DIsclaimer : Naruto milik Om Masashi Kisimoto
.
.
.
Pagi itu cerah sekali. Shion terbangun dengan suasana hati yang bagus di kamarnya. Sepulangnya dari liburan panjangnya ia langsung ketiduran karna kecapekan. Tak banyak yang bisa diungkapkannya dari liburan itu, tapi cukup lega karna semuanya telah usai~semua yang membebani perasaannya. Dan sekarang, di tengah-tengah kesibukannya merapikan tas dan alat-alat tulisnya, ia dikagetkan dengan kabar dari Karin yang akan pindah sekolah. Shion yang mendengar pernyataan dari Karin beberapa waktu lalu langsung memberondongi Karin dengan kata terkejut seperti 'Ah! Masak? Mengapa kau tak bilang padaku kemarin-kemarin?' yang dijawab santai oleh Karin.
"Pokoknya kau tak boleh jauh-jauh dariku nanti, Karin. Aku dan teman-temanku akan membawamu tur keliling sekolah." tambah Shion lagi.
Kata Karin, "Oke. Kau bosnya. Kau masuk klub apa, Shion?"
Shion mengernyitkan dahinya, tidak mengerti. "Apa maksudmu?"
"Perkumpulan atau semacam kegiatan bersama anak-anak yang punya bakat sama untuk menyalurkan kelebihan apa pun itu."
"Oh, maksudmu itu?" Karin mengangguk mengiyakan. Shion melanjutkan, "aku masuk klub karate sekolah sama kayak Sakura. Tapi Ino tidak, dia masuk klub tata rias. Ada apa memangnya?"
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin bertanya saja." Karin mengatur kacamatanya, dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
Shion telah selesai merapikan peralatan sekolahnya. Ia memandang Karin lagi. "Kau mau berangkat bersamaku atau..."
Karin memutar bola matanya. "Yang benar saja," katanya. "aku tak ingin tampak bodoh nanti dengan seragam putih-hijau kayak gini. Aku akan menunggu ayahku saja. Dia seharusnya sudah tiba sekarang."
"Baiklah, aku akan menunggumu di tempat parkir sekolah kalau begitu."
"Oke."
Shion berdiri, mengenakan tasnya, lalu pamit. "Baiklah, aku berangkat dulu ya? Ingat. Jangan buat aku menunggu kelamaan."
"Baik, baik, Tuan Putri." Karin tersenyum. Shion berbalik memunggungi Karin.
"Dadah." kata Shion sambil berlalu dari ruang tamu itu. Setelah berada di luar ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Kemudian ia berjalan lagi, lalu masuk ke dalam mobil yang terparkir di beranda depan. Pak Sopir pun tancap gas meninggalkan halaman rumah. Dalam perjalanan itu tak henti-hentinya jantungnya berdebar-debar. Ia sudah tak sabar ingin bertemu teman-temannya yang lain~yang akan diceritakannya pengalaman berada di pantai emas Konoha. Tentu saja ia tidak perlu menceritakan bagian menyedihkan dari cerita itu. Menit-menit berlalu dalam kesunyian. Shion sekali-kali melihat keluar jendela mobil~ke arah gedung-gedung yang tinggi dengan latar matahari terbit, lalu ke tiang-tiang listrik di tepi trotoar yang tampak basah karna embun pagi. Sekonyong-konyong ia memikirkan tentang ayahnya, yang masih sibuk di luar kota sana. Tentang kesibukannya dengan bisnisnya~yang kadang-kadang membuatnya tak bisa berkomunikasi terlalu sering dengannya, sehingga Shion agak merasa kesepian juga. Ia teringat akan nyanyian Hinata yang menyedihkan itu. Pikirannya secara otomatis menunjuk bayangan Naruto, tapi kemudian ia menggeleng keras-keras. Andai saja ibunya masih hidup, barangkali keadaan akan jadi lebih baik.
Mendekati sekolahannya, laju mobil itu memelan, kemudian berbelok dan berhenti di tempat parkir. Shion menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya seraya tersenyum.
"Sudah sampai, Nona Shion." kata pak Sopir berwajah kaku itu mengingatkan.
Shion mengangguk sambil tersenyum. "Iya, pak. Makasih." ia pun turun dari mobil. Kemudian berdiri dan menutup pintu. Siswa-siswi memasuki gerbang sekolah. Pemandangannya masih sama seperti empat belas hari yang lalu. Tapi sekarang mereka tampak bersemangat. Pak Sopir membawa mobil itu pergi lagi. Shion menanti di situ sambil melihat murid-murid berjalan memasuki sekolahan. Mobil-mobil lain juga mulai masuk serta motor-motor roda dua itu. Suasana menjadi makin ramai dan matahari makin terasa panas. Menit berikutnya, suara motor Sasuke terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri. Bunyinya makin jelas, dan makin mendengung. Baru kemudian motor itu mencelos melewati gerbang bersama pengemudinya. Kali ini tak ada Sakura di belakangnya, hanya Sasuke saja seorang diri. Shion dibuat keheranan melihat itu. Sasuke berlalu ke arah gedung sekolahan setelah memakirkan kendaraannya. Shion memperhatikannya selama beberapa saat dan bertanya-tanya, namun batal karna seruan nyaring di dekat gerbang.
"Kyaa!" teriak suara itu. "pelan-pelan, Nii-saaan. Jangan ngebut. Nanti kita jatuh!"
Shion mengerjap-ngerjapkan matanya cepat-cepat. Kemudian bayangan itu muncul, sedang berdiri di atas pedal sepeda dengan badan condong ke depan. Di belakangnya ada Ayame. Mukanya pucat sekali. Bukan itu yang jadi perhatiannya, tapi sosok berjaket oranye itu, dan rambut pirang keemasannya yang pendek sehingga menampilkan garis-garis rahangnya. Selama sesaat Shion berdiri terhipnotis. Wajah itu~wajah kaku sewarna tembaga itu dengan peluh di wajahnya makin membuatnya tampak menggoda. Terutama bibir tak acuh itu, yang rasanya pernah dilihatnya, tapi di mana? Siapa itu?
Shion menelusuri wajah cowok itu dengan mata ungunya. Tiba-tiba saja ia tersentak kaget saat melihat garis-garis yang melintang di pipi cowok itu. Gelombang rasa benci pun memenuhi dadanya. Dalam sekejap saja pandangan memujinya berubah penuh dendam dan benci. Dia berpaling sambil mengutuk dalam hati. Matanya berkilat-kita penuh benci. Kenapa dia harus ada di sini? Mau apa dia? Shion menahan godaan untuk tak memaki cowok bajingan itu. Pasti dia ingin mencari perhatian. Jangan mimpi. Meski dia akui cowok itu memang tambah ganteng.
