Lesson 8
You only see what others choose to show
A/N: Warning - This chapter was written while listening to some super randy and inappropriate Indian music lol.
.
Aku terbangun dengan senyum di wajahku. Rasanya seperti aku terlahir kembali pagi ini. Angin mendesir meniup tirai, membuatnya bergoyang perlahan. Tirai hijau gelap itu menutup sebagian besar jendela sehingga di dalam kamar masih agak gelap karena cahaya matahari sulit menembus dan menerangi ruangan. Aku tidak tahu jam berapa sekarang atau kapan aku tertidur tadi malam. Semua yang kuingat adalah klimaks yang mengguncang diikuti bibir menggila Sehun yang berusaha melahapku dengan tidak sabar. Aku pasti pingsan setelah itu karena aku tidak bisa mengingat apa pun yang terjadi setelahnya.
Dan kemudian, di sinilah aku sekarang, berbaring telanjang di tempat tidur Sehun. Sendirian...
Aneh, pikirku. Aku tidak mendengar suara apa pun di dalam rumah. Dari tempatku berbaring aku juga bisa melihat kamar mandi kosong. Apakah Sehun tidak di rumah? Aku bahkan tidak punya ponsel untuk mengirim pesan padanya.
Kududukkan diriku di tempat tidur, menarik selimut menutup tubuh telanjangku. Ini agak dingin bahkan meski matahari bersinar di luar sana. Aku ingin bangun dari tempat tidur namun aku terlalu nyaman menikmati tempat tidur Sehun yang lembut dan hangat sehingga membuatku merasa seperti dipeluk olehnya. Musim semi selalu membawa hal-hal menyenangkan, sudah bisa kucium aroma manis bunga yang menghiasi udara. Entah itu nyata atau kah hanya kerena aku yang terlalu tenggelam dalam euforia...
"Aku belum pernah melihatmu tersenyum selebar itu." Suara husky berkata dan aku memerah. Aku tidak harus mendongak untuk tahu siapa pemiliknya.
"Dari mana saja kau?" tanyaku, pura-pura marah.
Sehun terkekeh, berdiri di depanku sudah dengan pakaian lengkap.
"Maaf," bisiknya. "Aku ingin membangunkanmu dengan kejutan, jadi aku pergi keluar sebentar..."
"Kejutan?"
"Aku tahu ini terlambat." Sehun tersenyum, memegang sesuatu di belakang punggungnya. "Dan ulang tahunmu sudah terlewat berbulan-bulan lalu... Tapi ini, kuharap kau menyukainya..."
Dia memberiku sebuah kotak persegi panjang terbungkus kertas hadiah yang aku terima dengan ragu.
"Apa isinya?" tanyaku sementara sedikit menggoyang kotak itu, merasakan sesuatu yang padat di dalamnya.
"Itu mainan seks,"
"APA?!"
"Bercanda." Sehun terkekeh. "Bukalah..."
Aku melotot padanya sementara merobek kertas pembungkus kotak. Mataku segera melebar melihat isi di dalamnya kemudian mendorong kotak itu dengan cepat kembali pada Sehun.
"Terima kasih tapi..." gumamku. "Aku tidak bisa menerima ini..."
"Kau butuh ponsel, Luhan." Sehun berkata, mengembalikan kotak itu padaku. "Bukankah ponsel lamamu rusak,"
"Tidak, ini terlalu mahal." Aku menggeleng. "Aku tidak bisa..."
"Baiklah, kau tahu apa?" Sehun bicara pelan. "Kau bisa menyimpan ini sampai kau mendapatkan yang baru. Kau bisa mengembalikannya padaku kapan pun kau mau."
Aku masih tidak yakin. Itu tidak nyaman bagiku namun aku juga tidak ingin bertindak seperti tidak tahu terima kasih. Dia sudah bangun lebih awal hanya untuk membelikanku ponsel bagaimanapun.
"O-oke..." kataku, menerima kotak ponsel darinya. Dia mencium dahiku dan memelukku erat. Sekarang aku tidak lagi butuh selimut untuk membuatku hangat.
Dengan ponsel baruku yang tersimpan aman di meja samping, kami meringkuk bersama di atas tempat tidurnya. Aku agak sedikit sadar diri karena, well, aku masih sepenuhnya telanjang. Sehun telah menanggalkan celananya, menyisakan kemeja dan bokser. Ini menyenangkan hanya berpelukan dengannya tanpa membicarakan apa pun. Sehun tidak sama seperti siapa pun yang pernah kutemui. Dia membingungkan, kadang juga menyebalkan, namun aku tetap menyukainya. Kuharap dia menyukaiku juga.
Ketika dia meremasku dalam pelukan eratnya, aku mendesah merasa begitu damai dan puas. Kututup mataku, siap kembali tidur, namun aku terusik oleh suara bisikannya di telingaku.
"Luhan, kau masih di tempat tidurku..."
"Huh?" tanyaku dengan nada mengantuk.
"Sudah pagi," bisiknya, menatap mataku. "Dan kau masih di tempat tidurku... Tidak seorang pun yang pernah berada di tempat tidurku saat matahari terbit, Luhan..."
Aku menatapnya, matanya seperti lautan badai di mana setiap gelombang adalah emosi yang berbeda... Kecemasan, adorasi dan keinginan... Penderitaan tersirat di antara ombak-ombak itu juga, emosi yang tampaknya tidak ingin Sehun tunjukkan namun itu masih di sana dan aku hanya bisa membayangkan bagaimana jauh lebih masifnya itu di dalam...
"Apa itu membuatmu takut?" tanyaku lembut.
"Sedikit..."
"Apa kau menginginkan aku di sini?" Karena jika dia tidak, maka...
"Setiap malam kalau bisa." Dia menjawab dan aku tersenyum sementara memerah malu.
Aku bergerak untuk mencium bibirnya. "Maka biarkan aku tinggal untuk menebus tahun-tahun yang kita lewati tanpa mencium satu sama lain," bisikku.
