Naruto 100% belong to Mashashi Kishimoto
I don't own nothing but the story.
Enjoy it. :)
.
.
.
.
.
Summary:"Kau menyebalkan, Uchiha."/ "Aku realistis..."/ "Naruto, ada yang ingin bertemu denganmu."/ "Lama tidak bertemu, Namikaze."/"Sendirian di atap. Merenungi sesuatu, Nona Namikaze?"/ "Kau selalu datang di saat yang mengejutkan, dasar hentai!"/ "Kau menyuruhku menginap di apartemenmu. Apa kau masih waras?!"/ "Akan kuantar kau pulang. Sebaiknya kau tidak menginap di apartemenku kalau tidak benar-benar terpaksa, Hinata."/ "Kenapa kau belum tidur, Sakura?"/"Aku menunggumu selesai.../ "Kenyataannya, kau masih belum bisa mempercayaiku sepenuhnya Naruto."/ "...Dan sejak saat itulah aku membenci dokter..."/ "Ka...Kalau denganku? Bu... bukankah aku juga seorang dokter?"'/ "Kaa-chan? Kenapa Kaa-chan menangis?"/ "Stop dan biarkan aku yang bicara!"/ "Siapa dia Sakura?"/ "Putraku. Namanya Hikari." /"Apa benar suamimu tidak menikahimu karena maksud tertentu?"/
.
.
.
.
.
.
14. Dancing Under The Moon Light
.
Sakura menata berkas yang berserakan di meja Naruto. Hari ini dia bisa melakukan bersih-bersih lebih banyak dari biasanya karena hari ini dia libur. Akhir-akhir ini, bahkan untuk mengurus diri sendiri saja Naruto tidak sempat.
Sebuah berkas terjatuh. Melihat dari penampilan berkas itu, Sakura amat yakin jika berkas tersebut sangat sering dibuka. Mungkin berkas penting?
Sakura mengambil berkas tersebut dan menggabungkannya bersama berkas lain. Namun, tanpa sengaja dia melihat lambang salah satu perusahaan yang akrab di matanya.
.
"Beri kami keadilan!"
.
"Kau menjebloskan orang yang tidak bersalah ke dalam penjara! Dimana letak keadilannya?!"
.
Pening menyerang Sakura. Kilasan apa yang dilakukan ibunya ketika sang ayah dibawa ke penjara tanpa dilakukan sidang pembelaan. Ayahnya dinyatakan bersalah tanpa diadili.
"Apa hubungan Naruto dengan perusahaan ini?"tanya Sakura pada dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang. Air mata turun secara perlahan dari kedua matanya. Ada yang salah. Demi Tuhan dia tau itu. Tapi apa? Apakah takdirnya salah hingga mengantarkannya pada waktu yang salah?
.
000
.
"Hinata..."
Gadis berambut indigo itu terkejut dari lamunannya. Menatap bingung ke arah pria yang selama beberapa minggu ini menjadi orang yang mengisi hidupnya.
"Gomen. Kau tadi mendiskusikan apa?"
"Kali ini kau harus lebih banyak berhati-hati. Bukan tanpa sebab. Keluargamu semuanya dalam kondisi bahaya."
"Oh. Soal itu. Apa Nii-chan sudah tau semua itu Sasuke?"
"Dia tau. Dan karena itu aku ingin memaksamu untuk mengerti bahwa tinggal lembur sendirian di perusahaan bukan keputusan yang bijaksana, Hinata."
"Hai, hai."
Hinata tersenyum simpul dan mengamati perubahan wajah Sasuke yang akhir-akhir ini terlihat lebih tua dari seharusnya. Pria itu terlihat lelah. Kantung matanya menebal dan sorot matanya lebih tajam dari biasanya.
"Apa yang terjadi denganmu, Sasuke?"tanya Hinata. Tanpa sadar tangannya terulur mengelus pipi Sasuke yang mulai ditumbuhi cambang.
"Aku khawatir."
"Maafkan aku tidak banyak membantu."
"Bukan salahmu Hinata."
"Aku harap aku bisa sedikit berguna."
"Kau bisa selamat saja sudah membantu."
Netra berwarna lavender itu membulat. Wanita itu menatap Sasuke tidak mengerti. "Apa maksudmu, Sasuke?"
"Keselamatanmu prioritasku. Benjanjilah untuk tidak terluka, ne?"
Hinata tau apa yang dirasakannya saat ini tidak tepat. Jantungnya berdetak tidak normal dan seolah berontak ingin keluar dari dirinya. Tapi apa yang bisa dilakukan Hinata? Tanpa disadarinya pria ini sudah menggenggam keseluruhan rasa yang dimilikinya. Pria itu sudah menjadi penguasa hatinya.
"Tapi berjanji satu hal. Jangan pergi dari hidupku. Kau harus bersamaku sampai aku tidak memberimu kesempatan hadir di hadapanku. Kau mengerti Sasuke?"
"Aku tau. Dan aku senang mendengarnya."bisik Sasuke sembari menarik Hinata dalam pelukannya.
.
000
.
"TIDAK!"
Sakura memekik dan terbangun dari tidurnya. Naruto langsung turut bangun dan menyalakan lampu nakas. Pria kuning itu menatap Sakura dengan khawatir.
"Kau baik-baik saja Sakura?"
Wanita pink itu menangis. Kilasan adegan yang menghias mimpinya tidak baik. Memerlukan waktu 5 tahun baginya untuk melupakan semua mimpi buruk itu. Dan kini mimpi itu kembali. Ya Tuhan...
"Sayang ada apa?"tanya Naruto lagi. Kali ini pria itu menarik wajah Sakura mendekat. Memaksa wanita itu menatap matanya. "Kau selalu bisa mengandalkanku di saat yang seperti ini, kau tau?"
Sakura mengangguk. Tangannya terulur dan memeluk suaminya dengan mata yang terpejam. Berusaha menghirup wangi pria itu yang biasa menenangkannya. "Maafkan aku sudah mengganggu istirahatmu, Naruto. Aku hanya..."
"Bukan apa-apa."bisik Naruto lembut. Bibirnya mengecup lembut bibir Sakura dan kembali memeluknya. "Aku bisa kau andalkan dalam hal apapun. Kau tau itu kan?"
