Disclaimer : Yuri on Ice not mine
Rage by Cyancosmic
Warning: AU, Fem!Yuuri, Fem!Yura, OOC, 1st pov
.
.
.
Enjoy!
Yuuri : Hurt
"Mau ke mana, Yuuri?"
Kakiku berhenti melangkah ketika mendengar suara seseorang yang tak jauh dariku. Tak berani bergerak, aku pun mematung di tempat, berpegangan pada pintu geser yang telah susah payah kubuka sembari mencengkeramnya erat-erat. Kugerakkan kepalaku, mencari sumber suara yang ternyata tengah berjalan mendekat.
"V-Viktor!"
Pemuda berambut kelabu itu hanya mengangkat alisnya saat mendengarku menyebut namanya. Ia mengarahkan kedua tangannya padaku dan mengangkatku sebelum aku bisa memrotesnya. Ketika aku sudah berada di kedua tangannya, pemuda itu pun kembali berkata, "Kan sudah kukatakan, sebaiknya Yuuri tidak banyak bergerak."
"A-aku…"
"Yuuri mau ke kamar mandi?" Ia bertanya sembari berputar mengarah ke kamar mandi yang ada di ujung ruangan. "Biar kuantar!"
"T-tidak, bukan itu," ujarku sedikit meringis karena pemuda ini tahu-tahu saja sudah melangkahkan kaki melewati ruang tengah di sebuah penginapan yang kami sewa untuk semalam. Untung saja aku menghentikannya karena niscaya pemuda ini pasti akan sungguh-sungguh menungguiku di kamar mandi bila aku mengatakannya. Sebagai gantinya, aku pun berkata, "A-aku haus. Aku ingin mengambil air."
"Ah!" Ia mengangkat kepalanya, mengerti maksudku. Pemuda itu pun kembali berputar, menuju ke ruang tengah dan mendudukanku di salah satu bangku sebelum mengambilkan sebuah gelas dan mengisinya dengan teh. "Silakan!"
"Terima kasih," ucapku sembari menerima gelas berisi teh yang ia berikan. Aku tidak memikirkan rasa teh nya karena buru-buru kuhabiskan. Begitu isi gelas sudah kosong, aku pun hendak beranjak dari bangku dan kembali ke kamarku, sehingga aku berkata, "Kalau begitu aku permisi dulu."
Viktor tidak menghentikanku kali ini. Ia tetap duduk diam di tempatnya sembari memutar-mutar gelas yang sebelumnya kuminum. Sikapnya membuatku mengerutkan dahi. Apakah ada sesuatu yang membuatnya kehilangan keceriaannya?
Melihat sikapnya yang lebih tenang dari biasanya, aku pun tidak jadi bangkit berdiri dan pergi. Aku kembali meletakkan kedua tanganku di atas paha, duduk diam dan manis sambil menunggu. Aku menunggu hingga kedua iris tosca itu kembali menaruh perhatiannya padaku dan tersenyum sembari berkata, " Ada apa? Yuuri tidak bisa tidur?"
Aku tidak menggeleng atau pun mengiyakan. Aku hanya diam sembari menatap pemuda yang hanya memutar-mutar gelas di tangannya. Sembari mengamati gelas, aku pun akhirnya berkata, "Kau sendiri… tidak bisa tidur?"
Mendengar pertanyaanku, pemuda berambut perak kelabu itu terdiam yang tadinya tengah memutar-mutar gelas langsung berhenti dan ia pun berkata, "Tidak bisa tidur."
"Ada…apa?"
"Karena…," ujarnya sambil menggerakkan kepalanya ke arahku, "Yuuri tidak ada di sampingku, makanya aku tidak bisa tidur."
Ucapannya membuatku menggerakkan kepala. Tahu bahwa percuma saja mengkhawatirkannya, aku pun akhirnya mengalihkan perhatianku. Beberapa saat aku hanya duduk diam, namun ketika pemuda itu hanya tertawa geli di sampingku, aku pun hendak beranjak dari tempatku dan kembali ke kamar. Sayangnya, pemuda itu memegangi tanganku dan menahanku di tempat.
"Aku sungguh-sungguh!" Ia berkata sambil menatapku dengan kedua iris biru toscanya. "Aku tidak bisa tidur dengan tenang kalau Yuuri tidak ada di sampingku."
"Kau bercanda lagi, Viktor!" Kucoba untuk tersenyum sembari mengingatkan bahwa ucapannya hanya sebuah candaan.
"Sudah kukatakan, Yuuri," ujar pemuda itu sembari mengambil tanganku dan menyentuhkannya ke wajahnya sendiri. Ia memejamkan mata saat jemariku menyentuh wajahnya. "Aku sungguh-sungguh. Semua yang berhubungan dengan Yuuri selalu kutanggapi dengan sungguh-sungguh."
Melihat sikapnya yang sudah kembali seperti biasa, aku pun tahu bahwa ini saatku untuk mundur. Karena itu dengan sedikit gugup aku pun berkata, " A-aku… aku… aku sebaiknya tidur dulu. S-Selamat malam, Viktor!"
"Mau bukti?" Pemuda itu malah kembali bertanya seolah tidak mendengarkan ucapanku sebelumnya. "Aku bisa menunjukannya pada Yuuri."
Aku mengernyitkan dahi, namun kali ini kakiku tidak melangkah. Aku tetap diam di tempatku, membiarkan pemuda berambut kelabu itu membawa kedua tanganku ke wajahnya di mana terdapat sebuah luka guratan di sana. Luka guratan yang baru saja tercipta beberapa jam yang lalu.
"Jangan mendekat!" Pria yang menodongkan senjatanya di pelipisku menarikku semakin mendekat padanya. Dengan kaki yang sulit digerakkan, aku hanya dapat bertumpu pada tangannya yang menjepit leherku. Sepertinya ia sudah salah memilih tawanan.. "Kalau kau mendekat, aku akan menembak kepalanya. Aku serius."
