Author : Yuta Uke

Chapter : 14 – You Love Her, Don't You?

Genre : Romance, Angst, Hurt, Comfort

Disclaimer : All character belongs to Masashi Kishimoto

Pairing : KakaSaku, NaruSaku, SasuSaku

Warning : Unbetaed fic, Semi-Canon. Tulisan miring tebal adalah ingatan tokoh. Mulai chapter 10, alur waktu di dalam cerita ini akan sedikit berputar lebih cepat.

douzo...


Kau mencintainya, kan?

Aku mengerti hal itu

Kau menyayanginya, kan?

Aku mengetahui hal itu


"Kemarin Sakura sempat kambuh. Wajahnya memucat, tubuhnya bergetar dan mengeluarkan keringat dingin, nafasnya pun tak teratur."

Suara berat milik seorang pria bertubuh tinggi yang kini tengah berada di ruangan serba putih milik sahabat murid merah mudanya memecahkan kesunyian pagi. Pria itu menatap perempuan Yamanaka di hadapannya dengan tajam, seolah mengatakan 'lihat! Sakura mengalami perkembangan tak terduga!' yang terpancar dari sorot matanya.

Setelah melangkah pergi dari kediaman Haruno, ia segera melesat dengan cepat menemui Ino di rumah sakit karena dirinya tidak ingin membuang-buang waktu untuk mengabarkan perkembangan di luar dugaan milik Sakura.

Yang di tatap—Yamanaka Ino—mengetuk-ketukkan penanya ke atas meja. Jelas saja ia kaget. Jounin elite dihadapannya telah datang kemarin dan sekarang bukan waktunya untuk berkunjung—membahas perihal Sakura.

"Jelaskan padaku penyebabnya."

Pria dengan iris kelabu yang membungkus bola kaca transparannya menghela nafas sejenak—berusaha untuk membuat dirinya lebih tenang.

"Karena Sasuke."

Ino menegang. Karena Sasuke?

"Ia bertemu—"

"Tidak." potong Kakashi cepat. "Ia tidak bertemu ataupun mengingatnya. Kemarin Sakura mengatakan bahwa ia mendengar tentang seseorang bernama Uchiha yang kini tengah dipenjara dari seorang penduduk yang tengah bergosip."

". . . ."

"Sakura juga mengatakan bahwa sepertinya ia mengenal Uchiha, tapi saat dirinya berusaha mengingat, otaknya seperti menolak." tambah Kakashi.

Ino melemparkan pandangannya ke lembaran-lembaran kertas putih dihadapannya. Sorot matanya berubah, kilauan sesuatu bernama iba terpancar jelas disana dan Kakashi segera menangkap pancaran mata itu. Kemudian, perempuan berparas cantik tersebut sibuk mencatat perkembangan pasiennya di sebuah map besar khusus berwarna putih dengan judul Sakura di depannya.

"Bagaimana tidurnya?"

"Damai seperti biasa."

"Tidak ada sedikitpun yang mencurigakan?"

"Pagi tadi wajahnya masih sedikit pucat dan Sakura mengeluh sakit kepala."

"Tubuhnya?"

"Saat sakit kepalanya kambuh, tubuhnya bergetar kecil." Terang Kakashi yang disusul dengan 'hmm' panjang milik Ino. "Pertanda buruk?" Tanyanya lagi dengan nada ragu-ragu.

Bibir Ino membuka kecil dan mengeluarkan udara tak kasat mata—menghela nafas panjang. "Tidak. Menurut penjelasan Tsunade-sama, jika benda yang tabu diucapkan di depan seseorang yang menganggapnya tabu, reaksi seperti itu wajar. Aku menyimpulkan bahwa Sakura mengalami sedikit shock karena mendengar nama Sasuke." Papar Ino dengan nada datarnya—yang dibuat-buat tentunya. "Untuk jaga-jaga, aku akan memberikan obat penenang untuknya. Bilang saja itu obat sakit kepala, berikan hanya saat gejala shocknya kambuh."

Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Ino mengambil selembar kertas putih dan dengan cepat menggoreskan pena bertinta hitamnya, menuliskan beberapa huruf yang membentuk sebuah nama disana.

"Ino…"

"Hmm?"

"Benarkah ini tidak buruk?"

Ino menghentikan gerakan tangannya. Perempuan muda itu meletakkan pena hijau miliknya, menyandarkan punggung dan tersenyum tipis.

"Tidak. Tapi, sebaiknya kita harus berjaga-jaga agar nama Sasuke tidak kembali terdengar."

Pria dewasa itu terdiam, kemudian merespon saran Ino dengan anggukkan kecil. Ia merasa apa yang dikatakan sang medic nin pirang ini memang tepat—dengan keadaan kemarin, jelas sudah bahwa Sakura harus semakin dibelenggu.

