part 14 : Let's Stop Being Friends
Let's Stop Being Friends
cast : Oh Sehun, Xi Luhan and others
Rated : T-M
Boy and Boy Love
DLDR!
Flashback
"Hay Luhan, sudah lama tak bertemu" katanya menyeringai
Luhan memandang takut dari bawah, perlahan ke atas sampai akhirnya dia bertatapan wajah dengan orang yang menghadangnya.
"Tae-Taewoon-ssi" gumam Luhan tak percaya. Dia menggenggam erat Haowen dan Ziyu untuk menahan rasa takutnya dan melindungi dua anak kecil yang sedang bersamanya ini
End Of Flashback
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ahjussi dia siapa? Ziyu takut" tanya Ziyu yang sudah bersembunyi di belakang Luhan
"Kau takut? Hmm..sama denganku, aku juga takut" gumam Luhan sangat pelan
"Yak! Ahjussi jelek jangan ganggu ahjussi cantik dan Ziyu" teriak Haowen yang sudah berdiri di depan Luhan merentangkan tangannya melindungi Luhan dan Ziyu
"Ahjussi cantik dia bilang. Yak! Bocah kecil aku tidak cantik" protes Luhan pelan
"Haowen kemari" Luhan menarik Haowen kesampingnya, karena terlalu berbahaya mengetes kesabaran psyco seperti Taewoon ini
"Dan kau! Oh ayolah kenapa tidak datang lain kali saja. Kenapa harus saat aku membawa dua anak kecil ini" teriak Luhan untuk mengatasi takutnya
"Aku sudah mengikutimu tiga hari ini, baru kali ini kau tidak bersama direktur brengsek itu" desis Taewoon
"Sehunku tidak brengsek. Kau yang brengsek" geram Luhan
Luhan kembali menggandeng tangan Ziyu dan Haowen di masing-masing tangannya. Kemudian dia sedikit mengerling kepada keduanya untuk segera berlari
"Aku rasa cukup bermainnya Luhan, anak kecil ini mau dibunuh atau dibuat pingsan?" tanya Taewoon kejam, membuat Ziyu dan Haowen menggenggam erat tangan Luhan
"Dasar gila" cibir Luhan
"Sehun!" pekik Luhan
Taewoon menoleh ke belakang dan tak menemukan siapapun
"Ayo lari" teriak Luhan menggendong Ziyu dan menggenggam Haowen
"Dengarkan aku, apapun yang terjadi jangan lepaskan genggamanku. Kalian mengerrti kan?" tanya Luhan pada keduanya
"N-ne ahjussi" jawab keduanya yang mulai ketakutan
"Sial" geram taewoon yang merasa dibohongi dan kehilangan Luhan lagi
"Ayolah. Kau tak akan bisa lari jauh. Kau membawa dua bocah sialan itu, kau tidak akan sanggup berlari percayalah" teriak Taewoon yang mulai mendekati Luhan
"Jangan dengarkan dia, kita tetap berlari, oke" kata Luhan yang mulai terengah
"Ahjussi, Ziyu mau turun saja. Kau tampak kesakitan aku menggenggam bahumu terlalu keras" kata Ziyu meminta turun
"Baiklah.. tapi kau harus menggenggam tanganku. Mengerti kan?" tanya Luhan
"iya ahjussi Ziyu mengerti"
Tak lama Luhan menurunkan Ziyu dan menggenggam Ziyu di tangan kirinya sementara Haowen digenggam di tangan kanan nya
"Kau tahu! Lebih baik berhenti saja. Jangan membuat kedua anak itu mati kehabisan nafas. Aku sudah sangat geram padamu dan Sehun. Cepat berhenti!" teriak Taewoon
"Jangan dengarkan dia. Kita harus berlari, jangan dengarkan orang jelek itu oke. Kita harus lari ke sebrang jalan itu. Masih banyak kedai yang buka. Kita akan minta tolong" Luhan semakin menggenggam Ziyu dan Haowen
"Ahjussi Ziyu takut" kini Ziyu sudah menangis
"Iya aku juga takut, tapi aku janji kalian akan baik-baik saja" katanya terengah
Luhan melewati jalan tikus yang ia tahu, ia tidak mau membuat Taewoon gampang menemukannya. Dia terus menggenggam erat Ziyu dan Haowen sambil berlari.
Luhan semakin cepat berlari sementara kedua anak kecil yang dibawanya sudah tampak kelelahan terutama Ziyu
BRUK!
"Huwaaaaaa" tangis Ziyu pecah karena kakinya tersandung batu, membuat lututnya robek dan mengeluarkan darah
"Ziyu" pekik Haowen khawatir
"Ziyu kau tidak apa-apa?" tanya Luhan yang mulai panik
"Huwaa eommaaaaa" teriak Ziyu
"Kita akan segera ke eomma hmm… jangan menangis aku mohon" pinta Luhan
"Ziyu apa sakit?" tanya Haowen yang juga menangis karena Ziyu "nya" kesakitan
"Aku harus bagaimana" gumam Luhan frustasi
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, dan menampilkan Taewoon dengan wajah marahnya
"Aku bilang berhenti" teriak Taewoon
Luhan berdiri di depan Ziyu dan Haowen melindungi keduanya
"H-hey, kenapa tidak kita antar pulang anak-anak ini dulu? Setelah itu kau bebas menangkapku" kata Luhan bodoh
"Kau tahu karena Sehun aku tidak memiliki pekerjaan apapun sekarang? Kau tahu karena Sehun semua bisnisku ketahuan ilegal? Kau tahu karena Sehun aku tidak mempunyai apa-apa sekarang" teriaknya marah
"Kalau kau bertanya padaku, jujur aku tidak tahu" kekeh Luhan
"H-hikss ahjussi sakit" rintih Ziyu
"Kita akan kerumah sakit eoh, jangan khawatir" Luhan mencoba menenangkan Ziyu yang sedang dipeluk Haowen
"Hanya dengan menyakitimu aku bisa membalasnya" desis Taewoon
"Hah benarkah? Mungkin kau salah orang. Aku sepertinya tidak terlalu penting untuk Sehun" kesal Luhan
"Benarkah? Apa perlu dicoba?" tantang Taewoon semakin mendekat
"Aniya! Jangan mendekat. Kau membuat mereka ketakutan" teriak Luhan
"Kau atau mereka yang takut" seringai taewoon
"Hey, kau ingat kan? Aku bisa berkelahi asal kau tahu" ancam Luhan
"Buktikan" desis Taewoon
"Dasar gila" gumam Luhan
Luhan sedang bersiap-siap karena Taewoon semakin mendekat
"Menyiksamu lebih membuat Sehun menderita daripada membunuhmu" seringai Taewoon mengeluarkan pisau dari jas nya
"Kita akan bermain-main sebentar hmm" katanya yang sudah akan menggores wajah Luhan
"HYAAAAA!" teriak Taewoon ingin menancapkan pisaunya ke bahu Luhan.
"ARHHHHHH" teriakan Taewoon kali ini berbeda, dia seperti kesakitan, saat Luhan membuka mata, dilihatnya Haowen sedang menggigit paha Taewoon membuat Taewoon meringis kesakitan
"Dasar bocah setan" Taewoon menghempaskan Haowen ke tanah, membuat Haowen meringis
"Kau belum pernah merasakan pisau ya?" tanyanya pada Haowen
Luhan menatapnya ngeri karena sekarang Taewoon tanpa segan-segan akan menusukkan pisau ke seorang anak kecil
Luhan berlari dan menggenggam pisau yang akan ditancapkan pada Haowen
"Psikopat gila! Aku yang kau cari bukan mereka" desis Luhan masih menahan pisau
"Ahjussi" teriak Haowen saat tangan Luhan mulai mengucur darah segar
"Kau mau bukti?" tantang Luhan
"Baik! Aku buktikan"
BUGH!