"Viktor," pemuda yang baru saja menyelamatkan Yura itu lebih memilih menatap rekannya yang baru saja turun dari tangga dengan santai. Melihat cara berjalannya yang santai, juga piyama yang masih dikenakannya membuat siapa pun tak mengira bahwa pemuda ini baru saja membantai salah satu petinggi di lantai atas. "Jangan!"
Peringatan si pemuda berambut hitam hanya ditanggapi dengan senyuman sinis yang muncul di wajah pemuda berambut kelabu itu. Ia masih saja berjalan santai dan berpegangan pada handrail selagi ia berkata, "Kalau kau tidak suka, seharusnya kau menanganinya lebih dulu, Otabek!"
Otabek Altin, pemuda berambut hitam itu mendecak mendengar komentar si pemuda berambut kelabu. Ia baru saja hendak berkomentar, ketika tiba-tiba pemuda yang berambut kelabu lenyap dan tumpuanku berpindah. Begitu cepatnya hingga saat aku mengerjapkan mata iris tosca milik Viktor Nikiforov sudah berada dekat sekali dengan wajahku.
"Maaf membuatmu menunggu, Yuuri!" Ia berkata sambil menyunggingkan senyum tipis saat melihatku sementara si penyerang sudah dihantamkan ke dinding.. "Nah, bisa kita pergi sekarang?"
"Bagaimana…" Yura ternganga sambil menunjuk pemuda berambut kelabu yang tengah mengangkatku itu. "Dari tempat itu, dan tahu-tahu saja sudah berada di depan…?"
"Tidak usah dipikirkan," jawab pemuda berambut hitam yang sudah menarik lengan Yura, memaksanya menuruni tangga. "Ayo!"
Yura masih menatap Viktor selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia berbalik dan mengikuti pemuda yang sudah lebih dulu menuruni tangga di depannya. Dalam beberapa langkah, ia sudah berada di dekat pemuda itu dan menanyainya, atau dalam kasus Yura, 'berdebat' dengannya seperti biasa. Keingintahuan membuatnya lupa bahwa ia telah meninggalkanku dengan pemuda yang baru saja mewarnai dinding dengan darah salah satu bawahan petinggi keluarganya..
"V-Viktor, kau tidak perlu membawaku," ujarku ketika pemuda ini mulai melangkah turun dengan membawaku di pelukannya. "Aku bisa berjalan."
"Dan membiarkan Yuuri mati kehabisan darah ketika tiba di lantai dasar?"
"Tapi…"
"Aku tidak masalah sih bila Yuuri kehabisan darah,"ujarnya sambil tersenyum sinis. "Justru akan lebih baik bagiku. Soalnya Yuuri tidak akan sadar bila aku melakukan sesuatu pada Yuuri, iya 'kan?"
"M-melakukan sesuatu?" Aku bergidik ngeri mendengar ucapannya. "M-melakukan apa?"
Kakinya berhenti melangkah dan pemuda itu menatapku selama sesaat. Aku tidak dapat bergerak, terlebih ketika senyum sinisnya mengembang dan ia berbisik di telingaku dengan nada rendah. "Apa pun."
Mendengarnya, aku pun bergidik ngeri. Tanpa banyak bicara lagi, kubiarkan pemuda itu mengangkat dan membawaku menuruni tangga. Aku tidak protes, juga tidak meronta untuk meminta turun. Lebih baik aku bersikap kooperatif dibanding memberinya kesempatan untuk melakukan apa pun padaku. Pemuda satu ini jauh lebih mengerikan dibandingkan pria yang menodong pelipisku dengan senjata sebelumnya.
Dengan langkah yang lambat, pemuda itu berjalan menuruni tangga sementara rekannya dan adikku sudah beberapa langkah jauhnya dari kami. Melihat caranya berjalan yang lambat membuatku kembali berkata, "A-apa sebaiknya aku turun? Aku tidak mau memperlambat langkahmu."
"Tidak," jawab pemuda itu sambil mengangkat kepalanya dan menatapku, "aku memang sengaja berlambat-lambat."
"Ke…napa?" Aku balas bertanya dengan bingung. "Bukankah kita seharusnya segera melarikan diri?"
Viktor bergumam sejenak sebelum ia berkata, "Tapi aku ingin menikmati berduaan dengan Yuuri seperti ini. Kesempatan seperti ini jarang sekali ada 'kan?"
Alasannya sukses membuatku membelalakan mata dan ternganga di tempat. Mendengarnya, sikap kooperatif yang baru saja kucetuskan pun langsung buyar dapat sekejap dan aku pun hendak menurunkan kakiku. Kucoba untuk meronta, namun pemuda itu malah memelukku semakin erat. Melihatnya, aku pun menatapnya dengan berang dan aku pun berteriak memanggil namanya hingga dua orang yang telah lebih dulu berjalan itu menatapku.
"Katsuki-san" ujar pemuda yang berjalan lebih dulu di hadapanku itu, "lebih baik kau mengikuti saja apa keinginannya."
"H-hah?"
"Tidak ada gunanya memberontak," ucap pemuda itu sembari melangkahkan kaki, seolah tidak peduli dengan nasibku."Viktor menyukai tantangan lebih dari apa pun."
Kukerutkan dahi saat mendengar ucapannya. Apa maksudnya? Viktor menyukai tantangan, lalu kenapa? Apa dia menganggapku sebagai sebuah tantangan? Atau tidak? Atau maksudnya, ia memintaku untuk diam saja? Itukah yang ingin ia katakan padaku?
Saat aku tengah diam dan memikirkan perkataan pemuda yang berjalan lebih dulu itu, tiba-tiba saja pemuda berambut kelabu yang mengangkatku berhenti bergerak. Sikapnya membuatku mengerutkan dahi dan tanpa sadar memerhatikan kakinya, yang ternyata tidak mengenakan alas kaki sama sekali.
"Celaka!" Pemuda itu tiba-tiba berkata, membuatku langsung menoleh menatap wajahnya kembali. Betapa terkejutnya aku ketika menemukan ekspresi serius di sana.. "Aku lupa mengemas barang-barangku."
