*auThor dalam Mode malas*

Terima kasih atas support kalian, just review-me if you want me to update faster!

Notice :

Ada kemungkinan aku g' bisa update minggu depan.

Aku minta maaf karena ketidak ahli-an-ku dalam menulis ff rated M, dan juga Maaf atas ke-typo-an yang aku lakukan di chapter sebelum, sekarang, dan kedepan.

Declaimer : Yuri on Ice not Mine.

Akhirnya! Rated M!

Let's just to the point! ENJOY!


-o0o-

Chapter 12

-o0o-

Mataku mengunci pandangannya pada hidangan nikmat di depan mataku, seekor Warewolf dengan wajah yang mampu membuat siapa saja terpikat dan tergoda, kali ini aku sudah memastikan kalau tidak ada yang bisa menganggu kami, tidak dengan Yurio yang tiba-tiba akan masuk dan menendangku keluar, sekarang aku tau betul kalau dia sedang ada di dalam dekapan sang Palading, Otabek Altin –rekan sekaligus asistenku dalam perang ke-5 yang aku menangkan untuk Russia.

"Viktor… kumohon…" tangan Yuuri yang di bahuku, berusaha mendorongku untuk memberikan jarak lebih di antara kita "…tunggu, sebentar lagi… sampai malam bulan purnama…"

'bulan purnama…?' aku membuat catatan untuk diriku sendiri, kalau aku haru menyanyakan mengenai bulan purnama yang di maksudkan Yuuri pada Otabek. Tapi sebelum itu, bukannya menjauh sesuai dengan apa yang di inginkan Yuuri, aku semakin mendekatkan tubuh kami, menyatukan keningku dengan keningnya "janji…?" Yuuri mengangguk pelan, aku mengusap aliran air mata Yuuri, mencium kening, pelipis, pipi, dan terakhir bibir yang masih lembab karena ciuman yang kemi lakukan sebelumnya. Melepaskan kecupanku dengan lembut, aku kembali menatap mata Yuuri, kedua iris hazel nut yang di lapisi dengan air –membuatnya semakin terlihat bersenir dalam redupnya penerangan di kamarku. Kali ini aku menjuahkan diriku, menidurkan tubuhku di sebelay Yuuri yang masih tidak melepaskan pandangannya –memperhatikan semua gerakkan yang aku lakukan.

Yuuri mendudukkan diri di kasur, melepaskan Kimono yang di kenakannya, menyisakan spandex hitam yang menutupi dangerous zone, kemudian dengan gerakan cepat, Yuuri masuk kedalam selimut –menyisakan hanya kepalanya saja yang tidak tertupi "selamat tidur, Vitya…" aku terkekeh pelan, ikut masuk kedalam selimut.

Aku menyelipkan tanganku di bawah kepala Yuuri, menudurkan kepalanya di lenganku, memeluknya dari belakang

Mine, bond, mark him!

'tidak, belum… aku hanya perlu bersabar sampai bulan purnama…' aku mendorong jauh inner self-ku, membuatnya kembali tersegel di dalam pikiranku. Aku mengaitkan kakiku dengan kaki Yuuri, hanya untuk mendapatkan rasa hangat dari tubuh Warewolf yang ada di dekapanku.

"Bikutoru no baka*" aku tersenyum mendengar gumamman Yuuri yang masih setengah sadar, aku yakin dia baru saja mencemoohku menggunakan bahas Jepang, tapi entah kenapa justru membuatku senang mendengeranya.

-o0o-

"nnngh…?" aku membuka mataku, mengedipkannya beberapa kali, membuat mereka terbiasa dengan cahaya redup yang masuk dari tirai –yang berkibar pelan kerna angin pagi yang menghembus dari jendela yang sengaja tidak aku tutup 'hangat…' tanganku menyentuh entah apapun itu yang menindis dadaku, aroma blueberry dan cinnamon roll masuk kedalam indra penciumanku, otakku memutar balik ingatan terakhirku semalam. Aku bisa merakan kalau ada senyum tipis yang terbentuk di wajahku "…Yuuri" telinga Yuuri berkedut pelan, dia membenam wajahnya di dadaku, mengeluarkan suara seperti rengekkan untuk tidak mau di ganggu dari tidurnya "sweet heart, you need to wake up" aku mengelus punggung Yuuri, mencoba untuk membangunkan sang Warewolf yang masih merengek untuk tidak mau di bangunkan.

Yuuri mengangkat kepalanya, matanya yang masih terlihat tidak focus menatapku dengan tatapan bingung "selamat pagi Viktor…" tidak ada yang lebih baik dari senyuman dan suara lembut yang berasal dari Yuuri, dia kembali menurunkan kepalanya dan memberikan patukkan kecil di pipiku. Aku harus berterima kasih kepada siapa saja yang meninggalkan buku yang di baca Yuuri di penginapan yang kami singgahi di Historiya. Aku mengembalikan perbuatan Yuuri dengan ciuman di bibirnya yang sangat lembut.

"selamat pagi Yuuri" sungguh sebuah ritual pagi yang sangat menyenangkan. Aku merindukan sekali perasaan ini, rasa bahagia dan hangat yang lama tidak aku rasakan.

-o0o-

Siang yang ramai, itulah kesan pertama yang ada di dalam kepalaku. Teman-teman Yuuri –emn… kalau tidak salah nama mereka…

"aaah! Phichit-kun! jangan ambil laukku!" Minami Kenjirou, seorang Khulaz yang menerutku lebih mirip dengan anak anjing yang selalu mengekori Yuuri kemanapun dia pergi. Ukuran tubuhnya bisa di bilang sangat kecil untuk ukuran tubuh Khulaz pada umunya. Kalau menurut penjelasan Yuuri, gen dari keluarganya memang lemah dan itu yang membuatnya menghambat pertumbuhannya di umurnya yang baru saja mencapai 17 tahun.

