Baekhyun menangis tersedu-sedu. Punggungnya bergetar tak beraturan dalam dekapan Kai. Ia terisak keras hingga rasanya sangat sulit untuk sekedar mengais oksigen. Ia sangat takut saat mesin itu menunjukkan bahwa jantung Chanyeol berhenti berdetak. Tak henti-hentinya ia berdoa supaya Chanyeol baik-baik saja. Ia sangat takut. Dokter meminta izin keluarga Chanyeol untuk menggunakan alat kejut jantung.

Bagaimana jika Chanyeol meninggalkannya?

"Tidak boleh.. Chanyeol tak boleh pergi Kai.. hiks hiks" Baekhyun berbicara nyaris putus asa di dada Kai. Mengeratkan remasannya pada jaket yang Kai kenakan. Sementara punggungnya di elus dengan lembut oleh Kai.

"Chanyeol akan baik-baik saja..." elusan itu beralih dari punggung ke kepalanya. Sesekali ia mengecup pelipis Baekhyun tanpa ragu, "...hyung." dan itu adalah panggilan 'hyung' yang mungkin dapat dihitung dengan jari seberapa banyak Kai memanggilnya demikian setahun belakangan.

Setelah melewati penantian yang sangat menyakitkan, tim medis keluar dari ruang ICU. Seorang pria membuka maskernya lalu membungkuk pada mereka yang serempak berdiri, termasuk Baekhyun yang masih berada dalam dekapan Kai.

"Pasien memiliki keinginan hidup yang sangat tinggi. Detak jantungnya memang sempat menghilang tapi untungnya kembali lagi setelah kami menggunakan alat kejut jantung. Detak jantungnya cukup lemah, kita lihat perkembangannya besok."

Baekhyun menutup mulutnya sambil menggeleng kalut di dada Kai. Membayangkan betapa besarnya perjuangan Chanyeol melawan maut didalam sana.

"Terimakasih seonsaengnim" Yoora mengusap air mata dan hidungnya yang memerah, membungkuk pada dokter dengan penuh rasa terimakasih sebelum dokter itu pergi meninggalkan mereka dalam keadaan cemas.

"Dengar kan? Pacarmu baik-baik saja" tangan Kai mengusak kepala Baekhyun sambil tersenyum lebar.

Baekhyun tak menjawab. Dia terdiam masih dengan isakannya saat semakin lama kepalanya terasa semakin pening dan ia jatuh dalam pelukan adiknya.

Orang-orang disana mulai panik. Mengguncang tubuhnya yang sudah terkulai lemas sambil berusaha membangunkannya.

Kai adalah yang pertama mengambil tindakan, tentu saja. Ia berlari dengan menggendong Baekhyun dalam pelukannya menuju ke UGD untuk mendapatkan pertolongan.

e)(o

Ia merasa tubuhnya sangat ringan seolah terapung. Kaki-kaki mungilnya terus membawanya melangkah di tempat yang ia pun tak tahu dimana. Sejauh mata memandang hanya terlihat cahaya putih yang menyilaukan mata.

Ini tidak nyata, pikirnya.

Lalu ia mulai mendengar samar-samar suara beberapa orang yang mengobrol. Ketika matanya ia paksa untuk terbuka, ia menemukan Jongdae, Xiumin, Sehun serta Kai.

Jongdae dan Xiumin terlihat tengah mengobrol sambil mengupas buah di atas sofa sedangkan Kai dan Sehun berdiri di ujung ranjangnya seraya membicarakan sesuatu dengan serius.

"Dimana aku?" Suaranya berhasil menarik perhatian keempatnya. Mereka menoleh secara serempak dan terkejut saat mendapati Baekhyun sudah membuka matanya. Ia sebenarnya sudah dapat menebak ia berada dimana, tetapi bibirnya tetap saja bertanya dengan refleks.

"Hyung.. ah syukurlah kau siuman" Sehun menggenggam tangannya dengan lembut. Mengusapkan jempolnya diatas punggung tangan Baekhyun.

"Kau di rumah sakit, Baekkie. 2 hari tertidur dan membuat kami cemas. Kakak-kakakmu baru pulang barusan karena harus bekerja." Xiumin yang menjelaskan. Ia mengusap kening Baekhyun yang sedikit panas dengan khawatir.

Baekhyun mengerutkan keningnya dengan susah payah. 2 hari? Ia bahkan merasa bahwa ia terjatuh dalam pelukan Kai belum lama. "Kenapa aku disini?"

"Dokter bilang kau stres dan butuh istirahat. Kau terlalu lama mengosongkan perutmu" Kai menjawab tak acuh. Bahunya terangkat. Ia duduk di ujung ranjang. "Kris Wu berhasil ditangkap polisi. Sidangnya minggu ini"

Tangan Sehun melayang, memberikan sebuah pukulan di kepala Kai tanpa belas kasihan seraya melotot penuh peringatan. "Bodoh! Jangan katakan itu dulu padanya! Dia baru saja bangun" omelnya.

Entah kenapa Baekhyun merasa lega. Senyumnya mengembang saat melihat interkasi Kai dan Sehun. Lalu ia teringat akan sesuatu, "apa Chanyeol masih di ICU?"

Semuanya terdiam. Suasana tegang yang menggantung di udara terasa sangat mendominasi. Lalu Jongdae berdehem dengan kaku. "Ya, dia masih disana Baek"

"Aku ingin kesana" ia bendak bangkit melawan rasa lemas tubuhnya namun Sehun dan Jongdae segera menahan tubuhnya untuk tetap berbaring.