"Sepertinya cepat atau lambat memang kita harus memberitahukan segalanya." Kakashi membuka mulutnya kembali. Air muka resah terlukis jelas disana.

"Tenanglah, Sensei." Tambah Ino seraya melontarkan senyuman yang diharapnya dapat menenangkan pria perak dihadapannya.

"Maaf." Kakashi mengusap tengkuknya—sadar jika kini dirinya sedang cemas secara berlebihan.

"Nah, bawalah ini dan berikan pada Shizune-senpai diruang obat. Katakan padanya ini dariku."

Ino menyerahkan secarik kertas putih yang kini telah berhiaskan tinta hitam. Kakashi mengambil kertas itu dalam diam dan beranjak pergi.

"Kakashi-sensei…" Gerakan pria Hatake itu terhenti di ambang pintu saat dirinya mendapati Ino memanggilnya lagi. Pria itu hanya terdiam tanpa berusaha menoleh. "Jangan lepaskan Sakura. Sakura membutuhkanmu."

Reaksi sedikit terlihat ketika kalimat terakhir Ino meluncur bebas, merambat masuk menikam indra pendengaran sang pria. Namun Kakashi tak mengomentari apa-apa dan mulai menggerakkan kakinya kembali, pergi menuju ruangan tempat Shizune berada.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

TOK TOK

Dengan langkah kecil, sosok merah muda yang beberapa menit lalu sedang termenung menatap jingga langit berusaha menggapai pintu apartemennya yang baru saja diketuk oleh seseorang. Dahinya sedikit berkerut saat memikirkan siapakah tamu yang ia dapatkan sore hari ini?

"Naruto?!"

"Halooo, Sakura-chan."

Bola kaca hijau teduh milik perempuan muda bernama Sakura membulat kaget saat mendapati tamu sore hari yang kini tengah berdiri di depan pintu apartemennya adalah seorang ninja nomor 1 di Konoha yang notabene adalah Hokage.

"Kau—kenapa?"

"Aku dengar dari pihak rumah sakit jika hari ini Sakura-chan libur karena tidak enak badan." Jawab pemuda itu sembari tersenyum lebar.

"Ah—masuk dulu."

Sadar jika dirinya dan Naruto masih berada di depan pintu, Sakura segera memersilahkan Naruto masuk untuk duduk di sofa miliknya. Ia melirik kecil sahabat oranyenya yang jelas saja membuat dirinya kaget karena saat ini pemuda tersebut adalah seorang Hokage! Mengingat Hokage memiliki peran penting dan tanggung jawab besar pada setiap pekerjaannya yang menumpuk.

Kemudian perempuan muda tersebut kembali melangkahkan kakinya menuju dapur kecil bernuansa kuning gading, membuatkan teh untuk tamu istimewanya.

"Apa kau sedang senggang hingga dapat berkunjung?" Tanya Sakura saat rasa penasaran semakin menghantuinya.

"Tentu saja tidak!" Naruto menjawab pertanyaan Sakura tadi dengan mantap. Sedang yang bertanya semakin tertegun. "Aku menyerahkan semuanya kepada Shikamaru!" Tak lupa pemuda oranye itu mengacungkan jempolnya dan tersenyum sangat lebar.

"Aku kasihan pada Shikamaru." Sakura mendengus geli sembari menunjukkan rasa simpatinya kepada pemuda Nara yang pasti saat ini tengah mengeluarkan tanduknya saat mendapati Naruto tak berada di ruangannya.

"Lalu, kau sakit apa, Sakura-chan?"

Sejurus pertanyaan yang terucap dari sela bibir Naruto, Sakura merasakan tubuhnya kaku. Tangannya sedikit berkeringat dan perlahan-lahan degup jantungnya menjadi lebih cepat dari ketukannya semula.

"Hanya sakit kepala biasa."

"Hee—"

Naruto terdiam dan menatap lekat ke arah sahabatnya tersebut. Baginya, alasan tadi tak cukup membuat dirinya tenang. Pasalnya, Sakura bukanlah seorang perempuan yang akan menelantarkan pekerjaan hanya karena sakit kepala biasa.

Dalam diam, pemuda oranye itu semakin menatap intens putri tunggal keluarga Haruno tersebut. Ia merasa jika saat ini ada sesuatu yang berbeda dari sahabat perempuannya.

Jangan-jangan…

"Sebenarnya sih aku sudah tidak apa-apa, tapi tadi pagi Kakashi-sensei bersikeras menyuruhku untuk istirahat saja di rumah. Bahkan sensei juga mengatakan bahwa ia akan mengabarkan pihak rumah sakit. Haa— benar-benar deh."