Luhan memukul wajah Taewoon sampai dua kali baru bisa membuatnya tersungkur
"Kita lari" katanya menggendong Ziyu dan menggenggam Haowen
"Ahjussi..huwaaa.." kedua anak kecil itu benar-benar menangis sekarang
"Kalian sabar ya, aku mohon" pinta Luhan yang juga sudah merasa lelah
Luhan sedang berlari membawa kedua anak yang sedang tersesat ini, salahnya adalah membawa mereka ke gang sempit dan gelap, bukan ke jalan raya dan meminta tolong. Luhan sudah tidak tahu lagi harus kemana, dia hanya berlari mengikuti langkahnya
GREP!
"aaaaaghh Lepaskan aku" ronta Haowen yang kini ada di cengkraman Taewoon
"Yak! Lepaskan dia" teriak Luhan
"Haowenniie Huwaaaa" kini Ziyu yang menjerit
"Baiklah, baiklah. Kau mau aku kan? Bawa aku, lepaskan mereka" Luhan menyerahkan diri mendekati Taewoon
"Awas kalau kau berani memukulku lagi. Leher anak ini akan kugorok" ancam Taewoon
"Tidak. Aku tidak akan memukulmu, tapi….."
"Aghhhh.." pegangan Taewoon pada Haowen terlepas, karena Luhan baru saja mengigit keras telinganya
"Haowen lari" teriak Luhan histeris
Haowen pun berlari dan sesekali melihat ke arah Luhan, dia berniat mencari bantuan dan akan kembali lagi
"Dasar brengsek" erang Taewoon dia mencengkram lengan Luhan dan
BUGH!
Luhan terkena pukulan telak di perutnya membuat dirinya tersungkur
"Ahjussi" pekik Ziyu
"Aku baik-baik saja" lirih Luhan yang sedang tersungkur menatap Ziyu
"Kemari kau bajingan. Habis kesabaranku" katanya mencengkram kerah Luhan dan menekan telapak tangannya yang robek
"Aghhhhhhh" jerit Luhan kesakitan
"Ahjusssi huwaaa ahjussiiiii" teriak Ziyu melihat darah kembali keluar dari Luhan
"Anak kecil berisik!" geram Taewoon mendekati Ziyu
Ziyu semakin terisak karenanya, dia sangat ketakutan dan kesakitan karena lututnya berdarah
"Aku buat kau menjemput surga hmm" katanya hendak memukulkan balok ke Ziyu
"Andwaee!"
BUGH!
Luhan berlari memukul Taewoon menggunakan batu membuat pelipisnya berdarah
Taewoon sedang tersungkur, Luhan kembali menggendong Ziyu untuk berlari dan bersembunyi
"Ya! Kubunuh kalian" geram Taewoon kembali mengejar Luhan
"Sial! Kenapa buntu" teriak Luhan frustasi
"Kalian mau kemana lagi hmm?" Taewoon mendesak Luhan agar semakin terpojok
Luhan hanya bisa berjongkok memeluk Ziyu untuk melindunginya.
..
..
..
..
..
..
..
..
Di tempat lain, Sehun dan Sulli sedang berada di dalam mobil setelah selesai makan malam singkat di kafe.
Sekarang Sehun sedang menepikan mobilnya di halte yang belum lama Luhan duduki
"Jadi kita sudah impas oke"
"Tapi oppa"
"Mereka tidak akan mengganggumu lagi, percayalah" Sehun meyakinkan
"Tapi mereka akan segera tahu jika aku berbohong tentang hubungan kita" kesal Sulli
"Itu salahmu. Kau memang sudah berbohong dari awal" balas Sehun datar
"Oppa!" Teriak Sulli
"Dengar, aku berterimakasih padamu karena saat itu membantuku menggagalkan acara pertunangan bodoh yang diadakan kedua orang tuaku. Tapi kau tak bisa terus menerus mengikatku dengan hal itu."
"Jika Luhan belum disini, mungkin aku tidak peduli. Tapi sekarang ada Luhan dan dia tinggal denganku. Aku tidak mau membuatnya merasa aku membagi diriku dengan orang lain selain dirinya"
"Aku pernah kehilangan dia sekali, aku tak akan kehilangan dia lagi. Tidak akan pernah" ucap Sehun menatap tajam Sulli
"Apa kau sangat mencintainya?" Kesal Sulli
"Iya. Melebihi apapun di dunia ini" jawab Sehun yakin
Setelahnya tidak ada yang berbicara di dalam mobil.
"Kau boleh turun" katanya menyuruh Sulli turun
"Maaf tidak bisa mengantarmu pulang. Pikiranku sedang bercabang karena Luhan tidak mengabariku seharian ini dan ponselnya tidak aktif. Aku mau bergegas pulang"
"Oppa tapi ini sudah malam. Antarkan aku" protes Sulli
"Banyak taksi, naiklah, kau aman" Sehun masih berbicara dengan datar
"Oppa..."
"Sulli aku mohon" desis Sehun
"Cih, kalian bahkan bukan sepasang kekasih. Tapi kau seperti idiot bersamanya" geram Sulli keluar dari mobil Sehun
"Percayalah kami tidak butuh status seperti itu" katanya menatap tajam Sulli
"Terserah" Sulli membanting pintu mobil Sehun dan segera menyetop taksi kemudian pergi.
Membuat Sehun memijit keningnya yang berdenyut, entah kenapa perasaannya sangat buruk seharian ini. Sepulang kerja tadi ia sudah berencana menjemput Luhan dikantor dan mereka bisa makan malam bersama.
Tapi Sulli datang dan menagih janji Sehun. Sehun pernah berjanji pada Sulli bahwa dirinya bersedia menggunakan status palsu sebagai kekasihnya agar dia tidak diganggu oleh pria-pria bernafsu besar.
Sebelumnya Sehun sudah sering membantu Sulli, mengakui dirinya kekasih Sulli. Tapi itu dulu, sebelum Luhan datang. Tapi sekarang sudah ada Luhan dan terlebih lagi mereka sudah tinggal bersama. Sehun benar-benar tidak mau bertengkar lagi dengan Luhan. Apalagi karena masalah Sulli, itu sangat tidak penting menurutnya.
Jangan lupakan pertemuan Luhan dan Sulli di lift. Untung saja Sehun sangat sibuk saat itu. Jika tidak, Luhan pasti akan meminta jawaban dan penjelasan yang panjang mengenai siapa Sulli. Tapi mengingat Luhan selalu penasaran dengan siapa saja yang mendekati Sehun, pasti Luhan akan terus bertanya
Karena itulah, Sehun membantunya untuk yang terakhir kali, ia tak mau Luhan berfikir dia membagi dirinya dengan orang lain selain dengan Luhan.
"Sayang kau dimana?" Lirih Sehun yang melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi ponsel Luhan masih belum aktif
Sehun memutuskan untuk segera pulang ke apartemen mereka dan menjalankan mobilnya.
Sehun masih terus mencoba menghubungi Luhan, pikirannya tidak fokus dan tiba-tiba ada seorang anak kecil menghadangnya di tengah jalan. Sehun langsung mengerem dan sedikit membanting stirnya
CKIT!
