Galerians, in.
A/N: Niatnya mau apdet kemarin siang, tapi temen-temen ngajak hamba ke Pizza Hut. Kekenyangan, ketiduran, terus lupa deh. My apology. Okay then, onto the real Author's Note!
Peringatan, chapter ini akan memuat begitu banyak teori dan asumsi yang sudah hamba buat sejak chapter Interlude Arc I kemarin. Sebagian akan menyangkut canon dan sebagian sepenuhnya berasal dari otak hamba sendiri. Ingatlah, salah satu alasan fic ini memakai Rate M adalah karena komplektivitas plot. Seperti yang dulu hamba bilang, hamba ingin menyaingi kehebatan mbah Masashi dalam membuat cerita, dan hamba tidak berniat bikin cerita yang setengah-setengah. Sekali lagi, Anda telah diperingatkan.
Warning:
Mungkin abal. Mungkin aneh. Mungkin jelek. Dan mungkin OOC.
Notification:
"Blablabla" = perkataan yang diucapkan langsung (tanda petik double)
'Blablabla' = perkataan dalam hati (tanda petik single)
Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of whatever I decided to write for those who read!
Selamat membaca!
~••~
When Sun and Lightning Go Side by Side
Part 1 – Prologue
(This is His True Skill?! A Friendly Encounter in The Night!)
Seorang pria tua memandang kuas yang sudah ia pakai menulis sampai berjam-jam lamanya sembari menyandarkan tubuhnya yang penat ke kursi. Raut wajahnya yang sudah dimakan usia dan penuh keriput terlihat lelah, bibirnya kembali menghisap pipa yang tergenggam tangannya sebelum menghembuskan asap tembakau ke udara yang diwarnai cahaya kemerahan matahari senja.
Di depannya, seorang bocah pirang nampak mengamati asap yang terbang dengan mata bersinar, sebuah ekspresi yang disadari oleh sang kakek. Setelah satu hisapan panjang, ia membuat cincin-cincin dengan asap pipanya, membuat sang anak memekik girang sambil bertepuk tangan dengan kagum.
Setelah beberapa kali melakukan itu, sang anak akhirnya tak tertarik lagi dan mengembalikan perhatiannya pada buku yang sebelumnya ia baca, walaupun isi buku itu agak terlalu rumit untuk seorang anak 7 tahun sehingga kadang ia harus membaca satu halaman sampai beberapa kali. Akan tetapi terlihat jelas dari wajahnya kalau anak itu mulai bosan.
Walaupun usianya sudah uzur, tapi tetap saja pria tua itu cukup teliti untuk mengetahui isi pikiran si bocah hanya dengan melihat ekspresi wajahnya. "Naruto." wajah sang anak dengan cepat terangkat mendengar namanya dipanggil. Pria tua itu tersenyum sambil menepuk pahanya, membuat sang anak tersenyum lebar sebelum menghambur naik ke pangkuannya.
"Ne, ne, Jiji, memangnya nggak papa ya kalau ngerokok sebelum kerjaannya selesai?"
Mendengar pertanyaan polos Naruto, pria tua bernama Hiruzen Sarutobi itu hanya terkekeh. "Kau mulai kedengaran seperti sekretarisku saja, Naruto." sang Sandaime kembali menyedot pipanya sebelum menghembuskan asap dengan nikmat. "Tenang saja, cuma sebentar kok."
"Jiji kecapekan ya?" Naruto kembali bertanya. "Kalau kerja begini memang bikin capek, kenapa Jiji nggak berhenti aja?"
Sarutobi tertawa sambil mengacak-acak rambut bocah yang sudah ia anggap cucunya sendiri itu dengan sayang. "Kalau aku bisa, sudah dari lama aku berhenti. Sayangnya, aku masih belum menemukan penerus yang cocok."
Mendengar itu, Naruto mulai berpikir keras sampai dahinya berkerut. Sarutobi mengamati ekspresi lucu sang bocah sebelum kerutan di dahi Naruto tiba-tiba lenyap dan digantikan dengan ekspresi cerah. "Jadi kalau Jiji menemukan penerus, Jiji bisa pe... pen..."
"Pensiun?"
"Ya, itu," Naruto kecil memperbaiki posisi duduknya agar bisa menatap sang kakek dengan lebih baik. "Kalau Jiji dapat penerus, Jiji bisa pensiun?"
Sarutobi berpura-pura berpikir. "Yah... kurasa itu memang benar sih."
"Yosh!" Naruto melompat ke atas meja, tangan kirinya berkacak pinggang sedang tangan kanannya ia pakai untuk meninju udara sambil menyunggingkan sengiran khas anak kecil, lengkap dengan satu gigi yang hilang karena baru lepas. "Aku akan jadi Hokage yang paling hebat, lebih hebat dari semua Hokage sebelumnya! Dengan begitu Jiji bisa pensiun dengan tenang!"
Sarutobi kembali tertawa. "Hoho, begitu ya? Baiklah, akan kutunggu sampai kau bisa jadi orang yang bisa menjadi penerusku." Sebuah ide terbersit di kepala Sarutobi, membuatnya nyengir miring. "Tapi kalau begitu kau harus minum susu tiap hari. Aku tak mau punya penerus berbadan pendek."
Naruto menggembungkan pipinya dengan kesal. "Nmuu! Jiji, kau mengejekku ya?!"
"Ehh~, ketahuan ya~"
"NMUU!"
Naruto melompat menyerbu, sebelum mencubit kedua pipi sang kakek yang hanya tertawa sambil mengaduh-aduh kesakitan. "Auw, aduh...! Naruto, aku cuma bercanda...! Tidak usah diambil hati dong...!" Sarutobi mengangkat bocah tujuh tahun itu sampai cubitannya lepas sebelum menurunkannya kembali ke pangkuan. Melihat wajah dengan pipi menggembung besar sampai wajahnya memerah itu membuat sang Sandaime harus menahan keinginan untuk balas mencubit. "Bagaimana kalau begini, kalau kau benar-benar bisa jadi ninja yang cukup hebat untuk menggantikanku, aku akan mentraktirmu makan ramen sepuasnya, oke?"
Kekesalan si bocah langsung berubah ketika mendengar soal makanan kesukaannya. "Janji?" Naruto menyodorkan kelingkingnya.
Sarutobi tersenyum lembut sambil mengaitkan jari kelingkingnya sendiri.
"Janji."
Pada momen itulah Naruto terbangun dari tidurnya.
3 jam yang lalu...
Mereka tiba kembali di Konoha ketika matahari sudah hampir terbenam, membuat gerbang Konoha yang berwarna hijau lumut berubah warna menjadi agak kecoklatan. Mobil yang dibawa tim Tenzo dan disembunyikan jauh dari kota Nami untuk menghindari serangan mendadak, yang kemudian dipakai untuk perjalanan pulang sekarang terparkir di halaman depan Rumah Utama yang luas.
Kelompok Naruto yang terdiri dari delapan orang disambut oleh Tsunade dan sang Gama Sennin sendiri, yang berdiri menunggu di muka pintu depan Rumah Utama.
Melihat sosok sang Shishou yang sudah tak ia jumpai selama hampir tiga bulan, Naruto langsung tersenyum lebar dan berlari ke arahnya sembari berteriak senang. "Ero-senniin~!"
Seakan ingin mencerminkan keceriaan sang murid, Jiraiya ikut berlari ke arah Naruto dengan sengiran lebar yang sama. "Gakii~!"
Semua orang yang menyaksikan peristiwa klise itu langsung sweatdrop, terutama ketika gerakan guru dan murid yang lari menyongsong satu sama lain itu mulai berlangsung seperti video slow motion yang sering terjadi dalam opera sabun favorit ibu-ibu rumah tangga.
...Ohh, betapa keliru mereka semua.
"Ero-sennin~!"
"Gaki~!"
Wajah mereka yang semula menampilkan ekspresi seperti ayah dan anak yang baru bertemu setelah lama terpisah berubah perlahan-lahan menjadi sangar.
"Ero-sennin!"
"Gaki!"
Tangan yang terentang seperti siap berpelukan sekarang sudah terkepal.
"ERO-SENNIN!"
"GAKI!"
Semua penonton ternganga ketika bogem bertemu pipi dengan suara gebukan nyaring yang bergema di seluruh halaman, dilanjutkan dengan pemandangan dua tubuh yang melayang ke belakang sebelum tersungkur ke tanah begitu keras sampai debu melayang.
Tanda sweatdrop di atas kepala para karakter yang kini miring 45 derajat berubah menjadi tanda tanya.
"...Eh?" mereka berucap berjamaah.
Dua sosok kembali melesat dari kepulan debu masing-masing, bertemu di tengah-tengah halaman dan saling sapa dengan bogem mentah yang terarah ke wajah.
"Dasar bocah sialan!" suara teriakan pertama datang dari Jiraiya. "Bukannya kau sudah kusuruh untuk mem-proofread naskah buku Icha-Icha terbaruku?! Deadline-nya sudah lewat satu bulan, tahu! Aku sampai diomeli penerbit gara-gara jadwal mereka mundur!"
"Hah?! Kau sendiri yang pergi tiga bulan gak ngasih kabar! Lagipula, kau kira aku sudi jadi proofreader buku mesum macam itu?!"
"Apa katamu, murid tidak tahu diuntung?! Kau kira aku tidak tahu ya?! Kau sering curi-curi baca naskah buku itu! Pake mimisan segala pula!"
"Jangan sombong ya, dasar Shishou sompret! Aku mimisan gara-gara melihat tata bahasamu yang kacau, tahu! Mana banyak typo lagi!"
"Kalau tahu banyak typo ya dibenerin dong!"
"KAGAK SUDI!"
"APA KAU BILANG, BOCAH SEMPRUL?!"
"AKU BILANG GAK SUDI, DASAR PETAPA BEJAT!"
Pertemuan guru dan murid yang aneh ini berakhir ketika para penonton tersentak dari shock mereka dan mengambil inisiatif untuk melerai kedua orang yang mulai bergumul di tanah bagaikan dua kucing berkelahi itu. Sekarang, Naruto dan Jiraiya sudah duduk bersimpuh di kantor Hokage, lengkap dengan benjol di kepala dan memar di wajah, menghadapi sosok dua perempuan dengan ekspresi kesal yang kurang lebih identik.
"Naruto-sama..." gadis berambut hitam panjang di sebelah kiri memulai. "Aku tahu kau memang sedikit kelainan dalam soal akal sehat, tapi memangnya ada seorang murid yang menghajar Shishou-nya sendiri seperti itu?"