Aku mengerjapkan mata mendengar reaksi normal yang dikhawatirkannya itu. Mulutku sampai tidak bisa mengucapkan apa pun, namun tidak begitu halnya dengan rekan aliansinya. Pemuda berambut hitam itu tetap berjalan sementara ia berkata, "Kita bisa beli di tempat lain. Bukankah selama ini juga kau tidak pernah mengemas apa pun?"
"Aku ingin berubah dari kebiasaan itu, Otabek!" Pemuda berambut kelabu itu balas menjawab. "Sudah saatnya kita akhiri pemborosan seperti ini."
"Kau ingin berubah?" Pemuda yang berambut hitam bertanya dengan nada tidak percaya. Tapi secepat itu pula pemuda itu menggelengkan kepalanya, "Kurasa ini kesekian kalinya kau mengatakan untuk menghentikan pemborosan dan lihat sendiri apa yang kau lakukan."
"Aku serius," jawab Viktor dengan ekspresi serius, seperti yang dikatakannya. "Mungkin sebaiknya aku kembali ke lantai atas dan mengemas barang-barangku dulu!"
Kali ini pemuda berambut hitam itu mengangkat kepalanya dan menatap sang Pakhan. Ia menghela napas terlebih dulu sebelum akhirnya menjawab, "Memangnya ada yang penting di atas sana?"
Mendengar itu, Viktor pun menggerakkan kepalanya sementara ia berkata, "Memangnya kau tidak mau mengambil jaket kulit kesayanganmu, Otabek?"
"Masih bisa kubeli nanti," jawab pemuda itu sembari mengangkat bahu. "Kalau hanya jaket yang kau khawatirkan, aku masih punya banyak persediaan."
Viktor sudah membuka mulutnya hendak menanggapi, namun ketika Yura menengadah menatapnya ia pun mengatupkannya kembali. Kecemasan di wajah Yura membuatku mengerutkan dahi karena tidak paham. Walaupun begitu, pemuda berambut kelabu yang tengah memelukku sepertinya memahami maksudnya sehingga kedua tangannya bergerak menjauhkanku sedikit darinya.
Sebuah pisau yang cukup panjang dengan bilah semerah darah sempat mengiris wajah si pemuda berambut kelabu. Bila saja ia tidak menghindar dan mendorongku, bisa saja pisau itu bersarang di kepala kami berdua. Untung saja pemuda ini cukup sigap untuk menghindarinya.
"Viktor!" Pemuda yang sebelumnya berada di dekat Yura tahu-tahu sudah berada di sebelahku dan menyentuh bahu Viktor. "Sebaiknya kau pergi, biar aku yang…"
Sebelum Altin-san menyelesaikan ucapannya, pemuda berambut kelabu itu sudah menyerahkanku lebih dulu padanya. Altin-san tidak membantah dan mengangkatku tanpa banyak bicara. Namun ketenangan yang biasa ia perlihatkan lenyap kala itu hingga membuatku cemas. Melihatnya, aku pun mengikuti arah tatapannya dan menatap pemuda berambut kelabu yang tengah berjalan menaiki tangga menghadapi satu-satunya petinggi yang memegang kedua pisau di tangannya.
"Pergilah duluan," ujar Viktor pada rekannya. "Aku akan menyusulmu."
"Biar aku yang membereskannya," kata Altin-san. "Kau tidak perlu…"
Viktor tidak menjawab, ia hanya menatap ke arah sang petinggi di hadapannya. Melihat sikap diamnya, Altin-san pun tak lagi menyanggah dan memilih untuk mengatupkan mulutnya. Ia pun berbalik dan kembali menuruni tangga tanpa banyak bicara.
Melihatnya tidak membantah, aku tergoda untuk memberinya sebuah pertanyaan. Hanya saja, suara Viktor membuat perhatianku kembali terarah padanya, sehingga aku pun mengangkat kepalaku untuk melihat sosoknya. Sikapku membuat pemuda berambut hitam itu berhenti melangkah dan membiarkanku mengamati hingga aku dapat melihat Viktor Nikiforov berjalan dengan santai sementara kedua tangan di saku piyamanya. Kepalanya terangkat, menatap pada Georgi Popovich yang memegang dua bilah pisau berwarna semerah darah.
"Ini peringatan terakhirku, Georgi!" Aku mendengar Viktor Nikiforov berkata."Kuharap kau tidak mengabaikannya lagi."
Georgi Popovich, pemuda berambut hitam yang merupakan petinggi nomor satu keluarga Nikiforov itu tertawa mendengar ancaman Viktor. Ia mengarahkan sebilah pisaunya pada Viktor dan berkata, "Aku sudah pernah mengeluarkan ancaman yang sama padamu dan kau pun tidak pernah mengindahkannya, Viktor!"
"Ah!" Pemuda berambut kelabu itu menggerakkan kepalanya, "Kau pernah?"
Senyum mendadak lenyap dari wajah Georgi Popovich. Tanpa membalas ucapan Viktor, pemuda satu itu langsung menerjang dan menyabetkan kedua bilah pisaunya di hadapan pemuda berambut kelabu itu. Gerakannya yang hanya berlangsung selama sepersekian detik itu untungnya dapat dihindari dengan sempurna oleh si pemuda berambut kelabu, dan ia membalasnya dengan menggunakan tendangan putar yang menghantarkan tubuh Georgi Popovich melayang hingga anak tangga teratas.
"Bicara yang jelas, Georgi!" Pemuda berambut kelabu itu berkata dengan nada yang tidak pernah kudengar sebelumnya. "Aku tidak dapat mendengarmu."
Mendengar suara tubrukannya dengan dinding membuatku mengira ada beberapa tulang sang petinggi yang retak seiring dengan tubrukan tersebut. Tapi mungkin aku salah. Setelah tubrukan itu, Georgi Popovich masih bisa tertawa terbahak-bahak dan berjalan dengan langkah tegap sembari mengarahkan salah satu pisaunya.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menyentuh Anya!" Ia berkata sambil menunjukkan pisaunya. Tidak ada ketenangan palsu di sana, hanya ada amarah semata di wajahnya. "Tapi kau membunuhnya! Kau membunuh gadis yang paling berharga bagiku!"