Sakura mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada sang suami. Dia sedih, gelisah, takut, dan butuh pelampiasan. Bibirnya menyentuh bibir Naruto. awalnya hanya sentuhan lembut. tapi semakin lama semakin menuntut. Membangkitkan gairah yang sejak tadi berusaha ditahan Naruto.
"Hei, easy darling. Aku tidak akan meninggalkanmu, Sakura. Tidak perlu memelukku sampai gemetar, Sayang."bisik Naruto sembari mengecup seluruh permukaan wajah Sakura. Pria itu melakukannya dengan lembut. Tau jika saat ini sakura sangat membutuhkan dirinya.
"Aku mencintaimu, Naruto. Aku mencintaimu."
Pria pirang itu tersenyum. "Aku tau."bisiknya lembut sembari melayangkan ciuman di telinga Sakura. Memanjang hingga ke leher wanitanya. Meninggalkan bekas ciuman di pangkal leher sakura. Tapi wanita itu tidak peduli. Sakura semakin menarik kepala Naruto mendekat. Menguasainya. Dia membutuhkan pengalihan dari semua rasa gelisah yang melandanya.
"Sakura, bolehkah?"ujarnya meminta izin.
"Aku milikmu, Naruto. Seluruhnya milikmu."
Naruto mengerang dan melancarkan aksinya. Mengkalim tubuh istrinya. Menciumnya dan memberi tanda di seluruh tubuh wanita itu bahwa Sakura adalah miliknya, hidupnya. Mereka bercinta hingga pagi menjelang. Keduanya berhenti ketika benar-benar lelah.
"Aku selalu bersamamu, Sakura. Bersamamu."bisik Naruto sebelum benar-benar tenggelam dalam mimpinya.
.
000
.
"Kau mendengarku? Ibu sudah menghilang sejak 50 jam yang lalu. Kami berusaha membuat polisi mendengarkan bahwa kondisi ini tidak biasa. Saat ini mereka memproses apa yang harus dilakukan. Tapi aku tidak yakin jika kita menyerahkannya sepenuhnya kepada polisi. Kau mengerti maksudku kan, Sasuke?'
Pria raven itu mengusap wajahnya dengan kesal. Belum lagi satu masalah selesai, sekarang dia harus menghadapi kenyataan bahwa ibunya sedang dalam bahaya. Mikoto mendapat kesulitan dan sebagai seorang putra, dia wajib untuk melindungi keluarga mereka.
"Hai, aku akan mencari cara untuk menemukan Ibu. Apa Ayah tau?"
"Apa aku berlebihan jika mengatakan bahwa Ayah yang memberitahuku bahwa ibu menghilang? Ayah sedang ada di rumah sakit Sasuke. Aku hanya khawatir hilangnya ibu akan memperparah kondisinya."
"Baik. Akan kuusahakan untuk melakukan sesuatu."
"Maafkan aku. Aku..."
"Itachi-nii, bukan kesalahanmu kalau sampai ada sesuatu dalam keluarga kita. Menjaga Ayah dan ibu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku juga turut andil dalam menjaga mereka. Kau tidak usah menempatkan semua kesalahan hanya padamu."
Sasuke mematikan poselnya dan menerawang ke arah jendela. Semua kejadian ini memang sesuai perkiraannya. Semakin sering dia berinteraksi dengan Namikaze, akan semakin banyak bahaya yang harus dihadapinya. Tapi Demi Tuhan! Sasuke tidak akan sanggup jika salah satu dari orang yang disayanginya terluka. Tidak lagi.
Tidak untuk Uchiha. Tidak juga untuk Namikaze. Dia akan pastikan bahwa siapapun yang melakukan semua ini akan menyesal.
.
000
.
"Hai douzo."
Hinata menyodorkan bento yang susah payah dibuatnya pagi ini pada Sasuke. Dan Hinata tidak yakin dengan rasanya. Ini pertama kalinya dia memasak dan dia harus merepotkan Sakura sepanjang pagi.
"Apa ini?"tanya Sasuke.
"Kau tidak lihat? Itu bento."
"Aku tau maksudmu. Tapi... bento? Kau membelinya?"
"Aku membuatnya sendiri, Baka."
Sasuke mengerutkan alisnya dan membuka bento itu perlahan. Senyum 2 milimeter terbit di wajah Sasuke. Bento teraneh yang pernah dilihat olehnya. Sushi yang tidak rapi dan sosis gurita yang terlalu matang (gosong). Telur gulung yang tidak terlihat rata, gosong dan.. dengan apa Sasuke harus menyebut potongan kecil-kecil gosong yang ditaburkan? Wijen gosong? Bawang goreng?
"Bentuknya memang tidak mengesankan. Ta.. Tapi... Kau harus menghargai usahaku memasaknya. Dan..."
"Kau boleh membuatkannya lagi kalau tidak keberatan. Itadakimasu."
Suapan pertama masuk ke dalam mulut Sasuke. Pria itu mengerutkan alisnya sesaat dan menatap kotak bento dengan tidak percaya.
"Sa...Sasuke... Bagaimana rasanya?"
Pria raven itu terkekeh dan menyuapkan sushi ke mulut Hinata. Kunyahan pertama, gadis itu tersedak. Matanya berair karena buruknya rasa masakannya.
"Bagaimana?"tanya Sasuke dengan tersenyum.
"Jangan dimakan Sasuke. Rasanya buruk." Hinata menarik tangan Sasuke. Air mata menetes dari sudut matanya.
"Daijoubu. Semua koki harus melewati kegagalan dulu sebelum bisa menciptakan makanan enak." Tangan pria itu meraih pipi Hinata dan mengusap air mata yang turun.
Sasuke mengangkat sumpitnya dan mulai memakan isi bento sekalipun sesekali pria itu terkekeh melihat ekspresi Hinata. Gadis itu adalah harta karun yang tidak akan bosan dilihat oleh Sasuke. Surprise box miliknya. Hanya miliknya.
.
000
.
"Aku tidak terlalu suka melihatmu berkeliaran seperti ini."
Shikamaru tersenyum masam sembari mengaduk kopinya yang tidak butuh diaduk. Sakura hanya mengernyitkan dahinya dan mulai menyendok parfait buah miliknya.
"Berkeliaran bukan kata bijaksana yang bisa diucapkan sahabatnya terhadap teman lamanya."
"Lalu kau sebut apa dengan ini?"