Selagi Shion sibuk dengan umpatannya, Naruto mengerem paksa sepeda itu, alhasil membuat Ayame memekik. Setelah sepeda itu berhenti, Ayame langsung turun dan meninju bahu Naruto dengan kesal.
"Aduh!" rintih Naruto terkejut. Shion mencuri-curi lihat melalui ekor matanya.
"Nii-san mau melihatku mati ketakutan ya?!" protes Ayame dengan nyaring.
Naruto menggeleng. "Tidak." katanya.
"Terus kenapa ngebut?!"
"Aku 'kan mau cepat sampai sekolah supaya tidak telat."
Ayame merajuk. "Tapi Nii-san hampir membuatku mati ketakutan."
'Dasar lebay...' Shion mencibir dengan jijik.
"Iya, maaf deh. Tadi itu aku kelewat semangat." jawab Naruto apa adanya.
Ayame masih kelihatan kesal. Ia kemudian membuang napas. Serta merta otot-otot wajahnya yang menegang pun mengendur. "Ya udah, nih." Ayame menyodorkan sebotol minuman.
Naruto menerimanya senang hati. "Wah, kebetulan aku haus." ia mengambil botol itu dan meneguk isinya. Selagi ia meneguk isi botol itu. Ayame mengeluarkan sapu tangannya dari tas jinjingnya.
"Nii-san capek ya?" tanya Ayame. Naruto mengangguk pelan tanpa melepaskan botol itu dari genggamannya. Setelah dahaganya hilang, ia menyodorkan botol yang isinya tinggal setengah itu pada Ayame lagi.
Ayame mengambilnya dan memasukannya lagi ke dalam tasnya. "Sini biar kubersihkan keringat, Nii-san."
"Biar aku sendiri." tolak Naruto. Ayame mendekat dan meraih jaket Naruto.
"Jangan bandel." tegur Ayame sambil mengelap peluh di muka Naruto. Beberapa gadis yang melihat adegan itu langsung cekikikan. Ada yang tersipu-sipu begitu mereka bertemu pandang.
"Sudah, berhenti." Naruto merona.
Ayame bersikeukeuh. "Masih belum."
'Sialan!' Shion mengumpat jengkel melihat itu dari sudut matanya. Giginya berbunyi. 'mereka memanas-manasiku!' ia tergoda untuk menyiram mereka dengan bensin dan membakar mereka sampai mati, tapi ia batalkan karna menurutnya cara itu kelewat dramatis.
Tiith
Bunyi klakson itu mengagetkan Shion. Ia berbalik dengan cepat, menyaksikan mobil mewah Sasori terhalang oleh sepeda Naruto. Shion tersenyum senang.
"Minggir dari jalanku, sialan!" teriak Sasori sambil memelototi Naruto dengan mata biru pucatnya. Naruto segera mengayuh sepedanya ke tepian. Begitu pula Ayame berjalan mengikuti. Sasori kemudian memakirkan mobilnya dekat motor Sasuke.
Shion segera menyapanya begitu Sasori turun dari mobil itu. "Hai, Sasori!" katanya keras-keras supaya Naruto mendengarnya. Dan itu memang berhasil. Naruto terkesiap seperti seekor kucing yang waspada. Shion tak mau menunggu lama-lama, ia segera menghampiri pemuda yang tengah berdiri tersebut.
"Hai, juga cantik." sahut Sasori dengan dahi berkerut.
"Bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya Shion dengan riang. Ia melirik Naruto yang saat itu sedang menatap dirinya lekat-lekat. Senyumnya pun makin mengembang.
"Baik." kata Sasori terheran-heran.
"Oh, baguslah. Ayo ke kelas." ajaknya riang seraya memeluk lengan Sasori. Kemudian ia melirik Naruto yang masih tak berpaling darinya. Ia melemparkan senyum sinis dan menyandarkan kepalanya ke bahu Sasori dengan manja. "Ayo jalan." ajaknya. Mereka pun berjalan menuju gedung sekolah. Sasori tampak senang karna pagi itu ia bagai mendapat durian runtuh berbiji berlian. Jadi dia tak mau berkomentar banyak.
Mereka berjalan sepanjang halaman sekolah dengan mesra. Siswa-siswa yang kebetulan melihat adegan itu bersiul-siul. Mereka sampai di taman sekolah dekat lapangan basket yang luasnya tak seberapa~di tengahnya ada anak tangga. Mereka menaiki anak tangga berjumlah delapan itu dengan santai. Wajah Shion tampak berseri-seri, tapi sebenarnya ia gelisah bercampur jengkel. Kemudian mereka tiba di teras sekolah dan berjalan menaiki tangga yang di tengah-tengah. Setelah sampai di puncak tangga pertama, Shion segera melepaskan pelukannya, serta menjauhkan diri sambil mendesah lega.
"Sudah. Sampai di sini saja." katanya ketus. Sebelum Sasori berkata-kata, Shion segera melarikan diri ke tangga kedua.
"Lakukan itu lagi lain kali. Aku senang kau melakukan itu!" kata Sasori dengan nyaring. Ia menyeringai licik. Shion mempercepat langkahnya menaiki tangga itu. Napasnya memburu. Begitu sampai di puncak ia berjalan cepat-cepat, setengah berlari membelok ke kiri. Ia kemudian menatap tempat parkir yang kelihatan luas dari lantai dua itu. Terbetik harapan kecil dalam hatinya akan melihat orang itu, dan ia memang masih di sana, berdiri dikerubuti beberapa orang. Shion berhenti mengamat-amati. Pandangan matanya menajam pada empat objek baru yang berada di dekat Naruto. Di sana ada paman Minato, bibi Kushina, Karin, dan Hinata tampak asyik mengobrol dengan orang itu. Sedang apa mereka di sana? Ia berharap manusia bajingan itu tak menjilat mereka dengan tampangnya itu. Selanjutnya entah mengapa, sekonyong-konyong muncul setitik rasa sepi dalam kebencian hatinya. Ia menggeleng, masuk kelas tanpa semangat, lalu duduk pada bangkunya.
Pagi itu terasa membosankan sekali baginya. Sakura juga masuk kelas dengan murung. Shion tak ingin tahu, sebab ia sedang tak ingin melakukan apa-apa. Hari ini ia kedatangan murid baru, itu Karin. Tapi ia tak terlalu antusias menyambutnya. Sewaktu jam istirahat tiba ia duduk saja di bangkunya. Sambil merenung tentang pagi yang tidak menyenangkan itu. Ia berpikir, semua ini gara-gara orang itu, andai saja ia tak muncul, barangkali semuanya akan berjalan baik-baik saja. Ia terus-terusan melamun dengan muka lesu sampai bel tanda pulang sekolah berbunyi. Ia mengemasi peralatan tulisnya dan pulang bersama Karin serta Sakura. Tetapi sewaktu melirik iseng ke tempat parkir sekolah, serta merta gairahnya bangkit kembali~beserta dendam dan rasa bencinya. Ia memperhatikan orang itu dengan muak. Bagaimana pun juga, ia berniat membalas cowok brengsek itu atas semua pelecehan yang dilakukannya. Tanpa buang-buang waktu lagi, ia meninggalkan teman-temannya, pergi mencari Sasori di kelasnya. Dan ternyata ia memang menemukannya di ruangan itu~tengah ngobrol bareng gerombolannya. Tanpa permisi dulu, ia melenggang masuk ke dalam kelas dan langsung saja mengutarakan maksudnya tanpa bertele-tele.
