Hello
Eheheheee
O, ya. Saya mau ngucapin met lebaran bagi semuanya iyah~~ hohohoo
Mungkin update-nya sangat terlalu terlambat dan…tidak tentu waktunya.
Saya tidak bisa update setiap dua hari sekali seperti jaman-jaman publish fic pertamaku… karena…saya sibuk dengan kuliah dan hal-hal lainnya…TTATT
Cerita ini sudah mendekati endingnya. Hehe
Ada yang bisa menebak ending-nya bakal seperti apa?
Well. Here you go
The Possessed
Chapter 14: Revealing The Truth; Reincarnation
Roxas berlari dengan kencangnya. Dia seolah tahu dimana harus menemukan anak bernama Vanitas Bachelor itu. Dia tidak peduli walaupun kaki dan tubuhnya sakit. Insting atau apapun itu, sudah menuntunnya ke suatu tempat.
Sora mengikutinya, setengah terhuyung karena jalan berbatu. Roxas telah menuntunnya jauh. Sangat jauh, keluar dari area pegunungan tandus tempat rumah Ventus lalu kembali ke desa. Roxas seolah tidak merasa lelah. Dia berlari dan berlari. Sora mengejar di belakang dengan jarak cukup jauh. Hingga akhirnya dia kelelahan.
"Roxas… tunggu…" erangnya, menghentikan langkah, memegangi dada berusaha bernafas normal.
"Sora, cepat!"
"Aku lelah… berhenti sebentar…"
"Kita harus cepat, Sora!" serunya dari jauh.
"Roxas, apa kau yakin ini jalan yang benar?" Sora berdiri terhuyung.
"Iya!" Roxas mengangguk. "Aku tidak mau berlamaan di sini!" dan dia kembali berlari. Pelan kali ini dan Sora mengikutinya sambil berjalan. Sebenernya dia tidak mau berjalan lagi tapi, dia juga tidak mau kehilangan Roxas… lagi.
Setelah hampir berjam-jam mereka berlari – atau berjalan, mereka tiba di depan rumah besar yang terlihat angker. Jalan yang mereka lalui adalah jalan searah menuju Kebun Raya Seiyuu. Kenapa Roxas mengajak Sora kesini? Itulah pertanyaan yang berkeliaran dalam otak Sora.
"Roxas," Sora menghampiri Roxas yang sedang berdiri di depan gerbang besar. "di sini kan…"
"Rumah keluarga Bachelor. Vanitas tinggal di sini! Ventus bilang seperti itu!"
"Lalu, apa yang akan kita lakukan?"
"…" Roxas diam.
"Roxas?" Sora menepuk bahu Roxas, membuatnya terkejut namun kemudian, berlari masuk melewati gerbang yang tak terkunci. Dia masuk ke rumah orang tak dikenal. Sora merasakan hawa buruk dan kembali mengejar Roxas.
Di dalam, Sora melihat Roxas sedang berbicara dengan seorang pria tinggi dengan rambut coklat. Pria itu terlihat cemas dan Roxas terlihat bersikeras akan sesuatu.
"Di mana Vanitas?" seru Roxas yang dapat didengar Sora. Sora melangkah perlahan.
"Vanitas?" balas pria itu.
"Aku ingin bertemu dengannya!"
"Vanitas tidak di sini! Kau siapa?"
"Aku ingin bertemu dengannya! Jangan sembunyikan dia!" jeritan Roxas membuat pria itu menutup telinganya dan saat dia lengah, Roxas menerobos masuk ke dalam rumah.
"Roxas!" Sora berteriak, membuat pria itu yang tadi menatap punggung Roxas, kepada Sora. Dia mengernyitkan dahi.
"Kau…"
"Maaf, aku harus mengejar adikku…" kata Sora canggung.
"Adikmu?"
"Iya. Anak yang barusan." Sora berusaha masuk namun pria itu menghalangi jalannya.
"Kupikir aku baru saja melihat hantu." Dia mencibir. "Kalian kembar, ya?"
"I-iya. Boleh aku masuk?" Sora melongok ke dalam. Dia melihat kegelapan dan kegelapan di ruangan yang sangat luas. Tidak terlihat sudah pergi kemana Roxas.
"Tunggu. Kalian siapa?" wajah pria itu berubah jelek. Sora berhenti melongok, menatap waja pria itu tajam.
"Aku Sora dan yang tadi itu adikku, Roxas. Puas? Sekarang biarkan aku masuk!" Sora tidak menunggu jawaban pria itu lagi, dia menerobosnya dan masuk ke rumah besar gelap dan berbau debu itu.
