapi aku masih tidak mengerti kenapa kau membenciku Sakura. Jangan membuatku menjadi orang bodoh yang–"

"Kau memang bodoh brengsek! Kau itu sudah menyakitiku dan kau bahkan tidak ingat! Dasar bajingan!" teriak Sakura murka. "Pikir saja sendiri!"

Lalu dengan itu, Sakura menarik sikutnya kasar dan berlari menjauhi Sasuke ke dalam kegelapan hutan. Berkali-kali Sasuke memanggilnya tidak ia dengarkan. Kaki kecilnya berlari menjauhi pemuda itu. Ia ingin jauh-jauh darinya, muak melihatnya.

Ia benci Uchiha.

.

.

.

"Bodoh, bodoh, bodoh!" maki Sakura.

Ia menjambak rambutnya pelan, ia duduk di bawah pohon besar. Ia memeluk lututnya erat dan menenggelamkan kepalanya dalam lututnya. Harusnya ia curi lentera dari Sasuke baru berlari kemari. Bukannya berlari tanpa tujuan, dan tanpa penerangan.

Ia lari dari Sasuke mungkin keputusan pintar baginya, tapi ia juga kini akibat keputusan pintarnya tadi ia dengan bodohnya kini tersesat di hutan. Dalam gelap. Sendirian. Dan tidak tahu jalan pulang.

'How smart you are, Haruno,' batin Sakura berkata dengan sinis.

Suara burung hantu membuat teriakan tertahan melesak keluar dari tenggorokan Sakura.

Dari kecil, orang-orang terdekatnya tahu bahwa ia paling takut gelap, dan takut hantu. Kini ia tersesat di dalam hutan yang gelap, mana sendirian pula. Mungkin, dulu selalu ada Kakaknya yang menyelamatkannya dan memeluknya sambil berkata bahwa semua akan baik-baik saja.

Sakura merutuki kebodohannya, ia mungkin membawa ponsel. Tapi tidak mungkin ada sinyal dari hutan macam ini.

Cahaya di kejauhan membuat Sakura tersadar, ia melebarkan matanya. Ia yakin itu adalah cahaya yang berasal dari pondok. Ia bisa meminta tolong pada pemiliknya untuk mengantarnya lagi ke hotelnya atau meminjam telefonnya kalau perlu. Ia bisa selamat pulang kali ini!

Ia langsung bangkit dan berlari ke arah cahaya itu, tidak menyadari ada teriakan di belakangnya.

"SAKURA! AWAS JURANG!"

GRUUUUUUUUUUUUUUUUSK!

"KYAAAAAAA!"

.

DEG.

.

GREP!

.

DEG.

.

Sebuah tangan besar dan hangat menggenggamnya erat-erat, menyelamatkannya dari kebodohan yang akan membuatnya jatuh terguling-guling ke dalam jurang.

Lutut Sakura terasa sakit membentur batu tajam, ia bisa merasakan cairan yang menuruni lututnya. Rasa nyeri mulai merambat di seluruh tubuhnya. Matanya terpejam, ia tahu ia jatuh ke sebuah lubang, memang sepertinya jurang.

"BERTAHAN!"

Suara itu membuatnya langsung mengengadahkan kepalanya, ia mendapati Uchiha Sasuke tengah berusaha menariknya ke atas, dari wajahnya terlihat ia berusaha keras menarik Sakura. Tidak… tidak mungkin ia yang menyelamatkannya…

"LEPAS!" Sakura berusaha menarik tangannya.

"BERTAHAN SAKURA! JANGAN BERSIKAP BODOH DI SAAT BEGINI!" pemuda itu masih berusaha menarik tangan Sakura.

"Kenapa kau berusaha menolongku! Aku tidak sudi di tolong olehmu!" makinya.

"Karena aku tidak akan pernah mau melepasmu lagi baka!"

Waktu seakan berhenti. Mata onyx itu memandang sungguh-sungguh pada mata hijau Sakura, berusaha menunjukan niatnya. Beberapa detik, mereka berdua hanya memandangi satu sama lain. Mau tak mau ia harus mengakui… bahwa…

Ia bisa merasakannya…ketulusan pemuda itu.