"T-tapi, Haku...!" Naruto menyahut dengan nada suara tak ingin disalahkan. "Makhluk bejat ini menyuruhku jadi proofreader naskah buku mesumnya itu!"
"Oi, siapa yang kau panggil makhluk bejat, hah?!"
"Daripada membahas itu," Tsunade memotong dengan suara berbahaya sebelum guru dan murid itu sempat perang mulut lagi. "Jiraiya, apa maksudnya ini? Kau menyuruh anak remaja untuk menjadi proofreader untuk bukumu yang ditujukan pada pembaca berusia delapan belas tahun ke atas itu? Akal sehatmu sendiri di mana?"
"T-tapi, kau tidak mengerti, Hime...!" Jiraiya memasang wajah memelas. "Seri bukuku yang sebelumnya dikoreksi dan diedit oleh anak bego ini, dan menjadi best seller yang memecahkan rekor tangga popularitas tidak hanya di negeri ini, tapi juga di seluruh Genso no Kuni!"
"Diam! Guru macam apa yang merusak moral muridnya sendiri, hah?!"
"Moralnya memang sudah jongkok dari awal kok!"
"Dan soal itu, Naruto-sama," Haku mendekatkan wajahnya ke Naruto, lalu tersenyum menakutkan sampai remaja pirang itu berkeringat dingin. "Aku tadi dengar kalau kau sendiri juga sering curi-curi baca naskah buku yang kau bilang mesum itu. Apa maksudnya ini?"
"A-aku..." Naruto terbata. "S-sejujurnya, buku Ero-sennin gak jelek-jelek amat kok! Jalan ceritanya menarik, cuma tata bahasa dan alurnya yang memang berantakan!"
Haku dan Tsunade saling tatap untuk sekilas, saling pengertian tergambar di mata kedua kaum Hawa itu sebelum mereka berdua menghembuskan napas panjang sambil mengusap kening mereka secara bersamaan.
"Salahmu nih, gaki..." bisik Jiraiya sambil menyikut lengan sang murid.
"Apaan sih...? Sudah kubilang kan, itu gara-gara kau pergi dan gak ngasih-ngasih kabar. Aku kan gak tahu alamat penerbitnya...!" Naruto balas berbisik dengan sengit.
"Tunggu... jadi naskahku sudah dikoreksi dan diedit ya...?"
"Ya iyalah...!"
"Serius?" tanya Jiraiya dengan mata berbinar. "Oke...! Kalau begitu, sebagai gantinya, kau akan kuberi lima persen royalti...!"
"...Lima belas persen."
"Ye, pake nawar lagi. Tujuh persen...!"
"Dua puluh persen atau kubakar naskah editan itu."
Jiraiya mendecak. "Kuberi kau sepuluh persen, lalu sesudah bukuku dicetak, kau juga akan kuberi Gold Version-nya lengkap dengan tanda tangan dan hard cover...! Akur?"
Naruto mengangguk puas sambil menyorongkan tangannya. "Akur."
Setelah menjabat tangan murid sekaligus pemoles kualitas naskah bukunya itu, napas Jiraiya tiba-tiba tercekat ketika ia merasakan nafsu membunuh yang memancar dari depan. Dengan bulu kuduk merinding dan keringat dingin membasahi wajahnya, ia menoleh. "A-anu, Hime, aku bisa jelaskan..."
"BERISIK!"
POW!
Tubuh Jiraiya terbang menyeberangi ruangan sampai akhirnya berhenti setelah menubruk pintu yang lepas dari engselnya dan ambruk seketika.
Tsunade mendengus sambil menepuk-nepukkan tangannya, sebelum mengalihkan perhatiannya pada si pemuda yang masih bersimpuh dengan tubuh gemetaran. "Naruto!"
"H-Hai, Tsunade-sama!"
Satu alis Tsunade terangkat mendengar suffiks formal itu, namun ia merasa itu hanya mekanisme perlindungan karena Naruto sadar bahwa keselamatannya sedang berada di ujung tanduk. "Karena hari sudah malam, kau kuperbolehkan pulang dulu. Apa kau sudah menyiapkan laporan tertulis?"
"Y-ya, tentu saja!" Naruto cepat-cepat merogoh tasnya lalu mengeluarkan sebuah berkas dokumen yang ia sodorkan dengan gaya seorang ksatria yang sedang memberikan hadiah pada ratunya. "Persembahan hamba, Hokage-sama."
Tsunade hanya terkikik melihat tingkah lucu remaja itu. "Oh, aku hampir lupa. Tsuna, Negi."
Guru kecil dan calon bos mafia yang sedari tadi mengheningkan cipta tergopoh-gopoh menghampiri sang Hokage. Mereka saling pandang satu kali, mengangkat tangan kanan mereka dengan tangan kiri terletak di dada, tepat di depan jantung, lalu membuat deklarasi bersama-sama. "Hokage-sama, kami bersumpah kami tak punya hubungan apapun dengan apa yang dilakukan oleh makhluk mesum di belakang kami!"
"PENGKHIANAT!"
"Berisik!" Tsuna menghardik sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Naruto dengan penuh emosi. "Aku nggak sudi disangkutpautkan dengan kutukupret dari planet mesum sepertimu!"
"Kau punya bukti apa memanggilku mesum seperti itu, hah?!"
Jawabannya datang dari sosok yang terbenam di bawah reruntuhan pintu. "Cek bawah ranjangnya! Terakhir kali aku lihat, di sana ada sekardus buku porno!"
Naruto mencak-mencak. "Oi, Ero-sennin brengsek! Jangan buka-buka rahasiaku dong!"
Kali ini, Tsunade tertawa lepas. Rasa lelah karena sudah bekerja seharian terasa hilang ketika ia melihat tingkah polah orang-orang yang secara rahasia ia anggap keluarga sendiri ini.
...
"Auh..." Naruto meringis sambil mengusap benjol di kepalanya yang merupakan produk ketika sang Godaime harus melerai pergumulan yang kali ini terjadi antara Naruto, Jiraiya, Tsuna, dan Negi sekaligus. "Aku capek banget nih..."
"Jangan mengeluh. Semua itu kan gara-gara salah Naruto-sama sendiri..." sahut Haku yang berjalan mengiringinya.
"Iya, iya, aku tahu," Naruto menghembuskan napas sebagai pengakuan salah. "Ngomong-ngomong, kenapa kau menolak saat Tsunade-baachan menawarimu kamar tamu di Rumah Utama?"
"Ah, aku tidak enak sama Godaime-sama. Dia sudah berbaik hati mau mengurusi segala surat-menyurat agar aku bisa tinggal di sini."
"Hoo," Naruto mengangguk-angguk setuju. "Tapi jangan nyesal ya. Asal tahu saja, apartemenku tidak hanya sempit dan lusuh, tapi juga berantakan."
"Aku sudah bisa mengira itu, Naruto-sama," kata Haku dengan senyum yakin. "Tenang saja, aku sudah terbiasa mengerjakan urusan rumah tangga."
Mereka tiba di sebuah bangunan apartemen, lalu melangkah menaiki tangga untuk naik ke lantai teratas. Haku melirik berkeliling dengan dahi berkerut. "Naruto-sama, ini cuma perasaanku atau apartemen ini memang terlihat... kosong?"
"Ah, benar, soal itu..." Naruto mengusap kepalanya, sebuah senyum pahit tersungging di bibirnya. "Karena beberapa kejadian di masa lalu, sekarang cuma aku sendiri yang mendiami apartemen ini."
Ketika Naruto tidak menguraikan lebih lanjut, Haku membuka mulutnya untuk bertanya. Sebelum udara sempat melewati trakeanya dan berubah menjadi suara, Haku teringat bahwa Naruto adalah seorang Jinchuuriki, dan mengetahui apa yang diimplikasi oleh status itu membuat sang gadis menutup mulutnya lagi.
Dia tak perlu bertanya untuk tahu jawabannya. Karena Haku sendiri telah merasakan bagaimana sakitnya menjadi orang yang dikucilkan oleh masyarakat.
"Nah, ini dia," suara Naruto memecah renungan Haku. Remaja pirang itu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebuah kunci sebelum membuka pintu apartemennya sedikit untuk mengintip ke dalam. "Yakin benar-benar mau nginap di sini?"
"..." Haku hanya diam lalu mendorong Naruto masuk sebelum menutup pintu apartemen. Gadis itu melihat sekelilingnya selama beberapa saat sementara Naruto menggigit bibirnya, menunggu komentar Haku dengan khawatir. "Tenang saja, aku pernah melihat yang lebih buruk kok."
Dari sana, Naruto menyaksikan Haku mulai bergerak membereskan rumahnya dengan gerakan lincah dan mulus khas seorang ibu rumah tangga. Padahal ini pertama kalinya gadis itu menginjakkan kaki di apartemen Naruto, tapi gadis itu seperti sudah tahu seluk beluk tempat tinggalnya sampai-sampai dia tak perlu bertanya untuk mengetahui benda yang mana harus diletakkan di mana.
"Tunggu, tunggu, Haku."
Haku menoleh, di lengannya kini teraup gulungan-gulungan kertas dan buku yang semula bertebaran di atas meja ruang tengah Naruto. "Hm?"
"Aku tak bisa membiarkanmu kerja sendiri. Paling tidak biarkan aku membantu."
"Tapi aku tidak keberatan kok," kata Haku sambil melanjutkan pekerjaannya mengorganisir isi lemari buku Naruto. "Lagipula mengurusmu sudah menjadi tugasku, Naruto-sama."
"Tapi tanganku gatal pingin kerja juga nih, dan tolong, kau tidak perlu memanggilku 'Naruto-sama'."
Wajah Haku nampak bingung. "Naruto-sama ya Naruto-sama. Apa salahnya memanggilmu seperti itu?"
Gerakan Naruto berikutnya memiliki urutan berikut: buka mulut – tutup mulut – berpikir – buka mulut lagi – tutup mulut lagi – berpikir – garuk-garuk kepala. "Ahh, sudahlah. Diskusi ini kita lanjutkan di lain waktu. Sekarang, kasih aku pekerjaan apa kek gitu."
Haku memiringkan kepala sambil menyentuh pipinya dengan jari telunjuk. "Bagaimana kalau menyikat bak mandi?"
"Laksanakan!" seru Naruto sambil melesat ke kamar mandi. Sembari melaksanakan suruhan Haku, Naruto mau tidak mau memikirkan kenapa dia tiba-tiba bertingkah seperti itu. Dia bukannya tidak senang dengan kehadiran Haku, sebaliknya malah, tapi entah kenapa perasaan yang menggelayuti dadanya ini menolak untuk pergi.