"Antarkan aku pulang," katanya dengan sok. "sekarang!"
Sasori menatapnya bergairah. "Baiklah." ia bangkit mengikuti Shion sambil menyeringai pada teman-temannya. Setibanya di anak tangga yang bawah, Shion memeluk lengan Sasori erat-erat, lalu menyandarkan kepalanya lagi di bahu Sasori dengan manja.
"Jangan bertanya. Ayo jalan!" perintahnya.
"Baiklah. Sering-seringlah seperti ini. Aku suka kau yang begini." kata Sasori sumringah. Mereka menuruni anak tangga pelan-pelan bagai sepasang kekasih. Kemudian melewati taman secuil itu dengan mesra. Jantung Shion mulai berdebar-debar. Matanya memandang sosok Naruto tak jauh darinya dengan gelisah, sebab Naruto membelakanginya. Tapi kemudian Naruto berbalik, dan terpaku pada dirinya yang bemesraan. Seketika muka Naruto mengeras. Shion pun makin bersemangat. Ia pun tersenyum, mengangkat kepalanya seraya memasang ekspresi mencibir. Naruto segera berpaling pada sosok Hinata yang muncul begitu saja di dekatnya. Dan Shion merasa kesal karna itu.
"Oh, jadi begitu? Aku mengerti..." komentar Sasori ketika mereka dalam perjalanan pulang menggunakan mobilnya. Shion yang saat itu sedang menatap jalanan berpaling tanpa semangat.
Sasori menambahkan. "Dia pasti penjilat ulung. Sekarang, dia masih tak kehilangan muka untuk mencari perhatianmu agar kau mau lagi padanya. Murahan betul 'kan?"
"Ya, begitulah," sahut Shion penuh getir. "aku tak menyangka dia akan senekat itu. Kuharap dia takkan muncul lagi di sekolah, supaya aku bisa merasa tenang."
"Kau tenang saja, Shion. Aku akan membantumu. Aku janji, sampai dia kapok dan tahu diri."
Shion mendesah berat, tak berkata apa-apa lagi selanjutnya. Teriknya mentari musim panas terasa menyengat kulitnya. Tapi diwajahnya terpancar kelelahan. Matanya menerawang jauh. Deru napasnya tak tenang. Setelah tiba di rumahnya, ia langsung melempar tasnya ke atas kasur dan mulai menangis.
Keesokan harinya dia berdandan habis-habisan, membuat Karin keheranan dengan tingkahnya, namun Shion tak mempedulikannya. Ia telah dikuasai oleh nafsu balas dendamnya yang membara itu. Ia mengemasi barang-barangnya dengan singkat dan cepat. Kemudian berangkat pagi-pagi sekali. Di sanalah ia berdiri, menunggu di tempat parkir sekolah. Mukanya telah dicoret-coret sedemikian rupa sampai-sampai ia bahkan tampak bagaikan dewi. Sebentar kemudian Naruto pun muncul bersama Ayame. Kali ini Naruto langsung melihat padanya dari awal masuk sampai berhenti di tempat parkir. Mereka bertatapan beberapa waktu lamanya. Sekonyong-konyong Shion merasakan dadanya menghangat. Benci dan dendam menguap tanpa bekas. Pipinya pun memerah karna merasa senang. Naruto tersenyum padanya, dan Shion merasakan wajahnya terbakar karna malu. Ada sensasi menyenangkan yang ditimbulkan oleh senyum rubah itu. Tapi ia segera tersadar dari sensasi memabukkan itu. Ia menatap Naruto dengan muak, lalu berpaling dengan pongah menghadap seberang jalan. Tepat setelah itu mobil Sasori memasuki gerbang sekolahan. Shion tersenyum sambil merona pada Sasori. Ia melambaikan tangannya dengan girang. Sasori pun membalasnya. Setelah mobil itu terparkir, Shion segera menghampiri Sasori yang baru keluar dari mobilnya~yang kebetulan berjarak lima meter dari Naruto.
Shion berusaha cuek. Ia menyapa Sasori sebagaimana seorang kekasih yang setia. "Hai, kok lama?" katanya.
"Maaf ya, menunggu lama sayang." Sasori tersenyum seraya meraih tengkuk Shion dan mengecup keningnya agak lama. Shion tersipu malu. Entah kenapa dia merasa aneh dengan adegan ini. Rasanya konyol sekali. Ia melirik Naruto, muka orang itu tampak murung. Gairahnya pun kembali bangkit.
"Lain kali jangan telat lagi, sayang." kata Shion merajuk. Sasori memegang kepala Shion, mengusap poninya pelan-pelan.
"Iya maafkan aku, sayangku." Sasori berlagak romantis. Dia kemudian menautkan jari-jemarinya dengan jemari Shion. Shion menggenggam tangan Sasori erat-erat. Lalu mereka pun melangkah meninggalkan tempat itu. Keesokan paginya lagi mereka berjalan berangkulan. Shion sekilas menangkap kepedihan di mata biru Naruto. Rasa senangnya makin menjadi-jadi, ia memeluk pinggang Sasori erat. Tubuhnya menempel seperti perangko. Kepalanya ia sandarkan di pundak Sasori. Sasori terus menghitung jari-jarinya. Mukanya tampak bahagia sekali, seakan baru menang berjudi, dan nyatanya memang begitu.
Namun kemudian kesenangan itu pun akhirnya berakhir. Esoknya, tatkala berdiri menunggu penuh harap, Naruto tak menampakkan batang hidungnya―yang kelihatan hanya Ayame saja. Kali itu Ayame sendirian mengendarai sepedanya. Mengecewakan sekali. Padahal Shion telah membuat skenario luar biasa untuk menyambut kedatangannya. Sampai para siswa bergegas masuk ke dalam kelas masing-masing, sebab bel tanda masuk telah berbunyi. Ia pun melangkah ke gedung sekolah dengan hati kecewa. Begitu pun hari-hari-hari selanjutnya. Apakah ia telah kapok? Ia membatin. Bagus deh kalau dia sadar diri. Lalu untuk apa ia masih berdiri di sini? Ia kemudian berjalan tanpa semangat.
