Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~This story is Mine~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
Uzumaki Naruto melihat bocah itu masuk ke barisan peserta ujian Chunnin yang lain. Ia tentu saja bisa mengenali sosok itu. Ia tak pernah meragukan penglihatannya sekalipun ia tidak punya dōjutsu layaknya Sharingan milik Sasuke ataupun Kakashi-sensei.
Mata birunya terus bergerak, mengikuti pergerakan bocah dengan jaket hitam disana. Bocah itu melangkah dengan percaya diri diantara rekan timnya –yang ia yakin jelas sama sekali tidak ia kenali. Bocah itu menyunggingkan senyum tipis sembari mengacuhkan berbagai macam tatapan yang mengarah padanya. Bocah itu sama sekali tidak gentar, ia tidak terlihat gugup, Ekspresi yang begitu yakin tergambar jelas di wajah bulatnya.
Alis Naruto berkedut. Sejak kapan bocah itu ikut serta dalam ujian Chunnin? Ia bahkan tidak melihatnya di babak pertama.
Bocah itu terlihat memiringkan kepalanya, poninya ikut bergerak seirama gerakan kepalanya. Awalnya, ekspresi bocah itu terlihat jengkel, Namun Naruto melihat manik milik bocah itu berkilat senang di detik selanjutnya.
"Hinata!"
Bocah itu berseru lantang secara tiba-tiba, mengundang lebih banyak tatapan mengarah padanya. Kenapa bocah itu selalu saja histeris pada hal bersangkutan dengan Hyuuga Hinata? Gagasan itu mendadak muncul dipikirannya tanpa sempat sang Jinchuriki Kyuubi cerna.
Naruto kembali menangkap siluet seorang Jounin mendekati bocah dengan jaket hitam itu. Jounin wanita itu terlihat sedang mengomeli si bocah dan rekannya yang lain.
Ada apa ia kemari? Apa tujuannya?
Pertanyaan-pertanyaan serupa terus bergerilya di otaknya. Naruto mendengus sebal, Ia melipatkan kedua tangannya didepan dada. Otaknya terus saja memikirkan hal-hal rumit akhir-akhir ini. Ia tidak boleh terus seperti ini, ini tak sehat. Ia harus fokus pada ujian ini terlebih dahulu –setidaknya agar tidak membebani gadis yang ia sukai dan rivalnya yang menyebalkan.
Naruto mencoba mengalihkan perhatiannya kearah Shin no Mori yang terbentang dengan mengerikan didepannya. Ia mencoba fokus memerhatikan seluk-beluk dahan-dahan ataupun akar besar yang merambat kesegala arah.
Apa saja asal ia bisa fokus. Apa saja asal bocah itu tidak lagi berkeliaran dipikirannya. Apa saja asal ia bisa mengenyahkan rasa penasarannya terhadap bocah itu.
Lengannya menjambak surai pirangnya yang berantakan. Naruto berjongkok. Ia tidak akan bisa fokus sebelum rasa penasarannya hilang.
Dan ia memilih untuk menyerah. Ia akan menuruti rasa penasarannya dan kembali memfokuskan pandangannya pada bocah yang sedari kemarin mengganggu pikirannya, mengacaukan akalnya, dan..
Naruto berjengit kaget. Apa yang dipikirkannya? Astaga, pikirannya sudah kacau. Ia bisa jadi sudah gila.
Kali ini mata birunya penangkap sosok bocah itu tengah memisahkan diri dengan rekan timnya. Kedua rekan timnya tersenyum dan berbalik kearah pondok –entah untuk apa–Naruto tidak peduli.
Bocah itu tampak riang di matanya. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. Apa pula yang membuat bocah itu bisa sedemikian bahagia? Kemana ia akan pergi?
Pertanyaan itu langsung terjawab dengan sendirinya begitu Naruto menangkap sosok itu berhenti kemudian tanpa ragu meraih pergelangan tangan seorang gadis. Uzumaki Naruto jelas tahu siapa gadis itu, ia sempat menduganya tadi, namun ia sendiri tidak menyangka tebakannya bisa setepat ini.
