Disclaimer: Kishimoto Masashi.

Chapter Fourteen: The Last Day

"Kau yakin tidak akan tinggal, sayang?" tanya seorang wanita cantik pada keponakannya yang tengah sibuk mengepak barang. Sakura lalu memalingkan pandangan kepada bibi yang wajahnya bagai pinang di belah dua dengan ibunda tercintanya, "Jangan memaksa dirimu. Kalau kau tidak ingin pergi, putriku bisa menemanimu untuk tinggal" lanjutnya.

"Apa Yuri ba-san tidak berkenan menampungku?" gadis itu bertanya dengan gelisah. Wanita itu kemudian tersenyum lembut dan mengusap kepala Sakura dengan penuh kasih. "Jangan salah sangka, sayang. Aku sama sekali tak keberatan kau tinggal bersamaku. Aku hanya ingin kau mendapatkan yang kau inginkan" ujarnya.

Sakura menghela nafas lega. Ditatapnya mata bibinya lalu ia berkata "Tinggal dengan bibi, cuma itu yang aku mau"

"Baiklah kalau kau memutuskan demikian" jawab sang bibi. Kemudian wanita itu bangkit dan mengambil tasnya, "Sekarang bibi mau mengurus kepindahanmu. Oh ya, apa kau jadi berangkat sekolah hari ini?" tanyanya sementara Sakura mengangguk. "Kalau begitu bibi pergi dulu ya"

"Hati-hati di jalan" kata Sakura, kemudian pandangannya berubah nanar seiring dengan pintu yang tertutup.

-

Kau pengecut!

Ah, kau lagi.

Kali ini apa, he? Melarikan diri lagi?

Diam kau! Aku tahu apa yang kulakukan.

Aku juga tahu semua yang kau lakukan.

Kalau begitu harusnya kau mengerti!

Mengerti apa? Mengerti kalau kau sedang membuat Yuri ba-san menjadi pengganti Kaa-san?

Memang kenapa dengan hal itu? Ada yang salah?

Karena itulah kubilang kau ini pengecut!

Aku tidak peduli.

Sampai kapan kau mau keras kepala seperti ini?

Entahlah, mungkin selamanya.

Kalau begini terus kau akan kehilangan hal berharga lainnya!

Apa lagi yang kumiliki?! Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Gadis bodoh! Aaah! Sudahlah! Pada saatnya nanti kau akan mengetahuinya sendiri.

Hei, tunggu! Apa maksudmu? Hei!

oxoxoxoxoxoxo

Gadis itu berdiri di depan gerbang sekolah yang sangat tinggi dan megah. Dari gerbang itu terlihat tatanan taman yang estetis dan selalu menimbulkan kekaguman berapa kalipun orang melihatnya. Membuatnya teringat akan perasaannya ketika pertama kali menjejakkan langkahnya di sana. Rasanya seperti baru kemarin.

Seolah diajak oleh hembusan angin, kakinya pun melangkah masuk untuk mengenang semuanya sekali lagi. Setidaknya ia ingin mengingat detail dari sekolah itu sebelum ia meninggalkannya.

Ia berjalan menuju ruang Hokage, tempat dimana ia dulu mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari sekolah itu. Ia menatap ruang yang tertutup itu lekat-lekat. Terlintas di benaknya percakapan dengan kepala sekolah yang terjadi kemarin.

--

"Jadi kau sudah memutuskan untuk pindah?" tanya sang Hokage Konoha gakuen yang bernama Namikaze Minato pada seorang siswi yang tengah duduk berhadapan dengannya.

"Benar" Sakura menjawab dengan lemah seakan tidak merelakan kata tersebut terucap.

"Oh, begitu. Aku sangat menyayangkan Konoha gakuen harus kehilangan aset sepertimu. Kenapa harus terburu-buru seperti ini?" Hokage berambut pirang, berkata pada Sakura yang tertunduk. Pertanyaan yang diajukan sang kepala sekolah agaknya menggoyahkan keputusannya untuk pindah.

