Tittle: Love me Tender

Universe: AU

Rating: T, enggak ada Lemon tapi akan ada 'lime'.

Genre: Romance/Drama/Comedy

Summary: Sakura menikah dengan pria yang selalu dicintainya selama ini. Seharusnya itu membuatnya bahagia, tapi sebuah rahasia membuat pernikahan mereka berubah menjadi komedi yang menyedihkan.

Disclaimer: Naruto punya Kishimoto-sensei

Note: Aku bukan fujoshi, 'slash' yang muncul di cerita ini cuma bagian dari plot. Rating cerita ini nggak sampai M tapi dianjurkan untuk 16 tahun ke atas.

CHAPTER 13

"Something Wrong"

.

.

.

(Sakura)

Diawali dengan sebuah ciuman lembut di pipiku, aku pun tidak mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi saat itu. Sebuah ciuman lembut mendarat di pipiku. Aku membuka mataku dan melihat wajah Naruto yang hanya beberapa senti dari wajahku. Ia idak tampak terkejut melihatku terbangun. Matanya menatap ke dalam mataku dan dahinya berkerut.

Ada yang salah. Tadi aku mendengar kata-kata "Aku sayang padamu" darinya disertai sebuah kecupan...

...ada yang salah.

Aku baru saja akan mengatakan sesuatu tapi ia lebih dulu berkata-kata.

"Apa kau mencintaiku?"

Aku terdiam.

Pertanyaan macam itu?

Dia tidak benar-benar menanyakan itu kan? Maksudku, semua orang juga tahu aku benar-benar mencintainya. Meskipun belakangan ini aku berusaha untuk melupakannya, sejujurnya perasaanku padanya masih sama seperti dulu. Tentu saja aku mencintainya. Untuk apa ia menanyakan pertanyaan bodoh itu padaku?

Lagipula, apa pedulinya?

Dia tidak mencintaiku kan?

Meskipun ia baru saja berkata bahwa ia menyayangiku, itu tidak berarti ia mencintaiku kan? Ia tidak mungkin benar-benar serius dengan pernyataannya itu. Mungkin, ia hanya mengetesku? Ya tentu saja, yang dicintainya hanyalah Sasuke. Aku...

Aku hanyalah istri yang dinikahinya karena terpaksa.

Mungkin ia menyayangiku sebagai seorang teman, atau seperti seorang kakak pada adiknya, tapi ia tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita. Tidak mungkin.

"Sakura..."

Kenapa ia bertanya seperti itu? Apa ia ingin menegaskan padaku bahwa sebesar apapun perasaanku padanya, bahwa sedalam apapun perasaanku padanya, ia tidak akan pernah bisa membalas perasaanku. Mungkin ia bertanya seperti itu agar ia bisa menolak dengan tegas.

Tunggu, dia tidak berhak memintaku menghentikan perasaanku padanya! Perasaanku adalah milikku sendiri. Tidak ada seorang pun yang berhak mengatur hariku kecuali aku sendiri. Meskipun ia adalah laki-laki yang kucintai, ia tidak memiliki hak untuk memintaku berhenti mencintainya. Lagi pula mustahil bagiku untuk berhenti mencintainya—meskipun sebenarnya aku ingin dan telah berusaha untuk menghapus perasaanku padanya.

"Sakura, apa kau mencintaiku?"

Aku bukannya tidak mencoba untuk berhenti mencintainya. Aku ingin berhenti, tapi sepertinya sulit. Aku sudah berkali-kali berkata pada diriku sendiri, bahwa jatuh cinta padanya adalah hal terburuk yang pernah terjadi padaku, tapi sesuatu di dalam diriku menolak untuk menyerah.

Mata birunya yang indah seperti batu safir menatap ke dalam mataku. Posisi kami saat ini sangat memalukan. Entah sejak kapan Naruto sudah berada di atasku. Kedua lengannya menopang tubuhnya agar tidak menimpaku. Matanya tidak sekalipun meninggalkan mataku.

Tatapan mata itu...

"Apa kau jatuh cinta padaku?"

"Ya."