"Pasti dia sudah menyerah." kata Sasori di kantin Sekolah sewaktu mereka sedang istirahat. Di meja besar itu duduk juga Karin yang di dekatnya ada Gaara, Sasuke yang berseberangan dengan Sakura, Ayame dan yang lainnya. Mereka semua menatap Sasori tidak mengerti.
Shion mendesah. Mata ungunya tampak pedih. "Kurasa juga begitu. Lega rasanya melihatnya sadar diri."
Gaara ikut nimbrung. Katanya, "Maksud kalian apa sih?"
"Gaara, kau pasti takkan menyangka, kalau selama tiga hari ini si picik yang ada di pantai waktu itu, muncul lagi di sekolahan ini."
"Bicara apa kau ini, Sasori?" tanya Gaara tambah kebingungan.
"Ini tentang bajingan itu, Gaara. Masak kau tidak mengerti?" kata Sasori. "yang waktu itu melecehkan Shion. Kau ingat tidak? Memalukan sekali. Aku yakin dia sekarang takkan berani menampakkan batang hidungnya lagi. Tahu malu juga dia punya," lalu ia berpaling pada Shion, kemudian tersenyum puas. "dan tentunya takkan mengganggumu lagi, Shion."
Shion tersenyum hambar. Pandangan matanya redup, tak punya gairah. Katanya, "Aku senang dia sudah nggak muncul-muncul lagi. Selama beberapa hari ini dia membuatku muak."
Sasuke mendengus. Gaara menatap mereka terperangah. "Serius? Kenapa kita masih membahas itu lagi sih? Dia telah mendapat ganjarannya 'kan?"
Shion berdecak kesal. Matanya memandang tak senang pada Gaara. Ia berkata, "Dia itu nggak tahu malu, Gaara. Dia masih saja berani menampakkan batang hidungnya di depan kita, padahal nggak ada yang menyukainya. Lagipula aku belum puas sebelum bisa membalas perlakuan bejatnya padaku waktu itu."
Gaara mengatupkan jari-jari tangannya. "Kau terlalu terobsesi pada dendammu Shion. Itu tak baik."
Tiba-tiba Ayame bangkit, lalu membantah tak terima. "Itu tidak benar...," katanya. "Naruto-nii-san sudah tak peduli lagi padamu. Asal kau tahu saja. Kalau maksudmu mengantarku itu untuk mencari perhatianmu, sekali lagi kutegaskan itu omong kosong, sebab aku sendiri yang meminta Nii-san mengantarku. Nii-san kebetulan menginap di rumahku selama tiga hari..." selama ia bicara, Ayame beberapa kali melirik Neji dengan gugup seakan cowok itu sedang menertawakannya. Kemudian ia cepat-cepat duduk lagi. Penjelasannya itu membuat Shion merasa tersinggung.
Shion langsung menohoknya. "Dìamlah. Aku tak menyuruhmu untuk bicara, Ayame." muka Ayame pun berubah serwarna api mendengar sindiran itu.
Gaara memutar bola matanya. "Kau bercanda 'kan? terus apa? Membalas dendam sampai orang itu mati barangkali?"
Shion memandang Gaara dengan sengit. "Kau tidak akan mengerti, Gaara, sebab kau tidak berada dalam posisiku. Bajingan itu mempermalukanku dan aku takkan melupakan kejadian itu semudah membalik telapak tangan." kata Shion membela diri. Ia sengaja menekan suaranya waktu berbicara supaya Gaara mendengarkan baik-baik.
Sasori berkata, "Gaara, sejak awal kau selalu membelanya. Ada apa denganmu, Gaara? Kau ini teman atau musuh."
Gaara menudingkan telunjuknya ke wajah Sasori. "Diamlah, pengecut. Aku ingat betul kau sendiri menikamnya dengan pisaumu. Apa kau lupa kejadian itu, dan nyaris saja membuatnya tewas?" Shion mengeluarkan suara seperti orang tersedak.
"Itu hanya tusukan kecil, Gaara. Tusukan semacam itu tidak akan akan membunuhnya. Omong kosong belaka jika dia nyaris tewas gara-gara itu. Dia pasti telah mempengaruhimu, Gaara. Itu salah satu kebusukan yang dia punya."
"Itu tidak benar," Gaara bersikeras. "sebab dia tak pernah mengatakan pendapatnya padaku. Aku tahu kebenaran dia nyaris saja tewas itu dari mulut Shizuka sendiri! Gadis yang sukarela merawatnya tanpa pamrih!"
"Shizuka? Siapa dia?" tanya Sasori.
"Gadis pondokan yang merawat orang itu sampai sembuh."
"Bah! Gadis pembohong itu? Aku yakin, bajingan itu pasti telah menyuap gadis murahan itu untuk berakting!" bantah Sasori.
Neji tersenyum jengkel. "Selain banyak bicara, kau juga pandai membual. Asal kau tahu saja, Dungu, orang tuanya bahkan jauh lebih kaya dari orang tuamu. Harta orang tuanya berkali-kali lìpat di atas harta orang tuamu. Mereka orang top di negara mereka. Kau jangan asal bicara!" Sasori langsung diam, mukanya merah menahan malu. Dia ingin membantah kata-kata itu, tapi Neji menatapnya dengan tajam. Ia pun terpaksa duduk. Matanya melotot dengan muak.
Selama bebera saat tak ada yang bercakap-cakap. Gaara kemudian berkata setengah menuding pada Shion. "Semua ini awalnya darimu Shion. Kau yang mengajaknya pergi bersama kita. Setelah itu gara-gara kau juga yang membuatnya nyaris saja kehilangan nyawanya. Tidak putus sampai di situ, sekarang kau malah berniat membalas dendam padanya, Shion. Kau memang kejam. Bahkan lebih keji dari apa yang dia perbuat waktu itu."
Entah bagaimana kata-kata itu memberikan efek nyata bagi Shion. Sementara mereka diam, Shion mengerjap-ngerjapkan matanya. Sekonyong-konyong ia pun bangkit sambil menguap. Lalu menatap Gaara dengan pandangan dingin. "Sudah cukup kalian berpidato? Aku telah mendengar cukup banyak darimu semua omong kosong itu! dan tak mengubah apa pun juga." katanya dengan muak.
Gaara mengendikkan bahu. "Itu terserah padamu. Aku hanya menjelaskan duduk perkaranya. Terima tak terima bukan urusanku."