Sakura mulai berceloteh panjang dalam langkahnya menuju sofa yang tak jauh dari tempatnya terakhir berpijak. Jemari rampingnya dengan cekatan meletakkan gelas berwarna putih keruh yang terbuat dari tanah liat kepada Naruto yang sedang tertawa kecil karena celotehannya.

"Kakashi-sensei khawatir padamu, tahu!" Jawab Naruto seraya meneguk teh hangat buatan Sakura tadi.

"Aku tahu, tapi itu berlebihan." Sakura mengerucutkan bibirnya.

Rasa sebal yang sejak tadi berusaha untuk dilupakannya perlahan kembali hadir menggelitik hatinya. Pasalnya, ia telah bersiap sedemikian rupa untuk kembali melakukan rutinitasnya di rumah sakit, namun, semuanya menjadi berantakan ketika dirinya terlibat dalam perdebatan kecil dimana Kakashi menyuruhnya untuk meliburkan diri. Sakura mengerti benar jika Kakashi hanya mencemaskan keadaannya, tapi ia tak terima dengan nada mengancam milik Kakashi tadi pagi.

"Hentikan memasang wajah seperti itu, Sakura-chan. Kau terlihat menyeramkan."

Kalimat Naruto membuat perempuan manis tersebut tersentak kaget. Ia menoleh pada pemuda berkulit—sedikit—coklat yang tengah menatapnya ngeri yang mana hal tersebut membuat tawa pemilik apartemen ini pecah.

"Ahaha… wajahmu! Seperti inikah wajah Hokage kita?" Goda Sakura yang tak dapat menahan rasa geli.

Beberapa detik ruangan tersebut menjadi lebih ramai—meskipun hanya dengan gelak tawa Sakura karena Naruto hanya tersenyum kecut—dan beberapa detik kemudian, medic nin handal disana mengatupkan kedua bibirnya yang sempat terbuka, membuat ruangan yang sempat ramai menjadi kembali sunyi.

Naruto masih terdiam sembari sesekali menyesap teh hijau yang sedikit pahit miliknya. Bola kaca biru cerahnya menelisik setiap gerak-gerik milik perempuan bertubuh kurus dihadapannya, dahinya sedikit berkerut kala itu. Sedetik lalu dirinya masih melihat senyuman mengembang menghiasi wajah manis sahabatnya, namun saat ini senyuman tersebut memudar, seolah sirna tanpa jejak. Manik hijau teduh yang sempat berbinar kini memancarkan sinar keanehan disana, begitu kosong dan tampak tak fokus.

Perasaan aneh seketika datang menyelimuti tubuh sang penyandang gelar pahlawan dan orang nomor 1 desa. Ia mengerti—tidak, ia semakin yakin jika ada sesuatu yang aneh dalam diri Sakura saat ini.

"Sakura-chan..."

"Ya?"

"Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"

Perhatian yang sempat terpaku lekat pada lantai kayu dingin di bawah ia alihkan pada sosok Naruto yang baru saja bertanya dengan pertanyaan yang begitu telak.

"Apakah wajahku seperti sedang memikirkan sesuatu?"

"Ya."

Jawaban secepat kilat Naruto tadi kembali membuat Sakura bungkam. Perempuan itu menautkan jemarinya, menimbang-nimbang dan kembali larut dalam keraguan. Apakah ia harus menjawab pertanyaan tersebut atau…

"Ceritakan padaku. Mungkin jika kau ceritakan akan sedikit meringankan bebanmu."

Kedua bola kaca hijau teduh dan biru cerah tersebut saling bertatap-tatap, seolah menyelami keseriusan serta kesungguhan yang terpancar secara kasat mata. Sedetik kemudian, Sakura menghela nafasnya perlahan.

"Naruto—" dengan mengumpulkan sedikit keberanian, Sakura akhirnya membuka mulutnya. "—kau kenal Uchiha?"

Naruto hampir saja tersedak tehnya ketika indra pendengarannya menangkap nama Uchiha yang meluncur dengan sangat lancar dari sela kedua bibir Sakura.

Apakah Sakura-chan…

"K-kau dengar nama itu dari mana?"

"Kemarin saat aku ingin pulang, aku mendengar percakapan dua orang shinobi tentang Uchiha. Aku sudah bertanya pada Kakashi-sensei tentang pemuda bernama Uchiha itu dan sensei mengatakan bahwa Uchiha-san adalah buronan yang kabur setelah mengkhianati Konoha."

Penjelasaan milik Sakura tadi membuat suatu benda tak kasat mata seakan-akan tengah mengiris hatinya kemudian mengoyaknya hingga menjadi tak berbentuk. Pemuda oranye tersebut mengigit bibir bawahnya kuat-kuat, mata birunya perlahan meredup, otak yang tidak pernah dibanggakannya mulai sedikit mengerti tentang 'apa yang sebenarnya terjadi'.

