Katekyo Hitman Reborn selalu milik Akira Amano-sensei, kalo saya yang punya, ceritanya bakal hancur ditengah dan kemunculan Hibari bakal aku banyakin :p

Hak milik saya hanya Aihara Sakura dan ceritanya, itu aja, gak lebih, gak kurang.

Tulisan miring berarti kisah masa lalu/cerita seseorang/mimpi/pikiran seseorang

Read, Enjoy, and Review!


Sakura Addiction

Aku masih ingin hidup, aku akan hidup!

Chapter 14: Blooming


"Sakura," panggil Kazuki kepada sosok adiknya yang duduk di kursi roda, menatap jendela dari lobi rumah sakit dengan pandangan sedih. "Kau tidak apa-apa?"

Sakura menengok ke arah kakaknya dengan senyuman. "Iya, aku baik-baik saja," sahutnya ceria. "Kondisi tubuhku sepertinya lebih baik daripada kemarin."

Kazuki tersenyum lega. "Masih menunggu bunga sakura?" tanyanya dan ikut menatap jendela. "Tahun ini sepertinya bunga sakura akan terlambat mekar."

"Sayang sekali…" gumam Sakura. "Setidaknya aku ingin melihat bunga sakura sebelum operasi besok."

"Sakura…" sahut Kazuki.

"Jadi, untuk apa Kakak mengajakku kesini?" tanya Sakura, memotong kata-kata Kazuki. "Tumben sekali Kakak pagi-pagi datang ke kamarku, mengajakku keluar sampai sekarang. Ada apa?"

Kazuki tersenyum. Tak lama, handphone-nya berbunyi, Kazuki membaca mail yang masuk sambil tersenyum lebar.

"Dari pacar, Kak?"

"Lebih baik dari pada itu," sahutnya dan mendorong kursi roda Sakura. "Kita kembali, yuk?"

"He?"

-Sakura Addiction-

"Kak, ada apa, sih? Kok sepertinya mencurigakan," sahut Sakura di perjalanan mereka kembali ke kamar Sakura yang juga terletak di lantai pertama. "Dari tadi Kakak tersenyum aneh terus!"

"Masa sih?" jawab Kazuki tanpa menjawab sedikitpun pertanyaan Sakura, yang justru membuat Sakura tambah curiga. "Kita lihat saja nanti."

Mereka sampai di depan kamar Sakura, Kazuki membuka pintu kamar, lalu mendorong kursi roda Sakura ke dalam kamar. "Kak, gelap…" sahut Sakura sambil menatap Kazuki yang menutup pintu. "Lampunya…"

Kazuki dengan senang hati menyalakan lampu kamar, dan—

"Sakura, selamat datang!"

Suara itu langsung menyambut Sakura begitu ia memasuki kamarnya. Tsuna, Yamamoto, Gokudera, Kyoko, Hikari, Dino, Romario, Kusakabe—banyak. Mereka semua berkumpul di kamar itu, menghiasi kamar itu dengan kelopak bunga Sakura, dan membuat suasana kamar itu seperti suasana hanami.

"Ka…Kalian?" sahut Sakura, masih kaget akan apa yang dia lihat. "Ini…apa? Apa—"

"Ini hanami untukmu, Sakura-san," sahut Tsuna, memanggil nama kecil Sakura. "Kau sudah menjadi keluarga kami, jadi, ini perayaannya."

"Mungkin tidak menyerupai hanami yang aslinya, tapi…" sahut Kyoko sambil tersenyum. "Ini hanami hanya untukmu, Sakura-chan."

Kazuki tersenyum dan berdiri di sebelah kursi roda Sakura. "Mereka menyiapkan ini dari pagi tadi, makannya kau kuajak keluar," sahut Kazuki, lalu berjongkok dan mengenggam tangan Sakura. "Ini kejutan kecil untukmu, Sakura."

Sakura menatap wajah teman-temannya satu per satu. Ini adalah sesuatu yang ia inginkan sejak lama. Hidup dikelilingi teman yang dia percayai dan cintai. Orang-orang yang dapat ia percayakan untuk meneteskan air mata—

"Hei, Sakura-chan, jangan menangis!"

"Waduh, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"

"Tisu! Tisu, hoi! Tisu!"

Sakura, mencoba menghapus air matanya, menatap teman-temannya dengan senyuman. "Terima kasih," sahutnya. "Kalian adalah yang terbaik."

Semuanya tersenyum, lalu mengembang menjadi sebuah suara tawa. "Kalau begitu, ayo, kita makan-makan!" sahut Dino semangat dan mengambil sekaleng jus dari kantung plastik. "Ini, Sakura-chan, jus jeruk!"