Shion berkata, matanya tampak begitu pedih, dan suaranya tak beraturan. Terdengar begitu pahit. "Terima kasih b-banyak. Tapi itu hanya teori, dan tak membuktikan apa pun. Aku tak mau berdebat lagi. Aku mau kembali ke kelas dulu!" nyatanya ia tak masuk kelas. Ia malah berbelok ke kamar kecil dengan tergesa-gesa. Dan di sanalah dia~di tempat sempit dengan bau tak sedap bernama wc itu, duduk sendirian sambil terisak-isak dengan suara kecil... Ia menangkup wajahnya dengan telapak tangannya―menyembunyikan wajah penuh penyesalannya. Air matanya berderai, membasahi wajah dan telapak tangannya. Ia tidak tahu tentang kejadian penusukan itu sebelumnya, ia cuma tahu tentang orang itu telah pergi setelah kejadian itu, dan tak merasa bersalah sama sekali. Apa itu benar? Mengapa tidak ada yang memberitahukan cerita itu sebelumnya? Kenyataannya pikirannya sedang keruh waktu itu, dan tak bisa menangkap semua desas-desus yang menyebar di dalam penginapan. Oh, memalukannya... Dan juga... Dan juga, Ino terlalu banyak mencecarnya dengan bermacam-macam komentar buruk. Dan bodohnya ia begitu mudahnya membenarkannya. Padahal saat itu ia masih terlalu sulit menerima kenyataan bahwa orang itu telah tega melakukan perbuatan itu. Pasti ada alasannya, itulah letak masalahnya. Ia terlalu terburu-buru mengambil sebuah kesimpulan. Ia juga terlalu emosi―entah apa penyebabnya, sehingga mengambil pendapat mana saja yang mendukungnya. Kemudian pikirannya mendapat pencerahan. Tentu saja, tatkala itu ia mengharapkan sebuah permintaan maaf, lalu sebuah penjelasan yang logis, dan ia akan menghukumnya... Barangkali ia akan menyuruh orang itu menari-nari mempermalukan diri di depan teman-temannya. Sederhana sekali. Tetapi selama berhari-hari orang itu kagak nongol-nongol, hingga ia menjadi amat kecewa. Kemudian dengan tak diduga-duga ia malah nongol begitu saja bemesraan bersama gadis itu! Lalu semuanya jadi keruh...
Kemudian secercah ingatan samar muncul dalam benaknya. Mula-mula ingatan itu agak kabur, tapi kemudian makin terang~ingatan tentang sebuah peristiwa tiga tahun lalu, ketika semilir angin malam menggoyang rambut keemasan orang itu, dan seraut wajah tampan yang tersenyum lembut sambil mengacungkan jempolnya. Ia masih ingat betul kata-kata terakhir orang itu, 'Setidaknya belajarlah beladiri, Nona. Karna aku takkan selalu ada untuk menolongmu.' dan ia terduduk di sana, terpaku dengan pandangan terpesona menatap punggung itu yang tertelan gulitanya malam. Sekonyong-konyong dadanya menjadi begitu hangat. Perasaan indah itu sekonyong-konyong menyeruak menyesakkan dadanya, sehingga ia nyaris saja tak mampu menahan ledakan tangisnya. Ia takkan melupakan kejadian itu, kejadian yang barangkali akan membuatnya mengalami trauma seumur hidupnya, atau barangkali akan merenggut tawanya. Mungkin yang terburuk ia akan selalu terbayang wajah manusia-manusia bejat yang berniat memperkosanya itu. Tetapi orang itu datang, mencegah peristiwa tragis itu yang akan merenggut kebahagiaannya. Sampai detik ini ia masih belum mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada orang itu. Celakanya, setelah menemukan orang itu, ia malah jatuh hati padanya. Dan dari rasa terima kasih itu pelan-pelan menjadi cinta yang tumbuh tanpa ia sadari. Tapi sekarang, ia malah berbalik membencinya, dan membalasnya dengan keburukan bertubi-tubi~bahkan nyaris membunuhnya atas perlakuan kecil itu.
Mengapa penyesalan selalu datang belakangan? Ia bertanya-tanya, sekonyong-konyong mulai terbayang dalam benaknya orang itu terbaring sakit, sendirian dengan wajah pucat pasi, lemah tak berdaya dan amat membutuhkan pertolongan. Namun ia tak ada di dekatnya, menemaninya untuk membalas semua kebaikannya―yang seharusnya sejak awal merawatnya. Sejenak ia menyunggingkan sebuah senyuman lembut membayangkan ia duduk di dekat orang itu sambil menyuapinya. Sayangnya, bagian itu telah berlalu dan buruknya posisi itu telah diambil oleh seorang gadis asing. Terkutuklah liburan sialan itu! Andai saja ia tak mengajaknya ke pantai waktu itu mungkin semua ini takkan terjadi. Lalu apa selanjutnya? Dia akan meminta maaf padanya~dengan permintaan maaf yang bakal menyaingi film-film drama pemenang Oscar itu, diiringi musik melodramatis yang menyedihkan, dan efek sentuhan teatrikal yang seringkali membuat air mata kita berlinang deras sebab adegannya yang menyentuh itu. Tentu saja. Ia akan mendatanginya atau barangkali mengundangnya ke suatu tempat yang bisa menimbulkan efek dramatis penggugah jiwa, disertai latar belakang orang banyak yang akan menyaksikannya, dan tentunya dengan daun-daun berguguran yang bakal membuat si korban terenyuh. Bagian terakhirnya, dia akan berlutut sambil memandangnya berlinang air mata. Sekejap, ia merasa optimis dengan cara itu. Ia pun sudah bangkit berdiri dan telah memegang daun pintu wc ketika keraguan menyelimuti hatinya. Lagipula cara itu kelampau berlebihan menurutnya, dan yang ada dia hanya akan kelihatan konyol nantinya. Jadi ia kembali duduk di atas closet itu.
"Aku berani t-taruhan jika nanti aku pasti akan m-makin merusaknya." katanya agak tersendat-sendat. Kemudian ia kembali menangis tersedu-sedu. Kelopak matanya tampak bengkak sebab terlalu lama menangis di tempat itu. Tiba-tiba pintu di depannya berbunyi.
"Kau baik-baik saja 'kan, Shion?" tanya Sakura khawatir dari balik pintu itu. Shion terkesiap. Tangisnya langsung berhenti.
"I-iya." sahutnya berusaha terdengar normal.
"Keluarlah, dan kita bicarakan."
Shion tak segera menanggapi ajakan Sakura. Tapi dia tak punya titik terang dengan kebimbangannya itu. Dia butuh teman untuk dimintai saran atau nasehat tentang masalah ini. Sebab bagaimana pun juga, dia terlalu pesimis jika Naruto nantinya malah tidak akan memaafkannya, atau mungkin orang itu telah menaruh rasa benci pada dirinya. Shion terlalu takut menghadapi kenyataan semacam itu. Bisa saja dia menunggu selama bertahun-tahun―menunggu keadaan menjadi tenang dan kebencian orang itu telah sirna, lalu ia akan meminta maaf pada orang itu dengan hasil yang optimis. Karna seringkali kebencian itu bisa pudar termakan waktu, kecuali bagi segelintir orang yang suka memendam dendam. Dia tak mau menghabiskan selama itu serta menjalani hari-hari dibebani rasa bersalahnya tiap kali mereka berjumpa.