Gadis itu. gadis pemurung dan pemalu yang berada satu kelas dengannya dulu saat di akademi ninja. Gadis yang lebih memilih untuk memotong pendek rambutnya disaat gadis-gadis lain berlomba-lomba memanjangkan rambutnya untuk menarik perhatian Uchiha Sasuke. Hingga saat inipun Naruto masih tidak bisa mengerti sama sekali soal Hyuuga Hinata. Dari dulu hingga sekarang, Gadis Hyuuga memang bukanlah seseorang yang ingin ia libatkan dalam kehidupannya.
Naruto menggelengkan kepalanya cepat begitu pikirannya mulai melantur kemana-mana. Tidak, ia harus fokus –setidaknya pada hal ini.
Bocah itu nampak sedang terlibat dalam pembicaraan yang menyenangkan dengan si gadis Hyuuga. Naruto mengernyit tak nyaman begitu bocah itu terlihat tertawa kecil di sela-sela pembicaraannya dengan si gadis.
Ah, benar. Bocah itu selalu tersenyum jika berada di sekitar Hyuuga Hinata. Keadaan sebaliknya mungkin berlaku untuknya sendiri. Naruto meringis begitu gagasan itu terlintas dipikirannya.
Naruto sudah tak lagi bisa mendengarkan penjelasan penting yang disampaikan Mitarashi Anko. Atensinya sudah sepenuhnya terfokus kepada bocah dengan jaket hitam disana. Sasuke dan Sakura bisa menangani masalah ini dan tentu saja ia akan bertanya nanti.
Sebuah siku menghantam perutnya tak tanggung-tanggung. Naruto mengaduh. Tanpa menolehpun ia tahu siapa pelakunya. tentu ia tahu, pukulan itu begitu familiar di tubuhnya. "Fokuslah Naruto! Perhatikan dengan benar!" Haruno Sakura mendesis tajam. Ia mengacungkan kepalan tangannya ke depan wajah sang Jinchuriki Kyuubi.
Kuharap juga begitu. Batin Naruto menjawab.
Mengambil satu langkah ke kiri. Naruto berusaha mendapatkan posisi yang tepat dimana ia bisa dengan leluasa melihat apa yang tengah bocah itu dan Hinata lakukan. Beberapa orang mulai pergi kearah pondok, hal itu memudahkan Naruto untuk menghilang dari jangkauan pandang Sakura.
Dilihatnya si bocah disana. Hinata tengah menarik ujung baju si bocah malu-malu. Naruto menyipitkan matanya. Gambaran didepannya benar-benar mengganggunya. Ia tidak puas jika harus melihat dari kejauhan seperti halnya penguntit. Tidak! Ia bukan penguntit. Karena itu, Naruto berjalan mendekat kerah keduanya. Ia ingin mendengar apa saja yang kedua orang itu bicarakan. Kenapa kedua orang itu seperti tidak sadar bahwa mereka tidak berdua saja di dunia ini?
"Hinata?"
Naruto bisa mendengar suara si bocah. Bocah dengan jaket hitam itu menatap Hinata sembari sedikit memiringkan wajahnya. Naruto berdiri diantara beberapa Genin yang bertubuh jangkung. Posisi yang tepat untuk mengintip sekaligus menguping.
Hyuuga Hinata menatap bocah itu dengan pandangan yang sama sekali tidak Naruto mengerti. Entahlah itu khawatir, gugup, atau malu. Naruto tidak mengerti. Yang jelas, pemandangan didepannya adalah hal yang salah di matanya.
Naruto tertegun begitu sadar apa yang telah dipikirkannya. Kenapa tampak begitu salah?
Naruto menunduk. Sorot matanya berubah keruh. Tangannya naik, mencengkram jaket orange yang dikenakannya kuat. Aneh.
