Previous Chap :

'Senin nanti kita harus nge-bully Sasuke dan Hinata Uchiha, apapun yang terjadi.'

"Kita mulai besok lusa?" Gaara tertawa. "Sebegitu bencinya sama Sasuke, hm?"

Terdengar suara dengusan dari speaker ponsel. 'Aku cuma mau ngeliat cowok sialan itu nangis. Kalo perlu sampai memohon maaf dan bersujud di depanku. Dan kau, Gaara. Kau harus bantu aku sampai berhasil.'

"As you wish."

Perbincangan itu berjalan lancar. Sesekali pria Sabaku itu menyunggingkan senyum licik ketika ia merasakan seberapa kuat aroma benci yang Sakura layangkan ke Sasuke. Dan ketika obrolan barusan berakhir, Gaara berdiri. Ia menepuk debu rokok yang sempat menempel di kausnya.

"Saatnya balas dendam, Uchiha..."

.

.

Bagi seorang Hinata Uchiha, Konoha International High School merupakan salah satu yayasan pendidikan terbaik di Tokyo. Muridnya ramah dan suasana yang terpampang di sekitar sangatlah nyaman. Ia suka sekolahnya yang sekarang.

Tapi tidak tau kenapa, di Senin ini ada yang berbeda. Rasa tentram yang sebelumnya ia dapatkan dari Konoha International High School seolah hilang. Pasalnya ketika sol sepatu Hinata baru berpijak melewati gerbang sekolah, tanpa diminta siswa-siswi di sekitar langsung mendelik kepada gadis itu.

Mulanya satu, tapi lama-lama jadi banyak yang mengikuti. Dua, lima, sepuluh—bahkan belasan pasang mata menatap Hinata tanpa berkedip.

Jelas Hinata kebingungan. Apalagi sekarang ia datang seorang diri; tanpa Sasuke. Jadi ia tidak tau harus berbuat apa. Gadis beriris pucat itu cuma bisa menunduk. Ia biarkan poni rata yang ia miliki menutupi matanya yang kini tidak dilapisi oleh kacamata.

Ya, benar. Sesuai apa yang kemarin diperintahkan Sasuke, Hinata memang telah melepas penyamarannya. Alat optik bulat yang sejak semester lalu menempel lekat di matanya kini tak lagi terpakai. Rambutnya yang dikepang pun telah ia gerai, menampilkan surai biru gelapnya yang lurus sepinggang.

Perbedaan kecilnya terlalu kontras. Wajar jika sekarang Hinata menjadi pusat perhatian.

"Itu Hinata?"

"Eh, yakin?"

"Kok dia ngga pake kacamata?"

"Tapi ternyata manis, ya?"

"Apaan? Sok cantik, ih."

"Pantesan Naruto ngejar-ngejar dia."

Hinata menggigit bibir. Ingin rasanya menutup kuping. Ia malu dan merasa tersudut.

Sedangkan Naruto yang kebetulan berdiri di area depan sekolah juga memperhatikan Hinata—sejak awal kemunculan gadis itu di gerbang. Bedanya ia cuma bisa diam di belakang. Ia tak mampu membantu banyak. Sakura dan Sasuke sudah mem-warning-nya untuk menjauhi Hinata.

Hinata pun melangkah pergi, namun kelas bukanlah destinasinya. Pilihannya jatuh ke UKS. Barangkali ia bertekad beralasan sakit agar bisa absen sementara dari dunia luar.

"Woi, harusnya kalian menghinanya, jangan cuma bisik-bisik ngga jelas! Kalau Gaara tau ada yang muji Hinata, nanti kalian bisa dibentak abis-abisan sama dia!"

Naruto menoleh, memandangi seorang siswa yang terlihat panik, tentu dengan pandangan tak berselera. Ternyata ada koordinator untuk para murid yang telah dipengaruhi oleh duo Gaara-Sakura. Karenanya pria pirang itu segera menghela nafas.

Kenapa semuanya jadi merepotkan seperti ini?

.

.

.

TWINS ALERT!

"Twins Alert!" punya zo

Naruto by Masashi Kishimoto

[SasuHina—SasuSaku & NaruHina]

Romance, Friendship, Drama

AU, OOC, Typos, Multipair, etc.

.

.

FOURTEENTH. Status Berbahaya

.

.

Waktu lagi menunjukkan pukul 06.48, beberapa menit sebelum bel masuk berbunyi. Belum ada guru yang mengisi ruangan XI-A, jadi jangan heran jika masih banyak siswa-siswi yang berisik membicarakan sesuatu, bermain dan mengobrol. Seperti contohnya salah satu geng siswi seperti ini...

"Eh, kalian sudah lihat dia, kan?" Terdengar suara dari salah satu rombongan.

"Siapa? Hinata?"

"Iya, berubah banget."

"Eh, mana tuh anak? Belum dateng, ya?"

"Katanya sih di UKS. Ada yang ngeliat dia kabur ke sana. Pura-pura sakit biar bisa absen, kali."

"Emangnya kenapa?"

"Pagi ini dia buka kacamata."

"Iya, sumpah aku ngga nyangka banget dia semanis itu."

"Kayak puteri."

"Ah, biasa aja itu mah."

"Kau belum lihat dari dekat sih."

"Pasti tetep sok cantik."

"Kenapa ya tiba-tiba dia buka kacamata gitu?"

"Bisa jadi dia cari perhatian! Kan akhir-akhir ini dia dideketin Naruto-kun terus!"

"Eh, coba ganti topiknya sebentar. Kalian dapet email dari Gaara, ngga? Katanya kita semua dibolehin loh bully Uchiha bersaudara itu. Nah, kalau kalian pada kesel, damprat aja si Hinata! Mudah, kan?"

"Iya, ya, bener juga! Hinata kan lembek, dan yang lembek itu mudah banget ditindas!"

Mereka pun tertawa.

Akibat suara mereka di ruangan kelas terlalu besar, bukan cuma siswi-siswi itu yang tau isi pembicaraan tersebut. Bahkan Sakura Haruno, yang duduknya jauh dari mereka, ikut mendengar. Kadang Sakura berdesis kesal karena tidak bisa kidmat mendengarkan lagu di iPod. Bikin konsentrasinya buyar saja.

"Eh, tapi kalian mikir juga, ngga? Kalau misalnya Hinata pas buka kacamata jadi cantik... gimana kalo Sasuke buka kacamata, coba? Pasti dia keren!"

Samar-samar kalimat tadi memasuki telinga Sakura yang tersumpal earphone. Otomatis ia menekan tombol pause.

"Eh, iya, ya! Kenapa ngga aku ngga kepikiran! Bisa aja loh dia keren! Namanya saja sudah bagus banget! Iya, kan? Sa-su-ke U-chi-ha. Aku jadi ingin memanggil dia dengan sebutan Sasuke-kun~!"

"Kapan-kapan liat yuk!"

"Iya, mesti liat mukanya dia tanpa kacamata."

"Kalo ganteng, aku mau deh nembak dia—!"

BRAKH!

Suasana kelas menjadi hening saat ada suara kursi ambruk di dalam ruangan. Karena arah suaranya berasal dari deretan tengah, semua orang—termasuk rombongan penggosip itu—menoleh dengan raut wajah terkejut.