Kami saling melumat dan menggigit bibir untuk waktu yang lama, dan akhirnya aku berhasil melepas kemeja dari tubuhnya.
"Puaskan aku," bisiknya. "Cium aku di bibir juga bagian tubuhku yang lain..."
Aku memerah, sungguh ingin memuaskan gairahnya itu, namun tentu aku memiliki pengalaman nol dalam hal tersebut. Kumulai dengan mencium bibirnya sebisa mungkin. Sehun membiarkan aku memimpin, membuatku mengangkangi pangkuannya sementara kami dalam posisi duduk dengan aku yang terus menghisap lidahnya. Dengan lembut dan perlahan, aku membuntuti ciuman dari bibir ke rahang dan merasa begitu terharu karena ciumanku membuat dia terengah-engah. Aku menciumi lehernya dengan lembut dan sensual. Kepalanya terdongak otomatis ke atas dan aku berbisik. "Bibirmu...begitu seksi..."
Mencium dan menghisap jakunnya, aku merasakan jarinya menusuk pinggangku. Kejantanannya berkedut di balik bokser, aku tersentak merasakan itu menekan milikku sendiri. Dia meraih pantatku, menggunakannya untuk menggiling tonjolannya dan aku mengeluarkan erangan menyedihkan.
"Mmm pantatmu bergerak dengan begitu pintar, Baby," bisiknya di telingaku. Mendengarnya, aku merengek.
Ciumanku turun ke sekitar bahu sementara tangannya meremas dan memijat bongkahan pantatku. Garis merah terbentuk di sana karena kukunya yang menggaruk kulit pantatku ketika aku terus bergerak menggiling kejantanannya. Kesenangan itu berdenyut begitu hebat sehingga aku nyaris tidak menyadari keberadaan tato raksasa di punggung Sehun.
Aku menghentikan ciuman, menatap punggungnya berusaha melihat lebih jelas tato indah itu.
"Wow, serigala..." bisikku, turun dari pangkuan.
Sehun ragu namun tetap melepas tangannya dari pinggangku sementara aku bergerak ke belakangnya untuk mengagumi tato itu. Warnanya begitu memikat, hitam dan perak. Aku merasa seperti seekor serigala perkasa tengah menatap langsung ke dalam jiwaku. Dia tampak seperti makhluk buas yang sabar saat ini namun memiliki kekuatan besar yang tersimpan untuk mempertahankan diri di dalam.
"Ini begitu indah, Sehun." Aku berbisik, jariku menelusuri bagian telinga serigala.
Dia tidak mengatakan apa pun ketika aku terus mengagumi karya seni indah di tubuhnya. Di bawah sentuhanku itu terasa kasar, terdapat goresan di kulit di bawah tato. Jelas ini bukan karena tatonya, lantas kenapa—
Aku tersentak.
"Sehun-ah, apa ini—"
"Ayo makan." Sehun berkata, segera bangkit dari tempat tidur dan mengangkatku dalam pelukannya.
Aku mengerutkan dahi, tahu bahwa dia hanya ingin menghindari pertanyaan. Namun mungkin aku memang harus membiarkannya untuk saat ini.
.
Sehun tidak mengizinkan aku untuk memakai pakaian apa pun. Aku berusaha memakai kemeja yang dia pakai sebelumnya namun dia menyambarnya sebelum aku bisa meraih itu. Aku terus merengek, jadi akhirnya dia menyerah dan membiarkan aku setidaknya memakai bokser.
Kami duduk di sofa, memakan pasta yang dia buat. Aku lebih banyak berpikir daripada makan sebenarnya, sepenuhnya hilang dalam pikiranku... Dia begitu membingungkan, satu titik dia berkata bahwa dia tidak akan jatuh cinta padaku, namun kemudian dia bersikap seolah dia begitu peduli. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan tentangku, atau maksud dari kata-katanya bahwa dia tidak pernah membiarkan orang lain tinggal di tempat tidurnya di pagi hari kecuali aku, apakah dia akan mengusirku begitu kami benar-benar berhubungan seks tadi malam?
Aku tenggelam begitu dalam di dalam pikiran sampai Sehun membungkuk dan mencium bibirku.
Aku tersentak sementara Sehun terkekeh bertanya. "Apa yang kau pikirkan?"
"A-aku ingin bertanya sesuatu padamu..." gumamku.
"Silakan,"
"Apa kau menyukaiku?" tanyaku, menatapnya penuh harap.
Dia tersenyum tampan. "Kukira itu sudah jelas,"
"T-tidak, maksudku ya, itu—aku tidak tahu..."
"Apa yang ingin coba kau katakan?" Dia terkekeh.
"K-kau bilang kau tidak menjalin hubungan." Aku memulai, gugup. "Jadi apa yang kita lakukan... Hanya untuk bersenang-senang, benar?"
Sehun menarikku mendekat sebelum menjawab pertanyaanku.
"Ingat ciuman pertama kita?" Dia bertanya dan aku mengangguk malu. "Aku merasa hampir gila. Mata indahmu, bibirmu dan tawamu yang manis... Membuatku tidak bisa tidur di malam hari. Aku juga tidak bisa melewatkan sehari pun tanpa bertanya-tanya di mana kau berada dan akankah kita bisa bertemu kembali. Aku tidak bisa berhenti membenci diriku sendiri, berpikir mengapa aku tidak bisa menghentikanmu dari melarikan diri... Aku pergi ke klub itu setiap akhir pekan..."
"Kau melakukannya?" tanyaku. Agak terkejut ketika dia mengangguk.