"hehe! Tubuhmu kan kecil, jadi tidak masalah kalau aku ambil makananmu sedikit saja!" Phichit Chulanont, seekor Purmice Hamster yang inting-nya terlewat peka untuk seekor Hamster. Mungkin dialah satu-satu-nya yang tau, kalau aku jatuh cinta pada tuan muda –yang sekaligus sahabatnya.

"kalian berdua! Jaga sikap kalian, Phichit, berhenti menjahili Minami-kun" seekor Cockatrice yang selalu menjadi penengah antara perdebatan kecil para teman-teman Yuuri ini, kalau tidak salah, bernama Ji Guang-Hong.

Dan terakhir, yang bahkan tidak peduli, atau mungkin sudah terbiasa dengan kebisingan yang di buat oleh Phichit dan Minami, Lee Seung Gil "silahkan tehnya, tuan Yuuri"

"terima kasih, Seung Gil" Gnome yang –kata Yuuri, di perkerjakan oleh keluarga Phichit sebagai Bodyguard, tidak banyak yang aku tau dari si Gnome yang satu ini, yang aku tau, pandangannya saat menatap Phichit selalu berubah –ada banyak sekali emosi yang di pancarkan pada matanya.

Aku menghabiskan tehku dan menatap teman-teman Yuuri satu-per-satu "apa rencana kalian selanjutnya?" mereka semua termasuk Yuuri menatapku "aku mengerti kenapa kalian kemari, untuk mempertemukan Yuuri denganku, tapi selanjutnya?" aku sadar dengan nada bicaraku yang berubah menjadi sangat serius.

Dari sudut mataku, aku melihat wajah Yuuri mengeluarkan rona merahnya "i… itu…" ada tetesan nada sedih disana, tapi juga… malu?

"Yuuri, kamu belum memberitahukan Viktor?" kali ini Phichit yang membuka suara.

'memberitahu apa?'

"sebenarnya Yuuri-kun kemari karena ingin me –mnp?!" baru aku mau mendapatkan informasi untuk memuaskan rasa penasaranku, mulut Minami di tutupoleh Guang-Hong yang membuat senyum terpaksa di wajahnya.

"hahaha! Minami-kun, ayo kita keliling kota, aku yakin banyak sekali item yang menarik!" tanpa membiarkan aku mengucapkan protes untuk meminta penjelasan, Guang-Hong menggendong Minami dan lari keluar dari ruang makan.

"tuan Phichit, sudah waktunya untuk latihan" kali Seung Gil –yang entah sudah sejak kapan, dia berdiri di sebelah Phichit.

Phichit mengeluarkan senyum cerianya dan berdiri dari tempat duduknya "bye Yuuri! Aku pergi kehutan pinggir kota untuk latihan" keduanya pergi, menyisakan aku dan Yuuri sendirian di ruang makan.

Mataku memperhatikan gerak-gerik Yuuri yang memainkan kedua jarinya dengan wajah memerah "…penghianat…" adalah satu-satunya kata yang bisa aku dengar dari gumammannya.

"Yuuri" aku bisa melihatnya kaget saat namanya aku panggil –masih dengan nada seriusku.

"ya –ya! Vi-Viktor?" jelas ada yang di sembunyikan oleh Yuuri. Dan aku perlu tau itu, ah… tapi sebelum itu…

"mau temani aku pergi ke istana?"

"hee?"

Aku mengembalikan wajah dan nada suaraku ke mode normal "aku ada urusan dengan Otabek" Yuuri terlihat bingung, tapi kemudian mengangguk dan tersenyum –malu? '…memang aku melakukan sesuatu hingga membuatnya malu…?'

-o0o-

Perjalannan menuju ke istana, bisa di bilang cukup awkward dan menyebalkan 'kenapa semua laki-laki selalu saja terpesona melihat Yuuri?!' walau tidak seperti di Historiya –dengan rayuan, godaan dan panggillan tidak sopan, di sini, di Saint Petersburg lebih ke tatapan mesum dan bisikkan tidak jelas. Hanya saja semua itu terhenti –lebih tepatnya berkurang, saat mereka melihat aku berjalan di sebelah Yuuri, status-ku di pandang sangat tinggi dan bisa di bilang mendapatkan pengakuan setara seperti Raja '…bukannya aku tidak tau kenapa mereka memandang Yuuri dengan tatapan seperti itu…' sebenarnya ini juga karena salahku, yang memilihkan kimono –yang sebenarnya di pakai khusus Gaisha* perempuan. Tapi karena hari ini kami pergi ke istana, aku memakaikan dia baju lamaku yang sudah kekecil-an.

Aku mengecek kembali baju yang di kenakan Yuuri, semua yang kenakannya berwarna hitam, Kemeja, celana kain, boots yang sama –yang aku belikan di Historiya, satu-satunya yang memberikan warna di pakaian yang digunakannya hanya pita biru yang dulu aku berikan padanya, aku mengikatnya sebagai pengganti dasi dengan bagian bel yang tetap terlihat di depan, warna emas dari bel pada pitanya bersinar setiap kali sinar matahari mengenainya, ekor yang juga berwarna hitam terus berkibas pelan di belakangnya –membuatku ingin sekali memeluk dan maminkan ekornya dengan jariku "emn…? Viktor?"