Shikamaru melemparkan beberapa foto yang menunjukkan aktivitas Sakura. Wanita itu seolah tengah mencari sesuatu yang sangat penting. Apa yang dilakukan seorang dokter di perusahaan rekan kerja Shikamaru?
"I...Itu..."
"Membahayakan hidupmu. Ada sesuatu yang kau cari tapi kau tidak mengatakan apa-apa pada Naruto atau siapapun yang ada di sekitarmu. Tindakanmu ceroboh sekali."
"Apa yang kau cari sebenarnya, Sakura?"
"Kebenaran."
"Tentang?" Shikamaru menghela nafas panjang. "Demi Tuhan kalau kau mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, aku akan memaksamu berhenti dari pekerjaan dan meminta Naruto untuk mengurungmu saja."
"Aku tau terlalu banyak yang ditutupi suamiku dariku, Shika. Termasuk kenyataan yang bahkan mungkin bisa menghancurkan keluarga kami. Ada orang yang amat jahat yang berniat mencelakakan kami semua. Aku bahkan harus menemukan fakta itu sendirian. Selain itu... Itachi memberi tahuku kalau sudah sejak 2 hari yang lalu ibunya menghilang. Tidak ada yang tau dimana keberadaan Bibi Mikoto. Kau tau itu menandakan apa?"
"Jangan katakan..."
"Dan kau MENYURUHKU DIAM SEMENTARA KELUARGAKU DALAM BAHAYA?!"
"Sakura..."
"Aku tidak akan membiarkan apapun yang terjadi pada orang yang aku cintai. Mereka sudah mengorbankan ayahku. Mereka juga membunuh ibuku secara tidak langsung. Dan jika sekarang mereka mengincar keluarga suamiku juga, maka aku tidak akan mengampuni mereka. Biar saja aku yang terluka asal... asal tidak ada lagi yang terluka. Kalau dengan kematianku aku bisa membayar semua kebahagiaan mereka, aku ikhlas."
"Sakura, dengarkan..."
"Tolong jangan cegah aku, Shika. Aku tidak ingin melihat siapapun terluka atau bahkan meregang nyawa di depanku. Tidak lagi."
.
000
.
Hikari bermain dengan akrab bersama Jiraiya dan juga Tsunade. Dua manusia lanjut usia itu terlihat amat terhibur dengan celotehan cerdas bocah tersebut.
"Dan selanjutnya Kaa-chan mengajakku ke kebun binatang. Aku suka sekali di sana. Ada banyak hewan dan juga makanan."
"Kau ingin kakek ajak ke sana lagi, um?"
"'Tentu!" Hikari bertepuk tangan dan menunjukkan senyumnya. "Aku sayang Jiraiya-jii."
"Kakek juga sayang padamu. Kau sangat menggemaskan."
"Nah, berhubung Nenek juga menyayangi kalian, Nenek membuatkan puding spesial. Ada yang mau?"
Hikari dan Jiraiya langsung berebut puding dan memakannya. Hikari bahkan tidak memedulikan pipinya yang belepotan puding dengan rasa jeruk itu.
"Nenek."
"Hm?"
"Aku sering melihat Jii-sama merindukan Baa-sama. Bahkan Jii-sama sering sekali tidur dengan memeluk foto Baa-sama ketika tidur. Aku juga sering melihat Tou-chan memeluk Kaa-chan. Paman Sasuke juga terlihat sering menepuk kepala Bibi Hinata. Sesekali juga aku melihat mereka berdua berpelukan. Tapi aku tidak pernah melihat kakek dan juga nenek melakukannya. Kenapa?"
Pertanyaan polos itu sontak membuat Jiraiya dan juga Tsunade tertunduk. Pipi mereka berdua memerah layaknya remaja yang sedang terpergok berkencan di dalam kelas. Konohamaru yang sejak tadi terdiam ikut tergelak. Dia tidak menyangka seorang bocah polos mampu meruntuhkan dinding 'kau hanya sebatas teman' milik mereka.
"Ayah..."
Konohamaru bersimpuh di samping Hikari. Matanya menatap lekat netra ayahnya. Bergantian dengan menatap Tsunade.
"Aku tidak keberatan. Dan aku juga sangat tahu kalau Nee-chan juga tidak keberatan kalau Ayah menikah dengan Tsunade-bachan."
Pemuda itu menyatukan tangan Ayahnya dengan Tsunade. Senyum hangat muncul di wajahnya seolah ingin menenangkan mereka berdua.
"Jangan konyol. Kami sudah tua dan..."kilah Tsunade yang langsung dipotong oleh Konohamaru.
"Aku bahagia jika Bibi mau menjadi ibuku. Kita akan menjadi keluarga yang sesungguhnya."
Tsunade menunduk. Jiraiya yang sejak tadi bungkam akhirnya menggenggam tangan wanita itu dan berbalik menatapnya. "Aku akan menanyakannya sungguh-sungguh Tsunade. Yah, aku tau ini terdengar bodoh. Tapi aku harus menanyakannya. Apa kau mau menikah denganku?"
.
000
.
"Sakura."
Naruto berusaha mengguncang bahu istrinya. Wajah kelelahan wanita itu mampu meruntuhkan segala lelah yang semua di rasakannya. Wajah Sakura cukup pucat dan terlihat sayu. Gurat kecemasan nampak dengan jelas bahkan ketika wanita itu tertidur. Dan satu hal yang membuat Naruto merasa bersalah adalah Sakura masih tetap menunggunya di sofa sekalipun kondisinya tidak cukup baik.
"Sakura?"
Kali ini wanita itu menggerakkan matanya dan berusaha membuka mata. Netra emerald itu terlihat jauh sekalipun ada di dekat Naruto.
"Maafkan aku. Tadi ketiduran. Aku bahkan tidak menyambutmu."ujar wanita merah muda itu.
"Bukan masalah. Kau terlihat kelelahan. Aku hanya tidak ingin mengagetkanmu dengan mengangkatmu ke dalam kamar kita."
"Jangan. Kau baru saja pulang dari Saga. Aku akan sangat keterlaluan kalau memintamu membopongku."
"Kalau begitu kita berjalan ke kamar bersama-sama."putus Naruto dengan senyum.
Sakura menggelengkan kepala dan mengusap lengan suaminya. "Aku akan menyiapkan teh hangat dan juga air hangat untukmu mandi. Akan kusiapkan makan malam juga."
