Story belong Lhyn Hatake

Cast Belong them self

Chanbaek/BaekYeol – GS

.

.

.

Chap 13

Hari sudah gelap saat Baekhyun kembali ke Park Mansion dan yeoja itu sedikit penasaran melihat dua mobil yang tak dikenalinya terparkir didekat garasi yang penuh. Menebak kemungkinan ada tamu, Baekhyun memilih masuk melewati pintu samping yang menyisir kearah kolam renang. Dia masuk kedalam kamarnya dengan sedikit cemas, membuka pintunya perlahan dan menghela napas lega saat kamar itu kosong. Tak ada Kyungsoo atau pun Chanyeol.

Segera melempar tas dan menjatuhkan dirinya diatas kasur yang kosong. Dia menghindari Chanyeol dan dia memahami betul alasan hatinya merasa sangat kosong saat ini. Satu-satunya hal yang diinginkannya saat ini hanya terlelap dan menjauh dari perasaan hampa yang terus saja mengikutinya.

'Cklek'

Suara pintu terbuka, sesaat membuat Baekhyun terkesiap dan segera merasa lega saat melihat Kyungsoolah yang memasuki kamar mereka. Kelegaan yang segera lenyap saat mata keduanya bertemu. Baekhyun menunduk, dia bangkit dan duduk ditepi ranjang.

"Kau sudah pulang," bukan pertanyaan, hanya sebuah gumaman pelan.

Baekhyun tak menjawab, yeoja itu turun dari tempat tidurnya, menghampiri Kyungsoo dan segera memeluk sahabat satu kamarnya itu. "Maafkan aku."

Baekhyun tahu, Kyungsoo bukanlah seorang pemarah. Tapi tetap saja dia merasa sangat perlu untuk meminta maaf pada yeoja itu atas sikap kasarnya pagi tadi. Diapun merasa lega saat Kyungsoo balas memeluknya.

"Sudah merasa lebih baik?"

Baekhyun mengangguk.

"Kau tidak mematuhi nasihatku."

"Jangan bahas itu, kumohon. Tapi nanti pasti kuceritakan padamu," Baekhyun melepaskan pelukannya, dia mundur dan kembali duduk diatas kasur. Kyungsoo mengikutinya dan duduk disampingnya.

"Rasanya sulit tidak membahas itu, aku melihat sendiri Tuan Muda Chanyeol—"

"Please…"

Kyungsoo menatapnya dan gadis itu mengangguk. Lalu diam dan mengalihkan pandangannya pada pintu diam didepan mereka.

"Ada tamu?" Baekhyun mengingat dua mobil yang dilihatnya diluar dan dia butuh topik yang mengalihkan perhatian.

"Keluarga Kim, kelihatannya mereka sedang membicarakan pernikahan Nona Muda Yixing dan Tuan Muda Joonmyun," Kyungsoo meraih boneka kesayangannya dan memeluknya erat, kemudian yeoja itu berbaring dengan kaki yang masih menjuntai kebawah.

"Bukannya mereka masih berlibur di Jepang?"

"Yah, mereka hanya bicara, bukan menggelar pernikahan. Kupikir Nyonya besar ingin segera memiliki cucu," Baekhyun melihat dengan jelas gelagat usil dimata sahabatnya, tapi sialnya, ini memang memancing perasaan tak enak di perut Baekhyun.

"Soo…" Baekhyun menatapnya lemah. "Apa aku bisa hamil?"

Dan Kyungsoo menatapnya dengan muka campuran keheranan dan jenaka. "Tentu saja, kau kan yeoja! Katakan kalau kau yeoja sejak lahir dan bukan transgender!?"

"Aku serius!" Baekhyun menarik yeoja itu agar kembali duduk. "Kau tahu… Chanyeol berusaha membuatku hamil."

Kyungsoo memutar bola matanya dan mendesah bosan. "Kau tidak lupa aku pernah berdiri didepan pintu itu sementara kau mendesah didalam sinikan?"

"Bukan itu! Maksudku, dia benar-benar menginginkannya… dia membuang pilku dan juga melakukan posisi-posisi yang… bagitulah!"

Kali ini Baekhyun tahu Kyungsoo memperhatikannya dan dia juga melihat rona merah tipis dipipi yeoja itu. "Kapan? Kau sudah tespack?"

"Beberapa hari yang lalu, apa hasilnya akan sudah bisa terlihat?"