Tapi tanpa mereka sadari, keringat yang keluar dari tangan keduanya membuat pegangan Sasuke pada Sakura lepas dan menyebabkan gadis itu tergelincir. Sakura meluncur di tanah menuju dasar jurang yang tidak terlalu dalam itu.

"SAKURA!" teriak Sasuke.

Dan, tanpa pikir panjang pemuda itu langsung meloncat menyusul gadisnya.

.

.

.

"Chiha… Uchi…Uchiha! BANGUN!"

Kelopak matanya bergerak-gerak, perlahan-lahan mata itu bergerak dan mengerjap-ngerjap pelan. Hal pertama yang ia temukan adalah mata hijau Sakura yang berkaca-kaca memandanginya. Mata hijau yang biasanya terlihat dingin dan tanpa emosi itu kini terlihat seperti menangis.

Sasuke berdo'a semoga ini bukan mimpi belaka.

Tanpa bisa ia duga, wanita itu menubrukan tubuhnya pada Sasuke, mendekap erat tubuhnya, menyalurkan kehangatan. Tapi yang membuatnya lebih kaget adalah suara isakan yang ia dengar. Ia yakin itu bukan suara hantu, atau apapun. Tapi… itu suara tangisan Sakura.

"Bodoh… kau… hiks… tidak boleh… tidak boleh berlaku bodoh… hiks… seperti itu… hiks… lagi," tangis Sakura makin keras. "Baka no Sasuke…baka…baka…baka…"

Sasuke tersenyum simpul, sudah lama rasanya melihat perempuan ini meluapkan emosinya –emosi dalam artian baik. Melihat Sakura begini… rasanya seperti kembali ke masa lalu. Seperti ketika mereka baru awal-awal menjalin kasih.

Tangan pemuda itu bergerak perlahan ke punggung Sakura, mengusap-usapnya berusaha menenangkan.

"Sudah… aku baik-baik saja Sakura."

Wanita itu menarik dirinya, Sasuke lalu bangkit dan akhirnya ia duduk di depan Sakura. Sebuah senyuman tulus tercetak di wajahnya. Mata emerald Sakura memandangi Sasuke dengan tatapan penuh tanda tanya.

"Hn?"

"Kenapa kau menolongku? Kenapa kau meloncat mengikutiku? Kenapa tidak kau diam saja dan pura-pura tidak tahu aku terjatuh?" tanya Sakura. "Aku… tidak mengerti."

Keduanya sama-sama terdiam, pemuda itu terlihat lelah, namun raut kebahagiaan tidak bisa hilang dari wajahnya. Ya, ia senang melihat wanitanya kembali pada sifatnya yang dulu. Yang begitu hangat, begitu baik. Walaupun sebentar, setidaknya ia tahu bahwa wanita itu masih memiliki sifatnya yang dulu.

"Karena…" Sasuke tersenyum ke arahnya. "Aku tidak akan pernah membiarkanmu terluka lagi Sakura. Like never ever ever."

Dan entah mengapa, degupan jantung Sakura kembali menggila. Sedikit, ia takut bahwa Sasuke bisa mendengar debaran jantungnya itu. Mata keduanya saling bertautan, seolah tidak rela terlepas satu sama lain. Dunia seakan-akan berhenti berputar, dan pada detik itu juga mereka sama-sama merasa kembali terperangkap pada masa lalu.

Masa di mana mereka saling mencintai tanpa ada perasaan benci.

Namun, itu tidak berlangsung lama.

Sakura memutuskan eye contact mereka, ia memalingkan mukanya sambil tertawa canggung, "apa maksudmu. Berhenti mengoceh yang tidak-tidak. Lebih baik kita sekarang ke pondok di atas, dengan jalam memutar kukira –AAAAAA!"

Teriakan sakit Sakura terdengar begitu gadis itu mencoba berdiri, sehingga menyebabkan dirinya terduduk lagi.

"Kau kenapa?" tersirat nada cemas walaupun samar dalam suara Sasuke. Ia langsung merangkak menuju tempat Sakura duduk. "Kau baik-baik saja?"

"Lututku memar, tadi terantuk batu dan terkena akar-akaran," Sakura menggeleng cepat. "Tapi tidak apa-apa, aku masih bisa jalan. Kita harus ke pondok itu secepatnya. Jadi kita bisa pulang dengan cepat."

