Lilium
.
Past
(Masa Lalu)
.
.
:: Nakazawa Ayumu::
Bagi yang ingin tau wajah Kirie itu kira-kira seperti apa, coba search di Google 'Nishiuchi Mariya'. Kira-kira wajahnya seperti itu. Terima kasih sebelumnya.
Delapan tahun yang lalu, Sungmin memutuskan melanjutkan pendidikan terakhirnya di Sekolah Menengah Atas di Jepang. Tepatnya di prefektur Chiba dekat Tokyo, sebuah kota di dekat laut yang modern namun tidak meninggalkan keindahan budayanya.
Orang tuanya bercerai sejak usianya empat belas tahun. Ia anak tunggal yang hak asuhnya dimiliki oleh Sang Ibu dengan terpaksa. Ibunya pun seperti memperbolehkan Sungmin untuk hidup sesuka hati, karena pada dasarnya wanita itu tidak peduli dengan Sungmin. Ia bekerja sebagai pengacara ternama yang selalu lembur hingga jarang sekali pulang ke rumah. Sebagai wanita karir yang sibuk, ia hanya bisa pulang sebulan-dua bulan sekali, dan tidak pernah lebih dari dua puluh empat jam berada di rumah, itupun sekedar untuk meninggalkan tumpukan uang untuk keperluan Sungmin yang hanya sedikit sekali pemuda itu pakai.
Setelah umurnya beranjak tujuh belas tahun, Sungmin memutuskan untuk pergi dari rumah. Berkata pada Ibunya bahwa ia ingin tinggal mandiri, tak ada tanggapan darinya. Dan di sinilah Sungmin mencoba kehidupan barunya di negara asing yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat asalnya. Semua keperluan Sungmin pemuda itu tanggung sendiri dari uang tabungan juga pendapatannya saat part time dulu. Ia selalu berusaha sendirian walau terkadang paman bibinnya menawarkan bantuan yang lebih dari cukup.
"Mereka murid pindahan dari Korea,"
Sungmin juga pemuda di sebelahnya menatap pemandangan kelas tanpa minat. Beberapa anak perempuan sibuk berbisik dan yang lainnya menatap kagum entah pada apa. Sungmin mendengus dan melirik samping.
"Kau mengikutiku, Donghae-ah. Buat apa kau ke Jepang?" katanya sambil berbisik, membiarkan lelaki paruh baya yang mereka kenal sebagai wali kelas mereka masih sibuk memperkenalkan asal-usul mereka.
Donghae menoleh dan balik menatap Sungmin, "Aku sepupumu, tidak mungkin aku meninggalkanmu," jawabnya. "Ayah dan Ibu khawatir padamu. Aku sudah mendapat izin dari mereka," lanjutnya lagi.
"Paman Bibi memang baik. Tapi aku tidak mau merepotkan kalian dengan membuatmu menjadi pengawalku,"
"Ini keinginanku sendiri,"
Sungmin menyerah, tidak mau melawan jawaban dari sepupunya itu. Donghae adalah sepupunya. Ia juga bisa dikatakan sebagai teman masa kecil dan sahabat. Pengaruh keadaan keluarganya yang tak lagi utuh, Sungmin menjadi selalu bersikap anti-sosial. Donghaelah yang selama ini menemaninya, menjadi temannya.
"Bersikap baiklah pada mereka, Ketua kelas mohon bantuanmu," wali kelas mereka mengakhiri sesi perkenalan lalu menunjuk seorang perempuan yang duduk di barisan dua dari depan.
"Hai' Sensei! (Ya, Sensei) Yarimasu! (Akan kulakukan!)" ujar gadis itu dengan semangat.
Sungmin dan Donghae lalu berjalan menuju bangku kosong di belakang. Tatapan para siswa tak lepas memandangi langkah mereka. Sungmin menghela nafas, semoga saja ia tidak salah memilih sekolah.
.
.
"Oname wa? (Siapa namamu?)"
Sungmin mendongak kemudian melepas headphone putih miliknya. Di hadapannya kini berdiri seorang -yang tadi kalau ia tidak salah ingat adalah ketua kelas- menatapnya minat. Seperti gadis Jepang pada umumnya. Gadis ini bertubuh mungil dan ramping, kulit putih creamy dan rambut cokelat tua sepunggung yang terkepang rapih. Iris mata hazel, hidung kecil mancung, bibir tipis merah muda alami membuat wajahnya terlihat manis.
Merasa tidak ada jawaban, Gadis itu mengulangi pertanyaannya, masih dengan nada yang antusias, "Siapa namamu?" Ah.. bahkan suaranya begitu lembut terdengar.
"Bukan urusanmu,"
"Namaku Kirie. Yamada Kirie,"
"Bukan urusanku."
Gadis itu mengeryit setelah dua kali mendapat jawaban tak ramah dari Sungmin. Bibirnya mengerucut maju dan dua sisi pipinya menggembung lucu. "Kamu selalu seperti ini pada orang lain?"
"..."
"Tidak boleh seperti itu. Kalau kamu bersikap egois seperti ini kamu akan sendirian, dan sendirian itu tidak enak."
