Chapter 27
Awakening
Kembali ke istana Gemini, tepatnya di dalam ruangan tenpat Saga terbaring, sepeninggal Kanon, Lecca duduk di sisi tempat tidur, dia memandangi Saga, menraih tangan Saga, menyatukan jari-jari mereka, tangan Saga semakin terasa dingin, sepertinya perlahan nyawanya menguap, Lecca menempelkan tangan Saga ke wajahnya, menikmati tangan besar itu menyentuh kulitnya, kemudian ia menagkupkan tangan Saga, Lecca mencondongkan tubuhnya, ia merebahkan sebagian tubuhnya diatas dada Saga, wajahnya menyentuh gold cloth milik saint Gemini itu, dingin, dan penuh kesedihan, kesedihan yang memenuhi relung hatinya.
Beberapa saat kemudian Lecca menegakkan badannya, dia menaikkan kakinya, menyusupkan dirinya di balik selimut bersama tubuh Saga, dan berbaring miring di sebelah Saga, Lecca bergingsut mendekat. Dalam pembaringannya, dia memperhatikan wajah Saga yang ada di sampingnya, tangannya menjelajah wajah sempurna itu.
"Saga.." ucap Lecca lirih. "Apa kau bisa mendengarku Saga?" jarinya membelai lembut pipi Saga. "Maafkan aku, aku sudah meninggalkanmu Saga." kini jari Lecca menyentuh lembut bibir Saga, "saat aku ingin kembali aku justru membuat dirimu bersedih lagi, dengan semua perlakuanku." di benak Lecca masih terbayang jelas wajah sedih Saga. "Padahal aku sudah berjanji, tak mau melihat wajah sedihmu lagi, tapi akulah yang membuat hilang senyum itu...maafkan aku Saga..." kali ini Lecca kembali tak bisa menahan airmatanya, ia membekapkan tangannya di mulutnya, dia tahu mungkin saja jiwa Saga terlepas dari raganya, tapi Lecca masih bisa hawa keberadaan Saga di ruangan itu dan dia tak ingin Saga mengetahuinya, kalau dia menangis seperti anak kecil yang cengeng, tetapi sungguh ini semua bukan kesedihan yang bisa membuat Lecca kuat lagi menahannya.
Lecca menghapus airmata yang membasahi pipinya. "Aku pasti akan menyelamatkanmu Saga, aku pasti akan menjemputmu dan mengembalikanmu ke sanctuary" ucap Lecca lagi memandangi Saga, dia tak beranjak dari tempatnya tetap berbaring disamping Saga, Lecca ingin selalu seperti ini, meski semuanya tak mungkin akan terjadi, tetapi saat ini yang dia rasakan sekarang adalah kebahagiaan, kebahagiaan yang sangat rapuh dan semu, rasa kantuk pun menyergap Lecca, perlahan ia memejamkan matanya, jatuh kedalam tidur, yang bisa membuatnya sejenak menikmati bersama dengan orang yang sangat ia cintai. Jatuh ke dalam mimpi.
Astarte memasuki ruang aula besar itu dia berjalan dengan anggunnya dan kemudian duduk di singgasananya, dia memandang satu persatu para ghost dan yasha.
"Kenapa kami dikumpulkan disini?" tanya Lecca datar.
Astarte tersenyum menanggapi pertanyaan Lecca. "Aku akan segera mengutus kalian ke sanctuary untuk merebut 12 birthstone milik para gold saint, untuk membebaskan tuan kita Lucifer" jelas Astarte.
Tak ada yang terkejut atas perintah Astarte ini tetapi Lecca merasa ada yang aneh ketika mendengar kata sanctuary dan gold saint, saat mendengarnya dada Lecca seperti ditekan, sakit dan ada rasa aneh yang tak Lecca ketahui menyeruak masuk kedalam hatinya.
"Gold saint dan sanctuary?" ulang Lecca.
Membuat astarte yang sedari tadi memperhatikan Rusty berbalik menoleh kearah Lecca.