Ia terdiam dan hanya menatapku.

Aku sudah mengatakannya. Ia bertanya dan aku sudah menjawabnya. Tiba-tiba saja aku merasa sangat lega. Aku sudah mengatakannya. Aku tidak perlu menyembunyikannya lagi darinya. Aku telah mengatakannya!

Aku telah mengatakannya padanya, lalu sekarang apa?

Ia akan menolakku?

Ia akan menjelaskan kalau aku hanyalah seorang teman baik untuknya?

Ia akan mematahkan hatiku—lagi, untuk kesekian kalinya.

Aku tengah disibukkan dengan berbagai macam kemungkinan yang berkecamuk di kepalaku saat bibirnya mendarat di bibirku. Aku tidak sempat mendorongnya atau menamparnya saat ia mulai menekankan tubuhnya ke atas tubuhku. Tanpa kusadari tanganku telah melingkar di lehernya.

Ciuman kali ini berbeda dengan ciuman sebelumnya. Berbeda dengan ketika Shikamaru menciumku. Ciuman kali ini... Entah bagaimana aku menjelaskannya. Ciuman kali ini lebih lama dibandingkan ciuman-ciuman sebelumnya. Mungkin, bila sepasang kekasih berciuman, maka mereka akan melakukannya seperti ini.

Apakah ia mencium Sasuke seperti ini?

Tiba-tiba saja aku tersadar, ini tidak benar, Naruto masih bersama Sasuke dan ia tidak mencintaiku. Aku tidak boleh melakukan ini. Kami tidak boleh seperti ini.

Namun anehnya, meskipun aku tahu ini salah dan bahwa nanti aku akan menyesalinya tapi aku tidak bisa mendorongnya menjauh dari tubuhku. Aku menikmati ciumannya dan aku menyukai kehangatan tubuhnya yang menyatu dengan tubuhku, aku ingin terus seperti ini. Meskipun semua ini salah...

Perlahan ia menjauhkan wajahnya dariku. Dahinya masih menempel dengan dahiku dan matanya menatap mataku. Nafasnya yang panas menyentuh wajahku, aku dapat mencium aroma mint dan lemon dari tubuhnya. Bahkan di kegelapan aku dapat melihatnya seolah berkilauan dan menyilaukan. Hidungnya nyaris menyentuh hidungku. Aku yakin ia dapat merasakan debar jantungku saat ini. Aku merasa sangat malu. Bukan karena posisiku kami saat ini, bukan karena aku baru saja menyatakan perasaanku padanya, bukan karena jantungku yang berdegup kelewat kencang, tapi karena saat ini, aku nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Ia berada begini dekat, aku mati-matian menahan diri untuk tidak menarik wajahnya ke arahku dan menciumnya sekali lagi.

Mungkin apa yang ada di kepalaku tersampaikan melalui tatapan mataku sebab tiba-tiba saja Naruto tersenyum seolah tahu apa yang ada di benakku saat ini. Wajahku memanas. Aku bisa semesum ini, semua ini salahnya!

"Aku ingin menciummu lagi."

Aku mengerutkan dahiku dan mencoba memikirkan kata-kata yang bisa kulontarkan untuk menghinanya, tapi aku tahu aku pun ingin menciumnya.

"Lakukan saja."

"Kali ini aku akan menciummu lebih lama..."

"Lakukan saja."

"Kali ini tidak akan berhenti di ciuman saja..."

Aku terdiam.

Mata birunya yang berkilauan seperti menghipnotisku. Wajahnya terlalu tampan. Tidak adil. Seandainya saja aku diberikan kekuatan untuk menolaknya...

Aku tahu mungkin aku akan menyesali ini, ah tidak, aku pasti akan menyesali ini. Aku tahu itu. Besok pagi, saat aku terbangun dan semua ini sudah berakhir, aku akan menangis dan menyesali semuanya... Aku tahu resikonya namun aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri.

"Lakukan saja..."