Nah. Sekarang gadis ini sudah berani menasehatinya macam-macam. Sungmin sedkit menyesal tidak menerima ajakan Donghae untuk mencari makan di kantin tadi. Sungmin memalingkan muka, sedikit kesal dengan sikap sok tau gadis ini.
Gadis itu menatapnya sayu, namun ia malah menghadapkan wajahnya menjadi lebih dekat dengan Sungmin, membuat pemuda itu sedikit tersentak. "Kamu pasti kesepian ya..? Akupun begitu," ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan dengan senyuman, "Karena itu, ayo buat teman sebanyak-banyaknya!" nadanya kembali ceria.
"Jadi.. siapa namamu?"
"Kau sudah tau dari Pak tua itu, kan? Untuk apa bertanya lagi?"
"Lebih menyenangkan kalau berkenalan secara langsung..." Lagi-lagi Gadis itu tersenyum lembut. Sungmin tertegun dibuatnya, gadis ini.. Kirie.. Dia.. "Jadi sekali lagi.. siapa namamu?"
Sejak perkenalan itu, Sungmin tidak pernah mengacuhkan atensi gadis ini.
.
.
.
.
.
"Sungmin yang awalnya pendiam dan tidak peduli sekitar kian berubah sedikit demi sedikit," Donghae menyandarkan punggungnya di balik kusen jendela.
"Gadis bernama Kirie itu begitu ceria, menutupi kesedihannya dengan tawa manisnya. Ia selalu mengajak Sungmin berbicang, memberikan pendapat yang membantu atau sekedar menemani Sungmin. Gadis cantik baik hati yang ramah pada siapapun. Sungmin mendapat hal-hal baru darinya. Ia membuat Sungmin dengan mudah bergaul dengan orang selain diriku, membuat Sungmin berteman dengan anak-anak sekelas dan melakukan banyak kegiatan bersamanya.
-Karena kondisi keluarga dulu, sejak kecil Sungmin selalu acuh tak acuh juga pendiam. Ayah Ibunya bekerja tanpa ada waktu menemaninya, Dan akhirnya mereka bercerai. Baru kali itu, aku melihat Sungmin tersenyum juga tertawa lagi setelah sekian lama. Aku senang sekali melihatnya,"
Eunhyuk terdiam, ia masih berdiri kaku di sebelah Donghae. Entah kenapa semua tuduhannya pada pemuda itu berakhir dengan Donghae yang menceritakan masa lalunya dengan Sungmin. Benarkah Sungmin berhubungan denga kasus Lili ini? Walau begitu, Eunhyuk tidak membantah. Ia mendengarkannya dengan seksama, hingga Donghae melanjutkan ceritanya..
.
.
.
.
.
"Min-kun rajin sekali, ya?"
"Aku harus belajar kalau ingin mendapat beasiswa kedokteran," jawab Sungmin tanpa menoleh. Ia masih menyibukan diri dengan buku-buku tebal kumpulan soal ujian masuk perguruan tinggi. Ia sudah menetapkan hati ingin menjadi seorang dokter. Tidak ingin meminta bantuan materi dari Ibunya atau merepotkan paman bibinya, tentu saja ia mengandalkan beasiswa.
"Hebatnya! Kamu pasti jadi dokter yang hebat," seru Kirie.
Sungmin menyunggingkan senyum, berterima kasih dalam hati. Ia hendak melanjutkan kegiatannya namun sedikit merasa janggal saat gadis itu masih berada di dekatnya. Ah. Kalau gadis ini ada di sampingnya sedekat ini bagaimana ia bisa konsentrasi belajar, yang ada jantungnya terus berdebar tak karuan.
"Nani ka? (Ada apa?)" tanya Sungmin yang semakin lama semakin jengah.
Kirie menggeleng, "Aku.. Teman-Teman... Kami ingin mengajakmu Hanami. Karena sepertinya kamu sibuk sekali, aku akan menunggumu sampai selesai,"
Kening Sungmin berkerut. Tak lama kemudian suara ribut terdengar, beberapa anak kelas juga Donghae memasuki ruangan. Seorang pemuda tampan bertahi lalat di dagu menepuk punggungnya keras, "Kau ikut kami tidak?"
"Hn?"
"Kirie tidak mengajakmu?" tanyanya yang di tangkas gelengan tak setuju oleh Kirie.
"Min-kun! Watashitachi to isshouni Hanami o shimashou! (Ayo Hanami bersama kami!)" ajak seorang gadis di dekat Kirie.
"Kau sih tidak usah ikut, Rena!" tukas pemuda tampan itu. Gadis bernama Rena itu mendelik, "Baka Shouta! (Shouta bodoh!)" ejeknya seraya menjulurkan lidah.
Menghiraukan pertengkaran Shouta dan Rena, Kirie maju dan menjelaskan pada Sungmin. "Hanami itu acara melihat sakura. Musim semi tahun ini, pohon sakura tumbuh rimbun di halaman sekolah. Jika sudah waktunya, Para guru dan semua murid selalu berhanami secara bersama-sama,"
Sungmin kembali merasa tepukan di punggungnya, kali ini ditambah dengan rangkulan di bahu. "Ikut kami saja, Sungmin! Ada Aku, Kirie, Shouta, Rena, Tomoko, Ryuu dan teman sekelas lainnya!" seru Junpei dengan nada bersahabat.
