Disclaimer: Naruto hanya milik Masashi Kishimoto

Aku rela chapter 14

.

.

.

" Gomenasai, hontouni."

Sasuke melepaskan pelukannya ketika napas Sai terdengar sesak. Dia membaringkan tubuh Sai di atas ranjang. Matanya menuju ke arah obat-obatan yang 'terpajang' di atas meja. Dia baru menyadari betapa menderitanya Sai. Mungkin kalau dia yang menjadi Sai, dia pasti akan mengakhiri hidupnya saat mendengar bahwa dirinya menderita HIV.

Sasuke berpikir mungkin Sai sudah berkali-kali ingin bunuh diri. Mungkin Tou-san, Kaa-san bahkan Itachi sudah berkali-kali menggagalkan rencana Sai. Hingga mungkin saja Sai sudah menyerah dan pasrah pada kehidupan yang menantinya.

Dia menoleh ke arah Sai yang sedang menutup mata. Sasuke baru ingat bahwa Sai belum makan. yah, kesimpulannya itu didukung dengan Sai yang sempat muntah-muntah tadi.

" Sai, ayo makan. Kau mau makan kan? Bagaimana dengan sayuran tadi? Kita makan separuh-separuh ne?" kata Sasuke seraya mendekati Sai yang masih berbaring. Sai tidak menjawab melainkan hanya mengangguk.

Sasuke berjalan menuju ke meja makan. mengambilkan makanan untuk Sai. Dia segera menuju ke kamar dan duduk di samping tempat tidur Sai. sai terbangun.

" Sasuke, kenapa dibawa disini. tou-san bisa marah kalau tahu kita makan di kamar," kata Sai polos. Sasuke menyerigai.

" Disini kita Cuma berdua. Ga ada Tou-san tahu. Hah kau ini. ne, sekarang makan ya. Bisa makan sendiri kan? Setelah itu minum obat," kata Sasuke. Dia memberikan sepiring nasi dan sayur pada Sai. lalu tangannya bergerak menyentuh dahi Sai.

" Tubuhmu masih panas. Setelah ini istirahat ya. Biasanya kalau kau panas kau minum obat apa?" Tanya Sasuke.

" Aku tidak apa-apa. Mungkin kalau dibuat tidur juga sudah hilang," jawab Sai seraya menghabiskan makanannya. Sasuke masih merasa khawatir. Panasnya tinggi, iya kalau rendah.

" Yang bener? Kau panas sekali Sai."

Sai hanya mengangguk dan tersenyum pada Sasuke. Sasuke masih saja merasakan hal yang tidak enak. Dia melihat kea rah dada Sai.

" Dadamu masih sakit?" Tanya Sasuke. Sai memegangi dadanya dan mengusapnya.

" Sedikit. Cuma terasa sakit ketika bernafas," jawab Sai. sasuke menundukkan kepalanya.

" Gomenasai hontouni."

" Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku juga pernah mengalami yang seperti ini waktu masih di ekskul karate. Sudahlah."

" Tapi itu berbeda Sai! waktu itu kau masih sehat dan sekarang kau…."

" Sakit-sakitan, lemah, menyusahkan orang lain? Itukah maksudmu? Wakata "

Sasuke tercekat.

" Gomen. Hontouni gomen. Sai….."

Sai hanya diam. Sasuke memegangi kedua pundaknya.

" Kumohon. Hiduplah Sai. Aku akan menjagamu. Aku akan membelamu. Yang jelas, kau harus hidup jika ingin membalas itu. Kumohon. Maafkan aku yang egois dan menginginkan kematianmu Sai," kata Sasuke. Tiba-tiba Sai mengangkat kedua tangannya dan menaruhnya di kedua pundak Sai.

" Semuanya tergantung rencana Tuhan," kata Sai. lalu dia menengadahkan kepalanya dan tersenyum menatap Sasuke. " Demo, arigatou. Sasuke."

Sasuke berjalan menuju ke kamar Sai berharap agar hari ini dia bisa masuk sekolah karena akan ada sebuah festival di sekolah. Dia mengetuk pintu dan mendapati pintu yang terbuka dengan sendirinya karena ketukannya tadi. Dia melihat Sai yang sedang sibuk berkemas-kemas. Sasuke melihat sebuah katana palsu yang berdiri di dekat meja belajar Sai.