"Ya, dan kau tidak pernah muncul. Aku berusaha menenangkan diriku sendiri dengan berkata bahwa suatu hari nanti aku pasti akan menemukanmu, dan tebak?" Dia tertawa miris. "Akhirnya aku memang menemukanmu di bangku pertama kelasku. Kau tahu bagaimana perasaanku? Aku begitu ingin menghancurkan apa pun di sekitar kita ketika aku masuk kelas dan melihatmu duduk di bangku paling depan. Seseorang yang begitu ingin aku cium dan menariknya ke dalam pelukanku lagi—adalah mahasiswaku, sehingga aku bahkan tidak memiliki kesempatan. Aku berusaha membencimu dan mempermalukanmu dengan terus menghinamu, namun sial kau hanya begitu manis, begitu rapuh. Kapan pun aku melihat wajahmu jatuh dalam kesedihan, aku merasa seperti aku adalah Iblis paling mengerikan. Aku mencoba untuk menjalin hubungan denganmu dan berharap semuanya akan membaik di antara kita. Aku tahu tidak ada jalan untuk kembali. Aku begitu menginginkanmu dan aku melakukan beberapa hal bodoh sampai kemudian akhirnya memilikimu di sini..."
Aku mengalihkan pandanganku dan tersenyum pada diriku sendiri. Dia meraih daguku, membuatku kembali menghadapnya dan aku melihat senyum di wajahnya memudar perlahan.
"Jadi kapan pun kau meragukan apakah aku menyukaimu atau tidak." Dia berbisik. "Ingatlah bahwa kau adalah orang pertama yang begitu aku inginkan...hingga saat ini..."
Jantungku berdetak berantakan ketika cahaya matahari menembus jendela dan menyorot wajah resahnya. Dia menarikku mendekat dan menciumku namun tidak lembut, melainkan posesif dan membuatku menggeliat merasakan ledakan gairah di antara pangkal paha. Dia berhenti kemudian, menatap mataku. Menyaksikan aku yang terengah-engah dan kelaparan untuk bibirnya.
"Makan." Dia tersenyum, menempatkan mangkuk di tanganku sementara beranjak dari sofa. Mataku mengikuti pergerakannya ketika dia menuangkan air untuk kami berdua kemudian membawanya kembali padaku.
"Apa itu satu-satunya pertanyaan yang kau punya?" Dia bertanya sembari mengedipkan mata main-main.
Aku memerah. "Hari itu saat aku tertangkap di perpustakaan," kataku, kemudian melanjutkan. "Kau memilih Prof. Kim sebagai alibi. Apa yang terjadi setelah itu? Apa Prof. Kim berbohong?"
"Tentu saja." Sehun tertawa. "Menurutmu kenapa aku masih mengajar di Universitas?"
"A-aku hanya... Bagaimana dia setuju untuk berbohong?"
"Well, katakanlah bahwa Prof. Kim berutang budi padaku." Sehun menyeringai. "Yah, sebenarnya dia berutang budi padaku sepanjang dia mengajar di Universitas."
Aku mengerutkan dahi. Itu terdengar seperti Sehun mengancamnya.
"Sebelum kau menghakimiku." Sehun tertawa. "Prof. Kim seksimu itu bukanlah malaikat. Dia membuat banyak kesalahan. Aku hanya kebetulan di sana ketika dia melakukan salah satu kesalahannya, dan tada! Itu berguna untuk hidup!"
Aku tertawa kecil, mendengar komentar nakal Sehun.
Aku tidak mengambil kelas Prof. Kim namun samar aku ingat Baekhyun begitu tergila-gila padanya dan berkata bagaimana dia memiliki kulit coklat indah yang mengagumkan juga senyum yang begitu memikat.
Kemudian sisa sore itu dihabiskan dengan Sehun dan aku yang membicarakan hal-hal random sementara berpelukan satu sama lain di sofa.
"Jadi, apa kau melakukan workout?" Dia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu. "Apa kau tahu bagaimana bermain salah satu olahraga?"
"Aku biasa bermain sepak bola dan basket," jawabku sembari memainkan jari-jariku di dadanya. "Di SMA. Dan aku tidak pernah bermain lagi sekarang,"
"Hmmm kita harus bermain bersama lain kali." Dia sumringah dan mataku berbinar.
"Sungguh?"
"Ya, tapi kita harus mencari waktu yang tepat" katanya, meminta maaf. "Karena kau tahu kenapa,"
"Tidak masalah." Aku menggeleng dan tersenyum. "Terima kasih,"
"Sama-sama, Babe." Dia membungkuk ke depan untuk mencium bibirku. "Sekarang tunjukkan padaku seberapa kuatnya dirimu,"
"Eh?"
Sehun menarikku dari sofa menuju ke arah kamar tidurnya. Aku memerah sementara dia tertawa.
"Tidak seperti yang kau pikirkan," kekehnya, menusuk pipi merahku. "Lihat ke sana."
Dia menunjuk ke atas di mana terdapat tongkat terjulur yang melengkung di kedua sisinya dan terpasang pada rangka kayu.
"Apa itu batang jemuran?" tanyaku, bingung.
"Bukan bodoh." Dia terkekeh. "Itu pull up bar. Cobalah."
Aku menggigit bibirku gugup ketika mendekat pada batang melengkung itu.
"Kau tahu bagaimana melakukan pull up 'kan?" Sehun menggoda.
"Aku tahu," gerutuku tersinggung. Sejujurnya tidak...
"Apa kau ingin aku membantumu menggapainya?" Sehun terkekeh.
"Tidak, terima kasih, aku bisa sendiri." Kujulurkan lidahku padanya.
Dengan tampang geli, dia mengamatiku ketika aku melompat beberapa kali untuk meraih ujung pad pada bar dengan jari-jariku yang goyah. Setelah berhasil aku memejamkan mata dan menarik napas panjang sebelum mulai berusaha mengangkat tubuhku ke atas.
Ini mungkin adalah hal paling menantang yang pernah aku lakukan sepanjang hidupku. Otot-otot lenganku terasa sakit ketika aku mengangkat tubuhku dan aku bisa merasakan jaringan tubuhku bahkan nyaris tidak bereaksi.