Oh? Ini informasi baru bagiku. Jadi Viktor pun pernah membunuh orang yang berharga bagi sesama petinggi? Kalau begitu, aku tak heran melihat betapa inginnya para petinggi melenyapkan pemuda satu ini. Hanya saja, apa alasannya? Apakah benar pemuda berambut kelabu itu membunuh orang hanya sekadar keinginan semata?
Aku menatap wajah Viktor, berusaha menemukan jawaban di sana. Namun Viktor Nikiforov tidak terlihat menyesal, atau paling tidak menampilkan kepura-puraan palsu seperti biasanya. Pemuda satu itu tetap berdiri di tempatnya dan hanya berkata, "Jadi itu sebabnya."
Aku masih hendak mendengarkan, tapi kali ini Altin-san tidak mau berkompromi lagi denganku. Ia kembali melangkah dengan cepat dan dalam sekejap sudah berada di samping Yura. Ia terus berjalan, hingga akhirnya aku menyentuh pundaknya dan berkata, "Tunggu! Tunggu sebentar, Altin-san!"
Mendengar permintaanku, pemuda berambut hitam itu berhenti melangkah dan menatapku. Dengan dahi yang sedikit berkerut pemuda itu pun berkata, "Ada sesuatu yang tertinggal, Katsuki-san?"
"T-tidak, tapi aku…"
"Kalau tidak, sebaiknya kita cepat pergi!" Altin-san kembali berkata sambil melangkahkan kakinya, tidak secepat sebelumnya, namun ia terus menuruni anak tangga. "Sebelum kedua petinggi itu mulai menghancurkan tangga darurat."
"Mereka bisa menghancurkan tangga darurat?" Yura berkomentar di samping kami. "Memangnya terbuat dari apa pisaunya itu? Lagipula, Viktor sendiri sepertinya hanya bertangan kosong. Tidak mungkin orang itu bisa menghancurkan tangga darurat yang terbuat dari beton, 'kan?"
Aku setuju dengan Yura. Viktor hanya bertangan kosong dan hanya berjirahkan piyama. Ia tidak terlihat membawa senjata apa pun di balik piyama yang dikenakannya itu. Bagaimana mungkin pemuda sepertinya dapat melawan Georgi yang membawa dua buah pisau berbilah semerah darah dan mengayunkannya dengan membabi buta seperti itu? Apa Viktor memiliki ilmu bela diri khusus yang dapat membuatnya memenangkan pertarungan?
"Mereka bisa," jawab Altin-san, begitu datar dan tenang. "Sebaiknya kita bergegas."
Dahiku berkerut mendengar jawaban pemuda berambut hitam yang membawaku terus menuruni tangga. Bila kutengadahkan kepalaku, dua pemuda yang saling berhadapan itu masih belum bergerak. Makanya aku tidak mengerti mengapa Altin-san harus terburu-buru dan meninggalkan Pakhan-nya yang hanya berjirahkan piyama tanpa alas kaki.
"Kenapa kita harus terburu-buru sih?" Yura akhirnya berkomentar, menggantikanku. "Bukannya tadi kau juga bilang untuk menuruninya pelan-pelan? Kenapa sekarang kita menuruni anak tangga ini seolah gedung ini akan segera hancur? Memangnya apa yang bisa dilakukan petinggi yang hanya bersenjatakan pisau dan petinggi yang tidak punya senjata?"
Altin-san menggelengkan kepalanya, "Itu bukan pisau, itu darah."
"Darah?" Aku dan Yura bersama-sama mengulangi perkataannya. Kami bertatapan selama beberapa saat, sebelum Yura melanjutkan ucapannya. "Kau sedang bercanda ya? Itu tidak mungkin darah. Itu bisa saja batu ruby yang dibentuk atau garnet, atau…"
"Yura," ujar pemuda itu dengan nada tenangnya, "itu bukan ruby, juga bukan garnet, itu darah."
"Tapi…," Yura tidak mau putus asa, ia tidak sudi kalah berdebat, "tapi darah tidak bisa dibentuk menjadi pisau. Molekul utamanya itu air, makanya dalam suhu ruangan seperti ini darah tidak bisa dipadatkan dan dibentuk seperti itu."
"Percayalah, itu darah." Pemuda berambut hitam itu tetap bertahan pada komentarnya. "Dan hanya benda itu yang dapat melukai Viktor NIkiforov."
"Benda yang… dapat melukai Viktor?" Aku mengulang ucapannya dengan bingung. "Apa maksudmu… tidak ada benda yang dapat melukainya?"
Pemuda berambut hitam yang membawaku itu seolah tidak mendengarkan perkataanku. Ia mendekat ke arah satu-satunya jendela pada tangga darurat dan memandang ke luar. Beberapa detik lamanya ia terdiam, sebelum akhirnya ia membuka mulutnya. Ketika kukira ia akan menjawab, pemuda itu malah berkata, "Sepertinya kita harus melompat dari jendela."
Bersama-sama, aku dan Yura kembali mengulang perkataannya. Namun pemuda yang mendengar pertanyaan kami itu hanya mengangguk singkat. Ia pun memindahkanku ke satu sisi tangannya, sementara tangannya yang satu diulurkannya pada Yura. Ketenangan sudah kembali di wajahnya ketika ia berkata, "Kau mau melompat sendiri atau harus kupegangi?"
Yura mengerjapkan mata ketika mendengar pertanyaannya. Gadis satu itu menggerakkan kepalanya dan mengerutkan dahi dengan bingung. Baru saja ia hendak berkomentar, pemuda yang ketenangannya melebihi orang biasa itu sudah menarik Yura ke satu tangannya. Tanpa banyak bicara, pemuda ini berbalik, menghadapkan punggung pada kaca jendela dan melompat menubruknya dengan punggung terlebih dulu.