"Baekhyun, aku tahu kau bodoh! Tapi tidak sebodoh ini! Tunggu dua minggu lagi."

Baekhyun menghela napas, dia mengusap perutnya dan merasa aneh. Apa yang akan terjadi kalau dia benar-benar hamil? Lalu bagaimana dengan rencananya dan Yifan? Dia berebahkan dirinya dan menatap langit-langit kamar mereka yang kosong, hanya dihuni oleh sebuah bola lampu putih yang menyala.

Kyungsoo ikut berbaring disisinya, kedua lengannya masih memeluk boneka kesayangannya. Boneka domba berwarna pink yang sudah ada ditangannya ketika yeoja itu pertama kali datang untuk bekerja disini.

"Baek…"

"Hem?"

"Bagaimana rasanya?"

"Apa?" Baekhyun mengernyit, berguling menyamping untuk menghadap Kyungsoo yang masih menatap langit-langit.

"Saat pertama kali kau dan Chanyeol melakukan itu, apa itu menyakitkan? Apa kau tidak takut?"

Pertanyaan Kyungsoo membuatnya kembali mengingat malam itu, dan dia merasakan pipinya menghangat. "Tidak buruk kok. Memang terasa sakit, sedikit. Tapi… segera jadi menyenangkan. Kupikir yang terpenting adalah dengan siapa kita melakukannya. Aku mencintai Chanyeol dan aku sama sekali tak pernah membayangkan melakukan hal-hal seperti itu dengan orang lain. Jadi, saat kami melakukannya, aku benar-benar merasa lega. Apa yang terjadi?"

Kyungsoo menghela napas masih dengan menatap langit-langit. "Terakhir kami berkencan, dia membawaku kerumahnya dan berkenalan dengan keluarganya. Lalu, saat kami dikamarnya, dia menciumku dan kupikir kami akan melakukannya sampai tiba-tiba aku merasa takut dan kurasa dia tahu jadi dia menghentikannya," yeoja itu kembali menghela napas. "Menurutmu, apa dia kecewa padaku?"

Saat Kyungsoo menatapnya, Baekhyun segera menggeleng. "Jongin bukan namja dengan pikiran yang seperti itu. Dia melakukannya pasti karena benar-benar menginginkanmu, dia mencintaimu dan kalau kau juga mencintainya seharusnya kau tak perlu takut."

"Tapi bagaimana bisa aku merasa tidak takut? Aku belum pernah melakukannya dan meskipun aku menginginkannya tetap saja aku merasa takut."

"Aku tahu. Saat itu aku juga merasa takut, aku terus memikirkan apa yang harus kulakukan? menghentikannya atau membiarkannya melanjutkan semuanya. Tapi saat aku menatap matanya, dia menarikku menjauh dari rasa takut. Kau harus yakin padanya. Tapi kalau kau memang merasa tidak yakin, tentu saja kau boleh menolaknya."

Kyungsoo melepaskan boneka dombanya dan memeluk Baekhyun erat. "Terima kasih, aku senang kau ada disini. Saat pertama kali aku datang, kupikir ini akan jadi tempat yang menyeramkan, tapi melihat kau ada dikamar ini semuanya jadi terlihat normal."

"Sama-sama, aku juga senang mereka menerimamu. Masakanmu enak."

Baekhyun tersenyum lega, dia senang bisa mengakhiri sesuatu dengan baik hari ini. Meskipun diluar kamar ini masih ada begitu banyak hal-hal menyesakkan yang akan menjangkitinya besok pagi. Setidaknya malam ini dia bisa memeluk Kyungsoo dan tidur dengan seorang sahabat yang tersenyum disisinya.

.

.

Baekhyun berdiri dengan bingung didepan pintu kamar Chanyeol. Beberapa maid yang lewat dibelakangnya menyapanya dengan raut keheranan. Dia sendiri juga bingung, pagi ini dia terbangun dengan terkejut seperti seseorang baru saja meneriakinya. Saat dia sadar bahwa itu hanya perasaan tak mengenakkan yang dia bawa hingga kealam mimpi, dia tahu dia harus membuat pilihan yang cukup dilematik pagi ini.

Masuk ke kamar Chanyeol untuk membersihkan dan merapikan kamar namja itu seperti biasa dengan resiko dia mungkin akan ditangkap oleh namja itu dan entah apa yang akan terjadi padanya atau… melalaikan semua tugas-tugasnya dan segera kabur dari Chanyeol selagi bisa.