Wanita itu langsung bangkit dan mencoba kembali berdiri, menahan rasa kebas yang merambati kakinya. Tubuhnya oleng, tapi tangan besar Sasuke menahannya dan membuatnya bisa berdiri tegak kembali. Rahang pemuda itu mengeras, seperti menahan amarah.

Sakura bahkan belum bertanya alasan mengapa pemuda itu marah, tiba-tiba saja pemuda itu membuat dirinya berputar, lalu ia berlutut memunggungi Sakura.

"Naik."

"He?" demikian jawaban pintar dari Sakura. "Apa maksudmu?"

"Naik saja, aku gendong sampai pondok," ujar Sasuke singkat.

"Tidak-tidak," Sakura menggeleng cepat. "Kau baru pingsan dan langsung menggendongku? Kau pikir kau super hero apa."

"Naik Sakura. Kalau kau tidak naik, kita akan mendekam di sini. Sampai orang-orang mencari kita," Sasuke memaksa. Ia lalu menambahkan dengan suara pelan. "Itu juga kalau mereka mencari kita. Dan bisa menemukan kita..."

Sakura terlihat ragu-ragu, tapi tangan Sasuke menariknya hingga membuatnya jatuh di punggung pemuda itu.

"Lelet."

Dan, setelah mengalungkan tangannya pada leher Sasuke. Uchiha bungsu itu bangkit dan berjalan dengan Sakura di punggungnya.

Perjalanan mereka terasa seperti déjà vu bagi Sakura, karena bagaimanapun dulu ia pernah di gendong oleh Sasuke –sering malah. Ia lupa… sejak kapan punggung Sasuke selebar ini, sejak kapan punggung Sasuke jadi senyaman ini… dan… sejak kapan punggungnya sehangat ini.

Sakura mengistirahatkan kepalanya di bahu kiri Sasuke, ia menghela nafasnya.

"Sasuke…," panggil Sakura. "Maaf merepotkan."

Kata maaf itu sangat berarti bagi Sasuke, ia tahu betapa sulitnya Sakura mengeluarkan kata maaf baginya. Perkataan maaf itu bukanlah kata maaf yang sinis atau terpaksa, malah itu terdengar tulus. Kata paling tulus yang pernah Sakura ucapkan padanya sejak ia pulang. Dan ia cukup senang mendengar permintaan maaf Sakura.

Sebuah perasaan hangat menyelimuti hati Sasuke. Ia tahu, ia telah meluluhkan sebagian kecil hati Sakura. Gadis itu kembali memanggilnya dengan nama kecilnya bukan nama keluarganya. Dan, ia harap itu adalah perubahan ke arah yang lebih baik.

"Hn, sama-sama."

Keheningan kembali menyelimuti mereka, dan merekapun berjalan dalam kegelapan

.

.

.

"Itu tangganya!" seru Sakura.

Mereka berdua bisa melihat dari kejauhan tangga menuju dataran di atas mereka. Tangga itu terlihat ada di samping sebuah danau.

Sakura menahan nafasnya, ia melihat cahaya-cahaya remang-remang di atas danau itu. Ia tahu itu adalah kunang-kunang. Dengan bintang yang begitu banyak menghiasi angkasa, cahaya bulan yang bersinar terang, dan danau yang jernih memantulkan langit malam itu, semuanya terasa begitu indah.

"Sasuke, turunkan aku," ujar Sakura pelan.

"Tapi, kau –"

"Aku bisa berjalan sendiri," ujarnya memaksa.

Terpaksa Sasuke menurunkan gadis itu dari punggungnya. Perlahan gadis itu berjalan ke sisian danau, walaupun dengan keadaan terpincang-pincang ia bisa sampai di pinggiran danau. Sasuke tersenyum tipis, ia tahu Sakura adalah paling suka melihat pemandangan macam ini. Dan, ia yakin bahwa Sakura pasti senang berada di sini. Dengan latar kunang-kunang yang ada di sekeliling Sakura, entah mengapa sosok Sakura terlihat begitu cantik.

Sasuke tersenyum simpul dan ia berjalan perlahan ke sisi Sakura.

"Sasuke –astaga," pekikan terdengar melesak keluar dari kerongkongan Sakura. "Tanganmu kenapa!"