Aku tidak pernah melakukan hal-hal gila seperti melompat dari lantai dua puluh tujuh sebelumnya, makanya aku menjerit sekeras mungkin ketika angin menerpa wajahku. Hal yang sama berlaku pada Yura, gadis itu pun menjerit ngeri melihat betapa tingginya kami berada. Lain halnya dengan pemuda yang seolah tak mendengarkan teriakan kami dan tak berubah ekspresinya sekalipun ia tengah melompati dua puluh tujuh lantai.
Namun sepertinya dugaan kami salah. Pemuda ini tidak berencana untuk menerjunkan kami dari tingkat dua puluh tujuh tanpa alat pengaman seperti parasut atau apa pun. Ia praktis hanya melompat dari gedung yang lebih tinggi ke gedung yang sedikit lebih rendah di sebelahnya. Memang tidak sebanding dengan menuruni dua puluh tujuh lantai, tapi tetap saja membuat jantungku seolah berhenti berdetak.
Herannya walaupun sudah memberi kami shock therapy semacam ini, pemuda yang membawa kami melompat ini tidak mengubah ekspresinya. Dengan ekspresi datar di wajahnya, pemuda ini bangkit berdiri, mencabuti beberapa frame kaca yang menempel di lengannya dan membalut lukanya dengan jaket yang sudah tak berbentuk lagi. Bahkan setelah melakukannya, ia masih dapat mengulurkan tangannya dan mengangkatku terlebih dulu sebelum kembali berjalan menuruni tangga di gedung parkir sembari menyeret Yura yang tak jauh berbeda kondisinya dariku. Untungnya, gadis berambut pirang itu pulih lebih cepat. Sembari berjalan, gadis satu itu membuka mulutnya dan berkata, "Kau sudah gila, ya?"
"Tidak," jawab pemuda yang membawaku itu, masih dengan ketenangan yang sama sekalipun darah merembes ke jaketnya "Aku sudah memikirkannya baik-baik sebelumnya."
"Tapi jangan main lompat begitu!" Yura balas berteriak padanya. "Kukira aku harus melompat dari lantai dua puluh tujuh hingga ke lantai dasar. Aku sama sekali tidak mengira ada gedung parkir yang tak berbeda jauh tingginya di sebelahnya."
"Tidak mungkin," jawab pemuda itu dengan tenangnya sembari memandu kami menuruni anak tangga. "Kau bisa mati kalau meloncat turun dari ketinggian seperti itu."
"Kupikir juga aku akan mati waktu kau melompat ke jendela dari lantai dua puluh tujuh!" Yura kembali berteriak padanya. "Sungguh! Aku benar-benar kapok bepergian denganmu. Aksimu selalu saja tidak bisa…"
Ucapan Yura langsung terputus ketika ia mendengar suara ledakan yang tak jauh dari tempat kami berdiri. Mendengarnya, wajahku dan gadis itu langsung memucat dan Yura pun langsung berhenti berjalan. Begitu berbeda dengan Altin-san yang tampak terbiasa dan tetap melangkah dengan santai. Ia justru menatap Yura dengan bingung sampai ia harus berkata, "Kenapa? Apa kakimu juga sakit?"
"Tadi… tadi itu…," Yura menunjuk ke arah kedatangan kami sebelumnya, "apa itu…"
"Bunyi ledakan?" Pemuda berambut hitam itu berinisiatif menyelesaikan ucapannya. "Bukankah sudah kukatakan tadi?"
"Tapi…"
"Viktor-kah?" Aku memotong ucapan Yura. "Viktor-kah… yang meledakkannya?"
Pemuda itu menggerakkan kepalanya, "Bisa dia, bisa juga Georgi."
"Bagaimana…"
Sebelum kami dapat mengajukan pertanyaan, pemuda berambut kelabu yang tengah diperbincangkan tahu-tahu saja sudah berada di hadapan kami. Melihatnya, ia pun menyunggingkan senyum sinisnya kembali dan mengulurkan kedua tangannya pada Altin-san. Menyadari apa yang dimintanya, Altin-san pun menyerahkan seluruh bobot tubuhku pada tangan si pemuda berambut kelabu dan ia berkata, "Kukira, kita terpaksa membeli barang-barang baru?"
Pemuda berambut kelabu itu mengerucutkan bibirnya dan menggerakkan kepala. Lalu ia berkata, "Apa boleh buat, padahal aku tengah berusaha berhemat."
"Yuuri!"
"A-ah, ya, bukti… bukti yang kau maksud…," ujarku kembali teringat pada perkataannya sebelumnya, "luka ini buktinya?"
Ia mengangguk dan kembali menyunggingkan senyumnya sembari membiarkan tanganku menyentuh wajahnya di mana terdapat sebuah luka goresan di sana. Matanya terpejam, sementara tangannya menggenggamku erat. "Aku sudah bilang 'kan, aku benar-benar serius dengan Yuuri."
Mendengarnya, aku hanya bisa menelan ludah. Aku tidak mengerti mengapa luka goresan kecil di wajah ini dapat diartikan sebagai tanda bahwa pemuda ini tengah berusaha bersikap serius padaku. Luka itu tidak ada artinya bila dibandingkan luka Altin-san. Tapi kenapa pemuda ini seolah ingin menunjukkan keseriusannya dengan luka sekecil itu? Apa… luka ini sebegitu parahnya?
"Apa… lukanya sakit sekali?"
Viktor menggerakkan kepalanya sesaat, sebelum akhirnya berkata, "Hm, sedikit. Aku tidak pernah terbiasa dengan rasa sakit."
Mendengar ucapannya, aku pun menggerakkan kepalaku. Ia tidak terbiasa dengan rasa sakit? Bagaimana mungkin seseorang sepertinya yang tetap bergeming ketika ditodong senjata bisa tidak terbiasa dengan rasa sakit? Lagipula, bukankah waktu itu pun ia juga terluka? Maka itu aku menanggapi ucapannya dengan berkata, "Bukankah… kau sering terluka."