"Sekali-kali kau harus santai, jangan belajar berlebihan. Sakura di Jepang itu indah sekali! Hae-kun juga ikut!" Rena menyikut Donghae yang berdiri tak jauh darinya, pemuda yang ditunjuk hanya mengangguk. Sungmin tampak ragu, tapi melihat tatapan memelas dari temannya ia menghela nafas. Ditutup semua bukunya dan dimasukan ke dalam tas. Semuanya yang melihatnya bersorak senang.
"Iku yo, Min-kun! (Ayo pergi!). Aku sudah menyiapkan bekal untukmu dan yang lain,"
.
.
Sudah lebih dari setengah tahun Sungmin lewati di sini. Memiliki teman yang kian hari kian bertambah ternyata menyenangkan, bersama dengan Kirie juga menjadikan hari-harinya lebih menyenangkan.
Selain Hanami bersama, saat Tanabata-pun mereka rayakan bersama-sama. Mendekorasi kelas, memasang pohon bambu lalu mengikat kertas warna-warni berisi doa. Festival musim panas, mereka membentuk kelompok untuk membawakan Taiko, genderang Jepang bersama-sama. Sungmin mempelajari banyak kebudayaan di sini dan semuanya menyenangkan.
Dan seperti sekarang ini, Festival Kebudayaan Sekolah. Festival yang membuat acara Open House Sekolah dan mengharuskan setiap kelasnya melakukan atraksi atau hal-hal berbeda untuk menarik perhatian pengunjung. Acara ini berlangsung selama tiga hari setelah sebulan yang lalu mereka menjalani Festival olah raga.
Kelas Sungmin membuat Cosplay Cafe. Semua anak-anak kelas memakai pakaian yang sesuai dengan beberapa karakter atau tokoh terkenal. Semuanya dengan gembira memakainya, dari yang bertugas sebagai pelayan, koki atau penerima tamu.
Rena tertawa saat melihat Shouta terpaksa berpakaian Kappa karena tak beruntung menarik undian, dirinya sendiri kedapatan peran salah satu karakter wanita terkenal berseragam sailor. Semua pengunjung wanita dibuat terpana pada penampilan Donghae. Ia mengenakan pakaian tokmoh Butler dari seri animanga terkenal. Kemeja putih, dasi hitam, celana hitam coat hitam, sepatu mengilap, seuanya membuat Donghae yang populer menjadi lebih terkenal.
Begitu juga Sungmin. Ia mengenakan hakama juga baju ala samura di zaman edo, pedang mainan tersampir di pinggangnya. Disaat semua wanita mengelukan dan memujanya, Sungmin hanya terpana pada satu gadis. Dalam festival ini Kirie menjadi Putri Kaguya, salah satu dari tokoh legenda Jepang. Kimono bermotif yang berlipat-lipat dengan warna-warni yang menawan, rambutnya tergerai begitu saja kazashi (hiasan kepala) berbentuk bunga Lili tersemat indah di rambutnya.
Cantik. Ia cantik sekali.
Sungmin tak kunjung melepas pandangannya pada Kirie.
Donghae penah sekali bertanya padanya, apakah Sungmin menyukai gadis ini? Dan sekarang Sungmin mendapatkan jawabannya. Sungmin menyukai gadis ini. Dan ini kali pertama pemuda itu menyukai seseorang sampai sedalam ini. Sudah setengah tahun lebih berlalu ia menjadi teman dekat Sungmin, dan sekitar sebulan yang lalu Sungmin menyadari perasaannya tak lagi sama. Sungmin menyukainya lebih dari sekedar teman, ia menyayanginya lebih dari saudara.
Mencari kesempatan. Sungmin mengajaknya berdua ke tempat dimana tak banyak siswa. Malam terakhir festival diakhiri dengan acara api unggun, menari bersama lalu Hanabi (kembang api). Saat semuanya disibukan dengan pembakaran api unggun super besar, Sungmin menarik lengan Kirie.
"Ada apa Sungmin-kun?" tanya gadis itu penasaran.
Sungmin tak segera menjawab, ia mengamati kobaran api yang disoraki seluruh siswa dan beberapa guru. "Ko-Koibito ga aru? (Kamu punya kekasih?)" tanya Sungmin gugup, suaranya pun menjadi sedikit serak.
"Nai. (Tidak ada)" jawab Kirie tegas.
Dengan cepat Sungmin menoleh ke arah Kirie. Gadis itu ternyata sedang tersenyum menatapnya. Sungmin terpaku, dadanya berdebar. Keringat dingin menyergap tubuhnya. Sedikit senang mendapati bahwa Kirie tidak sedang menjalin hubungan dengan siapapun. Ia tidak menyangka bahwa untuk menyatakan perasaan saja, bisa menjadi sulit seperti ini. Namun ia tidak bisa mundur lagi. Sungmin tidak tau apakah waktunya tepat, tapi ia akan mengerahkan seluruh keberaniannya saat ini.