Di deretan sana hanya ada Sakura yang masih duduk dengan tangan tersilang. Keadaannya normal, namun tampaknya kaki jenjang Sakura—yang dilapisi oleh kaus kaki sebetis—baru saja menendang bangku lain. Toh, ada kursi kosong yang telah jatuh tepat di sebelah kirinya.

Dan semua orang pun meneguk ludah—tanpa terkecuali.

"Aku lagi dengerin lagu." Kata Sakura, pelan, sinis, menusuk. Tak lupa, ia tersenyum manis. "Bisa kecilin suara kalian?"

Entah apa yang membuat Sakura marah sampai segitunya.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Di jam 07.00 tepat, bel pertama melantun nyaring dari speaker gedung Konoha International High School. Murid-murid yang masih di koridor buru-buru masuk ke kelas. Bisa gawat kalau mereka telat.

Namun sayangnya masih ada saja yang lain daripada yang lain. Seorang siswa berseragam SMA baru menampakkan dirinya di kejauhan—beberapa ratus meter dari gedung sekolah. Dia berjalan santai. Bertubuh tinggi dan proporsional. Tegap. Rambut raven-nya berantakan ala bangun tidur, dan yang paling tak bisa dilewatkan, kacamata tebal yang masih bertenger di hidungnya.

Dia adalah Sasuke Uchiha. Dan ketika seorang baru akan menutup gerbang sekolah, sosok itu membuat pria tua tersebut mengeryit.

"Kau murid sekolah sini, ya?"

Sasuke diam. Apa seragam yang ia kenakan tidak bisa dianggap bukti jawaban?

"Ini hampir jam 07.05 lebih; gerbang sudah ditutup. Lebih baik kau pulang."

Lagi-lagi tak ada suara. Cuma pandangan tajam dari balik kacamatalah yang seolah terus mengarah kepadanya. Dan entah kenapa hati pria baruh baya itu tiba-tiba mengeruh. Ada sebuah aura mendesak yang memintanya tidak macam-macam kepada siswa yang satu ini. Akhirnya sambil mengusap tengkuk si penjaga mencoba melihat ke belakang, memeriksa keadaan sekitar.

"Baiklah, kuberi kau satu kesempatan untuk masuk. Tapi jangan diulangi lagi. Peraturan sekolah ini ketat sih—kau harus terbiasa bangun pagi."

Tanpa mengucapkan terima kasih atau apa, Sasuke berjalan dari sela gerbang yang telah dibukakan. Sedangkan pria tua itu menghela nafas dan geleng-geleng kepala.

"Dasar anak-anak jaman sekarang. Bahkan yang penampilannya seperti kutu buku pun bisa-bisanya tak beretika..."

Di dalam gedung belajar, suara sepatu yang bertemu ubin terdengar berurutan. Sasuke melewati sebuah koridor yang kosong dan akan menaiki tangga. Tapi tiba-tiba keluarlah seseorang dari kawasan kamar mandi lantai dua. Tak sengaja mereka bertatapan.

Itu Lee. Rock Lee. Wajah dari pria berambut bob itu terkejut saat melihat Sasuke yang berada tak jauh di depannya.

"Ah, kau sudah datang rupanya, Uchiha!" Dengan seringai penuh kemenangan ia menghampiri Sasuke. Namun karena merasa tak memiliki kepentingan, si kacamata lanjut berjalan. Lee menahannya. Siswa beralis tebal itu tanpa segan melingkari leher Sasuke dengan tangannya, erat, sampai ia berhenti berjalan.

"Hei, hei, mau ke mana? Aku mau ngomong nih!"

Kali ini Sasuke tak bergerak. Lee mengartikan pria itu mulai takut kepadanya—walaupun nyatanya tidak sama sekali.

"Apa kau tau kalau sekarang adalah hari spesial untukmu, hah? Murid-murid seangkatan udah nyiapin kejutan untuk kalian, Uchiha Kembar. Terutama kepadamu yang menyebalkan ini." Lee melepaskannya dengan kasar. Ia naiki satu tangga untuk berdiri di depan Sasuke, kemudian menamparnya pelan dengan punggung tangan.

"Coba ngaca deh. Sudut-sudut bibirmu masih nyebelin. Tampang belagu." Lee berdesis. "Jangan Kau pikir hanya karena pernah mengalahkanku sekali, dulu, kau bisa nyuekin aku begitu aja. Karena sebentar lagi Gaara akan bertindak, dan kau akan menangis seperti anak kecil saat minta balon!"

Lee tergelak sampai kedua bahunya berguncang.

"Karena itu, lebih baik kau persiapkan dirimu supaya—"

"Minggir."

Bisikan Sasuke membuat Lee mengernyit.

"Apa? Tadi kau bilang sesuatu?"

"Kubilang minggir, ya minggir."

"Eh?" Siswa berambut bob itu pura-pura tak mendengar. Ia dekatkan telinganya sambil memasang wajah meremehkan. "Mau minta pertolongan ke guru, ya—?"

Set.

Mendadak kepalan tangan Sasuke bergerak. Ia cengkram kerah kemeja Lee yang berdiri di hadapannya, kemudian ia banting ke bawah dalam satu gerakan cepat.

BRUAKH!

Ada suara gabrukan seseorang yang jatuh dari tangga.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Beberapa jam kemudian, pelajaran masih berlangsung di kelas masing-masing. Mereka semua sedang mendengarkan materi yang diterangkan guru sambil menunggu kedatangan bel istirahat yang berdering di jam 10.30 nanti.

Sedangkan untuk Hinata Uchiha sendiri, ia—yang sudah lebih dari tiga jam berada di UKS—terdiam. Duduk di tepi ruangan, menekuk wajah, dan kedua telapak tangannya memeluk gelas air putih yang sebelumnya diberikan oleh petugas UKS. Suasana hati gadis itu sedang muram. Habis sejak awal masuk ke sekolah tadi dirinya diselimuti rasa takut sih. Takut ke orang-orang yang membicarakannya secara frontal.

Hinata pun menghela nafas.

Apa sebaiknya ia kembali mengenakan kacamata agar dia tidak jadikan buah bibir begini, ya?

"Uchiha-san, kamu semakin pucat. Kalau kamu ngga kuat bersekolah, telfon saja orang rumah untuk menjemputmu di sini."

Hinata menoleh. Shizune-sensei—wanita bersurai pendek dengan seragam jas putih—memandangnya dengan tatapan khawatir. Hinata mengulum senyum lemah dan menggeleng. Ia kemudian berdiri, lalu menaruh gelas ke permukaan meja besi di sebelah ranjang. Hinata ber-ojigi singkat.

"N-Ng... aku sudah baikan. Terima kasih, Sensei. Aku keluar dulu."

Jujur saja, tadi Shizune memberikannya saran yang sangat bagus. Hinata juga ingin pulang. Tapi rasanya terlalu manja apabila ia balik ke rumah dengan alasan yang sesepele ini. Makanya Hinata mencoba keluar.

Saat ia keluar dan berdiri di koridor lantai satu, gadis itu lega saat tak menemukan murid-murid yang berlalulalang. Semuanya kan masih di kelas masing-masing; belajar. Segeralah ia berjalan menuju lantai atas dengan langkah yang mengendap-endap. Semoga saja keadaan ini terus tenang sampai ia bisa masuk ke kelas XI-A.