"H-Hati-hati. J-Jangan bertindak sembrono."
Kepala Naruto kembali terangkat begitu suara khas anak perempuan itu menyapa indranya. Suara Hinata.
"Kendalikan dirimu, jangan mudah terpancing emosi. K-kalau kau butuh bantuan segera datang ke-"
Lalu ia melihat kedua telapak tangan milik bocah itu terangkat naik, menangkup pipi gembul milik Hinata dengan lembut. Bocah itu menangkup pipi si gadis dengan penuh penghayatan seolah ia berhak melakukannya. Seolah-olah ia memberikan pernyataan kepada dunia bahwa Hinata adalah...
Naruto merasakan sesuatu tak kasat mata menjungkir balikan isi perutnya. ia tak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya terasa membatu. berat.
Bocah itu tersenyum. Orang-orang yang melihat senyum itu tidak mungkin salah mengartikannya. Senyum itu berarti... Oh, sialan.
Uzumaki Naruto mencengkram kuat perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Naruto terpaku di tempat. Bocah Kyuubi itu merasakan dirinya mulai sulit bernapas. Ia hampir yakin ada yang salah dengan dirinya. Debar jantungnya tidak beraturan, kakinya seolah terpaku ditanah, dan diatas segalanya, Naruto merasakan desakan besar untuk memisahkan kedua orang yang diuntitnya.
Naruto tersentak dengan mulut menganga. Tunggu, apa yang dipikirkannya?
Tangannya mengusap wajahnya yang kusut. Astaga, sepertinya ia mulai gila.
Naruto kembali memutar matanya kearah si bocah dan gadis Hyuuga didepannya. Ya Tuhan, sejak kapan ia jadi senang meguntit seperti ini? untuk apa pula ia mengurusi urusan orang lain sementara dirinya sendiri masih memiliki hal penting lainnya yang mesti ia urus?
Terlebih dari itu, Kenapa ia bisa merasa tidak nyaman terhadap bocah itu dan Hyuuga Hinata?
Ada suatu hal asing yang tiba-tiba muncul dalam dirinya kala ia mendapati bocah itu bersama dengan Hinata.
Ada sesuatu yang terhubung diantara mereka. Yang Naruto tidak mengerti. Tapi..
Uzumaki Naruto menurunkan tangannya ke posisi asalnya. Ia menatap kedua orang disana dengan tatapan menerawang.
.
"Sebenarnya... Kau ini siapa?"
Deg!
Boruto mundur selangkah. "Lalu, Seperti apa.. hubungan kita bertiga?
Pandangan Naruto yang mengarah padanya membuat Boruto menelan ludahnya otomatis. Ia gugup. Ia tidak siap ditanyai mendadak seperti ini apalagi oleh ayahnya. Tidak. Ini terlalu cepat baginya. Ia bahkan belum mempersiapkan apapun.
"..."
"Jawab aku! Jangan terus diam! Katakan yang sebenarnya padaku-dattebayo!" Naruto terus mendesaknya.
"..."
"Boruto!"
Boruto tahu ia tak bisa diam saja. Ia menggigit bibirnya, "Berisik! Berhentilah menanyaiku begitu!"
Uzumaki Naruto yang merasa tidak terima maju selangkah lebih dekat kearah putra masa depannya, "Kau belum menjawab pertanyaanku! Siapa kau sebenarnya?! Apa tujuanmu? Dari mana kau berasal?"
Apa yang harus ku lakukan-dattebasa? Yang benar saja! Ia tidak mungkin membiarkan semua yang di rencanakannya kacau balau karena ayahnya mulai curiga dengan identitas aslinya, Siapa ia sebenarnya.
Ia tentu tidak bisa mengatakan segamblang itu bahwa ia adalah putra Uzumaki Naruto dari masa depan yang secara misterius datang ke masa lalu. Dilihat dari manapun alasannya terdengar sangat mengada-ngada. Tidak masuk akal.