"Baekhyun, kau baik-baik saja?"

Baekhyun berbalik dan menatap seorang maid yang membawa perlengkapan pel ditangannya, menamdangnya dengan keheranan juga. Baaekhyun mengangguk. "Aku baik Eunyeo," dia memberi senyum pada maid itu.

Tak ingin semakin banyak orang yang menatap aneh kearahnya, dia meraih kenop pintu dan sangat bersyukur pintu itu tidak terkunci. Yeoja itu membuka sedikit pintunya dan mengintip kedalam, kosong. Suara dari kamar mandi membuatnya merasa sangat lega.

Baekhyun masuk dan memastikan pintu kamar itu tetap terbuka dengan mengganjalnya menggunakan keranjang baju kotor agar penutup pintu otomatisnya tidak bekerja. Yeoja itu melakukan pekerjaannya dengan sangat cepat, mengganti sprei, membersihkan meja, mengumpulkan barang-barang kotor dan memasukkannya kedalam keranjang didepan pintu, menyedot debu, membuka jendela balkon dan terakhir menyiapkan baju untuk Chanyeol dan meletakkannya diatas kasur. Selesai.

Baekhyun sudah berpikir untuk pergi dari kamar itu setelah membawa semua peralatannya keluar, namun dia teringat sesuatu. Dia kembali berbalik, mendengarkan suara air yang masih mendomonasi dikamar mandi dan mengetuk pintu itu dengan pelan.

Segala suara dari dalam terhenti.

"Aku tunggu kau dibawah, kita sarapan disana," dia berkata dengan cepat. "Aku akan berangkat dengan Bus kalau kau tidak turun," dan menambahkan dengan lebih cepat.

Baekhyun berbalik dan berjalan dengan cepat, Chanyeol sudah tahu dia ada disini jadi dia harus segera pergi sebelum…

"Menghindariku lagi?" dua lengan basah melingkar diperutnya dan menahan langkahnya.

Baekhyun tidak tahu bahwa bertemu dengan Chanyeol akan berefek sangat buruk pada jantungnya. "Lepaskan Yeol," gumam Baekhyun pelan.

"Berapa kali kau mau menghindariku?" suara bassnya terdengar begitu dekat ditelinga Baekhyun.

"Lepaskan aku, pintunya terbuka."

"Itu ulahmu. Jawab aku Baekhyun, kemana kau kemarin? Apa yang kau lakukan?"

Baekhyun diam, sangat tidak mungkin baginya menjawab pertanyaan Chanyeol. Dengan sedikit keras karena Baekhyun yang berusaha menolak, Chanyeol membalikkan yeoja itu menghadapnya. Tak peduli dengan penampilannya yang basah dengan bathrobe putih yang dia ikat asal-asalan tadi.

"Baekhyun…" namja itu terdengar sedikit putus asa. "Apa yang kau inginkan?"

Yeoja yang sedari tadi tak menatapnya, kini menatapnya dengan dingin. "Kau tahu apa yang kuinginkan Yeol, aku tak mau pembicaraan kita berputar-putar ditempat yang sama."

"Kemana kau pergi kemarin? Apa yang kau lakukan?" Chanyeol mengulang pertanyaan yang sama dan itu membuat Baekhyun kesal.

"Aku tak akan mengatakan apapun padamu, jadi berhenti bertanya."

"Baek—"

"Pakai bajumu, aku akan pergi dengan Bus kalau kau berusaha membuatku terlambat kuliah, aku ujian hari ini," Baekhyun mendorong namja itu agak kasar, dia berbalik dengan cepat, meraih keranjang cucian yang sekarang penuh dari depan daun pintu dan membawanya kebawah.

Setelah memberikan semua barang-barang itu pada maid yang bertugas melaundry, Baekhyun kembali kekamarnya untuk mengambil taskuliah dan ponselnya. Saat kembali ke meja makan dan Chanyeol belum hadir disana dia pergi kearah dapur, membantu maid memindahkan makanan dari meja dapur ke troli yang akan mereka bawa keruang makan utama. Dan dia kembali membatu maid itu memindahkan makanan dari troli kemeja makan utama dimana Nayoung dan tengah duduk dengan Zitao.

"Duduklah disini Baekhyun," Nayoung menunjuk kursi Yixing yang kosong.

Baekhyun mangangguk. "Baik Umma," dan dia duduk dikursi Yixing, berhadapan langsung dengan Zitao.