Belum Sasuke berjalan lebih jauh, langkahnya terhenti begitu mendengar pekikan Sakura. Dengan tertatih-tatih, Sakura berusaha mencapai Sasuke secepat yang ia bisa. Wajahnya begitu panik, kengerian terpancar begitu jelas.

Sasuke mengerutkan keningnya, matanya melirik tangannya. Memar muncul di tangannya, warna ungu mengerikan itu terlihat memenuhi sebagian besar lengannnya –ia yakin tubuhnya juga pasti banyak memiliki memar, dan darah mengucur turun dari jemarinya. Ah, ia baru menyadari rasa sakit di lengan atasnya. Mungkin, ada luka di sana juga.

Ia heran mengapa ia tidak menyadarinya ya?

"Kenapa bisa!" Sakura menarik lengan Sasuke –hell ia meninggalkan hoodie hitamnya di belakang sana. "Ya Tuhan! Tanganmu!"

"Tidak tahu," ia mengangkat bahunya acuh. "Mungkin terkena batu juga."

"Setelah terluka kau masih bisa menggendongku?" wanita itu menggeleng cepat. "Kau seharusnya tidak melakukan itu."

"Dan meninggalkanmu di belakang sana?" Sasuke mendengus. "Aku tidak akan melakukan itu Sakura."

"Kau dulu sering meninggalkanku, jadi apa susahnya? Dasar bodoh! Lihat karena aku kau –"

"Sakura," suara tenang Sasuke memotongnya. Tangan Sasuke perlahan bergerak ke arah pipi Sakura, tangannya menangkap pipi Sakura dan membuat gadis itu menatapnya. "Mungkin aku seperti itu di masa lalu, tapi sekarang aku berjanji… Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi."

"Sasuke…"

"Aku mencintaimu."

Sakura menahan nafasnya.

"Aku mencari-cari dalam diriku, memikirkan bahwa apakah aku benar-benar mencintaimu? Perasaan apa yang aku rasakan selama ini? Dan aku menemukan jawabannya akhirnya. Aku mencintaimu. Sangat. Aku sangat mencintaimu Haruno Sakura," ujar Sasuke tegas.

"…"

"Mungkin dulu aku kebingungan. Aku jenuh melihatmu, makannya aku melakukan hal-hal buruk itu. Itu adalah sebuah kesalahan terbodoh yang aku buat. Aku terlalu buta, terlalu malu, terlalu bingung untuk mengakuinya. Ketika Tou-sama berselingkuh dari Okaa-san, aku kehilangan arah, sosok Ayah yang kubanggakan menjadi sosok orang yang tak aku kenal, aku marah, maka dari itu aku berbuat hal tolol begitu. Aku berubah menjadi orang brengsek yang bahkan tega menyakiti wanita yang aku cintai, aku tahu aku salah."

"…"

"Aku…" Sasuke menarik nafas dalam-dalam. "Mencintaimu."

Dan, kepala Sasuke mulai mendekatinya, perlahan jarak di antara mereka mulai menipis. Hingga akhirnya, bibir keduanya bertemu. Perasaan hangat yang dulu pernah mereka rasakan kini kembali lagi memenuhi rongga dada mereka, membuat keduanya sama-sama berharap bahwa dada mereka tidak akan meledak akibat perasaan yang membuncah ini.

Bibir Sasuke bergerak perlahan di atas bibir Sakura. Bibirnya begitu dingin, tapi membuat Sakura hangat di saat yang bersamaan. Ciuman Sasuke manis, tapi tidak menuntut. Dingin, tapi menimbulkan perasaan hangat. Perasaan familiar inilah yang mungkin membuat Sakura ikut menutup mata dan menikmati ciuman mereka berdua.

Entah apa yang bisa membuat bibirnya ikut bergerak membalas ciuman Sasuke, ia mengalungkan tangannya di leher Sasuke. Jarak diantara keduanya makin dekat –bahkan tidak ada jarak lagi, dada Sakura menempel pada tubuh Sasuke.

Ciuman ini membuat hatinya bergetar kembali, akan tetapi di satu sisi juga membuat retakan yang makin melebar di hatinya.