Tapi ternyata ada suatu hal yang telah ia lupakan. Dirinya adalah seorang perempuan yang teramat sangat ceroboh. Super ceroboh, malah. Apalagi jika ia sudah ketiban sial. Maka ia memiliki peluang besar untuk menemui sebuah masalah. Seperti...

Brukh!

Tuh, kan.

"Hei, hati-hati dong kalau jalan!"

Deja vu. Itu adalah sederet kata yang sering didapatkan Hinata saat ia lagi bersekolah di Oto High School. Sebuah ungkapan kasar yang hanya ditunjukkan ke Hinata Uchiha yang penggugup dan canggung; yang gemar mengacau dengan segala keteledorannya yang tak disengaja.

"M-Ma-Maaf..."

Hinata mengadah. Dan di saat itu juga ia terbelalak. Baru ia ketahui, orang yang barusan ia tabrak ialah dua orang siswa, kakak kelas dari angkatan 12, dan berparas seram layaknya preman. Dilihat dari jam yang masih belum menyentuh waktu istirahat, Hinata dapat menebak mereka sedang membolos pelajaran.

"Kakimu masih menginjak kakiku, woi!"

"E-Eh?"

Hinata mundur seketika. Ia menunduk malu. Menyembunyikan wajah sampai dagunya menyentuh kerah seragam. Buru-buru ia membungkuk beberapa kali sambil menuturkan maaf. Kemudian ia lanjut melangkah, berharap bisa pergi secepat mungkin. Namun kala itu ada seseorang yang dengan lihai menahan kerah belakang seragamnya.

Hinata menahan nafas. Di koridor lantai tiga yang sepi ini, ia merasa dirinya berada di tengah bahaya.

"Kau... sepertinya familiar." Kakak kelas yang bernama Dosu Kinuta berpikir sebentar.

"Kalau ngga salah, murid kelas XI lagi buat acara nge-bully si kembar Uchiha kan, ya?" Lanjut temannya yang bernama Zaku sambil tersenyum penuh maksud. "Dan bukannya cewek ini adalah Hinata Uchiha? Si freak berkacamata besar yang mereka maksud?"

Hinata mencoba melepaskan tangannya, mencoba bebas, namun sayang dirinya tak bisa. Cengkraman senpai yang satu itu benar-benar sangat kuat.

Kemudian salah satunya ikut mendekat. Ia memaksa Hinata mengadah, meneliti wajahnya. "Kalau benar begitu, aku juga mau dong nge-bully dia. Kayaknya seru."

Nafas Hinata mulai memburu. Ia panik dan cemas.

Kriiing!

Bel istirahat berdering. Mungkin dalam hitungan detik koridor ini akan dibanjiri oleh murid-murid yang akan menuju ke kantin. Karenanya Dosu dan Zaku yang mengerikan itu segera menariknya ke arah tangga.

"Ayo yuk ke lantai empat. Di sana lagi sepi loh. Lebih sepi dari ini." Ia tertawa pelan.

"Maaf, Senpai, t-tapi—ah!" Mendadak Hinata terkejut saat ia disentak. "A-Aku ngga mau!"

Hinata menggeleng. Lututnya lemas dan kakinya bergetar. Dirinya dipaksa mengikuti arah jalan yang kedua siswa itu mau untuk menaiki anak tangga.

Gadis itu sungguh-sungguh ingin sekali menangis kencang dan meminta tolong.

"Permisi..."

Serentak, langkah mereka bertiga terhenti. Semuanya menoleh ke belakang dan Hinata pun terperangah di detik itu juga. Dia mendapati sosok Naruto yang saat ini sedang memakai seragam olahraga sekolah. Tangan kanannya menggenggam karung jaring berisi bola-bola kasti.

Kakak kelas itu mendengus. "Apa maumu?"

Si pirang jabrik tersenyum, menampilkan sederet gigi sampai kedua matanya menyipit. "Bisa lepasin dia?"

Hinata menelan ludah. Matanya yang beriris ungu pudar memandang Naruto dengan tatapan penuh kagum. Sedangkan kedua kakak kelas yang masih berada di masing-masing sisinya hanya memasang wajah kecut, mengernyit, tanda tidak suka.

"Apa-apaan kau ini? Belagu banget jadi orang."

"Kau kan masih kelas XI, lebih baik jangan ikut campur urusan kami."

"Iya aku tau, tapi bisa kan lepasin dia dulu?"

"Tsch, berani melawan kami, hah!?" Tanpa basa-basi si siswa bertubuh kekar melancarkan sebuah pukulan. Namun Naruto terlebih dulu mengangkat stick baseball di depan wajahnya. Bunyi keras terdengar saat kepalan tangan Dosu menghantam tongkat besi yang kuat. Dia mengaduh nyeri.

"Kalau ditanya, aku akan menjawab 'berani' secara lantang." Naruto berucap dengan tenang. Senyuman indah masih melekat. Kali ini ia tarik Hinata agar gadis mungil itu bisa beralih ke sampingnya.

Siswa kelas XII yang tangannya bengkak berniat membalas, namun temannya segera menyikut. "Cukup, Dosu. Jangan cari masalah dengan dia. Lagi pula koridor udah rame."

Akhirnya mereka berdua pergi, menyisakan Naruto dan Hinata yang sedang bersebelahan di pijakan anak tangga menuju ke lantai empat.

Hinata mengucapkan rasa syukurnya ke Tuhan dan akan berterima kasih ke Naruto di dalam hati. Namun baru saja ia akan mengucapkannya secara lisan, dirinya teringat peringatan Sasuke yang menyuruhnya untuk menghindari Naruto.

Pria itu berbahaya, katanya. Hanya berpura-pura. Munafik. Muka dua. Mempermainkannya.

Berbasis dengan itu semua, Hinata menelan ludah. Dengan perasaan tak enak, ia menunduk dan turun begitu saja. Tapi Naruto terlebih dulu menyerobot dan menutup jalur lajunya.

"Ngga bilang makasih nih?"

Hinata menolak untuk menjawab. Mengadah untuk menatap mata safirnya pun ia sungkan.

"Hei. Aku ini bertanya..." Masih ada nada jenaka yang Naruto keluarkan. Hinata masih terdiam. Beberapa detik menunggu, lekukan manis di bibir Naruto menghilang. Ia membungkukkan badan dan menatap wajah Hinata dari bawah. "Ah, aku baru tau kau sudah berani melepas kacamatamu."

Naruto pura-pura tidak tau. Ia terkekeh sebentar. Dengan penuh kasih sayang ia menyeka surai panjang milik Hinata, meletakkan anak rambut gadis itu ke balik cuping telinga. Wajah Hinata kian terlihat. Mata yang menyiratkan kelembutan, serta pipinya yang semerah buah persik. Naruto tersenyum.

"Kau semakin manis tanpa kacamata..."

Dalam diam Hinata menggigit bibir. Matanya digenangi buliran bening.

Naruto begitu hangat. Terkadang dia menyebalkan, namun baik dan perhatian di banyak sisi. Ia menyukai pria itu. Sangat suka. Lalu kenapa Sasuke mengatakan bahwa Naruto adalah pria yang jahat? Ada apa yang terjadi di antara mereka?

