.

Come Away With Me

.

Karya: Kristen Proby

.

.

.

Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun

GS for Uke

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.

Luhan POV

.

HUNHAN

.

RATE M

.

.

Hope u will enjoy this remake^^

Happy reading

.

.

Previous chapter:

"Ayah dan aku mengobrol dengannya waktu itu."
"Apa?"Kenapa aku tak tahu soal ini?
"Yeah, saat kau bekerja, dan dia mengundang para pria untuk makan siang di luar." Dia mengangkat bahu dan tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu. Aku mengenal Joonmyeon. Pria ini seperti benteng. Jika ada suatu rahasia, dia tak akan membocorkannya.
"Oh. Dia tidak cerita tentang ini."
"Dia tidak cerita?" dia mengangkat bahu lagi, seperti itu bukan suatu masalah besar. "Well, maksudku adalah, aku menyukainya."
"Wow, aku mendapatkan stempel persetujuan dari kakak laki-laki?" Aku melebarkan mata dan menganga dengan sarkastik.
"Selama dia tetap berlaku baik dan sopan, ya."
"Aku suka saat dia berlaku tidak sopan." Aku mengedipkan mata dan tertawa saat wajahnya memperlihatkan kengerian.
"TBI (Terlalu Banyak Informasi) Tuhan, aku tidak ingin tahu tentang itu. Apakah kau bahagia?" dia memandang tajam kepadaku, serius, dan aku merasa dicintai.
"Aku merasa bahagia. Dia lelaki yang baik Joonmyeon. Dia mencintaiku. Ini bukan tentang pekerjaannya, atau tentang masa laluku, atau seberapa banyak uang yang kami punya. Ini tentang siapa diriku saat bersamanya." Aku mengangkat bahu, sedikit merasa malu. "Dia membuatku merasa istimewa."
"Ah, Luhanie. Kau istimewa. Sayang, aku senang akhirnya kau mengetahuinya. Senang melihatmu jatuh cinta." Dia mengedipkan matanya padaku. "Sekarang, sebelum aku menjadi cengeng, bisakah kau menjaga bayi ku malam ini? Aku benar-benar butuh waktu berduaan dengan istriku."
Aku tertawa. "Tentu saja, bagaimana kalau dua minggu?"
"Oh, Tuhan, ya. Terima kasih."

.


.

Saat malam semakin larut, Sehun mengajakku ke lantai dansa untuk dansa yang terakhir. Kakiku sudah terasa sakit, tapi aku tak bisa menolaknya. Aku suka berayun di lengannya.

Aku menyadari band memainkan lagunya Norah Jones 'Come Away With Me' dan membuatku memandangnya dengan tatapan yang bersinar. Dia menunduk tersenyum lembut padaku.

"Aku percaya bahwa ini adalah lagu kita. Kau terlihat sama cantiknya seperti malam itu, di kebun anggur, dengan mutiara ini. Kau membuatku kehabisan nafas, Xi Luhan."

Oh.

Aku merasakan air mata di mataku, saat memandangnya. Aku menyusupkan tanganku kedalam rambut pirangnya yang lembut. "Kau benar-benar tahu bagaimana membuat seorang gadis melentingkan kakinya (merasa benar-benar tersanjung), Oh Sehun."

Matanya menelusuri wajahku sambil terus mengayunkanku di ruangan. Aku bersumpah, hanya kami yang berdansa di ruangan ini dan aku tak peduli siapa saja yang memperhatikan kami.

Dia membungkuk dan dengan lembut menekankan pipinya ke pipiku. "Terima kasih," bisiknya.

"Untuk apa?" bisikku kembali.

"Untuk menjadi milikku."

ooOoo

.

Saat kami sampai di rumah Sehun dia membimbingku ke dalam dan menutup pintu depan. Dia menyentakkan tanganku dengan lembut, menarikku ke lengannya.

"Kau luar biasa malam ini. Kau mempesona banyak orang," dia bergumam di rambutku.

"Aku merasakan malam yang hebat. Keluargamu luar biasa." Aku menyusup ke dadanya dan menghirup wangi Sehun yang seksi.

"Apa kau yakin kau tidak keberatan pagi ini kita mengundang seluruh keluarga untuk brunch?"

"Tentu saja. Aku akan membantumu memasak."

Dia terkekeh. "Terima kasih atas pelayananmu."

"Itu alasan yang bagus. Ayo kita tidur."

Aku menariknya tapi dia menghentikanku, matanya tiba-tiba menjadi serius.

"Belum."

"Apakah kau baik-baik saja?"

"Aku lebih dari baik. Ada sesuatu yang ingin keperlihatkan."

"Oh, ok."

Dia menggandengku masuk ke ruangan. Dia berhenti di sound system dan menyalakan iPod dan suara musik blues yang lembut mulai mengalun dari speaker. Dia mendahului kearah beranda, membuka pintu Perancis, dan menyalakan lampu dan nafasku terhenti.

Beranda telah berubah menjadi tempat yang lembut dan romantis. Buket-buket bunga mawar merah dengan mutiara kecil terselip di daunnya menutupi semua permukaan. Lampu putih berkelap-kelip, sepanjang langit-langit ruangan, dan di sebelah loveseat tertata sebuah meja kecil yang diatasnya terdapat es dan sampanye dan dua buah gelas.

Aku berputar dan memandang kearahnya, mataku melebar. "Kapan kau mengerjakan ini semua?"

"Aku melakukannya sebelum kita berangkat ke rumahmu untuk bersiap-siap ke pesta."

"Sehun, ini ajaib." Aku kembali memandang ke ruangan yang indah itu, menahan nafas. Dia sangat romantis.

Dia memelukku dari belakang dan membenamkan wajahnya di leherku.

"Apakah kau menyukainya?"

"Aku menyukainya. Terima kasih."

"Ayo, duduk." Dia mengajakku ke kursi dan kami duduk. Gaunku melayang di sekitar kakiku saat aku duduk, dan terasa lembut di kulitku. Aku tersenyum pada diriku sendiri, teringat kalau aku tak memakai pakaian dalam. Sehun akan menyukainya bila dia tahu.

Dia menuangkan sampanye ke tiap-tiap gelas, mendentingkan gelasnya ke gelasku dan aku meyesap minumanku.

"Ini malam yang indah. Bahkan tidak terlalu dingin." Aku menyandarkan kepalaku ke bantal dan menutup mataku, mendengarkan suara air yang tidak bisa kami lihat di kegelapan.

Sehun mengangkat kakiku ke pangkuannya dan aku menoleh untuk melihatnya.

Dia melepas sepatuku dan mulai menggosoknya.