Seolah baru tersadar, tiba-tiba Sakura mendorong dada Sasuke menjauh darinya. Air mata mulai keluar dari mata Sakura, ia menggeleng cepat, matanya terpejam erat seolah-olah menghindari kenyataan yang ada. Sebelum Sasuke bisa menanyakan ada apa, gadis itu terlebih dahulu mundur secara pelahan.

"Tidak…" Sakura menggeleng cepat. "Ini tidak boleh."

Dan, iapun membalikan tubuhnya dan menjauhi Sasuke. Mata gelap itu menatap punggung wanita itu yang menjauh, tangannya bergerak ke arah bibirnya, menyentuh seolah-olah meyakinkan apa yang terjadi adalah kenyataan.

Ia yakin kali ini.

Ia akan memaksa Ebisu untuk mencarikannya informasinya. Karena, ia harus mendapatkan jawaban itu…jawaban mengapa Sakura begitu membencinya selama ini.

.

.

You know what? To Be Continue.

Okay, kill me :-)

.

.

.

Author Note's :

LALALALALALAAAAAAAAAAAA~ Fluff romance abis itu endingnya wakakakakak.

15 halaman full story! Rekor terbaruuu! Yeay, huahahaha. By the way ini udah menuju klimaks chapter 21 tamat di pastikan, soalnya udah saya tulis hehehe. Tapi ini tinggal dari chapter 15 dan 16… Belom di tulis apa-apa… #ditendang #dibunuh #APAAAH

Terkesan keburu-buru gak sih? Gak yaah… Soalnya saya juga emang pengen cepet-cepet tamat, udah ini mungkin bakal fokus ke genre drama yang baru hehehe. Chapter 17 klimaksnya cerita ini, jadi buat yang penasaran gimana masa lalu Sakura, bakal ada di chapter 17 hehehe. Oh ya, saya juga ganti U-name loh hehehe #gapentingbanget

Oh ya, menurut kalian gimana? Ini yang favorite 118 orang, yang review 28 orang… termasuk nonlogin… YANG LAIN PADA KEMANAAAA?! #ngejeritfrustasi wakakakak. Ayodooong yang manis review yaa :-) makin penasarankan?

Okedeh, kalau gitu, review ya kawan!

.

ANSWER :

Bikin Sasuke tersiksa dong! (Asked by almost everyone =))) )

Kebanyakan reader juga minta Sasuke di siksa, tapikan Sasuke juga jadi begini gara-gara liat keluarganya retak, Ayahnya selingkuhin Ibunya… Jadi… Disiksa lagi… Kok gatega ya… ;A;

APA YAAANG TERJADI DI MASA LALU MEREKAAA! (By : Guess)

Hmm… Yah, sabar yaa di Chapter 17 bakalan di ceritain kok hehehe :-p

Hinata bakal di pasangin sama Gaara Gaaa? (By : iya baka-san)

Iya gaaak yaa :-p #digaplok. Mungkin iyaa, mungkin tidak… entahlah author juga belom tahu hehe.

Katanya mau nyelesein DarkMoon sampai maret, padahal chapter masih ada 8. Gimana nih senpai update terlalu lama. Janji gak di penuhi penonton kecewa!(By: Dora)

Iya tahu kook iyaaa, tapikan author juga kelas 3 SMA sibuk UN, author gak janji loh tamat maret, cuman… masih mungkin… (masih mungkin loh yah di umuminnya…) tamatnya bulan februari, atau maret, atau april. Baca di author note's last chapter deeeh. Paling molor ya April, sebelum saya mau kuliah ke luar gitchuuu. Jadi, maapkan kalau sibukkkk. Maklum, kelas 3 mau kuliah hehehe. By the way, nama nonlognya lucu, dora :-p #ganyambung

.

.

SPECIAL THANKIES :

DORA ; . Azakayana Yume ; Zhie Hikaru ; ; Nagi Sa Mikazuki Ananda ; iya baka-san ; Thalia Zen ; messi lionella ; Guest ; miyank ; aikoishiara ; ck mendokusei ; Danial Dark ; ongkitang ; Sar Sakamoto Suwabe ; Kira Desuke ; Retno UchiHaruno ; Tsurugi De Lelouch ; Aika Yuki-chan ; faridaanggra ; X ; WatchFang ; Gin Kazaha ; aish chan ; Ayano Futabatei ; poetry-chan ; Snow's Flower

.

.

Salam,

.

.

Arissachin.