"Ah sial..." Aku mengutuk dengan nafas pendek sementara berusaha mengangkat tubuhku sekali lagi, dan berhasil.
"Sudah menyerah?" Dia bertanya, mengejek dan aku mengerutkan bibir jengkel.
Aku mengangkat diriku lebih tinggi lagi, melakukan percobaan kedua dan praktis aku mendengar tubuhku menangis minta tolong, memohon belas kasihan sementara aku berkeringat. Aku tidak mungkin membiarkan Sehun mengejekku karena aku tidak bisa melakukannya.
"Ini." Suara beratnya menggema ketika dia meraih pinggangku dengan kuat. "Lakukan apa yang aku katakan."
Aku mengangguk dan dia menyeringai mencurigakan.
"Pegang bagian tengah bar dengan kuat dan tahan selama beberapa detik," instruksinya. "Buat dirimu nyaman."
Aku memerah karena aku bisa melihat matanya bergerak naik turun di tubuhku, menatapku dengan pandangan kotor.
"Sekarang coba angkat tubuhmu." Dia bergerak lebih dekat padaku, embusan napasnya meniup perutku. "Dan jangan tergesa-gesa. Kau tidak harus melakukannya sekaligus. Mulailah perlahan dan lihat seberapa jauh kau bisa melakukannya,"
"Oke," kataku dengan suara tegang. Bergantung pada bar sesungguhnya bukanlah hal yang mudah, terlebih dengan Sehun yang berada begitu dekat denganku.
Dia masih memegangi pinggangku dengan kuat ketika aku mulai mengangkat tubuhku. Aku mendengus kasar dan dia berbisik. "Pelan-pelan saja... Jangan terlalu memaksakan tubuhmu,"
"Ini begitu sulit, Sehun." Aku merengek.
Sehun tertawa kecil. "Aku tahu. Kau harus memberi kekuatan lebih pada tubuh bagian atasmu jika tidak, ini memang cukup sulit,"
"Aku bisa melakukannya." Aku cemberut, masih begitu keras kepala. Aku mengangkat tubuhku lebih tinggi dari sebelumnya kemudian tersentak ketika merasakan sesuatu yang lembut dan basah menempel di perutku.
"Se-Sehun..." bisikku namun Sehun sudah menusukkan lidahnya di pusarku dan membasahinya. Dia meraih kakiku, mengaitkan itu di bahunya sementara aku terengah-engah merasakan kejang di lenganku yang memegang batang besi serta kenikmatan yang melonjak cepat di antara pangkal paha.
Lidah Sehun terus menjilati perutku. Bersamaan dengan itu tangannya diam-diam melepas bokser dari kakiku. Aku mengerang dan memohon. "Kumohon tidak... Biarkan aku turun..." Namun dia tidak mau mendengarkan.
"Kau tahu apa olahraga terbaik?" Sehun bertanya, mencurigakan.
"Apa?" balasku dengan nada tersiksa.
"Seks." Setelah mengatakan itu dia kemudian melahap penisku. Aku meratap merasakan jarinya mengarahkan kekerasanku di dalam gua basah panas mulutnya. Perasaan basah dan licin di kepala organ sensitifku membuatku merintihkan namanya sementara tangan gemetarku berusaha menahan tubuhku pada pull up bar terkutuk ini. Ini begitu menakutkan, aku takut karena aku berada jauh dari lantai sekarang. Aku bisa saja kehilangan kontrol atas cengkeramanku dan terjatuh kapan pun. Namun Sehun tidak peduli dan mencium penisku lembut sementara mengeluarkan desahan senang.
"Baby, kau terasa...hanya...begitu nikmat," erangnya, memberi ciuman lebih banyak. "Aku ingin menghisapmu sepanjang hari dalam posisi ini..."
Aku menggeliat dan dia susah payah menahanku dengan menekankan tangannya di punggungku.
"Jangan bergerak," perintahnya tegas sementara aku menggigit bibir bawahku. "Tapi tidak perlu malu untuk membuat suara, Love..."
Bibir panas Sehun membungkus kemaluanku lagi, namun hanya ujungnya sehingga aku menangis menginginkan dia memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya. Dalam ritme tertentu dia membuat kemaluanku masuk dan keluar dan aku merintih menyedihkan.
"Se-Sehun-ah..." bisikku. "Mulutmu terasa begitu nikmat..."
Kepalaku terasa berputar dan seluruh tubuhku gemetar namun dia tetap tidak melahap seluruh kemaluanku sehingga itu membuatku hampir gila.
Dia menyapukan lidahnya, menggoda organ sensitifku dan tubuhku terguncang oleh gairah tak terkendali sebagaimana yang aku rasakan tadi malam. Hanya saja kali ini, itu jauh lebih mendebarkan karena aku sialan begitu takut berada dalam ketinggian. Aku tidak yakin tubuhku bisa bertahan lebih lama lagi, telapak tanganku menjerit dan mungkin memar sebab aku menahan batang metal begitu lama sementara isapan Sehun kini berpindah ke testisku. Aku menggigil dan mengerangkan namanya kemudian dia mulai melahap kemaluanku seluruhnya dan membuatku memanfaatkan mulutnya dengan cara yang begitu bejat.
"Fuck!" Aku mengutuk keras. "Fuck please, Sehun biarkan aku turun... Aku tidak tahan..."
Namun dia tidak sama sekali mengindahkan permohonanku, sebaliknya dia menggeram sehingga mengirimkan getaran pada penisku. Mataku otomatis melebar mengeluarkan air mata, karena sial, aku merasa seperti gemuruh kenikmatan luar biasa yang menyambar seluruh persendianku.