Bayangan Sai yang menjadi seorang samurai segera berkelebat di kepala Sasuke. Dia mendengus geli membayangkan Sai yang 'sebagus' itu harus memakai pakaian khas samurai jaman dulu. Pakaiannya sih tidak apa-apa. Tapi, bukankah nantinya dia disuruh memakai 'wig' dengan cukuran khas samurai yang terlihat botak dengan cara yang aneh.

" Sebentar Sasuke. Sebentar lagi sudah selesai. Tunggu ya," kata Sai seraya mengambil katana palsunya dan mengaitkannya di pinggangnya. Pandangan Sai tertuju pada sabuk Sasuke yang aneh.

" Kurasa kau tidak punya sabuk yang begituan. Dapat dari mana?" Tanya Sai seraya menunjuk-nunjuk sabuk yang melingkar di pinggang Sasuke. Sasuke hanya melihat apa yang ditunjuk Sai lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

" Kelasku membuat planetarium sederhana. Aku jadi bagian kelompok yang menjadi tour guide-nya. Dan mereka mengharuskan aku untuk memakai pakaian ala businessmen," jawab Sasuke. Sai menutup mulutnya untuk menahan tawa. Sasuke menatap ke arah lain. 'Memang salah berdandan ala businessmen?' pikirnya.

" Gomen. Aku Cuma membayangkan betapa lucunya kau menjadi seorang businessmen dengan cukuran rambut begitu. Aku Cuma mau tahu caramu merebahkan rambutmu yang melawan gravitas itu," kata Sai.

" Oh. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau berdandan ala jaman edo dengan model rambut khas pendekar samurai? Aku mulai membayangkan wajahmu dengan kepala botak dan rambutmu tumbuh di tengah dan di belakang kepalamu," jawab Sasuke dengan maksud membalas olokan tak langsung dari Sai.

" Siapa bilang? Di tempatku mengadakan cosplay café. Jadi ya begini. Berdandan ala ancient. Lagipula siapa yang pake wig? Kami Cuma berpakaian saja. Tapi tidak mengubah gaya rambut," kata Sai seraya membawa tas yang berisi 'peralatan cosplay'-nya diikuti oleh Sasuke. Mereka segera berangkat ke sekolah.

Ketika melewati sebuah jalan, Sai berhenti dan membuka resleting tasnya. Dikeluarkannya beberapa tangkai bunga lili putih. Lalu Sai mencari botol untuk diisi air dan tangkai bunga itu dimasukkannya. Sasuke memandang dengan penasaran. Dia hanya 'menonton' apa yang dilakukan oleh Sai.

Sasuke mengambil langkah mundur dan merasa menyenggol sesuatu. Dia menoleh dan mendapati seorang gadis berkaca mata dengan rambut yang berwarna merah. Dia juga membawa beberapa tangkai bunga di genggamannya.

" Eh, gomen.," ucap Sasuke. Gadis itu hanya tersenyum dan berjalan menghampiri Sai.

" Jadi namamu Sai?" Tanya gadis itu. Sai terkejut dan segera berdiri.

" Darimana anda tahu nama saya?" Tanya Sai. gadis itu hanya tersenyum dan menunjuk ke arah 'jambangan' bunga. " Mayu yang cerita padaku."

" Jadi namamu Karin?" Tanya Sai. sasuke semakin tidak tahu menahu. Dia hanya bersandar di tembok jalan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

" Ya. Dan kurasa Mayu sudah tenang. Terimakasih," ucap Karin. Sai hanya memasang tampang tidak tahu.

" Jangan pura-pura tidak tahu. Kau bisa melihatnya. Dan kembaranmu yang bersandar itu juga bisa," ucap Karin. Sai terkejut namun akhirnya dia bisa 'melihatnya' juga. Karin memegangi tangan Sai dan melihat ke telapak tangannya.

" Kau sakit?"

" Eh?"

" Oh ya, dalam waktu dekat keinginanmu akan terkabul. Tanjoubi," ucap Karin. Sasuke menghampiri mereka berdua. Karin memegang tangan Sasuke dan melihat ke telapak tangannya.