"Oh, Tuhanku, Aku mencintaimu."

Dia tertawa. "Kakimu sakit?"

"Sedikit. Sepatu itu memang layak."

"Memang benar. Apakah aku sudah bilang kalau kau terlihat cantik malam ini?"

"Sekali atau dua kali." Aku mengedipkan mata padanya dan menghembuskan nafas saat dia menekankan jempolnya di lengkungan telapak kakiku. "Kau pandai menggunakan tanganmu."

"Aku senang kau setuju."

"Aku bisa terbiasa dengan semua ini, tahu. Semua bunga-bunga ini dan pijatan kaki dan sampanye dan kau, pacarku yang tampan."

Dia mengernyit dan hatiku terdiam sesaat. Apakah kata-kataku salah?

"Hei," aku menarik kakiku dari pangkuannya, dan kearah dirinya, berbaring di pangkuannya. Dia melingkarkan lengannya padaku, mendekapku di dadanya, dan aku menangkup wajahnya dengan tanganku.

"Ada apa ini?"

Matanya menatap mataku, warna hitam kecoklatannya intens dan serius, dan aku tahu ada sesuatu yang penting dalam pemikirannya.

"Bicaralah padaku, baby." Aku melanjutkan membelai wajahnya, dan dia memiringkan kepalanya untuk mencium telapak tanganku.

"Kurasa aku tidak ingin menjadi pacarmu lagi."

What?

Aku terdiam dan menyipitkan mataku padanya.

"Ok, aku akan membereskan barang-barangku." Aku bergerak untuk bangun tapi dia mempererat pelukannya, mengetatkan rahang dan menutup erat matanya.

"Tidak, bukan itu yang kumaksud. Aku tidak putus denganmu."

"Apa yang kau lakukan?" Aku berbisik.

"Aku berusaha mengatakannya." Dia membuka matanya dan aku melihat ketakutan, keinginan, dan cinta.

Apa ini?

"Aku ingin melakukan ini sepanjang malam, tapi aku tak bisa menemukan saat yang tepat, dan aku bersyukur karena memang seharusnya di sini, saat kita sendirian." Dia menelan ludah dan mengambil nafas dalam. "Luhan, sejak aku mengenalmu, duniaku berubah. Aku menemukan sesuatu denganmu sesuatu yang telah hilang tanpa kusadari, tapi sangat kuinginkan. Kau adalah wanita yang sangat cantik, dari dalam dan dari luar. Kau membuatku tak berdaya. Aku tak bisa melapaskanmu. Kau begitu seksi, dan menyenangkan dan cerdas. Mulutmu yang lancang membuatku gila." Dia tersenyum menunduk kearahku dan membelai bibir bawahku dengan ujung jarinya.

Aku tak bisa berkata-kata, dimana hal itu bagus, karena sepertinya Sehun belum selesai berbicara.

"Aku tak bisa membayangkan hidupku tanpa dirimu. Kau adalah pusat kehidupanku, Luhanie. aku ingin mencintaimu, melindungimu, bertengkar denganmu, mempunyai bayi denganmu memanjakanmu di sisa hidupku."

Dia mengambil nafas panjang dan mengeluarkan kotak Tiffany biru kecil dari saku celananya. Mataku terasa membesar, jantungku seperti sedang lomba lari dan nafasku terhenti.

Mataku mencari-cari ke dalam matanya saat dia memegang kotak kecil itu di tangan indahnya.

"Luhan, jadilah istriku, menikahlah denganku."

ooOoo

.

Oh. Tuhanku.

Pandanganku terkunci kepadanya dan semua nafasku serasa menghilang dari tubuhku.

Menikah dengannya! Menikah dengannya?

Ini terlalu cepat. Kami baru saling mengenal, apa, kurang dari dua bulan? Dua bulan yang luar biasa.

Matanya menatap cemas padaku, dari biru ke hijau, dan aku tahu dalam hatiku jawabannya adalah iya. Setelah semua yang kami lalui selama dua bulan terakhir, semua yang kami bagi, aku tak bisa membayangkan hidup tanpanya juga.

Dan aku tak perlu.

Dia ingin menikahiku!

"Baby, kau sedang membunuhku disini." Sehun bergerak untuk membuka kotak biru kecil, tapi aku meletakkan tanganku diatas tangannya, menghentikannya. Dia dia menoleh kearahku terkejut, tapi aku tersenyum menenangkannya.

"Ada beberapa hal yang ingin kukatakan." Sekarang aku merasa pusing, jungkir balik, berdebar-debar, tapi dengan ajaib dari luar aku terlihat tenang.

"Silahkan." Dia bergumam dan masih terlihat sedikit takut dan ragu.

"Saat aku melihat masa depanku, Sehun, aku melihat dirimu. Aku melihat dirimu, bukan uangmu atau pekerjaanmu, atau siapa temanmu. Aku mencintaimu untuk kebaikan, kedermawanan, penuh kasihnya dirimu. Aku menginginkan yang dimiliki orang tuaku; apa yang orang tuamu bagi. Aku akan sangat merasa terhormat untuk menjadi istrimu, memberimu anak, dan hidup denganmu."

Saat aku berbicara air mata jatuh ke wajahku. Mata Sehun melembut dan lengannya semakin erat memelukku.

"Apakah itu berarti ya?" dia berbisik dan aku terkekeh sedih.

"Ya.

"Terima kasih Tuhan." Dengan lembut dia menyapukan bibirnya ke bibirku dan tanganku menangkup pipinya.

"Kau membuatku khawatir selama beberapa menit," bisiknya di bibirku.

Oh, aku suka bisikan Sehun.

"Kau membuatku sangat terkejut. Aku rasa aku lupa bernafas."

"Bisakah aku memperlihatkan ini sekarang?" Dia memegang kotak cincin ke atas dan menyeringai padaku.

"Tentu saja."

Dia mendudukkanku di sofa kecil dan berlutut di depanku. Oh my. Melihat pria seksiku, rambut pirang yang berantakan, mata biru terang, mengenakan setelan jas hitam dengan dasi longgar berlutut di hadapanku, memegang kotak cincin biru kecil adalah sebuah gambaran yang akan kuingat selamanya.

"Saat melihat ini, aku tahu bahwa ini untukmu. Aku memilikinya sejak hari dimana aku membeli mutiara untukmu."

Aku menahan nafas, mataku melebar. Dia ingin menikahiku sejak malam di kebun anggur!

"Lalu kupikir kau belum siap."

Dia tertawa kecil saat aku menggelengkan kepalaku.