"Kimi ga suki, (Aku suka kamu,)"
Suaranya begitu lirih hampir tak terdengar karena sorak sorai nyanyian di dekat mereka. Walau begitu Sungmin menatapnya penuh dengan keyakinan. Kirie sedikit terkejut tapi masih memasang senyum manisnya. Ia mencubit pipi kiri Sungmin gemas. "Min-kun wa tottemo kawaii~ (Min-kun manis sekali~)"
Sungmin mengeryit dan menatap Kirie jengkel. Dia seorang Pria dan Kirie menyebutnya manis? Lagipula apa gadis ini tidak sadar dengan pernyataan cintanya?
"Kawakunai yo! (Aku tidak manis!), Boku wa Kakkoi da! (Aku keren!)" ucap Sungmin percaya diri.
"Atashi mo.. (Aku juga,)" bisik Kirie seraya menunduk, mencoba menutupi semburat merah di wajah cantiknya.
Sungmin terpana. Ia terdiam dengan wajah bodoh beberapa detik dan kembali sadar. "Boku.. Boku ni uso wo tsukenai darou? (Kau tidak bohong?)" tanya Sungmin memastikan.
Kirie memberanikan diri menatap Sungmin. Rona merah tak kunjung lepas dari wajahnya. "Daetta toki kara, (Sejak pertama bertemu), Atashi wa kimi ga mou daisuki datta. (Aku sudah meyukaimu)" ungkapnya.
.
.
Kirie selalu menganggap dirinya bermuka dua. Menyalahkan dirinya yang selalu tidak bisa mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya, menyimpannya sendiri, dan mencoba tersenyum pada sesuatu yang bahkan tidak disukainya. Ia bahkan tidak akan punya teman jika ia tidak sering mengalah. Mencoba bersikap ceria pada orang-orang yang membicarakan di balik punggungnya. Tidak apa. Asal ia punya teman, ia akan menulikan cibiran yang menyinggung namanya.
Saat murid baru itu tiba, Kirie pun bertekad untuk menjadi temannya. Kirie mengaguminya sedari awal pertemuan mereka. Tidak, bukan hanya karena wajahnya yang tampan, tapi dengan sikap dinginnya yang bahkan bisa mendapat banyak perhatian. Semua orang seperti mencoba berkenalan jauh dan berdekatan dengannya, menyenangkan sekali kalau ia bisa sepertinya. Tapi Kirie sadar, bahwa Sungmin sama sepertinya. Ia kesepian entah karena apa.
Kirie berkenalan dengannya, mencoba mendekatinya karena berfikir bahwa ia dan Sungmin memiliki kesamaan. Tapi ternyata Kirie salah, hanya berselang waktu kemudian, Sungmin mendapat lebih perhatian yang semenjak dulu ia inginkan dengan mudah. Semua orang mengelilinginya, dan ia punya banyak teman –walau terkadang masih bersikap dingin-.
Sungmin selalu berterima kasih padanya karena telah membuat kehidupannya di sini lebih menyenangkan. Kirie perih dibuatnya. Ia merasa jahat sekali, ia merasa egois karena telah memanfaatkan pemuda ini. Ia yang tidak memiliki apapun, merasa bahagia Sungmin di sampingnya.
Saat Kirie mencoba menjauh, ternyata itu tidak bertahan lama. Sungmin mendekatinya saat pulang sekolah. Tidak ada siapapun di kelas. Sudah setengah jam Sungmin menunggunya menulis nama piket, Kirie mencoba tersenyum.
"Berhenti,"
"Eh?"
"Berhenti tersenyum terpaksa seperti itu,"
Lalu Sungmin mengatakannya, bahwa ia tidak seharusnya memendam perasaanya seperti, bahwa ia dan Sungmin sama seorang manusia, yang butuh bantuan jika diperlukan. Bahwa ia berhak menolak sesuatu yang ia benci, berhak membantah jika tidak ingin. Kirie menangis saat itu juga, mengeluarkan semua yang telah dipendamnya lama, meminta maaf pada Sungmin untuk semua keegoisannya selama ini. Pemuda itu diam mendengarkan, dengan sabar menunggu Kirie berhenti menangis lalu memeluknya kemudian.
Ternyata selama ini, Kirie sendirilah yang menciptakan dinding diantara ia dan dunia luar. Terlalu sibuk memikirkan pendapat tak perlu lainnya. Apa yang tengah diragukannya?
Kirie ingin bersamanya.. banyak hal ingin ia katakan pada Sungmin.
Wajah pemuda itu ketika merona, ketika terkejut, ketika marah, ketika sedih, dan ketika tersenyum lebar. Kirie ingin mengatakan semua perasaannya pada Sungmin dan mengira-ngira akan seperti apa raut wajahnya nanti.
Kowashitai (Aku ingin menghancurkannya..)
Sungmin-kun to aida ni tsukutte kabe o (Dinding pemisah diriku dan Sungmin)
Tsutaetai (Aku ingin mengatakannya..)
Atashi no kimochi zenbu (Semua perasaanku padanya..)