Sepuluh detik berikutnya ia telah mengambil keputusan. Ia pun berusaha tampil normal sebelum membuka pintu itu. Sakura bisa saja menertawakannya saat ini dengan kondisinya yang lumayan keruh―mata bengkak, dan wajah senewen yang jelek. Tapi gadis itu cukup bisa mengendalikan ekspresinya yang datar-datar saja, dan membuat perasaannya agak baikan. "Ayo, cuci muka dulu, biar aku tidak ketakutan karna melihat tampang serammu itu."
"B-baik." Shion menuruti perintah Sakura tanpa keberatan. Ia menghampiri wastafel dan mencucinya mukanya.
"Mulailah cerita. Dari awal. Jangan terburu-buru. Anggap saja aku ini buku diarymu." suruh Sakura, lebih seperti sebuah tuntutan yang maksudnya kedengaran lain, seperti dìa mengatakan, 'Ayo, cerita. Kalau nggak, aku bakal menyuruhmu mengerjakan tugas-tugasku!'
Jadi Shion memulai ceritanya. Ia bercerita tentang pertemuan pertamanya dengan Naruto di sebuah gang sempit―dia menyebutkan sampai hal sekecil-kecilnya. Bahkan ia juga menceritakan tentang dirinya yang setelah pertemuan itu―mencari-cari orang itu dengan bertanya pada teman-teman smpnya, tapi tak ada hasilnya. Ia kemudian menggambar sketsa wajah orang itu dengan sebuah aplikasi di komputer ayahnya. Setelah sketsa wajahnya jadi, ia lalu mencarinya melalui aplikasi pencari orang di internet dan tak membuahkan hasil apa pun juga. Dia mengisahkannya dengan tepat―seakan dia tenggelam dalam ceritanya sendiri. Matanya yang berkaca-kaca itu bersinar penuh kelembutan, pipinya merona kemerah-merahan, dan suaranya menggebu-gebu, sampai-sampai Sakura tidak ingin mengedipkan matanya menyaksikan gaya bercerita gadis itu yang menarik. Setelah menyelesaikan hampir sebagian ceritanya, dan akan sampai pada peristiwa di pantai Konoha itu, Sakura buru-buru menghentikannya dengan cara memeluk gadis itu. Gadis itu menarik napas panjang-panjang, kemudian menangis di bahu Sakura.
"Aku mengerti―sungguh," ujar Sakura penuh haru sambil mengusap kepala gadis itu. "mengapa kau tak menceritakannya sebelumnya, Shion?"
Shion berkata, "Aku tak b-bisa. Aku terlalu takut kalian akan mengejekku, dan m-menganggapku terlalu kekanak-kanakan..."
"Siapa yang mengatakan itu padamu?" Shion menggeleng. "jadi itu cuma prasangkamu saja. Padahal sebenarnya nggak. Kalau kau cerita pada Ino, mungkin hal seperti itu bakal terjadi..." Sakura menyimpulkan. Ia kemudian menambahkan sambil melepaskan pelukannya dan memandang lekat-lekat wajah Shion yang tertunduk. Ia mengatakan, "Sekarang dengar. Kita harus meminta maaf padanya, secepatnya."
Shion mengangkat wajah penuh sesalnya menghadap Sakura. Ia berkata dengan putus asa, "Apakah ia akan mau memaafkanku? Setelah apa yang telah aku lakukan itu?" ia berhenti, lalu melanjutkan dengan pedih. "aku yakin dia akan benci sekali padaku."
"Kita 'kan belum tahu sebelum mencobanya, Shion. Kau harus tetap optimis dia akan memaafkanmu."
Shion terisak. "Andai aku bisa se-optimis itu. Tapi yang aku lakukan itu buruk sekali, Sakura. Aku, aku yakin ia takkan memaafkanku..."
Mendengar kata-kata tanpa harapan itu, Sakura pun menepuk pundak gadis itu. "Kau harus yakin, Shion, seratus persen yakin. Jangan ragu."
"Entahlah..."
"Hei, coba ceritakan padaku tentang peristiwa beberapa hari yang lalu itu?"
Wajah Shion berubah kecut. Katanya dengan pahit, "Dia tersenyum padaku. Aku senang melihatnya. Tapi setelahnya dia kelihatan kecewa, lalu pedih..." ia mengakhiri kalimatnya dan tercekat.
"Itu cukup." kata Sakura ceria. Tapi tak ada tanggapan dari Shion. Gadis itu menghela napas dengan berat. Sakura melanjutkan. "Jangan menyerah, oke, sayang. Aku akan menemanimu. Kita akan datangi rumahnya, lalu mengikatnya di kursi kalau dia tak mau memaafkanmu." Shion kembali mendesah panjang. "iiiiiH... Kau membuatku gemas, sayang. Sudah, jangan sedih lagi. Kalau nggak, kau harus membersihkan wc dan mencabuti rumput liat di halaman rumahku."
Shion mengangkat wajahnya menghadap Sakura. "Baiklah, Sakura." katanya tanpa semangat.
"Ayok, senyum. Kau 'kan tidak bisa meminta maaf pada orang sambil memasang muka jelek begitu. Nanti dia malah mengira kau cuma main-main lagi."
Shion mendesah untuk yang ketiga kalinya. Ia pun memaksa tersenyum, dan tampak aneh. Sakura mengernyitkan hidungnya melihat tampang mengenaskan Shion. "Ekspresi macam apa itu? Ayo ganti. Yang tulus, sayangku." kemudian, kemudian... Sepulang sekolah, mereka pun berangkat dengan mobil menuju rumah Naruto. Perjalanan itu sejatinya membuat Shion harap-cemas, selain itu dadanya juga ikut berdebar-debar. Ia memperhatikan trotoar jalanan penuh gelisah. Kadang berbelok, kadang lurus saja, sampai akhirnya mobil itu melewati taman Konoha. Perasaan takut bercampur tak sabaran pun makin melunjak di dadanya. Setibanya di pertigaan menuju rumah Naruto―yang letaknya tiga ratus meter dari taman Konoha, mobil itu pun berhenti. Shion keluar dari dalam mobil diikuti Sakura. Setelah berpesan pada sopir berwajah kaku itu, ia pun mulai melangkahkan kaki ditemani Sakura. Namun ternyata rumah Naruto kosong―maksudnya tak ada orang di rumah itu.
"Orang tuanya kemana?" tanya Sakura.
"Menjaga toko buku." kata Shion murung.