Semuanya karena Sasuke…

Apapun tentang sosok rapuh ini pasti akan berhubungan dengan Sasuke…

Sasukelah yang akan membuatnya tertawa,

Sasukelah yang akan membuatnya menangis,

Sasukelah yang…

"Mengapa kau ingin tahu sekali tentang Uchiha?"

Membuat Sakura melupakan dirinya…

"Eeh—?"

Refleks perempuan merah muda tersebut tersentak kaget atas pertanyaan milik Naruto tadi. Kini dahinya berkerut, membuat kedua alis yang terlukis sempurna disana seolah bertautan. Dirinya mencoba berpikir keras. Mengapa ia ingin tahu?

Lamanya Sakura tenggelam dalam kebingungan membuat Naruto sadar jika sahabatnya sedang menunjukkan gejala aneh. Perempuan tersebut mulai dihiasi peluh pada dahinya yang masih berkerut, rona pada pipi dan bibir ranumnya menghilang, getaran halus tampak menyelimuti tubuh ringkihnya. Pemuda oranye tersebut meneguk ludahnya.

"Sakura-chan?"

"Eh— ahh— maaf maaf." Sakura tertawa dipaksakan yang kemudian tawa tersebut kembali hilang saat melihat tatapan intens milik Naruto. "Kau tahu, Naruto? Sepertinya aku mengenal Uchiha-san. Tapi, setiap kali aku mencoba mengingatnya, tubuhku menjadi aneh. Kau—dapat melihatnya, bukan?"

Anak asuh Jiraiya tersebut merasakan cahaya matanya kian lama kian meredup. Dipandangnya lekat sosok Sakura saat ini. Menyedihkan. Hanya itulah yang sanggup Naruto katakan untuk menggambarkan kondisi memprihatinkan milik perempuan yang sangat dicintainya.

"Selain itu, kepalaku juga selalu sakit. Sakit sekali seperti tertusuk benda berduri yang sangat tajam. Tampaknya—" kedua bibir pucat itu kembali terkatup rapat, membuat jeda panjang dari pernyataan menggantungnya. Jemari ramping miliknya bertautan erat, terlihat keraguan dan kepedihan dari dalam binar matanya. "Otakku tidak mengijinkanku untuk mengingat."

Hati Naruto seketika itu juga menjadi hancur berkeping-keping. Nafasnya menjadi tak berjalan sesuai irama dasarnya saat merasakan dadanya berenyut sakit. Ia tak pernah menyangka bahwa membahas tentang Sasuke akan menjadi sesulit ini. Dirinya yang sampai sedetik lalu masih belum dapat menerima kenyataan dan memercayai apa yang sedang terjadi pada Sakura mau tidak mau tertampar kenyataan yang ada.

Sakura memang sedang berusaha melindungi dirinya sendiri dimana baginya saat ini Sasuke hanyalah orang asing, seorang pengkhianat desa yang ia sebut dengan 'Uchiha-san'.

Pemuda itu mengigit lidahnya dan remasan tangannya semakin kuat. Hatinya berkecamuk. Luapan emosi miliknya tak dapat lagi ia bending. Dirinya tak tahan lagi! Ia ingin sekali berteriak dan memaparkan segalanya!

"Sakura-chan, sebenarnya—"

"Sakura, aku kembali!"

Suara berat yang berasal dari pintu apartemen Sakura sanggup membuat Naruto hampir menjatuhkan gelas yang ia pegang saat ini. Tubuhnya kaku, jantungnya seolah melompat keluar saat pemilik suara tadi datang disaat yang sangat tidak—atau mungkin sangat—tepat.

"Okaeri, Kakashi-sensei."

Raut wajah milik perempuan bersurai merah muda yang sempat kalut, pucat, dan sangat tidak sehat seperti seorang yang terkena tekanan mental yang amat sangat berat tersebut segera berganti menjadi begitu cerah. Tubuh rampingnya yang terbalut baju rumah santai berwarna putih dan celana panjang berwarna biru tua segera digerakkannya untuk berlari menghampiri Kakashi, membantu mengambil kantung coklat besar yang tadi dibawa pria perak itu.

"Naruto?"

Kakashi melebarkan matanya ketika mendapati sosok Naruto tengah duduk santai dengan menggenggam gelas teh di sofa. Yang diperhatikan hanya dapat tersenyum kaku karena pasalnya, pemuda tersebut masih mengeluarkan keringat dingin dan berusaha menetralkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat. Ia seperti seseorang pencuri yang tertangkap basah.