"Apa kau mengetahuinya?" tanya Astarte, Lecca tak langsung menjawab terdiam cukup lama
"Tidak yang mulia" jawab Lecca, kenapa dia merasa hal ini tak perlu diketahui oleh Astarte dan para demon terlebih para ghost yang lain.
"Kalau ada yang mengganjal kau bisa katakan Lecca." desak Astarte yang merasakan keanehan pada Lecca, dan dia merasa Lecca mengetahui tentang gold saint, meski tak bisa memastikan dugaannya, Astarte mempunyai naluri yang sangat tajam, sebenarnya dia cukup khawatir dengan ghost yang bernama Lecca ini, Astarte tak bisa menemukan jati diri Lecca yang sebenarnya, meski Astarte berkata dia mengetahui tetapi sesungguhnya dia sama sekali tidak mengetahui siapa Lecca, ikatan seperti apa yang mengikatnya, semuanya gelap dia tak bisa melihatnya, karenanya Astarte menganggap Lecca spesial, terlebih setelah dirinya mengetahui kalau Lecca adalah wadah inkarnasi dewi hera dengan adanya tanda Purgatory Hall yang ada di lengannya, maka Astarte makin mengutamakan Lecca sebagai asetnya yang paling berharga, tetapi ibarat bom waktu, Astarte tahu suatu hari Lecca bisa tersadar dari tidur panjangnya, jika dia berada sangat dekat dengan ikatannya yang paling kuat.
Sebenarnya mengenai sanctuary dan gold saint, Astarte takut Rusty yang akan sadar duluan sebab Astarte tahu semuanya tentang siapa Rusty, kenyataannya Rusty sama sekali tak bereaksi seperti yang Astarte perkirakan, sebaliknya ghost paling berharganya malah bereaksi seperti yang dia takutkan.
"Tidak yang mulia, aku tak apa-apa." balas Lecca.
"Baiklah kalau begitu." ujar Astarte dia melirik Byleth yang ada di sebelahnya, tanpa bicara Byleth mengerti apa maksud tuannya itu.
Kemudian Astarte menjelaskan semua tentang rencanannya dan alasan mengapa dia harus membebaskan Lucifer.
"Aku sudah menjelaskan semua," kata Astarte pada akhir ceritanya. "Sebagai permulaan Kira dan Griffin amati pergerakan di lokasi yang sudah kuberitahu, kita akan memastikan apa benar Athena menyembunyikan sanctuary disana"
"Kalau aku jadi anda aku akan langsung ke kuil Athena, bukan ke kuil Zeus itu." celetuk Lecca, membuat yang ada di ruangan itu menoleh kearah Lecca, sadar dengan apa yang diucapkannya Lecca merasa tak percaya kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya, sekali lagi ada rasa yang tak enak merangsek masuk membuat Lecca meremas bagian depan bajunya.
"Kenapa kau berkata seperti itu, apa kau yakin sanctuary ada disana?" tanya Kira
"Kurasa tempat paling aman menempatkan sanctuary adalah dibawah perlindungan Zeus, di Aegis." lanjut Kira
Lecca melirik Kira. "Masuk akal tetapi bukankah temnpat paling berbahaya bisa jadi tempat yang paling aman?" sergah Lecca, membuat lelaki bergiwang tengkorak itu memberengut.
Astarte memandang Lecca, kecurigaannya pada Lecca makin menguat, bahkan dirinya tak berpikir akan memeriksa kuil Athena, dia hanya akan mengutamakan beberapa kuil milik Zeus yang ada di seluruh dunia, tetapi percuma mendesak Lecca dia punya taktik tepat untuk mencari jawaban atas kekhawatirannya..
"Kalau begitu Lecca, pergilah ketempat yang kau bilang tadi amati dan pastikan semuanya." ujar Astarte.
Lecca spontan menoleh dan terkesiap mendengar perkataan Astarte. "Kenapa, kau tak mau?" kata Astarte melihat ekspresi Lecca.