'Yah, mungkin itu karena aku cuma terlalu terbiasa hidup di sini seorang diri...' batin Naruto sambil menyiram bak yang sudah ia sikat sampai kinclong. Melihat hasil kerjanya, Naruto mendengus puas sebelum keluar dari kamar mandi.
"Ah, Naruto-sama," suara Haku langsung menyapa gendang telinga Naruto sesegeranya pintu geser itu terbuka. Remaja pirang itu menoleh ke arah Haku yang berdiri di depan mesin cucinya dengan sekeranjang pakaian kotor. "Aku sudah membersihkan lantai dengan penyedot debu, tapi kalau kau mau, Naruto-sama bisa menyelesaikan sisanya dengan mengepel."
"Oke," Naruto membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjuknya. Ia meraih kain pel dan ember yang ada di samping mesin cuci sebelum membuat sebuah Insou khusus. "Kagebunshin no Jutsu!"
Lima kembaran Naruto muncul memenuhi ruang tengah, sedangkan yang asli kini menoleh ke arah Haku dan menyunggingkan sengiran khasnya. "Bagaimana? Begini bisa jauh lebih cepat kan?"
"Iya, iya," sahut Haku sambil mendorong punggung remaja pirang itu. "Cepat kerja sana."
"Yosh, kalian semua!" seru Naruto pada semua tiruannya, yang langsung berdiri tegak seperti prajurit bertemu komandan. "Kalian dengar perintah Haku! Jangan sisakan walau cuma setitik debu!"
"Laksanakan, Taichou!"
Naruto benar-benar tidak bercanda saat dia memberi perintah untuk tidak menyisakan setitik debu pun. Kelima Kagebunshin beserta tuannya itu sekarang bergerak di seluruh rumah dengan koordinasi jempolan. Tidak hanya lantai, jendela, ventilasi, bahkan belakang lemari pun tidak luput dari sasaran mereka. Tapi mungkin karena sudah ditinggalkan seminggu, kamar apartemen itu benar-benar mengumpulkan debu. Bahkan dengan bantuan lima Kagebunshin, Naruto perlu hampir setengah jam untuk membersihkan setiap sudut rumah.
Dengusan puas kembali terdengar dari hidung Naruto ketika pemuda itu mengamati hasil kerjanya sementara lima Kagebunshin bawahannya menghilang dengan suara 'pop' pelan. Pemuda itu berbalik lalu melangkah ke kamar mandi, siap memanggil Haku untuk menerima suruhan lain ketika sebuah pemandangan membuat otaknya rem mendadak, nabrak pembatas jalan, lalu jungkir balik sampai akhirnya berhenti dengan atap di bawah dan mesin berasap.
Pemandangan itu adalah Haku yang berdiri di depannya dengan rambut basah dan kulit lembab, tubuhnya yang putih hanya dibalut oleh selembar handuk.
"Ua... au..." Naruto mangap-mangap tak berdaya.
"Ah, Naruto-sama," dengan suara halus yang membelai gendang telinganya, serta melihat wajah Haku yang masih merona (mungkin karena dia habis mandi air panas... atau alasan lain). "Kamar mandinya sudah kosong. Silakan mandi dulu selagi aku menyiapkan makan malam."
"Hoe..." Naruto menjawab bego dengan satu anggukan, hidungnya mencium aroma harum semerbak ketika Haku lewat di sampingnya. Masih dalam keadaan melongo, Naruto melucuti bajunya satu-persatu lalu melemparkannya sembarangan ke dalam keranjang sebelum masuk ke kamar mandi.
Ketika air shower yang dingin bertemu wajahnya, barulah otak Naruto mengaktivasi fungsi reboot dan mencerna peristiwa barusan.
'Uooooh...!' remaja pirang itu keramas dengan begitu ganasnya, seakan berusaha melupakan peristiwa yang tadi membuat otaknya mengalami crash dengan memfokuskan dirinya ke hal lain. 'Berhenti, Naruto...! Jangan bayangkan hal yang tidak-tidak...! Jangan, STOP! Adik Kecil, aku tidak pernah menyuruhmu siap grak!'
Merasa bahwa shower dingin sama sekali tidak membantu untuk memperbaiki keadaan nuraninya yang masih terlalu dipenuhi hawa nafsu, Naruto menyabuni tubuhnya cepat-cepat, membilas, lalu langsung melompat ke bak mandi yang menimbulkan suara ceburan nyaring. Naruto membiarkan dirinya tenggelam dalam air panas sampai beberapa menit, dia baru keluar ketika tidal volume dalam paru-parunya sudah tak bisa menyuplai oksigen lagi.
Naruto pada dasarnya memang tidak pernah mandi lama-lama, jadi setelah lima menit berendam, dia segera keluar dari bak dan bergerak ke kamar sebelah untuk mulai mengeringkan tubuhnya. Dengan handuk yang kini terlilit di pinggangnya, Naruto membuka pintu ke ruang tengah dan agak kaget saat tidak mendapati adanya aktivitas di dapur.
"Haku?" panggilnya sambil melangkah menuju kamar untuk mengambil baju ganti. "Kau di mana-"
Kalau saja otak Naruto benar-benar diibaratkan kendaraan, maka ini adalah kedua kalinya kendaraan itu mengalami kecelakaan. Pikiran apapun yang ada dalam kepala si pirang itu berhenti mendadak ketika melihat sosok yang tadi sudah membuat hatinya kebat-kebit itu sekarang sedang berdiri dalam kamar tidurnya... masih dengan penampilan yang sama.
"...Naruto-sama." walaupun prosesor otaknya telah kembali mengalami crash, suara Haku entah kenapa bisa membuat fungsi rebooting-nya teraktivasi jauh lebih cepat.
Keturunan klan Uzumaki dan Namikaze itu menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dia menolak membiarkan dirinya terbawa suasana! Naruto mungkin memang mesum, tapi dia juga berjiwa gentleman! Dia adalah manusia yang berpikir menggunakan otak, dan bukannya dengan apa yang ada di antara selangkangannya!
Sementara sang cowok sang mengalami pertarungan batin, orang berbeda gender dalam ruangan itu juga mengalami hal yang kurang lebih sama.
Haku harus berterimakasih atas latihan mengendalikan emosi yang diberikan Zabuza, karena mungkin hanya itulah yang berhasil membuatnya tidak salah tingkah ketika Naruto tadi melihatnya dalam keadaan berbalut handuk saja. Walaupun hatinya berdegup kencang, Haku berhasil mempertahankan ekspresi datarnya, walau ujung-ujungnya dia tetap kabur dari hadapan pemuda yang ia anggap majikan barunya itu.
Dirundung rasa malu, Haku yang terlalu sibuk ber'kyaa-kyaa' ria dalam kamar tidur sama sekali tidak tahu tentang kebiasaan mandi cepat Naruto, yang kemudian menjebak mereka dalam situasi seperti sekarang.
Hidup bersama Zabuza, Haku tentunya sudah sangat terbiasa pada laki-laki dan takkan tergerak dengan mudah walaupun dihadapkan tubuh Naruto yang tidak besar seperti binaragawan namun tanpa sedikitpun kelebihan lemak dan terlihat sangat keras seakan-akan dipahat dari batu. Tidak, yang membuatnya tertegun sekarang adalah karena melihat bahwa puluhan bekas luka yang tersebar di sekujur tubuh majikannya itu.
Ini bukannya pengalaman pertama Haku melihat hal seperti itu, karena tubuh ayah angkatnya sendiri juga dipenuhi oleh bekas luka, tapi itu karena Zabuza yang sudah lama sekali berkarir dalam dunia shinobi. Dan jumlah bekas luka yang ia lihat di tubuh Naruto sekarang menyaingi bahkan hampir melebihi bekas luka di tubuh Zabuza. Kehidupan macam apa yang sudah ia jalani sampai tubuhnya bisa penuh bekas luka seperti ini?
"H-H-Haku...?"
Suara Naruto, yang entah kenapa tercekat dan terdengar agak panik, membangunkan Haku dari lamunannya. Tenggelam dalam renungan, gadis itu rupanya bergerak secara tak sadar dan mendekati si cowok, serta meletakkan tangannya yang berjari lentik ke bekas luka terbesar yang ada di dada kanan Naruto.
Sadar akan perbuatannya yang agak kelewat intim, kontrol emosi Haku rubuh, dan wajah gadis itu langsung menjadi sangat panas sampai-sampai dia yakin rona wajahnya bisa terlihat menyala dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya bulan itu.
Gadis itu mendengar Naruto kembali menarik napas beberapa kali. "Haku..."
Dengan jantung berdebar dan pipi merah padam, Haku menolehkan wajah.
"Kurasa ada baiknya kita pakai baju sekarang, karena jujur saja aku tidak yakin sampai kapan aku bisa menahan diri."
Kedua remaja itu saling tatap sejenak sebelum saling menganggukkan kepala. Mereka berjalan menghampiri lemari pakaian yang terletak di samping kamar lalu membuka pintunya bersamaan.
"Eh?/Hoeh?"
Lemari itu kosong.
Haku menunjuk ke arah lemari sambil menoleh pada Naruto. "Naruto-sama...?"
"Ya ampuun~!" Naruto mencengkeram kepalanya sambil berteriak frustrasi. "Aku lupa kalau semua baju gantiku kubawa dalam misi kemarin...!"
"Anu, Naruto-sama..." panggilan Haku membuat Naruto, yang sudah hampir berlari keluar kamar untuk mencari tasnya, tidak jadi melangkahkan kaki. "Semua baju dalam tas itu sudah kumasukkan ke mesin cuci tadi..."
Ekspresi Naruto menjadi semakin stres. Remaja berambut pirang itu kembali menghampiri lemari, lalu menarik laci yang terletak di dasar sambil mengucapkan permohonan sunyi di dalam hati. Wajahnya bersinar cerah saat menemukan dua lembar pakaian, namun harapannya kembali rubuh saat mendapati bahwa yang ada dalam pegangannya sekarang hanyalah jaket jingga favoritnya dan selembar celana kain panjang berwarna hitam.
Naruto dan Haku saling tatap untuk beberapa saat, pandangan persetujuan tertukar antara kedua remaja itu.
Tidak sampai dua menit kemudian, mereka sudah kembali berdiri di ruang tengah. Haku mendapat bagian memakai jaket Naruto, yang karena perbedaan tinggi tubuh antara mereka berdua, cukup untuk menutupi tubuh Haku sampai setengah pahanya. Naruto sendiri sekarang bertelanjang dada dan hanya memakai celana.