"Dimana Chanyeol?"

"Masih dikamarnya, dia masih mandi saat aku selesai memembersihkan kamarnya."

Nayoung mengangguk, yeoja cantik itu meraih cangkir teh dan menyesapnya pelan. Sementara Baekhyun mulai mengisi piring didepannya dan juga piring disampingnya. Mungkin terdengar terlalu percaya diri, tapi dia tahu Chanyeol akan duduk disampingnya dan memakan makanan yang disiapkannya dari pada duduk disamping Zitao.

Dan itu memang terjadi, Chanyeol datang dan segera menarik kursi disisinya. Memakan makanan dipiringnya dan meminum kopi dari cangkir yang dituangkannya. Tanpa sedikitpun cela. Suasana dimeja makan hening, tak ada pertanyaan-pertanyaan lain yang biasanya dilontarkan oleh Nayoung kepada semua orang didepannya. Tapi kali ini yeoja itu diam.

Hingga Chanyeol menghabiskan sarapan dan juga kopinya, suasana tetap hening. Chanyeol bangkit dengan seperti biasa menarik serta Baekhyun ditangannya.

"Kami berangkat Umma," Baekhyun menunduk pamit.

"Hati-hatilah dijalan."

Zitao juga bangkit dari kursinya dan mengikuti mereka dari belakang. Mereka baru tiba diruang depan ketika Chanyeol menghentikan langkahnya, mengenggam tangan Baekhyun lebih erat dan menarik yeoja itu persis kebelakang punggungnya. Seakan hendak melindungi Baekhyun dari apapun yang ada didepannya.

"Apa aku terlambat untuk sarapan bersama?" suara Yifan dan Baekhyun perlu bergeser sedikit untuk bisa melihat namja campuran China-Korea itu. Rasa cemas segera menyergapnya.

"Apa yang kau lakukan disini?" suara Chanyeol terdengar sangat tidak bersahabat.

"Kupikir aku bisa mengantar Baekhyun ke kampusnya, bagaimana Nona Kecil?" Yifan perlu memiringkan tubuhnya agar bisa memandang Baekhyun yang terus saja ditahan dibelakang punggung Chanyeol.

"Menjauh darinya!" desis Chanyeol, dia tak senang melihat sikap santai Yifan.

"Kurasa itu akan semakin sulit, terutama setelah apa yang kami bicarakan kemarin."

"Gege!" Baekhyun tersentak. Dia sama sekali tak mengira Yifan akan mengatakan hal itu didepan Chanyeol secepat ini.

Mata Chanyeol menyipit tak suka.

"Baekhyun, aku belum mendengar jawabanmu?" Baekhyun tak mengerti bagaimana Yifan bisa bersikap begitu santai saat ini. Terutama dengan tatapan mematikan yang Chanyeol berikan padanya.

"Aku sudah bilang akan berangkat dengannya kalau dia tidak membuatku terlambat."

"Kau dengar? Pergilah!" Chanyeol kembali menarik Baekhyun dan dengan sengaja menyenggol bahu Yifan dengan keras saat melewatinya.

"Bagaimana kalau makan siang? Belum ada janji dengan siapapun kan?" sekali lagi Yifan berkata, bahkan kali ini terdengar keriangan dalam suaranya. Chanyeol tak mengehentikan langkahnya, dia terus saja berjalan dengan cepat bersama Baekhyun digandengannya. "Aku akan menelponmu nanti, Baekhyun!"

Baekhyun memasuki mobil dengan cepat dibawah tatapan tak suka dari Chanyeol dan Zitao masih mengekor dibelakang mereka. Yeoja tinggi itu membuka pintu belakang dengan pelan, sesaat dia berbalik dan mata pandanya bertemu langsung dengan sorot tajam milik Yifan. Dia menunduk, menyembunyikan raut sedihnya dibalik tirai rambut hitamnya yang ikut jatuh kebawah.

Chanyeol segera memacu mobilnya meninggalkan rumahnya dan Yifan yang terus memandangi mereka. Entah sejak kapan dia merasa begitu membenci Yifan. Sejak kecil, Baekhyun memang cukup dekat dengan Yifan, tapi Chanyeol tak pernah merasakan ancaman dari kedekatan mereka. Sangat berbeda jauh dengan saat ini. Terutama bila mengingat apa yang dia lihat beberapa waktu lalu.

"Kau bersamanya kemarin?" suaranya kaku dan terlalu berat.

