Why!
…
…
…
Itachi menarik nafas melihat prajurit yang menyertainya. Ia bersyukur, kalau prajurit-prajurit pilihan itu hanya mendapat luka. Itachi malah menatap satu persatu mayat pengacau yang sudah berkelimpangan.
Dari pengalaman bertarung, Itachi merasa kalau pengacau itu juga sangat kuat. Dan ia malah teringat kekacauan perang tebuka dengan Itachi 20 tahun yang lalu. Itachi akhirnya mengetahui kalau para pengacau itu adalah prajurit super instan buatan atau hasil dari serum buatan Orochimaru. Makin yakinlah Itachi kalau Akatsuki memang ada, dan mereka mulai bersiap-siap beraksi kembali. Itachi yakin kalau penyerangan ke distrik Uchiha ini adalah langhkah awal.
Sementara itu Sasuke menatap sekeliling. Pertarungan langsung dengan para pengacau, menyisakan kehancuran, meski tidak di katakan parah. Kesibukan makin terlihat, para prajurit Uchiha maupun Anbu dan Anbu Ne yang tadi sempat datang membantu, juga turut memberskan sisa-sisa kekacauan. Sementara itu para pengacau juga lebih banyak yang telah tewas, hanya sedikit di antaranya yang masih bernafas.
"Anata" suara lembut menguar di telinga Sasuke. Akari dan Sarada yang berada tidak jauh dari Sasuke juga menoleh ke sumber suara yang barusan memanggil.
Sasuke memutar tubuh dan menghadap pada Sakura.
Sebelumnya Itachi ingin membicarakan dengan Sasuke buah pikirannya, namun ia membatalkan.
"Uhmm… aku akan mengurus yang lain" Itachi yang mengerti keadaan, ia segera menjauh. Sebelumnya ia juga memerintahkan pada Anbu maupun pasukan Uchiha agar membereskan kekacauan yang di buat oleh kelompok penyerang.
Itachi yang menyingkir, bersama dengan seluruh pasukan konoha, kini yang tersisa hanyalah ke empat anggota keluarga itu. Dengan sendirinya, suasana menjadi hening tanpa suara.
Sasuke dan Sakura saling menatap. Keduanya saling menatap dengan tatapan yang menggambarkan saling merindukan. Sakura ingin sekali berlari dan memeluk suaminya yang begitu di rindukan tapi entah kenapa, kakinya malah seperti kaku.
Sasuke, seperti tidak sanggup lagi menatap tatapan teduh dari Sakura. Ia memejamkan mata perlahan lalu menoleh kearah lain. Berikut, tubuhnya pun memutar dan membelakangi Sakura.
"Aku harus pergi", ujar Sasuke perlahan dan datar.
Akari melihat jelas raut kekecewaan dan kesedihan di wajah ibunya.
"Hn" Sakura mengangguk perlahan. Jawaban Sakura malah membuat mata Akari dan Sarada membulat.
Dada Sasuke terlihat mengembang, matanya di pejamkan perlahan. Ia benar-benar merasa berat untuk melangkah.
Meski begitu kaki-kakinya pun mulai mengayun secara bergantian dan menjauh dari Sakura. Keadaan yang sekarang, persis saat pertama kali ia meninggalkan Sakura tujuh tahun yang lalu.
Akari dan Sarada menatap punggung Sasuke yang sudah melangkah menjauh., sebenarnya apa yang di perbuat papa mereka. Kenapa seperti lupa kalau ia masih memiliki tanggung jawab. Bagi Sarada dan Akari, mereka tidak di jadikan prioritas bukan masalah, tapi mama mereka, dia masih membutuhkan kehadiran Sasuke.
Akari yang lebih agresif, meraih asal benda. Dengan kekuatan penuh ia melempar pada Sasuke. Suara benda meluncur dari arah belakang tentu saja dengan mudah di atasi oleh Sasuke.
Ia hanya mengangkat tangan dengan sedikit memutar tubuh
Tap!
Ia berhasil menangkap benda yang di lempar Akari. Akari makin kesal. Sasuke hanya membuang benda itu begitu saja. Reaksi Sasuke terhadap benda yang di lempar Akari layaknya sampah yang di terbangkan angin.
"Kau benar-benar keterlaluan, Ayah" teriak Akari. Perubahan panggilan Akari, membuat mata Sakura membulat.