Wanita itu berlalu. Meninggalkan Naruto dalam lamunannya. Sakura, bagaimanapun adalah wanita yang sempurna dalam banyak hal. Dia baik dan memiliki banyak sisi manusiawi. Tapi tetap saja, ada getar aneh yang meliputi benak Naruto. Terutama ketika Shikamaru memberinya ultimatum minggu lalu.
"Keluargamu dalam bahaya. Dan orang yang paling mungkin mendapatkan itu semua adalah istrimu. Kalau kau tidak mengawasinya dengan hati-hati, mungkin kau tidak akan bisa melihatnya lagi. Yang kumaksud disini, dia mungkin akan mati."
Apa ini pertanda kalau dia akan kehilangan wanita itu?
Naruto tidak tahan lagi. Pria itu berjalan menuju dapur dan menghampiri istrinya. Dipeluknya Sakura dari belakang sembari menggumamkan doa yang sudah lama tidak dirapalkannya. Dalam kekalutan pikirannya, Naruto berbisik.
"Kumohon jangan tinggalkan aku, Sakura. Aku mungkin akan hancur kalau itu terjadi."
.
000
.
"Hikari, ayo jalan. Kenapa kau melihat ke arah sana terus?"tanya Sakura gemas. Bocah itu tidak fokus mengikuti arahan Sakura untuk pulang. Kepalanya malah terpaku ke arah gang sempit di seberang jalan.
"Kaa-chan..."
"Ne? Ada apa?"
"Aku melihat nenek yang dulu pernah menolongku ketika tersesat di kebun binatang."
Sakura mengerutkan dahinya dan menatap ke arah pandang putranya. Dia melihat sosok wanita yang memiliki postur sama dengan Mikoto tengah di tarik menjauh.
"Nenek?"
"Iya. Dia pernah menolong Hikari. Bukankah itu nenek yang sering dibicarakan dengan Paman Sasuke?"
Tangan wanita itu lincah memencet nomor Sasuke dan berjalan menuju pria yang menyekap Mikoto. Mengirim koordinat GPS dan mengantarkan Hikari ke pos polisi terdekat dengan cepat. Setidaknya Hikari akan aman jika dia berniat mengejar orang yang membawa Mikoto.
"Tunggu Kaa-chan di sini dan jangan coba-coba mengejar Kaa-chan. Kaa-chan akan menemuimu lagi setelah Kaa-chan membawa Nenek yang menolongmu waktu itu."
Bocah pirang itu mengangguk dan melambaikan tangan pada Sakura. Satu masalah selesai. Dia harus bersiap dengan apapun yang akan terjadi. Sakura tau ini konyol. Tapi menyelamatkan Mikoto adalah salah satu tanggung jawabnya. Tidak seharusnya wanita penuh kasih sayang seperti Mikoto terjebak dalam masalah seperti ini.
.
.
Sakura memastikan Sasuke sudah membawa pasukan polisi untuk menyekap pabrik terbengkalai di selatan Kota Tokyo itu sebelum mencoba masuk dan menyelamatkan Mikoto. Selama paling tidak 2 jam ini dia mengamati gerak-gerik sekumpulan pria berbadan besar yang menjaga pintu pabrik.
"Aku akan mencoba masuk lewat jendela. Kau nanti menyusul dan memastikan mereka semua tertangkap. Mengerti?"
Bisik Sakura dalam telpon yang langsung diputusnya. Dia tidak boleh ketahuan. Dia berdoa tidak akan ada orang yang menyadarinya masuk.
Tidak sesuai yang diperkirakan Sakura, kondisi gudang juga dijaga dengan cukup ketat. Sakura berusaha memutar otaknya dan merekam kondisi gudang agar terdapat bukti. Dia tau ini beresiko. Tapi dia harus bisa mengendalikan dirinya agar bisa melakukan sesuatu.
Setelah bukti dirasa cukup, wanita cantik itu berjalan mendekati Mikoto yang tengah diikat. Penjagaan di sekitar wanita paruh baya itu tidak seketat penjagaan di pintu.
"Bibi Mikoto."bisik Sakura. Menyadarkan wanita paruh baya itu dari teror yang dirasakannya. Mata Mikoto terbelalak ketika tahu siapa yang menyelamatkannya. Sesekali wanita berambut gelap itu menggelengkan kepala seolah menolak ditolong. Air mata keluar perlahan dari kedua bola matanya.
"Aku akan membawa Bibi pulang. Sasuke sedang dalam perjalanan."
Dengan cekatan, wanita itu menarik simpul tali yang mengikat Mikoto. "Setelah ini Bibi harus pura-pura terikat sampai aku menemukan cara bagaimana penjagaan mereka dapat berkurang."
Mikoto hanya mengangguk sementara Sakura kembali menjauh. Berjaga-jaga dengan mengawasi para penculik itu. Total jumlah mereka ada 6. Jika dia ingin melumpuhkan mereka, dia perlu pengalihan dan tenaga yang ekstra. Beruntung dulu dia pernah mengikuti bela diri. Tapi dengan kekuatannya yang sekarang, apakah dia sanggup?
"Well, tidak ada salahnya kau mencoba pink."bisiknya. Sakura melemparkan botol kaca ke arah yang berlawanan dengan dirinya.
"Suara berasal dari sana!"pekik salah satu pencuri bertubuh dempal. Ke 6 pria yang berjaga itu berlari. Mengejar tempat yang direncanakan Sakura.
Sakura menyambut itu sebagai sebuah kesempatan. Dia berlari menuju Mikoto dan memapahnya menjauh.
"Mau kemana kau, Nyonya Namikaze?"
Sakura berbalik. Netra emerald miliknya terbelalak ketika mendapati sosok pria dengan wajah seram dan bertubuh dempal. Kilasan masa lalu yang menyakitkan berputar di kepala Sakura.
.
.
"Jangan sakiti ibuku, Paman!"
"Diam kau!"
Pria itu dengan bengisnya menginjak tangan sang Suzuna Haruno hingga bunyi 'krak' keras tanda ada bagian tulang yang patah terdengar.
"Kau terlalu banyak ikut campur!"
"Paman jangan sakiti Ibuku!"teriak Sakura sembari memegangi kaki pria itu. Berharap kaki itu tidak menimbulkan luka lain di tubuh ibunya.
"AH! Persetan dengan bocah tengik sepertimu! Enyah kau!"