"Naruto datang menjengkuk." Jelas Sakura sembari mengeluarkan barang-barang dari kantung coklat yang Kakashi bawa tadi. Sedangkan pria dewasa tersebut hanya ber-ooh-panjang menanggapi penjelasan Sakura. "Wah! Tahu saja aku sedang ingin anmitsu ini." Seru Sakura dengan riangnya.

"Jangan sekarang. Nanti kau tidak makan malam." Sahut Kakashi seraya melepas rompi dan pelindung kepala miliknya.

"Pelit!" Sakura mencibir.

"Lalu, ada obat sakit kepala dari Ino." Tambah Kakashi tanpa menghiraukan cibiran milik anak didiknya tadi.

"Hee—"

Saat ini, pemuda oranye yang masih kaku dalam duduknya mulai mengulum senyum kecut kala kedua mata biru yang sempat meredup tadi melihat pemandangan dihadapannya. Sekali lagi ia merasakan dadanya berdenyut nyeri saat sebuah perasaan dan pemikiran aneh mulai merasuk dalam benaknya. Ia merasa jika kedua orang terdekatnya kini begitu tampak jauh, seakan dirinya benar-benar tidak dapat menjangkau dan masuk ke dalam atmosfir 'aneh' yang tercipta diantara sahabat dan gurunya itu.

Sakura-chan…

Genggamannya pada gelas yang kini telah kosong tersebut kembali ia eratkan. Hatinya perih saat menyadari jika senyuman perempuan manis yang selalu menjadi tambatan hatinya begitu menyilaukan, seakan-akan beban yang selama ini terus menemani sosok tersebut sirna, tergantikan oleh kebahagiaan yang di dapat dalam dunia ideal ini.

Sejurus kemudian, pandangannya teralih pada pria bermata malas yang kini tengah meletakkan pelindung kepalanya dan menegak air yang tadi telah disiapkan oleh Sakura. Pria perak tersebut begitu santai dengan seragam tanpa rompinya, seolah-olah apartemen sederhana ini adalah apartemen miliknya sendiri.

Termenung selama beberapa saat, Naruto bertanya-tanya sampai sejauh manakah hubungan kedua orang dihadapannya itu.

Apakah Sakura memang mencintai gurunya?

Apakah memang Kakashi hanya menjalankan tugasnya?

"Kakashi-sensei…"

"Hmm?"

"Sudah sejauh mana hubungan kalian?"

Kakashi hampir saja menyemburkan air yang belum sempat ditelannya saat menangkap pertanyaan milik Naruto yang baginya tidak normal. Tubuhnya terasa kaku, lidahnya kelu dan seketika pula rasa terkejut datang menghampirinya saat Naruto menatapnya dengan pandangan yang begitu menusuk.

Sedetik kemudian keheningan yang tercipta selama sepersekian detik tersebut pecah kala terdengar suara sobekan kertas dari arah dapur. Kakashi yang masih membatu melirik ke arah dapur tepat dimana Sakura baru saja membelah kantung coklat yang sepertinya sedang dilipatnya…tadi.

"Naaaruuuutooooo, apa yang kau tanyakan tadi?"

Mengerjapkan mata serta meneguk ludah beberapa kali, Naruto telah tersadar sepenuhnya dari sebuah pertanyaan bodoh yang mana menjadi senjata bagi dirinya sendiri. Tepatnya, ia baru saja menggali lubang kuburnya sendiri!

Pemuda tersebut tersenyum takut saat menangkap tatapan mengerikan yang terpancar dari kedua manik hijau Sakura. Keringat dingin membanjiri pelipisnya.

"E-ehh—Sa-Sakura-chan, i-itu, aku hanya—tu-tunggu! Aaaaaaaaaakh!"

Saat ini orang nomor 1 di Konoha tengah meringis sembari memegang kepalanya. Pemuda tersebut hanya dapat berdoa dalam hati agar ia tidak gegar otak akibat terkena pukulan sekuat tenaga milik sahabat merah mudanya tadi.

Sang pelaku yang baru saja memukul kepala bersurai pirang tersebut berbalik dan kembali melangkah menuju dapur masih sembari bersungut-sungut kesal. Permata biru transparan milik Naruto menangkap sekilas sebuah warna manis menghiasi pipi putih sang perempuan bertenaga luar biasa tersebut.

"Naruto, kau…pertanyaan apa itu?!"

Sejurus kemudian, Naruto kemballi tersadar oleh protes Kakashi yang kini telah menempatkan diri, duduk di sampingnya. Pria bertubuh tinggi tersebut melontarkan protesnya dengan nada setengah berbisik. Pemuda tersebut tersenyum kaku.

"Habisnya aku penasaran."