Sakura menelan ludahnya yang sudah seperti terasa pahit. Sedemikian bencikah anak-anaknya pada Sasuke. Bahkan panggilan 'Papa-mama' yang Sasuke maupun Sakura tanamkan sebagai simbol kasih sayang, kini di ubah menjadi panggilan 'Ayah', yang di anggap sebagai panggilan kehormatan. Dan baik Sasuke maupun Sakura tidak menyukai panggilan 'Ayah-Ibu', karena bagi mereka, Sasuke dan Sakura, tidak butuh rasa hormat, tapi rasa sayang. Namun kini, berubah panggilan.
"Kau bukan anak kecil Akari, berlakulah sopan pada Papamu" Sakura mengingatkan agar tetap pada panggilan kasih sayang itu.
"Karena dia meninggalkan kita" balas Akari makin meninggi, "Justeru karena aku sudah dewasa, mungkin dia sudah…"
"Hentikan anggapan burukmu tentang Papamu, kau tidak tahu apa-apa!" Sakura memotong ucapan Akari, dan untuk kali pertama Sakura meninggikan suaranya di depan anak-anaknya. Sakura juga sudah merasa lelah karena selalu menjelaskan tentang hubungan nya dengan Sasuke.
"Memang benar, aku tidak tahu apa-apa, karena yang ku tahu, mama adalah orang bodoh yang masih mencintai orang yang mengabaikan Mama" balas Akari, remaja 17 tahun ini nampak sekali dengan raut emosi yang lama dia pendam.
"Jaga ucapanmu bodoh" suara Sakura terdengar menahan tangisannya. Namun di abaikan atau mungkin tidak terasa oleh dua anaknya yang tengah di landa emosi.
"Apa lagi yang mama harap dari pria seperti dia" mata Sakura membesar menatap Sarada yang bersuara. Sarada yang selalu terlihat sabar, juga sudah mulai kehilangan kesabarannya. Kalau tidak dalam emosi, mungkin Sarada dan Akari bisa membaca raut kesedihan di wajah Sakura.
"Kalian adalah Uchiha, behentilah menjadi orang bodoh!" jelas sekali kalau Sakura menahan tangisan di balik bentakannya. Tapi, Akari dan Sarada seperti tidak menangkap hal itu, emosi mereka telah menutup kepekaan mereka.
"Kami memang orang bodoh! Karena memiliki ayah bodoh dan ibu yang sama bodohnya!" balas Sarada, juga dengan nada meninggi.
Tanpa menunggu tambahan dari Sakura, Akari segera berlari kencang di susul Sarada, mengejar Sasuke.
Sakura yang juga sudah mulai di rundung rasa sedih, tidak sempat lagi mencegah tindakan kedua putera-puterinya.
Akari dan Sarada berhasil menyusul Sasuke.
"Ayah!..." teriakan Akari menghentikan langkah Sasuke. "Sebenarnya ada berapa lagi adik-adiku di luar sana"
Kini anggapan kedua bersaudara itu, kalau Sasuke tega meninggalkan mereka karena Sasuke menikah lagi.
Sasuke tidak menyahut.
Sakura menatap dari kejauhan, ia yakin kalau Akari dan Sarada pasti sedang memaki Sasuke. Melihat itu, batin Sakura kembali seperti teriris, melihat keluarganya bertengkar, sebenarnya adalah sebuah mimpi buruk baginya ataupun Sasuke
'Katakanlah yang sebenarnya, Anata' teriak Sakura dalam batin. Ia makin tidak tahan melihat Sasuke harus menerima kebencian dari anak-anaknya
Sakura pun masih bisa melihat Sasuke melangkah menjauhi kedua anak mereka.
"Kau adalah pria paling brengsek!" Sasuke dan kedua anaknya saling menatap. Tatapan tajam penuh kebencian dari Akari dan Sarada juga sudah di dapat oleh Sasuke.
Sakura menggigit bibir mendengarkan makian dari kedua anaknya yang di tujukan pada suaminya. Sampai kapan ia akan menyaksikan mimpi buruk ini?
Sasuke melanjutkan melangkah mengabaikan kemarahan kedua putera-puterinya. Langkahnya tetap kelihatan tegap, namun sebenarnya Sasuke hanya berusaha tegar karena perasaannya tersa perih. Ia tahu kedua anaknya itu sedang di rundung kesedihan dan kekecewaan. Orang tua mana yang tidak sakit, melihat kekecewaan anak-anaknya.
Ingin rasanya Sasuke memutar tubuh dan memeluk semua keluarganya yang begitu ia rindukan. Ingin sekali rasanya Sasuke menyampaikan alasan kepergiannya agar kedua ankanya itu menjadi tenang. Tapi tekad awalnya lebih menguatkan hatinya untuk menanggung kekecewaan bahkan kebencian anak-anaknya.