Todoite hoshii (Aku ingin semua ini bisa tersampaikan..)
Kore mama de ii, Kiite hoshii (Tak apa seperti ini, tolong dengarkanlah..)
Sungmin-kun wa atashi no sekai o kaeta no (Sungmin merubah duniaku..)
Waratte kurete arigatou (Terima kasih sudah mau tersenyum untukku..)
Hanashikute kurete arigatou (Terima kasih sudah mau berbicara padaku..)
Yasashikushite kurete arigatou (Terima kasih untuk kebaikanmu..)
Suki na no (Aku menyukaimu..)
Dou yatte kotoba de tsutaete ga wakaranai (Aku tidak mengerti cara megatakannya dengan baik...)
Tada.. Suki. (Aku hanya.. menyukaimu..)
Suki. (Suka..)
Suki. (Suka...)
Donna hanashi demo (Apapun yang terjadi..)
Watashi no kimochi wa kawaranai ka (Perasaanku ini tak akan berubah.)
Kimi no koto ga suki. (Aku menyukaimu..)
.
.
.
.
.
"Berhenti! Jangan Bergerak!" sebuah perintah Kyuhyun lontarkan, dengan berat hati ia mengangkat pistolnya begitu juga Siwon.
Kyuhyun menatap tak percaya pada pandangan di hadapannya. Pria yang kepalanya sudah tak berbentuk lagi terkapar di bawah kaki kekasihnya. Kyuhyun memandang punggung Sungmin, tak tau ekspresi apa yang tergambar di wajahnya saat ini. Bagaimana kekasihnya bisa berlaku kejam pada pria itu? Pria itu memang perampok, tapi mengapa..
"Jangan bergerak, atau aku akan melakukan tembakan padamu!" Kyuhyun tidak tahu kenapa kalimat sejahat itu ia lontarkan pada kekasihnya. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya, keluar begitu saja dan berakhir penyesalan setelah mengatakannya.
Sungmin yang mencoba menghiraukan kehadiran Kyuhyun dan hendak memukul mayat di bawahnya lagi ini berhenti. Secepat ini kah, semuanya terungkap? Padahal ia sudah memutuskan untuk... Sungmin memejamkan mata rapat-rapat, menarik nafas dalam dan secara perlahan membalikan tubuhnya.
Kyuhyun meringis sedih, ia tidak mengerti sama sekali kenapa semua ini bisa terjadi. Wajah Sungmin juga kemejanya penuh dengan pecik darah, dan yang paling Kyuhyun sesali adalah dua pasang mata yang menatapnya acuh tak acuh. Benarkah itu Sungmin? Tak bisa menahan diri, Kyuhyun merasa tubuhnya lemas, "Kenapa Min-ah? Kenapa seperti ini?"
Walau matanya sudah menangkap kejadian ini sebagi bukti, hati juga pikiran Kyuhyun masih saja mencoba berkelit dari kenyataan. Perih sekali rasanya mendapati sosok Sugmin di hadapannya kali ini, "Kenapa kau harus seperti ini?" suaranya parau.
Sungmin yang sedari tadi diam mulai membuka suara, melirik mayat pria itu. "Kau tidak mengerti Kyuhyun,"
Dengar. Bahkan Suara yang memanggil namanya telah berubah. Seperti tak tertinggal perasaan apapun kecuali dendam dan amarah. Begitu berat dan dingin. Kyuhyun benci seperti ini, ia tidak terima. "KALAU BEGITU JELASKAN PADAKU!" teriaknya keras. Tubuhnya kian gemetar.
"Jangan paksa aku Min-ah.." lirihnya. ia tidak mau seperti ini, tapi keadaan yang memaksanya.
"Aku-.."
"Ini semua untuk Kirie, bukan?" pertanyaan Siwon memotong ucapan Sungmin. Kyuhyun menelan ludah. Kirie? Ia menoleh dan mendapati wajah Siwon yang mengeras. Raut wajah pria ini entah kenapa terlihat sedang bersedih. Ada apa lagi ini? Siapa Kirie?
"Dia istrimu, kan?"
Kyuhyun terperangah mendengarnya.
.
.
.
.
tiga tahun bersama mereka lewati dengan bahagia, dengan ditemani pertengkaran-pertengkaran kecil tak berarti. Mereka cukup mengerti dan percaya satu sama lain dan semuanya teratasi dengan baik.
Bagi Sungmin, ada saat-saat menegangkan yang pernah ia lalui seumur hidupnya. Yang pertama saat ia mencoba membolos pelajaran bersama Donghae untuk pertama kali ketika mereka masih sekolah dasar. Yang kedua saat pernyataan cinta di akhir festival budaya dan yang ketiga adalah... saat ini. Saat ia tengah membawa sebuket lili putih –bunga kesukaan gadis itu- dan sebuah cincin perak yang tersimpan rapih di kotak beludru merah.
"Watashi to.. kekkonshite ii no? (Maukah ku menikah denganku?)"
Sungmin tidak mengatakannya dengan formal. Tempat yang dipilihnya pun hanya di depan salah satu wahana di Tokyo Disneyland. Tapi ia tau Kirie tidak mempersalahkan hal itu. Ia yakin itu karena setelah ia mengungkapkan lamarannya, mata gadis itu berbinar dan dengan segera ia menangis haru.
