Konnichiwa minna-san! Author Nirina kembali lagi di fic yang sama dan berchapter baru :D langsung saja, happy reading!

.

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Drama, Mystery

Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.

Slight: NaruHina

.

.

.


.

.

.

TUUT

TUUT

TUUT

"Nomor yang Anda tuju, sedang ada diluar jangkauan. Silahkan panggil beberapa saat lagi."

BRUK!

Gadis Indigo itu mencampakkan ponselnya ke sofa empuk di dekatnya. Tangan putihnya mengacak rambutnya frustasi. Pancaran amethyst-nya di selimuti kekhawatiran. Wajahnya lesu dan letih. Sedari tadi tak henti-hentinya ia berputar di sekitar ruang tengah, ia begitu khawatir.

"Sudahlah, Hinata. Mungkin Sakura-san sedang sibuk sehingga ia mematikan ponselnya," ucap pemuda berambut jabrik kuning yang duduk di sofa tempat Hinata mencampakkan ponselnya.

"Tapi aku merasa punya bad feeling kepada Sakura-san, Naruto-kun! Apa kau tak merasakan hal yang sama? Merasakan bad feeling terhadap Sasuke-san?" tanya Hinata dengan nada suara frustasi.

Naruto terdiam. Ia merasakan hal yang sama dengan Hinata. Ia mengkhawatirkan Sasuke, bos yang sudah ia anggap sebagai sahabat karibnya. Apa yang terjadi dengan mereka? Apakah mereka baik-baik saja? Itulah yang menjadi pikirannya saat ini.

Naruto melihat Hinata yang begitu khawatir, melebihi rasa khawatirnya kepada Sasuke-san. Sedekat itukah mereka? Sampai-sampai membuat Hinata seolah tercekat tak bisa bernafas jika sehelai rambut Sakura disakiti? Ia tak habis pikir dengan kehidupan wanita yang begitu rumit. Ia bangkit dari duduknya, mengelus punggungnya yang akan membuatnya sedikit tenang.

"Sudahlah, Hinata. Jangan terlalu dipikirkan. Pikirkan dirimu, bahkan kau belum makan malam! Mau kubuatkan sesuatu?"

Hinata hanya bisa mengangguk. Ia di tuntun Naruto dan mendudukkannya disofa. Ia mengelus pucuk Indigo itu sejenak dan tersenyum, lalu berjalan ke dapur meninggalkan Hinata sendirian. Membiarkan gadis itu sendirian, menenangkan dirinya.

.

.

.


.

.

.

"Ugh~"

Sasuke mulai tersadar. Pandangan pertama yang ia tangkap adalah warna merah-jingga dan rasa panas yang begitu menusuk kulit. Badannya juga terasa berat, ia merasakan ada sesuatu yang menimpanya. Ia berusaha membangkitkan tubuhnya, dan ia mendapati kekasihnya, Sakura, tertimpa kayu.

Melihat itu ia segera mendorong kayu yang berat itu sekuat tenaga, membebaskan dirinya dan Sakura. Wajahnya yang dipenuhi peluh itu tak mengurangi tenaganya dan tekadnya untuk kabur dari sini.

BRAK!

Mereka terlepas, bebas. Sekarang saatnya ia memikirkan bagaimana caranya keluar dari neraka kecil ini.

"Ayolah, pasti ada cara untuk keluar dari sini." Batin Sasuke.

Iris onyx itu sibuk mencari celah atau alat yang bisa membantu mereka keluar dari sini. Pandangannya menangkap sebuah lubang yang seperti di rusak, dan ia tahu itu perbuatan siapa. Ia segera menggendong Sakura ala bridal style dan berjalan mendekati jendela itu, dengan terseok-seok. Ia tak memperdulikan lukanya yang belum kering itu bergesekan dengan Sakura sehingga membuatnya merasakan perih. Yang terpenting, Sakura-nya selamat dan Sasuke rela mati demi dirinya.