Sehun berhasil mengerem. Kemudian dia sangat marah pada anak kecil itu, dia melepas sabuknya dan berjalan keluar
"Apa kau mau mati?" Teriak Sehun keluar dari mobilnya
Membuat anak kecil yang sedang memejamkan matanya itu menghela nafas lega
"Apa yang dilakukan anak kecil sepertimu malam-malam begini" Sehun masih berteriak
Anak kecil itu tidak menghiraukan teriakan Sehun. Ia berlari menghampiri Sehun dan menarik narik celana Sehun agar mengikutinya
"Egh? Ada apa?" Tanya Sehun bingung
"Ahjussi tolong..Zi-yu, ahjus-si can-tik, baha-ya" isaknya memeluk kaki Sehun
"Hey kau kenapa?" Tanya Sehun yang baru menyadari penampilan anak ini sangat berantakan seperi habis dikejar
"Ik-ikut Hao-wen hikssss" katanya menangis
Sehun mengikuti kemana arah perginya Haowen, dia mengernyit bingung karena Haowen membawanya ke gang sempit dan gelap. Tapi tak lama Sehun mendengar suara teriakan, membuatnya berlari untuk mengetahui apa yang terjadi.
..
..
..
Luhan sudah terpojok tidak bisa berlari lagi, selain karena ia membawa Ziyu, tubuhnya mulai gemetar lagi karena rasa sakit mulai menjalar. Ia berjongkok melindungi Ziyu dipelukannya sambil menatap tajam Taewoon.
Goresan di telapak tangannya, beberapa pukulan Taewoon sukses membuatnya kehabisan tenaga dan tak bisa melakukan apa-apa lagi.
"Kalau kau ada masalah dengan Sehun, selesaikan dengannya, jangan denganku" kata Luhan terengah
"Dia tidak akan merasa sakit jika bukan kau yang disakiti. Si tolol itu dengan jelas mengatakannya saat rapat" desis Taewoon
"Lagipula disamping itu, aku masih sangat bernafsu melihatmu" seringai Taewoon membuat Luhan semakin erat memeluk Ziyu.
..
..
..
Sehun semakin mendekat dengan suara tersebut dengan Haowen sebagai penunjuk jalannya
"Disitu ahjussi" tunjuk Haowen
Sehun mendekati orang tersebut dan matanya masih menyipitkan pandangan dengan apa yang terjadi
Semakin ia mendekat sosok itu semakin jelas
"Luhan?" Gumam Sehun menyadari siapa yang sedang berjongkok ketakutan sambil memeluk anak kecil
Sehun dengan otomatis mempercepat langkahnya sambil bersumpah akan membunuh siapapun orang itu yang mengejar Luhan dan dua anak yang tak dikenalnya
..
..
..
Sama seperti Sehun yang terkejut. Luhan juga sangat terkejut melihat siapa yang mendekat
"Sehun?!" Pekik Luhan
"Kau pikir aku akan percaya kebohongan idiotmu lagi" geram Taewoon
"A-aniya. Lihatlah kebelakangmu" tunjuk Luhan dan tak lama
BUGH!
"Harusnya aku membunuhmu saja saat itu" geram Sehun
Saat Taewoon tersungkur, Sehun menghampiri Luhan
"Sayang kau tak apa-apa?" Katanya panik melihat Luhan
"Sehunnie syukurlah..huwaaa" tangis Luhan pecah memeluk Sehun
"Sudah reuni nya?" Tanya suara di belakang Sehun dan
BUGH!
Sehun tersungkur karena Taewoon memukul wajahnya dengan balok
"Sehun!" Teriak Luhan histeris
Sehun sedang menetralkan rasa sakitnya, sampai ia melihat Taewoon menghampiri Luhan lagi
Sehun bangun dan kembali menghajar Taewoon
"Sayang tunggu di mobil" teriak Sehun
"Kau, tunjukkan dimana mobilku pada Luhan" teriak Sehun pada Haowen, Haowen mengangguk mengerti
"Sehunnaaa..." lirih Luhan khawatir
"Aku baik-baik saja hmmm" katanya meyakinkan
Luhan berlari membawa Ziyu dan Haowen kedalam mobil Sehun, dia duduk di kursi belakang sambil memeluk Ziyu dan Haowen yang sudah ketakutan.
..
..
..
"Berdoa saja agar ada yang menolongmu kali ini" desis Sehun yang mulai menghajar Taewoon
Beberapa menit kemudian.
Sehun sudah selesai dengan acara "mari membunuh brengsek ini" Taewoon sudah babak belur dengan darah dimana-mana. Keadaan Sehun juga tidak terlalu baik, dia mengalami memar dan beberapa goresan di lengan
Sehun mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
"Paman suruh anak buahmu datang ke tempat yang akan aku beritahu lewat pesan. Pastikan dia sekarat. Kemudian lempar dia ke penjara. Tuduhkan semua kasus perusahaan padanya. Jangan biarkan dia lolos secara mudah" desis Sehun menutup telponnya dan mengirim pesan
"Kau! Katakan selamat datang pada penderitaan" balas Sehun menginjak muka Taewoon dan berlari ke dalam mobil
Sehun segera masuk kedalam mobilnya, dia menoleh ke belakang, melihat tangan Luhan sobek dan terus mengucurkan darah, belum lagi wajahnya yang kembali memar, dia merasa sangat gagal menjaga Luhan, membuatnya sangat geram
AGGHHHHH!
"Sial!" Teriak Sehun memukul keras kemudi mobilnya membuat ketiga orang dibelakangnya beringsut ketakutan
Tak lama ia menjalankan mobilnya ke rumah sakit.
Mereka sampai di rumah sakit dan terburu-buru masuk, Sehun menggendong Ziyu dan menggenggam Haowen, dia menyerahkan keduanya ke dokter anak.
Setelah selesai dengan Ziyu dan Haowen, dia menggenggam erat Luhan membawanya untuk diobati
..
..
..
"Luhan, aku penasaran denganmu. Kau anggota gangster atau semacamnya. Kenapa sangat sering terluka?" Kekeh Kyuhyun yang sedang mengobati Luhan
Luhan tidak sedang dalam moodnya untuk bercanda, dia hanya diam tidak menanggapi
"Baik. Selesai! Gantilah perbanmu dua kali sehari hmm. Pastikan sampai sobekannya tertutup baru kau boleh tidak menggunakan perban" kata Kyuhyun pada Luhan, Luhan hanya mengangguk
"Dan kau. Coba aku lihat" katanya memeriksa wajah Sehun,
"Memarmu akan hilang. Aku beri obat penghilang sakit saja hmm" katanya pada Sehun
Sama seperti Luhan, Sehun hanya mengangguk menatap ke arah Luhan
"Kalian aneh" cibir Kyuhyun pelan
Tak lama ada yang mengetuk ruangan Kyuhyun
"Masuk" kata Kyuhyun
Cklek!