Kepala pemuda itu terangkat saat mendengar ucapanku. Ia mengerjapkan matanya dan memicingkan mata saat menatapku. "Maaf?"
"Waktu pertama kali menemukanmu," ujarku sembari menundukkan kepala, tidak berani menatap iris toscanya, "kau juga terluka, walaupun untungnya bukan luka fatal."
Viktor tidak bergerak untuk beberapa saat. Melihatnya hanya diam, membuatku menggerakkan kepala ke arah lain, menatap pintu geser yang berada di dekat ruang tengah dan menghubungkannya dengan kamar tempat Yura terlelap. Hanya saja, aku tidak lama melakukannya karena Viktor tahu-tahu tertawa, membuat perhatianku kembali terarah padanya.
"Luka-luka itu fatal bagiku, Yuuri," ujarnya sambil menyentuhkan jemariku ke wajahnya. "Bahkan luka goresan kecil saja berbahaya. Aku bisa saja kehilangan nyawa bila kau tidak menemukanku."
"K-kau berlebihan, Viktor," ucapku sembari tertawa gugup. Sekali lagi kucoba menarik-narik tanganku walaupun tanpa hasil. "V-Viktor, bisa kau lepaskan tanganku?"
Viktor menggelengkan kepalanya, membuatku menghela napas. Kali ini pun sepertinya tidak mudah bagiku untuk melarikan diri. Tak punya pilihan, aku pun membiarkan pemuda itu memejamkan mata sembari menyentuhkan tanganku. Melihatnya seperti ini, kembali mengingatkanku pada Viktor yang sebelumnya kehilangan ingatan. Viktor yang tidak berbahaya, Viktor yang tidak berniat untuk melukai orang lain, Viktor yang… bukan seorang pembunuh.
Teringat hal itu, aku pun menelan ludah terlebih dulu sebelum akhirnya berkata, "Viktor… kalau kau tak suka rasa sakit, kenapa kau… membunuh orang?"
Pemuda itu bergumam saat mendengar pertanyaanku.
"Kau tahu rasanya sakit," ujarku sambil menatapnya, "kalau kau tahu rasa sakit, kau pasti tahu bahwa membunuh itu berarti menyakiti seseorang. Kau paham benar seperti apa rasa sakit, tapi kenapa kau tetap menyakiti mereka? Kau… menyakiti orang-orang yang kau bunuh."
Kelopak mata pemuda berambut kelabu di hadapanku itu terangkat dan ia menggerakkan kepalanya, menatapku. "Apa ini? Jadi Yuuri ingin mengatakan bahwa aku seharusnya tidak membunuh, Yuuri?"
"Kau… kau tidak suka rasa sakit," ujarku sambil mencari-cari alasan, "kau juga menyelamatkanku dan Yura. Rekanmu juga bilang bahwa kau tidak akan membunuh tanpa alasan. Makanya… makanya aku menduga… ada alasan khusus. Alasan yang mungkin bisa kumengerti dan membuatku percaya padamu."
Tawa kembali menyembur dari bbir pemuda berambut kelabu ini. Melihatnya, ia pun berkata, "Begitu, ya? Jadi Yuuri mengharapkanku mengucapkan alasan yang baik-baik agar Yuuri bisa percaya padaku?"
"Bu-bukan itu maksudku…aku…"
"Mana yang lebih Yuuri sukai," tanyanya sambil menggerakkan kepalanya dan seulas senyum sinis terbit di wajahnya, "alasan bahwa aku membunuhnya karena aku ingin, atau karena aku harus menyelamatkan orang lain sehingga aku terpaksa melakukannya?"
"I-itu…"
"Pilihlah alasan apa pun yang Yuuri suka," ucap pemuda itu sembari mendekatkan dirinya padaku. "Bagiku itu tidak penting, karena kenyataan tidak dapat berubah."
"Kenapa… kau mengatakannya seperti itu?" Aku kembali bertanya, tak dapat kupungkiri bahwa aku kecewa mendengar jawabannya. Aku tidak menyangka bahwa Viktor yang memahami seperti apa rasa sakit menganggap remeh alasan kenapa ia membunuh seseorang, seolah-olah baginya nyawa tak ada harganya.
Senyum sinis yang biasanya terlihat di wajah pemuda itu berangsur-angsur lenyap digantikan ketenangan yang jarang kutemukan. Ketenangan yang sama seperti saat pemuda ini menghadapi Georgi, atau ketengan yang sama seperti ketika ia menghadapi JJ dan bawahannya. Ketenangan mencekam sebelum badai yang sesungguhnya datang.
"Jadi seharusnya aku mengatakannya seperti apa?" Ia bertanya sembari menggerakkan kepalanya di hadapanku. "Apakah seharusnya aku meminta maaf pada Yuuri sembari menangis-nangis dan berkata bahwa aku menyesal telah membunuh orang? Itu yang Yuuri suka?"
"Itu…"
"Bisa saja," jawab pemuda itu sambil tersenyum, "aku bisa melakukannya kalau itu membuat Yuuri senang. Aku bisa…"
"Bukan itu!" Tanpa sadar aku menggerakkan tanganku sedikit lebih kuat hingga menghantam gelas yang sedari tadi dimainkan Viktor dan memecahkannya. Akibatnya, beberapa pecahan gelas itu menancap di tangan pemuda berambut kelabu itu dan membuat perhatianku terarah pada tangannya lebih dulu. Sebelum melanjutkan perkataaku, aku lebih dulu berkata, "M-maaf, aku… aku tidak sengaja."
Viktor tidak mengucapkan apa-apa. Ia tetap diam, sementara aku berhati-hati mencabut pecahan kaca di tangannya. Terkadang pecahan itu melukai jemariku, namun menyadari bahwa luka di tangannya jauh lebih berbahaya, aku pun meneruskan pekerjaanku dan berupaya mencabuti pecahan gelas tersebut.