"A-aku dekat..." Aku memberitahunya. Dia menarik bibirnya dari penisku dengan cepat dan aku merintih dalam kefrustrasian karena dia tidak membuatku sampai. Namun tentu saja, apa lagi yang aku harapkan? Aku senang dia menurunkanku dan segera aku tersungkur dalam pelukannya. Aku sudah sangat begitu bersemangat sehingga aku bergerak untuk meraih bibirnya; menusukkan kuku tumpulku di belakang punggungnya dan mulai menggigit bibirnya dengan tidak sabar. Urgensi gairahku mempengaruhi dia dengan baik dan Sehun menggeram dalam mulutku. Dia memeluk tubuhku dan mengangkatku hati-hati sehingga tidak mengintrupsi ciuman.
Dia membawaku ke tempat tidur dan melemparku dengan kasar. Mata kelamnya memindai tubuh telanjangku dengan lapar.
"Sehun, kumohon kemari..." Aku merengek. "Aku sangat membutuhkanmu..."
"Kau tidak tahu betapa aku ingin menyetubuhimu begitu sialan buruk..." Dia mengeram, menjulang di atasku. "Aku ingin melakukannya sampai kau bahkan tidak bisa berdiri di atas kakimu sendiri. Ya, seburuk itu..."
"Kalau begitu lakukan," kataku, tersesat dalam kabut nafsu. "Lakukan apa yang kau inginkan dengan tubuhku..."
Sehun terkekeh. "Oh my silly Han," bisiknya, memijat pahaku dan membungkuk ke arah bibirku. "Segera... Penisku akan berada dalam dirimu segera... Namun sebelum itu terjadi ada banyak hal yang harus kau pelajari..."
Berciuman dengannya selalu membuatku putus asa, tubuh kami saling menekan keras sehingga aku bisa merasakan otot-otot lengannya yang kencang. Erangan lolos dari bibirku dan perutku tergelitik dalam kesenangan. Rasanya seperti ada api yang menyala dalam tubuhku...
Ciuman lembut berubah menjadi bergairah dalam hitungan detik, lidah saling membelit dan tangan bergerak liar di punggung satu sama lain... Lenganku melingkarinya ketika ciuman kami semakin dalam, dan aku menekankan pinggulku pada tonjolannya yang sudah begitu keras. Dia mengerang dan terengah di bibirku, aku merasa begitu bangga karena aku bisa membuat gairahnya naik...
Aku sungguh tidak ingin pergi, jika dia ingin aku di tempat tidurnya setiap malam, maka mungkin aku hanya akan tetap di sana selamanya...
"Senang karena kau tidak memakai sehelai benang pun..." Dia berbisik, membuatku terkekeh.
Menyuruhku berbaring terlentang, dia mulai menciumi dagu dan setiap jengkal tubuhku. Tadi malam begitu luar biasa namun aku masih menginginkannya lagi. Aku tidak tahu perasaan apa itu, karena aku tidak pernah tertarik pada seseorang atau pun sebaliknya. Cara dia mencium dan menggigit kulitku terasa begitu menyenangkan. Lembut seperti bulu namun juga kasar sehingga mampu meninggalkan tanda merah di kulitku.
Aku terengah dan menunduk melihat ke bawah, mengagumi leher dan bahunya yang terhampar indah dan terlihat begitu seksi ketika dia melahap tubuhku dengan rakus.
"Se-Sehun..." Aku mengerang. "Kau membuatku gila..."
"Sial." Dia tersentak, kembali ke bibirku. "Katakan lebih banyak apa yang kau rasakan..."
"A-aku tidak bisa merasakan jari-jari kakiku." Aku merengek. "Bagaimana kau mencium dan menggigitku itu membuatku menggigil parah... Aku menjadi sangat keras, Sehunie..."
"Aku juga, Baby," erangnya. "Aku ingin menjilat setiap jengkal tubuh seksimu dan membawamu menuju puncak kenikmatan. Aku ingin kau menjeritkan namaku saat klimaks..."
Aku membalikkan posisi kami hingga aku di atasnya kemudian menciumnya kelaparan. Ciumanku turun menyusuri dada dan lipatan ABSnya yang kencang setelah itu.
Mengangkangi pinggangnya, aku melihat dia menjilat bibir menatap ketelanjanganku. Jarinya dengan perlahan menyusuri kulit dan berputar-putar di sekitar putingku yang menegak penuh gairah. Aku mengerang merasakan kukunya yang tumpul menusukku dengan lembut, menyalakan api di dalam diriku yang seolah tidak akan pernah padam. Pandanganku tidak mampu teralih dari tubuh sempurnanya. Itu tampak seperti dia adalah ukiran indah yang dibuat dengan penuh kehati-hatian. Dewa Yunani kini terbaring telanjang di bawahku.
Aku bergerak mundur menuju pinggulnya, membantu dia melepas bokser yang tampak terlalu ketat untuknya. Ereksinya muncul segera dengan ujung bengkak dan berdenyut. Itu terlihat begitu besar dan luar biasa seksi sehingga aku tidak bisa menghentikan diriku dari bertanya-tanya bagaimana rasanya jika aku menghisapnya. Apakah dia akan mengerang sama sepertiku ketika dia menghisapku?
"Maukkan ke dalam mulutmu, Baby." Dia menyeringai sementara terengah.
Sejenak aku merasa ragu, menggigit bibirku dan mengulurkan ibu jariku pada ujung penisnya. Sehun menggumamkan 'fuck' serak dan aku memutuskan untuk melakukan lebih jauh, menjilat ujungnya yang tampak seperti kepala jamur itu dengan malu-malu dan mengingat apa yang biasa Sehun lakukan pada penisku. Aku mencium lembut seluruh batangnya dan merasa begitu senang ketika melihat Sehun mencengkeram seprai dengan dada yang naik turun. Sungguh menakjubkan melihat dia begitu menyedihkan ketika pada akhirnya aku melahap penisnya; tangannya otomatis mencengkeram rambutku sementara aku perlahan mulai menghisapnya. Dia terasa begitu lezat, cairan asin mengalir ke tenggorokanku ketika aku memberinya kenikmatan. Jemariku membelai lembut testisnya dan dia tersentak sehingga aku segera tahu bahwa aku harus menggodanya lagi di sana. Testisnya tegang di bawah cengkeramanku dan kurasakan penisnya otomatis membesar di dalam mulutku. Oh Tuhan dia begitu besar dan mulutku sekarang mulai terasa sakit. Dia begitu sabar, tidak berusaha masuk lebih dalam dan membuatku tercekik.