'ops… aku terlalu berlebihan…' aku kembali memasang senyumku dan menggeleng kepalaku "tidak ada apa-apa"

Kami memasukki area pekarangan Istana –setelah sebelumnya meminta izin masuk pada penjaga, yang tantu saja memperbolehkan kami dengan sangat mudah, mataku menangkap sosok Otabek yang sedang berjalan-jalan di sekitar taman bunga, aku melambaikan tanganku saat dia melihat kearah kami –mengisyaratkan untuk keluar dari taman bunga dan menghampiri kami "selamat siang Otabek-kun" sapa Yuuri ramah, yang di balas dengan anggukan pelan dari Otabek.

'dasar manusia pendiam…' mataku memperhatikan sekitar Otabek "mana Yurio? Aku tidak melihat dan merasakan mana-nya di dekatmu"

Sang Paladin mengeluarkan helaan nafas yang dalam "aku tidak menemukannya dari tadi pagi…" kerutan di wajahnya jelas menuliskan kalau dia khawatir pada Fairy yang merebut hatinya.

"tidak ada pesan atau sejenisnya?" Otabek menggelengkan kepalanya.

Di sebelahku, Yuuri juga terlihat sangat khawatir "apa kamu mencarinya non-stop dari pagi?" Otabek tidak bereaksi, tapi kemudian dia mengangguk, Yuuri terlihat kaget dan menatapku dengan serius "Viktor, tolong bawa Otabek-kun ke-restoran atau semacamnya, pastikan dia makan"

"tidak perlu, aku –"

"tidak ada alasan! Biar aku yang mencari Yurio" belum sempat kami mencela dengan kemana dia pergi, Yuuri sudah berlari menuju arah hutan "…aku akan temui kalian setelah Yurio ketemu" adalah kata-kata yang aku dengar sebelum dia menghilang ke dalam hutan yang mengelilingi istana.

Aku mendengus pelan dan mengambil langkah duluan menuju gerbang istana "kita serahkan ini pada Yuuri, aku yakin dia bisa menemukan Yurio" sekali lagi aku mendengar hela-an nafas yang panjang dari sang Paladin, kemudian berjalan dengan langkah pelan mengikutiku keluar dari area istana.

-o0o-

Kami duduk saling berhadapan di meja sebuah restoran terbuka, aku hanya memesan cinnamon tea –yang menjadi favoriteku belakangan ini, mengingatkanku dengan aroma pheromone dari Yuuri. Sementara Otabek memesan borscht dan ice chamomile tea. Tidak ada di antara dari kami yang membuka pembicaran sampai pesannan kami datang "jadi? Apa urusan kalian?" Tanya Otabek di sela suapan borscht yang di makannya.

Aku meresapi rasa dan aroma dari teh yang di sajikan dengan mug sederhana "aku ingin menanyakanmu tentang hubungan bulan purnama dengan Warewolf" mataku menatap lurus pada iris onyx di hadapanku, Otabek terlihat sedang menyusun kata-kata di dalam otaknya.

Otabek mengangkat sebelah alisnya "Katsuki tidak menjelaskan apa-apa?" aku menggeleng pelan "hm…" tangannya berpindah untuk mengambil gelas minumannya, meminum isinya sampai menyisakan setengah dari gelas tersebut "…bulan purnama –lebih tepatnya hari di bulan purnama adalah hari suci dan skral bagi para Warewolf"

"apa maksudmu dengan itu?" aku memperhatikan dengan serius, dengan apa yang akan di jelaskan Manusia di hadapanku. Dia menghabiskan makanannya dan sekarang sedang memainkan es batu di gelas minumannya menggunakan sedotan.

"ada kasus special dan efek samping pada tubuh ras Warewolf, yang mana yang ingin kamu dengar?"

Aku meletakkan jariku di bibir bawahku, menekannya pelan dan berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat "efek samping" adalah jawabanku setelah berpikir keras –aku tau kenapa Otabek memberikanku 2 pilihan untuk di jelaskan satu-persatu, untuk memuaskan rasa penasaran dan keingin tahuanku.

Otabek menyenderkan tubuhnya di kursi, menatapku dengan wajah stoic-nya –yang entah sedikit membuatku kesal "tubuh mereka lebih sensitive, dengan adrenaline dalam tingkat tertinggi, bisa di bilang, mereka akan menjadi mesin pembunuh dalam satu malam, setidaknya itu yang tertulis dalam jurnal militeris mereka"

"jurnal militeris…?"

Otabek mengngguk pelan, kali ini dia memajukan tubuhnya, membisikkan "…tapi menurut record yang ada di jurnal medis, malam bulan purnama adalah musim kawin atau heat season untuk para Warewolf" logika di otakku mulai menghubungkan kenapa Yuuri memintaku bersabar sampai malam bulan purnama.

Menelan sebuah informasi penting dan mencatatnya dengan garis besar di dalam otakku, aku menahan rasa senang dan juga gemas untuk mendekap Yuuri dan menciumnya sampai dia kehabisan nafas "bagaimana dengan kasus special pada tubuh mereka?" aku bisa melihat ada seringai yang sangat tipis, terbentuk di wajah Otabek.

"berjanji padaku kalau kau tidak akan membocorkan informasi ini pada orang lain"

Aku mengangkat tanganku dan menggambar salib di atas dada "promise"

"naiknya pheromone pada saat bulan purnama, memungkinkan tubuh mereka berevolusi menjadi Hermaphrodites* dalam beberapa hari kedepan, tapi kasus ini terjadi pada ras Warebeast tertentu saja, walau tingkat keberhasilan untuk hami dan melahirkannya mencapai 80 persen, masih banyak resiko yang… –Viktor?"

