NARUTO BELONG BANG KISHI

JUST WANT YOU

OOC,ABAL,ANEH,GAK NYAMBUNG,GAJE,TYPO .

Sehari setelah ulang tahun Naruto saat pulang sekolah.

"Jadi begitu!"

"Maafkan aku!"

"Tidak kusangka. Jika gosip itu sudah menjadi fakta!" Sakura menunduk dan tersenyum getir. Penantiannya berbuah busuk.

Naruto menatap Sakura sedih. Bukan ini yang dia mau. Naruto menyesal. Dia telah menyakiti seorang gadis yang berusaha mati-matian untuk tidak dia sakiti.

"Seharusnya aku mencari cara lain untuk membuatmu mencintaiku. Seharusnya aku melakukan cara seperti yang dilakukan Hyuuga itu padamu"

"Dia begitu pintar menjeratmu dangan kepolosannya. Bagaimana bisa kau semudah itu terjerat olehnya, padahal begitu banyak gadis yang mencoba menjeratmu tapi kenapa Hyuuga yang selalu kau tindas itu yang berhasil menjeratmu"

"Sakura"

"Seharusnya kau menindasku agar kau bisa mencintaiku. Kenapa kau tidak melakukan itu!" Sakura mengeryitkan dahinya menatap Naruto.

"Kenapa kau membiarkan aku terus berusaha untuk mendapatkanmu saat kau sudah berhenti untuk untuk mencoba mencintaiku" Sakura sudah tidak bisa menahan air mata yang sudah menumpuk dimatanya.

"Aku selalu berusaha Sakura!"

'Dan aku sudah sangat lelah berusaha sekarang.'

"Lalu bagaimana kau bisa mencintai Hyuuga itu saat kau masih berusaha untuk mencintaiku!" Air mata Sakura sudah hampir jatuh jika dia tidak menahannya.

"Aku juga tidak tahu. Tapi Sakura..." Naruto menunduk .

"Jika aku bisa memilih. Tentu aku akan memilih mencintaimu!" bisik Naruto yang masih bisa didengar oleh Sakura. Kenapa dia bicara seperti itu. Bagaimana jika Hinata mendengarnya. Tunggu..

Sakura tersenyum. Air matanya sudah berhenti. Dia masih memiliki kesempatan. Kesempatanya belum berakhir. Akan ada masa kritis yang bisa dia manfaatkan.

"Berhentilah menyakiti dirimu, Sakura!" Naruto menatap Sakura dengan memasang wajah sedihnya.

"Hubungan yang diawali dengan pertengkaran pasti akan berakhir dengan pertengkaran juga" sekarang giliran Naruto mengeryitkan dahinya tapi karena tidak paham dengan perkataan Sakura barusan. Siapa yang bertengkar?.

Sakura pergi begitu saja meninggalkan Naruto yang masih diam memikirkan perkataan Sakura barusan. Dia bingung dengan perkataan Sakura.

.

.

.

Naruto dan Hinata berjalan beriringan menuju parkiran mobil sekolah. Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Naruto bukan hanya fisik tapi juga mentalnya. Hari ini Pelajaran fisika dan matematika dimana kedua pelajaran itu benar-benar menguras otak, bukan hanya Naruto tapi sebagian besar murid disana dan setelah pulang sekolah Naruto harus mengikuti latihan disalah satu klub yang dia ikuti yaitu klub basket.

"Apa hari ini akan turun salju" tanya Hinata memecah keheningan.

"Ramalan cuaca mengatakan seperti itu". Kata Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya pada handphone yang berada ditangannya.

"Kenapa? Apa kau akan sakit jika salju turun!" ucap Naruto sedikit mengejek.

"Memangnya tubuhku selemah itu" kata Hinata kesal. Memangnya dia selemah itu apa.

"Bukankah tubuhmu memang lemah. Sangat lemah malahan."

"..."

"Naruto!" panggilan seseorang pada Naruto membuat langkah mereka berdua terhenti dan menoleh keasal suara.

"Sakura!" Naruto harus menahan untuk tidak menghela napasnya saat ini.