Dia membuka kotak, dan di tengah-tengah kain beludru terdapat berlian yang sempurna. Berlian princess cut -berlian dengan potongan berbentuk persegi- dan besar, tapi bukan besar yang keterlaluan. Berlian itu didekap oleh platinum, dengan dua garis berlian kecil di tiap sisinya melingkar dan dipertemukan dengan berlian besar di tengahnya.

Air mata memercik lagi saat dia mengambilnya dari kotak, memakaikannya di tangan kiriku dan menciumnya.

"Terima kasih, ini sempurna."

"Seperti dirimu." Dia mencondongkan badannya dan menciumku, penuh hasrat, dan aku melingkarkan lenganku menariknya kearahku.

Dia mengumpulkan rok panjangku dan mengangkatnya hingga ke pahaku, menjalankan tangannya sepanjang pahaku dan naik ke balik rok untuk mencengkeram pinggulku.

"Tuhan, aku suka kebiasaan barumu tidak memakai pakaian dalam."Aku tersenyum di bibirnya. "Kita tulis di janji nikah. Tidak ada pakaian dalam untukmu."

Aku tertawa, dan menahan nafas saat dia menarik pinggulku ke depan dan mendorongku mundur ke bantal empuk di loveseat.

Dia menarik dirinya dengan nafas yang gemetar saat menunduk menatapku, terekspos dari pinggang ke bawah, rok hitamku terangkat hingga mengenai mutiaraku.

"Apakah kau tahu betapa terlihat cantiknya kau sekarang?"

"Kau membuatku merasa cantik."

Dia duduk di atas tumitnya dan mendorong satu jarinya ke dalam diriku, matanya menatap pusat tubuhku, mengamati tangannya. "Kau adalah wanita tercantik yang pernah kutemui dalam hidupku, baby."

Aku mengerang saat dia terus menyiksaku dengan jari itu. Nafasku tersentak dan aku mulai terengah-engah. Ya Tuhan, apa yang dia lakukan padaku hanya dengan satu jari.

"Sehun, aku menginginkanmu."

"Oh, percayalah, kau aku akan mendapatkanku." Dia menarik keluar jarinya yang basah dan menghisapnya. "Rasamu enak."

Dia membungkuk dan melebarkan pahaku dengan telapak tangannya, membuka labiaku. Aku mencengkeram bantal, bersiap pada invasi dahsyat dari mulutnya, dan melawan pinggulku saat mulutnya menyelimutiku, lidahnya menyusup diantara kedua bibirku.

"Oh Tuhanku!" tanganku tenggelam di rambutnya, pinggulku melingkar. Dia mencengkeram pantatku, mengangkat tulang pinggulku lebih tinggi dan dia terus membuatku gila dengan mulutnya yang terlatih.

Dia menggesekkan ujung hidungnya di klitorisku dan aku menyerah dalam orgasmeku, berteriak dan gemetar, memenggil namanya.

Dia menggigit paha dalamku saat tubuhku mulai mereda.

"Sial, kau hebat melakukannya," Aku terengah-engah dan menjalankan jariku ke dalam rambut pirang kusutnya.

"Mmmm, aku senang kau setuju, baby. Berdirilah untukku." Dia bangkit dan melepas jas, dasi dan kemejanya, membuangnya di lantai beranda.

"Setelah yang kau lakukan padaku, kakiku lemas seperti jelly. Kurasa aku tak sanggup berdiri."

Dia meraih tanganku dan menarikku berdiri dan melingkarkan lenganku ke bahu telanjangnya. "Berpeganglah padaku."

"Dengan senang hati," aku bergumam di lehernya saat tangannya meluncur di punggungku, membuka resleting gunku. Aku merendahkah lengan kananku agar dia bisa melepas gaunku membiarkannya jatuh menggelembung di kakiku.

"Ya Tuhan, tanpa bra juga? Untung aku tidak mengetahuinya lebih awal, aku pasti akan mengunci kita berdua di kamar mandi dan membuatmu telanjang semalaman." Tangannya membelai punggungku sampai ke pantatku.

"Kau tidak telanjang."

"Oh, apakah kau ingin aku telanjang juga?"

Dia bertanya tanpa dosa dan aku menggigit tulang selangkanya.

"Buka. Baju."

"Menuntut hal kecil, ya?"

"Kenapa kau tidak telanjang?" tangannya menjelajah dari pantatku, naik ke punggungku dan mulai melepas jepit rambutku, membiarkan rambutku terurai.

"Aku menyukai rambutmu," dia bergumam dan menatap rambutku jatuh dalam satu untaian.

"Aku juga menyukai rambutmu." Aku mendorong jemariku ke dalam rambutnya dan dia tersenyum.

"Aku tahu."

Saat rambutku sudah terurai, dia meraih tanganku den menciumnya, di tiap buku-bukunya satu persatu, matanya menatapku. Dia mundur dan udara dingin malam berhembus, membuat tubuhku menggigil, dan putingku mengkerut.

"Aku menyukai tubuhmu. Aku suka tubuhmu berisi, namun kuat dan fit." Matanya menatap rakus pada lekuk tubuhku ke atas ke bawah.

"Aku bersyukur." Aku tersenyum malu. "Kau tetap tidak telanjang."

Alisnya meninggi. "Tidak sabar?"

"Aku ingin tunanganku bercinta denganku," bisikku dan matanya membesar.

"Katakan lagi." Bisiknya.

"Bercintalah denganku." Bisikku lagi.

"Bukan yang itu, bagian yang lain."

Senyum kecil mengembang di bibirku.

"Tunanganku."

"Tuhan, kau berkata ya." Dia menelan ludah, matanya berputar, lalu dia tersenyum, senyum yang lebar penuh keriangan dan melelehkan hati, dan aku jatuh cinta padanya sekali lagi.

Aku mengangguk dan menunduk memandang cincin cantikku. Aku tak sabar untuk memakaikan cincin di tangannya juga.

"Apakah kau akan kira aku akan berkata tidak?"

"Tidak, aku hanya…" dia menelusupkan tangan ke rambutnya. "Aku hanya sangat gugup."

Aku menutup jarak diantara kami dan mencium bibrnya dengan lembut. "Kau tak perlu merasa gugup denganku. Kau memiliki hatiku sejak lama. Jadi sekarang, tunanganku yang tampan, bawalah aku ke ranjang dan bercintalah denganku."

Dia mengangkatku dengan lengannya dan membawaku ke kamar tidurnya, menciumiku dengan lembut sepanjang perjalanan kesana.

ooOoo

"Hei, cantik, bangun." Sehun menggigit telingaku dan dengan enggan aku memutar tubuhku kehadapannya.

