Bite (Versi Kaisoo)

Pairing : Kaisoo

Warning : Yaoi. OOC. OC. Lime. Lemon. Bahasa kasar. GS (untuk beberapa cast).

Rating : M

Summary : Kyungsoo terpaksa menyamar menjadi kakak perempuannya yang baru saja meninggal untuk mendapatkan dana asuransi kesehatan yang dimiliki kakaknya. "Kai tidak akan meninggalkanku!" –Kyungsoo /"Berhenti menghalangiku!" –Baekhyun /"Aku hanya pergi sebentar untuk mencari sesuatu, kau tetaplah di rumah, jangan kemana-mana. Mengerti?" –Kai. /Kaisoo/ and other pair.

A/N : Fic ini milik Nymous senpai selaku author originally-nya, Je Ra Cuma mengubah castnya dan sedikit meng-edit aja ( Je Ra tidak berniat merubah banyak karena terlalu suka sama seluruh isi fic ini ) dan Je Ra sudah mendapatkan izin untuk me-republish fic yang berjudul Bite ini ke Versinya Kaisoo jadi bagi Readers yang mugkin sudah pernah baca fic 'Bite' yang aslinya, Je Ra tegaskan ini bukan Plagiat ne ^^.

Chapter 14

Langit begitu cerah pagi ini. Meski kicauan burung tenggelam oleh suara-suara riuh dari orang-orang yang berlalu lalang dan juga kendaraan bermesin di luar sana, udara sejuk khas pagi hari masih bisa membuat jiwa-jiwa yang bangun pagi itu tetap bisa merasakan ketenangan dan juga kesegaran seperti biasanya.

Meski pagi ini begitu sejuk di tengah kota London yang akan segera memasuki musim dinginnya, seorang pemuda berparas indah di dalam salah satu bangunan yang berderet di pinggir jalanan utama kota London itu, sama sekali tidak mampu mengacuhkan rasa sakit di sekujur tubuhnya untuk menikmati semua ketenangan pagi hari tersebut seperti yang seharusnya.

Ditariknya selimut tebal yang hangat untuk menutupi tubuhnya yang tak berbusana itu ketika ia merasakan gerakan di belakangnya. Pria yang seranjang dengannya itu telah bangun dari tidur nyenyaknya.

"Kau tidak tidur?" tanya seorang pria ketika melihat gerakan pemuda di sampingnya itu menutupi tubuhnya.

"Sedikit." gumam pria bernama Baekhyun.

Chanyeol –pria bertubuh jangkung yang semalaman bersamanya – bergerak mendekati Baekhyun.

"Jangan sentuh aku." Tepis Baekhyun seolah tau saat tangan besar Chanyeol baru saja akan menyentuh bahunya dari belakang. "Ini...ini tidak sebanding dengan apa yang aku dapatkan darimu." Ujar pemuda berambut coklat itu berat tanpa membalikkan badannya. Tubuhnya –lagi-lagi– penuh memar, padahal baru saja luka yang ditorehkan mantan bosnya di perusahaan asuransi mulai memudar, tapi sekarang malah kembali diperbaharui semalaman oleh dokter memuakkan yang tengah bersamanya itu.

Chanyeol menatap Baekhyun dalam diam. Kembali ia mengingat kejadian semalam. Pemuda bersurai coklat ini tiba-tiba mengunjunginya ke tempat ia biasa praktek dan mengajukan pertanyaan 'aneh' dengan imbalan ia akan melakukan apa saja untuk Chanyeol. Dan sudah jelas hal yang diinginkan Chanyeol dari Baekhyun hanya satu. Yaitu tubuhnya.

"Karena aku tau pertanyaan-pertanyaanmu itu tidak akan berhenti sampai disitu saja." Ujar Chanyeol penuh selidik. Tersungging sebuah senyuman penuh makna di wajah tampannya ketika melihat bahu Baekhyun tersentak lembut mendengar kalimatnya.