Dan kini mereka sudah ada di luar neraka kecil itu. Ia menidurkan Sakura diatas rumput dan memeriksa keadaannya. Ia memeriksa detak jantung Sakura di lehernya dan di pergelangan tangannya. Ia tersenyum senang saat mendengar denyutan terasa di kulitnya. Sasuke mengambil ponselnya yang tersimpan di kantong seragam rumah sakitnya.

"Gosh! Tidak ada signal disini!"

Sasuke menyimpan kembali ponselnya, lalu berjalan kearah jalan di dekat mereka. Ia melihat ujung ke ujung jalan itu, pandangannya mendapati beberapa cahaya yang terpancar di ujung jalan di belakangnya. Dirinya tersenyum lega, dan berjalan mendekati Sakura. Ia menggendong lagi gadis itu dan berlari keujung jalan yang terletak jauh dari mereka. Ia tak perduli telapak kakinya berdarah, ia tak perduli keselamatan dirinya. Yang ia perdulikan adalah keselamatan Sakura.

Sesampai di ujung jalan, ia langsung mencegat sebuah mobil yang melintas di depannya. Ia mendapati seorang pria kira-kira berumur dua puluhan mengendarai mobil yang cukup mahal. Raut wajahnya menggambarkan kalau dia bekerja di sebuah perusahaan yang elit. Sasuke bernafas lega, karena kali ini ia tak perlu berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Pria itu membuka kaca mobilnya dan memandang wajah Sasuke yang lelah. Iris hitamnya yang menghiasi matanya yang unik itu menatap Sakura yang pingsan dalam gendongan Sasuke.

"What's going on?" tanya pria itu.

"Please take me and my girlfriend to the hospital around here! It's emergency situation."

Pria itu mengangguk dan turun dari mobilnya. Ia membuka pintu mobil belakangnya dan membantu Sasuke membawa masuk Sakura. Setelah itu, ia kembali memasuki mobilnya dan menjalankan mobilnya dibalik kemudi yang dilapisi kain kulit coklat.

Sasuke mengelus kepala Sakura dan berdoa dalam hati agar Sakura masih selamat hingga mereka sampai di rumah sakit terdekat. Ia mencium pucuk kepala Sakura, ia begitu menyayangi gadis itu. Tidak hanya menyayangi, bahkan mencintai gadis itu. Ia tak ingin kehilangan gadis terhormat yang sudah mengukir namanya di hati Sasuke. Ia ingin Sakura kembali normal seperti biasa.

"Tenanglah, Sakura. Kau pasti akan selamat, jangan tinggalkan aku."

.

.

.


.

.

.

Suara dentingan garpu dan sendok telah terhenti. Kedua insan manusia ini telah menikmati makan malamnya yang biasa. Ya, daging bakar saus tiram dan jus apel kemasan menemani mereka. Cukup membuat mereka berenergi, meskipun tidak akan cukup untuk pekerjaan yang akan mereka kerjakan malam ini.

"Apa kau sudah tenang, Hinata?" tanya pemuda berambut jabrik kuning kepada seorang gadis di hadapannya. Sapphire-nya menatap gadis itu tenang, dengan maksud ingin menenangkan gadis itu.

Hinata mengangguk. Ia mengulum senyumnya dan menatap Naruto dengan lembut. Amethyst-nya membawa Naruto terhanyut dalam magnet keindahannya. Ia meneguk jus apelnya dan membalas senyuman Hinata.

"Baiklah, sekarang ayo kita selesaikan masalah kita." Naruto bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruang tengah. Ia mengambil beberapa berkas yang terletak di meja dan membacanya dengan seksama. Berusaha untuk memahami tiap deretan kata itu.

"Ayo kita ke Suna mencarinya, kenapa tadi tidak jadi sih?" tanya Hinata kesal.

"Tapi gara-gara kau mendadak khawatir dengan keadaan Sakura-san. Lagian mana bisa kita mendadak pergi kesana tanpa dokumen tentangnya. Mau kita cari kemana dia?"