Otakku memproses informasi yang baru saja aku terima dan menjejalnya secara paksa untuk pemrosessan lanjut "jadi… Yuuri…"

Otabek mendengus kesal "bisa hamil… yes"

Jantungku berdetak dengan sangan kencang, mendobrak dadaku dari dalam, memaksa untuk keluar "holy shit…" dan semalam, Yuuri baru saja menyuruhku untuk menghamilinya saat bulan purnama 'tunggu dulu!' aku menatap Otabek dengan sangat serius "kapan bulan purnama berikutnya?!" dia menatapku heran dengan mengangkat sebelah alisnya.

"kenapa –"

"jawab saja!"

Dia diam sebentar, mungkin sedang menghitung dan mengingat kembali kapan bulan purnama di bulan ini "…hari ini"

Dengan gerakan cepat, aku berdiri dari tempat dudukku "kita harus menemui Yuuri sekarang, kalau dugaanku benar, Yurio dalam bahaya!" mengerti dengan apa maksudku, Otabek berdiri dan memberikan sebuah koin emas pada kasir.

"tunggu tuan! Kembaliannya!" kami tidak peduli lagi, dengan sekitar, aku menggunakan Laviation, membuat kami terbang di atas kota.

Otabek terlihat sedang berkonsentrasi, jarinya menunjuk kearah danau yang membeku di luar kota "aku merasakan mana Katsuki dari sana" aku memanuferkan sihirku untuk terbang kearah yang di tunjuk Otabek.

'kalau memang perkiraanku benar, itu berarti Yuuri dalam bahaya sekarang…'

-o0o-

Kami mendarat di pinggir danau, melihat sekitar, mencari sosok yang kami cari "tidak! Aku mohon! Hentikan!"

'suara dari Yuuri?!' aku berlari masuk kedalam hutan, mataku terbuka lebar saat mendapati segerombolan Rhinotour yang mengkeroyoki sesuatu –dan aku tau betul sesuatu tersebut. aku merentangkan tanganku kedepan "ICE SPEAR!" ratusan tombak dari es terbentuk di sekitarku dan melesak kedepan, menusuk beberapa Rhinotour dari belakang.

"GRRAAAH!" mereka meraung, sadar dengan kehadiranku dan Otabek. Salah satu dari mereka yang tidak terluka, mengeluarkan sebuah kapak yang besar dan menibaskannya ke arah kami.

"Otabek, Support aku!" aku membuat tombak es di kedua tanganku dan lari kearah kumpulan Rhinotour, saat kapak yang ditebaskan mereka hampir mengenaiku "Teleport!" aku muncul di belakang mereka dan menusuk 2 dari Rhinotour yang ada di depanku.

Dari sudut mataku, aku melihat Otabek mengeluarkan Bible-nya "Reduce, Shave, Blast, Gambit, Legen!" cahaya keemasan muncul di bawahku, bersamaan, gerakan dari Rhinotour di sekelilingku melambat "Power Craft, Guard Vassar, Life Materia, Charge Wind, Resist Vile!" aku menyeringai lebar saat merasakan kalau seluruh kekuatan dari tubuhku meningkat.

Posisi dan profesi Otabek yang selalu All rounder, kadang membuatku iri 'lagi pula… se-ingin tahuan dan se-ahli apapun dirimu dalam menguasai berbagai macam skill dari propesi lain, tidak akan mengubah kenyataan kalau kau adalah Paladin!' tidak membuang waktuku "Icicle Rain" dari langit, ribuan jarum dari es turun dan menghujani para Rhinotour di sekitarku. Mataku menatap dingin pada mereka yang meregang nyawa '…sampah…'

"VIKTOR! BEKAA!" suara dari Yurio membuat aku terangkat dari sisi gelap dalam diriku, aku melihat sekitar dan mendapati Yuuri yang mendekap erat tubuhnya sendiri, wajah memerah dan air mata jatuh dari kedua matanya, baju yang di kenakannya sobek dan terkoyak, tapi tidak terlihat ada darah yang mengalir dari kulitnya. Di sebelah Yuuri, Yurio dalam wujud Elf-nya menatap kami dengan tatapan lega dan juga khawatir.

Tanpa mempedulikan mayat yang berserakan di sekitarku, aku lari kearah Yuuri mendekapnya dengan sangat erat "Vi –Vik… hh…" aroma manis dari blueberry dan cinnamon tercium sangat kuat dari kulit Yuuri, tubuhnya juga sedikit panas dan bergetar hebat di dalam pelukkanku.

"apa yang terjadi?" Yurio menggelang pelan sebagai pengganti jawabannya yang menandakan kalau dia sama sekali tidak tau, aku berbali menatapa Yuuri yang masih ada di pelukkanku, meremas baju depanku, tidak mau melepaskannya "…apa aku… terlambat?" hanya itu yang bisa keluar dari dalam mulutku, aku tidak mau membayangkan hal negative untuk sekarang, tapi, bayangan Yuuri yang di perkosa, membuatku ingin membunuh diriku sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa.

Yuuri menggeleng, dia membenam wajahnya di bahuku, manarik nafas dalam "…aku, mencari Yurio… lalu… para Rhinotour itu mengeroyok dan… berusaha…" kalimat demi kalimat yang keluar dari bibirnya, membuat ribuan luka sayat di jantungku. Aku tidak bisa mendengar lagi suara serak dan segukkan dari Yuuri, ini semua membuat aku hatiku sakit.