" Maaf. Kau akan kehilangan. Kehilangan sesuatu dalam waktu dekat," ucap Karin. Lalu tiba-tiba saja Karin menggeleng-gelengkan kepalanya dan meminta maaf pada Sasuke dan Sai.

" gomen, tolong jangan didengarkan. Aku sering seperti ini. maaf, setiap aku melihat dan merasakan aura unik, aku akan seperti ini. Gomenasai," ucap Karin.

" Tidak apa-apa kok," ucap Sai sambil tersenyum. Dia segera ingat kalau mereka akan berangkat sekolah.

" Gomen, aku dengan Sasuke akan berangkat sekolah. Kami tinggal dulu ya," ucap Sai seraya menarik tangan Sasuke yang masih ingin tahu. Mereka segera meninggalkan Karin yang termangu-mangu.

" Fiuh…. Kenapa harus kambuh lagi sih? Tapi kalau kulihat-lihat, kurasa ramalan kali ini tidak salah. Benar kan Mayu-chan?" ucapnya seraya memandang kea rah jambangan bunga. " Aku senang karena kau sudah tenang."

.

.

.

.

Sasuke masih memikirkan apa yang telah dikatakan oleh gadis bernama Karin. Pikirannya melayang mengenai dirinya yang akan kehilangan sesuatu sedangkan Sai akan mendapatkan hal yang diinginkannya. Apakah itu berarti Sai akan mendapatkan Sakura dan dirinya yang akan kehilangan Sakura?

" Kau masih kepikiran ramalan?" Tanya Sai. sasuke segera membuang muka. Sai yang awalnya merasa senang karena keinginannya akan segera terpenuhi akhirnya merasa simpati pada Sasuke. Dia tidak ingin berbahagia di atas penderitaan orang lain.

" Sudahlah, mungkin saja apa yang dikatakan oleh Karin-san benar. Tidak usah dipikirkan. Namanya juga ramalan. Tidak seratus persen benar kok," kata Sai. mereka segera melanjutkan perjalanan mereka menuju ke sekolah. Sasuke tetap melirik ke arah Sai.

'Jika memang benar….'

.

.

.

Di sekolah….

Festival sekolah sudah dimulai. Seluruh siswa dan siswi SMA Konoha sedang sibuk dengan acara masing-masing. Mereka berlomba-lomba menghias stan yang telah disediakan oleh panitia semenarik mungkin. Mereka juga mengadakan acara yang unik di stan mereka.

Di stan Sasuke mengadakan planetarium sederhana. Di sebelahnya terdapat stan kelas Naruto dan Hinata yang mengadakan rumah hantu. Sedangkan di kelas Sai mengadakan sebuah kafe dengan 'pengawai'-nya yang ber-cosplay.

Mari kita ke stan yang dibuat oleh teman-teman sekelas Sasuke.

" Selamat datang di planetarium sederhana kami," ucap Sasuke yang bertugas sebagai 'penjaga pintu masuk'. Dia memakai jas seolah-olah dia adalah businessman. Rambutnya tetap seperti menantang gravitasi. Wajahnya yang tampan membuat para pengunjung ingin masuk ke stan mereka.

Sasuke berjalan sambil menjelaskan berbagai macam benda yang ada di dalam 'ruangan'. Di belakangnya terdapat para pengunjung yang 'melihat' dengan antusias. Yang dilihat bukan benda tapi guide-nya.

Teman sekelas Sasuke yang bertugas di bagian 'administrasi' hanya mengikik ria. Namun mereka juga bersyukur karena dengan adanya Sasuke, membuat stok pemasukan mereka makin banyak.

Berbeda dengan tempat Naruto. Yang terdengar di tempatnya hanyalah suara jeritan ketakutan gara-gara sosok Kuchisake-onna yang tidak lain adalah Hinata. Sedangkan Naruto bertugas untuk 'mencari mangsa'. Dia melihat Sasuke yang berdiri di dekat bagian 'receptionist' sambil menawarkan 'program' kelasnya. Naruto datang menghampirinya.

" Woi, kau ini benar-benar berguna banget dah. Wajah kamu bisa menjadi daya tarik tersendiri," ucap Naruto seraya menepuk pundak Sasuke. Sasuke berekpresi risih. Lalu seseorang menepuk pundaknya. Dia menoleh dan ternyata orang itu adalah Shino.