Sora mengitari aula depan yang sangat luas. Roxas tidak ada di sana. Dia masuk ke segala pintu yang terbuka, memeriksa, dan tidak menemukan apa-apa. dia naik ke lantai dua. Sebuah kamar yang tertutup dengan pintu dari kayu pohon mahoni berwarna coklat tua. Sora merasakan keberadaan seseorang di dalam. Dengan keberanian yang telah dia kumpulkan, Sora membuka pintu itu. Masuk ke dalam…
"Roxas?" Sora melangkah semakin dalam. Di balik pintu itu terdapat sebuah kamar kosong dengan perabot ditutup kain jaring-jaring laba-laba menghiasi dinding atas. Wallpaper mengelupas, lantai kayu yang berderit. Sora mencapai tempat Roxas berdiri dan menepuk bahunya. "Roxas?"
Roxas berbalik, menatap Sora dengan tatapan kosong yang mengerikan. Sora tidak sempat berekspresi karena Roxas tiba-tiba mencekiknya.
"…aakh… R-Roxas…" Sora merintih kesakitan.
"Kenapa kau lakukan itu padaku? Kenapa?" sura Roxas terdengar berbeda di telinga Sora. Kedua tangannya mencengkram leher Sora, berusaha memutus urat nadinya. Sora mencengkram pergelangan tangan Roxas, menusuknya dengan kuku. Namun, Roxas tidak berhenti, malah mencengkram semakin kuat. "Kenapa kau membunuhku? Apa salahku? Vanitas? Vanitas?"
"Ro…xas… hen…ti…kan… aakkh! AAAKKKHH!" Sora menjerit kesakitan. Nafasnya hampir habis, tenaganya berkurang. Dia menjerit keras. Semakin keras.
Cengkraman di leher Sora mengendur. Dirasakannya lehernya terbebas dari belenggu tangan adiknya. Sora terengah-engah, memijat lehernya berusaha menormalkan nafasnya.
"Apa kau sudah gila?" teriak seseorang di depan Sora. Mungkin, dia dalah orang yang telah menolong Sora. Sora membuka matanya, pria di depan pintu itu ada di sana dan Roxas, membungkukan badan, memegang tangannya sendiri.
"Maaf… maafkan aku… maafkan aku…" bisiknya. Sora kembali pada posisi semulanya, menahan rasa sakit di leher kemudian mendekati Roxas.
"Kau jangan mendekat!" namun pria itu melarang Sora. Sora membalasnya dingin.
"Minggir!" dan lanjut mendekati Roxas yang masih memegangi tangan kanannya. "Roxas?"
"Maafkan aku… maafkan aku…" rintihnya pelan dan terisak. Kemudian Sora memeluknya. Dia tidak marah akan hal yang telah Roxas lakukan padanya karena dia tahu, tadi itu bukanlah Roxas. Roxas yang lemah, tidak mungkin nekat melakukan itu.
"Sudahlah Roxas…" timpal Sora sambil mengelus kepala Roxas.
"Aku…"
"Tidak apa-apa. Tidak apa-apa…"
Pria itu memperhatikan hubungan persaudaraan yang sangat erat itu dan mengingat sesuatu.
"Vanitas. Ventus?"
Sora terhenyak, melepas pelukannya, dan menatap pria itu. "Kau tahu Vanitas dan Ventus?"
"Ya. Aku tahu. Aku sangat mengenal mereka."
Pria yang kemudian diketahui bernama Terra Bachelor mengajak si kembar ke halaman belakang rumah. Halaman yang kurang subur, semak belukar yang tak terawat. Namun masih ada tempat duduk yang bagus di sana. Terra menyuruh Sora dan Roxas untuk duduk di sana sementara dia mengambil teh dan cemilan.
"…" Roxas hanya diam. Menyesali apa yang telah ia perbuat.
"Roxas," Sora memegang tangan Roxas yang gemetar di pangkuannya sendiri. Tangannya sangat dingin. Selain tangannya, tubuhnya juga gemetar hebat. Dia sangat takut. Sangat menyesal.
"Maafkan aku…" kata-kata itu terus muncul dari mulutnya. Dan Sora selalu menghela nafas panjang.
"Aku tidak pernah menyalahkanmu atas apapun yang telah kau perbuat padaku, Roxas adikku."
"Apa kau… tidak takut padaku?" suaranya bergetar seolah dia sedang menderita sakit tenggorokan. Sora tertegun melihat kepolosan adiknya. Dia terkekeh pelan.
"Hehehe, untuk apa aku takut padamu? Kau kan saudaraku. Kalau aku takut pada saudaraku, berarti aku juga takut pada diriku sendiri." Dia menambahkan sebuah senyum lembut, "Kita adalah satu jiwa dalam dua tubuh berbeda. Kau tahu kan?"
Mata Roxas melebar, "Ah, iya. Aku tahu… maaf aku tadi menanyakan hal yang aneh padamu…"
"Tidak apa-apa." tangan Sora berpindah ke kepala Roxas, menepuknya lembut. Roxas tersenyum, hatinya yang tadi terasa dingin dan kaku tiba-tiba menjadi hangat dan nyaman.