Hinata terdiam. Ia menyetujui perkataan Naruto. Ia mendekati Naruto dan menepuk punggungnya pelan. Naruto menoleh dan menatap Hinata dengan tatapan 'ada-apa-?'

"Ayo berkemas, dan kita berangkat ke Suna, Naruto-kun!" Ucap Hinata dengan senyuman lebar tercetak diwajahnya, membuat Naruto ikut tersenyum karenanya.

Naruto segera kekamarnya, sedangkan Hinata pulang kerumah mengendarai mobilnya, dan dengan kecepatan penuh akhirnya ia sampai di rumahnya. Dengan sigap mereka berkemas. Mereka mengemas baju seperlu mereka, charge ponsel dan laptop, sepasang sepatu cadangan, dokumen-dokumen yang perlu, dan hal-hal yang menurut mereka penting.

Hinata segera bersiap-siap. Baju lengan pendek biru dibalut oleh jaket pink pastel serta celana berwarna coklat jamu dan flatshoes hitam itu siap menemaninya menuju bandara, terbang hingga ke Suna. Dengan terburu-buru ia menarik koper ungu-nya keluar dari rumah dan memasukkannya ke bagasi. Ia memasuki mobilnya dan melesat mengendarai mobilnya ke bandara.

.

.

.


.

.

.

SERR SERR SERR

"Tenang Sakura, kau pasti selamat!"

Itu saja yang Sasuke ucapkan sedari tadi. Bersama dokter dan para suster, ia membawa Sakura yang tergeletak masih tak sadarkan diri di tempat tidur pasien menuju emergency room. Tangannya yang penuh luka kering itu mengelus pucuk kepala pink Sakura. Ia menggenggam erat tangan Sakura, sebagai harapan bahwa gadisnya akan bersamanya lagi.

Beberapa saat lagi mereka akan sampai di emergency room. Sebuah tangan menahan Sasuke yang ingin menemani Sakura.

"I'm sorry, Sir. You have to wait in here. Let the doctor check her first. I will call you later, Sir," ucap Suster itu. Lalu meninggalkan Sasuke yang terduduk cemas di ruang tunggu. Tangan suster itu membuka lebar pintu emergency room membuat Sasuke melihat sedetik Sakura yang berada di ruang tersebut bersama pasien gawat darurat lainnya.

Menit demi menit ia lewati bersama keheningan waiting room. Bau obat khas Rumah Sakit menambah kekhawatirannya saat ini. Ia terus mengepalkan tangannya dan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Memohon keajaiban penyembuhan untuk Sakura.

BRAK!

Pintu terbuka, sesosok pria berjas putih dengan stetoskop di lehernya mendekati Sasuke. Wajahnya yang tua itu tersenyum lega, membuat Sasuke mengerti apa yang ingin di sampaikan Sang Dokter.

"She's fine right now. She just haven't enough oxygen makes her unconscious. She has a little bit fracture on her back bone. So, she'll use a wheelchair for a several week," kata Sang Dokter dengan jelas. Sasuke mengangguk mengerti dan melihat Sakura berbaring tak sadar diatas tempat tidur itu. Bersama para suster mereka memasuki lift.

"The nurses will take her to her room. Let me show you the room. But, first I want to treat the injuries on your body. May I?" Tanya dokter itu sembari mengamati luka-luka yang menggores tubuhnya.

Sasuke mengangguk dan membiarkan dokter tersebut merawatnya. Setelah selesai, ia berjalan dan memasuki lift bersama dokter tersebut. Hasratnya ingin menjenguk Sakura dan menemani gadis itu. Selama di dalam lift mereka hanya diam, menunggu benda bergerak ini sampai di lantai 8.

TING!

Pintu lift terbuka. Di ujung lorong sana Sasuke melihat beberapa orang suster berjalan menghadapnya. Ia mengenal mereka, mereka adalah suster yang membawa Sakura ke ruang inapnya. Suster-suster itu menyapa Sasuke dan dokter yang merawatnya ketika mereka berpas-pasan. Koridor Rumah Sakit itu begitu lengang, mengingat ini sudah mencapai waktu sebelas malam waktu setempat. Mereka sampai di kamar bernomor 293, tujuan mereka.