Sarada dan Akari malah diam mematung menatap kepergian sang papa, hingga tidak tampak di kejauhan. Emosi dan amarah yang memuncak malah membuat tubuh keduanya malah makin menegang.
Sakura hanya bisa menangisi mimpi buruk yang terjadi di depannya. Pertengkaran anak dan suaminya.
Yang terdengar dari Sarada dan Akari, kini hanyalah deru nafas yang memburu karena emosi yang tidak tersalur.
Keduanya mulai memutara tubuh, bahkan melewati Sakura begitu saja. Sakura yang memanggilpun sudah tidak di gubris lagi.
SSS
Sakura menoleh begitu ia mendengar adanya suara langkah dari belakang.
"Kak Itachi" Sakura jelas tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Malam-malam begini, kakak iparnya itu datang berkunjung.
"Selamat malam adik manis" sapa Itachi dengan senyumnya.
"Kak Itachi, apakah…"
"Hanya sekedar berkunjung" jawab Itachi memotong pertanyaan Sakura.
Sakura kali ini lebih diam, kejadian pertengkaran antara suami dan kedua anaknya, benar-benar membuatnya sedih hati.
"Konan tidak ada di rumah. Dia mengunjungi sanak saudaranya. Dan Kyo, malah mengantar ibunya. Makanya aku kesini untuk mengajakmu ngobrol"
Sakura hanya mengangguk. Itachi yang sudah tahu kejadian pertengakaran antar Sasuke dan kedua anaknya.
Itachi meneruskan langkah di ikuti Sakura menuju balkon.
"Tadi aku sudah menghubungi Akari, tapi ia sama sekali mengabaikan panggilanku" Itachi kembali mengawali percakapan ketika mereka berdua sudah berdiri di balkon rumah Sasuke.
Sakura masih diam.
Itachi malah mengacak-acak surai Sakura sambil tersenyum.
"Dia benar-benar mirip papanya ya" Itachi kembali bersuara.
"Akari?" Sakura baru mulai menanggapi ucapan Itachi, karena Sakura yakin kalau kakak iparnya itu datang karena hendak membicarakan masalah kedua anaknya dan Sasuke.
"Lebih tepatnya Sarada dan Akari"
Terdengarlah hembusan nafas Sakura di pendengaran Itachi.
"persamaan mereka adalah sikap mereka yang berubah gara-gara kehilangan sosok yang mereka kagumi dan di jadikan panutan. Kalau kau ingin melihat masa kecil Sasuke seperti apa, maka ingat sajalah masa kecil Akari" angan Sakura melayang ke beberapa tahun silam saat Akari belum di bina di Akademi. Yah, Sakura memang masih mengingat sosok Akari kecil yang begitu usil. Disaat yang sama, ia malah membayangkan Sasuke kecil seperti apa.
"Dulu, Sasuke yang manja, menjadi dingin setelah kami terpisah, ia kehilangan sosok yang akan ia jadikan panutan. Sama seperti Akari, ia begitu mengagumi papanya, bahkan ia berusaha keras karena ingin seperti papanya. Ia ingin menunjukan pada papanya kalau ia akan menjadi bisa di andalkan. Tapi sayangnya papanya pergi. Dan ia merasakehilangan semuanya, dan menjadi seperti memberontak"
Sakura segera mengambil tempat duduk.
Sakura diam. Apa yang di katakan Itachi memang semuanya benar. Sehari sebelum Akari di karantina di Akademi, Akari dengan polosnya, sempat bererita kalau ia ingin sekuat papanya, sehingga ia bisa melindungi semuanya. Namun Sakura tertawa menanggapi ucapan polos itu.
Tanpa sepengetahuan Sakura dan Itachi dua pasang mata dari remaja beda gender tengah mengawasi mereka, pemilik mata itu adalah Sarada dan Akari.
"Akan lebih menyenangkan jika saja paman Itachi yang menjadi papa kita. Ia akan selalu ada untuk mama. Bahkan seperti apapun beratnya misi yang ia jalankan, paman akan selalu berusaha cepat-cepat pulang" Akari mengangguk menyetujui ucapan kakaknya.
Itachi masih setia menatap Sakura yang tengah terdiam dan menundukan kepala.
"Bukan seperti ini yang kuinginkan, Kak…" Bahu Sakura malah kembali bergetar.
Perasaannya sudah tertekan oleh perasaan yang berkecamuk. Sasuke, suaminya muncul hanya sebentar dan sedikit berbicara. Maka dari itu, kerinduan Sakura yang mengendap malah mencuat ke permukaan.
Selain itu kebencian anak-anaknya makin menambah beban perasan Sakura.