Terra datang dengan nampan berisi teko porselen warna putih yang sudah kotor dan tiga cangkir porselen putih yang sama kotornya dengan teko itu. Dia juga membawa sepiring kue kering yang terlihat mengerikan.
"Silakan." Ucapnya, meletakan cangkir di depan Sora dan Roxas, "Aku tahu kalian pasti haus." Kemudian menuang teh dari teko itu.
"Terima kasih." Balas Sora.
"Terima… kasih…" balas Roxas.
Terra duduk di kursi yang ada di depan Sora, mengambil piring berisi kue kering lalu menyuguhkannya pada si kembar. Mereka malu-malu mengambil kue itu atau lebih tepatnya, tidak mau mengambil kue-kue itu.
"Jadi," Sora memulai pembicaraan baru setelah mengambil sekeping kue yang hanya dia tatap. "kau kenal dengan Vanitas Bachelor?"
Roxas menghentikan aksinya menyeruput teh begitu pun dengan Terra. Masing-masing menatap Sora dengan tatapan aneh.
"Ya." Balas Terra. Wajahnya berubah masam, "Aku kenal dia… dengan sangat baik."
Jawabannya membuat Sora agak tertarik untuk mendengar lebih banyak. "Sangat baik?"
"Vanitas adalah sepupuku. Dia meninggal 15 tahun yang lalu."
"Huh?" Sora terkejut. "Meninggal? Lalu bagaimana dengan Ventus?"
Terra menatapnya.
"Kumohon…" tiba-tiba Roxas ikut bicara. Dia terlihat tertekan, "ceritakan pada kami."
"Baik. 15 tahun yang lalu, Ayahku meninggal dan aku harus pindah dari kotaku ke desa ini untuk tinggal bersama paman, bibi, dan sepupuku. Sepupuku bernama Vanitas. Anak yang urakan, suka berkelahi, dan sering dimarahi oleh guru-guru di sekolah. Dia punya lima orang teman baik dan mereka semua adalah anggota grup penjagal di sekolah mereka SMA N 13 Seiyuu…"
"Lalu?" Sora menyahut karena penasaran. Terra berdehem kemudian melanjutkan ceritanya.
"Vanitas memiliki seorang saingan di sekolah. Saingan dalam pelajaran, dalam olahraga, dan semuanya. Anak itu bernama Ventus Kirikaze."
"V-Ventus…"
"Ventus adalah seorang yatim. Dia bilang, ayahnya sudah meninggal sebelum dia dilahirkan. Dia hanya tinggal berdua dengan ibunya di bukit timur Seiyuu." Terra berhenti sejenak, menarik nafas panjang. "Lalu tiba-tiba saja sekelompok orang dari Hutan Seiyuu datang dengan berita mengejutkan menyangkut hal-hal buruk yang belakang itu terjadi di desa."
"Hal buruk? Seperti apa?"
"Lahan yang mengering karena hujan tak kunjung turun, sungai yang mengering, ternak mati tanpa penyebab yang jelas."
"Itu.. karena musim kering yang panjang, kan?" Roxas menimpali. Mereka menatapnya sedetik kemudian kembali pada posisi semula.
"Ya. Aku juga berpikir demikian. Namun desa ini tidak. Mereka percaya bahwa setiap musibah yang melanda desa ini disebabkan karena penyihir wanita atau anak haram yang menetap di desa. Memang konyol tapi, itu sudah merupakan adat desa ini…"
Sora dan Roxas mematung mendengarkan cerita Terra.
"Maleficent, pemimpin cult, mengatakan bahwa Larxene, ibu Ventus adalah sanga penyihir dan Ventus adalah anak yang lahir dari rahim penyihir dan… tidak punya ayah… karena ibunya belum menikah saat dia dilahirkan. Dialah si anak haram."
"Itu tidak benar…." Rintih Roxas.
"Roxas, tenanglah. Kita dengarkan lebih banyak lagi, ya?" Sora menepuk bahu Roxas. Dia menjawab dengan sebuah anggukan. "Lanjutkanlah, Terra."
"Penduduk desa mempercayai Maleficent dan mulai memburu mereka. Dan malam itu, di rumah Ventus, para penduduk desa membakar rumah itu. Larxene tertangkap, namun Ventus berhasil melarikan diri.
Sebagian penduduk mengejarnya ke seluruh pelosok desa, sebagian yang lain membawa Larxene ke gereja tua yang didirikan Maleficent di hutan Seiyuu. Aku dan Vanitas ikut ke sana karena desakan ayah Vanitas yang bilang, kalau ini adalah salah satu momen paling bersejarah di Desa Seiyuu.
Konyol, aku tahu. Dan mengerikan. Wanita itu diikat di sebuah tiang besi karatan dan di bawahnya ditumpuk berpuluh potong kayu bakar. Dan…. Dia…."