Kepala kuning dengan surai serupa daun milik Boruto menunduk disertai gelengan cepat, "Siapa aku dan darimana aku berasal, itu semua tidak ada hubungannya denganmu-ttebasa!"
Naruto tersentak kecil. Alisnya semakin menukik turun. Tangannya mengepal kuat. "Tidak ada hubungannya katamu?!" Naruto berteriak tak terima.
"Setelah semua masalah yang kau buat, setelah begitu banyak hal yang kita lewati, setelah kau melibatkanku dalam berbagai hal, kau masih menganggap aku tak ada hubungannya?!" berang Naruto.
"..."
"Boruto!"
Kedua Uzumaki itu menoleh. Bukan. Itu bukan suara ayahnya. Untuk pertama kalinya ia merasa dua orang itu bisa juga berguna disaat yang tepat. Setidaknya mereka berhasil menyelamatkannya dari kewajibannya menjawab sang Ayah. Boruto mengulas senyum lebarnya sebelum berteriak, "Kotetsu! Izumo! Aku disini-ttebasa!"
Kedua shinobi Konoha itu mendarat tepat di depan sang sulung Uzumaki. Untuk sesaat keduanya menatap Boruto dan Naruto bergantian dengan ekspresi yang sama sekali tidak bisa Boruto tangkap apa maksudnya.
"Akhirnya kami menemukanmu juga." Seru Kotetsu akhirnya. Kamizuki Izumo menarik tangan kanannya, "Kita harus segera pergi ke menara sebelum kita kehilangan kesempatan untuk lolos ke babak selanjutnya"
Itu bukan sindiran untuknya. Naruto meyakinkan dirinya bahwa itu bukanlah sindiran halus yang lebih tepat diartikan sebagai cara mengusirnya dari sini. Atau mungkin, kalimat yang dikatakan rekan tim Boruto tadi adalah untuk membuat dirinya sedikit sadar diri dan segera pergi dari sini. Karena –tentu saja, seorang yang bukan bagian dari tim adalah musuh.
Boruto melirik ayahnya dalam diam. Memunggungi ayahnya kemudian berniat mengikuti langkah Kotetsu dan Izumo yang sudah lima langkah berjalan di depannya.
Sebelum-
"Boruto."
–suara ayahnya memanggil namanya. Sulung Uzumaki pirang itupun berbalik, menatap sosok kecil ayahnya tanpa suara. Uzumaki Naruto menatapnya lurus-lurus. Tatapan tajam ayahnya sedikit membuatnya terintimidasi. Dan ia benci merasa begitu.
"Pastikan kau baik-baik saja hingga kita bertemu di babak selanjutnya.." Ucap ayahnya bersamaan dengan desingan angin yang menerbangkan surai kuningnya yang rontok.
Boruto memandang ayahnya datar. Ia sama sekali tak berniat membalas perkataan ayahnya. "Apapun yang terjadi aku akan memaksamu buka mulut sekalipun itu berarti aku harus merobek mulutmu-ttebayo!"
Boruto tertegun sesaat. Kenapa ayahnya begitu ingin tahu tentang bagaimana bentuk hubungan Boruto dengannya? Kenapa ayahnya begitu keras kepala?
"Naruto.." ia akhirnya menemukan suaranya untuk balas memanggil nama sang ayah. Boruto mengulas senyuman tipisnya. Pandangannya tak lepas dari wajah Uzumaki Naruto barang sedetik. "Aku.. ingin bertarung denganmu."
.
Uzumaki Boruto sudah pasti bukan genin biasa. Kotetsu tidak ragu dengan gagasan itu. Hanya dalam waktu dua hari ia dan timnya dengan mudah bisa menyelesaikan Ujian Chunnin babak kedua tanpa halangan berarti. Meskipun tim misterius dari Sunagakure yang sepertinya sampai lebih dulu daripada timnya maupun para genin yang lain.