Sakura adalah wanita yang perasa. Tentu saja sekarang ia sangat merasa rindu pada suaminya di campur dengan rasa sedihnya karena kebencian anak-anak pada suaminya.
Jari jemarinya di remas-remas secara bersilangan.
Itachi menatap sendu pada adik iparnya yang tengah berusaha menahan tangisannya. Tangannya pun bergerak perlahan memegang bahu Sakura yang terasa begitu lemah.
"Mudah-mudahan semuanya akan cepat selesai" ujar Itachi.
Perlahan tubuh Sakura rebah dan kini bersandar di bahu Itachi. Tubuhnya makin tergetar.
Kini yang terdengar adalah tangisan Sakura, meski perlahan, namun tubuhnya terasa semakin tergetar. Itachi membelai pucuk kepala Sakura dengan perlahan dan penuh rasa sayang.
"Sakura" kembali perlahan Itachi menyebut Sakura.
"Hiks..hiks.. aku benar-benar sudah tidak tahan kak"
"Aku tahu Sakura, sabarlah. Kau pasti sangat merindukan Sasuke" ujar Itachi masih belum merubah posisi mereka.
Yah, tujuh tahun adalah waktu yang sangat lama bagi Sakura untuk menahan perasaan rindunya pada suaminya. Seakan ada banyak waktu yang terlewati dengan rasa hampa.
Bukan hanya rasa rindunya yang membuat Sakura menitis air mata sekarang, ia juga mengingat dan membayangkan kebencian anak-anaknya pada suaminya. Makin sedihlah Sakura
Akari mengepalkan tangannya erat-erat. Raut wajahnya mengeras sambil menatap Sakura yang terlihat menangis dan Itachi yang tengah menghibur Sakura.
"Ini semua gara-gara dia" amarah Akari bangkit. Ia berpikir kalau mamanya itu menangis karena papanya datang sesaat, itupun terlihat seperti mengabaikan sang mama.
"Kenapa mama tidak meminta cerai saja pada 'Pria' itu" Sarada ikut menggeram.
Yang sedikit berbeda dengan Akari, Sarada sebagai sorang gadis, malah menatap mamanya sendu. Hatinya sedih melihat Sakura yang menangis. Melimpahkan kesalahan sang papa saja rasanya tidak cukup dan tidak akan berpengaruh.
Melihat sang mama yang sedih dan menangis, justeru mengundang air mata Sarada untuk tumpah. Ucapan mamanya yang sempat mengatakan sudah tidak tahan, makin meremukkan perasaan Sarada. Ia segera memutar tubuh, mengabaikan Akari yang terlambat menahan langkahnya.
Akari menatap Sakura yang masih di rangkul oleh itachi, lalu ia menatap ke arah kepergian Sarada.
Ingin rasanya Akari menghibur kakak dan ibunya itu. Ia menatap pada Sakura, ia sedikit bisa mengandalkan sang paman untuk menghibur mamanya, maka di pilihnya untuk menyusul dan menghibur Sarada. Ia pun menyusul Sarada.
"Sarada-nee" panggil Akari sambil mengetuk pintu kamar Sarada.
Namun tidak ada jawaban sama sekali darri Sarada. Berkali-kali Akari mengulang panggilannya, namun sama sekali tidak ada jawaban.
"Sarada nee-chan. Aku di kamar menunggumu" ucapan lembut Akari.
Dalam kamar, Sarad sebenarnya sangat menyesal telah mengabaikan sang adik yang begitu ia sayangi. Namun rasa sedihnyalah yang membuat ia mengabaikan sang adik.
"Maafkan nee-chan, Akari" ujar Sarada perlahan seperti bergumam. Suranya serak karena memang dari awal ia sudah menangis.
Akari segera mengunci kamar dan menghempas tubuhnya di atas ranjang. Akari menutupi matanya dengan salah satu punggung tangannya. Pikirannya yang sudah berkecamuk sudah melayang kemana-mana.
Usai berbincang dengan dengan Sakura, Itachi pun pamit undur diri. Tujuan Itachi sebenarnya, datang karena ia sudah tahu pertengkaran antara Sasuke dengan kedua keponakannya. Dan Itachipun tahu, kalau Sakura pasti akan merasa sedih karena kejadian tersebut. Maka itulah alasan utama Itachi datang dan mengunjungi kediaman adiknya.
Sepeninggal Itachi, Sakura pun berniat menemui kedua anaknya.
Sakura mula-mula mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Akari, namun tidak ada jawaban. Sakura tahu pemilik kamar berada di dalamnya. Sejak kekacauan oleh sekelompok orang tak di kenal di Konoha, dan menyebabkan pertemuan dengan Sasuke, kedua anaknya mulai menutup diri.