"Besok, kita akan menghabiskan gajiku dari misi ke kota Nami untuk membeli baju."
"Kurasa itu keputusan yang bagus," sahut Haku, tak tahu lagi harus menjawab seperti apa. Merasa butuh sesuatu untuk mengalihkan dirinya dari rasa malu, Haku mengganti topik. "J-jadi, Naruto-sama, silakan tunggu dulu selagi aku membuatkan makan malam...!"
"Ou," sahut Naruto singkat sembari berjalan menghampiri meja makan dan duduk di kursi. Ia menumpu dagunya dengan tangan kanan, mengawasi bagaimana Haku yang mengeluarkan bahan makanan dari lemari es dan mulai bekerja membuat makan malam.
Rasa lelah tiba-tiba menyerang Naruto, membuatnya merasa lemas dan mengantuk. Tambah lagi, melihat Haku yang sekarang dibalut jaket kesukaannya memberi perasaan aneh, tapi sekaligus menanamkan rasa damai bagi Naruto.
Mata remaja itu tertutup ketika rasa kantuk semakin menguasai dan mengirimnya ke alam tidur.
~•~
Seorang pria dengan rambut perak panjang yang diikat menjadi kuncir kuda duduk bersila di atas monumen batu berukirkan wajah-wajah pemimpin, baik yang telah lampau maupun yang sekarang, yang berdiri menjulang bagaikan pengawas sebuah desa bernama Konohagakure. Posturnya tenang dengan tangan bersidekap, dan matanya tertutup sampai akhirnya terbuka ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekatinya.
"...Jiraiya-sama," Jiraiya tak perlu berbalik atau menoleh untuk tahu bahwa suara tenang tanpa emosi namun tetap terdengar sopan yang menyapa telinganya itu adalah suara seorang Anbu. "Hokage-sama memanggil."
Ia tidak menoleh maupun memberi reaksi apapun kecuali menganggukkan kepalanya sedikit. Setelah merasakan sosok di belakangnya lenyap dengan Shunshin, Jiraiya berdiri lalu mengumpulkan kekuatan di kakinya, sebelum melompat jauh ke depan dan terjun dari ketinggian puluhan meter.
Walaupun angin begitu deras meniup, membuat rambut dan bajunya berkibar-kibar, ekspresi Jiraiya sama sekali tak nampak takut atau panik. Pria dengan usia lebih dari setengah abad namun masih sangat disegani oleh seluruh dunia shinobi itu menyaksikan bagaimana Rumah Utama yang nampak makin besar dan dekat di depan matanya. Walaupun terjun dari ketinggian itu, Jiraiya mendarat di atap yang terbuat dari genteng dengan sangat mulus bahkan hampir tanpa suara, dan semua itu hanya dengan kontrol chakra yang luar biasa.
Lalu dia masuk ke kantor Hokage lewat jalan masuk favoritnya: jendela.
"Yo, Hime!" dia menyapa riang. "Kau memanggilku?"
Tsunade yang masih duduk dengan kaki disilangkan tidak menjawab. Dia hanya meraih salah satu dokumen dari tumpukan di depannya sebelum melemparkannya ke arah Jiraiya yang menangkapnya dengan satu alis terangkat.
Jiraiya cuma perlu kurang dari lima menit untuk membaca dokumen berisi laporan menyeluruh tentang misi terkini Naruto itu. Dia hanya tersenyum simpul sembari mengembalikan dokumen itu ke meja Tsunade, lalu duduk dengan santai di daun jendela yang tadi ia gunakan untuk memasuki ruangan.
Tsunade mencubit batang hidungnya, berusaha mengusir rasa sakit kepala yang ia yakin pasti akan ia rasakan dalam percakapan ini. "...Tolong jelaskan ini."
Jiraiya mencubit dagunya. "Hm, jelaskan atau tidak ya..."
"Jiraiyaa..."
"Oke, oke, aku mengerti," Jiraiya mengangkat tangan. Ekspresi wajahnya berubah sedikit lebih serius. "Kau tahu satu-satunya masalah yang menghambat perkembangan Naruto?"
Tsunade berpikir selama beberapa saat. Ia memiliki beberapa ide, namun untuk amannya, dia menggeleng saja.
Jiraiya memasang senyum masam sebelum melanjutkan. "Masalah yang kumaksud adalah pendidikan.
"Sepuluh tahun yang lalu, setelah kematian Minato dan Kushina, aku memutuskan untuk mengikuti Sarutobi-sensei dan mempercayai bahwa Naruto akan baik-baik saja di Konoha, tapi apa yang terjadi? Ketika aku menerima laporan tentang prestasi Naruto di Akademi, aku langsung tahu bahwa ada yang salah. Dan ternyata dugaanku benar, sepanjang dia sekolah di Akademi, pendidikan Naruto telah disabotase sedemikian rupa sampai-sampai pengetahuannya tidak lengkap bahkan banyak salah kaprah, Taijutsu-nya berantakan, dan tiga Ninjutsu dasar Akademi saja dia tidak bisa. Andai saja Naruto tidak bertemu dengan Iruka yang secara pribadi memastikan pendidikan Naruto benar arah, Naruto mungkin akan dianggap tidak cukup kompeten untuk lulus dari Akademi.
"Pada saat itu, aku sudah hampir tidak tahan dan ingin menjadikan Naruto murid pribadiku saat itu juga, tapi Sensei memberitahuku bahwa selama menjadi Genin, Naruto akan dilatih oleh Hatake Kakashi. Kukira aku bisa mempercayakan Naruto padanya mengingat dia adalah murid Minato," ekspresi Jiraiya menjadi sedikit gelap dan kepalan tangannya menjadi sedikit lebih erat. "Sayangnya, aku salah."
Tsunade mulai gelisah. Jiraiya itu orangnya memang mesum dan suka bercanda, dan Tsunade juga tidak akan segan untuk menghajar Jiraiya kalau tingkah pria itu sudah mulai tidak karuan, tapi bahkan sang Godaime sendiri tahu ada alasan bagus kenapa Jiraiya dianggap sebagai yang terkuat di antara anggota Densetsu no Sannin. Tsunade mungkin memegang jabatan lebih tinggi, tapi dia sendiri akan merasa tidak nyaman dan sedikit ketakutan jika bekas rekan setimnya itu sudah marah.
"Bayangkan, dia sudah menjadi guru Naruto hampir setengah tahun, tapi dia sama sekali tidak mencoba memperbaiki Taijutsu-nya yang berantakan. Dia tak pernah mengajarkan satupun jutsu. Bahkan, satu-satunya hal yang didapat Naruto selama dilatih oleh si Copy Ninja itu hanyalah cara menggunakan chakra untuk berjalan di permukaan vertikal," seiring Jiraiya bicara, aura kemarahan yang menguar dari pria paruh baya itu membuat Tsunade mulai berpikir apa dia harus kabur dari ruangan itu sekarang juga. "Tapi aku masih bisa mengerti itu, karena kuakui, kombinasi guru pemalas dan murid bebal memang agak sedikit kurang cocok."
Jiraiya turun dari daun jendela, posisinya yang membelakangi lampu membuat ekspresi wajahnya tertutup bayangan. "Tapi kau tahu apa yang membuatku paling marah, Hime?"
Terhenyak di kursinya, tanpa ada jalan untuk mengelak, dan benar-benar ketakutan, Tsunade hanya bisa menggeleng.
"Dalam masa istirahat satu bulan sebelum fase ketiga Ujian Chuunin, si mata satu brengsek itu menolak permintaan Naruto untuk melatihnya. Dia malah pergi melatih Sasuke, setelah mengoper anak waliku ke orang lain."
"...Tapi itu tidak aneh kan?" tanya Tsunade dengan suara kecil, tak ingin memperburuk keadaan dengan mencoba mencari alasan logis. "Kakashi adalah satu-satunya orang di Konoha yang bisa melatih Sasuke untuk menggunakan Sharingan, jadi wajar kalau dia-"
"Hime," Jiraiya memotong sambil melempar sorotan mata yang agak sedikit terlalu tajam. "Kau tahu apa saja kegunaan Sharingan kan? Jadi kau harusnya tahu kalau Sasuke hanya perlu mengaktifkan Doujutsu-nya untuk mengkopi apapun yang ingin diajarkan si mata satu itu. Dan itu berarti Hatake mengoper Naruto ke orang lain bukan karena dia tak punya waktu untuk melatihnya, tapi karena dia adalah orang yang pilih kasih bahkan pada murid-muridnya sendiri!"
Hening tercipta ketika Jiraiya secara tak sadar melepaskan nafsu membunuh yang melingkupi hampir seisi bangunan. Keadaan itu berlangsung selama beberapa saat, sampai akhirnya pria berambut perak itu menghembuskan napas panjang yang diiringi melonggarnya kepalan tangannya.
"Maaf..." ucapnya sambil duduk kembali di daun jendela. "Aku... agak sedikit emosi..."
"Tidak apa-apa..." sahut Tsunade sembari mengurut dadanya yang masih berdetak terlalu cepat. "Tapi kusarankan kita kembali ke topik sebelum aku harus memanggil satu skuad Anbu untuk menghentikanmu sebelum kau pergi membunuh Kakashi."
Wajah Jiraiya nampak malu sesaat sebelum kembali berubah serius. "Langkah pertama yang kuambil dalam latihan Naruto adalah mengajari kembali semua pengetahuan ninja pada Naruto dan berbagai usaha lain untuk memperbaiki IQ-nya yang jongkok itu. Langkah pertama ini baru selesai enam bulan kemudian."
Jiraiya melirik ke arah Tsunade dan harus menahan keinginan untuk terkekeh melihat ekspresi tak percaya di wajah bekas rekan setimnya itu. "Apa? Kau kira aku bercanda saat aku mengatakan kalau Naruto sangat terkebelakang dalam soal kecerdasan?"
"Tapi sampai menghabiskan enam bulan... kau yakin kau tidak salah dengan keputusanmu itu?"
"Sangat yakin," Jiraiya mengangguk dengan percaya diri. "Lagipula, apa kau benar-benar mengira aku akan menghabiskan enam bulan kalau hanya untuk membuatnya lebih pintar?
"Naruto mungkin mewarisi sifat dan kelakuannya dari Kushina, tapi hakikinya, cara bertarung Naruto jauh lebih mirip Minato. Analitik, adaptif, efisien, efektif, kreatif. Pengamatan yang teliti pada setiap faktor pertempuran yang mencakup aspek medan tempur, latar belakang dan karakteristik musuh, bahkan sampai peralatan ninja yang dibawa untuk memberikan serangan balik yang tepat. Setiap tindakan diperhitungkan dengan baik tanpa ada gerakan atau energi yang terbuang percuma. Ada kalanya juga dia bisa mengubah kekuatan utama musuh menjadi senjata makan tuan.