"Kau membuatku tetap terjaga sampai larut malam." Aku bergumam, tanpa membuka mataku. Aku mendengar dia terkekeh.

"Maaf. Tapi kita harus bangun dan mulai mempersiapkan brunch. Dia mencium pipi kemudian hidungku.

Mataku membuka dan berkedip-kedip dan aku meletakkan telapak tangan kiriku di pipinya, dan cincinku berkilau terkena sinar matahari pagi. Aku tersenyum cerah kepadanya dan dia menyeringai dan menciumku lembut.

"Ayo kita tetap di tempat tidur sepanjang hari dan bercinta."

"Terdengar bagus," dia berguling turun. "Semua orang akan tiba disini dalam dua jam, dan banyak yang harus dipersiapkan. Kopi untukmu di meja. Pergilah mandi dan kita bertemu di dapur."

"Aku mencintaimu."

Dia memperlihatkannya senyum angkuhnya padaku. "Aku juga mencintaimu. Bangun. Kita bertemu di bawah."

Dia meninggalkan ruangan dan aku duduk di tempat tidur selama beberapa menit dan menyeringai bodoh, memandangi cincinku. Akhirnya aku menggelengkan kepalaku dan mengambil kopiku, mengambil jalan pintas ke kamar mandi.

ooOoo

"Ok, apa yang bisa kubantu?" aku bertanya saat masuk ke dapur. Sehun di depan kompor, serbet putih tersampir di pindak kirinya. Dia memakai kemeja berkancing rendah berwarna putih dengan bahan linen dan celana jins biru pudar dan kaki telanjang.

Yum.

"Kemarilah, potong buah-buahan." Dia mengeluarkan melon, strawberry, anggur dan peach dari kulkas dan aku mengambil papan talenan dan pisau tajam dan langsung memulai tugasku.

"Jadi, Joonmyeon tadi malam cerita kalau kau mengajak para pria makan siang tempo hari."

Aku mengambil melon dan membelahnya jadi dua, mengeluarkan bijinya dan mulai memotongnya memanjang.

"Dia bilang begitu?" Sehun sedikit mengernyit dan mengaduk adonan pancake.

"Yeah. Hanya itu yang dia katakan, selain bahwa dia menyukaimu, selama kau tetap bersikap sopan. Aku bilang aku lebih suka kalau kau tidak sopan." Aku menyeringai dan mulai menyiangi tangkai-tangkai strawberry.

"Aku ingin bertanya pada mereka apakah mereka mengijinkan aku untuk melamarmu."

Aku memutar tubuhku saat mendengar yang dia katakan, mulutku terbuka. Dia mengangkat bahu dan menuangkan adonan ke wajan ceper diatas kompor.

"Kenapa?"

"Karena mereka adalah keluargamu. Mereka mencintaimu dan melindungimu dan itu adalah tradisi." Dia menyesap kopinya dan memandangku dengan pandangan spekulatif.

Wow.

"Apa yang mereka katakan?"

"Aku sudah melamarmu, kan?"

"Bagaimana jika mereka berkata tidak?"

Dia tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Bagaimanapun aku sudah bertanya."

Dia membalik pancake dan aku mendekat padanya membawa sebutir strawberry, menyuapkan ke mulutnya.

"Ini." Dia menggigit sekali dan aku menaruh sisanya di mulutku. "Mmm, ini enak."

Aku menjilat jempolku dan dia meraih pergelangan tanganku lalu menjilat jari tengahku. "Aku suka melihatmu makan."

Gairah menyala, cepat dan panas, dalam diriku.

"Yeah?"

"Yeah."

Aku kembali ke tempat buah dan memetik anggur dari tangkainya. Dan saat aku membalikkan badan, Sehun sudah mengangkat pancake dari wajan dan mematikan kompor.

Aku sungguh menyukai cara pikirnya.

Aku menggosokkan anggur ke bibirku, lalu memasukkannya ke mulutku dan mengunyah pelan.

"Mau?" aku menawarkan anggur dengan tanganku padanya. Perlahan dia menutup jarak diantara kami, dan mengambil anggur dari tanganku dengan bibirnya.

"Aku menyukai permainan ini," dia berbisik dan aku menyeringai. Dia mendudukkanku di meja sehingga kakiku menggantung, masuk diantara kedua kakiku, dan meletakkan strawberry lain di bibirku. Aku menggigitnya di gigiku, dan membungkuk supaya dia bisa menggigit dari bibirku dan menciumnya di saat yang sama.

Bibirnya berasa strawberry dan Sehun dan aku mengerang di mulutnya.

"Tuhan, kau sangat seksi."

Aku menarik kaos hijauku melewati kepala dan menjatuhkannya ke lantai, lalu braku mengikuti. Mengambil strawberry yang lain, aku menatap matanya, menggigit bibir, dan memutar buah merah itu di sekitar putingku, membuatnya mengerut. Nafas Sehun menjadi cepat dan jarinya semakin mengetat di pantatku memberitahuku kalu dia menyukai pemandangan di depannya.

Aku menjalankan strawberry di sepanjang kulitku, naik ke dada, ke dagu dan mendorongnya ke mulutku, menikmati manisnya sari buah strawberry.

Dia tidak bergerak, hanya mengamatiku, tangannya mencengkeram saku belakang jinsku, aku telanjang dari pinggang keatas, dan aku sedang menggoda tunanganku yang seksi.

Aku mendorong sepotong melon ke mulut Sehun, dan membungkuk dan menciumnya, menghisap sari buahnya kedalam mulutku.

"Kau membuatku gila," dia berbisik di mulutku.

"Itu intinya," bisikku kembali.

Dia tiba-tiba mengangkatku, dan aku melingkarkan kakiku padanya saat dia berputar dan menyerbu meja makan. Dia membaringkanku ke meja aku mengangkat pinggulku saat dia menarik celana jinsku ke bawah bersama celana dalamku.

Dia melepas kemejanya melewati kepala, tidak mempedulikan kancingnya dan menurunkan jins birunya ke paha.

"Aku tak pernah puas denganmu." Dia menyelimutiku dengan tubuhnya, tangannya di rambutku dan wajahnya terkubur di leherku, mencium dan menghisap kulit sensitifku.

"Aku tak ingin kau merasa puas denganku." Aku melingkarkan kakiku di pinggulnya dan miliknya meluncur ke dalam diriku, menanamkan semua batangnya dan aku berpegangan padanya.

Tangan kirinya mencengkeram tangan kananku dan menariknya ke atas kepalaku dan mulai bergerak, masuk dan keluar dari dalam diriku, dengan mantap terus menerus.