"Kau ini!" Gerutu Kakashi.

Melihat sikap kesal milik salah satu guru hebatnya membuat pemuda Uzumaki tersebut terkekeh ringan. Ia sejujurnya benar-benar penasaran atas pertanyaan miliknya yang sanggup membuat nona muda Sakura mengamuk singkat.

Sedetik kemudian, kedua bibir miliknya kembali terkatup rapat. Pemuda tersebut terdiam sejenak seraya melayangkan pikirannya kembali pada skenario dunia fana yang telah tercipta selama 1 tahun silam.

Dunia ini begitu indah dihiasi oleh senyuman dan tawa yang merekah indah. Segala yang tercipta di dalamnya sangatlah sempurna hingga sang perempuan merah muda yang terjerat disana selalu memancarkan aura kebahagiaan palsu.

Boneka-boneka bertopeng palsu yang turut berperan di dalamnya pun sangatlah cerdas menjalankan segalanya. Menciptakan aura kemanusiaan disana.

Segalanya sungguh indah dan berjalan dengan baik.

DHEG

Pemuda oranye tersebut merasakan dadanya berdenyut pedih. Matanya sedikit melebar dan otak dangkalnya memutarkan fakta-fakta lain yang sejak dulu sempat ia ragukan kebenarannya.

Tangannya terkepal kuat, terlihat air mukanya mendadak mengeras. Jantung yang masih berdetak tak normal miliknya membuat tubuhnya terasa dingin. Katupan kedua bibirnya terbuka perlahan.

"Kakashi-sensei."

"Hn?"

Kakashi menoleh dan sekali lagi mendapati pandangan menusuk milik Naruto. Pria tersebut merasakan ada yang aneh dari nada rendah yang meluncur cepat dari sela bibir muridnya.

"Sensei—" Naruto menggantungkan kalimatnya, meremas jemarinya sesaat dan kembali bersuara dengan begitu pelan. "—mencintai Sakura-chan, kan?"

Mata kelabu milik Kakashi melebar kala mendengar pertanyaan yang telah beberapa kali membuat dirinya shock dan benar-benar tak dapat diprediksi. Pria dewasa tersebut bungkam dan merasakan ada sesuatu yang berduri menancap pada kerongkongannya sehingga dirinya sulit untuk berkata-kata maupun menarik nafas kuat-kuat.

Keheningan kembali tercipta di antara kedua shinobi hebat yang dibanggakan oleh seluruh penduduk Konoha. Keduanya terdiam, menunggu jawaban dan menunggu untuk dapat menjawab. Tak ada satupun tanda-tanda bahwa salah satu dari mereka akan berusaha untuk memecah kekakuan ini.

Putra tunggal Minato dan Kushina tertunduk kaku kala menunggu jawaban dari pria disampingnya. Sesungguhnya, jawaban yang tak kunjung terucap dari sang guru tersebut sudah ia ketahui. Dan jika dirinya boleh jujur, ia telah menyadari dan mengetahui hal tersebut jauh sebelum Kakashi menjalankan tugasnya sebagai pengganti Sasuke.

"Kalian berdua, kalau hanya diam saja disitu lebih baik bantu aku menyiapkan makan malam."

Suasana berat yang tercipta mengelilingi kedua orang tersebut sirna saat suara khas milik perempuan merah muda yang sejak tadi sibuk di dapur kembali terdengar. Iris biru dan kelabu disana menatap sang pemilik apartemen yang kini tengah menyembulkan kepalanya dari tembok tipis pemisah ruang tamu dan dapur.

Masing-masing dari guru dan murid disana segera tersadar kembali pada kenyataan. Suasana canggung masih tercipta kala Kakashi beranjak bangkit dari duduknya dan melenggang pergi menuju dapur.

"A-ah, maaf Sakura-chan, aku harus kembali. Shikamaru menungguku."

"Eeh? Setidaknya makan malam lah dulu disini. Kau kan sudah repot-repot datang." Cegah Sakura yang kini tengah mengenakan celemek biru tua.

"Maaf, maaf. Lain kali saja ya."

Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal seraya mengulum senyum palsu sedangkan yang mencegah hanya dapat menghela nafas dan mengangguk tanda mengerti. Setelah melihat anggukan kepala Sakura, Naruto segera melangkahkan kakinya menuju pintu untuk segera pergi.

Sakura masih memandangi sahabat oranyenya yang telah membelakangi mereka dengan kerutan di dahi. Menurut perempuan tersebut, saat ini Naruto aneh.

Pemuda tersebut terus berjalan tanpa berbalik untuk sekedar menatap Sakura maupun sosok gurunya yang telah berdiri disebelah mantan rekan tim 7nya dulu, membantu menyiapkan makan malam.