"Bahkan ketika IQ-nya masih jongkok, Naruto sudah memiliki semua itu, dan setelah enam bulan aku mengasah otaknya, dia sudah bisa mengalahkan musuh yang lebih kuat darinya, baik dari segi fisik maupun keahlian, cukup dengan strategi dan taktik yang tepat. Tentu saja, mengembalikan IQ Naruto juga berpengaruh besar pada perkembangannya yang lain. Dia bisa menerima semua pelajaran yang kuberikan hampir seperti spons menyerap air. Teori-teori Taijutsu dan Ninjutsu hanya perlu kuajarkan sekali sebelum terpatri di otaknya, dan dia hanya perlu beberapa kali latihan tempur untuk mengintegrasi pengetahuan baru itu ke gaya bertarungnya."
Melihat Tsunade yang masih agak sangsi, Jiraiya menyunggingkan sengiran miring. "Aku punya bukti. Kau masih ingat tiga tahun yang lalu, ketika Yuki no Kuni berubah nama menjadi Haru no Kuni setelah Kazahana Koyuki mengambil kembali tahtanya sebagai Daimyo? Yang memungkinkan itu terjadi adalah Naruto."
"...Hah?"
"Misi itu awalnya misi level C, dengan deskripsi menjadi bodyguard aktris Fujikaze Yukie selama syuting di Yuki no Kuni. Usut punya usut, ternyata nama asli Yukie adalah Kazahana Koyuki, putri mantan Daimyo Yuki no Kuni yang dulu terbunuh dalam kudeta yang didalangi oleh saudaranya sendiri, Kazahana Dotou. Pertikaian kami juga menyangkut tiga Nukenin dari Yukigakure: Rouga Nadare, Kakuyoku Fubuki, dan Fukuyama Mizore.
"Mereka memiliki baju pelindung aneh bernama Chakra no Yoroi yang tidak hanya melindungi tapi juga menyerap chakra dari Ninjutsu dan Genjutsu, serta menciptakan medan kakas yang memantulkan serangan proyektil. Naruto hanya perlu dua kali tempur untuk menemukan kelemahan baju pelindung itu.
"Dia menyimpulkan bahwa efek Chakra no Yoroi berasal dari medan kakas yang digenerasi oleh sebuah inti. Inti ini sangat tidak stabil sehingga dua inti tak boleh sampai bertemu karena akan menimbulkan reaksi keras yang akan menyebabkan ledakan besar. Dengan pengetahuan ini, kami berhasil menang."
"Tunggu, tunggu, tunggu," Tsunade membuka lacinya lalu mengambil sebotol sake lalu menenggak isinya langsung tanpa cawan. Dua tegukan kemudian, dia baru bicara lagi. "Kau tidak bercanda kan? Kalian berdua membebaskan sebuah negeri dari seorang tiran sekaligus mengembalikan tahta pewaris sesungguhnya?"
"Yah, secara teknis sih, Naruto yang melakukan itu. Peranku saat itu cuma mengalahkan tiga Nukenin dari Yukigakure yang merupakan bawahan Dotou serta menahan sisa pasukan sementara Naruto pergi untuk mengalahkan Dotou sendiri." Jiraiya tiba-tiba memasang senyum mesum. "Dan karena keberhasilan itu, aku berhasil mendapat persetujuan sang artis besar Fujikaze Yukie untuk jadi pemain utama saat Icha-Icha Paradise tulisanku diangkat menjadi film."
Andai saja Tsunade mendengar komentar mesum itu, dia pasti sudah menghajar Jiraiya, namun saat ini kunoichi berpangkat Hokage itu sedang sangat sibuk mencerna informasi mengejutkan yang baru ia terima. "...Tunggu dulu, jadi misi ke Nami ini bukan pertama kalinya misi Naruto berubah FUBAR?"
"Tentu saja tidak. Bahkan sejujurnya, hampir setiap misi yang kami terima dalam perjalanan kami berubah proporsi secara drastis," Jiraiya mengangkat tangan kanannya dan mulai menghitung dengan jari. "Pertama, misi ke Yuki no Kuni itu. Kedua, misi mencari binatang peliharaan yang hilang membuat kami berurusan dengan seorang Shogun dari daratan seberang lautan yang mencari batu sakti bernama Gelel no Ishi. Lalu, lagi-lagi misi menjadi bodyguard pangeran dari Tsuki no Kuni berubah menjadi usaha menghentikan kudeta. Lalu juga misi untuk melindungi seorang Miko bernama Shion berubah menjadi misi menghentikan kebangkitan Mouryou, seorang iblis kuno, yang kemudian dilanjutkan menjadi perang habis-habisan melawan pasukan prajurit batu dan Mouryou sendiri."
Pada saat itu, di atas meja Tsunade sudah ada dua botol sake, isinya habis ditenggak oleh sang Godaime yang merasa dia perlu bantuan untuk menerima informasi yang sejujurnya hampir tak bisa ia percaya. Naruto? Naruto yang bego, usil, dan mesum itu ternyata menyembunyikan kemampuan yang seperti ini?
"Tapi kalau aku harus jujur, pencapaian tertinggiku saat melatih Naruto tentu saja bukan Taijutsu atau Ninjutsu," kali ini, Jiraiya memasang senyum misterius yang membuat Tsunade kebat-kebit diserang rasa penasaran. "Mau tahu?"
"Kumohon, Jiraiya, aku tahu kau senang sekali melihatku penasaran seperti ini... tapi aku benar-benar merasa seperti sedang serangan jantung nih!"
Jiraiya tertawa. "Aku menganggap pencapaian tertinggiku dalam latihan Naruto adalah saat aku mulai mengajarinya Fuuinjutsu."
"..." Tsunade diam sesaat, dengan sebuah tanda tanya besar di atas kepalanya. "...Eh?"
"Hime..." Jiraiya menepuk dahinya. "Laporan tadi tidak benar-benar kau baca ya?"
Dengan wajah merah menahan malu, Tsunade meraih berkas di atas meja dan kembali membaca isinya. Bibirnya bergerak mengucapkan sebuah nama. "Kabe o Gekitai..." Jiraiya mengacungkan jari telunjuknya. "H-Hiraishin...?!" kali ini, jari tengah. "K-K-K―"
"Yep," sahut Jiraiya sambil ikut mengangkat jari manisnya. "Kyo no Senjou. Fuuin legendaris yang hilang dalam Shinkuu no Sensou (The Scarlet War) dan bahkan tak bisa diciptakan kembali oleh Minato."
Berkas laporan di tangan Tsunade jatuh ke permukaan meja dengan suara debuk pelan sementara sang Hokage terhenyak kembali ke kursinya. "Tapi.. itu berarti..."
"Ya, dia sudah melampauiku sebagai sesama pengguna Fuuinjutsu."
Tsunade mengusap wajahnya, menenangkan dirinya selama beberapa saat sebelum memberi senyum tipis pada Jiraiya. "Kalau itu benar, maka kau sudah benar-benar melatihnya dengan baik, Jiraiya."
Jiraiya kembali menerawang ke luar jendela. "...Yah, sejujurnya sih, aku tidak merasa patut diberi penghargaan.
"Kau ingat saat tadi kubilang dia bisa mengintegrasi apapun yang kuajarkan hanya dengan beberapa kali latih tempur kan? Alasan untuk itu bukanlah karena dia genius atau berbakat atau apa, karena semua itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Setiap kali aku mengajarinya sesuatu yang baru, Naruto akan berlatih tanpa tahu waktu, dia bahkan menyelinap keluar dari penginapan hampir setiap malam untuk berlatih sampai pagi. Tidak jarang aku menemukannya pingsan setelah latihan sampai tubuhnya kehabisan tenaga," Jiraiya menyunggingkan senyum masam. "Kau ingat Gai dan muridnya yang maniak latihan itu? Bayangkan latihan mereka, lalu kali lipatkan tiga kali."
"...Seberat itu?" Tsunade meringis. "Tapi latihan seberat itu akan merusak tubuhnya! Kenapa kau membiarkannya melakukan latihan seperti itu?!"
"Alasan pertama, tidak peduli seperti apa aku memarahi atau mengomelinya, Naruto tidak pernah mendengarkan. Kau tahu sendiri betapa keras kepalanya anak itu. Dia mungkin mewarisi sebagian besar sifat dan watak Kushina, tapi entah kenapa dia malah juga mewarisi sifat kepala batunya si Minato. Sedangkan untuk alasan kedua, adalah karena dia mewarisi darah klan Uzumaki."
"Darah klan Uzumaki?"
Jiraiya mengangguk. "Klan Uzumaki memiliki sebuah kelebihan, yaitu DNA dengan desain khusus yang membuat sel tubuh mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia lain. Kemampuan yang diberi nama Mugen Saisei (Infinite Rebirth). Kemampuan ini sangat mirip dengan Souzou Saisei (Creation Rebirth) ciptaanmu, dengan kekurangan kecepatan pembelahan sel jauh di bawah teknikmu, walaupun masih lebih cepat dari manusia biasa. Akan tetapi, seperti yang kubilang, DNA klan Uzumaki memiliki desain khusus sehingga, tidak seperti Souzou Saisei, kapabilitas Mugen Saisei sama sekali tidak dipengaruhi oleh fenomena hayflick limit. Kemampuan ini jugalah yang membuat semua anggota klan Uzumaki berumur sangat panjang," Jiraiya mencubit dagunya. "Yah... pada dasarnya sih, Mugen Saisei adalah Souzou Saisei dengan kecepatan penyembuhan yang jauh lebih rendah, tapi sebagai gantinya, tidak memiliki kerugian apapun."
"Ahh... benar juga, aku ingat sekarang. Inspirasi untuk menciptakan Souzou Saisei juga kudapatkan setelah aku melihat kemampuan pembelahan sel yang dimiliki Mito-baachan." Tsunade kembali mengerutkan keningnya. Ahh, dia mengerti sekarang. Sebagai Inryou Nin, Tsunade tahu bahwa proses penguatan otot adalah hasil dari kerusakan otot yang disebut muscle's fiber trauma yang kemudian akan mengaktifkan mekanisme perbaikan biologis dari sel satelit yang akan menyebabkan ketebalan dan massa otot bertambah. "Jadi begitu ya... kalau orang biasa, latihan seberat itu tanpa diselingi istirahat akan berakibat cedera, tapi dengan kemampuan khusus itu, semakin berat Naruto latihan, semakin cepat juga dia bertambah kuat."