"Ya," demi Tuhan! Jawaban Baekhyun sama sekali tidak cukup.

"Kemana!?" kesalnya, dia memandang Baekhyun dan semakin kesal menyadari yeoja itu memadang keluar jendela.

"Apa kau harus tahu?"

Chanyeol meraih dagu Baekhyun dan memutar wajah yeoja itu menghadapnya. "Kemana Baekhyun?"

"Berputar di kota."

"Apa yang kalian bicarakan?"

"Banyak."

"Aku mendengarkan."

"Tidak untuk diceritakan padamu."

Chanyeol menggertakkan giginya. "Baekhyun!"

"Chanyeol hentikan! Berhenti bersikap seakan kau harus tahu semua urusanku!"

"Harus! Kau harus menceritakan apapun yang kau lakukan dengan setiap namja yang berusaha mendekatimu dan aku tidak menyukai Yifan mendekatimu!"

"Kenapa tidak?" tatapan Baekhyun terlihat menantang.

"Pertama karena Yifan adalah sepupuku dan kedua karena aku melihat persis apa yang kalian lakukan didalam mobilnya beberapa waktu yang lalu." Chanyeol mencengkram kemudi dengan kuat, berusaha agar tidak terlalu tersulut emosi.

"Pertama! Yifan sepupumu dan aku mengenalnya sejak kecil, aku tahu persis namja seperti apa dia dan dia sama sekali tidak buruk! Kedua, kau tahu alasan persisnya kenapa kami berciuman saat itu!"

"Bisakah kalian tidak bertengkat sekarang? Aku masih mau selamat sampai tujuan," keduanya berbalik dengan tatapan tajam, tapi Zitao hanya menampilkan ekspresi bosan, bersedekap dan bersandar, menghela napas pelan lalu menatap jendela.

Chanyeol kembali fokus pada kemudi dan Baekhyun mengikuti jejak Zitao dengan memandang keluar jendela.

.

.

Zitao baru saja mendudukkan diri dikursi kerjanya, bersandar dengan lelah dan menyibak rambut hitamnya kebelakang saat panggilan internasional itu menderingkan ponselnya. Zitao tak perlu melihat layarnya untuk menebak siapa penelponnya karena nomer ponsel yang berdering hanya diketahui oleh keluarganya.

"Baba—"

"Baba baru saja bertemu dengan Choi Siwon dan dia sangat terkesan pada kau dan Chanyeol. Baba tahu, Chanyeol memang sangat tepat untuk menjadi pewaris perusahaan kita. Teruslah mendekatinya—"

"Baba, bagaimana kabar Mama?" Zitao memotong meski tahu ini tidak sopan, tapi dia benar-benar lelah dengan semua ucapan Babanya tentang segala tetek bengek masa depan perusahaan.

"Mamamu semakin baik, tak perlu mencemaskannya. Lakukan saja apa yang Baba katakan, teruskan langkahmu mendekati Chanyeol. Proyek-proyek besar ditangan kita sejak kalian bertunangan. Baba bangga padamu."

Zitao tertohok, dia bergetar hebat. "Baiklah Baba," suaranya berubah berat.

Sambungan terputus dan Zitao menjatuhkan tubuhnya diatas meja kerjanya. Terisak dengan keras disana.

'Baba bangga padamu.'

Ucapan itu… ucapan yang sangat ingin didengarnya sejak dulu, sejak kecil, sejak dia mulai berusaha melakukan apapun yang Babanya inginkan dan baru sekarang dia benar-benar bisa mendengarnya.

Tapi itu sama sekali tidak membuatnya senang. Semua ini justru membuatnya merasa sangat sakit. Kebanggaan apa yang dia berikan pada Babanya? Menghancurkan perasaan orang lain? Menyakiti dirinya sendiri? Mengabaikan perasaannya dan juga perasaan orang orang disekitarnya?

Kenapa begini? Kenapa begitu sulit baginya untuk sekedar membuat orang tuanya bangga?

Ini sama sekali tidak terasa benar.

.

.

Baekhyun berpikir dia mungkin tidak akan pernah bisa mendapatkan gelas sarjananya, IPKnya akan jeblog dan dia akan di cap sebagai mahasiswi dengan otak pas-pasan yang tak mau berusaha. Pikirannya kacau dan dia sama sekali tak bisa berkonsentrasi pada ujiannya kali ini.