BRUUAKK
Sakura terpelanting hingga beberapa meter. Kepalanya membentur tiang tambatan kapal.
"Haruno harusnya mati! Terkubur dalam peti mati! Kalian selalu menghalangi langkahku!"
Gadis merah muda itu merasa tubuhnya terangkat. Pria itu menjambak rambutnya dan menggiringnya hingga ke tepi laut. Dan tanpa belas kasihan, pria itu menenggelamkan wajahnya ke dalam laut. Sesak. Sakura merasa ada bagian dari air laut yang masuk ke paru-parunya.
"Tidak! Jangan sakiti putriku. Aku saja! Kumohon!"teriak Suzuna.
Sirine polisi menggaung. Pria itu melepaskan cengkramannya pada rambut Sakura. Menarik tubuh gadis kecil itu ke tepi sembari mengumpat.
"Save by the bell. Lain kali akan kupastikan hidupmu berantakan, Haruno."
.
.
"Ah... apa harus kupanggil kau Nona Haruno?"
Sakura menggenggam tangannya erat. Berusaha melawan kemarahan sekaligus nyeri yang menyerang kepalanya. Semua kecurigaannya terhubung. Banyak hal. Terlalu banyak hal dalam kejadian bangkrutnya sang suami yang terhubung dengan pria menjijikkan di hadapannya ini.
"Aku bukan lagi gadis kecil naif yang dulu kau lukai."
"Begitu? Lalu bagaimana kau bisa bertahan dengan membawa wanita sekarat itu dan juga tubuh mungilmu jika kau berhadapan dengan 12 pria sekaligus?"
Tepat setelah kalimat penuh intimidasi itu berakhir, beberapa pria bertubuh besar muncul. Beberapa menampakkan diri dari tumpukan sejumlah barang tak terpakai, dan sisanya muncul secara tiba-tiba.
"Bibi Mikoto, maafkan aku. Kumohon bertahanlah."bisik Sakura setelah meletakkan Mikoto di lantai.
"Jangan."cegah Mikoto.
"Aku janji Bibi akan pulang."
Sakura berjalan menuju kerumunan pria itu. Dia sudah memasang kuda-kuda untuk menyerang.
"Bunuh wanita itu, sekarang!"
3 pria sekaligus maju dan berusaha menghantamkan tongkat besi ke arah Sakura. Wanita itu berhasil menghindar dengan lincah dan memukul telak 2 pria berbadan besar itu hingga keduanya terhuyung. 1 pria lagi berusaha melayangkan pukulan lagi dan berhasil dihindari.
Suara pistol pun membahana. Sakura, dengan masih menghindari pukulan, berusaha menjaga agar Mikoto tidak terluka. Dia tidak tau sampai kapan dia berusaha menghindar tanpa perlawanan. Jumlah ini terlalu banyak untuk dihindarinya.
"Bos! Ada polisi datang!"
Seorang pria dengan wajah licik dan tubuh yang lebih kecil dari tubuh para pria yang tengah melawan Sakura berlari dengan tergopoh-gopoh.
"Lepaskan dia! Pakai rencana B dan jangan munculkan batang hidung kalian sampai aku memberi intruksi lanjutan."perintah pria berwajah mengerikan itu.
"Cih, ketakutan pria tua?"ejek Sakura. Sudut bibirnya mengeluarkan darah setelah mendapat hantaman tak terelakkan dari salah satu penyerangnya.
"Tidak. Tapi aku ingin memperingatkanmu satu hal. Kau ingin selamat, jangan ikut campur. Kalau satu kali lagi aku melihatmu terlibat, kau dan seluruh Namikaze akan menerima akibatnya."
"Kalau kau berhasil membunuhku, akan kupastikan aku juga akan menguburmu di tanah pria tua."maki Sakura dengan penuh kemarahan. Bayangan ibunya yang sekarat. Bayangan keluarganya yang hancur sejak polisi membawa pergi ayahnya berkelibat.
"Coba saja." Pria itu tersenyum licik. "For once again, you save by the bell."
DOR!
Suara letusan senjata api itu menggema. Sakura tidak menyadari sesuatu sampai dia merasa ada aliran hangat merembes di lengan kirinya. Lengan yang sejak setelah perkelahian tadi terasa kebas.
Pria tua itu menghilang seolah telah tertiup angin bersamaan dengan gelak tawa jahat yang turut menggema.
Perlahan, kegelapan menggerayangi pandangan Sakura. Tubuhnya terasa lemas. Wanita musim semi itu terjatuh sebelum kesadarannya menghilang.
"Sakura! Sakura!"
"Sa... Sasuke?"
"Tidak. Tolong jangan tutup matamu. Buka matamu sekarang! Sakura!"
.
000
.
Naruto berlari kencang. Menghampiri resepsionis dengan mata penuh kekhawatiran.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?"
"Namikaze Sakura! Sebutkan dimana kamarnya!"
"Tunggu sebentar. Kamar nomor 602 Tuan."
"Thank's."
Tanpa menunggu waktu, Naruto berlari menuju kamar yang dimaksud. Hinata yang sejak tadi berusaha mengejarnya tidak kalah khawatirnya. Siang tadi dia ditelpon oleh polisi kalau seorang wanita tengah menitipkan anak kecil di pos mereka. Setelah menjemput anak kecil yang dimaksud, Hinata tau ada yang salah. Apa yang terjadi sampai kakak iparnya menitipkan Hikari di pos polisi terdekat? Kemana kakaknya itu?
Semua pertanyaan tidak nyaman yang mengganggunya terjawab ketika Sasuke menghubunginya dan mengatakan Sakura dan dia tengah berusaha untuk menyelamatkan Bibi Mikoto, calon mertuanya.
BRAKK!
Pintu rawat inap terbuka secara kasar dan Naruto masuk. Disusul Hinata yang berwajah pucat pasi. Kedua Namikaze itu tertegun ketika mendapati Sakura tengah duduk dengan tangan kiri di gips dan beberapa luka lebam tampak di wajah wanita musim semi tersebut.
"Kami-sama."bisik Naruto nyaris seperti doa. Pria itu langsung berlari dan memeluk erat istrinya. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terluka sampai seperti ini?"
"Sakura berusaha menyelamatkan ibuku. Berkat Hikari. Maaf aku tidak cukup cepat sampai dia terluka."terang Sasuke. Ekspresi muram dan sarat akan rasa bersalah nampak di wajah Sasuke.