"sssh… cukup… Yuuri… ayo kita pulang" tanpa menunggu jawaban darinya aku mengangkat tubuh Yuuri, tidak melepas dekapanku di tubuhnya "Otabek Altin…" aku tidak peduli dengan suara atau aura gelapku, yang aku pikirkan adalah "…aku ingin kau mencari tau akar dari masalah ini… Rhinotour tidak suka berkelahi atau berpartisipasi dalam perang, tapi Rhinotour tidak akan bisa menolak uang" aku mengijak salah satu Rhinotour yang kelihatannya masih hidup "…dan aku ingin tau siapa yang memberi mereka uang tersebut"

Dari sudut mataku, aku bisa melihat wajah Yurio yang shock, entah itu karena malihatku, atau melihat puluhan mayat –ah… sampah di depannya. Aku tidak peduli "di mengerti, tuan Nikiforov" setelah mendengar jawaban singkat dari Otabek, aku membuat lingkaran sihir dengan manaku, lingkaran berwarna bitu yang bersinar terang di bawahku.

"Teleport"

-o0o-

Aku membuka mataku saat aku rasakan kalau kaki-ku kembali berpijak dan udara di sekitarku berubah –berpindah di dalam kamarku yang jauh lebih hangat dari pada udara dingin di luar, Yuuri masih menangis di dalam dekapanku 'mandi…' aku melangkahkan kakiku menuju pintu yang terletak di pojok ruangan, membukanya dengan kakiku dengan perlahan. Ruangan dimensi khusus yang aku buat sebagai tempat pemandian dengan kolam air panas yang bisa di bilang cukup luas, dengan pemandangan hutan yang di tutupi oleh salju berwarna putih.

Tidak mempedulikan dengan diriku dan Yuuri yang masih mengenakan baju serta boots, aku masuk kedalam kolam yang mengeluarkan uap tipis, mendudukkan diriku di tengah kolam, bersama dengan Yuuri yang masih tidak mau melepaskan dekapannya –dan karena aku tidak niat untuk melepaskannya, aku mendudukkan tubuhnya di atas pangkuanku. Yuuri yang awalnya tegang, perlahan mulai rileks dan melonggarkan pelukkannya di tubuhku, dengan pelan, aku membisikkan sebuah mantra yang menyelubungi tubuh kami dengan cahaya kebiruan "…Viktor?" aku memainkan jariku di atas permukaan air, lalu membuat bola air yang besar dan menelan tubuh kami dengan perlahan, Yuuri awalnya terlihat panic, tapi kemudian kembali rileks di pangkuanku –mengetahui kalau dia bisa bernafas di dalam air yang menyelubungi kami sepenuhnya.

Aku selalu menikmati sensasi melayang di dalam air, di tambah lagi dengan keberadaan tubuh Yuuri di dalam pelukanku. Yuuri melepas pelukannya dan menatapku sedih 'aah… dia meminta maaf…' aku tersenyum padanya dan menggelengkan kepala, mengusap sekitar matanya yang bengkak menggunakan jariku, memberikan sebuah ciuman di bibirnya dengan sangat lembut. Aku tersenyum puas saat melihat rasa takut dari wajahnya menghilang, di ganti dengan ekspresi yang tersipu malu, lemngkap dengan rona merah di pipinya yang semakin pekat. Jemariku berpindah ke kancing kemaja yang di kenakan Yuuri, melepasnya satu persatu, perlahan dan hati-hati, tanpa melepas simpul dari pita biru di kerahnya, aku melepas kemeja yang terkoyak dan robek. Tidak ada perlawannan dari Yuuri selama aku meneruskan aksi dari tanganku yang melucuti pakaiannya satu persatu.

Wajah Yuuri sangat merah, bahkan aku bisa melihat warna merah tersebut di leher dan bahunya "…nhm…" aku bisa mendengar suaranya di dalam air, suara yang terdengar seperti memohon akan sesuatu. Aku tersenyum dan menjentikkan jariku.

Splash!

"…fuah! Hhah… hh…" bola air yang menyelubungi kami pecah dan menguap di udara, menjadi sebuah kabut yang tipis di udara "…Viktor…"

Aku meresapi aroma –yang mungkin, pheromone dari Yuuri. Blueberry dan cinnamon, aroma yang memenuhi indra penciumanku ini benar-benar membuatku mabuk –mabuk untuk segera merasakan tubuh yang ada di dekapanku, merasakan apakah dia semanis aroma yang di keluarkannya ''Yuuri…"

"hmn?" Yuuri mengangkat kepalanya dari bahuku, wajahnya masih sedikit mengeluarkan rona merah. Aku melepaskan sepasang gelang emas yang aku kenakan di lengan kiriku. Gelang sihir yang aku kenakan untuk mengetahui keadaan dan keberadaan Yuuri, tapi karena menilai dari kondisi kita yang sekarang, aku melepaskan sihir di gelang tersebut dan menggantinya dengan sihir yang baru. Perlahan, gelang emas di genggamanku menyusut menjadi sepasang cincin emas yang berkilau dan bersinar terang.

"cincin ini akan memberi tahu keberadaan dan perasaan kita satu sama lain, jika perasaan kita semakin kuat, cincin ini akan menjadi penghubung di antara kita untuk saling berkomunikasi" Yuuri menatapku bingung.

"kanapa… Viktor menjelaskan hal seperti itu padaku?" di dalam matanya, jelas dia sedang mengharapkan sesuatu.

Aku menelan semua rasa malu, harga diri dan perasaan negatifku hanya untuk sosok di hadapanku "Katsuki Yuuri…" aku harap nadaku tidak terdengar aneh di telinganya "…sebagai Elf dan pria dewasa, aku ingin memberikan Vow-ku padamu" kedua mata Yuuri melebar dan aku yakin dia sepertinya tau, tau kalau Vow –sumpah yang di berikan oleh bangsa Elf tidak bisa di ingkari dan akan menjadi sebuah sumpah se-umur hidup.