Beberapa pecahan yang telah berhasil kuambil, kuletakkan di atas meja sebelum aku meneruskan kembali pekerjaanku. Ketika aku telah selesai dengan semua pecahan yang menempel dan hendak berbalik untuk melihat seberapa dalam luka di tangannya, aku pun mengerutkan dahi. Aku yakin sebelumnya luka-luka itu masih menganga karena baru saja terkena pecahan kaca. Tapi di mana luka-luka itu sekarang?
Menggosok-gosok mataku, aku pun mengangkat tangan Viktor dan berusaha mengamatinya lebih dekat. Aku mendekatkan wajahku, menelusuri dengan jemariku, mencari di mana luka akibat pecahan kaca yang sebelumnya menggores tangannya. Hanya saja, berulang kali mengerjapkan mata, berulang kali menelusuri, aku tetap tidak menemukan luka tersebut. Apakah jangan-jangan aku memegangi tangan yang salah?
Memikirkan kemungkinan tersebut, aku pun menarik tangannya yang satu dan menyingkap yukata berwarrna hijau yang menutupi lengannya. Sama seperti sebelumnya, kulebarkan kelopak mataku dan kutelurusi permukaan kulit tangannya hingga sebatas siku. Aku yakin sebelumnya di sana ada pecahan kaca yang menancap, namun di mana luka-luka itu sekarang? Kenapa tidak ada bekasnya?
Menyadari apa yang tengah kucari, pemuda berambut kelabu itu akhirnya berkata, "Tidak perlu dicari, Yuuri, lukanya tidak akan ada di mana pun."
Kuangkat kepalaku dan kukerutkan dahi saat menatapnya. "Ya?"
"Lukanya sudah sembuh," ujar pemuda itu sembari menarik tangannya dariku. "Yuuri tidak perlu mencarinya lagi."
"Tapi bagaimana…"
Sebelum aku dapat bertanya, pemuda yang merupakan rekan aliansi Viktor tiba-tiba membuka salah satu pintu geser yang terhubung dengan ruang tengah. Ia menatap kami berdua sembari memegangi handphone di salah satu tangannya. Dengan menaikkan alis, ia mendekat pada Viktor dan berkata, "Kupikir kau sudah menghabisi Georgi."
"Ah!" Viktor menggerakkan kepalanya sedikit dan berkata, "Jadi ia sudah menemukan tempat ini?"
"Jadi kau memang belum menghabisinya," ucap pemuda berambut hitam itu sembari menghela napas. "Kalau begitu, kau tidak akan terkejut bahwa ia telah bekerja sama dengan petinggi yang lain dan beramai-ramai menuju kemari."
Viktor hanya menganggukkan kepalanya, "Padahal aku baru saja menyukai suasana penginapan ini. Apa dia harus mematikan lampu penginapan ini juga?"
"Georgi bekerja sama dengan keluarga Crispino," lanjut pemuda dengan ketenangan yang luar biasa itu. Ia membuka salah satu bungkusan yang dibelinya sebelumnya dan menyerahkannya pada Viktor. Setelahnya ia kembali berkata, "Lilia juga memberinya dukungan dengan mengirimkan seluruh petinggi keluarga Nikiforov bersamanya."
Pemuda berambut kelabu yang diberi informasi tersebut hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Begitu."
"Lilia juga mempersenjatai mereka dengan kelemahanmu," ujar pemuda itu sembari mengambil bungkusan yang lain. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini."
Aku menggerakkan kepalaku, sedikit bingung dengan sikap Altin-san. Tidak biasanya pemuda itu bersikap terburu-buru seperti ini. Bukankah sebelumnya ia masih dapat menyiapkan sarapan ketika Georgi akan menyerang? Kenapa sekarang ia menjadi begini tergesa-gesa? Bukankah mereka bisa menghadapinya? Seperti sebelumnya?
"Katsuki-san, sebaiknya kau segera mengganti bajumu," ujarnya sambil menyerahkan bungkusan yang ia pegang padaku. "Aku juga sudah membelikan untuk adikmu. Kalau bisa, tolong bangunkan dia sebelum kita berangkat! Kalau tidak, aku akan mengangkutnya dan membawanya ke mobil."
"Apa… kita perlu melarikan diri?" Aku bertanya pada pemuda itu dan menatap Pakhannya yang tengah mempelajari isi bungkusan yang diberikan padanya. "Maksudku, bukankah kalian dapat mengatasinya?"
Mendengar komentarku, Altin-san menggelengkan kepalanya dan ia berkata, "Tidak saat ini, Katsuki-san. Viktor tidak siap untuk bertarung dengan seluruh petinggi keluarga Nikiforov."
"Kenapa…"
"Dia tidak bisa terluka memang," ucap rekannya sembari menunjuk sang Pakhan, "tapi kali ini senjata yang mereka bawa berbeda dengan senjata biasa dan sayangnya, Viktor rentan terhadap senjata tersebut."
"Dia tidak bisa… terluka?"
Bagaikan tersambar petir, aku langsung tersadar, ucapannya membuatku mengerti sekarang. Aku mengerti mengapa goresan akibat pecahan kaca itu tidak muncul di tangannya, aku mengerti mengapa peluru tidak melubangi tubuhnya, aku mengerti mengapa pemuda ini dapat begitu tenang ketika ditodong senjata seperti apa pun. Hanya saja, yang tidak kumengerti, kenapa masih ada luka goresan di pipinya? Apakah ini yang dimaksud Altin-san dengan senjata yang berbeda dari biasanya?
"Senjata… yang berbeda itu…," ujarku sambil menahan tangan Altin-san yang sudah hendak beranjak keluar ruangan, "apakah pisau berwarna merah yang sama dengan yang dibawa petinggi tadi?"
Pertanyaanku membuat Altin-san terdiam sejenak sebelum ia mengangguk. "Ya."