Lecca tak bisa menjawab, hanya menunduk kepalanya tanda dia mematuhi perintah Astarte.
"Bagus." ucap Astarte puas, lalu Lecca pun pamit meninggalkan ruangan, Adderpun mengekor di belakang Lecca.
Begitu berada di luar ruangan Adder menangkap tangan Lecca. "Katakan padaku ada apa denganmu?" kata Adder.
"Tidak ap..." tiba-tiba saja suara itu terdengar Lecca, suara seorang pria yang begitu lembut, Lecca tak asing dengan suara ini tetapi siapa…..milik siapa suara ini, Lecca berjongkok dan menekan telinganya.
"Aku mencintaimu Lecca."
"Kau minta aku untuk tersenyum?"
"Ternyata tertawa itu menyenangkan"
Suara itu terus berdengung di telinga Lecca, seperti lebah yang berisik.
"Berhentiii!" jerit Lecca dalam hati, seketika semua suara itu lenyap, dia membuka matanya di depannya sudah ada Adder dengan wajah cemasnya.
"Kau ini kenapa Lecca!" seru Adder berjongkok di depan Lecca.
Terdengar suara tawa dari belakang Adder spontan Adder menoleh, di belakangnya Kira sudah berdiri. "Sepertinya ikatannya sudah memanggilnya Adder, ketika semuanya kembali sebaiknya kau pegang dia lebih erat, karena itu akan mencabik jiwanya, dan itu sangat menyakitkan" kata Kira dingin.
"Bisa-bisanya kau berkata seperti itu apa kau sendiri tak punya ikatan itu! Itu kan yang menjadikan kau seorang ghost" tukas Adder
Kira tertawa lagi. "Memang tapi ikatan itu tak ada artinya bagiku!" ucapnya, lalu meninggalkan Adder, Adder masih memandangi punggung Kira, adder berpikir tak mungkin ikatan itu tidak menjadi masalah baginya, atau mungkin Kira sudah mengetahui masa lalunya terlebih dahulu.
Adder beralih ke Lecca lagi, seperti yang dikatakan Kira, Adder memang merasa ikatan Lecca telah memecahkan dirinya perlahan, tepatnya setelah Lecca mendengar kata sanctuary dan gold saint.
"Siapa..siapa dia!" seru Lecca, dia merapatkan telinganya, namun suara laki-laki itu tak mau menghilang, saat Lecca memjamkan matanya dia melihat sesosok pria, berambut biru dan bermata hijau yang tampan, tersenyum padanya, itu bukan pemandangan yang jelek tapi entah kenapa kesedihan memenuhi ruang udara dada Lecca, siapa laki-laki itu tak mau hilang dari benak lecca, ada rasa aneh yang berdesir di dadanya, dia tak asing dengan perasaan yang tengah dia rasakan.
Adder memegang bahu Lecca, dan mengarahkan wajah lecca hingga berhadapan dengan wajahnya. "Tenanglah Lecca!" kata Adder lembut suara Adder bagai membelai luka yang membara yang ada pada diri Lecca.
Adder memeluk Lecca dan membelai kepalanya lembut, gadis itu mengeratkan pelukannya, wajahnya terbenam di dada Adder yang bidang, terlihat mulai tenang, meski Adder masih merasakan tubuh Lecca masih gemetar, dengan apa yang dilihatnya dalam kepingan ingatannya.
Setelah Lecca tenang, dengan sigap Adder menggendong Lecca. "Sebaiknya kau istirahat Lecca" ucapnya.
Lecca tak menjawab, dia hanya terdiam, dalam pelukan Adder dia merasa lebih tenang dan nyaman. Adder pun membawa Lecca ke kamar tidurnya, kamar yang berlantai marmer hitam, kandelar besar menggantung rendah, jendela besar ditutupi korden berwarna merah marun, dan tempat tidur bergaya Romawi dengan empat pilar kayu dan kain merah yang menjuntai di kedua sisinya. Adder menendang pintu kamar itu sampai terbuka, dan menidurkan Lecca di ranjang besar itu, kemudian menyelimutinya sampai dada.