"Benar, sehingga kurasa tidak salah kalau aku mengatakan bahwa kekuatan Naruto sekarang adalah hasil kerja kerasnya sendiri. Aku hanya memberi sedikit petunjuk agar latihannya menjadi seefektif mungkin. Begitu juga saat aku memberinya pelajaran Fuuinjutsu.
"Apa kau tahu mengapa Fuuinjutsu dianggap sebagai salah satu ilmu paling ditakuti, Hime? Alasan untuk itu kuketahui ketika dulu aku mengajarkan Fuuinjutsu pada Minato. Aku tidak tahu apakah klan itu memiliki semacam Doujutsu atau apa, tapi anggota klan Namikaze memiliki kemampuan unik untuk melihat [Data] yang membentuk dunia ini, dan menurut apa yang dulu dikatakan Minato, [Data] tersebut tertulis dalam simbol Fuuinjutsu yang kemudian dia beri nama [Aksara Semesta]. Semua makhluk hidup dan benda mati di dunia ini, baik itu batu atau pohon, tanah atau air, bahkan binatang atau manusia sekalipun, semuanya memiliki [Data] yang menyimpan informasi tentang keadaan tubuh, umur, garis keturunan, bahkan sampai identitas genetik. Wujud sebenarnya dari Fuuinjutsu aliran Namikaze adalah penyusunan kembali [Aksara Semesta] sehingga bisa mengalterisasi atau memodifikasi [Data] di dunia ini untuk memperoleh efek yang diinginkan.
"Singkatnya, Fuuinjutsu aliran Namikaze adalah ilmu yang bisa menciptakan perubahan pada aspek-aspek [Kenyataan] itu sendiri. Itulah kenapa Naruto harus bergantung pada dirinya sendiri untuk belajar menguasai Fuuinjutsu aliran Namikaze."
Tsunade tidak bisa buka suara. Saat ini dia sudah benar-benar dalam keadaan terkesima sampai-sampai sang Hokage itu tak yakin apakah dia bisa mengucapkan kalimat yang koheren.
"Yah, kurasa hanya menjelaskan dinamika latihan Naruto takkan bisa memberimu gambaran jelas tentang seberapa baik dia bisa menggunakannya dalam pertarungan. Tapi kurasa aku bisa memberi bukti untuk itu. Katakan padaku, Hime, apa kau pernah mendengar kabar tentang Koryuuzan (Mount Koryuu)?"
Tsunade menutup matanya sambil berusaha mengingat hal yang dimaksud. Beberapa detik kemudian, matanya menjeblak terbuka. "Tunggu dulu... Koryuuzan?! Itu juga perbuatan kalian?!"
"...Tolong jangan buat seakan-akan kami sudah melakukan tindak kriminal dong."
"Kalian tahu tidak kekacauan yang diakibatkan oleh peristiwa itu?! Gara-gara ada kabar tentang kemunculan lima naga kuno yang ingin menghancurkan dunia, Konoha sampai ada dalam keadaan Siaga Merah hampir sepanjang minggu! Aku sampai tidak tidur beberapa hari gara-gara tegang menunggu serangan, tahu!" omel Tsunade yang dengan emosi menunjuk-nunjuk Jiraiya. "Dan tiba-tiba saja, keadaan jadi tenang! Lima naga itu lenyap secara misterius dan tidak ada satupun orang yang tahu kenapa! Jadi itu perbuatan kalian?!"
"Oi, sebagai pembelaanku, aku sendiri tidak tahu menahu sampai sesudah masalah itu selesai."
Tsunade terhenyak ke kursinya lagi. "...Apa?"
"Maksudku adalah, pada saat itu aku dan Naruto sedang terpisah karena aku sedang melakukan kontak dengan salah satu kolega jaringan mata-mataku. Menurut cerita Naruto, dia bertemu dengan seorang cewek bernama Tatsuhiro Akari yang mengatakan bahwa ada seekor naga yang akan menyerang desa yang saat itu dia diami. Naruto sih awalnya sangsi, tapi ketika dia memutuskan untuk mengecek ke luar desa, ehh seujug-ujug itu naga beneran muncul."
"Jiraiya... tolong jangan bikin ini seperti kisah komedi dong..."
"Habisnya dari tadi kau pasang wajah seperti mau pingsan melulu sih. Aku kan cuma ingin mencairkan suasana sedikit," sahut Jiraiya sambil nyengir miring. "Oke, oke, kembali ke topik.
"Usut punya usut, cewek itu, beserta kakaknya yang bernama Kuroma, adalah keturunan klan Ryuu yang konon merupakan Ryuu Shugo (Dragon Guardians) yang kuat dan ditakuti sehingga hampir mengalami kepunahan beberapa waktu sebelum Perang Dunia Shinobi I. Karena itulah Kuroma ingin membalas dendam dengan memanggil lima Genryuu dan berusaha menyatukan mereka semua untuk menciptakan Hikari Genryuu yang konon sanggup menghancurkan dunia. Nah, di sinilah Naruto benar-benar menunjukkan tajinya, tidak hanya dalam Taijutsu dan Ninjutsu, tapi juga Fuuinjutsu.
"Koryuuzan memiliki efek aneh yang membuat kontrol chakra menjadi tak terkendali, tidak hanya itu, Koruma sendiri merupakan seorang ahli Fuuinjutsu dan berhasil menciptakan Fuuin yang memungkinkannya memakai lima elemen Seishitsu Henka (Nature Transformation) dasar. Naruto, dengan menggunakan Fuuinjutsu aliran Namikaze, tidak hanya berhasil menciptakan Fuuin untuk menangkal efek pengacau chakra Koryuuzan, tapi juga me-reverse engineer segel Koruma untuk menciptakan Fuuin yang membuat terlindungi dari lima elemen dasar. Fuuin inilah, dibantu dengan pedang pusaka [Ryuujin] yang diberikan oleh Akari, yang ia pakai untuk melawan serta mengalahkan lima Genryu yang masing-masing memiliki elemen utama seperti angin, api, tanah, petir, dan air."
"Tapi pada akhirnya, Kuroma berhasil membangkitkan kembali Hikari Genryuu, namun alih-alih dirinya sendiri, Akari mengorbankan diri untuk menggantikan Kuroma. Di sinilah kemampuan Fuuinjutsu Naruto benar-benar terbukti. Dengan semua pengetahuan yang sudah ia miliki, Naruto berhasil menciptakan kembali Kyo no Senjou yang menyegel lima elemen dasar bumi secara bersamaan, yang menyebabkan lima wujud awal sang naga menjadi sia-sia, dan berhasil melenyapkan Hikari Genryuu tanpa harus membunuh Akari yang menjadi tubuh inang bagi sang naga."
Tsunade membuka lacinya sekali lagi, meraih sebotol sake, lalu menelan setengah isinya dengan satu tegukan panjang. "...Astaga," wanita itu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memijit keningnya untuk sedikit mengurangi rasa sakit kepala karena harus melalui sesi kejutan demi kejutan sepanjang malam. "Dasar semua Namikaze itu... melihat kemampuan mereka, aku tidak akan heran kalau merekalah pencipta Fuuinjutsu yang sebenarnya."
Ada hening sejenak, kesunyian yang membuat Tsunade curiga. Kecurigaan sang Hokage itu semakin menjadi-jadi ketika ia melirik Jiraiya yang kembali memasang wajah serius. "Tunggu dulu, Jiraiya? Aku tadi cuma ngoceh sembarangan, kenapa kau memasang wajah seperti itu?"
Jiraiya nampak berpikir keras seperti sedang bingung. "...Hime, apa yang akan kuberitahukan padamu sekarang mungkin hanya teori-teori dengan sedikit bukti konkrit, tapi tetap tak boleh sampai bocor pada orang lain. Mengerti?"
Merasa tegang, sang Godaime hanya mengangguk.
"Ketika klan Namikaze mulai menunjukkan kepiawaian mereka dalam Fuuinjutsu, aku mulai merasa curiga. Kemampuan yang bisa membaca dan menulis kembali [Aksara Semesta] macam itu tak mungkin muncul begitu saja tanpa asal-usul yang jelas. Kecurigaan inilah yang membuatku memulai penyelidikan, dengan hasil yang sangat luas.
"Hasil pertama yang kudapat memang tidak memiliki hubungan langsung, tapi tetap tidak kalah penting. Kau tahu bahwa klan Uzumaki memiliki hubungan kerabat dengan klan Senju kan? Nah, aku berhasil mendapatkan catatan sejarah garis keturunan kedua klan, tapi saat kuteliti, kedua garis keturunan ini tidak tertaut di manapun. Lalu mengapa klan Uzumaki bisa menjadi kerabat klan Senju yang merupakan keturunan langsung Rikudou Sennin? Jawabannya kutemukan dalam ukiran kuno yang ada dalam sebuah reruntuhan dari masa berabad-abad silam. Kalimat yang menarik perhatianku kurang lebih bunyinya seperti ini, '...Dia yang telah menyelamatkan dunia, lahir dari rahim seorang ibu yang rambutnya sewarna matahari senja...'."
"Matahari senja... merah... tunggu dulu, jadi artinya...?!"
Jiraiya mengangguk. "Kalau ukiran kuno itu benar, maka itu berarti ibu Rikudou Sennin berasal dari klan Uzumaki, karena seperti kita tahu, rambut semerah matahari senja adalah ciri khas keturunan klan Uzumaki."
Kening Tsunade berkerut. "Tunggu sebentar, lalu apa hubungannya hal ini dengan kemampuan unik klan Namikaze?"
"Aku baru mau membahas itu," kata Jiraiya sambil memperbaiki posisi duduknya. "Apa yang baru kuberitahukan padamu baru mengungkap setengah misteri. Akan tetapi, dalam ukiran kuno yang sama juga tertulis bahwa alasan Rikudou Sennin mendapat julukan penyelamat dunia tidak hanya berasal dari budinya yang membawa dunia pada kedamaian, tapi juga karena dia berhasil menyegel seorang iblis sakti yang dulu merongrong dunia. Kita berdua tahu apa maksudnya ini. Kata [Menyegel] di sana jelas-jelas menjadi bukti bahwa apa yang digunakan Rikudou Sennin adalah Fuuinjutsu. Tapi dari catatan-catatan kuno lain yang kutemukan, tak ada satupun petunjuk yang menyebutkan bahwa teknik [Penyegelan] itu sendiri diciptakan oleh Rikudou Sennin, ataupun klan Uzumaki."