Hagane Kotetsu menghembuskan napasnya perlahan. Ia yang seharusnya bertugas mengawasi ujian Chunnin malah berakhir seperti ini, turut serta dalam ujian bersama rekan baiknya Izumo dan seorang genin pirang yang menyebalkan. Ia tidak tahu bagaimana seharusnya ia menanggapi keadaannya saat ini. Haruskah ia berbangga karena telah diembani tugas khusus dari Sandaime atau harus merasa direndahkan karena ia diikut sertakan dalam ujian ini sekali lagi? Hey, bagaimanpun, ia sudah Chunin!
"Kita sudah lolos di babak kedua?"
Suara itu mengintrupsi lamunannya seketika. Kotetsu menoleh kearah si penanya dan memasang wajah malasnya. "Ya, tentu." Jawabnya sekenanya.
"Kita bisa bersantai hingga dua hari kedepan sembari menunggu Hinatamu sampai kemari." Celetuk rekan baiknya Izumo. Dahi bocah pirang itu mengerut, ia jelas terganggu dengan perkataan Kamizumi Izumo, dan melihatnya membuat Kotetsu tak bisa menahan tawanya.
Sang bocah pirang itu menggerutu kesal. Ia berbalik menatap Kotetsu dengan ekspresi wajah sebal yang nampak jelas di wajahnya, "Tertawalah dan akan kubuat kau menyesal setelahnya."
"Aku meragukannya, Boruto." balas Kotetsu.
"Kau mau bertaruh?"
Izumo mendorong bahu Boruto pelan, berusaha melerai rekan timnya. Ayolah, Bagaimana bisa Kotetsu jadi kekanak-kanakan semenjak Boruto bergabung dalam timnya?
"Astaga, biarkan aku menghabiskan waktuku yang berharga dengan tenang. Tidak bisakah kalian sedikit membantuku?"
Uzumaki Boruto berdecak sebal. Ia menyingkirkan tangan Izumo di bahunya, "Singkirkan lenganmu."
Kotetsu menggelengkan kepalanya. Baiklah, sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk bermain-main dengan bocah pirang di depannya. Mengingat betapa menyebalkannya bocah ini ketika ia mulai bertingkah. Oh, Sandaime-sama juga sudah memperingatkan mereka berdua perihal kelakuan Boruto yang ajaib dan tidak bisa di kendalikan.
"Baiklah, kau selalu menang 'kan? Aku menyerah." Kotetsu mengangkat kedua tangannya sebagai tanda bahwa ia tidak mau memperpanjang masalahnya dengan si sulung Uzumaki. Bagaimanapun jika hal ini terus berlanjut, ia akan sangat kerepotan.
Manik Kotetsu menangkap Izumo yang sedikit tersadar akan sesuatu. Chunnin yang berkamuflase itupun mengernyit heran menatap rekan baiknya. "Bicara soal selalu menang.." Kamizuki Izumo nampaknya sengaja menggantungkan kalimatnya. Ia mengangkat dagunya, seolah menunjuk sesuatu dengan dagu.
"...coba lihat siapa yang datang." Lanjut Izumo akhirnya. Kotetsu dan Uzumaki muda itupun berbalik. Kotetsu tersenyum lebar begitu tahu siapa yang baru saja Izumo maksudkan, "Wah.. Dia ya."
Boruto mengangkat sebelah alisnya tak mengerti, "Dia?"
Izumo dan Kotetsu menepuk kepala sang Uzumaki pirang. Yah, tentu saja bocah ini tak akan tahu Dia yang mereka maksud.
"Kau lihat tim yang baru datang disana?" Tanya Izumo sembari menunjuk tiga orang yang baru saja melewati pintu masuk. Kotetsu bisa dengan jelas melihat kernyitan di wajah Boruto, menandakan bahwa bocah itu sama sekali tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka saat ini.