" Tugasmu sekarang sudah selesai. Sekarang gantian aku yang jaga," ucap Shino. Sasuke hanya mengangguk dan masuk ke dalam stan. Naruto yang merasa diabaikan hanya mendengus kesal lalu pergi mencari mangsa.

Beberapa menit kemudian Sasuke keluar dengan setelan kaos dengan celana jeans. Kedua tangan masuk ke dalam kantong saku celananya. Dia melihat Sakura yang mendapat 'pembebasan tugas'. Sakura menggandeng lengan Sasuke. Membuat Sasuke teringat akan suatu hal.

'kau akan kehilangan sesuatu. Dan Sai akan mendapatkan hal yang diiginkannya.'

" Setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk Sai," ucap Sasuke dalam hati. Mereka berjalan dan melewati kelas Naruto. Dan tanpa diduga…..

" Sai, tolong bawain nampannya terus ambil gelas yang disimpan sama Kabuto di perpus."

" He? Kenapa harus perpus? Ya sudahlah."

Posisi stan yang berjajar membuat Sasuke bisa melihat dengan jelas betapa menawannya Sai. kostum samurai bak Kenshi dalam anime samurai X. Pakaiannya berwarna hitam bak Shinigami dalam anime Bleach. Sebuah pedang kayu bertengger di pinggangnya. Sai bak seorang samurai jaman edo dengan penampilan masa kini.

Sai berjalan dan berpapasan dengan Sakura yang masih merangkul lengan Sasuke. Sasuke benar-benar merasa tidak enak. Dia benar-benar merasa berbahagia di atas penderitaan Sai. sai hanya tersenyum dan senyumannya dibalas oleh Sakura. Sasuke hanya melamun sekilas.

" Kalian tidak bertugas?" Tanya Sai yang membuat Sasuke terbangun dari lamunannya.

" Kami sudah bebas tugas kok Sai. kamu sendiri apa masih tugas? Keren juga kostummu Sai. dapat dari mana?" Tanya Sakura

" Dapat? Kau pikir aku nemu apa? Tentu saja pinjam sama Ojii-san yang cerewet setengah mati dan selalu mengumbar-umbar mengenai betapa gantengnya dirinya jika memakai pakaian ini ketika muda dulu," kata Sai. Sasuke mendengus geli.

" Jangan bilang kalau dia adalah….."

" Tepat sekali. Jiraiya-Jiisan,"

" Etto… bukankah Jiraiya-san itu…" sela Sakura sambil mengangkat tangannya. Sasuke dan Sai mengangguk.

" Tak kusangka ternyata Jiraiya-san begitu orangnya. Ck ck ck," komentar Sakura. Tiba-tiba Sakura melihat Matsuri, teman sekelasnya waktu SMP dulu sekaligus teman sekelas Naruto di SMA ini. sakura segera menghampirinya dan terjadilah 'percakapan' antar wanita. Sasuke dan Sai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tiba-tiba Matsuri menarik tangan Sakura dan Sasuke lalu memaksa mereka untuk memasuki stan rumah hantu. Dan beberapa menit kemudian terdengarlah jeritan yang diasumsikan oleh Sai adalah jeritan Sakura.

Sai hanya tertawa mendengar jeritan Sakura. Tiba-tihba muncullah seseorang bernama Lee yang tiba-tiba berlutut di depannya.

" Sai, aku minta tolong dong…. Kau mau ga jadi seksi keamanan buat acaranya anak PMR?" kata Lee. Sai hanya menaikkan sebelah alisnya.

" Memang anak PMR ada acara apa? Kau kan anak taekwondo."

" Aku juga jadi seksi keamanan," ucap Lee.

" Oh…. Begitu…. Jadi kamu mau cari temen gitu? Kenapa harus aku? kenapa ga para senpai-senpai aja?"

.

.

.

.

To be continued

.

.

Author's note:

Apa Sai mau menjadi seksi keamanan pada acara anak-anak PMR? Maaf ya kali ini chapter-nya datar. Terus Kasumi juga lama banget update-nya…..

Terakhir, ada yang mau review?