Kukencangkan mulutku di sekitar penisnya dan lidahku menjilatinya dengan menggila. Dia tersentak, barulah kemudian ia menyodokkan penisnya dengan keras di dalam mulutku. Aku mengerang ketika itu membentur tenggorokanku, otomatis membuat air mataku mengalir.
"FUCK LUHAN!" Dia meraung. "FUCK, aku tidak ingin menyakitimu tapi ini terasa begitu nikmat... Mulutmu begitu panas..."
Aku meraih pantatnya dan membantu ia memasukkan penisnya dalam mulutku dengan lembut. Sungguh menakjubkan melihat tubuhnya tenggelam dalam gairah dan aku merasa bisa menghisapnya setiap hari.
"Cukup," katanya, menarik kejantanannya keluar dari mulutku. "Kemari."
Dia menarikku duduk di atas pangkuannya kemudian mencium bibirku yang sudah sangat membengkak dengan lembut. Entah bagaimana dia masih bisa mengontrol dirinya dengan baik dari melakukannya dengan kasar ketika aku yakin dia tidak bisa...
"Buat kita berdua cum." Dia berbisik. Aku sudah sangat lelah namun aku sudah cukup dekat dengan klimaks dan kuharap dia pun demikian. Aku mulai menggosok pantatku di atas ereksinya, menggiling semakin cepat melawan penisnya sementara penisku sendiri menekan ABS-nya yang keras.
"Aku begitu dekat..." Aku mengerang dan dia meraih kemaluanku, mencengkeramnya erat di dalam kepalan tangannya yang besar.
Aku merintih, menggiling semakin cepat. Sementara penisnya terjebak di antara pipi pantatku, kami berciuman dengan tergesa-gesa. Dia membalik posisi kami sehingga dia berada di atas dan menjepit tanganku pada permukaan tempat tidur.
"Ah, Baby," erangnya. "Kau begitu dekat namun tubuhku masih terasa sakit untukmu. Penisku berdenyut dengan gila dan itu menginginkanmu. Dia ingin merasakan lubang sempitmu yang panas dan mengisinya sampai penuh,"
"Sehun..." Aku merengek. "Aku belum pernah melakukannya sebelumnya..."
"Aku tahu," bisiknya berbahaya. "Kau akan sangat sempit dan aku akan sangat menikmati menumbuk setiap bagian pantatmu tanpa terkecuali..."
Dia menggiling penisnya melawan milikku lebih cepat dan aku mengerangkan namanya lagi dan lagi. Mataku berputar dalam tempurung kepalaku sementara aku merasakan diriku semakin dekat, kegelapan dan gairah dalam hati kami meleleh bersama dan membentuk sebuah ekstasi mengasyikkan sehingga aku merasa telah menemukan kepinganku yang hilang... Klimaks meledak dan aku otomatis tidak sadarkan diri, melayang di langit penuh kembang api dan menikmati keindahan sejatinya dalam jarak yang begitu dekat.
Beberapa saat berlalu, aku masih terpesona oleh kembang api itu, membuatku tidak ingin berpijak kembali ke bumi. Kurasakan lidahnya menyapu setiap tanda di tubuhku dan aku tersenyum. Rasa ini begitu membahagiakan. Kemudian dia bergerak ke atas, menyatukan dahi kami sementara berbisik. "Aku suka membuatmu bahagia seperti ini."
Mendengarnya, aku terkikik dan dia mencuri banyak ciuman di bibirku.
"Kita harus mandi," katanya lembut. "Dan sementara kita melakukannya, kau harus membantuku dengan ini..."
Dia mengarahkan tanganku untuk meraih kejantanannya yang masih keras dan berdenyut dalam gairah. Aku tersentak, bertanya-tanya apakah aku bisa bertahan dalam putaran lain yang penuh ketertarikan seksual.
.
Aku berada di surga. Setelah akhir pekan menakjubkan itu, rasanya begitu berat untuk kembali ke asrama, namun sayangnya aku tetap harus melakukannya.
Kelas semester baru akan segera dimulai dan sebanyak aku tidak ingin keluar dari dunia mimpi, sebanyak itu pula aku tidak bisa menghindari kehidupan nyata.
Semester baru dimulai namun pekerjaan rumah dan jadwal lab belum terlalu menggila. Itu memberi Sehun dan aku, banyak kesempatan untuk bertemu dan bahkan terkadang pergi keluar untuk kencan es krim. Ice cream shop tua itu adalah salah satu tempat favorit kami karena tidak seorang pun dari Universitas yang pernah berkeliaran di sana. Halmoni yang bekerja di sana mengenalku sekarang dan memberi kami es krim gratis begitu sering.
Aku sempat bicara dengannya satu hari ketika aku tengah menunggu Sehun tiba. Dia seorang yang begitu hangat dan penuh perhatian ketika dia menanyakan bagaimana Sehun sekarang.
"Dia selalu kemari sejak dia masih remaja," katanya, tersenyum. "Dulu dia hanyalah anak kurus dengan gigi yang tidak rata. Luar biasa rasanya melihat dia tumbuh dan menjadi seorang pria tampan seperti itu."
Aku tertawa pada bagaimana Halmoni mendeskripsikan Sehun versi anak-anak. Kemudian aku bertanya-tanya apakah dia sama nakalnya dengan Sehun yang sekarang saat dia masih kecil.
"Anak malang itu mengalami kehidupan yang sulit." Halmoni menggelengkan kepala sementara mendesah, dan senyumku segera memudar.