(Naruto)

Aku bukanlah gay sejak lahir, dulu sekali entah kapan, aku pun pernah jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan seorang wanita. Dulu sekali aku pun pernah menjadi laki-laki biasa yang menjalani cinta yang biasa, entah sejak kapan, perlahan-lahan satu sisi di dalam diriku mulai menolak untuk berhubungan dengan lawan jenis.

Aku jatuh cinta pada Sasuke. Saat itu, aku selalu merasa bahwa itu adalah cinta sejatiku—bahwa aku tidak akan pernah bisa mencintai orang lain lagi sebesar aku mencintai Sasuke. Aku tidak peduli lagi pada wanita atau pun laki-laki lainnya, aku tergila-gila pada Sasuke, hanya dia.

Tapi ada yang salah pada diriku.

Entah sejak kapan, perlahan-lahan, rasa cinta itu mulai berubah. Aku masih mencintai Sasuke, tentu saja, ia adalah seseorang yang mampu membuatku merasa aman dan nyaman. Bersandar padanya membuatku merasa, apapun yang terjadi, selama aku bisa berada bersamanya maka tidak ada seorang pun yang bisa menyakitiku. Aku merasa aman dan bahagia saat berada di sisinya, itu yang disebut cinta bukan? Aku masih merasa seperti itu saat bersamanya, tapi, ada yang berbeda. Sesuatu terjadi padaku.

Kalau cinta adalah sebuah perasaan nyaman dan aman berada di sisi seseorang yang kita cintai, maka benar aku mencintai Sasuke. Tapi, belakangan ini aku mulai merasakan sesuatu yang lain. Tidak, kalau berdasarkan definisi cinta yang kusebutkan sebelum ini, seharusnya ini bukanlah cinta. Tapi aku pun tidak tahu perasaan apa ini.

Saat berada di dekatnya aku tidak merasa nyaman. Aku selalu merasa cemas dan takut. Aku tidak ingin ia membenciku, tiba-tiba saja aku kehilangan rasa percaya diriku. Aku tidak tenang setiap kali ia berbicara dnegan orang lain, aku tidak suka saat ia membicarakan tentang pria lain di hadapanku. Aku pun tidak merasa nyaman saat bersamanya, seperti ada jutaan kupu-kupu beterbangan di dalam perutku. Aku tidak tahu apa nama perasaan ini, yang jelas saat melihat senyumnya, sesuatu terjadi pada diriku...

"Sakura," aku membisikan namanya sebelum mencium lehernya.

Saat ini, ia ada di pelukanku dan lagi-lagi, jutaan kupu-kupu mengisi perutku. Perasaan apa ini?

Aku tidak mengerti, selama ini aku selalu menganggap diriku gay, seharusnya aku tidak merasa seperti ini pada seorang wanita. Dorongan seperti ini, tidak kurasakan saat berhadapan dengan wanita lainnya, hanya Sakura. Aku ingin memeluknya, menciuminya, memilikinya seutuhnya, apa ini cinta?

Ada yang salah denganku, tapi aku tidak peduli lagi.

"Na-Naru..."

Aku tersenyum saat mendengarnya menyebut namaku di sela-sela nafasnya. Aku tidak pernah tahu kalau namaku bisa terdengar begitu seksi saat diucapkan seseorang sepertinya. Aku menyukainya...

Ada yang salah denganku, mungkin ini cinta?


Aku melirik jam tanganku lagi, untuk kesekian kalinya hari ini. Aku mengerutkan dahiku dan sedikit kecewa saat sadar bahwa ternyata baru sepuluh menit sejak terakhir kalinya aku mengecek jam tanganku. Meskipun aku merasa sedikit kesal karena waktu berjalan sangat lamat hari ini, aku tidak bisa menyembunyikan senyumanku. Aku tahu, orang-orang di lokasi pemotretan hari ini pun pasti menyadari bahwa aku sedang senang hari ini.

Aku tahu mereka semua penasaran tentang alasan mengapa aku begitu ceria hari ini namun tidak ada satu pun yang berani menghampiriku dan menanyakannya langsung tentang alasan mengapa aku begitu ceria har ini. Padahal aku tidak akan keberatan untuk menceritakannya pada mereka kalau memang mereka ingin mengetahui alasannya.