"Kau baru bangun. Dokter harus memeriksamu, Baek. Saat kau sudah baikan kau boleh kesana" tutur Jongdae, memberikan sebuah penawaran dan Baekhyun hanya diam tak membantah.

Dokter datang beberapa menit kemudian, memeriksanya dan mengatakan bahwa kondisinya sudah lebih baik akibat cairan infus. Demamnya akan menurun dalam 1 atau 2 hari. Dokter juga menyuruhnya untuk mengisi perut saat ini.

Makanan rumah sakit tidak enak. Ia tahu itu. Bukan karena mereka tidak becus memasak, tapi karena ia sedang sakit dan selera makannya menghilang. Semuanya terasa pahit. Apapun.

Setelah menyelesaikan sarapannya ia memaksa pada Kai dan teman-temannya untuk bisa pergi ke tempat Chanyeol. Mereka menyetujuinya, dan mendorongnya dengan menggunakan kursi roda.

"Kalian membolos?" Tanya nya ketika Kai mendorong kursi rodanya melintasi lorong menuju lift.

"Meliburkan diri sepertinya lebih enak didengar, hyung" Sehun tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya tanpa merasa berdosa. Baekhyun terkekeh, selalu merasa terhibur saat mereka ada di sekitarnya. Sangat membantu.

"Bisakah aku masuk kedalam sendirian?" Pintanya. Mereka saling bertatapan didepan pintu masuk ICU dan Kai mengangguk setuju.

"Panggil kami jika butuh bantuan" lelaki tan itu membuka pintu ruang ICU, membiarkan Baekhyun masuk kedalam.

Mata Baekhyun terlihat sayu saat melihat tubuh jangkung Chanyeol masih berbaring disana dengan alat bantu pernafasan. Semakin ia mendekat, semakin keras pula denyutan di dadanya yang terasa begitu menyakitkan.

"Chanyeol.."

Saat kursi roda yang ia dorong sendiri sudah sampai di sebelah tempat Chanyeol berbaring, ia beralih untuk menggenggam tangan Chanyeol yang dilengkapi alat infus.

"Yeollie maaf ya" ia menangis, namun tetap tersenyum dengan cara yang terlihat menyedihkan. "Kalau aku tak mengajakmu ke toko buku saat itu, kau tak akan bertemu dengan Kris, lalu kau tidak akan balapan untukku dan kau tidak akan berbaring disini hiks"

Kepalanya tertunduk kebawah, lalu tenggelam di ranjang masih dengan menggenggam tangan dingin Chanyeol erat.

"Yeol ayolah bangun. Aku merindukanmu," ia meraung, "tolonglah Chanyeol, aku tidak tahan lagi. Jangan terus tertidur seperti ini. Kau membuatku takut," lalu nyaris menjerit frustasi, "aku putus asa. Aku bukan apa-apa tanpa kamu Chanyeol."

Nafasnya tersengal dan suaranya tercekat nyaris cegukan. Rasa rindunya membuat air mata itu tak pernah berhenti mengalir. "Aku mencintaimu Chanyeol, aku mencintaimu. Sangat.." Lirihnya. Masih terus menunduk seraya menangis tersedu-sedu dengan suara keras seperti bocah.

"Aku juga mencintaimu, Baekhyun" suara itu terdengar parau. Tangis Baekhyun berhenti, ia terdiam beberapa saat. Ia akan selalu mengenali suara itu dimanapun dan kapanpun. Jadi ia mendongak dengan wajah berlinangan air mata. "Jangan pernah mengeluarkan air mata lagi untuk lelaki brengsek sepertiku, Baek."

"Chanyeol!" Pekiknya setengah gila setengah bahagia. Tak dapat mempercayai matanya sendiri saat melihat Chanyeol tersenyum tipis padanya dengan tatapan mata yang sayu. "Chanyeol kau bangun!" Ia kembali memekik, lalu bersusah payah turun dari kursi rodanya meski sangat sulit tapi ia dapat melakukannya. Ia menekan tombol di sebelah ranjang Chanyeol untuk memanggil dokter kemudian mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang sambil menatap Chanyeol terpana. "Kau tetap tampan meski tidak mandi nyaris seminggu"

Mereka sama-sama tertawa, "kenapa kau juga berpakaian pasien, baby?" Chanyeol menggapai wajah Baekhyun dengan penuh kasih sayang dan Baekhyun menggenggam tangan Chanyeol di pipinya. Chanyeol sangat cemas saat melihat Baekhyun memakai pakaian pasien sepertinya dengan selang infus yang senantiasa berada di punggung tangannya.

"Aku tidak apa-apa Yeollie. Jangan dulu memikirkan hal lain. Kau harus sembuh dulu" bibir Baekhyun mencebik dengan imut. Menunjukkan kekhawatirannya kepada Chanyeol yang sangat besar. Air matanya sudah ia hapus dan singkirkan jauh-jauh. Chanyeol sudah bangun seperti yang ia inginkan, jadi tak ada alasan lagi untuk bersedih. Ia harus menunjukkan pada Chanyeol bahwa ia begitu bahagia menyambut siumannya Chanyeol.

"Aku tak bisa untuk tak memikirkanmu barang sedetikpun."

Baekhyun kembali merengut. Merasa kesal karena Chanyeol masih sempat menggodanya disaat ia baru siuman. Tapi meski begitu wajahnya tetap merona.

Untung saja dokter segera datang untuk memeriksa keadaan Chanyeol. Ia menyingkir untuk memberikan dokter itu ruang dan merasa sangat lega saat dokter mengatakan bahwa keadaan Chanyeol sudah stabil dan akan di pindahkan ke rawat inap.

e)(o

"Apa bajingan itu mengganggumu selama aku di rumah sakit?" Tanya Chanyeol. Tak henti-hentinya ia melirik sang kekasih dari kaca spion selagi ia menyetir.