"Kau...apa kau tidak terluka Sasuke? Tolong katakan kalau kau baik-baik saja."tuntut Hinata dengan cemas.
"Aku baik. Kau lihat?" Sasuke merentangkan tangannya dan tersenyum.
Hinata tidak bisa menahan dirinya. Wanita indigo itu merengkuh tubuh Sasuke erat. "Kupikir aku kehilanganmu."
"Aku bersamamu."bisik pria raven itu sembari membalas pelukan Hinata.
Gadis indigo itu tidak mampu menahan tangisnya lagi. Segalanya tumpah menjadi satu setelah kekhawatiran panjang yang dialaminya selama beberapa jam sebelumnya. Jika Sasuke tidak selamat... Demi Tuhan! Itu adalah hal terakhir yang bisa ia pikirkan.
"Jangan menangis Hinata. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi pria sepertiku."
"Ta...Tapi... Kalau kau melakukan hal seperti ini lagi, aku janji aku yang akan membunuhmu."
Sasuke terkekeh dan semakin mengeratkan pelukannya pada Hinata. Gadis indigo kesayangannya. Gadis yang selama beberapa bulan ini menggeser posisi Sakura dari hatinya. Gadis yang membuatnya merasa sebagai pria paling beruntung di dunia.
Naruto melirik ke arah Sakura dengan khawatir. Pria kuning itu mencemaskan kondisi istrinya. Tapi jauh di dalam hatinya dia lebih mencemaskan tanggapan Sakura atas keintiman adiknya dengan mantan kekasih istrinya itu. Tapi Naruto tidak melihat apapun di mata Sakura. Wanita itu bahkan hanya menatap kedua netra birunya seolah hal lain di dunia ini bukanlah hal penting selain keberadaannya.
"Maafkan aku, Anata. Kumohon?"bisik Sakura. Sembari mengecup sudut pelipis Naruto. Tangannya mengalung pada leher suaminya seolah itu adalah hal yang dapat membuatnya bahagia selamanya.
"Maaf untuk apa, Sakura?"
"Aku tidak suka membuatmu khawatir seperti ini, Naruto. Gomen."
Naruto hanya mengangguk dan memeluk Sakura kembali. "Jangan membuatku takut lagi. Kau tidak tau betapa menderitanya aku ketika membayangkan kau meninggalkan aku selamanya Sakura. Rasanya seperti mati."
"Jangan bicara hal buruk di depanku, Naruto."
"Aku tau, maafkan aku."
Sakura tersenyum dan mengangguk penuh semangat. "Maafkan aku juga. Aku mencintaimu Naruto. Sangat mencintaimu."
Naruto semakin mengeratkan pelukannya sebagai jawaban. Perasaannya kali ini tidak bisa digambarkan oleh kata-kata. Sakura miliknya. Dia tidak akan membaginya pada siapapun bahkan pada kematian.
.
000
.
"Ayah, aku mendapat telpon dari Naruto-nii kalau kondisi kakak saat ini baik-baik saja. Kakak tidak ingin dijenguk sekarang. Ayah dan Bibi Tsunade bisa tenang kan?"
Jiraiya mendengus lega dan mengistirahatkan kepala pada sandaran sofa. Dia nyaris seperti orang gila ketika Konohamaru memberitahu Sakura terluka.
"Syukurlah. Aku cemas sekali tadi."gumam Tsunade. "Ini entah sudah keberapa kalinya dia membuatku seperti ini."
"Tsunade."
"Hm?"
"Apa putriku terlibat dengan 'mereka'?"
Wanita pirang itu mengerutkan kedua alisnya. "Apa maksudmu?"
"Aku sangat tau kau mengerti maksudku. Dan kalau memang benar putriku terlibat dengan apa yang kukhawatirkan, putriku benar-benar dalam bahaya."
.
000
.
Ino menatap ponselnya dengan cemas. Sudah 2 hari ini dia mencoba untuk mendapat izin dari Sakura untuk menjenguk. Tapi gadis pink yang sayangnya adalah sahabatnya itu menolak. Sakura beralasan dia hanya ingin istirahat.
"Dia lupa siapa sahabatnya. Dia lupa bagaimana aku bisa sangat khawatir kalau sudah seperti ini."gumam Ino frustasi.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju kedai milik Kiba. Dia ingin mengobrol banyak dengan Tenten dan melupakan semua hal yang membuatnya jengah belakangan ini.
Dan Ino harus menyimpan kemarahannya ketika melihat para sahabatnya berkumpul di kedai milik Kiba. Ya Tuhan! Apa mereka melupakan keberadaan Ino juga? Mengapa mereka berada di sini tanpa mengabari dirinya?
"Aku ingin memastikan Sakura aman. Kau mengerti kan Karin?"
"Aku tau. Akan kucoba. Masing-masing dari kita sudah memahami resiko dari tugas masing-masing. Aku harap setelah ini apa yang ingin kau dan juga Sasuke buktikan benar-benar terbongkar."
"Tapi bukankah di sini kita sedikit keterlaluan? Kita hanya..."
"Kalian hanya melupakan keberadaanku."ujar Ino lantang yang langsung menghentikan pembicaraan.
Karin menoleh. Dan bahkan Gaara tidak terlihat terganggu dengan kehadiran Karin seperti ketika mereka bertemu di pinggir jalan. Kiba tidak sedang menghadap kompornya. Sementara Tenten berhasil menidurkan putrinya tanpa meninggalkan meja pembicaraan. Dan Shikamaru... pria nanas itu bahkan tidak melirik keberadaan Ino.
"Oh hai. Kau datang."sapa Tenten salah tingkah.
"Ya. Akhirnya aku datang. Hampir 20 tahun aku mengenal kalian dan kalian mengabaikanku bahkan untuk urusan yang memiliki kaitan dengan sahabat baikku. Aku sangat yakin aku tidak dibutuhkan."papar Ino dingin.
"Bu...Bukan begitu. Kau hanya salah paham Ino. Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kami..." Karin berusaha menjelaskan. Namun kalimatnya sia-sia karena Ino sudah memotongnya.
"Memangnya apa yang kupikirkan? I'm just the outsider. Lanjutkan saja."
Ino berbalik dan meninggalkan kedai tanpa menoleh.