Menghembuskan nafasnya sejenak, Naruto mulai memakai sepatunya kembali. Ia berusaha untuk bergerak secepat mungkin karena ingin menghindari suasana canggung diantara dirinya dan Kakashi. Meskipun suasana tersebut diciptakan karena pertanyaan aneh miliknya, tetap saja ia merasa tak nyaman.

"Ya."

Naruto merasakan tubuhnya kaku saat suara milik pria dewasa dibelakangnya menghentikan gerakan tangannya yang telah mencapai gagang pintu berwarna perak. Kakashi membuka mulutnya!

Tanpa berusaha berbalik untuk melihat ekspresi mantan gurunya, Naruto mengulum senyuman yang begitu tipis. Sedetik kemudian, pemuda tersebut segera membuka pintu dan pergi meninggalkan kediaman Haruno tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Kata 'Ya' tersebut telah menjelaskan segalanya!

Jawaban tadi sangat jelas!

Kerutan di pelipis perempuan muda tersebut semakin tercetak jelas. Ia tak mengerti pada kata 'ya' yang diucapkan sang guru—sekalipun ia yakin itu ditujukan kepada Naruto. Terlebih, Naruto pergi meninggalkan apartemennya tanpa mengucapkan sepatah kata maupun menoleh.

"Sensei, 'ya' tadi untuk apa?" Tanya Sakura akhirnya. Tentu saja ia penasaran.

Yang diberikan pertanyaan hanya terdiam, membisu tanpa berusaha repot-repot berkilah memikirkan penjelasan yang tepat untuk pertanyaan Sakura. Pria tersebut merasa cukup dirinya dan Naruto saja yang mengerti apa maksud dari arti 'ya' yang ia katakan tadi.

Sejurus kemudian, Sakura menggendikkan bahunya saat merasa Kakashi tak akan menjawab apa yang ia tanyakan tadi. Sebenarnya ia sangat penasaran, namun, ia berusaha untuk tak menghiraukannya.

Mereka bertengkar?

Mengerjapkan mata beberapa kali, Sakura merutuki dirinya yang begitu bodoh sehingga tanpa disadarinya, pemikiran negatif mendadak muncul dalam benaknya. Menggelengkan kepala, Sakura berusaha membuang pikiran-pikiran negatif tersebut dan kembali memulai pekerjaan menyiapkan makan malamnya yang tertunda.

"Se-Sensei?!"

Gerakan memotong-motong wortel miliknya terhenti saat ia mendapati lengan hangat nan kokoh milik pria yang telah berada dibelakangnya melingkar memeluk bahunya. Perempuan muda tersebut begitu terkejut dengan serangan dadakan milik Kakashi saat ini.

"Kau diam saja."

Mendengar perintah Kakashi yang begitu pelan dan sangat dekat dengan indra pendengarannya, membuat perempuan cerdas tersebut kaku dan memilih untuk menurut.

Suasana apartemennya yang memang jarang ramai itu begitu sepi malam ini. Sakura merutuk dalam hati karena suasana sepi yang biasanya selalu ia nikmati, menjadi tak menguntungkan dirinya. Pasalnya, saat ini jantungnya berdegup begitu kencang sehingga Haruno muda tersebut khawatir jika Kakashi dapat mendengarnya.

Beberapa menit telah berlalu namun Sakura tak merasakan adanya tanda-tanda bahwa Kakashi akan melepaskan pelukannya. Ia masih berusaha menenangkan debaran jantung dan dirinya dengan pembelaan diri jika wajar ia menjadi salah tingkah karena hal ini baru pertama kali terjadi.

Ia pun senantiasa tetap mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat dan menurut pada perintah Kakashi tadi. Sedetik kemudian, hembusan nafas hangat yang begitu lembut milik pria dibelakangnya menggelitik kulit putihnya. Hal tersebut tentu membuat jantungnya kembali berdetak tak sesuai pada ketukannya semula, serta ia dapat merasakan semburat merah pada pipinya mulai menampakkan warnanya.

"Ka-Kakashi-sensei…"

"Hmm?"

"Jariku teriris pisau."