"Itu membuatku bergairah melihatmu makan. Mulutmu yang manis adalah afrodisiak (zat perangsang) paling seksi yang pernah aku lihat." Bibirnya menemukan bibirku dan hilang dalam kata-katanya, dalam gerakan tubuhnya yang nikmat dan mantap diatasku.

Aku menjalankan tanganku di punggungnya menuju pantat kencangnya dan berpegangan erat saat dia mempercepat dorongannya.

"Oh, Tuhan," Aku mengerang.

"Lihat aku," dia menggeram dan mataku menatap matanya. "Aku ingin melihat kau klimaks."

Sial.

Dan hanya itu yang dibutuhkan untuk mengirimku melewati batas. Dia menghempas padaku dua kali, lalu terdiam dan menggigit bibirnya saat dia meledak di dalam diriku

"Tuhan, Luhanie, kau akan membunuhku,"

Dia menciumku lembut, lalu menarikku, membantuku turun dari meja yang keras.

"Aku tak bisa menahannya kalau kau memiliki hasrat seksual dengan makanan." Aku menampar pantat telanjangnya dan mengumpulkan pakaianku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berpakaian.

Saat aku bergabung dengannya di dapur, dia sudah berpakaian lengkap dan punya lebih banyak pancake yang dimasak di wajan.

Aku mencium pipinya dan melanjutkan memotong buah-buahan.

"Aku harus pergi ke L.A. minggu depan."

Sehun membalik pancake-pancake itu dan menghadap padaku.

"Kenapa?" aku selesai memotong tangkai strawberry dan beralih ke peach.

"Aku ada rapat yang harus kuhadiri sendiri. Seharusnya aku hanya pergi satu malam."

"Oh, okay." Aku mengernyit. Ini akan menjadi malam pertama yang kami habiskan terpisah sejak malam ajaib di kebun anggur.

"Ikutlah denganku," sarannya.

"Aku tak bisa. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaan dengan klien-klien yang tertunda sejak liburan kita. Jadwalku penuh minggu depan." Aku membuang biji ke tempat sampah dan mengambil peach yang lain.

"Hanya satu malam." Dia bergumam dan aku menyadari dia berdiri di belakangku. Aku tiba-tiba merasa lemah, dan aku tak tahu kenapa. Ini hanya satu malam! Aku yakin aku akan dapat melaui satu malam tanpa dirinya.

Aku berbalik dan tersenyum, tak ingin dia melihat ketidaknyamananku. "Semua akan baik-baik saja. Hari apa kau pergi?"

"Hari Rabu pagi. Aku akan pulang Kamis siang."

"Rapat yang panjang." Aku menaikkan alisku.

"Aku akan melakukan beberapa rapat di sana, mumpung aku ada di sana. Kau yakin kau akan baik-baik saja?"

"Tentu saja. Aku mencintaimu, tapi aku rasa aku akan bertahan tanpa dirimu untuk satu malam. Baekhyun dan aku akan melakukan malam para gadis."

"Ok." Dia mencium hidungku dan kembali ke pancake-nya dan meletakkan beberapa bacon ke dalam oven.

"Apa yang akan kita lakukan dengan bunga-bunga diluar?" aku bertanya, mengganti topik.

"Maksudmu?"

"Apakah kau tak ingin makan di beranda?"

"Tidak, kita akan makan disini. Kita bisa membawanya masuk kalau kau mau."

Aku berjalan ke pintu kaca dan melihat bunga-bunga cantikku, mencoba menyingkirkan mood melankolisku mengetahui Sehun akan pergi sepanjang malam minggu depan.

"Bunga-bunga itu indah. Aku tak tahu dimana kita akan meletakkan semuanya."

"Tinggalkan saja dulu, kita akan mengurusnya nanti."

"Ok." Aku menataa meja makan untuk enam orang, menuangkan jus jeruk dan kopi ke teko yang terbuat dari tanah liat. Dan menatanya di meja saat bel pintu berbunyi.

"Aku akan membukanya." Sehun tersenyum dan aku sedikit santai, tidak sabar bertemu dengan orang tuanya dan memberikan mereka hadiah.

"Halo, sayang." Mrs. Oh mencium pipi Sehun dan masuk ke ruangan besar.

Mr. Oh dan Taeyong mengikuti dengan Kyungsoo di belakang.

Mereka jelas telah banyak menghabiskan waktu di rumah Sehun. Mereka nyaman berjalan-jalan di ruangan, dan aku tetap berdiri sebentar, menikmati pemandangan Sehun dan keluarganya.

Keluargaku sekarang.

"Semuanya, aku ingin memperkenalkan kalian pada tunanganku yang cantik, Luhan." Aku tertawa saat Sehun mendekatiku dan mencium tanganku.

"Ya," aku tersipu, "Kami sudah pernah bertemu."

"Oh, Luhan, aku sangat senang kau akan menjadi anggota keluarga kami."

Mrs. Oh memelukku erat dan aku berkedip menahan airmata yang akan keluar.

"Terima kasih."

"Dan aku kira kau sudah memilih saudara pria yang benar." Taeyong menggelengkan kepala seolah menyesal dan berpura-pura cemberut.

"Aku sudah melakukannya." Aku tertawa melihat wajahnya dan memberikan dia pelukan singkat. "Jangan cemberut. Kita akan menemukan gadis yang baik untukmu."

Taeyong tertawa dan menuju ke dapur untuk mencuri sepotong bacon. "Tidak perlu. Aku ganteng."

"Menjauh dari bacon itu!" seru Sehun.

Mr. Oh memelukku dan menangkup wajahku dengan tangannya, matanya yang baik menunjukkan kebahagiaan. "Apakah kau bahagia, gadis manis?"

"Iya, terima kasih."

"Bagus."

Kedua orang tua Sehun sangat baik dan ramah.

Kyungsoo, bagaimanapun, memutar matanya dan menuangkan secangkir kopi untuk dirinya sendiri.

"Jadi," matanya memancarkan kebencian dan dia melihat ke Sehun, kemudian kembali padaku dan aku menguatkan diri untuk kata-kata yang keluar dari mulutnya.

"Siapa pria ganteng yang bersamamu waktu itu di kedai kopi?"

Aku mengernyit, lalu memucat dan aku menoleh kepada Sehun. Alisnya naik hampir menyentuh garis rambutnya. Ruangan hening.

"Aku bertemu klien untuk menyerahkan pekerjaan sudah dia beli." Mataku tak meninggalkan Sehun tapi wajahnya berubah, dan hilanglah priaku yang riang dan bahagia. Dia tahu persis siapa yang kubicarakan dan dia marah.

Sial.