Hinata menggeleng sebentar. Ia mundur selangkah dan kemudian maju lagi, akan melewati Naruto yang sebelumnya menghalangi jalannya untuk turun ke lantai tiga.

"Hinata?" Naruto segera mengejar. Belum sempat gadis itu berlari untuk melarikan diri, Naruto kembali menahan tangannya. "Kau ini kenapa? Aku bicara baik-baik, kan?"

Hinata menahan diri untuk tidak mengeluarkan sepatah kata. Ia bergegas untuk lari. Tapi apa yang bisa ia lakukan ketika Naruto menahan tangannya? Walau sudah susah payah berusaha melepaskan diri, hasilnya pun sama, ia tak bisa ke mana-mana.

Di lain sisi Naruto ikut dibuat sibuk oleh pikirannya sendiri. Pria jabrik itu merasa bahwa Sasuke telah membeberkan semuanya—perdebatan Naruto dan Sakura di minggu lalu—ke Hinata. Ada kemungkinan sebesar 80% bahwa Sasuke telah melarang Hinata untuk mendekatinya.

Karenanya Naruto mencoba menghela nafas. Ia tarik Hinata, mendorongnya agar punggung gadis itu bisa menempel ke tembok. Lalu ia mendekat—menghimpit tubuhnya. Wajahnya berubah serius.

"Apa kau... menghindar dariku?"

Hinata tidak nyaman. Bibir Naruto yang dekat dan suaranya yang terlalu lirih membuat Hinata menahan nafas. Tak terelakan pula posisi mereka. Jantungnya berdegup tak nyaman. Ia ingin mendorong Naruto, namun ia tak mungkin sanggup.

Jadi kembali ke situasi saat ini, lebih baik ia menjawab pertanyaan tadi.

"A-Aku menghindar...?" Ia menggeleng. "Aku hanya i-ingin ke kelas—"

"Pertanyaanku serius, Hinata. Aku mau kau jujur."

Lagi, Naruto menyelanya. Hinata memilih untuk menunduk.

"Apa kau menghindariku karena Sasuke yang menyuruhmu?" Belum sempat sang siswi menjawab, ia melanjutkan dengan suara serak. "Apa karena Sasuke bilang karena aku mempermainkanmu?"

Hinata tidak ingin membahas ini. Ia ingin pergi. Namun Naruto kini menekan bahu Hinata, ia tak bisa berkutik. "Dengar, kau harus percaya padaku, Hinata. Kalau Sasuke bilang aku hanya mendekatimu hanya karena taruhan, itu memang benar, tapi ngga semuanya."

Kedua mata Hinata melebar.

"Aku emang terlibat dalam permainan Sakura, berlomba-lomba untuk mendapatkan hati kalian, tapi—"

"Jadi begitu?"

"Eh?"

"Pantas Sasuke-nii memintaku menghindar Naruto-kun..."

"Hinata—"

"Yang tadi Naruto-kun katakan... a-adalah kejadian sebenarnya, kan? Mengenai taruhan? Lomba-lombaan?" Ada sebuah hati yang mendadak kempis. Terluka. Namun ia berusaha tegar. Hinata pun tersenyum lemah. "Aku sama sekali ngga tau apa-apa tentang itu. Sasuke-nii cuma mengingatkan agar aku menjauhimu..."

Naruto menghentikan laju bicaranya. Hinata mengadah dengan pandangan lemas.

"Tapi inti permasalahannya berujung pada satu hal, kan? Yang Naruto-kun mempermainkanku?"

Beberapa detik mereka terdiam. Hinata menurunkan pandangannya. Nafasnya berhembus nyeri. Lirih. Tanpa banyak bicara Naruto dapat mengetahui ada sebuah rasa sakit hati yang tengah dirasakan oleh Hinata pada saat itu.

"Kukira... perhatian yang Naruto-kun berikan... benar-benar tulus. Aku sampai bahagia. Jatuh terlalu dalam pada pesonamu..." Ia mencoba tertawa pelan. Tawa yang membuat hatinya kian tersakiti. "Tapi ternyata... pura-pura ya?"

"Ngga!" Naruto berseru lantang. "Ngga ada kepura-puraan yang kutunjukin ke kamu! Apa kau ingat dulu aku juga pernah mengira dirimu bermuka dua!? Nyatanya itu ngga bener, kan? Sekarang sama! Keadaan ini terbalik! Kau yang kini salah paham kepadaku! Kau harus—"

Hinata menggeleng sedih. "Tapi kau sendiri mengakui bahwa kau telah mempermainkanku, Naruto-kun..."

Naruto tercengang. Ia berdesis singkat. Seandainya ia tau kalau Hinata belum diberitahu apapun dari Sasuke, mana mungkin ia mau mengungkitnya. Karena itulah, ia akan melakukan ultimatum terakhir.

"Hinata..."

Naruto mencoba meminimalisir jarak antar wajah mereka. Pandangannya lurus ke manik pudar milik siswi itu.

"Aku mencintaimu."

Pipi Hinata ia pegang.

"Aku bahkan sudah mencintaimu sebelum aku mengetahui wajah aslimu." Bisiknya. "Aku juga ngga tau perasaan ini hadir dari kapan, tapi yang jelas aku mencintaimu. Perasaanku padamu nyata. Bukan main-main..."

"Uso."

Hinata terisak. Air matanya terjatuh.

"Pembohong." Hinata memundurkan wajahnya. Wajah Naruto terlalu dekat. "Naruto-kun cuma pura-pura. Sampai kapan mau begini?"

"Hinata—"

"Tolong, s-sudahi ini..." Dengan secuil keberanian, ia mendorong tubuh Naruto. Sudah ia mantapkan diri untuk meninggalkan Naruto seorang diri di sini. Tapi masalahnya satu. Mendadak Naruto menariknya, lebih kasar dari yang tadi, lalu kembali membenturkannya ke dinding tangga. Dan sebelum Hinata kembali menepis tangannya, ada sesuatu yang menabrak bibirnya.

Itu Naruto.

Seorang Naruto Uzumaki menciumnya.

Hinata yang kaget sontak memundurkan wajah. Kepala bagian belakangnya terantuk dinding. Bibir Naruto terus mendesaknya, menciuminya tanpa henti. Belasan kecupan itu membuat perut Hinata seolah keram seketika. Mata lentiknya terpejam rapat.

"Mmh!"

Dan dengan gerakan lihai Naruto mulai memiringkan wajah, dan bahkan mengeluarkan lidah, menyeruak masuk ke sela bibir lembut Hinata yang tidak ia sadari sedikit terbuka.

"Enh!"

Hinata bergetar. Ia takut.

Aliran darahnya berdesir. Decapan dan suara lidah membuat dirinya semakin gentar. Tubuh mereka bergesek. Antara satu yang ingin kabur, dan satu lagi yang terus mendempet tubuh. Dan yang paling membuatnya takut ialah: Naruto menciumnya di sekolah. Tepat di tangga menuju lantai empat. Oke, tangga ini memang sepi, jarang dilewati, tapi tetap bisa dilintasi orang dan melihat mereka, kan?

"Na-Naru..." Hinata mencoba melepaskan diri, tapi tak bisa. Hinata menggelengkan kepala, memekik pelan (yang malah terdengar bagai desahan di telinga Naruto) dan memukul-mukul dada bidang si pirang. Namun perlawanan Hinata gagal total. Inginnya dilepaskan, Hinata malah membuat Naruto kian beringas menciumnya.