"Terima kasih, Dino-san," sahut Sakura dan menerima kaleng jus itu. "Ah, kerai jendelanya dibuka saja, biar lebih terang…"

"Aaaah! Jangan, Sakura-chan!" sahut Dino buru-buru. "Ka-Kalau kau membuka kerai, nanti pemandangan luar akan merusak 'hanami' ini. Lebih baik jangan ya?"

Sakura menatap Dino dengan wajah bingung. "Uh, ya, baiklah…" sahutnya.

"Oke, ayo kita mulai hanami-nya!"

'Hanami' yang sebenarnya hanya acara makan-makan di sebuah kamar rumah sakit itu berlangsung meriah. Sakura, yang awalnya tidak memiliki semangat, kembali tersenyum lepas. Dia seperti menikmati hidupnya, waktunya, dan apapun yang ia miliki sekarang. Ia sangat mencintai teman-temannya—dan mungkin merekalah yang menjadi alasan kenapa ia masih kuat sampai saat ini.

Namun—hanya ada satu hal yang terus terpikir di kepala Sakura. Satu hal yang sedikit menganggunya.

"Hibari-senpai—tidak ada disini."

-Sakura Addiction-

Sakura terbangun di tengah malam, membuka matanya dengan berat. Entah kenapa, kata-kata 'operasi' terus terngiang di otaknya. Dan Sakura mengakuinya—dia takut.

Sakura mendudukan dirinya, dan melihat ke sekeliling kamarnya. Pintu kamarnya terbuka sedikit, mungkin Kakak keluar sebentar—pikirnya. Sakura memeluk kakinya, membenamkan kepalanya. Dia takut, takut, sangat takut. Ini berbeda dengan ketakutan berbohong, atau ketakutan saat diberikan misi. Ini terasa seperti ketakutan yang bahkan membuatnya susah bernafas.

Sakura mengangkat kepalanya lagi, menghela nafas. Ia berniat untuk tidur lagi, tapi sebuah cahaya dari luar jendela yang tertutup kerai itu menarik perhatiannya. Dengan penuh penasaran, Sakura mencoba berjalan pelan-pelan dan membuka kerai jendela dan melihat—

"Pohon Sakuranya…berbunga?" sahutnya terkejut saat melihat deretan pohon Sakura yang padahal tadi pagi belum berbunga sama sekali sekarang berbunga dengan indahnya. Sakura langsung membuka jendelanya, merasakan angin malam yang dingin dan menerbangkan kelopak bunga itu ke dalam kamarnya.

Sakura mengambil kelopak bunga itu. Wajahnya terkejut, dan segera menatap keluar lagi. "Tuan Bodoh yang bersembunyi disana!" panggilnya dengan suara lumayan lantang. "Keberatan kah jika aku meminta kamu menampakkan wajahmu?"

Tidak ada jawaban.

"Haloo?"

Masih tidak ada jawaban. Sakura menghela nafas lalu tersenyum kecil. "Katakan saja ini semua perbuatanmu…" sahut Sakura dan menompang dagunya dengan tangannya. "Hibari-senpai."

Seakan-akan kalimat tadi adalah mantera pemanggil, sosok yang memakai jaket hitam itu berjalan keluar dari persembunyiannya dengan wajah dingin dan lurus—seperti yang Sakura kenali dengan baik.

"Rajin sekali Hibari-senpai melakukan hal ini," sahut Sakura dengan suara khasnya. "Sekarang aku mengerti kenapa Dino-san melarangku membuka kerai jendela. Ternyata ini alasannya,"

Hibari menganggkat pundaknya, dan berjalan ke arah Sakura. "Itu bukan urusanku," sahutnya dingin.

"Lalu, untuk apa pohon-pohon ini?"

"Untuk menghibur seseorang yang merasa akan mati besok."

Sakura mendengus. "Itu kejam, Hibari-senpai."

"Kau baru tahu?" tanyanya dan berhenti tepat di depan jendela kamar Sakura. "Mau melihat lebih dekat?"

"Apanya?"

"Bunganya."

"Hibari-senpai, aku tidak diperbolehkan untuk berjalan tanpa kursi roda—yah kecuali kalau berjarak pendek sih…" sahut Sakura. "Aku akan ambil kursi—"

"Tidak perlu," potong Hibari, dia membuka jaketnya dan memakaikannya pada Sakura, lalu membalikkan badannya, menunjukkan posisi menawarkan Sakura untuk digendong punggung. "Ayo, naik."

"Eh?" pekik Sakura.

"Cepat."

Sakura terdiam sebentar, dengan tarikkan nafas, Sakura berusaha melompati jendela. Namun, keseimbangannya hilang dan dia terjatuh—tepat diatas punggung Hibari.

"Kau tidak bisa lebih pelan lagi?" protes Hibari dan membenarkan posisi Sakura. "Itu sakit."