"…tidak apa-apa? Apa aku tidak apa-apa? Apa kau yakin kalau kau memilih aku?" aku bisa melihat air mata Yuuri yang membendung di matanya.

"…aku tidak bisa memikirkan sosok lain selain dirimu" aku mengambil tangan kanan Yuuri dangan tangan kananku, menyelipkan jemariku di sela jarinya. Aku menutup mata, memfokuskan mana pada sumpah yang akan aku ucapkan, perlahan, aku bisa merasakan tubuh kami di selimuti oleh cahaya "aku, Viktor Nikiforov, memberikan Vow, kepada Katsuki Yuuri…" perlahan aku membuka mataku, menatap lurus pada mata Yuuri yang sudah meneteskan bulir air matanya, tapi aku bisa melihat jelas ada cahaya kebahagian yang terpancar di matanya "…bersumpah untuk menjadi pasangan hidupnya, selalu mencintainya, selalu ada di sisinya, dan membahagiakannya sampai akhir hidupku"

Yuuri tersenyum lembut padaku "aku, Katsuki Yuuri, menerima Vow dari Viktor Nikiforov, untuk menjadi pasangan hidupnya, selalu mencintainya, selalu ada di sisinya, dan membahagiakannya sampai akhir hidupku" hebat, dia mengatakannya dengan sangat lancar. Cahaya di sekitar kami semakin menerang, lalu berfokus pada satu titik di dada kami, tepat di atas jantung. Ada rasa panas dan juga terbakar di kulit tempat tempat cahaya tersebut terfokus –dan aku yakin kalau Yuuri juga merasakan hal yang sama.

Saat cahaya dan rasa panas di kulitku meredam, aku menangkap sesuatu yang baru di atas kulitku dan Yuuri. Sebuah tattoo yang bergambarkan sebuah pedang zweihander yang di lilit dan di tumbuhi oleh bunga lily yang di dominasi dengan warna pink dan ungu, di sebelah tattoo, ada tulisan yang latin pada dada Yuuri dan kanji di dadaku –menandakan milik siapa dan identitasnya "…ini… indah sekali…" Yuuri menyentuh ukiran huruf kanji di dadaku, yang bertuliskan namanya.

"…belum" aku membuka telapak tangan kiriku, menunjukkan 2 cincin yang bersinar ke-emas-an. Aku tersenyum pada Yuuri yang sekali lagi membuat rona merah di wajahnya semakin pekat, pelan, aku menarik tangan Yuuri dan meletakkan salah satu dari cincin emas yang ada tanganku ketangan Yuuri. lalu menyelipkan cincin yang satunya lagi di jari manis sebelah kanan milik Yuuri. Tau dengan apa yang di lakukan berikutnya, Yuuri juga melakukan hal yang sama padaku.

Kami saling pandang dan kemudian tertawa dengan penuh kebahagian.

-o0o-

Tamat? Tentu saja tidak! Karena ini adalah malam pertama-ku dengan Yuuri!

-o0o-

"Vi –Viktor! Kita tidak perlu melakukannya malam ini!" aku melepaskan helai terakhir dari pakaianku yang sangat basah, melemparnya di sebarang arah.

Aku menindih tubuh Yuuri, memberikan kecupan pada keningnya, merasapi aroma manis yang keluar dari tubuhnya "…tidak boleh, ini malam pertama kita, dan kita harus melakukannya sekarang" lagi pula, aku sudah tidak bisa menahan diriku lagi kalau misalnya menemukan Yuuri –yang sebenarnya secara ia tidak sadari, telah menggodaku untuk terus menyentuh tubuhnya.

"tapi –aahn!" tanganku mengengam penisnya yang sudah menegan dan meneteskan cairan kental berwarna bening, menggosokkan ibu jari-ku di bagian kepalanya dan kemudian memijat penis Yuuri dengan perlahan "…nmh!" aku tersenyum puas membuat Yuuri meleleh akan sentuhanku –tidak membiarkan dia klimaks "…tidak… kumohon Vik… nh! Biarkan aku… nnh… aah!" desahannya semakin kuat saat lidahku kini menari di atas dadanya, menjilat dan menggigit dada Yuuri, meninggalkan banyak sekali tanda di sana –terutama di sekitar tattoo yang ada di dadanya.

"maaf Yuuri… aku ingin ini berlangsung lama, tapi untuk sekarang, aku hanya akan memberikanmu 1 ronde saja" jariku turun dari penis Yuuri, memijat bibir anus yang entah kenapa sudah sangat basah dan licin 'aku tidak ingat memakai lube… apa ini tanda kalau dia sudah berubah menjadi Hermaphrodites?' aku memasukkan jari tengahku dengan sangat perlahan, membuat Yuuri mengeluarkan lenguhan pelan 'di dalam tubuh Yuuri… hangat dan sangat lembut' hanya dengan mengandalkan insting, aku mencari…

"AAH!"

'wao, tidak aku sangka kalau aku mendapatkan Binggo dengan cepat…' aku mejilat bibirku sendiri, mengujami Yuuri dengan tusukkan yang kuat di tempat yang sama.

"Vi! Vitya! Kumohon! Biarkan aku –aahn!" reaksi di tubuhnya semakin menjadi-jadi saat aku langsung menabahkan jari telunjuk dan manisku, tangan kananku masih menekan penis Yuuri untuk membuatnya tidak bisa klimaks. Setelah di rasakan cukup, aku menarik keluar jariku. Membalikkan tubuh Yuuri dan menunggingkan pinggulnya "mnh…?"