"Saya tidak punya wali disini. Saya…"

"Yah, mau bagaimana lagi. Baiklah, surat kepindahanmu bisa diambil setelah Bunkasai besok" potong Minato. Ia tahu dan cukup mengerti tentang kondisi muridnya itu saat ini tanpa perlu dijelaskan panjang lebar.

"Terima kasih hokage-sama. Saya mohon diri dulu" Sakura keluar dari ruangan setelah Minato mengangguk.

Ia menutup pintu ruangan tapi tidak langsung melepaskan kenop pintu melainkan bersandar sejenak. Lalu ia mendesah, "Besok…"

--

Besok, yang mana itu berarti hari ini. Tidak bisakah waktu berjalan mundur untuk mengembalikan semua? Sial! Rasanya airmatanya akan keluar lagi. Dengan segera ia mengusap kedua matanya yang sudah basah. Kemudian ia cepat-cepat pergi ke gedung B dimana Bunkasai sedang berlangsung untuk berpamitan pada semua temannya.

oxoxoxoxoxo

"Payah" Sasuke mengatai dirinya sendiri dalam hening ruang OSIS tempatnya berada. Pikirannya yang kacau akhir-akhir ini membuat ketua panitia mengambil alih semua komando untuk acara hari ini. Dengan kata lain ia dibebas tugaskan sementara, padahal pengurus yang lain sedang sibuk menyelenggarakan Bunkasai. Sedikitnya ia merasa bersalah karena menjadi ketua OSIS yang tidak berguna.

Sasuke menatap ke arah kalender yang ditandai dengan warna merah. Tanda itu menunjukkan tanggal Bunkasai diadakan. Tunggu dulu! Bukankah ini harinya? Katanya dalam hati. Kemudian entah angin apa yang merasukinya, ia tiba-tiba berdiri dan beranjak dari sana dengan tergesa-gesa. "Apa saja yang sudah kulakukan, sih!" gumamnya. Lau dengan ia setengah berlari, mencari satu-satunya gadis dalam benaknya saat ini.

oxoxoxoxoxo

Sakura memandang sekolah itu sekali lagi, bermaksud menjejalkan tempat itu ke dalam memorinya. Kali ini ia melihat semua dari atap jadi nyaris seluruh sekolah terlihat. Keramaian Bunkasai yang belum usai walau hari sudah petang, serta cahaya bulan membuat pemandangan tempat itu berlipat kali lebih indah dari biasanya. Ia bersyukur datang ke tempat itu sebelum ia pergi. Kalau tidak, kapan lagi ia dapat menikmati pemandangan seindah itu?

Brak!

Tiba-tiba, pintu yang menuju ke atap dibuka oleh seseorang. Sedikit terkejut, Sakura menoleh ke arah pintu. Kemudian seorang pemuda yang muncul dari sana membuat keterkejutannya berlipat ganda.

Uchiha Sasuke datang dengan langkah lambat-lambat. Rambutnya yang hitam sudah berantakan tak karuan, begitu pula baju seragamnya. Kemudian ia menyibakkan poninya kebelakang agar keningnya yang penat sedikit merasakan angin. Lalu ekor matanya menangkap bayangan seseorang yang juga berada di tempat itu. Seketika matanya membelalak melihat orang

Saat ini mereka berdua sama-sama kaget akan keberadaan masing-masing dalam hening.

"Ah…"

oxoxoxoxoxo

AN:

Ck ck ck! Ternyata ada juga yang menganggap fic ini bagus. Aku sampai nggak percaya waktu lihat reviewnya. Aku jadi kepikiran apa benar fic ini aku yang bikin? Atau sebenarnya ada alien iseng yang mengambil alih badanku untuk nimbrung jadi author di !? Hm, masih jadi misteri…

Maaf atas Hiatus yang keterlaluan. Udah lebih sebulan yah, kalo nggak salah. Oh ya, apa chapter ini tambah membingungkan? Soalnya banyak adegan yang di skip gitu. Author memang payah!!