"Aku tidak membawa mobil dan tidak ada yang menjemputku. Bolehkah aku menumpang padamu?"

Naruto benar-benar lelah hari ini. Dia sudah berencana mengantar Hinata pulang dan menumpanh istirahat disana. Ibu Hinata pasti akan memanjakannya dengan menyajikan banyak makanan enak untuk dirinya. Tidak seperti Ibunya yang malah mengomelinya jika dia lelah. Lagipula Memaksa mengemudi disaat tubuh tidak dalam keadaan kurang prima itu tidak baik bukan. Apalagi mengingat rumah Hinata dan Sakura berlawanan arah dan jaraknya yang sangat jauh.

Hinata yang melihat ekpresi Naruto langsung mengerti apa yang ada dipikiran pria licik itu.

"Antar saja Haruno-san pulang. Aku bisa pulang sendiri!" Hinata tersenyum menatap Sakura.

"Apa!" Naruto langsung menoleh kearah Hinata.

"Kau pasti lelah setelah berlatih basket seharian. Antar Haruno-san pulang. Aku tidak apa-apa. lagi pula aku lupa jika aku harus mengembalikan buku diperpustakaan hari ini dan ada buku yang ingin aku cari juga."

"Hah~ jika aku menolak pasti kau akan menggunakan jari sialanmu itu untuk menipuku" Naruto mengantongi handphonenya.

"Baiklah! Ayo kita pulang Sakura!" Sakura menghampiri Naruto dan berdiri disamping Naruto.

"Dan kau Hati-hati dijalan!" Naruto berbalik dan meninggalkan Hinata.

Hinata terus menatap kedua orang itu yang berjalan menjauh. Bahkan saat Sakura merangkul mesra lengan Naruto dan Naruto hanya diam saja, Hinata juga masih melihat mereka.

Hinata tersenyum. Hinata tau jika Sakura menyukai Naruto, maksudnya dia tau jika semua siswi diKHS menyukai Naruto. Hinata akan memberikan mereka kesempatan untuk mendekati Naruto. Jika salah satu dari mereka beruntung berhasil menjerat hati Naruto. Maka dia akan bebas. Dia tidak perlu terus dihantui oleh rasa bersalahnya. Dan dia tidak perlu membohongi orang tua Naruto lagi.

Hinata melihat pergerakan kepala Sakura yang akan melihatnya. Untuk saat ini dia harus berakting cemburu saat Naruto didekati wanita lain meskipun itu teman dekat Naruto. Itu perintah Naruto untuk melancarkan kebohongannya.

Untuk membuat mereka berdua bertengkar Sakura harus membuat salah satu dari mereka marah karena cemburu atau marah karena hal lain yang membuat hubungan mereka retak dan berakhir saat itu juga. Sakura kena tipu.

Sakura menoleh kebelakang dia tau jika Hinata belum beranjak dari tempatnya. Dia menyeringai saat melihat Hinata mengeryitkan dahinya sedih. Itu yang terlihat dimata Sakura.

Hinata harus menahan mati-matian senyumnya saat Sakura menyeringai padanya. Kenapa mereka bisa mudah sekali ditipu oleh tipuan murahannya Naruto. Hinata menghela napas. Tapi jika dipikir lagi dia seperti orang jahat yang sedang mencari seseorang untuk dijadikan tumbal untuk diserahkan kepada siluman rubah . Dia jahat.

.

Seperti yang diramalkan oleh ramalan cuaca hari ini salju turun tapi diluar dugaan salju turun begitu lebat yang membuat kendaraan umum jadwalnya dibatalkan saat itu juga saat salju mulai turun karena sudah ada himbauan terlebih dulu dari pusat saat ramalan cuaca hari ini dikeluarkan.

"Salju turun begitu lebat! Syukurlah kalian sudah sampai disini saat salju mulai turun!" kata Ibu Sakura sambil menyiapkan makan malam untuk keluarganya ditambah teman anaknya.

"Sudah lama sekali kau tidak mampir kemari, Naruto!" Naruto hanya tersenyum menanggapi perkataan Ibu Sakura.