"Su—Sudah bagus begini! Daripada aku harus lompat dari lantai dua?" sahut Sakura kesal. "Untung kamarku di lantai satu…"

Tanpa berbicara lagi, Hibari mulai berjalan mendekati pohon-pohon Sakura yang berbunga dengan indahnya dan lampu-lampu terang yang membuat warna merah muda itu semakin bersinar.

"Indah," sahut Sakura. "Meskipun ini hanya bunga palsu. Iya kan?"

Hibari tercengang, namun dia tetap diam. "Kau bisa tahu juga," sahutnya.

Sakura terkekeh. "Tentu saja. Kelopak bunga yang tadi masuk ke kamarku terbuat dari kain," sahutnya. "Aku tidak percaya Hibari-senpai bisa memasang bunga-bunga palsu itu dalam waktu singkat."

"Apakah itu pujian?"

"Terserah Hibari-senpai mau menganggapnya bagaimana," sahut Sakura tersenyum. "Tapi…terima kasih, Hibari-senpai."

"Ternyata kau bisa berterima kasih juga," komentar Hibari sambil tersenyum tipis. "—Teruslah hidup."

Sakura tersenyum. "Um," sahutnya dan memeluk Hibari. "Aku akan terus hidup. Demi teman-teman, demi Kakak, demi semua orang yang mendukungku."

"Itu saja?"

"Dan mungkin saja—demi kamu, Hibari-senpai."

-Sakura Addiction-

"Kau membiarkan adikmu diambil Kyouya?" tanya Dino di ambang pintu kamar Sakura, bertanya pada Kazuki yang menatap adiknya dan Hibari dari jendela kamar. "Kukira kau sister complex."

Kazuki terkekeh. "Yang benar saja, aku sudah punya pacar cewek, asal kau tahu saja," sahut Kazuki dengan nada mengejek. "Meski aku tidak rela Sakura diambil oleh manusia seperti dia, tapi—yah, mau diapakan lagi?"

"Tapi, Kyouya benar-benar mencintai Sakura-chan, bukan begitu?" tanya Dino dan mengalihkan pandangannya ke Sakura dan Hibari. "Bahkan dia rela memasang bunga-bunga palsu itu dari pagi selagi kita mengalihkan perhatian Sakura-chan."

"Meski aku benci mengakuinya, idenya ini—uh, bagus," sahut Kazuki kesal. "Seharusnya aku yang memikirkan ide seperti itu."

Dino tertawa kecil. "Yah, bahkan Kyouya yang seperti itu mau mengurusi hidup seseorang," sahutnya. "Sakura-chan itu luar biasa. Dia bisa membuat Kyouya seperti itu. Hebat."

Kazuki memalingkan pandangannya ke Dino, dan memasang wajah jijik. "Jangan sentuh adikku, pedofil," sahutnya.

"AP—Argh! Ternyata Kakak-Adik tidak jauh beda!" bentak Dino. "Dengar, aku bukan pe—"

"Iya, iya, aku tahu, jangan diulang lagi," potong Kazuki. "Sekarang, aku hanya ingin berdoa akan keberhasilan operasi Sakura besok."

"Ya, kita doakan dia—"

To be continued…


YEAH! Chapter 14!

Ini dikerjain pas sela-sela liburan yang enggak bisa aku sebut sebagai "liburan". Kenapa? Karena dalam seminggu ini liburan dipenuhi dengan ngerjain peer, kerja kelompok, dan lain-lain. Argh.

Ah iya numpang promosi. Sekolahku ngadain cup, yaitu Moonzher Cup 2011: Find Yourself, Face Your Fear yang dimulai tanggal 6 Mei 2011 nanti. Bagi kalian yang pengen ikut, lombanya banyak loh. Ada basket, futsal, fotografi, short movie, cosplay, Japanese speech, cheers, mading, FBB, musikalisasi puisi, saman, tari tradisional, voli, badminton, KIR dan nasyid. Bagi yang tertarik, liat official twitter-nya di moonzhercup11 atau websitenya di www(dot)moonzhercup(dot)com. Find yourself, face your fear!

Oke. Semoga kalian suka chapter ini ya! Jujur, kayaknya chapter ini banyak adegan shoujo-nya hahaha. Keracunan manga shoujo saya. Hahaha :p

Terima kasih ya yang udah review di chapter 13 yang ngetiknya bahkan ngebuat authornya sendiri blushing. Review chapter ini juga ya! I love you all! Maaf kalo ada mistype, cerita gaje ato hal-hal lain yang aneh di chapter ini. Lepaskan uneg-uneg kalian dengan menekan tombol imut-imut bertuliskan 'review' itu ya! :3

Thank You~