"Akari sayang. Paman Itachi bilang, dia menelponmu berkali-kali. Kenapa tidak di jawab sayang" suara lembut menyentuh itu masih mengalun.
Akari bukanya tidak mendengar suara mamanya, hanya saja ia berpura-pura tuli. Rasa sakit dan kecewa akibat reaksi Sakura yang justeru solah-olah selalu melindungi bahkan mendukung perbuatan papanya. Reaksi itu seakan keduanya sama sekali tidak saling merindukan. Memikirkan itu, Akari perlahan memejamkan mata, setitik cairan bening mengenang dan tumpah melewati sudut matanya.
Sakura bukannya tidak merasakan apa yang di rasakan anaknya. Ia menundukan kepala sambil menggigit bibir. Lagi-lagi rasa perih itu menyayat perasaannya.
Perlahan Sakura meninggalkan pintu kamar Akari, karena dari tadi si pemilik kamar sama sekali tidak menyahut.
Sakura kembali menahan perasaannya menuju kamar sang puteri sulung.
"Sarada sayang, tadi paman Hokage ingin menemuimu, mungkin ada yang ingin di bicarakan denganmu" suara kkhas milik Sakura yang lembut juga di dengar oleh Sarada. Tak jauh beda dengan sang adik. Sarada tidak langsung memberi tanggapan.
"Sayang" ulang Sakura.
"Aku tidak ingin menemui siapapun" suara dari ruang itu, jelas kalau suara dari dalam kamar itu sedang menangis.
Lagi-lagi Sakura menelan pil pahit. Sebagai orang tua, tangisan anak adalah tangisan ibu. Sudah cukup Sakura merasakan kesedihan Akari, kini di tambah pula dengan beban kesedihan Sarada.
"Maaf" imbuh Sakura perlahan dan mungkin tidak terdengar oleh Sarada.
Sakura menuju ruang lain, mungkin melakukan hal yang sama seperti anaknya, menangis sedih.
"Onii-chan!" panggil Haruno, ia segera berlari ke pada Akari. Namun tiba-tiba saja langkah nya terhenti karena ia mendapat tatapan tajam dari Akari.
"Onii-chan" panggil Haruno, tapi kali ini terdengar takut-takut, "Besok Nii-chan akan mengantarku lagi" cara tatapnya kali inipun juga terlihat agak takut, Haruno lebih memilih menundukan kepala.
"Tidak ada waktu" suara Akari malah dingin. Ia pun berlalu dari hadapan Haruno begitu saja.
Kejadian itu tak lepas dari pengamatan Sakura, "Akari"
Akari hanya menoleh sesaat. Akari masih bisa menangkap raut sedih di wajah sang mama. Namun kebencian di hatinya membuat ia sama sekali tidak peduli.
Sepeninggal Akari, Sarada juga muncul.
"Nee-chan" kali ini Haruno ingin menghibur dirinya dengan cara mengambil perhatian dari Sarada. Namun lagi-lagi panggilan Haruno sama sekali tidak di gubris Sarada.
"Haru mau latihan" ia berharap, melayani obsesi Sarada yang ingin membuat haruno menjadi seorang petarung, bisa menarik perhatian Sarada.
Tapi lagi-lagi, apa yang di harap Haruno tidak sesuai yang di inginkan. Matanya mulai berkaca-kaca, sedih hatinya juga, mendapat perlakuan dingin dari kedua kakaknya. Ia juga di landa kebingungan, apa yang membuat kedua kakaknya malah berubah sikap.
Air mata Sakura mengalir begitu saja, melihat kesedihan sang puteri bungsu. Keceriaan yang selalu di tunjukan si bungsu ini sudah lenyap. Sikap yang biasanya di tunjukkan untuk menarik perhatian kedua kakaknya juga sudah tidak ada. Yang ada sekarang Haruno malah dilanda kesuraman.
Sakura segera memeluk Haruno.
"Mama… hiks..hiks.." kesedihan Haruno akhirnya di luapkan dalam pelukan Sakura.
"Mereka mungkin kelehan sayang" suara Sakura serak, "sabar ya, sayang. Iya, besok mama yang akan mengantarmu" Sakura makin mengeratkan pelukannya pada Haruno.
Haruno malah mengeraskan tangisannya. Bahkan tangisannya yang keras itu, mungkin di dengar oleh kedua kakaknya, tapi mungkin kedua kakaknya itu tidak peduli karena masih di landa emosi.
Sakura makin mengeratkan pelukannya.
'Anata, apa seperti ini yang kau inginkan?' jerit Sakura dalam hatinya yang sedih.
…
…
…
TO BE CONTINUE