Bahkan hanya untuk menyempatkan diri supaya bisa mengambil nafas, Naruto tetap tak membebaskan gadisnya. Nafas hangat terus berhembus. Dan lidah Naruto menyapu pelan permukaan bibir bawah dan atas milik Hinata yang selembut dan semanis permen susu.

Tapi Hinata tidak suka perlakuan ini. Sama sekali tidak suka.

"Le-Lepas! Lepaskan aku—nh!"

Sementara tangan Naruto membelai pipinya, keringat membanjiri Hinata. Jantung berdetak tiga kali lebih cepat dan bulu kuduknya terus-terusan meremang. Sampai akhirnya Hinata kesulitan bernafas. Paru-parunya sakit. Bulu matanya yang tipis mulai basah oleh air mata yang mengalir.

"Le-Lepas, Naruto!" Ia mencoba sekali lagi. "Na-Naruto-kun—kyaaa!"

Dan yang paling Hinata kagetkan adalah sewaktu Naruto menarik kaki kanannya, membuat lipatan kakinya menaiki pinggang pria tersebut. Hinata luar biasa terbelalak. Pria itu terus mendempetnya, membiarkan diri mungilnya habis diraup oleh pelukan Naruto yang terasa gila. Dan tubuh bagian depan mereka menempel erat.

Hinata benar-benar ketakutan.

Posisi ini... apa-apaan...

Hati Hinata menjerit.

"Menjauh dariku! Tolong!"

Naruto tetap memaksanya, karena itulah Hinata mencoba melawan. Ia menggigit bibir Naruto sekeras yang ia bisa.

"Ukh!"

Naruto meringis. Bersama rasa anyir besi yang terkecap di lidahnya, ia segera menyentak kepalanya ke belakang. Ada sebuah kesempatan, Hinata mendorongnya kuat-kuat, membiarkan pria itu mundur beberapa langkah. Dengan wajah pucat pasi Hinata menatapnya. Nanar. Lalu ia berlari menuruni anak tangga.

Dan Naruto masih bergeming di tempatnya. Nafasnya tersengal.

"Kenapa, hah!? Kenapa kau menolaknya!?"

Teriakan Naruto menyertai Hinata yang baru saja menapakkan kakinya ke koridor lantai tiga. Beberapa murid—yang baru sadar ada mereka di tangga ke atas—menoleh. Hinata berhenti berlari. Ia menoleh dan mendapati raut wajah Naruto yang dipenuhi amarah.

"Bukannya kau juga suka!? Kau suka padaku, kan!? Kau suka kucium, kan!? Lalu kenapa kau menolakku!? Perasaanku ini ngga main-main! Bukan kepura-puraan! Aku menyukaimu sebesar rasa cinta!"

Hinata berpaling. Tak ingin mendengar sepatah kata lagi dari Naruto, ia segera berlari pergi. Entahlah ke mana yang penting jauh dari pria itu.

Setelah kepergian Hinata, Naruto merosot. Dirinya duduk di ubin tangga. Kemudian ia menarik nafas, memejamkan mata, lalu mencengkram seragam di bagian dada. Hatinya sakit. Rasanya ada ribuan jarum yang menusukinya tanpa henti. Ia sama sekali tak peduli dengan pandangan siswa-siswi lain yang menatapnya dengan pandangan heran.

"Sekarang aku ngerti kenapa banyak yang menangis karena hal sepele seperti ini."

Tangan tan-nya terkepal dan ia melemparkannya ke dinding di sebelah.

"Sialan."

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Di menit kesepuluh sesudah jam pulang berdering, Sasuke sedang duduk di dalam ruangan khusus, memenuhi sebuah panggilan yang memvonisnya sebagai 'kandidat tersangka'. Tsunade Senju, sang kepala sekolah, duduk di hadapan Sasuke. Di antara mereka terdapat meja kaca berwarna coklat yang ditumpuki oleh puluhan dokumen penting.

Untuk beberapa detik ke depan, kedua orang yang mengisi ruangan kecil ini tak bersuara, tak bergerak, dan tak melakukan apa-apa selain bernafas. Sampai akhirnya Tsunade menegakkan posisi duduknya dan menyilang tangan di dada.

"Nah, Uchiha-san... berhubung kau baru sekali masuk ke sini, aku akan bertanya baik-baik." Ia berdehem. "Bisa kau jelaskan kenapa tadi pagi Lee jatuh dari tangga?"

"Entah." Sasuke menjawab tak acuh.

"Jangan bohong. Ada cleaning service yang mengatakan bahwa kau sempat meninjunya."

"Aku ngga ninju dia."

"Pipi Lee biru. Itu sebuah bukti."

Sasuke mendengus. "Pagi tadi—saat aku berjalan menaiki tangga—Lee berlari di tangga untuk menyapaku. Aku berbalik dan dia langsung terjatuh." Bohongnya dengan lancar. "Mungkin dia tersandung dan pipinya menghantam pegangan tangga. Aku ingin menahannya tapi telat."

"Jadi... ini kecelakaan?" Tsunade bertanya dan Sasuke mengiyakan.

Lalu tanpa banyak interogasi lagi Tsunade mengangguk percaya. Toh, untuk apa dia menuduh Sasuke Uchiha—seorang pria yang terlihat seperti anak baik—baku hantam dengan siswa hiperaktif macam Lee? Tidak masuk akal juga, kan? Makanya lebih baik ia cepat-cepat selesaikan masalah ini. "Baiklah. Kalau begitu, kesimpulan yang kita sepakati adalah ceritamu tadi. Lee terjatuh karena kecelakaan, oke? Jika Lee yang berada di rumah sakit sudah siuman, aku akan menanyakan cerita versi dirinya."

"Hn."

"Sekarang lebih bagus kalau kau mencoba meminta maaf juga. Jangan membuat masalah ini menjadi panjang. Mengerti, Uchiha-san?"

"Ya."

"Oke. Terima kasih atas penjelasannya dan silahkan keluar."

Sasuke mematuhi perintah Tsunade. Ia keluar dari ruang kepala sekolah. Namun baru saja ia akan berbalik untuk berjalan ke bawah untuk keluar gerbang, ada sosok perempuan yang sedang berdiri berdiri tegak di depannya.

Itu Sakura dan jarak di antara mereka berdua hanya terpaut satu meter.

Mata mereka bersibobrok. Sasuke memberikannya pandangan malas sedangkan Sakura memandangnya dengan tatapan sengit. Hanya ada kedua manik yang saling bertemu. Tak ada sedikit pun kata-kata yang tercurah.

Dan di keadaan diam seperti ini, sebuah pemikiran merasuki benak Sasuke. Apalagi kalau bukan pembicaraan Naruto dan Sakura di Jum'at yang lalu? Yang ia dengar melalui kedua telinganya sendiri. Yang tentang taruhan. Kepura-puraan. Pem-bully-an. Segalanya.

Dan sebuah hal yang telah pasti; Sakura hanya mempermainkannya.

Lantas hati Sasuke memanas.

