The businessman menatap sosok yang masih terlelap di sampingnya. Sosok pemuda tampan yang wajahnya penuh dengan kedamaian. Hanya dengan menatap wajahnya saja, Mingyu merasa bahwa apa yang baru saja terjadi bukanlah hal yang besar. Dia tahu bahwa Jihoon pasti akan melakukan sesuatu mengetahui Mingyu sudah kembali ke Korea, terlebih lagi ia sedang bersama dengan Wonwoo. Tapi, dia sudah berjanji pada Wonwoo bahwa ia akan selalu bersama kekasihnya dalam keadaan apapun.
Jemarinya bergerak ke arah wajah the older dan disibaknya beberapa helai rambut yang menutupi dahinya. "Wonwoo Hyung, I'll keep my promise."
"Tentu kau harus menepatinya Gyu. Kau sudah berjanji dan kau akan dikutuk jika kau melanggarnya," suara berat Wonwoo mengejutkan Mingyu yang langsung saja menarik tangannya dari pipi Wonwoo. Sang supermodel membuka matanya dan melemparkan senyum jahilnya pada pemuda bergigi taring yang salah tingkah.
"Kau sudah bangun?"
"Tentu," Wonwoo segera duduk dan mengecup pelan bibir merah muda Mingyu,"Morning kiss Gyu," ucap Wonwoo sambil terkekeh pelan melihat kekasihnya melongo.
"Why? Kau tak suka?" Wonwoo bertanya setelah beberapa saat Mingyu hanya terbengong saja.
Pemuda yang sudah beralih profesi itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya sambil gelagapan berkata,"Ani. Tentu aku menyukainya. Tapi, apakah kau baik-baik saja melakukannya?"
"Gyu aku sudah memimpikan melakukan ini dari dulu. Memberikan morning kiss untuk kekasihku di saat baru bangun tidur. Itu hal yang sangat romantis. Dan kau tahu? Aku sangat bahagia saat aku benar-benar bisa mewujudkan impianku itu."
"Jincha?"
Wonwoo mengangguk. Senyumnya memperjelas semuanya. Mingyu menarik tubuh Wonwoo ke dalam pelukannya dan mengecup pelan puncak kepala sang model,"Gomawo geurigo aranghae."
"Nado saranghae Gyu."
.
.
"Mingyu?" pemuda pendek itu bertanya lirih seolah tak percaya dengan suara yang didengarnya dari ujung telepon. Kekasihnya yang sedang mendapatkan pemeriksaan oleh dokter segera menoleh mendengarkan nama yang sudah empat tahun tidak terucap oleh siapapun.
"Mingyu? Yah Kim Mingyu! Apa kau tidak mau mengangkat telepon dariku? Aish Kim Mingyu sialan!" Jihoon berteriak kesal seorang diri ketika mengetahui Mingyu memutuskan sambungan telepon.
"Babe?" Soonyoung memanggil pelan nama kekasihnya itu dan pemuda itu menyadari bahwa ia telah berteriak-teriak saat ada dokter dan perawat di ruangan itu.
"Ah, mianhae," pemuda yang kini berambut kecoklatan itu membungkuk pelan karena malu dengan kelakukan kekanakannya. Setelah dokter dan perawat pergi meninggalkan ruangan di mana Kwon Soonyoung dirawat, sang empunya ruangan segera menatap kekasihnya seolah meminta penjelasan.
"Explain it! Kenapa kau menyebut dan memanggil nama Mingyu barusan?" Jihoon bergeming. Haruskah ia menceritakan bahwa saat ia menelepon Wonwoo, bukan sang model yang mengangkat tetapi Mingyu. "Lee Jihoon jelaskan semuanya!" Soonyoung yang terkenal sangat sabar dan jarang berteriak itu akhirnya meledak dan meluapkan kekesalannya pada kekasihnya. Ia tahu maksud dan tujuan Jihoon itu baik, tapi ia sudah tidak tahan melihat Wonwoo menderita.
"Babe," Jihoon berjalan dengan pelan ke ranjang di mana Soonyoung terbaring.
"Maaf karena telah berteriak padamu baby, tapi tolong katakan dengan jujur apa yang barusan kau dengar? Kenapa kau menyebut nama Mingyu? Bukankah barusan kau mengatakan bahwa kau akan menelepon Wonwoo?"
"Dia, Mingyu telah kembali."