Kemarin ia baru saja pulang dari rumah sakit setelah 4 hari perawatan. Ia memaksa pulang pada dokter karena mengingat bahwa 3 hari lagi adalah pertunangan Minho. Ia belum mempersiapkan baju yang akan ia pakai serta kado untuk pertunangan Minho.

"Umm.. hanya tiga hari pertama, Yeol." Baekhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol dengan manja. Begitu merindukan pelukan Chanyeol.

"Baguslah." Chanyeol mengusak kepala Baekhyun dengan gemas. Senyuman bahagia tak pernah lepas dari wajahnya yang tampan.

Tak lama kemudian mobil yang di kendarainya berhenti di pelataran parkir sebuah butik di daerah Apgujeong-dong. Chanyeol mematikan mesin mobilnya, membuka seatbelt dan keluar dari mobil untuk kemudian membukakan pintu untuk Baekhyun-nya.

"Silahkan tuan putri" ia tersenyum sangat lebar pada Baekhyun hingga lesung pipi nya terlihat jelas. Sementara itu Baekhyun nampak malu dan menutup wajahnya beberapa saat sebelum keluar dari mobil dan bergelayut manja di lengan lelaki itu.

"Chanyeol lain kali kau pakai masker saja" Baekhyun merajuk ketika langkah mereka menuju kedalam butik. Lantas Chanyeol mengalihkan perhatiannya padanya, mengambil sejumput rambut Baekhyun untuk menyelipkannya di balik daun telinga Baekhyun yang tak selebar dirinya.

"Kenapa sayang?"

"Aku tak suka kau selalu diperhatikan banyak wanita" bibir Baekhyun mencebik dengan mata berkaca-kaca, lalu ia menyembunyikan wajahnya di tangan Chanyeol membuat langkah pria jangkung itu berhenti saat nyaris mencapai pintu masuk.

Chanyeol merengkuh tubuh Baekhyun lalu membawanya ke dadanya untuk dipeluk. Kepalanya ia sembunyikan di ceruk leher Baekhyun seraya berbisik, "jangan khawatir sayang, mereka tak akan bisa mengalahkanmu. Jangan merendah, hm?"

Baekhyun tak menjawab langsung, namun ia mengerang terlebih dahulu dengan rasa kesal meski pada akhirnya ia mengangguk. "Aku percaya pada Chanyeollie"

Chanyeol tersenyum bangga, mengecup sejenak pipi Baekhyun yang masih menyembunyikan wajahnya di dadanya. Mereka masuk kedalam butik dengan Baekhyun yang masih bermanja-manja pada Chanyeol.

Didalam, mereka berdua mencari-cari setelan tuxedo yang akan mereka pakai di pertunangan Minho nanti. Setelah mendapatkannya, mereka mencobanya. Sepuluh menit kemudian keduanya masing-masing keluar dari kamar pas yang berbeda.

Mereka sama-sama tertegun atas pesona satu sama lain. Begitu mengagumi indahnya sosok yang ada di hadapan masing-masing.

"Kau cantik sekali, baby" ujar Chanyeol tanpa malu. Mengakui keindahan Baekhyun bukanlah sebuah kesalahan, jadi buat apa malu? Justru Baekhyun yang malu, ia merona seraya menundukkan wajahnya seperti biasa. Selalu tak bisa mengendalikan dirinya saat berdekatan dengan Chanyeol.

"Kau juga tampan" cicitnya, dan Chanyeol tak mendengarnya dengan jelas.

"Apa Baek? Aku tidak mendengarnya" suara Chanyeol terdengar menggoda dan itu membuat Baekhyun gemas. Jadi ia mencubit perut kotak-kotak Chanyeol hingga empunya meringis. "Aw.. sakit sayang"

"Dasar menyebalkan" bibir Baekhyun maju kedepan dengan wajah imut, lalu dengan kesal ia kembali ke kamar pas sambil menghentak-hentakkan kakinya membuat beberapa pelayan butik yang ada disana tertawa melihat aksi menggemaskannya. Chanyeol juga ikut tertawa untuk kemudian kembali lagi ke kamar pas untuk mengganti baju seperti yang Baekhyun lakukan.

Setelah selesai mengurus baju di butik, mereka keluar dari sana dan Baekhyun nyaris memekik saat melihat sosok Joy yang berdiri di depan butik, seperti menunggu mereka, atau mungkin menunggu Chanyeol. Lantas Baekhyun mengeratkan pelukannya pada lengan Chanyeol dengan posesif, ingin menunjukkan pada Joy bahwa Chanyeol itu hanya miliknya.

Chanyeol mengerti, ia melepas tangannya dari pelukan Baekhyun membuat Baekhyun salah paham dan nyaris menangis sebelum kemudian tangan Chanyeol beralih ke pinggangnya yang ramping untuk membuatnya lebih merapat.

"Ah.. hai Chanyeol, hai..."

"Baekhyun, Byun Baekhyun. Kekasihku" ujar Chanyeol tanpa ragu saat tatapan Joy beralih pada Baekhyun. Lelaki cantik itu merengut dan menatap Joy sinis membuat Joy agak ragu untuk bicara.