Dahi Baekhyun mengkerut. Apa Chanyeol mencurigai sesuatu dari pertanyaan-pertanyaannya?

Tapi meski begitu, Baekhyun mengakui bahwa rasa ingin tahunya juga pasti akan kembali menggiringnnya bertanya pada Chanyeol. Hanya pada Chanyeol, seorang dokter terbaik yang bisa ia temukan di kota ini dengan bayaran yang tidak 'seberapa' tapi dengan informasi yang bisa dipercaya.

Baekhyun bangkit, berusaha duduk meski masih sedikit meringis kesakitan ketika rasa ngilu dan perih di bokongnya menyerbu, apalagi ketika ia merasakan ada cairan –yang ia tau betul 'apa' dan milik 'siapa' – mengalir hangat dari lubang anusnya, membuat ia benar-benar tidak nyaman untuk duduk.

Ditatapnya iris dokter muda dihadapannya itu lekat-lekat, berpikir apa sebaiknya ia mengatakan yang sebenarnya atau tidak.

Chanyeol hanya bisa tersenyum dalam hati ketika melihat pemuda didepannya itu menatapnya datar, padahal Chanyeol tau betul saat ini sebuah tanda tanya besar pasti tengah bertengger di kepala Baekhyun.

Tatapan Chanyeol beralih ke tubuh polos Baekhyun yang penuh memar dan kissmark yang memudar. Pemuda ini benar-benar 'candu' yang membahayakan. Chanyeol bukan pria yang mau berkomitmen –setidaknya hingga sekarang–, ia tidak ingin punya hubungan khusus yang akan mengikatnya dengan seseorang, tapi jelas kebutuhannya sebagai laki-laki tidak bisa ia abaikan begitu saja.

Dan mastrubasi jelas bukan ide sehat untuk menjadi pilihan tetapnya, apalagi mencari wanita penghibur, itu hanya akan memperburuk reputasinya. Ia tau betul wanita-wanita jalang di kota ini mulutnya tidak jauh lebih baik dari ember bocor.

Lalu kemudian Baekhyun datang, tipe yang begitu ideal untuk Chanyeol. Baekhyun juga nampaknya tidak begitu ingin berkomitmen atau setidaknya tidak akan membiarkan dirinya 'terikat' dengan seseorang selain dengan sahabatnya yang berisik itu. Jadi, Chanyeol merasa tidak begitu punya beban jika ia sering 'menggunakan' si pria cantik dihadapnnya ini. Tapi sampai kapan ia akan berpikir Baekhyun tidak akan menjadi 'siapa-siapa' untuknya?

Apa ia selamanya akan menganggap Baekhyun sebagai sex friend saja? Ia benar-benar sama sekali tidak memiliki rencana untuk menjadikan si pria cantik ini sebagai 'milik pribadinya'. Tidak sampai saat ini.

"Aku mau pulang." Baekhyun beranjak perlahan dari king size milik Chanyeol. Ya, Baekhyun semalam –untuk kesekian kalinya– menginap di apartemen dokter itu.

"Pelayan rumah akan segera menyiapkan sarapan. Tinggallah sebentar lagi." ujar Chanyeol.

Baekhyun –yang tengah berdiri telanjang dan baru memasukkan satu lengannya ke kemeja miliknya itu– berbalik menatap Chanyeol dengan ekspresi heran. "Kau mengajakku sarapan?" tanyanya, terlihat horor mendengar ajakan dari dokter tipe sadistik di hadapannya itu. "Apa aku harus membayar juga untuk itu?"

Chanyeol terhenyak.

Apa yang ia lakukan? Apa ia tengah bersikap baik pada Baekhyun sekarang? Padahal biasanya ia akan membiarkan Baekhyun bertindak sesukanya, entah itu langsung pulang atau pergi begitu saja setelah ia puas menidurinya. Apa yang baru saja ia katakan? Mengajaknya sarapan? Yang benar saja, ini pasti pengaruh kelelahan saja.