"Mwo?"
"Dia yang mengangkat telepon Wonwoo barusan. Apa itu artinya Wonwoo sedang bersama Mingyu sekarang?" pemuda imut itu terlihat khawatir mengetahui sang mantan model yang sudah empat tahun menghilang tiba-tiba muncul kembali di kehidupan Wonwoo. Apa yang akan dilakukannya lagi kepada hyung sahabatnya itu?
"Jadi dia sudah kembali," Soonyoung bergumam lemah.
"Apa maksudmu 'dia sudah kembali'? Apa kau tidak khawatir akan keselamatan Wonwoo? Bagaimana kalau dia kembali menyakitinya? Bagaimana kalau ia kembali dengan tujuan untuk balas dendam kepadanya?"
"Baby, bisakah sejenak kau hentikan pemikiran negatifmu itu? Hal-hal semacam itu bisa meracuni pikiranmu!"
"Soonyoung-ah, aku berbicara realita, bukan pikiran negatif!" dengan nada dongkol Jihoon menyangkal perkataan kekasihnya.
"Baby, apa kau ingat bagaimana ekspresi Mingyu saat kau mengusirnya pergi? Saat kau melarangnya menemui Wonwoo? Dan apakah kau ingat betapa kecewanya Wonwoo saat ia tidak menemukan Mingyu di mana pun setelah ia tersadar?" Soonyoung melemparkan tatapan tajam yang langsung membuat pemuda itu terdiam seketika.
"Ne," Jihoon mengangguk.
"Mingyu sangat mencintai Wonwoo. Kau tahu itu! Walaupun ia sempat melakukan hal buruk dan menyakiti Wonwoo, tapi ia telah mengakui dan menyadari semua kesalahannya. Dia sudah berubah dari Mingyu yang egois dan kejam baby. Semua dilakukannya demi Wonwoo."
.
.
Seokmin berjalan mondar-mandir sambil memijat pelan keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut setelah mengingat bahwa Mingyu sudah kembali ke Korea. Haruskah ia menemui sahabatnya itu, atau berpura-pura untuk tetap tidak menyadari keberadaan Mingyu di Seoul. Aish, pikirkan suatu solusi dengan cepat Lee Seokmin!
"Seokmin-ah, waegurae?" Jisoo yang baru saja bangun tidur mendudukkan diri di samping kekasihnya karena sepertinya Seokmin sedang memikirkan sesuatu yang serius.
"Aniyo," Seokmin menggeleng ringan, kemudian menatap Jisoo yang sedang menguap,"Hyung, bukankah seharusnya kau ke rumah sakit pagi ini?"
"Ah benar. Aish, aku harus segera bersiap-siap, kalau tidak pasti Jihoon akan mengomel sepanjang hari. Aigoo, aku heran kenapa Soonyoung bisa mendapat jodoh seperti Jihoon yang sangat cerewet itu ya?"
"Hehehe beruntunglah aku yang mendapatkan jodoh sepertimu kalau begitu, Hyung."
Jisoo menoleh bingung pada perkataan kekasihnya,"Wae?"
"Karena kau adalah malaikat bagiku, Hyung. Kau itu manis, baik, dan penuh perhatian," gombalan Seokmin sukses membuat pipi sang kekasih merona dan sebuah pukulan pelan mendarat di pundaknya.
"Ish, pagi-pagi sudah menggombal," ujar Jisoo seraya beranjak dari sofa.
"Aku tidak menggombal, Hyung. Itu kenyataan."
Setelah sarapan dan mempersiapkan barang-barang titipan Jihoon, Seokmin segera mengantar kekasihnya itu ke rumah sakit di mana Soonyoung dirawat. Seokmin tidak ikut menjaga Soonyoung karena dia harus melakukan sesuatu.
.
.
Ting tong
Wonwoo yang sedang menyiapkan sarapan melirik sang pengusaha yang sibuk mengganggunya."Gyu, bukakan pintunya!"
"Yah, sirheo! Biarkan saja mereka menunggu di luar sana! Aku masih ingin di sini," Mingyu memeluk pinggang Wonwoo erat dari belakang, persis seperti koala menempel pada pohon ekaliptus.