"Aku tidak menemukan jawabannya sampai baru-baru ini," Jiraiya melanjutkan dengan suara yang kian bersemangat. "Aku menemukan bekas sebuah kuil yang sudah menjadi reruntuhan, namun memiliki ruang bawah tanah yang menyimpan banyak gulungan. Kebanyakan gulungan itu sudah menjadi debu karena dimakan jaman, namun salah satu yang masih cukup utuh untuk dibaca malah memberikan informasi yang sudah puluhan tahun kucari.
"Kalau ukiran kuno yang kuceritakan sebelumnya mengungkap siapa ibu Rikudou Sennin, maka gulungan ini mengungkap siapa ayahnya. Dituliskan di situ, keinginan untuk membawa kedamaian pada dunia serta hampir semua keahlian Rikudou Sennin adalah sesuatu ia warisi dari ayahnya, seorang Onmyouji sakti lagi bijaksana yang mampu membaca aksara yang membentuk alam semesta dan mengubahnya sesuai keinginannya. Di sana juga disebutkan ciri khusus sang Onmyouji yang juga diwarisi oleh Rikudou Sennin, yaitu '...Rambut keemasan seperti cahaya matahari pagi dan mata biru setinggi langit dan sedalam lautan...'. Ini tidak hanya memberi petunjuk bahwa setengah darah Rikudou Sennin berasal dari klan Namikaze, tapi juga menjelaskan kenapa klan Namikaze memiliki kemampuan membaca [Aksara Semesta], serta bukti bahwa klan Namikaze-lah yang pada awalnya menciptakan ilmu Fuuinjutsu.
"Nah, dari sini, tinggal satu pertanyaan yang tersisa. Mengapa klan Uzumaki yang terkenal dengan Fuuinjutsu dan bukannya klan Namikaze? Karena dalam ukiran maupun gulungan kuno itu tak sedikitpun menyebutkan tentang klan sang Onmyouji bijaksana, aku membuat teori bahwa Rikudou Sennin tak pernah membuat kontak dengan klan asal ayahnya, sehingga ilmu Fuuinjutsu yang diwarisi Rikudou Sennin dari ayahnya dan sudah ia kembangkan itu hanya bisa ia tinggalkan pada klan ibunya, klan Uzumaki, agar ilmu itu tidak jatuh ke tangan yang salah."
"Tunggu!" potong Tsunade nyaring sembari berdiri dan menggebrak mejanya. Wanita itu nampak limbung sesaat sebelum terhenyak kembali ke kursinya. "Tolong, tunggu sebentar... semua informasi ini sudah benar-benar kelewatan, kepalaku benar-benar terasa mau pecah nih..."
"Jangan terlalu dianggap serius, sudah kubilang semua ini cuma teori kan?"
"Jiraiya, kau sadar tidak kalau apa yang kau sebut teori itu agak terlalu masuk akal? Saking masuk akalnya, aku sampai agak ketakutan nih!" Tsunade menarik napas yang bergetar beberapa kali untuk menenangkan diri. Mimpi apa dia kemarin? Dia tidak menyangka bahwa dalam satu malam dia akan dikejutkan bukan hanya dengan kemampuan Naruto sesungguhnya yang melampaui hampir semua ninja di Konoha, keberhasilannya dalam menyelesaikan misi yang semuanya selalu berlevel S, tapi juga teori bahwa pada hakikatnya Naruto adalah buah persatuan dua garis keturunan yang di masa lampau telah melahirkan seorang legenda yang menjadi nenek moyang dunia shinobi itu sendiri!
"Jadi... ada kemungkinan bahwa Naruto adalah kemunculan kedua Rikudou Sennin?"
"Aku tidak bisa berkata pasti. Kuulangi lagi, Hime, semua yang kau dengar ini hanyalah teori karena tak ada bukti solid yang membuat asumsi bahwa Rikudou Sennin adalah keturunan klan Uzumaki dan klan Namikaze menjadi sebuah fakta yang valid."
"Jiraiya, yang kutanyakan adalah, ada kemungkinan atau tidak?"
"...Ada, tapi sangat kecil," Jiraiya menyaksikan Tsunade yang entah untuk keberapa kalinya menghembuskan napas berat. "Makanya aku ingin semua ini dirahasiakan. Kalau sampai ada desa lain yang tahu, kita bisa dihadapkan dengan permintaan aliansi, atau malah serangan habis-habisan karena mereka takut pada potensi yang tersimpan dalam diri Naruto."
"Potensi yang kurasa sudah mulai muncul ke permukaan kalau aku melihat misi-misi yang sudah dia selesaikan," sahut Tsunade. "Menyelamatkan sebuah negeri dari seorang tiran, menggagalkan seorang Shogun dari seberang lautan yang berniat menguasai dunia dengan batu sakti, melengserkan usaha kudeta pada sebuah negeri, mengalahkan seorang iblis yang datang dari entah jaman apa dan pasukan prajurit batunya untuk melindungi seorang Miko, dan yang paling akhir, dia tidak hanya berhasil menundukkan lima naga kuno, tapi juga mengalahkan naga sakti yang merupakan hasil penggabungan lima naga tersebut. Bahkan walaupun kau juga membantunya, tetap saja ini sebuah pencapaian yang tidak bisa kupercaya."
"Secara teknis, aku hanya membantunya sampai misi yang keempat, dan itupun hanya untuk mengurusi ikan terinya. Masalah di Koryuuzan itu dia selesaikan sendirian."
"Ma. Ka. Nya! Itu poin yang ingin kutekankan!" teriak Tsunade yang sudah setengah mabuk. "Kalau saja aku tidak mendengar ini dari mulutmu sendiri, aku pasti sudah menganggap semua ini hanya gurauan orang yang kelewat sering berkhayal! Terakhir kali aku mendengar kisah seperti ini adalah saat Hashirama-jiichan mengalahkan Uchiha Madara dan Kyuubi seorang diri!"
Tsunade mengurut keningnya sambil menggerutu. "Sialan... gara-gara kau, sekarang kepalaku sudah benar-benar pening nih..." ia menenggak sakenya sekali lagi. "Lalu?"
"Lalu apanya?"
"Kenapa aku baru tahu ini sekarang? Kenapa kalian harus menyembunyikan ini?" tanya Tsunade dengan nada sedikit meninggi, sesuatu yang mungkin bisa disebabkan alkohol yang mulai mencemari jalan pikirannya. "Kau tahu seburuk apa Naruto sudah dicemooh tiga bulan terakhir ini? Mereka mengatainya ninja payah yang tidak pantas dilatih oleh salah satu Sannin karena hanya pantas mendapat kerjaan sebagai seorang Chiji padahal sudah latihan tiga tahun!"
"Kau kira aku tidak tahu itu, Hime?" Jiraiya balas bertanya dengan suara berbahaya yang membuat Tsunade tersentak. "Kau kira aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi kalau dia pulang ke Konoha tanpa menunjukkan perkembangannya? Kau kira aku tega berbuat seperti itu pada muridku―tidak, pada anak waliku sendiri?!"
"T-tapi... lalu kenapa?"
"Kau tahu kalau musuh Naruto tidak hanya ada di luar desa kan? Yang kumaksud tidak hanya sebagian besar anggota Dewan sipil, tapi juga ketiga tua bangka yang menjadi penasihatmu itu. Kau kira apa yang bisa terjadi kalau mereka tahu bahwa Naruto sudah jadi cukup kuat sampai bisa menjadi bahaya untuk kedudukan mereka?"
"Tapi bagaimana sekarang? Cepat atau lambat, kabar bahwa Naruto berhasil mengalahkan satu pasukan pengguna Juinjutsu, Hebi Kuchiyose, bahkan Orochimaru sendiri akan cepat beredar, dan Dewan Konoha punya hak untuk mengakses laporan ini. Kita tidak akan bisa menyembunyikan kemampuan Naruto yang sebenarnya lebih lama lagi!"
"Ahh, kalau soal itu, kurasa kau tidak usah panik," sahut Jiraiya dengan senyum pede. "Ketika dulu Naruto membuat keputusan untuk menyembunyikan kemampuannya, dia juga bilang bahwa dia hanya perlu waktu sedikit lagi untuk memfinalisasi rencananya. Sekarang, tiga bulan sudah lewat. Kurasa kita tunggu saja sampai besok tiba, dan kita akan tahu rencana seperti apa yang sebenarnya ada dalam kepala si bocah usil itu."
Tsunade bangkit dari kursinya dan berdiri di samping Jiraiya, membiarkan angin malam dan cahaya rembulan membelai sosoknya sebelum menyodorkan botol sake di tangannya. "Kuharap kau benar, Jiraiya. Karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau ada yang salah..."
"Percayalah pada Naruto, Hime," ucap Jiraiya sembari menerima botol sake itu dan menghabiskan isinya dalam satu tegukan.
"Dia jauh lebih pintar dari apa yang bisa kau bayangkan."
~•~
Naruto tersentak bangun dari tidurnya. Satu pengamatan singkat ke sekeliling memberitahu Naruto bahwa dia hanya ketiduran sebentar, jika menilik Haku yang masih belum selesai memasak. Suara desisan margarin yang bertemu wajan panas terdengar telinganya sementara Naruto kembali mengamati sekelilingnya dengan lebih teliti, mencari apa gerangan yang membangunkannya dari tidur.
Lalu dia melihatnya. Suara kicauan petir pelan yang familier serta percikan listrik yang terlihat sekilas di luar jendela sudah menjadi petunjuk yang cukup bagi Naruto untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"Haku."
"Hm?" Haku yang sedang sibuk membuat telur dadar menyahut sambil menolehkan kepalanya sedikit. "Ada apa, Naruto-sama?"
"Aku mau keluar sebentar ya," kata Naruto sambil berdiri perlahan-lahan. "Paling cuma sepuluh menit kok."
Melihat anggukan Haku, Naruto mulai pergi ke pintu depan dengan langkah yang santai namun siaga. Segera setelah pintu itu tertutup dan Naruto lepas dari pengamatan Haku, ia langsung melompat sebelum mendarat tanpa suara di atap.
Seperti perkiraannya, di sana sudah menunggu sosok dengan rambut hitam dan wajah kalem yang ia kenal.
"Sasuke."
Mata sang lawan bicara yang tadi tertutup mulai terbuka perlahan-lahan. Keheningan antara kedua shinobi muda itu terus berlangsung beberapa saat, sampai akhirnya pecah ketika si rambut hitam buka suara.