"Aku ingin minta maaf pada kalian, terutama padamu, Baekhyun" Joy menatap Baekhyun dengan rasa bersalahnya namun Baekhyun malah membuang muka, muak melihat wajah Joy. "Sekali lagi maaf sudah menciumㅡ"

"Tck. Sudahlah!" Baekhyun menyela dengan kesal, "ayo Chan kita pergi" dan ia menarik Chanyeol untuk pergi tanpa perlawanan. Chanyeol tak mengatakan apapun selain terkikik sambil memberikan hujan kecupan di pipi Baekhyun hingga mereka masuk kedalam mobil.

"Tidak marah lagi, hm?" Tanya Chanyeol sambil menoel-noel pipi Baekhyun gemas.

"Untuk apa? Chanyeollie kan tidak ada apa-apa dengannya" Baekhyun berucap yakin, menuai senyuman bangga dari Chanyeol. Ia bangga jika Baekhyun lebih mengerti dan mempercayainya. "Sekarang kita kemana?"

Chanyeol memasang pose berpikir, "aku baru ingat bahwa aku punya janji mentratrik ice cream strawberry sepuasnya"

"Aigoo~ kau masih ingat" kekehan manis keluar dari bibir tipis Baekhyun, menularkan senyum kebahagiaan pada si jangkung, "baiklah. Ayo berangkat daddy!"

Dan tawa Chanyeol meledak. Ia mengusak surai Baekhyun dengan gemas hingga tak tertata rapi lagi lalu mulai menjalankan mobilnya mencari kedai ice cream. Ia tertawa karena Baekhyun memanggilnya 'daddy', tentu saja. Ia merasa menjadi daddy kink.

Kedai ice cream nya terletak tak terlalu jauh dari butik. Jadi tak memerlukan waktu banyak dengan menaiki mobil.

Seperti biasa, Chanyeol turun lebih dulu dan tak membiarkan Baekhyun membuka pintu mobilnya sendiri. Bahkan ia melepaskan seatbelt Baekhyun dengan begitu jantannya.

"Terimakasih tampan" Baekhyun mencubit ㅡlagiㅡ perut Chanyeol dengan senyum menggemaskan. Mencubit perut Chanyeol adalah kegiatan favoritnya sekarang.

Mereka berjalan di trotoar masih dengan bergandengan tangan, Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dengan begitu erat dan posesif namun juga lembut secara bersamaan seakan tak ingin Baekhyun hilang di keramaian.

Keduanya tengah asik saling melempar candaan saat Baekhyun tak sengaja bertabrakan dengan seseorang hingga langkah mereka terhenti.

"Maaf, aku tidak sengaja" ujar pria yang barusan bertabrakan dengan Baekhyun. Dia membungkuk beberapa kali sebelum mengangkat wajahnya hingga mereka kini saling bertatapan.

Baekhyun terdiam beberapa saat, sampai matanya beralih menatap lengan seorang lelaki yang lebih tinggi yang berada di bahu lelaki yang baru saja bertabrakan dengannya. Mereka berdua datang bersama, seperti halnya dirinya dan Chanyeol.

"Baby? Kau tak apa?"

Ia baru sadar saat mendengar bisikan suara bass Chanyeol yang terdengar cemas. Lantas dirinya mengangguk kaku sambil memasang senyum yang tak kalah kakunya.

"Aku juga minta maaf" Baekhyun menganggukan kepalanya pada lelaki itu sebelum mereka kembali berjalan dan masuk kedalam kedai ice cream.

"Sayang, ada masalah? Kau terlihat tidak baik" tangan Chanyeol beralih mengusap kepalanya saat mereka sudah duduk didalam kedai.

Ada jeda yang cukup lama disana hingga Baekhyun balik menatap Chanyeol dengan gelisah, "lelaki barusan itu Lee Taemin hyung, seseorang yang akan bertunangan dengan kak Minho"

Sekarang Chanyeol mengerti kenapa Baekhyun merasa gelisah, pasti karena tadi Taemin bersama lelaki lain. Tidak, itu bukan ayahnya. Jelas-jelas usia mereka sepertinya tidak jauh berbeda.

"Jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu. Mungkin itu temannya"

Senyum Chanyeol membuat Baekhyun sedikit lega, Chanyeol benar. Mungkin itu temannya. Jadi ia pun mengangguk pada Chanyeol hingga matanya membentuk bulan sabit yang sangat disukai Chanyeol.

"Channie kau mau apa?" Tanya Baekhyun manis saat seorang palayan datang membawa buku menu.

"Ice cream pisang"

"Ih Channie.. buat apa makan pisang? Kau kan juga punya" Baekhyun berbisik dengan leluconnya pada Chanyeol dan Chanyeol terbahak sampai mencubit pipi Baekhyun.

"Ini kan tidak bisa dimakan, babe"

Baekhyun terkikik, Chanyeol juga. Lalu Baekhyun menyebutkan pesanannya pada palayan yang kemudian berlalu untuk membuatkan pesanan mereka.

"Jadi..." perhatian Baekhyun teralihkan pada Chanyeol saat suara bass kekasihnya itu menyapa gendang telinganya, "kenapa Changmin hyung dan Donghae hyung keduluan oleh Minho hyung untuk memiliki pasangan?" Chanyeol sedikit tertawa, begitupun dengan Baekhyun.

Lantas yang lebih mungil menggeleng dengan pose imut, "tidak tahu. Mereka tidak laku mungkin."

"Aihh~" Chanyeol menyentil hidung Baekhyun dengan gemas, "itu jawaban yang mengerikan"

"Sudah ah, kenapa jadi membicarakan mereka. Kita bicarakan tentang kita saja" Baekhyun merona saat ia menyadari apa yang baru saja ia katakan. Dan Chanyeol menanggapinya dengan baik.

"Mmm.." Chanyeol memasang pose pura-pura berpikir, "jadi kapan kau siap untuk kubawa ke pelaminan?"