"Orang terkuat ada dalam tim itu. Dia adalah shinobi berbakat nomor satu sejak tahun lalu." Kali ini Kotetsu yang angkat suara. Uzumaki Boruto menyipitkan matanya, "Ada tidak orang disana. Yang mana Dia yang kau maksud?"
Lagi, Kotetsu melemparkan pandangannya kepada Dia yang dimaksudkannya dan Izumo. Seorang anak laki-laki dengan mata yang tertutup tengah berjalan dengan tenang diiringi oleh kedua rekaannya.
Telunjuk Izumo menunjuk Dia. "Orang itu adalah... Hyuuga Neji."
Uzumaki Boruto mengedipkan matanya. Anak laki-laki dengan rambut panjang coklat itu adalah shinobi berbakat nomor satu? Apa?
"Kau yakin shinobi berbakat nomor satu itu bukan Naruto?" Tanyanya setengah melamun. Telinganya menangkap tawa Kotetsu yang menggelegar, "Kau yakin bertanya begitu?"
Lagi-lagi ia mengerjap. Tunggu sebentar. Ayahnya adalah Hokage di masa depan. Sekalipun kini ia terlihat begitu tidak bisa diandalkan dan bodoh, Uzumaki Naruto seharusnya diakui dengan potensi yang dimilkinya 'kan? Apalagi dengan Biiju dalam tubuhnya.
Benar. kejeniusan yang dimilikinya adalah warisan yang di turunkan orang tuanya. Begitulah yang dikatakan orang banyak sejak dulu sekali padanya. Dan itu artinya Naruto-pun jenius 'kan?
"Hyuuga.. Neji.." Gumam Boruto dengan nada melamun. Ada yang aneh. Tunggu sebentar.
Uzumaki Boruto memasang wajah herannya, "Neji? Hyuuga?"
Seolah tertimpa batu karang, Boruto tersentak berlebihan, "Hyuuga?!"
Izumo berkacak pinggang sambil berdecak, "Kau mendengarku, Boruto."
Boruto meruntuki kebodohannya. Ah, tidak, ia tidak bodoh, ia jenius. Hanya kurang peka. Dan hari ini ia sedang tidak fokus karena kelelahan. Tapi bukan itu masalahnya! Shinobi berbakat nomor satu yang bernama Neji itu adalah seorang Hyuuga? Bagaimana bisa?! Ia bahkan sama sekali tidak mengenal maupun melihat bocah itu dari semenjak ia menginap di kediaman Hyuuga.
"Bukankah seharusnya kau langsung mengenalnya? Mengingat selama ini kau tinggal di mansion Hyuuga." Tanya Kotetsu. Boruto yang tidak melepaskan pandangannya dari Hyuuga Neji itupun menjawab, "Seharusnya begitu. Tapi Hiashi-jiisama sama sekali tak memberitahuku apapun soalnya. Dan lagi..." Di masa depan aku bahkan tidak yakin ada orang Hyuuga yang bernama Neji.
Uzumaki Boruto terhenyak. Tunggu! Mungkin ia keliru sebelumnya. kesadarannya akhirnya bangkit. Ah, benar. Bagaiamana bisa ia melupakannya? Nama itu sudah akrab di telinganya. Tentu saja, saat dirinya jauh lebih muda dari sekarang, Ayah dan Ibunya selalu menceritakannya. Dan sekali lagi, Bagaimana bisa ia melupakannya? Satu-satunya Hyuuga yang bernama Neji adalah...
"Oji-san?!"
Seolah menyadari tatapan yang mengarah padanya, Hyuuga Neji menoleh. Mempertemukan manik Lavendernya dengan birunya safir Boruto. Boruto menggigit bibirnya ketika bibirnya mengancam akan melengkung menyunggingkan senyum yang sudah pasti akan terlihat tolol. Maka ia memilih untuk membuang wajahnya kearah lain dengan bahasa tubuh yang dengan jelas menjabarkan bahwa dirinya merasa salah tingkah.