"maaf Yuuri, tapi ini satu-satunya posisi agar tubuhmu tidak terlalu merasa sakit"

"apa yang… hh!" aku mengangkat ekornya dan mengosokkan kepala dari penisku –yang mungkin 2 kali lebih panjang dan besar dari penis Yuuri yang menurutku ukuran standar –di Russia.

"ready?" Yuuri terlihat memandangku ragu dari ujung matanya, tapi kemudian mengangguk pelan "…rileks Yuuri, aku akan memasukkannya perlahan" pelan –sangat pelan, kepala dari penisku memasuki anus Yuuri 'panas… dan lebih lembut dari yang aku bayangkan' tidak pernah aku merasakan hal seperti ini, bahkan dengan pengalamanku yang meniduri perempuan atau laki-laki, ini pertama kalinya aku hampir mencapai klimksku hanya karena memasukkan bagian kepala dari penisku.

"…nh!" aku menghentikan pergerakkanku saat mendengar sedikit dari nada yang terdengar seperti kesakitan dari Yuuri "…be –besar, Viku… tor… aku mohon…"

"Yuuri…?" apa cuman perasaanku saja, atau kepribadian Yuuri berubah?

Mataku melebar sempurna saat dia membangunkan tubuhnya dengan kedua tangan yang menjadi tumpuannya, menoleh kearahku dengan wajah penuh dengan air mata dan benang saliva yang menetes dari kedua sisi mulutnya "aku tidak suka posisi ini…" matanya bersinar terang –sepasang iris berwarna gold mercury, penuh dengan nafsu dan cahaya memohon "…aku ingin melihat wajahmu… Vitya" suaranya membuatku merinding dengan nafsu yang semakin memuncak, dengan gerakkan cepat –tanpa mencabut penisku yang bahkan belum setengah masuk kedalam anus Yuuri, aku membalikkan posisi Yuuri, membuatnya mengahadapku "…mnh…!" Yuuri merentangkan tangannya dan mengalungkannya di leherku, membawaku ke dalam sebuah ciuman panas yang di dominasi oleh lidahnya, aku mengerang di sela ciuman yang di berikannya, anus Yuuri memijat penisku dengan sangat lembut, menghisap penisku untuk terus masuk kedalamnya.

'Dia benar-benar menguji mentalku…' dengan sekali tarikan nafas "maaf Yuuri" aku memasukkan semua penisku kedalam tubuh Yuuri.

"AAAAAAGHN!" aku bisa merasakan kalau kuku menancap di bahuku, menembus kulitku –yang mungkin sedikit mengeluarkan darah dari sela kukunya. Aku sudah mengira ini akan terjadi, tapi sepertinya, besok aku akan bangun dengan luka cakar di punggungku.

'…ahk… sial!' pijatan dari organ dalam dari tubuh Yuuri benar-benar nikamat "…Yuuri…?" aku bisa merasakan sesuatu yang basah keluar dari penis Yuuri.

"ma –maaf… Viktor… aku klimaks duluan…" aku bisa merakan senyumman –emn… mungkin seringai? di bibirku berkembang dengan sangat lebar.

"hanya dengan memasukkannya saja…?" aku tidak bisa melawan rasa untuk menggoda Yuuri, membuatnya merasa lebih malu dan tersipu adalah sebuah kesenangan tersendiri dalam diriku. Aku menarik keluar setengah dari penisku, menyisakan hanya kepalanya saja yang ada di dalam 'sial… terlalu nikmat…'

"Vi –Viktor! Jangan! Aku mohon… mnh!" seringai di wajahku masih belum lepas dari tempatnya, aku mengankat kaki kanan Yuuri, mencium paha mulus dan memberikan beberapa kiss mark di sana.

"tell me, Moya lyubov*, what do you want?" Yuuri terlihat berpikir dengan sangat keras, rona di wajahnya sangat pekat, telinganya turun dan terlihat bergetar. Yuuri menutup matanya, memejamkannya dengan kuat –membuat aliran air matanya semakin deras.

"aku… mohon, Viktor…" Yuuri mengelus perutnya sendiri, matanya terbuka, memperlihatkan sinarnya, sinar untuk menginginkan sesuatu, sesuatu dariku "…penuhi rahimku dengan spermamu, aku ingin melahirkan anak darimu!" walau terdengar seperti rengekkan, tapi kata-kata itu cukup membuatku memutuskan tali dari akal sehatku.

Aku menggantungkan kaki kanan Yuuri di bahuku, membuka kedua kakinya lebih lebar "good boy"

"AAH!" aku tidak bisa berpikir dengan lurus lagi saat menghujami Yuuri dengan tusukkan yang kuat dan pace yang cepat. Desahan dan aroma Yuuri memenuhi kamarku, dari tubuhnya juga keluar mana yang mengikat tubuhku untuk terus melanjutkan gerakkan pinggulku.

"hhn…" aku menurunkan kaki Yuuri dari bahuku –yang langsung mengunci pinggulku, mendorongku untuk menusuknya lebih dalam '…shit!' otot di sekitar penisku semakin kuat memijat dan menghisap, membuatku semakin dekat dengan klimaks-ku sendiri.

"Vi… h! Vitya! Aku –aku!" aku menekan perut bagian bawah Yuuri membuat desahannya semakin kuat "ja –jangan! Nmh!" kali ini giliran aku yang mendominasi, ciuman panas dan basah, serta rasa nikmat di sekujur tubuhku. Semua dari Yuuri membuat kepalaku kehilangan akal sehatnya.