"Shit!" bisik Gaara yang langsung mengambil langkah mengejar Ino. Gadis itu sudah salah paham.
"Shika... Ino bagaimana?"tanya Tenten dengan wajah khawatir.
"Biarkan saja."balas Shikamaru datar. Pria itu meminum tehnya dan menerawang menembus dinding. Seolah acuh dengan orang-orang yang ada disekililingnya.
"Tapi bagaimanapun ini salah. Kita membicarakan Sakura tanpa melibatkan Ino."protes Kiba.
"Kita bertemu di tempat ini tanpa sengaja. Kita membicarakan Sakura karena hal ini sudah genting."kilah sang nanas dengan ekspresi datarnya.
"Shika." Karin menghembuskan nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku yakin kau memahami apa yang terjadi antara aku dan Gaara. Dan aku yakin kau juga tau bahkan dalam hubungan kami yang kacau ini tidak ada perasaan yang terlibat. Hanya aku yang mencintainya dan tidak dengannya. Tapi kami berdua membiarkan kesalahpahaman larut dan menjadi sesuatu yang menghancurkan kami.
"Dan bagaimana denganmu? Bukankah kau menyukai Ino dan Ino menyukaimu? Apa kau ingin menghancurkan banyak hal dalam hubungan kalian?"tanya Karin.
Shikamaru tetap bungkam. Hanya kerutan pada alisnya yang menampakkan dia memikirkan setiap kalimat yang dicapkan Karin.
"Aku hanya ingin kau tidak menyesalinya. Cukup aku dan Gaara. Dan bahkan Sasuke-Sakura dulu. Kau tidak perlu merasakan hal yang sama kan?"
.
000
.
Sakura menatap jendela kamarnya mendapat perawatan intensif. Kamarnya berada di lantai 6. Pemandangan malam Tokyo terlihat amat jelas dari sini. Indah sekaligus jauh. Seperti bagaimana Naruto menganggap keberadaannya. Dekat namun jauh.
"Aku bersyukur kamar Rumah Sakit ini tidak memiliki balkon. Melihatmu menatap dunia sampai seperti itu membuatku khawatir kau akan jatuh, Sakura."gurau Naruto sembari memeluk pinggang istrinya erat. Berhati-hati agar tangan Sakura yang diberi gips tidak terganggu oleh perlakuannya.
"Bulannya terang sekali. Aku merasa nyaman memandanginya. Terlebih kalau kau tidak melepas pelukanmu seperti ini. Pelukanmu adalah tempat ternyaman yang ada di dunia, kau tau?"
Naruto tersenyum dan mendaratkan kecupan di dahi Sakura. "Kau lebih indah dari bulan itu."
Sakura terkekeh dan memukul pelan tangan Naruto yang melingkar erat di perutnya. "Jangan mengucapkan sesuatu yang tidak jujur seperti itu Naruto."
"Gomen. Tapi aku tidak berbohong soal betapa cantiknya dirimu, Sakura."
Wanita musim semi itu membalikkan tubuhnya hingga membalas tatapan Naruto. "Kau mungkin semua jawaban dari doa yang dulu sering kupanjatkan, Naruto. Mencintaimu sampai membuatku takut aku bisa kehilanganmu."
Naruto terpaku dengan kalimat yang dilayangkan istrinya. Tangannya menangkup pipi sang istri dan mendekatkan dahinya pada dahi Sakura. Perlahan, pria pirang itu mendaratkan ciuman pada bibir Sakura. Melumat pelan bagaikan tengah melakukan minuet dansa.
"May I have the dance with you?"tanya Naruto setelah melepaskan ciumannya. Tubuhnya merunduk sedikit. Tangannya terulur menunggu tangan Sakura menyambutnya.
"Kau ingin mengejekku, ne? Tangan kiriku diberi gips dan kau mengajakku berdansa."keluh Sakura dengan tawa. Namun toh tangan kanannya tetap menyambut uluran tangan Naruto.
"Tidak. Aku melakukannya karena memang ingin, Sakura."
"Begitu?"
Naruto mengangguk dan mengeluarkan ponselnya. Memutar salah satu lagu lama favoritnya. Can't help fallin' in love with you- Elvis Presley. Tangannya bergerak lembut. Memosisikan Sakura untuk dansa pertama mereka.
"Ladies and gentlemen I present you Mrs and Mr Namikaze."bisik Naruto. "And for very first time, we dance." Tambahnya dengan tatapan teduh yang menyejukkan.
"Don't wake me up if it just a dream. Let me to stay forever with this beautiful world. Just me and you."
"Hikari?"
"Dan Hikari juga Naruto."
Keduanya terkekeh sebelum kembali larut dalam dansa dan lagu yang mengalun. Lagu yang seolah telah mempresensikan perasaan cinta dalam hubungan mereka.
.
Wise man say
Only fools rush in
But I can't help fallin' in love with you
Shall I stay
Would it be a sin
If I can't help fallin' in love with you?
Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand
Take my whole life too
For I can't help fallin' in love with you.
...
Naruto mendekatkan wajahnya. Merasakan aroma cherry yang khas dari nafas Sakura. Bibirnya bergerak perlahan melumat bibir istrinya. Sementara kedua tangannya semakin merengkuh erat tubuh sang istri. Nyaman dan hangat. Dapatkah perasaan ini bertahan hingga selamanya?
"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, Naruto."bisik Sakura layaknya tengah merapal doa. Pria pirang itu hanya tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.
Bulan semakin nampak terang. Mengiringi sepasang suami istri itu dalam keheningan yang menyatukan. Tak ubahnya kata, sikap yang manis akan membuat sebuah hubungan semakin erat. Hanya waktu yang boleh mengatakan apa yang akan terjadi dengan kisah mereka berikutnya. Tidak sekarang. Namun nanti. Dan dalam keheningan manis itu, Sakura tidak berhenti berdoa agar dia masih diberi kesempatan untuk menemani Naruto hingga dia tidak sanggup lagi.
.
000
.
Sasuke menikmati hembusan angin dari atap kantornya. Menikmati kesendirian dalam pikiran sembari menatap langit kota Tokyo membuatnya tenang. Semua masalah yang belakangan ini mengganggunya seolah lenyap. Hal yang lebih penting lagi, ibunya selamat dan dia bisa melanjutkan janjinya untuk menjaga Namikaze. Tidak, lebih tepatnya menjaga Hinata-nya.