Boruto memberanikan diri untuk melirik Hyuuga Neji dari ekor matanya. Ia mendapati si Hyuuga dengan rambut lurus itu tengah mengangkat alis dan menatapnya dengan pandangan yang seolah berkata bahwa ia adalah orang bodoh. Sepersekian detik kemudian Hyuuga Neji memutuskan pandangannya. Kembali kepada rekan satu timnya yang lain.
Uzumaki Boruto membenci fakta dimana ia mendapati dirinya sejak tadi menahan napas –ah, lebih tepatnya saat Neji menatapnya. Padahal ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan pada pamannya. Ia ingin mengenal siapa pamannya. Orang yang selalu Ayahnya sebut sebagai seorang pahlawan.
Jika Ayahnya sendiri menganggap Hyuuga Neji adalah pahlawan, berarti pamannya benar-benar kuat!
Boruto memandang kepergian Hyuuga Neji dengan mata yang masih berbinar kagum. Ia meyakini bahwa Neji adalah pahlawan dari semua pahlawan –karena tentu saja ayahnya juga menganggapnya begitu.
"Ah, Sudah kuduga dia memang tidak ramah."
Suara Kotetsu membuyarkan lamunan Boruto tentang betapa hebatnya Hyuuga Neji. Ia menoleh kearah rekan tim dengan rambut jabriknya itu dengan bibir yang mengerucut, "Apa maksudmu-ttebasa?"
Kotetsu menggaruk tengkuknya, "Kau lihat pandangaannya tadi? Dia menatapku seolah ia adalah superior."
"Begitulah biasanya orang yang jenius. Setidaknya kau sudah mulai terbiasa dengan sifat yang seperti itu. kau ingat, kita punya satu disini." Balas Izumo setengah bercanda. Boruto menyipitkan matanya tersinggung, "Aku tahu yang kau maksud adalah aku. Tidak perlu menyindir begitu."
Kamizuki Izumo tertawa kering, "Aku beruntung mendapatkan rekan yang pengertian."
"Kuyakin begitu." Timbrung Hagane Kotetsu. Boruto bedecih. Ia meragukannya.
.
Ujian Chunnin babak ketiga adalah pertarungan satu lawan satu. Siapapun yang menang akan maju ke babak selanjutnya. Babak kedua di Shin no Mori menghabiskan waktu kurang lebih empat hari. Rasa lega menyelimuti dada Boruto begitu mendapati tim delapan –tim Hyuuga Hinata- sampai di hari ketiga, yang berarti mereka berhak mengikuti ujian babak selanjutnya. Sedangkan tim ayahnya –tim tujuh- datang di hari terakhir.
Ia sendiri tak percaya bagaimana bisa tim yang beranggotakan tiga orang legenda di masa depan itu bisa datang dengan catatan waktu terburuk –walaupun lolos dengan sukses. Mungkinkah karena faktor ketiganya masih anak-anak? Tapi 'bakat' itu ada, bukan? Seharusnya mereka bisa lebih baik lagi. Entahlah, Boruto-pun memilih untuk tidak ambil pusing.
Kini semua peserta yang lolos di babak sebelumnya di kumpulkan. Sandaime, para Jounin dan beberapa Chunnin ikut hadir. Boruto menatap sekitarnya, total ada delapan tim yang lolos. Ia sendiri tidak tiba mengira-ngira apa yang terjadi dengan sisanya.
Teknis petarungan akan di tentukan langsung secara acak. Uzumaki Boruto meringis begitu ia merasakan dadanya bergemuruh. Oh, sialan, jangan katakan ia mulai gugup.
"Pertarungan pertama! Uzumaki Boruto vs Tsurugi Misumi!" suara Gekkou Hayate terdengar nyaring. Boruto nyaris terjungkal mendengar bahwa dirinyalah yang akan pertama bertanding. Oh, yang benar saja! Jangan bercanda! Tokubetsu Jounin bernama Hayate itu pasti mengelabuinya!