Malas melihat sosok pink itu membuat Sasuke berniat pergi. Namun tak disangka siswi berseragam SMA itu menahannya, menarik tangan Sasuke dengan kencang. Sentakan barusan membuat si raven langsung kembali menghadapnya. Tapi di detik yang sama Sasuke ikut bertindak. Tangannya menepis Sakura, kemudian pria itu lanjut jalan menjauh.

Tidak mau menyerah, Sakura ulang menarik menarik tangannya lagi. Kali ini dengan dua tangan. Tapi lagi-lagi dengan mudah Sasuke melepaskannya.

Sasuke berdesis. "Apa-apaan kau ini?"

"Bisa santai ngga kalo ngomong?" Sakura membalas.

"Harusnya kau mengaca saat mengatakan itu."

Sakura berkacak pinggang. Wajah sinisnya semakin kentara. "Oh... kau sudah bisa menjawab omonganku ya, rupanya? Bukannya seorang babu ngga boleh kurang ajar ke majikannya?"

Sasuke tak menjawab. Ia tak ingin melihat Sakura. Namun baru ia menyampingkan tubuh agar bisa mengabaikan seorang Sakura Haruno, untuk yang ketiga kalinya Sakura menyentak Sasuke agar menghadap ke arahnya.

"Pandang aku, sialan! Aku lagi ngomong!" Tangan Sakura naik, mencengkram kedua pipi Sasuke dan memaksa pria itu menatapnya. Nadanya mengeras. "Sasuke!"

Geram, Sasuke kini mendekatkan wajahnya ke Sakura dalam sekali gerakan. Pula menahan kedua tangannya. Sakura yang terkejut sampai memundurkan wajah.

"Apa?" Desisnya, sarkastis dan sinis. Intonasinya memancarkan amarah. "Kau mau bilang apa? Cepat katakan."

Sakura kesakitan. Pergelangan tangannya yang digenggam Sasuke rasanya terlalu keras. Ia ingin menariknya, tapi susah. Karenanya ia segera menarik Sasuke ke ujung koridor di bagian timur—setidaknya bisa lebih jauh dari ruangan kepala sekolah. Kemudian ia hempaskan tubuh Sasuke di daerah sana—sekaligus melepaskan diri.

"Aku mau bicara. Penting." Ucap Sakura, kali ini lebih memelan.

Sasuke diam menunggu kalimat berikutnya.

Sakura menghembuskan nafasnya terlebih dulu. Inilah saat yang tepat untuk menyatakan perang ke Sasuke Uchiha. Karena itulah mata hijau mengkilap milik Sakura ia tegakkan. Lurus memandang si sulung dari kembar Uchiha yang berada di depannya.

"Sebelumnya Naruto bilang kepadaku; katanya kau nguping pembicaraan kami saat istirahat kemarin, kan? Yang kalian hanyalah taruhan dari kami berdua?" Sakura tertawa meremehkan. "Dan aku cuma mau mengklarifikasi masalah itu."

Sasuke menatapnya.

"Semua yang kau dengar dari Naruto... benar. 100% benar. Aku dan Naruto mendekati Uchiha karena sebuah permainan yang kubuat sendiri. Kami berniat mendekati kalian, membuat kalian berdua—Sasuke Uchiha dan Hinata Uchiha—jatuh cinta kepada kami. Setelah ada salah satu dari kami menang, maka kami akan mencampakkan kalian. Membuang kalian seperti sampah." Sakura tersenyum senang mendapati Sasuke yang terus mendengarnya tanpa menginterupsi. Ia pun tertawa. "Kenapa memangnya? Baru tau, ya? Apa kau sakit hati?"

Sakura berjalan mendekat. kedua tangannya merambat ke kerah Sasuke, menariknya mendekat. Sekalipun tinggi tubuhnya jauh lebih rendah dibandingkan Sasuke, Sakura tetap teguh memandang Sasuke dari sekat seminim ini.

"Dan soal pernyataan cintaku yang kemarin... terus terang aja, aku juga main-main. Itu bagian dari permainan." Ia berbisik agak pelan. Ia sedang membohongi dirinya sendiri. Tak sadar bahwa ada dua hati kecil yang tergores saat mendengarnya. Sakura menyeringainya dengan susah payah. Menahan tangis.

"Tapi sayang kami permainan menaklukkan Uchiha sudah selesai. Basi. Kini kami mengubah alur permainan yang lebih menyenangkan. Yaitu... mem-bully kalian. Dan kami akan lebih serius." Sakura mendengus geli. "Jadi kuharap kau tegakan kacamata tebalmu. Jangan sampai terjatuh dan pecah saat permainan kami berlangsung."

Sasuke diam. Tak merespons apapun.

"Dan baiklah. Aku sudah selesai." Sakura tertawa kecil dan mendekatinya. "Oh, iya. Statusmu masih jadi pembantuku, kan?" Gadis itu melempar tas jinjingnya yang berwarna merah pudar ke pria tersebut. Sasuke tak bergerak; sehingga habis menyentuh dadanya, tas ringan itu meniban kedua sepatunya.

"Ambil." Ujar Sakura, main perintah. "Bawain tasku. Aku mau pulang."

Sasuke masih tak bergerak. Garis bibirnya masih datar.

"Kamu denger aku ngga sih, Mata Empat!? Tasku jatuh! Ambil!"

Angin kembali berhembus. Di koridor yang terbuka ini surai merah muda milik Sakura terayun pelan, begitu pula dengan helaian poni Sasuke yang menumpuk di bagian atas kacamata. Lagi-lagi Sasuke tak menanggapinya. Ia tak diacuhkan. Sakura marah.

"KAMU TULI YA? AMBIL DONG! JANGAN BUANG-BUANG WAKTUKU—!"

Set.

Pada akhirnya Sasuke membungkuk. Tangan putih pucatnya menggapai tali tas Sakura. Dan baru saja Sakura mendekat untuk menarik Sasuke, mendadak pria itu melempar tas Sakura ke luar dinding pembatas lantai dua. Sakura terkejut bukan main. Dan sedetik terlewat, suara gemerisik keras terdengar dari semak-semak terdekat. Sepertinya tas tersebut jatuh di tumbuhan taman sekolah.

"A-APA!? APA YANG KAU LAKUKAN!?" Sakura panik. Ia berlari ke sana dan melihat kawasan lantai satu. "Di sana ada ponsel, kotak make up dan juga gagdet-ku yang lain, tau! Kalau pas kau lempar benda-benda itu rusak, bagaimana, hah—!?" Amukan itu tercekat tatkala Sasuke mendadak menaruh kedua tangannya di pinggang Sakura dan mengangkat tubuhnya ke atas. Bulu kuduk Sakura meremang.

Dirinya diangkat tinggi. Kedua kakinya ia goyangkan dan tangannya terkibas ke sana-ke mari. Sasuke yang menaikkan tubuh Sakura langsung membawanya ke arah dinding pembatas. Sakura pun gelagapan. Ia panik dan mencengkram erat kemeja putih Sasuke yang barada di bawahnya.

"TURUNKAN AKU, SASUKE!"

Di balik kacamata bulat itu Sasuke menatapnya sengit.

"Kenapa?" Sasuke bertanya santai. Kepalanya ia miringkan dan bibirnya sedikit tersenyum. "Bukannya kau mau menyusul tasmu, hn?"