"Aku mau.. Aku mau, Sungmin-kun!" jawabnya dengan bahagia di wajah. Senyum termanis yang hanya diberikannya untuk Sungmin seorang.
.
.
Sungmin tidak tau betapi bahagianya hari itu. Itu adalah hari pernikahannya. Tidak banyak undangan yang datang di gereja. Hanya teman-teman sekolah atau rekan kerja, Dari pihak Kirie juga hanya ada ibunya. Sungmin tidak memiliki siapapun di sampingnya kecuali Donghae. Orang tuanya tidak datang dan Paman Bibinya sudah terlalu tua untuk berpergian jauh. Donghae sebagai satu-satu sanak saudara, teman juga pendamping mempelai Pria yang membawakan cincin.
Sungmin berdiri di depan altar dengan tuxedo hitam menawan, memandangi yang melangkah perlahan mendekatinya diringi lantunan piano yang menggema di gereja. Gaun putih sederhana membentuk indah lekuk tubuh ramping Kirie. Polesan make-up natural membuat wajahnya yang sudah cantik kian berseri. Sebukat bunga Lili putih tulang digenggamnya erat.
Sungmin mengulurkan tangannya, dan Kirie menerimanya dengan senang hati. Mereka berdiri bersisian, tersenyum seraya mengucap sumpah untuk hidup semati di saat bahagia maupun sedih, saat kaya ataupun miskin. Sebuah janji yang mereka ikrarkan bersama sepenuh hati.
Mereka saling berhadapan satu sama lain. Sungmin menatap Kirie, mencermati lekuk wajah wanita ini dengan teliti, memandang lekat pada kedua matanya berharap tidak ada keraguan di sana. Memang tidak. Pancaran matanya menunjukan kesungguhan dan Sungmin menyukainya.
"Anata to isshouni kara, shiawase desu, (Aku bahagia bersamamu)" ungkap Sungmin jujur.
"Doko e mo ikanakutte, (Aku tidak akan pergi kemanapun) zutto anata no soba ni iru, (Selamanya di sampingmu)" ujar Kirie sebagai jawaban, sesuatu yang diharapkan Sungmin.
Dalam doa dan atas nama Tuhan, pendeta mengesahkan keduanya terikat sebagai sepasang suami istri, lalu mempersilahkan keduanya untuk menyimbolkan ikatan baru dalam hidup mereka dengan sebuah ciuman tulus. Sungmin juga Kirie melakukannya. Sentuhan disertai desiran halus dirasakan mereka berdua. Tautan bibir itu terlepas diriringi sorak sorai para tamu.
Sungmin dan Kirie tersenyum. Mereka bahagia.
.
.
.
.
.
"Setelah semua yang terjadi, Sungmin memilihnya,"
Ada rasa pedih yang Eunhyuk rasakan ketika Donghae mengatakannya.
Mata donghae menerawang jauh pandangan di hadapannya. Eunhyuk tidak berkata apapun, masa lalu Sungmin sepertinya bahagia, kenapa semuanya berakhir seperti ini? Eunhyuk bisa melihat Donghae tersiksa karenanya. Suatu pikiran terbesit di benaknya, Apakah Donghae juga menyukai gadis itu?
Apakah ia juga menyukai Kirie?
"Aku mengenal Kirie. Wanita cantik. Sungmin pantas mendapatkannya,"
Eunhyuk menunduk, selalu seperti itu sejak beberapa menit yang lalu, nada bicara Donghae yang terdengar lirih jika menyebut dua orang itu. Ia terlihat merana. Kalau hanya membuat Donghae begini sakit mengingat wanita itu, Eunhyuk tak apa menyudahi percakapan ini, pada dasarnya bukan Donghaelah pelakunya... Bukan dia.. tetapi Sungmin-hyung..
"Donghae-ah.. Aku-.."
"Tapi semuanya berubah,"
"Eh?"
"Mereka melanjutkan keseharian mereka dengan tenang... begitu damai hingga aku sesak dibuatnya. Tapi aku diam saja.. terus seperti itu sampi sebuah perkara terjadi.."
.
.
.
.
.
Sungmin mencoba menelepon Kirie berulang kali, namun percuma, wanita yang telah menjadi istrinya selama setahun lebih itu tak kunjung mengangkatnya. Ia mencoba menghubungi salah satu sahabat Kirie untuk bertanya, dan orang itu mengatakan bahwa ia sempat bertemu Kirie di klinik setelah makan siang. Sungmin tidak bisa berkonsenterasi pada pekerjaannya di Rumah Sakit. Karena itulah, di sinilah ia berada, memohon izin untuk pulang lebih awal dan berakhir kecewa bahwa ia tidak menemukan wanita ini di rumah sekali pun.
Ia menunggu dengan cemas, sudah pukul empat sore dan Kirie belum pulang. Apa yang terjadi padanya? Apa.. apakah terjadi sesuatu? Ah! Kalau begitu ia harus bergegas mencarinya.