"Adder." Lecca menyingkapkan selimut yang menutupinya, dan terduduk.
"Aku ini siapa? Darimana aku berasal? Aku tak mengingatnya sama sekali." kata Lecca, dia meremas selimut sampai tangannya sakit.
"Ini aneh, ada ingatan yang tak pernah aku ketahui muncul begitu saja, selama ini aku selalu berpikir, apakah aku benar-benar Lecca ataukah aku…." kata-kata lecca tenggelam begitu saja, Adder duduk di depan Lecca dan memandangnya lembut, dia merengkuh Lecca. "Jika bagimu semua menyakitkan kau tak perlu mengingatnya…..hal bernama masa lalu." ucap Adder.
Lecca tak menjawab perkataan Adder sentuhannya yang lembut menenangkan hatinya yang cemas, pelukan Adder seakan meluruhkan semua kekhawatirannya, tentang siapa dirinya, meski demikian, Lecca ingin mengatahui semua tentang dirinya yang terlupakan olehnya.
Dia terdiam dan menikmati pelukan Adder, waktu memejamkan matanya lelaki itu muncul lagi dalam benaknya, kenapa rasanya….sedih.
"Apakah ini tempatnya Lecca?" tanya Adder.
"Ya, sepertinya begitu." Lecca dan Adder tiba di kuil Athena yang berada di Yunani, konon kabarnya daerah atas kuil ini ditutup karena berbahaya, tetapi kepingan ingatan Lecca menuntunnya hingga kemari, bahkan kini ingatan itu semakin nyata saat ia menapakkan kakinya di kuil Athena. Lecca memandang kesekeliling dia tak asing dengan tempat ini, dia tahu tempat ini, aura tempat ini begitu berat seakan menekan dada Lecca, rasa sedih yang tak terlukiskan menyeruak memenuhi dirinya.
"Kau tak akan menemukan apa yang kau inginkan disini." suara laki-laki itu kembali datang bersamaan dengan wajahnya..kenapa wajahnya selalu saja sedih tiap kali muncul di benak Lecca, siapa dia?
"Kami disini hanyalah sebuah mitos"
"Semuanya hanya ilusi" kenapa dia berkata seperti itu,? Pikir Lecca..
"Lecca!" teriakan Adder membawanya kembali ka alam nyata. Dia melihat wajah adder, wajah pria itu terlihat cemas.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Adder.
"Aku tidak apa-apa, Adder." balas Lecca, memori yang muncul semakin banyak begitu juga dengan suara yang tak dia kenali, berdengung memenuhi kepalanya, membuat Lecca sedikit pusing. Tak mempedulikan semuanya, sepertinya kekuatan besar mendorong Lecca untuk tetap maju, dia pun melangkahkan kakinya, melompati rantai yang menghalangi tangga yang menuju ke area atas reruntuhan kuil Athena.
"Hentikan semua ini Lecca!" ujar Adder, membuat Lecca menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, menatap Adder dengan mata kelabunya yang dingin.
"Aku tak memaksamu ikut Adder, kau bisa kembali ke Noesis jika kau mau." kata Lecca dingin.
"Tidak tanpamu." balas Adder.
"Kau tahu apa jawabanku, Adder."
"Tapi kau akan…"
"Tidak..!" potong Lecca. "Hal itu bukan masalah lagi Adder" wajah Lecca berkabut sedih, dia pun membalikkan badanya dan mulai melangkah menapaki tangga batu tersebut, tak bisa berbuat banyak Adder pun mengekor.
Setelah beberapa lama berjalan Lecca dan Adder sampai di sebuah coloseum besar.
Sekali lagi lecca memandangi sekeliling coloseum itu, dejavu yang dia rasakan begitu menusuk, kepalanya sakit karena suara berisik yang memenuhi kepalanya, suara seseorang, tidak banyak orang yang tidak dia kenal, kelebatan memori yang semakin sering merangsek masuk membuat kepalanya penuh. Lecca pun terhuyung, sekelilingnya terasa berputar, melihat itu Adder sigap menangkap Lecca.