Aku tengah bersenandung riang saat seseorang menepuk pundakku dan aku melihat Hinata berdiri di belakangku sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan sebuah seringai lebar.

"Sebentar lagi pemotretan akan dilanjutkan," kata gadis berambut gelap itu.

Aku mengangguk.

Setelah kolaborasi pertama kami, karena respon pembaca yang sangat baik, lagi-lagi kami akan berpasangan untuk menjadi model majalah AnAn edisi natal. Meskipun aku tidak merasa keberatan dengan pekerjaan ini, namun aku sudah memutuskan bahwa ini akan menjadi kerjasama terakhirku dengan majalah AnAn. Bukannya aku tidak merasa puas dengan hasil pemotretan sebelumnya, hanya saja entah mengapa aku merasa sedikit tidak nyaman dengan pekerjaan semacam ini. Mungkin aku juga akan menolak adegan ciuman di drama-dramaku yang akan datang.

Ya, Naruto Uzumaki telah terlahir kembali!

"Boleh aku duduk di sini?"

Aku mengangguk.

"Ah, silahkan," kataku mempersilahkan.

Hinata mengucapkan terimakasih lalu duduk di kursi yang ada di sebelahku.

"Maaf kalau aku berisik, tapi apa ada hal baik yang baru saja terjadi?" tanya Hinata mencoba membuka percakapan, "Kelihatannya sedang sangat senang hari ini…"

Aku hanya tertawa kecil, "Kira-kira begitu…"

Hinata tersenyum mendengarnya, "Baguslah... Semoga pemotretan hari ini bisa berjalan lancar..."

"Tenang saja," Aku tersenyum lebar, "Aku tidak pernah merasa sebaik ini, pemotretan hari ini akan berjalan lancar," kataku lagi sambil menatap lurus ke depan, "Aku telah mendapatkan pencerahan…"

Hinata tertawa kecil mendengarnya.

Aku sendiri hanya bisa tersenyum saat memejamkan mata mengingat kejadian semalam. Tiba-tiba saja aku merasa waktu berjalan terlalu lambat. Aku ingin segera menyelesaikan pemotretan hari ini dan pulang ke rumah.


Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari aku akan merasakan perasaan seperti ini. Aku merasa sangat penuh saat itu. Aku bahkan tidak lagi peduli apa nama perasaan yang membakar dadaku saat itu, aku hanya membiarkan naluriku bekerja dan mengambil alih. Aku tidak lagi berpikir, aku hanya ingin merasakan.

"Naru…"

Aku merasakan lengan kurus istriku memeluk leherku dan menarik tubuhku ke arahnya. Aku nyaris menyeringai, sampai pagi tadi sebelum aku berangkat kerja, Sakura masih memberiku tatapan dingin tapi kini ia memelukku dengan sangat erat. Bukannya aku keberatan…

Aku menatap mata hijau emerald istriku itu dan melihat ada kecemasan di dalam matanya. Aku memeluknya sambil tetap berusaha agar tidak meremukkan tubuhnya. Aku ingin menghapus semua ketakutan yang ada di mata Sakura saat ini.

"Sssh," aku berbisik di telinganya, dengan nafas pendek yang tidak beraturan. Jantung kami berdetak kencang. Kami begitu dekat sehingga aku tidak tahu lagi suara debaran jantung siapa yang kudengar saat itu. Jantungku sendiri berdetak kencang dan memompa darahku ke satu titik tubuhku, membuatku nyaris lepas kendali saat itu juga.

"Jangan takut, Sakura," aku mengecup air mata yang mengalir di pipi gadis berambut merah muda itu, "Percayalah padaku."

***

Setiap kali mengingat kejadian semalam aku merasa sangat malu. Wajahku memerah dan terasa panas lalu senyumku akan terus mengembang. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Rasanya seperti terlahir kembali.

Butuh waktu satu tahun bagi kami sebelum akhirnya melakukannya. Mungkin kami tidak seperti pasangan suami istri lainnya, atau mungkin kami termasuk lamban untuk pasangan manapun, tapi aku cukup ahagia karena paling tidak akhirnya aku dapat menyadarinya. Aku berhasil mengatakannya padanya.