Putra Nanadaime itu merasa punggungnya di tepuk, "Yo! Berjuanglah. Anak jenius."
Tanpa perlu melihatpun Boruto yakin Izumo dan Kotetsu-lah pelakunya. Alih-alih merasa di semangati, entah kenapa Boruto merasa itu adalah sebuah sindiran yang seolah mengejeknya.
"Sialan."
Boruto mendapati Hyuuga Hinata menatapnya dengan senyuman yang memesona –seakan berkata 'berjuanglah'. Boruto membalasnya dengan seulas senyum lebar andalannya.
Kini ia berada di arena pertandingan. Berhadapan langsung dengan seorang dengan cadar yang menutupi mulutnya serta kacamata bulat yang tembus pandang. Headband didahinya membuktikan bahwa ia adalah seoarng Genin Konohagakure.
Uzumaki Boruto menghela napasnya, lantas melemaskan tubuhnya. Tidak ada waktu untuk gugup. Ia harus membuat ibunya merasa terkesan dengannya. Selain itu, ia juga ingin membuktikan kepada Sasuke-occhannya, Hyuuga Neji, semua orang disini, dan tentu saja ayahnya bahwa ia memang kuat. ia adalah si jenius Uzumaki Boruto.
Ia tidak akan mengijinkan siapapun memandang remeh dirinya. Uzumaki Boruto akan menunjukan betapa besarnya perbandingan kekuatan manusia masa depan dan masa kini.
Maniknya bersirobok dengan milik sang ayah. Ayahnya sedang melihatnya. Ia tidak boleh menunjukan dirinya yang lemah didepan ayahnya.
Boruto menyunggingkan senyum miringnya, "Aku sedang tidak berniat untuk kalah-ttebasa."
.
~À Suivre~
.
A/N: Hallooooooooo! Akhirnya Bieber balik XD Maaf ya lagi-lagi –sangat- telat update. Bieber lagi di sibukan oleh kepentingan dunia nyata X'''D Bieber harap kalian mengerti :'3
Apakah masih ada yang menunggu ff ini? Bieber akan senang sekali jika kalian memberikan kesan dan pesan untuk chapte kali ini ^^ terima kasih untuk membaca/Review/Fav/Follow ff ini. Bieber sangat senang dengan semua apresiasi yang kalian berikan. Oh, sedikit penjelas di chapte ini.
Ada yang kenal Tsurugi Misumi? Pasti nggak ya? Dia adalah bagian dari tim Kabuto yang mengikuti seleksi ujan Chunnin. Di canon dia melawan Kankuro. Tapi karena minor, Bieber memutuskan untuk menjadikan dia sebagai lawan Boruto. sedang Kankuro? Dia akan Bieber pasangkan dengan Izumo atau Kotetsu ^^ Maaf ya Bieber ganti seenaknya :(
Ah, sebelum ada yang bertanya. Yap! Misumi memakan headband berlambang Konoha selama Ujian chunnin berlansung. Aslinya dia ninja Otogakure ^^ (Kamuflase, hal yang sama yang di lakukan Kabuto selama ujian Chunnin berlangsung.)
Satu lagi:
saya mau nanya, ini ff kok rasanya saya pernah liat, tapi authornya *sensor*
ini ngejiplak atau yg itu ngejiplak?
Sayangnya ini guest. Awalnya Bieber mutusin buat tutup kuping soal review yang seperti ini. Tapi semua author juga sedih kalau karya yang udah kita buat capek-capek disebut plagiat :( Tolong jangan ada yang bertanya seperti ini. Bieber buat ff ini benar-benar hasil jungkir balik otak :''D author yang bersangkutan pasti juga sedih kalau di bilang ngejiplak :(
Segitu doang yang Bieber mau sampaikan ^^ jangan lupa untuk mampir dan Review. Sekali lagi maaf Bieber gak bisa nepatin janji untuk selalu update. Bieber harap semuanya mengerti^^
Aakhir kata,
Mind to Review?