"Aigoo, cepat sana bukakan pintunya! Kenapa kau malas sekali Gyu?" Wonwoo berusaha melepaskan lengan kekar the younger yang memerangkap tubuhnya. Aish kekuatan seorang Kim Mingyu memang tidak perlu diragukan lagi. Dari dulu hingga sekarang dia sangat kuat, jadi percuma saja Wonwoo berusaha sekuat tenaga, tetap saja lengan itu melingkar dengan indah di pinggangnya.
Ting tong
Bukannya melepaskan pelukannya dan membukakan pintu, Mingyu justru menyandarkan kepalanya di pundak pria yang berstatus kekasihnya itu. Diciumnya pelan leher putih mulus Wonwoo membuat si empunya terkikik geli.
"Awwww," Mingyu melepaskan pelukannya karena Wonwoo menginjak kakinya dengan keras. "Bukakan pintunya Gyu! Kalau tidak, aku akan pulang sekarang," ancam Wonwoo yang sudah bersiap melepaskan apron yang dipakainya.
"Aigoo baiklah, baiklah. Aku akan membukanya! Tapi kau jangan pulang dulu ya?" Mingyu terpaksa menyerah pada ancaman sang model karena ia tidak ingin kebersamaannya dengan kekasihnya berakhir hari ini. Dia masih ingin melakukan banyak hal dengan Wonwoo. Banyak hal yang dulu hanya bisa ia bayangkan.
Ting tong
"Siapa si yang bertamu ke rumah orang pagi-pagi begini?" sambil menggerutu sepanjang jalan, Mingyu membuka pintu apartemennya dengan satu kali sentakan.
"Kim…Min…Gyu," the ex model yang tadinya ingin memarahi siapapun yang berani mengganggu ketentraman paginya hanya bisa terdiam melihat Seokmin, sang sahabat berdiri di depannya.
"Oh hi, Seok!"
"Gyu, kenapa kau tidak mempersilakan tamunya untuk masuk?" suara Wonwoo terdengar oleh keduanya dan Seokmin seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya segera menatap Mingyu meminta penjelasan.
"Seok, masuklah dulu! aku akan menceritakan semuanya padamu," ucap si pengusaha sambil memegang tengkuknya karena grogi.
.
.
Mingyu POV
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Mengetahui kedatangan Seokmin yang tiba-tiba begini membuatku kalangkabut. Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Come on, ini hanya Seokmin, sahabatku. Orang yang paling aku percaya di dunia ini. Tak usah takut padanya, dia toh bukan hantu.
Setelah Seokmin duduk dengan tenang, aku mulai bicara,"Ehm, Seok mianhae."
Dia tidak berkata apa-apa. Aish kenapa dia menjadi sangat menakutkan seperti ini. Ada yang salahkah dengannya selama aku meninggalkannya? Adakah hal buruk yang menimpanya? Aish aku berharap itu tidak terjadi. Tapi kenapa dia hanya terdiam dan menatapku tajam seperti ingin mengorek isi otakku.
Baiklah aku menyerah. Aku turun dari kursi yang kududuki dan berlutut di hadapannya. Aku tahu aku telah melakukan banyak kesalahan pada Seokmin. Aku telah berbohong padanya, aku telah menyalahgunakan kepercayaannya, aku telah menyakiti hatinya, dan meninggalkannya. Kutundukkan kepalaku.
"Yah, Kim Mingyu! Apa kau pikir semuanya akan baik-baik saja setelah kau meminta maaf?" kata-katanya terdengar kejam dan dingin. Baiklah, aku memang pantas diperlakukan seperti itu.
"Ani. Aku tahu seberapa banyak pun aku meminta maaf, semua itu tidak ada gunanya. Aku tahu, seharusnya aku tidak menunjukkan batang hidungku di depanmu lagi. Kepulanganku ke Seoul bukan bermaksud untuk mengganggu hidup kalian lagi. Ini hanya keadaan gawat darurat Seok."
"Mwo? Gawat darurat katamu?"
"Ne."
"Yah, siapa yang menyuruhmu pergi? Tidak ada yang menyuruhmu pergi. Aku selalu berusaha membuatmu menyelesaikan semuanya di sini. Tapi, kenapa kau malah pergi meninggalkan kami semua seperti itu eoh?"
"What?" aku menatapnya bingung,"Aku kira kau marah karena aku kembali ke Seoul. Tapi ternyata kau..," aku kehilangan kata-kata. Seokmin, kau memang sahabat terbaikku. Hanya kaulah yang selalu mengerti aku.