Aku lupa memberitahunya tantang pertemuan dengan Brad karena itu adalah hari yang sama saat kami pergi ke makam.

"Siapa namanya?" Kyungsoo bertanya dan menyesap kopi.

"Brad." Aku bergumam, melihat Sehun menghela nafas dan memegang kepalanya. "Aku lupa memberitahumu karena kita ke pemakaman hari itu." Suaraku rendah dan kecil.

Kyungsoo mengernyit sesaat dan menelan ludah dan dia hampir terlihat merasa bersalah.

Sehun menatapku, matanya dingin dan aku merasakan air mata tertahan. "Jangan marah, aku hanya memberinya foto, dan dia bertanya apakah dia bisa membuat janji temu lagi, tapi aku bilang kalau kau tak akan menyukainya. Dia menawarkan untuk meneleponmu sendiri dan bilang padamu bahwa dia tidak tertarik padaku seperti itu. Tidak ada apa-apa."

"Kenapa kau tidak cerita saat kau sampai di rumah?"

"Aku benar-benar lupa. Itu bukan sesuatu yang penting."

"Itu tidak seperti tidak ada apa-apa saat kau tersenyum dan menggosokkan tanganmu ke bahunya."

Kyungsoo mengangkat bahu tersenyum puas dan aku terkesiap.

" Kyungsoo" suara Mrs. Oh tajam dan keras.

Mata Sehun tidak meninggalkanku dan aku menggelengkan kepala.

Aku menatap Kyungsoo dengan kemarahan dan mengepalkan tangan. Berani-beraninya dia?

"Ada apa denganmu?"

Suaraku bergetar karena marah.

"Apa yang kulakukan?" dia melebarkan matanya merasa tak bersalah.

"Aku bertemu dengan klien. Aku menepuk bahunya saat dia menunjukkan kegugupannya tentang berbicara dengan pacar protektifku tentang kemungkinan untuk mengajak orang lain menemani saat kami melakukan pemotretan. Kami mengobrol di tempat umum. Apakah ini yang akan selalu terjadi, Kyungsoo? Kau mempertanyakan motivasiku bersama adikmu enam puluh tahun kedepan? Apakah kau tahu berapa uang yang kumiliki tanpa Sehun? Aku tidak butuh uangnya atau koneksinya. Saat orang tuaku meninggal aku menerima warisan dua puluh juta dolar." Kyungsoo memucat dan aku mendengar Mrs. Oh terkejut, tapi aku meneruskannya.

"Adikmu terkenal. Lupakan hal itu. Cintaku padanya tak akan berkurang walaupun dia bekerja sebagai tukang burger jika memang itu yang dia sukai. Sepertinya hanya kau yang peduli tentang pekerjaannya. Aku akan menikah dengannya, Kyungsoo Hubungan kami jangka panjang. Aku ingin memiliki hubungan baik denganmu. Kurasa jika kau memberiku sedikit kesempatan kau akan menyukaiku. Tapi aku tak akan terus menerus menerima perlakuan tidak hormat darimu. Aku tidak layak mendapatkan hal itu."

"Aku tidak percaya padamu," dia berbicara dengan gigi yang mengatup.

"Aku juga tidak mempercayaimu, jadi kurasa kita sama." Aku melihat kearah Sehun untuk melihat apa yang dia pikirkan. Tangannya berada di di saku dan dia memandang ke arahku penuh pertimbangan. "Kau ingin aku pergi?"

"Tidak, jangan pergi!" Mrs. Oh mendatangiku, membelalak pada putrinya. " Kyungsoo, kelakuanmu konyol."

Aku terus melihat ke arah Sehun. Dia belum menjawabku. Mr. Oh dan Taeyong juga melotot ke Kyungsoo.

"Jadi?" aku menaikkan alisku pada Sehun.

"Tidak, ini adalah rumahmu," dia berkata dengan sungguh-sungguh dan matanya hangat. Oh terima kasih Tuhan.

" Kyungsoo" Sehun berkata dengan sungguh-sungguh dan berjalan mengitari meja ke arahnya. Kyungsoo masih melotot kepadaku tapi Sehun meraih dagu kakaknya agar pandangan beralih padanya. Mrs. Oh menggenggam tanganku dan aku tersenyum tipis padanya. Tubuhku gemetar.

"Hentikan ini. Aku akan menikah dengan Luhan. Aku mencintainya, Kyungsoo. Dia tidak seperti wanita-wanita di masa laluku. Kau harus mengubah pemikiranmu, dan melanjutkan hidupmu. Aku telah melakukannya."

Dia menyusupkan tangan ke rambut dan melihat ke arahku, dan kembali menaruh perhatian pada kakaknya. "Kalau kau tak mempercayainya, percayalah padaku. Beri dia kesempatan. Dia belum melakukan apapun padamu."

Kyungsoo menggelengkan kepala dan memejamkan mata, dia tiba-tiba terlihat lelah. "Aku tak tahan melihatmu terluka lagi."

"Kau yang membuatku terluka, Kyungsoo "

Kyungsoo terkejut seolah dia telah dipukul.

"Apa?"

"Saat kau melukainya, kau melukaiku. Berhentilah. Ini adalah rumah kami, dan jika kau tak bisa menghormatinya, kau tak tidak perlu berada disini."

Astaga. Dia membelaku dari kakaknya dan aku ingin memeluknya dan menciumnya, tapi aku tetap berdiri disini, terpaku.

Aku memandang ke seluruh ruangan, pada Mrs. Oh, Mr. Oh dan Taeyong, dan memutuskan bahwa ini sudah berjalan terlalu jauh.

"Aku lapar." Suaraku tenang dan ringan. "Ayo kita makan. Kurasa Taeyong akan menghabiskan semua bacon sendirian."

Mrs. Oh tersenyum padaku dan meremas tanganku saat kami menuju ke dapur untuk meletakkan makanan di meja. Taeyong dan Mr. Oh membantu kami menataa, dan aku melihat dari sudut mataku Sehun sedang menggumamkan sesuatu pada Kyungsoo. Dia memeluknya dengan lembut dan bergabung denganku di dapur.

"Aku minta maaf." Aku memeluknya tubuh bagian tengahnya dan menghirup wangi tubuhnya.

"Tidak perlu. Kau tidak melakukan kesalahan. Aku minta maaf atas kelakuan Kyungsoo"

Aku menggelengkan kepala. "Ayo kita makan."

"Ok."

Kami menikmati makanan kami yang lezat, dan suasana membaik. Aku lega percakapan-percakapan kami tidak dipaksakan atau tidak nyaman setelah perselisihanku dengan Kyungsoo Dia terus memandangku dengan spekulatif dari seberang meja, tapi dia tidak memelototiku lagi, jadi aku merasa kami sudah melewati satu rintangan.