"Dokter, ini anak-anak yang dibawa oleh pasien anda" kata seorang suster membawa Ziyu dan Haowen di kanan-kirinya
"Anak?" Kyunhyun mengernyit bingung
"Ah baiklah. Bawa mereka masuk"
"Ahjussii.. Ahjussi tidak apa-apa?" Teriak Ziyu khawatir
"Hmm aku tidak apa-apa. Kalian bagaimana?" Katanya memeriksa Ziyu dan Haowen
"Kami juga baik-baik saja" kata mereka bersamaan
"Ziyu mau pulang,, h-hiksss" Ziyu mulai menangis
"Ayo kita pulang" Luhan menggandeng keduanya keluar ruangan Kyuhyun
"Sial" geram Sehun yang melihatnya dan menyusul Luhan
"Mereka itu sedang kenapa sih?" gumam Kyuhyun tak habis pikir
"Kau pikir mau kemana?" geram Sehun mencengkram lengan Luhan
Sehun tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan Luhan, dia sangat tahu sifat ini. Sifat jika Luhan sedang sangat marah pada Sehun, dia akan mendiami Sehun, tidak berbicara dan tidak menatap matanya
"Mengantar mereka pulang" jawabnya tanpa melihat Sehun
"Lu, kau kenapa?" tanya nya frustasi
"Aku kenapa? Aku dipukuli mantan anak buahmu bodoh" geram Luhan
"Maafkan aku tidak bisa menjagamu" lirih Sehun
"Kau memang hanya bisa menyakitiku" teriak Luhan membut pegangan Ziyu dan Haowen melonggar karena ketakutan.
"Kita bicara nanti. Kita antar mereka pulang dulu" kata Sehun menggendong Ziyu dan menggenggam Haowen meninggalkan Luhan di belakang mereka
..
..
..
Mereka sedang berada di mobil mengantar kepulangan Haowen dan Ziyu. Luhan menolak duduk disamping Sehun, akhirnya Haowenlah yang duduk di bangku samping kemudi. Sehun memperhatikan Luhan dari kaca spion. Luhan hanya diam tidak bicara, sementara tangannya tetap mengelus sayang Ziyu
"Apa ini rumahmu?" tanya Sehun pada Haowen
"Iya ahjussi" jawab Haowen
"Ahjussi cantik maaf merepotkanmu malam ini. Semoga aku bisa bertemu denganmu lagi. Ziyuya, Haowen pulang duluan, dah Ziyu" pamit Haowen pada Luhan dan Ziyu
Sehun mengantarkan Haowen kedepan rumahnya dan menjelaskan yang terjadi pada orangtuanya. Setelah memastikan Haowen tidak dimarahi Sehun kembali ke mobilnya.
Sehun menghela nafas kasar, saat Luhan tetap tidak mau duduk disampingnya. Sekarang Ziyu yang duduk di samping bangku kemudi.
"Ziyu.. nama mu Ziyu kan?" tanya Sehun
"Iya ahjussi" jawab Ziyu
"Dimana rumahmu?" tanya Sehun
"Rumahku adalah rumah ahjussi cantik yang dulu" kata Ziyu menjelaskan
"Benarkah?" tanya Sehun berharap Luhan merespon, nyatanya Luhan tetap diam
Sehun dengan segera mengantarkan Ziyu ke tempat tinggal Luhan yang dulu. Dia melakukan hal yang sama pada Ziyu, mengantarnya sampai kedepan rumah dan memastikan Ziyu tidak dimarahi.
Setelah mengantar Ziyu, Sehun tidak segera masuk kedalam mobil, ia mengedarkan pandangan ke rumah yang dulunya sering ia kunjungi ini. Ia tersenyum mengingat waktu yang telah ia lewati bersama Luhan di rumah ini
Kemudian ia melirik ke mobilnya dan masih mendapati Luhan yang duduk di bangku belakang, Sehun kembali menghela nafaasnya berat dan segera menjalankan mobil menuju ke apartemennya.
Mereka sampai di gedung parkir apartemen mereka. Luhan keluar pertama da berjalan mendahului Sehun. Dia sepertinya benar-benar tidak ingin bicara dengan Sehun
"Lu" panggil Sehun
"Lu, kau kenapa? Kita harus bicara?" tanya Sehun
"Luhan berhenti" Sehun kehilangan kesabarannya dan mencengkram Luhan
"Kau kenapa?" desis Sehun
"Aku baik. Ah tidak… aku baru saja menambah luka di tubuhku. Terimakasih untukmu" sindir Luhan menunjukkan telapak tangannya yang diperban dan memar di wajahnya
"Aku tahu kau marah bukan karena ini" kesal Sehun
"Oh benarkah? Lalu apa kau bisa menebak kenapa aku sangat gusar padamu" kata Luhan hampir berteriak
"Aku tidak tahu jika kau tidak bicara. Bicaralah" teriak Sehun
"Kenapa kau berteriak? Apa kau marah karena acara kencan mu dengan Sulli terganggu?" Luhan kini juga berteriak
"Sulli? Kencan? Apa maksudmu?" tanya Sehun
"Aku mendengarnya Sehunna. Aku mendengar kalau kau mengatakan pada teman-temannya bahwa kau kekasih Sulli. Kalau begitu aku apa untukmu" tanya Luhan masih berteriak
Sehun sedang mencerna apa yang Luhan katakan, dia pasti tidak menghayal saat di kafe tadi seperti melihat Luhan, karena benar itu memang Luhan
Luhan kembali berjalan menuju lift dengan rasa marah yang sudah menggerogoti hingga ke kepalanya. Dia menghapus air matanya kasar, ingin sekali rasanya Luhan memukul Sehun agar mengatakan semuanya, Sehun tahu dia sangat tidak suka berbagi dirinya dengan siapapun, tapi kenapa dia begitu tega
"Luhan… sayang, kau salah paham" Sehun berhasil mengejar Luhan dan langsung memeluknya erat
"Lepaskan" desis Luhan
"Tidak. Tidak sampai kau tenang. Aku mohon dengarkan aku" katanya semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan
"Benar aku disana dengan Sulli. Benar aku mengiyakan kalau aku kekasihnya. Tapi itu hanya kebohongan sayang. Sulli pernah membantuku berpura-pura menjadi kekasihku saat appa bersikeras menjodohkan aku dengan seorang gadis yang tidak aku kenal beberapa tahun lalu. Untuk membalas yang Sulli lakukan, aku berjanji akan membantunya masalah status atau apapun yang diperlukan untuk menjauhkan dirinya dari pria yang menggodanya"
"Selama ini aku memang tidak peduli jika dia mengumbar aku kekasihnya. Tidak peduli sampai kau datang lagi ke Korea. Sampai aku berhasil mendapatkanmu lagi, aku mengatakan padanya kalau hari ini adalah terakhir kalinya aku membantunya. Aku tidak mau kau salah paham karena ini"
"Aku mohon maafkan aku menyakitimu Lu" lirih Sehun menciumi kepala Luhan
"Aku mohon percaya padaku" pinta Sehun
Luhan hanya diam mendengar penuturan Sehun, dia merasa lega luar biasa mendengarnya. Dia tahu dia bisa mempercayai Sehun. Karena Sehun tidak pernah berbohong dengannya. Tapi ada sedikit rasa kecewa yang terus menghantui Luhan. Sehun tetap tidak mengatakan apapun tentang hubungan mereka. Sehun sepertinya sudah nyaman jika mereka berdua seperti ini. Tapi Demi Tuhan yang Luhan inginkan sekarang adalah sebuah kejelasan.