"...Dasar eksibisionis."
"APA KAU BILANG?!" teriak Naruto marah sambil menghempaskan kakinya kuat-kuat dan mengacungkan kepalan tangannya. "Aku tidak mau dengar itu dari orang yang suka pamer dada seperti kau!"
Sasuke nyengir, sengiran miring sinis yang selalu sukses membuat Naruto makin kesal itu. "Dobe, kalau orang melihatku telanjang dada begini, kata yang muncul di kepala mereka pasti seksi. Tapi kalau kau, satu-satunya kata yang muncul di kepala adalah miskin."
"Berisik, dasar kepala pantat ayam narsis!" balas Naruto panas. "Kau manggil-manggil aku miskin, padahal kau sendiri pakai sabuk dari tali tambang seperti itu!"
"..." Sasuke diam sejenak. "...Ini fashion."
"Fashion di mananya, bego?! Kalau menurutku sih, itu namanya kurang modal!"
"Oi, tolong jangan teriak-teriak. Nanti aku ketahuan."
Naruto mendengus keras. "Lalu? Ngapain kau di sini? Kau tidak jauh-jauh mampir ke Konoha hanya untuk mengataiku eksibisionis dan miskin kan?"
"Kudengar kau berhasil mengalahkan Orochimaru," ucap Sasuke kemudian. "Aku juga dengar kau harus memakai kekuatan Kyuubi untuk melakukan itu."
Naruto bersidekap sebelum menjawab. "Ya, itu benar."
"Apa kau tidak apa-apa?" wajah Sasuke tetap kalem saat ia bertanya, namun nada suara pemuda itu menyimpan rasa khawatir yang disembunyikan dengan sangat baik sampai hampir tidak kentara. "Kau tahu menggunakan chakra Kyuubi bisa merusak organ dalammu kan?"
"Tenang saja. Sekarang aku memang menderita keracunan chakra ringan, tapi untungnya, aku berhasil dihentikan sebelum efek korosif chakra Kyuubi sempat membuat kerusakan lebih jauh. Mugen Saisei akan memperbaiki kerusakan apapun yang sudah ditimbulkan chakra Kyuubi, tapi mungkin aku takkan bisa bertarung dulu sampai satu atau dua minggu," Naruto menyunggingkan sengiran miring khasnya. "Yah, beruntungnya, Orochimaru pasti sekarang sedang sangat menderita karena sudah terinfeksi efek korosif chakra Kyuubi. Paling tidak, sekarang kerjaanmu jadi lebih mudah, ya kan?"
"Hmph," Sasuke mendengus sinis. "Bahkan walaupun dia sedang tidak dalam keadaan lemah setelah melawanmu, aku yakin aku bisa mengalahkan si manusia ular itu tanpa―Auw! Apa-apaan sih, Dobe?!"
"Sumpah deh, Sasuke, kadang aku bingung harus bagaimana untuk menyembuhkan kepala besarmu yang suka kelewat sombong itu." kata Naruto dengan kepalan yang masih terangkat setelah menggetok kepala Sasuke. "Fokus, oke? Bagaimana dengan tugasmu yang lain?"
Sasuke menggerutu sambil mengusap kepalanya yang nyeri, namun berhasil mengendalikan dirinya dan kembali nyengir angkuh. "Kau kira kau sedang bicara pada siapa?"
Naruto mengangkat kepalan tangannya lagi. "Sasuke..."
"Baik, baik, aku mengerti," sahut Sasuke sambil menjauh satu langkah dari bekas rekan satu timnya itu, tak ingin mendapat getokan di kepala lagi. "Aku sudah berhasil menemukan sisa markas rahasia Orochimaru."
Naruto tersenyum lebar. "Aku tahu aku bisa mempercayakan soal ini padamu, Sasuke," pujinya tulus. "Jadi, kira-kira berapa lama waktu yang kau perlukan untuk membasmi semua markas itu? Lalu, apa kau juga perlu bala bantuan?"
"Kurang lebih satu bulan. Dan untuk soal bala bantuan, kurasa tidak perlu," melihat perubahan warna muka Naruto, Sasuke cepat-cepat melanjutkan. "Kutekankan dulu, aku tidak mengatakan ini untuk menyombongkan diri. Hanya saja, orang-orang yang setia pada Orochimaru hanya sedikit. Tidak hanya tahanan dan objek eksperimen, bahkan bawahan Orochimaru sendiri banyak yang menginginkan kehancuran ilmuwan gila itu. Dan kalau itu masih kurang, aku juga sudah berhasil meyakinkan sebagian besar untuk ikut memberontak. Mereka bahkan bersedia bergabung dengan Konoha kalau aku berjanji melepaskan mereka dari cengkeraman Orochimaru."
"Baguslah. Jadi kurasa aku bisa menyerahkan soal Orochimaru padamu kan?"
"Untuk itu sih, aku tidak keberatan. Tapi bagianmu sendiri bagaimana?" tanya Sasuke dengan dahi berkerut. "Pertemuanmu dengan Orochimaru mungkin membuat tugasku jadi jauh lebih mudah, tapi sekarang kau sudah tak bisa lagi menyembunyikan kemampuanmu dari Dewan Konoha. Bagaimana kau akan mengatasi masalah ini?"
Ekspresi Naruto bukannya jadi kelam, dia malah melepaskan sengiran lebar. "Dua hari lagi aku berumur enam belas tahun."
"Hn? Apa hubungannya ulang tahunmu dengan―Oh," Sasuke mengusap-usap dagunya, otaknya yang cemerlang langsung membuatnya mengerti apa implikasi satu informasi itu. Matanya melebar sedikit. "Ahh... jadi begitu ya. Jadi rupanya ini yang kau tunggu-tunggu."
"Yep," Naruto ikut nyengir lebar. "Mereka kira mereka tak terkalahkan dalam politik. Akan kubuktikan kalau mereka sudah sangat keliru."
"Artinya aku tidak salah membawakan ini," kata Sasuke sambil mengeluarkan sebuah gulungan. "Nih. Mungkin lebih cepat dua hari, tapi selamat ulang tahun."
"Oh? Hadiah ulang tahun? Apa isinya?" tanya Naruto girang sambil menerima gulungan yang ternyata berisi Fuuin penyimpanan itu. "Bisa kubuka sekarang?"
Sasuke tersenyum simpul. "Silakan."
Naruto menggigit ibu jarinya dan melumerkan darah yang sudah dicampuri chakra ke tengah-tengah kombinasi simbol Fuuin itu. Wajahnya tiba-tiba memucat... hadiah macam apapun yang semula ada dalam bayangan Naruto, ini bukanlah salah satunya!
Karena Fuuin itu menyimpan tubuh seorang pria dewasa yang kaku dan tak bernapas.
"UWAH!" jerit Naruto sambil melompat mundur ketakutan. "Teme, kau ini apa-apaan sih?! Ngapain kau memberiku MAYAT untuk hadiah ulang tahun?! Sekedar informasi ya, aku ini bukan kanibal!"
Bibir Sasuke sekarang melengkung sembari remaja itu menahan rasa ingin tertawa. "Oi, Dobe, lihat benar-benar. Ini bukan mayat."
Perkataan Sasuke berhasil menghentikan Naruto yang sudah siap mengamuk lagi. Setelah rasa terkejutnya mulai mereda, remaja berambut pirang itu segera menyadari keberadaan sebuah kertas Fuuin yang terpasang di dada tubuh yang awalnya ia anggap mayat itu.
"Bukannya ini segel Eimin (Eternal Sleep) yang kuberikan padamu dulu...?" tanya Naruto sambil mengamati Fuuin yang bisa menciptakan kondisi mati suri jika diaplikasikan pada makhluk hidup itu. Matanya melebar. "Sasuke, apa ini...?"
"Hn," Sasuke mengangguk sambil menggunakan kakinya untuk membalikkan tubuh pria yang kelihatannya tak bernyawa itu. Di pundak kanan bagian belakang nampak tiga simbol yang membentuk formasi segitiga. "Sesuai pesananmu, sampel Juinjutsu yang sudah bisa mencapai Joutai Ni dan bukan yang tipe purwa rupa."
"Uooh, akhirnya...!" teriak Naruto dengan penuh semangat sambil langsung mengamati segel terkutuk itu.
"Jadi sekarang kau bisa menemukan cara untuk mengenyahkan segel yang satu ini kan?"
"He, tidak sabaran amat sih," Naruto berdiri lagi. "Kenapa? Kau sudah benar-benar tidak tahan dengan Juinjutsu di lehermu itu?"
Sasuke mengusap leher belakangnya, ke arah Juinjutsu yang tiga tahun lalu diberikan Orochimaru padanya, sambil bergidik, "Coba kau tahu rasanya, Dobe..."
"Aku mengerti. Saat kau pulang kembali ke Konoha, aku pasti sudah punya cara untuk melenyapkan segel terkutuk itu. Aku janji." Naruto menepuk bahu shinobi yang sampai sekarang masih disangka pengkhianat itu. "Dan kali ini kita juga tak perlu pura-pura musuhan lagi."
"Tepati kata-katamu, Dobe. Mengingat kau juga sudah tidak perlu lagi menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya, kali berikutnya aku di Konoha aku ingin kita bertarung sekali lagi, dan kali ini aku tidak mau diganggu oleh 'hadiah' Orochimaru ini."
"Ha, kau kira kau bisa mengalahkanku, Teme?"
Kali ini, giliran Sasuke yang menggetok kepala Naruto. "Siapa yang sombong sekarang?"
Mereka berdua tertawa, sebuah kombinasi dua suara yang sudah lama sekali tak terdengar di Konoha.
Setelah tawanya reda, Sasuke mengacungkan tangannya yang masih terkepal ke depan. "Kau masih ingat perjanjian kita?"
"Tentu saja," Naruto mempertemukan tinjunya sendiri ke kepalan tangan Sasuke sambil nyengir. "Musuh yang ada di luar Konoha adalah urusanmu, Teme."
Sasuke membalas sengiran itu. "Dan musuh yang ada di dalam Konoha adalah urusanmu, Dobe."
Sasuke menarik tangannya, lalu dengan Shunshin, sosoknya menghilang, lenyap ditelan kegelapan malam.
To be Continued...
A/N: Anda sekalian benar-benar mengira hamba akan membuat Sasuke menjadi antagonis ya? Haha, I would like to see that surprised look on your face!
Praise me, shun me, applause me, make fun of me. Whatever you want to do, it's your call. Whatever it shall be, I will accept all.
Thanks a zillion for reading!
Galerians, out.