Baekhyun terkejut, matanya melebar dengan sendirinya dengan ekspresi tidak percaya. Kemudian ia mengerutkan keningnya sambil mencubit manja punggung tangan Chanyeol yang ada di atas meja.

"Sekolah dulu yang benar sana" omelnya dan Chanyeol justru tertawa saat melihat ekspresi merajuk Baekhyun yang begitu menggemaskan.

"Ayayay kapten!"

Beberapa saat kemudian pesanan datang dan perhatian Baekhyun sepenuhnya teralihkan oleh ice cream strawberry dengan toppings buah strawberry segar yang bertaburan disana sini. Chanyeol yang melihatnya hanya tersenyum kecil. Baekhyun selalu terlihat cantik dimatanya, bagaimanapun caranya.

"Pelan-pelan saja, sayangku. Aku tak akan memintanya kok" wajah Baekhyun merah sampai ke telinga mendengar panggilan Chanyeol untuknya. Betapa manisnya.

Jempol Chanyeol yang besar beralih untuk mengambil sejumput rambut Baekhyun dan menyelipkannya di belakang telinganya. "Kau sangat cantik" pujinya dan Baekhyun menundukkan kepalanya begitu dalam hingga Chanyeol tak bisa melihatnya dan terpaksa membuat Baekhyun mendongak lagi unyuk kemudian mencuri sebuah kecupan di bibir tipis Baekhyun yang selalu membuatnya gila.

"Terimakasih sudah menjadi milikku" bisiknya dengan penuh rasa kegembiraan dalam hatinya.

"Terimakasih juga sudah mempercayaiku" Baekhyun menggenggan tangan Chanyeol erat, menyalurkan perasaannya yang begitu membuncah saat bersama dengan Chanyeol.

e)(o

Matahari sudah kembali ke peraduannya ketika langkah Chanyeol membawa Baekhyun kedalam sebuah cafe untuk mengisi perut setelah berjam-jam menghabiskan waktu bersama.

Setiap langkahnya selalu diikuti lirikan para wanita yang memujanya, dan mereka begitu iri kala sang pangeran tampan menggenggam dengan posesif tangan seorang pria yang bahkan secantik wanita. Mereka begitu menyayangkan tentang itu, mengapa pria setampan itu adalah seorang gay padahal mereka yakin diluar sana banyak wanita yang menginginkannya. Baiklah, itu bukan urusan mereka sebenarnya. Tapi ketampanan Chanyeol memang bukan sesuatu yang bisa di abaikan.

"Mereka terus memperhatikanmu, Yeollie" Baekhyun memanyunkan bibirnya untuk merajuk. Kejadiannya selalu sama, semuanya selalu mencuri pandang pada Chanyeol-nya yang tampan dan itu selalu membuatnya kesal setengah mati.

"Baby, mereka sudah tahu bahwa aku milikmu. Tak kan ada yang berani merebutku darimu"

"Tapi aku kesal" Baekhyun masih merajuk.

Kelemahan Chanyeol adalah ketika Baekhyun merajuk padanya. Maka dari itu ia pindah duduk ke sebelah Baekhyun untuk memeluknya dengan penuh kasih sayang sambil membisikkan kata-kata cinta seperti biasanya.

"Sudah aku bilang mendapatkanmu sangatlah sulit, aku tak akan menyia-nyiakanmu apapun yang terjadi, Baekhyun-ah. Aku sangat mencintaimu sampai ke tulang-tulang"

Baekhyun mengangguk dalam pelukan Chanyeol. Semakin menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol saat mendengar para pengunjung berbisik-bisik karena adegan manis mereka.

"Jadi, kau mau makan apa?"

"Steak" bisik Baekhyun sambil semakin erat memegang kaus yang dipakai Chanyeol.

Waktu berlalu dan pesanan mereka datang. Chanyeol juga ikut memesan steak saat Baekhyun menginginkannya. Kekasih mungilnya itu tak lagi merajuk padanya akibat bujuk rayu nya.

Chanyeol memotong steaknya dengan apik lalu menukarkan piringnya dengan milik Baekhyun seraya tersenyum tampan yang akan membuat hati siapapun meleleh ketika melihatnya, termasuk Baekhyun.

"Makanlah." Ujarnya.

"Terimakasih, Chanyeollie" Baekhyun mengangguk malu-malu dan mulai memakan potongan steak yang Chanyeol buat untuknya.

Chanyeol selalu membuatnya mati gaya. Pria pejantan itu selalu melakukan hal jantan yang sangat mengesankan. Selama mereka berpacaran, tak pernah sekalipun Chanyeol membentaknya, hanya saja Chanyeol pernah bersikap dingin padanya. Itu adalah saat dimana kakak-kakaknya keterlaluan mempermainkannya. Kini tidak lagi.

Perlakuan Chanyeol padanya membuatnya tersipu dan juga merasa bersyukur bahwasanya ia memiliki Chanyeol dan Chanyeol memilih nya. Banyak wanita diluar sana yang sangat cantik dan menginginkan pria jangkung itu ataupun juga para submisif yang berminat padanya namun Chanyeol lebih memilihnya, dengan alasan yang menurutnya sangat klise ㅡhanya karena seragam olahraga. Setidaknya ia harus berterimakasih pada Kai karena berkat kelakuan adiknya yang merepotkan itu ia bisa bertemu dengan Park Chanyeol si arogan dan preman sekolah.

Tapi, ia jadi teringat sesuatu...

"Chanyeol, apa kau masih suka berkelahi?" Tanyanya dengan pandangan polos yang menusuk mata Chanyeol.