"Ok, Mr. Uchiha. This is the room. I have something to do. So, goodbye and good evening."

Sasuke mengangguk dan melihat punggung rapuh berbalut jas putih menjauh darinya. Dalam hati ia mengucapkan terima kasih kepada dokter Filipina itu. Ia menolehkan kepalanya dan mengintip Sakura dibalik jendela kecil di pintu kayu tersebut. Dengan pelan ia menggeser pintu itu, dan melangkah tanpa suara memasuki ruangan tersebut.

Disini, Haruno Sakura terbaring dalam ketidaksadarannya. Kelopak matanya masih menyembunyikan zamrud yang selalu membuat Sasuke terpana. Tangan putih yang selalu menyentuhnya kini terlipat di atas perutnya. Bibir yang selalu tersenyum itu kini hanya memberinya garis datar tak berekspresi. Nafasnya berhembus terhalangi oleh masker udara, yang membantunya untuk menghirup oksigen. Membantunya untuk hidup.

Sasuke mengambil sebuah kursi dan mendekatkannya ke tempat Sakura terbaring. Ia menduduki kursi itu sembari menghela nafasnya pelan. Tangannya yang terbalut perban mengelus pelan punggung tangan Sakura yang tertancap jarum infus.

"Syukurlah. Setidaknya kau masih bernyawa sampai sekarang, meskipun kursi roda akan menemanimu kemanapun engkau pergi selama beberapa minggu kedepan." Ia menatap kursi roda itu sejenak, lalu menatap Sakura dengan tenang. Tangannya mengelus kembali kepala Sakura, dan mendaratkan sebuah ciuman tanda cinta di dahi Sakura yang lebar.

"Oyasuminasai, Sakura-chan."

.

.

.


.

.

.

TUK

TUK

TUK

Flatshoes hitam itu terhentak-hentak diatas lantai marmer merah maroon. Tangannya memegang sebuah novel percintaan yang begitu klise, menemani waktu menunggunya. Menunggu seseorang yang ia kenal dan telah menempati hatinya. Indigo yang dikucir dua dibawah itu merasakan dinginnya ruang tunggu dibandara, tempat ia kini berada.

"Hinata!"

Seseorang memanggil namanya. Gadis itu menoleh kesumber suara dan mendapati pemuda berkulit coklat dengan tiga garis di kedua pipinya melambaikan tangan kearahnya. Ia tersenyum dan menepuk kursi kosong disebelahnya. Mengisyaratkan pemuda itu untuk duduk di sebelahnya.

"Lama sekali, Naruto-kun!" ucap Hinata sedikit kesal.

"Ya, ada saja kendala di jalan. Mengingat waktu sekarang hampir tengah malam, kau tahu apa yang kumaksudkan?" Naruto menduduki kursinya dan memeriksa tiket serta boarding pass-nya.

"Tentu. Hah, aku merindukan saat-saat aku masih sering mengunjungi klub malam dan memikirkan segala masalah yang datang kepadaku. Tampaknya, sekarang aku tak bisa seperti itu dulu." Hinata menutup novelnya dan menyimpannya di ransel merah miliknya.

"Hei, sejak kapan kau suka baca novel, hm?" Naruto menaikkan alisnya, menatap Hinata dengan tatapan keheranan dan tak menyangka.

"Kau kira aku akan terus berkutat dengan lembaran kasus dan buku kedokteran? Yang benar saja, aku bukan robot!" jawab Hinata dengan tawa kecilnya.

Naruto menatap Hinata dalam. Sapphire-nya mengagumi setiap lekukan wajahnya yang indah. Pancaran amethyst anggun itu selalu membuatnya merasa tenang. Suara lembutnya yang selalu ia bawa dengan kata-kata tegas itu membuat Naruto kecanduan. Sekarang, ia merasa bahwa Hinata adalah heroin baginya.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Hinata. Pipinya memanas melihat ia dan Naruto memangkas jarak, mereka begitu dekat.