Dan baru saja Sungmin mengambil kunci mobil miliknya, suara pintu rumah terbuka dan menampilkan sosok Kirie. Rasa lega membuncah luar biasa di hatinya. Ia bersyukur Kirie sudah pulang tanpa kekurangan apapun. Walau begitu, sebagai suaminya, Sungmin tentu harus bersikap tegas.
"Sungmin-kun? Kau pulang cepat, ada a-.."
"Dari mana saja?! Tidak ada kabar sama sekali!" potong Sungmin segera.
Kirie sedikit terkejut dengan nada tinggi yang tidak biasa ia dapatkan dari suaminya. "Aku.. Aku pergi sebentar, Aku tadi ke-.."
"Harusnya kau minta izin padaku! Kau harusnya menghubungiku, atau sekedar mengirim pesan singkat!" sekali lagi Sungmin menyela ucapan Kirie.
Wanita itu menunduk, merasa bersalah. "Maafkan aku," katanya lirih.
Mendengar suara sedih dari seorang yang ia cintai membuat Sungmin merasa tak enak. Ia tidak pernah mau menyakiti Kirie, apalagi membuat wanita ini menangis karenanya. Sungmin lalu menarik tubuh Kirie ke dalam pelukannya, "Kau tau? Aku marah padamu. Kau tidak mengatakan kemana kau pergi, tidak menjawab panggilanku dan terlambat pulang. Aku cemas sekali.." ucap Sungmin merendahkan suaranya. Tangannya mengusap kepala Kirie dan mengecup puncak kepalanya.
"Maafkan aku,"
Sungmin menghela nafas dan kemudian ia duduk sofa di dekatnya. Tangannya menggenggam erat Kirie. Wajahnya mendongak, "Jadi.. kau pergi kemana? Aku dengar dari Yuriko-san kau ke klinik?"
Kirie mengangguk mengiyakan.
"Untuk apa?" tanyanya lagi, kali ini lebih lembut. "Check up? Kenapa tidak ke rumah sakit tempatku bekerja?" Sungmin mendapatkan pekerjaannya di rumah sakit, dengan kepintarannya dia sudah mengambil spesialis kedokteran bedah, kalau memang sekedar check up biasa, Sungmin kan bisa membantunya.
Kirie tak segera menjawab. Kengerian menyeruak menghinggapi Sungmin. Untuk apa istrinya ini pergi ke klinik? Apakah dia sakit? Apakah ada yang salah dengan pemeriksaan kesehatan Kirie? Belum sempat Sungmin kembali bertanya lebih lanjut, Kirie menjawab lirih.
"Aku ke klinik ibu dan anak,"
Hening. Kali ini Sungmin yang terdiam. Kirie tersenyum dan segera melanjutkan.
"Aku hamil Sungmin-kun, sudah dua minggu.."
Dan detik itu juga mata Sungmin melebar dan mulutnya terbuka. Terbelak menatap Kirie tak percaya. Hamil? Istrinya mengandung begitu? Itu artinya..
"H-Hontou ni? (Benarkah?)"
"Hontou da! (Sungguh!)"
Ulas senyum di bibir Sungmin kian melebar tanpa bisa ditahan. Betapa.. Betapa beruntungnya ia! Ia sudah memiliki istri yang begitu dicintainya, dan sekarang, ia akan mendapat anak darinya! Dengan tak sabar, ia menggendong kirie senang, lalu mendudukan wanita itu dipangkuannya. Ia memeluk Kirie erat.
"Mou sugu Otousan ni natte! (Aku akan segera menjadi seorang ayah!)"
.
.
.
.
.
Kyuhyun mencelos.
Istri? Sungmin? Kekasihnya sudah berkeluarga dan ia tidak tau apa-apa?!
Kyuhyun menunduk, satu tangan yang tidak menggenggam pistol menekan keningnya kuat-kuat. Selama ini Sungmin membohonginya, ia bohong padanya.. kekasihnya.. orang yang ia percaya ternyata mendustakannya.. ia pelaku semua kasus ini, ia pembunuh.. dan Kyuhyun.. Sungmin bukan miliknya..
"Kibum memberitahuku dengan sebuah album.. aku melihatnya.. semua foto-foto itu-"
"Kibum mencurinya," Sungmin berujar sinis.
"Kau menyembunyikannya!" bentak Siwon untuk pertama kali.
"Karena Kalian tidak perlu tau!"
Siwon terdiam. Ia menarik nafas berat. "Album itulah yang memberitahuku semuanya.. foto-fotomu dengan wanita bernama Kirie, istrimu.." Siwon menelan kenyataan pahit lalu melanjutkan, "Kau hidup bahagia dengan mereka, bukan? Dengan Kirie dan anakmu.."
Sekali lagi Kyuhyun tertegun. Ia menoleh pada Siwon dan Sungmin bergantian... sementara Sungmin menatap menatap tajam pada mereka.