To be Continued


A/N : GYAHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! AKHIRNYA UPDATEEE! :plaak:
Ya ampuun! Kesibukan tentang 'skripsweat' itu sangatlah menguras seluruh waktu! Orz Orz Orz
Maafkan daku yang sempat menelantarkan fic ini selama beberapa hari… ;A;

Nah, gimana chap 14nya? Sasuke belum muncul juga nih :'D
Ah tapi, bentar lagi pemuda itu akan muncul kok. Tinggal beberapa chap lagi dan… muncul! XD
Semoga pertemuan SasuSaku nanti ga akan mengecewakan kalian :3

Btw, karena sayah telat update, dalam waktu yang bersamaan ini sayah akan update chap 14 Hurt dan chap 3 Our Future, Happy End or Painful End? Yang merupakan sequel dari Always Beside You! Yeaaay! :telat woooi:
Hahaha. Telat nih bikin pengumumannya di Hurt. Jadi, untuk para readers yang sudah maupun yang belum baca Always Beside You, silahkan mampir ke sequelnya ya :D
Bocoran aja, sih. Di chap 3nya Our Future, Happy End or Painful End? Muncul Sasuke lhoo~ :DDD
Terus, buat yang udah baca Our Future, Happy End or Painful End? Tapi belum baca Always Beside You, sok dibaca dulu biar feelnya makin dapet :3

Okai! Terima kasih buat yang sudah follow, favorite, sama review fic ini. Saya masih menunggu review kalian ya! Biar makin semangat! (Jangan lupa review juga di 2 fic yang sayah sebut tadi ya) :DD Sampai jumpa di chap 15!

Mari balas review-review yang sudah masuk :3

Hikaru Sora 14-san, Chapter 13

J : Iya, menyedihkan karena hal itu sama aja kayak melarikan diri :'o

Haha benar! Aku juga sukaaa banget nyiksa sensei pakai kebahagiaan semu. Meskipun bener sih agak ga tega juga sensei jadi pelampiasan :p

Ehem, buka masker ya? Bocoran aja, sih. Disini kan status mereka ga resmi, jadi sensei mau ngejaga perasaan Sakura dengan cara 'itu'. :'D

Huhu… maap yah ga ngebut Orz

Makasih!

QRen-san, Chapter 13

J : Hehe… maap yah kalau ga bermutu ficnya.

Sasuke ada kok di penjara :D

Hanazono Yuri-san, Chapter 13

J : Iya, aku juga kasihan sama Sakura. :'D

Siap!

-san, Chapter 13

J : Ehem… semoga KakaSaku ya :p

VeeQueenAir-san, Chapter 13

J : lol. Kalau gitu maunya apa? *Bersambung*? :P

6934soraaoi-san, Chapter 13

J : Eh? Kamu ga suka KakaSaku, ya? :'D . Maap yah. Soalnya aku suka banget sama pair itu :ga ada yang nanya: XD

SasuSaku ya? Sip! Yang enak itu biasanya akan disantap terakhir! (?) :p

Shizu Alui-san, Chapter 13

J : GYAA! Chap 13 tuh yang mana ya ceritanya? :plaaaaaaaaaaaak:

Sensei emang manis kok. MANIS BANGET! :ga nyantai:

Wkwkwk ampe akhir Sakura tetep menyedihkan gitu? XD

Waaah… yokatta. Semoga chap ini juga mantap! :3

Siap! Ditunggu review selanjutnya (plus review di sequel Always Beside You, ya) haha

Coro sohibnya kecoak-san, Chapter 13

J : Siap, gan!

Sasuke? Sedang terkurung dia di penjara.

Gimana? Di chap ini udah bebas belum? :3

Tenang saja, dia akan bebas (pada waktunya) hehe

KYUbii-san, Chapter 13

J : Waaaah~ syukurlah lebih feel ke KakaSaku (lho?!)

Hehe dilihat di chap akhir saja ya :3

Semoga yang kau inginkan jadi main pair :D

Shukaku-san, Chapter 13

J : Wkwkwkwk aku senyam senyum baca reviewmu XD

Iya KakaSaku itu krauk krauk rawr rawr aww gimana gitu :plaak:

Nyiksa Sasuke? AKU JUGA PENGEN! :ngiler:

Sip! Makasih!

Ditunggu review selanjutnya :DD

Scara-san, Chapter 13

J : Kyaaaa! Terima kasih banyaak! :DDDD

Syukurlah KakaSakunya greget!

Iya! Waks! Dirimu juga lg ngerjain skripsweat? Samaan deh kita :tosh: . Semangat ya skripsweatnya :3

Hehe… Maapkan dakuh yang telat update. Semoga chap ini memuaskan. Kalau mau baca juga ya Always Beside You beserta sequelnya. Itu KakaSaku slight SasuSaku :3

Kimura Megumi-san, Chapter 13

J : Eh? Soalnya tuntutan skenario(?) sih Orz

Neng Sakura kan masih menyedihkan gimana gitu. Haha.

Tenang, Sasuke akan hadir beberapa chap lagi.

Aku bakal usahain update kilat biar kesannya Sasuke bakal cepet muncul. Haha

Fifi-san, Chapter 13

J : Sudah lanjut nih :3

Ah… iya. Aku juga penasaran gimana kalau mereka ketemu :lha?: XD