"Lupakan. Kau boleh pulang kalau kau mau." Seru Chanyeol akhirnya tanpa menunjukkan raut wajah kalau ada yang salah dengan dirinya.

Baekhyun hanya diam dan kembali memasang pakaiannya.

0l=======* Protect Me *=======l0

Bergelayut dalam tidurnya dan sesekali menggeram lembut di baik selimut akhirnya membuat sepasang iris cantik Kyungsoo membuka untuk menyambut pagi yang jauh lebih dingin di desa itu dibanding dengan suhu di kota diwaktu yang sama.

"Nghhhhgg!" erang Kyungsoo sambil merenggangkan tubuhnya dan lalu perlahan menoleh ke arah samping tubuhnya,

"Eh? GYAAAAAAAAAAA!"

Teriakan melengking pagi itu sukses membuat pemuda tampan dengan wajah dingin –yang sedang duduk tenang sejak tadi di sisi Kyungsoo– menutup kedua lubang kupingnya dengan telunjuk seperti anak kecil yang baru saja mendengar suara balon meletus.

"Bisakah kau hilangkan kebiasaanmu yang hobi teriak pagi-pagi itu?" protes Kai agak kesal.

"Gyaa! Apa yang kau lakukan di sini?!" histeris Kyungsoo kembali sembari menarik selimut menutupi tubuhnya. Beraksi seolah tubuhnya yang berpakaian lengkap itu tidak sedang berbusana dan tidak ingin dilihat oleh pria dihadapannya. Benar-benar suatu kejanggalan bagi Kyungsoo mendapati si vampire berada di sisinya pagi-pagi begini.

"Kau tidak amnesia, 'kan?"

"Huh?"

"Aku sudah bilang mulai hari ini aku akan tidur sekamar denganmu."

"He? HEEEHHHHHHHH?!"

BUKKHH

Sebuah bantal empuk pun mendarat dengan indah di wajah Kyungsoo saat ia kembali memekik seperti tadi.

"Hentikan itu, bodoh."

Dahi Kyungsoo berkedut, "Jangan panggil aku bodoh!" balasnya.

Kai berbalik dengan wajah meremehkan, "Lalu apa? Idiot?" sahutnya.

"Breng..sek...!"

"Sudah hentikan. Jangan memancing keributan pagi-pagi begini, mata besar."

"Kau yang mulai, jelek!" seru Kyungsoo yang selanjutnya tidak digubris lagi oleh Kai. Rupanya sejak tadi pria muka datar itu tengah membaca sesuatu. Sebuah buku tebal yang ia letakkan di pangkuannya kembali mengalihkan perhatian pemuda itu, membuat suasana kembali hening.

Karena masih merasa kesal, Kyungsoo pun tidak ingin berlama-lama berada di atas satu ranjang dengan Kai. Dengan wajah yang kusut ia pun lalu beranjak ke kamar mandi sebelum sebuah tangan berkulit pucat menahan lengannya dan membuatnya tetap terduduk di atas ranjang.

"Huh? Apa?" sahut Kyungsoo berbalik pada Kai yang menahannya pergi.

"Tunggu, biar aku lihat lukamu." Ujar Kai yang lalu merangkak mendekati Kyungsoo yang masih duduk di atas ranjang, Kyungsoo hampir saja lupa mengenai lukanya itu. Disingkirkannya selimut yang menutupi kaki Kyungsoo lalu mulai membuka kancing dan juga resleting celana Kyungsoo.

'Glup'

Kyungsoo hanya bisa menelan ludah paksa melihat gerakan Kai – yang menurut pandangan matanya– erotis saat tengah menanggalkan celana panjangnya dengan perlahan namun pasti.

Setelah mendapat persetujuan Kyungsoo –yang mengangkat pinggulnya untuk memudahkan Kai menarik turun celananya– Kai pun lalu menanggalkan celana panjang Kyungsoo hingga sebatas lutut. Cuma sekedar untuk melihat perkembangan obat yang semalam ia oleskan di sana.