Kyuhyun merasa kakinya tiada bertulang. Dan telingannya berdenging hanya karena mendengar ucapan Siwon beberapa detik lalu. Anak? Dengan Sungmin memiliki seorang istri saja, Kyuhyun sudah merasa terbebani, kini Siwon mengatakn Kekasihnya ini bahkan sudah memiliki seorang anak? Kenyataan apa lagi yang harus diterimanya kali ini? Ia merasa bodoh dan dibodohi. Ia marah, ia sedih.
"Kau seperti ini karena mereka berdua, kan?"
"..."
"Beberapa hari yang lalu kami menerima Dying message dari Kibum, dari situ juga kami menemukan tentang kasus perampokan bank.."
Tangan Sungmin terkepal erat.
"Tadinya aku tidak mengerti.. tapi ternyata ada salah satu dari beberapa korban adalah Kirie Yamada,"
"..."
"Kirie.. Dia tertembak. Karena lukanya itu ia meninggal. Ia dan bayi yang masih dikandungannya tidak bisa diselamatkan,"
Kyuhyun mendengarkan Siwon baik-baik, walau hatinya masih sakit dan dadanya menyesak tak tertahankan. Ia melirik Sungmin dan terpana karenanya. Baru kali pertama ia melihat Sungmin seperti ini, matanya terlihat datar tapi ia bisa merasakan kemarahan luar biasa dalam dirinya. Tidak, bahkan ini tidak sama seperti saat ia bertemu Sungmin pertama kali. Sungmin yang ia temukan duduk di taman memang terlihat asing dan marah, tapi tidak semurka ini.
"Karena itu kau membunuh para penjahat kan? Para perampok itu? Karena mereka menembak mati keluargamu.."
"..."
"Kau tau ini salah Sungmin? Aku tau ini tak adil bagimu, tapi kau termakan dendam. Kau polisi sekarang, kau bisa menangkap mereka, tidak perlu seperti ini! Kau harusnya-.."
"DIAM BRENGSEK!" Seruan kasar Sungmin membuat kedua ketua polisi itu terkejut.
"KALIAN YANG TIDAK MENGERTI APA-APA JANGAN SEENAKNYA BICARA!"
"..."
"KALAU KALIAN TIDAK MENGERTI, JANGAN BICARA SEENAKNYA DAN SOK MENASEHATIKU!" Sungmin histeris. Ia berteriak mengumpat marah lalu membanting tongkat baseball kuat-kuat ke bawah kakinya, suara debum saat si mayat lagi-lagi terpukul keras.
Siwon mengeratkan pistolnya, ia harus menghentikan Sungmin tapi ia tidak bisa.. ia tidak tega melepas timah panas bahkan untuk sekedar melumpuhkan kakinya. Ia tau Kyuhyun di sampingnya berpikiran sama.
Sungmin mngambil nafas cepat seperti kehilangan oksigen, emosi yang ditahannya sedari tadi kembali menyerangnya. tidak boleh. ia harus tenang. Ia menjambak rambutnya kasar dan mendesis. Memukul-mukul tanah berbatu hingga tangannya berdarah.
Kyuhyun yang melihat itu tergerak hatinya, tidak mungkin ia membiarkan kekasihnya menderita seperti itu, berteriak meluapkan emosi seperti orang tak waras. Ia ingin menolong Sungmin.. ia ingin Sungmin... tapi Siwon menghentikannya, mengatakan situasi ini sangatlah berbahaya.
Setelah beberapa menit, Sungmin mulai tenang, nafasnya mulai teratur. Wajahnya menunduk dalam tapi tak lama ia mendongak menatap mereka kembali dan berdiri dengan angkuh.
"Aku membenci mereka semua.." kata Sungmin.
"..."
"Ia tidak hanya membuat Kirie mati.."
"..."
Sungmin melangkah maju tapi tak terlalu jauh. "Aku mencintainya.. sepenuh hati," ucapan Sungmin menoreh kembali luka pada Kyuhyun. Membuat pemuda itu merasa tertipu habis-habisan, merasa tak diinginkan kekasihnya sendiri.
"Tapi mereka mengambilnya dariku..."
"..."
"Dengan cara paling biadab yang pernah kau pikirkan,"
"..."
"Kau tau bagaimana mereka melakukannya?"
"..."
Siwon juga Kyuhyun masih berdiam diri dan Sungmin tersenyum miris. Ia mendongak menatap langit-langit pabrik yang dipenuhi kayu lapuk juga besi berkarat.. Kotor.. Kotor sekali..
.
.
To Be Continued
Playlist:
- Kimi ni Todoke by May's
- Kawaranai Mono by Oku Hanako
- My Answer by SEAMO
A/N: 12 Pages 4394 words. Rekor chapter dengan tulisan terpanjang yang saya buat, kurang nge-feel memang, tapi mau bagaimana lagi, saya mau cepet ini rampung. Maaf, belum bisa bales Review kalian.. waktunya enggak mencukupi. Updatenya sudah cepat, kan? soalnya masih banyak fanfik saya di fandom lain yang musti diurus.
Btw, di sini kalian yang masih SD, SMP atau SMA siapa? Kalau Kuliah jurusan apa? Sekedar tanya buat referensi saja. sampai jumpa lagi, hargai saya dengan meninggalkan jejak, tidak pun terserahlah.. RnR, Onegai?