"Terimakasih Adder. Aku baik-baik saja."
"Bagiku itu tidak baik-baik saja." balas Adder serius.
"Sungguh aku tidak apa-apa!" tekan Lecca, Adder tak menjawab ia hanya menatap Lecca tajam, peluh mengalir dari pelipis gadis itu, sesekali Lecca menekan pelipisnya dan memejamkan matanya rapat-rapat seolah ingin mengihilangkan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
"Tetap ditempat kalian!" seru seseorang dari belakang Lecca dan Adder.
Adder menoleh ternyata ada dua orang berpakaian perang ala Yunani kuno, mereka menghunuskan tombak mereka.
"Hooo, ternyata benar Athena dan para gold saint-nya bersembunyi disini." kata Adder.
Mendengar perkataan Adder dua orang tadi tak hanya menghunuskan tombak mereka tetapi juga memasang kuda-kuda menyerang.
"Kalian mau melawan? Menarik, aku akan layani kalian." Adder bersiap menyerang.
"Tunggu Adder, jangan bunuh mereka setidaknya kita punya penunjuk jalan untuk masuk kedalam sanctuary" ujar Lecca seraya membalikkan badannya.
Salah satu penjaga itu terbelalak begitu melihat Lecca, wajahnya terlihat ketakutan, serta merta ia menurunkan tombaknya.
"Hei! Jou ada apa?" Tanya rekannya keheranan melihat reaksi Jou yang seperti itu, padahal wajah Lecca sama sekali tidak menyeramkan.
"Tidak mungkin, kau!" serunya sambil menunjuk Lecca. "Aku tahu siapa kau, kau adalah gadis yang mulia Saga!"
Bagai tirai terbuka, sinar terang menyinari kegelapan memori Lecca, ia tak bisa melihat apa-apa, semuanya terlihat begitu menyilaukan, perlahan sinar menyilaukan itu meredup, ada seseorang berdiri di depannya, ya…dia mengenalinya, wajah tampan, mata hijau yang meneduhkan dan rambut sewarna dengan langit biru yang cerah. Lecca mengenali wajah itu, itu wajah Saga, wajah gold saint Gemini, kini ia tersenyum. Lalu wajah itu berganti menjadi ingatan-ingatan yang lebih banyak lagi memenuhi kepala Lecca, dia tahu siapa dirinya, bahkan dia mengetahui saat Astarte menghampirinya di Yomotsu Hiratsaka, Lecca ingat semuanya, dia tahu siapa dirinya, dan itu membuat semuanya berputar, perutnya melilit, disaat yang bersamaan ia tahu Saga dalam bahaya, Astarte akan mengambil birthstone miliknya. Lecca jatuh terduduk kedua tangannya menopang tubuhnya yang gemetar hebat, semua isi perutnya keluar lewat mulutnya, lagi…lagi dan lagi.
Adder berlutut disebelah Lecca dia tahu ini buruk, serta merta Adder langsung memeluk Lecca, memeluk tubuh yang gemetar tiada henti itu. Melihat keadaan aneh tersebut kedua penjaga itu tak melewati kesempatan baik untuk menyerang Adder dan Lecca.
Merasa akan diserang Lecca spontan mendorong Adder melepaskan diri dari pelukan Adder, Lecca berdiri lalu menjentikknya jarinya membuat satu penjaga tiba-tiba meledak berkeping-keping, cipratan darah mengenai wajah Jou rekannya sekarang hanya berupa serpihan daging. Jou pun menghentikan langkahnya ia melihat Tangan lecca masih bersiap.
"Kalau kau mau mati aku bisa berikan kematian tanpa rasa sakit." ancam Lecca
"Biarkan kami pergi jika kau mau tetap hidup." ucap Lecca sambil menurunkan tangannya, matanya berkabut sedih melihat onggokan daging yang beserakan di lantai batu.