Kai lalu meraba-raba wilayah sekitar dari bagian daging Kyungsoo yang terkoyak bekas tulang yang mencuat keluar itu perlahan. Sangat menakjubkan, itu yang Kai pikirkan, ia belum pernah mengujicobakan obat itu pada manusia sebelumnya, dan hasilnya benar-benar sangat bagus. luka Kyungsoo menutup, nyaris sempurna. Meski ada memar yang mengelilingi wilayah disekitar daging yang robek, tapi sisanya menunjukkan perkembangan yang sangat bagus dalam semalam.

"Tidak ada pembengkakkan, ini bagus." ujar Kai sambil tetap meraba-raba paha Kyungsoo. Meski pun tanpa maksud dan niat mesum sedikit pun, Kyungsoo tetap tidak bisa mengendalikan wajahnya untuk tidak memerah karena malu. Pahanya diraba-raba begitu oleh pria yang notabene sudah sering melakukan 'itu' dengannya dan juga melakukan hal-hal mesum yang sudah mulai tak terhitung jumlahnya pada Kyungsoo, jelas membuat Kyungsoo kesulitan untuk tidak memikirkan hal yang 'aneh-aneh' di saat seperti ini.

Ditutupinya bagian 'private' miliknya dengan ujung kemeja yang kebetulan panjang dengan sikap malu-malu.

Kai –yang memang sedang teralihkan dengan kondisi tulang dan paha Kyungsoo yang membaik– sama sekali tidak menghiraukan sikap 'manis' kekasihnya itu. Membiarkan kesempatan 'emas' berlalu begitu saja.

"Coba berdiri, Kyungsoo." Ujar Kai lalu menyingkir dari hadapannya Kyungsoo.

"Eh, tapi? Tidak! Aku tidak mau! Rasanya pasti akan sangat sakit!" protes Kyungsoo ngeri.

"Percaya padaku. Ayo berdiri." Sahut Kai kembali yang sudah lebih dulu berdiri di sisi ranjang sambil mengulurkan tangannya pada Kyungsoo.

Antara yakin dan tidak...tapi, Kyungsoo akhirnya menyambut uluran tangan itu dan mulai bergerak turun dari ranjang.

"A-Aku akan menghajarmu kalau sampai rasanya sakit!" gerutu Kyungsoo yang mulai berusaha untuk berdiri sambil berpegangan erat pada lengan Kai.

"Ugh!"

'eh?' batin Kyungsoo saat ia tidak merasakan sakit yang ia alami semalam.

"Masih terasa sakit?" tanya Kai yang melihat Kyungsoo hanya diam saja.

"Ti-Tidak seburuk yang semalam...rasanya...agak pegal dan juga sedikit gatal sekarang...,"

"Itu artinya obatnya masih bekerja, masih akan menyembuhkanmu lagi."

Kyungsoo mendongkakkan wajahnya dan bertatapan langsung pada iris milik Kai.

"Coba berjalan sedikit." pinta Kai lagi.

Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, kembali bimbang. Tapi saat ia kembali menatap pria dihadapannya, ia pun kembali menurut saja.

Layaknya balita yang baru belajar berjalan, Kyungsoo pun menggerakkan kakinya maju ke depan satu persatu dalam gerakan yang sepelan mungkin –kali ini tanpa berpegangan pada Kai. Kai sengaja berdiri di sudut kamar sebagai batas sejauh mana Kyungsoo mencoba berjalan.

Hasilnya kembali membuat Kai maupun Kyungsoo tertegun. Kyungsoo bisa berjalan dengan baik tanpa mengeluh 'Uh," "Ukh," atau "Aw" sama sekali.

"Wah, bisa!" seru Kyungsoo sumringah nyaris melompat kegirangan sampai Kai menahan kedua bahunya agar tidak melakukan tindakan ceroboh seperti jingkrak-jingkrak saat kondisinya masih belum sembuh total.