"Luhan, biarkan aku melihat cincinmu." Mrs. Oh mencondongkan badan kearahku dan aku menunjukkan cincinku yang cantik, seringai konyol menghiasi wajahku.

Mrs. Oh tersenyum pada putranya. "Aku membesarkanmu dengan baik."

Sehun tertawa dan aku mengangguk. "Kau sudah melakukannya. Seleranya bagus."

Sehun mencium tanganku dan tersenyum padaku, matanya melembut dan penuh cinta.

Setelah makan kami membersihkan meja.

Mrs. Oh, Kyungsoo dan aku membereskan kotoran dan bergabung dengan para pria di ruang tamu dengan kopi yang segar.

"Hadiah!" aku melompat dan bertepuk tangan, gembira karena memberikan hadiah pada orang tua Sehun. Semua orang tertawa dan aku menyeringai. "Aku senang memberikan hadiah."

"Kau tak perlu memberi kami apapun."

"Anda hanya merayakan ulang tahun perkawinan ke tiga puluh lima sekali seumur hidup." Aku memutuskan untuk mencoba berbagi kesenangan ini dan menoleh ke Kyungsoo "Maukah kau membantuku membawa masuk kado ini dari ruangan sebelah?"

Matanya melebar karena terkejut, lalu dia mengangkat bahunya santai. "Ok."

Aku tersenyum dan mendahuluinya masuk ke kantor Sehun dimana sebuah kotak besar diletakkan di meja.

"Wah, itu kotak yang besar."

Aku tertawa. "Aku tahu, aku menghabiskan banyak waktu untuk membungkus benda ini. Kemarilah, kau angkat dari sisi itu dan aku akan dari sisi ini."

Kami mengangkatnya bersama, tidak berat sebenarnya, hanya agak canggung, dan membawanya keluar ke ruang tamu.

"Apa yang kau lakukan, membelikan mereka perabot?" Taeyong bertanya. Aku menjulurkan lidah padanya lalu aku dan Kyungsoo meletakkan kotak itu di lantai di depan Mr. Oh dan Mrs. Oh.

"Bukalah." Aku duduk di sebelah Sehun di sofa dan dia meletakkan tangannya di bahuku.

Mereka segera membuka kotak dari arah yang berlawanan, menyobek kertas kertas pembungkus dan menarik penutupnya.

"Oh my." Tangan Mrs. Oh menutupi mulutnya saat dia melihat isinya. Dia mulai mengeluarkan foto-foto berpigura hitam dari kotak, satu persatu, dan Mr. Oh menerima foto-foto itu darinya, menatanya di lantai. Di dasar kotak terdapat dua foto yang lebih besar saat pernikahan mereka dan di pesta ulang tahunku.

"Ini indah." Mereka memegang foto yang diambil saat ulang tahunku di depan mereka dan mengamatinya. "Luhan, kau sangat berbakat."

Aku tersipu, tersanjung karena mereka menyukai kado mereka. "Terima kasih."

Sehun mencium tanganku. "Ada lagi."

"Apa?" Mr. Oh mengernyit, merasa tidak diikutsertakan dalam kado yang ini dan aku terkekeh.

"Kami mengirim kalian untuk bulan madu kedua ke Perancis Selatan. Semua sudah dilunasi, dan kalian bisa berangkat kapanpun kalian suka."

Mulut mereka terbuka dan Mrs. Oh kembali memandang foto-foto mereka dan mulai menangis.

"Jeez, Mom, apa ada yang salah?" Taeyong dengan canggung menepuk punggung, jelas terlihat tidak nyaman dengan airmata wanita.

"Kurasa, aku merasa sedikit meluap-luap. Pertama pesta tadi malam, lalu putraku memberiku menantu yang cantik, dan sekarang kami akan pergi ke Perancis. Banyak hal indah yang harus diterima dalam waktu yang singkat."

Mr. Oh mencium kening Mrs. Oh dan memberinya sapu tangan. Aku tidak tahu kalau para pria masih membawa benda itu.

Aku mengisi kembali kopi semua orang, dan kami duduk dan mengobrol tentang pernikahan sejam selanjutnya.

"Apakah kalian sudah menentukan tanggal?" Tanya Mrs. Oh.

"Belum." Aku terkekeh dan melihat ke arah Sehun.

"Dia melamarku dua belas jam yang lalu."

"Pernikahan di musim dingin merupakan hal yang indah."

"Aku akan membutuhkan bantuan. Dan juga," Aku mengernyit dan menatap tajam pada Sehun dan dia membelai punggungku.

"Apa ada yang salah?"

"Aku tak ingin paparazzi mengetahuinya."

"Apakah kau ingin pesta pernikahan yang besar?" Mr. Oh bertanya.

"Tidak, hanya keluarga dan teman dekat." Aku mengangkat bahu. "Aku tak pernah benar-benar memikirkan hal itu."

"Semua gadis memikirkan tentang pesta pernikahan mereka. Itu membuat kami para pria ketakutan setengah mati." Taeyong menyeringai.

Aku menggelengkan kepala. "Aku tak pernah merencanakan pernikahan. Itu bahkan tidak ada dalam radarku."

"Aku punya ide," Kyungsoo berkata dengan lembut.

"Bagaimana kalau sebuah pernikahan di suatu tempat tempat tujuan tertentu? Kau bisa mengajak semua orang ke suatu tempat dan membuat pesta pernikahan kecil di suatu tempat yang indah, seperti Tahiti atau semacamnya."

Ide itu sangat masuk akal di otakku dan aku tersenyum. Memandang Sehun dan dia tersenyum kepadaku.

"Bagaimana menurutmu?" Tanyaku padanya.

"Aku kan laki-laki. Kau tinggal mengatakan padaku kapan dan dimana aku harus muncul dan apa yang harus kupakai dan aku akan ada disana."

Aku menyeringai pada Kyungsoo "Aku suka ide itu. Kita akan membicarakannya lebih jauh nanti."

Kyungsoo tersenyum kepadaku – tersenyum padaku! - dan aku membayangkan Sehun dan aku akan menikah di pantai berpasir dengan kristal air biru di sekeliling kami.

ooOoo

"Jadi apa rencanamu besok malam dengan Baekhyun?"

Sehun dan aku meringkuk di sofa. Ini Selasa malam, dan dia akan melakukan perjalanan besok, dimana aku dengan susah payah mencoba untuk tidak memikirkannya. Aku tak ingin dia pergi.

"Kurasa kami akan di studio."