Sakura menarik tangannya. "Kalau begitu ayo tanyai mereka." mereka pun melakukannya, dan mendapatkan kabar bahwa selama beberapa hari ini Naruto jarang pulang. Kata ibunya ada semacam urusan dengan perempuan bernama Konan. Baru diketahuinya ternyata Naruto punya kenalan perempuan lain jauh sebelum dia. Mereka juga kenalnya di jalanan. Mendengar kabar itu, Shion pun bertambah kecewa. Ada setitik rasa nyeri yang terasa menyesakkan dadanya.
"Katanya nggak punya pacar. Tapi nyatanya dekat dengan banyak gadis. Huft pembohong..." kata Shion dengan pedih tanpa sadar sekembalinya dari toko buku Jiraiya.
Sakura menambahkan, "Jangan lupa, Shion. Dia juga dekat dengan Ayame."
"Kenapa dia tidak bilang saja sejak awal kalau dia itu punya banyak teman perempuan? Bukannya malah berbohong dan bilang, 'Aku belum punya pacar, Nona Shion'." Shion terus nyinyir kayak orang yang baru kecurian pulsa. Matanya pedih.
"Ampun, deh, Shion sayang. Masak cuma karna kenal sama gadìs lain, terus dikau jadi senewen begitu." Sakura menggoda.
"Ini soal kejujuran, Sakura. Apa susahnya cuma jujur saja tentang urusan teman perempuan itu."
"Kita bisa tanya itu nanti. Sekarang fokus minta maaf dulu."
"Terserah..."
II
Akira Watanabe meletakkan setumpuk berkas-berkas yang menggunung itu di atas meja. Ruangan itu sejatinya berukuran sedang dengan perabot seadanya, seperangkat perlengkapan komputer dan bermacam-macam alat-alat yang tak kuketahui namanya. Bunyi-bunyi klakson bertit-tit-tit di luar sana, karna ruangan itu berada di dekat jalan raya, dan terletak di pusat kota Konoha. Ia mengernyitkan dahi melihat pada Iruka yang sedang memperhatikan foto-foto di dinding itu. "Kurasa kau cuma mengada-ada Iruka. Kelima orang itu sama sekali tak ada mirip-miripnya. Lagipula tentang apa ini? Kau sama sekali belum memberitahuku."
"Aku jadi penasaran," kata Iruka tak menanggapi teguran itu. "apa hubungan mereka dengan bocah ini. Mungkinkah ada misteri yang tersembunyi dalam wajah-wajah ini?"
"Entahlah." Akira berpaling dari Iruka. Ia mengambil sebuah map, lalu membolak-balik kertas-kertas. "Aku telah mengumpulkan seratus nama untukmu, Iruka―sesuai dengan intruksi yang kau berikan. Mereka adalah putra-putra dari golongan pejabat dan jutawan di seluruh dunia. Tidak semuanya sih. Aku membaginya menjadi dua kategori―satunya golongan jutawan dan pejabat terkenal. Satunya lagi dari kalangan orang kaya biasa. Sisanya ada di dalam komputer. Kau bisa mengeceknya nanti. Jumlah mereka hampir tujuh ratus orang, tapi yang kumasukkan dalam map ini hanya mereka yang terkenal-terkenal saja."
Iruka mengambil map itu dari tangan Akira. Ia kemudian duduk, menelitinya dengan seksama satu-persatu. "Bagus, Akira. Aku selalu bisa mengandalkanmu. Aku tak menyangka akan sebanyak ini jadinya."
"Memangnya tentang apa ini? Kau belum menjawab pertanyaanku, Iruka."
Iruka mengibaskan tangannya. "Belum saatnya, Akira. Aku sedang menyelidiki ini sekarang. Masih terlalu awal bagiku untuk memberikan kesimpulan. Keadaanku seperti mencari-cari sesuatu dalam gelap saja, sementara aku tidak tahu apa yang kucari itu."
"Ya, ampun, Iruka, bicaramu seperti orang aneh saja." kata Akira menyindir, kemudian diam dan berpaling pada kelima wajah yang tertempel di dinding itu. Timbul pertanyaan-pertanyaan dalam kepalanya. Tentang apakah ini? Adakah sesuatu yang tersembunyi dalam wajah-wajah ini, seperti yang dibilang Iruka? Rasanya tidak ada yang aneh.
Ia mengamati foto-foto itu mulai dari yang paling kiri, pada foto seorang pemuda berambut pirang kecoklatan yang disisir ke belakang. Ekspresi wajahnya menunjukkan kepongahannya, berkulit kuning dengan kumis tipis dan matanya yang menatap sinis, seakan mengatakan, 'Liat apa lu, gembel?'. Akira tahu yang itu namanya sudah tak asing lagi baginya, namanya Alexander. Dia juga teringat akan ayah pemuda itu yang menggemparkan dunia karna pidato kontroversinya setahun yang lalu―pidato kontroversi yang menyinggung-nyinggung tentang perbatasan dengan negara Pasir, membuat publik yakin akan terjadi perang hebat antara kedua negara itu. Sampai sekarang pun keadaan masih belum tenang, kedua negara masih terlibat sengketa perbatasan. Di sebelah Alexander adalah foto Lee Sakamoto yang berwajah kecil, tapi lucu seperti musang. Dengan potongan rambut belah dua itu dan mata hitam kecilnya yang kekanak-kanakan. Akira mengingat-ingat dimana ia pernah melihat wajah itu, kemudian ia tersentak dan teringat tentang pencuri bangsat yang telah melarikan dompetnya berbulan-bulan lalu. Akira menepuk-nepuk meraba-raba sakunya dengan harapan dompetnya yang hilang itu ada di sana, dan ternyata memang tidak ada. Akira mendengus jengkel seraya pandangannya berpindah pada foto pemuda di tengah-tengah. Ia tentu sudah mengenal wajah itu, wajah pucat yang keji seperti tentara. Potongan rambut pirangnya standar militer―pendek dan tipis. Mata coklatnya berpendar kejam bagai mata serigala. Hidungnya mancung serta bibirnya terkatup rapat. Dan namanya adalah Seichi Hasegawa, salah satu anggota Dinas Intelijen ANBU Negara Api. Anak muda itu disebut-sebut anak emas Negara Api, sebab prestasinya yang luar biasa. Nyaris selama berminggu-minggu wajah anak itu menghiasi koran-koran, dan membuat Akira merasa jenuh melihat tampangnya. Selesai mengamat-amati pemuda itu, ia beralih menatap wajah anak muda yang ke empat. Wajah berandal seperti wajah gangster jalanan―dengan senyum licik yang lebih menyerupai seringaian, berkulit merah terbakar. Rambutnya gondrong, berwarna merah bata, dan dikuncir jadi satu. Itu adalah Kouki Murakami, seorang anak muda yang namanya lagi naik daun karna bidang yang digelutinya sebagai musisi. Dan yang terakhir adalah Nobuyuki Chikafuji, pemuda dengan wajah ndeso kalem yang tidak ada enak-enaknya untuk dilihat. Rambutnya yang hitam berminyak itu ditata seperti model rambut kuno yang tidak disukai gadis-gadis zaman sekarang. Akira langsung tidak peduli pada anak itu sebab ia juga tidak menyukai kekunoan yang ditampilkan pemuda itu.