Sakura menawarkan Naruto untuk mampir kerumahnya terlebih dulu tadi dan Naruto tidak memiliki alasan untuk menolak tawaran itu apalagi mengingat salju yang tiba-tiba turun begitu lebat. Jika dia nekat menyetir itu bisa membahayakan nyawanya.

Meskipun dia mengharapkan dimanja oleh orang lain tapi entah kenapa saat dia dijamu dan dimanjakan oleh Ibu Sakura dia malah terasa risih dan juga canggung. Mungkin karena dia telah menyakiti putrinya jadi Naruto tidak bisa menikmati pelayanan yang diberikan oleh keluarga Sakura untuknya.

Drrrtt...Drrrtt...Drrrtt

Handphone disaku celana Naruto bergetar. Ada panggilan masuk dihandphone itu. Naruto melihat siapa yang menelponnya.

"Ibu" gumam Naruto. Ibunya pasti mencarinya. Tapi Tidak biasanya.

Naruto meminta ijin mengangkat telponnya pada pemilik rumah dan dibalas dengan anggukan kepala keluarga.

"Hallo, Ibu!"

'Eh! Nak Naruto!' Naruto mengeryit bingung. Sejak kapan Ibunya memanggilnya 'Nak'.

Naruto melihat kembali handphonenya dan membelalakkan matanya. Ini bukan handphonenya, ini handphone Hinata. Handphonenya berada didalam tasnya.

Naruto mendekatkan kembali handhone itu ditelinganya.

"Ya!"

'Hah~ syukurlah kalau Hinata bersamamu, aku begitu khawatir karena sampai saat ini Hinata belum pulang. Tapi sekarang Bibi tau jika dia bersamamu saat ini, Bibi merasa lega sakarang. Apa Hinata sedang berada ditoilet dan menitikan handphonenya padamu!'

'Jangan memaksa untuk berkendara. Kalian pulanglah saat salju sudah mulai reda. Bibi tutup dulu telponnya'

Naruto langsung berdiri dari duduknya dan mengambil tas dan juga jaketnya yang berada tidak jauh darinya. Dia harus mencari Hinata saat ini juga.

"Aku harus pergi! Maaf tidak bisa menikmati makanan yang sudah kalian siapkan untukku" Naruto bergegas untuk keluar dari rumah Sakura.

"He?" jawab serentah keluarga Haruno.

Sakura yang melihat Naruto pergi langsung mengejar Naruto.

"Apa ada yang terjadi pada Ibumu?" Tanya Sakura penasaran. Dia tidak tau apa yang dikatakan oleh orang yang Sakura ketahui adalah Ibu Naruto pada Naruto tadi.

Naruto hanya diam sambil memasang wajah cemasnya. Naruto mulai mengenakan jaketnya saat dia sudah berada diluar rumah Sakura.

"Salju masih turun Naruto. Berbahaya jika kau berkendara saat cuaca buruk seperti ini!" mereka berdua sudah didepan mobil Naruto yang terparkir dihalaman rumah itu.

"Aku harus segera pergi Sakura!" Naruto merogoh saku jaketnya mencari kunci mobilnya.

"Apa terjadi hal buruk pada Ibumu?"

"Aku Harus pergi!" Naruto mulai memasuki mobilnya.

"Kau membatalkan makan malam dengan keluargaku. Kau harus membayarnya!" Kata Sakura sambil menahan pintu mobil Naruto yang akan Naruto tutup.

"Katakan!" ucap Naruto menahan geramannya.

"Berkencanlah denganku minggu ini!"

"Baikalah!" Sakura melepaskan penggangannya pada pintu mobil Naruto.

"Hati-hati dijalan."

Naruto langsung melajukan mobilnya bergegas mencari Hinata.

.

Hinata sudah merogohi semua sakunya dan dia juga sudah mengeluarkan isi tasnya untuk mencari handphone. Sampai dia ingat jika handphone yang dikantongi Naruto tadi adalah handphonenya.

Kebetulan entah dari mana handphone Naruto dan Hinata memiliki merek, tipe, warna dan keluaran yang sama bahkan tanggal, bulan dan tahun mereka membelinya juga sama kecuali diler dan tema handphonenya. Jika punya Naruto bertema musin salju sedangkan milik Hinata bertema musim gugur. Naruto menyukai salju dan Hinata menyukai daun memoji.