"Dibakar hidup-hidup." Potong Roxas. Dia sudah tahu bahwa itulah yang terjadi pada ibu Ventus. Wanita itu bernasib sangat buruk namun… dia memiliki seorang anak yang sangat baik. Ventus ingin membalas dendam atas kematiannya dan ibunya.
"Ya." Terra melanjutkan. "Saat itu, Vanitas bilang bahwa dia melihat Ventus dari jendela yang ada. Dia memperhatikan ibunya dibakar hidup-hidup. Mengerikan. Kemudian Vanitas bersama lima orang temannya, mengejar Ventus. Aku tidak tahu apa Ventus benar-benar ada di sana atau tidak… aku tidak melihatnya."
"Tunggu," Sora gantian memotong, "siapa teman-teman Vanitas?"
"Hmmm, nama mereka… Marl… siapa ya. Lalu Zexen atau Zaxkion, Lexeause, Demiks, lalu yang terakhir… Vex.. Vetsin atau siapa lah! Aku sudah tidak ingat nama-nama mereka lagi."
"Mungkin maksudmu, Marluxia, Zexion, Lexaeus, Demyx, dan Vexen?" Sora menimpali.
"Ya, mungkin. Aku sudah lupa."
Sora berpikir, 'Kalau itu benar. Guru-guru yang mati itu adalah teman Vanitas… berarti… mereka juga musuh Ventus. Benarkah itu?'
"Tolong lanjutkan…" kata Roxas. Terra mengangguk.
"Baik. Setelah itu, Vanitas menghilang di hutan bersama lima temannya. Kami mencarinya namun hingga pagi tiba, kami tidak dapat menemukannya. Kemudian, saat tengah hari, kami yang masih mencari-cari di dalam hutan, menemukannya di tengah hutan. Dia dan lima temannya. Vanitas bilang, bahwa Ventus sudah dimusnahkan. Kami tidak mengerti maksudnya namun, setelah itu Ventus tidak pernah ditemukan. Dia mati, Vanitas kembali menegaskan pada seluruh penduduk desa. Namun mayatnya tidak pernah ditemukan. Dimana pun hingga sekarang. Kemudian terdengar kabar tentang seorang anak laki-laki yang muncul di tengah hutan dengan wajah berdarah dan seragam sekolah kotor seperti tertimbun tanah. Dia menampakan diri pada siapapun yang ada di hutan, membuat mereka kaget dan mati mendadak. Itulah alasannya, Hutan Seiyuu sekarang dilarang dimasuki."
"…" kedua saudara itu tercengang mendengar cerita Terra. Mereka berpegangan tangan karena tegang dan takut. Roxas menggigil ketakutan, Sora menelan ludah berkali-kali.
"Lalu, bagaimana Vanitas bisa… mati?"
"Vanitas tiba-tiba terserang penyakit jantung setelah penegasan itu. Kami membawanya ke rumah sakit yang ada di kota namun, seminggu kemudian, dia meninggal. Sebelum kematiannya, dia meminta… maaf pada… Ventus."
Mereka kembali tercegang. "Maaf?"
"Kemungkinan Vanitas-lah yang sudah membunuh Ventus tidak kecil. Namun dia tidak mengatakan dimana Ventus saat itu."
Sora menggigit bibir bawahnya. "Seperti apa Vanitas itu? Maksudku, wajahnya."
"Ah, kebetulan kau menanyakan ini. Dia… terlihat sangat mirip… denganmu."
Sora melotot. "Tidak mungkin! Mana ada orang lain berwajah sama denganku selain Roxas, saudara kembarku?"
"Mungkin. Tapi mungkin kau ingin melihat fotonya?" Terra beranjak dari kursinya ke dalam rumah. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan foto usang di tangannya. Foto itu ia tunjukan pada Sora dan dia melotot lebih kaget. Anak dalam foto itu, berambut hitam, berbola mata emas, dengan wajah yang sangat, amat mirip dengan Sora. Roxas ikut terkejut melihat foto itu. Roxas mengeluarkan foto Ventus, menjajarkannya bersama foto Vanitas. Anak yang mirip dengan Sora bernama Vanitas dan anak yang mirip dengan Roxas bernama Ventus. Mereka seperti… reinkarnasi! Vanitas ber-reinkarnasi sebagai Sora dan Ventus ber-reinkarnasi sebagai Roxas. Asumsi yang masuk akal namun, arwah Ventus masih di sini; menghantui desa, mencari pembunuh-pembunuhnya.
TBC
Sekali lagi TBC tapi bukan Tuberkulosis
Hehehe, omongan lama… *nunjuk tulisan tuberkulosis
OKEE, saya tunggu reviewnya walau saya tahu yang ng-review cuma beberapa orang… TTATT