"Kau mau cari mati hah,? Hanya karena kau bisa berjalan dalam semalam bukan berarti kau boleh lompat-lompat juga! Dengarkan aku. Kau hanya boleh berjalan biasa pagi ini. Aku tidak bisa janji, tapi mungkin siangnya kau sudah bisa melakukan sedikit lari-lari kecil. Itupun jika kau mau patuh untuk tidak melakukan hal-hal bodoh yang akan memberatkan tulang pahamu sampai nanti siang." Tegas Kai sembari menatap lekat-lekat pada wajah Kyungsoo yang sejak tadi sudah memasang wajah kurang senang.

"Aku mengerti." Kyungsoo membuang wajah dengan malas. 'Salah siapa juga aku jadi begini?' gerutunya dalam hati sambil menggembungkan kecil pipinya.

"Boleh aku mandi sekarang?" tanya Kyungsoo lagi dengan muka chibi.

Kai menatapnya datar, "Kenapa? Kau mau kumandikan?"

"Hii!" seru Kyungsoo segera menjauh dari Kai"No way!"

Kyungsoo segera beranjak ke kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun pada sosok Kai yang masih berdiri di sudut kamar menatapnya dengan sebuah senyuman tipis terpajang di wajah tampannya.

Iris Kai lalu menelusuri tiap sudut kamar tersebut dalam diam ketika Kyungsoo sudah mengurung diri di kamar mandi. Kamar yang seharusnya pada jam segini sudah terang benderang oleh sinar mentari pagi yang menyilaukan kini terlihat sangat suram. Gelap dan horror –terima kasih pada selimut tebal bewarna hitam yang ia gantungkan pada dua jendela besar sumber cahaya di kamar itu.

Tapi yah, memang suasana seperti inilah lingkungan yang paling sesuai untuk seorang vampire sepertinya, bukan?

.

.

.

"Fyuh~ Segarnyaahh...!"

Kai tidak bergeming dari atas ranjang ketika Kyungsoo keluar dari kamar mandi dengan tubuh mengepul. Membuat Kyungsoo agak canggung melihat Kai tidak bertindak mesum seperti biasanya. Buku coklat kemerahan yang sangat besar dan tebal yang tengah ia pangku benar-benar membuat kosentrasi si pemilik iris sekelam malam itu terpusat di satu tempat.

Kyungsoo mendekat, dia berani melakukan itu karena pakaiannya sudah lengkap, tidak menggunakan handuk sepinggang seperti yang biasa ia lakukan sehabis mandi. Kalau tidak dia pasti akan di-...

"Kau sedang baca buku apa, sih?" tanya Kyungsoo akhirnya sambil duduk di tepi ranjang sementara Kai selonjoran di sisi ranjang yang lainnya.

Kai mendongkak memandang Kyungsoo yang memasang wajah kecut di sampingnya. Ia pun lalu mengangkat buku itu ke atas sekedar agar Kyungsoo bisa membaca sendiri judul buku tebal yang tengah ia baca itu.

"Keajaiban medis." Ujar Kyungsoo sebelum wajah kekasihnya itu semakin berkerut-kerut karena berusaha mencerna maksud dari judul buku yang tengah ia baca.

"Lalu? Isinya apa?"

"Isinya bermacam-macam," kata Kai hendak menjelaskan, "Pengetahuan yang dimiliki manusia abad ini masih sangat terbatas, jadi beberapa hal yang belum bisa mereka jelaskan –khususnya dalam buku ini, yaitu di bidang medis– mereka anggap sebagai sebuah keajaiban. Padahal mungkin saja beberapa tahun ke depan semua isi dari buku ini hanya akan dianggap sebagai fakta ilmiah dan bukan keajaiban lagi."

"Err...isinya apa sih?" tanya Kyungoo lagi sambil menyipitkan matanya tanda tidak mengerti.

"Tentang hal-hal yang dianggap keajaiban dalam dunia medis."

"Contohnya?"