Setelah menyerahkan lembar jawabannya pada pengawas, Baekhyun keluar dari ruang ujian dan hal yang membuatnya jengah telah hadir begitu pintu terbuka. Jika dihari lain, Baekhyun pasti akan sangat senang melihat Chanyeol yang menunggunya didepan kelas seperti ini. Tapi tidak untuk saat ini, dia tahu kehadiran namja ini justru akan membuatnya semakin lelah.

Baekhyun mengabaikannya dan berjalan dikoridor tanpa menyapanya.

"Baekhyun," Chanyeol meraih lengannya.

"Pergilah, kau tahu aku ada janji dengan Yifan siang ini."

"Justru itu—"

"Justru itu kau kesini, aku tahu persis Chanyeol. Tapi aku tidak akan membatalkan janjiku."

"Kau tidak akan pergi kemanapun dengan Yifan!" Chanyeol mempererat cengkramannya di lengan Baekhyun.

"Kau selalu seperti ini! Berhentilah bersikap kekanakan!" Baekhyun berteriak, lengannya terasa sakit dan dia kesal melihat Chanyeol yang terus seperti ini.

"Apa? Kekanakan?" Chanyeol membeo, dia jelas tersinggung dengan ucapan Baekhyun.

"Ya! Kau bersikap seakan ingin memilikiku seorang diri tanpa pernah membiarkanku benar-benar memilikimu!"

"Baek—"

"Aku lelah… kumohon, biarkan aku pergi."

Chanyeol bergeming, dadanya terasa ngilu dan berdenyut menyesakkan mendengar semua ucapan Baekhyun. Kenapa rasanya Baekhyun begitu jauh? Kenapa rasanya dia tak bisa lagi melihat Baekhyun didalam diri yeoja ini.

"Chanyeol, aku ada janji dengan Yifan. Lepaskan aku," suara yeoja itu kembali pada intonasi normal. Tapi sama sekali tidak membuat perasaan Chanyeol ikut menjadi normal.

"Kau juga punya janji padaku," namja itu bergumam seperti pada dirinya sendiri. "Kau berjanji akan selalu percaya padaku," dia menatap iris gelap Baekhyun dan dia benar-benar tidak mengenali sorot mata itu. Chanyeol melepaskan cengkraman tangannya.

"Cobalah untuk melakukan hal yang sama. Percaya padaku. Kau akan tahu itu sangat sulit untuk sekarang ini."

Setelah mengucapkan kalimat yang sekali lagi menusuk dadanya, yeoja itu pergi menjauh menyusuri koridor panjang itu tanpa sedikitpun berbalik untuk melihat namja rapuh yang berdiri dengan lemah ditempatnya.

Seorang namja yang mulai kehilangan pegangan.

.

.

Baekhyun menatap cermin didepannya, memastikan bahwa jejak air mata tak ada lagi disana dan baru kali ini dia menyesal tak pernah membawa bedak dan lipstick di tasnya. Wajahnya terlihat sangat buruk, pucat dan juga sedih. Baekhyun menarik napas dan sekali lagi membasuh wajahnya.

Dia baru tahu bahwa berbicara dengan Chanyeol bisa terasa semenyakitkan ini dan bayangan wajah Chanyeol yang terluka kembali terlintas dibenaknya. Mereka saling melukai, saling berperang dengan keinginan masing-masing.

Demi Tuhan, kalau saja Chanyeol bisa mengusir Zitao saat ini juga, Baekhyun bersedia berlari untuk memeluk dan menciumi namja itu. Mengobati semua rasa menyakitkan didadanya saat ini. Yang membuatnya tak mengerti adalah kenapa semuanya begitu sulit untuk Chanyeol? Kecuali kalau namja itu mulai jatuh cinta pada Zitao…

'Tidak… tidak… itu tidak mungkin'

Baekhyun menggelengkan kepalanya. Dia mengambil tissue dan mengelap wajahnya yang basah hingga kering. Setelah membuang tissue bekasnya ketempat sampah, Baekhyun keluar dari toilet dan berlari kecil keparkiran dimana Yifan telah menunggunya. Tidak seperti Chanyeol yang juga mahasiswa disini, Yifan sama sekali tak tahu seluk-beluk universitas ini jadi Baekhyun hanya memintanya untuk menunggu diparkiran utama.