"P..pergi..pergilah kau iblis!" teriak Jou, ia berdiri dan berlari tunggang langgang meninggalkan Lecca dan Adder.
Lecca tak menjawab teriakan itu dia hanya terdiam dan melihat kedua tangannya, ingatannya sangat jelas sekarang, berapa banyak jiwa yang telah dia renggut sampai dia menginjakkan kakinya di sanctuary, lecca mengepalkan tangannya erat-erat, dan mengerutkan keningnya, dia harus segera berbuat sesuatu, Saga dalam bahaya dia harus menyelamatkan pria yang ia cintai.
"Kau mau menyelamatkannya bukan?" kata Adder
Lecca menoleh memandang Adder dengan airmata yang menggelinding bebas di pipinya dia berkata pelan, "iya adder."
Chapter 28
Hera
Kanon membuka pintu yang menjadi jalan keluar lorong gelap yang dilaluinya. Dia disambut dengan pemandangan sebuah bangunan dengan pilar besar meskipun pilar itu sudah banyak yang tanggal tetapi bangunan itu masih berdiri kokoh, bangunannya mirip dengan kuil Athena yang ada di sanctuary, tetapi ini jauh lebih berantakan, seakan bangunan ini sudah terlupakan terlihat banyak tanaman rambat liar yang menutupi pilar besar yang masih berdiri.
Kanon tahu ini adalah sebuah kuil pemujaan untuk dewa-dewi Olympia, tetapi masalahnya kuil ini untuk memuja siapa? Dia menoleh ke belakang kuil ini terletak di tengah amphitheater, yang dibuat seakan merupakan barikade perlindungan dari kuil ini.
Di depan kuil itu berdiri dua orang pria dan wanita. Kanon mengenalinya sebagai Adder dan Lecca, mereka menegadahkan wajahnya melihat kuil menjulang di depannya.
"Lecca kau yakin ini tempatnya?" Tanya Adder
Lecca mengangguk. "Lihat ini Adder." Lecca menyentuh udara kosong di depannya. Ada riak kecil seperti saat kau menyentuh air tenang.
"Barier." Ucap Adder.
WUUSH! Sebuah benda melesat dengan cepat dari arah belakang menuju Lecca. Belum sempat Adder berteriak memperingati Lecca, Lecca sudah berbalik dengan cepat dan menangkap benda tersebut. Ternyata benda itu adalah sebuah panah berwarna biru kehijauan, panah itu hampir mirip dengan panah Sagitarius milik Aiolos. Lecca memandang sejenak anak panah yang ada di tangannya.
"Kukira tidak ada penjaganya" Lecca menghempaskan panah itu ke tanah. Matanya memandang lurus-lurus kearah kuil yang ada di depannya. Kanon dan Aiolos heran kenapa Lecca memandang kearah berlawanan dari arah panah itu datang.
"Untuk apa kalian datang kemari makhluk rendah!" suara itu datang bersama dengan munculnya sosok dari balik pilar besar yang menyangga kuil. Seorang wanita, rambut hijau pekatnya di kuncir tinggi, tubuhnya tang tinggi semampai dibalut cloth berwarna hijau metalik dengan semburat kebiruan seperti warna bulu burung merak. Dia memegang busur sewarna dengan clothnya.
"Tentu saja mau bertemu dengan pemilik kuil ini, yang mulia Dewi Hera" kata Lecca
Wanita itu mendengus dan berjalan menuruni tanggal kuil. Dia berhenti di depan Lecca, pandangannya merendahkan Lecca. "Lancang! Kau tak lebih dari makhluk kotor, tak pantas menemui yang mulia. Lagipula yang mulia tidak akan mau menemui seorang ghost dan siluman" pandangannya beralih ke Adder dan mencibir, "yasha."
"Bisakah kau biarkan aku masuk dan bertemu dengan yang mulia Dewi Hera?" ucap Lecca tak mempedulikan cemoohan wanita itu.