Kai memilah-milah halaman buku di pangkuannya, "Hm...misalnya seorang gadis remaja sepuluh tahun yang bisa melahirkan seorang bayi, anak yang berhasil bertahan hidup tanpa organ otak, wanita berkaki enam, wanita usia seratus tahun yang masih bisa melahirkan seorang anak...," ujar Kai terus menyebutkan satu per satu judul pada tiap halaman buku yang dipegangnnya.

Kening Kyungsoo mengeryit...kenapa 'keajaiban' –yang seharusnya adalah sesuatu yang menggembirakan dan indah– di dunia medis kenapa malah terdengar menyeramkan?

"Dan...," sahut Kai sambil menatap Kyungsoo dengan tatapan 'aneh' dan sedikit berbumbu 'genit', "Bagian terbaik dari buku ini yang menjadi favoritku adalah...," katanya sengaja menggantung sambil terus menatap pemuda dihadapannya lekat-lekat. " adalah..keajaiban medis, dimana seorang pria bisa hamil...,"

"HHHIIIIEEEEEEEEEHHHHHHH?! BOHONG! Itu bohong! Mana bisa seperti itu?!" teriak Kyungsoo berkoar-koar tidak terima. Panik menggerogoti kepalanya saat itu juga. Masalahnya Kai 'kan udah berkali-kali 'gituan' sama dia...bagaimana kalau dia sampai...hamil? 'Gyaaaaa tidaaaaakkkk!'

"Itu fakta, mata besar."

"Kau bohong! Kau pasti ngarang! Ayo ngaku! Itu tidak benar 'kan?! lagipula itu...ermm...itu laki-laki 'kan tidak punya itu...err, harim..eh..rahim, iya rahim! Laki-laki tidak punya rahim! Mana bisa hamil!" seru Kyungsoo semakin sengit, dalam hati ia benar-benar bersyukur ada secuil pelajaran reproduksi yang bisa singgah ke otaknya saat itu.

"Tanpa rahim pun tidak masalah," jawab Kai kembali ke mode 'pro medis', "Kita bisa melakukan pembuahan di luar terlebih dahulu dengan mengambil sel telur dari seorang wanita dan sel sperma pria kemudian membiarkan keduanya membelah hingga fase tertentu lalu memasukkannya ke dalam tubuh seorang pria. Tidak jadi masalah dimana plasenta akan ditempelkan nantinya di dalam perut pria itu. janin pun akan mendapatkan nutrisi dan tumbuh sendiri jika plasentanya sudah terhubung. Ada kok kehamilan terjadi di luar rahim, itu membuktikan bahwa tanpa rahim pun seseorang bisa hamil. Hanya masalahnya adalah...," ujar Kai membuka satu lembar buku tersebut, "Saat proses kelahiran."

'Glup'

"Saat plasenta bayi pada otot atau bagian perut yang menjadi tempat menempelnya dicabut, resiko pendarahan hebat akan sangat besar bisa terjadi. Itu gawat. Tapi...," Kai mengalihkan perhatiannya ke arah Kyungsoo yang sudah seperti mayat hidup karena memucat mendengar semua penjelasan nya sejak tadi,

"Kalau itu kau, Kyungsoo. Aku tidak akan terlalu khawatir. Karena aku sudah memberi cairan penambah darah itu 'kan? Jadi resiko kematian akibat pendarahan bisa sedikit berkurang." Jelasnya sambil memasang senyuman.

"HELL! Jangan berbicara seolah aku setuju untuk hamil dengan seenaknya! Aku T-I-D-A-K S-E-T-U-J-U! Tidak akan!" bentak Kyungsoo kesal.

"Kenapa tidak?"

"Kenapa tidak? Kau tanya kenapa tidak, hah? Kau pikir urat maluku sebagai laki-laki sudah putus apa? Sampai aku bisa dengan entengnya membiarkan diriku berlalu lalang dengan perut bucit yang berisi benih seorang pria?! Kau gila!" pekik Kyungsoo menatap Kai tajam.