"Bagaimana bisa aku menghukummu lebih dari itu Gyu? Kau sudah menghukum dirimu sendiri dengan hukuman yang sangat berat. Apa yang sudah kau lakukan? Keluar dari agensi dan melepaskan satu-satunya impian terbesarmu. Impian yang selalu kau usahakan dengan tetesan keringatmu," Seokmin berlutut di hadapanku dan memegang kedua bahuku.
"Bahkan kau juga meninggalkan Wonwoo. Wonwoo, Gyu. Satu-satunya orang yang pernah kau cintai setulus hatimu. Bukan hanya kau yang menderita karena itu. Wonwoo hyung pun sangat menderita setelah kepergianmu. Dia masih menyalahkan dirinya sendiri atas kepergianmu. Waegurae?"
"Seok aku selalu ingin memperbaiki semuanya. Percayalah padaku. Aku ingin memperbaikinya. Meminta maaf pada semua orang atas kelakuanku dan membuat mereka kembali percaya padaku lagi. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya."
Seokmin berdiri dan seperti biasa, aura kebijaksanaan dalam dirinya keluar."Ikutlah denganku. Akan kutunjukkan bagaimana caranya memperbaiki semua. Kita pasti bisa melakukannya. Apalagi sekarang kau dan Wonwoo hyung sudah bersama," dituntunnya aku berdiri. Baiklah, ini yang seharusnya aku lakukan. Aku akan menetapkan tekad untuk memperbaiki semuanya.
"Gyu, sarapan sudah siap. Oh, Seokmin-ah apa yang membawamu kemari," Wonwoo yang sudah selesai memasak sepertinya menghampiri kami berdua."Yah, Gyu! Kenapa kau tidak menyuguhkan apapun pada Seokmin. Aish, kau pelit sekali!"
"Mwo? Pelit katamu!"
"Seokmin-ah jangan pedulikan si bodoh itu! Ah ya, aku sudah menyiapkan sarapan, apa kau mau ikut sarapan dengan kami?" Wonwoo menawari Seokmin dan mencampakkanku.
"Wonwoo hyung, aku sudah sarapan tadi. Aku akan menunggu kalian selesai sarapan saja di sini."
"Baiklah kalau begitu."
.
.
"Kau yakin dia tidak akan mengusirku?" aku menatap Wonwoo dan Seokmin yang dengan santainya menyeret tubuhku berjalan menelusuri lorong rumah sakit. Saat aku menyatakan kesediaan untuk memperbaiki segalanya, bukan berarti harus mendatangi Jihoon terlebih dahulu. Aish, aku masih trauma dengan kejadian tadi pagi, kenapa sekarang mereka membuat detak jantungku semakin tidak karuan seperti ini.
"Tenang saja, ada aku di sini Hyun," Wonwoo berusaha menyakinkanku untuk tetap melangkah, tapi sepertinya membayangkan Jihoon yang berwajah imut tapi kelakuan seperti iblis itu membuat nyaliku menciut. Kugenggam erat tangan Wonwoo berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberanianku.
CLICK
Pintu kamar rawat terbuka menunjukkan wajah seram Jihoon yang sudah terpampang jelas. Dia benar-benar menunggu kedatanganku. Matilah aku.
"Neo!" pemuda berwajah imut itu mengarahkan jari telunjuknya padaku. Jari telunjukku reflek menunjuk dadaku dan kulemparkan tatapan 'apakah aku yang kau maksud'. Dia mengangguk dan berujar,"Aku perlu bicara denganmu sekarang juga!"
"Okay," sudahlah. Memang aku harus menghadapi Jihoon terlebih dahulu untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan Wonwoo. Jihoon sudah Wonwoo anggap seperti sahabat karibnya. Jadi pasti kekasihku itu akan sangat senang kalau hubungan kami berdua telah direstuinya.
Setelah memasuki ruangan, dapat kulihat Soonyoung yang terduduk di atas ranjang. Selang infus terhubung dengan nadi di lengannya. Tapi kondisinya sepertinya sudah agak baikan karena dia tersenyum saat melihatku. Apa aku tidak salah lihat? Dia tersenyum padaku. Ah iya, bukan Soonyoung yang sangat membenciku, tapi Jihoon. Di sampingnya Jisoo duduk di sebuah kursi tanpa sandaran dan terkejut saat melihat kedatanganku. Mungkin Seokmin tidak memberitahunya kalau sahabatku itu pergi menemuiku.