Naruto tersadar dan berpura-pura melihat boarding pass-nya. "Ti-tidak ada."

Keheningan menyelimuti mereka. Yang terdengar hanyalah hiruk-pikuk calon penumpang pesawat yang akan terbang ke tujuan mereka. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, dan juga dengan detak jantung masih-masih yang bekerja diluar kebiasaan. Hingga akhirnya Sang Operator menyibakkan selimut keheningan mereka.

"Gerbang keberangkatan menuju Suna telah dibuka. Segera siapkan boarding pass dan paspor Anda."

Mendengar itu, Hinata dan Naruto segera menyiapkan boarding pass dan paspor mereka dan berjalan menarik koper mereka mendekati pintu keberangkatan. Sejenak mereka berhenti, melakukan prosedur dengan petugas yang berdiri di depan gerbang. Setelah selesai, mereka berjalan menyusuri lorong yang dilewati oleh beberapa penumpang.

Tanpa disadari, Sapphire Naruto yang menawan itu menangkap sosok bayangan seorang pria yang ia kenal. Dari postur belakang tubuhnya yang berjalan jauh di depan dirinya dan Hinata itu membuat Naruto berspekulasi dia adalah seseorang yang mereka incar. Apalagi ia melihat rambut merah bata khas pria itu. Ia tersenyum penuh arti dan menarik tangan Hinata. Memberhentikan sejenak perjalanan mereka.

"Ada apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata dengan tatapn heran. Beberapa orang menabrak mereka karena mereka berhenti mendadak di tengah lorong.

"Aku rasa, kita bisa mempercepat pekerjaan kita, Hinata."

Hinata menatap Naruto bingung. Sapphire Naruto melihat sosok di jauh di depannya. Membuat Hinata mengikuti arah pandangan pemuda berkulit coklat itu. Sekarang tak hanya Naruto, Hinata menyinggungkan senyuman penuh arti dan tatapan yang tak bisa diartikan.

"Naruto-kun, sepertinya kita harus membuat sebuah rencana yang perfect, detik ini juga. Kerena, ini adalah kesempatan emas kita untuk menangkap belut yang sangat licin itu."

TBC

Translate:

What's going on?: Apa yang terjadi?

Please take me and my girlfriend to the hospital around here! It's emergency situation.: Tolong bawa aku dan kekasihku ke rumah sakit di sekitar sini! Ini situasi darurat!

I'm sorry, Sir. You have to wait in here. Let the doctor check her first. I will call you later, Sir: Maaf kan aku, Tuan. Anda harus menunggu disini. Biar dokter yang memeriksanya. Saya akan memanggil Anda nanti, Tuan.

She's fine right now. She just haven't enough oxygen makes her unconscious. She has a little bit fracture on her back bone. So, she'll use a wheelchair for a several week: Dia baik-baik saja sekarang. Dia hanya kekurangan oksigen sehingga membuatnya pingsan. Dia mengalami sedikit patah tulang di tulang belakangnya. Jadi, dia akan menggunakan kursi roda seama beberapa minggu.

The nurses will take her to her room. Let me show you the room. But, first I want to treat the injuries on your body. May I?: Para suster akan membawanya keruang inapnya. Biar saya tunjukkan ruangannya, Tapi, pertama, saya ingin mengobati Anda. Apakah boleh?

Ok, Mr. Uchiha. This is the room. I have something to do. So, goodbye and good evening.: Baiklah, Tuan Uchiha. Ini ruang inapnya. Saya harus melakukan sesuatu. Jadi, selamat tinggal dan selamat malam.

A/N:

Konbanwa minna~! ^A^

Ketemulagi di chap baruu hehe:D Udah panjang kaaan? Akhirnya Na bisa negtik 2000-an words lagi Disini kita sudah bertemu dengan NaruHina lagii /tebar bunga/ Maaf kalau bahasa inggris saya belepotan.-.

Udah ah bacotnya! Mind to review?