"Aku ingin mengajakmu pulang tapi kau terlihat sangat nyaman di sini Sasuke."usik Hinata lembut. Tangan Hinata menyentuh lembut tangannya. Menyadarkan Sasuke dari keheningan yang sedari tadi membungkusnya.
"Kau belum pulang?"
"Bukankah kau berjanji akan mengantarku pulang setiap hari?"
Sasuke menampakkan senyum 2 milimeternya dan menatap Hinata intens. "Akan kulakukan sampai kau bosan."
Hinata tersenyum dan menggenggam tangan pria itu. Tangan besar yang diluar dugaan, terasa hangat dan nyaman. "Kau akan terus melakukannya sampai salah satu dari kita tidak lagi bernafas Sasuke. Akan kupastikan itu."
Sasuke mendengus geli dan merangkul bahu Hinata. "Melihatmu menggemaskan begini, aku jadi ingin berdansa."
Wanita bermata lavender itu mematung. Kalimat penuh ekspresif pertama yang diucapkan pria raven itu. Dan hebatnya, kalimat itu cukup panjang.
"Tentu saja aku mau."ujar Hinata penuh antusias.
Sasuke hanya terkekeh dan memosisikan Hinata dalam rengkuhannya. Mereka berdansa ringan tanpa iringan musik. Tapi terasa begitu menenangkan.
"Ini dansa teraneh yang pernah kulakukan. Dan demi Kami-sama. Tanpa musik?"gurau Hinata.
"Kau ingin aku bernyanyi?"
"Boleh. Hitung-hitung sebagai pengiring dansa pertama kita ini."
Pria raven itu tersenyum lagi. "Aku hanya bisa satu lagu. Dan aku tidak pandai bernyanyi. Kau berjanji tidak akan pingsan mendengar suara burukku kan?"
Hinata terkekeh. "Tidak akan."
.
Wise man say only fools rush in
But I can't help fallin' in love with you
Shall I stay
Would it be a sin
If I can't help fallin' in love with you?
Like a river flows
Surely to the sea
Darling, so it goes
Some things are meant to be
Take my hand
Take my whole life too
For I can't help fallin' in love with you.
.
Hinata mengeratkan genggaman tangannya pada bahu Sasuke. Pria itu tidak memiliki suara paling indah di Jepang. Pria itu hanya menyanyikan sesuatu yang menyentuh jauh ke dalam hatinya.
"Kau merubah banyak hal Hinata. Apa kau bisa memercayaiku hingga akhir?"tanya Sasuke dengan mata dinginnya.
"Akan kucoba. Aku ingin lebih dekat denganmu. Lebih dekat dengan apapun yang membuatku terikat denganmu."bisik Hinata.
Sasuke tersenyum. Wajahnya semakin mendekat ke arah Hinata. "Bertahanlah untukku. Cintai aku sampai kau tidak sanggup lagi."
"Kita akan memiliki banyak waktu untuk melakukannya."
Tiba-tiba Hinata merasa pening. Nafas Sasuke menerpa wajahnya. Aroma lembut yang sangat khas milik pria itu membuat Hinata tak kuasa menjauhkan dirinya. Dan tibalah satu hal yang biasa dilakukan pasangan dimabuk asmara.
Sasuke menciumnya.
Ini bukan jenis ciuman penuh gairah seperti ciuman yang sering Hinata lihat ketika teman-temannya berkencan. Ini bukan jenis ciuman remaja penuh hormon yang seolah ingin memakan bibir pasangannya. Sasuke hanya menempelkan bibirnya. Menekan lembut penuh perasaan sehingga Hinata merasa tidak ada hal yang lebih membahagiakan dari ini.
"Kalau bukan karena masalah keselamatan keluargamu yang genting saat ini, aku akan memintamu menikahiku sekarang, Hinata."bisik pria raven itu dengan senyum 2 milimeternya.
Hinata bersumpah, dia tidak pernah melihat laki-laki setampan pria yang dihadapannya saat ini. Dan senyum 2 milimeter itu kali ini sukses membuat jantungnya seolah lupa ritme normalnya. Nafasnya tercekat dan pipinya memanas. Ya Tuhan!
.
000
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Olaa minna. Chiyo desu. Gomennasai atas keterlambatan update yang diluar ekspektasi. Sebelumnya, Chiyo juga mau minta maaf buat fans SasuHina. Adegan di sini SasuHina nya nggak begitu banyak. Tapi tetap ada dan kerasa sweet kan? harap bersabar karena saya akan selalu memasukkan adegan SasuHina di setiap chap dalam porsi yang lebih banyak dari pair lain selain NaruSaku.
Perlu kalian ketahui, SasuHina memang salah satu main pair di sini tapi porsinya tetap lebih banyak NaruSaku karena NaruSaku memang Pair Utama. Pair SasuHina sejak awal saya hadirkan sebagai pair yang membantu menyelesaikan permasalahan pelik dalam keluarga mereka. Catatan buat penggemar Sasuke, saya mau tegaskan lagi Sasuke itu bukan orang yang saya korbankan buat pair NaruSaku. Dia tokoh yang menyelesaikan banyak hal di cerita ini. Posisinya bahkan lebih penting karena dia yang bahkan 'mengurai' konflik yang sudah kelihatan semakin jelas. Buat beberapa adegan yang menggambarkan Sasuke masih merasakan sakit ketika lihat kebersamaan NaruSaku, well, saya cuma mau membuatnya terlihat realistis. Kenapa? Karena cinta itu nggak akan bisa hilang dalam sekejap mata. Mau move on pun butuh waktu. Lagipula, tokoh Hinata di sini diceritakan belum pernah jatuh cinta. Proses interaksinya dengan Sasuke lah yang menghadirkan perasaan di antara mereka berdua. Cinta yang hadir karena keterbiasaan.
Dan untuk fans NaruSaku, adegan romantis nggak bisa ada di setiap chapter ya kawan. Karena ada masalah di antara mereka yang perlu terselesaikan. Untuk beberapa chap berikutnya, interaksi mereka nggak akan sebanyak chap sebelumnya. Kenapa? Bom Konflik di chap 15 yang menjawab. Jadi, harap bersabar.
Sekian cuap-cuap dari saya. Doumo arigatou atas perhatiannya. Jaa matta ne, minna. :)