Kami berenam berada di ruangan yang tiba-tiba saja diselimuti suasana tegang. Bahkan suara acara yang sedang berlangsung di televisi terdengar samar-samar dikalahkan oleh ketegangan yang sedang berlangsung. Jihoon berbalik dari posisinya dan menatapku tajam, kukira dia akan mengomeliku tapi ternyata Soonyoung yang membuyarkan keheningan itu.
"Mingyu, aku sangat bersyukur kau sudah kembali," masih dengan senyum manisnya. Aku kaget bukan main. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku kira akan disidang di hadapan mereka semua tapi ternyata asumsiku salah.
"Selamat datang kembali Kim Mingyu!" Jihoon berkata sambil merentangkan kedua lengannya seolah mengundangku untuk berpelukan dengannya.
"Jihoon-ah, apakah kau tidak marah padaku?" aku hanya ingin memastikan apakah pria di hadapanku itu tidak berbohong. Wonwoo yang berada di sampingku tersenyum kecil dan mencoba mendorong tubuhku ke arah Jihoon. Bukan hanya Wonwoo, bahkan Seokmin mulai ikut-ikutan mendorongku juga.
"Tentu saja aku masih sangat marah padamu," Soonyoung memotong ucapan Jihoon dengan deheman keras yang sangat jelas dibuat-buat,"Baiklah, tapi karena pria di sana itu sangat mencintaimu, aku akan berusaha memaafkanmu. Lagipula pak tua yang ada di sana akan mengabaikanku kalau aku masih bersikap kasar padamu."
"Yah! Siapa yang kau panggil pak tua barusan?" pemuda sipit yang duduk di atas ranjang langsung emosi mendengar pertanyaan kekasihnya. Mereka memang pasangan yang aneh.
"Yang sukanya ngomel-ngomel itu pak Tua namanya," jawab Jihoon.
"YAH! Kau kan lebih cerewet dariku, bisa-bisanya kau mengataiku pak tua. Kalau aku pak tua, berarti kau nenek-nenek cerewet," ujar Soonyoung yang disambut tawa oleh Jisoo, Seokmin, Wonwoo, bahkan termasuk aku.
"Ehm, Jihoon Hyung, tapi tetap saja aku harus meminta maaf secara resmi padamu," aku menghentikan tawa dan kembali pada tujuan awalku kemari.
"Secara resmi bagaimana?"
"Aku akan berjanji padamu. Ah ani, aku akan berjanji pada kalian semua yang ada di sini sekarang," kuletakkan tangan kananku di dada kiri seperti seorang pemain sepakbola di tengah lapangan yang sedang menyanyikan lagu kebangsaan sebelum bertanding,"Aku Kim Mingyu, berjanji tidak akan melukai Jeon Wonwoo sampai kapan pun. Aku akan terus mencintainya sampai kapan pun dan dalam keadaan apa pun."
"Hentikan! Janjimu itu terdengar seperti kau hendak menikah dengan Wonwoo saja," ujar Jihoon yang berusaha menutupi telinganya mendengar janjiku barusan.
"Jihoon-ah, bagaimana kalau aku memang ingin menikah dengan Mingyu?" Wonwoo tiba-tiba saja menyela.
"Yah! Kau baru saja kuperbolehkan berpacaran dengan Mingyu sudah berkata seperti itu. Apa kau tahu apa makna perkawinan Jeon Wonwoo?"
"Memangnya kau sendiri tahu?" Jisoo keceplosan dan sepertinya dia merutuki kebodohannya yang mengakibatkan Jihoon melotot padanya. Sebelum Jihoon sempat menceramahi Jisoo macam-macam, Seokmin tiba-tiba saja menunjuk layar televisi yang dari tadi tidak diperhatikan oleh mereka semua,"Mwoya igeo?"
Semuanya menoleh ke arah televisi dan betapa kagetnya mereka ketika mengetahui berita yang sedang disiarkan.
Supermodel Jeon Wonwoo tertangkap kamera sedang berkencan dengan seorang pria di taman dekat Sungan Han. Pria yang banyak dipuja kaum hawa ini ternyata gay. Yang mengejutkan lagi pria yang dikencaninya adalah mantan model yang dipecat dari agensi yang sama dengannya karena terbongkarnya skandal seks.