"A-Apa?" Sakura merinding di tempatnya. "Kau gila, ya!? Jangan main-main!" Gadis itu memejamkan matanya. Keringat dingin bercucuran. Terutama saat ia melihat ketinggian dari lantai dua.

Dan jika Sasuke serius membuangnya dari sini, mungkin dia tidak akan mati. Lihat saja, jarak dari atas ke bawah paling cuma beberapa meter. Tapi kemungkinan besar untuk tulang remuk dan patah kan tetap ada.

"Sasuke! Aku takut, bodoh! Jangan buat aku mengambang di udara seperti ini! Cepet turunin! Please!"

Dan dari posisinya sendiri, Sasuke yang mengadah, menatap wajah Sakura, lalu terdiam. Gadis itu sudah nyaris menangis. Bahkan bibirnya sampai mengucapkan berbagai kata mohon. Karena itulah Sasuke menghembuskan nafas, dan sedikit menekuk sikut lengannya yang semula lurus, menurunkan Sakura.

Sakura menghela nafas lega.

Namun belum sampai kaki Sakura menggapai lantai, ada sebuah pergerakan yang membuat Sakura terkejut. Tubuhnya ditarik mendekat oleh Sasuke, menyentuh pundak pria itu. Lengan Sasuke menyilang di pinggangnya, dan wajah Sasuke menyentuh lehernya.

Sakura merinding.

Apa saat ini Sasuke... sedang memeluknya?

"E-Eh?" Sakura kikuk sendiri. Bunyi jantungnya yang menggila membuat ia sulit berpikir. Ia pun menelan ludah dan mencoba melepaskan diri. "Sasuke? A-Apa yang kau lakukan!?"

Sambil memberontak wajah Sakura memanas dratis. Dan kedua tangan kokoh milik Sasuke belum melepaskannya. Dia bahkan kian mengeratkan sentuhannya. Sakura kalut. Segala fungsi organ tubuhnya menjadi tidak karuan. Ia bahkan nyaris lupa cara menarik nafas. Cakaran pun Sakura layangkan di punggungnya.

"Kenapa kau main peluk? Lepasin! Aku jijik—!"

"Kau membuatku kecewa."

Set.

Sakura terbelalak. Belum sempat dibuat sadar oleh kalimat tajam dari Sasuke, mendadak pria tinggi itu duluan menjauhkan tubuhnya, membiarkan Sakura mundur sampai menabrak dinding pembatas koridor.

Sakura meringis dan Sasuke menatapnya tanpa ekspresi.

"Kalau kau mau mem-bully-ku, silahkan. Aku terima tantanganmu. Dan kuharap kau ngga nangis seperti bayi jika aku membalasmu seperti tadi."

Telak. Sakura serasa tertembak. Saat Sasuke menggendongnya, ia memang sangat takut sampai matanya mengeluarkan air mata. Ia terlalu segan untuk mati. Dan apa itu artinya... saat ia mem-bully Sasuke, dia akan berusaha melawan?

"Aku membencimu Sasuke!"

Teriakan sakura membuat Sasuke—yang sudah menjauh—menoleh. "Sama."

"AKU JAUH LEBIH MEMBENCIMU!"

Sasuke menahan nafas. "Sama."

Pria raven itu berbalik. Ia ada sebuah bagian di dalam dirinya yang sakit tiap kali mendengar pernyataan Sakura yang satu itu. Kemudian ia pergi.

Sakura yang masih kaget dengan serentetan hal yang ia alami tadi merosot turun. Ia duduk sambil bersandar. Ia hela nafasnya panjang-panjang dan memejamkan mata.

"Kecewa, katamu!?" Lirihnya. Matanya menyipit. "Kau duluan yang membuatku kecewa! Sifatmu yang dikatakan Gaara itu emangnya tak membuatku patah hati, apa!? Chikuso!" Sakura berteriak histeris. Tanpa sadar dirinya menangis.

.

.

~zo : twins alert~

.

.

Kepulan awan putih berderet tak beraturan di atas permadani langit biru. Bahkan bulatan matahari yang sudah beranjak turun tak lagi begitu tampak di baliknya. Di atas atap sekolah, tepat di jam 15.36, kedua mata safir Naruto memperhatikan panorama tersebut tanpa berkedip. Ia yang sedang sendirian itu merebahkan punggungnya di lantai. Kedua tangannya yang terlipat dijadikan bantalan kepala.

Bosan, perahan-lahan Naruto memejamkan mata. Nafas yang sebelumnya ia tarik dihembuskan perlahan.

Sudah lama ia tidak begini. Sendirian, diterpa semilir angin, tak ada suara, hening dan senyap. Lama terpejam dengan pikiran kosong membuat Naruto nyaris terlelap. Namun entah kenapa dia tidak bisa benar-benar tidur. Ada sebuah pemikiran yang datang dan mengganggunya.

Tangan Naruto secara otomatis bergerak. Jari telunjuk dan tengahnya menyentuh bibirnya yang masih terluka. Perih.

'Uso. Pembohong. Naruto-kun cuma pura-pura.'

Kelopak mata Naruto terbuka. Garis bibirnya masih membentuk strip lurus. Kemudian ia mengusap wajah.

"Untuk apa aku memikirkan cewek itu?"

Lagi—angin sejuk melewatinya. Rambut Naruto yang jabrik tersapu pelan.

"Ngga ada gunanya..."

Naruto pun beranjak. Begitu bayangan Hinata melintas di otaknya, rasa nyaman yang sebelumnya ia dapatkan langsung hilang seketika. Ia pun mendudukkan diri. Merogoh saku seragam untuk mencari seputung rokok dan pemantik.

"Belum pulang?"

Suara itu menahannya. Naruto menoleh dan mendapati sosok siswa yang baru saja membuka pintu atap. Pria itu memiliki kulit pucat. Potongan rambutnya pendek, namun agak sedikit ikal—atau lebih tepatnya tak beraturan. Mata jade hijaunya memandang lurus Naruto.

Itu Sabaku Gaara.

Dan terus terang saja Naruto tidak senang dia datang. Sudah dari dulu mereka memiliki hubungan yang kurang baik. Apalagi jika disambungkan dengan suasana hatinya hari ini.

"Hei, aku bertanya..."

Naruto yang sudah menyalakan rokoknya menghembus asap dari mulutnya dan berdiri. "Kau bisa melihat sendiri, kan?" Ia menggedikkan bahu, berjalan menuju jalan keluar.

"Kalau begitu ini waktu yang tepat. Bisa kita bicara sebentar?"

"Tentang?"

"Hinata."

Nama itu bagaikan listrik bagi seorang Naruto Uzumaki. Ingatannya kembali pada beberapa jam yang lalu, tepat di mana Hinata menolaknya habis-habisan. Rasa malu, kesal, terhina dan juga sedih bercampur aduk menjadi emosi yang tak beraturan.

"Aku ngga mau ngebahas dia. Sana cari orang lain—"

Sebelum Naruto melewatinya, Gaara menahan lengannya. Ia sedikit mendorong Naruto dan membiarkan tubuh mereka berhadapan.