"Tidak!" tegas wanita itu.
"Baik kalau begitu aku akan memaksa masuk"
"Memaksa masuk? Jangan bikin aku tertawa ghost! Kau tidak akan bisa menghancurkan pelindung ini"
"Bagaimana kalau aku bisa?"
"Coba saja!" tantang wanita itu mensedekapkan tangannya.
Lecca tersenyum dan mengangkat tangannya, mengarahkan jari telunjuknya ke pelindung yang memisahkan wanita itu dan dirinya.
"Apa kau yakin aku boleh menghancurkannya?"
"Sombong sekali!"
Lecca memejamkan matanya senyum masih menghiasi wajahnya. KRAAK! Bunyi keras itu membuat wanita itu membelalak tak percaya. Suara yang terdengar berikutnya seperti kaca besar yang pecah karena dilempar batu besar. Wanita itu mundur selangkah tak menyangka Lecca bisa menghancurkan barrier itu hanya dengan jari telunjuknya, padahal barrier ini dipasang oleh Dewi Hera sendiri.
"OCULUS!" teriakan nyaring melonjakkan wanita itu dia berbalik dan mendongak.
"Yang mulia!" Oculus berlutut memberi hormat. Dewi Hera muncul di ujung tangga kuil. Dia melihat sekelilingnya, pandangannya jatuh pada Lecca dan Adder, dia pun dengan anggun menuruni tangga kuil, menghampiri Lecca.
"Salam, yang mulia Dewi Hera" Lecca membungukkan badannya.
Hera tak menjawab salam Lecca, dia memandang jijik pada Lecca seakan Lecca adalah kuman.
"Katakan tujuanmu datang kemari sebelum kuhancurkan kau jadi abu" ancam Hera.
Lecca memandang sejenak Dewi yang ada di depannya itu, lalu menggulung lengan bajunya. "Kurasa anda mengenali tanda ini" Lecca menyodorkan lengannya.
Hera terkejut melihat tanda yang ada dilengan Lecca, pandangannya beralih dari tanda itu ke Lecca. sudah lama dia mencari wadahnya yang menghilang, tak disangka malah wadahnya yang datang sendiri mencarinya, sekilas Hera sempat berpikir apakah Samsara bisa memperbaikinya sehingga dirinya bisa berinkarnasi ke bumi sesuai dengan keinginannnya. Tapi, Hera berpikir lagi, wadahnya tak lagi suci, dia sudah ternoda karena menjadi seorang ghost. Hal itu membuatnya kesal. "Tanda itu tidak ada hubungannya denganku lagi" ucap Hera. Ia berbalik dan meninggalkan Lecca.
"Aku tahu kenapa kau mau merendahkan dirimu dan bereinkarnasi sebagai manusia." Langkah Hera terhenti mendengar perkataan Lecca.
"Kau hanya menebak."
"Sayangnya tidak yang mulia, Samsara membuat wadahmu ini dengan sedikit esensi dari dirimu, pengetahuan, kekuatan, bahkan sedikit hatimu yang mulia. Dan, ya aku mengetahui tujuanmu itu, apa aku perlu mengatakannya padamu sekarang. Anda hanya tinggal membenarkan saja apakah tebakan itu benar atau tidak." Jelas Lecca.
"Kurang ajar!" maki Oculus. Busurnya terangkat siap melontarkan panahnya lagi pada Lecca. Namun, Hera mencegahnya. "Muntahkan semuanya yang kau tahu aku akan mendengarkan" kata Hera.
"Yang mulia anda tidak bisa begitu saja memercayai kata-katanya, anda tahu siapa dia?!"
"Diamlah Oculus!" bentak Hera.
"Kau hanya takut menghilang dari dunia ini yang mulia" kata Lecca.
Hera mengepalkan tangannya, kata-kata Lecca tepat mengenai sasaran. Melihat perubahan pada manusia di zaman sekarang membuat Hera khawatir dia akan benar-benar kehilangan eksistensinya.