Pria itu mengunyah dagingnya dengan ritme pelan sebelum menelannya dan tersenyum lucu pada Baekhyun, "kau bertanya seolah berkelahi adalah hobiku"

Baekhyun memanyunkan bibirnya tidak setuju, "itu kan memang hobimu."

Kali ini Chanyeol terkekeh disertai deheman beberapa kali, "baiklah, baiklah. Aku tidak berkelahi sejak keluar dari rumah sakit. Lagipula noona ku mengurungku seharian di rumah. Baru kali ini aku keluar rumah lagi"

"Ah.. Yoora noona, aku menyukainya, Chanyeol-ah" wajah Baekhyun kelihatan berseri-seri, matanya berbinar semangat seperti puppy dan itu berhasil membuat Chanyeol mendengus tidak suka melihatnya.

"Jadi kau menyukainya atau menyukaiku?" Tanya Chanyeol dengan bibir cemberut yang entah dia sadar atau tidak, tapi itu terlihat seperti ekspresi tengah merajuk.

"Tentu saja kamu, Chanyeollie" Baekhyun tersenyum malu-malu sambil menjewer telinga Chanyeol dengan main-main.

Empunya telinga meringis kesenangan. Baekhyun-nya terlihat begitu menggemaskan dan cantik, selalu.

Hingga saat ada band tampil di panggung restaurant, mereka masih disana. Ketika lagu ballad yang dibawakan band tersebut berakhir, Chanyeol tiba-tiba saja maju, berbisik pada sang vokalis bahwa ia meminta izin untuk meminjam anggota band nya demi membawakan satu lagu.

Baekhyun tidak tahu apa yang akan dilakukan Chanyeol, jadi dia diam saja meski telinganya terasa panas ketika mendengar pujian-pujian dari para wanita yang mulai menggilai ketampanan kekasih jangkungnya.

Chanyeol duduk di kursi di atas panggung, dengan gitar yang berada di pangkuannya serta mikrofon menyala di depan bibirnya. Tatapannya tak pernah lepas dari Baekhyun disertai sebuah senyum tampan yang begitu memukau.

"Selamat malam" sapa Chanyeol setelah berdehem dengan suara beratnya melalui mikrofon. Para wanita langsung menyambut sapaannya dengan semangat membuahkan sebuah dengusan dari Baekhyun yang kini duduk sendirian di mejanya. "Hari ini adalah hari yang sangat berarti bagiku. Karena aku bisa menghabiskan waktu bersama seseorang yang sangat aku kasihi"

Para pengunjung mulai berisik kembali, mereka mengikuti kemana pandangan manis Chanyeol berlabuh dan mereka menemukan seorang lelaki mungil yang cantik yang duduk sendirian di mejanya.

"Lagu yang aku bawakan adalah untuknya, untuk Byun Baekhyun, kekasihku" ucapan manisnya membuat semua orang menjerit histeris, membayangkan jika mereka lah yang ada di posisi Baekhyun saat ini. "Baekhyun-ah, terimakasih sudah menerimaku apa adanya. Dan... kuharap kau tidak menganggap bahwa ini hanya sebuah lagu."

Chanyeol tersenyum ㅡlagiㅡ kemudian mulai memetik gitar di pangkuannya dan musik dari lagu How To Say dari mengalun dengan lembut.

eotteoke malhalkka

Bagaimana mengatakannya?

neol joahandago

Aku menyukaimu.

geujeo baraman bwado

Hanya dengan melihatmu

nae gaseumi tto tteollyeoondago

hatiku bergetar lagi.

naege useo boimyeon

Bila kau tersenyum padaku

nan naragandago Um Um

Aku akan terbang.

sesang modeun yuchihan noraedo

Lagu-lagu kekanakan di dunia

modu nae mam gatdago

semuanya seperti hatiku.

haru jongil ni saenggage

Sepanjang hari Aku memikirkanmu.

dugeungeorineun haengbokan sangsangdeul

Jantung berdebar, khayalan bahagia.

oneul gateun bam kkumkkwotdeon sigan

Di malam seperti ini, malam yang Ku mimpikan.

modu nae mame dameullae

Akan Ku letakkan semuanya di dalam hatiku.

haetsari joeun nal anin nal

Baik di hari cerah maupun tidak.

iyu eopsi manyang geunyang seulpeun nal

Di hari kau sedih tanpa alasan.

geudae sonjabajulge

Akan Ku ulurkan tanganku padamu.

ije nae mam deureobwa

Sekarang dengarlah hatiku.

naega wae ireolkka

Mengapa Aku begini?

tto useumman nawa

Aku terus tertawa.

hanchameul neol mannagi wihae doraon geot gateunde

Terasa seperti kembali bertemu denganmu setelah waktu lama.

dugeundaeneun mami seolleneun gibuni joa

Jantung berdebar, perasaan yang menyenangkan.

nunbusige useojudeon

Kau tersenyum mempesona.

neoege na jigeum dallyeoga

Aku berlari ke arahmu sekarang.

haru jongil ni saenggage

Sepanjang hari Aku memikirkanmu.

dugeungeorineun haengbokan sangsangdeul

Jantung berdebar, khayalan bahagia.

oneul gateun bam kkumkkwotdeon sigan

Di malam seperti ini, malam yang Ku mimpikan.

modu nae mame dameullae

Akan Ku letakkan semuanya di dalam hatiku.

haetsari joeun nal anin nal

Baik di hari cerah maupun tidak.

iyu eopsi manyang geunyang seulpeun nal

Di hari kau sedih tanpa alasan.