Kesamaan tipe itulah yang membuat Naruto tidak sadar telah mengantongi handphone milik Hinata. Naruto meminjam handphone Hinata untuk menyetting handphone Hinata agar penyettingan handphone Hinata sama dengan handphonenya. Entah untuk alasan apa.

"Aku juga lupa jika yang dia kantongi adalah Handphoneku" gumam Hinata sambil menghela napasnya. Dia sekarang sedang duduk terjebak salju dihalte bus dengan kepalanya yang sedikit dia masukkan kedalam syalnya sambil bersidekap menyilangkan tangannya dan merapatkannya pada tubuhnya untuk mencari kehangatan disana.

Salju turun saat Hinata berada kurang lebih lima langkah dari halte yang membuatnya mau tidak mau harus berteduh disana. Tidak ada tempat penjual makanan yang bisa dia masuki disana disekitar halte itu. Hanya ada mesin minuman disana. dan dia juga harus berteduh dihalte itu sendirian.

Sampai kapan dia harus berteduh disini. Dia butuh kehangatan lain. Kenapa saljunya tidak mau berhenti. Busnya kenapa tidak mau datang. Apa dia harus berjalan pulang dengan salju yang terus turun ini. Rumahnya cukup jauh dari sini.

"Apa kau bodoh"

Hinata sedikit tersentak saat tiba-tiba ada seseorang berdiri didepannya dan berbicara tidak sopan padanya. Hinata mendongak untuk melihat siapa orang itu. Mata Hinata membola saat tau siapa yang berada didepannya saat ini.

Naruto menutup pintu mobilnya dan menyerahkan minuman hangat pada Hinata yang duduk dikursi samping pengemudi. Dia membawa Hinata kecaffe untuk membelikan minuman hangat kepadanya. Mengendarai mobilnya menuju caffe itu lebih hati-hati karena emosinya yang telah menghilang.

"Terima kasih" Hinata langsung menegak cappuchino hangat itu.

"Hah~ hangat sekali. Tenggorokanku sekarang terasa hangat. Aku merasa lebih hidup sekarang" gumam Hinata sambil menyentuh tenggorokannya dan meletakkan minuman pemberian Naruto didasbor mobilnya.

Naruto yang melihatnya hanya mendengus mengejek. Tapi dia merasa lega karena Hinata baik-baik saja.

"Kau tadi mengatakan aku bodoh, bukan!. Tapi sepertinya yang bodoh disini adalah kau, Naruto-kun" Hinata menatap Naruto dengan tatapan mengejeknya.

"Dasar Bodoh! Mengemudi dicuaca buruk seperti ini itu berbahaya. Apa kau tidak tau! Ha!" maki Hinata tiba-tiba dengan ekpresinya yang berubah serius. Dia tidak suka ada seseorang yang membahayakan dirinya hanya untuk menolongnya. Dia akan sedih karena itu.

"Hah! Apa ini caramu berterima kasih padaku! Ha!" ucap Naruto tidak terima. Kenapa gadis didepannya itu begitu bodoh. Naruto tau jika dialah yang memberikan julukan penguin, hewan Penghuni es pada Hinata. Tapi Hinata adalah spesies penguin bertubuh kecil dimana saat sendirian dicuaca sedingin ini dengan waktu yang lama dia juga bisa mati karena kedinginan. Apa Hinata tidak mengerti. apa pikirannya hanya bisa dia gunakan untuk mencari cara bagaimana caranya untuk mendapatkan ikan yang banyak.

"Hah! Apa! Baiklah!, maafkan aku dan terima kasih sudah membahayakan dirimu untuk menjemputku! Kau puas!" Hinata langsung memalingkan wajahnya kedepan.

Kali ini Naruto tersenyum puas mendengar perkataan Hinata. Membuat Hinata mengalah itu menyenangkan. Naruto tidak boleh kalah dari penguin yang berada disampingnya ini.