Baekhyun bersyukur melihar Ferrari merah namja itu tampak mencolok diantara deretan mobil yang memenuhi parkiran. Dia tak perlu kesulitan mencari. Melihat Baekhyun mendekat, Yifan keluar dari mobilnya dan memberikan sebuah senyum simpul yang tampan.

"Kuliahmu baik?" dia membukakan pintu untuk Baekhyun.

Baekhyun masuk, memakai seatbelt dan menunggu Yifan masuk sebelum menjawab. "Ya, baik. Dan kenapa kita harus makan siang hari ini? Kau mengatakannya persis didepan Chanyeol dan dia datang untuk mencegahku pergi."

"Dia datang? Dia benar-benar tidak akan melepaskanmu," senyum simpul kembali menghiasi wajah tampan namja itu. "Aku hanya ingin memastikan rencana kita. Kalau kau benar-benar yakin dengan pertunangan kita, kita akan menemui EO yang kusewa."

Baekhyun terdiam.

"Minggu depan kita akan bertunangan dan mereka akan mengurus semua termasuk undangan, cincin dan gaun untukmu."

Yifan memandangnya dan melihat keraguan di wajah yeoja itu, Yifan sekali lagi bertanya. "Kita bisa hanya makan siang berdua dan tak akan ada pertunangan kalau kau tidak yakin?."

Baekhyun mengerjap, dia menunduk dan menghela napas. "Tidak, ayo kita temui mereka."

TBC

Hai… aku mau minta maaf minggu kemarin ga apdet. Flu ini menyiksaku… dan penginnya chap ini kasih yang panjang, tapi masih agak puyeng buat ngetik jadi Insya Allah minggu depan aku panjangin ya…

Terima Kasih buat yang sudah rifyu dan sampe rifyu lagi gegara ga apdet tepat waktu :

4kimhyun,tannurfr, neli amelia, DesiiDesmin, riribas, VNaaaa, Chanbaekhunlove, han sae hwa, daeri2124, Ervyanaca, devvana614, BaekhyunOh, deboramichailin, myungie, AeELF, Babyfiechan, Gguest, hunkai, byun, Baek04, ousmevoyez, byunbaekhill, hj, Hanya Nee-Chan, rimadwisp, sebeyeolxo, sintalovedei, bie, ssuhoshnet, Shela397, parkbaexh614, etrisna1013, Guest, fujimaru121, , Puji Hkhs, Park Eun Yeong, Riskakai88, Selene3112, ay, Nevan296, papiyeol61, nanda, kim kiara, rizkaa, yeolloaddedbaek, HyunRa, laylanrzka, anggitaoh94, V0USTALGRAM, baekin236, kim kyungsoo ra , bebekJail, realvina, Suan Jia, Haruka el-Q, overdyosoo, buble kyu, yousee, syasya zhang, Lintangaura07, Guest, azurradeva, klm27, Ls, josephinelunggapjmnvtdewi, ieznha. asmaulhaq, mayaeri16, joohyunkies, Guest, narashikaino, sehunnie94, Tak Secantik Baekhyun, devrina, sakura, guest, Guest, dila, DuniaChanbaek, Guest, nanda, indivpcy, Baek04, TKsit, Ricon65, nurani. pcy, Anniputamei, graceeeeee, MyrnaFaturosyi, istrichanbaek, hunnaxxx, yeolliebaek463, rly, Guest, chenma, selepy, yuntafyr, Riskakai88, Guest, istrichanbaek, heybbh, rinikim, HanyaReader, Ribyull0417, Byun Ni. T EXO-L, Galaxy, Guest, ParksarahChan, DuniaChanbaek, Pcyjang, Rimadwi, ChanBaekLuv, xxxchanl, istrichanbaek, gezzzzz, derpark, guest, guest, ChanBaekyamel, Guest, devvana614, Dindaaaadh, Unln, Maaf bila ada nama yang terlewat.

Q n A chap ini adalah…

Q : Kapan Baek hamil? Kapan fic ini tamat? Endingnya chanbaek kan?

A : Hamil mungkin chap 16an, dan berakhir di chap 25an. Dan endingnya IYA. Chanbaek.

Q : Boleh panggil Kaka? Kok kesannya Author kaku ya?

A : Boleh, karena sadar udah tua jadi boleh2 aja panggil kakak...Heemmm kaku ya? Wkwkwk engga ko… aku lemes kok, suka menggeliat-geliut kayak cacing juga.

Okeh… yang udah ga sabar nunggu Fic ini tamat, jangan lupa riview ya…