Jika dibandingkan dengan tubuh putih yang tengah kupeluk saat ini, tubuh yang kupeluk semalam mungkin bukan apa-apa. Meskipun dadanya tidak sebesar dada ini tapi aku tidak peduli karena yang kuinginkan adalah dia.

Hinata melingkarkan lengannya di leherku. Matanya menatap langung ke dalam mataku. Tanganku mengusap pipinya dan aku menempelken dahiku di dahinya. 'Semalam ia juga sedekat ini denganku…' pikirku sambil membayangkan wajahnya ketika Yukiko menarik tubuhku ke arahnya dan menciumi leherku, samar-samar aku mendengar suara kamera dan sang fotografer yang mengarahkan kami berdua. Aku melingkarkan tanganku di pinggang rampingnya yang telanjang dan memeluknya erat-erat. Tiba-tiba saja aku merasa sangat ingin pulang ke rumah.

"Ya, bagus sekali! Hari ini cukup sampai di sini…!"

Segera setelah mendengar kata-kata sang fotografer, aku dan Hinata saling menjauhkan tubuh kami. Dua orang staff segera menghampiri kami untuk menyerahkan jubah mandi kami masing-masing. Aku merasa sangat senang karena pekerjaan hari ini akhirnya selesai. Pemotretan untuk majalan AnAn selalu memakan waktu cukup lama dan pemotretan kali ini masih akan dilanjutkan besok.

Aku telah mengenakan pakaianku kembali dan tengah bersiap-siap untuk pulang. Aku memasukkan barang-barangku secara acak ke dalam ranselku. Aku tidak mau berlama-lama di studio ini. Aku ingin segera pulang.

Aku tersenyum setelah selesai membereskan seluruh barang-barangku. Ternyata menikah itu adalah hal yang luar biasa…


Aku berjengit saat tidak menemukan siapapun di rumah saat aku tiba sore itu. Aku merasa aneh karena belum ada lampu yang dinyalakan hari ini.

"Sakura!" aku mencoba memanggil namanya, tapi tidak ada jawaban.

Aku berjalan ke arah dapur tapi tidak ada siapapun disana. Aku mencoba menghela nafas panjang untuk menenangkan diri. Tiba-tiba saja aku merasa cemas. Aku tahu sesuatu terjadi dan aku tidak menyukainya.

Aku menaiki tangga dengan perut bergolak. Entah mengapa aku memiliki firasat buruk.

Taganku bergetar saat aku menyentuh kenop pintu kamar istriku yang terletak di sebelah ruang kerjaku di lantai dua. Aku membuka pintu kamar itu dan melangkah memasukinya. Ratusan kupu-kupu berterbangan di dalam perutku dan membuatku mulas ketika aku menyadari tidak ada siapun di kamar itu.

Mataku tertumpu pada selembar surat yang ada di atas tempat tidur. Surat dengan tulisan tangan istriku yang sudah dikenalnya. Aku menelan ludah dan menjulurkan tangan untuk meraih surat itu. Aku tahu, ada yang salah...


Author's Note:

Maaf ya lama ^^a saya sedikit sibuk belakangan ini. Soal pengulangan beberapa kalimat di chapter ini dan sebelum-sebelumnya, saya memang penggemar majas repetisi, atau pengulangan... Kenapa? Hmm itu suma soal selera kan?

Buat yang menyimpan pin BB saya, err maaf bukannya saya menghapus kontak kalian T^T Blackberry saya hilang beberapa waktu lalu, untuk sementara sata tidak berhape. ^^b nanti kalau sudah dapat BB baru saya kasih PINnya ok...

Belum sempat membalas seua review, ada beberapa yang belum saya baca, tapi terima kasih sudah mau ninggalin review untuk saya... Ya, Love me Tender sebentar lagi tamat ^^. Buat yang udah add saya di FB dan follow twitter, makasih ^^; Bebas untuk tanya2 selama tidak terlalu privasi ^^. Ok sekali lagi, makasih.

Recchinon.