"Aku mau ngasih penawaran menarik. Dan aku yakin kau pasti suka." Ujarnya. "Seperti apa yang Sakura bilang, kami mau mengajakmu untuk mem-bully Hinata. Apa kau masih ingat?" Gaara menyeringai. "Ya, aku tau kau sempat menolak. Tapi berhubung aku mendapat kabar kalau kau telah diabaikan oleh Hinata, lebih baik kau mau bekerja sama dengan kami."

"Oh... jadi kau yang ngaruhin Sakura untuk nge-bully mereka?"

"Aku cuma ngomporin Sakura. Selebihnya ia yang membuat keputusan. Lagi pula ini rencana yang hebat." Gaara mengangguk. "Gimana? Ada niatan kerjasama?"

Naruto tersenyum sinis. "Kalau aku jawab ngga mau?"

"Fine. Ngga ada masalah."

Gaara mengangguk pelan. Ia pun memandangi wajah Naruto dan menemukan sebuah kejanggalan di daerah bibirnya. "Wajahmu menggelikan. Luka itu hasil pertarunganmu dengan Hinata, hah? Di luar dugaan ya, cewek itu liar juga..."

Hati Naruto memanas. Ia kesal. "Ngga usah dibahas!"

"Tenang, Naruto..." Gaara mengangkat tangan, membentuk pose menyerah walau bibirnya masih menyunggingkan senyum mengejek. "Aku cuma berbasa-basi."

Naruto menggeram dalam hati. Entah kenapa mood-nya jadi makin jelek begini. Segala emosi menguasainya bagaikan Sakura saat PMS. Kemudian pria itu menyilangkan tangan di dada dan menatap sinis Sabaku Gaara.

"Aku sama sekali ngga peduli. Mau kalian mem-bully Hinata, Sasuke, atau siapa pun—terserah. Suka-suka kalian. Tapi aku ngga mau ikutan."

Gaara berpikir. "Jadi kau mengizinkan kami semua melakukan rencana ini?"

"Ya. Asal aku ngga dilibatin."

"Oh, jadi semua orang juga boleh kusuruh nge-bully Hinata?"

"Hm."

"Aku boleh menghinanya?"

"Silahkan."

"Menyiksanya?"

"Aku ngga peduli."

Gaara menaikkan kedua sudut bibirnya. "Kalau bully di ranjang?"

Naruto mendelik marah. "Jaga bicaramu, brengsek!"

Gaara mendengus geli—nyaris tertawa melihat wajah Naruto.

"Oke, oke... santai, aku ngerti. Makasih atas izinnya. Aku akan ngasih tauin hal ini ke Sakura." Gaara berbalik. Ia akan keluar dari kawasan atap. "Karena ini telah kau setujuin, aku mau ngasih peringatan kepadamu; awas kalau kau menghalang-halangi perbuatan kami, atau menjadi pahlawan kesiangan untuk si kembar sialan itu."

Blam.

Suasana hening. Permukaan kulit wajahnya masih dibelai oleh angin yang berhembus tenang. Tak ada satu pun hal yang terpikir lagi di otaknya. Hanya ada pandangan kosong yang mengarah ke dua sepatunya yang berpijak di atas lantai berdebu.

"Hh..."

Naruto mendesah malas sambil mengadah. Ia pandangi awan kelabu di langit-langit. Dan yang terakhir, ia membelai permukaan bibir bawahnya yang terluka dengan ujung lidah.

"Maaf..."

Matanya terpejam.

"Kau sendiri yang menolak kulindungi."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

Author's Note :

Yup. NaruHina-nya udah full se-chap, kan? Semoga kalian suka, ya. Jangan kayak aku yang nangis pas ngerusuhin hubungan NaruHina dan SasuSaku (huhu). Mulai besok akan kubuat scene pembuliannya. Dan kuusahain porsinya kembali seimbang. Keep reading, minna... :')/

.

.

Thankyou for Read & Review!

Special Thanks to :

Febri Feven, Vermthy, Nauri Aconitumferox, Natsumo Kagerou, utsukushi hana-chan, Tuxedo Putih, AF Namikaze, andypraze, chrizzle, yoshikuni ayumu, Namikaze archiless, m-u-albab, Lhylia Kiryu, stillewolfie, NaruHina-Lover, Eysha 'CherryBlossom, heramardian123, Hinamori Miko Koyuki, Chikal, Nimarmine, El Chey, flowers lavender, YashiUchiHatake, Akasuna Sakurai, spring field sakura, zhufar, a first letter, Haru Huru-Hara, Ricchi, Adek kecil, sara, LotuS-Mein319, happy, Daku, jannah-gemini, Yumi Murakami, Guest, Durara, Neko chan, kobaysen, uchiha sabai, Chimunk, Ribby-chan, Benrina Senju, Ifaharra sasusaku, Kyoanggita, GraceAnnesh, NejiMi, Hana-chan noBaka, Bunshin Anugrah ET, Clara Merisa, beky, Tsuki Yuzuriha, iya baka-san, haruchan, celineyl, XXX, violetgrape, Maika, nada-nada-5059601, Reza Amelia Qaran, Guest, Guest, panglima-perangcinta-7, siput puput, sara-adja-7, Naruhina, firapucha, dimas-priyadi-524, keybaekyixing, Namikaze-kun, N2Abesties, uchiha-cherryblossom1, Haruchi Nigiyama, Vulpeculla Aoi.

.

.

Pojok Balas Review :

Konfliknya makin panas. Kesalahpahaman di mana-mana. Iya, udah ke puncak cerita sih. Kreatif dan imajinatif. Terima kasih :) Oh, jadi karena itu Gaara benci Uchiha. Iyaa. Di chap 13 Sasuke dan Gaara sama-sama ngeselin. Kalo menurutku sih lebih ke salah Sasuke yang lebay /dicekek Sasu/. Ga sabar liat Sasuke buka penyamaran. :') Kasian liat SasuSaku dan NaruHina. Mereka kan udah saling suka, ya? :') Saara Sabaku itu OC, ya? Saara bukan OC. Dia punya MK, tapi marganya bukan Sabaku, dan dia cuma muncul di movie. Rambutnya merah dan kayak Karin gitulah. Apa nge-bully-nya bakalan kejam? Cooming soon ajalah. Apa Gaara pernah kepikiran untuk ngebunuh Hinata? Sempet. Yang di outing itu kan Gaara sempet nyelakain Sakura dan Hinata. Ceritain keluarga Uchiha dong. Hmm. Bahasa Sasuke formal aja dong. Sip. Zo suka nulis. Zo sering dibully. Kesimpulannya Zo suka nulis scene pembullian berdasarkan pengalaman pribadi. Wkwk #tendangyangreview. Kebanyakan nonton sinetron. Fict-ku ala sinetron semua kok :)) Naruto sanggup ngga ya bully Hinata? Kalo keadaannya udah begini, kira-kira bisa atau ngga? Bagaimana cara Gaara dan Sakura bully Uchiha kembar? Menurut kalian gimana? :)

.

.

Next Chap :

"Oh, iya. Bicara soal Hinata... apa kabar calon pacarmu yang itu?"

"Bukannya kita tinggal panggil babu kesayangan kita aja

"Dan kalau boleh mengingatkan, tolong dipercepat waktu bicaranya, aku ngga mau kelihatan bicara sama orang rendah sepertimu."

"Dengarkan aku, Sakura."

.

.

I'll pleased if you enter your comment

Mind to Review?

.

.

THANKYOU