"Sehun" panggil Luhan yang sudah nampak tenang
"Hmm" balas Sehun menatap Luhan
"Apa aku temanmu?" tanya Luhan
"Tentu. Kau temanku yang paling spesial" balas Sehun
"Apa hanya teman?" tanya Luhan
"Apa maksudmu? Kau tahu kan? Kita dari dulu seperti ini. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Bukankah semua sudah menjelaskan hubungan kita?" tanya Sehun meyakinkan Luhan
Luhan hanya tersenyum pahit
"Aku rasa kita butuh waktu sendiri" lirih Luhan
"Lu" nada Sehun seperti memperingatkan agar dirinya tidak macam-macam
"Aku hanya… terlalu banyak yang aku pikirkan saat ini, membuat kepalaku sakit"
"Aku mohon berikanlah waktu untuk kita berdua" pinta Luhan
"Jika waktu yang kau minta adalah kau pergi dan tidak tinggal bersamaku, aku minta maaf tidak bisa mengabulkannya" kata Sehun
"Tidak. Aku akan tetap disini, bersamamu. Yang berubah untuk sementara waktu adalah kita"
"Aku hanya ingin berfikir Sehunna" lirih Luhan
Sehun merasakan ribuan jarum menusuk tepat didadanya, sakitnya sungguh mengernyit saat Luhan dengan jelas meminta jarak diantara mereka. Jarak yang sudah mereka rasakan lima tahun, kembali harus Sehun rasakan setelah ini untuk waktu yang tidak tahu berapa lamanya
Sehun hanya bisa tersenyum lirih
"Baiklah. Kau mendapatkan waktumu. Aku akan menunggu hingga kau merasa lebih baik" lirih Sehun
"Terimakasih Sehunna" balas Luhan dan terlebih dulu menaiki lift meninggalkan Sehun yang masih tak rela
"Jangan terlalu lama mendiamiku sayang. Aku tidak mau merasakan kesepian lagi" lirih Sehun yang ternyata sudah terisak karena rasa sesak yang menghimpitnya
..
..
..
Tak lama kemudian Sehun menyusul Luhan masuk kedalam apartemennya. Dilihatnya, Luhan sudah meringkuk bersembunyi di bawah selimutnya.
Sehun menghela nafasnya berat dan menuju kamar mandi. Di kamar mandi, Sehun membasuh wajahnya kasar dan merutuki dirinya kenapa harus membantu Sulli sementara dirinya bertengkar dengan Luhan, kenapa harus bertemu Sulli sementara dirinya sangat merindukan Luhan. Banyak sekali yang ia sesali hari ini.
Sehun sedang sibuk membasuh wajahnya, tapi kemudian ia mendengar percakapan Luhan yang sedang menelpon. Ia memasang tajam pendengarannya baik-baik
"Eomma apa kabar?" Tanya Luhan
"Appa bagaimana?" Tanya Luhan lagi
"Eomma" panggil Luhan
"Aku ingin sekali disana saat ini. Apakah boleh?"
"Eom-ma aku ingin pergi denganmu"
Sehun mendengarnya dia memukul kasar wastafel kemudian segera keluar dari kamar mandi dan merebut ponsel Luhan
"Eomma aku..."
PIP!
Saluran teleponnya dimatikan oleh Sehun
"Kau boleh saja marah padaku kau bahkan boleh membunuhku. Satu-satunya hal yang tidak boleh kau lakukan adalah pergi dariku. Tidak lagi Lu, Demi Tuhan jika hal itu terjadi lagi. Itu adalah hari terakhir kau melihatku hidup. Aku serius" teriak Sehun frustasi, dia membuang ponsel Luhan kekasur dan kembali ke kamar mandi.
"Arhhhhhhgghh" erang Sehun kesal di kamar mandi
PRANG!
Tak lama terdengar suara pecahan kaca
Sehun baru saja meninju kaca di wastafel hingga retak, membuat tangannya merasakan sakit yang sama dengan yang Luhan rasakan.
"H-hiks. Kenapa seperti ini" isak Luhan menangis dikasurnya.
Malam itu terasa sangat mencekam dilewati keduanya. Sehun memilih untuk tidur di sofa karena takut Luhan akan menolak jika dia tidur disampingnya. Sementara Luhan merasa cemas dengan tangan Sehun yang sepertinya tidak ia pedulikan.
Keduanya berusaha memejamkan mata dengan masing-masing pikiran yang mengganggu mereka
..
..
..
Keesokan paginya Luhan bangun dan mendapati makanan serta sebuah catatan di mejanya.
Aku tahu kau baru tertidur beberapa jam, istirahatlah dikamar. Jika terbangun kau harus sarapan dulu dan minum obatmu. Aku mohon jangan terlalu banyak berfikir.
Aku hanya mencintaimu selalu dan terus begitu.
Percayalah Lu
Sampai nanti :)
Luhan terenyuh membaca surat Sehun, nampaknya benar ia telah salah paham. Tapi bukankah harusnya Sehun mengerti apa yang dia inginkan.
Harusnya Sehun membahas tentang siapa Luhan untuknya, Luhan hanya membutuhkan itu untuk bertahan dengannya. Karena Luhan juga tidak bisa hidup tanpa Sehun. Tidak lagi
Luhan memutuskan mencuci mukanya terlebih dulu sebelum sarapan dan menuju kamar mandi. Matanya seketika menangis saat melihat pecahan kaca yang tercecer di wastafel, dia sangat mengkhwatirkan Sehun sekarang.
..
..
..
Sementara Sehun kembali sibuk di kantornya. Dia benar-benar ingin segera menyelesaikan beberapa meeting dan ingin segera pulang untuk menemani Luhan. Dia tidak mau Luhan berfikir kalau ia lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya.
"Permisi direktur, ini teh anda" kata seorang wanita membawakan Sehun teh
"Eh? Kau bukankah pegawai yang baru saja melahirkan itu?" Tanya Sehun
"Benar direktur" balas pegawai tersebut yang bernama Song Minah
"Luhan" gumam Sehun tiba-tiba
"Panggilkan ketua Lee untukku" perintah Sehun
"Baik direktur" balas Minah dan langsung bergegas keluar
Tak lama pintu Sehun kembali diketuk
"Ada apa direktur? Anda memanggil saya?" Tanya ketua Lee
"Hmm... Aku ingin tanya, pegawaimu yang baru selesai cuti sudah masuk. Kau tidak memecat Luhan kan?" Tanya Sehun
"Tidak direktur" jawab ketua Lee
"Baguslah"
"Tapi Luhan mengundurkan diri" ketua Lee menyesal mengatakannya
"Apa?" Teriak Sehun kaget
"Bagaimana bisa? Maksudku kenapa dia mengundurkan diri?" Tanya Sehun bingung
"Kemarin adalah hari terakhir Luhan bekerja, ia menunggu anda sampai jam tujuh malam direktur. Dia ingin bertanya apakah ada posisi yang bisa dirinya tempati. Tapi anda tak kunjung datang, jadi Luhan memutuskan mundur" ketua Lee menjelaskan
"Lalu apakah tidak bisa dia tetap menjadi pegawaimu saja?" Tanya Sehun kesal
"Divisi tim saya sudah full dan tidak membutuhkan karyawan lagi direktur. Saya juga tidak punya wewenang untuk menempatkan Luhan di bagian yang bukan saya pimpin" balas ketua Lee
"Sial... Aku benar-benar membuat kesalahan" gerutu Sehun
"Direktur, saya mempunyai saran" kata ketua Lee pada Sehun
"Apa?" Tanya Sehun
"Karena kebetulan Luhan aktif berbahasa mandarin, saya menyarankan anda agar dia mengerjakan beberapa dokumen kerjasama kita dengan perusahaan di Beijing. Menurut saya itu bukan pekerjaan sulit. Karena selain pekerjaan ini tidak banyak menguras tenaga nya, anda juga bisa mengawasi Luhan" ketua Lee memberi saran penuh arti pada Sehun
Sehun tampak berfikir kemudian tersenyum
"Saran diterima. Kau boleh pergi ketua" katanya pada ketua Lee
"Saya permisi direktur"
"Ah... Kalau begitu saya rasa ini tidak diperlukan" ketua Lee menyerahkan sebuah amplop
"Ini apa?" Tanya Sehun
"Surat pengunduran diri Luhan direktur"
"Hell. Ini tidak diperlukan" balas Sehun meremas surat itu dan membuangnya seketika
"Satu lagi direktur"
"Apa?" Tanya Sehun
"Sebaiknya anda obati tangan anda. Itu akan jadi infeksi jika dibiarkan" kata ketua Lee melihat tangan Sehun yang belum diobati secara benar
Ketua Lee tersenyum kemudian pamit dan meninggalkan ruangan Sehun
..