Klimaksku sudah mencapai puncak "kh –Yuuri!"

"Vitya!"

Kami klimaks bersamaan, tubuh Yuuri bergetar hebat, penisnya mengeluarkan sperma dalam jumlah yang sangat banyak, menyembur dan menodai tubuhku dan tubuhnya 'fuck… aku masih keluar…?' tidak pernah di dalam hidupku aku mengeluarkan begitu banyak sperma, penisku masih belum berhenti memuntahkan cairannya di dalam tubuh Yuuri –aku bahkan bisa merasakan ada sebagian yang keluar dari dalam anus Yuuri "nmh… Yuuri…" saat merasa kalau tetes terakhir dari spermaku keluar dan berhenti, aku menatap Yuuri '…Yu –Yuuri?' Yuuri membuat seringai puas di wajahnya, walau rona merah di wajahnya masih tetap ada di kedua pipinya, tapi ekspresi wajah Yuuri justru terlihat lebih agresif dan …erotis.

"fufufu… di dalam perutku terasa sangat panas dan penuh…" aku bersumpah, kalau kepribadian Yuuri telah berubah sepenuhnya.

Brugh!

Aku bahkan tidak sadar dengan apa yang baru saja terjadi, Yuuri telah membalikkan posisi dan duduk di atas tubuhku –tanpa melepaskan penisku yang masih ada di dalamnya "my turn…" gumamnya pelan.

'…? Apa maksud –?!' "tunggu Yuuri! aku, nmh!" sulit di percaya, Yuuri menggerakkan pinggulnya sendiri, naik dan turun dengan pace pelan. Dan membuat penisku kembali keras, aku bisa melihat cairan berwarna putih yang kental dan lengket, keluar dari dalam anus Yuuri seiring dia bergerak naik turun di atas tubuhku. Yuuri mengangkat tangannya, menarik rambut depannya kebelakang, memperlihatkan keseluruhan dari ekspresi pada wajahnya 'Eros' adalah kata-kata yang tepat untuk menyimpulkan kepribadian Yuuri sekarang –kepribadian yang hanya aku yang tau.

Yuuri semakin mempercepat pace-nya "mnh… ii! Sugoku! Ii!" hanya satu yang aku tau dari bahasa Jepang yang Yuuri ucapkan, dia menikmatinya –sangat menikmatinya. Desahan dan suara basah dari kulit yang saling bergesekkan memenuhi pendengeranku, membuat nafsu dan gairahku terus memuncak. Aku bermain dengan penis Yuuri yang meneteskan banyak sekali pre-cum dari ujungnya, membuat desahannya semakin nyaring "Vitya! AaaAHn!"

"kh… Yuuri!" Sekali lagi, kami klimaks bersamaan dan merasapi rasa nikmat tak tertahankan dari penisku –yang kembali menyebarkan bibit di dalam tubuh Yuuri. Yuuri ambruk di atas tubuhku, aku memeluk tubuhnya dengan sangat hati-hati. Nafas kami berpicu cepat, berusaha untuk menenangkan jantung yang berdetak kencang 'wao…' aku bisa merasakannya dengan jelas sekarang, ada banyak sekali cairan yang keluar dari anus Yuuri saat aku mengeluarkan diriku dari dalamnya. Aku menarik selimut dengan sihir, menariknya untuk menutupi tubuh Yuuri –yang masih terkulai lemas di atas tubuhku 'sungguh olahraga yang sangat melelahkan…'

"Viktor…" nada suara Yuuri terdengar sangat mengantuk dan lelah di telingaku.

Rasa kantuk mulai menyerang syaraf di mataku. Aku memberikan kecupan ringan pada keningnya "hmn…?"

"efek dari bulan purnama baru akan menghilang setelah 3 hari…" ucapnya pelan sebelum aku mendengar dengkuran halus dari dirinya.

Aku mulai mengerti kenapa para Warebeast memiliki stamina yang sangat tinggi. di dalam hati, aku membuat sebuah catatan kecil dengan tinta permanen '…aku harus meminta obat kuat dari Otabek…' tidak mau membayangkan dengan bagaimana kondisiku tubuhku nanti selama 3 hari mendatang, aku lari ke dalam dunia mimpi, menistirahatkan mental dan tubuhku.

Untuk sekarang, yang aku butuhkan adalah tidur, untuk mempersiapkan diri sebelum perang tiga hari ke-depan.


A / N :

I'm death! I AM SOO FUCKING DEATH! Fuck-ing looooooong CHaPter! SHIET! FUCK YOU ALL! *broken auThor*

Kebanyakan dari mantra / sihirnya aku ambil referensi dari Tales of The World Radiant Mythology.

*Gaisha : arti dalam bahasa kasar / garis besarnya, pelacur. Tapi karena di ff ini lebih menjurus ke-abad 20 dan mengandung unsur Game Fantasy. Gaisha menjadi salah satu Job / profesi yang ber-specialis full support / Buffer. base dari job ini adalah Dancer dan Novice.

* Hermaphrodites : Hewan yang bisa memproduksi sperma dan sel telur, dengan kata lain, M-PREG! HOREEEEE! *si thor rusak* teori bagaiman Yuuri bisa hamil? Akan aku jelaskan di chap mendatang. Kurang lebih dengan teori dari Omegaverse AU.

Translate note :

Yuuri : Bikutoru, itu pronoun dari nama Viktor dalam bahasa jepang, dan arti dari apa yang di katakan Yuuri adalah "Stupid Viktor"

Moya lyubov : bahasa Russia, artinya My Love

Hope see you soon! (=w=)/