Akira menarik napas dalam-dalam. Mengapa Iruka sampai amat terobsesi dengan pemuda-pemuda ini? Semenjak Tuan dan Nyonya Namikaze itu datang ke kantor ini, Akira melihat sekilas raut tegang di wajah Iruka seakan ia baru saja melihat hantu, ketika Nyonya Namikaze menggambarkan anak hilang itu. Bermenit-menit yang lalu, muka Iruka pun tampak pucat pasi dan gelisah. Gerangan apakah yang membuat Iruka sampai sebegitu seriusnya menanggapi kasus anak hilang ini? Akira mengerutkan keningnya, dan teringat sesuatu. "Ah, ya, Iruka, satu lagi fakta yang luput dariku."
Tanpa menoleh Iruka menyahut, "Apa itu?"
"Kau menyuruhku mencari pemuda-pemuda ini 'kan?" Iruka mengangguk. Akira melanjutkan, "hampir semua data yang kuperoleh dari orang-orang kita itu menunjukkan bahwa mereka bukanlah anak kandung. Mereka hanyalah anak pungut, termasuk yang lima itu."
Iruka Umino menoleh terkesiap. Ia menatap Akira dengan mata terbuka lebar. "Oh la la... Ini menambah kuat dugaanku. Akira, tolong cari lebih banyak lagi―cari di kalangan menengah ke bawah."
Akira menatapnya malas. "Tunggu dulu. Dugaan tentang apa ini? Kau belum menceritakan apa-apa padaku."
"Nanti, saat waktunya tiba. Aku akan menjelaskannya." sahut Iruka.
"Begitu? Kau menyuruhku melakukan sesuatu yang tidak kumengerti?"
Iruka menukas. "Kau mulai rewel, Akira. Istrimu pasti ngambek lagi."
"Kau senang membelokkan arah percakapan, ya rupanya? Demi Tuhan, bicaralah terus terang, Iruka! Atau aku tidak akan melakukan apa pun yang kau suruh itu!" kata Akira jengkel.
Iruka menghempaskan map di tangannya ke atas meja. Ia menghela napas, kemudian berpaling pada Akira dengan malas. "Periksalah, foto yang kuberikan padamu waktu itu. Dan seharusnya kau sudah bisa menebak arah pikiranku. Foto itu masih ada padamu 'kan?"
Akira mengangguk. "Ya."
Iruka melanjutkan, "Perhatikan baik-baik foto itu dan bandingkanlah sendiri dengan wajah mereka. Paparkan hasil analisamu padaku, kalau-kalau kau salah, berarti kau goblok sekali!" dia mengakhiri kalimatnya dengan sebuah dengusan.
Akira segera melangkah mendekati meja itu, lalu menarik laci meja, dan mengeluarkan sebuah foto dari dalam laci. Ia pun mengamat-amati foto pemuda berambut pirang beberapa waktu lamanya. Kemudian ia mengangkat pandangannya pada wajah-wajah di dinding itu. Mula-mula dahinya mengernyit.
"Kau ingat 'kan instruksi yang kuberikan padamu beberapa hari yang lalu itu?"
Tanpa mengalihkan matanya dari wajah-wajah di dinding itu Akira mengangguk. "Kau menyuruhku mencari kesamaan struktur rahang, telinga, dan bibir anak ini dengan anak-anak pejabat itu 'kan? Dan hasilnya pun mencengangkan. Meski pun aku sendiri tidak me―" Akira menghentikan kalimatnya, sebab sesuatu tiba-tiba saja mengganggu pikirannya.
"Ah... Rupanya sudah menyadarinya, Akira." kata Iruka.
Akira mendekati wajah-wajah di dinding itu. Dia pun diam dan kembali memperhatikan foto di tangannya dan foto-foto di dinding itu. Ada sesuatu yang rasanya aneh muncul di benaknya. Ia tidak mengerti mulanya, padahal tidak ada yang aneh dengan foto-foto ini. Setiap kali ia selesai melihat wajah-wajah di dinding itu, tiba-tiba saja ia merasa seakan melihat wajah pemuda itu di dalam wajah mereka. Sulit menjelaskan secara tepatnya. Sebab tidak ada kemiripan di antara mereka, namun dibenaknya justru yang muncul malah bayangan samar-samar wajah pemuda pirang itu.
"Apa pendapatmu, Akira?" tanya Iruka tiba-tiba.
Akira mengendikkan bahu. "Entahlah... Aku juga kurang yakin."
"Utarakan saja."
"Mungkin saja ini cuma halusinasiku saja. Tapi setiap aku melihat wajah mereka, aku merasa mereka memang agak mirip dengan pemuda ini. Sebaliknya juga begitu. Tapi aku sendiri tidak mengerti apa yang membuat mereka mirip. Ketika aku mengamat-amati wajah mereka―garis-garis di wajah mereka, baik itu hidung, mata, rahang, alis, bibir, dagu, dan dahi mereka, aku seakan melihat pemuda ini―maksudku, kenapa susah sekali menjelaskannya..."
"Intinya setiap kali kau melihat wajah mereka, kau selalu teringat pada wajah pemuda pirang itu. Begitu pun sebaliknya. Begitu maksudmu?"
"Kurang lebih begitu." kata Akira mengakui.
"Itulah yang terjadi padaku berminggu-minggu yang lalu. Bagian lucunya, sejak aku mulai menyelidiki ini. Aku merasa akhir-akhir ini seolah-olah ada yang mengawasiku. Di jalan-jalan, di rumah-rumah, atau di mana saja, seperti ada yang mengikutiku. Bahkan kakek tua tempat aku menginap di rumahnya itu, seakan selalu mengamat-amatiku." Iruka menambahkan. "ini semakin membangkitkan rasa penasaranku."
Mendengar apa yang diucapkan Iruka, Akira langsung berpaling padanya. Terbayang ketegangan di wajahnya. "Kuharap itu cuma khayalanmu saja, Iruka. Kau membuatku takut. Tapi masalah ini membuatku jadi ingin tahu."
Iruka mengendikkan bahu. "Entahlah. Mungkin cuma perasaanku saja."
"Kuharap juga begitu." Akira diam sebentar, mengerutkan kening. Lalu TBC muahahaha
AN : Oke, deh. Kasih sedikit penerangan. Jadi mau Shizuka atau pun Shion punya jalan cerita berbeda, Shizuka punya alur cerita yang lain nantinya. Oke, Big thanks buat yang udah review fave dan follow fic ane.. muahhaahhahah