..
..
Sehun mengutuk semua pekerjaannya di kantor karena menuntutnya untuk disana hingga pukul delapan, kini ia sudah berada di parkiran apartemennya dan bergegas masuk kedalam
Cklek!
Sehun memasuki apartemennya, tapi keadaannya sangat sepi, dia juga tidak menemukan tanda-tanda ada Luhan didalam
"Lu aku pulang" teriak Sehun
"Luhan" Sehun mulai mencari ke dapur dan kamar mandi tapi tetap tidak ada Luhan
"Luhan" kini Sehun sudah mulai panik
Dia berniat ketempat teman-temannya berharap Luhan ada disana
Saat akan membuka pintu, Sehun berhadapan dengan Luhan yang juga ingin masuk ke apartemen
Wajahnya terlihat sangat tegang dan panik. Tapi saat melihat Luhan didepannya perlahan wajah paniknya berubah menjadi desahan lega.
"Sehun? Kau baru pulang?" Tanya Luhan
"Hmm" katanya memberanikan diri membelai wajah Luhan, Sehun benar-benar merindukan Luhan-nya
"Kau darimana?" Tanya Sehun
"Membeli makanan. Aku akan memasak ramen. Kau mau?" Tanya Luhan
"Aku mau" jawab Sehun tersenyum
Luhan masuk kedalam dan langsung menuju dapur. Setelahnya hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.
Sementara Luhan memasak, Sehun memutuskan untuk mandi dan ganti baju.
Tak lama selesai mandi, Luhan sudah menunggunya di meja makan
"Ayo makan" ajak Luhan
Sehun tersenyum dan mulai menghampiri meja makan.
Keduanya sangat membenci situasi seperti ini, situasi dimana harusnya mereka bisa saling bermanja-manja, berubah menjadi situasi yang sangat canggung untuk keduanya.
Saat sedang makan Luhan memperhatikan tangan Sehun yang luka karena memecahkan kaca. Ia sempat melihatnya terus sampai akhirnya Sehun bicara
"Aku dengar kau mengundurkan diri dari kantorku" Sehun membuka percakapan
"Eh?.. Oh itu.. Iyaa.. Kontrakku kan sudah habis" lirih Luhan
"Nanti setelah kita baik, kau akan kembali bekerja, sekarang kau perlu beristirahat. Aku selesai makan, terimakasih hmm" katanya mengusak rambut Luhan dan menuju sofa membawa laptopnya dan selimut, bersiap untuk tidur di sofa lagi.
"Tapi aku sudah mengundurkan diri" kata Luhan cepat
"Pengunduran dirimu ditolak. Lagipula aku sudah membuang suratmu" Sehun bicara selembut mungkin
Tak lama setelah itu, Luhan juga selesai makan dan membereskan piringnya serta piring Sehun, setelah selesai ia berbaring diranjang. Menatap punggung Sehun yang sepertinya sedang sibuk
Dia mengambil sesuatu di kantong plastik belanjaannya tadi saat dia ke supermarket, kemudian berjalan mendekati Sehun
"Se-sehunnie" katanya canggung
"Hmm ada apa?" Tanya Sehun
"Aku ingin duduk disebelahmu" kata Luhan
"Duduklah" balas Sehun tersenyum
Sehun sudah mulai fokus lagi pada laptopnya, sampai ia rasakan tangan kanan nya digenggam Luhan
Sehun memperhatikan Luhan dan kegiatan Luhan yang dengan telaten sedang mengobati lukanya
"Sangat sulit untukku" Sehun mulai bicara
"Sulit kenapa?" Tanya Luhan yang masih mengobati luka Sehun
"Sulit untuk tidak berbicara padamu. Apa kau merasakan hal yang sama?" Tanya Sehun
"Hmm.. Tapi kau tahu kan, kita membutuhkan waktu untuk sendiri sekarang" lirih Luhan tak berani menatap Sehun.
"Aku tahu. Dan aku akan menunggumu" balas Sehun
"Kenapa kau menghancurkan kaca favoritku" tanya Luhan berusaha mengalihkan pembicaraan
"Aku sedang emosi, maaf. Besok aku akan menggantinya" Sehun masih memperhatikan Luhan
"Jangan menyakiti dirimu lagi, aku tak suka" Luhan berbicara dengan nada kesal dan khawatir
"Selesai" kata Luhan setelah selesai memakaikan perban pada Sehun
"Lu" panggil sehun
"hmm" balas Sehun
Luhan menatapnya dan tak lama dagunya ditarik oleh Sehun
Chu…
Sehun mencium bibir Luhan, hanya mencium tidak melumatnya, dia benar tidak bisa menahan diri dengan jarak Luhan yang begitu dekat. Tapi dia juga tidak bisa berbuat lebih karena takut Luhan akan marah.
"Aku hanya mencintaimu. Percayalah" Sehun melepas ciumannya dan menatap lembut Luhan
Luhan hanya membalas dengan senyuman kecil
"Aku percaya. Tapi aku mohon beri aku waktu untuk bisa bersikap seperti dulu padamu" pinta Luhan
"Aku akan memberi waktu sebanyak yang kau mau. Aku akan menunggu. Sekarang tidurlah, kau harus istirahat" Sehun mengusak rambut Luhan dan kembali fokus pada laptopnya
Luhan bangun dari sofa dan berjalan menuju ranjang Sehun
"Sehunnie" panggil Luhan lagi
"Apa sayang?" Sehun menoleh melihat Luhan
"Tidurlah bersamaku, jangan tidur disofa lagi. Aku kedinginan di ranjangmu yang besar" Luhan berkata tanpa melihat Sehun
Sehun tersenyum mendengarnya
"Aku menyelesaikan beberapa pekerjaanku dulu, setelah itu aku akan menyusulmu tidur" balas Sehun
Sehun sempat melihat Luhan tersenyum walaupun hanya sekilas, membuat hatinya benar-benar merasa bersalah telah mengecewakan pria imutnya itu.
Satu jam kemudian Sehun mematikan laptopnya dan menyusul Luhan yang sudah tertidur, ia berbaring di samping Luhan
Perlahan ia membawa Luhan kedalam pelukannya. Membuat pria cantik di dekapannya ini menggeliat tak nyaman
"Sehunnie" panggil Luhan
"Ini aku sayang. Tidurlah" Sehun mengelus punggung Luhan dengan sayang membuatnya kembali tertidur.