Karena jaraknya cukup dekat, Kai dengan mudah menarik dan memutar tubuh Kyungsoo hingga terbaring di bawahnya –setelah menyingkirkan buku besar tadi sebelumnya– dan kemudian mencium rakus pemuda itu dengan paksa.

Kyungsoo tidak berniat membuka mulutnya untuk Kai. Dikatupkannya bibirnya itu kuat-kuat sambil terus berusaha mendorong tubuh Kai agar menyingkir darinya.

"MMngghh!"

Kai melepas pagutannya dan menatap kekasihnya itu dari jarak dekat. "Tidak ingin memiliki perut buncit yang berisi benih seorang pria, huh? Bahkan sekali pun pria itu adalah aku?" tanyanya.

"Jangan bermimpi!" pekik Kyungsoo.

"Aku tidak bermimpi, karena hal itu akan segera kubuat menjadi kenyataan." Seru Kai menggenggam erat kedua pergelangan tangan Kyungsoo di kedua sisi tubuhnya.

Lagi-lagi Kyungsoo hanya bisa meneguk ludah mendengar hal itu.

"Nah, Kyungsoo. Apa kau tau dimana gereja terdekat yang masih berfungsi di desa ini?" tanya Kai sambil mengecup leher Kyungsoo dengan lembut.

"Ngh, kau mau apa?"

"Aku ingin mengadakan sebuah pesta pernikahan." Kata Kai. "Kau dan aku."

"Sudah cukup bermimpinya brengsek! Hentikan bualanmu itu! Mana bisa dua pria menikah (di jaman ini) ?!" seru Kyungsoo mendorong wajah Kai menggunakan telapak tangan kirinya.

Kai menyingkirkan tangan itu, "Kau boleh memakai gaun wanita jika memang itu masalahnya. Tidak akan ada yang tau 'kan?" ujarnya.

"Tidak akan!"

"Kau keras kepala."

"Apa kau tidak bercermin?"

"Bayanganku tidak terpantul di cermin."

"HEH? Benarkah?!"

"Bercanda."

Ugh, dunia benar-benar sudah semakin mengerikan di mata Kyungsoo sekarang. Ditambah seorang vampire kejam dengan muka datar bagai boneka manekin yang hell! Sekarang sudah bisa bercanda?! Semua itu segera saja membuat atmosfir di bumi ini terasa semakin mencekik akal waras Kyungsoo perlahan-lahan.

0l=======* Protect Me *=======l0

"Kita akan mengunjunginya sekarang?" tanya seorang pemuda manis pada pria lain yang terlihat begitu sibuk mengemasi barang-barangnya di sebuah rumah di tengah-tengah kota London siang itu.

"Iya...segera." sahut pria yang lebih tinggi itu dengan lembut.

"Tapi, paman, aku masih kurang enak badan. Bisakah kita tunda hingga besok?" tanya pria manis yang masih dipunggungi oleh pria yang yang lebih tinggi di ruangan itu sekali lagi.

"Tidak bisa. Waktuku berlibur di benua ini hanya sebentar."

Si pria jangkung berwajah tampanlalu berbalik menatap pria manis berambut coklat dengan iris yang begitu indah di hadapannya. "Kau juga ingin segera bertemu dengannya 'kan? Baekhyun?"

0l=======* Protect Me *=======l0

Kyungsoo POV:

"APA YANG KAU LAKUKAN PADA RUMAHKU?!"

Apa-apaan ini?! Lihat semua kain tebal yang menutupi seluruh celah di rumah ini!Rumahku sudah seperti sarang hantu! Semua sumber cahaya matahari disekat dengan kain tebal dan membuat segalanya bernuansa malam hari!

"Aku tidak mungkin seharian hanya dikamarmu saja 'kan?" sahut Kai yang tengah berjalan menuruni tangga di belakangku.

"Memang siapa yang mengijinkanmu untuk berada di kamarku, hah?!" cercahku lagi yang hanya dibalas 'Hn' oleh mahluk menyebalkan di belakangku ini.