Sehun menaikkan alisnya dan menunduk memandangku. "Kenapa?"

"Dia ingin aku memotretnya." Aku mengangkat bahu. "Aku tak yakin kenapa, dia sudah punya banyak koleksi."

"Apa maksudmu?"

"Kau pasti tidak membaca Playboy."

"Tidak sejak aku remaja labil. Kenapa?" dia terlihat bingung saat aku berbalik di atas sofa untuk menghadap padanya, kenyataan mulai dibuka dan matanya melebar.

"Kau bercanda."

"Tidak. Dia berpose untuk mereka saat kuliah." Aku tertawa mengingat saat itu. "Dia adalah orang yang paling banyak kupotret untuk latihan sehingga bisa sebagus sekarang ini. Dia bekerja untuk Playboy beberapa tahun, lalu tiba-tiba berhenti. Dia bilang itu sudah lebih dari cukup, dan sudah waktunya untuk berubah."

"Wow."

"Jangan membuka internet dan mencoba mencari foto telanjang Baekhyun." Aku menyipitkan mata padanya dan menyilangkan tangan ke depan dadaku.

Sehun tertawa. "Tidak terima kasih. Baekhyun memang cantik, tapi aku sudah tumbuh dengan perasaan sebagai kakak laki-laki padanya. Aku tidak ingin melihatnya telanjang."

"Aku lega mendengarnya."

"Tidak, ada satu orang wanita yang ingin kulihat telanjang."

"Oh?" aku bertanya tanpa merasa bersalah. "Siapakah perempuan beruntung itu?"

"Hanyalah perempuan berambut coklat yang kukenal. Tubuhnya berisi dan punya tato paling seksi yang pernah aku lihat dalam hidupku." Dia meraihku ke pangkuannya, sehingga lututku mengangkangi pinggulnya. Aku mengenakan salah satu kaosnya dengan celana dalamku karena kami telah menonton TV sebalum tidur.

"Apakah aku mengenalnya?" tanyaku.

"Aku tidak tahu. Dia selalu mencuri kemejaku, dan dia memakai cincin yang menarik di tangan kirinya." Dia menarik kaos keatas kepalaku dan menggesekkan hidungnya ke putingku.

"Kurasa aku tahu siapa yang kau bicarakan," aku berbisik dan menutup mataku saat dia mengirimkan hawa dingin turun di punggungku lewat hidung itu.

"Kau tahu?"

"Hmm…dia jatuh cinta setengah mati padamu." Aku menggesekkan pusat tubuhku di atas ereksinya, merasakan kenikmatan celana jinsnya padaku.

"Sial, baby, aku bisa merasakan betapa panas dan basahnya dirimu dari dalam celana jinsku."

Tangannya berada di pinggangku dan dia menekan kearahku.

"Aku menginginkanmu." Aku mencium bibirnya. "Sekarang."

Dia menurunkanku ke lututnya, membuka jinsnya dan menurunkannya hingga ke pinggul. Tangannya yang besar meraih pantatku dan mengangkatnya keatas, lalu menurunkan kepada dirinya.

"Oh, Tuhan! Sehun, kau terasa sangat nikmat." Aku mulai memutar pinggul, menaikinya, menatap ke bawah ke dalam mata hitam kecoklatannya.

Mulutnya terbuka, nafasnya menderu keras dan cepat. Dia menghisap keras putingku dan aku berteriak. Putingku menjadi ekstra sensitf akhir-akhir ini.

"Lembut," aku terengah dan dia melepaskan putting dari bibirnya dan membelaikan lidah keatasnya.

"Oke?" tanyanya.

"Oh ya, lebih dari oke."

Dia berdiri dengan satu gerakan mulus, dengan aku tetap dalam pelukannya dan tanpa melepaskan kontak kami yang berharga. Dia membaringkanku di atas lengan sofa dan menindihku. Dia menaikkan kaki kiriku, menekannya di atas dadaku dan ke atas bahunya, merentangkanku dan mulai menghantam ke dalam diriku.

"Sehun," Aku berteriak saat sensasi bergulung di dalam diriku. Pinggulku bergerak ke arahnya, dia menunduk menatapku dengan penuh rasa kepemilikan, sebuah kebutuhan liar mendatangiku dengan ganas.

"Ya," Dia melepaskan kakiku dan keluar dariku secara tiba-tiba, membalikkkan badanku. Dia menarik pantatku keatas dan kembali menenggelamkan miliknya ke dalam diriku, menampar pantatku saat melakukannya.

"Sial!" aku memekik dan menggenggam sofa dengan kepalan tanganku.

Dia meraih rambutku dengan tangannya yang kuat dan menariknya, cukup untuk menyentak, dan mencengkeram pinggulku dengan tangan yang lain, menarikku keras dan cepat pada kejantanannya yang keras.

Aku menyukainya saat dia menyetubuhiku.

Nafasnya menjadi keras dan cepat.

"Keluarkan lagi."

"Aku tak bisa." Jika aku keluar lagi sekarang aku akan lepas kendali.

"Keluarkan. Lagi." Dia menarik rambutku lebih keras dan menampar pantatku lagi dan aku tak bisa menghentikannya. Ototku menegang dan gemetar dalam orgasme paling intens yang pernah aku rasakan. Aku berteriak tak terkendali, memukulkan tinjuku ke sofa saat tubuhku menekan ke arah Sehun dan dia meraungkan namaku saat dia meluap.

"Sial." Dia menarik keluar miliknya dan menarikku ke arahnya, menciumi wajahku, pipiku, hidung, menangkup wajahku dengan tangannya. "Apakah kau baik-baik saja?"

"Tentu saja," aku mengernyit tidak mengerti. "Kenapa kau kira aku tidak baik-baik saja?"

"Aku tak pernah sekasar itu padamu. Tuhan, Luhanie, kau menghancurkanku. Kau membuatku lupa diri." Dia membelai punggungku, menenangkanku.

"Sayang, aku suka seks kasar denganmu. Kau tahu itu. Aku percaya padamu sepenuhnya. Aku baik-baik saja." Aku tersenyum padanya. "Kau bisa menampar pantatku kapan saja. Itu menggairahkan."

Sehun tertawa, masih menataa nafasnya, dia meremasku dalam pelukannya. "Ya Tuhan, aku mencintaimu."

ooOoo

.

TBC

.

ooOoo

.

.

.

Thanks for:

HunhanCode520 - fuckyeahSeKaiYeol - akhoirullisa - fitry. sukma.39 - keziaf – Arifahohse

.

.

Nb.

Tinggal 2 chapter lagi^^

See you in the next chap~