Luhan mencari posisi nyaman di pelukan Sehun dan kembali terlelap
Sehun tersenyum melihat tingkah lucu dari Luhan "nya"
"Terimakasih.. setidaknya kau tidak menolakku untuk menemanimu tidurmu" gumam Sehun mencium kening Luhan dan mengeratkan pelukannya pada Luhan, tak lama ia juga terlelap menyusul Luhan yang sudah bermimpi
..
..
..
Seminggu kemudian tidak ada yang berubah dengan Luhan, dia masih belum bersikap sama pada Sehun. Walaupun dia selalu menjawab pertanyaan Sehun dan tidak menolak saat Sehun tidur disampingnya ketika malam hari, tetap saja Luhan seperti masih merasa ada yang mengganjal di hatinya.
Karena hal itulah, Sehun memutuskan untuk melakukan perjalanan bisnis ke Jepang. Memberikan waktu untuk Luhan sendirian, menurut Sehun itu adalah waktu yang dibutuhkan Luhan sekarang.
Sehun sedang mengepakan pakaiannya dan memasukkannya kedalam koper, sampai dia mendengar pintu terbuka, dan Luhan memasuki apartemen mereka.
"Hey sayang kau darimana?" tanya Sehun melihat Luhan sekilas membawa belanjaan di tangan kanan kirinya, kemudian ia kembali sibuk mengepakan pakaiannya
"Baekhyun dan Kyungsoo mengajakku bermain dan berbelanja" jawab Luhan yang masih menebak mengapa Sehun memasukkan pakaiannya ke koper
"Sehunnie" panggil Luhan
"Hmm" balas Sehun
"Kau mau kemana?" tanya Luhan tercekat
"Oh.. aku akan ke Jepang selama dua minggu Lu, ada urusan bisnis" Sehun memberitahu Luhan
"Lagipula karena hubungan kita belum membaik, aku rasa kau menginginkan aku tidak berada di sekitarmu kan?" tanyanya melihat Luhan sekilas kemudian tersenyum pahit
"Hmm pergilah" lirih Luhan
BRAK!
Luhan berlutut menjatuhkan dirinya di lantai, dia merasa lemas karena Sehun akan pergi. hey dia benar-benar tidak menginginkan ini. Dia hanya menginginkan Sehun bersamanya.
"Pergilah…pergilahh.. kalau kau lelah mengurusi anak kecil sepertiku pergilah" teriak Luhan yang tiba-tiba menjadi histeris
Sehun terkejut bukan main dengan reaksi Luhan, dia tidak menyangka rencana kepergiannya malah akan menjadi bencana untuknya
"Hey hey sayang, kau kenapa?" tanya Sehun panik memeluk Luhan yang terduduk di lantai
"Pergi sana,, pergi dan tak usah kembali" teriak Luhan dipelukan Sehun, dia memukul-mukul seluruh tubuh Sehun, melampiaskan kekesalannya
"Sehunnie jangan pergi" jerit Luhan memeluk Sehun erat, dia benar-benar ketakutan sekarang.
"Araseo araseo.. aku tidak pergi.. maafkan aku hmm" katanya memeluk Luhan erat, dia benar-benar belum pernah melihat Luhan menjerit ketakutan seperti ini
"Ja-ngan per-gi" isak Luhan
"Aku tidak pergi sayang, tidak akan" katanya menenangkan Luhan
"Maafkan aku..maaf sayang" Sehun benar-benar menyesal dengan keputusan bodohnya sekarang.
Luhan akhirnya tertidur di pelukan Sehun setelah beberapa menit menangis, dia juga tidak mau melepaskan pelukan Sehun sama sekali. Dia takut jika dilepaskan Sehun akan pergi
Sehun tersenyum memperhatikan Luhan yang begitu lucu, semuanya yang ada di diri Luhan tidak berubah sama sekali dari mereka kecil hingga sekarang. Sehun kemudian berniat untuk membeli es krim agar Luhan kembali mendapatkan moodnya. Dengan perlahan ia melepaskan pelukannya pada Luhan dan bergegas pergi ke supermarket di sebrang jalan apartemen mereka.
Pulang dari supermarket, Sehun bertemu Chanyeol dan Kai yang sedang mengobrol dan meminum secangkir kopi, dia kemudian menghampiri mereka untuk bergabung sebentar.
"Hey" sapa Sehun
"Hey man, kau terlihat berantakan" sindir Kai
"Hmm begitulah" balas Sehun
"Apa Luhan belum bicara padamu?" tanya Chanyeol
"Belum seperti biasa hanya sekedarnya" kekeh Sehun
"Itu apa?" tanya Sehun pada bungkusan yang dipegang Chanyeol
"Oh .. ini hadiah untuk Baekhyun" katanya merona
"Mereka sudah menjadi sepasang kekasih semalam" Kai memberitahu Sehun
"Benarkah? Kau akhirnya memutuskan untuk menjadi gay juga?" sindir Sehun mengingat dulu Chanyeol adalah satu-satunya orang yang sukan mengkomplain tentang orientasi seks Sehun dan Kai
"Anggap saja aku tertular. Lagipula Baekhyun sangat cantik" gumamnya memuji Baekhyun
"Kekasihku lebih cantik kau tahu" Kai ikut-ikut membanggakan Kyungsoo
"Hey kalian" panggil Sehun
"Kenapa?' tanya Kai
"Umm.. anggap aku gila karena bertanya ini pada kalian"
"Apakah menurut kalian status itu penting?" tanya Sehun
"Status untuk apa? Sepasang kekasih?" tanya Kai
"Hmm" jawab Sehun
"Tergantung bagaimana kalian menurutku" jawab Chanyeol
"Tapi ayolah Sehunna.. kau memanggil Luhan apa jika kau sedang berbicara dengan temanmu?" tanya Kai
"Maksudku begini, jika kau bertanya siapa kekasih kami. Aku akan menjawab kekasihku Kyungsoo, Chanyeol akan menjawab kekasihnya Baekhyun. Lalu jika kami bertanya siapa kekasihmu kau akan menjawab siapa?" tanya Kai
"Luhan tentu saja" jawab Sehun
"Tapi apa kau pernah memintanya untuk menjadi kekasihmu?" tanya Kai lagi
"Pernah. Tapi dia selalu menolaknya" jawab Sehun
"Mwo? Kapan dia menolaknya?" tanya Chanyeol
"Dulu saat dia belum berangkat ke Cina" jawab Sehun
"Ya Tuhan Sehunna, jadi kau belum tahu apa yang membuat Luhan gusar padamu?" tanya Kai tak habis pikir
"Memang kalian tahu?" tanya Sehun bingung
"Dengar, aku tahu kau ini sangat dingin, tapi aku tidak tahu selain dingin kau juga sangat bodoh" kesal Kai
"Tentu saja kami tahu" kekeh Chanyeol
"Dia cemburu pada Sulli karena kau mengaku kekasihnya, sedangkan dirinya tidak pernah disebut kekasih olehmu" Chanyeol akhirnya memberitahu
"Pantas saja" kekeh Sehun yang baru menyadari ini
"Dasar lambat" sindir Kai
"YAK! Mana aku tahu, aku dulu sangat sering memintanya untuk jadi kekasihku. Tapi dia selalu menolak karena takut kami akan bermusuhan jika terjadi sesuatu" kesal Sehun
"Ayolah Sehunna. Luhan itu sangat sensitif semua yang berkaitan denganmu dulu. Kau sangat digilai banyak wanita, membuat dia merasa harus memberimu kesempatan. Tapi sekarang kesempatanmu sudah habis kau hanya harus bersama dengannya kan sekarang. Saranku kau harus melakukan sesuatu sebelum terjadi yang tidak kau inginkan" Kai menakut-nakuti Sehun
"Terjadi yang tidak kuinginkan bagaimana?" tanya Sehun
"Aku mendengar Luhan menceritakan Cina dengan antusias pada Kyungsoo dan Baekhyun semalam. Aku menebak dia akan pergi lagi" goda kai
"Tidak akan! Aku tidak akan membiarkannya" kesal Sehun dan segera kembali ke kamarnya untuk melihat Luhan
"Benar-benar lambat" kekeh Chanyeol melihat Sehun yang berlari ke arah lift
"Ngomong-ngoong Kai, apa benar Luhan akan pergi lagi?" tanya Chanyeol
"Itu skenario bodoh. Dia tidak akan bergerak jika tida seperti itu, aku mengenalnya sejak kecil dan dia tidak berubah sama sekali" kekeh Kai
"Sebaiknya kau yang berhati-hati" Chanyeol menyeringai
"Kenapa?" tanya Kai
"Aku mendengar Kyungsoo mencari rumah di Jepang. Mungkin dia akan pindah kesana" goda Chanyeol
"Tidak mungkin" Kai meremehkan
"Tapi apa benar?" tanya nya lagi pada Chanyeol
"Kau pikir aku bercanda?" kata Chanyeol serius
"Well, itu SKENARIO bodoh hahahahahahaha" Chanyeol terbahak dan berlari meninggalkan Kai seperti orang bodoh di kafe
"YAK! STUPID ALIEN! Awas kau kubalas nanti" geram Kai yang juga meninggalkan kafe
..