Kalau begini aku tidak akan tau di luar sana sudah malam atau masih siang 'kan?

Benar-benar menyusahkan.

Kususuri rumahku ruang per ruang. Semuanya benar-benar gelap. Tidak gelap gulita sih –hanya remang, Kai hanya menutup jendela-jendela yang bisa membuat sinar matahari menerpa kulitnya. Beberapa celah kecil masih terlihat bertebaran dimana-mana tapi hanya sekedar sebagai sumber cahaya di rumah ini dan bisa dihindari dengan mudah oleh Kai.

Apa rumah ini harus seperti ini terus?

"Sampai kapan rumah ini harus seperti ini? Warga desa bisa curiga kalau tau rumahku disekat dari sinar matahari begini." Ujarku dengan wajah kurang senang. Untung saja rumah ini cukup luas, jadi aku tidak akan mati kegerahan di dalamnya karena nyaris semua ventilasi udara –alias jendela– dipalang begini.

"Bilang saja kulitmu sedang sensitif dengan sinar matahari. Lagipula selama siangnya kau masih berjalan-jalan di desa, mereka tidak akan mencurigaimu sebagai vampire."

"Cih! Menyebalkan."

Kegelapan ini membuat perutku lapar...aku butuh makan pagi sekarang.

"Aku akan ke desa untuk membeli makanan." Kataku lalu beranjak menuju pintu depan. Kulirik Kai sesaat sebelum membuka pintu, sinar matahari akan langsung menerpanya jika ia tidak menyingkir. Dan seperti sudah mengerti, Kai pun melangkah mundur ke balik tembok pembatas saat aku akan membuka pintu depan. "Aku pergi."

Sinar mentari segera menerpa wajahku dan membuatku tidak bisa menolak untuk menatap langit yang begitu indah. Biru yang indah. Awan-awan sirus yang tipis menyebar acak di angkasa. Menciptakan mahakarya sebagai lukisan hidup yang tak ternilai harganya. Kuhirup dalam-dalam aroma dedaunan dan tanah yang kering ke dalam paru-paruku. Pagi ini...mood-ku sempurna.

0l=======* Protect Me *=======l0

Suara langkah kakiku yang melangkah di atas jalanan setapak dari batu-batu gunung berukuran kecil –yang sengaja dibuat sebagai satu-satunya jalan –selain hutan– yang menghubungkan desa dengan rumahku yang berada di tengah hutan ini –, sudah lebih dari berisik untuk menyaingi suara desiran angin pagi yang membuat dedaunan saling bergesekan. Suasananya sebenarnya agak menyeramkan ketika berjalan sendirian di sini. Apalagi saat aku sekarang tau ada serigala dan anjing hutan –yang kadang makan sisa-sisa vampire (yang notabene adalah daging manusia)– berkeliaran di dalam hutan, aku pun jadi semakin was-was tiap kali melewati jalanan ini. Akh! Kenapa juga aku harus mendengar cerita itu sih?! Dan kenapa pula nenek harus membangun rumah di tengah hutaaannn?!

"Grrrhhh...!"

"HYAAAAA!" teriakku kencang saat sebuah gumpalan daging berbulu melompat dan mendarat mulus di atas kepalaku.

"Gyaa! Gyaaa! Gyaaaaa!"

TBC

Buat yang mau manggil Je Ra kakak, ataupun eonnie boleh aja kok Je Ra nggak bakalan marah atau menggigit :3

Je Ra minta maaf kalau masih ada aja typo yang nggak ke edit dan membuat readers kurang nyaman saat membacanya. Je Ra akan berusaha untuk meminimalkan typo yg ada di fic ini n(_ _)n.

Terima kasih buat yang udah RnR, fav dan follow ^_^ Je Ra harap chap ini dan seterusnya masih ada yang berkenan untuk mereview dan semoga jumlahnya makin banyak agar Je Ra lebih semangat lagi ngelanjutin-nya O.O

See you on next chap :)