geudae sonjabajulge

Akan Ku ulurkan tanganku padamu.

ije nae mam deureobwa

Sekarang dengarlah hatiku.

ireoke oneuldo

Begitu pula hari ini.

nae ape banjjak georinda

Kau bersinar di hadapanku.

neoraneun byeore

Pada bintang yaitu dirimu,

sigani meomchun deut

waktu seakan berhenti.

haru jongil ni saenggage

Sepanjang hari Aku memikirkanmu.

dugeungeorineun haengbokan sangsangdeul

Jantung berdebar, khayalan bahagia.

oneul gateun bam kkumkkwotdeon sigan

Di malam seperti ini, malam yang Ku mimpikan.

mwodeun jeonhal su inneunde

Aku bisa menyampaikan apapun padamu.

haetsari joeun nal anin nal

Baik di hari cerah maupun tidak.

iyu eopsi manyang geunyang seulpeun nal

Di hari kau sedih tanpa alasan.

geudae kkok anajulge

Akan Ku peluk kau erat.

ije nae soneul jababwa

Sekarang peganglah tanganku.

Wajah Baekhyun bersemu merah, matanya berkaca-kacaㅡ mengapresiasi apa yang Chanyeol lakukan untuknya. Chanyeol selalu punya kejutan, selalu. Dan ia tak akan pernah menyesal telah memberikan hatinya pada pria berandal itu.

e)(o

"Aku gugup sekali" Baekhyun mengepalkan tangannya masing-masing di atas paha dengan perasaan yang tidak menentu sementara itu mobil yang membawanya terus melaju mendekati tempat yang akan ia tuju.

"Kenapa gugup? Yang akan bertunangan kan Minho hyung." Chanyeol terkekeh sambil menjawil hidung mancung Baekhyun yang duduk di sebelahnya sedangkan matanya masih fokus untuk mengemudi.

"Tapi aku gugup, Chanyeollie" suara Baekhyun terdengar merajuk.

"Apa ini tentang orang yang akan bertunangan dengan kakakmu?" Kali ini Chanyeol melirik sekilas padanya dan melihat ada banyak keraguan di raut wajah si mungil.

"Yaa.. begitulah" jawabnya ragu.

"Positive thinking, babe"

.

Ketika Chanyeol membukakan pintu mobil untuknya, ia dapat melihat perhatian orang-orang langsung tertuju pada mereka. Apalagi saat mereka berjalan menuju ke tempat resepsi.

Penampilan mereka yang sangat luar biasa dan cocok membuat para tamu mengira bahwa mereka lah bintang acaranya.

"Ini Minho atau Baekhyun yang mau bertunangan?" Suara tawa pamannya ㅡYunhoㅡ terdengar menggelegar ditengah kebisingan yang terjadi. Baekhyun sedikit malu dan menyembunyikan wajahnya di belakang lengan Chanyeol dengan manja.

Chanyeol menanggapinya dengan baik, ia mengelus surai Baekhyun lembut, lalu ia berhenti saat melihat dua orang pria yang berdiri di dekat Minho. Itu calon tunangannya serta pria yang tempo hari berpapasan dengan mereka.

"Baek, sepertinya orang itu bukan saingan kakakmu" Chanyeol berbisik pelan membuat Baekhyun menyembulkan kepalanya dari balik lengan kekar Chanyeol untuk melihat apa yang terjadi.

Dan seperti apa yang Chanyeol katakan, pria itu sepertinya memang bukan saingan Minho. Pria itu justru terlihat mengobrol akrab dengan Minho.

Lalu ketika pertukaran cincin selesai, Baekhyun mengetahui bahwa pria itu bernama Lee Jinki ; saudara sekandung dari Lee Taeminㅡ tunangan Minho.

"Merasa lega, hm?" Chanyeol menatapnya lembut, sangat lembut hingga rasanya tatapan itu terlalu imajiner untuknya.

"Tentu. Aku merasa buruk karena sudah berburuk sangka padanya"

"Jadi, bagaimana jika kita memberi mereka ucapan selamat?"

Baekhyun mengangguk, menyetujuinya. Langkahnya disesuaikan saat Chanyeol membawanya menuju ke arah dimana Minho dan Taemin berdiri dengan beberapa orang yang memberikan ucapan selamat atas pertunangan mereka.

"Baekhyunee ku" Minho tanpa segan memeluk Baekhyun dengan erat, mengecup pipinya dengan manis tanpa mengindahkan tatapan orang-orang. Baekhyun itu adiknya, jadi apa masalah mereka jika dia mencium pipi adiknya sendiri?

"Kak Minho!" Tangan Baekhyun tiba-tiba sudah ada di perut Minho dan mencubitnya dengan cukup keras hingga mengundang pekikan kecil dari mantan ketua preman Jungshin itu. Taemin di sebelahnya hanya terlihat menahan tawa saat melihat interaksi Minho dan Baekhyun.

"Selamat atas pertunanganmu, hyung" Chanyeol menengahi bersamaan dengan tangannya yang berjabat dengan Minho. Yang lebih tua lantas meletakkan tangannya di punggung Chanyeol kemudian memeluknya beberapa saat sambil berbisik ; "jaga adikku" yang dibalas Chanyeol dengan ; "tentu"

"Kau tidak lapar, babe? Kenapa kau tidak pergi mencicipi beberapa hidangan di atas meja?" Minho mengelus kepala Baekhyun dengan sayang sementara itu yang lebih muda justru menggeleng dengan cara yang sangat menggemaskan.

"Selamat atas pertunangan kalian, kuharap semuanya berjalan lancar" Baekhyun tersenyum manis ke arah Taemin, mengabaikan sejenak Minho dan Chanyeol.