..
..
Sehun masih berada didalam lift dan memikirkan semua yang dikatakan Kai dan Chanyeol. Dia menyesal tidak bertanya pada teman-temannya sejak awal. Karena jika tahu Luhan bercerita pada mereka, dirinya tidak perlu melewati hari-hari mengerikan seperti minggu ini
TING!
Sehun keluar lift sambil tersenyum, paling tidak jika rencananya berhasil dia akan sangat berterimakasih pada kedua teman bodohnya itu.
Cklek!
Sehun memasuki apartemennya dan mendapati Luhan yang masih tertidur. Ia mencium kening Luhan sekilas dan berjalan ke dapur untuk membereskan snack dan es krim yang ia beli
"Sehunnie" panggil Luhan yang sepertinya terbangun
"Iya sayang aku didapur" Sehun menjawab dan segera memasukkan snack nya ke kulkas
Sehun selesai memasukkan snacknya dan ingin menghampiri Luhan. Tapi Luhan sudah berdiri tak jauh di belakangnya sambil merentangkan tangannya kedepan. Sehun tersenyum mengerti maksud Luhan dan menghampirinya
"Jadi apa aku sudah dimaafkan?' tanya Sehun menggendong Luhan
Luhan menggeleng dalam gendongan Sehun
"Belum? Jadi apa aku boleh pergi?" tanya Sehun menggoda
"erhmmmhh" erang Luhan merengek
"Maafkan aku hmmm.. " pinta Sehun
Kali ini Luhan mengangguk dan menciumi leher Sehun
"akhirnyaaa" kata Sehun tertawa lega, dia kemudian mendudukan Luhan diatas meja
"Lu, kau benar-benar memaafkan aku?" tanya Sehun memaksa Luhan menatapnya
Luhan mengangguk
"Apa kau mencintaiku?" tanya nya lagi
Luhan mengangguk lagi sebagai jawaban
"Dengar, aku tahu sangat terlambat untuk mengatakan ini.. tapi"
"Lu, aku rasa kita harus berhenti menjadi teman" Sehun menatap tajam Luhan
"Eh?" mata Luhan sudah berkaca-kaca lagi
"Hmm.. Aku tidak mau jadi temanmu lagi, harusnya aku mengatakan ini dari dulu"
"Ke-kenapa?" tanya Luhan bergetar dengan mata yang berkaca-kaca, membuat Sehun mati-matian menahan diri agar tidak menyerang pria cantiknya ini
"Lu, Let's stop being friends" katanya menghela nafas
"Be my lover hmmm" Sehun mengecup bibir Luhan yang tampak terbuka karena terkejut dan tersenyum menatapnya
"Kau mau kan menjadi kekasihku?" tanya Sehun
Bukan Luhan namanya jika tidak memberikan reaksi yang diluar dugaan. Dia tidak menjawab pertanyaan Sehun meelainkan mengerucutkan bibirnya seperti bayi yang akan menangis dan kemudian…
"Huwaaa Sehunnaa… Sehunna paboo.. kenapa tidak dari dulu kau mengatakannya" tangisan Luhan pecah, membuat Sehun kewalahan mengatasinya
"s-sayang kau kenapa menangis?" tanya Sehun bingung
"Huwaaaaa Sehunnaaaaa" tangisnya semakin jadi
"Sssttt..sayang tenanglah" bujuk Sehun yang kembali menggendong Luhan dan mengelus punggung Luhan agar berhenti menangis
Luhan masih saja menangis keras selama beberapa menit, setelah puas menangis keras dia diam memeluk leher Sehun erat. Sehun masih mondar mandir sambil mengelus punggung Luhan
"Luhannie sudah tenang hmm" tanya Sehun
"Sudah" balas Luhan dengan suara khas orang yang habis menangis
"Kenapa Luhannie menangis?" tanya Sehun
"aku sebal pada Sehunnie"
"Eh? Kenapa sebal?" tanya Sehun masih mengelus punggung Luhan
"Sehunnie lambat" kesal Luhan
"Sayang kau orang ketiga hari ini yang mengatakan aku lambat" kekeh Sehun
"Lagipula salahmu juga kenapa dulu setiap aku minta jadi kekasihmu kau selalu menolak dan marah-marah" protes Sehun membela diri
"H-hikss i-tukan dulu" Luhan bersiap menangis lagi
"A-aniya, jangan menangis lagi sayang. Iya aku lambat, aku yang salah" Sehun mulai mengelus sayang punggung Luhan lagi sambil berjalan agar Luhan nyaman di gendongannya
"Jadi apa Luhannie mau jadi kekasihku?" tanya Sehun
"ummmhh" jawab Luhan menggoda
"Lu" panggil Sehun menuntut jawaban
"Aku mau" katanya bergumam di pelukan Sehun
"aigoo.. apa sekarang lulu sedang merona hebat?" goda Sehun
"hmmmhh" gumam Luhan mengiyakan di pelukan Sehun
"Aku pacaran dengan bayi sepertinya" kekeh Sehun dan Luhan mencubit keras punggung Sehun
Setelahnya hanya terdengar suara protes dari Sehun dan rengekan Luhan jika kalah debat dari Sehun.
Ya paling tidak mereka sudah bisa mengumbar hubungan mereka ke teman-teman mereka kan. Terimakasih untuk Kai dan chanyeol yang telah menyadarkan teman mereka yang begitu lambat dan tidak peka…
tobecontinued...
Segini dulu yak...
duh yang digantungin bertahun-tahun akhirnya jadi juga hahahaa.. Luhan ngode nya udah keras Sehun lama bgt pekanya duh duh
ya pokonya gitu deh... :P
semoga sukaaaa #harusuka #maksa
Selamat membaca dan review semua :*
fyi : buat ff triplet yang lain pasti update kok.. cuma emang lagi fokus di lsbf dulu soalnya yang nagih banyak :"") wkwkw
ditunggu aja ya semuanyaaa,,