"K-kalau begitu…"
"Bisa lepaskan aku, Katsuki-san?" Pemuda itu kembali berkata, membuatku merasa bersalah karena telah menahannya. "Aku masih harus menyiapkan beberapa hal sebelum kita berangkat. Tentunya kau tidak mau kita menghadapi para petinggi Nikiforov di saat pemuda yang diincar berada dalam kondisi yang tidak siap untuk melawan mereka, 'kan?"
"O-oh, maafkan aku."
"Dan cepatlah bergegas," ujar pemuda itu sembari menggeser pintu dan beranjak keluar, "kita tidak punya banyak waktu kali ini."
.
.
.
t.b.c
Author's note:
Wow! Di chapter sebelumnya tiba-tiba banyak guest bermunculan. Thank you for your kind review guys, and welcome to my ff. Author's note ini sedikit panjang, jadi mohon maaf, buat yang enggak berkenan, ini boleh di skip kok : ) maaf kali ini saya nggak bisa bales pribadi satu2 :")
For:
Llolmao738: maaf saya baru bales reviewmu di sini, sepertinya reviewmu baru masuk setelah chapter 13 terbit. Aniway, thank u uda review dan pertanyaan kamu soal kenapa mereka bisa santai mungkin sebagian uda terjawab di sini, oh dan saya juga suka sama sarkasnya Yura. Lebih mudah buat saya nulis Yura dibanding Yuuri soalnya T_T
Semoga sehat selalu juga dan semoga kamu suka fic ini ya XD
Fujoshi desu: wkwk, si Viktor itu… bagaimana bilangnya ya, dia itu ambigu, makanya kadang saya sendiri bingung sama sikap dia. Tapi iyah, Yuuri masih aja naif, ya? Nggak kapok-kapok. Kepolosannya yang nggak ada batasnya itu susah dikalahkan emang XD
Anak buah Vitya… semoga kita bisa munculin di chapter selanjutnya ya XD, di sini nggak ada kesempatan soalnya saya harus jelasin sedikit pertarungan sebelumnya. Semoga di next chapter bisa. Amin! XD
ParkYuu: Iyah XD, Vitya pasti tolong Yuuri kok, tenang aja :D dan iya, kakinya dia ketembak, jadi mesti diangkut-angkut sama Viktor, pokoknya Vitya puaslah angkut-angkut Yuuri ke sana sini :p
Nah! Ane juga suka sama adegan pertarungan dan pengennya masukin itu sebanyak mungkin LOL, tapi khawatir inti ceritanya jadi berubah XD makanya mohon maklum kalau tiba-tiba ada adegan pertarungan atau pun pertarungan di skip :P
Madamme Jung: Wow! Deskripsi review yang super detail seperti biasa dan cara penyampaian yang super menarik XD saya seneng banget kamu luangin waktu untuk jabarin sedetail itu XD dan heeh, ternyata saya suka typo ya? Saya baru sadar setelah baca ulang chapter2 sebelumnya T_T Gomen ne, all
Buat Otabek dan Viktor, saya memang buat mereka sedikit lebih miring dibanding orang biasa, tapi nanti saya akan ungkap alesannya XD Viktor sendiri uda dapet kesempatan untuk diungkapin kali ini, sementara untuk Otabek, mungkin di next next chapter akan saya ungkapin
Dan thanks again untuk penilaian yang detail soal chara development nya. Saya sendiri nggak sadar saat chara mereka mulai develop, tapi begitu kamu bilang, baru saya ngeh, XD senang sekali kamu recognize hal-hal yang bahkan saya nggak sadarin XD
PS : tenang, Abang Vitya selalu cuci tangan abis mutilasi orang kok :P
Hikaru Rikou: aduh, itu di kelas XD, tapi gapapa, saya juga suka teriak, LOL, supaya di chapter ini kamu nggak teriak-teriak, saya kasih sedikit info soal Viktor yak, :P keep calm, oke?
Orang Lewat: holla! Salam kenal dan thank u buat reviewnya. Ane… nggak semedi sih, awalnya seperti yang ane bilang, Fujoshi kepengen cerita soal Mafia, so that's why ane mulai bentuk cerita ini pake konsep itu. Dan, dan… apa pertanyaan kamu soal luka-luka Viktor uda mulai terjawab? Sudah bisa ketebak kah kenapa dia sampai luka? *evilgrin
Untuk Yakov, pembunuhan dia yang misterius itu memang bakal masuk di jalan cerita, jadi soal itu, aku keep informasinya buat nanti ya XD semoga kamu menikmati pelan-pelan informasi yang akan aku ungkap satu persatu.
Aniway, ehem, iyah, Viktor masih pake piyama itu pas turun tangga XD
Test :iyak! Seperti kata Viktor, sarapan itu penting soalnya XD dan baca koran juga :p
whitesakura44: holla! Salam kenal! Thank u uda sempetin review dan thank u banget buat penilaiannya. Saya sendiri nggak nyangka interaksi mereka bisa sampai begitu XD dan yah, Viktor sexiness memang terkadang overload XD tapi seperti kata Madamme Jung, otak dia kayaknya nggak beres :P jadi Yuuri harus banyak-banyak sabar sama dia
Thank u again dan semoga kamu suka chapter2 selanjutnya,
Hiro Mineha: LOL, mereka santai karena uda biasa kayaknya, Hiro XD dan Otario mungkin akan berenti berantem kalau Yura nya uda kayak Yurio di anime :P sampe dia paham, kayaknya mereka akan terus berantem :D
Aniway, JJ belum muncul dan … terus terang ane nggak tahu gimana nasibnya, kalau ada kesempatan di next chapter, ane akan singgung XD
ChocoCroissant9: nggak kok, saya juga uda gila karena anggep dia keren pas itu XD aniway, salam kenal dan thank u banget uda ingetin soal Georgi. LOL. Saya belum nemuin alesannya sbeelumnya, tapi untung kamu ingetin soal itu sehingga saya dapet ide kenapa Georgi sampe nyerang Viktor. LOL
Aniway thank y again to all of you! I hope you enjoy reading this fic. Aniway, if you mind, please give any review so I can make it better XD