Pria cantik yang sangat kurus itu balas tersenyum kecil, "terimakasih, Baekhyun. Kuharap juga begitu"

e)(o

Baekhyun tertawa sambil menjerit sesekali ketika Chanyeol berlari ke arah air menyambut ombak dan kemudian kembali berlari lagi ke pesisir dengan ia yang berada di punggung pria itu.

"Chanyeol hentikan! Bajumu basah, bodoh!" Baekhyun berteriak di telinga Chanyeol berusaha mengalahkan kerasnya suara debur ombak yang menabrak karang.

"Aku bisa ganti baju, Bee"

"Kau bisa masuk angin, bodoh!" Baekhyun kembali mengumpat di belakangnya. Lantas Chanyeol mendengus dan mencuri sebuah kecupan kilat dari kekasih cantiknya itu.

Yang lebih tua memekik kesal namun tetap tersenyum setelahnya. Ia mengeratkan pelukan tangannya pada leher yang lebih muda, menghirup dalam-dalam aroma khas pria jangkung itu.

"Kau senang, hm?"

"Um! Terimakasih, Yoda" Baekhyun terkikik, disusul dengan beberapa hujaman kecupan di leher berjakun kekasih tinggi nya. "Yeol.. apa aku berat?" Tanyanya dengan mata berkedip polos.

"Sangat" Chanyeol menampilkan ekspresi dramatisnya dan langsung di hadiahi pukulan main-main di punggungnya serta tarikan keras di telinganya.

"Ah! Ah! Baek! Telingaku sakit!" Chanyeol memekik seperti anak-anak dan Baekhyun melepaskan telinga lebar itu setelah ia merasa puas. Si cantik kembali tertawa renyah lalu menciumi telinga lebar Chanyeol dengan penuh sayang. Sesekali meniupnya untuk menghilangkan sakit akibat jewerannya tanpa sadar bahwa itu membuat Chanyeol meremang.

"B-baek, jangan meniupnya seperti itu, babe"

"Kenapa?" Chanyeol semakin salah tingkah ketika ia menoleh dan mendapati wajah polos Baekhyun yang bersandar nyaman pada bahu lebarnya. Beberapa kali ia kedapatan menelan ludahnya sendiri dan Baekhyun memperhatikan itu semua dengan matanya.

"P-pokoknya jangan saja, sayang" Baekhyun turun dari pangkuan Chanyeol lalu menatap kekasihnya yang tinggi itu dengan sebuah senyum jahil.

"Aku sayang kamu" tiba-tiba saja Baekhyun menerjang Chanyeol dengan sebuah pelukan erat yang sarat tak mau kehilangan.

Chanyeol juga membalas pelukan si mungil sambil sesekali mengecupi pucuk kepala Baekhyun. "Aku juga sayang kamu, Byun Baekhyun"

Wajah Baekhyun bersemu di dada Chanyeol. Jantungnya selalu saja berdetak cepat, padahal hal seperti ini sudah sering terjadi diantara mereka berdua.

"Baek.."

"Hm?"

"Bagaimana jika aku mengajakmu bertunangan tahun ini? Seperti kak Minho"

Kelopak mata Baekhyun berkedip beberapa kali, perlahan-lahan wajahnya memerah seperti tomat lalu di iringi dengan pelukannya yang semakin bertambah erat pada Chanyeol membuat pria jangkung itu nyaris tercekik karenanya.

"Bagaimana, sayang? Kau mau?"

"A-aku.."

"Hm?"

"A-aku.. aku tidak tahu" cicitnya seperti anak kucing yang terjepit.

"Kau tidak mau?" Chanyeol merenggangkan pelukan mereka, kemudian ia menatap Baekhyun dengan ekspresi sedihnya membuat Baekhyun kelabakan karena merasa bersalah atas ekspresi melas Chanyeol. Tapi tiba-tiba saja pria itu tersenyum, dengan cara yang sangat menyedihkan, "tidak apa jika kau tidak mau, aku meㅡ"

CUP

Baekhyun mengecup kilat bibir kissable Chanyeol dengan sedikit upaya berjinjitnya. Wajahnya sudah sangat merah karena malu, namun ia tetap memberanikan diri menatap wajah Chanyeol yang kelihatannya cukup terkejut atas aksi nekadnya barusan.

"Aku mau, Yeollie. Sangat."

Dalam sekejap, ekspresi Chanyeol berubah secerah matahari di musim semi, ia mencubit kedua pipi Baekhyun dengan gemas. Lalu mengangkat tubuh ringannya hingga melayang di udara.

Mereka tertawa atas kekonyolan itu. Lalu yang terakhir adalah mereka menikmati tenggelamnya matahari di ufuk barat dengan Baekhyun yang duduk di pundak Chanyeol seperti anak kecil.

"There's nothing I wouldn't do, to be with you, Byun Baekhyun."

.

.

.

END

.

.

.

Hah... akhirnya tamat juga ya guyss..

Yo kasih kesan pesan kalian selama baca ff ini dari awal sampe akhir

Thanks buat kalian yang setia ngikutin kelanjutan ff gue yang seadanya ini... thank you so much guysss.. karena seorang penulis tanpa pembaca itu bukan apa-apanya. Sama kayak EXO yang bukan apa-apa tanpa EXO-L..

Makasih buat yang setia review sama follow story gue.. makasih juga buat siders yang seenggaknya udah mau baca cerita ini..

Makasih banget pokoknya gue ucapin sama kalian.

Love you guyss. So.. tunggu karya gue yang lain yaaa~

See you!