"Saat ini tidak ada manusia yang berdoa pada Poseidon saat mereka di laut. Tidak ada yang berdoa pada Zeus saat mereka ada di langit, mereka bahkan tak mempedulikan teritori Zeus, tidak ada yang berdoa memohon kebijaksanaan pada Athena, atau berdoa padamu untuk pernikahan mereka. Dan itu membuat anda memudar yang mulia. Dengan bereinkarnasi anda bisa menyimpan tubuh asli anda di Elysium seperti yang Hades lakukan atau yang seperti Athena lakukan dan terus memepertahankan eksistensi anda. Atau…." Kata-kata Lecca terhenti memandang Hera.
"Atau apa?" kata Hera
"Kau ingin membangkitkan kembali masa kejayaan para Dewa-Dewi Olympus di bumi manusia, anda ingin membuktikan pada manusia kalau para Olympian itu benar-benar ada, tidak sekedar mitos, legenda atau dongeng belaka. Bertahannya para Olympian pun tak lepas dari jasa para penulis yang mengangkat mitologi tentang kalian semua kedalam buku yang mereka tulis atau para arkeolog atau mungkin manusia seperti diriku yang terusik dengan kebenaran dari suatu mitos tentang kalian, sehingga kalian bisa dikenal oleh manusia dan tetap hidup meski kalian tidak lebih adalah tokoh fiksi yang dibuat mereka, atau hanya sekedar legenda saja, hal itu, sedikit banyak itu mempertahankan eksistensi kalian sebelum kalian benar-benar pudar."
Hera bertepuk tangan. "Gadis pintar" pujinya. "Baguskan rencanaku, aku ingin membuktikan pada manusia-manusia itu, kami masih ada. Dahulu mereka memuja dan menghormati kami, tapi sekarang mereka meninggalkan kami, suatu penghinaan dan pengkhiatan yang tak termaafkan!"
"Anda pendusta! Bukan untuk manusia anda melakukan ini semua tetapi untuk Zeus!"
Hera memandang Lecca sinis. "Kau benar-benar gadis pintar. Pembicaraan ini selesai! Katakan apa maumu?"
"Aku butuh bantuan anda, yang mulia. Anda pasti sudah mengetahui apa yang akan terjadi jika Lucifer benar-benar bangkit?"
Hera terdiam menatap Lecca, dia belum lupa bagaimana bangsanya berperang melawan Lucifer dan pasukan iblisnya, perang yang berkepanjangan, pasukan iblis Lucifer sangat kuat, mereka datang seperti gelombang besar menghantam Olympus, menciptakan kekacauan dimana-mana, bahkan memanfaatkan manusia menjadi prajuritnya. Jadi, yah, Hera sangat mengetahui apa yang akan dia alami jika Lucifer bebas dari kerangkengnya. Ini tak beda jauh dari perang dengan bangsa Titan.
"Ambil ini." Dari udara kosong muncul dua buah pedang, pedang itu begitu berkilau berwarna emas sempurna. "Ini adalah pedang Hyperion, terbuat dari emas murni, dan ditempa oleh Dewa Api , Hephaestus." Hera menyodorkan pedang itu pada Lecca. Mata gadis itu menjelajah pedang di tangan sang Dewi, sarung pedang tersebut penuh dengan ukiran rumit, Lecca bisa merasakan kekuatan besar meski dia belum benar-benar memegang pedang itu.
"Yang mulia! Anda tidak serius mau memberikan pedang itu padanya bukan?" ujar Oculus.
Hera tak mengindahkan Oculus. "Ambillah, kupastikan pedang ini bisa membunuh Astarte dan antek-anteknya"
Lecca meraih dua pedang itu. Dia bisa merasakan kekuatan besar mengeleyar di seluruh tubuhnya. Kekuatan itu begitu besar sampai Lecca tidak bisa menahannya. Hal terakhir yang diingat Lecca adalah sinar yang menyilaukan dan suara Dewi Hera.
"Kuatkan dirimu….Lecca!"