"Apa maksudmu?" tanyaku penasaran.
"Apa dia tidak pernah memberitahumu?" tanyanya balik dan aku menggeleng.
"Baiklah, kau harus tahu..." Dia bicara dengan sedih. "Ayah Sehun adalah—"
"Hei! Maaf aku terlambat." Sehun masuk dan aku mengerang. Ini pertama kalinya aku tidak begitu senang melihat Sehun. Aku sungguh penasaran dengan apa yang ingin Halmoni katakan. Kenapa dengan ayah Sehun?
"Aku akan meninggalkan kalian berdua." Dia mengedipkan mata pada kami sebelum pergi. Sehun membungkuk padanya kemudian dengan cepat meletakkan tasnya di bangku seberang dan duduk si kursi di sampingku, mencium bibirku yang cemberut.
"Kenapa? Kau tidak senang melihatku?" tanyanya, menunjukkan ekspresi terluka.
Aku terkekeh dan mencium bibirnya. Kurasa aku harus kembali kemari nanti untuk bicara dengan Halmoni...
.
'Temui aku di lapangan basket. Aku memesannya hanya untuk kita hari ini di malam hari.'
Senyum menyebar di wajahku ketika aku membaca pesan Sehun di ponsel baruku.
'Terima kasih. Aku sungguh tidak sabar!' balasku sementara aku bergegas kembali ke kamar dan meletakkan tasku. Aku bisa menemukan celana basket pendek lamaku beserta kaos olahraga yang tersembunyi di suatu tempat di sudut lemari. Setelah memakai sneaker merahku, cepat-cepat aku pergi ke gym.
"Aku sudah sampai." Aku meneleponnya.
"Wow, cepat sekali." Dia terkikik di seberang sana. "Aku akan di sana dalam lima menit. Maaf kau harus menunggu,"
"Tidak masalah. Gunakan waktumu." Aku tersenyum dan menutup sambungan.
Sementara menunggu Sehun aku mulai melakukan peregangan. Lapangan basket Universitas begitu luas. Lantainya dilapisi dengan kayu dan tinggi ring di kedua sisinya lebih dari delapan kaki. Aku belum pernah ke pertandingan Universitas namun aku tahu tim kami adalah salah satu tim terbaik di Negara ini.
"Hei." Sebuah suara berat memanggilku dan aku membeku. Aku menelan ludah dan berbalik ke arah suara. Tidak terkejut ketika menemukan Kris berdiri dengan senyum di wajahnya. Dia memakai seragam basket Universitas dan aku baru ingat dia adalah anggota tim.
"Apa kau sudah selesai mengabaikanku?" tanyanya main-main. Aku menggigit bibir dan mengalihkan pandangan.
"Maaf..." gumamku. "Aku hanya... Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman,"
"Kau harus bersikap dewasa, Luhan." Kris tertawa. "Kita berdua sudah dewasa jadi kita bisa membicarakan ini baik-baik. Tidak harus saling menghindar."
Aku mengangguk dan tersenyum. "Dengar, aku tidak pernah bermaksud melarikan diri seperti itu," kataku memohon maaf. "Aku tidak tahu apa yang Baekhyun katakan padamu, aku yakin dia pasti mengatakan sesuatu yang bisa membelaku. Tapi kenyataannya aku pergi hari itu karena... Aku suka orang lain..."
"Aku senang kau jujur tentang itu." Kris mengangguk.
"Tidak, harusnya aku jujur sejak awal." Aku menyangkal. "Aku sungguh tidak berniat menyakitimu atau membuatmu merasa tidak berharga. Kau begitu menarik dan sangat baik. Hanya saja aku sudah memiliki seseorang dalam hidupku... Seseorang yang menyayangiku..."
"Aku bahagia untukmu." Dia tersenyum.
"Terima kasih sudah begitu pengertian." Dan aku tersenyum lega.
"Kurasa semua hal yang terjadi memiliki alasan, kau tahu..." Kris mengedikkan bahu. "Aku bertemu seseorang setelah kencan kita dan aku sungguh bahagia sekarang!"
"Itu luar biasa!" Aku menepuk tanganku dengan gembira.
"Hehe yeah." Dia tersenyum malu. "Itu belum serius tapi aku sangat menyukainya, jadi kita lihat saja bagaimana nanti. Oh hei, mungkin kita bisa berkencan kapan-kapan! Kita dengan pasangan masing-masing..."
Aku ragu karena itu tidak mungkin namun aku tetap tersenyum pada Kris dan berkata. "Tentu, kita bisa melakukannya kapan-kapan,"
"Bagus." Kris tersenyum dan kemudian mengumpat saat melihat ponselnya. "Sial! Aku harus pergi sekarang juga atau aku akan terlambat,"
"Sampai jumpa nanti kalau begitu," kataku sementara tersenyum. Kris memelukku dengan satu lengannya dan menepuk punggungku. Dia menarik diri dan hendak pergi ketika tiba-tiba...
"Kris, Luhan." Sehun berdiri di ambang pintu, tersenyum cerah... Bahkan terlampau cerah. Bahu lebar dan dada bidangnya kini terbalut hoodie longgar.
"Profesor Oh." Suara Kris goyah, mungkin karena dia ingat pertemuan terakhirnya dengan Sehun.
"Aww maaf, apa aku menginterupsi sesuatu?" Sehun bertanya dengan nada normal.
"Tidak, saya baru saja akan pergi," kata Kris tenang kemudian melambaikan tangan padaku sebelum berlari keluar.
Setelah dia pergi, atmosfer di antara kami tiba-tiba menjadi terlalu tenang. Aku tahu akulah yang harus bicara lebih dulu.
"Sehun aku bisa menjelaskannya..." Aku memulai namun Sehun memotong.