Hinata tiba-tiba tersenyum misterius. Pikiran yang tiba-tiba melintas diotaknya harus dia beritahukan pada Naruto. Hinata mendekat mencondongkan tubuhnya pada Naruto yang sedang menghadap kedepan.

Naruto yang merasakan kepala Hinata mendekat membuatnya menoleh kearah Hinata dan melihat senyum aneh Hinata mengarah padanya. Apa gadis ini hipotermia sampai-sampai kehilangan fungsi kinerja otaknya. Atau cuaca seperti ini membuat penguin betina bertingkah lebih agresif. Jika seperti ini Naruto berjanji tidak akan membuat Hinata berlama-lama diluar saat cuaca sedingin ini lagi.

"Bolehkah aku tertawa sekarang!" Naruto mengeryit Takut dan sedikit menjauhkan tubuhnya pada Hinata. Gadis ini kedinginan sampai membuatnya gila. Apa ini musim kawin?.

"Apa maksudmu?"

"Rubah yang mencintai penguin!" Hinata mengedip-ngedipkan matanya dan tersenyum menggoda Naruto.

Naruto mengeryitkat dahinya dan mengarahkan bola matanya kekanan atas. Tidak tau apa maksud perkataan Hinata.

'Aku akan mengatakan 'Sang Pangeran mencintai sang Udik ini! Rubah yang mencintai penguin. Merusak ekosistem' setelah itu aku akan tertawa sangat keras tepat didepan wajahmu'

"Ini baru berjalan berapa bulan, hm! Tapi kau sudah jatuh cinta padaku. Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku. Ah! Maaf sudah marah padamu tadi. Aku tidak mengerti maksudmu tadi. Kau pasti begitu mengkhawatirkanku sampai kau lupa dengan keselamatan nyawamu sendiri. Kau begitu mencintaiku sampai kau lebih memilih untuk berada dalam bahaya untuk bisa menyelamatkanku. Kau manis sekali!"

Naruto menjauhkan kepala Hinata dengan menggunaan jari telunjuknya.

"Selain suka membalikan kata-kata seseorang ternyata kau memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi rupanya!"

"Aku menjemputmu karena Ibumu menelponku dan untuk mengembalikan handphonemu yang terbawa tadi"

"Kau tidak perlu mengelak! Semua sudah terlalu jelas"

"Sepertinya efek berada diluar cukup lama saat cuaca sedingin ini membuat otakmu sedikit bermasalah. Dasar gila!"

"Bukankah cinta itu memang gila"

"Terserah apa maumu. Aku tidak peduli" Naruto memalingkan wajahnya menghadap kedepan lagi.

"Kau tidak perlu malu-malu seperti itu. Aku tidak akan tertawa sekeras yang aku katakan dulu! Aku menghargai cintamu!" Hinata mendekatkan kembali dirinya pada Naruto.

"Aku akan memperkosamu disini jika kau terus mengoceh seperti itu!"

Hinata langsung memucat saat mendengar perkataan Naruto dan langsung menjauhkan tubuhnya bahkan sampai punggungnya membentur pintu mobil Naruto.

"Kau tau! Jika aku jatuh cinta pada seseorang, aku akan menidurinya dengan brutal"

Naruto menoleh kearah Hinata dan menampilkan seringainya. Jika ini memang musim kawin. Naruto siap untuk menjadi pejantannya.

Hinata yang dilihat seperti itu langsung menahan napasnya. Dia mencoba membuka pintu mobil yang terkunci itu tanpa membalikkan tubuhnya pada Naruto.

"K-kau"

"Hm" dimata Hinata Naruto sedang tersenyum mengerikan padanya.

"Kau tidak jatuh cinta padaku. Kau tidak jatuh cinta padaku. Kau tidak jatuh cinta padaku. Kau tidak jatuh cinta padaku. Kau tidak jatuh cinta padaku..." Hinata terus mengulangi kata-kata itu sambil mengelengkan kepalanya dan menatap takut kearah Naruto.

Naruto yang melihat tingkah Hinata harus menahan tawa kemenangannya.

Melihat Penguin yang meringkuk ketakutan memang sangat menyenangkan.

TBC