"Hai Babe." Dia tersenyum, meraih pinggangku untuk kemudian menciumku. Itu adalah ciuman normal dan aku terkejut dia tidak berteriak atau menunjukkan keposesifannya.
"Kau tampak begitu menggairahkan dengan celana pendek ini," katanya sementara menarik-narik tali pinggang celanaku. "Membuatku ingin melepasnya dari kakimu."
Aku memerah dan dia mencium seluruh wajah juga leherku.
"Oh Tuhan, aku nyaris tidak ingin bermain basket sekarang," bisiknya, mencium hidungku. "Tapi aku sudah berjanji untuk bermain denganmu, jadi aku akan memastikan untuk melakukannya. Meski begitu, aku ingin menuntut sesi intim nanti setelah kau kepanasan dan berkeringat,"
"O-oke." Suaraku nyaris tak terdengar ketika dia kembali menciumku. Aku senang dia tidak bersikap cemburu kali ini...
.
Segalanya kembali normal antara aku dan Kris. Melihat Sehun tidak bersikap aneh, aku membiarkan diriku berkeliaran di sekitar Kris, namun tidak berarti hanya kami berdua. Aku menemukan bahwa dia berkencan dengan seorang laki-laki manis bernama Tao dari kelasku dan aku berteman dengannya juga. Aku pikir mereka pasangan yang manis dan begitu cocok satu sama lain.
Mengejutkan, Sehun tidak keberatan dan kukira mungkin dia tidak lagi ingin bersikap posesif atau kekanakan. Meski begitu dia menuntut untuk bertemu dengan frekuensi lebih sering sekarang...
'Babe kemari, temui aku di kelas.' Sehun mengirim pesan satu malam.
'Maaf Sehun, aku sudah berada dekat dengan asrama sekarang. Bisakah kita bertemu besok saja?' Aku mengirim pesan balik.
'Tidak, kemari sekarang! :( aku menginginkanmu...' balasnya dan aku terkekeh.
'Aku ingin tahu siapa yang sebenarnya lebih tua di antara kita berdua...'
'-.- kemari atau jika tidak aku akan mendatangi asramamu,'
'Ugh baiklah.' Aku mengerang. Dia seperti bayi...
.
Seperti biasa, Sehun duduk di bangkunya sementara menatap langit-langit ketika aku masuk kelas.
"Apa kau bahkan bekerja?" tanyaku menggerutu dan dia terkekeh.
"Sudah selesai," protesnya. "Dan aku ingin kau menciumku sekarang... Hari ini begitu melelahkan..."
"Aww." Aku menggoda dan berjalan ke arahnya. Duduk mengangkanginya, aku menangkup wajah Sehun di tanganku kemudian menciumnya.
Dia melingkarkan lengannya di pinggangku. Aku tidak sadar ketika dia mengangkatku kemudian menempatkanku di atas meja karena aku terlalu sibuk dengan bibirnya sembari mengacak rambutnya. Dia menjauhkan bibirnya kemudian, menghentikan ciuman kami, dan aku merintih menyedihkan. Namun tak lama setelah itu bibirnya berpindah ke leher dan dadaku yang terbuka, melepas satu kancing kemejaku pada saat bersamaan.
"Setiap bagian tubuhmu hanya begitu menggoda untuk dicium, Luhan..." Dia mengerang, lidahnya meluncur ke bagian bawah tubuhku.
Dia membuatku membuka kakiku lebar-lebar dan membiarkannya menusukkan hidungnya pada tonjolan selangkanganku.
"Aromamu begitu nikmat..." bisiknya.
"Sehun..." rintihku, mencengkeram bahunya kuat.
Pintu kelas terbanting keras tiba-tiba dan aku terkejut. Sehun berhenti sejenak namun tidak menjauh dari selangkanganku. Bagaimana pun aku begitu takut dan nyaris pucat dalam ketakutan.
"S-siapa itu?" tanyaku, gemetar. "Sehun apa kau lihat siapa itu?"
Sehun berdiri, meraih pinggangku untuk membuatku mendekat padanya.
"Aku tidak tahu dan aku juga tidak peduli," bisiknya di bibirku.
Aku mendorongnya menjauh. "Sehun seseorang melihat kita!" cicitku. "Bagaimana bisa kau setenang ini?"
"Tidak masalah untukku." Sehun mengedikkan bahu. "Tapi jika kau mau, kau bisa berlari mengejarnya untuk mencari tahu siapa dia,"
"Aku akan melakukannya," kataku sembari turun dari meja dan mengancingkan kembali kemejaku.
Aku terkejut Sehun bahkan tidak berusaha menghentikanku. Biasanya dia cukup keras kepala untuk tidak membiarkanku pergi sampai dia merasa puas. Ini aneh dan aku akan cari tahu kenapa.
Aku berlari keluar kelas dengan tas di pundakku, jantungku berdegup kencang setiap detik. Seseorang melihat kami bercumbu dan harusnya aku sudah belajar untuk tidak lagi melakukan tindakan gila seperti itu di sekitar area Universitas. Namun sekarang, aku tidak bisa hanya memarahi diriku sendiri. Aku harus menemukan siapa orang itu dan melihat apakah dia akan melapor pada Dekan lagi.
Kepalaku pasti akan lepas jika Ayahku tahu...
Yang mengejutkan dan paling menggangguku adalah bahwa Sehun tidak peduli. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu? Mengapa dia begitu apatis dan tidak peka?
Aku melangkah keluar gedung dan melihat sosok tinggi di kejauhan. Langit hampir gelap dan sulit untuk melihat sesuatu dengan jelas. Namun begitu aku tidak harus melihatnya dengan jelas untuk tahu siapa dia. Nama di jaket tim basket dengan huruf merah besar bisa aku baca bahkan dari jarak jauh...
Kris...
Rupanya Profesor Oh Sehun jauh lebih licik dari yang selama ini kukira...
.
Mohon maaf lahir batin yorobuun^^
Thanks for reading^^
.
520!
